Renungan Harian Renungan Hari Ini

Card image
KIDS DAILY DEVOTIONAL 05 Juni 2026 - KUAT KARENA TUHAN
2026-06-06 12:55:23


Filipi 4:13
“Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.”

Saat pelajaran olahraga, Celine dan teman-temannya diminta berlari mengelilingi lapangan dua kali. Semua terlihat semangat, kecuali Celine. Ia merasa larinya pelan, cepat lelah, dan takut tidak bisa menyelesaikannya. Ketika peluit berbunyi, semua mulai berlari. Baru beberapa langkah, Celine sudah terengah-engah. “Aku _nggak_ kuat…,” pikirnya. Ia hampir berhenti.

Namun tiba-tiba Celine teringat firman Tuhan yang pernah ia dengar di Sekolah Minggu—bahwa Tuhan memberi kekuatan kepada kita. Ia berhenti sebentar, menarik napas, lalu berdoa dalam hati, “Tuhan, tolong aku. Beri aku kekuatan.” Perlahan, Celine mulai berlari lagi. Walaupun tidak secepat teman-temannya, ia terus maju. Satu putaran selesai… lalu putaran kedua. Akhirnya, Celine berhasil mencapai garis akhir!

Gurunya tersenyum dan berkata, “Good job, Celine! Kamu tidak menyerah!” Celine pun tersenyum lebar. Ia tahu, itu bukan karena kekuatannya sendiri, tetapi karena Tuhan yang menolongnya.

Rehobot Kids, Tuhan memberi kita kekuatan saat kita merasa lemah. Dia menolong kita untuk terus mencoba, tidak menyerah, dan menyelesaikan apa yang kita mulai.

Yuk, percaya kepada Tuhan setiap hari. Bersama Tuhan, kita bisa menjadi kuat dan melakukan hal-hal yang sulit.

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 05 Juni 2026 (English Version) - GOD'S PRESENCES IN COMMUNITY
2026-06-06 12:53:48


Matthew 18:20
"For where two or three gather in my name, there am I with them."

Rehobot Youth, community is more than just hanging out, gathering, or just being together. More than that, community is a place where God is present. Jesus himself said: when we gather in His name, He is in our midst.

We often think, “I can walk alone with God.” It’s true, personal relationships are important. But God also designed us to grow together. Through community, we learn to love, forgive, strengthen each other, and guard each other’s faith.

There are times when we are weak, and that’s where community becomes our strength. Sometimes it’s not through a big sermon, but through a friend who listens, a simple prayer, or the presence of someone who cares. God often works through the people around us.

Imagine a burning ember. If one ember is separated, it will eventually go out. But if you gather them, the fire grows stronger. It’s the same with our faith. Without community, we easily grow cold. But in community, we give each other life.

So if you’re feeling distant or alone, don’t distance yourself further. Instead, draw closer to community. Because that’s where God is waiting for you.

WHAT TO DO?
• Re-engage in worship or spiritual communities.
• Find friends who can support and pray for each other.
• Attend with an open heart, not just show up.

BIBLE MARATHON:
1 Thessalonians 3

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 05 Juni 2026 - HADIRAT TUHAN DALAM KOMUNITAS
2026-06-06 12:49:28


Matius 18:20
"Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka."

Rehobot Youth, komunitas itu bukan cuma soal nongkrong, kumpul, atau sekadar rame-rame. Lebih dari itu, komunitas adalah tempat di mana Tuhan hadir. Yesus sendiri bilang: saat kita berkumpul dalam nama-Nya, Dia ada di tengah-tengah kita.

Sering kita mikir, “Aku bisa kok jalan sendiri sama Tuhan.” Memang benar, hubungan pribadi itu penting. Tapi Tuhan juga rancang kita untuk bertumbuh bersama. Lewat komunitas, kita belajar mengasihi, mengampuni, saling menguatkan, dan saling jaga iman.

Ada saat kita lemah, dan di situlah komunitas jadi kekuatan. Kadang bukan lewat khotbah besar, tapi lewat teman yang dengerin, doa sederhana, atau kehadiran orang yang peduli. Tuhan sering bekerja lewat orang-orang di sekitar kita.

Bayangin bara api. Kalau satu bara dipisah, lama-lama padam. Tapi kalau dikumpulin, apinya makin besar. Sama seperti iman kita. Tanpa komunitas, kita gampang dingin. Tapi dalam komunitas, kita saling menghidupkan.

Jadi kalau kamu lagi merasa jauh atau sendirian, jangan makin menjauh. Justru mendekatlah ke komunitas. Karena di sanalah Tuhan juga menunggu kamu.

WHAT TO DO?
• Mulai aktif lagi di ibadah atau komunitas rohani.
• Cari teman yang bisa saling dukung dan doakan.
• Hadir dengan hati terbuka, bukan sekadar datang.

BIBLE MARATHON:
1 Tesalonika 3

Card image
Quote Of The Day - 05 Juni 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-06-05 22:16:19


Menyenangkan hati Tuhan adalah harta abadi yang tidak akan pernah bisa diambil oleh siapa pun.

Card image
Mutiara Suara Kebenaran - 05 Juni 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-06-05 22:14:01


Menjadi umat yang terpilih masuk Kerajaan Surga tidak tergantung pada kedaulatan Allah semata-mata, tetapi respons manusia itu sendiri.

Card image
PRIDE - 05 Juni 2026 (English Version)
2026-06-05 22:12:23


The word ptōchoi in the Beatitudes is not tied to wealth. “Blessed are the poor in spirit” is not addressed only to those who are materially poor, but also to those who are powerless, even if they are strong in material terms. Why do the rich find it hard to enter heaven? Because when they feel strong, their wealth becomes their reliance and source of strength; cursed then are those who rely on human strength, on their own power, or on power outside of God. Pride can arise from several foundations. First, from those who do not acknowledge that their existence is from God. Second, pride can arise in someone who feels able to live without God.

But if we honestly look at life’s facts, we cannot be arrogant. A person may have a lot of money, yet many events occur beyond prediction; humans are very limited in their ability to predict them. Even with financial strength, remember that it cannot answer eternal needs. Pride stems from the unawareness that one’s existence is only by God’s grace. Pride also stems from the feeling of being able to live independently. It cannot be denied that those who have money will feel capable of facing life because of its power; money also carries extraordinary social power.

Unnoticed, someone with monetary power, living and proving that money can solve everything, will have a soul-rhythm—accustomed to seeing everything solvable by the money they own—that assumes they can handle all things. Yet eternal needs cannot be met with money. Perhaps in old age they begin to give to churches, build houses of worship, start foundations, give alms, but that does not answer the essential issue, because salvation is the restoration of humans to God’s original design, and this cannot be achieved by bribing God.

To avoid becoming proud, we must always remember two things: First, many events can occur beyond our prediction. However, if we are held in God’s hand, we believe that we will be safe forever. Therefore, fellowship with God is everything. Even if our condition is like an egg on the tip of a horn, as long as God holds us, we remain safe. Second, only God can answer our eternal needs, so we can truly say, “Apart from You, I desire nothing on earth.”

The phrase “poor in spirit”—from the original ptōchoi tō pneumati (πτωχοὶ τῷ πνεύματι)—can be freely translated as poor in spirit. That verse indirectly discourages people from associating this with material blessings. The word ptōchoi itself has a broader meaning than the earlier penichrós and pénēs.

But first, we must understand what basileia tōn ouranōn (βασιλεία τῶν οὐρανῶν), translated as the Kingdom of Heaven, means. What is the difference between the Kingdom of God and the Kingdom of Heaven? Besides Matthew’s wording being aimed at Jewish readers who respectfully avoid using the name “YHWH” literally, the phrase “Kingdom of Heaven” points more to the manifestation of the Lord’s kingdom in the new heaven and earth.

Of course, the two phrases do not differ significantly, since both share one element: the reign of God. Both the Kingdom of God and the Kingdom of Heaven share a central element—the rule of God, in which God reigns as the supreme Sovereign. Yet it should be emphasized again that the use of the word “Heaven” points more to the atmosphere or to His physical manifestation as well as His reign. In contrast, the Kingdom of God points more to God’s governance and order, which is not only to be realized later but also now.

The Lord Jesus bless you

from those who do not acknowledge that their existence is from God.* Second, *pride can arise in someone who feels able to live without God.* WHO DO NOT ACKNOWLEDGE THAT THEIR EXISTENCE IS FROM GOD AND WHO FEELS ABLE TO LIVE WITHOUT GOD IS PRIDE.

Card image
KESOMBONGAN - 05 Juni 2026
2026-06-05 22:10:38


Kata ptokoi dalam Ucapan Bahagia tidaklah dikaitkan dengan harta. “Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Tuhan” tidak hanya ditujukan kepada orang yang miskin secara harta, tetapi juga kepada orang-orang yang tidak berdaya, walaupun secara materi ia kuat. Mengapa orang kaya sukar masuk surga? Karena ketika ia merasa kuat, kekayaan tersebut menjadi andalan dan kekuatannya; maka terkutuklah orang yang mengandalkan kekuatan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri atau yang mengandalkan kekuatan di luar Tuhan. Kesombongan dapat berangkat dari beberapa landasan. Pertama, orang yang tidak mengakui bahwa keberadaannya itu dari Tuhan. Kedua, kesombongan juga dapat berangkat dari seseorang yang merasa mampu hidup tanpa Tuhan.

Namun, jika kita melihat secara jujur fakta hidup, kita tidak bisa menjadi sombong. Orang bisa memiliki banyak uang, tetapi banyak kejadian atau peristiwa terjadi di luar prediksi; manusia itu sangatlah terbatas. Walaupun mempunyai kekuatan finansial, haruslah diingat bahwa hal itu tidak bisa menjawab kebutuhan kekal. Kesombongan berangkat dari ketidaksadaran bahwa keberadaannya itu hanya karena anugerah Tuhan. Kesombongan juga berangkat dari perasaan mampu menjalani hidup secara mandiri. Memang tidak bisa dibantah bahwa orang yang mempunyai uang akan merasa mampu menghadapi hidup dengan kekuatan uang; uang juga memiliki kekuatan sosial yang luar biasa.

Tanpa disadari, orang yang memiliki kekuatan uang, ketika menjalani hidup dan membuktikan bahwa kekuatan uang bisa menyelesaikan segala sesuatu, maka irama jiwanya—yang terbiasa melihat segala sesuatu dapat diselesaikan dengan kekuatan uang yang dimilikinya—akan menganggap bahwa semuanya bisa ia selesaikan. Padahal, kebutuhan kekalnya tidak bisa dijawab dengan uang. Mungkin nanti pada hari tuanya ia mulai menyumbang gereja, membangun rumah ibadah, membuat foundation, mulai beramal; tetapi itu tidak menjawab, sebab keselamatan adalah dikembalikannya manusia kepada rancangan Allah semula, dan hal ini tidak bisa ditempuh dengan cara menyuap Tuhan.

Supaya tidak menjadi sombong, kita harus selalu mengingat dua hal ini, yaitu: Pertama, banyak kejadian atau peristiwa yang bisa terjadi di luar prediksi kita. Namun, apabila kita berada dalam genggaman tangan Tuhan, percayalah kita akan aman sampai kapan pun. Oleh karena itu, persekutuan dengan Tuhan adalah segalanya. Walaupun keadaan kita seperti telur yang berada di ujung tanduk, apabila Tuhan menggenggam kita, kita tetap aman. Kedua, yang dapat menjawab kebutuhan kekal kita hanyalah Tuhan semata, sehingga kita sungguh-sungguh dapat berkata, “Selain Engkau, tidak ada yang kuingini di bumi.”

Kalimat “miskin di hadapan Tuhan”—dari bahasa aslinya ptokoi to pneumati (πτωχοὶ τῷ πνεύματι)—dapat diterjemahkan secara bebas sebagai miskin dalam roh. Ayat itu secara tidak langsung menggiring orang untuk tidak mengaitkan hal ini dengan berkat jasmani. Kata ptokoi itu sendiri memiliki pengertian yang lebih luas daripada penikros dan penes tadi.

Namun sebelumnya, kita harus mengerti terlebih dahulu apa itu basileia ton ouranon (βασιλεία τῶν οὐρανῶν) yang diterjemahkan sebagai Kerajaan Surga. Apa bedanya Kerajaan Allah dan Kerajaan Surga? Selain karena penulisan dalam kitab Matius ditujukan kepada para pembaca Yahudi yang menghormati nama “YHWH” secara literal, penggunaan frasa “Kerajaan Surga” lebih menunjuk kepada penyataan dari Kerajaan Tuhan Yesus di langit dan bumi baru.

Tentu saja kedua frasa ini tidak memiliki perbedaan yang signifikan, sebab keduanya memiliki satu unsur yang sama, yaitu pemerintahan Allah. Baik Kerajaan Allah maupun Kerajaan Surga, keduanya memiliki unsur kuat yang sama, yaitu pemerintahan Allah, di mana Allah memerintah sebagai Penguasa tertinggi. Namun, sekali lagi ditekankan bahwa penggunaan kata “Surga” lebih menunjuk kepada suasana, selain kepada pemerintahan Allah, yaitu suasana dan penyataan-Nya secara fisik. Sedangkan Kerajaan Allah lebih menunjuk kepada pemerintahan Allah dan pengaturan Tuhan, yang bukan hanya akan terwujud nanti, tetapi juga sekarang.

Tuhan Yesus memberkati

SESEORANG YANG TIDAK MENGAKUI BAHWA KEBERADAANNYA ITU DARI TUHAN DAN MERASA MAMPU HIDUP TANPA TUHAN, ITU KESOMBONGAN.

Card image
KIDS DAILY DEVOTIONAL 04 Juni 2026 - TUHAN PENOLONGKU YANG SETIA
2026-06-05 12:55:47


Mazmur 46:5
“Allah ada di dalamnya, kota itu tidak akan goyah; Allah akan menolongnya menjelang pagi.”

Hai Rehobot Kids!
Pernahkah kamu melihat berita tentang perang atau hal-hal menakutkan di dunia? Mungkin kamu jadi merasa takut atau bertanya-tanya, “Apakah aku aman?” Perasaan itu wajar, kok.

Tapi ingat ya, kita punya Tuhan yang jauh lebih kuat dari apa pun di dunia ini. Firman Tuhan berkata bahwa Tuhan ada di tengah-tengah kita, sehingga kita tidak akan goyah. Artinya, Tuhan selalu dekat dan menjaga kita setiap waktu.

Saat rasa takut datang, jangan simpan sendiri. Datanglah kepada Tuhan dan berdoa. Kamu bisa berkata, “Tuhan, aku takut, tapi aku percaya Engkau menjagaku.” Tuhan mendengar setiap doa kita dan memberikan ketenangan di dalam hati.

Rehobot Kids, Tuhan adalah Penolong yang setia. Dia tidak pernah meninggalkan kita. Walaupun dunia terasa menakutkan, kita tetap aman di dalam tangan Tuhan.

Yuk, kita belajar percaya kepada Tuhan setiap hari. Karena bersama Tuhan, hati kita bisa tetap tenang dan tidak goyah.

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 04 Juni 2026 (English Version) - GOD SPEAKS THROUGH SPIRITUAL LEADERS
2026-06-05 12:48:55


Hebrews 13:7
"Remember your leaders, who spoke the word of God to you. Consider the outcome of their way of life and imitate their faith."

Rehobot Youth, sometimes we seek God’s voice in distant places, when in fact, God often speaks through those close to us: the spiritual leaders in our lives. Through pastors, mentors, spiritual brothers, or guides, God provides direction, rebuke, and even encouragement. But the problem is, we sometimes close our hearts. When advice doesn’t meet our expectations, we assume it’s human opinion, not God’s way of working.

In fact, God often uses spiritual authority to guide our lives. Spiritual leaders aren’t perfect. But God can use them as instruments to convey truth. Sometimes, with a simple sentence, God reminds us of something we need.

Sensitivity arises when we have a heart that is willing to learn and be taught. Not just listening, but also reflecting and applying. If we are open, we will realize: God is not silent. He speaks—including through the people He places to guide us.

WHAT TO DO?
• Listen to advice with an open heart, not defensiveness.
• Reflect on every direction, don’t immediately reject it.
• Build relationships with spiritual leaders who can guide you.

BIBLE MARATHON:
1 Thessalonians 2

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 04 Juni 2026 - GOD SPEAKS THROUGH SPIRITUAL LEADERS
2026-06-05 12:46:25


Ibrani 13:7
"Ingatlah akan pemimpin-pemimpin kamu, yang telah menyampaikan firman Allah kepadamu. Perhatikanlah akhir hidup mereka dan contohlah iman mereka."

Rehobot Youth, kadang kita mencari suara Tuhan di tempat yang jauh, padahal sering kali Tuhan sudah berbicara lewat orang yang dekat yakni pemimpin rohani dalam hidup kita. Lewat gembala, mentor, kakak rohani, atau pembimbing, Tuhan memberikan arahan, teguran, bahkan penguatan. Tapi masalahnya, kita kadang menutup hati. Saat nasihat nggak sesuai keinginan, kita anggap itu opini manusia, bukan cara Tuhan bekerja.

Padahal Tuhan sering pakai otoritas rohani untuk menjaga arah hidup kita. Pemimpin rohani bukan berarti sempurna. Tapi Tuhan bisa pakai mereka sebagai alat untuk menyampaikan kebenaran. Kadang lewat satu kalimat sederhana, Tuhan sedang mengingatkan sesuatu yang kita butuhkan.

Kepekaan itu muncul saat kita punya hati yang mau belajar dan diajar. Bukan cuma mendengar, tapi juga merenungkan dan menerapkan. Kalau kita terbuka, kita akan sadar: Tuhan nggak diam. Dia berbicara—termasuk lewat orang-orang yang Dia tempatkan untuk membimbing kita.

WHAT TO DO?
• Dengarkan nasihat dengan hati terbuka, bukan defensif.
• Renungkan setiap arahan, jangan langsung ditolak.
• Bangun hubungan dengan pemimpin rohani yang bisa membimbingmu.

BIBLE MARATHON:
1 Tesalonika 2

Card image
Renungan Pagi - 04 Juni 2026
2026-06-05 12:44:28


Jika kita mengarahkan pandangan hidup ini kepada hal-hal duniawi, maka akan cenderung menghalalkan segala cara demi semuanya.

Tetapi jika hidup ini diarahkan terus kepada Tuhan dan kebenaran-Nya maka kita berada dalam damai sejahtera Allah dan selalu dapat bersyukur pada Tuhan.

Card image
Quote Of The Day - 04 Juni 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-06-05 12:43:01


Salah satu ciri orang yang mengasihi Tuhan adalah ia tidak terpengaruh oleh keadaan apa pun tanpa mempersalahkan Tuhan.

Card image
Mutiara Suara Kebenaran - 04 Juni 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-06-05 12:42:00


Jika kita sudah menyerahkan hati dan hidup kita kepada Tuhan, barulah kita memiliki panggilan surgawi.

Card image
NOT YET ADDICTED TO THE TRUTH - 04 Juni 2026 (English Version)
2026-06-05 12:40:51


How foolish are those who do not recognize their spiritual poverty. Besides refusing to listen, they also refuse to be shaped by life experiences, focusing only on worldly matters. This example appears in Luke 12:13–21: they may be freed economically, rescued from a failing career, or improve their reputation, but they do not improve their character. When people do not recognize their poverty, what gets fixed is their economy, career, or education, and if there is a family problem, they ask to be prayed for. We must repair our inner life so we do not become like the figure in Revelation 3:17, where the Lord says we are blind, naked, poor, and wretched yet unaware of our condition and instead think ourselves great.

Many people are not yet addicted to the truth, so they do not feel thirst or hunger for it; as a result, their hearts are hard to shape. True theology is theology that changes a person’s character, demanding concrete implications and applications; theology that will transform us into the likeness of Jesus, turning sinful human nature into the people of God. If we remember the Lord’s sacrifice on the cross, we should lament ourselves, not only lament Jesus who died on the cross. 1 Timothy 6:6–10 says the root of all evil is the love of money, because loving money leads a person to deny their faith and destroy themselves. Money will never help. We must be sensitive to hear God’s voice so we can use our money according to God’s will, not to buy branded goods.

We must dare to have no cravings so we can be free. Only after we have surrendered our hearts and lives to God do we have a heavenly calling. We must be sensitive to God; whether money is in our hands or not does not matter, because our happiness does not lie in money. How can we stop loving money? Speak honestly to God and admit that we still love money, but that we want to forget the past and leave it behind. We stop loving money by hearing pure Scripture, sensing God’s presence, and continually having our thinking changed until we can forget and abandon our old self, until we desire God alone and truly become the poor who are blessed before God.

We must not take this statement lightly. It is an extraordinary declaration. In Greek, several words can be translated as “poor.” First, penichros (πενιχρός). This word denotes poverty in relation to worldly possessions or financial poverty—poor in the general sense. When Jesus points to a poor widow in Luke 21:2, the word used is penichros—poor in material terms.

Second, penes (πένης). Penes also means poor, but still having the capacity to support oneself through work. There are poor people around us who may barely make ends meet but can still survive—third, ptochoi (πτωχοὶ). When the Lord uses the word ptochoi, it indicates extreme poverty. This word also denotes utter helplessness.

The Lord Jesus bless you

MANY PEOPLE ARE NOT YET ADDICTED TO THE TRUTH, SO THEY DO NOT FEEL THIRST OR HUNGER FOR IT; AS A RESULT, THEIR HEARTS ARE HARD TO SHAPE.

Card image
BELUM TERCANDUI KEBENARAN - 04 Juni 2026
2026-06-05 12:39:20


Betapa konyol keadaan orang yang tidak menyadari kemiskinan rohaninya. Selain tidak mau mendengar, mereka juga tidak mau dibentuk lewat pengalaman hidup dan fokusnya hanya kepada perkara dunia. Contoh tersebut terdapat dalam Lukas 12:13-21, bagaimana mereka terbebas secara ekonomi, bebas dari karier yang menurun, memperbaiki reputasinya, tetapi tidak memperbaiki pribadinya. Ketika orang tidak menyadari kemiskinannya, maka yang diperbaiki itu ekonominya, kariernya, studinya; dan kalau ada masalah rumah tangga, minta didoakan. Kita harus memperbaiki batin kita agar kita tidak seperti sosok dalam Wahyu 3:17, di mana Tuhan berkata bahwa kita ini seperti orang yang buta, telanjang, miskin, dan melarat, tetapi kita tidak sadar akan keadaan diri dan justru merasa hebat.

Banyak orang belum tercandui oleh kebenaran sehingga mereka tidak merasa haus dan lapar akan kebenaran; akibatnya, hatinya susah dibentuk. Sejatinya, teologi yang benar adalah teologi yang akan mengubah karakter seseorang, menuntut implikasi dan aplikasi yang konkret; teologi yang akan mengubah kita menjadi seperti Tuhan Yesus, mengubah manusia berkodrat dosa menjadi manusia Allah. Apabila kita mengingat pengurbanan Tuhan di kayu salib, hendaknya kita meratapi diri sendiri dan bukan hanya meratapi Tuhan Yesus yang mati di kayu salib. Dalam 1 Timotius 6:6-10 dikatakan bahwa akar segala kejahatan ialah cinta uang, karena cinta uang membuat seseorang menyangkali imannya dan membinasakan dirinya. Uang tidak akan pernah bisa menolong. Kita harus peka mendengar suara Tuhan sehingga bisa mempergunakan uang kita sesuai dengan kehendak Tuhan, bukan untuk mencari barang-barang bermerek.

Kita harus berani untuk tidak mempunyai keinginan sehingga kita bisa merdeka. Jika kita sudah menyerahkan hati dan hidup kita kepada Tuhan, barulah kita memiliki panggilan surgawi. Kita harus peka terhadap Tuhan; uang itu ada di tangan kita atau tidak, tidak menjadi masalah, karena kebahagiaan kita bukan terletak pada uang. Bagaimana caranya supaya kita tidak cinta uang? Bicaralah jujur kepada Tuhan dan katakan bahwa kita memang masih cinta uang, tetapi kita mau melupakan masa lalu dan meninggalkannya. Cara kita berhenti dari cinta uang ialah dengan mendengar firman yang murni, merasakan kehadiran Tuhan, dan terus-menerus cara berpikir kita diubah sampai kita bisa melupakan dan meninggalkan manusia lama kita, sampai akhirnya kita bisa mengingini Tuhan saja dan benar-benar menjadi orang miskin yang berbahagia di hadapan Tuhan.

Kita tidak boleh menganggap sepele pernyataan ini. Ini adalah sebuah pernyataan yang luar biasa. Di dalam bahasa Yunani ada beberapa kata yang dapat diterjemahkan “miskin,” yaitu: pertama, penikros (πενιχρός). Kata ini menunjuk arti miskin dalam kaitannya dengan harta duniawi atau kemiskinan secara finansial, miskin dalam pengertian umum. Ketika Tuhan Yesus menunjuk dalam Lukas 21:2 kepada janda yang miskin, kata “miskin” di situ menggunakan kata penikros, yaitu miskin secara harta atau miskin dalam pengertian umum.

Kedua, penes (πένης). Kata penes juga berarti miskin, tetapi masih memiliki kemampuan untuk menghidupi diri sendiri dengan bekerja. Ada orang-orang miskin di sekitar kita, walaupun mungkin gali lubang tutup lubang, tetapi masih bisa bertahan hidup. Ketiga, ptokoi (πτωχοὶ). Ketika Tuhan menggunakan kata ptokoi, ini menunjukkan suatu kemiskinan yang sangat ekstrem. Kata ini juga berarti ketidakberdayaan.

Tuhan Yesus memberkati

BANYAK ORANG BELUM TERCANDUI OLEH KEBENARAN SEHINGGA MEREKA TIDAK MERASA HAUS DAN LAPAR AKAN KEBENARAN; AKIBATNYA, HATINYA SUSAH DIBENTUK.

Card image
KIDS DAILY DEVOTIONAL 01 Juni 2026 - TUHAN KEKUATAN DAN PERISAIKU
2026-06-02 22:10:42


Mazmur 28:7
“TUHAN adalah kekuatanku dan perisaiku; kepada-Nya hatiku percaya. Aku tertolong sebab itu beria-ria hatiku, dan dengan nyanyianku aku bersyukur kepada-Nya.”

Rehobot Kids, pernahkah kamu melihat teman yang diperlakukan tidak baik? Misalnya diejek, ditertawakan, atau tidak diajak bermain. Kadang kita ingin menolong, tetapi kita merasa takut—takut ikut diejek atau dijauhi teman lain. Hati kita jadi ragu untuk berbuat benar.

Tetapi firman Tuhan mengingatkan bahwa Tuhan adalah kekuatan dan perisai kita. Artinya, Tuhan memberi kita keberanian untuk melakukan yang benar dan melindungi hati kita dari rasa takut. Kita tidak sendirian saat memilih berbuat baik.

Bayangkan ada teman yang duduk sendirian. Lalu kamu datang dan berkata, “Ayo kita main bersama.” Mungkin terlihat sederhana, tetapi itu sangat berarti. Kamu sedang menjadi alat Tuhan untuk membawa kasih dan sukacita bagi temanmu.

Saat kita berani melakukan yang benar, Tuhan menguatkan kita dari dalam. Ia membuat kita tidak takut, karena kita tahu Dia selalu bersama kita.

Yuk, Rehobot Kids, belajar berani melakukan kebaikan setiap hari. Kalau ada teman yang membutuhkan, jangan ragu untuk menolong. Ingat, Tuhan adalah kekuatanmu dan Dia selalu menjagamu.

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 01 Juni 2026 (English Version) - GOD IN YOUR STORY
2026-06-02 22:08:21


Proverbs 3:5–6
"Trust in the Lord with all your heart and lean not on your own understanding; in all your ways submit to him, and he will make your paths straight."

Rehobot Youth, each of us has a story. There are happy moments, and there are also painful ones. But often we see life’s experiences as mere occurrences—without realizing that God is at work in them.

God doesn’t only speak through the Word or other people, but also through our personal experiences. Failure can be God’s way of teaching us to depend on Him. Success can be a reminder that everything comes from God. Even simple moments—conversations, opportunities, or small events—can be part of God’s way of guiding our steps.

The problem is, we often rush through experiences without reflecting on their meaning. Yet, that’s where God often “leaves traces.”

When we become more discerning, we’ll realize: God is never silent. He is guiding, shaping, and directing our lives through every process we experience. Your life isn’t just a series of events—it’s where God is at work.

WHAT TO DO?
• Take time to reflect on your experiences.
• Ask: “God, what are you teaching me through this?”
• Learn to see each process as part of God’s guidance.

BIBLE MARATHON:
Colossians 3

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 01 Juni 2026 - GOD IN YOUR STORY
2026-06-02 22:06:14


Amsal 3:5–6
"Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri. Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu."

Rehobot Youth, setiap kita punya cerita. Ada momen bahagia, ada juga yang menyakitkan. Tapi sering kali kita melihat pengalaman hidup hanya sebagai kejadian biasa—tanpa sadar bahwa Tuhan sedang bekerja di dalamnya.

Tuhan tidak hanya berbicara lewat firman atau orang lain, tapi juga lewat pengalaman pribadi kita. Kegagalan bisa jadi cara Tuhan mengajar kita bergantung pada-Nya. Keberhasilan bisa jadi pengingat bahwa semua berasal dari Tuhan. Bahkan momen sederhana—percakapan, kesempatan, atau kejadian kecil—bisa jadi bagian dari cara Tuhan menuntun langkah kita.

Masalahnya, kita sering terlalu cepat melewati pengalaman tanpa merenungkan maknanya. Padahal di situlah Tuhan sering “meninggalkan jejak.”

Saat kita mulai peka, kita akan sadar: Tuhan nggak pernah diam. Dia sedang menuntun, membentuk, dan mengarahkan hidup kita lewat setiap proses yang kita alami. Hidupmu bukan sekadar rangkaian kejadian—itu adalah tempat Tuhan sedang bekerja.

WHAT TO DO?
• Luangkan waktu untuk merefleksikan pengalaman yang kamu alami.
• Tanyakan: “Tuhan, apa yang Engkau ajarkan lewat ini?”
• Belajar melihat setiap proses sebagai bagian dari tuntunan Tuhan.

BIBLE MARATHON:
Kolose 3

Card image
Quote Of The Day - 01 Juni 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-06-02 22:02:19


Jangan biarkan orang lain dan keadaan mengendalikan hidup kita.

Card image
Mutiara Suara Kebenaran - 01 Juni 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-06-02 22:01:33


Apabila ada orang yang merasa bahwa ajaran Kristen itu tidak menarik, hal ini dikarenakan ia tidak mengetahui dan tidak mengerti luar biasanya Injil.

Card image
THE BEATITUDES - 01 Juni 2026 (English Version)
2026-06-02 22:00:41


The Beatitudes are part of Jesus’ Sermon on the Mount, which forms the foundation of believers’ lives (Matt. 5:1–12). It is regrettable when believers do not understand the meaning of the Sermon on the Mount deeply. Therefore, every believer must study Matthew 5, 6, and 7 closely, which also contain the Beatitudes often referred to as the golden law for believers. The Lord begins the Sermon on the Mount with the Beatitudes, which signal how believers should bring the atmosphere of the Kingdom of Heaven into this life—an atmosphere they themselves will enjoy and that others around them will feel.

Without living out the Truth God gives in the beatitudes, believers will not find true happiness. Because God Himself says, “Blessed are,” if we do not live by the truths He gives, our lives are not blessed. In fact, we have failed to bring the atmosphere of the Kingdom of Heaven into our lives and those around us. Studying the Truth in the Beatitudes will make our lives stand out from those of most other people. But we must recognize that the truths God teaches are indeed different from what the world teaches; their spirit is different. God teaches, “Blessed are the poor,” whereas the world’s view is the opposite. Therefore, we must understand what “poor” means in that sentence.

We must also correctly understand the concept of “being blessed,” because talk of happiness and good fortune depends heavily on an individual’s way of thinking, philosophy, life concept, and soul’s taste. Changing someone’s way of thinking and philosophy is not easy, like asking someone who has always eaten sour vegetable soup to eat a burger; the burger will feel strange or unfamiliar to their palate. How to change that taste is the struggle each of us must face. The word “blessed” comes from the Greek makarioi, meaning “happy,” “fortunate,” or “one who receives privilege.”

If someone finds Christian teaching unattractive, it is because they do not know or understand how extraordinary the Gospel is. The Gospel is extraordinary because Truth itself teaches it. Wisdom itself teaches us—a source that never runs dry. Therefore, many people cannot enjoy it unless they use their intellect fully and have a heart that loves God and His Word. Such people certainly cannot enjoy the Truth in Christian teaching, especially those already corrupted by various worldly ways of thinking or philosophies; their souls will reject it.

God will guide us with His patience, provided we persevere; the two are interconnected. Therefore, we must look at the core issues of life, not a spouse, not even a house’s needs, but us- we seek God’s help, toward God’s physical needs or unpleasant situations, but toward our own issues—how we carry out His will and fulfill His plan, namely becoming persons pleasing to the Father.

The common idea is that people seek God’s protection, hoping God will provide help and intervention to meet physical needs and keep them from difficulties. Thus, when that person has no problems and all difficulties are resolved, they no longer seek God diligently. Yet growth must continue. Growth exists within a journey of time. For the development of faith, we must use every aspect of time optimally, i.e, kronos, kairos, and hora. Kronos is time viewed in sequence, kairos are the significant moments within a time span, and hora is a limited period of time. Usually, when someone feels they have abundant time, they become wasteful or ineffective in using it.

THE Lord Jesus bless you

Without living out the Truth God gives in the beatitudes, believers will not find true happiness.

Card image
UCAPAN BAHAGIA - 01 Juni 2026
2026-06-02 21:58:24


Ucapan Bahagia merupakan bagian dari Khotbah Tuhan Yesus di Bukit, yang menjadi landasan hidup orang percaya (Mat. 5:1-12). Sangatlah disayangkan apabila orang percaya tidak mengetahui makna dari Khotbah di Bukit secara mendalam. Maka, setiap orang percaya harus mendalami Matius 5, 6, dan 7, di mana di dalamnya juga terdapat Ucapan Bahagia yang biasa disebut sebagai undang-undang emas bagi orang percaya. Tuhan mengawali Khotbah di Bukit dengan Ucapan Bahagia yang merupakan isyarat yang menunjukkan bagaimana orang percaya harus menghadirkan suasana Kerajaan Surga dalam hidup ini, yang tentu akan dinikmati oleh dirinya sendiri dan dirasakan oleh orang-orang di sekitarnya.

Tanpa menghidupi kebenaran yang Tuhan berikan dalam Ucapan Bahagia, orang percaya tidak akan menemukan kebahagiaan yang sesungguhnya. Sebab Tuhan sendiri yang mengatakan, “Berbahagialah,” maka apabila kita tidak menghidupi kebenaran yang Tuhan berikan ini, berarti hidup kita tidak berbahagia. Bahkan, kita telah gagal untuk menghadirkan suasana Kerajaan Surga di dalam hidup kita dan hidup orang-orang di sekitar kita. Mempelajari kebenaran dalam Ucapan Bahagia ini akan membawa kehidupan kita menjadi bertentangan dengan manusia lain pada umumnya. Namun, kita harus melihat fakta bahwa kebenaran yang Tuhan ajarkan itu memang berbeda dengan yang diajarkan dunia; semangatnya pun berbeda. Tuhan mengajar, “Berbahagialah orang yang miskin,” sedangkan dalam pandangan dunia adalah sebaliknya. Oleh karena itu, kita harus mengerti maksud dari “miskin” dalam kalimat tersebut.

Konsep “berbahagia” itu juga harus kita mengerti dengan benar, sebab berbicara mengenai kebahagiaan dan keberuntungan sangat bergantung pada cara berpikir, filosofi, dan konsep hidup masing-masing individu serta selera jiwa seseorang. Sedangkan untuk mengubah konsep berpikir dan mengubah filosofi tidaklah mudah, seperti seseorang yang biasa makan sayur asam kemudian disuruh makan burger; tentu burger menjadi sesuatu yang asing atau tidak familier di lidahnya. Bagaimana mengubah cita rasa itulah yang harus menjadi pergumulan setiap kita. Kata “berbahagialah” berasal dari kata dalam bahasa Yunani, makarioi, yang berarti berbahagia, beruntung, orang yang mendapat hak istimewa.

Apabila ada orang yang merasa bahwa ajaran Kristen itu tidak menarik, hal ini dikarenakan ia tidak mengetahui dan tidak mengerti luar biasanya Injil. Injil menjadi luar biasa karena yang mengajarkan Injil adalah Sang Kebenaran itu sendiri. Sang Hikmat itu sendiri yang mengajar kita, suatu sumber yang tidak pernah habis. Oleh karena itu, banyak orang tidak bisa menikmatinya jika tidak menggunakan akal budi secara maksimal serta tidak memiliki hati yang mencintai Tuhan dan firman-Nya. Orang-orang yang demikian tentu tidak bisa menikmati kebenaran dalam ajaran Kristen, apalagi orang-orang yang sudah terlanjur rusak oleh berbagai cara berpikir atau filosofi dunia; cita rasa jiwanya yang sudah terlalu rusak akan menolak.

Tuhan akan membimbing kita dengan kesabaran-Nya, asal kita memiliki ketekunan; di mana hal ini akan saling bertalian. Oleh karena itu, kita harus melihat inti persoalan hidup—bukan jodoh, bukan pula kebutuhan rumah—yang ada di dalam diri kita. Jadi, ketika kita mencari pertolongan Tuhan, orientasinya bukanlah pada kebutuhan jasmani atau situasi yang tidak menyenangkan, melainkan pada persoalan diri kita sendiri—bagaimana kita melakukan kehendak-Nya dan memenuhi rencana-Nya, yaitu menjadi pribadi yang berkenan di hadapan Bapa.

Konsep orang pada umumnya, mereka mencari perlindungan Tuhan agar Tuhan memberikan pertolongan dan campur tangan-Nya untuk pemenuhan kebutuhan jasmani serta menghindarkan dari kesulitan-kesulitan. Maka, ketika orang tersebut tidak ada masalah dan semua kesulitannya beres, ia tidak lagi mencari Tuhan dengan tekun. Padahal, pertumbuhan itu harus berlangsung terus-menerus. Pertumbuhan itu berada di dalam suatu perjalanan waktu. Demi perkembangan iman, kita harus menggunakan setiap aspek waktu secara maksimal, yakni kronos, kairos, dan hora. Kronos adalah aspek waktu yang dilihat dari urutannya, sedangkan kairos adalah momentum-momentum dalam satu rentang waktu; hora ialah suatu rentang waktu yang terbatas. Biasanya, ketika seseorang merasa memiliki waktu yang berlimpah, ia menjadi boros atau tidak efektif dalam menggunakannya.

Tuhan Yesus memberkati

Tanpa menghidupi kebenaran yang Tuhan berikan dalam Ucapan Bahagia, orang percaya tidak akan menemukan kebahagiaan yang sesungguhnya.

Card image
KIDS DAILY DEVOTIONAL 31 Mei 2026 - MAKIN BERHIKMAT
2026-06-01 23:03:34


Lukas 2:52
“Dan Yesus makin bertambah besar dan bertambah hikmat-Nya dan besar-Nya, dan makin dikasihi oleh Allah dan manusia.”

Rehobot Kids, pernah nggak kamu merasa senang saat berhasil belajar sesuatu yang baru? Misalnya bisa mengerjakan soal yang dulu sulit atau memahami pelajaran yang sebelumnya membingungkan. Itu tanda bahwa kamu sedang bertumbuh.

Firman Tuhan menceritakan bahwa Tuhan Yesus juga bertumbuh, bukan hanya secara fisik, tetapi juga dalam hikmat dan karakter. Artinya, sejak kecil Yesus belajar menjadi pribadi yang bijaksana dan menyenangkan hati Tuhan.

Kita juga bisa bertumbuh seperti Yesus. Bukan hanya secara fisik atau menjadi lebih pintar, tetapi juga berhikmat dalam berkata dan bertindak. Pertumbuhan terjadi saat kita mau diajar dan tidak merasa paling tahu.

Yuk, Rehobot Kids, terus semangat bertumbuh setiap hari. Belajar hal yang baik, perbaiki sikap, dan lakukan yang benar supaya hidup kita semakin berhikmat dan menyenangkan hati Tuhan.

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 31 Mei 2026 (English Version) - GOD IN COMMUNITY
2026-06-01 23:00:00


Jeremiah 29:7
"Seek the welfare of the city where I have sent you into exile, and pray to the Lord for it, for its welfare is your welfare."

God’s presence isn’t just real in church or within the family, but also in the midst of society. As young people, we’re called to be a light that brings peace, love, and hope. God’s presence can be felt through the way we act, work, and relate to others.

As young people, we often feel small in the midst of a vast society. But through simple attitudes like honesty, caring, and a willingness to serve, we can bring about divine reality. God’s presence isn’t about grand gestures, but how consistently we show love in small things.

If we learn to bring God into the midst of society, we are becoming living witnesses of Christ. From there, others can see that faith is not just words, but is made real through actions that bring peace and glorify God.

WHAT TO DO?
• Use your talents and daily activities to be a blessing to others.
• Show love through simple attitudes: honesty, care, and a willingness to help.
• Remember that God’s presence can be made real through consistent small acts.

BIBLE MARATHON:
Colossians 2

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 31 Mei 2026 - GOD IN COMMUNITY
2026-06-01 22:58:37


Yeremia 29:7
"Usahakanlah kesejahteraan kota ke mana kamu Aku buang, dan berdoalah untuk kota itu kepada TUHAN, sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu."

Kehadiran Allah bukan cuma nyata di gereja atau keluarga, tapi juga di tengah masyarakat. Sebagai anak muda, kita dipanggil untuk jadi terang yang membawa damai, kasih, dan harapan. Kehadiran Tuhan bisa dirasakan lewat cara kita bersikap, bekerja, dan berelasi dengan orang lain.

Sebagai anak muda, kita sering merasa kecil di tengah masyarakat yang luas. Tapi lewat sikap sederhana kayak jujur, peduli, dan mau melayani kita bisa menghadirkan realitas ilahi. Kehadiran Allah bukan soal hal besar, tapi bagaimana kita konsisten menunjukkan kasih dalam hal-hal kecil.

Kalau kita belajar menghadirkan Tuhan di tengah masyarakat, kita sedang jadi saksi Kristus yang hidup. Dari situ, orang lain bisa melihat bahwa iman bukan cuma kata-kata, tapi nyata lewat tindakan yang membawa damai dan memuliakan Tuhan.

WHAT TO DO?
• Gunakan talenta dan aktivitas sehari-hari untuk jadi berkat bagi orang lain.
• Tunjukkan kasih lewat sikap sederhana: jujur, peduli, dan mau menolong.
• Ingat bahwa kehadiran Allah bisa nyata lewat tindakan kecil yang konsisten.

BIBLE MARATHON:
Kolose 2

Card image
Renungan Pagi - 31 Mei 2026
2026-06-01 22:56:52


Perkataan sangat berkuasa, karena perkataan bisa menentukan baik buruknya kehidupan, kita akan menikmati dan menanggung sendiri buah dari perkataan.

Sebagai orang percaya, seharusnya berkata-kata yang positif, harus memiliki motivasi untuk menjadi berkat melalui perkataan.

Karena kita dipanggil untuk menjadi berkat yang memancarkan kasih, mencerminkan Kristus melalui perkataan.

Card image
Quote Of The Day - 31 Mei 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-06-01 22:48:08


Manusia tidak berhak hidup untuk siapa pun, bahkan tidak juga untuk dirinya sendiri, kecuali untuk Penciptanya.

Card image
Mutiara Suara Kebenaran - 31 Mei 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-06-01 22:46:47


Bersekutu dengan diri Allah sendiri dapat mengimpartasikan pikiran dan perasaan Allah itu kepada kita.

Card image
ETERNAL MIRACLE - 31 Mei 2026 (English Version)
2026-06-01 22:36:55


By reviewing the accounts of Jesus’ miracles in Matthew 4:23–25, we find that God inscribed an eternal miracle in the lives of those people. Regardless of the ultimate quality of their faith in God, they experienced the Lord’s visitation directly. They heard His teaching firsthand and witnessed miracles with their own eyes. On paper, they should have been the most committed to following the Lord. Yet in fact, many among them likely cried, “Crucify Him!” when Jesus faced judgment by the Roman authorities. From this, we can say that miracles have influence or charm for a certain period of time. However, when the memory of that experience fades, and circumstances change, the miracle itself cannot sustain our delight in God.

The eternal miracle actually lies in the relationship with God itself. Why is that? As discussed in recent reflections, miracles are signposts that point someone to knowing Christ, who reveals the mysterious Father. Knowing always speaks of a relationship. A good relationship begins with true knowledge. When someone knows God, they are expected to have a good relationship with Him. We, who are sinful and often disappoint God, should not be able to relate to Him, but God acts differently. He does many things to reconcile us to Himself. This begins supremely through the sacrifice of His only Son (Colossians 1:20). Through Jesus’ obedience unto death on the cross, we who were far are reconciled and brought near.

In many religions and beliefs, drawing near to God is seen as unattainable. God and humans are regarded as irreconcilably distant because God is divine and humans are merely human. The human condition is always weak, separating it from the divine. But through Jesus’ life and sacrifice, we are reconciled to God and may even call Him “Father.” This should be seen as the greatest eternal miracle. Fellowship with Him truly transforms us. Fellowship with a miraculous act may produce only temporary effects on our feelings; *fellowship with God Himself can impart God’s mind and heart to us.* This should capture our attention, for it is a rare and honoured opportunity. Ironically, many do not regard a relationship with God as a rare opportunity. They undervalue it. God is treated as an imaginary figure whose presence is optional. For them, pursuing money and material well-being is more important than relating to God. The relationship with God is postponed, as if it isn’t primary. If one grasps that humans are limited in every way, we are truly fortunate to have an unlimited God. Many are pessimistic about relating to God because they think God is abstract and unreachable. Yet many believe evil spirits and dark powers are everywhere and can easily possess someone. If one believes evil spirits are pervasive and frightening, one should believe even more that God is everywhere and far more awe-inspiring. *Fellowship with God is not abstract, difficult, or speculative; it becomes real insofar as we properly place Him in our lives.* As long as we have the right longing, He will not ignore us. Scripture says He is faithful even when we are not. This is a remarkable Person in love and faithfulness. Thus, to be in fellowship with Him is an eternal miracle.   The Lord Jesus bless you THE ETERNAL MIRACLE ACTUALLY LIES IN THE RELATIONSHIP WITH GOD ITSELF.

Card image
MUKJIZAT ABADI - 31 Mei 2026
2026-06-01 22:21:23


Dengan meninjau kisah Yesus yang melakukan mukjizat pada Matius 4:23-25, kita dapat menemukan bahwa Tuhan menggoreskan mukjizat abadi dalam kehidupan orang-orang tersebut. Terlepas dari hasil akhir bagaimana kualitas percaya mereka kepada Tuhan, mereka mengalami lawatan Tuhan dalam hidup mereka secara langsung. Mereka pernah merasakan pengajaran Tuhan secara langsung dan menyaksikan mukjizat dengan mata kepala mereka sendiri. Di atas kertas, seharusnya merekalah orang-orang yang paling serius untuk mengikut Tuhan. Namun faktanya, kemungkinan besar di antara merekalah yang berteriak, “Salibkan Dia!” ketika Yesus hendak divonis oleh kekaisaran Romawi. Berangkat dari hal ini, kita dapat mengatakan bahwa mukjizat memiliki dampak atau pesona dalam jangka waktu tertentu. Namun, ketika ingatan akan hal itu mulai memudar dan keadaan berubah, pengalaman mukjizat tidak sanggup menolong kita untuk berkenan kepada Allah.

Mukjizat yang abadi sebenarnya terletak pada hubungan dengan Allah itu sendiri. Mengapa demikian? Seperti yang telah dibahas dalam beberapa renungan belakangan, mukjizat adalah penunjuk arah yang mengarahkan seseorang pada pengenalan akan Kristus yang sebenarnya mencerminkan Allah Bapa yang misterius. Pengenalan selalu berbicara tentang hubungan. Hubungan yang baik dimulai dengan pengenalan yang baik. Ketika seseorang mengenal Allah, ia diharapkan memiliki hubungan yang baik dengan-Nya. Seharusnya, kita yang berdosa dan sering kali mengecewakan Allah tidak dapat berhubungan dengan-Nya. Namun Allah berkata berbeda. Ia melakukan banyak hal demi mendamaikan kita dengan-Nya. Hal ini pertama-tama dilakukan Allah melalui kurban Putra Tunggal-Nya (Kol. 1:20). Dengan ketaatan Yesus sampai mati di kayu salib, kita yang jauh telah diperdamaikan menjadi dekat dengan-Nya.

Dalam berbagai agama dan kepercayaan, menjadi dekat dengan Allah adalah suatu hal yang jauh dari angan-angan. Allah dan manusia dipandang memiliki jarak yang tidak dapat diperdamaikan, sebab Allah adalah ilahi dan manusia bersifat insani. Yang insani selalu memiliki kelemahan dan kerapuhan yang menjauhkannya dari Yang Ilahi. Namun dalam kehidupan dan kurban Tuhan Yesus, kita semua diperdamaikan dengan Allah dan bahkan dapat memanggil-Nya “Bapa”. Ini harus dipandang sebagai mukjizat terbesar yang bersifat abadi. Sebab dengan bersekutu dengan-Nya, kita sungguh diubahkan. Bersekutu dengan mukjizat Allah mungkin hanya melahirkan efek temporal pada perasaan kita. Akan tetapi, bersekutu dengan diri Allah sendiri dapat mengimpartasikan pikiran dan perasaan Allah itu kepada kita. Hal ini seharusnya menarik perhatian kita, sebab ini kesempatan yang langka dan terhormat.

Ironisnya, banyak orang yang tidak memandang hubungan dengan Allah ini sebagai kesempatan langka. Mereka memandang rendah hubungan dengan Allah. Allah dipandang sebagai sosok imajiner yang bisa ada atau tidak ada. Bagi mereka, mencari uang dan kesejahteraan hidup lebih penting daripada hubungan dengan Allah. Hubungan dengan Allah dapat ditunda karena bukan sesuatu yang primer. Jika seseorang dapat menghayati bahwa manusia adalah makhluk yang terbatas dalam segala hal, sungguh beruntung kita memiliki Allah yang tidak terbatas.

Banyak orang pesimis berhubungan dengan Allah karena merasa Allah abstrak dan sulit dijangkau. Padahal, banyak orang percaya bahwa roh jahat dan kuasa gelap bisa ada di mana-mana dan mudah untuk merasuki seseorang. Kalau kita percaya roh jahat ada di mana-mana dan menggentarkan, seharusnya kita lebih percaya bahwa Allah ada di mana-mana dan lebih menggentarkan. Bersekutu dengan Allah bukanlah sesuatu yang abstrak, sulit, atau spekulatif, melainkan hal yang konkret sejauh kita menempatkan-Nya secara pantas dalam hidup kita. Selama kita memiliki kerinduan yang benar, Ia tidak mungkin mengabaikan kita. Alkitab berkata bahwa Ia setia, meskipun kita tidak setia. Ini adalah Sosok yang luar biasa dalam kasih dan kesetiaan. Maka, bisa bersekutu atau berhubungan dengan-Nya adalah sebuah mukjizat abadi.

Tuhan Yesus memberkati

MUKJIZAT YANG ABADI SEBENARNYA TERLETAK PADA HUBUNGAN DENGAN ALLAH ITU SENDIRI.

Card image
KIDS DAILY DEVOTIONAL 30 Mei 2026 - JADI ANAK YANG BERHIKMAT
2026-05-31 20:37:39


Mazmur 1:1–2
“Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh, tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam.”

Rehobot Kids, pernah nggak kamu bingung memilih mana yang benar dan mana yang salah? Misalnya saat teman mengajak berbuat curang atau tidak jujur. Kadang memang tidak mudah, ya.

Firman Tuhan mengajarkan bahwa anak yang berhikmat adalah anak yang tidak ikut-ikutan melakukan hal yang salah, tetapi memilih untuk hidup sesuai dengan firman Tuhan. Kita belajar menjauhi yang buruk dan senang mendengar serta melakukan firman Tuhan.

Hikmat itu datang saat kita dekat dengan Tuhan. Ketika kita rajin membaca Alkitab, mendengarkan firman, dan mengingatnya setiap hari, kita jadi lebih tahu mana yang benar.

Yuk, Rehobot Kids, belajar memilih yang benar setiap hari. Dengan dekat pada firman Tuhan, kita akan menjadi anak yang berhikmat dan menyenangkan hati Tuhan.

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 30 Mei 2026 (English Version) - LIVING OUT GOD'S PRESENCE
2026-05-31 20:34:39


Matthew 5:16
“Let your light shine before others, so that they may see your good deeds and glorify your Father in heaven.”

We often imagine God’s presence as something spiritual and personal—something that happens during worship, prayer, or quiet moments with God. But Jesus teaches us something more tangible: that light is not meant to be hidden, but to be seen and felt by others.

Jesus calls us to be the light of the world. This means that the lives of believers should be a sign of God’s presence among others. Not merely through spiritual words, but through actions that radiate love, honesty, compassion, and integrity.

Light works in everyday life: when we choose not to repay evil with evil, when we care for those who are overlooked, when we continue to do what is right even when no one is watching. It is in these simple actions that others can see the character of God.

Living out God’s presence means allowing our lives to become a bridge—so that others not only hear about God, but experience Him. When our good deeds glorify the Father, the world sees that God is real and at work through His people.

WHAT TO DO?
• Ask yourself: Does my life reflect the light of Christ?
• Do one good deed today with the motivation to glorify God, not to seek recognition.
• Pray that God will use your life as a channel of His presence among others.

BIBLE MARATHON:
Colossians 1

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 30 Mei 2026 - MENGHIDUPI KEHADIRAN ALLAH
2026-05-31 20:28:47


Matius 5:16
“Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.”

Kehadiran Allah sering kali kita bayangkan sebagai sesuatu yang rohani dan personal—terjadi saat ibadah, doa, atau momen sunyi bersama Tuhan. Namun Yesus mengajarkan sesuatu yang lebih nyata: terang itu tidak dimaksudkan untuk disembunyikan, melainkan untuk dilihat dan dirasakan oleh orang lain.

Yesus memanggil kita sebagai terang dunia. Artinya, hidup orang percaya seharusnya menjadi tanda kehadiran Allah di tengah sesama. Bukan lewat kata-kata rohani semata, tetapi melalui perbuatan yang memancarkan kasih, kejujuran, kepedulian, dan integritas.

Terang bekerja dalam keseharian: saat kita memilih untuk tidak membalas kejahatan dengan kejahatan, saat kita peduli kepada mereka yang terabaikan, saat kita tetap melakukan yang benar meski tidak ada yang melihat. Dalam tindakan-tindakan sederhana itulah orang lain dapat melihat karakter Allah.

Menghidupi kehadiran Allah berarti membiarkan hidup kita menjadi jembatan—agar orang lain tidak hanya mendengar tentang Tuhan, tetapi mengalami-Nya. Ketika perbuatan baik kita memuliakan Bapa, dunia melihat bahwa Allah itu nyata dan bekerja melalui umat-Nya.

WHAT TO DO?
• Tanyakan pada diri sendiri: apakah hidupku memantulkan terang Kristus?
• Lakukan satu perbuatan baik hari ini dengan motivasi memuliakan Tuhan, bukan mencari pengakuan.
• Berdoa agar Tuhan memakai hidupmu sebagai saluran kehadiran-Nya di tengah sesama.

BIBLE MARATHON: Kolose 1

Card image
Renungan Pagi - 30 Mei 2026
2026-05-31 20:26:12


Kadangkala hidup sudah terlalu jauh dari Tuhan, saat ada digereja tapi hati jauh dari Tuhan, kita membaca Alkitab, tetapi melanggar apa yang Alkitab katakan.

Mari kita kembali hidup dekat dan intim dengan Tuhan, miliki waktu untuk selalu bersekutu dengan Tuhan, karena lewat cara itu kita dapat mengalami damai sejahtera dan sukacita, sehingga wajah kita akan selalu berseri dan bersukacita.

Card image
Quote Of The Day - 30 Mei 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-05-31 20:19:22


Manusia bisa memiliki segala kelebihan, tetapi kalau ia tidak menyukakan hati Tuhan, semuanya menjadi sia-sia.

Card image
Mutiara Suara Kebenaran - 30 Mei 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-05-31 20:18:07


Allah kita bukanlah Allah yang haus akan pujian karena perbuatan spektakuler yang dilakukan-Nya. Ia adalah Allah yang ingin memiliki ikatan batin dengan kita.

Card image
COMING BECAUSE OF HIS PERSON - 30 Mei 2026 (English Version)
2026-05-31 20:16:47


It cannot be denied that some come to God because of His powerful hand. In fact, they are people who have not fully understood why they follow God. Matthew 4:25 describes crowds coming after Him because of the miracles He performed. They came not only from one region but from many—Galilee, the Decapolis, Jerusalem, Judea, and beyond the Jordan. News of Jesus’ miracles drew many because of their spectacle. Here we see that God is not against miracles or the spectacular; rather, He uses miracles as signposts that lead people to Himself.

The problem arises when people are dazzled and fixated on the miracle itself, making the miracle the final destination. Worse, some seek God only to obtain a miracle, and once they receive it, they leave Him. This happened to the ten lepers healed in Luke 17:11–19: only one—a Samaritan—returned to give thanks. The other nine enjoyed their healing and stopped being healed. They did not meet God through the miracle they experienced. This shows that miracles do not always lead to a true encounter with God; people can meet their own ego and feel they have gotten what they wanted, with no further desire to discern God’s purpose in the miracle. Likewise, many who witnessed Jesus’ miracles later departed from Him (John 6:66), confirming that not everyone who experiences a miracle understands its meaning and purpose.

Many come to God because of His mighty hand, but few come to Him for who He is. Those who truly grasp the essence of following God draw near because of His person. Let us be among that small number. This means that even if our struggles and needs remain unresolved, we will not become disappointed or despair of God.

Saying that the true reason to follow God is His person does not invalidate those who first came because of a miracle. The Greek word for sign, semeion, means “a pointer.” A miracle is one way God calls people back to Himself. Someone who experiences a miracle as an adult and then comes to know God is as legitimate as someone who has known God from childhood. God’s curriculum differs for each person. The problem is when someone becomes fixated on the signpost. If the sign is removed or not given again, they are disappointed.

We should continue to grow in the knowledge of God. Our God is not one who craves praise for spectacular acts; He desires an inward bond with us. He wants us to come to Him not for what He can give, but simply because we want to come. We long for His person. We long for His presence that touches our sinful hearts. We long for counsel, correction, and hope from His Word. This is what He desires of us: a childlike heart that seeks the Father because we recognize how essential He is in our lives.

The Lord Jesus bless you

THOSE WHO TRULY GRAPS THE ESSESCE OF FOLLOWING GOD DRAW NEAR BECAUSE OF HIS PERSON. LET US BE AMONG THAT SMALL NUMBER.

Card image
DATANG KARENA PRIBADI-NYA - 30 Mei 2026
2026-05-31 20:14:06


Tidak dapat dipungkiri bahwa ada orang-orang yang datang kepada Tuhan karena tangan-Nya yang penuh kuasa. Sebenarnya, mereka adalah orang-orang yang belum sepenuhnya memahami alasan mengapa mereka mengikut Tuhan. Matius 4:25 menggambarkan bahwa ada orang yang berbondong-bondong datang mengikuti Dia karena perbuatan mukjizat yang Ia lakukan. Mereka datang bukan hanya dari satu wilayah, melainkan dari berbagai wilayah, seperti Galilea, Dekapolis, Yerusalem, Yudea, dan seberang Yordan. Berita mengenai mukjizat yang Yesus lakukan mampu menarik banyak orang karena sifat spektakulernya. Di sini kita melihat bahwa Allah tidak anti terhadap mukjizat atau hal yang spektakuler. Sebaliknya, Allah menggunakan sifat mukjizat yang spektakuler sebagai sesuatu yang dapat menuntun seseorang kepada diri-Nya.

Namun, masalah mulai muncul ketika seseorang terpukau dan terpaku pada mukjizat tersebut. Akhirnya, mukjizat menjadi perhentian akhir. Lebih celakanya, mereka hanya mencari Tuhan ketika hendak memperoleh mukjizat. Ketika mukjizat diperoleh, maka mereka meninggalkan Tuhan. Hal ini terjadi pada sepuluh orang kusta yang datang dan disembuhkan oleh Tuhan dalam Lukas 17:11-19. Setelah disembuhkan, hanya satu orang Samaria yang kembali untuk mengucap syukur kepada Allah. Sembilan orang lainnya menikmati kesembuhan itu dan berhenti pada disembuhkan semata. Mereka tidak mengalami perjumpaan dengan Allah melalui mukjizat yang mereka alami. Ini menjadi tanda bahwa mukjizat tidak selalu memperjumpakan seseorang dengan Allah. Mereka dapat berjumpa dengan egonya sendiri dan merasa bahwa apa yang dicari sudah diperoleh. Tidak ada keinginan lebih lanjut untuk mempertanyakan apa yang dikehendaki oleh Allah melalui mukjizat tersebut. Di samping kisah sepuluh orang kusta itu, kisah orang banyak yang meninggalkan Yesus (Yoh. 6:66), padahal telah melihat mukjizat yang dilakukan-Nya, juga meneguhkan bahwa tidak semua orang yang mengalami mukjizat memahami maksud dan tujuannya.

Banyak orang bisa datang kepada Tuhan karena tangan-Nya yang penuh kuasa, tetapi sedikit orang yang akhirnya datang kepada-Nya karena mencintai pribadi-Nya. Orang yang sungguh memahami esensi mengikut Tuhan akan menghampiri-Nya karena pribadi-Nya. Kita mau termasuk dalam bilangan kecil orang yang seperti ini. Hal ini berarti bahwa sekalipun pergumulan dan kesulitan kita tidak dijawab, kita tidak menjadi kecewa dan putus asa terhadap Tuhan.

Dengan menyatakan bahwa alasan sesungguhnya mengikut Tuhan adalah diri-Nya sendiri, bukan berarti mereka yang datang kepada Tuhan karena melihat mukjizat menjadi kurang sahih. Tanda atau mukjizat dalam bahasa aslinya menggunakan kata semeion yang artinya “penunjuk arah”. Mukjizat adalah salah satu cara Allah memanggil manusia kembali kepada diri-Nya. Orang yang mengalami mukjizat di usia dewasa dan akhirnya mengenal Allah sama baiknya dengan orang yang tidak mengalami mukjizat namun mengenal Allah sejak kecil dalam keluarganya. Allah memiliki kurikulum yang berbeda bagi masing-masing pribadi. Akan tetapi, yang menjadi masalah adalah jika seseorang terpaku pada penunjuk arah tersebut. Ketika suatu saat penunjuk arah itu dicabut atau tidak diberikan lagi, kita menjadi kecewa.

Sudah sepantasnya kita terus bertumbuh dalam pengenalan akan Allah. Allah kita bukanlah Allah yang haus akan pujian karena perbuatan spektakuler yang dilakukan-Nya. Ia adalah Allah yang ingin memiliki ikatan batin dengan kita. Ia ingin kita datang kepada-Nya bukan karena apa yang dapat Ia berikan. Ia ingin kita datang kepada-Nya sesederhana karena kita ingin datang saja. Kita merindukan pribadi-Nya. Kita merindukan hadirat-Nya yang tidak pernah gagal menyentuh hati kita yang penuh dosa. Kita merindukan nasihat, teguran, dan pengharapan dari firman-Nya. Inilah sesuatu yang Ia harapkan kita miliki: hati seorang anak yang mencari orang tuanya karena telah menyadari betapa pentingnya mereka dalam hidup kita.

Tuhan Yesus memberkati

ORANG YANG SUNGGUH MEMAHAMI ESENSI MENGIKUT TUHAN AKAN MENGHAMPIRI-NYA KARENA PRIBADI-NYA. KITA MAU TERMASUK DALAM BILANGAN KECIL ORANG YANG SEPERTI INI.

Card image
KIDS DAILY DEVOTIONAL 29 Mei 2026 - SATU MULUT, DUA TELINGA
2026-05-30 22:35:37


Amsal 17:27
“Orang yang berpengetahuan menahan perkataannya, orang yang berpengertian berkepala dingin.”

Tuhan menciptakan tubuh kita dengan sangat sempurna. Sejak kita masih di dalam kandungan ibu, Tuhan sudah membentuk setiap bagian tubuh kita dengan ajaib. Tuhan memberi kita satu mulut dan dua telinga, dan tentu Tuhan tidak pernah salah dalam merancang semuanya.

Coba bayangkan jika kita memiliki dua mulut dan hanya satu telinga. Wah, pasti dunia akan menjadi sangat berisik! Dengan satu mulut saja kadang kita sudah terlalu banyak bicara. Karena itu Tuhan memberi kita dua telinga supaya kita lebih banyak mendengar daripada berbicara.

Ketika guru mengajar di kelas, kita belajar mendengarkan dengan baik sampai selesai. Saat mama dan papa memberi nasihat, kita juga belajar menahan diri dan tidak langsung membantah. Dengan begitu kita belajar menjadi anak yang sabar dan bijaksana.

Rehobot Kids, sebelum berbicara, pikirkan dulu apakah kata-kata kita baik dan membangun orang lain. Mari gunakan mulut kita untuk berkata yang baik dan telinga kita untuk mendengar dengan bijaksana.

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 29 Mei 2026 (English Version) - GOD IS JUST AND CARING
2026-05-30 22:32:49


Micah 6:8
“O people, it has been made known to you what is good. And what does the Lord require of you: nothing more than to act justly, to love mercy, and to walk humbly with your God?”

Have you ever wondered where God’s presence truly is in your daily life? We often hope to sense Him through grand experiences or powerful spiritual moments. Yet today’s Word of God shows that He reveals Himself tangibly through the way we live.

We can see this in the life of the prophet Micah. He lived among a people who were diligent in worship but neglected justice and compassion. God does not demand grand rituals, but rather a heart willing to live righteously, to be just toward others, faithful in love, and humble before Him. That is where God’s presence is revealed.

Jesus Himself demonstrated the same thing. He was present among the poor, defended the oppressed, and cared for those who were marginalized. God’s presence is not a distant concept, but a reality that can be felt when love and justice are expressed through our lives.

Mature faith does not stop at confession but is seen in action. When we choose honesty amid pressure, show concern when others are ignored, and remain humble even when we have reason to exalt ourselves—that is where God becomes real through us.

WHAT TO DO?
• Examine the attitude of your heart: are justice, compassion, and humility reflected in your life?
• Find one concrete action today to show God’s love to others.
• Pray that your life may become a space where God’s presence can be felt by the world.

BIBLE MARATHON:
Philippians 4

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 29 Mei 2026 - TUHAN ADIL DAN PEDULI
2026-05-30 22:30:30


Mikha 6:8
”Hai manusia, telah diberitahukan kepadamu apa yang baik. Dan apakah yang dituntut TUHAN dari padamu: selain berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allahmu?”

Pernahkah kamu bertanya, di mana sebenarnya kehadiran Tuhan dalam sehari-hari? Kita sering berharap merasakanNya lewat pengalaman besar atau momen rohani yang kuat. Namun firman Tuhan hari ini menunjukkan bahwa Tuhan justru menyatakan-Nya secara nyata melalui cara kita hidup.

Kita bisa melihat hal ini dalam kehidupan Nabi Mikha. Ia hidup di tengah bangsa yang rajin beribadah, tetapi mengabaikan keadilan dan kepedulian. Tuhan tidak menuntut ritual yang megah, melainkan hati yang mau hidup benar, adil kepada sesama, setia dalam kasih dan rendah hati di hadapan-Nya. Di situlah kehidupan Tuhan dinyatakan.

Yesus sendiri menunjukkan hal yang sama. Ia hadir di tengah orang miskin, membela yang tertindas, dan peduli pada mereka yang disingkirkan. Kehadiran Tuhan bukan konsep yang jauh, tetapi realitas yang bisa dirasakan ketika kasih keadilan dinyatakan melalui hidup kita.

Iman yang dewasa tidak berhenti pada pengakuan, tetapi terlihat dalam tindakan. Ketika kita memilih jujur di tengah tekanan, peduli saat orang lain diabaikan dan rendah meski punya alasan untuk meninggikan diri, di situlah Tuhan menjadi nyata melalui kita.

WHAT TO DO?
• Periksa kembali sikap hatimu: adakah keadilan, kepedulian, dan kerendahan hati tercermin dalam hidupmu?
• Cari satu tindakan nyata hari ini untuk menunjukkan kasih Tuhan kepada orang lain.
• Berdoalah agar hidupmu menjadi ruang di mana kehadiran Tuhan dapat dirasakan oleh dunia.

BIBLE MARATHON:
Filipi 4

Card image
Renungan Pagi - 29 Mei 2026
2026-05-30 22:28:27


Ketika mengenal Tuhan dengan benar, maka kita dapat memberi melampaui kemampuan, karena tahu Bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan, tidak pernah mengecewakan, selalu menyediakan segala yang kita butuhkan tepat pada waktunya.

Lalu mengapa tidak bisa memberi melampaui kemampuan kita? Karena selalu berpikir, bagaimana kalau ada kebutuhan mendesak nanti? Bagaimana kalau tiba-tiba sakit nanti? Terlalu banyak yang kita khawatirkan. Itulah yang menjadikan kita tidak bisa memberi melampaui kemampuan.

Card image
Quote Of The Day - 29 Mei 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-05-30 22:26:14


Tuhan akan membuang semua orang yang tidak mengenal siapa diri-Nya dan yang tidak mengakui secara benar hak dan kehormatan Tuhan sebagai Pencipta.

Card image
Mutiara Suara Kebenaran - 29 Mei 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-05-30 22:25:17


Mukjizat bertumpu pada belas kasih Allah semata, bukan karena perbuatan atau usaha manusia

Card image
THE PURPOSE OF MIRACLES - 29 Mei 2026 (English Version)
2026-05-30 22:24:02


In ministry to others, miracles often occur. Why do miracles happen? First and foremost, because of God’s compassion for His creation. In various parts of the Gospels, we often find that the phrase “moved with compassion” precedes the miracles Jesus performed. God truly knows His creatures have limitations in living their lives. As the Father of all creation, He has deep considerations that sometimes we cannot understand. God can seemingly suspend what would normally follow the law of sowing and reaping. For example, someone develops cancer because of unhealthy habits, yet suddenly the cancer disappears after being prayed for with anointing oil. Even though there are orders called natural law and reaping-and-sowing, we sometimes encounter anomalies in those laws. We call such anomalies miracles. Miracles rest solely on God’s compassion, not on human deeds or efforts.

However, in the Bible, we find that miracles are not the final goal. For example, Matthew 4:24 records: “News about Him spread all over Syria, and people brought to Him all who were ill with various diseases and pains, those oppressed by demons, epileptics, and paralytics, and He healed them.” The miracles, blessings, and God’s help recorded in Scripture are intended to lead a person to knowledge of Jesus. Through this knowledge of Jesus, one can come to know the true God—the Father, Yahweh Elohim. Thus, miracles are both Christocentric (centred on Christ) and theocentric (centred on God) simultaneously. Importantly, miracles should not become anthropocentric (centred on humans), let alone egocentric (centred on personal interests). Instead, they produce honour and glory for God the Father in the Lord Jesus Christ.

It is ironic when miracles are taught with anthropocentric and transactional motives. The anthropocentric motive concerns two parties: the recipient of the miracle and the miracle’s mediator. From the recipient’s side, it is an anthropocentric perspective that understands this miracle as God’s sole work for people. They fail to see that the miracle God has given is meant to lead them to repentance and change in their lives. Miracles are not given merely to provide a spectacular experience, but to transform a person.

Ministers must not commodify miracles. Even though the word “mediator” is not entirely precise, since God can grant miracles independently, ministers must not boast of gifts given by God. Yet many turn miracles into their church’s branding, leading to transactional faith: ministers set conditions, so congregations think God will act if those conditions are met, often demanding obedience or positive thinking. This is often called “believing for a miracle.” However, faith must centre on God, not on outcomes or human-imposed requirements. Whether a miracle occurs is God’s decision; we are called to depend completely on His will.

It is dangerous when ministers suggest that people can influence God to perform miracles by certain actions. These risks of deceiving both themselves and their congregations. Miracles exist to lead people to the Father through the Son. If they create a cult of personality or focus on the miracle itself, this must be avoided.

The Lord Jesus bless you

The miracles, blessings, and God’s help recorded in Scripture are intended to lead a person to knowledge of Jesus. Through this knowledge of Jesus, one can come to know the true God—the Father, Yahweh Elohim.

Card image
MAKSUD MUKJIZAT - 29 Mei 2026
2026-05-30 22:21:55


Dalam pelayanan terhadap sesama, sering kali mukjizat dapat terjadi. Mengapa mukjizat bisa terjadi? Pertama-tama tentu karena belas kasih Allah terhadap ciptaan-Nya. Dalam berbagai bagian dalam Injil, kita sering menemukan bahwa mukjizat yang Yesus lakukan selalu didahului dengan ungkapan “tergeraklah belas kasihan Yesus…”. Allah sungguh mengetahui bahwa ciptaan-Nya memiliki keterbatasan dalam menjalani kehidupan. Sebagai Bapa dari seluruh ciptaan, Ia memiliki pertimbangan yang dalam dan terkadang tidak dapat dipahami. Allah seakan dapat menganulir apa yang seharusnya terjadi karena adanya hukum tabur tuai. Misalnya, seseorang terkena penyakit kanker karena pola hidup yang salah. Namun, tiba-tiba kanker yang diidapnya hilang setelah didoakan dengan minyak urapan. Meskipun telah ada tatanan yang disebut sebagai hukum alam dan hukum tabur tuai, sering kali kita menemukan adanya anomali di dalam hukum tersebut. Anomali tersebut dapat kita sebut sebagai mukjizat. Mukjizat bertumpu pada belas kasih Allah semata, bukan karena perbuatan atau usaha manusia.

Namun, dalam Alkitab kita menemukan bahwa mukjizat bukanlah perhentian akhir. Matius 4:24 mencatat: “Maka tersiarlah berita tentang Dia di seluruh Siria dan dibawalah kepada-Nya semua orang yang buruk keadaannya, yang menderita pelbagai penyakit dan sengsara, yang kerasukan, yang sakit ayan dan yang lumpuh, lalu Yesus menyembuhkan mereka.” Mukjizat, berkat, dan pertolongan Allah yang tercatat dalam Alkitab bertujuan untuk menggiring seseorang kepada pengenalan akan Yesus. Dari pengenalan akan Yesus, seseorang dapat mengenal Allah yang benar, yakni Bapa, Elohim Yahweh. Oleh karenanya, mukjizat bersifat Kristosentris (berpusat pada Kristus) dan teosentris (berpusat pada Allah) secara bersamaan. Mukjizat tidak boleh berakhir pada antroposentris (berpusat pada manusia), apalagi egosentris (berpusat pada kepentingan manusia). Ia melahirkan hormat dan kemuliaan bagi Allah Bapa di dalam Tuhan Yesus Kristus.

Menjadi suatu hal yang ironis apabila mukjizat disiarkan dengan motif yang antroposentris dan transaksional. Motif antroposentris menunjuk pada dua sisi, yakni penerima mukjizat dan mediator mukjizat. Dari sisi penerima mukjizat, motif antroposentris dapat tampak ketika mukjizat dipahami sebagai satu-satunya karya Allah bagi orang tersebut. Ia tidak menyadari bahwa mukjizat yang diberikan Allah menuntunnya kepada pertobatan dan perubahan kehidupan. Mukjizat tidak diberikan hanya untuk memberi pengalaman spektakuler pada seseorang, tetapi bertujuan mentransformasi seseorang.

Sedangkan dari sisi mediator (hamba Tuhan), mukjizat tidak boleh menjadi komoditas seorang hamba Tuhan. Seorang hamba Tuhan yang menjadi mediator (meskipun istilah ini sebenarnya tidak terlalu tepat karena Tuhan dapat memberikan mukjizat tanpa mediator sekalipun) tidak boleh melabeli atau membanggakan dirinya dengan karunia yang diberikan oleh Tuhan. Ironisnya, banyak hamba Tuhan yang menjadikan mukjizat sebagai “branding” atau komoditas bagi gereja yang dipimpinnya. Tidak heran, akhirnya mukjizat menjadi suatu hal yang transaksional, yakni ketika sang hamba Tuhan mempersyaratkan hal tertentu sehingga jemaat berpikir bahwa Tuhan akan memberikan mukjizat jika syarat-syarat tersebut dipenuhi. Biasanya, syarat tersebut berbentuk ketaatan institusional atau pemikiran positif. Seseorang harus taat dengan apa yang disampaikan oleh gereja dan hamba Tuhan serta berpikir positif bahwa semua itu pasti akan terjadi. Ini biasanya disebut dengan “mengimani mukjizat”. Padahal, yang menjadi pusat iman kita haruslah Tuhan. Terjadi atau tidaknya mukjizat ada dalam keputusan Allah. Bagian kita adalah hidup dalam ketergantungan penuh atas apa pun keputusan Allah.

Sungguh berbahaya apabila ada hamba-hamba Tuhan yang mengesankan bahwa jika seseorang melakukan hal tertentu, maka hal itu dapat mendesak Tuhan melakukan mukjizat. Sebab, ia bukan hanya berpotensi menipu jemaat, tetapi juga dirinya sendiri dan Roh Allah. Sejatinya, mukjizat bermaksud untuk menuntun seseorang kepada Allah Bapa melalui Putra-Nya. Jika seseorang mengesankan bahwa maksud dan tujuan mukjizat berhenti pada mukjizat itu sendiri atau bahkan mendatangkan kultus pada gereja dan hamba Tuhan tertentu, hal ini sungguh patut diwaspadai.

Tuhan Yesus memberkati

MUKJIZAT, BERKAT, DAN PERTOLONGAN ALLAH YANG TERCATAT DALAM ALKITAB BERTUJUAN UNTUK MENGGIRING SESEORANG KEPADA PENGENALAN AKAN YESUS. DARI PENGENALAN AKAN YESUS, SESEORANG DAPAT MENGENAL ALLAH YANG BENAR, YAKNI, BAPA, ELOHIM YAHWEH.

Card image
KIDS DAILY DEVOTIONAL 28 Mei 2026 - SANG PEMIMPIN HUTAN
2026-05-29 14:39:21


Amsal 11:14
“Jikalau tidak ada pimpinan, jatuhlah bangsa, tetapi jikalau penasihat banyak, keselamatan ada.”

Di sebuah hutan, seekor singa memimpin dengan baik sebagai raja hutan. Semua binatang hidup rukun di bawah kepemimpinannya. Namun suatu hari singa jatuh sakit dan tidak bisa memimpin. Akibatnya, harimau, buaya, dan serigala saling berebut menjadi pemimpin. Hutan yang tadinya damai menjadi kacau, bahkan banyak binatang meninggalkan hutan itu.

Setelah beberapa waktu, singa akhirnya sembuh. Ia meminta nasihat dari burung hantu yang bijaksana. Dengan bantuan teman-temannya, singa memanggil kembali binatang-binatang yang pergi. Harimau, buaya, dan serigala akhirnya berdamai dan kembali hidup rukun di bawah kepemimpinan singa.

Rehobot Kids, cerita ini mengajarkan bahwa hidup membutuhkan pemimpin yang baik. Di rumah, Tuhan memberi kita orang tua sebagai pemimpin. Di sekolah, Tuhan memberi kita guru yang menuntun kita belajar dan bertumbuh.

Yuk, belajar taat kepada orang tua dan guru. Mereka menuntun kita supaya menjadi anak yang baik dan hidup sesuai dengan kehendak Tuhan.

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 28 Mei 2026 - NOT JUST WORDS, BUT ACTIONS
2026-05-29 14:37:22


James 1:22
“But be doers of the word, and not merely hearers who deceive themselves.”

Respecting others—parents, teachers, or leaders—isn’t just about sweet words like “thank you” or “I love you.” God’s Word emphasizes that love and faith must be seen through concrete actions. Words without deeds are like beautiful promises, but empty.

In today’s world, it’s so easy to look spiritual on social media. Meaningful captions, motivational stories, words that seem “deep.” But the question is: does our daily life align with that? It’s pointless to say you love your parents in a post if at home you’re indifferent, uncaring, or unwilling to help.

True love is seen in simple things: attitudes, choices, and consistent small actions. It’s not about looking good, but truly living in truth. Integrity is when what we say matches what we do.

So, don’t just be a “smooth talker.” Be a doer. Because the world doesn’t need more sweet words—the world needs tangible proof of Christ’s love through our lives.

WHAT TO DO?
• Start with small things: help without being asked, keep your promises.
• Maintain integrity: your life must align with what you post.
• Let your actions be your testimony, not just your words.

BIBLE MARATHON:
Philippians 3

Card image
HOLISTIC MINISTRY - 28 Mei 2026 (English Version)
2026-05-29 14:01:43


For several decades, various charismatic ministries emphasizing God’s power have emerged. Those charismatic ministries usually appear as miracle healings, debt release, breaking ancestral curses, and casting out evil spirits. Such ministries attract sympathy and awe from many. Unsurprisingly, churches showing charismatic ministries experience membership booms. Their churches are flooded with many new members, often transfers from other churches. Not infrequently, new members come from other religions after personally experiencing miracles in those charismatic services.

In response, some mainstream churches criticize the movement. Their main criticism targets what charismatic churches offer. They say these churches offer blessings and miracles more than they offer God and His truth. Mainstream churches accuse charismatic churches of being misleading and transactional. They argue the church should proclaim the Gospel that addresses sin rather than primarily offering miracles and worldly blessings. They do not deny miracles and God’s help, but they condemn the charismatic focus that has shifted toward material prosperity. Their critique is reinforced by cases and findings of financial misuse in some charismatic churches and immorality among some pastors and activists. How should we respond?

In Matthew 4:23, it says, “Jesus went throughout Galilee, teaching in their synagogues, proclaiming the gospel of the kingdom, and healing every disease and sickness among the people.” Jesus’ life and ministry are the primary model on which we should ground all personal and church ministry. In that verse, two aspects often at odds today are beautifully woven together. The charismatic and transformative sides of Jesus’ life and ministry are integrated. The charismatic side refers to power, authority, and gifts from God through the Holy Spirit. The charismatic affirms faith and provides help.

Meanwhile, the transformative side concerns teaching and maturation through truth. The transformative aspect often disturbs or is uncomfortable to the flesh, yet it brings change. In Jesus’ ministry, the two are one, resulting in a holistic ministry—not only touching the spiritual but also everyday life.

The truth we gain from this verse is God’s holistic concern for both human eternity and temporality. By teaching and proclaiming the Gospel, He attends to human eternity. By healing, He truly cares for people’s daily struggles, which, though temporary, are also important. God does not care for only one extreme. He knows that if someone is sick or bound by dark powers, they cannot seek God and His kingdom optimally. At the same time, He is fully aware that miracles and help without discipleship will lead to stunted, spoiled, and transactional spirituality.

This poses a serious challenge for ministry today. Have we balanced eternity and temporality when serving others? Do not be so eager to lecture someone about eternity while failing to take concrete action in their daily struggles. This is not merely about giving money or social aid. Presence in daily struggles can be shown by a willingness to face challenges together or by simply being a good listener without becoming their “teacher.” By being present in everyday struggles, we can be a blessing, ultimately leading people to encounter God through our lives. In this way, their eternal needs are also touched by seemingly small acts of ministry. Therefore, we should not resist ministries that address daily struggles; rather, we must balance them with a life that teaches and blesses. This is a holistic ministry.

The Lord Jesus bless you

We should not resist ministries that address daily struggles; rather, we must balance them with a life that teaches and blesses.

Card image
PELAYANAN YANG HOLISTIK - 28 Mei 2026
2026-05-29 12:59:51


Selama beberapa dekade belakangan, muncul berbagai pelayanan karismatis yang menonjolkan kuasa Allah. Pelayanan karismatis tersebut biasanya hadir dalam bentuk pelayanan mukjizat kesembuhan, pelepasan dari utang, pelepasan kutuk nenek moyang, dan pengusiran roh jahat. Pelayanan tersebut menarik simpati dan decak kagum dari banyak orang. Akhirnya, tidak heran gereja-gereja yang mampu menunjukkan pelayanan karismatis tersebut mengalami ledakan jemaat. Gereja mereka dibanjiri oleh banyak anggota baru yang biasanya merupakan pindahan dari gereja lainnya. Tidak jarang juga ada anggota jemaat baru yang pindah dari agama lain karena mengalami sendiri mukjizat dalam pelayanan karismatis tersebut.

Sebagai respons terhadap pelayanan karismatis tersebut, ada gereja-gereja arus utama yang mengkritik kegerakan tersebut. Kritik utama mereka terletak pada apa yang ditawarkan oleh gereja-gereja dengan pelayanan karismatis tersebut. Menurut mereka, gereja-gereja karismatik tersebut menawarkan berkat dan mukjizat lebih daripada Tuhan dan kebenaran-Nya. Gereja arus utama tersebut menuduh gereja-gereja karismatik sebagai gereja yang sesat dan transaksional. Menurut mereka, gereja seharusnya menawarkan Injil yang mengikis keberdosaan ketimbang mukjizat dan berkat duniawi. Mereka tidak menolak adanya mukjizat dan pertolongan Tuhan, tetapi mengecam fokus gereja karismatik yang telah menyimpang pada kemakmuran jasmani. Kritik mereka diperkuat dengan munculnya kasus-kasus dan temuan-temuan penyimpangan penggunaan keuangan di gereja karismatik serta amoralitas di kalangan pendeta maupun aktivisnya. Bagaimana tanggapan kita terhadap hal ini?

Dalam Matius 4:23 dikisahkan, “Yesus pun berkeliling di seluruh Galilea; Ia mengajar dalam rumah-rumah ibadat dan memberitakan Injil Kerajaan Allah serta melenyapkan segala penyakit dan kelemahan di antara bangsa itu.” Kehidupan dan pelayanan Yesus adalah teladan utama yang kepadanya kita harus melandaskan seluruh gerak kehidupan pribadi maupun pelayanan gerejawi. Pada ayat di atas, dengan indah diuntai dua sisi yang sering kali bersitegang pada masa kini. Sisi karismatis dan sisi transformatis terjalin dengan indah dalam hidup dan pelayanan Yesus. Sisi karismatis di sini merujuk pada kuasa, otoritas, dan karunia yang berasal dari Allah melalui Roh Kudus. Sisi karismatis meneguhkan kepercayaan dan memberi pertolongan. Sementara itu, sisi transformatis adalah aspek pengajaran dan pendewasaan melalui kebenaran. Sisi transformatis sering kali dapat mengganggu atau tidak nyaman bagi manusia daging, tetapi ia mengubahkan. Namun, dalam gerak pelayanan Yesus, keduanya menjadi satu sehingga menjadi sebuah pelayanan yang holistik atau menyeluruh—tidak hanya menyentuh yang spiritual, tetapi juga kehidupan sehari-hari.

Kebenaran yang kita peroleh dari ayat ini adalah perhatian Tuhan yang holistik pada kekekalan maupun kesementaraan manusia. Dengan mengajar dan memberitakan Injil, Ia memperhatikan kekekalan manusia. Di sisi lain, dengan menyembuhkan, Ia juga sungguh memperhatikan pergumulan sehari-hari manusia yang meskipun sementara, namun tidak kalah penting. Tuhan tidak hanya peduli pada satu sisi secara ekstrem saja. Ia tahu bahwa apabila seseorang sakit dan terikat dengan kuasa gelap, mereka tidak mungkin bisa mencari Allah dan Kerajaan-Nya secara optimal. Namun, pada saat yang bersamaan, Ia juga sepenuhnya sadar bahwa mukjizat dan pertolongan tanpa pendewasaan akan berakhir pada kerohanian yang kerdil, manja, dan transaksional.

Hal ini menjadi tantangan yang serius bagi pelayanan dalam kehidupan kita. Sudahkah kita memikirkan kekekalan dan kesementaraan dengan seimbang dalam melayani orang lain? Jangan sampai kita sangat tertarik untuk menceramahi seseorang tentang kekekalan, tetapi tidak memiliki aksi nyata untuk hadir dalam pergumulan sehari-hari mereka. Ini tidak berbicara tentang memberi uang atau bantuan sosial semata. Hadir dalam pergumulan sehari-hari dapat terwujud melalui kesediaan untuk bersama-sama menghadapi sesuatu atau sesederhana menjadi pendengar yang baik tanpa menjadi “guru” bagi mereka. Dengan hadir dalam pergumulan sehari-hari, kita dapat menjadi berkat yang pada akhirnya membawa mereka mengalami Tuhan melalui hidup kita. Akhirnya, kebutuhan kekal mereka tanpa sadar juga terjamah oleh pelayanan kita yang tampak remeh-temeh. Oleh karena itu, hendaknya kita tidak resisten terhadap pelayanan yang menyasar pada pergumulan sehari-hari. Namun, kita harus mengimbanginya dengan kehidupan yang mendidik dan menjadi berkat. Inilah pelayanan yang holistik.

Tuhan Yesus memberkati

HENDAKNYA KITA TIDAK RESISTEN TERHADAP PELAYANAN YANG MENYASAR PADA PERGUMULAN SEHARI-HARI. KITA HARUS MENGIMBANGINYA DENGAN KEHIDUPAN YANG MENDIDIK DAN MENJADI BERKAT.

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 28 Mei 2026 - BUKAN SEKADAR KATA, TAPI TINDAKAN
2026-05-28 22:23:41


Yakobus 1:22
“Tetapi hendaklah kamu menjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja; sebab jika tidak demikian kamu menipu diri sendiri.”

Menghormati orang lain—orang tua, guru, atau pemimpin—bukan cuma soal kata-kata manis seperti “terima kasih” atau “aku sayang kamu.” Firman Tuhan menekankan bahwa kasih dan iman harus terlihat lewat tindakan nyata. Kata-kata tanpa perbuatan itu seperti janji indah, tapi kosong.

Di era sekarang, gampang banget kelihatan rohani di media sosial. Caption penuh makna, story motivasi, kata-kata yang kelihatan “dalam.” Tapi pertanyaannya: apakah hidup sehari-hari kita sejalan? Percuma bilang sayang orang tua di postingan, kalau di rumah kita cuek, nggak peduli, atau nggak mau bantu.

Kasih yang asli itu kelihatan dari hal sederhana: sikap, pilihan, dan tindakan kecil yang konsisten. Bukan tentang terlihat baik, tapi benar-benar hidup dalam kebenaran. Integritas itu ketika apa yang kita katakan sama dengan apa yang kita lakukan.

Jadi, jangan cuma jadi “pintar ngomong.” Jadilah pelaku. Karena dunia _nggak butuh_ lebih banyak kata-kata manis—dunia butuh bukti nyata dari kasih Kristus lewat hidup kita.

WHAT TO DO?
• Mulai dari hal kecil: bantu tanpa disuruh, tepati janji.
• Jaga integritas: hidupmu harus sejalan dengan yang kamu posting.
• Biarkan tindakanmu jadi kesaksian, bukan cuma kata-kata.

BIBLE MARATHON:
Filipi 3

Card image
Renungan Pagi - 28 Mei 2026
2026-05-28 22:20:39


Alangkah indahnya hidup ini ketika Tuhan menjadikan kita bukan sekedar hamba-Nya melainkan juga sahabat-Nya.

Dimana Ia mau mengerti tetesan air mata, mau memberikan penghiburan dan kekuatan bagi kita.

Merendahkan diri dihadapan-Nya itulah kunci persahabatan kita dengan Allah dan sekaligus kunci kemenangan didalam meraih janji-janji-Nya.

Card image
Quote Of The Day - 28 Mei 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-05-28 22:19:13


Jika pemberitaan Injil belum menjadi ancaman bagi dunia, berarti masih ada kompromi di dalamnya.

Card image
Mutiara Suara Kebenaran - 28 Mei 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-05-28 22:17:48


Kehidupan dan pelayanan Yesus adalah teladan utama yang kepadanya kita harus melandaskan seluruh gerak kehidupan pribadi maupun pelayanan gerejawi.

Card image
KIDS DAILY DEVOTIONAL 27 Mei 2026 - TEGURAN
2026-05-28 22:07:10


Amsal 15:5
“Orang bodoh menolak didikan ayahnya, tetapi siapa mengindahkan teguran adalah bijak.”

“Aah… Ayah sudah kuno, tidak mengerti anak-anak zaman sekarang. Games ini kan sedang viral di media sosial,” keluh Andi. Ayah menjelaskan dengan tegas bahwa permainan itu berbahaya. Menarik kursi saat teman hendak duduk atau membuat teman jatuh saat berjalan bisa menyebabkan cedera serius. “Bagaimana kalau temanmu sampai terluka atau cacat? Apakah kamu bisa bertanggung jawab?” kata Ayah.

Mendengar itu, Andi mulai berpikir. Ia menyadari bahwa mengikuti tren tanpa memikirkan akibatnya bisa berbahaya. Andi pun berkata, “Maaf ya, Ayah. Aku janji tidak akan ikut challenge seperti itu.” Ia belajar bahwa nasihat Ayah sebenarnya untuk melindunginya dan orang lain.

Rehobot Kids, kadang teguran dari orang tua terasa tidak menyenangkan. Namun teguran itu diberikan karena mereka mengasihi kita dan ingin kita menjadi lebih baik. Saat kita mau mendengarkan dan menerima didikan, kita sedang belajar menjadi anak yang bijaksana.

Yuk, belajar memiliki hati yang mau menerima nasihat. Dengan mendengarkan teguran yang baik, kita bisa bertumbuh menjadi anak yang semakin baik setiap hari.

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 27 Mei 2026 (English Version) - GOD PRESENT IN THE MIDST OF LIFE
2026-05-28 22:04:41


Matthew 28:20
“…And surely I am with you always, to the very end of the age.”

We often sense God’s presence when we’re at church, in worship, in prayer, or during specific spiritual moments. But when we return to our routines, schoolwork, social pressures, relationship conflicts, or personal struggles, we start to feel as though God is far away and absent.

Yet Jesus clearly said, “I am with you always.” This means God’s presence is not limited by place, atmosphere, or our life circumstances. He is present in the midst of busyness, confusion, exhaustion, and even in the decisions we often consider trivial.

The God who is present is not merely the God we seek during crises, but the God who walks with us every day. He is there when we feel strong or weak, when our faith is firm or when we are full of questions. His presence becomes a divine reality that accompanies our real lives.

Realizing that God is truly present changes our perspective on life. We learn to live with the awareness that every step, attitude, and decision we make is in God’s presence. That is where faith ceases to be a concept and becomes a living experience.

WHAT TO DO?
• Train yourself to be aware of God’s presence in your daily activities.
• When facing life’s pressures, remember that you are not walking alone.
• Let the awareness of God’s presence shape our mindset, heart attitude, and actions.

BIBLE MARATHON:
Philippians 2

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 27 Mei 2026 - TUHAN YANG HADIR DI TENGAH KEHIDUPAN
2026-05-28 22:02:31


Matius 28:20
“…Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.”

Sering kali kita menyadari kehadiran Tuhan saat berada di gereja, ibadah, doa atau momen rohani tertentu. Namun ketika kembali ke rutinitas, tugas sekolah, tekanan sosial, konflik relasi atau pergumulan pribadi, kita mulai merasa seolah Tuhan itu jauh dan tidak hadir.

Padahal Yesus dengan jelas berkata, “Aku menyertai kamu senantiasa.” Artinya, kehadiran Tuhan tidak dibatasi oleh tempat, suasana atau kondisi hidup kita. Ia hadir di tengah kesibukan, kebingungan, kelelahan bahkan dalam keputusan-keputusan yang sering kita anggap sepele.

Tuhan yang hadir bukan hanya Tuhan yang kita cari saat krisis, tetapi Tuhan yang berjalan bersama kita setiap hari. Ia ada saat kita merasa kuat maupun lemah, saat iman kita teguh maupun ketika penuh pertanyaan. Kehadiran-Nya menjadi realitas ilahi yang menyertai kehidupan nyata kita.

Menyadari bahwa Tuhan sungguh hadir mengubah persepsi kita dalam menjalani hidup. Kita belajar hidup dengan kesadaran bahwa setiap langkah, sikap dan keputusan kita berada di hadapan Tuhan. Di situlah iman tidak lagi menjadi konsep tetapi pengalaman yang hidup.

WHAT TO DO?
• Latih dirimu untuk menyadari kehadiran Tuhan dalam aktivitas sehari-hari.
• Saat menghadapi tekanan hidup, ingat bahwa kamu tidak berjalan sendirian.
• Biarkan kesadaran akan kehadiran Tuhan membentuk pola pikir, sikap hati dan tindakan kita.

BIBLE MARATHON:
Filipi 2

Card image
Renungan Pagi - 27 Mei 2026
2026-05-28 21:57:39


Selama jalan kita benar, selama jalan kudus, maka tidak ada alasan untuk kuatir, karena Dia membela dan melakukan hal-hal yang dahsyat dalam hidup kita.

Sehingga dalam hidup ini, apapun yang terjadi, kita akan makin bersemangat dalam hidup, karena percaya bahwa Tuhanlah akan menyelesaikannya bagi kita.

Card image
Quote Of The Day - 27 Mei 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-05-28 21:56:41


Keberhasilan hidup seseorang diukur dari keberkenanannya di hadapan Tuhan.

Card image
Mutiara Suara Kebenaran - 27 Mei 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-05-28 21:55:33


Seseorang yang masih ingin diistimewakan, bangga memiliki kenyamanan, dan tidak bersedia menghadapi perubahan tidak dapat mengikut Tuhan.

Card image
CHANGING NETS (2) - 27 Mei 2026 (English Version)
2026-05-28 21:54:02


In Matthew 4:21–22, the calling of John and James is recorded. John and James were brothers, sons of Zebedee.

Their calling parallels the previous story in several ways. First, both Simon and John were brothers. Second, both were called suddenly while Jesus was walking along the Sea of Galilee. Third, both immediately left their nets. Beyond these similarities, there are two notable differences. First, Simon and Andrew were called while casting their nets, whereas John and James had finished casting and were cleaning up. Second, Simon and Andrew are recorded as leaving only their nets, but John and James left both their nets and their father. Mark 1:20 adds that they also left their hired men. This second difference deserves attention.

Leaving their father and hired men was radical for John and James. In their world, fathers represented stability and authority. Departing meant surrendering security and comfort for independence and a new direction. Scripture notes that such departures occur only for marriage or following a revered teacher.

Additionally, their departure meant leaving a high social status. Hired men signaled privilege; John’s access to the high priest suggests connections (John 18:19–24). Following Jesus meant giving up comfort and privilege for a simpler life.

Their calling is another form of “changing nets.” From Simon’s story, we learned about leaving livelihood for the more fundamental—God’s will and plan. From John and James, we learn about abandoning stability, comfort, and privilege. Leaving father and social status for Jesus is hard for the world to understand. The world teaches the pursuit of stability, comfort, and privilege; God often calls us to the opposite. Stability may be lost, comforts exchanged for trials, privilege replaced by simplicity. The sons of Zebedee traded a “net of comfort” for a “net of simplicity.”

Those who insist on privilege and comfort, unwilling to face change, cannot truly follow Jesus. Following Him requires becoming “unseen” by the world to be seen by God. Simplicity indicates one does not crave the world. This is essential. If someone does not live—consuming only what is needed—then loving God is unlikely. The world trains us to hold on to our “nets of comfort” and must be willing to exchange them for “nets of simplicity” in daily life and desires. Only then can we become fishers of men.

The Lord Jesus bless you

FOLLOWING JESUS MEANT GIVING UP COMFORT AND PRIVILEGE FOR A SIMPLER LIFE.

Card image
KIDS DAILY DEVOTIONAL 26 Mei 2026 - FIRMAN TUHAN MENUNTUNKU
2026-05-27 17:19:53


Mazmur 119:10
“Dengan segenap hatiku aku mencari Engkau, janganlah biarkan aku menyimpang dari perintah-perintah-Mu.”

Nita adalah murid kelas 5 SD yang rajin mengikuti Sekolah Minggu. Ia senang datang ke gereja karena bisa bertemu teman-teman dan mendengar cerita Alkitab dari kakak-kakak Sekolah Minggu. Setiap minggu Nita juga menghafal ayat firman Tuhan, dan ayat-ayat itu menolongnya dalam kehidupan sehari-hari di rumah maupun di sekolah.

Suatu hari Nita merasa sedih karena teman baiknya, Lia, sakit dan tidak bisa datang ke sekolah. Nita lalu teringat ajaran di Sekolah Minggu bahwa anak-anak Allah harus berharap kepada Tuhan. Ia pun berdoa dengan sungguh-sungguh supaya Tuhan menjamah dan menyembuhkan Lia. Saat membaca firman Tuhan dan berdoa, hati Nita menjadi tenang dan penuh pengharapan.

Tidak lama kemudian, Nita juga menghadapi kesulitan lain. Papanya kehilangan pekerjaan. Walaupun sedih, Nita tidak berhenti berdoa dan percaya bahwa Tuhan akan menolong keluarganya. Firman Tuhan membuat Nita tetap kuat dan tidak kehilangan iman.

Rehobot Kids, firman Tuhan adalah penuntun hidup kita. Saat kita rajin membaca Alkitab dan berdoa, Tuhan akan menguatkan hati kita dan menolong kita menghadapi setiap masalah. Yuk, kita bukan hanya membaca firman Tuhan, tetapi juga melakukannya dalam kehidupan kita setiap hari.

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 26 Mei 2026 (English Version) - GOD'S PRESENCE AT HOME
2026-05-27 17:18:21


Joshua 24:15
“…but as for me and my house, we will serve the Lord!”

Rehobot Youth, we often think God’s presence is only felt in church, during worship, or in private prayer time. But in truth, God longs to be present in our families too—at home, in our daily conversations, and in the way we treat one another.

Characterizing God’s presence in our families means presenting God’s values ​​in our daily lives. It’s not about perfection, but about attitude. When there is love, forgiveness, patience, and mutual respect—that’s where God is truly at work.

God’s presence can be seen in simple things: the way we talk to our parents, the way we respond to conflict, or how we choose to remain loving even when we’re upset. Home isn’t just a place to live, but a place where God shapes our character.

God wants our families to be vibrant places—not just crowded, but filled with His love. And the good news is, we can be a part of that. Through our attitudes, we can create a different atmosphere, one that reflects God’s heart.

WHAT TO DO?
• Establish simple habits: praying together or having a quiet time.
• Demonstrate love through small acts at home.
• Be a peacemaker in the family, not a cause of conflict.

BIBLE MARATHON:
Philippians 1

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 26 Mei 2026 - GOD'S PRESENCE AT HOME
2026-05-27 17:16:54


Yosua 24:15
“…tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN!”

Rehobot Youth, sering kali kita berpikir kehadiran Tuhan itu cuma terasa di gereja, saat ibadah, atau waktu doa pribadi. Tapi sebenarnya, Tuhan rindu hadir juga di dalam keluarga kita—di rumah, dalam percakapan sehari-hari, dalam cara kita saling memperlakukan satu sama lain.

Mengkarakteristikan kehadiran Allah dalam keluarga berarti menghadirkan nilai-nilai Tuhan dalam kehidupan sehari-hari. Bukan soal sempurna, tapi soal sikap. Saat ada kasih, pengampunan, kesabaran, dan saling menghormati—di situlah Tuhan sedang nyata bekerja.

Kehadiran Tuhan bisa terlihat dari hal sederhana: cara kita bicara dengan orang tua, cara kita me respons konflik, atau bagaimana kita memilih untuk tetap mengasihi walau sedang kesal. Rumah bukan cuma tempat tinggal, tapi tempat Tuhan membentuk karakter kita.

Tuhan ingin keluarga kita jadi tempat yang hidup—bukan cuma ramai, tapi penuh kasih-Nya. Dan kabar baiknya, kita bisa jadi bagian dari itu. Lewat sikap kita, kita bisa membawa suasana yang berbeda, suasana yang mencerminkan hati Tuhan.

WHAT TO DO?
• Bangun kebiasaan sederhana: doa bersama atau saat teduh pribadi.
• Tunjukkan kasih lewat tindakan kecil di rumah
• Jadi pembawa damai dalam keluarga, bukan pemicu konflik

BIBLE MARATHON:
Filipi 1

Card image
Quote Of The Day - 26 Mei 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-05-27 17:14:11


Semua jadi bernilai ketika Tuhan ada di situ.

Card image
Mutiara Suara Kebenaran - 26 Mei 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-05-27 12:20:50


Ketika cita rasa kita telah berhasil berubah, di situlah akhirnya kesenangan dunia tidak lagi menjadi nikmat.

Card image
CHANGING NETS (2) - 26 Mei 2026 (English Version)
2026-05-27 12:19:48


In Matthew 4:20, Simon and Andrew accept Jesus’ invitation by leaving their fishing nets. For them, nets were a livelihood, like a hoe for a farmer. Leaving them meant giving up everything, even their basic sustenance.

The calling narrative in Matthew 4 is beautiful. Its beauty is especially evident when verse 20 is read alongside verse 19, where Jesus invites them to become fishers of men. When they respond to Jesus, they leave their fishing nets and replace them with “nets for people.” What is the net for people? It is God’s will and plan. The disciples left the most fundamental human concern—their livelihood—and replaced it with something more fundamental: God’s will and plan for their lives. They did not abandon their provision aimlessly; they left it for a clear direction: God’s purpose. That is more foundational than temporary material needs. Herein lies the beauty of the account.

Following the Lord is not a sporadic calling (aimless and purposeless). Paul said he was not a runner without purpose or a boxer flailing aimlessly (1 Cor. 9:26). He had a clear goal and target: inner transformation moving according to God’s will and plan (1 Cor. 9:27). Paul knew that man does not live by bread alone but by every Word that comes from God. That Word is His will and plan. Saying that man lives by the Word does not mean disregarding the pursuit of material blessings. Material provision must be responsibly pursued because it is also part of our service to God and others. How can one fulfil God’s will in greater matters if one is not faithful in small (material) things? Yet the pursuit of material provision must not distract us from the true focus. God’s will and plan for our lives are more fundamental and must be earnestly pursued.

Therefore, following God does not make us fantasists or utopians. Rather, one who follows God is realistic. He meets material needs responsibly. But his focus is no longer merely on obtaining more material blessings to live comfortably. He will “change his net.” He will seek to catch God’s will in his daily life. He will carry a holy restlessness—a distress when he cannot find God’s will and plan for his life. Thus, he will not be hasty in deciding, choosing, or acting. He will consider matters carefully—not only in terms of financial ability or practical consequences but also regarding God’s heart. God’s sense is known in intimate fellowship with Him through a blameless daily life and quiet times of prayerful reflection.

One who changes his net may experience discomfort, because changing nets means changing the soul’s taste. The shift from worldly tastes to heavenly tastes painfully cuts the inner person. This process is like someone “near death,” caught between life and death—without certainty or comfort. But no dying state is without an end. One who is near death will either recover or pass on. Likewise, the painful change of the soul when we change our net will end. When our tastes have successfully changed, worldly pleasures no longer bring delight.

The Lord Jesus bless you

GOD'S WILL AND PLAN FOR OUR LIVES ARE MORE FUNDAMENTAL AND MUST BE EARNESTLY PURSUED.

Card image
MENGGANTI JALA (1) - 26 Mei 2026
2026-05-27 12:08:11


Dalam Matius 4:20 dikisahkan Simon dan Andreas menerima undangan Yesus dengan meninggalkan jala ikannya. Meninggalkan jala ikan, dalam konteks literalnya, berarti meninggalkan segala sesuatu demi Tuhan. Bagi nelayan seperti Simon dan Andreas, jala adalah alat penghidupan utama sebagaimana cangkul bagi seorang petani. Meninggalkan jala berarti meninggalkan segala sesuatu, termasuk yang paling mendasar, yakni penghidupan mereka.

Harus diakui bahwa narasi pemanggilan para murid pada Matius 4 ini sangat indah. Keindahannya terletak apabila ayat ke-20 ini dibaca bersamaan dengan ayat ke-19, di mana mereka diundang Yesus menjadi penjala manusia. Ketika mereka merespons undangan Yesus, mereka meninggalkan jala ikan dan menggantinya dengan “jala manusia”. Apakah jala manusia itu? Ia adalah kehendak dan rencana Allah. Para murid meninggalkan yang paling mendasar dalam hidup seorang manusia, yakni penghidupan, dan menggantinya dengan hal yang lebih mendasar, yakni kehendak dan rencana Allah atas hidupnya. Para murid tidak meninggalkan penghidupan tanpa arah, mereka meninggalkannya dengan arah yang jelas, yakni kehendak dan rencana Allah. Itulah yang lebih mendasar ketimbang kebutuhan hidup yang sementara. Di sinilah letak keindahan narasi tersebut.

Panggilan mengikut Tuhan bukan panggilan yang sporadis (tanpa arah dan tujuan). Paulus berkata bahwa ia bukan pelari tanpa tujuan dan petinju yang sembarangan memukul (1Kor. 9:26). Ia memiliki tujuan dan sasaran pukulan yang jelas, yakni pembenahan manusia batiniah yang terus bergerak seturut kehendak dan rencana Allah (1Kor. 9:27). Paulus sadar bahwa manusia hidup bukan dari roti saja, melainkan dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah. Firman tersebut adalah kehendak dan rencana-Nya. Bila dikatakan bahwa manusia hidup dari firman, itu bukan berarti kita menganggap remeh pencarian berkat jasmani. Berkat jasmani harus diusahakan dengan tanggung jawab karena itu juga merupakan bagian dari pengabdian kita kepada Tuhan dan sesama. Bagaimana mungkin seseorang memenuhi kehendak dan rencana Tuhan apabila dalam hal kecil (berkat jasmani) ia tidak benar? Namun, pencarian berkat jasmani tidak boleh mengalihkan kita dari fokus yang sesungguhnya. Kehendak dan rencana Allah dalam hidup kita adalah hal yang lebih mendasar yang perlu diusahakan dengan sungguh-sungguh.

Oleh karena itu, mengikut Tuhan tidak menjadikan kita sebagai pribadi yang penuh fantasi dan utopis. Justru seseorang yang mengikut Tuhan adalah pribadi yang realistis. Ia memenuhi seluruh kebutuhan jasmani dengan penuh tanggung jawab. Akan tetapi, fokusnya bukan lagi pada bagaimana memperoleh berkat jasmani lebih banyak agar hidup lebih tenang. Ia akan “mengganti jalanya”. Ia akan berusaha menjaring kehendak Allah dalam kehidupannya sehari-hari. Ia akan memiliki kegalauan yang kudus, yakni gelisah apabila tidak menemukan kehendak dan rencana Allah dalam hidupnya. Dengan demikian, seseorang tidak akan tergesa-gesa dalam memutuskan, memilih, atau melakukan sesuatu. Ia akan mempertimbangkannya dengan matang, bukan hanya dari segi kemampuan finansial ataupun dampak dari suatu keputusan, melainkan juga perasaan Allah. Perasaan Allah ini dikenali dalam persekutuan yang intim dengan-Nya melalui interaksi hidup sehari-hari yang berusaha tidak bercela serta waktu perenungan yang intim dalam doa.

Seseorang yang mengganti jalanya bisa mengalami ketidaknyamanan, sebab perubahan jala berarti perubahan cita rasa jiwa. Perubahan cita rasa jiwa dari duniawi menjadi surgawi sangat menyayat manusia batiniah. Proses ini layaknya seseorang yang “sekarat”, di mana ia berada di antara hidup dan mati. Tidak ada kepastian dan kenyamanan. Namun, tidak ada keadaan sekarat yang tanpa ujung. Seseorang yang sekarat pasti akan kembali sadar ataupun berpulang. Begitu juga dengan perubahan cita rasa jiwa yang menyiksa ketika kita mengganti jala. Ketika cita rasa kita telah berhasil berubah, di situlah akhirnya kesenangan dunia tidak lagi menjadi nikmat.

Tuhan Yesus memberkati

KEHENDAK DAN RENCANA ALLAH DALAM HIDUP KITA ADALAH HAL YANG LEBIH MENDASAR YANG PERLU DIUSAHAKAN DENGAN SUNGGUH-SUNGGUH.

Card image
KIDS DAILY DEVOTIONAL 25 Mei 2026 - DIDIKAN YANG MEMBAWA KEBAIKAN
2026-05-26 19:37:45


Amsal 22:6
“Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanya pun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu.”

Suatu hari Wahyu terlihat kesal dan sedih. Ia marah karena papanya membuat aturan bahwa ia hanya boleh memakai gadget maksimal dua jam sehari. Jika lebih dari itu, gadget nya akan diambil. Wahyu merasa aturan itu tidak menyenangkan.

Malam harinya, saat Wahyu akan tidur, Papanya datang dan mengajak Wahyu berbicara. Papanya menjelaskan bahwa aturan itu dibuat supaya Wahyu belajar mengatur waktu dengan baik antara bermain, belajar, dan melakukan kegiatan lainnya. Meskipun kadang terasa tidak enak, didikan itu dilakukan karena Papa sangat menyayangi Wahyu dan ingin Wahyu menjadi anak yang bertanggung jawab.

Wahyu akhirnya mengerti. Ia meminta maaf karena sempat kesal kepada Papanya. Wahyu pun berterima kasih karena Papanya mau mendidiknya dengan kasih. Mereka pun saling berpelukan dengan penuh kasih.

Rehobot Kids, kadang didikan dari Papa dan Mama terasa tidak menyenangkan. Tetapi semua itu dilakukan karena mereka mengasihi kita. Sama seperti Tuhan yang juga mendidik anak-anak-Nya supaya kita menjadi pribadi yang lebih baik dan semakin serupa dengan Yesus.

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 25 Mei 2026 (English Version) - GOD IS PRESENT
2026-05-26 19:35:46


Joshua 24:15
"But as for me and my household, we will serve the Lord."

Family is the first place we learn about love, respect, and the value of life. But we often forget that God’s presence in the midst of the family is a divine reality that makes relationships strong and full of peace. When God is present, home is not just a place to live, but a space for spiritual growth and real love.

In the film “The Chosen,” a series that portrays the life of Jesus and His disciples in a way that feels close to everyday life, one of the things highlighted is how Jesus’ presence brings real change to families and communities. God’s presence isn’t limited to places of worship, but is also found at the dinner table, in everyday conversations, and in relationships among family members.

As young people, we’re easily consumed by school, friends, or other activities, to the point of forgetting that family is the first place where we can experience God’s presence. When we learn to honor our parents, support one another, and pray together, we’re building a divine reality within our homes. That’s what makes relationships healthy and full of joy.

God’s presence in the family isn’t something mystical, but something real through daily attitudes: forgiving one another, supporting one another, and placing God at the center. From there, we learn that family isn’t just a place to live, but a space where God’s love can be experienced and shared.

WHAT TO DO?
• Set aside time for family prayer, even if brief, to place God at the center of your home.
• Show love through small acts: help, listen to, and value your parents and siblings.
• Learn to see your family as a place where God is present, not just a daily routine.

BIBLE MARATHON:
Ephesians 6

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 25 Mei 2026 - ALLAH HADIR
2026-05-26 19:33:59


Yosua 24:15
"Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN."

Keluarga itu tempat pertama kita belajar tentang kasih, hormat, dan nilai hidup. Tapi sering kali kita lupa bahwa kehadiran Allah di tengah keluarga adalah realitas ilahi yang bikin relasi jadi kuat dan penuh damai. Kalau Tuhan hadir, rumah bukan sekadar tempat tinggal, tapi jadi ruang pertumbuhan rohani dan kasih yang nyata.

Dalam film “The Chosen”, sebuah serial yang menggambarkan kehidupan Yesus dan para murid dengan cara yang dekat dengan keseharian. Salah satu hal yang ditonjolkan adalah bagaimana kehadiran Yesus membawa perubahan nyata dalam keluarga dan komunitas. Kehadiran Allah bukan hanya di tempat ibadah, tapi juga di meja makan, percakapan sehari-hari, dan relasi antaranggota keluarga.

Sebagai anak muda, kita gampang sibuk dengan sekolah, teman, atau aktivitas lain, sampai lupa bahwa keluarga adalah tempat pertama kita bisa merasakan kehadiran Allah. Kalau kita belajar menghormati orang tua, saling mendukung, dan berdoa bersama, kita sedang membangun realitas ilahi di rumah. Itu yang bikin relasi jadi sehat dan penuh sukacita.

Kehadiran Allah dalam keluarga bukan hal mistis, tapi nyata lewat sikap sehari-hari: saling mengampuni, saling mendukung, dan menaruh Tuhan sebagai pusat. Dari situ, kita belajar bahwa keluarga bukan cuma tempat tinggal, tapi ruang di mana kasih Tuhan bisa dialami dan dibagikan.

WHAT TO DO?
• Luangkan waktu doa bersama keluarga, meski singkat, untuk menaruh Tuhan di pusat rumah.
• Tunjukkan kasih lewat tindakan kecil: bantu, dengar, dan hargai orang tua maupun saudara.
• Belajar melihat keluarga sebagai tempat Allah hadir, bukan sekadar rutinitas sehari-hari.

BIBLE MARATHON:
Efesus 6

Card image
Renungan Pagi - 25 Mei 2026
2026-05-26 19:31:09


Ketulusan dan kesetiaan, selalu membawa kita kepada puncak kemenangan.

Orang yang tulus dan setia pada awalnya mungkin akan menjadi bahan tertawaan dan dianggap bodoh.

Tetapi perjuangan orang tulus dan setia selalu berakhir pada kemenangan dan kesuksesan.

Card image
Quote Of The Day - 25 Mei 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-05-26 19:30:14


Orang yang memiliki segalanya adalah orang yang merasa tidak memiliki apa pun, kecuali Tuhan.

Card image
Mutiara Suara Kebenaran - 25 Mei 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-05-26 19:29:19


Tidak ada mahkota tanpa salib. Tidak ada kemuliaan tanpa penderitaan.

Card image
CALLED BY THE LORD - 25 Mei 2026 (English Version)
2026-05-26 19:28:25


Continuing the previous reflection, the passage in Matthew 4:18–19 about Simon and Andrew being called to become fishers of men can also be viewed through the lens of human relationships. Before exploring its implications for interpersonal relationships, let us examine the fishing-net analogy in its cultural context. For fishermen, casting a net is a way to make a living from the sea. But philosophically, from the perspective of the targeted sea creatures, being caught in a net is never good. Being trapped by a fisherman’s net means the end of life for those creatures. Thus, the net is their enemy to be avoided.

The horror of the fishing net is also mentioned in Ecclesiastes 9:12: “For man does not know his time. Like fish caught in a fatal net, and like birds caught in a snare, so are the children of men ensnared at an evil time, when it falls suddenly upon them.” Here, the net is depicted as something harmful, like an animal trap. The analogy points to a sudden misfortune that befalls a person. A fish never knows when the net will suddenly come; likewise, humans do not know when suffering will strike. A net never brings anything pleasant to those it captures.

Returning to Matthew 4:18–19, Jesus’ invitation to Simon and Andrew to become fishers of men does not speak only of honor and comfort. Indeed, being entrusted by God with the task of gathering others is a privilege, but it carries an implied discomfort. Just as sea creatures avoid the net, so souls to be “netted” will not welcome those who seek them. They may even view them as enemies, as fish view the net. Jesus warned His disciples they would suffer persecution (Luke 21:12) and even be put to death (John 16:2). The call to be fishers of men is a heavy challenge. It carries consequences: being disliked, shunned, ostracized, and even killed for speaking the truth. This invitation is a “hot potato” for anyone who accepts it—you must carry it to its goal or be burned by it. Those who accept this call must finish the task well or not at all.

The call to be fishers of men for the disciples is the same call for us. We are called to be a blessing to souls and gather them into God’s Kingdom. But as we have seen, this task is not easy. We will face collisions, waves of disapproval, and even marginalization when we act as “fishers.” On one side is honour and glory that await; on the other side are hardship and suffering in fulfilling it.

As we strive to bless others, we may encounter suspicion or dislike. For example, maintaining our integrity may prompt others to view us as troublemakers, or helping those in need may be misinterpreted as seeking favor. In any case, our actions may become subjects of gossip. This is the logical outcome: acts that reveal the truth often meet with resistance.

Our relationships may be strained when we answer God’s call to be fishers of men. In those moments, we may doubt and be tempted to retreat, thinking our efforts are futile. But as Paul says in Galatians 6:9, let us not grow weary in doing good, for we will reap in due season. There is no crown without a cross, no glory without suffering.

The Lord Jesus bless you

BEING ENTRUSTED BY GOD WITH THE TASK OF GATHERING OTHERS IS A PRIVILEGE, BUT IT CARRIES AN IMPLIED DISCOMFORT.

Card image
DIPANGGIL OLEH TUHAN (2) - 25 Mei 2026
2026-05-26 19:26:34


Melanjutkan renungan sebelumnya, penggalan narasi Matius 4:18-19 tentang Simon dan Andreas yang dipanggil menjadi penjala manusia dapat dilihat dari sisi relasi antarmanusia. Sebelum masuk pada implikasinya terhadap relasi antarmanusia, mari kita memeriksa analogi “menjala” dari konteks budayanya. Dalam kehidupan para nelayan, menjala adalah salah satu cara memperoleh penghidupan dari laut. Namun, secara filosofis, dari sudut pandang hewan laut yang ditargetkan, menjala tidak pernah berbicara tentang suatu hal yang baik bagi diri mereka. Terjala oleh jala nelayan berarti akhir kehidupan bagi hewan-hewan laut tersebut. Oleh karenanya, jala adalah musuh mereka yang sebisa mungkin dihindari.

Kengerian jala nelayan ini juga disinggung oleh Pengkhotbah 9:12, “Karena manusia tidak mengetahui waktunya. Seperti ikan yang tertangkap dalam jala yang mencelakakan, dan seperti burung yang tertangkap dalam jerat, begitulah anak-anak manusia terjerat pada waktu yang malang, kalau hal itu menimpa mereka secara tiba-tiba.” Di sini, jala digambarkan sebagai sesuatu yang mencelakakan layaknya perangkap hewan. Penggunaan analogi jala di sini hendak menunjuk pada kemalangan yang secara tiba-tiba menimpa seorang manusia. Seekor ikan tidak pernah tahu kapan jala tiba-tiba menghampirinya, begitu pula dengan manusia yang tidak pernah tahu kapan penderitaan akan menimpanya. Jala tidak pernah menunjukkan sesuatu yang menyenangkan bagi yang terjala olehnya.

Jika kita kembali pada narasi Matius 4:18-19 tentang undangan Yesus kepada Simon dan Andreas menjadi penjala manusia, maka undangan ini tidak berbicara tentang sesuatu yang membanggakan dan nyaman semata. Memang, menjadi orang yang bisa dipercaya Tuhan untuk menjala manusia lain adalah suatu kebanggaan, namun di baliknya ada ketidaknyamanan yang tersirat. Sebagaimana hewan-hewan laut menjauhi jala, begitu pula jiwa-jiwa yang hendak dijala akan tidak menyukai mereka. Mereka bahkan akan dianggap sebagai musuh, seperti ikan menganggap jala sebagai musuh. Bahkan Tuhan berpesan kepada para murid-Nya bahwa mereka akan menderita aniaya (Luk. 21:12) dan bahkan dibunuh (Yoh. 16:2). Undangan menjadi penjala manusia adalah tantangan yang berat. Terdapat konsekuensi untuk tidak disukai, dijauhi, dikucilkan, bahkan dibunuh karena menyampaikan kebenaran. Undangan ini adalah “bola panas” bagi setiap orang yang menerimanya. Ia harus menggiring bola itu menuju tujuan atau terbakar olehnya. Para murid yang menerima undangan ini harus menyelesaikan panggilan ini dengan baik atau tidak sama sekali.

Panggilan menjadi penjala manusia kepada para murid juga merupakan panggilan yang sama bagi kita. Kita dipanggil untuk menjadi berkat bagi jiwa-jiwa dan mengumpulkan mereka dalam Kerajaan Allah. Namun, apabila berkaca dari apa yang telah kita gali, tugas ini ternyata bukan tugas yang mudah. Kita akan menghadapi benturan-benturan, gelombang ketidaksukaan, bahkan peminggiran dari sekitar kita saat menjadi seorang “penjala”. Di satu sisi ada kehormatan dan kemuliaan yang menanti, namun di sisi lain ada kesulitan dan penderitaan dalam menjalaninya.

Sewaktu kita menjadi berkat bagi orang lain, pasti akan ada sangkaan buruk atau ketidaksukaan yang mungkin timbul. Misalnya, ketika kita berketetapan hati untuk menjaga integritas, banyak orang yang mungkin tidak menyukai kita, bahkan ingin meminggirkan kita karena dipandang mempersulit. Atau mungkin ketika kita membantu orang lain yang sedang susah, ada saja yang menafsirkan perbuatan kita sebagai “mencari muka”. Apa pun yang kita lakukan bisa saja menjadi pergunjingan bagi orang lain. Hal ini adalah konsekuensi logis. Perbuatan terang selalu menelanjangi kegelapan dan hal tersebut tidak disukai.

Relasi kita dengan sesama manusia mungkin akan terganggu ketika kita berkomitmen merespons panggilan Tuhan menjadi penjala manusia. Kita bisa ragu dan berpikir untuk mundur dari kebenaran yang kita perbuat karena seakan-akan semua sia-sia. Namun, sebagaimana yang dikatakan rasul Paulus dalam Galatia 6:9, teruslah berbuat yang benar. Ada saatnya kita akan menuai apa yang telah kita tabur. Tidak ada mahkota tanpa salib. Tidak ada kemuliaan tanpa penderitaan.

Tuhan Yesus memberkati

MENJADI ORANG YANG BISA DIPERCAYA TUHAN UNTUK MENJALA MANUSIA LAIN ADALAH SUATU KEBANGGAAN, NAMUN DI BALIKNYA ADA KETIDAKNYAMANAN YANG TERSIRAT.

Card image
KIDS DAILY DEVOTIONAL 24 Mei 2026 - LAMPU DI GUDANG
2026-05-25 13:10:39


Yakobus 1:22
“Tetapi hendaklah kamu menjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja; sebab jika tidak demikian kamu menipu diri sendiri.”

Suatu sore, Lani membantu neneknya membereskan gudang. Di antara kotak-kotak lama, ia menemukan sebuah lampu darurat kecil berwarna kuning. Lampu itu sedikit berdebu, tetapi masih terlihat utuh. “Apa lampu ini masih bisa dipakai, Nek?” Tanya Lani. Nenek mengambilnya dan menekan tombol kecil di sampingnya.

Tiba-tiba lampu itu menyala terang, meskipun tidak tersambung ke listrik. “Itu lampu darurat,” jelas Nenek. “Di dalamnya ada baterai yang bisa menyimpan listrik. Ketika lampu ini dicolokkan ke stop kontak, baterainya terisi. Jadi saat listrik padam, lampu ini tetap bisa menyala.” Lani mengangguk mengerti. Ia mematikan lampu itu dan menaruhnya kembali.

Malam harinya, tiba-tiba listrik di rumah padam. Rumah menjadi gelap, dan adik Lani mulai merasa takut. Lani segera teringat lampu darurat di gudang. Ia berlari mengambilnya dan menyalakannya. Seketika itu juga ruang tengah menjadi terang. Sekarang ibu bisa melihat dengan jelas untuk mencari dan menyalakan lilin, kemudian semua orang merasa lebih tenang dan suasana dalam rumah pun menjadi hangat.

Nenek tersenyum lalu berkata, “Lampu ini sebenarnya sudah punya terang di dalamnya. Tapi kalau hanya disimpan di gudang, tidak ada yang merasakan manfaatnya.” Lani pun mengerti. Terang baru berguna ketika dinyalakan.

Firman Tuhan juga seperti itu. Kita bisa mendengarnya, mengingatnya, bahkan mempelajarinya. Tetapi jika kita tidak melakukannya, terang itu seperti lampu yang hanya disimpan. Ketika firman Tuhan dipraktikkan dalam hidup, barulah terang itu menolong orang lain.

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 24 Mei 2026 (English Version) - FACING CONFLICT WITH GOD'S WAY
2026-05-25 13:08:30


Proverbs 19:11
“Wisdom gives patience, and a person is praised for forgiving an offense.”

Conflict often comes uninvited. In relationships—whether friendships, ministry, family, or community—differences of opinion, misunderstandings, and even hurt feelings can easily arise. The issue isn’t whether conflict exists or not, but how we respond to it.

Often, conflict stirs our emotions. We want to retaliate immediately, defend ourselves, or prove that we are right. However, God’s Word today teaches a different response. Wisdom makes a person patient, and a person’s true glory is revealed when they are willing to forgive.

God’s way of dealing with conflict is not by retaliating, but by exercising self-control and making room for love to work. It takes humility not to react immediately, and it takes strength to choose forgiveness when our hearts are wounded.

Conflict, when responded to correctly, is not merely a problem to be solved, but an opportunity for growth. In the midst of conflict, our character is tested—whether we are ruled by emotions or guided by God’s wisdom.

When we choose to be patient, listen, and forgive, we are demonstrating that our lives are led by God. That is where conflict transforms into an opportunity to glorify Him.

WHAT TO DO?
• Reflect on your responses so far when facing conflict—have you been led more by emotion or by wisdom?
• Train yourself to “pause” before reacting, and make room for God to lead your response.
• Take steps to forgive or repair a relationship that is currently strained.

BIBLE MARATHON:
Ephesians 5

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 24 Mei 2026 - MENGHADAPI KONFLIK DENGAN CARA TUHAN
2026-05-25 12:59:34


Amsal 19:11
“Akal budi membuat seseorang panjang sabar dan orang itu dipuji karena memaafkan pelanggaran.”

Konflik sering kali datang tanpa diundang. Dalam relasi—baik pertemanan, pelayanan, keluarga, maupun komunitas—perbedaan pendapat, kesalahpahaman, bahkan luka hati bisa dengan mudah terjadi. Masalahnya bukan pada ada atau tidaknya konflik, tetapi bagaimana kita me respons nya.

Sering kali, konflik memancing emosi kita. Kita ingin segera membalas, membela diri, atau membuktikan bahwa kita benar. Namun firman Tuhan hari ini mengajarkan respons yang berbeda. Akal budi membuat seseorang panjang sabar, dan kemuliaan seseorang justru terlihat ketika ia mau mengampuni.

Cara Tuhan dalam menghadapi konflik bukanlah dengan membalas, melainkan dengan menahan diri dan memberi ruang bagi kasih bekerja. Dibutuhkan kerendahan hati untuk tidak langsung bereaksi, dan dibutuhkan kekuatan untuk memilih mengampuni saat hati terluka.

Konflik, jika di respons i dengan benar, bukan hanya masalah yang harus diselesaikan, tetapi kesempatan untuk bertumbuh. Di tengah konflik, karakter kita diuji—apakah kita dikuasai emosi atau dipimpin oleh hikmat Tuhan.

Saat kita memilih bersabar, mendengar, dan mengampuni, kita sedang menunjukkan bahwa hidup kita dipimpin oleh Tuhan. Di situlah konflik berubah menjadi kesempatan untuk memuliakan-Nya.

WHAT TO DO?
• Refleksikan respons mu selama ini saat menghadapi konflik—lebih banyak dipimpin emosi atau hikmat?
• Latih dirimu untuk “pause” sebelum bereaksi, dan beri ruang bagi Tuhan memimpin respons mu.
• Ambil langkah untuk mengampuni atau memperbaiki relasi yang sedang retak.

BIBLE MARATHON:
Efesus 5

Card image
Renungan Pagi - 24 Mei 2026
2026-05-24 20:17:27


"Kasih harus dibuktikan dengan tindakan dan perbuatan, bukan sekedar diucapkan, tapi seringkali kita suka sekali memakai kata "kasih" itu seperti topeng dan bukan kesejatiannya.

Kasih yang sejati selalu memberikan satu inspirasi untuk orang bertindak dalam hidupnya, sehingga melahirkan tindakan-tindakan yang luar biasa.

Kasih yang murni tidak ada permainan sandiwara, itulah yang dituntut Tuhan untuk kita kerjakan, dan itu menjadi sebuah keharusan, kita bisa saja sepertinya mengasihi orang, tetapi hati tidak, jika begitu, betapa jahatnya kita.

Card image
Quote Of The Day - 24 Mei 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-05-24 20:15:41


Semakin seseorang percaya dan menaruh harapnya kepada Tuhan, maka damai sejahtera-Nya akan sungguh-sungguh dialami.

Card image
Mutiara Suara Kebenaran - 24 Mei 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-05-24 20:14:15


Jika hari-hari ini Tuhan mengetuk hati kita dengan lembut melalui Roh Kudus, mari izinkan Dia bekerja dengan cara melakukannya saat ini juga.

Card image
CALLED BY THE LORD (1) - 24 Mei 2026 (English Version)
2026-05-24 20:08:25


Matthew 4:18-19

“ As Jesus was walking beside the Sea of Galilee, he saw two brothers, Simon, called Peter, and his brother Andrew. They were casting a net into the lake, for they were fishermen. Jesus said to them, “Come, follow Me, and I will make you fishers of men.”

The passage can be interpreted from two angles: the relationship between Jesus and people, and the relationship between people. Both carry serious implications and challenges for our Christian life. Today, we will explore the truth of this narrative from the perspective of Jesus’ relationship with people.

Two things are striking in this account. First, the calling of Simon and Andrew appears spontaneous. Verse 18 says that as Jesus was walking along the Sea of Galilee, He called Simon and Andrew. There is no indication that Jesus deliberately passed by the lake to call them. Thus, we can say those who are called often do not expect or anticipate the call. They are summoned suddenly without time to prepare.

This sudden calling shows that God’s call—revealed through His will and plans in daily life—does not always come at our preferred time. We cannot pick which of God’s wills will occur in our lives or choose the exact timing for carrying them out. When God’s will arrives, the best time to act on it is then. Therefore, if God is softly knocking at our hearts through the Holy Spirit now, let us allow Him to work by responding immediately. Our relationship with God is not fully controllable; this is where obedience operates. Obedience is consenting to do God’s will in its exact moment.

The second striking feature is Matthew’s deliberate contrast. In those two verses, Matthew uses the phrase “fishers of men” against “fishermen.” The contrast emphasizes the shift in role and focus for Simon and Andrew. Previously, their role centered on catching fish; now they are disciples focused on human lives. This indicates that relating to God brings an awareness of changed roles and focuses.

Before following the Lord, our role and focus may be that of a father providing for his family or an employee doing office work. But a relationship with God transforms that. We still provide for our families, but we also take on a new role as spiritual fathers, focusing not only on material provision but also on leaving an eternal inheritance through lives that love God. We still work diligently as employees, but not solely for sustenance; we recognize God’s calling in that and become a blessing to coworkers. There is an inward shift of role and focus.

Being related to God means being ready for inward changes in role and focus. Many people only change the “religion” box on their ID, but do not internalize the role and focus on God. Examine your heart: has our focus recently shifted from being a “fisher of fish” toward becoming a “fisher of men.”*

The Lord Jesus bless you

THIS SUDDEN CALLING SHOWS THAT GOD'S CALL, REVEALED THROUGH HIS WILL AND PLANS IN DAILY LIFE DOES NOT ALWAYS COME AT OUR PREFERRED TIME.

Card image
DIPANGGIL OLEH TUHAN (1) - 24 Mei 2026
2026-05-24 20:01:59


Matius 4:18-19
Dan ketika Yesus sedang berjalan menyusur danau Galilea, Ia melihat dua orang bersaudara, yaitu Simon yang disebut Petrus, dan Andreas, saudaranya. Mereka sedang menebarkan jala di danau, sebab mereka penjala ikan. Yesus berkata kepada mereka: “Mari, ikutlah Aku, dan kamu akan Kujadikan penjala manusia.”

Penggalan narasi di atas dapat ditafsirkan dari dua sisi, yakni dari sisi relasi Tuhan Yesus dengan manusia dan relasi manusia dengan manusia. Keduanya memiliki implikasi yang serius dalam kehidupan kita sebagai orang Kristen. Di samping implikasi, keduanya mendatangkan tantangan yang tidak mudah bagi iman kita. Pada hari ini, kita akan menggali kebenaran dari narasi tersebut dalam perspektif relasi Tuhan Yesus dengan manusia.

Ada dua hal menarik dalam narasi ini. Pertama, pemanggilan Simon dan Andreas tampak digambarkan sebagai suatu hal yang tidak terencana. Dalam ayat ke-18 dikatakan bahwa ketika Yesus sedang berjalan menyusur danau Galilea, Ia memanggil Simon dan Andreas. Tidak dijelaskan bahwa Yesus sengaja melewati danau Galilea untuk memanggil keduanya. Oleh karenanya, dapat kita katakan bahwa mereka yang terpanggil tidak pernah mengira atau mengantisipasi panggilan tersebut. Mereka dipanggil secara mendadak tanpa sempat mempersiapkan apa pun.

Pemanggilan secara mendadak tersebut menunjukkan kepada kita bahwa sering kali panggilan Tuhan terhadap kita, yang ditunjukkan melalui kehendak dan rencana-Nya dalam kehidupan sehari-hari, tidak selalu datang sesuai dengan keinginan dan waktu kita. Kita tidak bisa memilih kehendak Tuhan yang mana yang akan terjadi pada kehidupan kita di suatu waktu. Kita juga tidak bisa memilih waktu yang tepat untuk melakukan kehendak Tuhan. Ketika kehendak Tuhan itu tiba, saat yang terbaik untuk mengerjakannya adalah saat itu. Sebaliknya, saat kehendak Tuhan itu dibukakan adalah waktu yang terbaik dan paling tepat bagi rencana Tuhan tersebut. Oleh karenanya, jika hari-hari ini Tuhan mengetuk hati kita dengan lembut melalui Roh Kudus, mari izinkan Dia bekerja dengan cara melakukannya saat ini juga. Relasi dengan Allah tidak dapat kita kendalikan sepenuhnya. Di sinilah ketaatan bekerja. Ketaatan adalah persetujuan untuk melaksanakan kehendak Allah pada momentum yang tepat.

Hal kedua yang menarik dari narasi itu adalah penggambaran kontras dari Matius. Pada dua ayat tersebut, Matius membuat perbandingan. Pada ayat ke-18 digunakan diksi bahwa Simon dan Andreas adalah “penjala ikan”, sedangkan pada ayat selanjutnya digunakan “penjala manusia”. Kontras ini dibuat dengan sengaja untuk menunjukkan pergeseran peran dan fokus dari Simon maupun Andreas. Kalau dulu peran mereka adalah nelayan yang berfokus mencari ikan, maka sekarang mereka menjadi murid yang berfokus pada jiwa manusia. Hal ini menunjukkan bahwa menjalin hubungan dengan Tuhan berarti memiliki kesadaran tentang perubahan peran dan fokus kita.

Kalau sebelum mengikut Tuhan peran dan fokus kita hanya sebatas pada seorang ayah yang mencari nafkah bagi keluarga atau seorang karyawan yang mengerjakan pekerjaan kantor, maka sadarilah bahwa hubungan dengan Tuhan akan mengubahkan hal tersebut. Kita tetap menjadi seorang ayah yang mencari nafkah, tetapi kita memperoleh peran baru sebagai ayah surgawi yang berfokus bukan hanya pada nafkah jasmani keluarga, melainkan warisan kekal melalui teladan hidup yang mengasihi Allah. Kita tetap menjadi karyawan yang rajin bekerja untuk mendapatkan penghidupan, tetapi bukan untuk penghidupan itu saja kita bekerja. Kita menyadari bahwa ada panggilan Allah di sana dan menjadi berkat bagi karyawan lainnya. Ada pergeseran peran dan fokus secara batiniah.

Berelasi dengan Tuhan berarti siap dengan pergeseran peran dan fokus secara batiniah. Banyak orang hanya mengalami perubahan kolom agama di KTP, tetapi tidak menghayati peran dan fokusnya di dalam Tuhan. Hendaknya kita meneliti dalam hati kita apakah fokus yang kita miliki akhir-akhir ini telah bergeser dari “penjala ikan” menuju “penjala manusia”.

TUHAN YESUS MEMBERKATI

PEMANGGILAN SECARA MENDADAK MENUNJUKKAN KEPADA KITA BAHWA SERING KALI PANGGILAN TUHAN TERHADAP KITA, YANG DITUNJUKKAN MELALUI KEHENDAK DAN RENCANA-NYA TIDAK SELALU SESUAI DENGAN KEINGINAN DAN WAKTU KITA.

Card image
KIDS DAILY DEVOTIONAL 23 Mei 2026 - UJIAN NISA
2026-05-23 21:14:20


Amsal 28:26
“Siapa percaya kepada hatinya sendiri adalah orang bebal, tetapi siapa berlaku dengan bijak akan selamat.”

Hari itu Nisa sedang mengerjakan ujian di kelas. Saat mengerjakan, ia menemukan satu soal yang sangat sulit. Kemudian Nisa melihat beberapa temannya mulai saling memberi jawaban diam-diam. Nisa sempat berpikir, “Kalau aku ikut melihat jawaban mereka, nilai ujianku bisa lebih bagus.”

Namun, Nisa berhenti sejenak. Ia teringat bahwa melakukan yang benar kadang tidak selalu yang paling mudah. Dalam hatinya, ia berdoa singkat, “Tuhan, tolong aku memilih yang benar.” Nisa akhirnya tetap mengerjakan dengan kemampuannya sendiri, dan ia tidak jadi melihat jawaban orang lain ataupun bertanya kepada temannya.

Ketika hasil ujian dibagikan, nilainya memang tidak paling tinggi. Nisa mengingat keputusan yang pernah ia ambil dalam mengerjakan soal ujian tersebut. Ia memilih untuk tidak berbuat curang dan tidak ingin melukai hati Tuhan. Saat gurunya membagikan hasil ujian, gurunya berkata kepada semua murid di kelas, “Anak-anak, yang paling penting itu bukan hanya berapa nilai yang kita hasilkan, melainkan kejujuran.” Mendengar itu, hati Nisa terasa tenang.

Ia tahu bahwa ia sudah melakukan hal yang benar. Tidak ada kekecewaan lagi dalam hatinya karena nilainya kurang memuaskan baginya. Yang ada justru rasa syukur karena ia bisa bersikap jujur dan memegang teguh firman Tuhan. Hari itu Nisa belajar bahwa orang yang berhikmat tidak mengikuti apa yang mudah atau cepat, tetapi berpikir dengan hati-hati dan memilih jalan yang benar.

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 23 Mei 2026 - KONFLIK JADI KESEMPATAN
2026-05-23 21:09:56


Kejadian 13:8-9
"Maka berkatalah Abram kepada Lot: ‘Janganlah kiranya ada perkelahian antara aku dan engkau, dan antara para gembalaku dan para gembalamu, sebab kita ini kerabat. Bukankah seluruh negeri ini terbuka untuk engkau? Baiklah pisahkan dirimu dari padaku; jika engkau ke kiri, maka aku ke kanan; jika engkau ke kanan, maka aku ke kiri."

Konflik sering bikin kita nggak nyaman, apalagi kalau terjadi sama orang dekat. Tapi Tuhan mau kita belajar bahwa konflik bisa jadi kesempatan untuk mencari penyelesaian yang memuliakan Dia. Bukan sekadar menang argumen, tapi bagaimana kita me respons dengan kasih, rendah hati, dan bijak.

Belajar dari kisah Abram dan Lot. Mereka punya konflik karena harta dan ternak yang terlalu banyak, sampai para gembala mereka berselisih. Abram memilih jalan damai: ia rela memberi Lot kesempatan memilih lebih dulu. Sikap Abram menunjukkan bahwa penyelesaian konflik bisa dilakukan dengan hati yang mengutamakan damai dan memuliakan Tuhan, bukan ego pribadi.

Sebagai anak muda, kita sering merasa harus membuktikan diri benar kalau ada konflik dengan teman atau keluarga. Tapi kalau kita belajar dari Abram, kita bisa lihat bahwa mengalah bukan berarti kalah. Justru sikap rendah hati membuka jalan untuk hubungan yang lebih sehat dan damai.

Konflik yang ditangani dengan kasih dan kebijaksanaan bisa jadi kesempatan untuk menunjukkan karakter Kristus. Saat kita memilih mencari penyelesaian yang memuliakan Tuhan, kita sedang belajar jadi pribadi yang dewasa dan siap dipakai Tuhan dalam hal-hal besar.

WHAT TO DO?
• Kalau ada konflik, ambil waktu untuk doa dan minta hikmat Tuhan sebelum bicara.
• Belajar dari Abram: utamakan damai, bukan ego, dalam mencari solusi.
• Fokus pada penyelesaian yang membangun dan memuliakan Tuhan, bukan sekadar membuktikan diri benar.

BIBLE MARATHON:
Efesus 4

Card image
Renungan Pagi - 23 Mei 2026
2026-05-23 21:07:59


Ada banyak orang cinta Tuhan tetapi tidak takut akan Tuhan, karena dalam prakteknya masih tetap melakukan perbuatan yang tidak berkenan, yang melukai hati Tuhan.

Orang yang takut akan Tuhan, dalam hidupnya selalu punya prinsip aku tidak boleh main-main dengan dosa, dan apa yang Tuhan perintahkan itulah yang aku lakukan.

Card image
Quote Of The Day - 23 Mei 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-05-23 21:04:18


Pada dasarnya keserakahan dan pelanggaran berangkat dari ketidakpercayaan bahwa di dalam Tuhan hidup kita bahagia dan sejahtera walau pun tanpa siapapun dan apa pun.

Card image
Mutiara Suara Kebenaran - 23 Mei 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-05-23 13:04:30


Mestinya semua yang kita upayakan dan segala sesuatu yang kita miliki harus merupakan fasilitas yang kita sediakan bagi kepentingan Kerajaan-Nya.

Card image
REPENT - 23 Mei 2026 (English Version)
2026-05-23 13:03:45


Matthew 4:17
“From that time, Jesus began to preach, “Repent, for the kingdom of heaven is at hand!”

The word “repent” in the original language, metanoia (μετάνοια), means a change of mind that results in a change of life direction. This is not merely about emotion but transformation. Not just feeling guilty, but turning around. Imagine someone walking the wrong way: they may feel uncomfortable or realize their mistake, but as long as they keep walking in the same direction, nothing changes. Repentance happens when they stop, turn, and begin walking the right way. That is what Jesus means. Repentance is not only stopping the wrong but also beginning to live in truth.

Jesus links repentance to one important reality: the kingdom of heaven is near. That means God is acting. God’s reign is present. This is not merely a future concept but a reality beginning to be revealed through Jesus’ presence. The kingdom of God means God is King. His will is enforced. His values are established. When that kingdom comes, our lives cannot remain the same. That is why repentance is essential, because we cannot live the old way under a new rule.

Often, we think repentance is only about leaving sin. But repentance is the gateway to true life. It is an invitation to experience restored, renewed life directed back to God. We may have been Christians for a long time, serving and active in the church, but that does not mean we no longer need repentance. Every day we can begin to stray—in thought, attitude, or motive. We can grow cold, compromise, or lose direction.

Repentance is a lifestyle, not just a one-time event. It is a posture of the heart continually open to being shaped by God. It is a willingness to be renewed. It is a longing to live in alignment with God’s will. Each person has areas where repentance is needed. The good news is God does not demand instant perfection. He invites us to begin—one step, one decision, one change of direction. It may be small, but it is the start of a great transformation.

When we repent, we open the door for God to work in our lives. We give the Holy Spirit space to change us from within. Over time, we begin to see real change. Our lives become more aligned with God’s will. We experience true peace. We find deeper meaning. The kingdom of God being near is good news, but it also brings responsibility. We are called to respond. It’s not enough to know. It’s not enough to hear. We must respond with changed lives.
“Repent, for the kingdom of heaven is at hand.” Without repentance, a person will never be ready to receive God’s kingdom. Often, we want God’s blessing without changing our lives. We want peace, but refuse to leave sin. We want restoration but will not admit wrong. We want new life, yet keep old ways. But Jesus insists there is one response absolutely required: repent.

The Lord Jesus bless you

Card image
BERTOBATLAH - 23 Mei 2026
2026-05-23 13:02:15


Matius 4:17
Sejak waktu itulah Yesus memberitakan: ”Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat!”

Kata “bertobat” dalam bahasa aslinya metanoia (μετάνοια) berarti perubahan pikiran yang menghasilkan perubahan arah hidup. Ini bukan hanya soal emosi, tetapi transformasi. Bukan hanya merasa bersalah, tetapi berbalik arah. Bayangkan seseorang yang sedang berjalan ke arah yang salah. Ia bisa merasa tidak nyaman, ia bisa menyadari kesalahannya, tetapi selama ia terus berjalan ke arah yang sama, tidak ada perubahan. Pertobatan terjadi ketika ia berhenti, berbalik, dan mulai berjalan ke arah yang benar. Inilah yang Yesus maksudkan. Pertobatan bukan sekadar berhenti dari yang salah, tetapi juga mulai hidup dalam kebenaran.

Yesus mengaitkan pertobatan dengan satu realitas penting: Kerajaan Sorga sudah dekat. Artinya, Allah sedang bertindak. Pemerintahan Allah sedang hadir. Ini bukan sekadar konsep masa depan, melainkan realitas yang mulai dinyatakan melalui kehadiran Yesus. Kerajaan Allah berarti Allah menjadi Raja. Kehendak-Nya berlaku. Nilai-nilai-Nya ditegakkan. Dan ketika Kerajaan itu datang, hidup kita tidak bisa tetap sama. Inilah sebabnya pertobatan menjadi penting, karena kita tidak bisa hidup dengan cara lama ketika kita berada di bawah pemerintahan yang baru.

Sering kali kita menganggap pertobatan hanya sebagai meninggalkan kesalahan. Padahal, pertobatan adalah pintu masuk menuju kehidupan yang sejati. Ia adalah undangan untuk mengalami hidup yang dipulihkan, diperbarui, dan diarahkan kembali kepada Tuhan. Kita mungkin sudah lama menjadi Kristen, sudah melayani, sudah aktif dalam gereja, tetapi bukan berarti kita tidak lagi membutuhkan pertobatan. Setiap hari, kita bisa saja mulai menyimpang—dalam pikiran, dalam sikap, maupun dalam motivasi. Kita bisa menjadi dingin, berkompromi, atau kehilangan arah.

Pertobatan adalah gaya hidup, bukan sekadar peristiwa satu kali. Ia adalah sikap hati yang terus terbuka untuk dibentuk oleh Tuhan. Ia adalah kesediaan untuk terus diperbarui. Ia adalah kerinduan untuk hidup selaras dengan kehendak Allah. Setiap orang memiliki area masing-masing di mana pertobatan diperlukan. Dan kabar baiknya, Tuhan tidak menuntut kesempurnaan instan. Ia mengundang kita untuk mulai—satu langkah, satu keputusan, satu perubahan arah. Mungkin kecil, tetapi itu adalah awal dari transformasi besar.

Ketika kita bertobat, kita membuka pintu bagi Tuhan untuk bekerja dalam hidup kita. Kita memberi ruang bagi Roh Kudus untuk mengubahkan kita dari dalam. Seiring waktu, kita mulai melihat perubahan yang nyata. Hidup kita menjadi lebih selaras dengan kehendak Tuhan. Kita mengalami damai sejahtera yang sejati. Kita menemukan makna hidup yang lebih dalam. Kerajaan Allah sudah dekat adalah kabar baik. Namun kabar baik itu juga membawa tanggung jawab. Kita dipanggil untuk meresponsnya. Tidak cukup hanya mengetahui. Tidak cukup hanya mendengar. Kita harus merespons dengan perubahan hidup.

“Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat.” Tanpa pertobatan, manusia tidak akan pernah siap untuk menerima Kerajaan Allah. Sering kali kita ingin menikmati berkat Tuhan tanpa mengalami perubahan hidup. Kita ingin damai sejahtera, tetapi tidak mau meninggalkan dosa. Kita ingin pemulihan, tetapi tidak mau mengakui kesalahan. Kita ingin hidup baru, tetapi tetap mempertahankan cara hidup yang lama. Namun Yesus menegaskan bahwa ada satu respons yang mutlak diperlukan: bertobat.

Tuhan Yesus memberkati

PERTOBATAN BUKAN SEKADAR BERHENTI DARI YANG SALAH, TETAPI JUGA MULAI HIDUP DALAM KEBENARAN.

Card image
KIDS DAILY DEVOTIONAL 22 Mei 2026 - PERKATAAN YANG LEMAH LEMBUT
2026-05-22 20:35:10


Amsal 15:1
“Jawaban yang lemah lembut meredakan kegeraman, tetapi perkataan yang pedas membangkitkan marah.”

Suatu hari, Roni mengajak temannya, Harry, bermain di rumahnya. Mereka bermain dengan sangat seru menggunakan mainan kesayangan Roni. Tiba-tiba adik Roni datang dan tanpa sengaja merusak mainan itu. Roni langsung marah. Ia berteriak kepada adiknya, dan mereka pun mulai bertengkar. Harry yang melihat hal itu tidak tinggal diam. Ia mencoba melerai mereka. Adik Roni akhirnya pergi ke kamarnya dengan wajah kesal, sementara Roni masih merasa sangat marah.

Saat itu, Harry teringat pelajaran di Sekolah Minggu tentang firman Tuhan yang mengatakan bahwa jawaban yang lemah lembut dapat meredakan kemarahan. Harry pun ingin mencoba melakukan firman Tuhan itu. Harry lalu berbicara kepada Roni dengan suara yang lembut. Ia menenangkan Roni dan mengajaknya berpikir dengan tenang. Setelah Roni mulai tenang, Harry berkata, “Mungkin adikmu tidak sengaja. Bagaimana kalau kamu meminta maaf dulu supaya kalian bisa berdamai?”

Roni memikirkan perkataan Harry. Akhirnya ia setuju. Roni bersama Harry pergi ke kamar adiknya. Dengan hati yang sudah lebih tenang, Roni meminta maaf kepada adiknya. Adiknya pun memaafkan Roni. Tidak lama kemudian, mereka kembali bermain bersama dengan gembira.

Rehobot Kids, dari cerita ini kita belajar bahwa perkataan yang lembut dapat menenangkan hati yang sedang marah. Tuhan mengajarkan kita untuk tidak berbicara dengan kata-kata kasar, tetapi memilih perkataan yang baik dan lembut. Yuk, Rehobot Kids, belajar menggunakan perkataan yang lembut supaya kita bisa membawa damai bagi orang-orang di sekitar kita.

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 22 Mei 2026 (English Version) - CONFLICT THAT SHAPES CHARACTER
2026-05-22 20:31:29


Romans 5:3-4
“Not only that, but we also boast in our sufferings, knowing that suffering produces perseverance; and perseverance, character; and character, hope.”

Conflict often comes uninvited. It arises in relationships, ministry, family, and even in our inner struggles. Our natural response is usually to want to avoid it or hope it will pass quickly. Yet Paul invites us to view conflict from a different perspective.

God’s Word reminds us that suffering—including conflict—is not merely a disruption in life, but a process of formation. Conflict trains endurance: the ability to stand firm, remain true, and not give up even when the situation is uncomfortable. From that endurance comes a tested character, and a tested character fosters hope that is not easily shaken.

This means conflict doesn’t automatically destroy us. What matters is how we respond to it. When faced with conflict alongside God, it becomes a tool of refinement—shaping maturity, humility, and a stronger faith. Without this process, our character will be fragile and easily crumble when pressure comes.

God does not waste conflict in our lives. Behind the process that feels heavy, He is shaping a more mature person, ready for a greater purpose.

WHAT TO DO?
• Don’t immediately complain when conflict arises—learn to ask what God wants to shape.
• Remain faithful in doing what is right even when the situation isn’t ideal.
• Hold onto the hope that God’s process always brings growth.

BIBLE MARATHON:
Ephesians 3

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 22 Mei 2026 - KONFLIK YANG MEMBENTUK KARAKTER
2026-05-22 19:51:24


Roma 5:3-4
“Dan bukan hanya itu saja. Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan.”

Konflik sering kali datang tanpa diundang. Ia muncul dalam relasi, pelayanan, keluarga, bahkan dalam pergumulan batin. Respons alami kita biasanya ingin menghindar atau berharap konflik itu cepat berlalu. Namun Paulus justru mengajak kita melihat konflik dari sudut pandang yang berbeda.

Firman Tuhan mengingatkan bahwa kesengsaraan—termasuk konflik di dalamnya—bukan sekadar gangguan dalam hidup, melainkan proses pembentukan. Konflik melatih ketekunan: kemampuan untuk tetap berdiri, tetap benar, dan tidak menyerah meski situasi tidak nyaman. Dari ketekunan itulah lahir karakter yang teruji, dan karakter yang teruji menumbuhkan pengharapan yang tidak mudah goyah.

Artinya, konflik tidak otomatis menghancurkan kita. Yang menentukan adalah bagaimana kita me respons nya. Ketika konflik dihadapi bersama Tuhan, ia menjadi alat pemurnian—membentuk kedewasaan, kerendahan hati, dan iman yang lebih kuat. Tanpa proses ini, karakter kita akan rapuh dan mudah runtuh saat tekanan datang.

Tuhan tidak menyia-nyiakan konflik dalam hidup kita. Di balik proses yang terasa berat, Ia sedang membentuk pribadi yang lebih matang dan siap untuk tujuan yang lebih besar.

WHAT TO DO?
• Jangan langsung mengeluh saat konflik datang—belajarlah bertanya apa yang Tuhan mau bentuk.
• Tetap setia melakukan yang benar meski situasi tidak ideal.
• Pegang pengharapan bahwa proses Tuhan selalu membawa pertumbuhan.

BIBLE MARATHON:
Efesus 3

Card image
Renungan Pagi - 22 Mei 2026
2026-05-22 12:55:46


Orang yang dekat dengan Tuhan, tidak akan menjadi orang yang egois, seseorang menjadi egois karena dia tidak kenal Tuhan, karena ia tidak hidup dengan Tuhan dan jauh dari Tuhan.

Rajin beribadah bahkan melayani Tuhan sekalipun, tidak menjamin seseorang itu mengenal Tuhan dengan dekat.

Tapi kalau seseorang itu mengalami cinta Tuhan, mengalami hal-hal yang indah dengan Tuhan, dia tidak egois memiliki keintiman dengan karenaTuhan.

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 22 Mei 2026 - KONFLIK YANG MEMBENTUK KARAKTER
2026-05-22 12:46:06


Roma 5:3-4
“Dan bukan hanya itu saja. Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan.”

Konflik sering kali datang tanpa diundang. Ia muncul dalam relasi, pelayanan, keluarga, bahkan dalam pergumulan batin. Respons alami kita biasanya ingin menghindar atau berharap konflik itu cepat berlalu. Namun Paulus justru mengajak kita melihat konflik dari sudut pandang yang berbeda.

Firman Tuhan mengingatkan bahwa kesengsaraan—termasuk konflik di dalamnya—bukan sekadar gangguan dalam hidup, melainkan proses pembentukan. Konflik melatih ketekunan: kemampuan untuk tetap berdiri, tetap benar, dan tidak menyerah meski situasi tidak nyaman. Dari ketekunan itulah lahir karakter yang teruji, dan karakter yang teruji menumbuhkan pengharapan yang tidak mudah goyah.

Artinya, konflik tidak otomatis menghancurkan kita. Yang menentukan adalah bagaimana kita me respons nya. Ketika konflik dihadapi bersama Tuhan, ia menjadi alat pemurnian—membentuk kedewasaan, kerendahan hati, dan iman yang lebih kuat. Tanpa proses ini, karakter kita akan rapuh dan mudah runtuh saat tekanan datang.

Tuhan tidak menyia-nyiakan konflik dalam hidup kita. Di balik proses yang terasa berat, Ia sedang membentuk pribadi yang lebih matang dan siap untuk tujuan yang lebih besar.

WHAT TO DO?
• Jangan langsung mengeluh saat konflik datang—belajarlah bertanya apa yang Tuhan mau bentuk.
• Tetap setia melakukan yang benar meski situasi tidak ideal.
• Pegang pengharapan bahwa proses Tuhan selalu membawa pertumbuhan.

BIBLE MARATHON:
Efesus 3

Card image
Quote Of The Day - 22 Mei 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-05-22 12:43:56


Selama kita masih belum percaya bahwa damai sejahtera Allah cukup untuk kita, akan sangat mudah untuk kita menjadi serakah dan melakukan banyak pelanggaran.

Card image
Mutiara Suara Kebenaran - 22 Mei 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-05-22 12:42:50


Jangan menunggu situasi berubah untuk mengalami Tuhan. Biarkan Tuhan masuk ke dalam situasi itu sekarang.

Card image
LIGHT IN THE MIDST OF DARKNESS 22 Mei 2026 (English Version)
2026-05-22 12:40:53


After hearing that John the Baptist was arrested, Jesus withdrew to Galilee. At first glance, this seems like a retreat. Jerusalem was the religious center, home to the religious leaders and the magnificent Temple. If one wanted to launch a great ministry, logically one would go to the center, to a strategic, visible place. But Jesus went to Galilee.

Galilee was not prestigious. It was considered a peripheral region and was often looked down on by Judeans. In John 1:46, Nathanael asked, “Can anything good come from Nazareth?” showing how the area was regarded—not as a place where greatness would arise. Yet it was there that Jesus began His ministry. Matthew then quotes Isaiah’s prophecy: “Land of Zebulun and land of Naphtali… the people who walked in darkness have seen a great light.” This is not a coincidence but the fulfilment of God’s plan. What seems insignificant to people becomes the focus of God’s work.

The darkness here is not only geographic or social but spiritual. Galilee was mixed with other peoples, influenced by non-Jewish culture, and seen as less “pure” religiously. It symbolized life distant from God’s light. Yet it is precisely there that God’s light shines. God is not limited to places we deem worthy. He does not only work in places considered holy by human standards. He comes into the darkness, and there His light becomes most evident.

We often think God works only in ideal situations—when our lives are in order, when we feel spiritual, when things are going well. But what about times when life feels dark? When do we feel far from God? When we are in places we did not choose? God’s light does not wait for the darkness to vanish; it comes into the darkness. Jesus did not say, “Wait until you change, then I will come.” He came while they were still in darkness. He did not choose bright places to shine but brought light into dark places.

We often try to “clean up” before coming to God. We think we must become better or more spiritual first to experience His presence. But the Gospel shows the opposite: God comes first, then transforms. Light does not wait for darkness to become light; light drives out darkness. When Jesus arrives, life cannot remain the same.

We are called not only to receive the light but to carry it. As Jesus went to Galilee, we are called into darkness—not to judge, but to illuminate; not to withdraw, but to be present; not to condemn, but to bring hope. Sometimes we prefer comfort, serving where people are supportive. But light means little if it stays where it already shines. Its value is revealed in darkness.

Do not wait for circumstances to change to encounter God. Take a step of faith and let God enter your situation now. If the light has touched you, act intentionally and become a channel of light to others—those who are hurt, lost, or far from God. Jesus began there; now it is your turn to bring light into darkness.

The Lord Jesus bless you
LIGHT MEANS LITTLE IF IT STAYS WHERE IT ALREADY SHINES. ITS VALUE IS REVEALED IN DARKNESS.

Card image
TERANG DI TENGAH KEGELAPAN - 22 Mei 2026
2026-05-22 12:39:12


Setelah mendengar bahwa Yohanes Pembaptis ditangkap, Yesus menyingkir ke Galilea. Secara sekilas, ini tampak seperti langkah mundur. Yerusalem adalah pusat keagamaan, tempat para pemimpin agama, dan tempat Bait Allah berdiri megah. Jika seseorang ingin memulai pelayanan besar, secara logika ia akan pergi ke pusat, ke tempat yang strategis, ke tempat yang “terlihat.” Namun Yesus justru pergi ke Galilea.

Galilea bukanlah tempat yang prestisius. Ia dikenal sebagai wilayah pinggiran, bahkan sering dipandang rendah oleh orang-orang Yehuda. Dalam Yohanes 1:46, Natanael pernah berkata, “Mungkinkah sesuatu yang baik datang dari Nazaret?” Ini menunjukkan bagaimana daerah itu dipandang—bukan sebagai tempat lahirnya sesuatu yang besar. Namun justru di sanalah Yesus memulai pelayanan-Nya. Matius kemudian mengutip nubuat dari kitab Yesaya: “Tanah Zebulon dan tanah Naftali… bangsa yang diam dalam kegelapan telah melihat terang yang besar.” Ini bukan kebetulan. Ini adalah penggenapan rencana Allah. Apa yang tampak tidak penting di mata manusia, justru menjadi pusat pekerjaan Tuhan.

Kegelapan yang dimaksud di sini bukan hanya kondisi geografis atau sosial, tetapi juga kondisi rohani. Galilea adalah daerah yang bercampur dengan bangsa-bangsa lain, penuh pengaruh non-Yahudi, dan dianggap kurang “murni” secara religius. Ia menjadi simbol kehidupan yang jauh dari terang Tuhan. Namun justru di tempat seperti itulah terang Tuhan bersinar. *Tuhan tidak terbatas pada tempat yang kita anggap “layak.”* Ia tidak hanya bekerja di tempat yang suci menurut standar manusia. Ia hadir di tengah kegelapan, dan justru di sanalah terang-Nya menjadi paling nyata.

Sering kali kita berpikir bahwa Tuhan hanya bekerja dalam situasi yang ideal—ketika hidup kita tertata, ketika kita merasa rohani, dan ketika segala sesuatu berjalan baik. Namun bagaimana dengan saat-saat ketika hidup terasa gelap? Ketika kita merasa jauh dari Tuhan? Ketika kita berada di tempat yang tidak kita inginkan? Terang Tuhan tidak menunggu kegelapan hilang tetapi datang ke dalam kegelapan. Yesus tidak berkata, “Tunggu sampai kalian berubah, baru Aku datang.” Ia datang justru ketika mereka masih dalam kegelapan. Ia tidak memilih tempat yang terang untuk bersinar, tetapi membawa terang ke tempat yang gelap.

Sering kali kita mencoba “membersihkan diri” terlebih dahulu sebelum datang kepada Tuhan. Kita berpikir bahwa kita harus menjadi lebih baik dulu, lebih rohani dulu, baru kita bisa mengalami hadirat-Nya. Namun Injil menunjukkan hal yang sebaliknya: Tuhan datang lebih dahulu, lalu Ia mengubahkan. Terang tidak menunggu gelap menjadi terang; teranglah yang mengusir kegelapan. Ketika Yesus hadir, hidup tidak dapat tetap sama.

Kita dipanggil tidak hanya untuk menerima terang, tetapi juga untuk menjadi pembawa terang. Seperti Yesus datang ke Galilea, kita juga dipanggil untuk hadir di tengah “kegelapan” dunia ini—bukan untuk menghakimi, tetapi untuk menerangi; bukan untuk menjauh, tetapi untuk hadir; bukan untuk mengutuk, tetapi untuk membawa harapan. Kadang kita ingin melayani di tempat yang nyaman, di lingkungan yang sudah rohani, di komunitas yang mendukung. Terang tidak berarti banyak jika hanya berada di tempat yang sudah terang. Nilai terang justru terlihat ketika ia hadir di tengah kegelapan.

Jangan menunggu situasi berubah untuk mengalami Tuhan. Biarkan Tuhan masuk ke dalam situasi itu sekarang. Dan jika terang itu sudah menyentuh hidup kita, marilah kita menjadi saluran terang bagi orang lain. Terang bagi orang-orang terluka, tersesat, atau jauh dari Tuhan. Yesus memulai dari sana.

Tuhan Yesus memberkati

TERANG TIDAK BERARTI BANYAK JIKA HANYA BERADA DI TEMPAT YANG SUDAH TERANG. NILAI TERANG JUSTRU TERLIHAT KETIKA IA HADIR DI TENGAH KEGELAPAN.

Card image
KIDS DAILY DEVOTIONAL 21 Mei 2026 - MEMILIH JALAN YANG BENAR
2026-05-21 23:56:57

Mazmur 32:8
“Aku hendak mengajar dan menunjukkan kepadamu jalan yang harus kautempuh; Aku hendak memberi nasihat, mata-Ku tertuju kepadamu.”

Rehobot Kids, setiap hari kita sering dihadapkan pada pilihan. Kadang ada teman yang mengajak kita melakukan sesuatu yang kelihatannya seru, tetapi kita tidak selalu tahu apakah itu baik atau tidak. Di saat seperti itu, kita perlu belajar mendengarkan nasihat yang baik supaya kita tidak salah langkah.

Suatu hari, Niko sedang bermain sepeda di halaman rumah bersama teman-temannya. Mereka melihat jalan kecil di dekat rumah yang belum pernah mereka lewati sebelumnya. Salah satu temannya berkata, “Ayo kita coba lewat sana! Sepertinya seru.”

Niko hampir saja ikut pergi bersama teman-temannya. Tetapi ia teringat pesan orang tuanya untuk tidak pergi terlalu jauh dari rumah tanpa izin. Niko pun berpikir sejenak. Ia memilih untuk tidak mengikuti ajakan itu dan tetap bermain di sekitar rumah saja.

Awalnya Niko merasa sedikit kecewa karena tidak ikut menjelajah jalan baru itu. Namun tidak lama kemudian, ia melihat teman-temannya kembali dengan wajah takut karena jalan itu ternyata licin dan penuh batu.

Saat itu Niko merasa bersyukur karena ia memilih melakukan hal yang benar. Ia menyadari bahwa nasihat orang tuanya sebenarnya menolongnya supaya tetap aman.

Rehobot Kids, firman Tuhan hari ini mengingatkan kita bahwa Tuhan juga menuntun langkah kita. Tuhan mengajar kita melalui firman-Nya, nasihat orang tua, dan guru supaya kita berjalan di jalan yang benar.

Yuk, Rehobot Kids, belajar mendengarkan firman Tuhan dan mengikuti tuntunan-Nya setiap hari. Ketika kita mengikuti Tuhan, Ia akan menuntun langkah kita supaya tetap berjalan di jalan yang aman dan benar.

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 21 Mei 2026 (English Version) - GROW THROUGH CONFLICT
2026-05-21 23:06:56


Romans 5:3–4
“Not only that, but we also boast in our sufferings, knowing that suffering produces perseverance; perseverance, character; and character, hope.”

Rehobot Youth, conflict is often seen as something to be avoided. We don’t like arguments, we’re uncomfortable with differing opinions, or we’re afraid relationships will become strained. But actually, conflict isn’t always the enemy—conflict can be God’s tool to shape us.

Through conflict, we learn many things: we learn patience, we learn to listen, we learn to control our emotions, and we learn to understand others’ perspectives. Without conflict, we might stay comfortable, but we won’t grow.

The issue isn’t whether conflict exists or not, but how we respond to it. If we act out of ego, conflict can be destructive. But if we approach it with a heart open to learning, conflict can deepen relationships and shape our character.

God can use uncomfortable moments to train us to become more mature. When we choose to stay calm, remain respectful, and keep seeking solutions, we’re growing—not just as individuals, but also spiritually.

WHAT TO DO?
• See conflict as a learning opportunity, not a threat.
• Listen before reacting.
• Choose a response that builds up, not one that hurts.

BIBLE MARATHON:
Ephesians 2

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 21 Mei 2026 - GROW THROUGH CONFLICT
2026-05-21 23:03:19


Roma 5:3–4
“Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, dan ketekunan menimbulkan tahan uji, dan tahan uji menimbulkan pengharapan.”

Rehobot Youth, konflik sering dianggap hal yang harus dihindari. Kita nggak suka ribut, nggak enak beda pendapat, atau takut hubungan jadi renggang. Tapi sebenarnya, konflik itu bukan selalu musuh—konflik bisa jadi alat Tuhan untuk membentuk kita.

Lewat konflik, kita belajar banyak hal: belajar sabar, belajar mendengar, belajar mengendalikan emosi, dan belajar memahami sudut pandang orang lain. Tanpa konflik, kita mungkin tetap nyaman, tapi tidak bertumbuh.

Masalahnya bukan ada atau tidaknya konflik, tapi bagaimana kita me respons nya. Kalau kita pakai ego, konflik bisa merusak. Tapi kalau kita pakai hati yang mau belajar, konflik bisa memperdalam hubungan dan membentuk karakter.

Tuhan bisa pakai momen yang nggak nyaman untuk melatih kita jadi lebih dewasa. Saat kita memilih tetap tenang, tetap menghargai, dan tetap mencari solusi, kita sedang bertumbuh—bukan hanya sebagai pribadi, tapi juga secara rohani.

WHAT TO DO?
• Lihat konflik sebagai kesempatan belajar, bukan ancaman.
• Dengarkan sebelum bereaksi.
• Pilih respons yang membangun, bukan yang melukai.

BIBLE MARATHON:
Efesus 2

Card image
Renungan Pagi - 21 Mei 2026
2026-05-21 23:00:38


Kita harus punya kerinduan untuk selalu menjadi berkat bagi orang lain, mungkin ada orang yang mengecewakan dan menyakiti, tetapi biarlah kerinduan kita adalah selalu menjadi berkat bagi orang lain.

Ketika orang melakukan yang jahat, biarlah perkataan kita tetap membangun, mendatangkan damai sejahtera dan senantiasa meninggikan nama Tuhan.

Card image
Quote Of The Day - 21 Mei 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-05-21 22:59:22


Orang yang menguasai waktu, menguasai masa depan.

Card image
Mutiara Suara Kebenaran - 21 Mei 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-05-21 22:56:44


Iman mengajarkan kita untuk melihat lebih dalam, bahwa di balik setiap perubahan, ada tangan Tuhan yang sedang bekerja.

Card image
A NEW BEGINNING - 21 Mei 2026 (English Version)
2026-05-21 22:55:45


Matthew 4:12
"But when Jesus heard that John had been arrested, he withdrew to Galilee."

The arrest of John the Baptist was not merely a political or social event—it was a major shock to the spiritual landscape. John, a bold prophet and herald of repentance, prepared the way for the Messiah, drawing many to follow and repent. His sudden arrest left many disappointed and questioning: How could a faithful servant of God suffer such a fate? Where is God’s justice? Why would God allow this? These situations shake faith; when something good ends abruptly or when respected leaders are sidelined, we wonder: what is God actually doing?

Yet in that event, Jesus did not remain silent. He did not get trapped in confusion or fear. He did not retreat in the sense of giving up. He took action. He went to Galilee and began His ministry. Here we see a deep spiritual principle: when one season ends, God opens a new one. John’s arrest was not the end of God’s work. It was part of a transition. What appears to be a loss is actually space for something new to begin.

We often see change as a threat. We feel comfortable with what exists. We’re used to old patterns and want things to stay the same. But God is a God who keeps working, and often His work takes us out of our comfort zones. Imagine if John’s followers only focused on that loss. They could have stayed there, grieving, losing direction, and missed that the promised Messiah had already begun to move.

Isn’t this often true in our lives? We cling too much to what’s lost and fail to see what God is starting. Change is not easy. It often comes with a sense of loss—loss of routine, comfort, even people we love. Yet faith teaches us to look deeper: behind every change, God’s hand is at work.

Jesus did not merely react to the situation; He responded with awareness of God’s plan. He knew the time had come. What John began, continued. What was prepared, He fulfilled. This shows that God’s work does not depend on a single person. God uses many people in different seasons to accomplish His plan. John had his role. Jesus had His role. Every role matters.

In our lives, there are seasons when we are “John”—preparing, sowing, laying foundations. There are also seasons when we are called to be “Jesus”—to continue, to reap, and to fulfill. But we don’t always know when the season changes. That’s why we need spiritual sensitivity. We must learn to read God’s timing. Not every change is to be resisted. Sometimes it is to be accepted and walked through in faith.

Some people keep trying to hold on to something that is already finished. They refuse to change out of fear of uncertainty and end up stuck in the past, missing the opportunity to enter the new season God provides. Jesus did not try to “restore” John or fight the situation emotionally. He moved forward. This attitude is crucial: the courage to step forward even when we don’t fully understand what will happen. Faith does not mean knowing all the answers. Faith means trusting the One who holds our future.

Every change brings two possibilities: bitterness or growth. The main point is to look not just at what’s gone, but at what God is beginning. When something important ends, know that God still works—ushering in a new season and inviting us to join His next work.

The Lord Jesus bless you

WHAT APPEARS TO BE A LESS IS ACTUALLY SPACE FOR SOMETHING NEW TO BEGIN

Card image
AWAL YANG BARU - 21 Mei 2026
2026-05-21 21:22:31


Matius 4:12
"Tetapi waktu Yesus mendengar, bahwa Yohanes telah ditangkap, menyingkirlah Ia ke Galilea."

Penangkapan Yohanes Pembaptis bukan sekadar peristiwa politik atau sosial. Itu adalah sebuah guncangan besar dalam dunia rohani pada saat itu. Yohanes adalah nabi yang bersuara lantang, pembawa pesan pertobatan, dan seseorang yang mempersiapkan jalan bagi Mesias. Banyak orang mengikuti dia, banyak yang bertobat melalui pelayanannya. Lalu tiba-tiba—ia ditangkap. Bagi banyak orang, ini bisa menjadi momen kekecewaan. Bagaimana mungkin seorang hamba Tuhan yang setia justru mengalami hal seperti itu? Di mana keadilan Tuhan? Mengapa Tuhan mengizinkan hal ini terjadi? Situasi seperti ini sering kali mengguncang iman. Ketika sesuatu yang kita anggap “baik” tiba-tiba berhenti. Ketika seseorang yang kita hormati jatuh atau disingkirkan. Ketika pelayanan yang sedang bertumbuh tiba-tiba terganggu. Kita mulai bertanya: apa yang sebenarnya sedang Tuhan lakukan?

Namun, di tengah peristiwa itu, Yesus tidak diam. Ia tidak terjebak dalam kebingungan atau ketakutan. Ia tidak mundur dalam arti menyerah. Ia justru mengambil langkah. Ia pergi ke Galilea dan memulai pelayanan-Nya. Di sinilah kita melihat prinsip rohani yang sangat dalam: ketika satu musim berakhir, Tuhan sedang membuka musim yang baru. Penangkapan Yohanes bukanlah akhir dari karya Tuhan. Itu adalah bagian dari transisi. Apa yang tampak seperti kehilangan, sebenarnya adalah ruang bagi sesuatu yang baru untuk dimulai.

Sering kali kita melihat perubahan sebagai ancaman. Kita merasa nyaman dengan apa yang sudah ada. Kita terbiasa dengan pola lama. Kita ingin segala sesuatu tetap seperti semula. Namun Tuhan adalah Allah yang terus bekerja, dan sering kali pekerjaan-Nya membawa kita keluar dari zona nyaman. Bayangkan jika para pengikut Yohanes hanya fokus pada kehilangan itu. Mereka bisa saja berhenti di situ, meratapi keadaan, kehilangan arah, dan tidak menyadari bahwa Mesias yang dijanjikan sudah mulai bergerak.

Bukankah ini juga yang sering terjadi dalam hidup kita? Kita terlalu terpaku pada apa yang telah hilang, sehingga kita tidak melihat apa yang sedang Tuhan mulai. Perubahan memang tidak mudah. Ia sering datang dengan rasa kehilangan—kehilangan rutinitas, kehilangan kenyamanan, bahkan kehilangan orang-orang yang kita kasihi. Namun iman mengajarkan kita untuk melihat lebih dalam, bahwa di balik setiap perubahan, ada tangan Tuhan yang sedang bekerja.

Yesus tidak hanya bereaksi terhadap situasi. Ia merespons dengan kesadaran akan rencana Allah. Ia tahu bahwa waktunya telah tiba. Apa yang Yohanes mulai, kini Ia lanjutkan. Apa yang dipersiapkan, kini digenapi. Ini menunjukkan bahwa pekerjaan Tuhan tidak bergantung pada satu orang saja. Tuhan memakai banyak orang, dalam musim yang berbeda, untuk menggenapi rencana-Nya. Yohanes memiliki perannya. Yesus memiliki peran-Nya. Dan setiap peran itu penting.

Dalam kehidupan kita, ada masa-masa di mana kita menjadi “Yohanes”—mempersiapkan, menabur, membangun dasar. Ada juga masa di mana kita dipanggil untuk menjadi “Yesus”—melanjutkan, menuai, dan menggenapi. Namun kita tidak selalu tahu kapan musim itu berubah. Itulah sebabnya kita memerlukan kepekaan rohani. Kita perlu belajar membaca waktu Tuhan. Tidak semua perubahan adalah sesuatu yang harus kita lawan. Kadang, itu adalah sesuatu yang harus kita terima dan jalani dengan iman.

Ada orang yang terus mencoba mempertahankan sesuatu yang sebenarnya sudah selesai. Mereka menolak perubahan karena takut akan ketidakpastian. Akibatnya, mereka terjebak di masa lalu dan kehilangan kesempatan untuk masuk ke dalam musim baru yang Tuhan sediakan. Tidak demikian dengan Yesus. Ia tidak mencoba “mengembalikan” Yohanes. Ia tidak melawan situasi secara emosional. Ia melangkah maju. Ini adalah sikap yang sangat penting: keberanian untuk melangkah ke depan, bahkan ketika kita belum sepenuhnya memahami apa yang akan terjadi. Iman bukan berarti kita tahu semua jawaban. Iman berarti kita percaya kepada Pribadi yang memegang masa depan kita.

Setiap perubahan membawa dua kemungkinan: kita bisa menjadi pahit, atau kita bisa bertumbuh. Kita menjadi pahit ketika kita terus melihat ke belakang dan berkata, “Seharusnya tidak begini.” Kita bertumbuh ketika kita melihat ke depan dan berkata, “Tuhan, apa yang Engkau sedang kerjakan sekarang?” Jangan hanya melihat apa yang hilang, tetapi lihat juga apa yang sedang Tuhan mulai. Mungkin ada “Yohanes” dalam hidup kita yang telah “ditangkap”—sesuatu yang kita andalkan, yang selama ini menjadi bagian penting dalam hidup kita, tetapi sekarang tidak ada lagi. Ingatlah, Tuhan tidak pernah berhenti bekerja. Bahkan ketika sesuatu berakhir, itu bukan berarti Tuhan selesai. Itu berarti Ia sedang mengalihkan fokus, membuka jalan baru, dan mengundang kita untuk ikut serta dalam pekerjaan-Nya yang berikutnya.

Tuhan Yesus memberkati

APA YANG TAMPAK SEPERTI KEHILANGAN, SEBENARNYA ADALAH RUANG BAGI SESUATU YANG BARU UNTUK DIMULAI.

Card image
KIDS DAILY DEVOTIONAL 20 MEI 2026 - LEBIH DARI SEKADAR KESENANGAN
2026-05-20 21:54:24


Amsal 8:11
“Karena hikmat lebih berharga daripada permata, apa pun yang diinginkan orang, tidak dapat menyamainya.”

Mia diberi uang oleh Mama untuk membeli buku tugas. Di jalan, ia melihat es krim favorit nya. Warnanya cerah dan terlihat sangat enak. Mia jadi ingin membelinya.

Ia berhenti sejenak dan berpikir, “Kalau aku beli es krim, aku senang sekarang… tapi aku tidak bisa beli buku.” Mia tahu mana yang benar. Akhirnya, ia memilih membeli buku.

Keesokan harinya, Mia bisa belajar dengan baik. Ia mengerjakan tugasnya dengan benar dan mendapat pujian dari guru. Mia merasa senang—bukan hanya sebentar, tetapi lebih lama.

Rehobot Kids, hikmat menolong kita memilih yang benar, bukan hanya yang menyenangkan sesaat. Yuk, kita belajar meminta hikmat dari Tuhan supaya setiap pilihan kita membawa kebaikan.

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 20 Mei 2026 (English Version) - LOVE THAT OVERCOMES EGO
2026-05-20 21:48:32


John 13:34-35
“A new commandment I give you: Love one another. Just as I have loved you, you also are to love one another. By this everyone will know that you are my disciples, if you love one another.”

Loving sounds beautiful—until our ego starts to get in the way. In relationships—whether friendships, ministry, family, or community—conflicts often arise not because of a lack of knowledge, but because of an ego that wants to be understood, justified, and prioritized.

Jesus gave a command that is not easy: to love as He has loved. Jesus’ love is not a demanding love, but a giving love. He willingly humbled Himself, overcame His ego, and even sacrificed Himself for others. It is this kind of love that is the mark of a disciple of Christ.

True love chooses to listen first, to refrain from retaliation, and to willingly yield in order to preserve relationships. That is where the ego is tested, and love is formed. Jesus said that the world will recognize us as His disciples not by how eloquently we speak about faith, but by how we love. When the ego is overcome and love is prioritized, the presence of Christ becomes evident through our lives.

WHAT TO DO?
* Examine your heart: is ego currently dominating your relationships?
* Choose one concrete act of love today, even if it means yielding.
* Pray that God will help you to love not in your own strength, but with the love of Christ.

BIBLE MARATHON:
Ephesians 1

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 20 Mei 2026 - KASIH YANG MENGALAHKAN EGO
2026-05-20 21:44:55


Yohanes 13:34-35
“Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi. Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi.”

Mengasihi terdengar indah, sampai ego kita mulai terusik. Dalam relasi—baik pertemanan, pelayanan, keluarga, maupun komunitas—konflik sering kali muncul bukan karena kurangnya pengetahuan, tetapi karena ego yang ingin dimengerti, dibenarkan, dan diutamakan.

Yesus memberikan perintah yang tidak mudah: mengasihi seperti Dia telah mengasihi. Kasih Yesus bukan kasih yang menuntut, melainkan kasih yang memberi. Ia rela merendahkan diri, mengalahkan ego, bahkan mengurbankan diri-Nya demi orang lain. Kasih seperti inilah yang menjadi tanda murid Kristus.

Kasih yang sejati akan memilih mendengar lebih dulu, menahan diri untuk tidak membalas, dan rela mengalah demi menjaga relasi. Di situlah ego diuji, dan kasih dibentuk. Yesus berkata bahwa dunia akan mengenal kita sebagai murid-Nya bukan dari seberapa fasih kita berbicara tentang iman, tetapi dari bagaimana kita mengasihi. Ketika ego dikalahkan dan kasih diutamakan, kehadiran Kristus menjadi nyata melalui hidup kita.

WHAT TO DO?
* Periksa hatimu: adakah ego yang sedang mendominasi dalam relasimu saat ini?
* Pilih satu sikap konkret hari ini untuk mengasihi, meski itu berarti mengalah.
* Berdoalah agar Tuhan menolongmu mengasihi bukan dengan kekuatan sendiri, tetapi dengan kasih Kristus.

BIBLE MARATHON:
Efesus 1

Card image
Renungan Pagi - 20 Mei 2026
2026-05-20 21:39:35


Semangat merupakan jalan untuk memperoleh apa yang kita butuhkan, milikilah keberanian untuk melakukan firman Allah.

Jangan pernah menyerah dan tetap teguh, pegang janji Tuhan sampai menjadi sebuah kenyataan.

Orang yang bersemangat akan selalu optimis dalam menghadapi setiap persoalan, untuk meraih keberhasilan, selamat berjuang dan tetap semangat.

Card image
Quote Of The Day - 20 Mei 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-05-20 21:33:34


Jangan berkepanjangan menyesali keterlambatan, tapi takutlah atas hilangnya kesempatan.

Card image
Mutiara Suara Kebenaran - 20 ei 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-05-20 21:30:48


Tuhan sering bekerja melalui proses. Iblis menawarkan hasil instan. Tuhan membentuk karakter melalui perjalanan.

Card image
ONLY GOD - 20 Mei 2026 (English Version)
2026-05-20 21:23:17


In the third temptation, the devil offered Jesus all the kingdoms of the world—power, influence, wealth, glory—if Jesus would worship him. This temptation shifts from need or self-worth to the heart of the matter: what or who is worshipped at the center of one’s life.

The devil did not ask for much. He did not ask Jesus to abandon His mission entirely. He asked only one thing: to bow. One small act, one compromise, one moment of surrender, but with very large consequences. This is how the most dangerous sins work: they rarely demand our whole life at once. They ask for a small compromise. One decision that seems “not too big.” One act that feels “once won’t hurt.” Yet behind it is a shift of worship’s center.

Jesus would indeed become King and receive all authority in heaven and on earth. But the Father’s appointed way was not a shortcut. That way went through the cross, through suffering, through rejection, and through obedience unto death. The devil offered a different route: glory without the cross. Isn’t that what we also often want? We want success without process. We want to be used by God without sacrifice. We want blessings without full obedience. We want the “kingdom,” but we refuse to bear the “cross.”

When someone is tempted to gain success by dishonest means, when someone sacrifices integrity for position, or when someone chooses popularity over truth—all of these are essentially redirected “worship.” We may not literally bow to the devil, but when we place something above God—money, power, recognition, or comfort—we are giving that thing the place of worship.

Jesus answered very firmly: “Away from me, Satan! For it is written: ‘You shall worship the Lord your God, and Him only shall you serve!” Note the tone of His reply. No negotiation. No compromise. No discussion. This is a total refusal. The offer did not tempt Jesus because He knew no earthly glory compares to obedience to the Father. He was not interested in shortcuts because He was committed to God’s will.

True worship demands exclusivity. It cannot be divided. It cannot be negotiated. It cannot be half-hearted. Often, we think we can “worship God” while still pursuing other things as the center of our lives. We attend church, pray, serve, yet in our hearts, there is something else we chase more—something that, if lost, would make us feel our life has collapsed. That is what we truly worship.

Worship is not only about songs or formal ritual. Worship is about what occupies the center of our hearts: what we love most, what we pursue most, and what we most fear losing. Jesus shows that only God deserves to receive all of that. Interestingly, this temptation also addresses timing. The devil offers “now.” God often works through a process. The devil offers instant results. God shapes character through the journey. Here we often fail. We are impatient with God’s process. We want acceleration. We want quick results. In that impatience, we become vulnerable to compromise.

But Jesus teaches that faithfulness to God is more important than speed in reaching goals. Better to be slow in obedience than fast in compromise. After Jesus rejected this temptation, Scripture records a beautiful thing: “Then the devil left Him, and behold, angels came and ministered to Him.” A clear pattern emerges here: obedience precedes restoration. Faithfulness precedes comfort. Jesus was not immediately served. He first went through temptation, remained faithful, and then experienced God’s help.

When we refuse compromise, when we choose faithfulness despite hardship, God does not remain silent. He sees and cares. He will come in His timing to strengthen and restore. Maybe not always instantly. Maybe not always as we expect. But certainly.

The Lord Jesus bless you

ONLY GOD IS WORTHY OF WORSHIP.

Card image
HANYA TUHAN SAJA - 20 Mei 2026
2026-05-20 13:04:23


Dalam pencobaan ketiga, Iblis membawa Yesus ke atas gunung yang sangat tinggi dan memperlihatkan kepada-Nya semua kerajaan dunia dengan kemegahannya: kekuasaan, pengaruh, kekayaan, kemuliaan—semua yang biasanya dikejar manusia sepanjang hidupnya. Lalu Iblis berkata: “Semua itu akan kuberikan kepada-Mu, jika Engkau sujud menyembah aku.” Di sini kita melihat dengan sangat jelas, pencobaan ini bukan lagi tentang kebutuhan, bukan lagi tentang pembuktian, tetapi tentang penyembahan—tentang siapa yang menjadi pusat hidup.

Iblis tidak meminta banyak. Ia tidak meminta Yesus meninggalkan misi-Nya sepenuhnya. Ia hanya meminta satu hal: sujud. Satu tindakan kecil, satu kompromi, satu momen penyerahan, tetapi dengan konsekuensi yang sangat besar. Dan inilah cara kerja dosa yang paling berbahaya: ia jarang meminta seluruh hidup kita sekaligus. Ia hanya meminta satu langkah kecil kompromi. Satu keputusan yang “tidak terlalu besar”. Satu tindakan yang “sekali saja tidak apa-apa”. Namun, di balik itu, ada pergeseran pusat penyembahan.

Yesus memang menjadi Raja dan menerima segala kuasa di sorga dan di bumi. Namun jalan yang ditetapkan Bapa bukanlah jalan pintas. Jalan itu melewati salib, melewati penderitaan, melewati penolakan, dan melewati ketaatan sampai mati. Iblis menawarkan jalan yang berbeda: kemuliaan tanpa salib. Bukankah ini juga yang sering kita inginkan? Kita ingin berhasil, tetapi tanpa proses. Kita ingin dipakai Tuhan, tetapi tanpa pengorbanan. Kita ingin diberkati, tetapi tanpa ketaatan penuh. Kita ingin “kerajaan”, tetapi tidak mau memikul “salib”.

Ketika seseorang tergoda untuk mencapai kesuksesan dengan cara yang tidak jujur; atau ketika seseorang mengorbankan integritas demi posisi; atau ketika seseorang memilih popularitas daripada kebenaran, semua itu pada dasarnya adalah bentuk “penyembahan” yang dialihkan. Kita mungkin tidak secara literal sujud kepada Iblis, tetapi ketika kita menempatkan sesuatu di atas Tuhan—entah itu uang, kekuasaan, pengakuan, atau kenyamanan—kita sedang memberikan tempat penyembahan itu kepada hal lain.

Yesus menjawab dengan sangat tegas: “Enyahlah, Iblis! Sebab ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti!” Perhatikan nada jawabannya. Tidak ada negosiasi. Tidak ada kompromi. Tidak ada diskusi. Ini adalah penolakan total. Yesus tidak tergoda oleh apa yang ditawarkan, karena Ia tahu bahwa tidak ada satu pun kemuliaan dunia yang sebanding dengan ketaatan kepada Bapa. Ia tidak tertarik dengan jalan pintas, karena Ia berkomitmen pada kehendak Tuhan.

Penyembahan sejati menuntut eksklusivitas. Tidak bisa dibagi. Tidak bisa dinegosiasikan. Tidak bisa setengah-setengah. Sering kali kita berpikir bahwa kita bisa “menyembah Tuhan” sambil tetap mengejar hal-hal lain sebagai pusat hidup kita. Kita datang ke gereja, berdoa, melayani, tetapi dalam hati kita ada hal lain yang lebih kita kejar—sesuatu yang jika kita kehilangannya, kita merasa hidup kita runtuh. Itulah yang sebenarnya kita sembah.

Penyembahan bukan hanya soal lagu atau ibadah formal. Penyembahan adalah tentang apa yang menjadi pusat hati kita: apa yang paling kita cintai, apa yang paling kita kejar, dan apa yang paling kita takuti kehilangannya. Yesus menunjukkan bahwa hanya Tuhan yang layak menerima semua itu. Menariknya, pencobaan ini juga berbicara tentang waktu. Iblis menawarkan “sekarang”. Tuhan sering bekerja melalui proses. Iblis menawarkan hasil instan. Tuhan membentuk karakter melalui perjalanan. Di sinilah kita sering gagal. Kita tidak sabar dengan proses Tuhan. Kita ingin percepatan. Kita ingin hasil cepat. Dan dalam ketidaksabaran itu, kita menjadi rentan terhadap kompromi.

Namun Yesus mengajarkan bahwa kesetiaan kepada Tuhan lebih penting daripada kecepatan mencapai tujuan. Lebih baik lambat dalam ketaatan daripada cepat dalam kompromi. Setelah Yesus menolak pencobaan ini, Alkitab mencatat sesuatu yang indah: “Lalu Iblis meninggalkan Dia, dan lihatlah, malaikat-malaikat datang melayani Yesus.” Ada pola yang sangat jelas di sini: ketaatan mendahului pemulihan. Kesetiaan mendahului penghiburan. Yesus tidak langsung dilayani sejak awal. Ia terlebih dahulu melalui pencobaan, tetap setia, dan kemudian mengalami pertolongan Tuhan.

Ketika kita menolak kompromi, ketika kita memilih setia meskipun sulit, Tuhan tidak tinggal diam. Ia melihat dan peduli. Ia akan datang pada waktu-Nya untuk menguatkan dan memulihkan. Mungkin tidak selalu instan. Mungkin tidak selalu sesuai dengan harapan kita. Tetapi pasti.

Tuhan Yesus memberkati

HANYA TUHAN YANG LAYAK MENERIMA PENYEMBAHAN.

Card image
KIDS DAILY DEVOTIONAL 19 Mei 2026 - MULUT YANG MEMBAWA SUKACITA
2026-05-20 12:57:25


Mazmur 37:30
“Mulut orang benar mengucapkan hikmat, dan lidahnya mengatakan hukum.”

Di sekolah, ada dua teman: Bimo dan Rani. Bimo sering berkata kasar seperti, “Kamu bodoh!” sehingga teman-temannya sedih dan menjauh. Sebaliknya, Rani selalu berkata baik, “Ayo, kamu pasti bisa!” yang membuat teman-temannya merasa senang.

Suatu hari, Arya gagal dalam lomba menggambar dan hampir menangis. Bimo malah menertawakan, tetapi Rani datang dan berkata, “Tidak apa-apa, kamu sudah berusaha. Yuk, coba lagi, aku temani.” Kata-kata Rani membuat Arya kembali semangat.

Rehobot Kids, perkataan kita bisa melukai atau menguatkan. Mulut orang benar mengucapkan hikmat—kata-kata yang baik, jujur, dan membangun orang lain.

Yuk, kita belajar menggunakan mulut kita untuk membawa sukacita, supaya orang lain dikuatkan dan Tuhan pun dipermuliakan.

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 19 Mei 2026 (English Version) - CONFLICT AS BLESSING
2026-05-20 12:54:45


Romans 12:18
"If it is possible, as far as it depends on you, live at peace with everyone."

Conflict is something that can’t be avoided—whether with friends, parents, or even in ministry. But the good news is: conflict isn’t the end of a relationship; it can actually be an opportunity to show love. God wants us to learn to see conflict not as a threat, but as an opportunity to grow and demonstrate the character of Christ.

As young people, we often think conflict must be avoided or won. Yet, if we enter conflict with a heart full of love, we can become a blessing. The way we respond with patience, listening, and without getting defensive can make others feel valued. That’s what turns conflict into an opportunity to demonstrate God’s love.

Conflict faced with love can become a bridge to deeper relationships. When we choose peace, we’re showing that love is stronger than ego. From there, our relationships can become healthier, and we learn to become mature individuals in Christ.

WHAT TO DO?
• If there’s a conflict, take time to calm down and pray before responding.
• Listen first to the other person’s perspective; don’t rush to react or judge.
• Choose words that build others up, so that conflict becomes an opportunity to show love.

BIBLE MARATHON:
Galatians 6

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 19 Mei 2026 - CONFLICT AS BLESSING
2026-05-19 23:49:56


Roma 12:18
"Sedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang.

Konflik itu hal yang nggak bisa dihindari entah sama teman, orang tua, atau bahkan di pelayanan. Tapi kabar baiknya: konflik bukan akhir dari hubungan, justru bisa jadi kesempatan buat nunjukkin kasih. Tuhan mau kita belajar melihat konflik bukan sebagai ancaman, tapi sebagai peluang untuk bertumbuh dan memperlihatkan karakter Kristus.

Sebagai anak muda, kita sering mikir konflik itu harus dihindari atau dimenangkan. Padahal, kalau kita masuk ke konflik dengan hati yang penuh kasih, kita bisa jadi berkat. Cara kita merespons dengan sabar, mendengar, dan nggak ngegas bisa bikin orang lain merasa dihargai. Itu yang bikin konflik berubah jadi kesempatan untuk memperlihatkan kasih Tuhan.

Konflik yang dihadapi dengan kasih bisa jadi jembatan untuk hubungan yang lebih dalam. Saat kita memilih damai, kita sedang menunjukkan bahwa kasih lebih kuat daripada ego. Dari situ, relasi kita bisa makin sehat, dan kita belajar jadi pribadi yang dewasa dalam Kristus.

WHAT TO DO?
• Kalau ada konflik, ambil waktu untuk tenang dan berdoa sebelum me respons.
• Dengarkan dulu perspektif orang lain, jangan buru-buru ngegas atau nge-judge.
• Pilih kata-kata yang membangun, supaya konflik jadi kesempatan untuk menunjukkan kasih.

BIBLE MARATHON:
Galatia 6

Card image
Quote Of The Day - 19 Mei 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-05-19 23:46:12


Adalah kecerobohan yang paling fatal jika seseorang bisa hidup tenang sementara tidak tahu kepastian keadaannya setelah kematian.

Card image
Mutiara Suara Kebenaran - 19 Mei 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-05-19 23:44:32


Iman yang dewasa tidak haus pembuktian. Ia tenang dalam keyakinan. Ia tidak tergesa-gesa mencari tanda. Ia percaya bahwa Tuhan setia, bahkan ketika tidak ada bukti yang terlihat.

Card image
DO NOT TEST THE LORD YOUR GOD - 19 Mei 2026 (English Version)
2026-05-19 23:43:10

There is a subtle temptation that twists faith itself for our desires. This is the most dangerous: when faith is manipulated as justification. The main warning is clear—real faith does not use God, but submits to Him.

In the second temptation, the devil took Jesus to the holy city and set Him on the pinnacle of the temple. There he said, “If You are the Son of God, throw Yourself down.” The devil even quoted Scripture: “For it is written: ‘He will command His angels concerning You…’” Here is something shocking: the devil can use Scripture, speaking not only in obvious lies but in twisted truth. He quotes verses stripped of context and uses the Word for the wrong purpose. This is a crucial warning for our spiritual life: not everything that sounds spiritual is true. Not every Bible quotation comes from God. Even temptation can be wrapped in the language of faith.

This temptation differs from the first. If the first attacked physical need, the second attacks identity and trust. The devil says, “If You are the Son of God…”—as if daring Jesus to prove who He is. Isn’t this often true in our lives? We want to prove we are blessed. We want to show God is with us. We want visible signs. Unwittingly, we begin to demand that God act according to our expectations. The devil seems to say: “If God is with you, prove it. If God protects you, jump.” This is not faith. It is manipulation. It is an attempt to force God to follow human desire.

Jesus answered firmly: “Again it is written: ‘You shall not put the Lord your God to the test.’” This reply reveals an important principle: true faith neither forces God to prove Himself nor seeks signs or sensations, but instead obeys. Testing God means putting ourselves in situations that demand God’s intervention—making reckless decisions, living carelessly, or creating unnecessary troubles and expecting divine rescue. This is not faith; it is pride wrapped in spiritual language.

Often, we do this without realizing it. For example, when we ignore wisdom but expect miracles. We refuse to plan wisely yet expect God’s blessing. We do not live in obedience but demand God’s presence. Another subtle form is making spiritual experience the basis of faith. We always want to feel something—the strong presence, miraculous signs, instant answers to prayer. When these do not occur, we begin to doubt God. Yet faith is not built on feelings but on the truth of God’s Word.

Jesus did not jump. Not because He did not believe angels could help Him, but because He did not need to prove what was already sure. He did not need to “test” the Father’s love. He was already confident in His identity as the Son of God. Here lies Jesus’ strength: He did not need validation through spectacle. He did not need to prove himself dramatically. He lived in obedience.

This is an important lesson for us. Many live driven to prove themselves to others, to the world, even to God. We want to show we succeed, that we are blessed, that God uses us. In that process, we may be tempted to do unnecessary or even dangerous things. Mature faith does not thirst for proof. It is calm in conviction. It does not rush to seek signs. It trusts God’s faithfulness even when no visible evidence appears.

The real message is this: God’s Word guides our lives, not our desires. Faith is not, “I believe if God does this.” Faith is, “I believe because God is God.” Real faith moves from using God for our wants to living in trust with God.

Let us examine our motives: Are we truly seeking God, or just what He gives? The key message is clear—believe, obey, and trust God’s faithfulness without testing Him.

The Lord Jesus bless you

NOT EVERYTHING THAT SOUNDS SPIRITUAL IS TRUE. NOT EVERY BIBLE QUOTATION COMES FROM GOD. EVEN TEMPTATION CAN BE WRAPPED IN THE LANGUAGE OF FAITH.

Card image
JANGAN MENCOBAI TUHAN, ALLAHMU - 19 Mei 2026
2026-05-19 21:39:05


Ada satu bentuk pencobaan yang jauh lebih halus daripada sekadar keinginan daging atau kebutuhan jasmani. Ia tidak datang dengan wajah yang menakutkan, tetapi justru dengan wajah yang rohani. Ia tidak mengajak kita meninggalkan Tuhan, tetapi justru menggunakan nama Tuhan itu sendiri. Pencobaan yang paling berbahaya itu adalah ketika iman dipelintir menjadi alat untuk membenarkan keinginan kita.

Dalam pencobaan kedua, Iblis membawa Yesus ke Kota Suci dan menempatkan-Nya di bubungan Bait Allah. Di tempat itu, Iblis berkata: “Jika Engkau Anak Allah, jatuhkanlah diri-Mu ke bawah.” Bahkan lebih dari itu, Iblis mengutip firman Tuhan: “Sebab ada tertulis: mengenai Engkau Ia akan memerintahkan malaikat-malaikat-Nya…” Di sini kita melihat sesuatu yang mengejutkan: Iblis juga dapat menggunakan firman Tuhan. Ia tidak selalu berbicara dengan kebohongan yang jelas, tetapi dengan kebenaran yang dipelintir. Ia mengambil ayat, tetapi melepaskannya dari konteks. Ia menggunakan firman, tetapi untuk tujuan yang salah. Ini adalah peringatan yang sangat penting bagi kehidupan rohani kita. Tidak semua yang “terdengar rohani” itu benar. Tidak semua yang “mengutip Alkitab” itu berasal dari Tuhan. Bahkan pencobaan pun dapat dibungkus dengan bahasa iman.

Pencobaan ini sangat berbeda dari yang pertama. Jika pencobaan pertama menyerang kebutuhan fisik, pencobaan kedua menyerang identitas dan kepercayaan. Iblis berkata, “Jika Engkau Anak Allah…”—seolah-olah menantang Yesus untuk membuktikan siapa diri-Nya. Bukankah ini juga sering terjadi dalam hidup kita? Kita ingin membuktikan bahwa kita diberkati. Kita ingin menunjukkan bahwa Tuhan menyertai kita. Kita ingin melihat tanda-tanda yang nyata. Tanpa sadar, kita mulai menuntut Tuhan untuk bertindak sesuai dengan harapan kita. Iblis seolah berkata: “Kalau memang Tuhan menyertai, buktikanlah. Kalau memang Tuhan melindungi, lompatlah.” Ini bukan iman. Ini adalah manipulasi. Ini adalah usaha memaksa Tuhan untuk mengikuti keinginan manusia.

Yesus menjawab dengan sangat tegas: “Ada pula tertulis: Janganlah engkau mencobai Tuhan, Allahmu.” Jawaban ini mengungkapkan satu prinsip penting: iman sejati tidak memaksa Tuhan untuk membuktikan diri-Nya. Iman sejati percaya, bahkan ketika tidak ada tanda yang spektakuler. Iman sejati tidak mencari sensasi, tetapi ketaatan. Mencobai Tuhan berarti menempatkan diri kita pada posisi di mana kita “menguji” kesetiaan Tuhan. Kita menciptakan situasi yang tidak perlu, lalu berharap Tuhan menyelamatkan kita. Kita mengambil keputusan yang ceroboh, lalu berkata, “Tuhan pasti menolong.” Kita hidup sembarangan, tetapi berharap perlindungan ilahi. Ini bukan iman. Ini adalah kesombongan yang dibungkus dengan bahasa rohani.

Sering kali kita tidak sadar bahwa kita melakukan hal ini. Misalnya, ketika kita mengabaikan hikmat, tetapi mengharapkan mukjizat. Kita tidak mau merencanakan dengan bijak, tetapi berharap Tuhan memberkati. Kita tidak hidup dalam ketaatan, tetapi menuntut Tuhan untuk tetap menyertai. Ada juga bentuk lain yang lebih halus: ketika kita menjadikan pengalaman rohani sebagai dasar iman. Kita ingin selalu merasakan sesuatu—hadirat yang kuat, tanda-tanda ajaib, jawaban doa yang instan. Ketika itu tidak terjadi, kita mulai meragukan Tuhan. Padahal, iman tidak dibangun di atas perasaan, melainkan di atas kebenaran firman Tuhan.

Yesus tidak melompat. Bukan karena Ia tidak percaya bahwa malaikat dapat menolong-Nya, tetapi karena Ia tidak perlu membuktikan apa yang sudah pasti. Ia tidak perlu “menguji” kasih Bapa. Ia sudah yakin akan identitas-Nya sebagai Anak Allah. Di sinilah letak kekuatan Yesus: Ia tidak membutuhkan validasi dari tindakan spektakuler. Ia tidak perlu membuktikan siapa diri-Nya dengan cara yang dramatis. Ia cukup hidup dalam ketaatan.

Ini menjadi pelajaran yang sangat penting bagi kita. Banyak orang hidup dengan dorongan untuk membuktikan diri kepada orang lain, kepada dunia, bahkan kepada Tuhan. Kita ingin menunjukkan bahwa kita berhasil, kita diberkati, kita dipakai Tuhan. Dalam proses itu, kita bisa tergoda untuk melakukan hal-hal yang sebenarnya tidak perlu, bahkan berbahaya. Iman yang dewasa tidak haus pembuktian. Ia tenang dalam keyakinan. Ia tidak tergesa-gesa mencari tanda. Ia percaya bahwa Tuhan setia, bahkan ketika tidak ada bukti yang terlihat.

Ada perbedaan besar antara sekadar mengetahui ayat dan mengerti maksud Tuhan. Kita bisa menghafal banyak ayat, tetapi jika tidak memahami hati Tuhan di baliknya, kita bisa salah menggunakannya. Firman Tuhan bukan alat untuk membenarkan keinginan kita, tetapi pedoman untuk mengarahkan hidup kita. Iman sejati tidak berkata, “Saya akan percaya jika Tuhan melakukan ini.” Iman sejati berkata, “Saya percaya, karena Tuhan adalah Tuhan.” Ada kedalaman yang luar biasa dalam sikap ini. Ia membawa kita keluar dari hubungan yang bersifat transaksional menuju hubungan yang sejati dengan Allah. Kita tidak lagi “menggunakan” Tuhan, tetapi hidup bersama Tuhan.

Ayo kita periksa motivasi iman kita. Apakah kita sungguh-sungguh mencari Tuhan, atau hanya mencari apa yang dapat Tuhan berikan? Apakah kita mau taat tanpa syarat, atau masih menunggu tanda? Yesus telah memberikan teladan yang jelas: jangan mencobai Tuhan. Percayalah, taatilah, dan hiduplah dalam keyakinan bahwa Tuhan setia—tanpa perlu kita menguji-Nya.

Tuhan Yesus memberkati

TIDAK SEMUA YANG “MENGUTIP ALKITAB” ITU BERASAL DARI TUHAN. BAHKAN PENCOBAAN PUN DAPAT DIBUNGKUS DENGAN BAHASA IMAN.

Card image
KIDS DAILY DEVOTIONAL 18 Mei 2026 - SUKACITA KARENA HIKMATSUKACITA KARENA HIKMAT
2026-05-19 21:30:35


Amsal 3:13
“Berbahagialah orang yang mendapat hikmat, orang yang memperoleh kepandaian.”

Rehobot Kids, kita sudah belajar bahwa hati yang bijaksana adalah hati yang tulus, peka terhadap perasaan Tuhan, dan mau melakukan hal yang memberkati orang lain. Firman Tuhan hari ini mengingatkan bahwa orang yang memperoleh hikmat adalah orang yang berbahagia.

Mengapa demikian? Karena hikmat menolong kita memahami apa yang benar. Firman Tuhan menjadi penuntun langkah kita. Walaupun kadang ada hal yang sulit di depan kita, firman Tuhan memberi kekuatan dan kebijaksanaan supaya kita dapat memilih jalan yang benar.

Selain firman Tuhan, kita juga perlu hidup dalam doa. Melalui doa, kita semakin mengenal hati Tuhan dan belajar dekat dengan-Nya. Dalam doa kita tidak hanya meminta berkat, tetapi juga meminta hikmat dan kekuatan untuk melakukan kehendak Tuhan.

Rehobot Kids, Tuhan juga sering menuntun kita melalui nasihat orang tua, guru, atau pembimbing rohani. Karena itu jangan bosan mendengar nasihat yang baik. Saat kita membaca firman Tuhan, berdoa, dan mau mendengarkan nasihat yang benar, kita sedang berjalan dalam hikmat dan hidup kita menjadi menyenangkan hati Tuhan.

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 18 Mei 2026 (English Version) - THE COURAGE TO SAY NO
2026-05-19 21:28:09


Matthew 5:37
"Let your ‘Yes’ be ‘Yes,’ and your ‘No’ be ‘No.’ Anything more than that comes from the evil one."

Many of us find it hard to say “no.” We’re afraid of disappointing others, of being seen as uncaring, or of losing relationships. In the end, we say “yes” even though our hearts are actually weary, unprepared, or in disagreement. Without realizing it, our personal boundaries gradually erode.

Jesus teaches simple honesty and firmness: yes means yes, no means no. This isn’t about being rude or selfish, but about living with integrity. When our words are clear, relationships actually become healthier because they’re built on honesty, not coercion.

Saying “no” isn’t a sign of lacking love. In fact, it’s often an expression of love—both toward ourselves and toward others. With clear boundaries, we do not harbor hidden bitterness, we do not live under unnecessary pressure, and we do not blame others for choices we actually made ourselves.

In the context of relationships and the digital world, the courage to say “no” also means knowing when to stop, when to go offline, and when to keep our distance. Boundaries help us remain whole, honest, and grow.

God does not call us to please everyone, but to live righteously before Him. Clarity in saying “yes” and “no” is part of the spiritual maturity God desires.

WHAT TO DO?
1. Train yourself to be honest with your heart and your abilities before saying “yes.”
2. Remember that saying “no” is not a sin, if done with the right attitude.
3. Ask God for wisdom so that your words always reflect truth and love.

BIBLE MARATHON:
Galatians 5

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 18 Mei 2026 - BERANI BERKATA TIDAK
2026-05-19 21:25:15


Matius 5:37
"Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat."

Banyak dari kita sulit berkata “tidak”. Takut mengecewakan, takut dianggap tidak peduli, atau takut kehilangan relasi. Akhirnya, kita berkata “ya” meski hati sebenarnya lelah, tidak siap, atau tidak setuju. Tanpa disadari, batasan diri pun perlahan terkikis.

Yesus mengajarkan kejujuran dan ketegasan yang sederhana: ya berarti ya, tidak berarti tidak. Ini bukan tentang menjadi kasar atau egois, tetapi tentang hidup dengan integritas. Ketika perkataan kita jelas, relasi justru menjadi lebih sehat karena dibangun di atas kejujuran, bukan paksaan.

Berkata “tidak” bukan tanda kurang kasih. Justru sering kali itu adalah bentuk kasih—baik kepada diri sendiri maupun kepada orang lain. Dengan batasan yang jelas, kita tidak memelihara kepahitan tersembunyi, tidak hidup dalam tekanan yang tidak perlu, dan tidak menyalahkan orang lain atas pilihan yang sebenarnya kita buat sendiri.

Dalam konteks relasi dan dunia digital, keberanian berkata “tidak” juga berarti tahu kapan harus berhenti, kapan harus offline, dan kapan harus menjaga jarak. Batasan membantu kita tetap utuh, jujur, dan bertumbuh.

Tuhan tidak memanggil kita untuk menyenangkan semua orang, tetapi untuk hidup benar di hadapan-Nya. Kejelasan dalam berkata “ya” dan “tidak” adalah bagian dari kedewasaan rohani yang Tuhan kehendaki.

WHAT TO DO?
• Latih dirimu untuk jujur pada hati dan kemampuanmu sebelum berkata “ya”.
• Ingat bahwa berkata “tidak” bukan dosa, jika dilakukan dengan sikap yang benar.
• Mintalah hikmat Tuhan agar perkataanmu selalu mencerminkan kebenaran dan kasih.

BIBLE MARATHON:
Galatia 5

Card image
Renungan Pagi - 18 Mei 2026
2026-05-19 21:23:31


Orang fasik dan orang benar berbeda dalam cara bicaranya bukan berarti dibuat-buat, tetapi Alkitab berkata, "Apa yang dari dalam akan terpancar keluar".

Karena itu jika hati penuh dengan kasih, penuh dengan firman Tuhan, maka otomatis kata-kata yang keluarpun berbeda.

Sementara hati orang fasik yang penuh dengan kebencian, kemarahan, kecewa dan sakit hati, maka secara otomatis kata-katanya pun dengan sumpah serapah, kutuk, makian yang semena-mena.

Card image
Quote Of The Day - 18 Mei 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-05-19 12:47:01


Menemukan apa yang dipikirkan Tuhan mengenai diri kita, membuat kita menemukan rancangan-Nya

Card image
Mutiara Suara Kebenaran - 18 Mei 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-05-19 12:46:04


Firman Tuhan adalah sumber kehidupan. Ia memberi arah, memberi kekuatan, dan menjaga kita tetap berada dalam kehendak Allah.

Card image
MAN SHALL NOT LIVE BY BREAD ALONE - 18 Mei 2026 (English Version)
2026-05-19 12:45:06


There is a moment in human life that often becomes the most vulnerable—when basic needs go unmet. Hunger, fatigue, lack—these not only weaken the body but also create openings for the soul to falter. In such conditions, temptation often comes very subtly, even sounding reasonable.

After fasting forty days and forty nights, Jesus was in an extremely weakened physical state. The Bible records but powerfully: “At last Jesus was hungry.” We can imagine how severe that was. And it was precisely at that point that the devil came. The first temptation he put forward was very simple: “If You are the Son of God, command that these stones become bread.” At first glance, this does not seem wrong. Jesus was hungry. He had the power to turn stones into bread. The bread was real and urgent. So, where is the problem?

Here we begin to see that temptation does not always come in clearly evil forms. Often, temptation appears as a legitimate need fulfilled in a way that is not according to God’s will. The devil did not ask Jesus to do something that looked morally sinful. He only urged Jesus to use His power for personal ends, apart from the Father’s will. The temptation intends to separate us from dependence on God and replace it with our own efforts to meet needs.

Isn’t this what often happens in our lives? We are not always tempted toward great moral evils, but we are often tempted to take shortcuts. When financial pressure mounts, we are tempted to compromise. When we feel undervalued, we seek recognition in the wrong ways. When we feel empty, we try to fill it with things not from God.

Jesus answered that temptation with one profound sentence: “Man shall not live by bread alone, but by every word that proceeds from the mouth of God.” This answer is not merely a refusal but a declaration of identity and priority. Jesus affirmed that human life is determined not only by physical needs but also by a relationship with God through His word. Bread is important. Physical needs are real. God does not ignore them. Yet Jesus shows that something more fundamental than meeting physical needs exists: obedience to God’s word.

Often, we live as if “bread” is everything. We work hard, pursue stability, seek comfort—and none of that is wrong. The problem arises when these things become the center of our lives. When we begin to believe our lives depend entirely on what we possess rather than on whom we trust. Jesus did not reject bread, but He rejected a way of obtaining bread that is not according to the Father’s will. He chose to remain dependent on God, even while hungry. This is a deep lesson: true faith is tested not in abundance but in lack. Do we still believe God is enough when our needs are unmet?

Many remain faithful when life goes smoothly, but begin to wobble when faced with lack. They start questioning God, seeking other paths, even abandoning principles of faith. But Jesus shows that in times of lack, we are called to cling more firmly to the word. God’s word is not only for casual reading; it is the source of life. It gives direction, strength, and keeps us within God’s will.

When Jesus said that man lives by every word from God’s mouth, He invited us to view life from a different perspective. Life is not merely about physical survival but about living in God’s truth and will.

In daily life, “stones becoming bread” can appear in many forms: being tempted to manipulate situations for personal gain; sacrificing integrity for financial security; or using God-given abilities for self-interest rather than His glory. This temptation is especially relevant because it touches the most basic human needs, making it very dangerous.

But there is good news: we do not have to lose to this temptation. Jesus has shown us how to face it—with God’s word. Not by our own strength or mere logic, but by the truth that comes from God. When we fill our lives with God’s word, we have a firm foundation to resist temptation. We do not waver easily because we know what is right. We are not easily tempted because we have clear values.

The Lord Jesus bless you

HUMAN LIFE IS DETERMINED NOT ONLY BY PHYSICAL NEEDS BUT ALSO BY A RELATIONSHIP WITH GOD THROUGH HIS WORD.

Card image
HIDUP BUKAN DARI ROTI SAJA - 18 Mei 2026
2026-05-19 12:41:49


Ada satu momen dalam kehidupan manusia yang sering kali menjadi titik paling rentan, yaitu ketika kebutuhan dasar tidak terpenuhi. Lapar, lelah, kekurangan—semua itu bukan hanya melemahkan tubuh, tetapi juga membuka celah bagi jiwa untuk goyah. Dalam kondisi seperti itulah pencobaan sering datang dengan sangat halus, bahkan terlihat masuk akal.

Yesus, setelah berpuasa empat puluh hari dan empat puluh malam, berada dalam kondisi yang sangat lemah secara fisik. Alkitab mencatat dengan sederhana namun kuat: “Akhirnya laparlah Yesus.” Kita dapat membayangkan betapa beratnya keadaan itu. Dan justru pada titik itulah Iblis datang. Pencobaan pertama yang diajukan sangat sederhana: “Jika Engkau Anak Allah, perintahkanlah supaya batu-batu ini menjadi roti.” Sekilas, ini bukanlah sesuatu yang salah. Yesus memang lapar. Ia memang memiliki kuasa untuk mengubah batu menjadi roti. Bahkan, kebutuhan itu nyata dan mendesak. Jadi, di manakah letak masalahnya?

Di sinilah kita mulai melihat bahwa pencobaan tidak selalu datang dalam bentuk yang jelas-jelas jahat. Sering kali, pencobaan datang dalam bentuk kebutuhan yang sah, tetapi dipenuhi dengan cara yang tidak sesuai dengan kehendak Allah. Iblis tidak meminta Yesus melakukan sesuatu yang tampak berdosa secara moral. Ia hanya mendorong Yesus untuk menggunakan kuasa-Nya demi kepentingan diri sendiri, di luar kehendak Bapa. Maksud pencobaan memang adalah untuk memisahkan kita dari ketergantungan kepada Allah dan menggantinya dengan usaha memenuhi kebutuhan dengan cara kita sendiri.

Bukankah ini juga yang sering terjadi dalam hidup kita? Kita tidak selalu tergoda untuk melakukan hal-hal besar yang jahat, tetapi kita sering tergoda untuk mengambil jalan pintas. Ketika kebutuhan ekonomi menekan, kita tergoda untuk berkompromi. Ketika kita merasa kurang dihargai, kita mencari pengakuan dengan cara yang salah. Ketika kita merasa kosong, kita mencoba mengisinya dengan hal-hal yang tidak berasal dari Tuhan.

Yesus menjawab pencobaan itu dengan satu kalimat yang sangat dalam: “Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah.” Jawaban ini bukan sekadar penolakan, tetapi sebuah deklarasi identitas dan prioritas. Yesus menegaskan bahwa kehidupan manusia tidak hanya ditentukan oleh kebutuhan fisik, melainkan oleh hubungan dengan Allah melalui firman-Nya. Roti itu penting. Kebutuhan jasmani itu nyata. Tuhan tidak mengabaikannya. Namun, Yesus menunjukkan bahwa ada sesuatu yang lebih mendasar daripada sekadar pemenuhan kebutuhan fisik, yaitu ketaatan kepada firman Tuhan.

Sering kali kita hidup seolah-olah “roti” adalah segalanya. Kita bekerja keras, mengejar stabilitas, mencari kenyamanan—dan itu semua tidak salah. Namun masalah muncul ketika hal-hal tersebut menjadi pusat hidup kita. Ketika kita mulai percaya bahwa hidup kita bergantung sepenuhnya pada apa yang kita miliki, bukan pada siapa yang kita percayai. Yesus tidak menolak roti. Ia menolak cara memperoleh roti yang tidak sesuai dengan kehendak Bapa. Ia memilih untuk tetap bergantung kepada Allah, bahkan dalam keadaan lapar sekalipun. Ini adalah pelajaran yang sangat dalam: iman sejati diuji bukan ketika kita berkelimpahan, tetapi ketika kita berkekurangan. Apakah kita tetap percaya bahwa Tuhan cukup, bahkan ketika kebutuhan kita belum terpenuhi?

Ada banyak orang yang tetap setia ketika hidup berjalan lancar, tetapi mulai goyah ketika menghadapi kekurangan. Mereka mulai mempertanyakan Tuhan, mencari jalan lain, bahkan meninggalkan prinsip-prinsip iman. Namun Yesus menunjukkan bahwa justru dalam kekurangan, kita dipanggil untuk semakin berpegang pada firman. Firman Tuhan bukan hanya untuk dibaca ketika kita memiliki waktu luang. Firman Tuhan adalah sumber kehidupan. Ia memberi arah, memberi kekuatan, dan menjaga kita tetap berada dalam kehendak Allah.

Ketika Yesus berkata bahwa manusia hidup dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah, Ia sedang mengajak kita untuk melihat hidup dari perspektif yang berbeda. Hidup bukan hanya tentang bertahan secara fisik, tetapi tentang hidup dalam kebenaran dan kehendak Tuhan.

Dalam kehidupan sehari-hari, “batu menjadi roti” dapat muncul dalam berbagai bentuk. Misalnya, ketika kita tergoda untuk memanipulasi situasi demi keuntungan pribadi; atau ketika kita mengorbankan integritas demi keamanan finansial; atau bahkan ketika kita menggunakan kemampuan yang Tuhan berikan bukan untuk kemuliaan-Nya, melainkan untuk kepentingan diri sendiri. Pencobaan ini sangat relevan karena menyentuh kebutuhan paling dasar manusia. Dan justru karena itu, ia sangat berbahaya.

Namun, ada kabar baik: kita tidak harus kalah dalam pencobaan ini. Yesus telah memberikan teladan bagaimana menghadapinya—dengan firman Tuhan. Bukan dengan kekuatan sendiri, bukan dengan logika semata, tetapi dengan kebenaran yang berasal dari Allah. Ketika kita mengisi hidup kita dengan firman Tuhan, kita memiliki dasar yang kuat untuk menolak pencobaan. Kita tidak mudah goyah karena kita tahu apa yang benar. Kita tidak mudah tergoda karena kita memiliki nilai yang jelas.

Tuhan Yesus memberkati

KEHIDUPAN MANUSIA TIDAK HANYA DITENTUKAN OLEH KEBUTUHAN FISIK, MELAINKAN OLEH HUBUNGAN DENGAN ALLAH MELALUI FIRMAN-NYA.

Card image
KIDS DAILY DEVOTIONAL 17 Mei 2026 - COUNTING OUR DAYS
2026-05-18 22:31:10


Mazmur 90:12
“Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana.”

Jalan-jalan ke Bali (cakep),
Jangan lupa makan nasi Bali (cakep).
Mari kita menghitung hari,
Menata hati untuk saling memberkati.

Pantun sederhana ini mengingatkan kita bahwa setiap hari adalah kesempatan untuk melakukan hal yang baik dan menyenangkan hati Tuhan. Hati yang bijaksana terbentuk dari pilihan-pilihan kecil yang kita buat setiap hari. Misalnya saat libur, apakah kita hanya bermain handphone berjam-jam, atau meluangkan waktu berbicara dan makan bersama ayah dan ibu.

Hal kecil lain juga penting. Ketika adik kita kesulitan mengerjakan PR, apakah kita menolongnya atau malah mengejeknya? Tuhan mengajar kita memiliki hati yang bijaksana melalui sikap kita sehari-hari—melalui kata-kata yang baik dan tindakan yang penuh kasih.

Rehobot Kids, mari mulai dari hal-hal sederhana. Gunakan mulut kita untuk berkata baik dan tangan kita untuk menolong orang lain. Jika kita melakukan hal-hal yang menyenangkan hati Tuhan setiap hari, hidup kita akan menjadi berkat bagi keluarga dan teman-teman.

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 17 Mei 2026 (English Version) - CONTROLLING YOUR FINGERS, PRESERVING RELATIONSHIPS
2026-05-18 22:10:16


Proverbs 13:3
“Those who guard their lips preserve their lives, but those who speak rashly will come to ruin.”

In the digital age, words don’t just come out of our mouths—they also come from our fingers. A single message, comment, or post can build a relationship—or destroy it. Without realizing it, unprocessed emotions are often immediately poured out through chat or social media.

Proverbs reminds us that guarding our words is a form of wisdom. This principle also applies in the digital world. Not everything we think needs to be typed immediately. Not every emotion needs to be shared right away. Controlling our fingers means making room for wisdom before reacting.

Many conflicts arise not because of major issues, but because of words written without consideration. A message sent when emotions are running high, a sarcastic remark in the comments section, or a curt response that sounds cold can hurt others and damage relationships that are actually precious.

Setting digital boundaries doesn’t mean being cold or indifferent. On the contrary, it is an act of love. We choose to preserve relationships by exercising self-restraint, thinking more deeply, and considering the impact of every word we write.

Controlling your fingers is an exercise in spiritual maturity. When we learn to pause before typing, we are learning to live with wisdom and love in the midst of a fast-paced world.

WHAT TO DO?
• When emotions arise, pause before replying to a message or writing a comment.
• Ask yourself: will these words build up or hurt?
• Use digital media as a means to bring peace, not conflict.

? BIBLE MARATHON:
Galatians 4

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 17 Mei 2026 - MENGONTROL JARI, MENJAGA RELASI
2026-05-18 22:06:36


Amsal 13:3
“Siapa menjaga mulutnya, memelihara nyawanya, siapa yang lebar bibir, akan ditimpa kebinasaan.”

Di era digital, kata-kata tidak hanya keluar dari mulut, tetapi juga dari jari-jari kita. Satu pesan, satu komentar, atau satu unggahan bisa membangun relasi—atau justru merusaknya. Tanpa disadari, emosi yang belum tertata sering kali langsung dituangkan lewat chat atau media sosial.

Amsal mengingatkan bahwa menjaga perkataan adalah bentuk hikmat. Prinsip ini juga berlaku dalam dunia _digital._ Tidak semua yang kita pikirkan perlu langsung diketik. Tidak semua emosi perlu langsung dibagikan. Mengontrol jari berarti memberi ruang bagi kebijaksanaan sebelum bereaksi.

Banyak konflik muncul bukan karena masalah besar, tetapi karena kata-kata yang ditulis tanpa pertimbangan. Chat yang dikirim saat emosi sedang panas, sindiran di kolom komentar, atau respons singkat yang terdengar dingin bisa melukai orang lain dan merusak hubungan yang sebenarnya berharga.

Menetapkan batasan digital bukan berarti menjadi dingin atau tidak peduli. Justru sebaliknya, itu adalah bentuk kasih. Kita memilih untuk menjaga relasi dengan menahan diri, berpikir lebih panjang, dan mempertimbangkan dampak dari setiap kata yang kita tulis.

Mengontrol jari adalah latihan kedewasaan rohani. Ketika kita belajar berhenti sejenak sebelum mengetik, kita sedang belajar hidup dengan hikmat dan kasih di tengah dunia yang serba cepat.

WHAT TO DO?
• Saat emosi muncul, beri jeda sebelum membalas pesan atau menulis komentar.
• Tanyakan pada diri sendiri: apakah kata-kata ini membangun atau melukai?
• Gunakan media digital sebagai sarana membawa damai, bukan konflik.

BIBLE MARATHON:
Galatia 4

Card image
Renungan Pagi - 17 Mei 2026
2026-05-18 22:01:47


Tidak semua perbuatan baik diterima orang dengan baik, tidak semua apa yang kita lakukan benar dipandang orang benar, karena itu jangan fokus apa pendapat orang, jangan fokus penilaian orang, tapi fokuslah penilaian Tuhan dihati kita.

Dalam 1 Samuel 16 : 7 ada dikatakan, "Tuhan melihat hatimu". Manusia melihat apa yang didepan mata, manusia melihat penampilan kita ibadah, tapi Tuhan tidak melihat penampilan, Tuhan melihat hati kita.

Card image
Quote Of The Day - 17 Mei 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-05-18 22:00:12


Kematian Tuhan Yesus di kayu salib adalah alat pembayaran untuk mengembalikan manusia pada posisi merdeka atau bebas.

Card image
Mutiara Suara Kebenaran - 17 Mei 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-05-18 21:58:55


Hari ini mungkin penderitaan yang kita alami terasa dunia seperti rubuh menimpa kita, tetapi di tangan Tuhan rasa sakit pun dipakai Tuhan untuk mencapai tujuan yang telah Tuhan rancangkan.

Card image
LED BY THE SPIRIT TO BE TEMPTED - 17 Mei 2026 (English Version)
2026-05-18 21:57:39


There is an understanding we often hold unconsciously in our spiritual life: if we walk in God’s will, life should become easier. The path feels smoother, struggles lessen, and it seems God “clears the way.” But in Matthew 4:1, something is striking: “Then Jesus was led up by the Spirit into the wilderness to be tempted by the devil.” If we pay attention to this sentence, it’s clear that Jesus did not get lost, did not sin, and did not fail to pray. Precisely because the Spirit led him, He entered into temptation. This is a spiritual paradox that is often hard to accept. God’s leading does not always take us to comfortable places; often it takes us to places of testing.

The wilderness in the Bible is not merely a geographic location. It symbolizes emptiness, limitation, loneliness, and uncertainty. It is where a person cannot rely on their own strength. And it is where true character is tested. After being baptized and affirmed as the Father’s beloved Son, Jesus did not immediately step into a radiant ministry. He was first led into the wilderness. This teaches us that before God greatly uses someone, they are often first formed in solitude. Before the stage, there is the wilderness. Before glory, there is testing.

Many times in life, we ask, “Lord, why do troubles come after I sincerely follow You?” We begin to doubt God’s way. But this story reminds us: in obedience, we may face more temptation. Not because the Father has left us, but because He is shaping us. Temptation is not proof of God’s absence. Often, it shows we are in His forming process. God does not tempt to destroy. He allows testing to strengthen. The devil tempts to ruin, but God uses it to purify. Jesus did not avoid the wilderness. He went through it, and there He prevailed. This matters because spiritual victory does not come from avoiding struggle but from faithfully passing through it with God.

There are times we want a shortcut. We want to get to the “final result” without the process. We want to be used by God without first being processed by God. But faith that has never been tested is fragile. A character that has never been formed is easily broken. The wilderness in our lives can take many forms: financial pressure, relational conflict, dry seasons in ministry, unanswered prayers, or inner struggles unseen by others. In such situations, we can feel alone. But if the Spirit led Jesus, that same Spirit accompanies Him in the wilderness.

So, it is with us. God not only leads us into the process but is present in it. He does not abandon us in temptation. He accompanies, strengthens, and provides an escape in His time. The question is not, “Am I in temptation?”—almost everyone is. The question is, “How do I respond?” Do we become bitter, or grow? Do we withdraw from God, or draw closer to Him?

Jesus shows the right response: He held fast to God’s Word. He did not react emotionally but with truth. He did not seek shortcuts but remained faithful to the Father’s will. Let us reconsider our view of suffering and temptation. The main takeaway is this: facing hardship while following God does not mean He has abandoned us. Rather, struggle and temptation can be evidence of God’s deep work in us. Stay faithful—God is present in your testing, and transformation happens in the wilderness.

The Lord Jesus bless you

TEMPTATION IS NOT PROOF OF GOD'S ABSENCE. OFTEN, IT SHOWS WE ARE IN HIS FORMING PROCESS.

Card image
DIPIMPIN ROH UNTUK DICOBAI - 17 Mei 2026
2026-05-18 21:54:07


Ada satu pemahaman yang sering kali secara tidak sadar kita pegang dalam kehidupan rohani, yaitu jika kita berjalan dalam kehendak Tuhan, maka hidup seharusnya menjadi lebih mudah. Jalan terasa lebih lancar, pergumulan berkurang, dan seolah-olah Tuhan “membuka jalan tanpa hambatan.” Namun, dalam Matius 4:1 terdapat sesuatu yang menarik, yaitu kalimat yang mengatakan: “Maka Yesus dibawa oleh Roh ke padang gurun untuk dicobai Iblis.” Jika kita perhatikan kalimat ini, maka jelas bahwa bukan karena Yesus tersesat, bukan karena Ia melakukan kesalahan, dan bukan karena Ia kurang berdoa. Justru karena Ia dipimpin oleh Roh, Ia masuk ke dalam pencobaan. Ini adalah paradoks rohani yang sering kali sulit kita terima. Ternyata, pimpinan Tuhan tidak selalu membawa kita ke tempat yang nyaman, tetapi sering kali justru ke tempat pengujian.

Padang gurun dalam Alkitab bukan sekadar lokasi geografis. Ia adalah simbol kekosongan, keterbatasan, kesendirian, dan ketidakpastian. Di sanalah manusia tidak bisa mengandalkan kekuatannya sendiri. Dan di sanalah karakter sejati diuji. Yesus, setelah dibaptis dan diteguhkan sebagai Anak yang dikasihi Bapa, tidak langsung masuk ke dalam pelayanan yang gemilang. Ia terlebih dahulu dibawa ke padang gurun. Hal ini mengajarkan kepada kita bahwa sebelum seseorang dipakai secara besar oleh Tuhan, ia sering kali terlebih dahulu dibentuk dalam kesunyian. Sebelum ada panggung, ada padang gurun. Sebelum kemuliaan, ada pengujian.

Sering kali dalam hidup kita, kita bertanya: “Tuhan, mengapa setelah saya sungguh-sungguh mau ikut Engkau, justru masalah datang bertubi-tubi?” Kita mulai meragukan: apakah ini benar jalan Tuhan? Namun, kisah ini mengingatkan kita bahwa justru dalam ketaatan, kita bisa menghadapi pencobaan yang lebih nyata. Bukan karena Bapa meninggalkan kita, tetapi karena Ia sedang membentuk kita. Pencobaan bukan tanda ketidakhadiran Tuhan. Justru sebaliknya, sering kali itu adalah tanda bahwa kita sedang berada dalam proses pembentukan-Nya. Tuhan tidak mencobai untuk menjatuhkan, tetapi mengizinkan pencobaan untuk menguatkan. Iblis mencobai untuk menghancurkan, tetapi Tuhan memakai situasi itu untuk memurnikan. Yesus tidak menghindari padang gurun. Ia menjalaninya. Dan di sanalah Ia menang. Ini penting, karena kemenangan rohani tidak terjadi dengan menghindari pergumulan, tetapi dengan setia melewatinya bersama Tuhan.

Ada kalanya kita ingin jalan pintas. Kita ingin langsung ke “hasil akhir” tanpa melalui proses. Kita ingin dipakai Tuhan tanpa terlebih dahulu diproses oleh Tuhan. Namun, iman yang tidak pernah diuji adalah iman yang rapuh. Karakter yang tidak pernah dibentuk adalah karakter yang mudah runtuh. Padang gurun dalam hidup kita bisa berupa banyak hal: tekanan ekonomi, konflik relasi, pelayanan yang terasa kering, doa yang seolah tidak dijawab, atau bahkan pergumulan batin yang tidak terlihat oleh orang lain. Dalam situasi seperti itu, kita bisa merasa sendirian. Tetapi jika Roh yang memimpin Yesus, maka Roh yang sama juga menyertai-Nya di dalam padang gurun.

Begitu juga dengan kita. Tuhan tidak hanya memimpin kita ke dalam proses, tetapi Ia juga hadir di dalam proses itu. Ia tidak meninggalkan kita di tengah pencobaan. Ia menyertai, menguatkan, dan memberikan jalan keluar pada waktu-Nya. Pertanyaannya bukan: “Apakah saya sedang dalam pencobaan?” Karena hampir setiap orang pasti mengalaminya. Pertanyaannya adalah: “Bagaimana saya merespons pencobaan itu?” Apakah kita menjadi pahit, atau justru bertumbuh? Apakah kita menjauh dari Tuhan, atau justru semakin melekat kepada-Nya?

Yesus menunjukkan respons yang benar: Ia tetap berpegang pada firman Tuhan. Ia tidak bereaksi dengan emosi, tetapi dengan kebenaran. Ia tidak mencari jalan pintas, tetapi tetap setia pada kehendak Bapa. Mari kita melihat kembali cara pandang kita tentang penderitaan dan pencobaan. Jangan terburu-buru menyimpulkan bahwa Tuhan tidak menyertai hanya karena jalan terasa sulit. Bisa jadi justru di situlah Tuhan sedang bekerja paling intens dalam hidup kita.

Tuhan Yesus memberkati

PENCOBAAN BUKAN TANDA KETIDAKHADIRAN TUHAN. JUSTRU SEBALIKNYA, SERING KALI ITU ADALAH TANDA BAHWA KITA SEDANG BERADA DALAM PROSES PEMBENTUKAN-NYA

Card image
KIDS DAILY DEVOTIONAL 16 Mei 2026 - HATI-HATI PILIH JALAN
2026-05-17 22:16:25


Amsal 14:16
“Orang bijak berhati-hati dan menjauhi kejahatan, tetapi orang bodoh gegabah dan merasa aman.”

Rehobot Kids, orang yang bijak itu selalu berhati-hati. Ia tidak langsung ikut-ikutan, tetapi berpikir dulu sebelum bertindak. Ia juga memilih menjauhi hal yang salah, walaupun terlihat menyenangkan.

Kadang kita dihadapkan pada pilihan yang tidak mudah, seperti ikut teman melakukan hal yang tidak baik atau menolak dan memilih yang benar. Di saat seperti itu, Tuhan menolong kita supaya tidak salah langkah.

Tuhan berbicara melalui firman-Nya, nasihat orang tua, dan suara hati kita. Ia menuntun kita untuk menjauhi dosa dan memilih jalan yang benar.

Yuk, Rehobot Kids, belajar berhati-hati dalam setiap pilihan. Percaya bahwa Tuhan selalu menolong kita untuk menghindari yang salah dan melakukan yang benar

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 16 Mei 2026 (English Version) - HEALTHY PHYSICAL BOUNDARIES
2026-05-17 13:51:24


1 Thessalonians 4:3–4
“For this is the will of God: your sanctification… that each of you should know how to control his own body in holiness and honor.”

Rehobot Youth, in relationships, physical closeness is often seen as proof of love. The closer you are, the more serious the relationship is considered. But God’s Word teaches that healthy love isn’t just about closeness, but also about sanctification and honor.

Physical boundaries are important not because we’re rigid, but because we value ourselves, our partner, and God. Without boundaries, a relationship can easily be swept away by emotions and fleeting impulses. But with healthy boundaries, the relationship becomes safer, clearer, and more fulfilling.

Maintaining physical boundaries doesn’t mean we don’t care. On the contrary, it’s a sign that we’re serious. We don’t want this relationship to be ruined just because of a hasty decision. We choose to protect what God has entrusted to us, including our bodies and hearts.

Mature love knows that not everything that can be done should be done. There is a time, a place, and a commitment that must be clear. Until that time comes, we learn to respect the process.

WHAT TO DO?
• Agree on healthy physical boundaries from the start of the relationship.
• Avoid situations that could lead to compromise.
• Remember, taking care of yourself is a responsible form of love.

BIBLE MARATHON:
Galatians 3

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 16 Mei 2026 (English Version) - HEALTHY PHYSICAL BOUNDARIES
2026-05-17 13:49:23


1 Tesalonika 4:3–4
“Karena inilah kehendak Allah: pengudusanmu… supaya kamu masing-masing mengambil seorang perempuan menjadi isterimu sendiri dan hidup di dalam pengudusan dan penghormatan.”

Rehobot Youth, dalam hubungan, kedekatan fisik sering dianggap sebagai bukti cinta. Semakin dekat, semakin dianggap serius. Tapi firman Tuhan ngajarin bahwa cinta yang sehat bukan cuma soal kedekatan, tapi juga tentang pengudusan dan penghormatan.

Batasan fisik itu penting bukan karena kita kaku, tapi karena kita menghargai diri sendiri, pasangan, dan Tuhan. Tanpa batas, hubungan bisa dengan mudah terbawa emosi dan dorongan sesaat. Tapi dengan batas yang sehat, relasi jadi lebih aman, lebih jelas, dan lebih bertumbuh.

Menjaga batas fisik bukan berarti kita nggak sayang. Justru itu tanda kita serius. Kita nggak mau hubungan ini rusak hanya karena keputusan yang terburu-buru. Kita memilih untuk menjaga apa yang Tuhan percayakan, termasuk tubuh dan hati kita.

Cinta yang dewasa tahu bahwa tidak semua yang bisa dilakukan harus dilakukan. Ada waktu, ada tempat, dan ada komitmen yang harus jelas. Sampai waktu itu tiba, kita belajar untuk menghormati proses.

WHAT TO DO?
• Sepakati batas fisik yang sehat sejak awal hubungan.
• Hindari situasi yang bisa memicu kompromi.
• Ingat, menjaga diri adalah bentuk kasih yang bertanggung jawab.

BIBLE MARATHON:
Galatia 3

Card image
Renungan Pagi - 16 Mei 2026
2026-05-17 13:44:49


Tuhan bergaul karib dengan orang-orang yang takut akan Dia, keaktifan di gereja, bahkan seberapa banyak pelayanan kita, seberapa banyak memberitakan firman Tuhan, tetapi kalau hubungan kita dengan Tuhan tidak akrab, maka semuanya akan menjadi sia-sia.

Milikilah disiplin rohani baik dalam doa, penyembahan dan membaca firman setiap hari, agar kita dapat hidup bergaul karib dengan Tuhan, sebab tanpa keintiman dengan Allah mustahil dapat mengenal dan mengetahui kehendak-Nya.

Card image
Quote Of The Day - 16 Mei 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-05-17 13:42:56


Hal yang paling merusak pelayanan pekerjaan Tuhan adalah ketika syarat untuk menjadi pengikut Kristus tidak diajarkan sehingga banyak orang merasa sudah di “dalam” tetapi sebenarnya masih di “luar.”

Card image
Mutiara Suara Kebenaran - 16 Mei 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-05-17 13:40:11


Perkenanan Allah tidak semata-mata didasarkan pada apa yang kita kerjakan, tetapi pada bagaimana kita merespons kehendak-Nya.

Card image
PLEASING BECAUSE OF OBEDIENCE - 16 Mei 2026 (English Version)
2026-05-17 10:48:16


Matthew 3:17
“This is My Son, whom I love; with Him I am well pleased.”

There is something notable about Jesus’ baptism by John. The voice from heaven did not come after Jesus performed miracles, healed, or rose from the dead. Instead, this affirmation was given before His ministry began.

This scene challenges the common belief that affirmation follows achievement. Instead of waiting for results or accomplishments, God expresses His pleasure before Jesus begins His work, highlighting a different measure of worth.

The answer is in Jesus’ heart. In Matthew 3:15, Jesus tells John, “Let it be so now; it is proper for us to do this to fulfil all righteousness.” This reveals Jesus came to obey the Father’s will, not to exalt Himself. John felt unworthy to baptize Him, yet Jesus humbled Himself in obedience. True humility is the willingness to submit to God’s will, even when it seems unnecessary.

God’s pleasure centers on our response to His will, not solely on external actions. Jesus received the Father’s approval because of His willing, complete obedience—a model of honoring God not just with words, but with wholehearted submission.

As written in Philippians 2:8, “And being found in appearance as a man, He humbled Himself by becoming obedient to death—even death on a cross.” Jesus’ obedience was not partial but complete, beginning even at the start of His ministry.

This baptism narrative refocuses our understanding: God’s pleasure begins not with outward results, but with obedient hearts. A willing, humble act of obedience matters more than grand achievements without surrender.

Jesus models that a life pleasing to God is one ready to say, “Let it be so,” even when the path is one of humility. Perhaps God is not asking us to do something grand. Perhaps He asks only simple obedience: to forgive, to be faithful in small responsibilities, or to live righteously under pressure. Do not despise these. It is there that our hearts are tested.

Remember, God’s favour meets us at obedience. What matters most to God is not the scale of our works, but the depth of our loving, obedient response to Him.

The Lord Jesus bless you

WHAT MATTERS MOST TO GOD IS NOT THE SCALE OF OUR WORKS, BUT THE DEPTH OF OUR LOVING, OBEDIENT RESPONSE TO HIM.

Card image
BERKENAN KARENA TAAT - 16 Mei 2026 ????? ?? ??? ???: Hal yang paling merusak pelayanan pekerjaan Tuhan adalah ketika syarat untuk menjadi pengikut Kristus tidak diajarkan sehingga banyak orang merasa sudah di “dalam” tetapi sebenarnya masih di “luar.” 16 Mei 2026 Pdt. Dr. Erastus Sabdono
2026-05-17 10:31:14


Matius 3:17
“Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan.”

Ada sesuatu yang menarik dari peristiwa Yesus dibaptis oleh Yohanes Pembaptis. Suara dari surga itu bukan muncul setelah Yesus melakukan mukjizat, menyembuhkan orang sakit, maupun setelah Ia mati dan bangkit. Sebaliknya, pengakuan itu justru diberikan sebelum pelayanan besar-Nya dimulai.

Secara manusiawi, kita terbiasa berpikir bahwa pengakuan datang setelah pencapaian. Kita dipuji karena ada hasil, dihargai karena prestasi, dan dianggap berhasil setelah menyelesaikan tugas. Namun dalam peristiwa ini, Bapa di surga justru menyatakan perkenanan-Nya kepada Yesus sebelum semua karya keselamatan itu terjadi. Mengapa demikian?

Jawabannya terdapat pada sikap hati Yesus. Dalam Matius 3:15, Yesus berkata kepada Yohanes Pembaptis, “Biarlah hal itu terjadi, karena demikianlah sepatutnya kita menggenapkan seluruh kehendak Allah.” Kalimat inilah yang menunjukkan sesuatu yang sangat dalam: Yesus tidak datang untuk menonjolkan diri, melainkan untuk taat sepenuhnya melakukan kehendak Bapa. Padahal, Yohanes sendiri merasa tidak layak untuk membaptis Yesus. Namun Yesus tetap datang, merendahkan diri-Nya sebagai manusia yang taat. Di sinilah letak kerendahan hati yang sejati: kesediaan untuk tunduk kepada kehendak Allah, bahkan ketika merasa tidak memerlukannya.

Perkenanan Allah tidak semata-mata didasarkan pada apa yang kita kerjakan, tetapi pada bagaimana kita merespons kehendak-Nya. Yesus mendapatkan perkenanan di hadapan Bapa karena Ia hidup dalam ketaatan total (unconditional submission). Ia menghormati Bapa bukan hanya dengan kata-kata, tetapi dengan tindakan nyata: datang, merendahkan diri, dan taat.

Seperti yang tertulis dalam Filipi 2:8, “Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.” Ketaatan Yesus bukan ketaatan yang setengah-setengah, melainkan ketaatan yang total, dimulai bahkan sejak awal pelayanan-Nya.
Sering kali dalam hidup, kita merasa perlu “membuktikan diri” terlebih dahulu agar layak diterima atau dikasihi. Kita berpikir bahwa Tuhan akan berkenan jika kita sudah cukup melayani, cukup memberi, atau cukup berhasil. Padahal, melalui rangkaian peristiwa baptisan ini, kita dapat belajar bahwa perkenanan Allah dimulai dari relasi dan ketaatan, bukan sekadar hasil. Tuhan melihat hati yang mau tunduk. Ketaatan kecil yang dilakukan dengan hati yang benar jauh lebih berharga daripada pencapaian besar tanpa penyerahan diri.

Yesus memberikan teladan bahwa hidup yang berkenan kepada Allah adalah hidup yang siap berkata, “Biarlah hal itu terjadi,” sekalipun jalan itu adalah jalan kerendahan hati. Mungkin Tuhan tidak sedang meminta kita untuk melakukan hal yang besar. Mungkin hanya ketaatan sederhana: mengampuni, setia dalam tanggung jawab kecil, atau tetap hidup benar di tengah tekanan. Jangan remehkan itu. Justru di sanalah hati kita diuji.

Ingatlah, perkenanan Allah tidak menunggu kita selesai berkarya. Perkenanan itu hadir ketika kita memilih untuk taat. Karena pada akhirnya, bukan seberapa besar yang kita lakukan yang Tuhan cari, tetapi seberapa dalam kita mengasihi dan menaati-Nya.

Tuhan Yesus memberkati

BUKAN SEBERAPA BESAR YANG KITA LAKUKAN YANG TUHAN CARI, TETAPI SEBERAPA DALAM KITA MENGASIHI DAN MENAATI-NYA.

Card image
KIDS DAILY DEVOTIONAL 15 Mei 2026 - HIKMAT YANG MEMBAWA DAMAI
2026-05-16 18:56:50


Yakobus 3:17
“Hikmat yang dari atas adalah pertama-tama murni, kemudian pendamai, peramah, penurut, penuh belas kasihan dan buah-buah yang baik, tidak memihak dan tidak munafik.”

Rehobot Kids, tahukah kamu bahwa hikmat dari Tuhan itu berbeda dengan cara berpikir dunia? Hikmat dari Tuhan itu murni, penuh kasih, lembut, dan membawa damai.

Saat kita memiliki hikmat dari Tuhan, kita tidak mudah marah, tidak suka menyakiti orang lain, dan mau mengampuni. Kita belajar bersikap lembut, sabar, dan peduli kepada teman.

Hikmat Tuhan membuat hidup kita menjadi berkat. Orang lain bisa merasakan kasih dan damai lewat sikap dan perkataan kita.

Yuk, Rehobot Kids, kita minta hikmat dari Tuhan setiap hari, supaya hidup kita membawa sukacita dan damai bagi orang di sekitar kita.

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 15 Mei 2026 (English Version) - HEALTHY BOUNDARIES
2026-05-16 18:55:18


Nehemiah 6:3
“I am carrying on a great project, and cannot go down…”

Sometimes we feel like we have to be available for everyone all the time. We’re afraid of being labeled as uncaring, unreliable, or uncool. Eventually, we say “yes” to so many things, but secretly we’re exhausted. God actually wants us to learn one important thing: to set healthy boundaries so our lives stay on track.

Nehemiah sets a clear example. While he was rebuilding the walls of Jerusalem, many distractions came his way—invitations, interruptions, even traps. But Nehemiah knew his priorities. He dared to say, “I cannot.” Not because he was arrogant, but because he understood that what God had entrusted to him was important.

As young people, our distractions might be different: hanging out constantly, scrolling through social media endlessly, or being so busy we forget to spend time with God. Without boundaries, we easily lose focus and energy. But with healthy boundaries, we can choose what builds us up and what needs to be rejected.

Boundaries don’t distance us from others; they actually keep relationships healthy. When we know when to stop, when to focus, and when to say “no,” we’re honoring the life God has entrusted to us.

WHAT TO DO?
• Be brave enough to say “no” when something interferes with your priorities.
• Set aside time for God, rest, and things that build you up.
• Keep your focus on the purpose God has given you in life.

BIBLE MARATHON:
Galatians 2

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 15 Mei 2026 - HEALTHY BOUNDARIES
2026-05-16 18:52:41


Nehemia 6:3
“Aku sedang melakukan pekerjaan besar, sehingga aku tidak dapat turun…”

Kadang kita ngerasa harus selalu available buat semua orang. Takut dibilang nggak peduli, nggak solid, atau kurang asik. Akhirnya kita bilang “iya” ke banyak hal, tapi diam-diam capek sendiri. Tuhan sebenarnya mau kita belajar satu hal penting: bikin batas yang sehat supaya hidup tetap terarah.

Nehemia kasih contoh yang jelas. Saat dia lagi bangun tembok Yerusalem, banyak distraksi datang—ajakan, gangguan, bahkan jebakan. Tapi Nehemia tahu prioritasnya. Dia berani bilang, “aku tidak bisa.” Bukan karena dia sombong, tapi karena dia ngerti apa yang Tuhan percayakan kepadanya itu penting.

Sebagai anak muda, distraksi kita mungkin beda: nongkrong terus, scroll medsos tanpa batas, atau terlalu sibuk sampai lupa waktu sama Tuhan. Tanpa batasan, kita gampang kehilangan fokus dan energi. Tapi dengan batas yang sehat, kita bisa pilih mana yang membangun dan mana yang harus ditolak.

Batasan bukan bikin kita jauh dari orang lain, tapi justru menjaga relasi tetap sehat. Saat kita tahu kapan harus berhenti, kapan harus fokus, dan kapan harus bilang “tidak,” kita sedang menghargai hidup yang Tuhan percayakan.

WHAT TO DO?
• Berani bilang “tidak” saat sesuatu mengganggu prioritasmu.
• Tentukan waktu untuk Tuhan, istirahat, dan hal yang membangun.
• Jaga fokus pada tujuan yang Tuhan kasih dalam hidupmu.

BIBLE MARATHON:
Galatia 2

Card image
Renungan Pagi - 15 Mei 2026
2026-05-16 18:47:41


Setiap kita bisa saja menghadapi situasi yang terjepit, bisa dalam usaha, dalam karier, dalam keluarga dan dalam segala hal, orang bilang dengan istilah "maju kena mundur kena".

Firmannya mengatakan bahwa Tuhan turut bekerja dalam segala perkara untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi-Nya, ini artinya pemeliharaan Tuhan sempurna adanya bagi kita orang percaya.

Card image
Quote Of The Day - 15 Mei 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-05-16 18:46:44


Kalau Ia bisa melewati pencobaan dan menang, maka Ia bisa menolong orang percaya yang bermaksud mengikuti jejak-Nya yang harus melewati pencobaan yang Tuhan Yesus juga alami.

Card image
Mutiara Suara Kebenaran - 15 Mei 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-05-16 18:45:16


Tuhan tidak selalu memanggil kita ke jalan yang mudah, tetapi Ia selalu memanggil kita untuk setia.

Card image
OBEDIENT EVEN WHEN UNCOMFORTABLE - 15 Mei 2026 (English Version)
2026-05-15 22:58:10


Matthew 3:11
“…and I am not worthy to untie his sandals…”

In the account of Jesus’ baptism, we often focus only on Jesus as the obedient Son of God. But another figure also gives an extraordinary example: John the Baptist. John was a bold, uncompromising prophet who lived in truth. Yet when he faced Jesus, he displayed deep humility—a very valuable model for us.

John truly recognized who Jesus was. He even said he was not worthy to untie Jesus’ sandals, an expression showing how lowly he regarded himself before the Lord. So, when Jesus came to be baptized, John struggled. Logically and emotionally, it felt improper—”How could the holy One be baptized by someone lower than Him?”

Here’s an important lesson. When Jesus said, “Let it be so now; it is proper for us to do this to fulfil all righteousness” (Matt. 3:15), John faced a choice: follow his feelings or submit to God’s will. John chose obedience.

John’s obedience was not easy. He set aside his unworthiness and his own understanding, choosing to trust that God’s will is higher than logic. John was willing to do something uncomfortable to fulfil God’s plan.

Often, we face similar situations. God asks us to do things that conflict with our feelings and make us uncomfortable—e.g., to forgive someone who hurt us, to remain faithful in hardship, or to serve where we don’t want to. In such moments, we face the same choice: obey God or cling to comfort.

True obedience often grows in discomfort. Proverbs 3:5 says, “Trust in the LORD with all your heart and do not lean on your own understanding.” John the Baptist showed this. He did not trust his own sense but believed God’s will was best, even when he did not understand.

Sometimes we feel “unworthy” or “unsuited” for what God entrusts to us. John felt the same. Yet obedience does not always wait until we feel ready or worthy. Obedience is the willingness to say “yes” to God even while the heart wrestles. It is often through such obedience that God reveals His work. John’s act of baptizing Jesus led to a profound divine event: the heavens opened, the Spirit descended like a dove, and the Father’s voice was heard. It all began with one obedient act.

This reflection centres on a clear lesson: true obedience matters most not when it is easy, but when it costs us something or leads us to what we don’t understand. God does not always call us to comfort, but always to faithfulness and trust. The place of real obedience is where God’s will revealed, and His plan unfolds.

Let us learn from John the Baptist. Put aside doubts, let go of feelings of unworthiness, and trust God. Often, behind the discomfort of obedience, a far greater plan of God is being fulfilled.

The Lord Jesus bless you

BEHIND THE DISCOMFORT OF OBEDIENCE, A FAR GREATER PLAN OF GOD IS BEING FULFILLED.

Card image
TAAT MESKI TIDAK NYAMAN - 15 Mei 2026
2026-05-15 19:34:43


Matius 3:11
“…dan aku tidak layak melepaskan kasut-Nya….”

Dalam kisah pembaptisan Yesus, sering kali kita hanya berfokus pada pribadi Yesus sebagai Anak Allah yang taat. Namun, ada satu tokoh lain yang juga menunjukkan teladan luar biasa, yaitu Yohanes Pembaptis. Yohanes Pembaptis adalah seorang nabi yang tegas, berani, dan hidup dalam kebenaran. Tetapi ketika berhadapan dengan Yesus, Yohanes Pembaptis justru menunjukkan kerendahan hati yang begitu dalam; dan sikap seperti ini merupakan teladan yang sangat berharga.

Yohanes Pembaptis benar-benar menyadari siapa Yesus itu. Bahkan Yohanes juga berkata bahwa dirinya tidak layak untuk membuka tali kasut-Nya, suatu ungkapan yang menunjukkan betapa rendahnya ia menempatkan diri di hadapan Yesus. Maka, ketika Yesus datang untuk dibaptis, Yohanes mengalami pergumulan yang nyata. Secara logika dan perasaan, hal itu terasa tidak pantas. Mungkin dalam pemikiran Yohanes, “Bagaimana mungkin yang kudus dibaptis oleh yang lebih rendah?”

Namun, di sinilah letak pelajaran penting bagi kita. Ketika Yesus berkata, “Biarlah hal itu terjadi, karena demikianlah sepatutnya kita menggenapkan seluruh kehendak Allah” (Mat. 3:15), Yohanes dihadapkan pada pilihan: mengikuti perasaannya sendiri atau tunduk pada kehendak Allah. Dan Yohanes memilih untuk taat. Ketaatan Yohanes bukanlah ketaatan yang mudah. Ia harus mengesampingkan rasa tidak layak, menyingkirkan pemahamannya sendiri, dan mempercayai bahwa kehendak Allah jauh lebih tinggi daripada logika manusia. Ia rela melakukan sesuatu yang membuatnya tidak nyaman demi menggenapkan rencana Allah.

Sering kali dalam hidup, kita pun dihadapkan pada situasi yang serupa. Tuhan meminta kita melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan perasaan kita dan membuat kita merasa tidak nyaman. Contohnya, kita diminta untuk mengampuni orang yang menyakiti kita, tetap setia dalam keadaan yang sulit, atau melayani di tempat yang tidak kita inginkan, dan sebagainya. Dalam momen-momen seperti itu, kita dihadapkan pada pilihan yang sama, yaitu taat pada perintah Allah atau mengikuti kenyamanan diri.

Ketaatan sejati sering kali lahir justru di tengah ketidaknyamanan. Amsal 3:5 mengingatkan kita, “Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri.” Yohanes Pembaptis memberikan contoh yang nyata dari ayat ini. Ia tidak bersandar pada pengertiannya sendiri, tetapi memilih percaya bahwa apa yang Allah kehendaki adalah yang terbaik, sekalipun ia tidak sepenuhnya memahaminya.

Ada kalanya kita merasa “tidak layak” atau “tidak pantas” untuk melakukan sesuatu yang Tuhan percayakan. Yohanes juga merasakan hal yang sama. Namun, ketaatan tidak selalu menunggu kita merasa siap atau layak. Ketaatan adalah tentang kesediaan untuk berkata “ya” kepada Tuhan, bahkan ketika hati kita masih bergumul. Justru dalam ketaatan seperti itulah Tuhan menyatakan karya-Nya. Melalui tindakan Yohanes membaptis Yesus, terjadi peristiwa ilahi yang luar biasa: langit terbuka, Roh Allah turun seperti burung merpati, dan suara Bapa terdengar dari surga. Semua itu dimulai dari satu tindakan ketaatan.

Renungan ini mengajak kita untuk melihat kembali kehidupan kita. Apakah kita hanya taat ketika situasi terasa nyaman? Atau kita tetap taat ketika Tuhan memimpin kita ke dalam hal-hal yang tidak kita mengerti? Tuhan tidak selalu memanggil kita ke jalan yang mudah, tetapi Ia selalu memanggil kita untuk setia. Ketaatan mungkin terasa berat, tetapi di sanalah kehendak Allah dinyatakan.

Mari kita belajar dari Yohanes Pembaptis. Kesampingkan keraguan, lepaskan rasa tidak layak, dan percayalah kepada Tuhan. Karena sering kali, di balik ketidaknyamanan ketaatan, ada rencana Allah yang jauh lebih besar sedang digenapi.

Tuhan Yesus memberkati

DI BALIK KETIDAKNYAMANAN KETAATAN, ADA RENCANA ALLAH YANG JAUH LEBIH BESAR SEDANG DIGENAPI.

Card image
KIDS DAILY DEVOTIONAL 14 Mei 2026 - HATI YANG TAAT
2026-05-15 13:05:40


Amsal 10:8
“Orang berhikmat mau menerima perintah.”

Hi, Rehobot Kids!
Kalau kamu mendengarkan nasihat dari orang tua atau guru, apa yang biasanya terjadi? Pernahkah kamu diminta melakukan sesuatu oleh Mama, Papa, atau guru? Misalnya merapikan mainan, mengerjakan tugas, atau membantu di rumah. Kadang kita ingin melakukan hal lain yang lebih kita suka. Tetapi firman Tuhan berkata bahwa orang yang berhikmat adalah orang yang mau menerima perintah dan belajar taat.

Bayangkan seorang anak yang sedang belajar naik sepeda. Papanya berkata, “Pegang setang dengan kuat dan jangan lihat ke bawah.” Jika anak itu mendengarkan, ia bisa belajar dengan baik dan tidak mudah jatuh. Tetapi jika ia tidak mau mendengar, ia bisa kehilangan keseimbangan dan terjatuh. Begitu juga dalam hidup kita. Tuhan sering menolong kita lewat nasihat orang tua, guru, atau firman Tuhan. Saat kita mau mendengarkan dan taat, hidup kita menjadi lebih aman, damai, dan penuh hikmat.

Rehobot Kids, mari belajar memiliki hati yang mau taat. Jika Mama, Papa, atau guru memberi perintah yang baik, kita mau melakukannya dengan sukacita. Sebelum memulai hari, kita juga bisa berdoa: “Tuhan, ajari aku untuk mendengarkan dan taat kepada-Mu.”

Dengan begitu, kita sedang melatih hati yang bijaksana dan hidup dalam damai bersama Tuhan.

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 14 Mei 2026 (English Version) - STRONG RELATIONSHIPS NEED HEALTHY BOUNDARIES
2026-05-15 13:04:00


1 Corinthians 15:33
“…Bad company corrupts good character.”

Sometimes we feel like we have to hold onto every relationship. We’re afraid of losing them, afraid of being seen as bad, or afraid of being alone. In the end, we stay in relationships that are slowly draining us and pulling us away from God.

Paul reminds us that the company we keep shapes us. What we hear, see, and allow into our lives will eventually become part of who we are. So it’s not just about who we spend time with, but who is shaping us.

A strong relationship isn’t one without boundaries, but one that knows its limits. Without boundaries, we can become exhausted, lose our way, and even adopt habits we know are wrong. But with boundaries, we keep our hearts healthy and our faith strong.

Setting boundaries doesn’t mean we don’t love. Sometimes it’s actually the most mature form of love—because we know what needs to be protected. God doesn’t ask us to please everyone, but to live in truth.

Healthy relationships build each other up, not pull each other down. And when we dare to set healthy boundaries, we’re building relationships that are stronger, more honest, and long-lasting.

WHAT TO DO?
• Evaluate your relationships—are they having a positive influence or the opposite?
• Learn to set boundaries in relationships that are starting to have a negative impact.
• Choose environments and company that build up your life.

BIBLE MARATHON:
Galatians 1

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 14 Mei 2026 - RELASI KUAT BUTUH BATASAN SEHAT
2026-05-14 23:06:09


1 Korintus 15:33
“…Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik.”

Kadang kita ngerasa semua relasi harus dipertahankan. Takut kehilangan, takut dianggap jahat, atau takut sendirian. Akhirnya kita tetap bertahan di hubungan yang sebenarnya pelan-pelan menguras dan menjauhkan kita dari Tuhan.

Paulus mengingatkan bahwa pergaulan itu membentuk. Apa yang kita dengar, lihat, dan izinkan terus masuk ke hidup kita, lama-lama akan jadi bagian dari diri kita. Jadi bukan cuma soal siapa yang kita temani, tapi siapa yang membentuk kita.

Relasi yang kuat bukan relasi tanpa batas, tapi relasi yang tahu batas. Tanpa batasan, kita bisa kelelahan, kehilangan arah, bahkan ikut kebiasaan yang kita tahu sebenarnya salah. Tapi dengan batasan, kita menjaga hati tetap sehat dan iman tetap kuat.

Menjaga jarak bukan berarti nggak mengasihi. Kadang itu justru bentuk kasih yang paling dewasa—karena kita tahu apa yang perlu dijaga. Tuhan nggak minta kita menyenangkan semua orang, tapi hidup dalam kebenaran.

Relasi yang sehat itu saling membangun, bukan saling menarik turun. Dan saat kita berani bikin batas yang sehat, kita sedang membangun hubungan yang lebih kuat, jujur, dan bertahan lama.

WHAT TO DO?
• Evaluasi relasimu—apakah membawa pengaruh yang baik atau sebaliknya?
• Belajar menetapkan batasan dalam hubungan yang mulai berdampak negatif.
• Pilih lingkungan dan pergaulan yang membangun hidupmu.

BIBLE MARATHON:
Galatia 1

Card image
Renungan Pagi - 14 Mei 2026
2026-05-14 23:03:21


Dengan kenaikan Tuhan Yesus ke sorga ada jaminan keselamatan dan hidup kekal bagi setiap orang yang percaya kepada-Nya,  artinya sorga bukan sekedar impian, angan-angan atau pengharapan kosong, melainkan sesuatu yang pasti, karena Tuhan telah menyediakannya bagi kita; sebab DIA mau di mana DIA berada di situ pula kita akan berada. Dunia ini adalah tempat persinggahan sementara, bukan tempat tinggal secara permanen, rumah atau tempat tinggal kita yang sesungguhnya adalah sorga, "Karena kewargaan kita adalah di dalam sorga". Keselamatan dan hidup kekal menjadi sebuah jaminan yang pasti, sebab Tuhan Yesus telah membuka jalan tersebut melalui pengorbanan-Nya, kematian-Nya, kebangkitan-Nya dan juga kenaikan-Nya ke sorga sebagai bukti kemenangan-Nya.

Card image
Quote Of The Day - 14 Mei 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-05-14 23:01:48


Menghidupkan Allah dalam hidup kita, itu kompleks. Harganya seluruh hidup kita.

Card image
Mutiara Suara Kebenaran - 14 Mei 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-05-14 23:00:51


Hidup baru bukan tentang kesempurnaan instan, tetapi tentang proses yang terus diperbarui melalui pertobatan.

Card image
SIGNS THAT REMIND - 14 Mei 2026 (English Version)
2026-05-14 22:54:55


Matthew 3:11
“I baptize you with water as a sign of repentance…”

John the Baptist’s statement carries deep meaning—it is more than a ritual. Water baptism is not simply a religious tradition or empty symbol. It declares that someone has chosen to turn from sin and direct their life to face God.

Often, we view water baptism as an endpoint—as if, after being baptized, our lives become flawless and always right. In reality, after baptism, life may seem unchanged; we might still speak harshly, sin, and keep bad habits. Water baptism is not the finish line, but the starting line—the first step on the long journey of spiritual growth.

In Romans 6:4, Paul explains: “We were therefore buried with him through baptism into death so that, just as Christ was raised from the dead through the glory of the Father, we too may live a new life.” This new life does not mean we will never fall into sin again, but it signals a new direction. We are no longer comfortable living in sin because we are aware that our lives have been surrendered to Christ.

Here, the meaning of baptism as a “reminder” becomes very important. Whenever we are tempted to return to old habits or the sins that once bound us, we are reminded: “I have already made a decision.” “I have chosen a different path.” Baptism becomes a marker in our life’s journey—a moment that says, “I am no longer who I used to be.”

In reality, we remain weak human beings. We can still fall, still fail, and sometimes repeat the same sins. Does that mean our baptism was in vain? Certainly not. It is precisely in our weakness that we learn to rely on God’s grace. 1 John 1:9 reminds us: “If we confess our sins, he is faithful and just and will forgive us our sins and purify us from all unrighteousness.” This means the new life is not instant perfection but an ongoing process continually renewed through repentance.

Baptism teaches the seriousness of commitment. It is not a fleeting emotion, but a promise before God: a pledge to leave sin, not by our own strength, but by choosing to walk with the God who enables us. Do not let baptism become just a memory. Let it remain a gentle yet firm voice in our hearts.

Every day is an opportunity God gives us to renew that commitment. Not by being physically rebaptized, but by a heart posture that continually repents and returns to God. When we fall, we must rise quickly. When we are weak, come to Him. When tempted, remember your present position.

Water baptism does not automatically cleanse us, but it points to God’s daily sanctifying work. Baptism is a sign and reminder that our lives are no longer our own.

Let us consciously live out the decision we’ve made: not claiming perfection, but striving to be faithful and to turn daily from sin. Remember, our transformation is ongoing—each day, recommit to trusting in the God behind the sign.

The Lord Jesus bless you

BAPTISM IS A SIGN AND REMINDER THAT OUR LIVES ARE NO LONGER OUR OWN.

Card image
TANDA YANG MENGINGATKAN - 14 Mei 2026
2026-05-14 22:17:34


Mat. 3:11
“Aku membaptis kamu dengan air sebagai tanda pertobatan…”

Pernyataan Yohanes Pembaptis ini mengandung makna yang dalam, bukan hanya tentang sebuah ritual, tetapi mengenai sebuah keputusan hidup. Baptisan air bukanlah sekadar tradisi keagamaan atau simbol kosong, melainkan sebuah deklarasi hati: bahwa seseorang telah memilih untuk berbalik dari dosa dan mengarahkan hidupnya kepada Tuhan.

Sering kali, kita memandang baptisan air sebagai titik akhir—seolah-olah setelah dibaptis, hidup kita otomatis berubah menjadi sempurna, bebas dari kesalahan, dan selalu benar. Namun kenyataannya, setelah mengikuti baptisan air, hidup kita seakan tidak mengalami perubahan apa-apa; kita masih bisa berkata kasar, melakukan dosa, dan berbagai kebiasaan buruk lainnya. Hal yang harus dipahami adalah bahwa baptisan air bukanlah garis akhir, melainkan garis awal. Baptisan air adalah langkah pertama dalam perjalanan panjang pertumbuhan iman.

Dalam Roma 6:4, Paulus menjelaskan: “Dengan demikian kita telah dikuburkan bersama-sama dengan Dia oleh baptisan dalam kematian, supaya, sama seperti Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati oleh kemuliaan Bapa, demikian juga kita akan hidup dalam hidup yang baru.” Hidup baru ini bukan berarti kita tidak akan pernah jatuh ke dalam dosa lagi, tetapi menjadi tanda bahwa kita memiliki arah yang baru. Kita tidak lagi nyaman tinggal dalam dosa, karena ada kesadaran bahwa hidup kita telah diserahkan kepada Kristus.

Di sinilah makna baptisan sebagai “tanda pengingat” menjadi sangat penting. Setiap kali kita tergoda untuk kembali pada kebiasaan lama, pada dosa yang dahulu mengikat kita, kita diingatkan: “Aku sudah mengambil keputusan.” “Aku sudah memilih jalan yang berbeda.” Baptisan menjadi seperti penanda dalam perjalanan hidup kita—sebuah momen yang berkata, “Aku bukan lagi yang dulu.”

Realitanya, kita tetap manusia yang lemah. Kita masih bisa jatuh, masih bisa gagal, bahkan terkadang melakukan dosa yang sama berulang kali. Apakah itu berarti baptisan kita sia-sia? Tentu tidak. Justru di dalam kelemahan itulah kita belajar bergantung pada kasih karunia Tuhan. 1 Yohanes 1:9 mengingatkan kita: “Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.” Hal ini berarti, hidup baru bukan tentang kesempurnaan instan, tetapi tentang proses yang terus diperbarui melalui pertobatan.

Baptisan juga mengajarkan tentang keseriusan sebuah komitmen. Ini bukan keputusan emosional sesaat, melainkan sebuah janji yang kita buat di hadapan Tuhan, yaitu janji untuk meninggalkan dosa—bukan karena kita mampu dengan kekuatan sendiri, tetapi karena kita mau berjalan bersama Tuhan yang memampukan. Jangan biarkan baptisan hanya menjadi kenangan masa lalu. Biarlah itu tetap hidup sebagai suara yang lembut namun tegas di dalam hati kita.

Setiap hari adalah kesempatan yang Tuhan berikan untuk memperbarui komitmen itu. Bukan dengan cara dibaptis ulang secara fisik, tetapi dengan sikap hati yang terus bertobat dan kembali kepada Tuhan. Ketika kita jatuh, segeralah bangkit. Ketika kita lemah, datanglah kepada-Nya. Ketika kita tergoda, ingatlah posisi kita sekarang. Baptisan air memang tidak menyucikan kita secara otomatis, tetapi menunjuk kepada karya Tuhan yang menyucikan kita setiap hari. Baptisan air adalah tanda, dan juga pengingat—bahwa hidup kita bukan lagi milik kita sendiri.

Mari kita hidup sebagai orang-orang yang telah mengambil keputusan itu. Bukan sempurna, tetapi setia. Bukan tanpa dosa, tetapi terus meninggalkan dosa. Karena pada akhirnya, bukan tanda itu yang menyelamatkan kita, melainkan Tuhan yang kita imani di balik tanda itu.

Tuhan Yesus memberkati

BAPTISAN AIR ADALAH TANDA DAN JUGA PENGINGAT BAHWA HIDUP KITA BUKAN LAGI MILIK KITA SENDIRI.

Card image
KIDS DAILY DEVOTIONAL 13 Mei 2026 - SERAHKAN RENCANA
2026-05-14 22:06:50


Amsal 16:3
“Serahkanlah perbuatanmu kepada TUHAN, maka terlaksanalah segala rencanamu.”

Hi, Rehobot Kids!
Kalau kamu punya rencana hari ini, apakah kamu sudah meminta Tuhan menolongmu?

Kadang kita punya banyak rencana. Misalnya ingin belajar dengan baik, bermain dengan teman, atau membantu Mama dan Papa di rumah. Kita berharap semuanya berjalan sesuai keinginan kita. Tetapi tidak selalu semua rencana berjalan seperti yang kita bayangkan. Karena itu, firman Tuhan mengingatkan kita untuk menyerahkan setiap rencana kepada Tuhan.

Bayangkan kamu sedang membuat layang-layang. Kamu sudah punya kertas, bambu, dan benang. Tetapi kalau kamu tidak mengikuti cara yang benar, layang-layang itu bisa rusak dan tidak bisa terbang. Begitu juga dengan hidup kita. Kita membutuhkan “petunjuk” dari Tuhan supaya langkah kita berjalan dengan baik.

Hikmat Tuhan seperti panduan yang menolong kita mengambil keputusan yang benar. Saat kita berdoa dan menyerahkan rencana kita kepada Tuhan, Dia akan menuntun kita supaya melakukan hal yang baik dan benar.

Rehobot Kids, mari belajar melibatkan Tuhan dalam setiap rencana kita. Sebelum belajar, bermain, atau melakukan apa pun, kita bisa berdoa, “Tuhan, aku serahkan rencanaku kepada-Mu. Tolong tuntun aku melakukan yang baik hari ini.”

Dengan begitu, kita sedang belajar hidup dengan hikmat Tuhan setiap hari.

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 13 Mei 2026 (English Version) - DON'T LOSE YOURSELF IN LOVE
2026-05-14 22:04:18


Romans 12:2
“Do not conform to the pattern of this world, but be transformed by the renewing of your mind…”

Rehobot Youth, in our relationships we often unconsciously start to change for the sake of others. We start thinking like everyone else, our principles become lax, and even our identity slowly fades away just so we can be accepted. At first it looks like “sacrificing for love,” but over time we end up losing ourselves.

God never asks you to lose your identity for the sake of a relationship. On the contrary, He wants you to stand firm in who you are in Him. Your identity isn’t defined by your partner, friends, or relationship status—but by the God who created you.

A healthy relationship doesn’t erase your true self, but honors it. If a relationship forces you to constantly compromise on principles, faith, or life values, that’s a sign you need to stop and evaluate. True love supports your growth, not obscures it.

Establishing identity boundaries means you know who you are, what you believe, and you won’t waver easily just to keep someone. That’s not selfish—it’s a form of spiritual maturity.

WHAT TO DO?
• Get to know your identity in God before entering a relationship.
• Don’t compromise your principles just to be accepted.
• Choose relationships that support the growth of your faith.

BIBLE MARATHON:
2 Corinthians 13

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 13 Mei 2026 - DON'T LOSE YOURSELF IN LOVE
2026-05-14 21:31:18


Roma 12:2
“Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu…”

Rehobot Youth, dalam hubungan kita sering tanpa sadar mulai berubah demi orang lain. Cara berpikir ikut-ikutan, prinsip mulai longgar, bahkan identitas kita pelan-pelan hilang hanya supaya tetap diterima. Awalnya kelihatan seperti “berkorban demi cinta,” tapi lama-lama kita jadi kehilangan diri sendiri.

Tuhan nggak pernah minta kamu menghilangkan identitasmu demi hubungan. Justru sebaliknya, Dia mau kamu berdiri kuat dalam siapa kamu di dalam Dia. Identitasmu bukan ditentukan oleh pasangan, teman, atau status hubunganmu—tapi oleh Tuhan yang menciptakanmu.

Relasi yang sehat tidak menghapus jati diri, tapi menghormatinya. Kalau sebuah hubungan membuatmu harus terus mengalah dalam hal prinsip, iman, atau nilai hidup, itu tanda kamu perlu berhenti dan evaluasi. Cinta yang benar akan mendukung pertumbuhanmu, bukan mengaburkannya.

Menetapkan batas identitas berarti kamu tahu siapa dirimu, apa yang kamu percaya, dan tidak mudah goyah hanya karena ingin mempertahankan seseorang. Itu bukan egois, tapi bentuk kedewasaan rohani.

WHAT TO DO?
• Kenali identitasmu di dalam Tuhan sebelum masuk relasi.
• Jangan kompromikan prinsip hanya demi diterima.
• Pilih hubungan yang mendukung pertumbuhan imanmu.

BIBLE MARATHON:
2 Korintus 13

Card image
Quote Of The Day - 13 Mei 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-05-14 21:26:35


Banyak orang sebenarnya yang tidak benci dosa, mereka hanya takut masuk neraka, padahal pertobatan yang benar itu benci dosa dan berhenti berbuat dosa.

Card image
Mutiara Suara Kebenaran - 13 Mei 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-05-14 21:25:19


Jangan menunggu ada saat di mana kita bisa menyenangkan Tuhan. Saat itu jangan kita tunggu, saat itu kita yang ciptakan.

Card image
FRUITS THAT PROVE REPENTANCE - 13 Mei 2026 (English Version)
2026-05-14 13:56:29


Matt. 3:8
“Therefore, produce fruit in keeping with repentance.”

Many strive to appear spiritual but avoid true repentance. John the Baptist confronted this in the Pharisees and Sadducees who sought baptism. He exposed the heart of the matter: “Produce fruit (karpon—καρπὸν) in keeping with repentance.” John insisted that spiritual rituals mean nothing without genuine inward change.

Repentance is not merely confessing sin. It is not simply feeling sorrow for wrongdoing. In Greek, metanoia (μετάνοια) speaks of a radical change of mind or a reversal of life’s direction: from loving sin to hating it; from living in darkness to turning to the light.

John emphasizes that true repentance must produce visible fruit—change shown in attitudes, choices, and actions. People often claim, “I’m sorry,” or “I will change,” but if the same patterns and sins persist, repentance is not genuine.

Why? Because God is holy and unchanging. He cannot compromise with even the smallest sin. So, the only way is for people to change—not merely outwardly, but deep within the heart and habits.

The fruit of repentance is real. It shows in growing honesty, a more orderly life, a heart increasingly opposed to sin, and a willingness to be a blessing to others. This fruit is not manufactured but springs from a truly renewed heart.

Christians must realize that not every feeling of guilt leads to change. One may cry over sin yet return to it the next day. One may promise God but never truly leave sin. That is why confession and sorrow alone are insufficient.

True repentance demands concrete decisions: to stop known evil and to learn to do good. The process may not be instantaneous, but the direction is clear—toward a life increasingly aligned with God’s will.

Take a moment to honestly examine yourself and ask, “Has my repentance truly resulted in changed actions and attitudes, or is it only words?” Do not settle for the feeling that you have repented. Instead, intentionally look for real evidence of changed behaviour. Genuine repentance goes beyond words—let your life display it clearly through lasting change.

The Lord Jesus bless you

GENUINE REPENTANCE GOES BEYOND WORDS, LET YOUR LIFE DISPLAY IT CLEARLY THROUGH LASTING CHANGE.

Card image
BUAH YANG MEMBUKTIKAN PERTOBATAN - 13 Mei 2026
2026-05-14 13:54:53


Matius 3:8
“Jadi hasilkanlah buah yang sesuai dengan pertobatan”

Ada banyak orang yang ingin terlihat rohani, tetapi tidak sungguh-sungguh mau mengalami pertobatan. Inilah kondisi yang dihadapi oleh Yohanes Pembaptis pada waktu itu, ketika ia berbicara kepada orang-orang Farisi dan Saduki yang datang untuk dibaptis. Mereka datang untuk dibaptis, tetapi Yohanes tidak terkesan dengan tindakan lahiriah itu. Yohanes, dalam Injil Matius 3:8, dengan tegas mengatakan, “Jadi hasilkanlah buah yang sesuai dengan pertobatan.”

Pertobatan bukan hanya sekadar pengakuan dosa. Bukan juga hanya sebuah perasaan sedih karena telah berbuat salah. Dalam bahasa Yunani, kata metanoia (μετάνοια) berbicara tentang perubahan pikiran yang radikal atau sebuah pembalikan arah hidup: dari yang semula mencintai dosa, kemudian berubah menjadi membencinya; dari yang sebelumnya hidup dalam kegelapan, berbalik kepada terang.

Namun Yohanes melangkah lebih jauh. Yohanes Pembaptis menekankan bahwa pertobatan sejati harus menghasilkan “buah” (karpon—καρπὸν). Artinya, perubahan itu harus terlihat nyata dalam kehidupan sehari-hari—bukan hanya dalam kata-kata, tetapi dalam sikap, keputusan, dan tindakan. Pada umumnya, manusia sudah merasa cukup dengan berkata, “Saya menyesal,” atau “Saya mau berubah.” Tetapi kenyataannya, hidup tidak berubah. Pola lama masih dipelihara. Dosa yang sama terus diulang. Jika demikian, maka hal tersebut bukanlah sebuah pertobatan yang sejati. Mengapa? Karena Allah itu kudus dan tidak berubah. Allah tidak bisa berkompromi dengan dosa sekecil apa pun. Maka satu-satunya jalan adalah manusia yang harus berubah—bukan sekadar di permukaan, tetapi sampai ke dalam hati dan pola hidup.

Buah pertobatan itu nyata. Ia terlihat dalam kejujuran yang mulai dijaga, dalam hidup yang lebih tertib, dalam hati yang semakin membenci dosa, dan dalam kerelaan untuk menjadi berkat bagi orang lain. Buah ini tidak dibuat-buat, tetapi lahir dari hati yang sungguh diperbarui. Hal penting yang perlu disadari oleh orang Kristen adalah bahwa tidak semua perasaan bersalah menghasilkan perubahan. Seseorang bisa saja menangis karena dosanya, tetapi keesokan harinya tetap kembali melakukannya. Seseorang bisa berjanji kepada Tuhan, tetapi tidak pernah sungguh-sungguh meninggalkan dosa tersebut. Itulah sebabnya, pengakuan dan penyesalan saja tidak cukup.

Pertobatan sejati menuntut keputusan yang nyata, yaitu berhenti dari kejahatan yang diketahui dan belajar melakukan yang baik. Mungkin prosesnya tidak instan, tetapi arahnya jelas, yaitu menuju hidup yang semakin serupa dengan kehendak Allah.

Sekarang, mari kita bercermin pada diri sendiri dan bertanya, “Apakah pertobatan kita hanya berhenti pada kata-kata, ataukah sudah menghasilkan buah?” Jangan puas hanya dengan merasa “sudah bertobat.” Karena pada akhirnya, pertobatan yang sejati tidak perlu diumumkan dengan suara keras, tetapi akan terlihat dengan jelas melalui buahnya.

Tuhan Yesus memberkati

PERTOBATAN YANG SEJATI TIDAK PERLU DIUMUMKAN DENGAN SUARA KERAS, TETAPI AKAN TERLIHAT DENGAN JELAS MELALUI BUAHNYA.

Card image
KIDS DAILY DEVOTIONAL 12 Mei 2026 - BERANI PILIH YANG BENAR
2026-05-14 11:46:59


Mazmur 119:105
“Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku.”

Suatu hari, Rina sedang ulangan di kelas. Ia melihat temannya menyontek dan mengajaknya ikut supaya nilainya bagus. Rina pun merasa bingung dan takut.

Rehobot Kids, kita juga kadang merasa seperti itu. Saat harus memilih yang benar atau salah, rasanya seperti berjalan di tempat gelap dan tidak tahu arah.

Namun Rina ingat firman Tuhan yang mengajarkan untuk jujur. Ia memilih mengerjakan sendiri walaupun sulit. Setelah selesai, hatinya terasa tenang dan senang karena sudah melakukan yang benar.

Dari cerita ini kita belajar bahwa firman Tuhan adalah terang yang menuntun langkah kita. Yuk, setiap hari kita belajar mendengarkan firman Tuhan, supaya kita berani memilih yang benar dan hidup menyenangkan hati Tuhan.

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 12 Mei 2026 (English Version) - FORGIVING LIKE CHRIST
2026-05-14 11:44:41


Ephesians 4:32
“Be kind to one another, tenderhearted, forgiving one another, just as God in Christ forgave you.”

We often imagine forgiveness as a one-time decision. But in real life, forgiving is often a choice we must make repeatedly. Wounds can resurface, and feelings don’t always heal immediately.

God’s Word teaches that forgiveness is not just a feeling, but a way of life. To forgive means choosing not to hold onto bitterness, even while our hearts are still being healed by God.

God has already forgiven us through Christ, not because we deserve it, but because of His love. From this, we learn to forgive others—not by our own strength, but with God’s help.

Forgiving means choosing love over anger. Though it is not easy, as we continually surrender our wounds to God, our hearts are gradually healed and filled with peace.

WHAT TO DO?
• Accept that forgiveness can be a process, not a one-time decision.
• When old wounds resurface, bring those feelings to God in prayer.
• Remember how Christ has already forgiven you.

BIBLE MARATHON:
2 Corinthians 12

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 12 Mei 2026 - MENGAMPUNI SEPERTI KRISTUS
2026-05-14 11:42:10


Efesus 4:32
“Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu.”

Mengampuni sering kita bayangkan sebagai keputusan sekali jadi. Namun dalam kehidupan nyata, mengampuni sering kali adalah pilihan yang harus diambil berulang kali. Luka bisa muncul kembali, dan perasaan tidak selalu langsung pulih.

Firman Tuhan mengajarkan bahwa pengampunan bukan hanya perasaan, tetapi sikap hidup. Mengampuni berarti memilih untuk tidak menyimpan kepahitan, meskipun hati kita masih dalam proses disembuhkan oleh Tuhan.

Tuhan sudah lebih dulu mengampuni kita melalui Kristus, bukan karena kita layak, tetapi karena kasih-Nya. Dari situlah kita belajar untuk mengampuni orang lain—bukan dengan kekuatan sendiri, tetapi dengan pertolongan Tuhan.

Mengampuni berarti memilih kasih di atas kemarahan. Walaupun tidak mudah, saat kita terus menyerahkan luka kepada Tuhan, hati kita perlahan dipulihkan dan dipenuhi damai.

WHAT TO DO?
• Terima bahwa pengampunan bisa menjadi proses, bukan keputusan sekali jadi.
• Saat luka lama muncul kembali, bawa perasaan itu kepada Tuhan dalam doa.
• Ingat kembali bagaimana Kristus telah lebih dulu mengampuni hidupmu.

BIBLE MARATHON:
2 Korintus 12

Card image
Renungan Pagi - 12 Mei 2026
2026-05-14 11:35:09


Kadangkala kita memiliki jiwa yang terlalu kerdil, gampang tersinggung, gampang kecewa, mudah iri hati kepada orang lain. Mari belajar memiliki jiwa besar, jika ada orang lain yang lebih hebat dari kita berilah pujian dan berbanggalah untuk kehebatannya.

Jika ada orang yang lebih maju, lebih diberkati, lebih dipakai Tuhan dari kita, belajarlah untuk mengakuinya dan belajar darinya. Jangan kita berjiwa kerdil, tapi bersikaplah dengan jiwa besar dan berpikir maju.

Card image
Quote Of The Day - 12 Mei 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-05-14 11:33:05


Kita akan lebih bisa menikmati hidup kalau setiap saat kita berjalan dengan Tuhan.

Card image
Mutiara Suara Kebenaran - 12 Mei 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-05-14 11:25:49


Rasa aman palsu adalah rasa aman yang difasilitasi oleh kekuatan finansial.

Card image
SHAPED IN A HIDDEN PLACE - 12 Mei 2026 (English Version)
2026-05-13 18:54:58


In life, we often equate worth and success with visibility. The more prominent someone is, the more important they seem. As a result, many strive for roles and recognition that ensure they are seen. But God often works differently. Matthew 2:23 records that Jesus lived in Nazareth, a town far from “important.” Instead of Jerusalem—the religious center—Jesus’ family lived in a place with a poor reputation. Even in John 1:46, Nathanael responded sceptically: “Can anything good come from Nazareth?” Yet it was there that Jesus was raised. This was not a coincidence but part of how God formed His life. Jesus did not immediately appear publicly. There was no stage, no spotlight, no public recognition for years. He lived a simple, hidden, apparently ordinary life.

From this, we learn an important truth: God often shapes great lives in hidden places. Many want to be used by God visibly—to serve, make an impact, be known. But they often forget that before someone is used, they must first be formed. And that forming process almost always happens away from the spotlight.

Interestingly, Matthew emphasizes that Jesus’ residence in that small town was not merely a strategy to hide from Archelaus’ threat, but to fulfil the prophets’ words: “He will be called a Nazarene.” Literally, there is no single Old Testament verse that says this, but scholars point to the Hebrew word netzer (נֵצֶר), meaning “shoot.”

The prophet Isaiah foretold that a “shoot” would rise from Jesse’s stump (Isa. 11:1). A shoot often emerges from roots buried in dark, quiet soil. Before that shoot becomes a strong tree providing shade for many, it must grow alone beneath the surface. The status of being a “Nazarene” is not merely a geographic label but a symbol of humility. God intentionally chose an identity despised by the world to reveal His supreme authority.

Not everyone wants to endure there. Many seek results but avoid the process. Yet in hidden places, God forms what cannot be produced instantly.

There are several reasons why a “Nazareth” season is so crucial. First, purification of motives. In a place without applause, we are forced to ask ourselves, “For whom am I really doing this?” Without an audience, our motives are refined until only devotion to God remains. Second, root growth. The taller a building, the deeper its foundation must be. So, it is with character. Strength of character is built offstage—when no one is watching. Third, faithfulness in small things. Jesus spent three decades in Nazareth doing things considered “trivial”: working as a carpenter and helping His parents. He was faithful in “unimportant” before receiving “glory.”

When the prophetic word “a Nazarene” was fulfilled, it reminded us that God never errs in His placement of us. Maybe now you feel in your own “Nazareth”—a position undervalued, a job that seems trivial, or a ministry that never gets recognition. Do not be discouraged. Take a moment to pray for contentment right where you are, asking God to help you trust His timing and purposes. Look for small ways to serve faithfully today, knowing that even unseen work matters deeply to Him. As you do this, you will be shaped for what lies ahead.

Remember that being in a hidden place is not punishment but preparation. If Jesus, the King of kings, was willing to undergo His process in Nazareth for decades, shouldn’t we also be patient in His formation?

Nazareth may be a place scorned by people, but it is a place blessed by God to bring forth the world’s salvation. Remain faithful, keep growing, for when the time comes, the “shoot” grown in the hidden place will bloom and declare God’s glory to many. Our readiness in the unseen will determine the magnitude of our impact when God brings us into the seen.

The Lord Jesus bless you

GOD OFTEN SHAPES GREAT LIVES IN HIDDEN PLACES.

Card image
DIBENTUK DI TEMPAT TERSEMBUNYI - 12 Mei 2026
2026-05-12 18:32:56


Dalam kehidupan, sering kali tanpa sadar kita mengukur nilai diri dari seberapa terlihat oleh orang lain. Kita cenderung menilai keberhasilan seseorang dari popularitasnya. Semakin menjadi pusat perhatian, maka semakin merasa “penting”. Tidak heran jika banyak orang mengejar tempat, posisi, dan kesempatan yang membuat mereka “terlihat”.

Namun, cara Tuhan bekerja sering kali sangat berbeda. Matius 2:23 mencatat bahwa Yesus tinggal di sebuah kota bernama Nazaret. Kota ini jauh dari kriteria “penting”. Alih-alih memilih Yerusalem yang merupakan pusat agama, keluarga Yesus justru tinggal di kota yang bereputasi kurang baik. Bahkan dalam Yohanes 1:46, Natanael pernah merespons dengan skeptis: “Mungkinkah sesuatu yang baik datang dari Nazaret?” Justru di tempat itulah Yesus dibesarkan. Ini bukanlah sebuah kebetulan, melainkan bagian dari cara Allah membentuk kehidupan-Nya. Yesus tidak langsung tampil di muka umum. Tidak ada panggung, jauh dari sorotan dan pengakuan publik selama bertahun-tahun. Ia menjalani kehidupan yang sederhana, tersembunyi, dan tampaknya biasa saja.

Dari hal ini kita belajar satu kebenaran penting: Tuhan sering membentuk kehidupan yang besar di tempat tersembunyi. Tidak sedikit orang yang ingin dipakai Tuhan secara nyata—melayani, berdampak, dikenal. Namun sering kali mereka lupa bahwa sebelum dipakai, seseorang harus terlebih dahulu dibentuk. Dan proses pembentukan itu hampir selalu terjadi jauh dari sorotan.

Menariknya, Matius menegaskan bahwa menetapnya Yesus di kota kecil itu bukanlah sekadar strategi bersembunyi dari ancaman Arkhelaus, melainkan untuk menggenapi nubuat para nabi: “Ia akan disebut Orang Nazaret.” Secara harfiah, tidak ada satu ayat spesifik di Perjanjian Lama yang berbunyi demikian, namun para ahli tafsir merujuk pada kata Ibrani netzer (נֵצֶר) yang berarti “tunas”.

Nabi Yesaya menubuatkan seorang “tunas” akan tumbuh dari tunggul Isai (Yes. 11:1). Sebuah tunas sering kali muncul dari akar yang terpendam di dalam tanah yang gelap dan sunyi. Sebelum tunas itu menjadi pohon yang kokoh dan memberikan keteduhan bagi banyak orang, ia harus bertumbuh dalam kesendirian di bawah permukaan tanah. Status sebagai “Orang Nazaret” bukan sekadar label geografis, melainkan simbol kerendahan hati. Tuhan sengaja memilih identitas yang dianggap rendah oleh dunia untuk menyatakan otoritas-Nya yang tertinggi.

Masalahnya, tidak semua orang mau bertahan di sana. Banyak orang menginginkan hasil, tetapi menghindari proses. Padahal, justru di tempat tersembunyi Tuhan sedang membentuk sesuatu yang tidak dapat dihasilkan secara instan.

Ada beberapa alasan mengapa periode “Nazaret” begitu krusial. Pertama, pemurnian motivasi. Di tempat yang tidak ada tepuk tangan, kita dipaksa bertanya pada diri sendiri: “Untuk siapa sebenarnya aku melakukan semua ini?” Tanpa penonton, motivasi kita dimurnikan hingga hanya tersisa pengabdian kepada Tuhan. Kedua, pertumbuhan akar. Semakin tinggi sebuah bangunan, semakin dalam fondasi yang dibutuhkan. Begitu pula dengan karakter. Kekuatan karakter tidak dibangun di atas panggung, melainkan di balik layar—saat tidak ada orang yang melihat. Ketiga, ketaatan dalam perkara kecil. Yesus menghabiskan tiga dekade di Nazaret untuk hal-hal yang dianggap “remeh-temeh”: bekerja sebagai tukang kayu dan membantu orang tua-Nya. Ia setia dalam “ketidakpentingan” sebelum akhirnya menerima “kemuliaan”.

Ketika firman nubuat “Orang Nazaret” digenapi, itu adalah pengingat bagi kita bahwa Tuhan tidak pernah salah dalam menempatkan kita. Mungkin saat ini kita merasa berada di “Nazaret” versi masing-masing—sebuah posisi yang tidak dihargai, pekerjaan yang tampak sepele, atau pelayanan yang tidak pernah mendapat apresiasi. Jangan berkecil hati.

Ingatlah bahwa keberadaan kita di tempat tersembunyi itu bukanlah sebuah hukuman, melainkan sebuah persiapan. Jika Yesus, Sang Raja di atas segala raja, bersedia menjalani proses-Nya di Nazaret selama puluhan tahun, bukankah kita juga harus bersabar dalam pembentukan-Nya?

Nazaret mungkin adalah tempat yang diremehkan manusia, namun merupakan tempat yang diberkati Tuhan untuk melahirkan keselamatan dunia. Tetaplah setia, teruslah bertumbuh, sebab ketika waktunya tiba, “tunas” yang bertumbuh di tempat tersembunyi itu akan mekar dan menyatakan kemuliaan Allah bagi banyak orang. Kesiapan kita di tempat yang tidak terlihat akan menentukan seberapa besar dampak kita saat Tuhan membawa kita ke tempat yang terlihat.

Tuhan Yesus memberkati

TUHAN SERING MEMBENTUK KEHIDUPAN YANG BESAR DI TEMPAT TERSEMBUNYI.

Card image
KIDS DAILY DEVOTIONAL 12 Mei 2026 - BERANI PILIH YANG BENAR
2026-05-12 18:25:16


Mazmur 119:105
“Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku.”

Suatu hari, Rina sedang ulangan di kelas. Ia melihat temannya menyontek dan mengajaknya ikut supaya nilainya bagus. Rina pun merasa bingung dan takut.

Rehobot Kids, kita juga kadang merasa seperti itu. Saat harus memilih yang benar atau salah, rasanya seperti berjalan di tempat gelap dan tidak tahu arah.

Namun Rina ingat firman Tuhan yang mengajarkan untuk jujur. Ia memilih mengerjakan sendiri walaupun sulit. Setelah selesai, hatinya terasa tenang dan senang karena sudah melakukan yang benar.

Dari cerita ini kita belajar bahwa firman Tuhan adalah terang yang menuntun langkah kita. Yuk, setiap hari kita belajar mendengarkan firman Tuhan, supaya kita berani memilih yang benar dan hidup menyenangkan hati Tuhan.

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 12 Mei 2026 (English Version) - FORGIVING LIKE CHRIST
2026-05-12 18:23:44


Ephesians 4:32
“Be kind to one another, tenderhearted, forgiving one another, just as God in Christ forgave you.”

We often imagine forgiveness as a one-time decision. But in real life, forgiving is often a choice we must make repeatedly. Wounds can resurface, and feelings don’t always heal immediately.

God’s Word teaches that forgiveness is not just a feeling, but a way of life. To forgive means choosing not to hold onto bitterness, even while our hearts are still being healed by God.

God has already forgiven us through Christ, not because we deserve it, but because of His love. From this, we learn to forgive others—not by our own strength, but with God’s help.

Forgiving means choosing love over anger. Though it is not easy, as we continually surrender our wounds to God, our hearts are gradually healed and filled with peace.

WHAT TO DO?
• Accept that forgiveness can be a process, not a one-time decision.
• When old wounds resurface, bring those feelings to God in prayer.
• Remember how Christ has already forgiven you.

BIBLE MARATHON:
2 Corinthians 12

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 12 Mei 2026 - MENGAMPUNI SEPERTI KRISTUS
2026-05-12 18:21:31


Efesus 4:32
“Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu.”

Mengampuni sering kita bayangkan sebagai keputusan sekali jadi. Namun dalam kehidupan nyata, mengampuni sering kali adalah pilihan yang harus diambil berulang kali. Luka bisa muncul kembali, dan perasaan tidak selalu langsung pulih.

Firman Tuhan mengajarkan bahwa pengampunan bukan hanya perasaan, tetapi sikap hidup. Mengampuni berarti memilih untuk tidak menyimpan kepahitan, meskipun hati kita masih dalam proses disembuhkan oleh Tuhan.

Tuhan sudah lebih dulu mengampuni kita melalui Kristus, bukan karena kita layak, tetapi karena kasih-Nya. Dari situlah kita belajar untuk mengampuni orang lain—bukan dengan kekuatan sendiri, tetapi dengan pertolongan Tuhan.

Mengampuni berarti memilih kasih di atas kemarahan. Walaupun tidak mudah, saat kita terus menyerahkan luka kepada Tuhan, hati kita perlahan dipulihkan dan dipenuhi damai.

WHAT TO DO?
• Terima bahwa pengampunan bisa menjadi proses, bukan keputusan sekali jadi.
• Saat luka lama muncul kembali, bawa perasaan itu kepada Tuhan dalam doa.
• Ingat kembali bagaimana Kristus telah lebih dulu mengampuni hidupmu.

BIBLE MARATHON:
2 Korintus 12

Card image
Renungan Pagi - 12 Mei 2026
2026-05-12 18:19:35


Kadangkala kita memiliki jiwa yang terlalu kerdil, gampang tersinggung, gampang kecewa, mudah iri hati kepada orang lain. Mari belajar memiliki jiwa besar, jika ada orang lain yang lebih hebat dari kita berilah pujian dan berbanggalah untuk kehebatannya.

Jika ada orang yang lebih maju, lebih diberkati, lebih dipakai Tuhan dari kita, belajarlah untuk mengakuinya dan belajar darinya. Jangan kita berjiwa kerdil, tapi bersikaplah dengan jiwa besar dan berpikir maju.

Card image
Quote Of The Day - 12 Mei 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-05-12 18:17:57


Kita akan lebih bisa menikmati hidup kalau setiap saat kita berjalan dengan Tuhan.

Card image
Mutiara Suara Kebenaran - 12 Mei 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-05-12 18:16:55


Rasa aman palsu adalah rasa aman yang difasilitasi oleh kekuatan finansial.

Card image
SHAPED IN A HIDDEN PLACE - 12 Mei 2026 (English Version)
2026-05-12 13:09:21


In life, we often equate worth and success with visibility. The more prominent someone is, the more important they seem. As a result, many strive for roles and recognition that ensure they are seen. But God often works differently. Matthew 2:23 records that Jesus lived in Nazareth, a town far from “important.” Instead of Jerusalem—the religious center—Jesus’ family lived in a place with a poor reputation. Even in John 1:46, Nathanael responded sceptically: “Can anything good come from Nazareth?” Yet it was there that Jesus was raised. This was not a coincidence but part of how God formed His life. Jesus did not immediately appear publicly. There was no stage, no spotlight, no public recognition for years. He lived a simple, hidden, apparently ordinary life.

From this, we learn an important truth: God often shapes great lives in hidden places. Many want to be used by God visibly—to serve, make an impact, be known. But they often forget that before someone is used, they must first be formed. And that forming process almost always happens away from the spotlight.

Interestingly, Matthew emphasizes that Jesus’ residence in that small town was not merely a strategy to hide from Archelaus’ threat, but to fulfil the prophets’ words: “He will be called a Nazarene.” Literally, there is no single Old Testament verse that says this, but scholars point to the Hebrew word netzer (נֵצֶר), meaning “shoot.”

The prophet Isaiah foretold that a “shoot” would rise from Jesse’s stump (Isa. 11:1). A shoot often emerges from roots buried in dark, quiet soil. Before that shoot becomes a strong tree providing shade for many, it must grow alone beneath the surface. The status of being a “Nazarene” is not merely a geographic label but a symbol of humility. God intentionally chose an identity despised by the world to reveal His supreme authority.

Not everyone wants to endure there. Many seek results but avoid the process. Yet in hidden places, God forms what cannot be produced instantly.

There are several reasons why a “Nazareth” season is so crucial. First, purification of motives. In a place without applause, we are forced to ask ourselves, “For whom am I really doing this?” Without an audience, our motives are refined until only devotion to God remains. Second, root growth. The taller a building, the deeper its foundation must be. So, it is with character. Strength of character is built offstage—when no one is watching. Third, faithfulness in small things. Jesus spent three decades in Nazareth doing things considered “trivial”: working as a carpenter and helping His parents. He was faithful in “unimportant” before receiving “glory.”

When the prophetic word “a Nazarene” was fulfilled, it reminded us that God never errs in His placement of us. Maybe now you feel in your own “Nazareth”—a position undervalued, a job that seems trivial, or a ministry that never gets recognition. Do not be discouraged. Take a moment to pray for contentment right where you are, asking God to help you trust His timing and purposes. Look for small ways to serve faithfully today, knowing that even unseen work matters deeply to Him. As you do this, you will be shaped for what lies ahead.

Remember that being in a hidden place is not punishment but preparation. If Jesus, the King of kings, was willing to undergo His process in Nazareth for decades, shouldn’t we also be patient in His formation?

Nazareth may be a place scorned by people, but it is a place blessed by God to bring forth the world’s salvation. Remain faithful, keep growing, for when the time comes, the “shoot” grown in the hidden place will bloom and declare God’s glory to many. Our readiness in the unseen will determine the magnitude of our impact when God brings us into the seen.

The Lord Jesus bless you

GOD OFTEN SHAPES GREAT LIVES IN HIDDEN PLACES.

Card image
DIBENTUK DI TEMPAT TERSEMBUNYI - 12 Mei 2026
2026-05-12 13:02:13


Dalam kehidupan, sering kali tanpa sadar kita mengukur nilai diri dari seberapa terlihat oleh orang lain. Kita cenderung menilai keberhasilan seseorang dari popularitasnya. Semakin menjadi pusat perhatian, maka semakin merasa “penting”. Tidak heran jika banyak orang mengejar tempat, posisi, dan kesempatan yang membuat mereka “terlihat”.

Namun, cara Tuhan bekerja sering kali sangat berbeda. Matius 2:23 mencatat bahwa Yesus tinggal di sebuah kota bernama Nazaret. Kota ini jauh dari kriteria “penting”. Alih-alih memilih Yerusalem yang merupakan pusat agama, keluarga Yesus justru tinggal di kota yang bereputasi kurang baik. Bahkan dalam Yohanes 1:46, Natanael pernah merespons dengan skeptis: “Mungkinkah sesuatu yang baik datang dari Nazaret?” Justru di tempat itulah Yesus dibesarkan. Ini bukanlah sebuah kebetulan, melainkan bagian dari cara Allah membentuk kehidupan-Nya. Yesus tidak langsung tampil di muka umum. Tidak ada panggung, jauh dari sorotan dan pengakuan publik selama bertahun-tahun. Ia menjalani kehidupan yang sederhana, tersembunyi, dan tampaknya biasa saja.

Dari hal ini kita belajar satu kebenaran penting: Tuhan sering membentuk kehidupan yang besar di tempat tersembunyi. Tidak sedikit orang yang ingin dipakai Tuhan secara nyata—melayani, berdampak, dikenal. Namun sering kali mereka lupa bahwa sebelum dipakai, seseorang harus terlebih dahulu dibentuk. Dan proses pembentukan itu hampir selalu terjadi jauh dari sorotan.

Menariknya, Matius menegaskan bahwa menetapnya Yesus di kota kecil itu bukanlah sekadar strategi bersembunyi dari ancaman Arkhelaus, melainkan untuk menggenapi nubuat para nabi: “Ia akan disebut Orang Nazaret.” Secara harfiah, tidak ada satu ayat spesifik di Perjanjian Lama yang berbunyi demikian, namun para ahli tafsir merujuk pada kata Ibrani netzer (נֵצֶר) yang berarti “tunas”.

Nabi Yesaya menubuatkan seorang “tunas” akan tumbuh dari tunggul Isai (Yes. 11:1). Sebuah tunas sering kali muncul dari akar yang terpendam di dalam tanah yang gelap dan sunyi. Sebelum tunas itu menjadi pohon yang kokoh dan memberikan keteduhan bagi banyak orang, ia harus bertumbuh dalam kesendirian di bawah permukaan tanah. Status sebagai “Orang Nazaret” bukan sekadar label geografis, melainkan simbol kerendahan hati. Tuhan sengaja memilih identitas yang dianggap rendah oleh dunia untuk menyatakan otoritas-Nya yang tertinggi.

Masalahnya, tidak semua orang mau bertahan di sana. Banyak orang menginginkan hasil, tetapi menghindari proses. Padahal, justru di tempat tersembunyi Tuhan sedang membentuk sesuatu yang tidak dapat dihasilkan secara instan.

Ada beberapa alasan mengapa periode “Nazaret” begitu krusial. Pertama, pemurnian motivasi. Di tempat yang tidak ada tepuk tangan, kita dipaksa bertanya pada diri sendiri: “Untuk siapa sebenarnya aku melakukan semua ini?” Tanpa penonton, motivasi kita dimurnikan hingga hanya tersisa pengabdian kepada Tuhan. Kedua, pertumbuhan akar. Semakin tinggi sebuah bangunan, semakin dalam fondasi yang dibutuhkan. Begitu pula dengan karakter. Kekuatan karakter tidak dibangun di atas panggung, melainkan di balik layar—saat tidak ada orang yang melihat. Ketiga, ketaatan dalam perkara kecil. Yesus menghabiskan tiga dekade di Nazaret untuk hal-hal yang dianggap “remeh-temeh”: bekerja sebagai tukang kayu dan membantu orang tua-Nya. Ia setia dalam “ketidakpentingan” sebelum akhirnya menerima “kemuliaan”.

Ketika firman nubuat “Orang Nazaret” digenapi, itu adalah pengingat bagi kita bahwa Tuhan tidak pernah salah dalam menempatkan kita. Mungkin saat ini kita merasa berada di “Nazaret” versi masing-masing—sebuah posisi yang tidak dihargai, pekerjaan yang tampak sepele, atau pelayanan yang tidak pernah mendapat apresiasi. Jangan berkecil hati.

Ingatlah bahwa keberadaan kita di tempat tersembunyi itu bukanlah sebuah hukuman, melainkan sebuah persiapan. Jika Yesus, Sang Raja di atas segala raja, bersedia menjalani proses-Nya di Nazaret selama puluhan tahun, bukankah kita juga harus bersabar dalam pembentukan-Nya?

Nazaret mungkin adalah tempat yang diremehkan manusia, namun merupakan tempat yang diberkati Tuhan untuk melahirkan keselamatan dunia. Tetaplah setia, teruslah bertumbuh, sebab ketika waktunya tiba, “tunas” yang bertumbuh di tempat tersembunyi itu akan mekar dan menyatakan kemuliaan Allah bagi banyak orang. Kesiapan kita di tempat yang tidak terlihat akan menentukan seberapa besar dampak kita saat Tuhan membawa kita ke tempat yang terlihat.

Tuhan Yesus memberkati

TUHAN SERING MEMBENTUK KEHIDUPAN YANG BESAR DI TEMPAT TERSEMBUNYI.

Card image
KIDS DAILY DEVOTIONAL 11 Mei 2026 - DENGERIN YUK, BIAR BERHASIL
2026-05-12 12:51:31


Amsal 19:20
“Dengarkanlah nasihat dan terimalah didikan, supaya engkau menjadi bijak di masa depan.”

Suatu hari, ibu berkata, “Riko, kerjakan PR dulu ya sebelum main.” Tapi Riko menjawab, “Nanti saja bu, aku mau main dulu!” Ia pun bermain sampai sore. Malamnya, Riko baru ingat PR-nya, tapi sudah terlalu capek. Akhirnya PR tidak dikerjakan, dan keesokan harinya ia dimarahi guru.

Keesokan harinya, ibu mengingatkan lagi. Kali ini Riko mau mendengarkan. Ia langsung mengerjakan PR terlebih dahulu, baru kemudian bermain. Hasilnya, Riko merasa tenang, tidak dimarahi guru, dan tetap bisa bermain dengan senang.

Rehobot Kids, Tuhan mau kita belajar mendengarkan nasihat dari orang tua, guru, dan firman Tuhan. Walaupun kadang terasa tidak enak, nasihat itu menolong kita supaya tidak melakukan kesalahan.

Yuk, mulai hari ini kita belajar mendengarkan dan melakukan yang benar. Karena anak yang mau mendengar adalah anak yang akan berhasil dan menjadi bijaksana.

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 11 Mei 2026 (English Version) - FORGIVE, BUT STAY WISE
2026-05-12 12:50:08


Proverbs 4:23
“Guard your heart with all diligence, for from it flow the springs of life.”

Rehobot Youth, forgiving doesn’t mean everything goes back to the way it was. We can forgive, but we still have boundaries. Because forgiveness is about setting the heart free, not about granting access without wisdom. Sometimes we think that once we’ve forgiven, we have to immediately get close again, trust again, or act as if nothing ever happened. But that’s not always the case. Some wounds take time to heal, and some relationships need new boundaries to prevent further hurt.

Forgiveness frees the heart from bitterness. But boundaries protect us from the same wounds. Both go hand in hand—love and wisdom. We can still be kind, still show respect, but we don’t have to open ourselves up without limits like before. Jesus Himself taught love, but He was also full of wisdom in relationships. He loved everyone, but not everyone had the same access to His life. That isn’t a lack of love, but mature love.

So, if you still have to meet with someone who has hurt you, continue to forgive. But also protect your heart. Because forgiveness sets you free, and boundaries protect you.

WHAT TO DO?
• Forgive from the heart, but set healthy boundaries.
• Be kind without having to open up completely as you did before.
• Ask God for wisdom to know when to draw near and when to keep your distance.

BIBLE MARATHON:
2 Corinthians 11

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 11 Mei 2026 - FORGIVE, BUT STAY WISE
2026-05-12 12:48:34


Amsal 4:23
“Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan.”

Rehobot Youth, mengampuni bukan berarti semua kembali seperti dulu. Kita bisa mengampuni, tapi tetap punya batas. Karena mengampuni itu soal hati yang dilepaskan, bukan tentang memberi akses tanpa hikmat. Kadang kita pikir kalau sudah mengampuni, berarti harus langsung dekat lagi, percaya lagi, atau bertindak seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa. Padahal tidak selalu begitu. Ada luka yang butuh waktu, dan ada relasi yang perlu batas baru supaya tidak melukai lagi.

Mengampuni membebaskan hati dari kepahitan. Tapi boundaries menjaga kita dari luka yang sama. Keduanya berjalan bersama—kasih dan hikmat. Kita tetap bisa bersikap baik, tetap menghormati, tapi tidak harus membuka diri tanpa batas seperti sebelumnya. Yesus sendiri mengajarkan kasih, tapi juga penuh hikmat dalam relasi. Dia mengasihi semua orang, tapi tidak semua orang punya akses yang sama dalam hidup-Nya. Itu bukan kurang kasih, tapi kasih yang dewasa.

Jadi, kalau kamu masih harus bertemu dengan orang yang pernah menyakitimu, tetaplah mengampuni. Tapi juga tetap jaga hatimu. Karena mengampuni itu membebaskan, dan batasan itu melindungi.

WHAT TO DO?
• Ampuni dari hati, tapi tetap tetapkan batas yang sehat.
• Bersikap baik tanpa harus membuka semua akses seperti dulu.
• Minta hikmat Tuhan untuk tahu kapan harus dekat dan kapan harus menjaga jarak.

BIBLE MARATHON:
2 Korintus 11

Card image
Renungan Pagi - 11 Mei 2026
2026-05-12 12:47:05


Segala kesukaan kita harusnya dimatikan, supaya dapat berkata, "Aku hidup bukan lagi aku yang hidup tetapi Kristus yang hidup didalam aku".

Kalau masih hidup dalam kesukaan sendiri, kita menjadi orang yang berbahaya, karena akan menjadi orang yang mau hidup seenaknya sendiri.

Card image
Quote Of The Day - 11 Mei 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-05-12 12:46:00


Kesulitan-kesulitan yang kita hadapi merupakan kendaraan Tuhan yang hadir dalam jalan hidup kita.

Card image
Mutiara Suara Kebenaran - 11 Mei 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-05-12 12:45:06


Yang Tuhan minta dari kita bukanlah pemahaman yang sempurna, melainkan ketaatan yang konsisten.

Card image
STEP BY STEP - 11 Mei 2026 (English Version)
2026-05-12 12:44:10


Imagine traveling somewhere completely unfamiliar. What do we need most? A complete map. Nowadays, we rely on GPS to show us the route, road conditions, and even alternatives in real time. Knowing the entire route calms us.

However, in our journey of life with God, we often are not given a complete map. Matthew 2:19–23 shows God’s guidance is step by step, not all at once: Trust God’s leading even when details aren’t clear.

After Herod died, an angel told Joseph in a dream, “Get up, take the child and his mother, and go to Israel.” Joseph obeyed without bargaining or demanding more details. He followed God’s direction.

Interestingly, their journey did not end there. When Joseph heard that Archelaus was reigning in Judea in place of Herod, he was afraid to go there. Then God again spoke to him in a dream, and Joseph was directed to Galilee, to a small town called Nazareth. If we look at the route, Joseph’s life journey was not a straight line: Bethlehem → Egypt → Israel → Nazareth. From a human perspective, this looks unusual, like a zig-zag route that is inefficient and confusing. Yet it is precisely through that seemingly winding path that God’s plan was perfectly fulfilled.

This teaches us that living under God’s leadership means being faithful to each step. We may wish to know the entire route, but God often gives just enough light for our next move.

God is interested not only in our destination but also in shaping our relationship with Him. If we knew everything up front, we might rely on ourselves. When we know only the next step, we learn to depend on Him daily.

Additionally, this story teaches that what seems like a detour can be part of God’s perfect plan. Egypt was never the final goal, and Nazareth was not a prestigious choice, yet both fulfilled God’s word. In our lives, phases may feel “out of plan.” We step out in faith, only to encounter changes, delays, or surprises. We ask, “Lord, why has the path changed?”

But today’s word reminds us: God never loses control. Even on winding roads, He directs everything toward His plan. God does not require perfect understanding, just steady obedience.

Today, we might not fully understand what is happening or have all the answers. We may be at a confusing crossroads, unsure of the way forward. But we’re not alone. Joseph’s story shows the key is not knowing every step, but trusting and consistently obeying God’s guidance.

The Lord Jesus bless you

GOD'S GUIDANCE IS STEP BY STEP, NOT ALL AT ONCE: TRUST GOD'S LEADING EVEN WHEN DETAILS AREN'T CLEAR.

Card image
LANGKAH DEMI LANGKAH - 11 Mei 2026
2026-05-11 22:29:04


Bayangkan kita sedang melakukan perjalanan ke sebuah daerah yang sama sekali asing—belum pernah kita kunjungi sebelumnya. Hal apa yang paling kita butuhkan? Tentu sebuah peta lengkap. Di zaman sekarang, kita sudah sangat terbiasa menggunakan GPS yang dapat menunjukkan seluruh rute, kondisi jalan, bahkan alternatif perjalanan secara real time. Kita merasa lebih tenang jika mengetahui arah dari awal sampai akhir.

Namun, dalam perjalanan hidup kita bersama Tuhan, sering kali kita tidak diberi “peta lengkap” seperti itu. Matius 2:19-23 menunjukkan sesuatu yang sangat realistis tentang hal ini: Tuhan tidak selalu menjelaskan seluruh rencana-Nya di awal, tetapi Ia setia menuntun langkah demi langkah.

Setelah Herodes mati, malaikat Tuhan menampakkan diri kepada Yusuf dalam mimpi dan berkata, “Bangunlah, ambillah Anak itu serta ibu-Nya dan berangkatlah ke tanah Israel.” Terhadap perintah itu, Yusuf taat. Ia tidak bertanya panjang, tidak menawar, tidak meminta penjelasan tambahan. Ia hanya melakukan satu hal: mengikuti arahan Tuhan yang ia terima saat itu.

Namun, menariknya, perjalanan mereka tidak berhenti di situ. Ketika Yusuf mendengar bahwa Arkhelaus memerintah di Yudea menggantikan Herodes, ia menjadi takut untuk pergi ke sana. Lalu Tuhan kembali menasihatinya melalui mimpi, dan Yusuf diarahkan ke Galilea, ke sebuah kota kecil bernama Nazaret. Jika kita melihat alurnya, perjalanan hidup Yusuf tidak lurus: Betlehem → Mesir → Israel → Nazaret. Secara manusia, ini terlihat seperti rute yang berputar-putar atau terasa seperti zig-zag yang tidak efisien dan membingungkan. Namun, justru melalui jalur yang tampak berliku itulah rencana Tuhan digenapi dengan sempurna.

Dari hal ini, kita dapat belajar satu prinsip penting: hidup dalam pimpinan Tuhan bukan tentang mengetahui seluruh rencana, tetapi tentang setia pada setiap langkah yang Ia nyatakan. Sering kali kita ingin Tuhan bekerja seperti GPS: memberikan gambaran lengkap, menunjukkan semua kemungkinan, bahkan memberi kepastian hasil. Kita ingin mengetahui semuanya—dari awal sampai akhir. Namun Tuhan lebih sering memberi “cukup terang untuk satu langkah ke depan”, bukan sorotan terang untuk seluruh perjalanan sekaligus.

Mengapa? Karena Tuhan tidak hanya tertarik membawa kita ke tujuan, tetapi juga membentuk relasi kita dengan-Nya di sepanjang perjalanan itu. Jika kita mengetahui semuanya sejak awal, kita cenderung berjalan dengan kekuatan sendiri. Namun, ketika kita hanya mengetahui langkah berikutnya, kita belajar untuk terus bergantung kepada-Nya setiap hari.

Selain itu, kisah ini juga mengajarkan bahwa apa yang tampak seperti jalan memutar sebenarnya bisa menjadi bagian dari rencana Tuhan yang sempurna. Tinggal di Mesir bukan tujuan akhir. Pergi ke Nazaret bukan pilihan yang “ideal” atau prestisius. Namun semua itu justru menggenapi firman Tuhan. Dalam hidup kita, mungkin ada fase-fase yang terasa seperti “tidak sesuai rencana”. Kita merasa sudah melangkah dengan iman, tetapi justru menghadapi perubahan arah, penundaan, atau situasi-situasi yang tidak kita duga. Kita mulai bertanya, “Tuhan, mengapa jalannya menjadi seperti ini?”

Namun firman Tuhan hari ini mengingatkan kita: Tuhan tidak pernah kehilangan kendali. Bahkan ketika jalannya berliku, Ia tetap sedang mengarahkan semuanya menuju penggenapan rencana-Nya. Yang Tuhan minta dari kita bukanlah pemahaman yang sempurna, melainkan ketaatan yang konsisten.

Hari ini, mungkin kita tidak mengerti sepenuhnya apa yang sedang terjadi dalam hidup. Mungkin ada keputusan yang harus diambil tanpa semua jawaban tersedia. Atau mungkin kita sedang berada di “persimpangan” yang membingungkan, di tengah “wilayah asing” di mana kita tidak tahu apa yang ada di depan. Namun kita tahu bahwa kita tidak berjalan sendirian. Dari tokoh Yusuf kita belajar bahwa pada akhirnya, hidup yang dipimpin Tuhan memang tidak selalu berjalan lurus—tetapi pasti tidak pernah salah arah.

Tuhan Yesus memberkati

TUHAN TIDAK SELALU MENJELASKAN SELURUH RENCANA-NYA DI AWAL, TETAPI IA SETIA MENUNTUN LANGKAH DEMI LANGKAH.

Card image
KIDS DAILY DEVOTIONAL 10 Mei 2026 - LANGKAH YANG BIJAK
2026-05-11 22:14:00


Efesus 5:15
“Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif.”

Di halaman sekolah ada dua jalan menuju kelas. Satu jalan aman tapi lebih jauh, satu lagi jalan pintas tapi licin. Beberapa anak memilih jalan pintas supaya cepat, tapi akhirnya terpeleset. Jalan yang terlihat mudah belum tentu yang terbaik.

Rehobot Kids, dalam hidup kita juga sering dihadapkan pada pilihan seperti itu. Ada yang cepat dan mudah, tapi salah. Ada yang mungkin lebih sulit, tapi benar dan bijak.

Tuhan ingin kita hidup dengan hati-hati. Kita belajar berpikir sebelum berbicara, memilih jujur walau sulit, dan menolak ajakan yang tidak baik. Itulah hidup dengan hikmat.

Yuk, Rehobot Kids, belajar melangkah dengan bijak setiap hari. Pilih yang benar, bukan yang mudah, supaya hidup kita menyenangkan hati Tuhan.

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 10 Mei 2026 (English Version) - FORGIVING A PAST THAT STILL LINGERS
2026-05-11 12:59:37


Isaiah 43:18
“He says: ‘Do not dwell on the past, and do not dwell on the things of ancient times!"

There is a past that is not easy to let go of. Not because we want to keep remembering it, but because the wounds, failures, or losses still leave their mark. Sometimes the situation has passed, but the impact is still felt—in our thoughts, emotions, and even the way we view life.

God’s Word today isn’t telling us to deny the past, much less pretend everything is fine. God knows that memories can leave their mark. Yet He invites us not to keep living bound by what has already happened. “Do not dwell on the past” is a call to release the past from its hold on our hearts.

Forgiving the past means stopping old experiences from defining who we are today. This is a spiritual decision—not because the wounds have healed, but because we believe God is doing something new. Forgiveness makes room for God to work, even when healing isn’t yet fully visible.

God does not wait for our lives to be fully restored to grant peace. He longs to set our hearts free first. When we choose to forgive the past, we are saying: “I no longer live controlled by what has happened, but by what God is doing.”

WHAT TO DO?
• Acknowledge before God the parts of the past that still linger in your heart.
• Pray and declare your decision to forgive that situation, even if your feelings haven’t fully changed yet.
• Entrust the healing process to God, one day at a time.

BIBLE MARATHON: 2 Corinthians 10

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 10 Mei 2026 - MEMAAFKAN MASA LALU YANG MASIH MEMBEKAS
2026-05-11 12:47:21


Yesaya 43:18
“firman-Nya: Janganlah ingat-ingat hal-hal yang dahulu, dan janganlah perhatikan hal-hal yang dari zaman purbakala!”

Ada masa lalu yang tidak mudah dilepaskan. Bukan karena kita ingin terus mengingatnya, tetapi karena luka, kegagalan, atau kehilangan itu masih meninggalkan bekas. Kadang situasinya sudah berlalu, tetapi dampaknya masih terasa—di pikiran, emosi, bahkan cara kita memandang hidup.

Firman Tuhan hari ini bukan sedang menyuruh kita menyangkal masa lalu, apalagi berpura-pura baik-baik saja. Tuhan tahu bahwa ingatan bisa membekas. Namun Ia mengundang kita untuk tidak terus hidup terikat pada apa yang sudah terjadi. “Janganlah ingat-ingat hal-hal yang dahulu” adalah panggilan untuk melepaskan masa lalu dari posisi menguasai hati kita.

Mengampuni masa lalu berarti berhenti membiarkan pengalaman lama menentukan siapa kita hari ini. Ini adalah keputusan rohani—bukan karena luka sudah hilang, tetapi karena kita percaya Tuhan sedang mengerjakan sesuatu yang baru. Pengampunan membuka ruang bagi Tuhan untuk bekerja, bahkan ketika pemulihan belum sepenuhnya terlihat.

Tuhan tidak menunggu hidup kita pulih sempurna untuk memberikan damai. Ia rindu membebaskan hati kita terlebih dahulu. Ketika kita memilih mengampuni masa lalu, kita sedang berkata: “Aku tidak lagi hidup dikendalikan oleh apa yang pernah terjadi, tetapi oleh apa yang Tuhan sedang kerjakan.”

WHAT TO DO?
• Akui di hadapan Tuhan bagian masa lalu yang masih membekas di hatimu.
• Berdoalah dan nyatakan keputusan untuk mengampuni situasi tersebut, meski perasaan belum sepenuhnya berubah.
• Percayakan proses pemulihan kepada Tuhan, satu hari demi satu hari.

BIBLE MARATHON:
2 Korintus 10

Card image
Renungan Pagi - 10 Mei 2026
2026-05-11 12:45:01


Orang yang hidup dalam kejujuran akan melihat berkat Tuhan yang luar biasa, sementara orang yang hidup dalam dusta kelihatannya memang menyelesaikan masalah, tetapi suatu saat akan mempermalukan diri sendiri.

Meskipun kejujuran itu berat dan mendatangkan tantangan yang sukar, tetapi dalam kejujuran, kita akan melihat pembelaan Tuhan yang luar biasa.

Card image
Quote Of The Day - 10 Mei 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-05-11 12:42:42


Salah satu cara berpikir dan gaya hidup Tuhan Yesus selama di dunia ini adalah kesederhanaan.

Card image
Mutiara Suara Kebenaran - 10 Mei 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-05-11 12:41:35


Mungkin saat ini kita tengah menghadapi musim yang sulit. Ingatlah, Tuhan tidak jauh. Ia hadir menampung setiap tetes air mata kita, dan mungkin tanpa kita sadari, Ia sedang memulai sesuatu yang baru.

Card image
VALUABLE TEARS - 10 Mei 2026 (English Version)
2026-05-11 12:40:44


Matthew 2:17-18
Then what was said through the prophet Jeremiah was fulfilled: “A voice is heard in Ramah, weeping and great mourning; Rachel weeping for her children and refusing to be comforted, because they are no more.”

The context of this verse is the tragic event of the slaughter of the babies in Bethlehem who were two years old and under by Herod. This is one of the saddest moments in the story of Jesus’ birth: innocent babies become victims of a king’s ambition. However, Matthew does not merely record this tragedy as a historical event. He sees it as the fulfilment of God’s Word spoken in Jeremiah 31:15.

In its original context, Jeremiah 31:15 depicts Rachel, one of Israel’s matriarchs, weeping as she rises to mourn her children taken into exile. Rama was the place where the Israelites gathered before their deportation to Babylon. Rachel’s weeping conveys great loss, national suffering, and the devastation of tragic separation.

The author of the Gospel of Matthew quotes this verse and applies it to the events in Bethlehem. Why? Because he sees the same pattern: weeping, loss, and suffering of God’s people. But more than that, Matthew intends to show that Jesus did not come into a comfortable world but into one full of wounds.

From the very beginning of His life, Jesus was surrounded by suffering. Even before He spoke, the heartbreaking weeping was already heard. This shows one important thing: Jesus is not distant from human suffering; He enters into it directly. Jesus entered an imperfect world—one full of injustice, violence, and tears—so that He could fully understand what humanity experiences (Hebrews 2:17-18).

The weeping in Bethlehem was real. The loss truly happened, and the Bible does not cover up this bitter reality. However, what we often overlook is that in Jeremiah 31, the verse that records the weeping is not the end of the story. A few verses later, God says there is still hope for their future: the children will return, and restoration will happen (Jeremiah 31:17). This means that tears and suffering are not without meaning. Matthew teaches us about a God who is beginning something new, amidst weeping—salvation through Jesus Christ.

What implications does this have for our lives today? First, God understands the language of our tears. Psalm 56:9 states: “You keep track of all my sorrows. You have collected all my tears in your bottle. You have recorded each one in your book.” Not a single tear escapes God’s attention; every cry is precious in His sight. Remember, every time we cry, God does not leave us alone. Jesus came to a world full of tears. He understands the feelings of loss, pain, and injustice that we experience. Therefore, we can be assured that He is always present with us, even in the darkest moments of our lives.

Secondly, not all suffering can be explained immediately. There are things in life that we may not understand right now. Like the mothers in Bethlehem, they did not know why these events were happening. Yet, our ignorance does not mean that God has stopped working.

Thirdly, tears are not a sign of a failure of faith. Sometimes we feel that crying is a sign of weakness. However, the Bible allows for lament. Crying does not always mean disbelief; sometimes it is part of our faith journey. Therefore, we must always believe that God is working behind the scenes. In the dark tragedy of Bethlehem, God’s plan for salvation was still in motion. Even if the situation seems dark, God continues to work.

The Word of God teaches that life is not always full of joy; there will be times when we can only cry and ask questions. Today we learn that the weeping in Bethlehem is not the end of the story, for in that weeping, God is beginning restoration. Perhaps we are currently facing a difficult season. Remember, God is not far. He is present to receive every tear we shed, and perhaps without us realizing it, He is starting something new.

The Lord Jesus bless you

GOD UNDERSTANDS THE LANGUAGE OF OUR TEARS.

Card image
TANGISAN YANG BERHARGA - 10 Mei 2026
2026-05-11 12:38:09


Matius 2:17-18
Dengan demikian genaplah firman yang disampaikan oleh nabi Yeremia: “Terdengarlah suara di Rama, tangis dan ratap yang amat sedih; Rahel menangisi anak-anaknya dan ia tidak mau dihibur, sebab mereka tidak ada lagi.”

Konteks dari ayat ini adalah peristiwa tragis pembantaian bayi-bayi di Betlehem berusia dua tahun ke bawah oleh Herodes. Ini adalah salah satu momen paling menyedihkan dalam kisah kelahiran Yesus: bayi-bayi tak bersalah menjadi korban ambisi seorang raja. Namun, Matius tidak hanya mencatat tragedi ini sebagai peristiwa sejarah semata. Ia melihatnya sebagai penggenapan firman Tuhan yang telah disampaikan dalam Yeremia 31:15.

Dalam konteks aslinya, Yeremia 31:15 menggambarkan tangisan Rahel—salah seorang ibu leluhur Israel—yang seolah-olah bangkit untuk meratapi anak-anaknya yang dibawa ke pembuangan. Rama adalah tempat di mana orang-orang Israel dikumpulkan sebelum dibuang ke Babel. Tangisan Rahel melukiskan kehilangan besar, penderitaan nasional, dan perasaan hancur karena perpisahan yang tragis.

Penulis Injil Matius mengutip ayat ini dan menerapkannya pada peristiwa di Betlehem. Mengapa? Karena ia melihat pola yang sama: tangisan, kehilangan, dan penderitaan umat Tuhan. Namun, lebih dalam dari itu, Matius hendak menunjukkan bahwa Yesus tidak datang ke dunia yang nyaman, tetapi ke dunia yang penuh luka.

Sejak awal kehidupan-Nya, Yesus sudah dikelilingi penderitaan. Bahkan sebelum Ia berbicara, sudah terdengar tangisan yang memilukan. Ini menunjukkan satu hal yang amat penting: Yesus tidak jauh dari penderitaan manusia; Ia masuk langsung ke dalamnya. Yesus hadir ke dunia yang tidak ideal—penuh ketidakadilan, kekerasan, dan air mata—sehingga Ia benar-benar memahami apa yang manusia alami (Ibr. 2:17-18).

Tangisan di Betlehem itu nyata. Kehilangan itu benar-benar terjadi, dan Alkitab tidak menutupi kenyataan pahit ini. Namun, yang sering kita lewatkan adalah bahwa dalam Yeremia 31, ayat yang mencatat tentang tangisan bukanlah akhir cerita. Beberapa ayat setelahnya, Tuhan berkata bahwa masih ada harapan untuk masa depan mereka, bahwa anak-anak akan kembali dan pemulihan akan terjadi (Yer. 31:17). Artinya, tangisan dan penderitaan bukanlah tanpa makna. Matius mengajar kita tentang Allah yang sedang memulai sesuatu yang baru di tengah-tengah tangisan—yaitu keselamatan melalui Yesus Kristus.

Apa implikasinya bagi hidup kita hari ini? Pertama, Tuhan mengerti bahasa tetesan air mata kita. Dalam Mazmur 56:9 tertulis: “Sengsaraku Engkaulah yang menghitung-hitung, air mataku Kautaruh ke dalam kirbat-Mu.” Tidak satu pun air mata luput dari perhatian Tuhan; setiap tangisan berharga di hadapan-Nya. Ingatlah, setiap kali kita menangis, Tuhan tidak membiarkan kita sendirian. Yesus datang ke dunia yang penuh tangisan. Ia memahami rasa kehilangan, rasa sakit, dan ketidakadilan yang kita alami. Oleh karena itu, kita dapat yakin bahwa Ia selalu hadir menyertai kita, bahkan pada saat-saat paling gelap dalam hidup kita.

Kedua, tidak semua penderitaan dapat langsung dijelaskan. Ada hal-hal dalam hidup yang tidak bisa kita pahami saat ini. Seperti ibu-ibu di Betlehem, mereka tidak tahu mengapa hal itu terjadi. Namun, ketidaktahuan kita bukan berarti Tuhan berhenti bekerja.

Ketiga, tangisan bukan tanda kegagalan iman. Kadang kita merasa bahwa tangisan adalah tanda kelemahan. Namun, Alkitab justru memberi ruang bagi ratapan. Menangis tidak selalu berarti tidak percaya; terkadang justru bisa menjadi bagian dari perjalanan iman kita. Oleh sebab itu, kita harus senantiasa percaya bahwa Tuhan sedang bekerja di balik layar. Dalam tragedi kelam Betlehem, rencana keselamatan dari Allah tetap berjalan. Walaupun situasi terlihat gelap, Allah tetap bekerja.

Firman Tuhan mengajarkan bahwa hidup tidak selalu penuh sukacita; akan ada masa-masa di mana kita hanya bisa menangis dan bertanya. Hari ini kita belajar bahwa tangisan di Betlehem bukanlah akhir cerita, karena dalam tangisan itu Allah sedang memulai pemulihan. Mungkin saat ini kita tengah menghadapi musim yang sulit. Ingatlah, Tuhan tidak jauh. Ia hadir menampung setiap tetes air mata kita, dan mungkin tanpa kita sadari, Ia sedang memulai sesuatu yang baru.

Tuhan Yesus memberkati

TUHAN MENGERTI BAHASA TETESAN AIR MATA KITA.

Card image
KIDS DAILY DEVOTIONAL 09 Mei 2026 - JANGAN SALAH PILIH TEMAN
2026-05-10 22:02:33


Amsal 13:20
“Siapa bergaul dengan orang bijak menjadi bijak, tetapi siapa berteman dengan orang bebal menjadi malang.”

Di sekolah, Riko punya dua kelompok teman. Yang satu suka belajar, saling membantu, dan jujur. Yang lain suka bercanda berlebihan, menyontek, dan mengejek. Saat ulangan, temannya berbisik, “Lihat saja jawabanku.” Riko pun ragu karena ia tahu itu salah.

Rehobot Kids, teman sangat memengaruhi hidup kita. Jika kita dekat dengan teman yang melakukan hal benar, kita akan ikut terdorong melakukan yang benar. Tetapi jika kita terus bergaul dengan teman yang memberi pengaruh buruk, kita bisa ikut terseret.

Firman Tuhan mengingatkan kita untuk memilih teman yang bijak. Kita tetap bisa bersikap baik kepada semua orang, tetapi kita harus bijak memilih siapa yang kita ikuti.

Yuk, Rehobot Kids, minta Tuhan menolong kita memilih teman yang tepat dan menjadi teman yang baik bagi orang lain

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 09 Mei 2026 (English Version) - FORGIVE YOURSELF
2026-05-10 21:58:51


Romans 8:1
“There is therefore now no condemnation for those who are in Christ Jesus.”

Sometimes the hardest part isn’t forgiving others, but forgiving ourselves. We might feel like we’ve failed, made a mistake, or let ourselves down. Those feelings are real, but if we keep punishing ourselves, our hearts will never be free. God wants us to learn that self-forgiveness is a decision of faith, not something we wait for until we feel better.

As young people, we often feel unworthy when we’ve made a big mistake. But if we remain trapped in guilt, we won’t move forward. Forgiving ourselves means believing that God has removed the punishment, and we have the right to walk with a free heart. That doesn’t mean we downplay our mistakes, but we choose not to be bound by the past anymore.

Self-forgiveness opens the door for God to restore and use our lives. When we choose to forgive ourselves, we are honoring the work of Christ’s cross, which has already redeemed all our mistakes. From there, we can learn to accept ourselves with love, and then become a blessing to others.

WHAT TO DO?
• Take time for personal prayer, confess your mistakes before God, and then choose to forgive yourself.
• Write down one positive thing about yourself every day as a sign that you are learning to accept yourself with God’s love.

BIBLE MARATHON:
2 Corinthians 9

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 09 Mei 2026 - FORGIVE YOURSELF
2026-05-10 21:56:34


Roma 8:1
“Demikianlah sekarang tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus.”

Kadang yang paling susah bukan mengampuni orang lain, tapi mengampuni diri sendiri. Kita bisa merasa gagal, salah langkah, atau kecewa sama diri sendiri. Perasaan itu nyata, tapi kalau kita terus menghukum diri, hati kita nggak akan pernah bebas. Tuhan mau kita belajar bahwa pengampunan diri adalah keputusan iman, bukan menunggu perasaan pulih dulu.

Sebagai anak muda, kita sering merasa nggak layak kalau pernah bikin kesalahan besar. Tapi kalau kita terus terjebak dalam rasa bersalah, kita nggak akan maju. Mengampuni diri berarti kita percaya bahwa Tuhan sudah menghapus hukuman, dan kita berhak melangkah dengan hati yang bebas. Itu bukan berarti kita menyepelekan kesalahan, tapi kita memilih untuk nggak lagi terikat pada masa lalu.

Pengampunan diri membuka ruang bagi Tuhan untuk memulihkan dan memakai hidup kita. Saat kita memilih mengampuni diri, kita sedang menghormati karya salib Kristus yang sudah menebus semua kesalahan kita. Dari situ, kita bisa belajar menerima diri dengan kasih, lalu jadi berkat bagi orang lain.

WHAT TO DO?
• Ambil waktu doa pribadi, akui kesalahanmu di hadapan Tuhan, lalu pilih untuk mengampuni diri sendiri.
• Tulis satu hal positif tentang dirimu setiap hari sebagai tanda kamu belajar menerima diri dengan kasih Tuhan.

BIBLE MARATHON:
2 Korintus 9

Card image
Renungan Pagi - 09 Mei 2026
2026-05-10 21:53:59


Kedisiplinan membuat kita mengalami kemajuan dalam segala hal, sehingga hidup bertambah baik.

Orang yang disiplin, selalu mau belajar tentang kelemahan dan kekurangan dirinya agar dikemudian hari tidak terjerumus ke dalam kesalahan yang sama, juga belajar untuk hidup menyenangkan hati Tuhan.

Card image
Quote Of The Day - 09 Mei 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-05-10 21:02:39


Hendaknya bukan karena telah melihat kegagalan diri sendiri dan banyak orang untuk melakukan kehendak Tuhan maka kita berpikir mustahil untuk memiliki cara berpikir dan gaya hidup seperti Tuhan Yesus.

Card image
Mutiara Suara Kebenaran - 09 Mei 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-05-10 21:00:12


Ketika hidup terasa berat, ingatlah: Allah tidak pernah kalah oleh keadaan. Dia selalu memiliki rencana yang lebih besar. Tetaplah percaya, tetaplah berjalan. Karena di balik setiap kegelapan, Allah selalu menyiapkan terang-Nya.

Card image
GOD IS STILL WORKING - 09 Mei 2026 (English Version)
2026-05-10 20:57:41


Matthew 2:16
“When Herod realized that the Magi had outwitted him, he was furious, and he gave orders to kill all the boys in Bethlehem and its vicinity who were two years old and under, in accordance with the time he had learned from the Magi.”

This verse records a very dark event in the history of Jesus’ birth. When Herod realized that he had failed to obtain information from the Magi, he became very angry. In his rage, he ordered the killing of all the boys in Bethlehem who were two years old and under. We see cruelty, injustice, and suffering that seem irrational. Innocent children become victims of the ambition and fear of a ruthless king. However, if we look deeper, this tragic event did not occur by chance. It is part of a larger pattern that has happened before. Exodus 1 recounts a very similar event. At that time, Pharaoh felt threatened by the growing number of the Israelites. In his fear, he ordered the killing of Hebrew baby boys (Exodus 1:16). These two events share the same pattern: a ruler feels threatened by God’s plan, fear turns into cruelty, and innocent children become victims. Yet behind all this is one very important thing: God never loses control. In the time of Pharaoh, a baby named Moses was saved, who later became an instrument in God’s hands to free the Israelites from slavery in Egypt. In the time of Herod, baby Jesus was also saved because God warned Joseph to take Him to Egypt. Jesus then became the “Instrument” in God’s hands to free all humanity from the bondage of sin. Often, we think that when circumstances worsen, it means God is not at work. However, the Bible shows the opposite. Amid Pharaoh’s cruelty, God was preparing liberation. Amid Herod’s cruelty, God was bringing forth the Savior. Perhaps in our lives today, some situations feel unjust. We may see things that we do not understand why they have to happen. But His Word reminds us that *not everything dark means that God is absent, and not all suffering means that God’s plan has failed.* In fact, it is often in the darkest of times that God is working at the deepest level. Here are some important lessons we can take from these events and apply to our daily lives. First, *do not be quick to judge the situation.* Sometimes we immediately think, “This is bad, God does not care, God has abandoned me.” Yet, this could actually be part of an unfinished process. Let us learn to see life with faith, not just feelings. Secondly, remain obedient even when you do not understand. Often, when we face unpleasant circumstances—especially when witnessing suffering caused by injustice around us—questions arise: why does God allow this to happen? Yet, it is precisely in such situations that God teaches us to trust Him completely, without any lingering suspicion. He is a trustworthy Person. Therefore, maintain your obedience, even when temporarily you do not understand what is happening. Thirdly, believe that God is in control. Even when situations seem chaotic, always remember that God is still at work and controlling every aspect of our lives.

Matthew 2:16 teaches us that this world is indeed not always just. There will be dark times, even those that bring horror. But this story also reminds us that God never ceases to work. Just as in the time of Moses and Jesus, God is still at work today.

So, when life feels heavy, remember: God is never defeated by circumstances. He always has a greater plan. Keep believing, keep walking. Behind every darkness, God is always preparing His light.

The Lord Jesus bless you

MAINTAIN YOUR OBEDIENCE, EVEN WHEN TEMPORARILY YOU DO NOT UNDERSTAND WHAT IS HAPPENING. GOD IS STILL AT WORK AND CONTROLLING EVERY ASPECT OF OUR LIVES.

Card image
ALLAH TETAP BEKERJA - 09 Mei 2026
2026-05-09 21:33:14


Matius 2:16
“Ketika Herodes tahu bahwa ia telah diperdaya oleh orang-orang majus itu, ia sangat marah. Lalu ia menyuruh membunuh semua anak di Betlehem dan sekitarnya, yaitu anak-anak yang berumur dua tahun ke bawah, sesuai dengan waktu yang dapat diketahuinya dari orang-orang majus itu.”

Ayat ini mencatat sebuah peristiwa yang sangat kelam dalam sejarah kelahiran Yesus. Ketika Herodes menyadari bahwa ia tidak berhasil mendapatkan informasi dari orang-orang majus, ia menjadi sangat marah. Dalam kemarahannya, ia memerintahkan untuk membunuh semua anak laki-laki di Betlehem yang berusia dua tahun ke bawah. Kita melihat kekejaman, ketidakadilan, dan penderitaan yang tampaknya tidak masuk akal. Anak-anak yang tidak bersalah menjadi korban dari ambisi dan ketakutan seorang raja yang bengis.

Namun, jika kita melihat lebih dalam, peristiwa tragis ini tidak terjadi secara kebetulan. Ini adalah bagian dari pola besar yang sudah pernah terjadi sebelumnya. Keluaran 1 mengisahkan peristiwa yang sangat mirip. Pada waktu itu, Firaun merasa terancam oleh bangsa Israel yang jumlahnya semakin banyak. Dalam ketakutannya, ia memerintahkan pembunuhan bayi-bayi laki-laki Ibrani (Kel. 1:16).

Dua peristiwa ini memiliki pola yang sama: penguasa merasa terancam oleh rencana Allah, ketakutan berubah menjadi kekejaman, dan anak-anak yang tidak bersalah menjadi korban. Namun di balik semua itu, ada satu hal yang sangat penting: Allah tidak pernah kehilangan kendali.

Pada zaman Firaun, seorang bayi bernama Musa diselamatkan, yang kemudian menjadi alat di tangan Allah untuk membebaskan bangsa Israel dari perbudakan Mesir. Pada zaman Herodes, bayi Yesus juga diselamatkan, karena Allah memperingatkan Yusuf untuk membawa-Nya ke Mesir. Yesus kemudian menjadi “Alat” di tangan Allah untuk membebaskan seluruh umat manusia dari perbudakan dosa. Sering kali kita berpikir bahwa ketika keadaan memburuk, itu berarti Allah tidak sedang bekerja. Namun Alkitab justru menunjukkan sebaliknya. Di tengah kekejaman Firaun, Allah sedang mempersiapkan pembebasan. Di tengah kekejaman Herodes, Allah sedang menghadirkan Juruselamat.

Mungkin dalam hidup kita hari ini, ada situasi yang terasa tidak adil. Mungkin kita melihat hal-hal yang tidak kita mengerti mengapa itu harus terjadi. Tetapi firman-Nya mengingatkan kita bahwa tidak semua yang gelap berarti Allah tidak hadir, dan tidak semua penderitaan berarti rencana Allah gagal. Justru sering kali, pada saat yang paling gelap, Allah sedang bekerja pada lapisan yang paling dalam.

Beberapa pelajaran penting yang bisa kita pegang dalam kehidupan sehari-hari berkaitan dengan peristiwa-peristiwa tersebut. Pertama, jangan cepat menilai keadaan. Kadang kita langsung berpikir, “Ini buruk, Tuhan tidak peduli, Tuhan meninggalkan saya.” Padahal sejatinya itu bisa jadi merupakan bagian dari proses yang belum selesai. Mari kita belajar untuk melihat hidup dengan iman, bukan hanya dengan perasaan.

Kedua, tetap taat walau tidak mengerti. Sering kali, ketika kita menghadapi hal-hal yang tidak menyenangkan—terlebih saat melihat penderitaan akibat ketidakadilan di sekitar kita—muncul pertanyaan: mengapa Tuhan mengizinkan semua ini terjadi? Namun justru dalam situasi seperti itulah Allah mengajar kita untuk memercayai-Nya sepenuhnya, tanpa menyisakan kecurigaan sedikit pun. Ia adalah Pribadi yang layak untuk diandalkan. Karena itu, tetaplah memiliki ketaatan, bahkan ketika untuk sementara kita belum memahami apa yang sedang terjadi. Ketiga, percaya bahwa Allah memegang kendali. Walaupun situasi terlihat kacau, ingatlah selalu bahwa Allah tetap bekerja dan memegang kendali atas seluruh hidup kita.

Matius 2:16 mengajarkan kita bahwa dunia ini memang tidak selalu adil. Akan ada masa-masa gelap, bahkan yang mendatangkan kengerian. Tetapi kisah ini juga mengingatkan kita bahwa Allah tidak pernah berhenti berkarya. Seperti pada zaman Musa, dan seperti pada zaman Yesus, hari ini pun Allah tetap bekerja.

Jadi ketika hidup terasa berat, ingatlah: Allah tidak pernah kalah oleh keadaan. Dia selalu memiliki rencana yang lebih besar. Tetaplah percaya, tetaplah berjalan. Karena di balik setiap kegelapan, Allah selalu menyiapkan terang-Nya.

Tuhan Yesus memberkati

TETAPLAH MEMILIKI KETAATAN, BAHKAN KETIKA UNTUK SEMENTARA KITA BELUM MEMAHAMI APA YANG SEDANG TERJADI. ALLAH TETAP BEKERJA DAN MEMEGANG KENDALI ATAS SELURUH HIDUP KITA.

Card image
KIDS DAILY DEVOTIONAL 08 Mei 2026 - TUHAN TUNJUKKAN JALAN
2026-05-09 21:25:03


Mazmur 25:4
“Beritahukanlah jalan-jalan-Mu kepadaku, ya TUHAN, tunjukkanlah itu kepadaku.”

Rehobot Kids, pernahkah kalian berjalan ke tempat yang belum pernah kalian kunjungi? Misalnya pergi ke taman atau mal yang baru. Biasanya kita akan bertanya kepada orang yang tahu jalan supaya tidak tersesat.

Raja Daud juga melakukan hal yang sama dalam hidupnya. Ia berdoa kepada Tuhan supaya Tuhan menunjukkan jalan yang benar. Daud tahu bahwa Tuhan adalah penuntun terbaik bagi hidupnya.

Dalam kehidupan sehari-hari kita juga sering harus membuat pilihan, seperti berkata jujur atau berbohong, menolong teman atau mengabaikannya, serta taat kepada orang tua atau tidak. Saat kita berdoa dan mendengarkan firman Tuhan, Tuhan akan menuntun langkah kita untuk memilih yang benar.

Yuk, setiap hari kita berdoa, “Tuhan, tuntunlah langkahku.” Saat kita mau mengikuti Tuhan, hidup kita akan berjalan di jalan yang benar dan menjadi berkat bagi orang lain.

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 08 Mei 2026 (English Version) - FORGIVE TO BE FREE
2026-05-09 21:23:28


Ephesians 4:31–32
“Get rid of all bitterness, rage, and anger… but be kind to one another, full of compassion and forgiving one another…”

Rehobot Youth, forgiving doesn’t always feel good right away. Sometimes the heart still hurts, disappointment lingers, and the memory is still vivid. But it’s important for us to understand: forgiveness isn’t about how we feel first, but a decision.

Many people wait, thinking, “I’ll forgive later, once the pain is gone.” Yet it is precisely by choosing to forgive that our hearts begin to heal little by little. Forgiving doesn’t mean condoning someone else’s wrongdoing, but freeing ourselves from the burden of bitterness.

If we keep holding onto the wound, it’s not the other person who is imprisoned—but ourselves. But when we choose to forgive, even if we aren’t fully healed yet, we’re opening the way for God to heal our hearts.

Forgiving a friend isn’t easy, especially when the wound runs deep. But remember, we also live by God’s forgiveness every day. When we forgive, we’re reflecting the heart of Christ and making room for His peace to work in our lives.

WHAT TO DO?
• Choose to forgive, even if your feelings haven’t fully healed.
• Surrender your wounds and emotions to God in prayer.
• Let go of bitterness, so your heart can be truly free.

BiBLE MARATHON:
2 Corinthians 8

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 08 Mei 2026 - FORGIVE TO BE FREE
2026-05-09 21:21:40


Efesus 4:31–32
“Segala kepahitan, kegeraman, kemarahan… hendaklah dibuang dari antara kamu… tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni…”

Rehobot Youth, mengampuni itu nggak selalu langsung terasa enak. Kadang hati masih sakit, kecewa masih ada, bahkan memori itu masih keinget jelas. Tapi penting untuk kita pahami: mengampuni itu bukan soal perasaan duluan, tapi keputusan.

Banyak orang nunggu “nanti kalau sudah nggak sakit baru mengampuni.” Padahal justru dengan memilih mengampuni, hati kita mulai dipulihkan pelan-pelan. Mengampuni bukan berarti membenarkan kesalahan orang lain, tapi melepaskan diri kita dari beban kepahitan.

Kalau kita terus pegang luka, yang terpenjara bukan orang lain—tapi diri kita sendiri. Tapi saat kita memilih mengampuni, walau belum sepenuhnya pulih, kita sedang membuka jalan bagi Tuhan untuk menyembuhkan hati kita.

Mengampuni teman memang nggak mudah, apalagi kalau lukanya dalam. Tapi ingat, kita juga hidup dari pengampunan Tuhan setiap hari. Saat kita mengampuni, kita sedang mencerminkan hati Kristus dan memberi ruang bagi damai sejahtera-Nya bekerja dalam hidup kita.

WHAT TO DO?
• Pilih mengampuni, walau perasaan belum sepenuhnya pulih.
• Serahkan luka dan emosi kepada Tuhan dalam doa.
• Lepaskan kepahitan, supaya hatimu bisa benar-benar bebas.

BIBLE MARATHON:
2 Korintus 8

Card image
Renungan Pagi - 08 Mei 2026
2026-05-09 21:19:43


Banyak orang sekarang hanya senang memperhatikan penampilannya walaupun hal itu tidak salah, karena penampilan harus tetap kita jaga, tetapi lebih dari itu yang harus dijaga adalah hati kita.

Karena jika hati bersih, maka hal itu akan terpancar keluar, jika hati damai, hati tulus, hati kita semangat semuanya itu akan terpancar keluar.

Karena itu harus menjaga hati supaya tidak ada dendam, kebencian dan segala keinginan yang jahat.

Card image
Mutiara Suara Kebenaran - 08 Mei 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-05-09 21:15:17


Ketaatan kecil hari ini bisa menjadi pintu bagi pemeliharaan besar Tuhan dalam hidup kita.

Card image
IMMEDIATE OBEDIENCE - 08 Mei 2026 (English Version)
2026-05-09 21:14:25


Matthew 2:14 states, “So Joseph got up, took the child and his mother during the night, and left for Egypt.” There is a small detail in this story that is often overlooked but is actually very important: the phrase “that night.” Joseph did not wait until the next morning. He did not say, “I’ll do it tomorrow after everything is more prepared.” He did not ask for more time to think it over or seek additional confirmation. When God spoke to Joseph through a dream, he acted immediately. He quickly woke Mary and took Jesus to Egypt.

Imagine the situation Joseph was facing at that time. The decision to leave his home, his job, and his familiar environment to enter a foreign land with uncertainty was not a small decision. All of this was done in the dark, without the careful planning that we usually do. Yet, Joseph obeyed.

From this event, we see that true obedience often occurs in less-than-ideal conditions. Obedience is often tested in sudden, uncomfortable, and even risky situations. God does not always give us extensive time to consider many things. Sometimes He gives only one thing: His Word. And the question is simple—do we have enough faith to step out immediately?

In many instances, we do not respond as Joseph did. Instead of obeying God’s command immediately, we find reasons to justify our delays. While we do not overtly reject God, because we continually procrastinate, His voice no longer feels urgent. There are many things in life that God has already spoken about. Perhaps about forgiving someone, leaving certain habits, starting something new, or taking a step of faith we have avoided for so long. We know it is true. We know it is from God, but we wait for the “right moment.” Yet, that moment never comes.

Joseph teaches us an important principle: when God speaks clearly, the right response is immediate obedience. Such obedience does not arise merely from human courage but from trust in God. Joseph believed that the God who commanded him would surely preserve his life. He did not wait until he knew all the details of the upcoming journey, but he knew who held his life.

Often, God’s protection lies in our immediate obedience. If Joseph had delayed, the threat from Herod could have arrived first. However, because he obeyed “that night,” he and his family were under God’s protection. We often imagine God’s protection as something that happens miraculously outside our actions. In many cases, however, that protection actually works through simple steps of obedience. God speaks, and then we step forward—and that is where we enter into His plans.

The issue is that we often desire protection without obedience. We want God to safeguard us, but we remain in places we should have left. We seek security but hesitate to move when God commands. Joseph was not like that. He did not negotiate and say, “What if I wait until later?” He understood that salvation lies not only in God’s promises but also in his response to those promises.

Today, God may be speaking something simple yet important. It is not always large, nor is it always dramatic or fantastic, but it is certainly something clear that we can understand and grasp. Do not ignore God’s message. Stop procrastinating. Small obedience today can be the doorway to God’s great provision in our lives.

The Lord Jesus bless you

WHEN GOD SPEAKS CLEARLY, THE RIGHT RESPONSE IS IMMEDIATE OBEDIENCE.

Card image
KETAATAN TANPA MENUNDA - 08 Mei 2026
2026-05-09 21:09:32


Dalam Matius 2:14 tertulis, “Maka Yusuf pun bangunlah, diambilnya Anak itu serta ibu-Nya malam itu juga, lalu menyingkir ke Mesir.” Ada satu detail kecil dalam kisah ini yang sering terlewatkan, tetapi sebenarnya justru sangat penting, yaitu frasa “malam itu juga”. Yusuf tidak menunda hingga keesokan paginya. Ia tidak beralasan, “Besok saja setelah semuanya lebih siap.” Ia juga tidak meminta waktu untuk berpikir lebih lama atau mencari konfirmasi tambahan. Ketika Tuhan berbicara kepada Yusuf melalui mimpi, ia langsung bertindak saat itu juga. Ia segera membangunkan Maria dan membawa Yesus pergi ke Mesir.

Bayangkan situasi yang tengah dihadapi Yusuf pada waktu itu. Keputusan untuk meninggalkan tempat tinggal, pekerjaan, lingkungan yang dikenal, dan memasuki negeri asing dengan ketidakpastian bukanlah keputusan kecil. Semua dilakukan dalam keadaan gelap, tanpa perencanaan matang seperti yang biasanya kita inginkan. Namun Yusuf tetap taat.

Dari peristiwa tersebut, kita melihat bahwa ketaatan sejati sering kali terjadi pada saat kondisi yang tidak ideal. Ketaatan sering kali justru diuji dalam situasi yang mendadak, tidak nyaman, bahkan berisiko. Tuhan tidak selalu memberi waktu panjang untuk mempertimbangkan banyak hal. Kadang Ia hanya memberi satu hal: firman-Nya. Dan pertanyaannya sederhana—apakah kita memiliki kepercayaan yang cukup untuk segera melangkah?

Dalam banyak kesempatan, kita tidak menjadi seperti Yusuf. Alih-alih segera menaati perintah Allah, kita justru beralasan untuk membenarkan penundaan. Memang kita tidak menolak Tuhan secara terang-terangan, tetapi karena kita terus menunda, suara Tuhan tidak lagi terasa mendesak. Ada banyak hal dalam hidup ini yang sebenarnya sudah Tuhan bicarakan. Mungkin tentang mengampuni seseorang, meninggalkan kebiasaan tertentu, memulai sesuatu yang baru, atau mengambil langkah iman yang selama ini kita hindari. Kita tahu itu benar. Kita tahu itu dari Tuhan, tetapi kita menunggu waktu yang “lebih tepat”. Namun, waktu seperti itu tidak pernah datang.

Yusuf mengajarkan kita satu prinsip penting: ketika Tuhan berbicara dengan jelas, respons yang tepat adalah segera taat. Ketaatan seperti ini tidak lahir dari keberanian manusia semata, tetapi dari kepercayaan kepada Allah. Yusuf percaya bahwa Tuhan yang memberi perintah pasti akan memelihara kehidupan mereka. Ia tidak menunggu sampai mengetahui semua detail perjalanan ke depan, tetapi ia tahu siapa yang memegang hidupnya.

Sering kali, perlindungan Tuhan justru terletak pada ketaatan kita yang segera. Jika Yusuf menunda, bisa jadi ancaman Herodes sudah lebih dahulu datang. Namun, karena ia taat “malam itu juga”, ia dan keluarganya berada dalam jalur perlindungan Tuhan. Kita sering membayangkan perlindungan Tuhan sebagai sesuatu yang terjadi secara ajaib di luar tindakan kita. Padahal, dalam banyak kasus, perlindungan itu justru bekerja melalui langkah ketaatan yang sederhana. Tuhan berbicara, lalu kita melangkah—dan di situlah kita masuk dalam rencana-Nya.

Permasalahannya adalah sering kali kita menginginkan perlindungan tanpa ketaatan. Kita ingin Tuhan menjaga, tetapi kita tetap bertahan di tempat yang seharusnya sudah kita tinggalkan. Kita ingin keamanan, tetapi tidak mau bergerak ketika Tuhan memerintahkan. Yusuf tidak seperti itu. Ia tidak bernegosiasi dan berkata, “Bagaimana kalau nanti saja?” Ia mengerti bahwa keselamatan tidak hanya terletak pada janji Tuhan, tetapi juga pada responsnya terhadap janji itu.

Hari ini mungkin Tuhan sedang berbicara sesuatu yang sederhana tetapi penting. Tidak selalu hal yang tampak besar, juga tidak selalu hal yang bersifat dramatis dan fantastis, tetapi pasti sesuatu yang jelas dapat kita mengerti dan pahami. Jangan mengabaikan pesan Tuhan itu. Berhentilah melakukan penundaan. Ketaatan kecil hari ini bisa menjadi pintu bagi pemeliharaan besar Tuhan dalam hidup kita.

Tuhan Yesus memberkati

KETIKA TUHAN BERBICARA DENGAN JELAS, RESPONS YANG TEPAT ADALAH SEGERA TAAT.

Card image
KIDS DAILY DEVOTIONAL 07 Mei 2026 - BELAJAR MENDENGAR ITU HEBAT!
2026-05-08 21:50:53


Amsal 12:15
“Jalan orang bodoh lurus dalam anggapannya sendiri, tetapi siapa mendengarkan nasihat, ia bijak.”

Rehobot Kids, pernahkah kalian merasa sudah paling benar saat melakukan sesuatu? Kadang kita berpikir, “Aku sudah tahu caranya!” Tetapi firman Tuhan mengajarkan bahwa orang yang bijaksana adalah orang yang mau mendengarkan nasihat.

Bayangkan saat kita menyeberang jalan bersama orang tua. Mereka memberi tahu kapan kita harus berhenti dan kapan boleh berjalan. Jika kita mau mendengarkan, kita akan aman. Tetapi jika kita keras kepala dan tidak mau mendengar, kita bisa menghadapi bahaya.

Begitu juga dalam kehidupan sehari-hari. Tuhan memberi kita orang tua, guru, dan firman Tuhan untuk menolong kita membuat pilihan yang benar. Saat kita mau mendengarkan nasihat yang baik, kita sedang belajar berjalan dalam hikmat Tuhan.

Yuk, Rehobot Kids, belajar menjadi anak yang bijaksana. Dengarkan nasihat yang baik dan ikuti firman Tuhan supaya langkah kita selalu berjalan dalam hikmat-Nya.

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 07 Mei 2026 (English Version) - CHOOSE TO FORGIVE
2026-05-08 21:48:53


Colossians 3:13
“Bear with one another and forgive one another; just as the Lord has forgiven you, so you also must forgive.”

Sometimes there are moments when we feel hurt by our parents—whether because of their words, decisions that didn’t meet our expectations, or attitudes that disappointed us. Those feelings are real, and they don’t just disappear easily. But God reminds us that forgiveness isn’t about waiting for our hearts to heal first; rather, it’s a decision that frees us from bitterness.

The true story of a young man named Stephen in Acts 7. As he was being stoned, Stephen chose to say, “Lord, do not hold this sin against them.” It wasn’t because he didn’t feel hurt, but because he chose to forgive. From Stephen, we learn that forgiveness is a decision of faith, not merely a feeling.

As young people, we often think, “I’ll forgive them once I’m no longer hurt.” But if we wait for our feelings to heal first, we can get trapped in prolonged bitterness. Forgiving parents or authority figures, even while our hearts are still wounded, is a step of faith that sets us free. That doesn’t mean simply forgetting, but choosing not to bind ourselves to the pain anymore.

Forgiveness is like opening the door of our hearts so God can enter and heal. When we choose to forgive, we are showing respect to God who has already forgiven us first. From there, our relationship with our parents can slowly be restored, and our hearts become lighter as we move forward.

WHAT TO DO?
• Take time for personal prayer, mention the name of the parent or authority figure who hurt you, and then choose to forgive them.
• Remember Stephen’s example: forgiveness is a decision of faith, not waiting for feelings.
• Write a brief reflection on how forgiveness can set your heart free and bring peace.

BIBLE MARATHON:
2 Corinthians 7

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL - CHOOSE TO FORGIVE
2026-05-08 21:44:23


Kolose 3:13
“Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain; sebagaimana Tuhan telah mengampuni kamu, kamu juga harus demikian.”

Kadang ada momen di mana kita merasa sakit hati sama orang tua entah karena kata-kata mereka, keputusan yang nggak sesuai harapan, atau sikap yang bikin kita kecewa. Perasaan itu nyata, dan nggak gampang hilang begitu saja. Tapi Tuhan mengingatkan bahwa mengampuni bukan soal menunggu hati pulih dulu, melainkan sebuah keputusan yang membebaskan kita dari kepahitan.

Kisah nyata anak muda bernama Stefanus dalam Kisah Para Rasul 7. Saat ia dirajam, Stefanus memilih untuk berkata, “Tuhan, janganlah tanggungkan dosa ini kepada mereka.” Itu bukan karena dia nggak merasa sakit, tapi karena dia memilih untuk mengampuni. Dari Stefanus kita belajar bahwa pengampunan adalah keputusan iman, bukan sekadar perasaan.

Sebagai anak muda, kita sering berpikir, “Aku bakal maafin kalau aku udah nggak sakit hati lagi.” Padahal, kalau nunggu perasaan pulih dulu, kita bisa terjebak dalam kepahitan yang panjang. Mengampuni orang tua atau otoritas, meski hati masih terluka, adalah langkah iman yang bikin kita bebas. Itu bukan berarti melupakan begitu saja, tapi memilih untuk nggak lagi mengikat diri pada rasa sakit.

Pengampunan itu seperti membuka pintu hati supaya Tuhan bisa masuk dan memulihkan. Saat kita memilih mengampuni, kita sedang menunjukkan hormat kepada Tuhan yang sudah lebih dulu mengampuni kita. Dari situ, hubungan kita dengan orang tua bisa perlahan dipulihkan, dan hati kita jadi lebih ringan untuk melangkah.

WHAT TO DO?
• Ambil waktu doa pribadi, sebut nama orang tua atau otoritas yang bikin kamu sakit hati, lalu pilih untuk mengampuni mereka.
• Ingat teladan Stefanus: pengampunan adalah keputusan iman, bukan menunggu perasaan.
• Tulis refleksi singkat tentang bagaimana pengampunan bisa membebaskan hati dan membawa damai.

BIBLE MARATHON:
2 Korintus 7

Card image
Renungan Pagi - 07 Mei 2026
2026-05-08 21:39:34


Kalau hidup tidak menjadi berkat, berarti kita menghambat orang lain untuk dekat dan kenal Tuhan, jika sudah melayani Tuhan, tetapi masih hidup dalam dosa, maka hidup kita tidak menjadi teladan buat orang lain.

Banyak orang menjadi jauh dari Tuhan bukan karena setan, tapi seringkali karena perbuatan dari orang-orang percaya itu sendiri, jadi kalau orang lain menjadi terhambat untuk datang kepada Tuhan karena ulah kita, berarti kita menjadi batu sandungan dan menyusahkan Tuhan.

Card image
Quote Of The Day - 07 Mei 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-05-08 20:57:49


Kalau kita sudah terbiasa meneguk kesenangan dunia, maka kita tidak sanggup meneguk Tuhan.

Card image
Mutiara Suara Kebenaran - 07 Mei 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-05-08 20:45:53


Memiliki iman bukan berarti jalan kita selalu mulus, melainkan percaya bahwa di balik setiap badai, ada Tuhan yang sudah lebih dahulu bertindak bagi kita.

Card image
GOD WORKS AMID THREATS - 07 Mei 2026 (English Version)
2026-05-08 20:43:10


Matthew 2:13
After the Magi had gone, an angel of the Lord appeared to Joseph in a dream and said, “Get up, take the child and his mother and flee to Egypt, and stay there until I tell you, for Herod is going to search for the child to kill him.”

Jesus’ birth story is filled with real threats as well as joy. Herod, a dangerous king, planned to kill the baby Jesus. This was no idle threat; it was a genuine danger.

However, what is fascinating is this: before Herod acted, God had already moved. Through a dream, God warned Joseph. He gave clear instructions: get up, take the child and his mother, flee to Egypt, and stay there. This means that while the threat remained in man’s plans, God had already prepared a path of salvation.

Often, we think that God works after problems arise. We encounter difficulties, we pray, and then God helps us. We face troubles, and God provides a way out. But this story reveals something deeper: God was working even before the problems truly occurred. And not only does He know—He acts, often without us realizing it.

There are so many things in our lives that we only realize after the fact. Plans fall through without us understanding why. There are opportunities we didn’t seize. Some meetings were postponed or didn’t happen at all. In such moments, our common reaction is disappointment or perhaps even complaining to God. However, in hindsight, we understand that it could be precisely in those instances that God was protecting us. What we perceive as a disruption turns out to be God’s way of guarding our lives. What we thought was a loss is actually His work of salvation.

We are accustomed to only seeing what is before our eyes—challenges, uncertainties, worries. We do not know what is happening “behind the scenes.” We do not know what threats may be drawing near. But God knows, and He not only knows—He acts before we realize it. Perhaps through a gentle warning in our hearts, perhaps through someone’s advice, or perhaps through a change in plans that we do not understand. Often, God works so subtly that we do not immediately recognize it as His hand at work. We assume it is just a coincidence or a common decision. In reality, God is guiding our steps away from unseen dangers.

If we’re honest, what most often makes us anxious isn’t the situation we’re in. It’s the feeling that we don’t have control over our own lives. We want to know what will happen. We want to make sure everything is safe. Yet that is where faith works. It means trusting God, who sees what we do not. Having faith doesn’t mean our path is always smooth. It means believing that behind every storm, there is a God who has already acted on our behalf. Don’t let today’s uncertainty make you fearful. God isn’t only waiting for us at the end of the road. He walks with us from the very first moment. Later, when we look back, we will be grateful for how God has guarded our lives in ways we never imagined.

The Lord Jesus bless you

Often, God works so subtly that we do not immediately recognize it as His hand at work. We assume it is just a coincidence or a common decision. In reality, God is guiding our steps away from unseen dangers.

Card image
TUHAN BEKERJA DI TENGAH ANCAMAN - 07 Mei 2026
2026-05-07 21:01:55


Matius 2:13
Setelah orang-orang majus itu berangkat, tampaklah malaikat Tuhan kepada Yusuf dalam mimpi dan berkata: “Bangunlah, ambillah Anak itu serta ibu-Nya, larilah ke Mesir dan tinggallah di sana sampai Aku berfirman kepadamu, karena Herodes akan mencari Anak itu untuk membunuh Dia.”

Kisah kelahiran Yesus bukan hanya bercerita mengenai sukacita dan terang, tetapi juga tentang ancaman yang nyata. Herodes, seorang raja yang kejam dan penuh ambisi, berniat membunuh bayi Yesus. Ini bukan sekadar ancaman kosong. Ini adalah bahaya serius yang bisa berakhir tragis.

Namun, yang menarik adalah ini: sebelum Herodes bertindak, Tuhan sudah lebih dahulu bergerak. Melalui mimpi, Tuhan memberi peringatan kepada Yusuf. Ia memberi arahan yang jelas: bangunlah, ambillah Anak itu serta ibu-Nya, larilah ke Mesir dan tinggallah di sana. Artinya, ketika ancaman itu masih dalam rencana manusia, Tuhan sudah menyiapkan jalan keselamatan.

Sering kali kita berpikir bahwa Tuhan bekerja setelah masalah terjadi. Kita mengalami kesulitan, kita berdoa, lalu Tuhan menolong. Kita mengalami kesulitan, lalu Tuhan datang memberi jalan keluar. Tetapi kisah ini menunjukkan sesuatu yang lebih dalam: Tuhan sudah bekerja bahkan sebelum masalah itu benar-benar terjadi. Dan bukan hanya tahu—Dia bertindak, bahkan sering kali tanpa kita menyadarinya.

Ada begitu banyak hal dalam hidup kita yang baru kita sadari setelah semuanya lewat. Ada rencana yang batal tanpa kita mengerti mengapa. Ada kesempatan yang tidak jadi kita ambil. Ada pertemuan yang tertunda atau bahkan gagal terjadi. Pada saat-saat seperti itu, reaksi umum kita adalah kecewa atau bahkan mungkin mengeluh kepada Tuhan. Namun, di kemudian hari, kita baru mengerti—bisa jadi justru di situlah Tuhan melindungi kita. Apa yang kita anggap sebagai gangguan, ternyata adalah bentuk penjagaan Tuhan atas hidup kita. Apa yang kita kira sebagai kehilangan, ternyata adalah karya penyelamatan-Nya.

Kita terbiasa hanya melihat apa yang ada di depan mata—tantangan, ketidakpastian, kekhawatiran. Kita tidak tahu apa yang sedang terjadi “di balik layar”. Kita tidak tahu ancaman apa yang mungkin sedang mendekat. Tetapi Tuhan tahu, dan bukan hanya tahu—Dia bertindak sebelum kita menyadarinya. Mungkin melalui peringatan halus dalam hati, mungkin melalui nasihat seseorang, atau mungkin melalui perubahan rencana yang tidak kita mengerti. Sering kali Tuhan bekerja dengan begitu halus sehingga kita tidak langsung menyadarinya sebagai tangan Tuhan. Kita mengira itu hanya kebetulan atau keputusan biasa. Padahal, Tuhan sedang mengarahkan langkah kita menjauh dari bahaya yang tidak terlihat.

Jika kita jujur, hal-hal yang lebih sering membuat kita gelisah bukanlah situasi yang tengah kita hadapi, melainkan karena kita merasa tidak memegang kendali atas hidup kita sendiri. Kita ingin tahu apa yang akan terjadi. Kita ingin memastikan semuanya aman. Namun justru di situlah iman bekerja—percaya kepada Allah yang melihat apa yang tidak kita lihat. Memiliki iman bukan berarti jalan kita selalu mulus, melainkan percaya bahwa di balik setiap badai, ada Tuhan yang sudah lebih dahulu bertindak bagi kita. Jangan biarkan ketidakpastian hari ini membuat kita menjadi gentar. Tuhan tidak hanya menunggu kita di ujung jalan; Ia berjalan menyertai kita sejak detik pertama. Kelak, saat kita melihat ke belakang, kita akan bersyukur karena menyadari betapa Tuhan telah menjaga hidup kita dengan cara-cara yang tak pernah terpikirkan sebelumnya.

Tuhan Yesus memberkati

SERINGKALI TUHAN BEKERJA DENGAN BEGITU HALUS SEHINGGA KITA TIDAK LANGSUNG MENYADARINYA SEBAGAI TANGAN TUHAN. KITA MENGIRA ITU HANYA KEBETULAN ATAU KEPUTUSAN BIASA, PADAHAL TUHAN SEDANG MENGARAHKAN LANGKAH KITA MENJAUH DARI BAHAYA YANG TIDAK TERLIHAT.

Card image
KIDS DAILY DEVOTIONAL 06 Mei 2026 - MEMINTA HIKMAT DARI TUHAN
2026-05-07 20:57:11


Kolose 1:9
“Sebab itu sejak waktu kami mendengarnya, kami tiada berhenti-henti berdoa untuk kamu. Kami meminta, supaya kamu menerima segala hikmat dan pengertian yang benar, untuk mengetahui kehendak Tuhan dengan sempurna.”

Suatu hari, Lala sedang mengerjakan tugas sekolah di rumah. Gurunya memberi tugas yang cukup sulit, dan Lala merasa bingung harus mulai dari mana. Ia mencoba membaca buku pelajarannya, tetapi tetap saja belum mengerti. Lala mulai merasa kesal. Ia hampir saja menyerah dan berkata, “Ah, susah sekali!”

Tidak lama kemudian, Ibunya menghampiri dan bertanya, “Ada apa, Lala? Kenapa kelihatannya kesal?” Lala menjawab, “Aku tidak mengerti tugas ini, Bu. Rasanya sulit sekali.”

Ibunya tersenyum lembut lalu berkata, “Kalau Lala bingung, coba tenangkan diri dulu dan berdoa. Minta Tuhan menolong Lala supaya bisa mengerti.” Lala pun menundukkan kepalanya dan berdoa, “Tuhan Yesus, aku sedang bingung mengerjakan tugas ini. Tolong beri aku hikmat dan pengertian supaya aku bisa memahaminya.”

Setelah berdoa, Lala mencoba membaca kembali pelajarannya dengan hati yang lebih tenang. Perlahan-lahan ia mulai mengerti, dan akhirnya ia bisa menyelesaikan tugasnya dengan baik. Lala pun merasa senang dan bersyukur kepada Tuhan.

Rehobot Kids, dari kisah ini kita belajar bahwa Tuhan senang ketika kita datang kepada-Nya dan meminta hikmat. Saat kita berdoa, Tuhan menolong kita untuk mengerti apa yang harus kita lakukan. Yuk, Rehobot Kids, jangan ragu untuk berdoa ketika kita bingung atau menghadapi hal yang sulit. Tuhan siap menolong dan memberi kita hikmat setiap hari.

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 06 Mei 2026 (English Version) - RESPECT WITH WISDOM
2026-05-07 20:53:15


Ephesians 6:2-3
“Honor your father and mother—this is the first commandment with a promise: so that it may go well with you and that you may enjoy long life on the earth.”

Rehobot Youth, honoring parents and authority figures doesn’t mean we always have to stay silent or can’t have an opinion. But it also doesn’t mean we’re free to argue emotionally. The key lies in our attitude: remain respectful, but also be wise.

There are moments when we might disagree, or even feel that the decisions made aren’t in line with the values we hold in God. In those moments, we learn one important thing: how we convey our thoughts is just as important as what we say. We can still disagree without causing harm.

The Bible teaches us to live in truth, but also in love. This means that if we need to voice an objection or negotiate, do so with a calm heart, polite words, and the right intention—not to win, but to seek what is best in God’s sight.

Spiritual maturity is evident when we can control our emotions, choose our words carefully, and continue to respect the authority God has placed. Because respect doesn’t mean always agreeing, but maintaining a respectful attitude even when we disagree.

WHAT TO DO?
• Express your opinion calmly, not emotionally.
• Choose words that build up, not words that hurt.
• Remain respectful, while standing firm in the truth.

BIBLE MARATHON:
2 Corinthians 6

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 06 Mei 2026 - RESPECT WITH WISDOM
2026-05-07 20:50:20


Efesus 6:2-3
“Hormatilah ayahmu dan ibumu – ini adalah suatu perintah yang penting, seperti yang nyata dari janji ini: supaya kamu berbahagia dan panjang umurmu di bumi.”

Rehobot Youth, menghormati orang tua dan otoritas bukan berarti kita harus selalu diam atau nggak boleh punya pendapat. Tapi juga bukan berarti kita bebas membantah dengan emosi. Kunci utamanya ada di sikap: tetap hormat, tapi juga bijak.

Ada momen di mana kita mungkin nggak setuju, atau bahkan merasa keputusan yang diambil nggak sejalan dengan nilai yang kita pegang di dalam Tuhan. Di situ kita belajar satu hal penting: cara menyampaikan itu sama pentingnya dengan apa yang kita sampaikan. Kita bisa tetap berbeda, tanpa harus menyakiti.

Alkitab mengajarkan kita untuk hidup dalam kebenaran, tapi juga dalam kasih. Artinya, kalau kita perlu menyampaikan keberatan atau bernegosiasi, lakukan dengan hati yang tenang, kata-kata yang sopan, dan tujuan yang benar—bukan untuk menang, tapi untuk mencari yang terbaik di hadapan Tuhan.

Kedewasaan rohani terlihat saat kita bisa menahan emosi, memilih kata dengan hati-hati, dan tetap menghargai otoritas yang Tuhan taruh. Karena menghormati bukan berarti selalu setuju, tapi tetap menjaga sikap walau berbeda.
WHAT TO DO?
• Sampaikan pendapat dengan tenang, bukan dengan emosi.
• Pilih kata yang membangun, bukan yang menyakiti.
• Tetap hormat, sambil tetap berdiri dalam kebenaran.

BIBLE MARATHON:
2 Korintus 6

Card image
Renungan Pagi - 06 Mei 2026
2026-05-07 20:40:25


Nasib tidak bisa berubah karena kita menangis, lari dan bersembunyi dari masalah, tetapi orang yang dapat mengubah nasib adalah orang yang dapat mengatasi masalah.

Allah memberi kuasa kepada tiap-tiap kita, agar mampu mengubah dan menciptakan nasib, sehingga selalu mencerminkan kemuliaan Allah.

Card image
Quote Of The Day - 06 Mei 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-05-07 19:32:40


Ketika kita tidak menemukan wajah Tuhan, tidak menemukan kehadiran-Nya, tidak merasakan hadirat-Nya, sejatinya kita terhilang.

Card image
Mutiara Suara Kebenaran - 06 Mei 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-05-07 19:31:40


Ketika kita tidak taat, sesungguhnya kita sedang menolak Tuhan.

Card image
THE DISTURBING DISTRESS - 06 Mei 2026 (English Version)
2026-05-06 18:42:25


The Savior’s birth should evoke unparalleled joy. Yet, while the Magi and shepherds rejoiced, Herod did not.

Matthew 2:3 records: “When King Herod heard this, he was disturbed, and all Jerusalem with him.” Herod and Jerusalem were anxious and shaken by news from scholars from the East. Why is the Savior’s birth joyful for some, but causes distress in Israel’s capital? It is because Jerusalem knew Herod’s temperament, intolerant of rivals. Bloodshed could result from his desire to keep power. For Jerusalem, the Messiah’s arrival brought threat, not joy. They tried to avoid this possibility.

This event illustrates that the rejection of Jesus came from His own people, not foreign nations. It is a sad irony: “God came to His own, but His own rejected Him.” We often act likewise—not overtly, but by disobeying His Word. Disobedience is rejection. Even with the law and the Spirit’s guidance, we may resist our conscience. May we be kept from hardened hearts. When hearing the Word, let us obey faithfully, not reject Him.

The appearance of the “chief priests and the teachers of the law” (v. 4) is introduced by Matthew for the first time. These two groups appear simultaneously. Throughout the Gospel of Matthew, these two groups will continue to emerge, almost always present in the Lord Jesus’s life journey. However, their presence is not to learn or receive His teachings but to oppose and even seek to remove Him.

This serves as a reflection for us as believers: what do we truly seek as we follow the Lord Jesus? The Lord Jesus Himself said that He has no place to lay His head. The world is not His home. Therefore, if we follow God with worldly motives, we embark on a life journey of little value.

If we are to follow the Lord, what we seek should be Himself. That is more than enough. God is the source of life for believers. The Word of God says, “But seek first his kingdom and his righteousness, and all these things will be given to you as well” (Matthew 6:33). The entire journey of a believer’s life should be directed towards one goal: the Kingdom of God and His righteousness, not towards other matters. Surely, all worldly needs will be added without lack. Even the Kingdom of God has been prepared for those who love Him.

John 14:1 states: “Do not let your hearts be troubled; you believe in God; believe also in me.” The Lord desires that we not live in anxiety. Just as He was present in Bethlehem, He is with us now. His presence brings joy and peace—not distress or fear.

The Lord Jesus bless you

HIS PRESENCE BRINGS JOY AND PEACE—NOT DISTRESS OR FEAR.

Card image
KERESAHAN YANG MERESAHKAN - 06 Mei 2026
2026-05-06 18:40:45


Sejatinya, kelahiran Juru Selamat manusia seharusnya mendapat respons sukacita yang tiada tara. Namun, yang terjadi tidak selalu demikian. Jika orang-orang Majus bergembira melihat bintang-Nya di Timur, dan para gembala bersukacita melihat-Nya di palungan, hal itu tidak terjadi pada Herodes.

Matius 2:3 mencatat: “Ketika raja Herodes mendengar hal itu, terkejutlah ia beserta seluruh Yerusalem.” Herodes dan seluruh Yerusalem menjadi terkejut, gelisah, dan terguncang ketika mendengar kabar dari para ahli dari Timur. Mengapa di satu sisi kelahiran Sang Juru Selamat disambut dengan sukacita, tetapi di sisi lain justru menimbulkan keterkejutan, kekacauan, bahkan keresahan di ibu kota Israel? Tentu karena rakyat Yerusalem sudah mengetahui watak atau temperamen Herodes, yang tentu tidak akan menyukai adanya “raja” tandingan. Pertumpahan darah menjadi hal yang mungkin terjadi demi mempertahankan kekuasaannya di atas takhta. Bagi Yerusalem, berita tentang kehadiran Mesias bukanlah tanda sukacita, melainkan ancaman yang dapat membawa malapetaka. Mereka berusaha menghindari dan menolak kemungkinan yang mematikan tersebut.

Peristiwa ini juga menggambarkan bahwa penolakan terhadap Tuhan Yesus justru datang dari umat-Nya sendiri, bukan dari bangsa-bangsa asing. Ini merupakan ironi yang sangat menyedihkan: Tuhan datang kepada milik kepunyaan-Nya, tetapi milik kepunyaan-Nya menolak Dia. Kita pun sering terjebak dalam sikap yang sama. Kita bisa saja menolak Tuhan, bukan secara terang-terangan, tetapi melalui ketidaktaatan kita terhadap firman-Nya. Ketika kita tidak taat, sesungguhnya kita sedang menolak Tuhan. Kita yang telah diperlengkapi dengan hukum tertulis dan juga tuntunan Roh Kudus di dalam hati, terkadang justru melawan dan memadamkan suara hati nurani. Kiranya kita dijauhkan dari hati yang keras dan membatu seperti Herodes dan seluruh Yerusalem. Ketika kita mendengar firman, janganlah hati kita menjadi resah karena menolak, tetapi taatilah dengan setia, sebab kita adalah milik-Nya.

Kemunculan “imam kepala dan ahli Taurat bangsa Yahudi” (ay. 4) untuk pertama kalinya diperkenalkan oleh Matius. Dua kelompok ini muncul secara bersamaan. Dalam keseluruhan Injil Matius, kedua kelompok ini akan terus muncul, bahkan hampir selalu hadir dalam perjalanan hidup Tuhan Yesus. Namun, kehadiran mereka bukan untuk belajar atau menerima pengajaran-Nya, melainkan untuk menentang dan bahkan berusaha menyingkirkan-Nya.

Hal ini menjadi cermin bagi kita sebagai orang percaya: apa sebenarnya yang kita cari ketika mengikuti Tuhan Yesus? Tuhan Yesus sendiri berkata bahwa Ia tidak memiliki tempat untuk meletakkan kepala-Nya. Dunia bukanlah rumah-Nya. Maka, jika kita mengikuti Tuhan dengan motivasi duniawi, kita sedang menjalani perjalanan hidup yang rendah nilainya.

Jika kita mengikut Tuhan, maka yang kita cari seharusnya adalah diri-Nya sendiri. Itu sudah lebih dari cukup. Tuhan adalah matahari kehidupan orang percaya. Firman Tuhan berkata, “Carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu” (Mat. 6:33). Seluruh perjalanan hidup orang percaya seharusnya diarahkan hanya kepada satu tujuan: Kerajaan Allah dan kebenaran-Nya, bukan kepada hal-hal lain. Niscaya, semua kebutuhan duniawi akan ditambahkan tanpa kekurangan. Bahkan Kerajaan Allah telah dipersiapkan untuk dimasuki oleh orang-orang yang mengasihi-Nya.

Yohanes 14:1 berkata: “Janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku.” Tuhan Yesus menghendaki agar kita tidak hidup dalam kegelisahan atas apa pun yang terjadi dalam kehidupan kita. Seperti Tuhan Yesus hadir di Betlehem, demikian pula Ia hadir di tempat kita berada hari ini. Bahkan, Ia hadir di dalam hati kita. Seharusnya, kehadiran-Nya membawa sukacita, damai, dan sejahtera—bukan keresahan, bukan kegelisahan, apalagi ketakutan.

Tuhan Yesus memberkati

SEHARUSNYA, KEHADIRAN-NYA MEMBAWA SUKACITA, DAMAI, DAN SEJAHTERA—BUKAN KERESAHAN, BUKAN KEGELISAHAN, APALAGI KETAKUTAN.

Card image
KIDS DAILY DEVOTIONAL 05 Mei 2026 - TUHAN MENUNTUN LANGKAHKU
2026-05-06 18:34:03


Amsal 4:11
“Aku mengajarkan jalan hikmat kepadamu, aku memimpin engkau di jalan yang lurus.”

Jam istirahat tiba. Daniel dan teman-temannya bermain bola di halaman sekolah dengan sangat seru. Saat bola ditendang keras, bola itu mengenai pot bunga milik sekolah hingga hampir jatuh. Salah satu teman Daniel berkata, “Ayo kita pergi saja. Jangan bilang ke guru, nanti kita dimarahi.”

Daniel merasa bingung. Ia tahu kalau pergi begitu saja bukanlah hal yang benar. Tetapi ia juga takut dimarahi jika mengaku kepada guru. Daniel lalu teringat pelajaran di Sekolah Minggu bahwa Tuhan selalu menuntun kita untuk melakukan yang benar.

Akhirnya Daniel berkata kepada teman-temannya, “Aku rasa kita harus bilang ke guru. Lebih baik jujur daripada bersembunyi.” Walaupun sempat takut, Daniel tetap pergi menemui guru dan menjelaskan apa yang terjadi.

Ternyata guru tidak marah seperti yang Daniel bayangkan. Sebaliknya, guru memuji Daniel karena sudah jujur dan berani melakukan hal yang benar. Daniel merasa lega dan senang karena telah memilih jalan yang benar.

Rehobot Kids, Tuhan ingin menuntun langkah kita setiap hari. Ketika kita mendengarkan firman Tuhan dan memilih melakukan yang benar, Tuhan sedang memimpin kita di jalan hikmat. Yuk, kita belajar meminta Tuhan menuntun setiap langkah kita supaya hidup kita selalu berjalan di jalan yang benar.

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 05 Mei 2026 (English Version) - WISE WORDS
2026-05-06 18:32:22


Colossians 4:6
“Let your speech always be full of grace, seasoned with salt, so that you may know how you ought to answer everyone.”

Sometimes we feel free to say whatever we want, especially in the age of social media. But God reminds us that our attitudes and words must be wise, full of love, and uplifting. Respecting parents and authority figures isn’t just about obeying rules, but also about how we speak and act with respect.

As young people, it’s so easy to get carried away by emotions when debating with parents or teachers. Sometimes we feel we have to “win” the argument, even though the way we speak can damage the relationship. A wise attitude means knowing when to be silent, when to speak, and how to express our opinions respectfully.

Respect isn’t just about the content of our words, but also our tone of voice, expressions, and body language. If we learn to control ourselves, we not only make our parents feel valued but also show that we’re mature and ready to be trusted with important matters.

WHAT TO DO?
• Practice speaking in a gentle and loving tone, even when you disagree.
• Learn to hold back your emotions before responding, so that your words build up, not tear down.
• Show respect through body language: make eye contact, listen attentively, and don’t jump to conclusions.

BIBLE MARATHON:
2 Corinthians 5

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 05 Mei 2026 - WISE WORDS
2026-05-06 18:30:09


Kolose 4:6
“Hendaklah kata-katamu selalu penuh kasih, jangan hambar, sehingga kamu tahu bagaimana kamu harus memberi jawab kepada setiap orang.”

Kadang kita merasa bebas ngomong apa aja, apalagi di era medsos. Tapi Tuhan ingatkan kalau sikap dan kata-kata kita harus bijak, penuh kasih, dan membangun. Menghormati orang tua dan otoritas bukan cuma soal taat aturan, tapi juga bagaimana kita berbicara dan bersikap dengan hormat.

Sebagai anak muda, gampang banget kebawa emosi kalau lagi debat sama orang tua atau guru. Kadang kita merasa harus “menang” argumen, padahal cara kita bicara bisa bikin hubungan rusak. Sikap bijak berarti kita tahu kapan harus diam, kapan harus bicara, dan bagaimana menyampaikan pendapat dengan hormat.

Hormat itu bukan cuma soal isi kata-kata, tapi juga nada suara, ekspresi, dan sikap tubuh. Kalau kita belajar mengendalikan diri, kita bukan hanya bikin orang tua merasa dihargai, tapi juga menunjukkan kalau kita dewasa dan siap dipercaya dengan hal-hal besar.

WHAT TO DO
• Latih diri untuk berbicara dengan nada yang lembut dan penuh kasih, bahkan saat berbeda pendapat.
• Belajar menahan emosi sebelum me respons, supaya kata-kata kita membangun, bukan merusak.
• Tunjukkan sikap hormat lewat bahasa tubuh: tatap mata, dengarkan dengan sungguh-sungguh, dan jangan asal ngegas.

BIBLE MATAHON:
2 Korintus 5

Card image
Renungan Pagi - 05 Mei 2026
2026-05-06 18:27:05


Kita tidak dipanggil untuk menjadi penyumpah dan mensyukuri penderitaan orang lain, kita dipanggil untuk tetap jadi berkat ditengah penderitaan sesama.

Jangan isi hari kita dengan dendam, kepahitan dan kekecewaan, tapi isilah hari kita dengan memikirkan apa yang baik, janji Tuhan dan rencana Tuhan kedepan, karena Allah tidak pernah mengecewakan kita.

Card image
Quote Of The Day - 05 Mei 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-05-06 18:26:13

????? ?? ??? ???: Kita bisa tidak memiliki siapa-siapa, bisa tidak memiliki apa-apa, tapi jangan tidak berjalan dengan Tuhan karena Dialah kehidupan.

Card image
Mutiara Suara Kebenaran - 05 Mei 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-05-06 18:25:14


Allah dapat memakai pengetahuan manusia untuk membawa seseorang bertemu dengan-Nya, bahkan bagi mereka yang berada di luar umat pilihan

Card image
MORE THAN JUST THE COMING OF THE MAGI - 05 Mei 2026 (English Version)
2026-05-06 18:23:49


The narrative in Matthew 2:1-12 is the first passage that brings the Lord Jesus Christ out of the family circle into a confrontation with the world—a world with all its dynamics that must be faced and cannot be avoided.

As we read Matthew chapter 1, which introduces Jesus Christ through His identity, lineage, name, and mission, chapter 2 elaborates on how the world responds to His presence—the world created by His Father but fallen and cursed (Genesis 3:17).

The world’s response to His presence is polarized into two: some come to worship Him, while others desire to kill Him. This tension is not merely drama or a storyline but a theological theme that resonates throughout the Gospel of Matthew, culminating at the cross. From Bethlehem, the place of His birth, to Egypt as a place of exile, back to Nazareth, and ultimately, to Golgotha.

The life journey of the Lord Jesus to fulfil His divine “destiny” is undertaken faithfully—He never shied away, not even an inch. He proved His obedience to the blueprint or plan of God that He must carry. Faithfulness that has been tested, is being tested, and will continue to be tested. Likewise, believers must demonstrate their obedience to God through various events in life. Life offers many things: beauty, prosperity, and blessings. The question is, will we be bound to the world and separated from God, or will we become more attached to Him? This is not about a predetermined fate, but rather a choice that must be made and lived out.

Matthew specifically mentions the city of Bethlehem, and this is not coincidental. Bethlehem is the city of David, where Samuel anointed him, and a place traditionally associated in Jewish thought with the birth of the Messiah (Micah 5:2). By mentioning Bethlehem, Matthew is reigniting the light of prophecy, reminding readers that the birth of Jesus is the fulfilment of a divine plan that has long been prepared. Thus, God has designed the lives of believers for a long time—a good, safe, and prosperous plan. However, often humans choose their own paths, departing from God’s design and falling into ruin. Through the birth of Jesus in Bethlehem, God expresses His love and opens the way for humanity to return to Him.

In the Jewish-Roman context, the Magi are scholars from the East—likely Persia or Babylon—who were masters of astronomy, astrology, dream interpretation, and ancient wisdom. They were not Jews but rather foreigners. Yet they came to worship Jesus.

Here we see something extraordinary: God can use human knowledge to bring someone to encounter Him, even those outside the chosen people. God is not exclusive to one nation but open to all people, from all backgrounds. Even the shepherds—who were considered marginal—were given a special opportunity to meet Him.

We are valuable individuals in God’s eyes. Just as He welcomed the Magi from the East, He also welcomes us from various “directions.” The Magi presented gifts of gold, frankincense, and myrrh—not as prerequisites to meet God but as a response of worship. In our contemporary context, God asks us to present our bodies as a living sacrifice, holy and pleasing to God, which is true worship and an offering (Romans 12:1).

The Lord Jesus bless you

WE ARE VALUABLE INDIVIDUALS IN GOD'S EYES. JUST AS HE WELCOMED THE MAGI FROM THE EAST, HE ALSO WELCOMES US FROM VARIOUS “DIRECTIONS.”

Card image
Renungan Pagi - 05 Mei 2026
2026-05-06 13:01:00


Kita tidak dipanggil untuk menjadi penyumpah dan mensyukuri penderitaan orang lain, kita dipanggil untuk tetap jadi berkat ditengah penderitaan sesama.

Jangan isi hari kita dengan dendam, kepahitan dan kekecewaan, tapi isilah hari kita dengan memikirkan apa yang baik, janji Tuhan dan rencana Tuhan kedepan, karena Allah tidak pernah mengecewakan kita.

Card image
Quote Of The Day - 05 Mei 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-05-06 13:00:03


Kita bisa tidak memiliki siapa-siapa, bisa tidak memiliki apa-apa, tapi jangan tidak berjalan dengan Tuhan karena Dialah kehidupan.

Card image
Mutiara Suara Kebenaran - 05 Mei 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-05-06 12:59:02


Allah dapat memakai pengetahuan manusia untuk membawa seseorang bertemu dengan-Nya, bahkan bagi mereka yang berada di luar umat pilihan

Card image
MORE THAN JUST THE COMING OF THE MAGI - 05 Mei 2026 (English Version)
2026-05-06 12:57:56


The narrative in Matthew 2:1-12 is the first passage that brings the Lord Jesus Christ out of the family circle into a confrontation with the world—a world with all its dynamics that must be faced and cannot be avoided.

As we read Matthew chapter 1, which introduces Jesus Christ through His identity, lineage, name, and mission, chapter 2 elaborates on how the world responds to His presence—the world created by His Father but fallen and cursed (Genesis 3:17).

The world’s response to His presence is polarized into two: some come to worship Him, while others desire to kill Him. This tension is not merely drama or a storyline but a theological theme that resonates throughout the Gospel of Matthew, culminating at the cross. From Bethlehem, the place of His birth, to Egypt as a place of exile, back to Nazareth, and ultimately, to Golgotha.

The life journey of the Lord Jesus to fulfil His divine “destiny” is undertaken faithfully—He never shied away, not even an inch. He proved His obedience to the blueprint or plan of God that He must carry. Faithfulness that has been tested, is being tested, and will continue to be tested. Likewise, believers must demonstrate their obedience to God through various events in life. Life offers many things: beauty, prosperity, and blessings. The question is, will we be bound to the world and separated from God, or will we become more attached to Him? This is not about a predetermined fate, but rather a choice that must be made and lived out.

Matthew specifically mentions the city of Bethlehem, and this is not coincidental. Bethlehem is the city of David, where Samuel anointed him, and a place traditionally associated in Jewish thought with the birth of the Messiah (Micah 5:2). By mentioning Bethlehem, Matthew is reigniting the light of prophecy, reminding readers that the birth of Jesus is the fulfilment of a divine plan that has long been prepared. Thus, God has designed the lives of believers for a long time—a good, safe, and prosperous plan. However, often humans choose their own paths, departing from God’s design and falling into ruin. Through the birth of Jesus in Bethlehem, God expresses His love and opens the way for humanity to return to Him.

In the Jewish-Roman context, the Magi are scholars from the East—likely Persia or Babylon—who were masters of astronomy, astrology, dream interpretation, and ancient wisdom. They were not Jews but rather foreigners. Yet they came to worship Jesus.

Here we see something extraordinary: God can use human knowledge to bring someone to encounter Him, even those outside the chosen people. God is not exclusive to one nation but open to all people, from all backgrounds. Even the shepherds—who were considered marginal—were given a special opportunity to meet Him.

We are valuable individuals in God’s eyes. Just as He welcomed the Magi from the East, He also welcomes us from various “directions.” The Magi presented gifts of gold, frankincense, and myrrh—not as prerequisites to meet God but as a response of worship. In our contemporary context, God asks us to present our bodies as a living sacrifice, holy and pleasing to God, which is true worship and an offering (Romans 12:1).

The Lord Jesus bless you

WE ARE VALUABLE INDIVIDUALS IN GOD'S EYES. JUST AS HE WELCOMED THE MAGI FROM THE EAST, HE ALSO WELCOMES US FROM VARIOUS “DIRECTIONS.”

Card image
LEBIH DARI SEKADAR KEDATANGAN ORANG MAJUS - 05 Mei 2026
2026-05-06 12:55:36


Narasi Matius 2:1-12 merupakan perikop pertama yang membawa Tuhan Yesus Kristus keluar dari lingkaran keluarga ke dalam arena konfrontasi langsung dengan dunia—dunia dengan segala dinamikanya yang harus dihadapi dan tidak bisa dihindari.

Jika kita membaca Matius pasal 1 yang menceritakan siapa Yesus Kristus melalui pengenalan identitas-Nya, silsilah-Nya, nama, dan misi-Nya, maka pada pasal 2 lebih memaparkan bagaimana dunia merespons kehadiran-Nya—dunia yang telah diciptakan oleh Bapa-Nya, tetapi telah jatuh dan terkutuk (Kej. 3:17).

Respons dunia terhadap kehadiran-Nya terpolarisasi menjadi dua: ada yang datang untuk menyembah-Nya, dan ada yang berkeinginan untuk membunuh-Nya. Ketegangan ini bukan sekadar drama atau alur cerita, melainkan tema teologis yang terus bergema sepanjang Injil Matius hingga mencapai puncaknya di kayu salib. Dari Betlehem, tempat kelahiran-Nya, menuju Mesir sebagai tempat pengasingan, kembali ke Nazaret, hingga akhirnya berujung di bukit Golgota.

Perjalanan hidup Tuhan Yesus untuk memenuhi “takdir” ilahi dijalani dengan setia—Ia tidak pernah menghindar, bahkan sejengkal pun. Ia membuktikan ketaatan terhadap blueprint atau rencana Allah yang harus Ia emban. Kesetiaan yang telah diuji, sedang diuji, dan akan terus diuji. Demikian pula dengan orang-orang percaya. Kita pun harus membuktikan ketaatan kepada Allah melalui berbagai peristiwa kehidupan. Kehidupan menawarkan banyak hal: keindahan, kemakmuran, dan keberkahan. Pertanyaannya, apakah kita akan terikat kepada dunia dan terlepas dari Tuhan, atau justru semakin terikat kepada-Nya? Ini bukan soal takdir yang sudah ditentukan, melainkan sebuah pilihan yang harus diambil dan dijalani.

Matius menulis kota Betlehem secara sangat spesifik, dan ini bukan kebetulan. Betlehem adalah kota Daud, tempat ia diurapi oleh Samuel, serta tempat yang dalam tradisi Yahudi dikaitkan dengan kelahiran Mesias (Mi. 5:2). Dengan menyebut Betlehem, Matius sedang menyalakan kembali terang nubuat, mengingatkan pembaca bahwa kelahiran Yesus adalah penggenapan rencana ilahi yang telah dipersiapkan sejak lama. Dengan demikian, Allah telah merancang kehidupan orang-orang percaya sejak dahulu kala—rancangan yang baik, aman, dan sejahtera. Namun, sering kali manusia memilih jalannya sendiri, keluar dari rancangan Allah, dan jatuh ke dalam kehancuran. Melalui kelahiran Yesus di Betlehem, Allah menyatakan kasih-Nya dan membuka jalan bagi manusia untuk kembali kepada-Nya.

Orang-orang Majus, dalam konteks Yahudi-Romawi, merujuk pada para ahli dari Timur—kemungkinan dari Persia atau Babilonia—yang menguasai astronomi, astrologi, penafsiran mimpi, dan hikmat kuno. Mereka bukan orang Yahudi, melainkan bangsa asing. Namun justru mereka datang untuk menyembah Yesus.

Di sini kita melihat sesuatu yang luar biasa: Allah dapat memakai pengetahuan manusia untuk membawa seseorang bertemu dengan-Nya, bahkan bagi mereka yang berada di luar umat pilihan. Tuhan tidak eksklusif bagi satu bangsa, tetapi terbuka bagi semua orang, dari segala latar belakang. Bahkan para gembala—yang dianggap marjinal—mendapatkan kesempatan istimewa untuk bertemu dengan-Nya.

Kita adalah orang-orang yang berharga di hadapan Tuhan. Seperti Ia menerima orang-orang Majus dari Timur, Ia pun menerima kita dari berbagai “arah”. Orang-orang Majus mempersembahkan emas, kemenyan, dan mur—bukan sebagai syarat untuk bertemu dengan Tuhan, melainkan sebagai respons penyembahan. Dalam konteks masa kini, Tuhan meminta agar kita mempersembahkan tubuh sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: dan itu adalah ibadah dan persembahan yang sejati (Rm. 12:1).

Tuhan Yesus memberkati

KITA ADALAH ORANG-ORANG YANG BERHARGA DI HADAPAN TUHAN. SEPERTI IA MENERIMA ORANG-ORANG MAJUS DARI TIMUR, IA PUN MENERIMA KITA DARI BERBAGAI “ARAH”.

Card image
KIDS DAILY DEVOTIONAL 04 Mei 2026 - HIKMAT YANG SESUNGGUHNYA
2026-05-05 18:08:33


Mazmur 111:10
“Permulaan hikmat adalah takut akan TUHAN, semua orang yang melakukannya berakal budi yang baik.”

Rehobot Kids, pernahkah kamu melihat orang yang sangat pintar? Mungkin jago matematika, menggambar, atau bermain games. Tapi tahukah kamu, ada sesuatu yang lebih hebat dari sekadar pintar? Namanya adalah hikmat.

Hikmat berarti kita tahu mana yang benar dan mana yang salah, lalu kita memilih melakukan yang benar. Dan firman Tuhan hari ini mengajarkan bahwa awal dari hikmat adalah takut akan Tuhan.

Takut akan Tuhan bukan berarti kita merasa takut seperti melihat sesuatu yang menyeramkan. Tetapi artinya kita mengasihi dan menghormati Tuhan, sehingga kita tidak ingin melakukan hal yang membuat hati-Nya sedih.

Yuk, Rehobot Kids, belajar memiliki hikmat setiap hari dengan mengasihi Tuhan dan memilih melakukan yang benar. Dengan begitu, kita menjadi anak yang bijaksana dan menyenangkan hati Tuhan.

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 04 Mei 2026 (English Version) - HONOR BEGINS WITH SIMPLE THINGS
2026-05-05 18:04:49


Proverbs 3:9
"Honor the Lord with your wealth and with the firstfruits of all your income."

We often think that honoring God and authority is something grand—evident in our service, words, or attitude in front of others. Yet God’s Word today reminds us that honor actually begins with simple things, including how we manage what we have.

Money may seem like a small matter in daily life, but it reveals the attitude of our hearts. How we use money—whether we are wasteful or wise, whether we prioritize God or ourselves—all reflect whether we truly honor God.

Honoring God with our possessions is not about the amount, but about the heart. When we learn to give the best, manage wisely, and not carelessly use what has been entrusted to us, we are learning to live in obedience.

The same applies to parents and authority figures—respect is not merely seen in words, but in concrete actions, including financial matters. When we are faithful in simple things, we are building a character that is pleasing to God. True respect always begins with small acts done faithfully.

WHAT TO DO?
• Evaluate how you use money—does it glorify God?
• Start learning to manage your finances wisely and avoid wastefulness.
• Train yourself to put God first in everything, including finances.

BIBLE MARATHON:
2 Corinthians 4

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 04 Mei 2026 - HORMAT DIMULAI DARI HAL SEDERHANA
2026-05-05 18:02:42


Amsal 3:9
"Muliakanlah TUHAN dengan hartamu dan dengan hasil pertama dari segala penghasilanmu."

Sering kali kita berpikir bahwa menghormati Tuhan dan otoritas adalah sesuatu yang besar—terlihat dari pelayanan, perkataan, atau sikap di depan orang lain. Namun firman Tuhan hari ini mengingatkan bahwa penghormatan justru dimulai dari hal-hal sederhana, termasuk bagaimana kita mengelola apa yang kita miliki.

Uang mungkin terlihat sebagai hal kecil dalam kehidupan sehari-hari, tetapi dari situlah sikap hati kita terlihat. Cara kita menggunakan uang, apakah kita boros atau bijaksana, apakah kita mendahulukan Tuhan atau diri sendiri, semuanya mencerminkan apakah kita sungguh menghormati Tuhan.

Menghormati Tuhan dengan harta bukan soal jumlah, tetapi soal hati. Ketika kita belajar memberi yang terbaik, mengelola dengan bijak, dan tidak sembarangan menggunakan apa yang dipercayakan, kita sedang belajar hidup dalam ketaatan.

Begitu juga dengan orang tua dan otoritas—sikap hormat tidak hanya terlihat dari kata-kata, tetapi dari tindakan nyata, termasuk dalam hal finansial. Saat kita setia dalam hal sederhana, kita sedang membangun karakter yang berkenan di hadapan Tuhan. Hormat yang sejati selalu dimulai dari hal kecil yang dilakukan dengan setia.

WHAT TO DO?
• Evaluasi cara kamu menggunakan uang—apakah sudah memuliakan Tuhan?
• Mulai belajar mengatur keuangan dengan bijak dan tidak boros.
• Latih diri untuk mendahulukan Tuhan dalam setiap hal, termasuk dalam finansial.

BIBLE MARATHON:
2 Korintus 4

Card image
Renungan Pagi - 04 Mei 2026
2026-05-05 18:00:52


Tuhan berkata kamu harus tinggalkan dosa, tapi kita justru mencari alasan-alasan untuk membenarkan diri, Tuhan berkata kamu harus mengampuni, tetapi kita terlalu memberatkan kesalahan orang lain.

Tuhan mau kita melayani Tuhan, tetapi mulai berpikir kalau saya melayani Tuhan, bagaimana dengan pekerjaan dan usaha saya?. Orang yang berbantah-bantahan dengan Tuhan akan kehilangan banyak hal yang indah dalam hidupnya.

Sebaliknya orang yang mentaati Tuhan dalam segala keadaan, kelihatannya untuk sementara waktu begitu berat, tetapi dia akan melihat kemuliaan yang dahsyat dan luar biasa.

Card image
Quote Of The Day - 04 Mei 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-05-05 12:53:30


Pengetahuan tentang Tuhan tidak membuat kita hidup, tapi pengetahuan tentang Tuhan yang diterjemahkan, yang diwahyukan oleh Roh Kudus di dalam hidup kita menjadi makanan rohani, itulah yang menghidupkan

Card image
Mutiara Suara Kebenaran - 04 Mei 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-05-05 12:52:25


Kehadiran kita telah dirancang oleh Allah, Pemilik langit dan bumi serta seluruh jagat raya. Oleh karena itu, hargailah kehidupan ini dengan cara hidup yang benar di hadapan-Nya.

Card image
PROPHECY - 04 Mei 2026 (English Version)
2026-05-05 12:51:22


Matthew 1:22-23
“This took place to fulfil what the Lord had said through the prophet: ‘The virgin will conceive and give birth to a son, and they will call him Immanuel’ which means ‘God with us.'”
This statement represents Matthew’s distinctive style compared to the other three Gospels. Throughout his writing, Matthew employs this style several times to show how events in the life of Jesus Christ fulfil Old Testament prophecies—”so that what was said through the prophet might be fulfilled.” Therefore, Matthew wants to convey that the presence of the Lord Jesus did not occur suddenly or without context, but is part of God’s plan, which had been proclaimed beforehand. God does have prerogative rights, but He does not use them carelessly. There is a mechanism, a process, and a background to all events. God is faithful to His own decrees.

As evidence of the presence of the Lord Jesus, this has been communicated since the Old Testament era, notably in Isaiah 7:14: “Therefore the Lord himself will give you a sign: The virgin will conceive and give birth to a son, and will call him Immanuel.” This statement not only carries theological meaning—divine proclamation—but also eschatological significance, as it is a prophecy about the future.

In “working,” God always lays a foundation before anything is done. God has a sort of blueprint for all His plans. Thus, our existence on this earth is also part of God’s wise planning. Every believer needs to find the reason for their existence in this world—what God’s purpose and intent for their life is. If God has designed the presence of Jesus Christ in this world, then our existence here cannot be separated from His plan. Therefore, we need to realize that our presence in this world is not a coincidence, not merely by chance, and certainly not an accident. Our presence has been designed by God, the Creator of heaven and earth and the entire universe. Therefore, value this life by living rightly before Him.

Matthew sees, through the Holy Spirit, that the text in the book of Isaiah foreshadows the birth of the Lord Jesus Christ, called Immanuel, meaning God with us. Immanuel is a title, a function, or a duty attributed to the Lord Jesus in the work of human salvation. He is not just “with us,” but also present, helping, supporting, and dwelling among us. Believers should no longer feel deficient in living their lives in this world because what humanity needs most is God, who is always with us, never leaving, always helping, and never forgetting.

At the beginning of Matthew’s writing, Jesus Christ is identified as Immanuel, and at the end, Matthew reaffirms this. In Matthew 28:20, it is written: “…And surely I am with you always, to the very end of the age.” God never changes—past, present, and forever—including regarding His presence.

From the moment of our presence in this world until we leave it, God is with us. Whatever the season of our life, He has been there. In the midst of struggles, problems, and life’s storms, God remains present and never departs. John 20:29 states: “Because you have seen me, you have believed; blessed are those who have not seen and yet have believed.” The Lord Jesus is the fulfilment of all the teachings of the Law and the Prophets. He is the long-awaited prophecy. Listen to Him!

The Lord Jesus bless you

THE LORD JESUS IS THE FULFILMENT OF ALL THE TEACHINGS OF THE LAW AND THE PROPHETS. HE IS THE LONG-AWAITED PROPHECY. LISTEN TO HIM!

Card image
NUBUATAN - 04 Mei 2026
2026-05-04 22:42:52


Matius 1:22-23
“Hal itu terjadi supaya genaplah yang difirmankan Tuhan oleh nabi: ‘Sesungguhnya, anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan mereka akan menamakan Dia Imanuel’—yang berarti: Allah menyertai kita.”

Pernyataan ini merupakan gaya penyampaian Matius yang sangat khas dan unik dibandingkan dengan tulisan di ketiga Injil lainnya. Dalam seluruh tulisannya, Matius menggunakan gaya penulisan seperti ini beberapa kali untuk menunjukkan bagaimana peristiwa-peristiwa dalam kehidupan Yesus Kristus menggenapi nubuat Perjanjian Lama—“supaya genaplah yang difirmankan Tuhan oleh nabi”. Dengan demikian, Matius ingin menyampaikan bahwa peristiwa kehadiran Tuhan Yesus tidak terjadi secara mendadak tanpa latar belakang, melainkan merupakan bagian dari rencana Allah yang telah dinyatakan sebelumnya. Allah memang memiliki hak prerogatif, tetapi Ia tidak menggunakannya secara sembarangan. Ada mekanisme, ada proses, dan ada latar belakang dari seluruh peristiwa. Allah setia pada ketetapan-Nya sendiri.

Sebagai bukti literasi kehadiran Tuhan Yesus, hal ini telah disampaikan sejak era Perjanjian Lama, yaitu dalam Yesaya 7:14: “Sebab itu Tuhan sendirilah yang akan memberikan kepadamu suatu pertanda: Sesungguhnya, seorang perempuan muda mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia akan menamakan Dia Imanuel.” Pernyataan ini bukan sekadar mengandung pemaknaan teologis—pernyataan ilahi—tetapi juga eskatologis, yaitu nubuat tentang masa depan.

Dalam “bekerja”, Allah selalu menetapkan dasar atau pijakan sebelum sesuatu dikerjakan. Allah memiliki semacam blueprint dari seluruh perencanaan-Nya. Untuk itu, eksistensi atau keberadaan kita di atas muka bumi ini pun tidak luput dari perencanaan Allah yang bijaksana. Setiap orang percaya perlu menemukan alasan mengapa ia ada di dunia ini—apa tujuan dan maksud Allah atas hidupnya. Jika Allah telah merancang kehadiran Yesus Kristus ke dalam dunia, maka keberadaan kita di dunia ini pun tidak dapat dilepaskan dari perencanaan-Nya. Dengan demikian, kita perlu menyadari bahwa kehadiran kita di dunia ini bukanlah sebuah kebetulan, bukan sekadar iseng, apalagi kecelakaan. Kehadiran kita telah dirancang oleh Allah, Pemilik langit dan bumi serta seluruh jagat raya. Oleh karena itu, hargailah kehidupan ini dengan cara hidup yang benar di hadapan-Nya.

Matius melihat, melalui perantaraan Roh Kudus, bahwa teks dalam kitab Yesaya adalah sebuah bayangan yang menemukan substansinya dalam kelahiran Tuhan Yesus Kristus yang disebut Imanuel, yang berarti Allah beserta kita. Imanuel adalah gelar, fungsi, atau tugas yang disematkan kepada Tuhan Yesus dalam karya penyelamatan manusia. Ia bukan hanya “beserta”, tetapi juga hadir, menolong, mendukung, dan tinggal di antara kita. Orang-orang percaya seharusnya tidak lagi merasa kekurangan apa pun dalam menjalani kehidupan di dunia, sebab yang paling dibutuhkan manusia adalah Allah yang senantiasa menyertai tanpa pernah meninggalkan, yang senantiasa menolong tanpa pernah melupakan.

Pada awal tulisan Matius, Yesus Kristus diidentifikasi sebagai Imanuel, dan pada akhir tulisannya pun Matius menegaskan hal yang sama. Dalam Matius 28:20 tertulis: “…Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” Allah tidak pernah berubah—dulu, sekarang, dan sampai selama-lamanya—termasuk dalam hal penyertaan-Nya.

Sejak awal kehadiran kita di dalam dunia ini hingga kita meninggalkannya, Allah beserta kita. Apa pun musim hidup kita, Ia telah ada di sana. Di tengah pergumulan, permasalahan, dan prahara kehidupan, Allah tetap hadir dan tidak pernah meninggalkan. Yohanes 20:29 berkata: “Karena engkau telah melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya.” Tuhan Yesus adalah penggenapan dari seluruh isi kitab Taurat dan para nabi. Ia adalah nubuatan yang telah dinantikan itu. Dengarkanlah Dia!

Tuhan Yesus memberkati

TUHAN YESUS ADALAH PENGGENAPAN DARI SELURUH ISI KITAB SURAT DAN PARA NABI. IA ADALAH NUBUATAN YANG TELAH DINANTIKAN ITU. DENGARKANLAH DIA!

Card image
KIDS DAILY DEVOTIONAL 03 Mei 2026 - JANGAN MERASA PALING PINTAR
2026-05-04 22:37:15


Amsal 3:7
“Janganlah engkau menganggap dirimu sendiri bijak, takutlah akan TUHAN dan jauhilah kejahatan.”

Ada seorang anak bernama Budi. Ia baru saja belajar naik sepeda roda dua. Karena sudah bisa mengayuh sepeda, Budi merasa dirinya sangat hebat. Ayahnya berkata, “Main sepedanya di halaman saja ya, jangan ke jalan raya.” Tetapi Budi berpikir ia sudah pintar, lalu diam-diam pergi ke jalan. Tiba-tiba ada mobil lewat dan membunyikan klakson. Budi kaget, kehilangan keseimbangan, dan akhirnya jatuh.

Budi merasa dirinya paling tahu, sehingga tidak mau mendengarkan nasihat Ayahnya. Padahal nasihat itu untuk melindunginya. Sikap merasa paling pintar bisa membuat kita mengambil keputusan yang salah.

Rehobot Kids, Firman Tuhan mengingatkan kita untuk tidak sombong, tetapi takut akan Tuhan. Artinya kita menghormati Tuhan, mengasihi-Nya, dan mau melakukan apa yang benar. Kita juga belajar mendengarkan nasihat dari orang tua dan guru.

Yuk, kita belajar menjadi anak yang rendah hati dan mau taat. Karena anak yang mau mendengar dan melakukan yang benar adalah anak yang benar-benar bijaksana.

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 03 Mei 2026 (English Version) - LIVING BY VALUES
2026-05-04 22:34:03


Proverbs 1:8-9
“My son, listen to your father’s instruction, and do not forsake your mother’s teaching, for they are a garland to your head and a necklace to your neck.”

We often say, “I respect my parents,” but when it comes to life values like honesty, discipline, or integrity, we sometimes choose the easy way out. Yet, respecting our parents and authority figures also means valuing the principles they’ve instilled in us. Those values serve as a foundation so we don’t easily waver in the face of life’s pressures.

As young people, we’re easily influenced by trends or others’ opinions. But if we have a strong foundation of values from home—like respecting our parents, being honest, and being disciplined—we won’t be easily swept away by the current. In fact, those values allow us to stand firm and become role models for others. Respecting our parents means we also respect the life principles they teach us.

So, don’t just say “I respect.” Show it through your way of life. If your parents teach you about honesty, don’t compromise with small lies. If they emphasize discipline, try to live by it consistently. From there, we learn that respect isn’t just a word, but a way of life that makes us role models as well.

WHAT TO DO?
• Apply the values your parents taught you in your daily decisions, no matter how small.
• Show respect through consistency: not just words, but through real actions.

BIBLE MARATHON:
2 Corinthians 3

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 03 Mei 2026 - LIVING BY VALUES
2026-05-04 12:38:06


Amsal 1:8-9
“Hai anakku, dengarkanlah didikan ayahmu, dan janganlah engkau melalaikan ajaran ibumu, sebab karangan yang indah bagi kepalamu dan suatu kalung bagi lehermu.”

Kita sering bilang “aku respect sama orang tua,” tapi kalau soal nilai hidup kayak kejujuran, disiplin, atau integritas kadang kita lebih pilih jalan gampang. Padahal, menghormati orang tua dan otoritas berarti juga menghargai prinsip yang mereka tanamkan. Nilai itu jadi fondasi supaya kita nggak gampang goyah di tengah tekanan hidup.

Sebagai anak muda, kita gampang banget terpengaruh tre atau opini orang lain. Tapi kalau kita punya dasar nilai yang kuat dari rumah kayak menghargai orang tua, jujur, dan disiplin kita nggak akan mudah terbawa arus. Justru nilai itu bikin kita bisa berdiri teguh dan jadi teladan buat orang lain. Hormat pada orang tua berarti kita juga menghormati prinsip hidup yang mereka ajarkan.

Jadi, jangan cuma bilang “aku respect.” Tunjukkan lewat cara hidupmu. Kalau orang tua ngajarin tentang kejujuran, jangan kompromi dengan kebohongan kecil. Kalau mereka tekankan disiplin, coba jalani dengan konsisten. Dari situ, kita belajar bahwa hormat itu bukan sekadar kata, tapi gaya hidup yang bikin kita jadi teladan juga.

WHAT TO DO?
• Terapkan nilai yang diajarkan orang tua dalam keputusan sehari-hari, sekecil apapun.
• Tunjukkan hormat lewat konsistensi: bukan cuma bicara, tapi lewat tindakan nyata.

BIBLE MARATHON:
2 Korintus 3

Card image
Renungan Pagi - 03 Mei 2026
2026-05-04 12:34:35


Tidak mungkin orang yang hatinya lurus kemudian menyimpan dendam, sakit hati dan kekecewaan; tidak akan mungkin dia akan mengotori hatinya dengan kepahitan.

Jadi prinsipnya sederhana yaitu orang boleh mereka-rekakan kejahatan tetapi Tuhan selalu mereka-rekakannya untuk kebaikan.

Card image
Quote Of The Day - 03 Mei 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-05-04 12:33:02


Tuhan mengajar dan membuka pikiran orang-orang yang dengan rendah hati menghampiri dan selalu mencari pengenalan akan Allah.

Card image
Mutiara Suara Kebenaran - 03 Mei 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-05-04 12:32:00


Allah dapat melakukan segala sesuatu yang terlihat mustahil di mata manusia, tetapi tidak ada yang mustahil di hadapan-Nya.

Card image
THE BIRTH OF JESUS - 03 Mei 2026 (English Version)
2026-05-04 12:30:56


The narrative in Matthew 1:18-25 must be read within the context of the previous chapter. This section continues and explains the genealogy in verses 1–17. However, it shifts from a list of names to a prose narrative—a freely composed account.

The previous chapter showed the genealogy of the Lord Jesus. Now, it explains how the last name “Jesus Christ” entered that genealogy. If we read verses 1–17 more carefully, we notice an asymmetrical statement. In verse 16, Matthew writes: “…Joseph the husband of Mary, of whom was born Jesus…” Why does it not read like the earlier verses: “…Joseph who fathered Jesus”? The answer is found in verses 18–25.

Matthew uses the same word to describe origin, birth, or genealogy in both verse 1 and verse 18. This is not accidental. In verse 18, Matthew wants to emphasize that the true origin, birth, or genealogy of Jesus Christ is not only the list of His ancestors, but also His moment of birth itself: “…Now the birth of Jesus Christ was as follows: when his mother Mary had been betrothed to Joseph, before they came together she was found to be with child of the Holy Spirit.”

In first-century Jewish tradition, betrothal was not merely a promise to marry as we understand engagement in the modern world. Betrothal was a binding legal contract. Thus, a betrothed couple was legally considered husband and wife, even though they had not yet lived together or had sexual relations. Breaking a betrothal required a formal bill of divorce, just as divorce would in other circumstances. If a man died during the betrothal period, the woman was called a widow, not an ex-fiancée. This is important for understanding the shock Joseph felt upon discovering that Mary was pregnant.

God can do anything that seems impossible to humans; nothing is impossible before Him. Filling Mary’s womb with the seed of Jesus through the agency of the Holy Spirit is God’s unparalleled masterpiece. It is a demonstration of God’s greatness and, at the same time, shows His prerogative in bringing forth the Son of Man who would become the Redeemer of humanity. Do not limit God in bringing about His works, His formation, and His will in the lives of believers. What is required of believers is wholehearted submission and obedience. Surely, all will result in good.

Finding Mary pregnant in an irregular way made it understandable that Joseph intended to divorce Mary quietly. The pregnancy was real, visible, and could not be hidden. Risks and dangers awaited them both. Joseph did not know that his betrothed Mary’s pregnancy was from the Holy Spirit.

In verse 19, it is said: “For Joseph her husband…” Matthew refers to Joseph as Mary’s husband, not her fiancé. Again, this statement affirms that under Jewish law, Joseph and Mary were already in a binding marital status, even though they had not yet lived together. It is stated that Joseph was a man of good heart, moral, just, and devout in a religious sense—living according to the Law (Torah) of the Old Covenant. Yet what Joseph did next seems like a contradiction. How could a man known as righteous, devout, and law-abiding not strictly enforce the law?

Joseph chose not to disgrace Mary for her unusual pregnancy publicly. Did not the Torah permit public accusation and, in extreme cases, even prescribe the death penalty by stoning? Not only pregnancy outside marriage, but a woman found guilty of adultery (John 8:1–11) could be judged and stoned to death. Yet Joseph chose a different path.

The truth of the Torah must be upheld, but love fulfils the law. This statement does not set one side against the other. Instead, it shows the true meaning of the law itself. Love and compassion are its core and foundation. Joseph understood the law more deeply than as mere rules. Love overcomes all. That is why Joseph became part of God’s long process of human salvation. As believers, we should follow Joseph’s example. Love and compassion, even toward enemies, should be given—given, and given.

The Lord Jesus bless you

LOVE AND COMPASSION, EVEN TOWARD ENEMIES, SHOULD BE GIVEN—GIVEN, AND GIVEN.

Card image
KELAHIRAN YESUS KRISTUS - 03 Mei 2026
2026-05-04 12:29:19


Narasi pada Injil Matius 1:18-25 tidak dapat berdiri sendiri atau dipisahkan dari perikop sebelumnya. Bagian ini merupakan kelanjutan langsung dan penjelasan mendalam dari rangkaian silsilah yang terangkai dalam ayat 1-17. Namun, terdapat perbedaan atau perpindahan topik yang cukup signifikan, yaitu dari silsilah atau daftar nama menjadi narasi prosa, yaitu bentuk karya sastra naratif yang disusun secara bebas.

Pada perikop sebelumnya hendak disampaikan bahwa kita telah melihat daftar nama-nama dalam silsilah Tuhan Yesus, dan sekarang akan diceritakan bagaimana nama terakhir (Yesus Kristus) itu muncul di sana. Jika kita membaca ayat 1-17 dengan lebih teliti, akan ditemukan sebuah perubahan atau pernyataan yang terlihat asimetris. Pada ayat ke-16, Matius menulis: “…Yusuf suami Maria, yang melahirkan Yesus…” Mengapa tidak ditulis secara simetris seperti ayat-ayat sebelumnya: “…Yusuf yang memperanakkan Yesus”? Jawabannya terdapat dalam ayat 18-25.

Matius menggunakan kata yang sama dalam menceritakan asal-usul, kelahiran, atau silsilah, baik pada ayat ke-1 maupun ayat ke-18. Ini bukan kebetulan. Pada ayat ke-18, Matius hendak menekankan bahwa asal-usul, kelahiran, atau silsilah yang sesungguhnya dari Yesus Kristus bukan hanya terdiri dari daftar keturunan-Nya, tetapi juga momen kelahiran-Nya sendiri: “…Pada waktu Maria, ibu-Nya, bertunangan dengan Yusuf, ternyata ia mengandung dari Roh Kudus, sebelum mereka hidup sebagai suami istri.”

Dalam tradisi Yahudi abad pertama, pertunangan bukan sekadar janji untuk menikah seperti yang kita pahami di dunia modern saat ini. Pertunangan adalah ikatan hukum yang mengikat. Dengan demikian, pasangan yang bertunangan sudah dianggap sebagai suami-istri secara hukum, meskipun mereka belum tinggal bersama dan belum ada hubungan fisik. Untuk memutuskan pertunangan, diperlukan surat cerai yang sah di mata hukum, sama seperti perceraian. Jika seorang laki-laki meninggal dalam masa pertunangan, perempuan tersebut disebut janda—bukan mantan tunangan. Hal ini sangat penting untuk memahami guncangan yang dirasakan Yusuf ketika ia mendapati Maria mengandung.

Allah dapat melakukan segala sesuatu yang terlihat mustahil di mata manusia, tetapi tidak ada yang mustahil di hadapan-Nya. Mengisi rahim Maria dengan benih Yesus melalui perantaraan Roh Kudus merupakan mahakarya Allah yang tidak ada duanya. Ini adalah demonstrasi kebesaran Allah sekaligus menunjukkan hak prerogatif-Nya dalam menghadirkan Sang Anak Manusia yang akan menjadi Penebus umat manusia. Jangan membatasi Allah dalam menghadirkan karya-Nya, pembentukan-Nya, dan kehendak-Nya dalam kehidupan orang-orang percaya. Yang diperlukan oleh orang percaya adalah penurutan serta ketaatan tanpa syarat. Niscaya, semua akan mendatangkan kebaikan.

Mendapati Maria hamil di luar kewajaran merupakan hal yang wajar jika Yusuf memiliki niat menceraikan Maria secara diam-diam. Kehamilan itu nyata, terlihat, dan tidak dapat disembunyikan. Risiko dan bahaya menanti mereka berdua. Yusuf tidak mengetahui bahwa kehamilan Maria, tunangannya, berasal dari Roh Kudus.

Pada ayat ke-19 disebutkan: “Karena Yusuf suaminya…” Matius menyebut Yusuf sebagai suami Maria, bukan tunangannya. Sekali lagi, pernyataan ini merupakan penegasan bahwa dalam hukum Yahudi, Yusuf dan Maria sudah berada dalam status pernikahan yang mengikat, meskipun belum tinggal bersama. Disampaikan bahwa Yusuf adalah seorang yang tulus hati, bermoral, adil, dan saleh dalam arti religius, yaitu hidup sesuai dengan hukum Taurat dalam Perjanjian Lama. Namun, apa yang dilakukan Yusuf setelahnya tampak seperti sebuah kontradiksi. Bagaimana mungkin seorang yang dikenal benar, saleh, dan taat hukum justru tidak menegakkan hukum secara keras?

Yusuf memilih untuk tidak mempermalukan Maria di depan publik atas kehamilannya yang tidak lazim. Bukankah hukum Taurat memperbolehkan hal tersebut diumumkan, bahkan dalam kasus ekstrem dapat berujung pada hukuman rajam? Jangankan hamil di luar pernikahan, seorang perempuan yang kedapatan berbuat zina (Yoh. 8:1-11) dapat dihakimi dengan dilempari batu hingga mati. Namun Yusuf memilih jalan yang berbeda.

Kebenaran dalam hukum Taurat memang harus ditegakkan, tetapi kasih menyempurnakan hukum itu. Pernyataan ini bukan hendak mempertentangkan atau merendahkan satu sisi dengan sisi lainnya, melainkan menunjukkan pemaknaan hakiki dari hukum itu sendiri. Kasih dan belas kasihan adalah inti, dasar, atau pusat dari hukum tersebut. Yusuf memahami hukum dengan cara yang lebih dalam daripada sekadar aturan. Kasih mengatasi segalanya. Itulah yang telah dilakukan Yusuf ketika ia menjadi bagian dalam proses panjang karya penyelamatan manusia yang telah diinisiasi oleh Allah. Sebagai orang-orang percaya, kita harus mengikuti teladan yang telah ditunjukkan oleh Yusuf. Kasih dan belas kasihan kepada sesama, bahkan kepada musuh, tidak boleh kita simpan, tetapi harus kita berikan—berikan, dan berikan.

Tuhan Yesus memberkati

KASIH DAN BELAS KASIHAN KEPADA SESAMA, BAHKAN KEPADA MUSUH, TIDAK BOLEH KITA SIMPAN, TETAPI HARUS KITA BERIKAN—BERIKAN, DAN BERIKAN.

Card image
KIDS DAILY DEVOTIONAL 02 Mei 2026 - MEMINTA HIKMAT DARI TUHAN
2026-05-04 07:28:51


Yakobus 1:5
“Apabila di antara kamu ada yang kekurangan hikmat, hendaklah ia memintakannya kepada Allah—yang memberikan kepada semua orang dengan murah hati dan dengan tidak membangkit-bangkit—maka hal itu akan diberikan kepadanya.” Rehobot Kids, kadang-kadang kita bingung harus melakukan apa. Misalnya saat ada teman yang bertengkar dan kita tidak tahu harus bersikap bagaimana, atau ketika kita harus memilih antara bermain dulu atau mengerjakan tugas. Dalam keadaan seperti itu, kita membutuhkan hikmat.

Hikmat adalah kemampuan untuk mengerti apa yang benar dan memilih melakukan hal yang baik. Kabar baiknya, Tuhan mau memberikan hikmat kepada kita jika kita memintanya. Saat kita bingung, kita bisa datang kepada Tuhan dalam doa dan meminta pertolongan-Nya.

Sama seperti kita bertanya kepada guru saat tidak mengerti pelajaran, kita juga bisa bertanya kepada Tuhan. Tuhan tidak marah ketika kita meminta hikmat. Sebaliknya, Tuhan senang ketika kita datang kepada-Nya dengan hati yang percaya.

Jadi, Rehobot Kids, jika kamu merasa bingung atau tidak tahu harus memilih yang mana, berdoalah kepada Tuhan. Mintalah hikmat dari-Nya. Tuhan akan menolongmu membuat pilihan yang baik dan menyenangkan hati-Nya.

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 02 Mei 2026 - RESPECT STARTS AT HOME
2026-05-04 07:27:19


Ephesians 6:1
“Children, obey your parents in the Lord, for this is right.”

Rehobot Youth, let’s be honest—sometimes home is the easiest place for us to “lose control.” Outside, we can be polite, well-mannered, and even seem mature. But at home? We give half-hearted answers, don’t feel like listening, or feel like the rules are “getting in the way of our freedom.” Yet it’s precisely at home that our character is being shaped most tangibly.

Respecting parents and authority at home isn’t about fearing scolding, but about a heart that understands their role. God placed them not to restrict you, but to protect and shape you. Even when rules feel uncomfortable, that’s where we learn obedience, patience, and humility.

Jesus Himself, even though He was the Son of God, still lived in obedience to His earthly parents. That is proof that obedience is not a sign of weakness, but a sign of maturity. If we can learn to respect at home, we will also be better prepared to face the world outside with the right attitude.

So, don’t wait to be told before you act. Don’t wait to be scolded before you change. Respect starts with small things—the way we speak, the way we respond, and the way we value the authority God has placed in our lives.

WHAT TO DO?
• Learn to respond to your parents with a polite attitude, not with emotions.
• Do small things without being told as a form of responsibility.
• Remember, honoring your parents = honoring God.

BIBLE MARATHON:
2 Corinthians 2

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 02 Mei 2026 - RESPECT STARTS AT HOME
2026-05-03 22:00:40


Efesus 6:1
“Hai anak-anak, taatilah orang tuamu di dalam Tuhan, karena haruslah demikian.”

Rehobot Youth, jujur aja—kadang rumah jadi tempat paling gampang buat kita “lepas kontrol.” Di luar kita bisa sopan, santun, bahkan kelihatan dewasa. Tapi di rumah? Jawab seadanya, males dengerin, atau ngerasa aturan itu “ngeganggu kebebasan.” Padahal justru di rumah, karakter kita lagi dibentuk paling nyata.

Menghormati orang tua dan otoritas di rumah bukan soal takut dimarahin, tapi soal hati yang ngerti posisi. Tuhan taruh mereka bukan buat ngebatasi kamu, tapi buat menjaga dan membentuk kamu. Bahkan ketika aturan terasa nggak enak, di situlah kita belajar taat, sabar, dan rendah hati.

Yesus sendiri, walaupun Dia Anak Allah, tetap hidup taat kepada orang tua-Nya di bumi. Itu bukti bahwa ketaatan bukan tanda lemah, tapi tanda kedewasaan. Kalau kita bisa belajar hormat di rumah, kita juga akan lebih siap menghadapi dunia di luar dengan sikap yang benar.

Jadi, jangan tunggu disuruh baru bergerak. Jangan tunggu dimarahin baru berubah. Respect itu dimulai dari hal kecil—cara bicara, cara respon, dan cara kita menghargai otoritas yang Tuhan taruh dalam hidup kita.

WHAT TO DO?
• Belajar jawab orang tua dengan sikap yang sopan, bukan emosi.
• Lakukan hal kecil tanpa disuruh sebagai bentuk tanggung jawab.
• Ingat, menghormati orang tua = menghormati Tuhan.

BIBLE MARATHON:
2 Korintus 2

Card image
Renungan Pagi - 02 Mei 2026
2026-05-03 15:59:13


Cinta Yesus berarti siap untuk melayani dengan menjaga perkataan yang jujur, tulus dan berkualitas; perkataan kita harus membangun dan membawa berkat, karena hidup dan mati dikuasai oleh lidah.

Semakin cinta Yesus, semakin semangat untuk melayani Tuhan dengan perkataan yang berkualitas, perkataan yang membangun dan menjadi berkat bagi orang-orang yang ada disekitar kita.

Card image
Quote Of The Day - 02 Mei 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-05-02 22:22:04


Penyebab mengapa banyak orang tidak haus dan lapar akan kebenaran adalah tidak percaya bahwa hanya pada Tuhan ada kepuasan hidup yang sejati, sehingga pikiran dan cita rasa jiwanya diwarnai oleh percintaan dunia.

Card image
Mutiara Suara Kebenaran - 02 Mei 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-05-02 22:20:54


Allah dapat memakai situasi yang paling tidak diharapkan untuk proyek penyelamatan manusia, bahkan mungkin pula melalui tindakan yang tampaknya memalukan.

Card image
WOMEN IN THE GENEALOGY - 02 Mei 2026 (English Version)
2026-05-02 21:37:39


The literary tradition of the Jewish people employs a patriarchal system. This social or cultural system positions men as the primary holders of power, dominating leadership roles, moral authority, social rights, and property ownership. This system often places women in a subordinate position (second-class citizens) and creates gender inequality in various aspects of life, including family, economy, and politics. Similarly, in Jewish genealogy, women’s names are rarely included. Women’s names are not mentioned because genealogy in Jewish society records male lineage, not women’s.

However, there is a significant departure from tradition in the Gospel according to Matthew. Unlike typical genealogies, Matthew includes the names of at least five women. These five women are not there by coincidence; each carries a story with significant theological dimensions. They are Tamar, Rahab, Ruth, the wife of Uriah, and Mary. On this occasion, the author will only share the stories of Tamar and Rahab.

Tamar was the daughter-in-law of Judah. Her husband had died. On the other hand, Judah did not fulfil the levirate obligation to marry Tamar to another son. In desperation, because Tamar had no offspring, she disguised herself as a prostitute and tricked Judah into sleeping with her. When Judah was about to have Tamar executed for her actions, she revealed her identity—and Judah said: “She is more righteous than I.”

Tamar’s presence in the genealogy of the Lord Jesus powerfully reminds us that God can use even the most unexpected and broken situations for His purpose of salvation. Even when our circumstances seem disgraceful or hopeless, God chooses to work. He does not wait for a clean or perfect lineage before moving into our lives. Let this encourage your heart: as Romans 8:28 declares, “And we know that in all things God works for the good of those who love him, who have been called according to his purpose.” Hold on to this promise as you walk with Him.

We believe that God can use every means to bring good to those who love Him. Once again, even through very shameful and heartbreaking ways. However, many believers are unaware of God’s great and wonderful plan. Many believers are angry with their situations, with their problems, and with all of life’s struggles.

Therefore, it is important to remember: never think that God’s love is about giving us everything we ask for. Instead, God’s love for those He loves may involve taking something away from us. God’s inclusion of Tamar’s story in Matthew’s genealogy of the Lord Jesus is neither shameful nor disgusting, nor does it damage the sanctity of scripture. On the contrary, God teaches that behind something broken, He can transform it into something good. God never hides the evils, blemishes, and failures of His chosen people. As long as a person remains “close” to God, He will use various means to educate His children.

The next woman mentioned is Rahab, whose life story is not too different from Tamar’s. Rahab was a Canaanite, a foreign nation, even a people that were enemies of Israel. Rahab was a prostitute in the city of Jericho. However, in one event, she risked her life to hide the Israelite spies. Rahab’s actions demonstrated her faith in the God of Israel. Because of her actions, she was saved when the city of Jericho fell. Rahab married Salmon and became an ancestor of David.

Remember, God manifests His presence through events that educate, protect, and guide believers. Rahab’s story shows that faith in God transcends background, ethnicity, or moral failings.

In the genealogy of the Messiah, we see Canaanite blood, foreign blood, even the blood of former enemies—proof that God’s plan is unstoppable, no matter our past. As you reflect on your own journey, especially if you face fear or worry today, be assured: God the Father, Elohim Yahweh, can transform the most painful events into blessings for those who love Him. So step forward in faith, choosing daily to LOVE THE LORD YOUR GOD WITH ALL YOUR HEART, SOUL, AND MIND. Trust Him completely—He is faithful.

The Lord Jesus bless you
God can use even the most unexpected and broken situations for His purpose of salvation.

Card image
PEREMPUAN-PEREMPUAN DALAM SILSILAH - 02 Mei 2026
2026-05-02 21:34:00


Tradisi literasi bangsa Yahudi menggunakan sistem patriarki, yaitu suatu sistem sosial atau budaya yang menempatkan laki-laki sebagai pemegang kekuasaan utama, mendominasi dalam peran kepemimpinan, otoritas moral, hak sosial, dan penguasaan properti. Sistem ini sering kali memosisikan perempuan secara subordinat (masyarakat kelas dua) dan menciptakan ketidaksetaraan gender di berbagai aspek kehidupan, termasuk keluarga, ekonomi, dan politik. Begitu pula dalam silsilah Yahudi, nama perempuan hampir tidak pernah dicantumkan. Nama-nama perempuan tidak disebutkan karena silsilah dalam masyarakat Yahudi adalah dokumen tentang garis keturunan laki-laki, bukan untuk perempuan.

Namun yang luar biasa adalah Matius setidaknya mencantumkan nama lima perempuan dalam penulisan silsilah ini. Kelima nama perempuan itu bukanlah sebuah kebetulan, tetapi masing-masing membawa sebuah cerita dalam dimensi teologis yang sangat bermakna. Mereka adalah Tamar, Rahab, Rut, istri Uria, dan Maria. Pada kesempatan ini, penulis hanya menyampaikan kisah kehidupan Tamar dan Rahab.

Tamar adalah menantu Yehuda. Suaminya telah mati. Pada sisi yang lain, Yehuda tidak menunaikan kewajiban levirat atau menikahkan Tamar dengan anak laki-lakinya yang lain. Dalam keputusasaan, karena Tamar tidak memiliki keturunan, ia menyamar sebagai pelacur dan menipu Yehuda sendiri untuk menghamilinya. Ketika Yehuda hampir menghukum mati Tamar atas perilakunya, Tamar mengungkapkan identitasnya—dan Yehuda berkata: “Ia lebih benar dari padaku.”

Kehadiran Tamar dalam silsilah atau garis keturunan Tuhan Yesus menyiratkan bahwa Allah dapat memakai situasi yang paling tidak diharapkan untuk proyek penyelamatan manusia, bahkan mungkin pula melalui tindakan yang tampaknya memalukan. Allah tidak menunggu garis keturunan yang bersih dan sempurna. Roma 8:28 berkata, “Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.”

Kita percaya bahwa Allah dapat menggunakan segala cara untuk mendatangkan kebaikan kepada orang-orang yang mengasihi Dia. Sekali lagi, bahkan melalui cara yang sangat memalukan dan memilukan hati. Namun, faktanya banyak orang percaya yang sebenarnya tidak tahu rencana Allah yang agung dan hebat ini. Tidak sedikit orang percaya yang marah dengan keadaannya, dengan permasalahannya, dan dengan segala pergumulan hidupnya.

Jangan pernah berpikir bahwa bentuk kasih Allah adalah memberikan segala sesuatu yang kita minta. Namun, bentuk kasih Allah kepada orang-orang yang dikasihi-Nya justru bisa berupa mengambil sesuatu dari kita. Kebijakan Allah dengan memasukkan peristiwa Tamar melalui Matius dalam silsilah Tuhan Yesus bukanlah sesuatu yang memalukan, menjijikkan, atau bahkan merusak kesakralan kitab suci. Sebaliknya, Allah mengajarkan bahwa di balik sesuatu yang rusak, Dia dapat mengubahnya menjadi sesuatu yang baik. Allah tidak pernah menutup-nutupi kejahatan, kecemaran, dan kegagalan orang-orang pilihan-Nya. Selama orang itu tetap “dekat” dengan Allah, Dia akan menggunakan berbagai cara untuk mendidik anak-anak-Nya.

Nama perempuan berikutnya adalah Rahab, yang juga memiliki cerita hidup yang tidak jauh berbeda dengan Tamar. Rahab adalah perempuan Kanaan, bangsa asing, bahkan bangsa yang menjadi musuh Israel. Rahab adalah seorang pelacur di kota Yerikho. Namun, dalam satu peristiwa, ia mengambil risiko dengan pertaruhan nyawanya untuk menyembunyikan para pengintai Israel. Tindakan yang diambil Rahab menyatakan imannya kepada Allah Israel. Atas tindakannya itulah, ia terselamatkan ketika kota Yerikho jatuh. Rahab menikah dengan Salmon dan menjadi salah satu nenek moyang Daud.

Sekali lagi perlu senantiasa diingat: Allah memerlukan sebuah peristiwa untuk menghadirkan eksistensi-Nya sebagai bagian dari cara-Nya mendidik, melindungi, dan mengarahkan orang-orang percaya. Seperti cerita Rahab, iman untuk memercayai Allah Israel mengalahkan latar belakang, etnis, dan moral kehidupan seseorang. Bahkan, Allah tidak pernah menolak orang-orang yang pernah menolak-Nya.

Dalam silsilah Mesias, terdapat darah Kanaan, darah asing, atau darah musuh. Ada masa lalu yang kelam, dan itu tidak akan mengubah rencana Allah. Bagaimana keadaan Bapak/Ibu saat ini? Apakah sedang berada dalam situasi yang menakutkan dan mengkhawatirkan? Percayalah, Allah Bapa, Elohim Yahweh, dapat menggunakan berbagai peristiwa kehidupan yang paling getir untuk mendatangkan kebaikan bagi orang-orang yang mengasihi-Nya. Kuncinya hanya satu, yakni: KASIHILAH TUHAN ALLAHMU DENGAN SEGENAP HATI, JIWA, DAN PIKIRANMU.

Tuhan Yesus memberkati

Allah memerlukan sebuah peristiwa untuk menghadirkan eksistensi-Nya sebagai bagian dari cara-Nya mendidik, melindungi, dan mengarahkan orang-orang percaya.

Card image
KIDS DAILY DEVOTIONAL 01 Mei 2026 - BELAJAR BIJAK DENGAN MENGHORMATI TUHAN
2026-05-02 18:08:51


Amsal 1:7
“Takut akan TUHAN adalah permulaan pengetahuan, tetapi orang bodoh menghina hikmat dan didikan.”

Rehobot Kids, setiap hari kita membuat banyak pilihan. Misalnya memilih berkata jujur atau berbohong, berbagi dengan teman atau menyimpan semuanya sendiri, serta membantu orang lain atau mengabaikannya. Untuk memilih yang benar, kita membutuhkan hikmat dari Tuhan.

Hikmat berarti kemampuan untuk memilih dan melakukan hal yang benar. Alkitab mengajarkan bahwa hikmat dimulai dari takut akan Tuhan. Takut akan Tuhan bukan berarti kita merasa ngeri kepada-Nya, tetapi menghormati, mengasihi, dan ingin melakukan apa yang menyenangkan hati Tuhan.

Bayangkan saat kita bermain di taman yang memiliki papan petunjuk. Jika kita mengikuti petunjuk itu, kita akan tetap aman. Tetapi jika kita mengabaikannya, kita bisa jatuh atau terluka. Begitu juga dengan firman Tuhan. Saat kita menghormati Tuhan dan mengikuti firman-Nya, kita belajar membuat pilihan yang baik.

Yuk, Rehobot Kids, belajar menghormati Tuhan setiap hari dengan berdoa, mendengarkan firman-Nya, dan memilih melakukan hal yang benar. Dengan begitu, Tuhan menolong kita menjadi anak-anak yang bijaksana dan menyenangkan hati-Nya.

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 01 Mei 2026 - TRUE HONOR
2026-05-02 18:06:48


Exodus 20:12
“Honor your father and your mother, so that you may live long in the land the LORD your God is giving you.”

Sometimes it’s easy to say “I love you” or “I respect you,” but when asked to help, obey, or follow our parents’ decisions, it feels really hard. Yet, respect isn’t just about sweet words—it must be shown through real actions. God gives a clear command: honor your father and mother. This isn’t just a formality, but the foundation of a healthy relationship that makes our lives long and full of blessings.

When Samuel was still a child, he learned to obey the priest Eli, even before he understood all the great things about God. His respectful attitude led God to use him in extraordinary ways. From Samuel, we learn: respecting authority doesn’t mean we lose our freedom; rather, it opens the door for God to work even more powerfully in our lives.

In today’s world, it’s all too easy to challenge parents or leaders with the excuse, “I have my own opinion.” That’s perfectly fine, but if our attitude is rude or rebellious, we’re actually closing the door to blessings. Respect doesn’t mean agreeing 100% with everything, but the way we express our opinions must remain polite, loving, and show respect.

So, if you want a healthy relationship, start with simple things: listen first before responding, help without being asked, and show respect through small actions. Remember, words can be sweet, but consistent actions make others truly feel valued.

WHAT TO DO?
• Take time to help your parents without being asked (for example, tidy up the house or help with shopping).
• When facing major decisions, learn to discuss them with a respectful attitude, not by getting defensive or stubborn.
• Show love through small daily actions—because respect is real when it’s visible.

BIBLE MARATHON:
2 Corinthians 1

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL - TRUE HONOR
2026-05-02 17:54:14


Keluaran 20:12
“Hormatilah ayahmu dan ibumu, supaya lanjut umurmu di tanah yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu.”

Kadang kita gampang bilang “I love you” atau “aku hormat kok,” tapi kalau disuruh bantu, taat, atau nurut keputusan orang tua, rasanya berat banget. Padahal, hormat itu bukan cuma kata-kata manis itu harus kelihatan lewat tindakan nyata. Tuhan kasih perintah jelas: hormati ayah dan ibu. Itu bukan sekadar formalitas, tapi fondasi hubungan sehat yang bikin hidup kita panjang dan penuh berkat.

Saat Samuel masih kecil, dia belajar taat sama imam Eli, bahkan sebelum ngerti semua hal besar tentang Tuhan. Sikap hormatnya bikin dia dipakai Tuhan luar biasa. Dari Samuel kita belajar: menghormati otoritas bukan berarti kita kehilangan kebebasan, tapi justru membuka jalan buat Tuhan bekerja lebih besar dalam hidup kita.

Di zaman sekarang, gampang banget nge-challenge orang tua atau pemimpin dengan alasan “aku punya pendapat sendiri.” Itu sah-sah aja, tapi kalau sikap kita kasar atau penuh pemberontakan, kita malah nutup pintu berkat. Hormat itu bukan berarti setuju 100% sama semua hal, tapi cara kita menyampaikan pendapat harus tetap sopan, penuh kasih, dan menunjukkan respek.

Jadi, kalau mau punya hubungan sehat, mulai dari hal sederhana: dengar dulu sebelum jawab, bantu tanpa disuruh, dan tunjukkan rasa hormat lewat tindakan kecil. Ingat, kata-kata bisa manis, tapi tindakan yang konsisten bikin orang lain benar-benar merasa dihargai.

WHAT TO DO?
• Luangkan waktu buat bantu orang tua tanpa diminta (misalnya beresin rumah atau bantu belanja).
• Kalau ada keputusan besar, belajar diskusi dengan sikap hormat, bukan ngegas atau ngeyel.
• Tunjukkan kasih lewat tindakan kecil setiap hari—karena hormat itu nyata kalau terlihat.

BIBLE MARATHON:
2 Korintus 1

Card image
Quote Of The Day - 01 Mei 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-05-02 17:50:17


Tuhan akan memberkati pada saat kita siap melepaskan.

Card image
Mutiara Suara Kebenaran - 01 Mei 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-05-02 17:49:20

????????????? ?? ??????:
Panggilan orang percaya bukan hanya percaya kepada Tuhan, tetapi menampilkan wajah-Nya melalui hidup kita.

Card image
THE GATEWAY - 01 Mei 2026 (English Version)
2026-05-02 17:48:24


Matthew 1:1-17 is not merely a list of names or a genealogy of a “family” but contains deep stories and meanings. This passage serves as the “gateway” to the Gospel of Matthew. Therefore, to discover the “spaces” within the Gospel of Matthew, every reader must first pass through this gateway. All the major themes found in the Gospel of Matthew, which consists of twenty-eight chapters, are orchestrated by this opening passage.

In the Jewish literary tradition, the term or word for genealogy does not merely refer to genealogical documents, studies of origins, family histories, or the tracing of lines of descent based on blood ties. Rather, genealogy also contains a theological statement: the nature of God, His attributes, and His relationship with humanity and the universe. The genealogy listed, which spans seventeen verses, reveals who these people are and why their names are recorded. Thus, the placement of this list at the beginning of the writing intends to convey: “You need to know who He is and where He comes from before hearing all His words and teachings.”

The placement of the Gospel of Matthew at the beginning of the New Testament canon is strategic. Here, the genealogy becomes the first narrative read, tracing the long journey of the books within the New Testament. This passage serves as a bridge between the Old and New Testaments. It draws a thread from Abraham in the book of Genesis, through David in 2 Samuel, through the prophets and kings, until it reaches the central figure, the focal point of both covenants, the Lord Jesus Christ.

Let us delve deeper by exploring the verses in Matthew 1:1-17. Verse 1 states: “This is the genealogy of Jesus Christ, the son of David, the son of Abraham.” This opening sentence literally refers to a book of origins or a list of births. It appears that what Matthew writes as the gateway to the New Testament cannot be separated from the statements found in the Old Testament. There are at least two relevant references: Genesis 2:4: “This is the account of the heavens and the earth when they were created,” and Genesis 5:1: “This is the written account of Adam’s descendants.”

Matthew presents the genealogy to convey a crucial thesis: with Jesus’ birth, a creation episode and a pivotal moment in humanity’s salvation history begin. Jesus does not merely join the pre-existing human narrative; He initiates a new history.

The statement “Jesus Christ” refers to Jesus, who is anointed. This is the title held by the Lord Jesus. Thus, the placement of this title at the opening of the Gospel serves as a declaration, a claim, or a core statement: “This book is about the anointed Jesus.” This is an important narrative, as it marks the fulfilment of a prophecy awaited since the Old Testament era.

Chronologically, Adam existed before Abraham, but Matthew mentions David first, then Abraham. In Jewish oral and written tradition, the title “Son of David” is a direct and strong messianic title. In the Gospel of Luke 18:38, a blind man cries out: “Jesus, Son of David, have mercy on me!” The blind man’s call reflects the messianic recognition that developed at that time towards Jesus. Therefore, positioning David first in the genealogy emphasizes the most urgent messianic claim. However, mentioning Abraham after David does not imply he is less important. In Genesis 12:3, it is written: “Through you, all peoples on earth will be blessed.” By including the name Abraham, Matthew seeks to convey an important message: the presence of the Lord Jesus is not only a saviour for the people of Israel but also the fulfilment of blessings for all peoples, humanity, and nations.

The Lord Jesus bless you

Card image
PINTU GERBANG - 01 Mei 2026
2026-05-02 17:46:09


Matius 1:1-17 bukanlah narasi yang hanya berisi daftar nama atau sekadar memuat silsilah sebuah “keluarga”, melainkan terdapat cerita dan pemaknaan yang mendalam. Perikop ini merupakan “pintu gerbang” dari Injil Matius. Dengan demikian, untuk menemukan pemahaman “ruang-ruang” yang terdapat di dalam Injil Matius, setiap pembaca harus melalui pintu gerbang tersebut terlebih dahulu. Semua tema besar yang terdapat dalam Injil Matius, yang terdiri atas dua puluh delapan pasal, diorkestrasi oleh perikop awal ini.

Dalam tradisi sastra Yahudi, diksi atau kata silsilah bukan hanya berisi dokumen genealogis atau kajian tentang asal-usul, sejarah keluarga, dan penelusuran jalur keturunan seseorang atau sekelompok orang berdasarkan ikatan darah. Namun, silsilah juga memuat sebuah pernyataan teologis: hakikat Tuhan, sifat-sifat-Nya, serta relasi-Nya dengan manusia dan alam semesta. Silsilah yang tercantum, yang terdiri atas tujuh belas ayat, mengungkap siapa orang-orang ini dan apa kepentingan nama mereka dicatat. Dengan demikian, penempatan daftar nama dalam silsilah pada bagian awal tulisan hendak menyampaikan: “Anda perlu tahu siapa Dia dan dari mana Ia berasal, sebelum mendengar seluruh perkataan dan pengajaran-Nya.”

Penempatan Injil Matius dalam kanonisasi di bagian awal Perjanjian Baru merupakan positioning yang strategis. Di sini, penjelasan silsilah menjadi narasi pertama yang dibaca untuk menelusuri perjalanan panjang kitab-kitab yang terdapat di dalam Perjanjian Baru. Perikop ini menjadi jembatan penghubung antara Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Ia menarik benang merah dari Abraham dalam kitab Kejadian, melalui Daud dalam kitab 2 Samuel, melalui para nabi dan raja, hingga tiba pada sosok sentral, pusat dari dua perjanjian, yakni Tuhan Yesus Kristus.

Mari kita melakukan pendalaman dengan menelusuri ayat-ayat pada perikop Injil Matius 1:1-17. Ayat 1: “Inilah silsilah Yesus Kristus, anak Daud, anak Abraham.” Kalimat pembuka ini secara harfiah menunjuk pada sebuah kitab asal-usul atau daftar kelahiran. Nampaknya, apa yang ditulis oleh Matius sebagai pembuka pintu gerbang dalam Perjanjian Baru ini tidak dapat dilepaskan dari pernyataan-pernyataan yang terdapat dalam era Perjanjian Lama. Terdapat setidaknya dua referensi yang relevan, yaitu Kejadian 2:4: “Demikianlah riwayat langit dan bumi pada waktu diciptakan” dan Kejadian 5:1: “Inilah daftar keturunan Adam.”

Matius sedang mengetengahkan sesuatu yang sangat penting dalam keseluruhan perjanjian Allah, yakni bahwa dengan kelahiran, keberadaan, atau eksistensi Tuhan Yesus, sebuah episode penciptaan baru dimulai. Mekanisme atau proses penyelamatan manusia dimulai. Tuhan Yesus bukan sekadar masuk dalam rangkaian sejarah manusia yang sudah ada, tetapi Ia memulai sebuah sejarah yang baru.

Pernyataan “Yesus Kristus” menunjuk kepada Yesus yang diurapi. Inilah gelar yang disandang oleh Tuhan Yesus. Dengan demikian, penempatan gelar ini pada kalimat pertama dalam seluruh Injil merupakan sebuah deklarasi, klaim, atau pernyataan inti: “Kitab ini adalah tentang Yesus yang diurapi.” Ini adalah narasi penting sebagai penggenapan nubuatan yang dinantikan sejak era Perjanjian Lama.

Secara kronologis, Adam eksis terlebih dahulu daripada Abraham, tetapi Matius menuliskan nama Daud, kemudian nama Abraham. Dalam tradisi lisan dan literasi Yahudi, gelar “Anak Daud” merupakan gelar kemesiasan yang langsung dan kuat. Dalam Injil Lukas 18:38, seorang buta berseru: “Yesus, Anak Daud, kasihanilah aku!” Seruan orang buta itu mencerminkan pengakuan mesianis yang berkembang pada masa itu kepada Yesus. Dengan demikian, memosisikan Daud pada urutan pertama dalam silsilah menunjuk pada klaim mesianis yang paling mendesak untuk ditegaskan. Namun, penyebutan Abraham setelah Daud tidak berarti ia menjadi tidak penting. Dalam Kejadian 12:3 tertulis: “Olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat.” Dengan memasukkan nama Abraham, Matius hendak menyampaikan pesan penting bahwa kehadiran Tuhan Yesus bukan hanya sebagai penyelamat bagi bangsa Israel semata, tetapi sebagai penggenapan berkat bagi semua kaum, seluruh umat manusia, dan segala bangsa.

Tuhan Yesus memberkati

TUHAN YESUS BUKAN SEKADAR MASUK DALAM RANGKAIAN SEJARAH MANUSIA YANG SUDAH ADA, TETAPI IA MEMULAI SEBUAH SEJARAH YANG BARU.

Card image
KIDS DAILY DEVOTIONAL 30 April 2026 - PERHIASAN BATINIAH
2026-05-01 13:31:28


1 Petrus 3:4
“Tetapi perhiasanmu ialah manusia batiniah yang tersembunyi dengan perhiasan yang tidak binasa yang berasal dari roh yang lemah lembut dan tenteram, yang sangat berharga di mata Allah.”

Kalau kita masuk ke toko perhiasan, kita akan melihat kalung, gelang, cincin, dan anting dipajang dengan sangat indah. Semua terlihat berkilau dan mahal. Perhiasan itu memang cantik dan berharga. Banyak orang ingin memakainya supaya terlihat menarik di luar.

Tetapi tahukah kamu, Rehobot Kids? Ada perhiasan yang jauh lebih berharga daripada emas dan permata. Itu adalah perhiasan batiniah—perhiasan yang ada di dalam hati kita. Perhiasan ini tidak terlihat oleh mata, tetapi sangat berharga di mata Tuhan. Hati yang lemah lembut, sabar, tidak mudah marah, dan penuh damai adalah perhiasan yang tidak akan pernah rusak atau binasa.

Tuhan lebih melihat hati kita daripada penampilan luar kita. Sikap yang tenang, mau mengalah, tidak membalas kejahatan dengan kejahatan, dan mau mengasihi dengan tulus menunjukkan bahwa kita memiliki hati yang indah. Perhiasan seperti ini membuat Tuhan senang.

Rehobot Kids, mari terus belajar menjaga hati kita setiap hari. Tuhan peduli pada isi hati kita, bukan hanya pada apa yang orang lain lihat. Jika kita sadar ada sikap yang tidak baik, segeralah bertobat dan minta Tuhan membentuk hati kita kembali. Yuk, pakai “perhiasan batiniah” setiap hari, supaya hidup kita menyenangkan hati Tuhan.

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 30 April 2026 (English Version) - BOUNDARIES PROTECT THE FUTURE
2026-05-01 13:30:22


2 Timothy 2:22
“Flee the evil desires of youth, and pursue righteousness, faith, love and peace, along with those who call on the Lord out of a pure heart.”

Youth is full of drive. Ambition, the desire to be recognized, curiosity, peer pressure—all of these are very strong. Paul doesn’t say “try to control it a little,” but says to flee from it. This means that there are things that must be kept at a distance in order to protect the future.

Limits do not mean that our lives are restricted. Rather, limits protect our direction. If we live without boundaries, we are easily swept away. But when we dare to say no to things that undermine our faith, we are protecting something greater: God’s calling on our lives.

Don’t think of boundaries as enemies of freedom. Boundaries born out of fear of God actually protect the future. The courage to set boundaries today could be the reason you remain strong tomorrow.

WHAT TO DO?
1. Distance yourself from things that weaken your faith.
2. Set clear boundaries in relationships and lifestyle.
3. Choose a community that pursues a pure life.

BIBLE MARATHON:
1 Corinthians 16

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 30 April 2026 - BOUNDARIES PROTECT THE FUTURE
2026-05-01 13:28:58


2 Timotius 2:22
“Jauhilah nafsu orang muda, kejarlah keadilan, kesetiaan, kasih dan damai sejahtera bersama-sama dengan mereka yang berseru kepada Tuhan dengan hati yang murni.”

Masa muda itu penuh dorongan. Ambisi, rasa ingin diakui, ketertarikan, tekanan pergaulan—semuanya kuat banget. Paulus nggak bilang “coba atur sedikit,” tapi bilang jauhilah. Artinya, ada hal-hal yang memang harus diberi jarak supaya masa depan tetap terjaga.

Batasan bukan tanda hidup kita dibatasi. Justru batasan melindungi arah. Kalau kita hidup tanpa pagar, kita gampang terseret. Tapi saat kita berani bilang tidak pada hal yang menggerogoti iman, kita sedang menjaga sesuatu yang lebih besar: panggilan Tuhan atas hidup kita.

Jangan anggap batas sebagai musuh kebebasan. Batas yang lahir dari takut akan Tuhan justru melindungi masa depan. Keberanian menetapkan batas hari ini bisa jadi alasan kamu tetap berdiri kuat besok.

WHAT TO DO?
1. Beri jarak dari hal yang melemahkan imanmu.
2. Tetapkan batas jelas dalam relasi dan gaya hidup.
3. Pilih komunitas yang sama-sama mengejar hidup yang murni.

BIBLE MARATHON:
1 Korintus 16

Card image
Quote Of The Day - 30 April 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-04-30 22:58:29


Setiap pelayan Tuhan dipanggil untuk membaca kehidupannya sendiri lebih dalam daripada membaca buku.

Card image
Mutiara Suara Kebenaran - 30 April 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-04-30 22:57:01


Ketidakmampuan untuk melihat karya Allah dalam pengalaman hidup sering kali melahirkan ketakutan, kekhawatiran, dan kecurigaan terhadap Allah.

Card image
BUILDING THE OBEDIENCE DAN FAITHFULNESS - 30 April 2026 (English Version)
2026-04-30 22:55:44


The previous discussion explained that the project of salvation is initiated by God the Father and realized through the obedience and faithfulness of His only Son, the Lord Jesus Christ. Salvation does not occur automatically or without process, but through consistent obedience and the inseparable faithfulness that accompanies it. Within this framework, obedience and faithfulness are complementary and inseparable. Obedience without faithfulness loses endurance, while faithfulness without obedience lacks concrete expression. Thus, an important question arises: how can believers build true obedience and faithfulness to God the Father?

Theologically, God would not demand that humans live according to His will without providing adequate means. *If God commands people to be obedient and faithful, then in principle those commands can be carried out.* This affirms that throughout God’s design, there are orders, rules, and mechanisms that enable human response to His will. God is not a Person who demands results without first providing the necessary means. In this context, God gives at least three main provisions to help believers build true obedience and faithfulness to Him.

The first provision is the Bible. In Matthew 4:4, Jesus declares, “Man shall not live by bread alone, but by every word that proceeds out of the mouth of God.” This statement affirms that the life of a believer committed to obedience and faithfulness cannot be sustained by the world’s allure or temporary pleasures. That life must continually be nourished by God’s word as “heavenly bread.” Believers who live in true obedience are marked by a deep longing for truth and a willingness to practice that truth in daily life. God’s word is not merely a string of words or normative text but becomes the life principle that shapes divine character in the believer. Thus, Scripture functions not only as a source of knowledge but as the foundation of life transformation.

The second provision is the Holy Spirit. John 16:13 states, “When He, the Spirit of truth, comes, He will guide you into all truth; for He will not speak on His own authority, but whatever He hears He will speak; and He will declare to you the things that are to come.” The presence of the Spirit of truth—the Holy Spirit or the Spirit of the Father—becomes an internal dimension that guides believers in understanding, internalizing, and doing the truth. Without the Holy Spirit’s leading, obedience easily degrades into moral formality or legalistic compliance. Therefore, the Spirit’s role is essential in shaping authentic obedience and faithfulness.

Awareness of the Spirit’s work demands honest and humble self-reflection. Believers must continually examine their lives—in word, behavior, and heart attitude—to see whether they align with God’s truth. When discrepancies are found, the proper response is not self-justification but repentance and life renewal. The opportunity to repent is a grace not to be ignored.

The third provision is life experience. Romans 8:28 affirms that God works in all things for the good of those who love Him and are called according to His purpose. Life experience, including struggle and suffering, becomes a pedagogical means God uses to form mature obedience and faithfulness. Through concrete experience, believers are trained to trust God wholly, beyond mere rational understanding.

The inability to see God’s work in life experiences often breeds fear, anxiety, and suspicion toward God. These attitudes reveal a lack of trust in God’s promise to preserve His people until the end. Conversely, believers who understand that God works behind every event will live with assurance, calmness, and steadfast faithfulness. Thus, the Bible, the Holy Spirit, and life experience are three divine instruments that mutually complement one another in forming genuine obedience and faithfulness. Together they function as spiritual education tools enabling believers to live in alignment with the whole will of God the Father.

The Lord Jesus bless you

THE BIBLE, THE HOLY SPIRIT AND LIFE EXPERIENCE ARE THREE DIVINE INSTRUMENTS THAT MUTUALLY COMPLEMENT ONE ANOTHER IN FORMING GENUINE OBEDIENCE AND FAITHFULLNESS.

Card image
MEMBANGUN KETAATAN DAN KESETIAAN SEJATI - 30 April 2026
2026-04-30 19:38:10


Pembahasan sebelumnya telah menguraikan bahwa proyek keselamatan diinisiasi oleh Allah Bapa dan diwujudkan melalui ketaatan serta kesetiaan Anak Tunggal-Nya, Tuhan Yesus Kristus. Keselamatan tidak terjadi secara otomatis atau tanpa proses, melainkan melalui ketaatan yang konsisten dan kesetiaan yang tidak terpisahkan darinya. Dalam kerangka ini, ketaatan dan kesetiaan merupakan dua aspek yang saling melengkapi dan tidak dapat dipisahkan. Ketaatan tanpa kesetiaan akan kehilangan daya tahan, sedangkan kesetiaan tanpa ketaatan kehilangan wujud konkret. Dengan demikian, pertanyaan penting yang muncul ialah bagaimana orang-orang percaya dapat membangun ketaatan dan kesetiaan yang sejati kepada Allah Bapa.

Secara teologis, Allah tidak mungkin menuntut manusia untuk menghidupi kehendak-Nya tanpa menyediakan sarana yang memadai. Jika Allah memerintahkan manusia untuk taat dan setia, maka perintah tersebut secara prinsip dapat dilaksanakan. Hal ini menegaskan bahwa dalam seluruh rancangan Allah selalu terdapat tatanan, aturan, dan mekanisme yang memungkinkan manusia merespons kehendak-Nya. Allah bukan Pribadi yang menuntut hasil tanpa terlebih dahulu menyediakan sarana yang diperlukan.

Dalam konteks ini, sekurang-kurangnya terdapat tiga perangkat utama yang disediakan Allah untuk menolong orang-orang percaya membangun ketaatan dan kesetiaan sejati kepada-Nya.

Perangkat pertama adalah Alkitab. Dalam Matius 4:4, Yesus menyatakan, “Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah.” Pernyataan ini menegaskan bahwa kehidupan orang percaya yang berkomitmen pada ketaatan dan kesetiaan tidak dapat dipenuhi oleh pesona dunia dan kenikmatan sementara. Hidup tersebut harus terus-menerus dipelihara oleh firman Allah sebagai “roti surgawi”. Orang-orang percaya yang hidup dalam ketaatan sejati ditandai oleh kerinduan yang mendalam akan kebenaran serta kesediaan untuk mempraktikkan kebenaran tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Firman Allah tidak lagi dipahami sekadar sebagai rangkaian kata atau teks normatif, melainkan menjadi prinsip hidup yang membentuk karakter ilahi dalam diri orang percaya. Dengan demikian, firman Allah berfungsi bukan hanya sebagai sumber pengetahuan, tetapi sebagai fondasi transformasi hidup.

Perangkat kedua adalah Roh Kudus. Yohanes 16:13 menyatakan, “Tetapi apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran; sebab Ia tidak akan berkata-kata dari diri-Nya sendiri, tetapi segala sesuatu yang didengar-Nya itulah yang akan dikatakan-Nya dan Ia akan memberitakan kepadamu hal-hal yang akan datang.” Kehadiran Roh Kebenaran, Roh Kudus atau Roh Allah Bapa menjadi dimensi internal yang menuntun orang percaya dalam memahami, menghayati, dan melakukan kebenaran. Tanpa pimpinan Roh Kudus, ketaatan mudah tereduksi menjadi formalitas moral atau kepatuhan legalistis. Oleh karena itu, peran Roh Kudus bersifat esensial dalam proses pembentukan ketaatan dan kesetiaan yang otentik.

Kesadaran akan karya Roh Kudus menuntut refleksi diri yang jujur dan rendah hati. Orang percaya perlu secara terus-menerus menguji kehidupan mereka—baik dalam perkataan, perilaku, maupun sikap hati—apakah telah selaras dengan kebenaran Allah. Ketika ditemukan ketidaksesuaian, respons yang tepat bukanlah pembenaran diri, melainkan pertobatan dan pembaruan hidup. Kesempatan untuk bertobat merupakan anugerah yang tidak boleh diabaikan.

Perangkat ketiga adalah pengalaman hidup. Roma 8:28 menegaskan bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia dan terpanggil sesuai dengan rencana-Nya. Pengalaman hidup, termasuk pergumulan dan penderitaan, menjadi sarana pedagogis yang digunakan Allah untuk membentuk ketaatan dan kesetiaan yang matang. Melalui pengalaman konkret, orang percaya dilatih untuk memercayai Allah secara utuh, melampaui pemahaman rasional semata.

Ketidakmampuan untuk melihat karya Allah dalam pengalaman hidup sering kali melahirkan ketakutan, kekhawatiran, dan kecurigaan terhadap Allah. Sikap-sikap ini menunjukkan lemahnya kepercayaan kepada janji Allah yang menyatakan bahwa Ia memelihara umat-Nya hingga akhir zaman. Sebaliknya, orang percaya yang memahami bahwa Allah bekerja di balik setiap peristiwa akan menjalani kehidupan dengan keyakinan, ketenangan, dan kesetiaan yang teguh.

Dengan demikian, Alkitab, Roh Kudus, dan pengalaman hidup merupakan tiga perangkat ilahi yang saling melengkapi dalam membentuk ketaatan dan kesetiaan sejati. Ketiganya berfungsi sebagai sarana pendidikan rohani yang memungkinkan orang percaya hidup selaras dengan seluruh kehendak Allah Bapa.

Tuhan Yesus memberkati

ALKITAB, ROH KUDUS, DAN PENGALAMAN HIDUP MERUPAKAN TIGA PERANGKAT ILAHI YANG SALING MELENGKAPI DALAM MEMBENTUK KETAATAN DAN KESETIAAN SEJATI.

Card image
KIDS DAILY DEVOTIONAL 29 April 2026 - HATI YANG TIDAK DITOLAK TUHAN
2026-04-30 07:16:14


Mazmur 51:19
“Korban sembelihan kepada Allah ialah jiwa yang hancur; hati yang patah dan remuk tidak akan Kaupandang hina, ya Allah.”

“Ma, aku mau cerita sebentar, boleh nggak?” tanya Tini pelan.
“Tentu boleh. Ada apa?” jawab Mama lembut.
“Tapi janji ya, Mama tidak marah.” Mama tersenyum, “Mama janji tidak marah. Cerita saja.”

Dengan suara pelan Tini berkata, “Waktu itu aku pernah ambil uang Mama di dompet. Aku mau ikut teman-teman beli kartu game online. Maaf ya, Ma. Aku tahu itu salah. Aku cuma sekali saja, dan sekarang aku menyesal.” Tini menunduk sedih. Mama memeluk Tini dan berkata, “Terima kasih sudah jujur. Mama senang kamu berani mengakui kesalahan. Itu memang salah, dan jangan diulangi lagi. Lain kali, kalau butuh sesuatu, minta izin dulu ya.”

Rehobot Kids, dari cerita Tini kita belajar bahwa Tuhan senang pada anak yang jujur. Tuhan tahu semua isi hati kita. Tidak ada yang bisa kita sembunyikan dari-Nya. Kalau hari ini masih ada kesalahan yang kita sembunyikan, jangan takut. Datanglah kepada-Nya. Katakan dengan jujur, “Tuhan, aku salah. Tolong aku.” Tuhan senang pada kerendahan hati dan mau dibentuk kembali.

Saat kita jujur, Tuhan menerima kita dengan kasih dan menolong kita untuk berubah. Tuhan tidak pernah menolak hati yang datang dengan tulus. Dia memulihkan, mengampuni, dan membuat hati kita baru kembali.

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 29 April 2026 (English Version) - LOVE NEEDS BOUNDARIES
2026-04-30 07:13:40


Ester 4:14
“…who knows, perhaps you have come to your royal position for such a time as this.”

Many people think that the more freedom there is in love, the better it is. But in fact, boundaries are what keep relationships healthy. Look at Esther. As a young queen, she had access to the power and comforts of the palace. But she did not live recklessly. She knew when to be silent, when to speak up, and when to take risks for the sake of truth.

Esther did not use her position for personal gain. She set clear boundaries: her loyalty to God and her people was more important than her own safety or comfort. If she had gone with the flow or been afraid of losing her position, her people could have been destroyed. But because she dared to stand on her principles, God used her as an instrument of salvation.

The same applies to relationships. Boundaries are not a sign of a lack of love, but a sign of mature love. Knowing when to stop, when to protect yourself, and when to say enough is part of wisdom. Without boundaries, love can easily turn into selfishness. With boundaries, love has direction and purpose.

So don’t be afraid of being called too strict. If your boundaries are born out of faith and fear of God, they are not a weakness. They are a strength. True love always moves in the direction God determines, not just following feelings.

WHAT TO DO?
1. Dare to say no to things that threaten your faith and future.
2. Set clear boundaries in relationships from the start.
3. Remember Esther: the right boundaries can be used by God for great purposes.

BIBLE MARATHON:
1 Corinthians 15

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 29 April 2026 - LOVE NEEDS BOUNDARIES
2026-04-30 07:11:37


Ester 4:14
“…siapa tahu, mungkin justru untuk saat yang seperti ini engkau beroleh kedudukan sebagai ratu.”

Banyak orang mikir cinta itu makin bebas makin keren. Padahal justru batasan bikin relasi tetap sehat. Lihat Ester. Sebagai ratu muda, dia punya akses ke kekuasaan dan kenyamanan istana. Tapi dia nggak hidup sembarangan. Dia tahu kapan harus diam, kapan harus bicara, dan kapan harus ambil risiko demi kebenaran.

Ester nggak pakai posisinya buat kepentingan pribadi. Dia menetapkan batas yang jelas: kesetiaannya kepada Tuhan dan bangsanya lebih penting daripada rasa aman atau kenyamanan diri. Kalau dia ikut arus atau takut kehilangan posisi, bangsanya bisa hancur. Tapi karena dia berani berdiri dengan prinsip, Tuhan pakai dia jadi alat keselamatan.

Dalam relasi pun sama. Batasan bukan tanda nggak cinta, tapi tanda cinta yang dewasa. Tahu kapan harus berhenti, kapan harus jaga diri, dan kapan harus berkata cukup itu bagian dari hikmat. Tanpa batas, cinta gampang berubah jadi egois. Dengan batas, cinta punya arah dan tujuan.

Jadi jangan takut dibilang terlalu tegas. Kalau batasanmu lahir dari iman dan takut akan Tuhan, itu bukan kelemahan. Itu kekuatan. Cinta sejati selalu bergerak dalam arah yang Tuhan tentukan, bukan sekadar mengikuti perasaan.

WHAT TO DO?
1. Berani berkata tidak pada hal yang mengancam iman dan masa depan.
2. Buat batas jelas dalam relasi sejak awal.
3. Ingat Ester: batasan yang benar bisa dipakai Tuhan untuk tujuan besar.

BIBLE MARATHON:
1 Korintus 15

Card image
Renungan Pagi - 29 April 2026
2026-04-30 07:08:34


Kita seringkali hanya ingin dikasihi, banyak berbicara tentang kasih tetapi seringkali tidak hidup dalam kasih, karena menjadikan kasih hanya sebagai tuntutan "tolong kasihi saya!", tetapi tidak menjadikan itu kehidupan kita sehari-hari.

Kita bukan hanya perlu menerima kasih tetapi harus menabur kasih, orang yang menabur kasih akan mendengar jeritan kasih dan jeritan penderitaan orang lain. Alkitab berkata, bahwa Allah itu kasih, dan barangsiapa yang mengasihi Allah, maka dia akan hidup dalam kasih dengan sesamannya.

Card image
Quote Of The Day - 29 April 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-04-30 07:06:58


Hari ini kita bisa menyembunyikan dosa di mata manusia, tapi kita tidak bisa menyembunyikan dosa di mata Tuhan, yang semua nanti akan ditelanjangi, itu malu yang mengerikan.

Card image
Mutiara Suara Kebenaran - 29 April 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-04-30 07:05:52


Tuhan tidak pernah lalai memperhatikan setiap langkah ketaatan umat-Nya. Pada waktu-Nya, buah ketaatan akan dinyatakan—baik dalam bentuk damai sejahtera, pertumbuhan iman, maupun berkat yang melampaui pengertian manusia.

Card image
CHOOSING TO OBEY - 29 April 2026 (English Version)
2026-04-30 07:03:34


Hebrews 5:8
“Although He was a Son, he learned obedience through what he suffered.”

In daily life, people are constantly faced with choices: to speak truth or compromise, to forgive or hold on to bitterness, to obey God or follow self-will. Among these choices, obedience is often the most challenging—not because people do not know what is right, but because obedience almost always requires sacrifice.

In the Christian faith, obedience is not merely outwardly performing God’s commands but a posture of the heart that willingly and consciously places God’s will above personal desire. Deuteronomy 5:33 affirms, “You shall walk in all the way that the LORD your God has commanded you, that you may live and that it may go well with you.” This verse shows that God’s commands are intended not to limit human freedom but to lead to true life and well-being.

Yet in real life, obedience often feels difficult. There are times when God’s way seems too heavy, too slow, or at odds with human logic and calculation. People tend to want quick results, comfortable paths, and decisions that benefit themselves. Here, faith is tested: does one still choose to obey when God’s will does not align with one’s desires? True obedience is seen when someone remains faithful even though not every question receives an answer.

The Bible records that many figures of faith began their obedience with simple but risky steps. Abraham, for example, obeyed God’s call to leave his homeland without knowing his final destination (Gen. 12:1–4). He did not receive a complete map, only God’s promise. Through his obedience, Abraham experienced God’s care and saw the fulfillment of that promise. From this story, we learn that God often requires obedience first, then reveals His plan step by step.

In today’s church life, obedience is expressed in very ordinary ways. Obedience appears when parents faithfully raise their children in faith values, when a worker remains honest and responsible, or when church members serve though unnoticed and unrewarded. These acts may seem simple, but they are highly valued in God’s eyes. Colossians 3:23 reminds us, “Whatever you do, work heartily, as for the Lord and not for men.”

Jesus Christ remains the supreme model of obedience. He was obedient not only in words but in concrete action. Even when the path of obedience led Him to suffering, Jesus chose the Father’s will. His obedience became the way of salvation for many. This teaches that even the smallest acts of obedience can be used by God to produce effects far beyond human imagination.

Obedience does not mean a life without struggle, but a life with the right direction. When someone chooses to obey, they entrust their future to the faithful God. God never fails to notice every step of His people’s obedience. In His time, the fruit of obedience will be revealed—whether in peace, spiritual growth, or blessings that surpass human understanding.

The Lord Jesus bless you

WHEN SOMEONE CHOOSES TO OBEY, THEY ENTRUST THEIR FUTURE TO THE FAITHFUL GOD.

Card image
MEMILIH UNTUK TAAT - 29 April 2026
2026-04-30 07:01:41


Ibrani 5:8
“Dan sekalipun Ia adalah Anak, Ia telah belajar menjadi taat dari apa yang telah diderita-Nya.”

Dalam kehidupan sehari-hari, manusia senantiasa diperhadapkan dengan berbagai pilihan. Ada pilihan untuk berkata jujur atau berkompromi, memilih mengampuni atau memelihara kepahitan, memilih taat kepada Tuhan atau mengikuti keinginan diri sendiri. Di antara sekian banyak pilihan tersebut, ketaatan sering kali menjadi keputusan yang paling menantang. Bukan karena manusia tidak mengetahui apa yang benar, melainkan karena ketaatan hampir selalu menuntut pengorbanan.

Dalam iman Kristen, ketaatan bukan sekadar menjalankan perintah Tuhan secara lahiriah, melainkan sikap hati yang dengan sadar dan rela menempatkan kehendak Tuhan di atas kehendak pribadi. Ulangan 5:33 menegaskan, “Segenap jalan, yang diperintahkan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu, haruslah kamu tempuh, supaya kamu hidup dan baik keadaanmu.” Ayat ini menunjukkan bahwa perintah Tuhan tidak dimaksudkan untuk membatasi kebebasan manusia, melainkan untuk menuntun kepada kehidupan dan kebaikan yang sejati.

Namun dalam realitas kehidupan, ketaatan kerap kali terasa tidak mudah. Ada saat-saat ketika jalan Tuhan tampak terlalu berat, terlalu lambat, atau tidak sejalan dengan logika dan perhitungan manusia. Manusia cenderung menginginkan hasil yang cepat, jalan yang nyaman, dan keputusan yang menguntungkan diri sendiri. Pada titik inilah iman diuji: apakah seseorang tetap memilih taat ketika kehendak Tuhan tidak sejalan dengan keinginannya? Ketaatan sejati justru terlihat ketika seseorang tetap setia, meskipun tidak semua pertanyaan memperoleh jawaban.

Alkitab mencatat bahwa banyak tokoh iman memulai ketaatan mereka melalui langkah-langkah yang sederhana, namun penuh risiko. Abraham, misalnya, menaati perintah Allah untuk meninggalkan negeri asalnya tanpa mengetahui tujuan akhir perjalanannya (Kej. 12:1–4). Ia tidak menerima peta yang lengkap, hanya janji Allah. Namun melalui ketaatannya, Abraham mengalami pemeliharaan Allah dan melihat penggenapan janji-Nya. Dari kisah ini dapat dipahami bahwa Allah sering kali menuntut ketaatan terlebih dahulu, sebelum menyatakan rencana-Nya secara bertahap.

Dalam kehidupan jemaat masa kini, ketaatan dapat diwujudkan melalui hal-hal yang sangat dekat dengan keseharian. Ketaatan tampak ketika orang tua dengan setia mendidik anak-anak dalam nilai iman, ketika seorang pekerja tetap jujur dan bertanggung jawab, atau ketika jemaat bersedia melayani meskipun tidak terlihat dan tidak mendapat pujian. Tindakan-tindakan ini mungkin tampak sederhana, tetapi memiliki nilai yang besar di hadapan Tuhan. Kolose 3:23 mengingatkan, “Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.”

Yesus Kristus tetap menjadi teladan tertinggi dalam hal ketaatan. Ia taat bukan hanya dalam perkataan, melainkan melalui tindakan nyata. Bahkan ketika jalan ketaatan membawa-Nya kepada penderitaan, Yesus tetap memilih kehendak Bapa. Ketaatan-Nya menjadi jalan keselamatan bagi banyak orang. Hal ini mengajarkan bahwa ketaatan, sekecil apa pun bentuknya, dapat dipakai Tuhan untuk menghasilkan dampak yang jauh lebih besar daripada yang dapat dibayangkan manusia.

Ketaatan tidak berarti hidup tanpa pergumulan, melainkan hidup dengan arah yang benar. Ketika seseorang memilih untuk taat, ia sedang mempercayakan masa depannya ke dalam tangan Tuhan yang setia. Tuhan tidak pernah lalai memperhatikan setiap langkah ketaatan umat-Nya. Pada waktu-Nya, buah ketaatan akan dinyatakan—baik dalam bentuk damai sejahtera, pertumbuhan iman, maupun berkat yang melampaui pengertian manusia.

Tuhan Yesus memberkati

KETIKA SESEORANG MEMILIH UNTUK TAAT, IA SEDANG MEMPERCAYAKAN MASA DEPANNYA KE DALAM TANGAN TUHAN YANG SETIA

Card image
KIDS DAILY DEVOTIONAL 28 April 2026 - HATI YANG BENAR
2026-04-29 22:59:59


Roma 10:10
“Karena dengan hati orang percaya dan dibenarkan, dan dengan mulut orang mengaku dan diselamatkan.”

Suatu hari, Ando dan Nando sedang ngobrol asyik di kantin sekolah. Mereka membicarakan hal yang cukup serius. “Kalau nanti Tuhan memanggil kita, apakah kita masuk surga?” tanya Nando dengan penasaran. Ando lalu bercerita bahwa kakak Sekolah Minggunya pernah mengajarkan, supaya kita masuk surga, kita harus percaya kepada Tuhan Yesus dengan hati yang sungguh-sungguh.

Ando menjelaskan bahwa percaya kepada Tuhan Yesus bukan hanya sekadar tahu atau ikut-ikutan. Percaya berarti menerima Tuhan Yesus masuk ke dalam hati dan mengaku dengan mulut bahwa Yesus adalah Tuhan dan Juruselamat kita. Alkitab berkata bahwa jika kita percaya dengan hati dan mengaku dengan mulut, kita akan diselamatkan. Wah, itu kabar yang sangat indah ya, Rehobot Kids!

Karena itu, Tuhan ingin kita memiliki hati yang benar setiap hari. Hati yang mau percaya, taat, dan selalu meminta pimpinan Tuhan dalam hidup kita. Kita belajar berdoa, meminta pertolongan Tuhan, dan hidup dengan cara yang menyenangkan hati-Nya. Kita memang tidak tahu kapan Tuhan akan memanggil kita, tetapi kita bisa selalu siap dengan hidup yang dekat dengan Tuhan.

Rehobot Kids, jika kamu rindu menerima Tuhan Yesus dalam hatimu dan percaya bahwa Dia adalah satu-satunya Juruselamat, kamu bisa berdoa dengan sungguh-sungguh. Kamu juga bisa meminta didoakan oleh kakak Sekolah Minggu atau oleh papa dan mama di rumah. Yuk, kita terus belajar memiliki hati yang benar dan hidup dekat dengan Tuhan, supaya suatu hari nanti kita siap bertemu dengan-Nya dan tinggal bersama Tuhan di surga yang indah.

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL - 28 April 2026 (English Version)SAYING NO WISELY
2026-04-29 22:57:35


Daniel 1:8
“Daniel resolved not to defile himself with the royal food and wine, and he asked the chief official for permission not to defile himself this way.”

Sometimes we are afraid to say “no” because we are worried that we will be seen as uncool, uncaring, or unloving. In fact, the courage to say “no” can be the most mature form of love. Daniel set a clear example. He refused the king’s food not because he was spiritually arrogant, but because he knew who he was before God.

Daniel could have just gone with the flow to be safe and accepted. But he realized that one small compromise could open the door to bigger compromises. The boundaries he set were not to distance himself from others, but to keep his identity and relationship with God pure. And God honored that steadfastness.

In our lives, pressure is real. It comes from friends, partners, our environment, and even social media trends. But loving others does not mean following all their desires. Healthy love has boundaries. Without boundaries, we can lose our direction and our faith can slowly erode.

So don’t be afraid to say “no” if it protects your heart and your calling in life. Healthy boundaries don’t make you lose love, but keep your love on the right track.

WHAT TO DO?
1. Dare to say no to things that destroy your faith and future.
2. Set clear boundaries in relationships from the start.
3. Remember, maintaining your identity in God is more important than being accepted by everyone.

BIBLE MARATHON:
1 Corinthians 14

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 28 April 2026 - SAYING NO WISELY
2026-04-29 13:05:19


Daniel 1:8
“Daniel berketetapan untuk tidak menajiskan dirinya dengan santapan raja dan dengan anggur yang biasa diminum raja; ia meminta kepada pemimpin pegawai istana supaya ia tidak usah menajiskan dirinya.”

Kadang kita takut bilang “tidak” karena khawatir dibilang nggak asik, nggak peduli, atau kurang cinta. Padahal, keberanian berkata “tidak” bisa jadi bentuk kasih yang paling dewasa. Daniel kasih contoh jelas. Dia menolak makanan raja bukan karena sombong rohani, tapi karena dia tahu siapa dirinya di hadapan Tuhan.

Daniel sebenarnya bisa aja ikut arus biar aman dan diterima. Tapi dia sadar, satu kompromi kecil bisa membuka pintu kompromi yang lebih besar. Batasan yang dia buat bukan untuk menjauh dari orang lain, tapi untuk menjaga identitas dan relasinya dengan Tuhan tetap murni. Dan Tuhan menghormati keteguhan itu.

Dalam hidup kita, tekanan itu nyata. Dari teman, pasangan, lingkungan, bahkan tren media sosial. Tapi mengasihi orang lain bukan berarti mengikuti semua keinginan mereka. Cinta yang sehat punya batas. Tanpa batas, kita bisa kehilangan arah dan iman pelan-pelan terkikis.

Jadi jangan takut berkata “tidak” jika itu melindungi hatimu dan panggilan hidupmu. Batasan yang sehat bukan bikin kamu kehilangan kasih, tapi bikin kasihmu tetap berada di jalur yang benar.

WHAT TO DO?
1. Berani berkata tidak pada hal yang merusak iman dan masa depan.
2. Tetapkan batas jelas dalam relasi sejak awal.
3. Ingat, menjaga identitas di dalam Tuhan lebih penting dari diterima semua orang.

BIBLE MARATHON:
1 Korintus 14

Card image
Renungan Pagi - 28 April 2026
2026-04-29 13:02:43


Salah satu indikasi jati diri seseorang yang buruk adalah ketika jati diri mereka hanya sebatas penampilan fisik dan apa kata orang, ini adalah orang yang tidak bisa menjadi diri sendiri, tidak jelas, menyangkal realita, berubah-ubah dan bahkan munafik, itu bukan yang diinginkan Tuhan.

Allah mengharapkan setiap kita orang percaya memiliki jati diri bukan berdasarkan kata orang, bukan dari keinginan diri sendiri, tetapi apa kata Tuhan, Alkitab berkata bahwa “Hendaklah hidupmu berpadanan dengan Injil Kristus”.
Itu artinya jati diri ditentukan oleh kehidupan yang tunduk, taat dan setia kepada Firman Tuhan sehingga memiliki jati diri serupa Kristus, itulah sebabnya kita disebut Kristen, yaitu menjadi pengikut Kristus untuk menjadi serupa dengan Dia.

Card image
Quote Of The Day - 28 April 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-04-29 12:57:55


Hidup kita harus menjadi kesaksian wajah Tuhan yang ditampilkan.

Card image
Mutiara Suara Kebenaran - 28 April 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-04-29 12:54:45


Bagi Allah, yang utama bukanlah persembahan kita, melainkan keberadaan dan ketulusan kita di hadapan-Nya.

Card image
A BETTER SACRIFICE - 28 April 2026 (English Version)
2026-04-29 12:54:00


1 Samuel 15:22 records: “Has the LORD as great delight in burnt offerings and sacrifices, as in obeying the voice of the LORD? Behold, to obey is better than sacrifice, and to heed than the fat of rams.” Many believers feel their spiritual life is healthy because they attend worship regularly, serve actively, and faithfully give offerings. Those things are good and worthy of honor. Yet today’s Word reveals an inescapable truth: before God, obedience ranks higher than sacrifice. For God, what matters most is not our offerings but our presence and sincerity before Him.

Saul’s problem was not that he failed to offer sacrifices—he did offer them. But beneath his religious activity lay disobedience. Saul adapted God’s command to his own reasoning and judgment. Here, a subtle spiritual crisis occurs: one may maintain religious practice without living in full submission to God’s will.

The Word says that “to obey” is better than “to sacrifice.” Listening here is not merely a sensory act but an inward posture ready to be humbled, corrected, and aligned with God’s will. Obedience is not about doing many things for God but about deliberately placing our lives under His authority. Obedience requires self-denial, not merely outward offerings.

Often, people use sacrifice to cover disobedience. Spiritual activity can become a tool for self-justification. Offerings, service, and even worship may cloak religiosity that soothes conscience while God’s will remain unheeded. The greatest danger in spiritual life is not ignorance but religiosity without obedience.

God is not pleased with sacrifices offered by an unobedient heart. He needs nothing from us; He desires people whose lives are conformed to His heart. Obedience is a formative process. Through obedience, God breaks self-centeredness, purifies motives, and establishes His will within us. Therefore, the true restoration to God’s design occurs in human life.

Obedience is not always comfortable. It demands the surrender of control and the relinquishment of personal will. Yet true freedom is found there. A life of obedience is not a life without will but a life that directs every desire toward God’s eternal purposes. Obedience is an honor because God entrusts His will to be expressed through our lives.

Today, the Word calls us to honest self-examination. Do we obey because we truly love God’s will, or merely to look religious? Do we still bargain with His commands using our logic and interests? Or will we sincerely say, “Not my will but Yours be done”?

God lacks no sacrifices—the whole creation is His (Ps. 50:8–12). What He seeks are people willing to surrender their whole being to live in full obedience—lives wholly submitted to God’s will, not to do more things but to obey more deeply. There, our lives please God and align with His eternal purpose.

The Lord Jesus bless you

GOD IS NOT PLEASED WITH SACRIFICES OFFERED BY AN UNOBEDIENT HEART. HE NEEDS NOTHING FROM US; HE DESIRES PEOPLE WHOSE LIVES ARE CONFORMED TO HIS HEART.

Card image
KORBAN YANG LEBIH BAIK - 28 April 2026
2026-04-29 12:52:06


1 Samuel 15:22 menuliskan: “Apakah TUHAN itu berkenan kepada korban bakaran dan korban sembelihan sama seperti kepada mendengarkan suara TUHAN? Sesungguhnya, mendengarkan lebih baik daripada korban sembelihan, memperhatikan lebih baik daripada lemak domba-domba jantan.”

Banyak orang percaya merasa kehidupan rohaninya sudah berjalan baik karena rajin beribadah, aktif melayani, dan tidak lalai memberi persembahan. Semua itu pada dirinya baik dan patut dihargai. Namun firman Tuhan hari ini menyingkapkan sebuah kebenaran yang tidak dapat ditawar: di hadapan Allah, ketaatan memiliki nilai yang lebih tinggi daripada korban. Bagi Allah, yang utama bukanlah persembahan kita, melainkan keberadaan dan ketulusan kita di hadapan-Nya.

Permasalahan Saul bukan karena ia tidak mempersembahkan korban. Ia justru tetap melakukannya. Namun di balik aktivitas keagamaannya, tersembunyi ketidaktaatan. Saul menyesuaikan perintah Tuhan dengan pertimbangan dan logikanya sendiri. Di sinilah krisis rohani yang sangat halus terjadi: ketika seseorang tetap menjalankan praktik religius, tetapi tidak lagi hidup sepenuhnya tunduk kepada kehendak Allah.

Firman Tuhan menegaskan bahwa “mendengarkan” lebih baik daripada “korban sembelihan.” Mendengarkan di sini bukan sekadar aktivitas inderawi, melainkan sikap batin yang siap ditundukkan, dikoreksi, dan diselaraskan dengan kehendak Allah. Ketaatan bukanlah tentang melakukan banyak hal untuk Tuhan, melainkan hidup yang secara sadar ditempatkan di bawah otoritas-Nya. Ketaatan menuntut penyangkalan diri, bukan sekadar pengorbanan lahiriah.

Sering kali manusia menggunakan korban untuk menutupi ketidaktaatan. Aktivitas rohani dapat berubah menjadi alat pembenaran diri. Persembahan, pelayanan, bahkan ibadah dapat menjadi selubung religiositas yang menenangkan hati nurani, sementara kehendak Allah tidak sungguh-sungguh ditaati. Bahaya terbesar dalam kehidupan rohani bukanlah ketidaktahuan, melainkan kesalehan yang tidak disertai ketaatan.

Allah tidak tertarik pada korban yang lahir dari hati yang tidak taat. Ia tidak membutuhkan apa pun dari manusia. Yang Allah kehendaki adalah manusia yang hidup selaras dengan isi hati-Nya. Ketaatan adalah proses pembentukan karakter. Melalui ketaatan, Allah mematahkan keakuan (self-centeredness), membersihkan motivasi, dan menegakkan kehendak-Nya dalam diri kita. Di sanalah pemulihan terhadap rancangan Allah atas hidup manusia berlangsung.

Ketaatan memang tidak selalu nyaman. Ia menuntut pelepasan kendali diri dan penyerahan kehendak pribadi. Namun justru di sanalah kemerdekaan sejati ditemukan. Hidup yang taat bukanlah hidup yang kehilangan kehendak, melainkan hidup yang mengarahkan setiap kehendak kepada tujuan kekal Allah. Ketaatan menjadi kehormatan, karena Allah mempercayakan kehendak-Nya untuk dinyatakan melalui hidup kita.

Hari ini firman Tuhan mengajak kita memeriksa diri dengan jujur. Apakah kita taat karena sungguh mengasihi kehendak Tuhan, atau sekadar ingin terlihat religius? Apakah kita masih menawar perintah-Nya dengan logika dan kepentingan pribadi? Ataukah kita bersedia berkata dengan tulus, “Bukan kehendakku, melainkan kehendak-Mu yang jadi?”

Allah tidak kekurangan korban, sebab seluruh ciptaan adalah milik-Nya (Mzm 50: 8-12). Yang sedang Allah cari adalah manusia yang bersedia menyerahkan seluruh keberadaannya untuk hidup dalam ketaatan penuh—hidup yang ditundukkan secara total kepada kehendak Allah, living in total submission. Bukan untuk melakukan lebih banyak hal, tetapi untuk taat lebih dalam. Sebab di sanalah hidup kita berkenan dan selaras dengan maksud kekal Allah.

Tuhan Yesus memberkati

ALLAH TIDAK TERTARIK PADA KORBAN YANG LAHIR DARI HATI YANG TIDAK TAAT. IA TIDAK MEMBUTUHKAN APA PUN DARI MANUSIA. YANG ALLAH KEHENDAKI ADALAH MANUSIA YANG HIDUP SELARAS DENGAN ISI HATI-NYA.

Card image
KIDS DAILY DEVOTIONAL 27 April 2026 - HATI YANG BERSIH
2026-04-28 22:17:24


Amsal 11:20
“Orang yang serong hatinya adalah kekejian bagi TUHAN, tetapi orang yang tak bercela, jalannya dikenan-Nya.”

Ririn terlihat gelisah dan tidak bersukacita. Biasanya ia ceria, tapi beberapa hari ini ia sering mengurung diri di kamar. Ternyata, Ririn sedang menyembunyikan sesuatu dari papa dan mamanya. Ia mendapat nilai ulangan Matematika yang kurang bagus, dan ia takut jika orang tuanya tahu lalu marah. Karena itu, sepulang sekolah Ririn langsung masuk ke kamar dengan hati yang gundah.

Suatu sore, mama Ririn mengetuk pintu kamar dan memanggil namanya dengan lembut. Jantung Ririn berdegup kencang. Dengan ragu, ia membuka pintu. Mama bertanya mengapa akhir-akhir ini Ririn terlihat sedih. Mendengar suara mamanya yang lembut, Ririn tidak bisa menahan air mata. Ia pun akhirnya berkata jujur tentang nilai ulangannya.

Mama Ririn memeluk Ririn dan berkata, “Nak, Mama dan Papa mungkin sedih, tapi berbohong itu membuat hati kita tidak bersih. Tuhan senang kalau kita jujur, walaupun kita sedang salah.” Ririn mengangguk dan menyesal. Ia berjanji untuk tidak berbohong lagi dan mau belajar berkata jujur kepada orang tuanya.

Rehobot Kids, Tuhan menyukai anak-anak yang memiliki hati yang bersih dan jujur. Walaupun kita pernah salah, Tuhan senang jika kita mau mengakui dan memperbaikinya. Yuk, kita belajar memiliki hati yang bersih, supaya lewat perkataan dan perbuatan kita, Tuhan dimuliakan dan disenangkan.

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 27 April 2026 (English Version) - SELF-CONTROL CREATES TRUE LOVE
2026-04-28 22:16:06


Galatians 5:22–23
“But the fruit of the Spirit is love, joy, peace, patience, kindness, goodness, faithfulness, gentleness, and self-control. Against such things there is no law.”

True love is not just about feeling comfortable or excited every time you meet. Galatians shows that love born of the Holy Spirit always goes hand in hand with patience and self-control. This means that healthy love is not wild and does not just follow feelings.

Many relationships are ruined not because of a lack of feelings, but because of a lack of control. When emotions run high, decisions are made without thinking things through. When physical urges arise, boundaries begin to be compromised. Yet mature love knows when to stop and dares to say, “This is not right.”

Self-control does not make love rigid; rather, it makes love safe. Love led by the Holy Spirit does not only think about today, but also about the future. It guards the heart, guards holiness, and guards commitment.

True love waits not because it fears rules, but because it honors God and the future. True love is not just about possession, but about nurturing with responsibility and faithfulness.

WHAT TO DO?
1. Build a spiritual routine so that the Holy Spirit leads your decisions.
2. Practice self-control in small ways every day.
3. Choose relationships that bring peace, not pressure or compromise.

BIBLE MARATHON:
1 Corinthians 13

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 27 April 2026 - PENGUASAAN DIRI MENCIPTAKAN CINTA SEJATI
2026-04-28 22:13:59


Galatia 5:22–23
“Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang itu.”

Cinta sejati bukan cuma soal nyaman atau deg-degan tiap ketemu. Galatia nunjukin kalau kasih yang lahir dari Roh Kudus selalu barengan sama kesabaran dan penguasaan diri. Artinya, cinta yang sehat nggak liar dan nggak asal nurutin perasaan.

Banyak hubungan rusak bukan karena nggak ada rasa, tapi karena kurang kendali. Waktu emosi naik, keputusan diambil tanpa mikir panjang. Waktu dorongan fisik datang, batas mulai dikompromikan. Padahal cinta yang dewasa tahu kapan harus berhenti dan berani bilang, “Ini nggak benar.”

Penguasaan diri bukan bikin cinta jadi kaku, justru bikin cinta jadi aman. Kasih yang dipimpin Roh Kudus nggak cuma mikirin hari ini, tapi juga masa depan. Ia menjaga hati, menjaga kekudusan, dan menjaga komitmen.

True love waits bukan karena takut aturan, tapi karena menghargai Tuhan dan masa depan. Cinta sejati bukan cuma soal memiliki, tapi soal memelihara dengan tanggung jawab dan kesetiaan.

WHAT TO DO?
1. Bangun rutinitas rohani supaya Roh Kudus memimpin keputusanmu.
2. Latih penguasaan diri dalam hal kecil setiap hari.
3. Pilih relasi yang membawa damai, bukan tekanan atau kompromi.

BIBLE MARATHON:
1 Korintus 13

Card image
Renungan Pagi - 27 April 2026
2026-04-28 22:11:39


Allah merancangkan sesuatu yang besar dalam hidup setiap kita, tapi kalau malas-malasan maka kita juga tidak akan melihat berkat-berkat Allah.

Allah mau ada campur tangan kita dalam setiap pekerjaan-Nya, sehingga dapat disebut kawan sekerja Allah, tidak ada gunanya sombong, karena segala yang kita miliki adalah kepunyaan Allah.

Orang yang sombong akan binasa, tetapi orang yang merendahkan diri dihadapan Tuhan akan melihat berkat-berkat yang luar biasa.

Card image
Quote Of The Day - 27 April 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-04-28 20:56:10


Hidup yang kekal itu bukan hanya bicara tentang panjangnya hidup—karena tertumpu pada kata “kekal”—melainkan dalamnya hidup; kualitas hidup.

Card image
Mutiara Suara Kebenaran - 27 April 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-04-28 20:54:24


Allah tidak selalu menolerir kelemahan dan kesalahan, sebab pada titik tertentu mereka yang seharusnya dewasa tetapi tetap tidak dewasa akan ‘dipukul’ Tuhan.

Card image
MORE THAN SACRIFICE - 27 April 2026 (English Version)
2026-04-28 20:52:43


1 Samuel 15:22b
“Indeed, to obey is better than sacrifice, and to heed is better than the fat of rams.”

Obedience is a value of faith often discussed, yet not easy to live out. It is sometimes perceived as a limitation on freedom. But in the Christian faith, obedience should not be understood as a burden, but as an act of faith in response to the God we trust. Obedience shows how far someone places God at the center of their life.

The Bible teaches that obedience is far more valuable than mere religious activity. In 1 Samuel 15:22b, it is affirmed that God prefers an attitude of listening and heeding His will over sacrificial offerings. This statement indicates that God’s focus is not on the intensity of service or religious ritual but on a heart willing to hear, understand, and do His will. Thus, true obedience springs from a right relationship with God, not from coercion or formal religious demands.

In daily life, obedience is often tested through simple yet concrete things: for example, being honest even at the risk of loss, forgiving those who hurt us, remaining faithful in our responsibilities to family, work, and ministry, or choosing to live righteously amid an environment that opposes truth. Such obedience may not appear great in human eyes, but it is highly valued before God.

Jesus Christ is the perfect example of obedience for every believer. Philippians 2:8 states that Jesus humbled Himself and was obedient even to death—death on a cross. Jesus’ obedience was not easy. He faced suffering, rejection, and death. Yet through His obedience, salvation was accomplished for all humanity. From this example, we understand that obedience to God may demand sacrifice but always yields life.

Often, people want to obey only if results are immediate and match personal expectations. But God works through processes that are not always instant. Sometimes obedience leads one down a quiet path, misunderstood by others, and felt as heavy. In such moments, faith is tested. The question is no longer about outcomes but about trust: does one remain convinced that God’s will is always best?

True obedience is not driven by fear of punishment but by love for God. Jesus affirmed in John 14:15, “If you love Me, you will keep My commandments.” When someone obeys, they express trust in God’s wisdom and love, even when they do not fully understand His plans.

May this reflection remind us that obedience is a step of faith that draws us closer to God. In every decision, big or small, obedience is a sincere surrender that says, “Lord, let Your will be done.” For in obedience there is peace, spiritual growth, and the blessings God provides in His timing.

The Lord Jesus bless you

OBEDIENCE TO GOD MAY DEMAND SACRIFICE BUT ALWAYS YIELDS LIFE.

Card image
LEBIH DARI KORBAN - 27 April 2026
2026-04-28 20:50:34


1 Samuel 15:22b
“Sesungguhnya, mendengarkan lebih baik daripada korban sembelihan, memperhatikan lebih baik daripada lemak domba-domba jantan.”

Ketaatan merupakan salah satu nilai iman yang sering dibicarakan, namun tidak mudah untuk dijalani. Bahkan, tidak jarang ketaatan dipersepsikan sebagai sesuatu yang membatasi kebebasan. Padahal, dalam iman Kristen, ketaatan seharusnya tidak dipahami sebagai beban, melainkan sebagai respons iman kepada Allah yang dipercayai. Ketaatan menunjukkan sejauh mana seseorang menempatkan Tuhan sebagai pusat kehidupannya.

Alkitab mengajarkan bahwa ketaatan memiliki nilai yang jauh lebih tinggi daripada sekadar aktivitas keagamaan. Dalam 1 Samuel 15:22b ditegaskan bahwa Tuhan lebih berkenan kepada sikap mendengar dan memperhatikan kehendak-Nya daripada korban sembelihan. Pernyataan ini menyatakan bahwa fokus Tuhan bukan pada intensitas pelayanan atau ritual keagamaan, melainkan pada hati yang mau mendengar, memahami, dan melakukan kehendak-Nya. Dengan demikian, ketaatan sejati lahir dari relasi yang benar dengan Tuhan, bukan dari keterpaksaan atau tuntutan formalitas agama.

Dalam kehidupan sehari-hari, ketaatan sering kali diuji melalui hal-hal yang sederhana, namun konkret. Misalnya, ketika seseorang diminta untuk berlaku jujur meskipun berisiko mengalami kerugian, mengampuni orang yang menyakiti, tetap setia menjalankan tanggung jawab dalam keluarga, pekerjaan, dan pelayanan, atau memilih hidup benar di tengah lingkungan yang tidak mendukung nilai-nilai kebenaran. Ketaatan semacam ini mungkin tidak selalu tampak besar di mata manusia, tetapi sangat bernilai di hadapan Tuhan.

Yesus Kristus adalah teladan ketaatan yang sempurna bagi setiap orang percaya. Filipi 2:8 menyatakan bahwa Yesus merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib. Ketaatan Yesus bukanlah ketaatan yang mudah. Ia harus menghadapi penderitaan, penolakan, dan kematian. Namun, melalui ketaatan-Nya, keselamatan dinyatakan bagi seluruh umat manusia. Dari teladan ini dapat dipahami bahwa ketaatan kepada Tuhan mungkin menuntut pengorbanan, tetapi selalu menghasilkan kehidupan.

Sering kali manusia ingin taat hanya jika hasilnya segera terlihat dan sesuai dengan harapan pribadi. Namun, Allah bekerja melalui proses yang tidak selalu instan. Ada kalanya ketaatan justru membawa seseorang melewati jalan yang sunyi, tidak dipahami oleh orang lain, bahkan terasa berat. Pada saat-saat seperti inilah iman diuji. Pertanyaan yang muncul bukan lagi tentang hasil, melainkan tentang kepercayaan: apakah seseorang tetap yakin bahwa kehendak Tuhan selalu yang terbaik?

Ketaatan sejati tidak digerakkan oleh rasa takut akan hukuman, melainkan oleh kasih kepada Tuhan. Yesus menegaskan dalam Yohanes 14:15, “Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku.” Ketika seseorang taat, ia sedang menyatakan kepercayaannya kepada hikmat dan kasih Tuhan, meskipun tidak selalu memahami rencana-Nya secara utuh.

Kiranya melalui renungan ini, kita diingatkan bahwa ketaatan adalah langkah iman yang membawa kita semakin dekat kepada Tuhan. Dalam setiap keputusan, baik yang kecil maupun yang besar, ketaatan adalah bentuk penyerahan diri yang tulus dengan berkata, “Tuhan, jadilah kehendak-Mu.” Sebab di dalam ketaatan terdapat damai sejahtera, pertumbuhan iman, dan berkat yang Tuhan sediakan tepat pada waktu-Nya.

Tuhan Yesus memberkati

KETAATAN KEPADA TUHAN MUNGKIN MENUNTUT PENGORBANAN, TETAPI SELALU MENGHASILKAN KEHIDUPAN.

Card image
KIDS DAILY DEVOTIONAL 26 April 2026 - DOA MALAM ARGA
2026-04-28 20:46:12


1 Yohanes 3:21 “Saudara-saudaraku yang kekasih, jikalau hati kita tidak menuduh kita, maka kita mempunyai keberanian percaya untuk mendekati Allah.”

Malam itu, Arga duduk di tepi tempat tidurnya. Ia ingin berdoa, tetapi hatinya terasa tidak tenang. Siang tadi, Arga sempat berbohong kepada temannya supaya tidak disalahkan. Ia menunduk dan berpikir, “Apakah Tuhan masih mau mendengarkan doaku?”

Arga teringat nasihat ibunya, “Kalau kita berbuat salah, datanglah kepada Tuhan dengan jujur.” Arga menarik napas dalam-dalam lalu berdoa pelan, “Tuhan, aku tadi tidak jujur. Aku minta maaf. Tolong ajari aku untuk berani melakukan yang benar.” Setelah berdoa, hatinya terasa lebih ringan dan tenang. Tidak ada lagi rasa bersalah yang menuduhnya.

Keesokan harinya, Arga memberanikan diri untuk meminta maaf kepada temannya. Ia merasa lega dan lebih berani. Arga juga merasa lebih dekat dengan Tuhan karena ia memilih untuk jujur dan melakukan yang benar.

Rehobot Kids, firman Tuhan hari ini mengajarkan bahwa ketika kita hidup jujur dan mau mengakui kesalahan, hati kita menjadi tenang. Saat hati kita tidak menuduh kita, kita bisa datang kepada Tuhan dengan penuh keberanian. Tuhan senang pada anak-anak yang mau hidup benar dan datang kepada-Nya dengan hati yang tulus.

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 26 April 2026 (English Version) - LOVE WITH SELF CONTROL
2026-04-28 20:43:57


Proverbs 25:28
“A person without self-control is like a city whose walls are broken down.”

Love without self-control seems exciting and free, but it is actually fragile. Proverbs says that a person who cannot control themselves is like a city without walls—easy to attack and unprotected. The same goes for relationships that are lived without healthy boundaries. Feelings can take over, and ultimately decisions are made not with wisdom, but with momentary impulses.

It’s natural to feel attraction and affection. But when emotions take control without restraint, we can go further than we should. Self-control doesn’t mean killing feelings, but directing them according to God’s will. That’s where love becomes mature—not only strong in feeling, but also strong in character.

God wants us to have “walls” in our lives and relationships. Not to limit love, but to protect our hearts, faith, and future. Healthy love knows when to stop, when to wait, and when to say enough.

Love with self-control means we value God’s plan more than momentary impulses. Guarding ourselves today is an investment for a more complete and blessed future.

WHAT TO DO?
1. Evaluate the boundaries in your relationships—what needs to be clarified?
2. Ask God to help you control your emotions.
3. Remember, protecting yourself now is a form of love for your future.

BIBLE MARATHON:
1 Corinthians 12

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 26 April 2026 - LOVE WITH SELF CONTROL
2026-04-28 20:37:44


Amsal 25:28
“Orang yang tak dapat mengendalikan diri adalah seperti kota yang roboh temboknya.”

Cinta tanpa pengendalian diri kelihatan seru dan bebas, tapi sebenarnya rapuh. Amsal bilang orang yang nggak bisa menguasai diri itu seperti kota tanpa tembok—mudah diserang dan nggak terlindungi. Sama juga dengan relasi yang dijalani tanpa batas sehat. Perasaan bisa ambil alih, dan akhirnya keputusan diambil bukan dengan hikmat, tapi dorongan sesaat.

Rasa suka dan ketertarikan itu wajar. Tapi kalau emosi memimpin tanpa kendali, kita bisa melangkah lebih jauh dari yang seharusnya. Self-control bukan berarti mematikan perasaan, tapi mengarahkannya sesuai kehendak Tuhan. Di situlah cinta jadi dewasa—bukan cuma kuat secara rasa, tapi juga kuat secara karakter.

Tuhan mau kita punya “tembok” dalam hidup dan relasi. Bukan untuk membatasi kasih, tapi untuk melindungi hati, iman, dan masa depan. Cinta yang sehat tahu kapan harus berhenti, kapan harus menunggu, dan kapan harus berkata cukup.

Love with self-control berarti kita lebih menghargai rencana Tuhan daripada dorongan sesaat. Menjaga diri hari ini adalah investasi buat masa depan yang lebih utuh dan penuh berkat.

WHAT TO DO?
1. Evaluasi batas dalam relasimu—apa yang perlu diperjelas?
2. Minta Tuhan bantu kamu mengendalikan emosi.
3. Ingat, menjaga diri sekarang adalah bentuk kasih untuk masa depanmu.

BIBLE MARATHON:
1 Korintus 12

Card image
Renungan Pagi - 26 April 2026
2026-04-28 20:35:49


Tuhan selalu memberikan yang terbaik bagi anak-anak-Nya, karena kalau kita tidak memberikan yang terbaik untuk Tuhan, berarti jahat dan bodoh, justru dengan memberikan yang terbaik bagi Tuhan, maka Tuhan menambah-nambahkan segala sesuatunya.

Hidup harus yang terbaik, waktu harus yang terbaik, pemikiran harus yang terbaik, pelayanan harus yang terbaik, dan apapun yang kita buat untuk Tuhan harus yang terbaik, karena tidak pernah rugi kalau memberi yang terbaik buat Tuhan, karena ukuran yang kita pakai akan diukurkan kepada kita.

Card image
Quote Of The Day - 26 April 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-04-27 22:57:23


Tata laksana kehidupan ideal adalah kehidupan yang dalam segala geraknya memuliakan Allah.   

Card image
Mutiara Suara Kebenaran - 26 April 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-04-27 22:53:09


Ketika kita sungguh berada di pihak Tuhan, kita tidak akan lagi berkompromi dengan dosa sekecil apa pun.

Card image
THE CALL TO FAITHFULNESS - 26 April 2026 (English Version)
2026-04-27 22:51:55


Faithfulness is often associated with favorable conditions. When life goes well, prayers are answered, ministry grows, and relationships are harmonious, faithfulness feels natural. But the question is: does faithfulness endure when circumstances change?

The figure of Job offers a powerful picture of faithfulness that is independent of the situation. In a short time, Job lost his wealth, his children, and his health. Amid that ruin, he said, “The LORD gave, and the LORD has taken away; blessed be the name of the LORD!” (Job 1:21). Job’s faithfulness did not arise from advantageous circumstances but from his knowledge of God. True faithfulness is rooted in calling, not comfort. Someone is faithful not because life is easy, but because God was faithful to them first. If faithfulness only lasts while circumstances are pleasant, then what is sought is blessing, not God.

In spiritual life, there are always seasons. There are seasons of abundance but also seasons of drought. There are times when God feels very near, and times when He seems silent. Faithfulness is tested not in seasons of light but in seasons of darkness.

Ruth is another example of faithfulness that transcends circumstance. After her husband died, she had reason to return to her own people. Yet, Ruth chose to remain faithful to Naomi, saying, “Your people shall be my people, and your God my God” (Ruth 1:16). That faithfulness brought Ruth into God’s greater redemptive plan beyond what she imagined.

People often want to be faithful only insofar as it is advantageous. But God’s calling does not always bring immediate benefit. There is faithfulness lived in solitude, without recognition, without instant results. Yet God sees every faithful step that people may not.

Faithfulness is a daily decision. It is not built in a single emotional moment, but in consistent, small choices: keep praying, keep hoping, keep serving, and keep trusting, even when circumstances say otherwise. When someone is faithful to God’s calling, they align their life with His will. In that faithfulness, God works, shapes, and prepares a future not yet visible.

Faith is not measured by the strength of feeling but by the firmness to stand. Faithfulness is not about emotion but commitment. God’s calling does not always take one to pleasant places, but it always leads to the right place. When one is faithful to that calling, they build a solid spiritual foundation that is not easily toppled by changing circumstances. Faithfulness rooted in calling helps one view life from a deeper perspective. The journey of faith is no longer judged by what is felt but by who is calling. When the focus shifts from circumstances to God, faithfulness is no longer a burden but a response of love.

God’s calling gives meaning to suffering and direction to patience. Without awareness of calling, faithfulness is easily measured by visible results. But when one realizes that it is God who calls and places, they learn to trust that every season of life is under His control. Faithfulness lived diligently will deepen the knowledge of God. And that knowledge enables one to say in every season of life: “I still believe, because He is faithful.”

The Lord Jesus bless you

TRUE FAITHFULNESS IS ROOTED IN CALLING, NOT COMFORT.

Card image
PANGGILAN KESETIAAN - 26 April 2026
2026-04-27 22:47:57


Kesetiaan sering kali dikaitkan dengan keadaan yang mendukung. Ketika hidup berjalan baik, doa terjawab, pelayanan bertumbuh, dan relasi harmonis, kesetiaan terasa wajar. Namun pertanyaannya adalah: apakah kesetiaan tetap bertahan ketika keadaan berubah?

Tokoh Ayub memberikan gambaran yang sangat kuat tentang kesetiaan yang tidak bergantung pada situasi. Dalam waktu singkat, Ayub kehilangan harta, anak-anak, dan kesehatannya. Di tengah kehancuran itu, ia berkata, “TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN!” (Ayb. 1:21). Kesetiaan Ayub tidak lahir dari keadaan yang menguntungkan, melainkan dari pengenalannya akan Allah. Kesetiaan yang sejati berakar pada panggilan, bukan pada kenyamanan. Seseorang setia bukan karena hidup mudah, melainkan karena Tuhan lebih dahulu setia kepadanya. Jika kesetiaan hanya bertahan selama keadaan menyenangkan, maka sesungguhnya yang dikejar adalah berkat, bukan Tuhan.

Dalam kehidupan rohani, selalu ada musim. Ada musim kelimpahan, tetapi juga musim kekeringan. Ada masa ketika Tuhan terasa begitu dekat, tetapi ada pula masa ketika Ia seolah diam. Kesetiaan diuji bukan dalam musim terang, melainkan dalam musim gelap.

Rut menjadi contoh lain tentang kesetiaan yang melampaui keadaan. Setelah suaminya meninggal, ia memiliki alasan untuk kembali kepada bangsanya sendiri. Namun Rut memilih tetap setia kepada Naomi dengan berkata, “Bangsamulah bangsaku dan Allahmulah Allahku” (Rut 1:16). Kesetiaan itu membawa Rut masuk ke dalam rencana penebusan Allah yang jauh lebih besar daripada yang ia bayangkan.

Sering kali manusia ingin setia sejauh itu menguntungkan. Namun panggilan Tuhan tidak selalu menghadirkan keuntungan langsung. Ada kesetiaan yang dijalani dalam kesunyian, tanpa pengakuan, tanpa hasil yang instan. Namun Tuhan melihat setiap langkah setia yang mungkin tidak dilihat oleh manusia.

Kesetiaan adalah keputusan harian. Ia tidak dibangun dalam satu momen emosional, melainkan dalam pilihan-pilihan kecil yang konsisten: tetap berdoa, tetap berharap, tetap melayani, dan tetap percaya meskipun keadaan berkata sebaliknya. Ketika seseorang setia pada panggilan Tuhan, ia sedang menyelaraskan hidupnya dengan kehendak-Nya. Dalam kesetiaan itulah Tuhan bekerja, membentuk, dan mempersiapkan masa depan yang belum terlihat.

Iman tidak diukur dari kuatnya perasaan, melainkan dari keteguhan untuk tetap berdiri. Kesetiaan bukan soal emosi, tetapi komitmen. Panggilan Tuhan tidak selalu membawa ke tempat yang menyenangkan, tetapi selalu membawa ke tempat yang benar. Ketika seseorang setia pada panggilan itu, ia sedang membangun fondasi rohani yang kokoh dan tidak mudah runtuh oleh perubahan keadaan. Kesetiaan yang berakar pada panggilan akan menolong seseorang memandang hidup dari sudut yang lebih dalam. Perjalanan iman tidak lagi dinilai dari apa yang dirasakan, melainkan dari siapa yang memanggil. Ketika fokus berpindah dari keadaan kepada Tuhan, kesetiaan tidak lagi menjadi beban, melainkan respons kasih.

Panggilan Allah memberi makna pada penderitaan dan arah pada kesabaran. Tanpa kesadaran akan panggilan, kesetiaan mudah diukur dari hasil yang terlihat. Namun ketika disadari bahwa Tuhan sendirilah yang memanggil dan menempatkan, seseorang belajar percaya bahwa setiap musim kehidupan berada dalam kendali-Nya. Kesetiaan yang dijalani dengan tekun akan memperdalam pengenalan akan Tuhan. Dan pengenalan itulah yang memampukan seseorang berkata dalam setiap musim kehidupan: “Aku tetap percaya, karena Dia setia.”

Tuhan Yesus memberkati

KESETIAAN YANG SEJATI BERAKAR PADA PANGGILAN, BUKAN PADA KENYAMANAN.

Card image
KIDS DAILY DEVOTIONAL 26 April 2026 - DOA MALAM ARGA
2026-04-27 19:44:07


1 Yohanes 3:21 “Saudara-saudaraku yang kekasih, jikalau hati kita tidak menuduh kita, maka kita mempunyai keberanian percaya untuk mendekati Allah.”

Malam itu, Arga duduk di tepi tempat tidurnya. Ia ingin berdoa, tetapi hatinya terasa tidak tenang. Siang tadi, Arga sempat berbohong kepada temannya supaya tidak disalahkan. Ia menunduk dan berpikir, “Apakah Tuhan masih mau mendengarkan doaku?”

Arga teringat nasihat ibunya, “Kalau kita berbuat salah, datanglah kepada Tuhan dengan jujur.” Arga menarik napas dalam-dalam lalu berdoa pelan, “Tuhan, aku tadi tidak jujur. Aku minta maaf. Tolong ajari aku untuk berani melakukan yang benar.” Setelah berdoa, hatinya terasa lebih ringan dan tenang. Tidak ada lagi rasa bersalah yang menuduhnya.

Keesokan harinya, Arga memberanikan diri untuk meminta maaf kepada temannya. Ia merasa lega dan lebih berani. Arga juga merasa lebih dekat dengan Tuhan karena ia memilih untuk jujur dan melakukan yang benar.

Rehobot Kids, firman Tuhan hari ini mengajarkan bahwa ketika kita hidup jujur dan mau mengakui kesalahan, hati kita menjadi tenang. Saat hati kita tidak menuduh kita, kita bisa datang kepada Tuhan dengan penuh keberanian. Tuhan senang pada anak-anak yang mau hidup benar dan datang kepada-Nya dengan hati yang tulus.

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 26 April 2026 (English Version) - LOVE WITH SELF CONTROL
2026-04-27 19:42:52


Proverbs 25:28
“A person without self-control is like a city whose walls are broken down.”

Love without self-control seems exciting and free, but it is actually fragile. Proverbs says that a person who cannot control themselves is like a city without walls—easy to attack and unprotected. The same goes for relationships that are lived without healthy boundaries. Feelings can take over, and ultimately decisions are made not with wisdom, but with momentary impulses.

It’s natural to feel attraction and affection. But when emotions take control without restraint, we can go further than we should. Self-control doesn’t mean killing feelings, but directing them according to God’s will. That’s where love becomes mature—not only strong in feeling, but also strong in character.

God wants us to have “walls” in our lives and relationships. Not to limit love, but to protect our hearts, faith, and future. Healthy love knows when to stop, when to wait, and when to say enough.

Love with self-control means we value God’s plan more than momentary impulses. Guarding ourselves today is an investment for a more complete and blessed future.

WHAT TO DO?
1. Evaluate the boundaries in your relationships—what needs to be clarified?
2. Ask God to help you control your emotions.
3. Remember, protecting yourself now is a form of love for your future.

BIBLE MARATHON:
1 Corinthians 12

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 26 April 2026 - LOVE WITH SELF CONTROL
2026-04-27 19:41:18


Amsal 25:28

“Orang yang tak dapat mengendalikan diri adalah seperti kota yang roboh temboknya.”

Cinta tanpa pengendalian diri kelihatan seru dan bebas, tapi sebenarnya rapuh. Amsal bilang orang yang nggak bisa menguasai diri itu seperti kota tanpa tembok—mudah diserang dan nggak terlindungi. Sama juga dengan relasi yang dijalani tanpa batas sehat. Perasaan bisa ambil alih, dan akhirnya keputusan diambil bukan dengan hikmat, tapi dorongan sesaat.

Rasa suka dan ketertarikan itu wajar. Tapi kalau emosi memimpin tanpa kendali, kita bisa melangkah lebih jauh dari yang seharusnya. Self-control bukan berarti mematikan perasaan, tapi mengarahkannya sesuai kehendak Tuhan. Di situlah cinta jadi dewasa—bukan cuma kuat secara rasa, tapi juga kuat secara karakter.

Tuhan mau kita punya “tembok” dalam hidup dan relasi. Bukan untuk membatasi kasih, tapi untuk melindungi hati, iman, dan masa depan. Cinta yang sehat tahu kapan harus berhenti, kapan harus menunggu, dan kapan harus berkata cukup.

Love with self-control berarti kita lebih menghargai rencana Tuhan daripada dorongan sesaat. Menjaga diri hari ini adalah investasi buat masa depan yang lebih utuh dan penuh berkat.

WHAT TO DO?
1. Evaluasi batas dalam relasimu—apa yang perlu diperjelas?
2. Minta Tuhan bantu kamu mengendalikan emosi.
3. Ingat, menjaga diri sekarang adalah bentuk kasih untuk masa depanmu.

BIBLE MARATHON:
1 Korintus 12

Card image
Renungan Pagi - 26 April 2026
2026-04-27 19:39:01


Tuhan selalu memberikan yang terbaik bagi anak-anak-Nya, karena kalau kita tidak memberikan yang terbaik untuk Tuhan, berarti jahat dan bodoh, justru dengan memberikan yang terbaik bagi Tuhan, maka Tuhan menambah-nambahkan segala sesuatunya.

Hidup harus yang terbaik, waktu harus yang terbaik, pemikiran harus yang terbaik, pelayanan harus yang terbaik, dan apapun yang kita buat untuk Tuhan harus yang terbaik, karena tidak pernah rugi kalau memberi yang terbaik buat Tuhan, karena ukuran yang kita pakai akan diukurkan kepada kita.

Card image
Quote Of The Day - 26 April 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-04-27 19:36:52


Tata laksana kehidupan ideal adalah kehidupan yang dalam segala geraknya memuliakan Allah.   

Card image
Mutiara Suara Kebenaran - 26 April 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-04-27 19:36:10


Ketika kita sungguh berada di pihak Tuhan, kita tidak akan lagi berkompromi dengan dosa sekecil apa pun.

Card image
THE CALL TO FAITHFULNESS - 26 April 2026 (English Version)
2026-04-26 23:10:05


Faithfulness is often associated with favorable conditions. When life goes well, prayers are answered, ministry grows, and relationships are harmonious, faithfulness feels natural. But the question is: does faithfulness endure when circumstances change?

The figure of Job offers a powerful picture of faithfulness that is independent of the situation. In a short time, Job lost his wealth, his children, and his health. Amid that ruin, he said, “The LORD gave, and the LORD has taken away; blessed be the name of the LORD!” (Job 1:21). Job’s faithfulness did not arise from advantageous circumstances but from his knowledge of God. True faithfulness is rooted in calling, not comfort. Someone is faithful not because life is easy, but because God was faithful to them first. If faithfulness only lasts while circumstances are pleasant, then what is sought is blessing, not God.

In spiritual life, there are always seasons. There are seasons of abundance but also seasons of drought. There are times when God feels very near, and times when He seems silent. Faithfulness is tested not in seasons of light but in seasons of darkness.

Ruth is another example of faithfulness that transcends circumstance. After her husband died, she had reason to return to her own people. Yet, Ruth chose to remain faithful to Naomi, saying, “Your people shall be my people, and your God my God” (Ruth 1:16). That faithfulness brought Ruth into God’s greater redemptive plan beyond what she imagined.

People often want to be faithful only insofar as it is advantageous. But God’s calling does not always bring immediate benefit. There is faithfulness lived in solitude, without recognition, without instant results. Yet God sees every faithful step that people may not.

Faithfulness is a daily decision. It is not built in a single emotional moment, but in consistent, small choices: keep praying, keep hoping, keep serving, and keep trusting, even when circumstances say otherwise. When someone is faithful to God’s calling, they align their life with His will. In that faithfulness, God works, shapes, and prepares a future not yet visible.

Faith is not measured by the strength of feeling but by the firmness to stand. Faithfulness is not about emotion but commitment. God’s calling does not always take one to pleasant places, but it always leads to the right place. When one is faithful to that calling, they build a solid spiritual foundation that is not easily toppled by changing circumstances. Faithfulness rooted in calling helps one view life from a deeper perspective. The journey of faith is no longer judged by what is felt but by who is calling. When the focus shifts from circumstances to God, faithfulness is no longer a burden but a response of love.

God’s calling gives meaning to suffering and direction to patience. Without awareness of calling, faithfulness is easily measured by visible results. But when one realizes that it is God who calls and places, they learn to trust that every season of life is under His control. Faithfulness lived diligently will deepen the knowledge of God.* And that knowledge enables one to say in every season of life: “I still believe, because He is faithful.”

The Lord Jesus bless you

TRUE FAITHFULNESS IS ROOTED IN CALLING, NOT COMFORT.

Card image
PANGGILAN KESETIAAN - 26 April 2026
2026-04-26 23:08:01


Kesetiaan sering kali dikaitkan dengan keadaan yang mendukung. Ketika hidup berjalan baik, doa terjawab, pelayanan bertumbuh, dan relasi harmonis, kesetiaan terasa wajar. Namun pertanyaannya adalah: apakah kesetiaan tetap bertahan ketika keadaan berubah?

Tokoh Ayub memberikan gambaran yang sangat kuat tentang kesetiaan yang tidak bergantung pada situasi. Dalam waktu singkat, Ayub kehilangan harta, anak-anak, dan kesehatannya. Di tengah kehancuran itu, ia berkata, “TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN!” (Ayb. 1:21). Kesetiaan Ayub tidak lahir dari keadaan yang menguntungkan, melainkan dari pengenalannya akan Allah. Kesetiaan yang sejati berakar pada panggilan, bukan pada kenyamanan. Seseorang setia bukan karena hidup mudah, melainkan karena Tuhan lebih dahulu setia kepadanya. Jika kesetiaan hanya bertahan selama keadaan menyenangkan, maka sesungguhnya yang dikejar adalah berkat, bukan Tuhan.

Dalam kehidupan rohani, selalu ada musim. Ada musim kelimpahan, tetapi juga musim kekeringan. Ada masa ketika Tuhan terasa begitu dekat, tetapi ada pula masa ketika Ia seolah diam. Kesetiaan diuji bukan dalam musim terang, melainkan dalam musim gelap.

Rut menjadi contoh lain tentang kesetiaan yang melampaui keadaan. Setelah suaminya meninggal, ia memiliki alasan untuk kembali kepada bangsanya sendiri. Namun Rut memilih tetap setia kepada Naomi dengan berkata, “Bangsamulah bangsaku dan Allahmulah Allahku” (Rut 1:16). Kesetiaan itu membawa Rut masuk ke dalam rencana penebusan Allah yang jauh lebih besar daripada yang ia bayangkan.

Sering kali manusia ingin setia sejauh itu menguntungkan. Namun panggilan Tuhan tidak selalu menghadirkan keuntungan langsung. Ada kesetiaan yang dijalani dalam kesunyian, tanpa pengakuan, tanpa hasil yang instan. Namun Tuhan melihat setiap langkah setia yang mungkin tidak dilihat oleh manusia.

Kesetiaan adalah keputusan harian. Ia tidak dibangun dalam satu momen emosional, melainkan dalam pilihan-pilihan kecil yang konsisten: tetap berdoa, tetap berharap, tetap melayani, dan tetap percaya meskipun keadaan berkata sebaliknya. Ketika seseorang setia pada panggilan Tuhan, ia sedang menyelaraskan hidupnya dengan kehendak-Nya. Dalam kesetiaan itulah Tuhan bekerja, membentuk, dan mempersiapkan masa depan yang belum terlihat.

Iman tidak diukur dari kuatnya perasaan, melainkan dari keteguhan untuk tetap berdiri. Kesetiaan bukan soal emosi, tetapi komitmen. Panggilan Tuhan tidak selalu membawa ke tempat yang menyenangkan, tetapi selalu membawa ke tempat yang benar. Ketika seseorang setia pada panggilan itu, ia sedang membangun fondasi rohani yang kokoh dan tidak mudah runtuh oleh perubahan keadaan. Kesetiaan yang berakar pada panggilan akan menolong seseorang memandang hidup dari sudut yang lebih dalam. Perjalanan iman tidak lagi dinilai dari apa yang dirasakan, melainkan dari siapa yang memanggil. Ketika fokus berpindah dari keadaan kepada Tuhan, kesetiaan tidak lagi menjadi beban, melainkan respons kasih.

Panggilan Allah memberi makna pada penderitaan dan arah pada kesabaran. Tanpa kesadaran akan panggilan, kesetiaan mudah diukur dari hasil yang terlihat. Namun ketika disadari bahwa Tuhan sendirilah yang memanggil dan menempatkan, seseorang belajar percaya bahwa setiap musim kehidupan berada dalam kendali-Nya. *Kesetiaan yang dijalani dengan tekun akan memperdalam pengenalan akan Tuhan.* Dan pengenalan itulah yang memampukan seseorang berkata dalam setiap musim kehidupan: “Aku tetap percaya, karena Dia setia.”

Tuhan Yesus memberkati

KESETIAAN YANG SEJATI BERAKAR PADA PANGGILAN, BUKAN PADA KENYAMANAN.

Card image
KIDS DAILY DEVOTIONAL 25 April 2026 - BERSUKACITA DI DALAM TUHAN
2026-04-26 19:38:26


Mazmur 37:4
“Dan bergembiralah karena TUHAN; maka Ia akan memberikan kepadamu apa yang diinginkan hatimu.” Hari Minggu pagi, Sela bangun dengan wajah cemberut. Ia ingin bermain sejak pagi, tetapi mama mengajaknya bersiap pergi ke gereja. Dalam hati Sela berkata, “Aku maunya main dulu.” Dengan langkah pelan, ia tetap ikut ke gereja.

Saat ibadah dimulai, Sela duduk dan mendengarkan lagu pujian. Awalnya ia bernyanyi pelan saja. Namun, perlahan ia mulai memperhatikan liriknya—tentang Tuhan yang baik, setia, dan selalu mengasihi. Tanpa sadar, Sela bernyanyi lebih sungguh-sungguh, dan hatinya terasa lebih tenang serta ringan.

Ketika mendengarkan firman Tuhan, Sela menyadari sesuatu. Bersama Tuhan, hatinya merasa aman dan senang, walaupun tidak selalu mendapatkan apa yang ia inginkan. Sepulang gereja, Sela membantu mama di rumah dengan hati yang ceria.

Sore harinya, ayah mengajak Sela bermain. Sela tersenyum lebar. Ia belajar bahwa saat ia lebih dulu bersukacita di dalam Tuhan. Tuhan tahu apa yang ia perlukan bahkan sebelum ia memintanya.

Rehobot Kids, Tuhan rindu kita menikmati kebersamaan dengan-Nya, karena Dia selalu memberikan yang terbaik pada waktu yang tepat.

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 25 April 2026 (English Version)LOVE WITH BOUNDARIES
2026-04-26 19:36:35


1 Corinthians 6:12
“Everything is permissible for me, but not everything is beneficial… I will not be enslaved by anything.”

Many people think that the more free love is, the cooler it is. No rules, no boundaries, as long as both parties are willing. But God’s word says: not everything that is permissible is beneficial. This means that even though something feels good, it may not necessarily be constructive.

The movie Courageous shows that healthy love always comes with responsibility. The fathers in the movie learn that love is not just about warm feelings, but a commitment to protect and lead properly. The same principle applies to romantic relationships. Without boundaries, love can become wild and hurtful. With boundaries, love becomes safe and grows.

Boundaries are not the enemy of happiness. Rather, boundaries are like a fence at the edge of a cliff—not to keep us from joy, but to keep us from falling. In relationships, boundaries regarding holiness, time, physical touch, and commitment are important. They are not a sign that you are rigid, but a sign that you value yourself and God.

Mature love knows when to stop, when to protect yourself, and when to say enough is enough. Because true love is not about how far you can go, but how faithfully you keep to the direction God has set.

WHAT TO DO?
1. Set clear boundaries from the beginning of the relationship.
2. Be brave enough to say no to things that destroy faith.
3. Remember, true love always has a purpose that glorifies God.

BIBLE MARATHON:
1 Corinthians 11

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 25 April 2026 - LOVE WITH BOUNDARIES
2026-04-26 19:34:23


1 Korintus 6:12
“Segala sesuatu halal bagiku, tetapi bukan semuanya berguna… aku tidak membiarkan diriku diperhamba oleh suatu apa pun.”

Banyak orang mikir cinta itu makin bebas makin keren. Nggak ada aturan, nggak ada batas, yang penting sama-sama mau. Tapi firman Tuhan bilang: nggak semua yang boleh itu berguna. Artinya, walaupun sesuatu terasa menyenangkan, belum tentu itu membangun.

Film Courageous nunjukin bahwa kasih yang sehat selalu disertai tanggung jawab. Para ayah di film itu belajar bahwa cinta bukan cuma soal perasaan hangat, tapi komitmen untuk melindungi dan memimpin dengan benar. Prinsip yang sama berlaku dalam relasi romantis. Tanpa batasan, cinta bisa jadi liar dan melukai. Dengan batasan, cinta jadi aman dan bertumbuh.

Batasan bukan musuh kebahagiaan. Justru batas itu seperti pagar di tepi jurang—bukan untuk menahan kita dari sukacita, tapi supaya kita _nggak_ jatuh. Dalam relasi, batas tentang kekudusan, waktu, sentuhan fisik, dan komitmen itu penting. Itu bukan tanda kamu kaku, tapi tanda kamu menghargai dirimu dan Tuhan.

Cinta yang dewasa tahu kapan harus berhenti, kapan harus menjaga diri, dan kapan harus berkata cukup. Karena cinta sejati bukan tentang seberapa jauh kamu bisa melangkah, tapi seberapa setia kamu menjaga arah yang Tuhan tetapkan.

WHAT TO DO?
1. Tetapkan batas yang jelas sejak awal relasi.
2. Berani berkata tidak pada hal yang merusak iman.
3. Ingat, cinta sejati selalu punya tujuan yang memuliakan Tuhan.

BIBLE MARATHON:
1 Korintus 11

Card image
Renungan Pagi - 25 April 2026
2026-04-26 19:29:18


Orang yang memiliki hubungan intim dengan Tuhan adalah orang yang tidak berkhianat, artinya dia tulus, setia, ditekan bagaimanapun dia tidak akan berkhianat.

Dunia ini dipenuhi oleh banyak pengkhianat, ada banyak suami atau istri yang mengkhianati pasangannya, sahabat baik berkhianat, orang yang kita percaya berkhianat, orang yang kita tolong mengkhianati.

Mari kita menjadi orang yang tulus dan setia, karena selama hidup tulus dan setia pasti ada berkat, mukjizat dan kemenangan luar biasa.

Card image
Quote Of The Day - 25 April 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-04-26 19:26:36


Orang percaya dipanggil untuk memiliki kualitas hidup seperti yang Tuhan Yesus peragakan, bukan berdasarkan tokoh saleh dalam Perjanjian Lama.

Card image
Mutiara Suara Kebenaran - 25 April 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-04-26 19:16:50


Roh Kudus menolong orang percaya untuk mencintai apa yang Allah cintai dan membenci apa yang Allah benci.

Card image
LIVED FAITHFUNESS - 25 April 2026 (English Version)
2026-04-26 19:15:19


Faithfulness is often understood as the ability to endure, to stay, not to leave, and not to give up. But the Bible leads us to a deeper understanding. Faithfulness is not merely moral endurance but an inward quality formed through a relationship with God. Micah 6:8 states, “He has shown you, O man, what is good; and what does the LORD require of you but to do justice, to love kindness, and to walk humbly with your God?” From this verse, we learn that more than ritual, offering, or any sacrifice, God desires justice, faithfulness, and humility lived out daily.

Notably, God’s word does not say “perform faithfulness” but “love faithfulness.” This phrase shows that faithfulness is not an obligation borne reluctantly, but a value longed for and preserved. True faithfulness arises from a heart aligned with God’s will. A right knowledge of the faithful God will cultivate our faithfulness to Him. In Micah’s prophetic context, God’s people were diligent in worship, yet their lives did not reflect God’s character. They sought shortcuts through sacrifices and rituals as if God could be satisfied by outward actions. God rebukes this mindset firmly. What He desires is not mere religiosity but integrity; not spiritual appearance but faithfulness expressed in justice, love, and humility.

Faithfulness is always related to the consistency of life. A faithful person keeps choosing what is right even when no one is watching. Faithfulness demands a cost and is tested through difficult circumstances. In a fast-changing world, faithfulness is often seen as old-fashioned and impractical. Yet before God, faithfulness is an irreplaceable value because it reflects His own character. God is a faithful Person—faithful to His promises and to His covenant with humanity to bring them to His eternal purposes. When God asks people to love faithfulness, He invites them to partake in His character. Thus, faithfulness is not merely an ethical demand but a call to be like God.

Faithfulness cannot be separated from humility. Micah 6:8 closes with the call to walk humbly with God. Without humility, faithfulness easily becomes spiritual pride—feeling more right, more consistent, or more deserving than others. True faithfulness always goes hand in hand with the awareness that we live entirely by God’s grace. In daily life, faithfulness is expressed through repeated small choices: staying honest when compromise seems advantageous, remaining faithful in responsibilities despite a lack of appreciation, and continuing in truth, though results are not immediate. Faithfulness is not about great moments but about ongoing alignment of life with God’s will.

The Holy Spirit plays a vital role in forming this faithfulness. Without His work, humans easily grow weary and falter. But the Spirit helps believers to love what God loves and to hate what God hates. He produces faithfulness as a fruit of a life that abides in God.

Today God’s Word invites us to stop asking what more we must do for God and begin asking whether our lives are aligned with His heart. God is not seeking spectacular people but faithful ones. Such faithfulness is the way of life pleasing to Him.

The Lord Jesus bless you

FAITHFULNESS IS NOT MERELY MORAL ENDURANCE BUT AN INWARD QUALITY FORMED THROUGH A RELATIONSHIP WITH GOD.

Card image
KESETIAAN YANG DIHIDUPI - 25 April 2026
2026-04-26 18:42:53


Kesetiaan sering dipahami sebagai kemampuan untuk bertahan, tetap tinggal, tidak pergi, dan tidak menyerah. Namun Alkitab membawa kita pada pengertian yang lebih mendalam. Kesetiaan bukan sekadar daya tahan moral, melainkan kualitas batin yang dibentuk melalui relasi dengan Allah. Mikha 6:8 menyatakan: “Dan apakah yang dituntut TUHAN dari padamu: selain berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allahmu?” Dari ayat ini kita belajar bahwa lebih daripada ritual, persembahan, atau pengorbanan apa pun, Tuhan lebih menghendaki keadilan, kesetiaan, dan kerendahan hati yang dihidupi setiap hari.

Menarik bahwa firman Tuhan tidak mengatakan “melakukan kesetiaan”, melainkan “mencintai kesetiaan”. Ungkapan ini menunjukkan bahwa kesetiaan bukanlah kewajiban yang dipikul dengan terpaksa, tetapi nilai yang dirindukan dan dipelihara. Kesetiaan sejati lahir dari hati yang diselaraskan dengan kehendak Allah. Pengenalan yang benar akan Allah yang setia akan menumbuhkan kesetiaan kita kepada-Nya. Dalam konteks nubuat Mikha, umat Allah rajin beribadah, tetapi hidup mereka tidak mencerminkan karakter Allah. Mereka mencari jalan pintas melalui korban dan ritual, seolah-olah Allah dapat dipuaskan oleh tindakan lahiriah. Tuhan menegur pola pikir ini dengan tegas. Yang Ia kehendaki bukan sekadar religiositas, melainkan integritas; bukan penampilan rohani, melainkan kesetiaan yang nyata dalam keadilan, kasih, dan kerendahan hati.

Kesetiaan selalu berkaitan dengan konsistensi hidup. Orang yang setia tetap memilih melakukan yang benar meskipun tidak ada yang melihat. Kesetiaan menuntut harga dan teruji melalui keadaan yang sulit. Dalam dunia yang cepat berubah, kesetiaan sering dianggap kuno dan tidak praktis. Namun di hadapan Allah, kesetiaan adalah nilai yang tidak tergantikan, karena mencerminkan karakter-Nya sendiri. Allah adalah Pribadi yang setia—setia pada janji-janji-Nya dan pada perjanjian-Nya dengan manusia untuk membawa mereka menuju tujuan kekal-Nya. Ketika Allah meminta manusia untuk mencintai kesetiaan, Ia sedang mengundang manusia untuk mengambil bagian dalam karakter-Nya. Dengan demikian, kesetiaan bukan sekadar tuntutan etis, melainkan panggilan untuk menjadi serupa dengan Allah.

Kesetiaan juga tidak dapat dipisahkan dari kerendahan hati. Mikha 6:8 menutup dengan panggilan untuk hidup rendah hati di hadapan Allah. Tanpa kerendahan hati, kesetiaan mudah berubah menjadi kesombongan rohani—merasa diri lebih benar, lebih konsisten, atau lebih layak daripada orang lain. Kesetiaan sejati selalu berjalan bersama kesadaran bahwa kita hidup sepenuhnya oleh anugerah Allah. Dalam kehidupan sehari-hari, kesetiaan dinyatakan melalui pilihan-pilihan kecil yang berulang: tetap jujur ketika kompromi tampak menguntungkan, tetap setia dalam tanggung jawab meskipun tidak mendapat apresiasi, dan tetap berjalan dalam kebenaran meskipun hasilnya tidak segera terlihat. Kesetiaan bukan tentang momen besar, melainkan tentang keselarasan hidup yang terus-menerus dengan kehendak Allah.

Roh Kudus berperan penting dalam membentuk kesetiaan ini. Tanpa karya-Nya, manusia mudah lelah dan goyah. Namun Roh Kudus menolong orang percaya untuk mencintai apa yang Allah cintai dan membenci apa yang Allah benci. Ia menumbuhkan kesetiaan sebagai buah dari kehidupan yang tinggal di dalam Allah.

Hari ini firman Tuhan mengajak kita berhenti bertanya tentang apa lagi yang harus dilakukan bagi Allah, dan mulai bertanya apakah hidup kita telah selaras dengan hati-Nya. Allah tidak mencari manusia yang spektakuler, tetapi manusia yang setia. Kesetiaan itulah jalan hidup yang berkenan kepada-Nya.

Tuhan Yesus memberkati

KESETIAAN BUKAN SEKADAR DAYA TAHAN MORAL, MELAINKAN KUALITAS BATIN YANG DIBENTUK MELALUI RELASI DENGAN ALLAH.

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 24 April 2026 (English Version) - WAIT FOR GOD'S TIME
2026-04-25 21:31:45


Ecclesiastes 3:1
“There is a time for everything, and a season for every activity under the heavens.”

Young people often want everything to happen quickly—quick relationships, quick success, quick answers to prayer. They want it now. But God teaches us that life has seasons. If we force fruit to ripen before its time, what we get is not sweetness, but bitterness. Samson is a clear example: he was chosen by God and had great strength, but he was often hasty in matters of the heart.

Samson obeyed his desires rather than God. He was impatient to wait for God’s timing, and his emotional choices ruined his life. Great gifts are not enough if one’s character is not ready. Power without self-control can backfire.

Waiting does not mean being passive or defeated. Waiting is God’s process of shaping our hearts, deepening our faith, and maturing our character. If now is not the time for dating or you haven’t met the right person, it doesn’t mean you are lacking. It could be that God is preparing you first, before preparing someone for you.

Don’t be afraid of the waiting season. Rushing can cause you to fall, but patience prepares us. God’s timing may not always be quick, but it is always right.

WHAT TO DO?
1. Don’t make relationship decisions out of panic or pressure.
2. Learn from the story of Samson: great gifts require obedience.
3. Use the waiting period to grow in faith and character.

BIBLE MARATHON:
1 Corinthians 10

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 24 April 2026 - WAIT FOR GOD'S TIME
2026-04-25 21:28:26


Pengkhotbah 3:1
“Untuk segala sesuatu ada waktunya, untuk setiap perkara di bawah langit ada waktunya.”

Anak muda sering pengen semuanya serba cepat—pacaran cepat, sukses cepat, jawab doa cepat. Maunya sekarang juga. Tapi Tuhan ngajarin bahwa hidup itu punya musim. Kalau kita maksa buah matang sebelum waktunya, yang kita dapat bukan manis, tapi pahit. Samson jadi contoh nyata: dia dipilih Tuhan dan punya kekuatan besar, tapi sering terburu-buru dalam urusan hati.

Samson lebih nurutin keinginan daripada ketaatan. Dia nggak sabar nunggu waktu Tuhan, dan pilihan-pilihan emosionalnya bikin hidupnya berantakan. Karunia besar nggak cukup kalau karakter nggak siap. Kekuatan tanpa pengendalian diri bisa jadi bumerang.

Menunggu bukan berarti pasif atau kalah. Menunggu itu proses Tuhan membentuk hati, memperdalam iman, dan mematangkan karakter. Kalau sekarang belum waktunya pacaran atau belum ketemu orang yang tepat, itu bukan berarti kamu kurang. Bisa jadi Tuhan lagi menyiapkan kamu dulu, sebelum menyiapkan seseorang untukmu.

Jangan takut dengan musim menunggu. Terburu-buru bisa bikin jatuh, tapi sabar bikin kita siap. Waktu Tuhan mungkin nggak selalu cepat, tapi selalu tepat.

WHAT TO DO?
1. Jangan ambil keputusan relasi karena panik atau tekanan.
2. Belajar dari kisah Samson: karunia besar butuh ketaatan.
3. Pakai masa menunggu untuk bertumbuh dalam iman dan karakter.

BIBLE MARATHON:
1 Korintus 10

Card image
Renungan Pagi - 24 April 2026
2026-04-25 21:26:46


Apapun yang kita kerjakan haruslah dengan rela hati, bukan dengan sungut-sungut, bukan berbantah-bantahan, melainkan dengan rela hati.

Orang yang hatinya penuh dengan kerelaan, hidupnya penuh dengan ucapan syukur, penuh dengan sukacita dan akan melihat penyertaan Tuhan dalam hidupnya.

Untuk itu mari kita mau mengerjakan tugas dan tanggung jawab dengan hati yang mengasihi Tuhan.

Card image
Quote Of The Day - 24 April 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-04-25 21:23:58


Tuhan Yesus datang membawa terang agar manusia dapat menyelenggarakan hidup sesuai dengan pikiran dan perasaan Tuhan.

Card image
Mutiara Suara Kebenaran - 24 April 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-04-25 21:21:35


Ketika seseorang berhenti membuat skenario sendiri dan mulai mempercayakan hidupnya kepada Tuhan, ia akan menemukan damai yang berbeda.

Card image
OBEDIENCE IN SMALL THINGS, FAITHFUL ON THE LONG JOURNEY - 24 April 2026 (English Version)
2026-04-25 21:19:55


We often imagine obedience as something grand and heroic: leaving everything, serving in a remote place, or making extreme decisions for the sake of faith. But in daily life, obedience is most often tested in small things—barely seen, unpraised, and sometimes dismissed as trivial. Jesus said, “Whoever is faithful in little is faithful also in much” (Luke 16:10). That simple sentence touches the heart of our spiritual life. God does not first evaluate the size of our actions but the faithfulness of our hearts.

Joseph strongly teaches this. Before becoming ruler in Egypt, he was a faithful son in his father’s house, an honest servant in Potiphar’s house, and a prisoner who still feared God in jail. None of those phases looked great or glorious by human standards. Yet it was there his character was formed. He was obedient not because circumstances favored him, but because he lived before God. Joseph’s faithfulness was not built overnight. It was the result of small decisions repeated daily: refusing compromise, preserving integrity, and trusting God even when life seemed unfair. The world often values instant results, but God values a faithful process.

In our lives, obedience often appears in simple forms: staying honest when there’s a chance to cheat, continuing to pray when tired, forgiving when the heart is not fully healed, and serving when unnoticed. These small things are the foundation of our long journey of faith. The problem is that we often want a spiritual leap without undergoing the spiritual process. We want to be greatly used by God, but are unwilling to be obedient in small matters. We want greater trust but are not faithful to present responsibilities. God rarely moves us forward before we learn to be faithful where we stand today.

Faithfulness does not always produce immediately visible change. There are seasons when obedience seems pointless. Our prayers appear unanswered, ministry feels heavy, and life does not change. Here, our faith is tested: do we obey for results, or because God is worthy of obedience? Faithfulness is not a momentary intensity but long-term consistency. Faithfulness in small matters trains humility. We learn to obey without demanding recognition, to be faithful without waiting for praise. This is pure obedience—doing God’s will not to be seen by people, but because we live before God. Such faithfulness may be unknown to many, but it is well known to God.

God often entrusts greater things to those who do not despise small responsibilities. Not because our ability is perfect, but because our hearts can be trusted. In those small acts of faithfulness, our character is built, and our faith deepened. Every obedient step we take assembles the long journey God lovingly designs. Keep being faithful in small things, for there God is shaping our lives—slowly but surely—toward His eternal purpose.

Perhaps today you are not called to do something great. But you are always called to do what is right. When you choose obedience today in word, attitude, and decision, you plant seeds for the spiritual future God prepares. God does not seek perfect people but faithful ones. And faithfulness always begins with small things.

The Lord Jesus bless you

GOD OFTEN ENTRUSTS GREATER THINGS TO THOSE WHO DO NOT DESPISE SMALL RESPONSIBILITIES.

Card image
TAAT DALAM HAL KECIL, SETIA DALAM PERJALANAN PANJANG - 24 April 2026
2026-04-25 21:17:48


Sering kali kita membayangkan ketaatan sebagai sesuatu yang besar dan heroik: meninggalkan segalanya, melayani di tempat terpencil, atau mengambil keputusan ekstrem demi iman. Namun dalam kehidupan sehari-hari, ketaatan justru paling sering diuji dalam hal-hal kecil—yang nyaris tidak terlihat, tidak dipuji, dan kadang dianggap sepele. Yesus berkata, “Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar” (Luk. 16:10). Kalimat ini sederhana, tetapi menyentuh inti kehidupan rohani kita. Tuhan tidak pertama-tama menilai besarnya tindakan kita, melainkan kesetiaan hati kita.

Yusuf mengajarkan hal ini dengan sangat kuat. Sebelum menjadi penguasa di Mesir, ia adalah anak yang setia di rumah ayahnya, seorang budak yang jujur di rumah Potifar, dan seorang tahanan yang tetap takut akan Tuhan di dalam penjara. Tidak satu pun dari fase itu terlihat besar atau mulia di mata manusia. Namun justru di sanalah karakter Yusuf dibentuk. Ia taat bukan karena situasi mendukung, tetapi karena ia hidup di hadapan Allah. Kesetiaan Yusuf tidak dibangun dalam satu malam. Itu adalah hasil dari keputusan-keputusan kecil yang diulang setiap hari: menolak kompromi, menjaga integritas, dan tetap percaya kepada Tuhan meski hidup terasa tidak adil. Dunia sering menghargai hasil instan, tetapi Tuhan menghargai proses yang setia.

Dalam kehidupan kita, ketaatan sering muncul dalam bentuk yang sederhana: tetap jujur ketika ada kesempatan untuk curang, tetap berdoa meski lelah, tetap mengampuni meski hati belum pulih sepenuhnya, tetap melayani meski tidak diperhatikan. Hal-hal kecil inilah yang menjadi fondasi perjalanan iman kita yang panjang. Masalahnya, kita sering menginginkan loncatan rohani tanpa menjalani proses rohani. Kita ingin dipakai Tuhan secara besar, tetapi enggan taat dalam hal kecil. Kita ingin dipercaya lebih, tetapi belum setia dengan tanggung jawab yang ada sekarang. Padahal, Tuhan jarang membawa kita lebih jauh sebelum kita belajar setia di tempat kita berdiri hari ini.

Kesetiaan juga tidak selalu menghasilkan perubahan yang langsung terlihat. Ada masa ketika ketaatan terasa sia-sia. Doa-doa kita seakan tidak dijawab, pelayanan terasa berat, dan hidup tidak kunjung berubah. Di titik inilah iman kita diuji: apakah kita taat karena hasil, atau taat karena Tuhan memang layak ditaati? Kesetiaan bukan tentang intensitas sesaat, melainkan konsistensi jangka panjang. Kesetiaan dalam perkara kecil juga melatih kerendahan hati kita. Kita belajar untuk taat tanpa menuntut pengakuan, setia tanpa menunggu pujian. Inilah bentuk ketaatan yang murni—melakukan kehendak Tuhan bukan karena dilihat manusia, tetapi karena kita hidup di hadapan Allah. Kesetiaan semacam ini mungkin tidak dikenal banyak orang, tetapi sangat dikenal oleh Tuhan.

Tuhan sering mempercayakan hal-hal yang lebih besar kepada mereka yang tidak meremehkan tanggung jawab kecil. Bukan karena kemampuan kita sempurna, tetapi karena hati kita dapat dipercaya. Dalam kesetiaan kecil itulah karakter kita dibangun dan iman kita diperdalam. Setiap langkah taat yang kita ambil sedang menyusun perjalanan panjang yang Tuhan rancang dengan penuh kasih. Teruslah setia dalam hal kecil, sebab di situlah Tuhan sedang bekerja membentuk hidup kita—perlahan, tetapi pasti—menuju tujuan-Nya yang kekal.

Mungkin hari ini kita tidak dipanggil untuk melakukan hal besar. Tetapi kita selalu dipanggil untuk melakukan hal yang benar. Ketika kita memilih taat hari ini dalam perkataan, sikap, dan keputusan, kita sedang menanam benih bagi masa depan rohani yang Tuhan siapkan. Tuhan tidak mencari orang yang sempurna, tetapi orang yang setia. Dan kesetiaan selalu dimulai dari hal kecil.

Tuhan Yesus memberkati

TUHAN SERING MEMPERCAYAKAN HAL-HAL YANG LEBIH BESAR KEPADA MEREKA YANG TIDAK MEREMEHKAN TANGGUNG JAWAB KECIL.

Card image
TAAT DALAM HAL KECIL, SETIA DALAM PERJALANAN PANJANG
2026-04-25 13:34:07


Sering kali kita membayangkan ketaatan sebagai sesuatu yang besar dan heroik: meninggalkan segalanya, melayani di tempat terpencil, atau mengambil keputusan ekstrem demi iman. Namun dalam kehidupan sehari-hari, ketaatan justru paling sering diuji dalam hal-hal kecil—yang nyaris tidak terlihat, tidak dipuji, dan kadang dianggap sepele. Yesus berkata, “Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar” (Luk. 16:10). Kalimat ini sederhana, tetapi menyentuh inti kehidupan rohani kita. Tuhan tidak pertama-tama menilai besarnya tindakan kita, melainkan kesetiaan hati kita.

Yusuf mengajarkan hal ini dengan sangat kuat. Sebelum menjadi penguasa di Mesir, ia adalah anak yang setia di rumah ayahnya, seorang budak yang jujur di rumah Potifar, dan seorang tahanan yang tetap takut akan Tuhan di dalam penjara. Tidak satu pun dari fase itu terlihat besar atau mulia di mata manusia. Namun justru di sanalah karakter Yusuf dibentuk. Ia taat bukan karena situasi mendukung, tetapi karena ia hidup di hadapan Allah. Kesetiaan Yusuf tidak dibangun dalam satu malam. Itu adalah hasil dari keputusan-keputusan kecil yang diulang setiap hari: menolak kompromi, menjaga integritas, dan tetap percaya kepada Tuhan meski hidup terasa tidak adil. Dunia sering menghargai hasil instan, tetapi Tuhan menghargai proses yang setia.

Dalam kehidupan kita, ketaatan sering muncul dalam bentuk yang sederhana: tetap jujur ketika ada kesempatan untuk curang, tetap berdoa meski lelah, tetap mengampuni meski hati belum pulih sepenuhnya, tetap melayani meski tidak diperhatikan. Hal-hal kecil inilah yang menjadi fondasi perjalanan iman kita yang panjang. Masalahnya, kita sering menginginkan loncatan rohani tanpa menjalani proses rohani. Kita ingin dipakai Tuhan secara besar, tetapi enggan taat dalam hal kecil. Kita ingin dipercaya lebih, tetapi belum setia dengan tanggung jawab yang ada sekarang. Padahal, Tuhan jarang membawa kita lebih jauh sebelum kita belajar setia di tempat kita berdiri hari ini.

Kesetiaan juga tidak selalu menghasilkan perubahan yang langsung terlihat. Ada masa ketika ketaatan terasa sia-sia. Doa-doa kita seakan tidak dijawab, pelayanan terasa berat, dan hidup tidak kunjung berubah. Di titik inilah iman kita diuji: apakah kita taat karena hasil, atau taat karena Tuhan memang layak ditaati? Kesetiaan bukan tentang intensitas sesaat, melainkan konsistensi jangka panjang. Kesetiaan dalam perkara kecil juga melatih kerendahan hati kita. Kita belajar untuk taat tanpa menuntut pengakuan, setia tanpa menunggu pujian. Inilah bentuk ketaatan yang murni—melakukan kehendak Tuhan bukan karena dilihat manusia, tetapi karena kita hidup di hadapan Allah. Kesetiaan semacam ini mungkin tidak dikenal banyak orang, tetapi sangat dikenal oleh Tuhan.

Tuhan sering mempercayakan hal-hal yang lebih besar kepada mereka yang tidak meremehkan tanggung jawab kecil. Bukan karena kemampuan kita sempurna, tetapi karena hati kita dapat dipercaya. Dalam kesetiaan kecil itulah karakter kita dibangun dan iman kita diperdalam. Setiap langkah taat yang kita ambil sedang menyusun perjalanan panjang yang Tuhan rancang dengan penuh kasih. Teruslah setia dalam hal kecil, sebab di situlah Tuhan sedang bekerja membentuk hidup kita—perlahan, tetapi pasti—menuju tujuan-Nya yang kekal.

Mungkin hari ini kita tidak dipanggil untuk melakukan hal besar. Tetapi kita selalu dipanggil untuk melakukan hal yang benar. Ketika kita memilih taat hari ini dalam perkataan, sikap, dan keputusan, kita sedang menanam benih bagi masa depan rohani yang Tuhan siapkan. Tuhan tidak mencari orang yang sempurna, tetapi orang yang setia. Dan kesetiaan selalu dimulai dari hal kecil.

Tuhan Yesus memberkati

TUHAN SERING MEMPERCAYAKAN HAL-HAL YANG LEBIH BESAR KEPADA MEREKA YANG TIDAK MEREMEHKAN TANGGUNG JAWAB KECIL.

Card image
KIDS DAILY DEVOTIONAL 23 April 2026 - HATI YANG LEMBUT
2026-04-24 22:50:14


Amsal 28:14
“Berbahagialah orang yang senantiasa takut akan , tetapi orang yang mengeraskan hatinya akan jatuh ke dalam malapetaka.”

Rehobot Kids, coba bayangkan sebuah spons dan sebuah batu. Kalau kita meneteskan air ke atas spons, airnya langsung meresap ke dalam. Tapi kalau air diteteskan ke atas batu yang keras, air itu hanya mengalir pergi. Hati kita juga bisa seperti itu. Tuhan sangat menyukai anak-anak yang punya hati seperti spons—lembut, mau menerima, dan mau belajar.

Hati yang lembut itu penting sekali. Dunia mungkin bilang bahwa anak yang hebat adalah anak yang keras kepala dan tidak mau kalah. Tapi Tuhan berkata sebaliknya. Anak yang hebat di mata Tuhan adalah anak yang mau takut akan Tuhan, mau mendengarkan nasihat, dan tidak menutup hati saat diingatkan.

Hati yang lembut terlihat dari sikap kita sehari-hari. Saat mama, papa, atau guru menegur, kita mau mendengarkan tanpa marah. Saat kita sadar sudah berbuat salah, kita mau minta maaf dan berusaha memperbaiki diri. Dan dalam setiap pilihan, kita ingin melakukan hal yang menyenangkan hati Tuhan karena kita mengasihi-Nya.

Alkitab mengingatkan bahwa hati yang keras bisa membuat kita jatuh dalam masalah. Tetapi hati yang lembut membawa berkat. Tuhan memberi hikmat, perlindungan, dan tuntunan kepada anak-anak yang rendah hati. Tuhan Yesus sendiri memberi teladan dengan hidup yang penuh kerendahan hati dan kasih.

Jadi Rehobot Kids, ingat ya: hati yang lembut bukan berarti lemah. Justru itu tanda bahwa kita kuat, mau belajar, dan mau dibentuk oleh Tuhan setiap hari. Yuk, minta Tuhan menolong kita memiliki hati yang lembut dan takut akan Dia!

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 23 April 2026 (English Version) -LEARNING TO LOVE IN THE RIGHT WAY
2026-04-24 22:44:13


Song of Solomon 2:7b
“Do not stir up or awaken love until it is ready.”

God’s Word through the Song of Solomon teaches us one important thing: love has its own timing. Love is not something that can be forced, pursued out of panic, or awakened out of fear of being alone. Many people rush into relationships simply because of peer pressure or because they feel uncomfortable seeing their friends already in relationships. Ultimately, decisions are made not based on readiness, but on emotions.

Purity means respecting the process. Patience means trusting that God knows the best timing. Healthy love usually grows slowly—starting from friendship, getting to know each other’s characters, seeing how he deals with problems, and whether you can both grow in faith together. What is strong is not what is fast, but what is mature.

When someone chooses to focus on building character, improving themselves, pursuing life goals, and deepening their relationship with God before getting serious in a relationship, it is not a waste of time. It’s preparation. They’re making sure their heart is ready, not just wanting someone to be with.

WHAT TO DO?
1. Don’t enter a relationship just because of pressure or loneliness.
2. Build your own quality before demanding quality in a partner.
3. Trust that God’s timing is always better than yours.

BIBLE MARATHON:
1 Corinthians 9

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 23 April 2026 - BELAJAR MENGASIHI DENGAN CARA YANG BENAR
2026-04-24 22:40:46


Kidung Agung 2:7b
“Janganlah kamu membangkitkan dan menggerakkan cinta sebelum diingininya.”

Firman Tuhan lewat Kidung Agung ngajarin satu hal penting: cinta punya waktunya sendiri. Cinta bukan sesuatu yang dipaksa, dikejar karena panik, atau dibangkitkan karena takut sendirian. Banyak orang masuk hubungan terlalu cepat cuma karena tekanan lingkungan atau nggak enak lihat teman sudah punya pasangan. Akhirnya keputusan diambil bukan dari kesiapan, tapi dari emosi.

Kemurnian berarti menghormati proses. Kesabaran berarti percaya Tuhan tahu timing terbaik. Cinta yang sehat biasanya bertumbuh pelan-pelan—dimulai dari pertemanan, saling kenal karakter, lihat cara dia menghadapi masalah, dan apakah kalian bisa sama-sama bertumbuh dalam iman. Yang kuat itu bukan yang cepat, tapi yang matang.

Saat seseorang memilih fokus membangun karakter, memperbaiki diri, mengejar tujuan hidup, dan memperdalam relasi dengan Tuhan sebelum serius dalam hubungan, itu bukan buang waktu. Itu justru persiapan. Dia sedang memastikan hatinya siap, bukan sekadar ingin ditemani.

WHAT TO DO?
1. Jangan masuk hubungan cuma karena tekanan atau rasa sepi.
2. Bangun kualitas diri sebelum menuntut kualitas pasangan.
3. Percaya waktu Tuhan selalu lebih tepat dari waktumu.

BIBLE MARATHON:
1 Korintus 9

Card image
Renungan Pagi - 23 April 2026
2026-04-24 22:38:32


Pada dasarnya semua orang ingin dihormati, tetapi jika hanya mencari hormat, kita tidak akan bisa dihormati, karena ada banyak orang ingin dihormati, akhirnya menjadi orang yang selalu ingin mencari-cari hormat.

Orang yang selalu mencari hormat tidak akan pernah menjadi orang yang terhormat, karena hormat itu bukanlah soal permohonan, tetapi hormat itu adalah soal kualitas hidup.

Adakah kualitas hidup kita layak untuk menjadi orang yang dihormati, karena jika kualitas hidup kita layak untuk menjadi orang yang dihormati, maka saat itulah seseorang disebut terhormat.

Card image
Quote Of The Day - 23 April 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-04-23 12:48:21


Menjadi hamba Tuhan bukanlah hasil dari kelulusan akademik, melainkan buah dari proses dibentuk, diolah, dan dimurnikan oleh Tuhan.

Card image
Mutiara Suara Kebenaran - 23 April 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-04-23 12:47:24


Kesetiaan tidak hanya diuji dalam badai besar, tapi dalam keputusan-keputusan kecil setiap hari.

Card image
COMFORTABLE LIFE - 23 April 2026 (English Version)
2026-04-23 12:45:14


The author raises two issues/questions in encountering God. First, why were the Christians of the early church so faithful to God, so resolute in defending their faith? Even though they suffered severe persecution and God seemed absent in the midst of their suffering, God did not defend them; they remained obedient and loyal. Of course, they cried out, pleaded, and prayed, but God seemed not to intervene. The answer is that they trusted Jesus completely; they believed everything Jesus taught and said.

Second, why today do many Christians or Christian communities not walk in the truth of the Gospel? The answer is that from the beginning, only a few were truly chosen. Evidence: from hundreds of thousands, or even millions, of Israelites, only a handful remained faithful to God. Even looking at church history, the seven churches that received letters in Revelation are now ruins. So, although today it appears there are many Christians, truly faithful Christians are very few—those who trust Jesus and, because of that trust, are willing to sacrifice anything.

The suffering and persecution experienced by early Christians were actually a form of God’s vindication of them. If today many worship songs claim that God surely gives victory, hears prayers, and provides help, cares, and never disappoints, that understanding is mistaken. The true Jesus is not like that. God’s defence does not make our lives on earth any more comfortable. Rather, God’s vindication makes our lives uncomfortable on earth. Frankly put, Christianity brings trouble because it leads us to the cross.

There is no pleasant cross, no comfortable cross. The cross always speaks of suffering. Therefore, how dangerous it is for those who live in comfort, and how dangerous it is for those who desire earthly comfort. If someone has no serious problems, good economic conditions, and good health, they must, in fact, shoulder spiritual responsibility. No Christian should live without a cross. Everyone must find their own cross and regard it as a blessing. Yet, among millions of Christians, how many dare to carry their cross? They may not face physical persecution, but they still must find their cross. The first struggle is to follow in the footsteps of Jesus; that is certain. The second struggle is how they help others develop Christlike character.

In the believer’s life, God promises something extraordinary: to walk in the light. John 1:4 states, “In Him was life, and the life was the light of men.” Many Christians have misunderstood, or only understood superficially, the meaning of “walking in the light.” The experience of walking in the light is surely lived by Christians whose lives are right. The early church, which faced severe persecution, certainly experienced life walking in this light. Physical suffering, poverty, persecution, or any difficult condition does not preclude someone from walking in the light.

The problem is that many Christians feel they are walking in the light merely because they avoid moral transgressions, attend worship faithfully, or even serve in ministry. Such people typically feel entitled to heaven. Because of this mistaken understanding, many Christians do not strive to grow toward truly experiencing life in the light. Do not think that because Jesus died on the cross and the cross atoned for our sins, everything is finished.

Jesus gives life not only by laying down His life on the cross, but also so that we may put on His life. Those who do not put on His life are, in truth, people who have not received and have not experienced salvation. One of His life examples we must follow is His obedience and faithfulness to the Father in heaven.

The Lord Jesus bless you

GOD'S DEFENCE DOES NOT MAKE OUR LIVES ON EARTH ANY MORE COMFORTABLE.

Card image
HIDUP NYAMAN - 23 April 2026
2026-04-23 12:43:04


Ada dua hal yang penulis perkarakan atau pertanyakan dalam perjumpaan dengan Tuhan. Yang pertama, mengapa orang-orang Kristen pada gereja mula-mula begitu setia kepada Tuhan, begitu kokoh dalam mempertahankan iman? Sekalipun mereka mengalami aniaya yang sangat hebat dan Tuhan seakan-akan tidak hadir—di tengah penderitaan mereka Tuhan tidak membela—mereka tetap taat dan setia. Tentu saja mereka menjerit, berseru, dan berdoa, tetapi Tuhan seolah-olah tidak membela. Ternyata jawabannya ialah karena mereka memercayai Tuhan Yesus sepenuhnya; mereka memercayai semua yang diajarkan dan semua yang dikatakan oleh Tuhan Yesus.

Kedua, mengapa pada hari ini banyak orang Kristen atau komunitas Kristen tidak berjalan di dalam kebenaran sesuai Injil? Jawabannya ialah karena sejak dahulu memang hanya sedikit orang yang terpilih. Buktinya, dari ratusan ribu bahkan jutaan bangsa Israel, hanya segelintir orang yang setia mengikut Tuhan. Bahkan, jika kita melihat sejarah gereja dari tujuh jemaat yang menerima surat dalam kitab Wahyu, kini gereja-gereja itu telah menjadi reruntuhan. Jadi, walaupun hari ini terkesan banyak orang Kristen, sesungguhnya orang Kristen yang sejati itu sangat sedikit. Orang Kristen yang menaruh percaya kepada Tuhan Yesus, dan karena kepercayaannya itu rela mengorbankan apa pun.

Penderitaan dan aniaya yang dialami oleh orang-orang Kristen pada gereja mula-mula sesungguhnya merupakan bentuk pembelaan Tuhan atas mereka. Jika pada masa kini banyak lagu rohani yang menyatakan bahwa Tuhan pasti memberi kemenangan, Tuhan mendengar doa dan memberi pertolongan, Tuhan memedulikan dan tidak membuat kecewa, pemahaman seperti itu keliru. Tuhan Yesus yang sejati tidak demikian. Pembelaan Tuhan tidak membuat hidup kita nyaman di bumi. Justru pembelaan Tuhan membuat hidup kita tidak nyaman di bumi. Bahkan, jika diungkapkan dengan bahasa yang lebih lugas, kekristenan itu menyusahkan karena membawa kita kepada salib.

Tidak ada salib yang enak, tidak ada salib yang nyaman. Salib selalu berbicara tentang penderitaan. Karena itu, betapa berbahayanya orang yang hidup dalam kenyamanan, dan betapa berbahayanya orang yang menginginkan kenyamanan di bumi. Jika seseorang tidak memiliki masalah yang berat, kondisi ekonomi baik, dan kesehatan berjalan dengan lancar, maka sesungguhnya ia harus memikul tanggung jawab rohani. Tidak ada seorang Kristen pun yang boleh hidup tanpa salib. Setiap orang harus menemukan salibnya masing-masing dan memandangnya sebagai berkat. Namun, dari sekian juta orang Kristen, berapa banyak yang berani memikul salib? Mungkin mereka tidak mengalami aniaya secara fisik, tetapi mereka tetap harus menemukan salibnya. Perjuangan yang pertama ialah mengikuti jejak Tuhan Yesus; itu pasti. Perjuangan yang kedua ialah bagaimana ia menolong orang lain agar juga dapat memiliki karakter Kristus di dalam hidupnya.

Dalam kehidupan orang percaya, Tuhan menjanjikan sesuatu yang luar biasa, yaitu berjalan di dalam terang. Yohanes 1:4 menyatakan, “Dalam Dia ada hidup dan hidup itu adalah terang manusia.” Selama ini banyak orang Kristen yang salah memahami, atau hanya memahami secara dangkal, makna “berjalan di dalam terang”. Pengalaman berjalan di dalam terang pasti dialami oleh orang Kristen yang hidupnya benar. Gereja mula-mula yang menghadapi aniaya yang begitu berat pasti mengalami hidup berjalan di dalam terang ini. Penderitaan fisik, kemiskinan, aniaya, atau keadaan sulit apa pun tidak menutup kemungkinan seseorang berjalan di dalam terang.

Masalahnya, banyak orang Kristen merasa sudah hidup berjalan di dalam terang hanya karena tidak melakukan pelanggaran moral, rajin beribadah, atau bahkan terlibat dalam pelayanan. Biasanya orang seperti ini merasa dirinya sudah layak masuk surga. Karena pengertian yang keliru ini, banyak orang Kristen tidak berusaha bertumbuh untuk mencapai keadaan yang sungguh-sungguh mengalami hidup di dalam terang. Jangan berpikir bahwa karena Yesus telah mati di kayu salib dan salib itu menebus dosa-dosa kita, maka semuanya sudah selesai.

Yesus memberikan hidup bukan hanya dengan menyerahkan hidup-Nya di kayu salib, tetapi juga supaya hidup-Nya dikenakan oleh kita. Orang yang tidak mengenakan hidup-Nya sesungguhnya adalah orang yang belum menerima dan belum mengalami keselamatan. Salah satu keteladanan hidup-Nya yang harus kita ikuti ialah ketaatan dan kesetiaan-Nya kepada Bapa di surga.

Tuhan Yesus memberkati

PEMBELAAN TUHAN TIDAK MEMBUAT HIDUP KITA NYAMAN DI BUMI.

Card image
KIDS DAILY DEVOTIONAL 22 April 2026 - HATI YANG TETAP TENANG
2026-04-22 23:27:25


Mazmur 112:7
“Ia tidak takut kepada kabar celaka, hatinya tetap, penuh kepercayaan kepada TUHAN.”

Suatu sore, Arga mendengar kabar yang membuatnya takut. Ayahnya sakit dan dokter meminta ayah beristirahat cukup lama. Itu berarti ayah tidak bisa bekerja untuk sementara waktu. Arga mulai khawatir. Malam itu ia menangis diam-diam. “Bagaimana kalau Ayah tidak sembuh? Bagaimana kalau nanti aku tidak bisa sekolah?” pikirnya.

Ibu memeluk Arga dan berkata lembut, “Nak, kita memang tidak tahu apa yang akan terjadi. Tapi Tuhan tahu. Tuhan memegang hidup kita.” Mereka pun berdoa bersama, menyerahkan semua kekhawatiran kepada Tuhan.

Hari-hari berikutnya tidak selalu mudah. Namun setiap kali rasa takut datang, Arga teringat doa mereka. Ia belajar bahwa percaya kepada Tuhan membuat hatinya lebih tenang, walaupun keadaan belum langsung berubah.

Rehobot Kids, kabar yang membuat takut bisa saja datang. Tetapi firman Tuhan berkata bahwa orang yang percaya kepada Tuhan tidak perlu hidup dalam ketakutan. Saat kita bersandar kepada-Nya, hati kita menjadi tetap dan tidak mudah goyah.

Percaya kepada Tuhan bukan berarti masalah langsung hilang, tetapi hati kita dikuatkan. Karena kita tahu, hidup kita ada di tangan Tuhan yang setia.

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 22 April 2026 (English Version) - WISE LOVE CHOICES
2026-04-22 23:25:39


Luke 16:10
“Whoever is faithful in small matters will also be faithful in large ones.”

Many young people think that dating must always look fancy—expensive meals, branded gifts, uploading aesthetic moments to look serious. In fact, maturity in a relationship is not about how much money you spend, but how wisely you manage your life. A healthy relationship starts from a heart rooted in God, not from a consumptive lifestyle.

Strong relationships are born from commitment and loyalty, not from material things. True love is built through responsibility, including in financial matters. Managing money wisely is not a trivial matter—it is part of character. Because if you are wasteful now for the sake of prestige, later the relationship can become a burden.

Being faithful in small matters includes how we use money, how we reject unnecessary trends, and how we choose simplicity over showing off. If we can be wise in small things, we are preparing ourselves for greater responsibilities. Mature love does not need to be expensive—what is needed is a faithful, wise heart that is willing to glorify God through every decision.

WHAT TO DO?
1. Learn to make a simple budget and be disciplined in managing money, even in small matters.
2. Don’t make dating a competition to prove your wealth—focus on commitment and loyalty.
3. Follow the example of Christian public figures who live simply and make God the center of their relationships, not their lifestyle.

BIBLE MARATHON:
1 Corinthians 8

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 22 April 2026 - WISE LOVE CHOICES
2026-04-22 23:23:16


Lukas 16:10
“Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar.”

Banyak anak muda mikir pacaran harus selalu terlihat fancy—makan mahal, kado branded, upload momen estetik biar kelihatan serius. Padahal, kedewasaan dalam relasi bukan soal seberapa besar uang yang keluar, tapi seberapa bijak kamu mengelola hidupmu. Relasi yang sehat dimulai dari hati yang berakar pada Tuhan, bukan dari gaya hidup konsumtif.

Hubungan yang kuat lahir dari komitmen dan kesetiaan, bukan dari materi. Cinta sejati dibangun lewat tanggung jawab, termasuk dalam hal keuangan. Mengatur uang dengan bijak bukan hal remeh—itu bagian dari karakter. Karena kalau dari sekarang sudah boros demi gengsi, nanti relasi bisa berubah jadi beban.

Setia dalam perkara kecil termasuk cara kita pakai uang, cara kita menolak tren yang nggak perlu, dan cara kita memilih sederhana daripada pamer. Kalau kita bisa bijak di hal kecil, kita sedang mempersiapkan diri untuk tanggung jawab yang lebih besar. Cinta yang dewasa nggak butuh mahal—yang dibutuhkan adalah hati yang setia, bijak, dan mau memuliakan Tuhan lewat setiap keputusan.

WHAT TO DO?
1. Belajar bikin anggaran sederhana dan disiplin dalam mengelola uang, bahkan di hal kecil.
2. Jangan jadikan pacaran sebagai ajang pembuktian materi—fokus pada komitmen dan kesetiaan.
3. Teladani public figure Kristen yang hidup sederhana dan menjadikan Tuhan pusat relasi, bukan gaya hidup.

BIBLE MARATHON:
1 Korintus 8

Card image
Renungan Pagi - 22 April 2026
2026-04-22 23:20:30


Tidak sedikit orang yang perkataannya jahat dan kejam, serta sangat menyakitkan hati yang mendengarnya, ada kalanya orang dihadapan kita baik, tetapi justru dalam perbuatannya jahat dan kejam.

Artinya, didepan kita, dia bisa tersenyum, bisa berkata shalom, haleluyah puji Tuhan, tetapi dibelakang, dia melakukan fitnah; ada orang kelihatan baik, tetapi dia menipu habis-habisan, dalam pelayananpun demikian.

Dunia ini membutuhkan orang-orang baik yang membawa damai dan menyejukkan hati, karena itu jangan menjadi orang yang kejam dan jahat, jadilah orang yang baik hati, agar hidup kita menjadi berkat bagi banyak orang.

Card image
Quote Of The Day - 22 April 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-04-22 23:19:25


Setiap keberhasilan harus direndahkan dalam rasa syukur, bukan kesombongan.

Card image
Mutiara Suara Kebenaran - 22 April 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-04-22 23:18:29


Hidup yang benar di hadapan Tuhan adalah hidup yang belajar menyerahkan kendali kepada-Nya.

Card image
NOT EASY, BUT STILL CHOSEN - 22 April 2026 (English Version)
2026-04-22 23:15:46


There is a common misunderstanding in the life of faith: that obedience always feels easy, peaceful, and certain. The reality is often the opposite. Many of the most faithful decisions in life are made when the heart struggles, logic questions, and feelings resist.

Jesus Himself never promised that obedience would be easy. In Gethsemane, He prayed with sweat like blood, wrestling between human will and the Father’s will. His prayer was honest: “My Father, if it is possible, let this cup pass from me.” Yet it did not end there. He closed it with the phrase that determined the course of salvation history: “Not as I will, but as You will” (Matt. 26:39). There lies the essence of true obedience: not when human will aligns with God’s will, but when personal will is surrendered.

Abraham also showed obedience that was not easy. When God called him out of Ur of the Chaldees, he was given no map, no detailed certainty, not even a clear knowledge of the final destination. Hebrews 11:8 records that Abraham obeyed when called, even though he did not know where he was going. That obedience arose not from complete understanding but from full trust.

In daily life, obedience often demands sacrifice. Sometimes obedience means leaving the comfort zone. Sometimes it means saying “no” to one’s own desires. Sometimes it means choosing an unpopular path. Obedience can mean remaining honest when honesty costs you, persevering in a calling when results aren’t visible, or forgiving while the wound still aches. At this point, many people stop—not because they do not know the truth, but because the cost of obedience feels too high. Obedience is often desired as long as it makes sense, doesn’t hurt too much, and doesn’t disrupt personal plans. But conditional obedience is not whole obedience.

Obedience and faithfulness are tested not when everything goes smoothly, but when obedience conflicts with feelings. The world teaches following the heart, but God’s Word teaches subduing the heart to truth. Obedience that is still chosen amid struggle is mature. It is born of faith, not fleeting emotion. It is such decisions that shape spiritual depth and character.

Every believer will at times stand at a crossroads: obedience or comfort, faithfulness or surrender, God’s will or self-will. God does not force, but He calls. That call always demands a response. Obedience may not immediately change circumstances, but it always changes the person who practices it. It trains the heart to trust, forms character, and deepens the relationship with God. In the long run, obedience chosen with tears yields an irreplaceable peace.

When someone obeys amid uncertainty, they are surrendering control of life to God. There, true peace begins to grow—not peace because circumstances are safe, but peace because God holds the reins. Obedience today may feel heavy, but its value is never wasted. One obedient decision can open the way for God’s work far greater than anyone could imagine.

The Lord Jesus bless you

THE ESSENCE OF TRUE OBEDIENCE: NOT WHEN HUMAN WILL ALIGNS WITH GOD'S WILL, BUT WHEN PERSONAL WILL IS SURRENDERED.

Card image
TIDAK MUDAH TETAPI TETAP DIPILIH - 22 April 2026
2026-04-22 23:12:39


Ada satu kesalahpahaman yang kerap muncul dalam kehidupan iman, yaitu anggapan bahwa ketaatan selalu terasa ringan, damai, dan penuh kepastian. Kenyataannya sering kali justru sebaliknya. Banyak keputusan paling taat dalam hidup diambil ketika hati sedang bergumul, logika mempertanyakan, dan perasaan menolak.

Yesus sendiri tidak pernah menjanjikan bahwa ketaatan itu mudah. Di Taman Getsemani, Ia berdoa dengan peluh seperti darah, bergumul antara kehendak manusia dan kehendak Bapa. Doa-Nya begitu jujur: “Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku.” Namun doa itu tidak berhenti di sana. Ia menutupnya dengan kalimat yang menentukan arah sejarah keselamatan: “Namun bukan seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki” (Mat. 26:39). Di situlah *inti ketaatan sejati: bukan ketika kehendak manusia sejalan dengan kehendak Tuhan, melainkan ketika kehendak pribadi ditaklukkan.*

Abraham juga menunjukkan ketaatan yang tidak mudah. Ketika Tuhan memanggilnya keluar dari Ur-Kasdim, ia tidak diberikan peta, tidak memperoleh kepastian rinci, bahkan tidak mengetahui secara jelas tujuan akhirnya. Ibrani 11:8 mencatat bahwa Abraham taat ketika dipanggil, meskipun ia tidak tahu ke mana ia pergi. Ketaatan itu lahir bukan dari pemahaman yang lengkap, melainkan dari kepercayaan yang penuh.

Dalam kehidupan sehari-hari, ketaatan sering menuntut pengorbanan. Ada kalanya ketaatan berarti meninggalkan zona nyaman. Ada kalanya berarti berkata “tidak” kepada keinginan diri sendiri. Ada kalanya berarti memilih jalan yang tidak populer. Ketaatan bisa berarti tetap jujur ketika kejujuran merugikan, bertahan dalam panggilan ketika hasil belum terlihat, atau mengampuni ketika luka masih terasa. Di titik inilah banyak orang berhenti. Bukan karena mereka tidak mengetahui kebenaran, melainkan karena harga ketaatan terasa terlalu mahal. Ketaatan sering kali diinginkan selama masih masuk akal, tidak terlalu menyakitkan, dan tidak mengganggu rencana pribadi. Namun ketaatan yang bersyarat bukanlah ketaatan yang utuh.

Ketaatan dan kesetiaan diuji bukan ketika segala sesuatu berjalan lancar, melainkan ketika ketaatan terasa bertentangan dengan perasaan. Dunia mengajarkan untuk mengikuti hati, tetapi firman Tuhan mengajarkan untuk menaklukkan hati kepada kebenaran. Ketaatan yang tetap dipilih di tengah pergumulan adalah ketaatan yang matang. Ia lahir dari iman, bukan dari emosi sesaat. Justru keputusan-keputusan seperti inilah yang membentuk kedalaman rohani dan karakter seseorang.

Setiap orang percaya pada suatu waktu akan berada di persimpangan: antara taat atau nyaman, antara setia atau menyerah, antara kehendak Tuhan atau kehendak diri sendiri. Tuhan tidak memaksa, tetapi Ia memanggil. Panggilan itu selalu menuntut respons. Ketaatan mungkin tidak langsung mengubah keadaan, tetapi selalu mengubah pribadi yang menjalaninya. Ia melatih hati untuk percaya, membentuk karakter, dan memperdalam relasi dengan Tuhan. Dalam jangka panjang, ketaatan yang dipilih dengan air mata akan menghasilkan damai yang tidak tergantikan.

Ketika seseorang taat di tengah ketidakpastian, ia sedang menyerahkan kendali hidupnya kepada Allah. Di situlah damai sejati mulai bertumbuh—bukan damai karena keadaan aman, melainkan damai karena Tuhan yang memegang kendali. Mungkin ketaatan hari ini terasa berat, tetapi nilainya tidak pernah sia-sia. Satu keputusan taat dapat membuka jalan bagi karya Tuhan yang jauh lebih besar daripada yang dapat dibayangkan.

Tuhan Yesus memberkati

INTI KETAATAN SEJATI: BUKAN KETIKA KEHENDAK MANUSIA SEJALAN DENGAN KEHENDAK TUHAN, MELAINKAN KETIKA KEHENDAK PRIBADI DITAKLUKKAN.

Card image
KIDS DAILY DEVOTIONAL 21 April 2026 - BUKAN KARENA HADIAH
2026-04-22 12:29:42


Ulangan 6:5
“Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu.”

Rafi duduk di depan buku PR-nya. Ia menghela napas panjang sambil memutar-mutar pensilnya. “ Ah, ini bukan ulangan. Nggak ada hadiah juga,” gumamnya. Soalnya belum satu pun dikerjakan.

Kakaknya datang dan duduk di sampingnya. “Fi, kalau kamu main bola, kamu main sungguh-sungguh atau setengah hati?”
“Sungguh-sungguh, dong!” jawab Rafi cepat.
“Kenapa? Kan nggak selalu dapat piala.”
Rafi terdiam.

Kakaknya tersenyum dan berkata, “Kalau kita cuma semangat saat ada hadiah, berarti kita mengejar hadiahnya. Tapi kalau kita tetap melakukan yang terbaik walau tidak ada yang melihat, itu tanda kita melakukannya untuk Tuhan. Cara kita mengerjakan hal kecil menunjukkan siapa yang kita kasihi.”

Rafi menatap bukunya lagi. Kali ini ia mulai mengerjakan dengan serius. Bukan karena ujian. Bukan karena hadiah. Tetapi karena ia ingin mengasihi Tuhan dengan segenap hati melalui tanggung jawabnya.

Rehobot Kids, mengasihi Tuhan bukan hanya lewat doa dan nyanyian, tetapi juga lewat hal-hal kecil yang kita lakukan setiap hari. Belajar dengan sungguh-sungguh, membantu orang tua, bersikap jujur, dan melakukan yang benar walau tidak ada yang melihat—itulah tanda kita mengasihi Tuhan dengan segenap hati, jiwa, dan kekuatan kita.

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 21 April 2026 (English Version) - GUARD YOUR HEART FIRST
2026-04-22 12:25:54


Proverbs 4:23
“Guard your heart with all vigilance, for from it flow the springs of life.”

In relationships, we are often busy keeping the conversation warm, making sure our partner isn’t disappointed, or keeping the relationship from falling apart. But God says: guard your heart first. Because that is where the direction of your life is determined.

The heart is the center of everything—thoughts, emotions, decisions. If the heart is not guarded, feelings can take over and cause us to compromise. Many people fall not because they don’t know the Word, but because they allow their hearts to become too quickly attached without healthy boundaries.

Guarding your heart doesn’t mean being indifferent or anti-love. Guarding your heart means being aware of when to slow down, when to set boundaries, and ensuring that God remains the center, not just feelings. When your heart is in tune with the Word, you can distinguish between healthy love and mere momentary impulses.

A strong relationship doesn’t start with chemistry, but with a well-ordered heart. If your heart is secure in God, your relationships will also be more secure. Because true love always comes from a heart that is guarded properly.

WHAT TO DO?
1. Re-examine the motivation of your heart in the relationship you are currently in.
2. Set boundaries that help you remain obedient to God.
3. Involve God in prayer before your feelings take over your decisions.

BIBLE MARATHON:
1 Corinthians 7

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 21 April 2026 - GUARD YOUR HEART FIRST
2026-04-21 21:05:48


Amsal 4:23
“Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan.”

Dalam relasi, kita sering sibuk menjaga chat tetap hangat, menjaga pasangan nggak kecewa, atau menjaga supaya hubungan nggak kandas. Tapi Tuhan justru bilang: jaga hatimu dulu. Karena dari sanalah arah hidupmu ditentukan.

Hati itu pusat segalanya—pikiran, emosi, keputusan. Kalau hati nggak dijaga, perasaan bisa ambil alih dan bikin kita kompromi. Banyak orang jatuh bukan karena nggak tahu firman, tapi karena membiarkan hatinya terlalu cepat terikat tanpa batas yang sehat.

Menjaga hati bukan berarti jadi cuek atau anti cinta. Menjaga hati berarti sadar kapan harus melambat, kapan harus pasang batas, dan memastikan Tuhan tetap jadi pusat, bukan sekadar perasaan. Saat hati selaras dengan firman, kita bisa bedain mana kasih yang sehat dan mana yang cuma dorongan sesaat.

Hubungan yang kuat nggak dimulai dari chemistry, tapi dari hati yang tertata. Kalau hatimu aman di dalam Tuhan, relasimu juga akan lebih aman. Karena cinta yang benar selalu lahir dari hati yang dijaga dengan benar.

WHAT TO DO?
1. Periksa kembali motivasi hatimu dalam relasi yang sedang dijalani.
2. Tetapkan batasan yang menolongmu tetap taat kepada Tuhan.
3. Libatkan Tuhan dalam doa sebelum perasaan mengambil alih keputusanmu.

BIBLE MARATHON:
1 Korintus 7

Card image
Renungan Pagi - 21 April 2026
2026-04-21 21:02:39


Dalam kehidupan ini seringkali orang kurang memahami hal-hal baik yang perlu dikerjakan, karena ada banyak orang hanya memikirkan apa yang menyenangkan dan menguntungkan, memang tidak salah mengejar sesuatu yang menyenangkan sehingga memiliki warna kehidupan yang indah; dan setiap orang memang harus mengejar sesuatu yang menguntungkan sehingga menjadi orang yang berhasil dalam kehidupannya.

Namun tahukah jika kita hanya mengejar hal-hal yang menyenangkan, membahagiakan, menguntungkan, tanpa menyadari ini baik atau tidak baik, lalu menghalalkan segala cara, maka yang terjadi kita terjebak pada keberhasilan, keuntungan atau kesenangan yang sementara, tapi sebaliknya orang yang mengerjakan segala sesuatu yang baik, benar dan yang berkenan kepada Tuhan akan selalu mengalami pembelaan dan penyertaan Tuhan yang sempurna.

Card image
Quote Of The Day - 21 April 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-04-21 20:56:36


Pendidikan teologi hanya akan menjadi pabrik argumen jika tidak membangun keintiman dengan Allah dan kesediaan untuk diubah oleh-Nya.

Card image
Mutiara Suara Kebenaran - 21 April 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-04-21 20:53:57


Harta yang paling berharga bukan apa yang ada di tangan, melainkan siapa yang bertakhta di dalam hati.

Card image
THE QUIET PATH OF OBEDIENCE - 21 April 2026 (English Version)
2026-04-21 20:53:09


There are moments in life when obedience leads a person onto a quiet path. That road is not busy, not popular, and often not understood by others. Yet it is precisely on this road that faithfulness is most clearly tested. Daniel is a clear example. While many chose to conform to Babylonian culture, Daniel held fast to his commitment to God. He continued to pray as usual, even knowing the consequence could be the lions’ den. Daniel did not seek attention or sensation; he chose to be faithful.

Walking alone does not mean God has abandoned us. Often, it is in solitude that God’s presence is felt most tangibly. The world may not understand the choices made, but God knows every motive of the heart. Jesus himself experienced rejection and abandonment by his disciples. In his obedience to the Father, he walked toward the cross without human support. His faithfulness did not depend on popular acceptance but on love and obedience to God.

In everyday life, obedience can make a person seem different. Not everyone will agree with the principles you hold. Not everyone will support the choices we make. But the number of followers never measures faithfulness; it measures the depth of obedience. God calls his people not to be popular but to be faithful. Solitude in obedience often becomes the deepest place of formation. When human voices fade, God’s voice is heard more clearly. As support dwindles, dependence on God grows.

Many biblical figures experienced seasons of walking in silence: Moses shepherded in the wilderness, David was shaped among the sheep, Elijah experienced quiet under the broom tree, his own people rejected Jeremiah, and Paul endured hidden seasons before his ministry expanded. The lonely road is not a sign of failure but often a sign of preparation. Walking with God is not always crowded, but it is always safe. Safe does not mean without challenge; it means that God walks with you. Faithfulness that does not rely on crowds produces a steadfast faith that is not easily shaken.

Be aware that not everyone who distances themselves is an enemy, and not everyone who stays close understands God’s call on a life. Sometimes God allows distance not to wound but to purify direction. When the crowd thins, the motives of the heart become more honest. Obedience is no longer done for human approval but for truth. Solitude in obedience often births spiritual courage. When there is no more applause or human reinforcement, one learns to depend entirely on God. Faith no longer rests on atmosphere or support, but on God’s steadfast promises. In this process, sensitivity to God’s voice is formed, and his will becomes clearer.

If you now feel you are walking alone in obedience, remember that God never abandons. He sees every step, hears every prayer, and accompanies every faithful decision you make. Do not rush to conclude your direction is wrong. It may be precisely in the silence that God is working most deeply and seriously. Keep stepping and keep being faithful. God’s way may not always be crowded, but it always draws you closer to his heart.

The Lord Jesus bless you

GOD'S WAYS MAY NOT ALWAYS BE CROWDED, BUT IT ALWAYS DRAWS YOU CLOSER TO HIS HEART.

Card image
JALAN SUNYI KETAATAN - 21 April 2026
2026-04-21 18:07:36


Ada momen-momen dalam hidup ketika ketaatan membawa seseorang ke jalan yang sunyi. Jalan itu tidak ramai, tidak populer, dan sering kali tidak dipahami oleh orang lain. Namun justru di jalan inilah kesetiaan diuji dengan paling nyata. Daniel adalah contoh yang jelas. Ketika banyak orang memilih menyesuaikan diri dengan budaya Babel, Daniel tetap memegang komitmennya kepada Tuhan. Ia tetap berdoa seperti biasa, meskipun mengetahui konsekuensinya adalah gua singa. Daniel tidak mencari perhatian atau sensasi; ia hanya memilih untuk setia.

Berjalan sendirian bukan berarti Tuhan meninggalkan. Sering kali justru dalam kesendirian, kehadiran Tuhan terasa paling nyata. Dunia mungkin tidak memahami keputusan yang diambil, tetapi Tuhan mengetahui setiap motivasi hati. Yesus sendiri pernah mengalami penolakan dan ditinggalkan murid-murid-Nya. Dalam ketaatan-Nya kepada Bapa, Ia berjalan menuju salib tanpa dukungan manusia. Kesetiaan-Nya tidak bergantung pada penerimaan orang banyak, melainkan pada kasih dan ketaatan kepada Allah.

Dalam kehidupan sehari-hari, ketaatan dapat membuat seseorang tampak berbeda. Tidak semua orang akan menyetujui prinsip yang dipegang. Tidak semua orang akan mendukung pilihan yang diambil. Namun kesetiaan tidak pernah diukur dari banyaknya pengikut, melainkan dari kedalaman ketaatan. Tuhan memanggil umat-Nya bukan untuk menjadi populer, melainkan untuk menjadi setia. Kesendirian dalam ketaatan sering kali menjadi ruang pembentukan yang paling dalam. Ketika suara manusia semakin menjauh, suara Tuhan justru terdengar lebih jelas. Saat dukungan berkurang, ketergantungan kepada Allah bertumbuh.

Banyak tokoh Alkitab mengalami fase berjalan dalam kesunyian: Musa digembalakan di padang gurun, Daud dibentuk di antara kawanan domba, Elia mengalami keheningan di bawah pohon arar, Yeremia ditolak oleh bangsanya sendiri, dan Paulus menjalani masa-masa tersembunyi sebelum pelayanannya meluas. Jalan yang sepi bukan tanda kegagalan, melainkan sering kali tanda persiapan. Berjalan di jalan Tuhan memang tidak selalu ramai, tetapi selalu aman. Aman bukan berarti tanpa tantangan, melainkan karena Tuhan berjalan bersama. Kesetiaan yang tidak bergantung pada keramaian akan menghasilkan iman yang kokoh dan tidak mudah goyah.

Perlu disadari bahwa tidak semua orang yang menjauh adalah musuh, dan tidak semua orang yang tetap dekat memahami panggilan Tuhan atas hidup seseorang. Ada kalanya Tuhan mengizinkan jarak terjadi bukan untuk melukai, melainkan untuk memurnikan arah hidup. Ketika keramaian berkurang, motivasi hati menjadi lebih jujur. Ketaatan tidak lagi dilakukan demi persetujuan manusia, tetapi demi kebenaran. Kesendirian dalam ketaatan sering kali melahirkan keberanian rohani. Ketika tidak ada lagi tepuk tangan atau penguatan dari manusia, seseorang belajar bergantung sepenuhnya kepada Tuhan. Iman tidak lagi bertumpu pada suasana atau dukungan, melainkan pada janji Allah yang teguh. Dalam proses inilah kepekaan terhadap suara Tuhan dibentuk dan kehendak-Nya semakin jelas dikenali.

Jika saat ini terasa berjalan sendirian dalam ketaatan, ingatlah bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan. Ia melihat setiap langkah, mendengar setiap doa, dan menyertai setiap keputusan setia yang diambil. Jangan terburu-buru menyimpulkan bahwa arah hidup keliru. Bisa jadi justru dalam kesunyian itulah Tuhan sedang bekerja paling dalam dan paling serius. Tetaplah melangkah dan tetaplah setia. Jalan Tuhan mungkin tidak selalu ramai, tetapi selalu membawa lebih dekat kepada hati-Nya.

Tuhan Yesus memberkati

JALAN TUHAN MUNGKIN TIDAK SELALU RAMAI, TETAPI SELALU MEMBAWA LEBIH DEKAT KEPADA HATI-NYA.

Card image
KIDS DAILY DEVOTIONAL 20 April 2026 - PEMELIHARA HATI DAN PIKIRAN
2026-04-21 18:03:33


Filipi 4:7
“Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus.”

Rehobot Kids, kita percaya bahwa Tuhan selalu menjaga dan memperhatikan ciptaan-Nya setiap saat. Ia tidak pernah berhenti menyertai kita. Tetapi sekarang coba tanya dalam hati, apakah kita juga rindu selalu dekat dengan-Nya? Firman Tuhan berkata bahwa damai sejahtera Allah akan memelihara hati dan pikiran kita. Damai itu bukan sekadar untuk dibaca, tetapi untuk kita alami dan hidupi setiap hari.

Damai dari Tuhan membuat hati kita tenang dan lembut. Damai itu juga mendorong kita untuk lebih mengenal Tuhan dan membagikan kasih-Nya kepada orang lain. Misalnya, saat ada teman yang sedih atau terluka, apakah kita mau mendekat dan menghibur? Atau saat ada teman yang dibuli, apakah kita berani berdiri di sisinya?

Ketika kita memilih menemani, memberi semangat, atau membantu teman yang kekurangan, kita sedang membagikan damai dari Tuhan. Hal-hal kecil seperti berbagi buku, makanan, atau kata-kata penguatan sangat berarti di mata Tuhan.

Rehobot Kids, damai dari Tuhan tidak bisa digantikan oleh apa pun. Damai itu membuat hati kita kuat dan penuh kasih. Yuk, kita hidup dalam damai-Nya dan membagikannya kepada sesama setiap hari. Karena kasih Bapa tidak pernah berubah bagi kita semua.

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 20 April 2026 (English Version) - PURITY IS A CHOICE, NOT A FEELING
2026-04-21 18:01:42


1 Corinthians 6:19
“Or do you not know that your body is a temple of the Holy Spirit within you… and that you do not belong to yourselves?”

Many people think purity is about vibe. As long as the atmosphere is still “safe,” as long as you’re not carried away by your feelings, as long as you can still control yourself, then everything is fine. But God’s word teaches something deeper: purity is not about feeling, but about decision. Feelings can go up and down, but obedience is a deliberate choice.

Paul says that our bodies are temples of the Holy Spirit. This means that our lives are not empty spaces that can be used as we please. The way we date, the way we view our own bodies, the way we treat others—all of these reflect whether we are aware that God dwells in us or not. Purity is not about looking holy, but about honoring God through our daily choices.

Temptation is real. Environmental pressures are real. But holiness doesn’t mean never being tempted—holiness means saying “no” when opportunities to compromise are right in front of us. Every time we choose obedience, we are saying: God, You are more important than momentary pleasure.

Purity is a choice. And every small choice we make today shapes our future. God doesn’t demand that we be perfect, but He longs for us to be faithful. That is where true peace and strength are found.

WHAT TO DO?
1. Realize that every decision you make is a form of respect for God.
2. Set clear boundaries in relationships, not based on feelings, but on the Word.
3. Ask for the power of the Holy Spirit to continue choosing a holy life every day.

BIBLE MARATHON:
1 Corinthians 6

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 20 April 2026 - PURITY IS A CHOICE, NOT A FEELING
2026-04-21 13:22:39


1 Korintus 6:19
“Atau tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu… dan bahwa kamu bukan milik kamu sendiri?”

Banyak orang mikir kemurnian itu soal vibe. Selama suasana masih “aman”, selama belum kebawa perasaan, selama masih bisa kontrol diri, ya berarti baik-baik saja. Tapi firman Tuhan ngajarin sesuatu yang lebih dalam: purity itu bukan soal feeling, tapi soal keputusan. Perasaan bisa naik turun, tapi ketaatan itu pilihan yang disengaja.

Paulus bilang tubuh kita adalah bait Roh Kudus. Artinya hidup kita bukan ruang kosong yang bisa dipakai sesuka hati. Cara kita pacaran, cara kita memandang tubuh sendiri, cara kita memperlakukan orang lain—semuanya mencerminkan apakah kita sadar Tuhan tinggal di dalam kita atau nggak. Kemurnian bukan tentang kelihatan suci, tapi tentang menghormati Tuhan lewat pilihan sehari-hari.

Godaan itu nyata. Tekanan lingkungan juga nyata. Tapi kekudusan bukan berarti nggak pernah tergoda—kekudusan berarti tetap bilang “tidak” saat kesempatan kompromi ada di depan mata. Setiap kali kita memilih taat, kita sedang bilang: Tuhan, Engkau lebih penting daripada kesenangan sesaat.

Purity is a choice. Dan setiap pilihan kecil hari ini lagi ngebentuk masa depan kita. Tuhan nggak nuntut kita jadi sempurna, tapi Dia rindu kita setia. Di situlah damai dan kekuatan sejati ditemukan.

WHAT TO DO?
1. Sadari bahwa setiap keputusanmu adalah bentuk penghormatan kepada Tuhan.
2. Buat batasan yang jelas dalam relasi, bukan berdasarkan perasaan, tetapi firman.
3. Mintalah kekuatan Roh Kudus untuk terus memilih hidup kudus setiap hari.

BIBLE MARATHON:
1 Korintus 6

Card image
Quote Of The Day - 20 April 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-04-21 13:20:09


Milikilah komitmen untuk tetap setia kepada Tuhan, khususnya dalam hal berdoa dan beribadah, kita harus memiliki komitmen untuk melakukannya setiap pagi, bangun pagi berdoa, sebab ini membuat kita selalu mengingat Tuhan.

Ketika kita sedang menghadapi masalah, persoalan, kekecewaan, dalam situasi yang sukar, tetaplah berdoa; sekalipun tubuh terasa sakit, tidak nyaman, lelah, jenuh, tertekan, tetaplah berdoa.

Karena dengan berdoa, membaca Alkitab, merenungkan dan melakukannya itu cukup bagi kita, karena berdoa dan firman-Nya memberikan kekuatan dan kemenangan, karena itu milikilah komitmen untuk setia dalam beribadah kepada Tuhan.

Card image
Mutiara Suara Kebenaran - 20 April 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-04-21 13:19:21


Kiranya kita tidak hanya berbicara tentang kesucian, tetapi benar-benar melangkah di dalamnya. Sedikit demi sedikit, hari demi hari, dengan kesungguhan hati untuk menyenangkan Tuhan.

Card image
TESTED BY TIME - 20 April 2026 (English Version)
2026-04-21 12:55:20


Job 1:20–22
“Then Job arose, tore his robe, and shaved his head; and he fell on the ground and worshiped. He said: “Naked I came from my mother’s womb, and naked I will return there. The LORD gave, and the LORD has taken away; blessed be the name of the LORD.” In all this, Job did not sin nor charge God with wrong.”

The story of Job is not merely a narrative about endurance in suffering, but a profound portrait of mature faith. Scripture reveals that Job’s obedience and fidelity did not stop in comfortable circumstances; rather, they were tested down to the lowest point of his life. Job’s journey of faith reflects a transformation from an informative faith—merely “hearing about God”—into a relational and personal faith, a faith that knows God through direct experience.

Before suffering struck him, Job was known as a righteous, honest man who turned away from evil. His righteousness was not the result of opportunism or transactional motivation—doing good to receive blessings—but the fruit of a relationship built on reverence and fear of God. This is clear when all his possessions vanished, his children died, and his health was taken. In that condition, Job did not blame God; instead, he acknowledged God’s sovereignty by saying, “The LORD gave, and the LORD has taken away; blessed be the name of the LORD.” This statement shows an integrity of faith not dependent on circumstances.

One of the most difficult aspects of Job’s suffering is the absence of explanation. Job did not know why he had to endure such tragic suffering. God seemed silent, offering no direct answer to his struggle. This silence of God teaches a fundamental theological lesson: God remains fully sovereign over life even when humans do not understand what is happening. In such situations, the human part is not to demand explanations but to learn to remain obedient and faithful even when answers are not available.

Job did not evaluate God by the events that happened to him; he interpreted them based on who God is, whom he trusted. This attitude affirms that suffering is not always identical with punishment. In many cases, suffering is used by God as a means of formation, purification, and the maturing of the believer’s character. The fidelity that endures through a long process is what ultimately produces true restoration. God did not ignore Job’s suffering. In the end, the Lord restored him fully—not only materially but also in the depth of his spiritual relationship with God. This restoration affirms that God values faithfulness lived out with perseverance and time. Restoration is not merely the replacement of loss but an increase in the quality of knowing God.

Job’s story also reminds us that true faith must be purified, like gold tested by fire to reach the highest purity. Therefore, believers are called not to retreat or compromise when facing difficult situations. Under the pressure of suffering, the greatest temptation often comes in the form of suspicion toward God’s goodness. But Job rejected that temptation and held firmly to the conviction that the Almighty God is fully sovereign over all things, even though his life appeared shattered.

Human life experiences—career failure, marital crisis, financial struggle, illness, social rejection, or injustice—often shake faith. But Job’s story affirms that bad circumstances do not change the truth about God’s continued goodness. Faith must not be dictated by circumstances but rooted in the knowledge of God’s character. Job did not know when his suffering would end. His faithfulness was tested through long days without answers. Yet in due time, God Himself answered and restored, while silencing all doubt. Job’s faithfulness ultimately produced a sweet fruit: tested faith, purified character, and a deeper relationship with God.

Thus, the faithfulness built in less-than-ideal conditions becomes the purest form of obedience. Such faithfulness is not driven by dreams of certain results but by sincere love for God. In His patience, God continually extends a warm hand to those who return, repent, and keep walking in obedience, even through long paths full of tears.

The Lord Jesus bless you

THE FIDELITY THAT ENDURES THROUGH A LONG PROCESS IS WHAT ULTIMATELY PRODUCES TRUE RESTORATION.

Card image
TERUJI OLEH WAKTU - 20 April 2026
2026-04-21 12:53:14


Ayub 1:20-22
"Maka berdirilah Ayub, lalu mengoyak jubahnya, dan mencukur kepalanya, kemudian sujudlah ia dan menyembah. Katanya: “Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku kembali ke dalamnya. TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN!” Dalam kesemuanya itu Ayub tidak berbuat dosa dan tidak menuduh Allah berbuat yang kurang patut."

Kisah kehidupan Ayub bukan sekadar narasi tentang ketabahan menghadapi penderitaan, melainkan sebuah potret mendalam tentang kualitas iman yang matang. Alkitab menyingkapkan bahwa ketaatan dan kesetiaan Ayub tidak berhenti pada kondisi yang nyaman, tetapi justru diuji hingga titik terendah kehidupannya. Perjalanan iman Ayub mencerminkan transformasi dari iman yang bersifat informatif—sekadar “mendengar tentang Allah”—menjadi iman yang bersifat relasional dan personal, yakni iman yang mengenal Allah melalui pengalaman langsung.

Sebelum penderitaan menimpanya, Ayub dikenal sebagai seorang yang saleh, jujur, dan menjauhi kejahatan. Kesalehannya bukanlah hasil dari sikap oportunistis atau motivasi transaksional—berbuat baik supaya menerima berkat—melainkan buah dari relasi yang dibangun dalam hormat dan takut akan Allah. Fakta ini terlihat jelas ketika seluruh miliknya lenyap, anak-anaknya meninggal, dan kesehatannya direnggut. Dalam kondisi tersebut, Ayub tidak mempersalahkan Allah, melainkan tetap mengakui kedaulatan-Nya dengan berkata, “TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN.” Pernyataan ini menunjukkan integritas iman yang tidak bergantung pada keadaan.

Salah satu aspek paling sulit dalam penderitaan Ayub adalah ketiadaan penjelasan. Ayub tidak mengetahui alasan mengapa ia harus mengalami penderitaan yang begitu tragis. Allah seolah-olah berdiam diri, tidak memberikan jawaban langsung atas pergumulan yang dihadapi. Keheningan Allah ini justru mengajarkan pelajaran teologis yang mendasar: Allah tetap berdaulat sepenuhnya atas kehidupan, bahkan ketika manusia tidak memahami apa yang sedang terjadi. Dalam situasi seperti ini, bagian manusia bukanlah menuntut penjelasan, melainkan belajar untuk tetap taat dan setia meskipun jawabannya belum tersedia.

Ayub tidak menilai Allah berdasarkan peristiwa yang menimpanya, tetapi memaknai peristiwa tersebut berdasarkan siapa Allah yang ia percayai. Sikap ini menegaskan bahwa penderitaan tidak selalu identik dengan penghukuman. Dalam banyak kasus, penderitaan justru dipakai Allah sebagai sarana pembentukan, pemurnian, dan pendewasaan karakter orang percaya. Kesetiaan yang bertahan dalam proses panjang inilah yang akhirnya menghasilkan pemulihan sejati. Allah tidak menutup mata terhadap penderitaan Ayub. Pada akhirnya, Tuhan memulihkan keadaannya secara utuh—bukan hanya secara material, tetapi juga dalam kedalaman relasi spiritualnya dengan Allah. Pemulihan ini menegaskan bahwa Allah menghargai kesetiaan yang dijalani dalam ketekunan dan waktu. Pemulihan bukan sekadar penggantian kehilangan, melainkan peningkatan kualitas pengenalan akan Allah.

Kisah Ayub juga mengingatkan bahwa iman sejati harus dimurnikan, seperti emas yang diuji dalam api untuk mencapai kemurnian tertinggi. Oleh karena itu, orang percaya dipanggil untuk tidak mundur atau berkompromi ketika menghadapi situasi sulit. Dalam tekanan penderitaan, godaan terbesar sering kali muncul dalam bentuk kecurigaan terhadap kebaikan Allah. Namun Ayub justru menolak godaan tersebut dan tetap memegang keyakinan bahwa Allah yang Mahakuasa berdaulat penuh atas segala sesuatu, meskipun fakta hidupnya tampak hancur.

Pengalaman hidup manusia—kegagalan karier, krisis rumah tangga, pergumulan ekonomi, sakit penyakit, penolakan sosial, atau ketidakadilan—sering kali mengguncang pemahaman iman. Namun kisah Ayub menegaskan bahwa situasi yang buruk tidak mengubah kebenaran tentang Allah yang tetap baik. Iman tidak boleh didikte oleh keadaan, melainkan harus berakar pada pengenalan akan karakter Allah. Ayub tidak mengetahui kapan penderitaannya akan berakhir. Kesetiaannya diuji melalui hari-hari panjang tanpa jawaban. Namun pada waktunya, Allah sendiri menjawab dan memulihkan, sekaligus membungkam segala keraguan. Kesetiaan Ayub akhirnya menghasilkan buah yang manis: iman yang teruji, karakter yang dimurnikan, dan relasi dengan Allah yang lebih dalam.

Dengan demikian, kesetiaan yang dibangun dalam kondisi yang tidak ideal justru menjadi bentuk ketaatan yang paling murni. Kesetiaan semacam ini tidak digerakkan oleh impian akan hasil tertentu, melainkan oleh kasih yang tulus kepada Allah. Dalam kesabaran-Nya, Allah senantiasa membuka kehangatan tangan-Nya bagi mereka yang mau kembali, bertobat, dan terus melangkah dalam ketaatan, sekalipun melalui jalan yang panjang dan penuh air mata.

Tuhan Yesus memberkati
KESETIAAN YANG BERTAHAN DALAM PROSES PANJANG INILAH YANG AKHIRNYA MENGHASILKAN PEMULIHAN SEJATI.

Card image
KIDS DAILY DEVOTIONAL 19 April 2026 - SEHATI DENGAN BAPA
2026-04-21 12:39:03


Amsal 21:2
“Setiap jalan orang adalah lurus menurut pandangannya sendiri, tetapi Tuhanlah yang menguji hati.”

Rehobot Kids, tahukah kamu bahwa Tuhan bisa melihat isi hati kita? Tuhan bukan seperti tokoh dongeng yang punya kekuatan ajaib, tetapi Dia adalah Bapa yang sangat dekat dan penuh kasih. Sejak sebelum kita lahir, Tuhan sudah tahu apa yang kita butuhkan. Dia menciptakan matahari, bulan, tumbuhan, dan segala sesuatu untuk kebaikan kita. Tuhan juga tahu apa yang ada di dalam hati kita, bahkan yang tidak kita ucapkan.

Kadang kita merasa tindakan kita sudah benar. Tetapi Tuhan melihat lebih dalam dari sekadar perbuatan luar. Misalnya saat kita bertengkar dengan adik atau teman karena berebut mainan. Apakah di dalam hati kita mau mengaku salah, atau justru menyalahkan orang lain? Saat kita memilih jujur dan meminta maaf, itulah tanda hati kita sedang belajar sehati dengan Tuhan.

Tuhan rindu kita memiliki hati yang rendah dan tulus. Saat mendapat hadiah, kita belajar bersyukur dan tidak menyombongkan diri. Saat diberi makanan yang enak dan sehat, kita belajar menghargainya dan mengucap syukur. Rendah hati bukan berarti kalah, tetapi memilih melakukan yang benar dengan hati yang tulus untuk memuliakan Tuhan.
Rehobot Kids, mari setiap hari berdoa, “Tuhan, periksalah hatiku. Ajari aku memiliki hati yang menyenangkan-Mu.” Saat hati kita sehati dengan Bapa, hidup kita akan dipenuhi damai dan kasih-Nya.

Card image
STRONG IN FAITHFULNESS - 19 April 2026 (English Version)
2026-04-19 22:48:14


2 Timothy 2:13
“If we are unfaithful, He remains faithful, for He cannot deny Himself.”

Faithfulness is a way of life often tested not when everything goes well but when circumstances become difficult. Many can endure when there is comfort, support, and visible results. True faithfulness, however, shows when someone chooses to remain despite unchanged situations, unanswered prayers, and drained strength. In the Christian faith, faithfulness is an expression of trust that God continues to work even when the outcome is not yet visible.

The Bible affirms that God values faithfulness. Matthew 25:21 says, “Well done, good and faithful servant; you have been faithful over a little, I will set you over much.” This verse shows that faithfulness is not determined by the size of the task but by the heart’s attitude in carrying the entrusted responsibility. God evaluates perseverance and commitment in every life process. Faithfulness is often tested through exhausting routines. Someone keeps working diligently for their family, serves without recognition, prays when it feels dry, and lives righteously in a compromising world. These may seem ordinary and unremarkable, but that is precisely where faithfulness is proven. God works not only through great events but also through small, consistent steps.

The story of Ruth gives a beautiful picture of faithfulness. Ruth chose to stay with Naomi, her mother-in-law, though she could have returned home and begun anew. Her declaration, “Your people shall be my people, and your God my God” (Ruth 1:16), demonstrates faithfulness born of love and firm decision. Ruth’s faithfulness not only brought restoration to Naomi but also placed her in God’s grand plan, even into the genealogy of Jesus Christ.

At the same time, the Bible reminds us that human faithfulness has limits. People can grow weary, waver, and fail. But God’s faithfulness never ends. Paul writes, “If we are unfaithful, he remains faithful, for he cannot deny himself” (2 Tim. 2:13). This statement is both comforting and strengthening. When humans are near surrender, God still faithfully sustains, forgives, and guides them back to the right path.

The perfect example of faithfulness is Jesus Christ. He faithfully carried out the Father’s will to the end, even through suffering and the cross. His faithfulness proves that obedience and perseverance in God’s way bring salvation and hope to many. From His example, every believer is called to remain faithful in their calling. Faithfulness does not mean living without fatigue or disappointment. It is the decision to keep trusting and walking with God, day by day. When someone chooses to remain faithful, they entrust the outcome to the faithful God who cares for their life. In his time, God will reveal the fruit of every faithfulness practiced with perseverance.

The Lord Jesus bless you

FAITHFULLNESS IS A WAY OF LIFE OFTEN TESTED NOT WHEN EVERYTHING GOES WELL BUT WHEN CIRCUMSTANCES BECOME DIFFICULT.

Card image
KIDS DAILY DEVOTIONAL 18 April 2026 - TUHAN DEKAT SAAT HATIKU SEDIH
2026-04-19 22:21:12


Mazmur 34:19 (TB)
“Tuhan itu dekat kepada orang-orang yang patah hati, dan Ia menyelamatkan orang-orang yang remuk jiwanya.”

Rehobot Kids, pernahkah kamu merasa sangat sedih sampai rasanya ingin menangis terus? Mungkin karena dimarahi, kehilangan sesuatu yang kamu sayangi, bertengkar dengan teman, atau merasa tidak dimengerti. Hati yang sedih itu seperti balon yang kempis—rasanya lemah dan tidak bersemangat.

Firman Tuhan hari ini mengingatkan bahwa saat hati kita patah, Tuhan justru datang lebih dekat. Tuhan tidak menjauh ketika kita sedih. Ia tidak berkata, “Jangan menangis!” Sebaliknya, Tuhan memeluk hati kita dan memberi kekuatan baru.

Kadang kita berpikir Tuhan hanya dekat saat kita senang atau saat semuanya baik-baik saja. Tapi ayat ini berkata sebaliknya. Justru saat jiwa kita remuk, Tuhan hadir untuk menyelamatkan dan memulihkan kita. Ia mengerti setiap air mata dan setiap rasa kecewa.

Rehobot Kids, kalau hari ini hatimu sedang berat, jangan simpan sendiri. Ceritakan pada Tuhan dalam doa. Katakan apa yang kamu rasakan. Tuhan dekat… sangat dekat. Dan Dia sanggup mengubah kesedihan menjadi pengharapan.

Ingat ya, kamu tidak pernah sendirian. Saat hatimu patah, Tuhan semakin erat memegangmu.

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 18 April 2026 (English Version) - GOD'S VALIDATION > AYANG'S VALIDATION
2026-04-19 22:18:28


Galatians 1:10
“So, what now? Am I trying to win the approval of people, or of God? Am I trying to please people? If I were still trying to please people, I wouldn’t be a servant of Christ.”

Have you ever felt happier because of a sweet chat than because of a verse you read? Or felt that your day was “ruined” just because he didn’t reply to your message? Without realizing it, we can place our self-worth in the hands of others. It’s as if our self-esteem rises and falls depending on the attention we receive from our significant other.

In fact, if our sense of worth only exists when someone says “I love you,” that’s dangerous. We become easily compromised. Afraid of being left behind, afraid of not being accepted, we end up willing to lower our standards of faith just to keep the relationship going. Decisions born out of fear of loss usually cause us to lose ourselves.

Daniel gave a different example. He was young, far from home, surrounded by a culture that did not share his faith. He could have played it safe and gone with the flow to be accepted. But Daniel knew one thing: his identity was not determined by his environment, but by God. He chose to be faithful rather than popular. He chose to please God rather than be liked by everyone.

So before seeking validation from your partner, make sure you are secure in God’s validation. You are valuable not because someone chose you, but because God chose and loved you first. If your heart is full of His love, you will not be easily shaken just because you lack human attention.

WHAT TO DO?
1. Check Your Motives – Do things to please God, not to be accepted by people.
2. Fill Your Heart with the Word – Build your sense of worth from God, not from human validation.
3. Dare to Set Boundaries – Don’t compromise your faith to maintain relationships.

BIBLE MARATHON:
1 Corinthians 4

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 18 April 2026 - VALIDASI TUHAN > VALIDASI AYANG
2026-04-19 12:38:58


Galatia 1:10
“Jadi bagaimana sekarang: adakah kucari kesukaan manusia atau kesukaan Allah? Adakah kucoba berkenan kepada manusia? Sekiranya aku masih mau mencoba berkenan kepada manusia, maka aku bukanlah hamba Kristus.”

Pernah nggak sih kamu merasa lebih happy karena satu chat manis daripada karena satu ayat firman yang kamu baca? Atau merasa hari kamu “rusak” cuma karena dia nggak balas pesan? Tanpa sadar, kita bisa naruh nilai diri kita di tangan orang lain. Seolah-olah harga diri kita naik turun tergantung perhatian dari ayang.

Padahal, kalau rasa berharga kita cuma hidup saat ada yang bilang “I love you”, itu bahaya. Kita jadi gampang kompromi. Takut ditinggal, takut nggak dianggap, akhirnya rela nurunin standar iman cuma supaya hubungan tetap jalan. Keputusan yang lahir dari rasa takut kehilangan biasanya bikin kita kehilangan diri sendiri.

Daniel kasih contoh beda. Masih muda, jauh dari rumah, dikelilingi budaya yang nggak seiman. Dia bisa aja cari aman dan ikut arus biar diterima. Tapi Daniel tahu satu hal: identitasnya bukan ditentukan lingkungan, tapi Tuhan. Dia lebih milih setia daripada populer. Lebih milih berkenan sama Allah daripada disukai semua orang.

Jadi sebelum cari validasi dari ayang, pastiin dulu kamu sudah aman di dalam validasi Tuhan. Kamu berharga bukan karena ada yang memilih kamu, tapi karena Tuhan sudah lebih dulu memilih dan mengasihi kamu. Kalau hati kamu sudah penuh sama kasih-Nya, kamu nggak akan gampang goyah cuma karena kurang perhatian manusia.

WHAT TO DO?
1. Cek Motifmu – Lakukan sesuatu untuk menyenangkan Tuhan, bukan demi diterima orang.
2. Isi Hati dengan Firman – Bangun rasa berhargamu dari Tuhan, bukan dari validasi manusia.
3. Berani Pasang Batas – Jangan kompromikan iman demi mempertahankan hubungan.

BIBLE MARATHON:
1 Korintus 4

Card image
Quote Of The Day - 18 April 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-04-19 12:34:45


Jika ditinjau dari Injil, manusia yang tidak mencapai standar tata laksana hidup seperti yang dikehendaki oleh Allah adalah manusia yang dinilai “gagal.”

Card image
Mutiara Suara Kebenaran - 18 April 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-04-19 12:33:06


Kita mempelajari kebenaran terkait dengan bagaimana kita harus mengukir sejarah hidup, melukis sejarah hidup agar sejarah hidup kita itu bisa diarsipkan di Kerajaan Allah menjadi catatan abadi.

Card image
FAITHFUL IN THE PROCESS - 18 April 2026 (English Version)
2026-04-19 12:04:53


1 Corinthians 4:2
“What is required of stewards is that they be found trustworthy.”

Faithfulness is a beautiful value, but it is not always easy to live out. In a fast-paced world full of choices, faithfulness is often tested by circumstances, feelings, and personal interests. Many can begin something with enthusiasm, but not all can endure when the journey becomes long and tiring. In the Christian faith, faithfulness is not only about starting well but about continuing to walk with God even when the situation is not ideal.

The Bible affirms that faithfulness is highly valued in God’s eyes. The Apostle Paul writes, “What is required of stewards is that they be found trustworthy” (1 Cor. 4:2). This verse shows that God’s measure is not the size of a role or one’s skill, but whether a person is faithful and trustworthy with the responsibilities entrusted to them. Faithfulness speaks of the commitment to remain obedient, consistent, and responsible, even when it is not always visible or appreciated by people.

Faithfulness is often tested precisely in simple, routine things. In daily life, faithfulness appears when a person remains faithful in family, work, ministry, and their relationship with God, even when immediate results are not evident. There are seasons when prayers seem unanswered, efforts feel wasted, and our presence goes unnoticed. Yet it is in such conditions that faithfulness becomes real—when someone continues to choose to do what is right, not because of feelings but because of a commitment of faith.

The Bible records that faithfulness almost always accompanies a long process. Joseph is a clear example. He remained faithful to God, though he endured rejection, injustice, and suffering. Joseph kept his integrity both in Potiphar’s house and in prison. In time, God exalted Joseph and used his life as a blessing to many (Gen. 39–41). This story affirms that God never forgets the faithfulness of His people, even when the process they must undergo feels heavy and unfair.

Human faithfulness ultimately springs from God’s own faithfulness. Lamentations 3:22–23 says, “The steadfast love of the LORD never ceases; his mercies never come to an end; they are new every morning; great is your faithfulness.” When people feel weak or are on the verge of giving up, this word reminds us that God remains faithful to sustain and accompany His people each day. It is this faithfulness of God that becomes the source of strength to endure the process. Jesus Christ shows the most perfect example of faithfulness. He faithfully carried out the mission of salvation to the end, though it meant suffering, rejection, and death. His faithfulness opened the way of salvation for humanity. From Jesus, we learn that faithfulness is not an easy path, but a way that brings true life and hope.

Faithfulness is not rooted in how strongly someone can endure on their own, but in the willingness to continue walking with God, day by day. When someone is faithful in small matters, God will entrust greater matters to them. Therefore, let us cultivate faithfulness in faith, ministry, and daily life, confident that God works through every step of obedience and sincere faithfulness.

The Lord Jesus bless you

FAITHFULNESS BECOMES REAL, WHEN SOMEONE CONTINUES TO CHOOSE TO DO WHAT IS RIGHT, NOT BECAUSE OF FEELINGS BUT BECAUSE OF A COMMITMENT OF FAITH.

Card image
SETIA DALAM PROSES - 18 April 2026
2026-04-19 12:00:48


1 Korintus 4:2
"Yang akhirnya dituntut dari pelayan-pelayan yang demikian ialah, bahwa mereka ternyata dapat dipercayai."

Kesetiaan merupakan nilai yang indah, tetapi tidak selalu mudah untuk dijalani. Dalam dunia yang serba cepat dan penuh pilihan, kesetiaan kerap diuji oleh keadaan, perasaan, dan kepentingan pribadi. Banyak orang mampu memulai sesuatu dengan antusias, namun tidak semua sanggup bertahan ketika perjalanan menjadi panjang dan melelahkan. Dalam iman Kristen, kesetiaan bukan hanya soal memulai dengan baik, melainkan tentang terus berjalan bersama Tuhan, bahkan ketika situasi tidak ideal.

Alkitab menegaskan bahwa kesetiaan memiliki nilai yang sangat tinggi di hadapan Tuhan. Rasul Paulus menulis, “Yang akhirnya dituntut dari pelayan-pelayan yang demikian ialah, bahwa mereka ternyata dapat dipercayai” (1 Kor. 4:2). Ayat ini memperlihatkan bahwa ukuran di hadapan Tuhan bukanlah menilai besarnya peran atau kelihaiannya, melainkan apakah seseorang setia dan layak dipercaya dalam tanggung jawab yang dipercayakan kepadanya. Kesetiaan berbicara tentang komitmen untuk tetap taat, konsisten, dan bertanggung jawab, meskipun tidak selalu terlihat atau dihargai oleh manusia.

Kesetiaan sering kali diuji justru dalam hal-hal yang sederhana dan rutin. Dalam kehidupan sehari-hari, kesetiaan tampak ketika seseorang tetap setia dalam keluarga, pekerjaan, pelayanan, dan relasinya dengan Tuhan, meskipun tidak selalu ada hasil yang langsung terlihat. Ada masa-masa ketika doa seakan belum terjawab, usaha terasa sia-sia, dan kehadiran kita tidak diperhitungkan. Namun justru dalam kondisi seperti itulah kesetiaan menjadi nyata—ketika seseorang tetap memilih melakukan yang benar, bukan karena perasaan, melainkan karena komitmen iman.

Alkitab mencatat bahwa kesetiaan hampir selalu berjalan beriringan dengan proses yang panjang. Yusuf adalah salah satu contoh yang jelas. Ia tetap setia kepada Tuhan meskipun harus mengalami penolakan, ketidakadilan, dan penderitaan. Yusuf menjaga integritasnya, baik ketika berada di rumah Potifar maupun saat dipenjara. Pada waktunya, Tuhan meninggikan Yusuf dan memakai hidupnya menjadi berkat bagi banyak orang (Kej. 39–41). Kisah ini menegaskan bahwa Tuhan tidak pernah melupakan kesetiaan umat-Nya, sekalipun proses yang harus dijalani terasa berat dan tidak adil.

Kesetiaan manusia sejatinya bersumber dari kesetiaan Tuhan sendiri. Ratapan 3:22–23 menyatakan, “Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya; selalu baru tiap pagi, besar kesetiaan-Mu!” Ketika manusia merasa lemah atau hampir menyerah, firman ini mengingatkan bahwa Tuhan tetap setia menopang dan menyertai umat-Nya setiap hari. Kesetiaan Tuhan inilah yang menjadi sumber kekuatan untuk terus bertahan di dalam proses. Kesetiaan yang paling sempurna diteladankan oleh Yesus Kristus. Ia setia menjalankan misi keselamatan hingga akhir, meskipun harus melalui penderitaan, penolakan, dan kematian. Kesetiaan-Nya membuka jalan keselamatan bagi umat manusia. Dari kehidupan Yesus, kita belajar bahwa kesetiaan bukanlah jalan yang mudah, tetapi jalan yang membawa kehidupan dan pengharapan yang sejati.

Kesetiaan tidak berakar pada seberapa kuat seseorang bertahan dengan kemampuannya sendiri, melainkan tentang kesediaan untuk terus berjalan bersama Tuhan, hari demi hari. Ketika seseorang setia dalam perkara-perkara kecil, Tuhan akan mempercayakan perkara yang lebih besar. Oleh karena itu, marilah memelihara kesetiaan dalam iman, pelayanan, dan kehidupan sehari-hari, dengan keyakinan bahwa Tuhan bekerja melalui setiap langkah ketaatan dan kesetiaan yang dijalani dengan tulus.

Tuhan Yesus memberkati

KESETIAAN MENJADI NYATA, KETIKA SESEORANG TETAP MEMILIH MELAKUKAN YANG BENAR, BUKAN KARENA PERASAAN, MEAINKAN KARENA KOMITMEN IMAN.

Card image
KIDS DAILY DEVOTIONAL 17 April 2026 - BUANG SAMPAH HATI
2026-04-17 20:57:51


Efesus 4:31–32
“Segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian dan fitnah hendaklah dibuang dari antara kamu, demikian pula segala kejahatan. Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu.”

Rehobot Kids, siapa yang suka mencium bau sampah? Pasti tidak ada! Kalau sampah dibiarkan menumpuk di rumah, lama-lama akan busuk dan berbau tidak sedap. Karena itu, kita harus rajin membuangnya supaya rumah tetap bersih dan nyaman.

Tahukah kamu? Hati kita juga bisa punya “sampah.” Sampah itu bisa berupa kemarahan, rasa benci, iri hati, sakit hati, atau keinginan membalas. Kalau kita menyimpannya terus, hati kita jadi tidak nyaman dan jauh dari damai Tuhan.

Tuhan tidak mau hati kita dipenuhi sampah seperti itu. Ia mengajarkan kita untuk membuang kepahitan dan menggantinya dengan keramahan, kasih, dan pengampunan. Caranya bagaimana? Datanglah kepada Tuhan dalam doa. Katakan dengan jujur, “Tuhan, aku masih marah. Tolong aku mengampuni.” Tuhan sanggup membersihkan hati kita.

Mungkin tidak mudah, apalagi kalau kita sedang terluka. Tetapi saat kita menyerahkannya kepada Tuhan, Dia memberi hati yang baru—hati yang lembut dan penuh kasih.

Yuk, mulai hari ini kita rajin membuang “sampah hati.” Biarkan hati kita bersih, wangi, dan penuh kasih. Hati yang bersih membuat kita damai… dan tentu saja menyenangkan hati Tuhan.

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 17 April 2026 (English Version) - HEAL FIRST, LOVE LATER
2026-04-17 20:55:57


Proverbs 16:32
“Better to be patient than to be a warrior; better to control oneself than to capture a city.”

Let’s be honest, sometimes we want a boyfriend or girlfriend not because we’re ready, but because we’re lonely. We envy other people’s stories, we want someone to pay attention to us, we want someone to say, “I’m proud of you.” But if our hearts are still full of wounds, dating can turn into a place of escape, not growth. A healthy relationship is born from two whole people, not two empty people.

Mastering yourself is greater than simply having a partner. If we are still prone to overthinking, jealousy, craving validation, or emotional ups and downs when we are alone, our partner could become the dumping ground for all that instability. Dating is not a place to be “saved,” but a space to build each other up.

Look at Isaac. Before meeting Rebekah, he was meditating in the field. There was peace, there was closeness with God. He wasn’t panicking to find a partner. He wasn’t rushing. Isaac was ready because he was stable in God first. His heart wasn’t broken, so he wasn’t looking for someone to fill it.

So before you say, “I’m ready to love,” ask yourself first, “Am I healed yet?” Learn to be patient, learn to know yourself, learn to fill your heart with God. Because healthy love begins with a heart that has been restored.

WHAT TO DO?
1. Examine your heart, whether you want to date because you love someone or because of past wounds/lack of confidence.
2. Learn to understand your own emotions first.
3. Don’t make your partner the center of your world.

BIBLE MARATHON:
1 Corinthians 3

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 17 April 2026 - SEMBUH DULU, BARU SAYANG
2026-04-17 20:51:28


Amsal 16:32
“Orang yang sabar melebihi seorang pahlawan, orang yang menguasai dirinya, melebihi orang yang merebut kota.”

Jujur aja, kadang kita pengen punya pacar bukan karena siap, tapi karena sepi. Iri lihat story orang lain, pengen ada yang perhatian, pengen ada yang bilang, “Aku bangga sama kamu.” Tapi kalau hati kita masih penuh luka, pacaran bisa berubah jadi tempat pelampiasan, bukan pertumbuhan. Hubungan yang sehat lahir dari dua pribadi yang utuh, bukan dua orang yang sama-sama kosong.

Menguasai diri itu lebih hebat dari sekadar punya pasangan. Kalau waktu sendiri aja kita masih gampang overthinking, gampang cemburu, haus validasi, atau emosinya naik turun, pasangan kita nanti bisa jadi tempat tumpahan semua ketidakstabilan itu. Pacaran bukan tempat untuk “diselamatkan,” tapi ruang untuk saling membangun.

Lihat Ishak. Sebelum bertemu Ribka, ia sedang merenung di padang. Ada ketenangan, ada kedekatan dengan Tuhan. Ia tidak panik cari pasangan. Ia tidak terburu-buru. Ishak siap karena ia stabil di dalam Tuhan lebih dulu. Hatinya tidak berlubang, jadi ia tidak mencari seseorang untuk menambalnya.

Jadi sebelum kamu bilang “aku siap mencintai,” tanya dulu: “aku sudah sembuh belum?” Belajar sabar, belajar kenal diri, belajar isi hati dengan Tuhan. Karena cinta yang sehat dimulai dari hati yang sudah dipulihkan.

WHAT TO DO?
1. Periksa isi hati kamu, apakah kamu pengen pacaran karena sayang atau karena ada luka masa lalu/rasa kurang pede.
2. Belajar dulu mengerti emosimu sendiri.
3. Jangan jadikan pacar sebagai pusat duniamu.

BIBLE MARATHON:
1 Korintus 3

Card image
Renungan Pagi - 17 April 2026
2026-04-17 20:48:51


Kita harus katakan bahwa, "Malas, no!" Karena diri kita bukan pemalas, kita tidak boleh malas! Karena malas membuat hari-hari kita berbahaya, membuat hari-hari penuh kekecewaan, membuat hari-hari kita menjadi hari-hari yang tidak bersinar, bila hidup dalam kemalasan.

Orang kalau malas, akibatnya kalau dia bekerja, dia akan bekerja karena keterpaksaan dan hasilnya pasti sia-sia dan baginya pun tidak bermanfaat apa-apa, firman Tuhan katakan, "Tangan orang rajin memegang kekuasaan, tetapi kemalasan mengakibatkan kerja paksa".

Card image
Quote Of The Day - 17 April 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-04-17 20:47:10


Ironis kalau kita menganggap remeh pengampunan dosa itu, karena kita anggap remeh dosa, kita anggap remeh terpisah dari Allah.

Card image
Mutiara Suara Kebenaran - 17 April 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-04-17 20:46:13


Mencari Tuhan bukan tentang mengejar fenomena yang terlihat oleh mata, melainkan tentang membangun kedekatan yang dirasakan oleh jiwa.

Card image
FATHFULNESS IN JOY - 17 April 2026 (English Version)
2026-04-17 20:45:12


There is a tendency among Christians and the church in general to urge the congregation to remain faithful to the Lord amid hardship and suffering. That is certainly not wrong. Human nature is basically to avoid difficulty. If faithfulness to the Lord merely perpetuates hardship, people may abandon God to avoid it. Therefore, calls to remain faithful during hard times should continue to be voiced to encourage Christians in those situations. However, it must be admitted honestly that the circumstances of Christians today are very different.

In terms of state recognition, Christianity has been recognized as an official religion. Regarding places of worship, especially in Indonesia, local governments provide support for church building permits, though some areas still face difficulties obtaining them. Many churches in Indonesia—and around the world—now even have grand buildings. Socially and politically, a fair number of Christians occupy strategic public offices and can represent Christian interests. Moreover, today’s world tends to calm many Christians rather than press or persecute them.

On the one hand, this creates a conducive climate for the numerical growth of Christianity. On the other hand, that atmosphere systematically and massively pushes Christians toward a status quo or a zone of mediocrity. In biblical terms, this condition is called being “lukewarm.”

This status quo or mediocrity appears in Christians who retain their Christian identity and routines. The security of Christian identity no longer faces a serious threat. The improvement in living standards pursued by world leaders in many countries also reduces pressure on Christian life. As a result, many Christians live better lives and no longer experience the hard times of old, when living standards were low, and Christian identity was highly vulnerable. Unwittingly, however, they may be committing spiritual infidelity with sin and worldly pleasures.

The church is relatively quiet about this mediocrity. The church more often urges the congregation to be faithful in hardship, while in reality, many congregants live in joy, even abundance. Against this condition, there is almost no strong call to remain faithful amid joy. If such calls are made, they are usually limited to appeals to keep worshiping and not abandon God. There is no clear, strong concept of how to live faithfully amid joy. Even joy, prosperity, and secure identity are often seen as signs of God’s blessing. People living in such conditions are regarded as faithful and will remain so to God.

Yet comfortable conditions are a latent threat to Christianity. Without romanticizing suffering—as if Christians must always live in pain—we need to recognize that Christians may experience comfort but must not be swallowed by it. One must consciously and vigilantly guard the heart against becoming intoxicated by the pleasures and feasts of prosperity, as warned in Luke 21:34. The heart must stay alert, because comfort can gradually erode faithfulness. More frighteningly, one can be unfaithful to God with the world without realizing it, while still feeling they are in the Lord.

One way to preserve faithfulness amid joy and good circumstances is to give oneself to serve the Lord. Someone who has attained prosperity, security, and the ability to solve their own problems should deliberately occupy themselves with “other people’s problems.” In other people’s problems, we find God’s work. The phrase “other people’s problems” has a broad meaning, in accordance with God’s calling for each person: for example, being actively involved in church ministry, supporting frontline servants of God, or helping those in need of a helping hand.

Thus, a person will not be lulled by the comfort God allows them to enjoy. Instead, they use that comfort or privilege to serve God. This is a concrete way to maintain faithfulness amid joy.

The Lord Jesus bless you

ONE WAY TO PRESERVE FAITHFULNESS AMID JOY AND GOOD CIRCUMSTANCES IS TO GIVE ONESELF TO SERVE THE LORD.

Card image
KESETIAAN DALAM SUKACITA - 17 April 2026
2026-04-17 20:42:12


Terdapat kecenderungan di tengah orang Kristen dan gereja pada umumnya untuk mendorong jemaat agar tetap setia kepada Tuhan di tengah kesulitan dan penderitaan. Tentu hal ini tidak keliru. Sifat dasar manusia ialah menghindari kesulitan. Jika kesetiaan kepada Tuhan justru melanggengkan kesulitan tersebut, ada kemungkinan manusia akan meninggalkan Tuhan demi menghindarinya. Oleh karena itu, dorongan untuk tetap setia kepada Tuhan di masa-masa sulit perlu terus disuarakan guna menguatkan orang-orang Kristen yang berada dalam situasi tersebut. Namun, harus diakui secara jujur bahwa keadaan orang-orang Kristen pada masa kini telah jauh berbeda.

Dari segi pengakuan negara, Kristianitas telah memperoleh legal standing sebagai agama resmi. Dari segi keberadaan tempat ibadah, khususnya di Indonesia, telah ada dukungan pemerintah setempat dalam hal perizinan gedung gereja, meskipun di beberapa daerah masih terdapat kesulitan. Bahkan, tidak sedikit gereja di Indonesia—dan juga di dunia—yang telah memiliki gedung yang megah. Dari sisi sosial-politik, cukup banyak orang Kristen yang menduduki jabatan publik strategis sehingga dapat mewakili kepentingan umat Kristiani. Ditambah lagi, suasana dunia dewasa ini cenderung membuai banyak orang Kristen, alih-alih mendesak atau menganiaya mereka.

Di satu sisi, kondisi ini menciptakan iklim yang kondusif bagi pertumbuhan kuantitas Kristianitas. Namun, di sisi lain, suasana tersebut secara sistematis dan masif menggiring orang-orang Kristen kepada status quo atau zona mediokritas. Dalam bahasa Alkitab, keadaan ini disebut sebagai hidup yang “suam-suam kuku”.

Status quo atau zona mediokritas ini tampak dalam kehidupan orang-orang Kristen yang tetap memiliki identitas dan rutinitas sebagai orang Kristen. Kemapanan identitas Kristiani tidak lagi menghadapi ancaman yang berarti. Peningkatan kesejahteraan hidup yang diupayakan oleh para pemimpin dunia di berbagai negara juga turut mengurangi tekanan terhadap kehidupan umat Kristen. Akibatnya, banyak orang Kristen hidup lebih baik dan tidak lagi mengalami masa-masa sulit seperti pada zaman dahulu, ketika kesejahteraan hidup rendah dan identitas Kristiani sangat rentan. Namun, tanpa disadari, mereka justru berselingkuh dengan dosa dan kenikmatan dunia.

Terhadap situasi mediokritas ini, gereja relatif jarang bersuara. Gereja lebih sering mendorong jemaat untuk setia di tengah kesulitan, sementara faktanya banyak jemaat justru hidup dalam sukacita, bahkan kelimpahan. Terhadap kondisi ini, hampir tidak terdengar seruan yang tegas untuk tetap setia di tengah sukacita. Kalaupun disampaikan, biasanya hanya sebatas imbauan untuk tetap beribadah dan tidak meninggalkan Tuhan. Belum ada konsep yang jelas dan kuat tentang bagaimana hidup setia di tengah sukacita. Bahkan, sukacita, kesejahteraan, dan kemapanan identitas sering kali dianggap sebagai tanda berkat Tuhan. Orang-orang yang hidup dalam kondisi tersebut pun dipandang sebagai orang-orang yang telah setia dan akan terus setia kepada Tuhan.

Padahal, situasi yang nyaman justru merupakan ancaman laten bagi Kristianitas. Tanpa bermaksud meromantisasi penderitaan—seolah-olah orang Kristen harus terus hidup menderita—kita perlu menyadari bahwa orang Kristen boleh mengalami kenyamanan, tetapi tidak boleh tenggelam di dalamnya. Ia harus dengan sadar dan waspada menjaga hatinya agar tidak larut dalam kemabukan dan pesta pora kesejahteraan hidup, seperti yang diperingatkan dalam Lukas 21:34. Hati harus terus berjaga-jaga, sebab kenyamanan dapat mengikis kesetiaan secara perlahan. Yang lebih mengerikan, seseorang dapat berselingkuh dengan dunia tanpa menyadarinya, sambil tetap merasa dirinya berada di dalam Tuhan.

Salah satu cara untuk memelihara kesetiaan di tengah sukacita dan keadaan yang baik ialah dengan memberi diri untuk melayani Tuhan. Seseorang yang telah mencapai kesejahteraan hidup, kemapanan, dan mampu menyelesaikan persoalan-persoalan hidupnya, perlu dengan sengaja menyibukkan dirinya dengan “masalah orang lain”. Sebab di dalam masalah orang lain itulah kita menemukan pekerjaan Tuhan. Ungkapan “masalah orang lain” ini memiliki makna yang luas, sesuai dengan panggilan Tuhan bagi setiap pribadi. Misalnya, terlibat aktif dalam pelayanan gereja, mendukung para hamba Tuhan di garis depan, atau menolong mereka yang membutuhkan uluran tangan.

Dengan demikian, seseorang tidak akan terlena oleh kenyamanan yang Tuhan izinkan untuk ia nikmati. Sebaliknya, ia menggunakan kenyamanan atau privilege tersebut sebagai sarana untuk melayani Tuhan. Inilah salah satu wujud nyata dari memelihara kesetiaan di tengah sukacita.

Tuhan Yesus memberkati

SALAH SATU CARA UNTUK MEMELIHARA KESETIAAN DI TENGAH SUKACITA DAN KEADAAN YANG BAIK IALAH DENGAN MEMBERI DIRI UNTUK MELAYANI TUHAN.

Card image
KIDS DAILY DEVOTIONAL 16 April 2026 - HEART OF FAITHFULNESS
2026-04-17 20:34:56


Amsal 3:3–4
“Janganlah kiranya kasih dan setia meninggalkan engkau; kalungkanlah itu pada lehermu, tuliskanlah itu pada loh hatimu, maka engkau akan mendapat kasih dan penghargaan dalam pandangan Allah serta manusia.”

Rehobot Kids, pernahkah kamu memakai kalung kesayangan? Biasanya kita tidak mau melepasnya karena itu berharga. Firman Tuhan hari ini berkata bahwa kasih dan setia harus seperti kalung yang selalu kita pakai—dekat dengan kita dan tidak pernah dilepaskan.

Kasih berarti kita mau bersikap baik, sabar, dan peduli kepada orang lain. Setia berarti kita mau melakukan yang benar meskipun tidak ada yang melihat, tetap taat kepada Tuhan, orang tua, dan guru. Tuhan ingin kasih dan setia itu bukan hanya terlihat dari luar, tetapi juga tertulis di dalam hati kita.

Saat kita hidup dengan kasih dan setia, orang lain bisa merasakannya lewat sikap kita: lewat kata-kata yang lembut, mau berbagi, mau minta maaf, dan mau menepati janji. Tuhan pun senang melihat anak-anak yang hatinya penuh kasih dan setia.

Yuk, Rehobot Kids, hari ini kita belajar menyimpan kasih dan setia di hati kita. Minta Tuhan menolong kita supaya setiap hari kita bisa hidup menyenangkan hati Tuhan dan juga menjadi berkat bagi orang-orang di sekitar kita.

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 16 April 2026 (English Version) - TETAP Standby WALAU LAGI Nggak Okay
2026-04-17 20:32:29


Psalm 34:18
“The Lord is close to the brokenhearted and saves those who are crushed in spirit.”

Ever feel like you’re not the best version of yourself? Feel less smart, less attractive, less spiritual, or constantly haunted by a past that makes you feel ashamed? Sometimes we think, “I’ll go to God when I’m better.” But God never waits for us to be perfect before He draws near to us.

The world teaches us: if something is broken, replace it. If something is cracked, throw it away. But God is different. He draws even closer when we are brokenhearted and discouraged. He is not disgusted by our process. He does not back away when we are a mess. Staying with God in the midst of difficult circumstances means we dare to be honest and stop pretending to be strong.

Look at Peter. He was emotional, often spoke wrongly, and even denied Jesus three times. By human standards, Peter failed completely. But Jesus didn’t cancel him. Jesus sought him out again, talked to him, restored his heart, and still used him for great things. Peter’s failure was not the end, but a turning point.

So if today you are not okay, stay standby. Keep coming. Keep praying, even if it’s short. Keep showing up, even if your heart is heavy. God is not looking for people who are always strong—He is close to those who are honest and willing to persevere with Him.

WHAT TO DO?
1. Don’t wear a “mask” before God.
2. Stop comparing the messy “backstage” of your life with other people’s “cool posts” on Instagram.
3. When you feel incapable, remember that your strength has limits, but God’s love is unlimited.

BIBLE MARATHON:
1 Corinthians 2

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 16 April 2026 - TETAP Standby WALAU LAGI Nggak Okay
2026-04-17 18:25:46


Mazmur 34:19
“TUHAN itu dekat kepada orang-orang yang patah hati, dan Ia menyelamatkan orang-orang yang patah semangat.”

Pernah ngerasa lagi nggak versi terbaik dari diri sendiri? Ngerasa kurang pintar, kurang menarik, kurang rohani, atau kebayang terus sama masa lalu yang bikin malu? Kadang kita mikir, “Nanti deh ke Tuhan kalau udah lebih baik.” Padahal Tuhan nggak pernah nunggu kita jadi perfect dulu buat dekat sama-Nya.

Dunia ngajarin: kalau rusak, ya diganti. Kalau retak, ya dibuang. Tapi Tuhan beda. Dia justru makin dekat waktu kita lagi patah hati dan patah semangat. Dia nggak jijik sama proses kita. Dia nggak mundur waktu kita lagi berantakan. Bertahan sama Tuhan di tengah kondisi nggak okay itu artinya kita berani jujur dan berhenti pura-pura kuat.

Lihat Petrus. Emosional, sering salah ngomong, bahkan pernah menyangkal Yesus tiga kali. Kalau pakai standar manusia, Petrus gagal total. Tapi Yesus nggak cancel dia. Yesus cari dia lagi, ajak ngobrol, pulihkan hatinya, dan tetap pakai dia buat hal besar. Kegagalan Petrus bukan akhir, tapi titik balik.

Jadi kalau hari ini kamu lagi nggak okay, tetap standby. Tetap datang. Tetap doa walau pendek. Tetap hadir walau hati lagi berat. Tuhan nggak cari orang yang selalu kuat—Dia dekat sama yang jujur dan mau bertahan bersama-Nya.

WHAT TO DO?
1. Jangan pakai “topeng” di hadapan Tuhan.
2. Berhenti membandingkan “bagian belakang layar” hidupmu yang berantakan dengan “postingan keren” orang lain di Instagram
3. Saat merasa nggak sanggup, ingat kalau kekuatanmu ada batasnya, tapi kasih sayang Tuhan itu unlimited.

BIBLE MARATHON:
1 Korintus 2

Card image
Renungan Pagi - 16 April 2026
2026-04-17 18:17:52


Salah satu persoalan yang serius dalam kehidupan manusia hari-hari ini adalah hidup dengan kebohongan, kepalsuan dan kemunafikan.

Hal ini bisa terjadi ditengah kehidupan keluarga, didalam bisnis, didalam pekerjaan maupun didalam meniti karier, dan yang lebih menakutkan lagi, terjadi didalam pelayanan.

Sehingga ada banyak orang yang menyebut dirinya pelayan Tuhan, tetapi masih hidup di dalam kebohongan, kepalsuan dan kemunafikan.

Card image
Quote Of The Day - 16 April 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-04-17 18:14:55


Pujian, sanjungan dan penyembahan dengan gerak dan mulut bagi Tuhan justru “menjijikkan” kalau tidak disertai tindakan setiap hari yang membuat orang lain diberkati.

Card image
Mutiara Suara Kebenaran - 16 April 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-04-17 18:13:23


Kesaksian terbesar bukanlah kata-kata yang kita ucapkan, melainkan hidup yang kita jalani. Dan melalui hidup itulah, dunia dapat mengenal siapa dan bagaimana Allah yang sejati.

Card image
THE CONSEQUENCES OF FAITHFULNESS - 16 April 2026 (English Version)
2026-04-17 13:45:35


Faithfulness always has two consequences when practiced. First, faithfulness does not guarantee that the same faithfulness will be returned to us. This is parallel to the consequence of forgiveness. Forgiving someone does not mean that the person will certainly change and not repeat the same mistake. Instead, forgiving means accepting that someone once hurt us and deciding to make peace with that wound, even without any guarantee that it will not reopen.

Second, when someone is faithful, they will face trials that test that faithfulness. Those trials can take the form of the first consequence already mentioned, namely, when the person to whom we are faithful is themselves unfaithful. When this happens, people often begin to reconsider their commitment to staying faithful. Generally, humans will stop being faithful when they do not receive similar faithfulness from the other party.

Those consequences of faithfulness apply in relationships between people. But what about faithfulness in the relationship between God and humans? On God’s side, He fully bears the same consequences. God’s faithfulness is not always met by human faithfulness. The Word of God through Paul says, “If we are unfaithful, He remains faithful, for He cannot deny Himself” (2 Timothy 2:13). This verse shows that a faithful God faces unfaithful humans. God’s faithfulness does not automatically make humans faithful. Therefore, it is very wrong for anyone to say that human salvation was absolutely determined from the beginning without the involvement of human response.

Besides the first consequence, God also experiences the second consequence, namely, trials of His faithfulness. However, in His perfect integrity, God chooses to remain faithful. Repeatedly in the Old Testament, it is stated that God repented (Genesis 6:7), God was grieved (Isaiah 63:10), and God was betrayed by human rebellion (Habakkuk 1:13). These expressions, although certainly not entirely parallel to human experience, are an honest depiction of God’s heart when His faithfulness is betrayed. God does not pretend to grieve over human betrayal.

How about humans? In their relationship with God, those two consequences of faithfulness can be experienced, but they may also go unexperienced. This depends on how a person views God. If someone harbors suspicion toward God, then when they sincerely serve and are faithful as a Christian, but do not receive God’s help in a major problem, they will feel that God did not repay their faithfulness. They will view God as having abandoned them. Therefore, it is not surprising that many Christians begin to doubt God when facing severe problems. At this point, their faithfulness is tested by themselves.
Conversely, this is not true for someone sincere toward God. A person who places their faith in sincerity will not feel betrayed when God seems silent amid their suffering. They instead see suffering as an opportunity to experience God. Therefore, the two consequences of faithfulness described above do not apply to them. For God is faithful. Even before we show faithfulness, God was already faithful. More than that, we are actually “surrounded” by His faithfulness. God cannot be unfaithful. If He remains faithful even in our unfaithfulness, all the more so when we are faithful to Him.

Thus, the greatest problem is not God’s faithfulness. The party most at risk in this relationship is actually God, because humans are the ones who can be unfaithful. From the human side, there is no risk in placing faithfulness in God, because He will surely be faithful. The most important question is: are we willing, sincerely and without suspicion, to place our faithfulness in Him? Are we willing to suffer worldly loss to be faithful to God? The only thing that can tempt and stop our faithfulness is ourselves. Therefore, the true enemy is not doubt about God’s faithfulness. The real enemy is ourselves, who often suspect God when our personal agendas are not fulfilled.

The Lord Jesus bless you

SOMEONE SINCERE TOWARD GOD. A PERSON WHO PLACES THEIR FAITH INSINCERITY WILL NOT FEEL BETRAYED WHEN GOD SEEMS SILENT AMID THEIR SUFFERING.

Card image
KONSEKUENSI KESETIAAN - 16 April 2026
2026-04-17 13:00:34


Kesetiaan selalu memiliki dua konsekuensi ketika dijalani. Pertama, dalam kesetiaan tidak ada jaminan bahwa kesetiaan yang sama akan berbalik kepada kita. Hal ini sejajar dengan konsekuensi dalam pengampunan. Mengampuni seseorang tidak berarti bahwa orang tersebut pasti berubah dan tidak mengulangi kesalahan yang sama. Sebaliknya, mengampuni berarti menerima bahwa seseorang pernah melukai kita, lalu kita memutuskan untuk berdamai dengan luka itu, sekalipun tanpa jaminan bahwa luka tersebut tidak akan terbuka kembali.

Kedua, ketika seseorang setia, ia akan diperhadapkan dengan cobaan yang menguji kesetiaan itu. Cobaan tersebut dapat berupa konsekuensi pertama yang telah disebutkan, yaitu ketika orang yang kepadanya kita setia justru tidak setia. Ketika hal ini terjadi, sering kali seseorang mulai berpikir ulang untuk tetap setia. Pada umumnya, manusia memang akan berhenti setia ketika tidak menerima kesetiaan yang serupa dari pihak lain.

Konsekuensi kesetiaan tersebut berlaku dalam hubungan antarmanusia. Lalu bagaimana dengan kesetiaan dalam hubungan antara Allah dan manusia? Dari pihak Allah, sepenuhnya Allah menanggung konsekuensi yang sama. Allah yang setia tidak selalu diimbangi oleh kesetiaan manusia. Firman Tuhan melalui Paulus mengatakan, “Jika kita tidak setia, Dia tetap setia, karena Dia tidak dapat menyangkal diri-Nya” (2 Timotius 2:13). Ayat ini menunjukkan bahwa Allah yang setia berhadapan dengan manusia yang tidak setia. Kesetiaan Allah tidak secara otomatis menjadikan manusia setia. Oleh karena itu, sangat tidak tepat jika ada yang mengatakan bahwa keselamatan manusia telah ditentukan secara mutlak sejak semula tanpa keterlibatan tanggapan manusia.

Selain konsekuensi pertama, Allah juga mengalami konsekuensi kedua, yaitu cobaan terhadap kesetiaan-Nya. Namun, dalam integritas-Nya yang sempurna, Allah memilih untuk tetap setia. Berulang kali dalam Perjanjian Lama dinyatakan bahwa Allah menyesal (Kejadian 6:7), Allah berduka (Yesaya 63:10), dan Allah dikhianati oleh pemberontakan manusia (Habakuk 1:13). Ungkapan-ungkapan ini, meskipun tentu tidak sepenuhnya sejajar dengan pengalaman manusia, merupakan gambaran yang jujur tentang hati Allah ketika kesetiaan-Nya dikhianati. Allah tidak berpura-pura berduka atas pengkhianatan manusia.

Bagaimana dari pihak manusia? Dalam relasinya dengan Allah, dua konsekuensi kesetiaan tersebut bisa dialami, tetapi bisa juga tidak dialami. Hal ini bergantung pada cara seseorang memandang Allah. Jika seseorang menaruh kecurigaan terhadap Allah, maka ketika ia sungguh-sungguh melayani dan setia sebagai orang Kristen, tetapi tidak memperoleh pertolongan Allah dalam masalah besar, ia akan merasa bahwa Allah tidak membalas kesetiaannya. Ia memandang Allah telah meninggalkannya. Oleh sebab itu, tidak mengherankan jika banyak orang Kristen mulai meragukan Allah ketika menghadapi persoalan berat. Pada titik inilah kesetiaannya diuji oleh dirinya sendiri.

Sebaliknya, hal ini tidak berlaku bagi orang yang tulus kepada Allah. Orang yang menaruh kesetiaan dengan ketulusan tidak akan merasa dikhianati ketika Allah seolah-olah diam di tengah penderitaannya. Ia justru memandang penderitaan tersebut sebagai kesempatan untuk mengalami Allah. Karena itu, dua konsekuensi kesetiaan di atas tidak berlaku baginya. Sebab Allah adalah setia. Bahkan sebelum kita menunjukkan kesetiaan, Allah telah lebih dahulu setia. Lebih dari itu, kita sesungguhnya “dikepung” oleh kesetiaan-Nya. Allah tidak mungkin tidak setia. Jika dalam ketidaksetiaan kita saja Ia tetap setia, terlebih lagi ketika kita setia kepada-Nya.

Dengan demikian, masalah terbesar bukanlah kesetiaan Allah. Pihak yang paling berisiko dalam relasi ini justru adalah Allah, sebab manusialah yang dapat tidak setia. Dari pihak manusia, tidak ada risiko ketika menaruh kesetiaan kepada Allah, sebab Ia pasti setia. Pertanyaan terpentingnya ialah: apakah kita bersedia dengan tulus, tanpa kecurigaan, menaruh kesetiaan kepada-Nya? Apakah kita bersedia merugi secara duniawi demi setia kepada Allah? Satu-satunya yang dapat mencobai dan menghentikan kesetiaan kita hanyalah diri kita sendiri. Oleh karena itu, musuh sesungguhnya dalam menaruh kesetiaan kepada Allah bukanlah keraguan apakah Allah akan setia atau tidak. Musuh yang sesungguhnya adalah diri kita sendiri, yang kerap mencurigai Allah ketika agenda pribadi kita tidak terpenuhi.

Tuhan Yesus memberkati

ORANG YANG MENARUH KESETIAAN DENGAN KETULUSAN TIDAK AKAN MERASA DIKHIANATI KETIKA ALLAH SEOLAH-OLAH DIAM DI TENGAH PENDERITAAN-NYA.

Card image
KIDS DAILY DEVOTIONAL 15 April 2026 - HEART SET ON GOD
2026-04-16 20:49:20


Mazmur 86:11
“Tunjukkanlah kepadaku jalan-Mu, ya TUHAN, supaya aku hidup menurut kebenaran-Mu; bulatkanlah hatiku untuk takut akan nama-Mu.”

Hi, Rehobot Kids!
Pernahkah kamu membayangkan kalau di dalam hati kita ada banyak “tokoh perasaan”? Ada yang namanya Joy (sukacita), Sadness (sedih), Anger (marah), Fear (takut), dan Disgust (tidak suka). Semua perasaan itu bisa muncul bergantian dan memengaruhi cara kita berpikir, berbicara, dan bertindak setiap hari.

Karena itulah hati kita perlu dituntun oleh Tuhan. Firman Tuhan mengajarkan agar hati kita “dibulatkan” untuk takut akan Tuhan. Artinya, hati kita tidak terbagi-bagi oleh perasaan yang berubah-ubah, tetapi fokus kepada Tuhan. Meskipun perasaan sedang campur aduk, kita tidak mudah bingung atau terseret oleh emosi yang salah, kalau hati kita tertuju kepada Tuhan.

Sekarang coba periksa hatimu, Rehobot Kids. Apakah hatimu sedang dipenuhi kasih, kejujuran, dan kelembutan? Atau justru mudah marah, iri, dan tidak peduli? Tuhan bukan hanya melihat perbuatan kita, tetapi juga melihat isi hati kita. Hati yang bersih dan mau dipimpin Tuhan sangat menyenangkan hati-Nya.

Yuk, kita belajar menjaga hati setiap hari. Kalau kita sadar hati kita mulai salah arah, kita bisa datang kepada Tuhan, bertobat, dan meminta pertolongan-Nya. Mulai setiap pagi dengan doa sederhana: “Tuhan, tuntunlah hatiku hari ini supaya aku hidup benar, setia, dan mengasihi seperti Engkau.” Hati yang tertuju kepada Tuhan akan menuntun hidup kita ke jalan yang benar dan penuh damai.

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 15 April 2026 (English Version) - GRACE IN THE CHAOS
2026-04-16 20:43:49


2 Corinthians 12:9
“But he said to me, ‘My grace is sufficient for you, for my power is made perfect in weakness.’ Therefore I will boast all the more gladly about my weaknesses, so that Christ’s power may rest on me.”

We often think that God can only work when our lives are in order, our prayers are consistent, and our faith is on fire. But in fact, the opposite is true. God works most powerfully when we feel weak, tired, and incapable. His grace doesn’t wait for us to be strong first. He comes when we realize we need Him.

Paul asked for the “thorn” in his life to be removed. But God did not immediately remove the problem. God gave him something deeper: strength in the midst of weakness. This means that God does not always change the situation, but He always strengthens the heart. Chaos does not automatically disappear, but we are not alone in it.

Sometimes we are ashamed of the chaos in our own lives. We feel like failures, spiritually inadequate, left behind. But it is precisely at that point that the power of Christ can be felt the most. When we stop pretending to be strong and begin to lean fully on God, that is where grace works.

Grace in chaos means believing that God is still in control, even when we feel like we have lost control. Weakness is not the end of the story. It can be the place where God’s power shines most brightly in your life.

WHAT TO DO?
1. Honestly acknowledge the areas of your life that feel weak or chaotic.
2. Come to God without a mask, trusting that His grace is sufficient.
3. Allow God to work in the process, not just wait for the end result.

BIBLE MARATHON:
1 Corinthians 1

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 15 April 2026 - GRACE IN THE CHAOS
2026-04-16 20:41:35


2 Korintus 12:9
“Tetapi jawab Tuhan kepadaku: ‘Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.’ Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku.”

Kita sering mikir Tuhan baru bisa kerja kalau hidup kita sudah rapi, doa sudah konsisten, dan iman lagi on fire. Padahal justru sebaliknya. Tuhan paling nyata bekerja saat kita lagi ngerasa lemah, capek, dan nggak sanggup. Kasih karunia-Nya nggak nunggu kita kuat dulu. Dia datang saat kita sadar kita butuh Dia.

Paulus minta supaya “duri” dalam hidupnya diangkat. Tapi Tuhan nggak langsung angkat masalahnya. Tuhan kasih sesuatu yang lebih dalam: kekuatan di tengah kelemahan. Artinya, Tuhan nggak selalu mengubah situasi, tapi Dia selalu menguatkan hati. Chaos nggak otomatis hilang, tapi kita nggak sendirian di dalamnya.

Kadang kita malu sama kekacauan hidup sendiri. Ngerasa gagal, ngerasa nggak cukup rohani, ngerasa tertinggal. Tapi justru di titik itulah kuasa Kristus bisa paling terasa. Saat kita berhenti pura-pura kuat, dan mulai bersandar penuh sama Tuhan, di situ grace bekerja.

Grace in the chaos berarti percaya bahwa Tuhan tetap pegang kendali, bahkan ketika kita merasa kehilangan kontrol. Kelemahan bukan akhir cerita. Itu bisa jadi tempat di mana kuasa Tuhan paling bersinar dalam hidupmu.

WHAT TO DO?
1. Akui dengan jujur area hidup yang sedang terasa lemah atau berantakan.
2. Datang kepada Tuhan tanpa topeng, percaya bahwa kasih karunia-Nya cukup.
3. Izinkan Tuhan bekerja di tengah proses, bukan hanya menunggu hasil akhir.

BIBLE MARATHON:
1 Korintus 1

Card image
Renungan Pagi - 15 April 2026
2026-04-16 20:38:23


Dunia bukanlah tujuan akhir, karenanya tidak ada hidup yang lebih indah selain menyadari bahwa Kristus adalah pembela kita.

Walaupun tanggung jawab dan tantangan berat, kekuatan terbatas, tetapi yang menyertai kita jauh lebih besar daripada yang melawan kita.

Card image
Mutiara Suara Kebenaran - 15 April 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-04-16 20:37:24


Seseorang yang hendak mengikut Tuhan Yesus harus mengalami apa yang Ia alami, sampai tahap kematian dari seluruh keinginan.

Card image
Quote Of The Day - 15 April 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-04-16 20:36:04


Sejatinya, seberapa banyak kita mengasihi Tuhan itu diperankan oleh seberapa kita menyadari kasih Tuhan, menyadari betapa besar anugerah yang Tuhan berikan.

Card image
GRACE IN THE CHAOS - 15 April 2026 (English Version)
2026-04-16 20:34:31


2 Corinthians 12:9
“But he said to me, ‘My grace is sufficient for you, for my power is made perfect in weakness.’ Therefore I will boast all the more gladly about my weaknesses, so that Christ’s power may rest on me.”

We often think that God can only work when our lives are in order, our prayers are consistent, and our faith is on fire. But in fact, the opposite is true. God works most powerfully when we feel weak, tired, and incapable. His grace doesn’t wait for us to be strong first. He comes when we realize we need Him.

Paul asked for the “thorn” in his life to be removed. But God did not immediately remove the problem. God gave him something deeper: strength in the midst of weakness. This means that God does not always change the situation, but He always strengthens the heart. Chaos does not automatically disappear, but we are not alone in it.

Sometimes we are ashamed of the chaos in our own lives. We feel like failures, spiritually inadequate, left behind. But it is precisely at that point that the power of Christ can be felt the most. When we stop pretending to be strong and begin to lean fully on God, that is where grace works.

Grace in chaos means believing that God is still in control, even when we feel like we have lost control. Weakness is not the end of the story. It can be the place where God’s power shines most brightly in your life.

WHAT TO DO?
1. Honestly acknowledge the areas of your life that feel weak or chaotic.
2. Come to God without a mask, trusting that His grace is sufficient.
3. Allow God to work in the process, not just wait for the end result.

BIBLE MARATHON:
1 Corinthians 1

Card image
KETAATAN YANG SELARAS DENGAN KESETIAAN ALLAH
2026-04-15 23:49:47


Dalam kehidupan sehari-hari, kita mungkin pernah membuat janji kepada seseorang, sementara di dalam hati kita sadar bahwa ada kemungkinan janji itu tidak terpenuhi. Seorang ayah, misalnya, berkata kepada anaknya, “Nanti kalau ayah sudah tidak sibuk, kita jalan-jalan bersama.” Kalimat itu diucapkan dengan niat baik, tetapi sang ayah tahu bahwa pekerjaan, kondisi kesehatan, atau situasi hidup dapat saja menggagalkannya. Inilah realitas manusia: janji sering dibuat berdasarkan niat, bukan kepastian.

Firman Tuhan menghadirkan kontras yang sangat tajam antara janji manusia dan janji Allah. Allah tidak pernah berjanji berdasarkan kemungkinan, melainkan berdasarkan kesetiaan-Nya sendiri. Sepanjang sejarah keselamatan, Alkitab mencatat janji-janji Allah yang tampak mustahil di mata manusia. Allah berjanji kepada Abraham bahwa keturunannya akan kembali ke tanah perjanjian setelah ratusan tahun. Janji itu melampaui satu generasi, bahkan melampaui umur manusia yang menerimanya. Namun Allah tetap setia menepati janji-Nya.

Yusuf, yang memahami bahwa hidupnya berada dalam rencana Allah, meminta kepada saudara-saudaranya agar tulang-tulangnya kelak dibawa ke tanah perjanjian (Kej. 50:24–25). Permintaan itu bukan sekadar tindakan simbolis, melainkan pernyataan iman bahwa hidupnya harus selaras dengan kesetiaan Allah, bahkan melampaui kematiannya. Musa pun mengambil langkah ketaatan yang tidak masuk akal menurut logika manusia. Kitab Ibrani menegaskan bahwa Musa “lebih suka menderita sengsara dengan umat Allah daripada untuk sementara menikmati kesenangan dari dosa” (Ibr. 11:24–25). Musa melangkah bukan karena dirinya kuat, tetapi karena ia percaya kepada Allah yang setia menepati janji-Nya.

Bangsa Israel sendiri mengalami pasang surut dalam iman dan ketaatan. Namun ketidaksetiaan manusia tidak pernah membatalkan kesetiaan Allah. Janji-Nya kepada Abraham untuk memberikan tanah perjanjian kepada keturunannya digenapi, bukan karena manusia layak, melainkan karena Allah setia kepada firman-Nya sendiri. Yesus pun mengucapkan janji-janji-Nya pada saat yang paling gelap. Menjelang penyaliban, Ia berkata bahwa Ia akan mati—dan itu terjadi. Ia berkata bahwa Ia akan bangkit—dan itu digenapi. Ia juga berkata akan mendahului murid-murid-Nya ke Galilea. Janji ini diucapkan kepada murid-murid yang sesaat kemudian akan menyangkal, melarikan diri, dan gagal. Namun Yesus tetap setia menyelesaikan misi-Nya di kayu salib. *Kesetiaan Allah tidak bergantung pada kestabilan manusia, melainkan pada karakter-Nya yang tidak pernah berubah.* Dalam kehidupan modern, kita melihat gambaran yang serupa. Seorang atasan mungkin berkata kepada bawahannya, “Jika kinerjamu baik, saya akan memperjuangkan kenaikan jabatanmu.” Kalimat itu mungkin tulus, tetapi sang atasan sadar bahwa keputusan akhir tidak sepenuhnya berada di tangannya. Ada sistem, kebijakan, dan banyak faktor lain yang dapat menggagalkannya. Janji manusia selalu dibatasi oleh kondisi di luar dirinya. Namun Allah tidak dibatasi oleh apa pun di luar diri-Nya. Otoritas-Nya mutlak, dan kesetiaan-Nya tidak pernah gagal. Allah menyampaikan janji-janji-Nya dengan memperhitungkan kehendak bebas manusia. Ia tahu bahwa manusia dapat menolak, menunda, bahkan mengkhianati panggilan-Nya. Di situlah ketaatan diuji. Ketaatan bukan sekadar melakukan perintah, melainkan keputusan sadar untuk menundukkan diri kepada kehendak Allah, sekalipun situasi tidak mendukung. Ketika kita merespons janji Allah dengan ketaatan, hidup kita diselaraskan dengan kesetiaan-Nya. Bahkan ketika kita gagal, Allah tidak serta-merta membatalkan rencana-Nya. Dalam kemurahan-Nya, Ia memulihkan dan mengarahkan kita kembali kepada ketaatan. Tujuan Allah bukan hanya membawa kita kepada penggenapan janji-Nya, tetapi membentuk hidup kita sesuai dengan kehendak dan rencana-Nya. Pertanyaannya bukanlah apakah Allah setia—karena itu sudah pasti. Pertanyaannya adalah apakah kita bersedia hidup dalam ketaatan. *Ketaatan bukan sarana untuk menegosiasikan tindakan Allah, melainkan jalan untuk menyelaraskan hidup kita dengan kesetiaan-Nya yang kekal.* Tuhan Yesus memberkati? KETAATAN BUKAN SARANA UNTUK MENEGOSIASIKAN TINDAKAN ALLAH, MELAINKAN JALAN UNTUK MENYELARASKAN HIDUP KITA DENGAN KESETIAAN-NYA YANG KEKAL.

Card image
KIDS DAILY DEVOTIONAL 14 April 2026 - HATI YANG MAU MENDENGAR
2026-04-15 23:36:10


Yakobus 1:19
“Hai saudara-saudara yang kukasihi, ingatlah hal ini: setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah.”

Suatu hari di sekolah, Riko sedang asyik menggambar. Tiba-tiba, Bima tidak sengaja menyenggol mejanya sampai pensil warna Riko jatuh ke lantai. Riko langsung kesal dan berkata keras, “Kenapa sih kamu ceroboh banget!”

Bima kaget dan hampir menangis. Ia berkata pelan, “Maaf, Riko. Aku nggak sengaja.” Mendengar itu, Riko terdiam. Ia teringat firman Tuhan yang pernah diajarkan di Sekolah Minggu. Ia sadar tadi terlalu cepat marah dan belum mau mendengar. Riko pun menarik napas dan berkata, “Maaf ya, Bima. Aku langsung marah.” Bima tersenyum, dan mereka kembali bermain bersama.

Rehobot Kids, sering kali kita cepat berbicara dan cepat marah, tetapi lambat mendengar. Padahal Tuhan mengajarkan sebaliknya: cepat mendengar, lambat berkata-kata, dan lambat marah. Kalau kita mau berhenti sejenak dan mendengar dengan tenang, banyak masalah bisa selesai dengan damai.

Yuk, setiap hari kita belajar mengendalikan hati. Sebelum marah, tarik napas dan dengarkan dulu. Sebelum bicara, pikirkan dulu. Hati yang mau mendengar adalah hati yang lembut dan menyenangkan Tuhan.

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 14 April 2026(English Version) - GOD IS STILL WRITING YOUR STORY
2026-04-15 23:23:12


Jeremiah 29:11
“For I know the plans I have for you,” declares the LORD, plans to prosper you and not to harm you, plans to give you hope and a future.”

Sometimes life feels like a messy draft. Full of typos. Full of revisions. There are even parts we wish we could delete completely. Past mistakes, impulsive decisions, or situations we never chose can make us think, “My story is already ruined.”

But this verse was not spoken to people whose lives were going smoothly. Jeremiah 29:11 was given when the people of Israel were in exile—far from home, surrounded by uncertainty, and perhaps feeling like God was silent. Yet in the middle of that situation, God said: I know the plans I have. Even when they couldn’t understand the storyline, God still held the bigger plot.

God is still writing your story means failure is not the ending. Your wounds are not the title of your life. And one dark season is not the entire book. We may only see one page, but God sees the whole story—beginning, middle, and end.

If your life feels messy right now, don’t close the book too quickly. God isn’t finished yet. As long as He is holding the pen, there will always be hope on the next page.

WHAT TO DO?
1. Entrust your future to God, even when today’s direction isn’t clear.
2. Stop defining your life by past failures.
3. Remind yourself: God is not finished working in my life.

BIBLE MARATHON:
Romans 16

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 14 April 2026 - GOD IS STILL WRITING YOUR STORY
2026-04-15 23:21:33


Yeremia 29:11 “Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.”

Kadang hidup terasa kayak draft yang berantakan. Banyak typo. Banyak revisi. Bahkan ada bagian yang pengin banget kita hapus. Kesalahan masa lalu, keputusan impulsif, atau keadaan yang nggak kita pilih bikin kita mikir, “Kayaknya ceritaku udah rusak.”

Tapi ayat ini diucapkan bukan ke orang yang hidupnya mulus. Yeremia 29:11 justru diberikan saat bangsa Israel lagi di pembuangan—jauh dari rumah, penuh ketidakpastian, dan mungkin merasa Tuhan diam. Di tengah kondisi itu, Tuhan bilang: Aku tahu rancangan-Ku. Artinya, walau mereka nggak ngerti alurnya, Tuhan tetap pegang plot besarnya.

God is still writing your story berarti kegagalan bukan ending. Luka bukan judul hidupmu. Dan satu season yang gelap bukan keseluruhan buku. Kita mungkin cuma lihat satu halaman, tapi Tuhan lihat keseluruhan cerita—awal, tengah, sampai akhir.

Kalau sekarang hidupmu terasa messy, jangan buru-buru tutup buku. Tuhan belum selesai. Selama Dia yang pegang pena, selalu ada harapan di halaman berikutnya.

WHAT TO DO?
1. Percayakan masa depanmu kepada Tuhan, meski hari ini belum jelas arahnya.
2. Berhenti mendefinisikan hidupmu dari kegagalan masa lalu.
3. Ingatkan dirimu: Tuhan belum selesai bekerja dalam hidupku.

BIBLE MARATHON:
Roma 16

Card image
Quote Of The Day - 14 April 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-04-15 12:53:02


Soal keberkenanan di hadapan Tuhan, harus kita pandang sebagai hal yang selalu penting, mendesak, dan darurat.     

Card image
Mutiara Suara Kebenaran - 14 April 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-04-15 12:52:13


Biarlah Tuhan sendiri menjadi peta dan kompas kehidupan kita. Ketika Tuhan menjadi pusat orientasi hidup, setiap langkah akan memiliki makna, dan perjalanan hidup kita akan mengarah kepada tujuan yang benar.

Card image
OBEDIENCE AS A FRUIT OF LOVE - 14 April 2026 (English Version)
2026-04-14 22:56:59


In the context of Christian marriage, the terms submit or obey sometimes cause discomfort or anxiety. Many understand them as unilateral subjugation, loss of freedom, or an imbalanced relationship. As a result, obedience is perceived as opposing love, as if the two cannot go together. Yet the Bible never presents obedience as a tool of oppression, but as the expression of mature love within a healthy relationship.

In the light of Scripture, obedience is not identical with coercion or subordination that demeans human dignity. Biblical obedience always arises from relationship, not pressure. It grows from correct knowledge, deep trust, and a love continually purified. Therefore, in Christian marriage, obedience must not be separated from love, respect, and shared responsibility before God.

Jesus Himself gives a very clear framework regarding obedience. He said, “If you love me, keep my commandments” (John 14:15). The sequence is important: love precedes obedience. Obedience is not the condition for receiving God’s love, but the fruit of a loving relationship that lives in fellowship with Him. From this, we learn that pure obedience springs from a heart touched by God’s love, not from external coercion.

Christ’s love is unconditional, nonmanipulative, and never an abuse of power. Christ does not demand obedience for His own sake but for human restoration. Therefore, obedience to Christ always brings life, not fear; formation, not oppression. This principle should undergird every Christian relationship, including marriage.

Christian marriage is not merely a social or emotional bond but a spiritual calling. In it, husband and wife are called to learn together to obey God. This obedience does not mean one party rules the other; rather, both submit to God’s will. When God becomes the center of obedience, the marital relationship is no longer about domination but about alignment.

Here, the role of the Holy Spirit is crucial. The Holy Spirit helps believers understand that obedience is not a burden but an act of faith and worship. He guides Christian couples to see that obedience to God shapes character, purifies motives, and grows love that increasingly resembles Christ’s love. Without the Spirit’s work, obedience is easily misunderstood as rigid duty. Under the Spirit’s leading, obedience becomes a path of spiritual growth.

In daily life, obedience to God is reflected in mutual respect, a readiness to forgive, a willingness to listen, and a commitment to live rightly. These are not done merely because of rules but out of sincere love for Christ. As love for Him grows, obedience flows naturally.

Obedience never stands alone. It is always rooted in love—whether in relation to God, in marriage, between children and parents, between subordinate and superior, or in society and church life. True obedience is possible only when founded on Christ’s love. Their obedience is transformed from obligation into joy, and from pressure into worship. Therefore, our paradigm must be renewed: obedience is not the result of coercion but is born naturally as the fruit of love.

The Lord Jesus bless you

OBEDIENCE IS NOT THE RESULT OF COERCION BUT IS BORN NATURALLY AS THE FRUIT OF LOVE.

Card image
KETAATAN SEBAGAI BUAH KASIH - 14 April 2026
2026-04-14 22:55:06


Dalam konteks pernikahan Kristen, istilah tunduk atau taat (to submit) terkadang menimbulkan ketidaknyamanan, bahkan kegelisahan. Tidak sedikit orang memahaminya sebagai bentuk penundukan sepihak, hilangnya kebebasan, atau relasi yang timpang. Akibatnya, ketaatan dipersepsikan sebagai sesuatu yang berlawanan dengan kasih, seolah-olah kasih dan ketaatan tidak mungkin berjalan bersama. Padahal, Alkitab tidak pernah menempatkan ketaatan sebagai alat penindasan, melainkan sebagai ekspresi kasih yang dewasa dalam relasi yang sehat.

Dalam terang firman Tuhan, ketaatan tidak identik dengan paksaan atau subordinasi yang merendahkan martabat manusia. Ketaatan yang alkitabiah selalu lahir dari relasi, bukan dari tekanan. Ia bertumbuh dari pengenalan yang benar, kepercayaan yang mendalam, dan kasih yang terus dimurnikan. Karena itu, dalam pernikahan Kristen, ketaatan tidak boleh dipisahkan dari kasih, penghormatan, dan tanggung jawab bersama di hadapan Allah.

Yesus sendiri memberikan kerangka yang sangat jelas mengenai ketaatan. Ia berkata, “Jika kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti perintah-Ku” (Yoh. 14:15). Urutannya sangat penting: kasih mendahului ketaatan. Ketaatan bukan syarat untuk memperoleh kasih Allah, melainkan buah dari relasi kasih yang hidup dalam persekutuan dengan-Nya. Dari sini kita belajar bahwa ketaatan yang murni lahir dari hati yang telah disentuh oleh kasih Allah, bukan akibat tekanan dari luar.

Kasih Kristus bersifat tanpa syarat, tidak manipulatif, dan tidak pernah menyalahgunakan kuasa. Kristus tidak menuntut ketaatan demi kepentingan diri-Nya, melainkan demi pemulihan manusia. Karena itu, ketaatan kepada Kristus selalu membawa kehidupan, bukan ketakutan; membawa pembentukan, bukan penindasan. Prinsip inilah yang seharusnya menjadi dasar dalam setiap relasi Kristen, termasuk pernikahan.

Pernikahan Kristen bukan sekadar ikatan sosial atau emosional, melainkan panggilan rohani. Di dalamnya, suami dan istri dipanggil untuk bersama-sama belajar hidup taat kepada Allah. Ketaatan ini bukan berarti satu pihak menguasai pihak lain, melainkan kedua pihak sama-sama menundukkan diri kepada kehendak Tuhan. Ketika Allah menjadi pusat ketaatan, relasi suami-istri tidak lagi berorientasi pada dominasi, melainkan pada keselarasan.

Di sinilah peran Roh Kudus menjadi sangat penting. Roh Kudus menolong orang percaya memahami bahwa ketaatan bukan beban, melainkan tindakan iman dan penyembahan. Ia membimbing pasangan Kristen untuk melihat bahwa ketaatan kepada Tuhan membentuk karakter, memurnikan motivasi, dan menumbuhkan kasih yang semakin menyerupai kasih Kristus. Tanpa karya Roh Kudus, ketaatan mudah disalahpahami sebagai kewajiban yang kaku. Namun di bawah pimpinan Roh Kudus, ketaatan menjadi jalan pertumbuhan rohani.

Dalam kehidupan sehari-hari, ketaatan kepada Tuhan tercermin dalam sikap saling menghormati, kerelaan mengampuni, kesediaan untuk mendengar, dan komitmen untuk hidup benar. Semua itu bukan dilakukan semata-mata karena aturan, melainkan karena kasih yang tulus kepada Kristus. Ketika kasih kepada-Nya bertumbuh, ketaatan pun mengalir secara alami.

Ketaatan tidak pernah berdiri sendiri. Ia selalu berakar pada kasih—baik dalam relasi dengan Allah, dalam pernikahan, dalam hubungan antara anak dan orang tua, antara bawahan dan atasan, maupun dalam kehidupan bermasyarakat dan bergereja. Ketaatan yang sejati hanya mungkin terwujud apabila kasih Kristus menjadi fondasinya. Di sanalah ketaatan berubah dari kewajiban menjadi sukacita, dan dari tekanan menjadi penyembahan. Karena itu, paradigma kita perlu diperbarui: ketaatan bukan hasil pemaksaan atau keterpaksaan, melainkan lahir secara alami sebagai buah dari kasih.

Tuhan Yesus memberkati

KETAATAN BUKAN HASIL PEMAKSAAN ATAU KETERPAKSAAN, MELAINKAN LAHIR SECARA ALAMI SEBAGAI BUAH DARI KASIH.

Card image
KIDS DAILY DEVOTIONAL 13 April 2026 - HATI TENANG ITU SEHAT
2026-04-14 21:54:49



Amsal 14:30 “Hati yang tenang menyegarkan tubuh, tetapi iri hati membusukkan tulang.”

Rehobot Kids, pernahkah kamu merasa iri saat melihat teman mendapat nilai lebih bagus, punya mainan baru, atau dipuji guru? Rasanya tidak enak, ya. Hati jadi panas dan pikiran terus membandingkan diri.

Firman Tuhan hari ini berkata bahwa hati yang tenang membawa kesegaran bagi tubuh. Artinya, saat hati kita damai dan tidak dipenuhi iri, hidup kita terasa lebih ringan dan bahagia. Kita bisa tersenyum dengan tulus dan menikmati apa yang kita miliki.

Sebaliknya, iri hati seperti racun kecil di dalam hati. Kalau disimpan terus, membuat kita sulit bersyukur dan sulit bersukacita. Kita jadi mudah kesal, marah, bahkan tidak senang melihat orang lain bahagia.

Kalau rasa iri mulai muncul, jangan dipelihara. Datanglah kepada Tuhan dan berdoa, “Tuhan, ajari aku bersyukur dan ikut senang melihat orang lain diberkati.” Tuhan akan menolong kita memiliki hati yang tenang.

Yuk, Rehobot Kids, pilih hati yang damai dan penuh syukur. Karena hati yang tenang bukan hanya menyenangkan Tuhan, tetapi juga membuat hidup kita sehat dan bahagia.

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 12 April 2026 - GROWING THROUGH CHAOS
2026-04-13 21:55:04


Rut 1:16
“Tetapi Rut berkata: Janganlah mendesak aku meninggalkan engkau… Allahmu akan menjadi Allahku.”

Hidup kadang terasa kayak puzzle yang kepingannya hilang. Rut ngalamin itu. Suaminya meninggal, masa depan blur, dan dia harus ambil keputusan besar: balik ke Moab yang lebih aman, atau ikut Naomi ke tempat asing yang penuh ketidakpastian. Secara logika, pulang itu lebih gampang. Tapi Rut pilih setia.

Rut nggak punya gambaran lengkap tentang rencana Tuhan. Dia cuma pegang satu hal: komitmen. Di tengah chaos, dia tetap melangkah. Dan justru dari langkah kecil yang setia itu, Tuhan menulis cerita besar. Rut akhirnya jadi bagian dari garis keturunan Raja Daud, bahkan sampai kelahiran Yesus. Dari situ kita belajar: kekacauan hari ini bisa jadi bagian dari rencana besar Tuhan besok.

Kita juga sering ada di fase nggak ngerti. Masalah keluarga, tekanan sekolah, relasi yang rumit, atau masa depan yang terasa nggak pasti. Tapi growing through chaos berarti tetap percaya walau belum lihat hasilnya. Iman bukan soal tahu semua jawabannya, tapi tetap setia saat jawabannya belum kelihatan.

Jadi kalau hidup lagi berantakan, jangan langsung mikir Tuhan jauh. Bisa jadi Dia lagi bentuk karakter, ketahanan, dan imanmu. Stay faithful. Di balik chaos, Tuhan tetap kerja.

WHAT TO DO?
1. Waktu hidup terasa kacau, pilih untuk tetap setia sama Tuhan, kayak Rut.
2. Jangan fokus ke masalahnya aja, tapi percaya Tuhan lagi kerja di balik layar.
3. Ambil langkah kecil dalam iman: doa, pelayanan, atau kasih sederhana—meski belum ngerti hasil akhirnya.

BIBLE MARATHON:
Roma 14

Card image
Renungan Pagi - 12 April 2026
2026-04-13 21:53:02


Orang yang setia pasti tidak akan main-main dan sembarangan dalam hidupnya, karena kesetiaannya melayani dan kesetiaannya melakukan firman Tuhan tidak hanya pada saat dia diberkati.

Tetapi juga pada saat-saat menghadapi badai sekalipun dan disaat-saat tersulit sekalipun dalam hidupnya, dia tetap setia melakukan apa yang Tuhan perintahkan, karena kesetiaan adalah pilihan untuk tetap konsisten pada segala kehendak Tuhan.

Card image
Quote Of The Day - 12 April 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-04-13 21:49:18


Manusia memiliki potensi di dalam moralnya yang nyaris tidak terbatas, yaitu kemampuan untuk mencapai kesucian Allah.

Card image
Mutiara Suara Kebenaran - 12 April 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-04-13 21:48:16


Pelayanan yang sesungguhnya bukanlah tentang apa yang kita kerjakan di mimbar, melainkan saat Allah dikenali melalui sifat dan karakter yang terpancar dari hidup kita.

Card image
THE EXCHANGE OF SALVATION - 12 April 2026 (English Version)
2026-04-13 21:43:24


All phenomena on earth are subject to God’s mechanisms, rules, and order. Without that order, life would descend into chaos and destruction. Night and day alternate as the Earth rotates around the sun; water flows to the sea, evaporates by heat, and returns in a repeating cycle. In the social realm, a student cannot achieve high academic performance without exchanging playtime for disciplined study. Likewise, an employee who seeks professional accomplishment must trade ordinary effort for dedication beyond common standards, including sacrifice of time and energy.

This principle shows that achievement always demands a price. No result appears automatically, instantly, or without process. This pattern of order applies not only in nature and society but also to the salvation project that God the Father initiated for humanity. This statement is not meant to diminish God’s omnipotence; rather, it affirms that God is consistent. When God establishes order for creation and humanity, He binds Himself to that order. Thus, human salvation proceeds according to the divine mechanism that God Himself has set in place.

From ancient times, people have sought to draw near to the Creator, the Ruler of heaven and earth, to obtain protection, blessing, and salvation. Various sacrificial rituals were performed—animal slaughter and burnt offerings—to placate divine anger and secure salvation in this life and after death. This pattern is also visible in Israel’s life, where God’s laws and ordinances formed the basis of the relationship with Him.

Hebrews 9:6–7 records that the ritual performed once a year by the high priest in the Holy of Holies continued for centuries, even millennia. The ceremony was conducted so unresolved transgressions would not bring punishment or a curse. Various disasters—plagues, crop failures, and terrifying natural phenomena—were understood as signs of God’s wrath upon sin. Therefore, the blood of animal sacrifices was offered as a means of atonement, both for the high priest and for the people.

It is in this context that the true salvation project finds its fulfillment in the presence, ministry, death, and resurrection of the only Son of God, the Lord Jesus Christ. In line with the principle of order outlined above, God’s work of salvation does not abolish the divine mechanism but perfects it. Hebrews 9:12–14 states that Christ entered once for all into the holy place—not by the blood of goats and calves but by his own blood—and thereby obtained eternal redemption. If the blood of sacrificed animals could purify people outwardly, then Christ’s blood—offered by the eternal Spirit as an unblemished sacrifice—is far more able to cleanse the conscience from dead works so that people may worship the living God. Jesus’ obedience is the core of this salvation project’s fulfillment. Through His obedience, He secures reconciliation between God and humanity. Christ appears as the Great High Priest who offered His own blood, not as a symbol but as the sacrificial reality that perfects the entire former sacrificial system. In this framework, God the Father can be seen as the initiator of salvation, while the Lord Jesus Christ is its executor.

Thus, human salvation is obtained through a divine “exchange”: the life, sacrifice, and offering of the exalted Lord Jesus Christ form the basis of atonement and eternal salvation for humanity. The term ‘exchange‘ here does not refer to an economic transaction but to a theological principle: that salvation requires a real and costly price, fully paid for by Christ’s obedience and sacrifice.

The Lord Jesus bless you

HUMAN SALVATION IS OBTAINED THROUGH A DIVINE “EXCHANGE”: THE LIFE, SACRIFICE, AND OFFERING OF THE EXALTED LORD JESUS CHRIST FORM THE BASIS OF ATONEMENT AND ETERNAL SALVATION FOR HUMANITY.

Card image
ALAT TUKAR KESELAMATAN - 12 April 2026
2026-04-13 21:41:14


Seluruh fenomena yang berlangsung di muka bumi ini tunduk pada mekanisme, aturan, dan tatanan Allah. Tanpa keteraturan tersebut, kehidupan akan jatuh ke dalam kekacauan yang berujung pada kehancuran. Pergantian gelap dan terang terjadi melalui rotasi bumi terhadap matahari; air mengalir menuju laut, menguap oleh panas, lalu kembali ke bumi dalam siklus yang berulang. Dalam ranah sosial, seorang pelajar tidak dapat mencapai prestasi akademik yang tinggi tanpa menukar waktu bermainnya dengan disiplin belajar yang konsisten. Demikian pula, seorang karyawan yang menginginkan pencapaian profesional harus menukar kualitas kerja yang biasa dengan dedikasi yang melampaui standar umum, termasuk pengorbanan waktu dan tenaga.

Prinsip ini menunjukkan bahwa pencapaian selalu menuntut harga tertentu. Tidak ada hasil yang muncul secara otomatis, instan, atau tanpa proses. Pola keteraturan ini tidak hanya berlaku dalam kehidupan alamiah dan sosial, tetapi juga dalam proyek keselamatan manusia yang diinisiasi oleh Allah Bapa. Pernyataan ini sama sekali tidak dimaksudkan untuk mereduksi kemahakuasaan Allah. Sebaliknya, justru menegaskan bahwa Allah adalah Pribadi yang konsisten. Ketika Allah menetapkan tatanan bagi ciptaan dan manusia, Ia juga mengikatkan diri-Nya pada tatanan tersebut. Dengan demikian, keselamatan manusia berlangsung mengikuti mekanisme ilahi yang telah ditetapkan oleh Allah sendiri.

Sejak zaman purbakala, manusia berusaha mendekatkan diri kepada Sang Khalik, Penguasa langit dan bumi, demi memperoleh perlindungan, berkat, dan keselamatan. Berbagai ritual pengorbanan dilakukan, termasuk penyembelihan hewan dan pembakaran persembahan, dengan tujuan agar murka ilahi dapat diredakan dan keselamatan diperoleh, baik dalam kehidupan kini maupun setelah kematian. Pola ini juga terlihat dalam kehidupan umat Israel, yang telah menerima hukum dan ketetapan Allah sebagai dasar relasi dengan-Nya.

Kitab Ibrani 9:6–7 mencatat bahwa ritual yang dilakukan oleh Imam Besar setahun sekali di Ruang Mahakudus telah berlangsung selama berabad-abad, bahkan bermilenium. Seremoni ini dilakukan agar pelanggaran-pelanggaran umat yang belum terselesaikan tidak mendatangkan hukuman atau kutukan. Berbagai bencana—seperti wabah penyakit, gagal panen, dan fenomena alam yang mengerikan—dipahami sebagai tanda murka Allah atas dosa umat. Oleh karena itu, darah binatang korban dipersembahkan sebagai sarana pendamaian, baik bagi Imam Besar maupun bagi seluruh umat.

Dalam konteks inilah proyek keselamatan yang sejati menemukan penggenapannya melalui kehadiran, pelayanan, kematian, dan kebangkitan Putra Tunggal Allah, Tuhan Yesus Kristus. Sejalan dengan prinsip keteraturan yang telah diuraikan, keselamatan yang dikerjakan Allah tidak meniadakan mekanisme ilahi, melainkan menyempurnakannya. Ibrani 9:12–14 menyatakan bahwa Kristus telah masuk satu kali untuk selama-lamanya ke dalam tempat yang kudus, bukan dengan membawa darah domba jantan atau anak lembu, melainkan dengan membawa darah-Nya sendiri. Dengan demikian, Ia memperoleh kelepasan yang kekal. Jika darah binatang korban mampu menyucikan manusia secara lahiriah, maka darah Kristus—yang dipersembahkan oleh Roh yang kekal sebagai persembahan yang tidak bercacat—jauh lebih sanggup menyucikan hati nurani dari perbuatan sia-sia, sehingga manusia dapat beribadah kepada Allah yang hidup. Ketaatan Tuhan Yesus menjadi inti dari penggenapan proyek keselamatan ini. Melalui ketaatan-Nya, Ia mengokohkan pendamaian antara Allah dan manusia. Kristus tampil sebagai Imam Besar Agung yang mempersembahkan darah-Nya sendiri, bukan sebagai simbol, melainkan sebagai realitas pengorbanan yang menyempurnakan seluruh sistem korban sebelumnya. Dalam kerangka ini, Allah Bapa dapat dipahami sebagai inisiator keselamatan, sementara Tuhan Yesus Kristus adalah pelaksana atau eksekutor dari proyek ilahi tersebut.

Dengan demikian, keselamatan manusia diperoleh melalui suatu "pertukaran” ilahi: nyawa, korban, dan persembahan hidup dari Yang Mulia Tuhan Yesus Kristus menjadi dasar pendamaian dan keselamatan kekal bagi umat manusia. Istilah alat tukar dalam konteks ini tidak menunjuk pada transaksi ekonomis, melainkan pada prinsip teologis bahwa keselamatan menuntut harga yang nyata dan mahal, yang sepenuhnya telah dibayar melalui ketaatan dan pengorbanan Kristus.

Tuhan Yesus memberkati

KESELAMATAN MANUSIA DIPEROLEH MELALUI SUATU “PERTUKARAN” ILAHI: NYAWA, KORBAN, DAN PERSEMBAHAN HIDUP DARI YANG MULIA TUHAN YESUS KRISTUS MENJADI DASAR PENDAMAIAN DAN KESELAMATAN KEKAL BAGI UMAT MANUSIA.

Card image
KIDS DAILY DEVOTIONAL 11 April 2026 - MEMAKAI HATI YANG BAIK
2026-04-13 21:36:27


Kolose 3:12
“Karena itu, sebagai orang-orang pilihan Allah yang dikuduskan dan dikasihi-Nya, kenakanlah belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran.”

Sepulang sekolah, Reni tersenyum sendiri. Ia tidak sabar ingin bermain dengan boneka kesayangannya. Tetapi saat membuka pintu kamar, ia terkejut. “ Lho, kok mainanku berantakan?” Ternyata adiknya meminjam tanpa izin. Hati Reni langsung panas. Ia hampir berteriak karena kesal.

Namun tiba-tiba Reni teringat firman Tuhan yang diajarkan di Sekolah Minggu. Tuhan mau kita memakai belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan, dan kesabaran. Reni menarik napas dalam-dalam dan berdoa pelan, “Tuhan, tolong aku supaya bisa sabar.”

Dengan hati yang lebih tenang, Reni mendekati adiknya dan berkata lembut, “Kalau mau pinjam, bilang dulu ya.” Adiknya tersenyum malu lalu memeluk Reni. Hati Reni pun menjadi hangat dan damai. Rumah kembali terasa nyaman dan penuh kasih.

Rehobot Kids, mungkin kita juga pernah merasa kesal seperti Reni. Memang tidak mudah untuk sabar. Tetapi Tuhan sudah lebih dulu mengasihi kita. Karena itu, kita juga bisa belajar memakai “hati yang baik” setiap hari. Yuk, minta Tuhan menolong kita supaya kita menjadi anak yang penuh kasih, lembut, dan sabar di mana pun kita berada.

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 11 April 2026 (English Version) - STAY CALM IN THE LORD
2026-04-13 21:34:28


Ecclesiastes 3:11
“He has made everything beautiful in its time…”

Sometimes life feels extremely messy. College plans change. Family issues don’t get resolved. Relationships grow distant. Or you feel left behind while your friends already seem to have “made it.” It can feel like a tangled thread with no clear end. We want God to fix everything fast—according to our timeline. But maybe God is weaving something bigger than we can understand.

Often, we see life like the back side of an embroidery—full of knots, overlapping threads, and patterns that don’t make sense. But God sees the front side. He’s forming a complete picture. Trusting the process means trusting that the Designer knows exactly what He’s doing, even when we don’t see the final result yet.

Look at Joseph. Sold by his brothers, falsely accused, imprisoned. If you think about it, his life looked like a series of failed episodes. Yet in every phase, there was one powerful truth: the Lord was with Joseph. The pit and the prison were not the end of his story—they were part of the process leading to the palace. Without those dark seasons, he wouldn’t have been ready to lead.

So if your life feels out of order right now, don’t panic. Stay calm in the Lord. He never loses control. His timing may be different from ours, but the outcome is always beautiful. Trust the process. God is working—even in the middle of your chaos.

WHAT TO DO?
1. Rely on God, even when life feels heavy.
2. Believe that God’s grace is enough for the next 24 hours. One step at a time with Him.
3. Start a gratitude journal to notice that God is still working in the smallest details of your life.

BIBLE MARATHON:
Romans 13

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 11 April 2026 - TETAP TENANG DI DALAM TUHAN
2026-04-13 21:15:24


Pengkhotbah 3:11
“Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya…”

Kadang hidup terasa messy banget. Rencana kuliah berubah, masalah keluarga nggak selesai, relasi renggang, atau kamu merasa tertinggal dari teman-teman yang kelihatannya sudah “jadi sesuatu”. Rasanya seperti benang kusut tanpa ujung. Kita ingin Tuhan cepat membereskan semuanya sesuai timeline kita. Padahal bisa jadi Tuhan sedang merajut sesuatu yang lebih besar dari yang kita pahami.

Sering kali kita melihat hidup seperti sisi belakang kain sulaman penuh simpul, benang tumpang tindih, dan pola yang nggak jelas. Tapi Tuhan melihat dari sisi depan. Dia sedang membentuk gambar yang utuh. Percaya pada proses berarti percaya bahwa Sang Perancang tahu persis apa yang sedang Ia lakukan, bahkan saat kita belum melihat hasilnya.

Lihat hidup Yusuf. Dijual saudara, difitnah, dipenjara. Kalau dipikir-pikir, hidupnya seperti rangkaian episode gagal. Tapi di setiap fase itu ada satu kalimat penting: Tuhan menyertai Yusuf. Sumur dan penjara bukan akhir cerita, tapi bagian dari proses menuju istana. Tanpa fase gelap itu, Yusuf nggak akan siap memimpin.

Jadi kalau sekarang hidup terasa nggak beraturan, jangan langsung panik. Tetap tenang di dalam Tuhan. Dia nggak pernah kehilangan kontrol. Waktu-Nya mungkin beda dari waktu kita, tapi hasil akhirnya selalu indah. Trust the process. Tuhan sedang bekerja, bahkan di tengah kekacauanmu.

WHAT TO DO?
1. Andalkan Tuhan, meski hidup lagi berat.
2. Percayalah bahwa anugerah Tuhan cukup untuk 24 jam ke depan. One step at a time with God.
3. Mulailah menulis gratitude journal untuk melihat bahwa Tuhan tetap bekerja di detail terkecil hidupmu.

BIBLE MARATHON:
Roma 13

Card image
Renungan Pagi - 11 April 2026
2026-04-12 22:57:57


Iblis senang jika hidup kita dikuasai oleh kegelisahan lalu kemudian mulai menyesali nasib, bahkan melakukan hal-hal yang sangat merusak hidup kita.

Namun jika kita mau melakukan hal-hal yang positif yaitu hidup dalam kasih, belajar mengampuni, belajar menghadapi segala sesuatu dengan iman, maka hidup menjadi lebih berharga dan berguna bagi kemuliaan nama Tuhan.

Card image
Quote Of The Day - 11 April 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-04-12 22:54:55


Kegiatan gereja haruslah difokuskan pada usaha untuk menyelenggarakan tata laksana kehidupan yang dikehendaki oleh Allah. Untuk itu, kebenaran firman Tuhan harus diajarkan dan teladan kehidupan harus senantiasa ditampilkan.

Card image
Mutiara Suara Kebenaran - 11 April 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-04-12 22:54:01


Perjuangan iman menuntut lebih dari sekadar niat. Ia membutuhkan kerendahan hati untuk disiplin dan ketekunan untuk tetap berdiri saat dunia mencoba menarik kita kembali.

Card image
CHRIST'S SELF-EMPTYING AS THE MODEL OF OBEDIENCE - 11 April 2026 (English Version)
2026-04-12 22:52:09


This writing begins with a fundamental theological question: What was the mission of the Lord Jesus’ first coming to earth? The question is not merely about the final goal of Christ’s incarnation, but about the process he underwent leading up to that mission’s fulfillment. Thus, the focus does not stop at a declarative soteriological aspect but attends to the dynamics of Christ’s obedience in carrying out the will of God the Father.

Theologically, the primary mission of the birth and coming of the Lord Jesus in Bethlehem more than two thousand years ago was to fulfill the Father’s plan to save humanity from destruction. However, the way Jesus consistently and continually lived through the process of that salvation is a very important aspect to examine and use as a basis for faith reflection.

Philippians 2:7–8 states that Christ emptied himself, taking the form of a servant and being made in the likeness of men. And in his human condition, he humbled himself and was obedient unto death, even death on a cross. This statement affirms that Christ’s’ self-emptying (kenosis) was a deliberate and conscious act, done by his own will and fully aligned with the Father’s plan. Christ was not a party “conditioned” or “forced” to humble Himself; rather, He actively chose to empty Himself.

Thus, obedience to the will of God cannot be understood as automatic, spontaneous, or unconscious. True obedience is born from a process of hearing the truth, understanding it, and consciously following it with concrete action. In this context, Christ’s self-emptying becomes the apex expression of his obedience. Christ consciously took on the form of a servant and became like a human being as part of the process of learning obedience to the Father.

Obedience, therefore, cannot be reduced to mere verbal statements, promises, or normative commitments. Obedience must be verified by concrete and comprehensive action in a person’s life. The parent-child relational analogy reinforces this: a child’s obedience is not measured by verbal assent alone but by the concrete execution of the commands given. Likewise, Christ’s obedience to the Father is fully expressed through his self-emptying, which is an integral and inseparable part of his entire life and ministry.

Hebrews 1:3a states that Christ is the radiance of God’s glory and the exact imprint of His nature. This christological statement does not point to a status granted automatically or merely by genealogical relation. The Father does not act by nepotism or relational privilege. Christ becomes the radiance of God’s glory and the image of God precisely because of his total and unconditional obedience to the Father. In all his words and deeds, Christ continually conformed Himself to the Father’s will and fully entrusted His life to Him.

The implications of this truth do not stop with Christ alone but also apply to his followers. If Christ is the radiance of God’s glory, his disciples are called to live a similar pattern of life within their own contexts. Paul affirms this principle in 1 Corinthians 10:31, which states that every aspect of life—whether eating, drinking, or any other activity—should be directed to the glory of God. Thus, obedience to the Father must be manifested in the whole behavior of believers. A life of obedience is not one fragmented between the sacred and the profane, but a life wholly aligned with God’s word in every aspect of existence.

The Lord Jesus bless you

CHRIST BECOMES THE RADIANCE OF GOD'S GLORY AND THE IMAGE OF GOD PRECISELY BECAUSE OF HIS TOTAL AND UNCONDITIONAL OBEDIENCE TO THE FATHER.

Card image
PENGOSONGAN DIRI KRISTUS SEBAGAI MODEL KETAATAN - 11 April 2026
2026-04-12 12:45:56


Tulisan ini diawali dengan sebuah pertanyaan teologis yang mendasar: apakah yang menjadi misi kehadiran Tuhan Yesus pertama kali di bumi? Pertanyaan ini tidak diarahkan semata-mata pada tujuan akhir dari misi inkarnasi Kristus, melainkan pada proses yang dijalani-Nya hingga misi tersebut tercapai. Dengan demikian, fokus pembahasan tidak berhenti pada aspek soteriologis secara deklaratif, tetapi menaruh perhatian pada dinamika ketaatan Kristus dalam menjalankan kehendak Allah Bapa.

Secara teologis, misi utama kelahiran dan kedatangan Tuhan Yesus di Betlehem lebih dari dua ribu tahun yang lalu adalah penggenapan rencana Allah Bapa untuk menyelamatkan umat manusia dari kebinasaan. Namun, cara Tuhan Yesus secara konsisten dan berkelanjutan menjalani proses penyelamatan tersebut merupakan aspek yang sangat penting untuk dikaji dan dijadikan dasar refleksi iman.

Filipi 2:7–8 menyatakan bahwa Kristus telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib. Pernyataan ini menegaskan bahwa pengosongan diri (kenosis) Kristus merupakan tindakan yang disengaja dan sadar, dilakukan atas kehendak-Nya sendiri, serta selaras sepenuhnya dengan rencana Allah Bapa. Kristus bukanlah pihak yang “dikondisikan” atau “dipaksa” untuk merendahkan diri, melainkan Ia secara aktif memilih untuk mengosongkan diri-Nya.

Dengan demikian, ketaatan kepada kehendak Allah tidak dapat dipahami sebagai sesuatu yang terjadi secara otomatis, spontan, atau tanpa kesadaran. Ketaatan sejati lahir dari proses mendengar kebenaran, memahaminya, dan secara sadar menindaklanjutinya dalam tindakan konkret. Dalam konteks ini, pengosongan diri Kristus menjadi ekspresi puncak dari ketaatan-Nya. Kristus secara sadar mengambil rupa seorang hamba dan menjadi sama dengan manusia sebagai bagian dari proses pembelajaran ketaatan kepada Allah Bapa.

Ketaatan, oleh karena itu, tidak dapat direduksi menjadi sekadar pernyataan verbal, janji, atau komitmen normatif. Ketaatan harus terverifikasi melalui tindakan nyata dan menyeluruh dalam kehidupan seseorang. Analogi relasi orang tua dan anak menegaskan hal ini: ketaatan seorang anak tidak diukur dari persetujuan lisan semata, melainkan dari pelaksanaan konkret atas perintah yang diberikan. Demikian pula, ketaatan Kristus kepada Allah Bapa dinyatakan secara utuh melalui pengosongan diri-Nya, yang merupakan bagian integral dan tidak terpisahkan dari keseluruhan hidup dan pelayanan-Nya.

Ibrani 1:3a menyatakan bahwa Kristus adalah cahaya kemuliaan Allah dan gambar wujud Allah. Pernyataan kristologis ini tidak menunjuk pada suatu status yang diberikan secara otomatis atau berdasarkan relasi genealogis semata. Allah Bapa tidak bertindak berdasarkan prinsip nepotisme atau keistimewaan relasional. Kristus menjadi cahaya kemuliaan dan gambar wujud Allah justru karena ketaatan-Nya yang total dan tanpa syarat kepada Allah Bapa. Dalam seluruh perkataan dan tindakan-Nya, Kristus senantiasa mengonfirmasikan diri-Nya kepada kehendak Bapa dan sepenuhnya menggantungkan hidup-Nya kepada-Nya.

Implikasi dari kebenaran ini tidak berhenti pada pribadi Kristus semata, melainkan juga berlaku bagi para pengikut-Nya. Jika Kristus adalah cahaya kemuliaan Allah, maka para murid dipanggil untuk menghidupi pola hidup yang serupa dalam konteks kehidupan masing-masing. Prinsip ini ditegaskan oleh Rasul Paulus dalam 1 Korintus 10:31, yang menyatakan bahwa segala aspek kehidupan—baik makan, minum, maupun aktivitas lainnya—harus diarahkan untuk kemuliaan Allah. Dengan demikian, ketaatan kepada Allah Bapa harus terwujud dalam keseluruhan perilaku hidup orang percaya. Hidup yang taat bukanlah hidup yang terfragmentasi antara yang rohani dan yang profan, melainkan hidup yang secara utuh diselaraskan dengan kehendak Allah dalam setiap aspek keberadaannya.

Tuhan Yesus memberkati

KRISTUS MENJADI CAHAYA KEMULIAAN DAN GAMBAR WUJUD ALLAH JUSTRU KARENA KETAATAN-NYA YANG TOTAL DAN TANPA SYARAT KEPADA ALLAH BAPA.

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 10 April 2026 - HATI YANG GEMBIRA
2026-04-12 12:40:46


Amsal 17:22
“Hati yang gembira adalah obat yang manjur, tetapi semangat yang patah mengeringkan tulang.”

Pagi itu Sion datang ke sekolah dengan wajah cemberut. Ia kesal karena mainannya rusak semalam. Sepanjang hari ia jadi mudah marah dan tidak mau bercanda dengan teman. Sebenarnya bukan sekolah yang membuatnya kesal, tetapi hatinya yang sedang tidak baik.

Rehobot Kids, pernahkah kamu merasa seperti itu? Saat hati penuh kekesalan, semuanya terasa salah. Hal kecil jadi masalah besar. Firman Tuhan mengingatkan bahwa hati yang gembira itu seperti obat. Artinya, sukacita membuat hati kita lebih ringan dan membawa damai.

Tuhan peduli dengan isi hati kita. Jika hati kita dipenuhi marah dan keluhan, kita akan cepat lelah. Tetapi jika kita datang kepada Tuhan dan berkata, “Tuhan, tolong gantikan kekesalanku dengan sukacita,” Tuhan akan menolong kita. Bersyukur dan memaafkan membuat hati kita kembali hangat.

Rehobot Kids, sukacita bukan berarti kita tidak pernah sedih. Sukacita berarti kita percaya Tuhan tetap baik dalam segala keadaan. Yuk, setiap hari kita belajar menjaga hati dan memilih bersukacita. Karena hati yang gembira bukan hanya membuat hidup lebih indah, tetapi juga menyenangkan hati Tuhan.

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 10 April 2026 (English Version) -FAITH THROUGH CHAOS
2026-04-12 12:39:00


Romans 8:28
“And we know that in all things God works for the good of those who love Him.”

Life isn’t always as aesthetic as an Instagram feed. Sometimes it’s full of family drama, piling assignments, broken relationships, or just pure emotional exhaustion. Everything feels chaotic. But here’s the truth we need to hold onto: God is not panicking over your messy life. He’s still working—even when you can’t see where it’s going.

Look at Joseph. His life hit a season that was completely chaotic. Sold by his own brothers, falsely accused, thrown into prison for something he didn’t do. From the outside, it looked like a series of failures. But behind the scenes, God was shaping his character and preparing him for something far bigger. Chaos wasn’t the end of his story—it was part of the process.

A lot of times we focus so much on the problem that we forget God is working backstage. Yet it’s often in the most uncomfortable seasons that our faith grows the most. We learn to trust without certainty. We learn to be patient before answers come. We learn to lean on God when our own strength runs out.

So when life feels messy, don’t be quick to assume God is distant. He might be arranging something more beautiful than you can imagine. Faith grows in chaos—and God never stops working, even in the middle of the mess.

WHAT TO DO?
1. When life feels chaotic, pause and remind yourself: God is still working behind it all.
2. Find examples in the Bible (like Joseph) and reflect on how God used their chaos for good. 3. Shift your perspective—see problems not as roadblocks, but as opportunities for your faith to grow.

BIBLE MARATHON:
Romans 12

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 10 April 2026 - FAITH THROUGH CHAOS
2026-04-12 12:36:54


Roma 8:28
“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia.”

Hidup nggak selalu serapi feed Instagram. Kadang penuh drama keluarga, tugas numpuk, relasi yang retak, atau hati yang lagi capek banget. Semuanya terasa chaotic. Tapi satu hal yang perlu kita pegang: Tuhan nggak panik lihat hidup kita berantakan. Dia tetap kerja, bahkan saat kita nggak ngerti arahnya.

Yusuf pernah ada di fase hidup yang benar-benar kacau. Dijual saudara sendiri, difitnah, dipenjara tanpa salah. Kalau dilihat sekilas, itu seperti rangkaian kegagalan. Tapi ternyata, di balik semua kekacauan itu, Tuhan sedang membentuk karakter dan mempersiapkan dia untuk sesuatu yang jauh lebih besar. Chaos bukan akhir cerita. Itu proses.

Sering kali kita cuma fokus ke masalahnya sampai lupa kalau Tuhan lagi kerja di balik layar. Padahal justru di masa-masa paling nggak nyaman itu iman kita dilatih. Kita belajar percaya saat nggak ada kepastian. Kita belajar sabar saat jawaban belum datang. Kita belajar bersandar saat kekuatan sendiri habis.

Jadi kalau hidup lagi terasa berantakan, jangan buru-buru bilang Tuhan jauh. Bisa jadi Dia lagi menyusun sesuatu yang lebih indah dari yang kamu bayangkan. Faith grows in chaos. Dan Tuhan nggak pernah berhenti bekerja— even in the mess.

✅ WHAT TO DO?
1. Waktu hidup terasa kacau, berhenti sejenak dan ingat: Tuhan tetap kerja di balik semua itu.
2. Cari teladan dari Alkitab (kayak Yusuf) dan renungkan bagaimana Tuhan pakai kekacauan mereka untuk tujuan baik.
3. Ubah cara pandang: lihat masalah bukan sebagai penghalang, tapi sebagai kesempatan buat iman bertumbuh.

BIBLE MARATHON:
Roma 12

Card image
Renungan Pagi - 10 April 2026
2026-04-12 12:27:38

Kesuksesan senantiasa hinggap dalam diri orang yang mau bekerja keras, orang-orang hebat yang ada di dunia ini adalah tipe orang yang rajin dan pekerja keras, kesuksesan yang diraihnya adalah akibat dari ketekunan dan hasil perjuangan yang tidak mengenal lelah.

Tuhan sangat tidak suka terhadap orang-orang Kristen yang bermalas-malasan dan tidak mau bekerja, karena malas adalah sahabat kemiskinan dan kekurangan; kemalasan juga akan menjauhkan kita dari berkat-berkat Tuhan.

Seorang pemalas biasanya suka sekali menunda-nunda pekerjaan yang seharusnya dapat dikerjakan pada waktu itu; suka meremehkan tugas dan sangat lamban dalam menyelesaikan apa saja yang dipercayakan kepadanya.

Card image
Quote Of The - 10 April 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-04-11 23:07:12


Manusia diberi Tuhan kepercayaan untuk memiliki kedaulatan; tentu kedaulatan yang harus ditundukkan kepada Allah sebagai Bapa dan Majikan Agungnya.

Card image
Mutiara Suara Kebenaran - 10 April 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-04-11 23:02:09


Lebih berharga memiliki hati yang hancur namun tetap mencari wajah-Nya, daripada memiliki hidup yang terlihat hampa dari keinginan akan Tuhan.

Card image
OBEDIENCE BECAUSE OF LOVE - 10 April 2026 (English Version)
2026-04-11 22:58:41


John 14:15
“If you love me, you will keep my commandments.”

Motivation plays a vital role in everything we do, including devotion and piety toward God. Scripture clearly affirms that willingness to obey God’s commands is tangible proof of loving God. In religious life, obedience is often reduced to ritual routines, service involvement, or participation in church activities wrapped in liturgy and ceremony. But the Bible insists that everything done without love is worthless (cf. 1 Cor. 13:1–3). Therefore, obedience not grounded in love risks becoming false piety or a moral burden born of rigid, mechanical religious rules.

Jesus clearly teaches that loving is not merely a feeling but a concrete action expressed in obedience. The obedience meant here is not the result of coercion, threat, or promise of reward. Christ does not say, “Obey so you will avoid punishment,” or “Obey so you will receive payment.” Instead, He frames obedience as the natural response of sincere love. The phrase “keep my commandments” indicates comprehensive obedience, not partial or selective based on personal preference. Thus, obedience becomes an objective indicator revealing the quality of one’s love for God. Therefore, as a claim to love God cannot be separated from the willingness to obey His will. When a person consciously and continually ignores God’s Word, that claim of love is rightly questioned. Christianity that appears only externally religious without being rooted in a true relationship with God risks hypocrisy and empty formality.

In the theology of love, obedience does not precede love; rather, love precedes obedience. Believers do not obey God to be loved or blessed, but obey because they have already received His love. Thus, obedience, submission, and faithfulness are not spiritual transactions but relational responses. Conditional obedience—based on hopes for blessings, answered prayers, or miracles—is not biblical. True obedience arises from a healthy, mature relationship with God and from the awareness not to wound the heart of the One who has already loved first.

This principle can be illustrated by everyday life. In marriage, the primary basis of a husband’s is not legal sanction or social pressure but sincere love, respect for his spouse, and a faithful commitment to live according to God’s will. A mother who wakes at night to nurse her child does so not out of compulsion but out of love. Love has the power to turn burden into service and sacrifice into joy. Therefore, examining the heart is essential for believers. The balance between professed faith and visible deeds must be maintained. As Scripture says, a tree is known by its fruit; likewise, love for God is known through obedience manifested in daily life.

Obedience and faithfulness are not instantaneous or the result of a single spectacular experience but the fruit of a long process in the journey of faith. Obedience is an expression of faith that grows through submission to the truth of God’s Word’s renewal by love, and the longing to become more like Christ. From this perspective, the believer’s goal is not worldly achievement but a life pleasing to God through wholehearted obedience. When love is the foundation and mover of obedience, obedience is no longer a burdensome duty but an honor lived with joy and earnestness of heart. Scripture also assures that God will not allow a temptation beyond what a person can bear (cf. 1 Cor. 10:13). Therefore, our responsibility is to strive sincerely in obedience. At the same time, God, in His faithfulness, will not fail to fulfill His part.

The Lord Jesus bless you WHEN LOVE IS THE FOUNDATION AND MOVER OF OBEDIENCE, OBEDIENCE IS NO LONGER A BURDENSOME DUTY BUT AN HONOR LIVED WITH JOY AND EARNESTNESS OF HEART.

Card image
TAAT KARENA MENCINTAI - 10 April 2026
2026-04-11 22:56:15


Yohanes 14:15
“Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku.”

Motivasi sangat berperan penting dalam melakukan segala sesuatu, tidak terkecuali dalam pengabdian, ketaqwaan kepada Tuhan. Firman Tuhan jelas menegaskan bahwa kesediaan menaati perintah Allah wujud bukti nyata dari mengasihi Allah. Dalam kehidupan religius, ketaatan sering kali direduksi menjadi rutinitas keagamaan, keterlibatan pelayanan, atau partisipasi dalam berbagai kegiatan gerejawi yang dibungkus secara liturgis dan seremonial. Namun, Alkitab menegaskan bahwa segala sesuatu yang dilakukan tanpa kasih adalah sia-sia (bdk. 1Kor. 13:1–3). Oleh karena itu, ketaatan yang tidak dilandasi oleh motivasi kasih berpotensi berubah menjadi kesalehan semu, bahkan menjadi beban moral yang lahir dari tuntutan peraturan keagamaan yang kaku dan mekanistis.

Tuhan Yesus dengan jelas mengajarkan bahwa mengasihi bukanlah sekadar persoalan perasaan, melainkan tindakan konkret yang terwujud dalam ketaatan. Ketaatan yang dimaksud bukanlah hasil paksaan, ancaman, atau iming-iming keuntungan. Kristus tidak mengatakan, “Taatlah supaya kamu terhindar dari hukuman,” atau “Taatlah supaya kamu memperoleh upah.” Sebaliknya, Ia menempatkan ketaatan sebagai respons alami dari kasih yang tulus. Ungkapan “menuruti segala perintah-Ku” menegaskan bahwa ketaatan bersifat menyeluruh, bukan parsial atau selektif berdasarkan preferensi pribadi. Dalam hal ini, ketaatan menjadi indikator objektif yang mengungkapkan kualitas kasih seseorang kepada Tuhan. Oleh sebab itu, klaim mengasihi Allah tidak dapat dilepaskan dari kesediaan untuk menaati kehendak-Nya. Ketika seseorang secara sadar dan terus-menerus mengabaikan firman Tuhan, maka klaim kasih tersebut patut dipertanyakan. Kekristenan yang hanya tampak religius secara lahiriah, tetapi tidak berakar pada relasi yang sejati dengan Allah, berpotensi jatuh ke dalam kepura-puraan dan formalitas kosong.

Dalam kerangka teologi kasih, ketaatan tidak mendahului kasih, melainkan sebaliknya: kasih mendahului ketaatan. Orang percaya tidak menaati Allah agar dikasihi atau diberkati, melainkan menaati Allah karena telah lebih dahulu menerima kasih-Nya. Dengan demikian, ketaatan, ketundukan, dan kesetiaan bukanlah bentuk transaksi rohani, melainkan respons relasional. Ketaatan yang bersyarat—yang didasarkan pada harapan memperoleh berkat, jawaban doa, atau mujizat—bukanlah ketaatan yang alkitabiah. Ketaatan sejati lahir dari relasi yang sehat dan dewasa dengan Allah, serta dari kesadaran untuk tidak melukai hati Tuhan yang telah lebih dahulu mengasihi.

Prinsip ini dapat dipahami melalui analogi kehidupan sehari-hari. Dalam kehidupan pernikahan, yang menjadi dasar utama kesetiaan suami bukanlah sanksi hukum atau tuntutan sosial, melainkan kasih yang tulus, penghormatan terhadap pasangan, serta komitmen iman untuk hidup sesuai dengan kehendak Allah. Demikian pula, seorang ibu yang bangun di tengah malam untuk menyusui anaknya tidak melakukannya karena keterpaksaan, melainkan karena kasih. Kasih memiliki kuasa untuk mengubah beban menjadi pelayanan dan pengorbanan menjadi sukacita. Oleh karena itu, evaluasi motivasi hati menjadi hal yang esensial dalam kehidupan orang percaya. Keseimbangan antara pengakuan iman dan perbuatan nyata harus terus dijaga. Seperti dikatakan dalam Alkitab, pohon dikenal dari buahnya; demikian pula, kasih kepada Allah dikenal melalui ketaatan yang diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.

Ketaatan dan kesetiaan bukanlah sesuatu yang instan atau hasil dari pengalaman spektakuler sesaat, melainkan buah dari proses panjang dalam perjalanan iman. Ketaatan merupakan ekspresi iman yang terus bertumbuh melalui penundukan diri kepada kebenaran firman Tuhan, pembaruan hidup oleh kasih, dan kerinduan untuk semakin serupa dengan Kristus. Dalam perspektif ini, tujuan tertinggi kehidupan orang percaya bukanlah pencapaian duniawi, melainkan hidup yang berkenan kepada Allah melalui ketaatan yang utuh. Ketika kasih menjadi dasar dan penggerak ketaatan, ketaatan tidak lagi dipandang sebagai beban yang memberatkan, melainkan sebagai kehormatan yang dijalani dengan sukacita dan kesungguhan hati. Alkitab juga menegaskan bahwa Allah tidak mengizinkan pencobaan melampaui kekuatan manusia (bdk. 1Kor. 10:13). Oleh karena itu, tanggung jawab manusia adalah berjuang dengan sungguh-sungguh dalam ketaatan, sementara Allah, dalam kesetiaan-Nya, tidak akan lalai menggenapi bagian-Nya.

Tuhan Yesus memberkati

KETIKA KASIH MENJADI DASAR DAN PENGGERAK KETAATAN, KETAATAN TIDAK LAGI DIPANDANG SEBAGAI BEBAN YANG MEMBERATKAN, MELAINKAN SEBAGAI KEHORMATAN YANG DIJALANI DENGAN SUKACITA DAN KESUNGGUHAN HATI.

Card image
KIDS DAILY DEVOTIONAL 09 April 2026 - HATI YANG BERSANDAR PADA TUHAN
2026-04-10 12:46:45


Mazmur 73:26
“Sekalipun dagingku dan hatiku habis lenyap, gunung batuku dan bagianku tetaplah Allah selama-lamanya.”

Hari itu Arkan pulang sekolah dengan wajah murung. Ia sedih karena tidak terpilih menjadi ketua kelas, padahal ia sudah berharap dan berusaha. Di kamar ia berkata pelan, “Aku kecewa… hatiku capek.” Pernahkah kamu merasa seperti itu juga, Rehobot Kids? Dari luar terlihat biasa saja, tetapi di dalam hati terasa berat.

Firman Tuhan hari ini mengingatkan bahwa meskipun hati kita lemah dan kecewa, Tuhan tetap menjadi kekuatan kita. Ia adalah “gunung batu” kita—tempat yang kokoh dan aman. Tuhan tidak menjauh saat kita sedih. Justru Ia ingin kita datang dan bersandar kepada-Nya.

Menjaga hati berarti belajar membawa setiap rasa marah, kecewa, atau sedih kepada Tuhan dalam doa. Bukan memendamnya, dan bukan melampiaskannya kepada orang lain. Kita bisa berkata jujur, “Tuhan, hatiku sedang tidak baik. Tolong aku.”

Saat kita bersandar kepada Tuhan, hati kita dikuatkan kembali. Ia memberi damai dan menolong kita tetap lembut dan mengasihi. Jadi, kalau hari ini hatimu terasa berat, datanglah kepada Tuhan. Dia adalah kekuatan yang tidak pernah habis dan selalu menjaga hatimu.

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 09 April 2026 (English Version) - FAITH SEEN IN HOW WE REACT
2026-04-10 12:44:15


Colossians 3:12
“Therefore, as God’s chosen people, holy and dearly loved, clothe yourselves with compassion, kindness, humility, gentleness and patience.”

Faith isn’t just seen in what we say or post, but in how we react when our emotions are tested. When plans fall apart, when we’re misunderstood, or when someone hurts us—that’s where faith becomes real. Our reactions reveal who is truly leading our hearts.

Paul reminds us that as people loved by God, we’re called to “put on” the character of Christ. Compassion, humility, and patience don’t just show up automatically. They are intentional choices—especially when our hearts want to clap back, defend our pride, or respond harshly.

Reactions led by ego often leave wounds. But responses led by faith bring peace and build relationships. Forgiving, holding back, and staying gentle aren’t signs of weakness. They’re signs that Christ is shaping spiritual maturity in us.

Faith is seen in how we react. When we choose love under pressure, the world may not always understand. But God sees it—and through our response, others can see Christ living in us.

WHAT TO DO?
1. Pay attention to your first reaction when emotions rise—does it reflect the character of Christ?
2. Ask God to help you “put on” patience and gentleness today.
3. Choose to forgive and respond with love, even when it feels hard.

BIBLE MARATHON:
Romans 11

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 09 April 2026 - FAITH SEEN IN HOW WE REACT
2026-04-09 23:15:29


Kolose 3:12
“Karena itu, sebagai orang-orang pilihan Allah yang dikuduskan dan dikasihi-Nya, kenakanlah belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran.”

Iman tidak hanya terlihat dari apa yang kita katakan atau bagikan, tetapi dari bagaimana kita bereaksi saat emosi diuji. Ketika rencana gagal, saat disalahpahami, atau ketika orang lain menyakiti hati kita, di situlah iman menjadi nyata. Reaksi kita memperlihatkan siapa yang sebenarnya memimpin hati kita.

Paulus mengingatkan bahwa sebagai orang yang dikasihi Tuhan, kita dipanggil untuk mengenakan karakter Kristus. Belas kasihan, kerendahan hati, dan kesabaran bukan sesuatu yang otomatis muncul. Itu adalah keputusan sadar. Terutama ketika hati kita ingin membalas, meninggikan diri, atau bersikap keras.

Reaksi yang dipimpin ego sering meninggalkan luka. Namun respons_(English Version) yang dipimpin iman membawa damai dan membangun relasi. Mengampuni, menahan diri, dan tetap lembut bukan tanda kalah. Itu tanda bahwa Kristus sedang membentuk kedewasaan rohani dalam diri kita.

Faith is seen in how we react. Saat kita memilih kasih di tengah tekanan, dunia mungkin tidak selalu mengerti. Tetapi Tuhan melihat, dan melalui _respons_ kita, orang lain bisa melihat Kristus hidup di dalam kita.

WHAT TO DO?
1. Perhatikan reaksi pertamamu saat emosi muncul—apakah itu mencerminkan karakter Kristus?
2. Mintalah Tuhan menolongmu “mengenakan” kesabaran dan kelemahlembutan hari ini.
3. Pilih untuk mengampuni dan me _respons_ dengan kasih, bahkan ketika itu terasa sulit.

BIBLE MARATHON:
Roma 11

Card image
Renungan Pagi - 09 April 2026
2026-04-09 23:05:43


Kejujuran yang didasarkan kebenaran diri sendiri adalah “keangkuhan terselubung” yang tidak diperkenan Tuhan; sebab tanpa penebusan Kristus, segala kesalehan kita seperti kain kotor di hadapan Tuhan.

Kejujuran sejati yaitu bertindak dan berkata benar atas dasar kebenaran Tuhan, bukan atas dasar kebenaran yang kita bangun sendiri, dan Tuhan menjanjikan hidup kekal bagi setiap orang yang hidup dalam kebenaran-Nya.

Card image
Quote Of The Day - 09 April 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-04-09 23:04:15


Allah bukan hanya menghendaki manusia memiliki kehendak—seperti Allah juga memiliki kehendak—tetapi Allah menghendaki agar manusia memiliki kualitas pikiran dan perasaan yang baik sesuai standar Allah.

Card image
Mutiara Suara Kebenaran - 09 April 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-04-09 23:03:24


Tuhan seringkali menggunakan masalah untuk memutus keterikatan kita pada dunia yang fana. Anggaplah setiap pergumulan sebagai latihan untuk memurnikan iman, agar langkah kita semakin mantap menuju kehidupan kekal.

Card image
LOGIC OR OBEDIENCE - 09 April 2026 (English Version)
2026-04-09 23:02:39


Luke 5:4–5
“After he had finished speaking, he said to Simon, “Put out into the deep and let down your nets for a catch.” Simon answered, “Master, we have worked all night and caught nothing, but at your word I will let down the net.”

On the believer’s journey, God’s commands often seem to conflict with common sense and human experience. God’s Word frequently opposes basic human instincts—commands to love enemies, not to repay evil, to pray for those who hurt us, and to forgive unconditionally. These principles are often judged illogical, yet it is precisely here that the obedience of faith is tested.

Simon Peter was a professional fisherman; his experience in fishing was beyond doubt. He knew the best times to catch fish, the natural conditions that supported them, and strategic locations. After a night of fruitless labor, Peter was tired and discouraged. It was then that Jesus approached and even used his boat as a platform to teach the crowds. When the teaching was finished, Jesus gave an instruction that technically contradicted Peter’s professional knowledge: go into the deep and let down the nets in broad daylight. Rationally, this command seemed absurd. From the experienced fisherman’s perspective, fishing in deep water during the day was almost certain to fail. In a modern context, Peter’s response is understandable as a struggle between exhaustion, prior failure, and strong professional logic. In such a situation, refusing the command appears reasonable and defensible.

However, the narrative’s crucial point lies in Peter’s response. Although he stated the reality of their failure—”we have worked all night and caught nothing“—he concluded with an attitude of obedience: “but because you say so, I will let down the net.” This sentence marks the shift from logic’s dominance to submission to Christ’s authority. Peter’s obedience was not based on understanding but on trust in the Person who gave the command.

In the believer’s life, obedience is often hindered by several main factors. First, past failures can breed pessimism and despair. Second, excessive reliance on human logic and calculation often produces arguments that delay or refuse obedience. Third, pride and personal ego—fear of others’ judgment—can prevent someone from doing what seems “unreasonable.” These three factors show that barriers to obedience often originate within the person. True obedience is tested when one does not fully understand the reason behind God’s command. If someone acts after first comprehending and agreeing, the action resembles rational consent and is transactional. By contrast, obedience of faith occurs when one follows God’s command even though it surpasses their understanding and logic. In this context, obedience becomes an expression of authentic faith.

Peter’s obedience produced more than material blessings in the form of an abundant catch. This event marked a turning point in his life, changing him from an ordinary fisherman into a disciple called to be a fisher of men. Thus, the greatest blessing of obedience is not the visible result but the transformation of character and the deepening of a relationship with God. Closeness to God brings new peace and a new direction in life.

This narrative affirms that God does not require humans to understand His entire plan before stepping out. What God desires is trust that His command carries authority beyond human logic, fear, and worry. From a faith perspective, logic is not to be eliminated but rather subordinated to obedience to God’s will. Therefore, the life of faith is determined not by how much one understands but by how willing one is to obey the God who is fully trustworthy.

The Lord Jesus bless you

LOGIC IS NOT TO BE ELIMINATED BUT RATHER SUBORDINATED TO OBEDIENCE TO GOD'S WILL.

Card image
LOGIKA ATAU KETAATAN - 09 April 2026
2026-04-09 22:59:18


Lukas 5: 4–5
Setelah selesai berbicara, Ia berkata kepada Simon: “Bertolaklah ke tempat yang dalam dan tebarkanlah jalamu untuk menangkap ikan.” Simon menjawab: “Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa, tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga.”

Dalam perjalanan iman orang percaya, tidak jarang perintah Tuhan tampak bertentangan dengan akal sehat dan pengalaman manusia. Firman Tuhan kerap berlawanan dengan naluri dasar manusia, seperti perintah untuk mengasihi musuh, tidak membalas kejahatan, berdoa bagi mereka yang menyakiti, serta mengampuni tanpa syarat. Prinsip-prinsip ini secara logis sering dianggap tidak masuk akal, tetapi justru di sanalah ketaatan iman diuji.

Simon Petrus adalah seorang nelayan profesional. Pengalamannya dalam dunia perikanan tidak perlu diragukan. Ia memahami dengan baik waktu terbaik untuk menangkap ikan, kondisi alam yang mendukung, serta lokasi yang strategis. Setelah semalaman bekerja tanpa hasil, Petrus berada dalam kondisi lelah dan kecewa. Pada saat itulah Yesus menghampirinya dan bahkan menggunakan perahunya sebagai tempat untuk mengajar orang banyak. Setelah pelayanan tersebut selesai, Yesus memberikan instruksi yang secara teknis bertentangan dengan pengetahuan profesional Petrus: bertolak ke tempat yang dalam dan menebarkan jala pada siang hari. Secara rasional, perintah ini tampak tidak masuk akal. Dari sudut pandang nelayan berpengalaman, menangkap ikan pada siang hari di tempat yang dalam merupakan tindakan yang hampir pasti berujung kegagalan. Jika diletakkan dalam konteks manusia modern, respons Petrus dapat dipahami sebagai pergumulan antara kelelahan, pengalaman kegagalan sebelumnya, dan logika profesional yang kuat. Dalam situasi seperti ini, penolakan terhadap perintah tersebut tampak wajar dan dapat dibenarkan secara rasional.

Namun, titik krusial dalam narasi ini terletak pada respons Petrus. Meskipun ia mengemukakan realitas kegagalannya—“telah sepanjang malam kami bekerja keras dan tidak menangkap apa-apa”—ia menutup pernyataannya dengan sebuah sikap ketaatan: “tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga.” Kalimat ini menandai peralihan dari dominasi logika menuju penundukan diri kepada otoritas Kristus. Ketaatan Petrus bukan didasarkan pada pemahaman, melainkan pada kepercayaan kepada Pribadi yang memberi perintah.

Dalam kehidupan orang percaya, ketaatan sering terhambat oleh beberapa faktor utama. Pertama, pengalaman masa lalu yang penuh kegagalan dapat melahirkan sikap pesimistis dan keputusasaan. Kedua, kebergantungan berlebihan pada logika dan perhitungan manusia sering kali menghasilkan argumentasi yang menunda atau menolak ketaatan. Ketiga, gengsi dan ego pribadi—kekhawatiran akan penilaian orang lain—dapat menghalangi seseorang untuk melakukan sesuatu yang tampak “tidak masuk akal”. Ketiga faktor ini menunjukkan bahwa hambatan ketaatan sering kali bersumber dari dalam diri manusia sendiri. Ketaatan sejati justru diuji ketika seseorang tidak sepenuhnya memahami alasan di balik perintah Tuhan. Jika seseorang melakukan sesuatu karena telah memahami dan menyetujuinya terlebih dahulu, maka tindakan tersebut lebih menyerupai persetujuan rasional yang bersifat transaksional. Sebaliknya, ketaatan iman terjadi ketika seseorang melakukan perintah Tuhan meskipun perintah tersebut melampaui pemahaman dan logikanya. Dalam konteks inilah ketaatan menjadi ekspresi iman yang autentik.

Ketaatan Simon Petrus menghasilkan lebih dari sekadar berkat jasmani berupa tangkapan ikan yang melimpah. Peristiwa ini menjadi titik balik dalam hidupnya, yang mengubah statusnya dari seorang nelayan biasa menjadi murid yang dipanggil untuk menjadi penjala manusia. Dengan demikian, berkat terbesar dari ketaatan bukanlah hasil yang tampak secara kasatmata, melainkan transformasi karakter dan pendalaman relasi dengan Tuhan. Kedekatan dengan Allah menghasilkan ketenangan dan arah hidup yang baru.

Narasi ini menegaskan bahwa Tuhan tidak menuntut manusia untuk memahami seluruh rencana-Nya sebelum melangkah. Yang Tuhan kehendaki adalah kepercayaan bahwa perintah-Nya memiliki otoritas yang melampaui logika, ketakutan, dan kekhawatiran manusia. Dalam perspektif iman, logika bukanlah sesuatu yang harus dihilangkan, tetapi harus ditundukkan di bawah ketaatan kepada kehendak Allah. Dengan demikian, kehidupan iman bukan ditentukan oleh sejauh mana manusia mengerti, melainkan oleh sejauh mana ia bersedia taat kepada Tuhan yang layak dipercaya sepenuhnya.

Tuhan Yesus memberkati

LOGIKA BUKANLAH SESUATU YANG HARUS DIHILANGKAN, TETAPI HARUS DITUNDUKKAN DI BAWAH KETAATAN KEPADA KEHENDAK ALLAH.

Card image
KIDS DAILY DEVOTIONAL 08 April 2026 - CERMIN HATIKU
2026-04-09 22:49:50


Amsal 27:19
“Seperti air mencerminkan wajah, demikianlah hati manusia mencerminkan manusia itu.”

Rehobot Kids, pernahkah kalian bercermin di air yang tenang? Saat airnya jernih, wajah kita terlihat jelas. Tetapi jika airnya keruh atau bergelombang, bayangan kita jadi kabur. Firman Tuhan mengajarkan bahwa hati kita seperti cermin yang menunjukkan siapa diri kita sebenarnya.

Orang lain mungkin hanya melihat senyum atau perbuatan kita di luar. Tetapi Tuhan melihat sampai ke dalam hati. Jika hati kita penuh kebaikan, kejujuran, kelembutan, dan kasih, itu akan terlihat lewat sikap kita sehari-hari. Sebaliknya, jika hati dipenuhi iri, kebohongan, atau kemarahan, itu juga akan terlihat dari perkataan dan tindakan kita.

Karena itu, yuk kita bertanya pada diri sendiri: Apakah hatiku bersih? Apakah aku jujur? Apakah aku mau mengampuni? Jika kita sadar ada yang tidak baik, jangan malu. Datanglah kepada Tuhan dan minta Dia membersihkan hati kita.

Tuhan sangat peduli pada hati kita. Saat hati kita dijaga tetap bersih sesuai firman-Nya, hidup kita akan memuliakan Tuhan dan menjadi berkat bagi orang lain. Yuk, jaga cermin hati kita tetap jernih setiap hari.

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 08 April 2026 (English Version) - RESPOND LIKE CHRIST
2026-04-09 22:46:45


1 Peter 2:23
“When He was insulted, He did not insult in return; when He suffered, He did not threaten, but entrusted Himself to Him who judges justly.”

Naturally, we want to hit back when we’re hurt. When we’re insulted, misunderstood, or treated unfairly, our first instinct is usually to defend ourselves or fire back. We feel the urge to correct people immediately, prove our point, or even make them feel what we’re feeling.

But Jesus showed a different response. He didn’t return insult for insult. He didn’t threaten when He was treated unjustly. Instead, He chose self-control and entrusted everything to the Father who judges fairly. That wasn’t weakness. That was strength rooted in complete trust in God.

Our faith is most visible not when everything is going well, but when we’re provoked. The way we respond to pressure and offense reveals who is leading our hearts—our ego or the Holy Spirit. Following Christ means learning to respond with calmness, love, and confidence that God sees everything.

To respond like Christ means choosing the higher way. Not because we’re weak, but because we trust that God is our defender. That’s where self-control becomes a powerful testimony that our lives are truly led by Christ.

WHAT TO DO?
1. When you feel attacked or hurt, pause and resist the urge to react immediately.
2. Remember how Jesus responded to suffering—with calmness and trust in God.
3. Pray for the person who hurt you, and ask God to help you respond with the heart of Christ.

BIBLE MARATHON:
Romans 10

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 08 April 2026 - RESPOND LIKE CHRIST
2026-04-09 22:45:09


1 Petrus 2:23
“Ketika Ia dicaci maki, Ia tidak membalas dengan mencaci maki; ketika Ia menderita, Ia tidak mengancam, tetapi Ia menyerahkannya kepada Dia, yang menghakimi dengan adil.”

Secara alami, kita ingin membalas saat disakiti. Saat dihina, disalahpahami, atau diperlakukan tidak adil, dorongan pertama biasanya adalah membela diri atau menyerang balik. Rasanya ingin segera meluruskan, membuktikan, atau bahkan membuat orang lain merasakan hal yang sama seperti yang kita rasakan.

Namun Yesus menunjukkan respons yang berbeda. Ia tidak membalas caci maki dengan caci maki. Ia tidak mengancam ketika diperlakukan dengan tidak adil. Ia memilih menahan diri dan menyerahkan semuanya kepada Bapa yang adil. Itu bukan kelemahan. Itu kekuatan yang lahir dari kepercayaan penuh kepada Tuhan.

Iman kita paling terlihat bukan saat semuanya berjalan baik, tetapi saat kita diprovokasi. Cara kita me respons tekanan dan hinaan menunjukkan siapa yang memimpin hati kita—ego atau Roh Kudus. Mengikuti Kristus berarti belajar me respons dengan tenang, dengan kasih, dan dengan keyakinan bahwa Tuhan melihat segalanya.

Respond like Christ berarti memilih jalan yang lebih tinggi. Bukan karena kita lemah, tetapi karena kita percaya Tuhan yang membela. Di situlah penguasaan diri menjadi kesaksian nyata bahwa hidup kita sungguh dipimpin oleh Kristus.

WHAT TO DO?
1. Saat kamu merasa diserang atau disakiti, tahan diri untuk tidak langsung membalas.
2. Ingat bagaimana Yesus me respons penderitaan dengan ketenangan dan kepercayaan kepada Allah.
3. Doakan orang yang melukaimu, dan mintalah Tuhan menolongmu me respons dengan hati Kristus.

BIBLE MARATHON:
Roma 10

Card image
Renungan Pagi - 08 April 2026
2026-04-09 22:38:44


Tuhan tidak menghendaki hidup orang percaya saling menjatuhkan, saling menjelekkan dan saling menghakimi, karena menghakimi mendatangkan kekecewaan, sakit hati dan mendatangkan rasa tidak berharga.

Saling menghakimi mendatangkan kesombongan, amarah dan kebencian, karena dimana ada penghakiman pasti ada amarah dan kebencian, sementara Tuhan menghendaki supaya hidup kita senantiasa membawa damai.

Setan senang kalau orang saling menghakimi, karena dengan saling menghakimi, maka yang ada adalah kehancuran dan kerusakan, tetapi dimana ada kebenaran maka yang timbul adalah damai sejahtera dan kemenangan.

Card image
Quote Of The Day - 08 April 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-04-08 21:02:10


Ada satu keberhasilan kuasa gelap yang membuat banyak orang akan terpisah dari Allah selama-lamanya, yaitu ketika kuasa kegelapan berhasil membangun cara berpikir atau paradigma yang sesat atau salah.

Card image
Mutiara Suara Kebenaran - 08 April 2026 (English Version)
2026-04-08 19:45:12


Kesederhanaan adalah bentuk kekuatan rohani yang luar biasa. Ia menjaga fokus kita tetap tajam pada tujuan kekal dan memastikan hati tetap murni dari polusi ambisi duniawi.

Card image
WALKING AMID UNCERTAINTY - 08 April 2026 (English Version)
2026-04-08 19:42:56


Genesis 12:4
“So, Abram went as the LORD had told him, and Lot went with him. Abram was seventy-five years old when he departed from Haran.”

God called Abram to leave his country, Ur of the Chaldeans, for a land he did not yet know. Humanly speaking, this call can seem unreasonable, for Abram was asked to leave his birthplace, his social environment, and the security he had known, with no certainty about direction or future. Yet Abram was willing. He left his comfort zone because he trusted that the God who called him could not be mistaken. Abram’s response becomes an inspiring example for believers to dare obey God amid uncertainty.

Given human limitations in comprehending God’s greatness and omnipotence, human beings as creatures are wholly dependent on the sovereign God who rules their lives. The limited span of human life—about seventy to eighty years—offers an opportunity to arrange life in full obedience and fidelity to God as a concrete form of service to God and neighbor. Thus, obedience cannot be separated from an awareness of human limitation and the supremacy of the divine will.

It is not easy to understand God in all His omnipotence as Creator and Owner of the universe. Often, the sovereign God does not illuminate every step of a person’s life at once, but gives enough light for one step forward. He is more often like a small lamp that lights the path step by step, not a spotlight that immediately reveals the whole course. Therefore, obedience requires courage to proceed gradually, perseverance in the process, and consistent learning to trust God. When God has begun His plan in someone’s life, the proper response is not doubt or suspicion but a willingness to continue obeying.

Abram’s faith journey—stepping forward amid the unknown—holds very valuable life lessons. In Genesis 12:1, God said, “Go from your country and your kindred and your father’s house to the land that I will show you.” This command was given without a detailed explanation. God did not name the destination, provide a travel map, specify distances, or describe the conditions to be faced. The Bible records only one clear command: go.

This situation is crucial because one of the greatest obstacles to obedience is fear of an uncertain future. *Obedience often requires courage to leave the “comfort zone”—whether in family relationships, habitual living, personal pleasures, or ego and self-regard.* Just as Abram had to leave his country and relatives, believers are called to step into the “zone of faith,” a life wholly dependent on God’s guidance. God’s commands are never arbitrary or purposeless. Behind commands that seem difficult from a human perspective, there is always divine intention, provision, and a promise that surpasses rational calculation.

This is affirmed by God’s promise to Abram in Genesis 12:2–3, where God promises to make Abram into a great nation, to bless him, to make his name great, and to make him a blessing to all the nations of the earth. That promise shows that obedience and the fulfillment of God’s plan cannot be separated. But the promise becomes real only when God’s command is obeyed first. In practice, people often prefer God’s promises to obedience to His commands. Many want to become a blessing and enjoy blessings, but are unwilling to pay the cost of obedience. Yet obedience is the bridge that connects God’s promise to its fulfillment. Abram’s readiness to carry out God’s command unconditionally demonstrates an obedience pleasing to God.

Genesis 12:4 further emphasizes that Abram raised no objections, delayed no further, and demanded no guarantees. He went immediately. This attitude shows that delayed obedience can easily turn into disobedience or rebellion. Abram proved that trusting the Person who gives the command is far more important than knowing in detail where one will go. Obedience does not mean the whole path is seen clearly. Obedience means being willing to step forward because you trust that God has seen the whole way. So long as the path comes from God’s will, distance, conditions, comfort, or danger are not the decisive factors. God promises to be with those who walk in obedience.

Therefore, ignorance of the future should not be a reason to ignore God’s command today. Obedience today is the key that opens the door to tomorrow. From a faith perspective, walking amid uncertainty is not rashness but the expression of a mature trust in the faithful God who leads His people.

The Lord Jesus bless you

WALKING AMID UNCERTAINTY IS NOT RASHNESS BUT THE EXPRESSION OF A MATURE TRUST IN FAITHFUL GOD WHO LEADS HIS PEOPLE.

Card image
2026-04-08 19:40:41


Kejadian 12:4

“Lalu pergilah Abram seperti yang difirmankan TUHAN kepadanya, dan Lot pun ikut bersama-sama dengan dia; Abram berumur tujuh puluh lima tahun, ketika ia berangkat dari Haran.”

Allah memanggil Abram untuk keluar dari negerinya, Ur-Kasdim, menuju suatu tempat yang belum ia ketahui. Secara manusiawi, panggilan ini dapat dipandang tidak masuk akal, sebab Abram diminta meninggalkan tanah kelahiran, lingkungan sosial, serta rasa aman yang telah mapan, tanpa kepastian arah dan masa depan. Namun, Abram bersedia melakukannya. Ia keluar dari zona kenyamanannya karena percaya bahwa Allah yang memanggilnya tidak mungkin keliru. Respons Abram ini menjadi teladan yang menginspirasi orang percaya untuk berani menaati Allah di tengah ketidaktahuan.

Dalam keterbatasan manusia memahami kebesaran dan kemahakuasaan Allah, sejatinya manusia sebagai ciptaan sepenuhnya bergantung kepada Allah yang berdaulat atas hidupnya. Rentang kehidupan manusia yang terbatas—sekitar tujuh puluh hingga delapan puluh tahun—merupakan kesempatan untuk menata hidup dalam ketaatan dan kesetiaan penuh kepada Allah sebagai bentuk pengabdian yang nyata kepada Tuhan dan sesama. Dengan demikian, ketaatan tidak dapat dilepaskan dari kesadaran akan keterbatasan manusia dan supremasi kehendak ilahi.

Tidak mudah memahami Allah dalam seluruh kemahakuasaan-Nya sebagai Pencipta dan Pemilik alam semesta. Sering kali, Allah yang berdaulat tidak menerangi seluruh jalan hidup manusia secara sekaligus, melainkan hanya memberikan terang secukupnya untuk satu langkah ke depan. Ia lebih sering digambarkan sebagai pelita kecil yang menerangi jalan setapak langkah demi langkah, bukan sebagai lampu sorot yang langsung menyingkap seluruh lintasan kehidupan. Oleh sebab itu, ketaatan menuntut keberanian untuk melangkah secara bertahap, tekun menjalani proses, dan konsisten belajar mempercayai Allah. Ketika Allah telah memulai rencana-Nya dalam kehidupan seseorang, respons yang tepat bukanlah keraguan atau kecurigaan, melainkan kesediaan untuk terus taat.

Kisah perjalanan iman Abram yang melangkah di tengah ketidaktahuan menyimpan pelajaran hidup yang sangat bernilai. Dalam Kejadian 12:1, Allah berfirman, “Pergilah dari negerimu dan dari sanak saudaramu dan dari rumah bapamu ini ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu.” Perintah ini disampaikan tanpa penjelasan detail. Allah tidak menyebutkan nama negeri tujuan, tidak memberikan peta perjalanan, tidak menjelaskan jarak tempuh, maupun kondisi yang akan dihadapi. Alkitab hanya mencatat satu perintah yang tegas: pergi.

Situasi ini menjadi krusial karena salah satu hambatan terbesar dalam ketaatan adalah rasa takut terhadap masa depan yang tidak pasti. Ketaatan sering kali menuntut keberanian untuk meninggalkan “zona nyaman”, baik dalam bentuk relasi keluarga, kebiasaan hidup, kesenangan pribadi, maupun ego dan perasaan diri. Seperti Abram yang harus meninggalkan negerinya dan sanak keluarganya, orang percaya dipanggil untuk melangkah menuju “zona iman”, yakni kehidupan yang sepenuhnya bergantung pada tuntunan Allah. Perintah Allah tidak pernah bersifat sewenang-wenang atau tanpa tujuan. Di balik perintah yang tampak sulit menurut perspektif manusia, selalu terdapat maksud ilahi, solusi, dan janji yang melampaui perhitungan rasional.

Hal ini ditegaskan melalui janji Allah kepada Abram dalam Kejadian 12:2–3, di mana Allah berjanji menjadikan Abram bangsa yang besar, memberkatinya, memasyurkan namanya, dan menjadikannya saluran berkat bagi seluruh bangsa di bumi. Janji tersebut menunjukkan bahwa ketaatan dan penggenapan rencana Allah tidak dapat dipisahkan. Namun, janji itu hanya menjadi nyata ketika perintah Allah ditaati terlebih dahulu. Dalam praktik kehidupan beriman, tidak jarang orang lebih tertarik pada janji Allah daripada ketaatan kepada perintah-Nya. Banyak yang ingin menjadi berkat dan menikmati berkat, tetapi enggan membayar harga ketaatan. Padahal, ketaatan merupakan jembatan yang menghubungkan janji Allah dengan realitas penggenapannya. Kesediaan Abram untuk mengeksekusi perintah Allah tanpa syarat menunjukkan ketaatan yang berkenan di hadapan Allah.

Kejadian 12:4 kembali menegaskan bahwa Abram tidak mengajukan keberatan, tidak menunda, dan tidak menuntut jaminan. Ia melangkah dengan segera. Sikap ini memperlihatkan bahwa ketaatan yang ditunda berpotensi berubah menjadi ketidaktaatan, bahkan pemberontakan. Abram membuktikan bahwa mempercayai Pribadi yang memberi perintah jauh lebih penting daripada mengetahui secara rinci ke mana ia akan pergi. Ketaatan tidak berarti bahwa seluruh jalan hidup telah terlihat dengan jelas. Ketaatan berarti bersedia melangkah karena percaya bahwa Allah telah melihat jalan tersebut secara utuh. Selama jalan itu berasal dari kehendak Allah, persoalan jarak, kondisi, kenyamanan, atau bahaya bukan lagi faktor penentu. Allah berjanji menyertai mereka yang berjalan dalam ketaatan.

Oleh karena itu, ketidaktahuan tentang masa depan tidak seharusnya menjadi alasan untuk mengabaikan perintah Allah pada masa kini. Ketaatan hari ini merupakan kunci yang membuka pintu bagi hari esok. Dalam perspektif iman, melangkah di tengah ketidaktahuan bukanlah tindakan gegabah, melainkan ekspresi kepercayaan yang dewasa kepada Allah yang setia menuntun umat-Nya.

Tuhan Yesus memberkati

MELANGKAH DI TENGAH KETIDAKTAHUAN BUKANLAH TINDAKAN GEGABAH, MELAINKAN EKSPRESI KEPERCAYAAN YANG DEWASA KEPADA ALLAH YANG SETIA MENUNTUN UMAT-NYA.

Card image
KIDS DAILY DEVOTIONAL 07 April 2026 - HATIKU JERNIH, HATIKU DEKAT TUHAN
2026-04-08 19:12:29


Matius 5:8
“Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah.”

Biasanya, sebelum berangkat sekolah kita selalu bercermin. Kita memastikan rambut sudah rapi dan baju sudah bersih. Tapi pernahkah kita bercermin pada hati kita? Tuhan lebih melihat isi hati kita daripada penampilan luar.

Firman Tuhan berkata bahwa orang yang suci hatinya akan melihat Allah. Hati yang suci berarti hati yang bersih dari iri, kebohongan, dan kemarahan. Kalau hati kita dipenuhi hal-hal itu, kita jadi sulit merasakan damai dan sulit dekat dengan Tuhan.

Bayangkan hati kita seperti segelas air. Jika airnya keruh, kita tidak bisa melihat dengan jelas. Tapi jika airnya jernih, kita bisa melihat sampai ke dasar. Begitu juga hati kita. Saat hati bersih, kita bisa merasakan kasih Tuhan dengan lebih nyata.

Kalau kita sadar ada rasa marah atau iri, jangan takut. Datanglah kepada Tuhan dan minta Dia membersihkan hati kita. Yuk, lakukan “heart check” setiap hari supaya hati kita tetap jernih dan dekat dengan Tuhan.

Card image
Renungan Pagi - 07 April 2026
2026-04-08 19:08:19


Seberat apapun pergumulan, kita harus punya tekad untuk terus maju dan tidak berhenti berjuang serta taat pada perintah Allah; Allah pasti akan menggenapi janji-Nya, karenanya kita harus memiliki kesabaran dan kesetiaan.

Lewat berbagai pengalaman, bahkan pengalaman yang paling buruk sekalipun, sebenarnya Tuhan sedang melatih dan membentuk hidup kita untuk menjadi serupa dengan Dia.

Pada prinsipnya, Tuhan selalu memberikan sesuatu yang bermanfaat buat orang-orang yang dikasihi-Nya, termasuk melalui pergumulan dan kekurangan.

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 07 April 2026 (English Version) - WHEN EMOTIONS RISE, KNEES GO DOWN
2026-04-08 19:04:39


Psalm 141:3
“Set a guard over my mouth, LORD; keep watch over the door of my lips.”

When emotions rise, responses often come without a filter. Words slip out faster than thoughts. A chat gets sent before being reconsidered. The tone of voice sharpens before the heart has time to settle. And after everything is said, what often remains is regret.

David understood how dangerous a tongue controlled by emotion can be. That is why he prayed—not only for a calm heart, but for God to guard his mouth. He realized that emotions are human, but uncontrolled expressions can wound more deeply than we imagine.

This psalm teaches a simple yet powerful principle: give God space between your feelings and your reaction. Prayer is the sacred pause between what we feel and what we do. When we kneel first, we give the Holy Spirit room to filter our words and realign our hearts.

When emotions rise, knees go down means choosing prayer before drama. Choosing silence before debate. Choosing surrender to God before surrendering to anger. That is where self-control is formed, and where our faith is seen—not in how loudly we speak, but in how wisely we restrain ourselves.

WHAT TO DO?
1. When your emotions begin to rise, pause for a moment and say a short prayer.
2. Ask God to guard your words and attitude before you respond.
3. Train yourself to make prayer your first response, not your last option.

BIBLE MARATHON:
Romans 9

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 07 April 2026 - WHEN EMOTIONS RISE, KNEES GO DOWN
2026-04-08 19:00:28


Mazmur 141:3
“Awasilah mulutku, ya TUHAN, berjagalah pada pintu bibirku!”

Saat emosi naik, respons sering datang tanpa filter. Kata-kata meluncur lebih cepat dari pikiran. Chat terkirim sebelum sempat dipikir ulang. Nada suara meninggi sebelum hati sempat tenang. Dan setelah semuanya keluar, yang tersisa sering kali hanyalah penyesalan.

Daud tahu betul betapa bahayanya lidah yang dikuasai emosi. Karena itu ia berdoa bukan hanya agar hatinya ditenangkan, tetapi agar Tuhan menjaga mulutnya. Ia sadar bahwa emosi memang manusiawi, tetapi ekspresi yang tidak terkendali bisa melukai lebih dalam daripada yang ia bayangkan.

Mazmur ini mengajarkan satu prinsip sederhana tapi powerful:_ beri Tuhan ruang di antara perasaan dan reaksi. Doa adalah jeda suci antara apa yang kita rasakan dan apa yang kita lakukan. Saat kita berlutut lebih dulu, kita memberi Roh Kudus kesempatan untuk menyaring kata-kata dan menata hati.

When emotions rise, knees go down_ berarti kita memilih doa sebelum drama. Kita memilih diam sebelum debat. Kita memilih tunduk pada Tuhan sebelum tunduk pada amarah. Di situlah penguasaan diri dibentuk, dan iman kita terlihat bukan dari seberapa keras kita bicara, tetapi dari seberapa bijak kita menahan diri.

WHAT TO DO?
1. Saat emosi mulai memuncak, berhentilah sejenak dan ucapkan doa singkat.
2. Mintalah Tuhan menjaga perkataan dan sikapmu sebelum kamu me respons.
3. Latih dirimu menjadikan doa sebagai respons pertama, bukan pilihan terakhir.

BIBLE MARATHON:
Roma 9

Card image
Quote Of The Day - 07 April 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-04-08 18:46:11


Allah tidak mendesain manusia sebagai makhluk yang hidupnya ditentukan oleh takdir atau penentuan sebelumnya di mana seakan-akan manusia hanya menerima apa saja yang telah ditakdirkan atau ditetapkan untuknya.

Card image
Mutiara Suara Kebenaran - 07 April 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-04-08 18:44:36


Melalui pengorbanan pada setiap pengampunan, Allah hendak mengajarkan kepada manusia bahwa di dalam setiap pengampunan memiliki pengorbanan.

Card image
THE COST OF TRUSTING - 07 April 2026 (English Version)
2026-04-07 22:28:03


God desires that we put our trust in Him through direct experience, beginning with a process of maturation and culminating in sharing His sufferings for the sake of His work. But many people limit themselves. They are unwilling to pay the high price of following God, so they never undergo the process. Yet it is through life experiences and the maturing process that we are trained to trust God. After that comes an even harder stage: sharing in Christ’s sufferings, bearing burdens with Him in ministry.

Why did God not bring Israel straight to a fertile land? Why did He lead them to face the Amalekites and force them to breach the walls of Jericho? As a result, the Israelites who did not understand began to distrust God and said, “Are there no graves in Egypt?” They even accused God of intending to destroy them in the wilderness.

The life of Israel as a community cannot be our sole standard for spiritual life. We can learn from their history, but our standard is the lives of the exceptional—Abraham, Joseph, David, Daniel, and ultimately Jesus. Israel’s standard was oriented toward material blessing and communal outcomes, without an exclusive personal relationship between God and the individual. If they obeyed, they were blessed; if not, punished. But for believers called to an exclusive relationship with God, obedience does not always bring comfort. Even when obedient, they may still suffer persecution.

Early Christians lived obediently and faithfully, and they gave themselves to defend Christ. What did they gain? Wealth? No. Honor? No. They experienced persecution, even death. Today, we may not face the same physical persecution, but the struggle remains, only in different forms.

We have only one life. So why not build the closest, most exclusive relationship possible with God? Then we will undergo the process by which “God works all things together for good for those who love Him.” We decide our life choices; we decide whether our love for God is just constant or grows fervent. In that fervent love, God shapes our character and brings us to share in Christ’s sufferings.

God knows that if everything were made easy, humans would not develop a quality trust in Him. So, he leads us into a world that feels strange and uncomfortable. Believe this: God is worthy of trust. But if we are unwilling to live holy lives and to renounce love of the world completely, we still doubt Him. We have not yet trusted as Jesus meant when He asked, “When the Son of Man comes, will He find faith on earth?” Do we have the widow’s bold integrity? In today’s world, whose standards have drifted far from God’s holiness, do we still maintain integrity, faithfulness, and obedience?

God promises He will quickly vindicate. But two questions remain. First, will He find Christians who truly dare to live in holiness and abandon love of the world? Second, will He find Christians who are willing to give their lives without limit for God’s work—even when God seems not to defend them? Like the early Christians, whose portion was suffering and persecution, yet who remained faithful to the end. This experience is not for all Christians, but for those who love God constantly and whose love grows ever more fervent.

The Lord Jesus bless you

FOR BELIEVERS CALLED TO AN EXCLUSIVE RELATIONSHIP WITH GOD, OBEDIENCE DOES NOT ALWAYS BRING COMFORT.

Card image
HARGA SEBUAH PERCAYA KEPADA ALLAH - 07 April 2026
2026-04-07 22:26:21


Tuhan menghendaki agar kita menaruh percaya kepada-Nya melalui pengalaman langsung, mulai dari proses pendewasaan hingga sepenanggungan dengan Tuhan dalam penderitaan demi pekerjaan-Nya. Namun, banyak orang membatasi diri. Mereka tidak berani membayar harga mahal dalam pengiringannya kepada Tuhan, sehingga mereka tidak mengalami proses. Padahal, melalui pengalaman hidup dan proses pendewasaan itulah kita dilatih untuk memercayai Tuhan. Setelah itu, seseorang akan masuk ke dalam proses yang lebih berat, yaitu sependeritaan dengan Tuhan, sepenanggungan dengan Tuhan di dalam pelayanan.

Mengapa Tuhan tidak membawa bangsa Israel langsung ke tempat yang berair? Mengapa Tuhan justru membawa mereka menghadapi bangsa Amalek dan harus menembus tembok Yerikho? Sampai akhirnya, bangsa Israel yang tidak mengerti mulai tidak memercayai Tuhan dan berkata, “Apakah tidak ada kuburan di Mesir?” Mereka bahkan menuduh Tuhan hendak membinasakan mereka di padang gurun.

Kehidupan bangsa Israel sebagai sebuah komunitas tidak dapat dijadikan standar kehidupan rohani kita. Memang, kita dapat belajar dari sejarah mereka, tetapi standar hidup kita adalah orang-orang istimewa seperti Abraham, Yusuf, Daud, Daniel, dan puncaknya, Yesus sendiri. Standar hidup bangsa Israel berorientasi pada berkat jasmani dan bersifat komunal, tanpa hubungan eksklusif antara Allah dan individu. Jika mereka taat, mereka diberkati; jika mereka tidak taat, mereka dihukum. Namun, bagi orang percaya yang dipanggil untuk memiliki hubungan eksklusif dengan Allah, ketaatan tidak selalu berujung pada kenyamanan. Bahkan ketika taat, mereka tetap dapat mengalami aniaya.

Orang-orang Kristen pada abad mula-mula hidup taat, suci, dan menyerahkan diri untuk membela Kristus. Apa yang mereka peroleh? Kekayaan? Tidak. Kehormatan? Tidak. Mereka justru mengalami aniaya hingga mati. Pada masa kini, kita mungkin tidak mengalami aniaya fisik seperti mereka, tetapi pergumulan itu tetap ada, hanya bentuknya yang berbeda.

Hidup kita hanya satu kali. Oleh karena itu, mengapa kita tidak membangun hubungan dengan Allah se-eksklusif mungkin, sedekat mungkin, dan seerat mungkin? Dengan demikian, kita akan mengalami proses di mana “Allah bekerja dalam segala hal untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia.” Kitalah yang menentukan pilihan hidup kita; kitalah yang memilih apakah kasih kita kepada Allah hanya konstan atau justru semakin membara. Dalam kasih yang membara itulah Allah memproses karakter dan watak kita, lalu membawa kita masuk ke dalam sependeritaan dengan Yesus.

Tuhan mengetahui bahwa jika segala sesuatu dibuat mudah, manusia tidak akan memiliki kepercayaan yang berkualitas kepada Allah. Karena itu, Ia membawa kita ke dalam dunia yang terasa asing dan tidak nyaman. Maka, percayalah: Allah layak dipercayai. Namun, jika kita tidak berani hidup kudus dan tidak berani meninggalkan percintaan dunia sepenuhnya, sesungguhnya kita masih meragukan Dia. Kita belum percaya seperti yang dimaksudkan Tuhan Yesus ketika Ia berkata, “Jika Anak Manusia datang, adakah Ia mendapati iman di bumi?” Apakah kita memiliki integritas senekat janda itu? Di tengah dunia masa kini yang standarnya semakin jauh dari kesucian Allah, apakah kita tetap mempertahankan integritas, kesetiaan, dan ketaatan kita?

Allah berjanji akan segera membenarkan. Namun persoalannya ada dua. Pertama, apakah Ia mendapati orang-orang Kristen yang benar-benar berani hidup dalam kekudusan dan meninggalkan percintaan dunia? Kedua, apakah Ia mendapati orang-orang Kristen yang berani menaruh hidupnya tanpa batas bagi pekerjaan Tuhan—bahkan ketika Tuhan seolah-olah tidak membela mereka? Seperti orang-orang Kristen pada abad mula-mula, yang bagian hidupnya adalah penderitaan dan aniaya, tetapi mereka tetap setia sampai akhir. Seakan-akan Yesus kalah oleh dewa Zeus karena kekuatan Roma tampak jauh lebih besar daripada para murid Yesus. Namun, para murid itu tetap percaya kepada-Nya. Hal ini tidak dialami oleh semua orang Kristen, melainkan hanya oleh mereka yang mengasihi Tuhan secara konstan dan terus membuat kasihnya semakin membara.

Tuhan Yesus memberkati

BAGI ORANG PERCAYA YANG DIPANGGIL UNTUK MEMILIKI HUBUNGAN EKSKLUSIF DENGAN ALLAH, KETAATAN TIDAK SELALU BERUJUNG PADA KENYAMANAN.

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 06 April 2026 (English Version) - PRAY BEFORE REACT
2026-04-07 20:44:08


Philippians 4:6–7
“Do not be anxious about anything, but in every situation, by prayer and petition, with thanksgiving, present your requests to God. The peace of God, which surpasses all understanding, will guard your hearts and minds in Christ Jesus."

We have all been in moments when our emotions feel like they are about to explode, whether it’s because a friend is annoying, tasks are piling up, or a situation feels unfair. The first instinct is usually to react immediately. But God gives an alternative: before reacting, stop for a moment and pray. Prayer is not just a spiritual routine, but a space for God’s peace to enter and guard our hearts.

Jesus Himself always prayed before taking a big step. He didn’t let emotions lead His decisions. Prayer keeps the heart directed toward the Father, not toward momentary pressures. When we learn to pray before reacting, we are choosing to be led by the Holy Spirit, not controlled by anger, panic, or ego.

Spontaneous reactions often complicate the situation. On the contrary, a response born from prayer brings peace and wisdom. Prayer makes the mind clearer, words more guarded, and attitudes more reflective of Christ. That’s where spiritual maturity begins to show.

Don’t underestimate a short prayer before replying to a chat, before responding to a comment, or before uttering sharp words. One prayer can change the direction of a conversation, ease a conflict, and keep your heart at peace. The peace of God is always stronger than fleeting emotions.

WHAT TO DO?
1. When emotions start to rise, pause for a moment and say a short prayer: “Lord, guide me.”
2. Let the peace of God guard your heart and mind before you respond or act.
3. Remember Jesus’ example: pray first, then take action—so that your response glorifies God.

BIBLE MARATHON:
Romans 8

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 06 April 2026 - PRAY BEFORE REACT
2026-04-07 13:09:32


Filipi 4:6–7
“Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apa pun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus.”

Kita semua pernah ada di momen ketika emosi rasanya mau langsung meledak entah karena teman bikin kesal, tugas numpuk, atau situasi yang terasa nggak adil. Insting pertama biasanya langsung bereaksi. Tapi Tuhan kasih alternatif: sebelum bereaksi, berhenti sebentar dan berdoa. Doa bukan sekadar rutinitas rohani, tapi ruang buat damai sejahtera Allah masuk dan menjaga hati kita.

Yesus sendiri selalu berdoa sebelum mengambil langkah besar. Dia nggak membiarkan emosi memimpin keputusan-Nya. Doa membuat hati tetap terarah kepada Bapa, bukan pada tekanan sesaat. Saat kita belajar pray before react, kita sedang memilih dipimpin Roh Kudus, bukan dikendalikan amarah, panik, atau ego.

Reaksi spontan sering memperkeruh keadaan. Sebaliknya, respons yang lahir dari doa membawa ketenangan dan hikmat. Doa membuat pikiran lebih jernih, kata-kata lebih terjaga, dan sikap lebih mencerminkan Kristus. Di situlah kedewasaan rohani mulai terlihat.

Jangan remehkan doa singkat sebelum membalas chat, sebelum menjawab komentar, atau sebelum mengeluarkan kata-kata tajam. Satu doa bisa mengubah arah percakapan, meredakan konflik, dan menjaga hatimu tetap damai. Damai sejahtera Allah selalu lebih kuat daripada emosi sesaat.

WHAT TO DO?
1. Waktu emosi mulai naik, berhenti sejenak dan berdoa singkat: “Tuhan, pimpin aku.”
2. Biarkan damai sejahtera Allah jaga hati dan pikiran sebelum kamu balas atau bertindak.
3. Ingat teladan Yesus: doa dulu, baru ambil langkah—supaya respons mu memuliakan Tuhan.

BIBLE MARATHON:
Roma 8

Card image
Renungan Pagi - 06 April 2026
2026-04-07 07:09:54


Orang yang setia adalah orang yang tidak mengikuti arus, orang yang setia selalu memiliki kepercayaan diri yang baik.

Mereka dapat menjadi seorang sahabat yang baik, dia bergembira disaat kita senang, tapi dia juga menemani disaat kita susah.

Orang setia diibaratkan dengan sinar kecil ditengah kegelapan yang pekat, karenanya betapa leganya hidup, kalau tahu disekeliling kita ada orang-orang yang setia.

Card image
Quote Of The Day - 06 April 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-04-07 07:09:10


Dikatakan “berpotensi” atau “berpeluang” sebab walaupun mengenal, tetapi kalau tidak mengerjakan keselamatan, berarti ia tidak akan mengalami dan memiliki keselamatan, sehingga tidak menemukan kemuliaan Allah

Card image
Mutiara Suara Kebenaran - 06 April 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-04-07 07:08:04


Ketaatan kepada Bapa menunjuk penurutan segenap perintah atau kehendak Allah, tanpa cela, tanpa cacat, tanpa kerut, dan sempurna.

Card image
TRUSTING IN HIS PRESENT - 06 April 2026 (English Version)
2026-04-07 06:54:29


In this life, everything is ultimately left behind. There is an end to everything. That is the law of life we must seriously realize, so we do not act carelessly. Everything comes and then goes. The issue is not that things come and go, but what happens while they are present. Today we are in the world, but one day we will leave it. We come, then we go. Therefore, we must understand that whatever problem we face now will not last forever. One day, that problem will be gone. But again, the question is: what do we do during our time in the world? That is what determines the final quality of our life’s journey.

John 19:30 says, “When Jesus had tasted the sour wine, He said, ‘It is finished.’ Then He bowed His head and gave up His spirit.” That means he completed the purpose for which he came into the world and lived for thirty-three and a half years. He finished his task, the reason he came into this world. In life, many people can start something but cannot finish it. Many can begin but cannot carry it through to completion. Jesus’ commitment to finish his task overcame all the suffering and agony he endured. We are very grateful because we worship a Lord who not only can promise but who is faithful.

He is a God who holds his commitments to the end and does not give up even when circumstances are extremely difficult. Via Dolorosa is not merely the route Christ walked but the route of our faith journey. True Christianity always goes this way, the Via Dolorosa. Jesus could have stopped and retreated if he had wished. But we are grateful he did not; he held to his commitment. We are grateful he completed his task to the end. What he suffered did not stop him from finishing the calling he received. And he finished it perfectly.

Honestly, how many of us retreat halfway? This happens because we do not realize that everything has a purpose, and nothing is wasted in our being led to him. God accounts for everything. If God deals with someone and sees that the person truly wants to engage with Him, He will build a very intimate relationship with that person. God desires His beloveds to trust the Person of God without the slightest doubt. To His beloveds, He often deliberately brings them into circumstances that strongly tempt doubt toward God and toward His Person.

Here, we understand that fully trusting the Person of God is not easy. God wants us to trust His Person through direct experience, not merely from hearing others’ testimonies or seeing phenomena in other lives. Therefore, for those of us granted such a privilege, be prepared and act rightly. Do not doubt God. Remain faithful and obedient to Him.

Abraham, God’s beloved, was brought into situations where God became a mystery to him, even a threat. Abraham could have said, “The God I know is not like this. Why is God acting this way? Why is God doing this to me?” But Abraham did not say that. He did what God commanded. Abraham obeyed.

Abraham passed many tests: waiting for a child’s birth, experiencing times of drought, not returning to Ur of the Chaldeans, choosing to go to Egypt, and even nearly losing his wife. The climax was when Abraham had to offer his son, Isaac. Yet Abraham did not argue. Remarkable. He trusted God’s wisdom, God’s intelligence, and all his plans. If we read the Bible, as soon as Abraham heard the command, the next day he prepared the donkey, gathered his servants, and took Isaac. He did not delay. Abraham could have postponed, hoping God would “change His mind.”

From youth, Joseph had received visions that he would become a great leader, even greater than his brothers and parents. Yet Joseph’s life showed no sign of that dream coming true. He was taken into circumstances that increasingly seemed to move away from the fulfillment of God’s promise, until he ended up in prison. Joseph’s extraordinary response appears when he resists Potiphar’s wife’s temptation, saying, “How then could I do this great wickedness and sin against God?” Joseph did not suspect God of bringing him into suffering and uncertainty. He remained faithful and obedient. What about us?

The Lord Jesus bless you

GOD DESIRES HIS BELOVEDS TO TRUST THE PERSON OF GOD WITHOUT THE SLIGHTEST DOUBT.

Card image
MEMERCAYAI PRIBADI-NYA - 06 April 2026
2026-04-07 06:51:23


Dalam hidup ini, segala sesuatu ada untuk kemudian meninggalkan kita. Ada akhir dari segala sesuatu. Itulah hukum kehidupan yang perlu kita sadari dengan sungguh-sungguh agar kita tidak ceroboh. Segala sesuatu datang untuk kemudian pergi. Yang menjadi persoalan bukanlah datang dan perginya, melainkan apa yang terjadi selama hal itu ada. Hari ini kita ada di dunia, tetapi suatu saat kita akan meninggalkan dunia ini. Kita datang, lalu kita pergi. Oleh sebab itu, kita harus memahami bahwa apa pun persoalan yang sedang kita hadapi saat ini tidak akan berlangsung selama-lamanya dalam hidup kita. Suatu hari, persoalan itu pasti pergi dari kehidupan kita. Namun, sekali lagi, pertanyaannya ialah: apa yang kita lakukan selama masa hidup kita di dunia ini? Sebab hal itulah yang menentukan kualitas akhir dari kembara hidup kita di dunia.

Dalam Yohanes 19:30 tertulis, “Sesudah Yesus meminum anggur asam itu, berkatalah Ia: ‘Sudah selesai.’ Lalu Ia menundukkan kepala-Nya dan menyerahkan nyawa-Nya.” Artinya, Ia telah mengakhiri tujuan mengapa Ia datang ke dunia dan hidup selama tiga puluh tiga setengah tahun. Ia menyelesaikan tugas-Nya, alasan mengapa Ia hadir di dunia ini. Dalam hidup ini, banyak orang dapat memulai sesuatu, tetapi tidak mampu menyelesaikannya. Banyak orang dapat memulai, tetapi tidak sanggup membawanya sampai tuntas. Komitmen Yesus untuk menyelesaikan tugas-Nya mengalahkan seluruh derita dan sengsara yang harus Ia alami. Kita sangat bersyukur karena kita menyembah Tuhan yang bukan hanya dapat berjanji, tetapi Tuhan yang setia.

Ia adalah Tuhan yang memegang komitmen sampai akhir dan tidak menyerah, sekalipun keadaan sangat sulit. Via Dolorosa bukan sekadar rute yang dilalui Kristus, melainkan juga rute perjalanan iman kita. Kekristenan yang sejati selalu melalui jalan ini, Via Dolorosa. Yesus sesungguhnya bisa berhenti dan mundur jika Ia menghendaki. Namun kita bersyukur karena Ia tidak mundur; komitmen-Nya tetap Ia pegang. Kita bersyukur karena Ia menyelesaikan tugas-Nya sampai akhir. Apa yang Ia derita tidak menghentikan-Nya untuk menyelesaikan panggilan yang Ia terima. Dan Ia menyelesaikannya dengan sempurna.

Sejujurnya, berapa banyak di antara kita yang mundur di tengah jalan? Hal ini terjadi karena kita tidak menyadari bahwa segala sesuatu memiliki tujuan, dan tidak ada yang sia-sia dalam pengiringan kita kepada-Nya. Tuhan memperhitungkan semuanya. Jika Tuhan berurusan dengan seseorang dan Ia melihat bahwa orang itu sungguh-sungguh mau berurusan dengan diri-Nya, maka Tuhan akan membangun hubungan yang sangat intim dan akrab dengan orang tersebut. Tuhan menghendaki kekasih-kekasih-Nya memercayai Pribadi Allah tanpa sedikit pun keraguan. Kepada kekasih-kekasih-Nya inilah Tuhan sering dengan sengaja membawa mereka ke dalam keadaan yang sangat berpotensi menimbulkan keraguan terhadap Tuhan dan terhadap Pribadi-Nya sendiri.

Di sinilah kita memahami bahwa memercayai Pribadi Allah sepenuhnya bukanlah hal yang mudah. Tuhan menghendaki agar kita memercayai Pribadi-Nya melalui pengalaman langsung, bukan sekadar karena mendengar kesaksian orang lain atau melihat fenomena dalam kehidupan sesama. Karena itu, bagi kita yang memperoleh hak istimewa seperti ini, bersiaplah dan bersikaplah dengan benar. Jangan meragukan Tuhan. Tetaplah setia dan taat kepada-Nya.

Abraham, kekasih Tuhan, dibawa ke dalam situasi di mana Tuhan menjadi misteri bagi dirinya, bahkan seolah-olah menjadi ancaman. Abraham bisa saja berkata, “Allah yang kukenal tidak seperti ini. Mengapa Allah bertindak demikian? Mengapa Allah melakukan hal ini kepadaku?” Namun Abraham tidak berkata demikian. Ia hanya melakukan apa yang diperintahkan Tuhan. Abraham taat.

Abraham telah lulus dalam berbagai ujian: menunggu kelahiran anak, mengalami masa-masa kekeringan, tidak kembali ke Ur-Kasdim, memilih pergi ke Mesir, bahkan nyaris kehilangan istrinya. Puncaknya adalah ketika Abraham harus mempersembahkan anaknya, Ishak. Namun Abraham tidak membantah. Luar biasa. Ia memercayai kebijaksanaan Allah, kecerdasan Allah, dan seluruh rancangan-Nya. Jika kita membaca Alkitab, begitu Abraham mendengar perintah itu, keesokan harinya ia segera mempersiapkan keledai, membawa para hambanya, dan mengajak Ishak. Ia tidak menunda. Abraham sebenarnya bisa saja menunda, dengan harapan bahwa Allah akan “mengubah pikiran-Nya”.

Yusuf, sejak muda, telah menerima penglihatan bahwa ia akan menjadi pemimpin besar, bahkan lebih besar daripada saudara-saudara dan orang tuanya. Namun perjalanan hidup Yusuf sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda menuju penggenapan penglihatan itu. Ia justru dibawa ke dalam keadaan yang semakin menjauh dari penggenapan janji Allah, hingga akhirnya terkubur di penjara. Pernyataan Yusuf yang luar biasa muncul ketika ia menolak bujukan istri Potifar, “Bagaimana mungkin aku melakukan dosa yang besar ini terhadap Allah?” Yusuf tidak mencurigai Allah yang membawanya ke dalam kesengsaraan dan ketidakpastian. Ia tetap setia dan taat. Bagaimana dengan kita?

Tuhan Yesus memberkati

TUHAN MENGHENDAKI KEKASIH-KEKASIH-NYA MEMERCAYAI PRIBADI ALLAH TANPA SEDIKIT PUN KERAGUAN.

Card image
KIDS DAILY DEVOTIONAL 05 April 2026 - TUHAN MEMPERBAHARUI HATIKU
2026-04-07 06:47:52


Mazmur 51:12
“Jadikanlah hatiku tahir, ya Allah, dan perbaharuilah batinku dengan roh yang teguh!”

Suatu hari, Ethan sedang bermain bersama teman-temannya. Ia sebenarnya anak yang baik dan ramah. Namun sore itu, ia menjadi sangat marah karena mainannya dipinjam tanpa izin. Dengan nada keras ia menegur temannya, sampai temannya merasa sedih dan menjauh.

Setelah kejadian itu, Ethan duduk sendirian. Mainannya memang sudah kembali, tetapi hatinya tidak terasa senang. Justru ia merasa bersalah dan hatinya berat. Ethan teringat pelajaran Sekolah Minggu bahwa saat kita berbuat salah, kita bisa datang kepada Tuhan. Ia pun berdoa pelan, “Tuhan Yesus, aku sudah marah dan berkata tidak baik. Maafkan aku. Tolong perbaharui hatiku.”

Perlahan, hati Ethan menjadi lebih tenang. Keesokan harinya ia memberanikan diri meminta maaf kepada temannya. Temannya pun memaafkannya, dan mereka kembali bermain dengan sukacita. Hati Ethan terasa ringan dan penuh damai.

Rehobot Kids, Tuhan rindu kita datang kepada-Nya saat hati kita tidak baik. Ketika kita mau mengakui kesalahan dan meminta Tuhan memperbarui hati kita, Tuhan menolong kita berubah dan mengembalikan sukacita di dalam hati kita.

Yuk, setiap hari kita minta Tuhan memperbaharui hati kita, supaya kita bisa hidup dengan kasih, kelembutan, dan sukacita yang berasal dari Tuhan.

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 05 April 2026 (English Version) - REACTION VS RESPONSE
2026-04-07 06:45:31


James 1:19
“My dear brothers and sisters, take note of this: Everyone should be quick to listen, slow to speak and slow to become angry.”

Have you ever instantly felt “heated” because of a harsh comment on social media? Or felt offended by a joke that went too far? Humanly speaking, our first instinct is to react. A reaction is spontaneous, emotional, and often driven by the desire to defend ourselves or strike back. But as young people led by the Spirit, we are called not merely to react—but to respond.

What’s the difference? A reaction is like a reflex when your hand touches fire—fast and without much thought. A response is different. A response comes from a calm heart that has given God room to work. When we react, situations can become more chaotic. But when we pause, pray, and think clearly, we give love and wisdom the opportunity to lead.

Let’s learn from Joseph in Genesis 45. Imagine how he must have felt when he met the brothers who once sold him. He had the power to take revenge. From a worldly perspective, that might have seemed fair. But Joseph was not controlled by his past wounds. He chose to see God’s greater purpose. That was not a reaction—it was a response born from a heart that had been processed with God.

Spiritual maturity is seen in our ability to restrain ourselves. Not everything needs to be repaid. Not every emotion needs to be immediately expressed. When we learn to be slow to anger and quick to listen, we are learning to live led by the Spirit, not by temporary feelings.

WHAT TO DO?
1. When emotions rise, don’t immediately type that message or speak those words.
2. Before acting, filter your thoughts through God’s Word.
3. Stop trying to win the argument. Start praying for wisdom to see the situation from God’s perspective.

BIBLE MARATHON:
Romans 7

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 05 April 2026 - REAKSI VS RESPONS
2026-04-06 22:51:18


Yakobus 1:19
“Hai saudara-saudara yang kukasihi, ingatlah hal ini: setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan lambat untuk marah.”

Pernah merasa langsung “panas” gara-gara komentar pedas di media sosial? Atau tersinggung karena candaan teman yang kelewatan? Secara manusiawi, insting pertama kita adalah reaksi. Reaksi itu spontan, emosional, dan sering kali muncul untuk membela diri atau membalas. Tapi sebagai anak muda yang dipimpin Roh, kita dipanggil bukan sekadar bereaksi—melainkan memberi respons.

Apa bedanya? Reaksi itu seperti refleks saat tangan terkena api—cepat dan tanpa pikir panjang. Respons berbeda. Respons lahir dari hati yang tenang, yang sudah memberi ruang bagi Tuhan untuk bekerja. Saat kita bereaksi, suasana bisa makin keruh. Tapi saat kita berhenti sejenak, berdoa, dan berpikir jernih, kita memberi kesempatan bagi kasih dan hikmat untuk memimpin.

Belajar dari Yusuf dalam Kejadian 45. Bayangkan perasaannya saat bertemu saudara-saudaranya yang dulu menjualnya. Ia punya kuasa untuk membalas. Secara dunia, itu terasa adil. Namun Yusuf tidak dikuasai luka masa lalu. Ia memilih melihat rencana Tuhan yang lebih besar. Itu bukan reaksi—itu respons yang lahir dari hati yang sudah diproses bersama Tuhan.

Kedewasaan rohani terlihat dari kemampuan kita menahan diri. Bukan semua hal harus dibalas. Tidak semua emosi harus langsung dikeluarkan. Saat kita belajar lambat untuk marah dan cepat untuk mendengar, kita sedang belajar hidup dipimpin oleh Roh, bukan oleh perasaan sesaat.

WHAT TO DO?
1. Saat emosi mulai naik, jangan langsung mengetik chat atau bicara 2. Sebelum bertindak, filter pikiranmu dengan Firman.
3. Berhentilah mencoba memenangkan argumen. Mulailah berdoa agar Tuhan memberikanmu hikmat untuk melihat situasi dari sudut pandang-Nya.

BIBLE MARATHON:
Roma 7

Card image
Renungan Pagi - 05 April 2026
2026-04-06 22:48:38


Bagi kita, Paskah bukanlah sekedar perayaan peristiwa kebangkitan Yesus, tetapi juga sekaligus merupakan tanggung jawab; waktu merayakan Jumat Agung, kita merasakan kasih Allah yang luar biasa yang menjamin kepastian buat kita.

Allah membangkitkan Yesus dengan tujuan, agar melalui kebangkitan-Nya kita beroleh kemenangan; Karenanya sebagai orang percaya, harus menyadari ada tanggung jawab yang dipercayakan kepada kita, karena hidup kristen bukan hanya menerima tetapi juga bertanggung jawab.

Card image
Quote Of The Day - 05 April 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-04-06 22:47:28


Hanya mereka yang mengenal keselamatan dalam Tuhan Yesus yang berpeluang menemukan kemuliaan Allah yang hilang.

Card image
Mutiara Suara Kebenaran - 05 April 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-04-06 20:47:12


Orang percaya mesti menapaki jejak yang sama seperti Tuhan Yesus dalam hal ketaatan kepada Allah Bapa.

Card image
MENAKLUKKAN DIRI - 05 April 2026
2026-04-06 20:42:48


Perikop Lukas 18 berbicara mengenai doa. Tuhan Yesus menasihati agar orang percaya berdoa dengan tidak jemu-jemu. Doa bukan sekadar melipat tangan, menekuk lutut, dan meminta sesuatu, melainkan sebuah hubungan dengan Tuhan. Karena itu, dalam Lukas 18 juga dikatakan, “Apakah Allah menunda-nunda membenarkan orang-orang pilihan-Nya?” Tidak. Ia akan segera membenarkan mereka. Namun Yesus melanjutkan dengan pertanyaan yang sangat serius: “Akan tetapi, jika Anak Manusia datang, adakah Ia mendapati iman di bumi?” Artinya, adakah orang yang berani tetap tekun di tengah dunia yang gelap, dunia yang tidak memiliki standar sebagai anak-anak Allah, dunia yang semakin fasik, tetapi tetap mempertahankan integritas, tetap taat dan setia, serta memiliki iman atau percaya yang benar seperti yang Allah kehendaki?

Dalam perikop tersebut, kita melihat keberanian dan kegigihan seorang janda dalam menghadapi seorang hakim yang tidak takut akan Allah dan tidak peduli kepada siapa pun. Janda itu mampu menaklukkan hakim tersebut. Pertanyaannya, mampukah kita menaklukkan diri kita sendiri di bawah kekudusan Allah, di tengah dunia yang fasik ini? Sejauh mana kita tekun, taat, dan setia? Sebab Allah ingin mendapati iman seperti itu. Pada dasarnya, orang yang tidak berani hidup suci dan tidak berani meninggalkan percintaan dunia menunjukkan bahwa ia tidak memercayai Allah. Kita harus bersikap sangat radikal: hobi kita hanya satu, yaitu Tuhan; harta kita hanya satu, Tuhan; kesenangan kita hanya satu, Tuhan; kebahagiaan kita hanya satu, Tuhan.

Ada berbagai pengalaman yang Tuhan izinkan terjadi dalam hidup kita supaya kita mengalami bahwa Allah benar-benar nyata dan benar-benar hidup, serta supaya kita belajar menaruh percaya kepada-Nya tanpa dusta. Tuhan rindu bersahabat dengan kita. Ia menghendaki hubungan yang eksklusif dengan kita. Namun, untuk itu, kita harus memercayai-Nya tanpa kecurigaan sedikit pun, sehingga percaya kita kepada Tuhan menjadi percaya yang melahirkan hubungan eksklusif. Hubungan seperti ini hanya mungkin terjadi melalui proses. Masalahnya, tidak semua orang memperoleh proses seperti ini, karena hal itu bergantung pada seberapa sungguh seseorang mau dipercayai oleh Tuhan.

Ingat firman Tuhan dalam Roma 8:28, “Allah bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia.” Masalahnya ada dua. Pertama, apakah kasih itu tetap konstan, atau pada titik tertentu berhenti? Kedua, seberapa besar kasih seseorang kepada Tuhan?

Mengasihi Tuhan adalah hal yang sangat pribadi dan berada dalam kedaulatan masing-masing orang. Tuhan memberikan kedaulatan itu kepada kita. Sejauh mana kita mau hidup suci dan sedekat apa kita mau hidup dengan Allah, semuanya kembali kepada pilihan kita sendiri. Tuhan tidak bersikap diskriminatif. Ia membuka pintu selebar-lebarnya; setiap orang dapat meraih sebanyak mungkin dari apa yang Allah sediakan. Firman Tuhan berkata, “Jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di surga.” Ingatlah, kita hanya memiliki satu kali kesempatan hidup. Mengapa kita tidak meraih yang terbaik dari Tuhan, supaya kita memperoleh apa yang bernilai kekal? Itulah sebabnya Yesus berkata, “Kumpulkanlah bagimu harta di surga, bukan di bumi.”

Jadi, percaya ternyata bukan sesuatu yang sederhana. Keselamatan membawa seseorang kepada hubungan yang intim dan eksklusif dengan Allah, seperti yang diungkapkan dalam Yohanes 17:20–21, “Engkau di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, supaya mereka juga ada di dalam Kita.” Lalu mengapa Tuhan membawa kita ke dalam keadaan-keadaan yang sulit? Ternyata, hal itu bukan hanya dialami oleh Abraham, Yusuf, Yesus, atau Paulus, tetapi juga oleh kita. Pertanyaannya, secara jujur, apa yang telah kita perbuat bagi Tuhan?

Tidak sedikit orang yang mengaku percaya kepada Tuhan Yesus, tetapi membatasi hubungannya dengan Tuhan. Yesus berkata, “Kamulah yang tetap tinggal bersama-sama dengan Aku dalam segala pencobaan yang Kualami; dan Aku menentukan bagimu Kerajaan, sama seperti Bapa-Ku menentukannya bagi-Ku.” Bapa di surga rindu melihat orang-orang yang berani menaruh hidupnya sepenanggungan dengan Yesus—orang-orang yang setia dan taat.

Tuhan Yesus memberkati

BAPA DI SURGA RINDU MELIHAT ORANG-ORANG YANG BERANI MENARUH HIDUPNYA SEPENANGGUNGAN DENGAN YESUS, ORANG-ORANG YANG SETIA DAN TAAT.

Card image
KIDS DAILY DEVOTIONAL 04 April 2026 - TUHAN MELIHAT HATI
2026-04-05 22:41:36


1 Samuel 16:7
“…Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati.”

Di sekolah, pasti ada teman yang terlihat sangat keren. Ia jago olahraga, sepatunya selalu baru, punya banyak teman, dan mungkin banyak pengikut di media sosial. Semua orang ingin berteman dengannya karena penampilannya menarik. Tetapi belum tentu semua yang terlihat di luar sama dengan isi hatinya.

Di sisi lain, ada juga teman yang pendiam. Pakaiannya sederhana dan tidak terlalu menonjol. Namun saat melihat temannya kesulitan membawa buku, ia langsung membantu tanpa diminta. Ia tidak mencari pujian dan tidak ingin terlihat hebat. Ia hanya ingin berbuat baik.

Rehobot Kids, sering kali kita memilih teman berdasarkan apa yang terlihat di luar. Tapi Tuhan tidak melihat seperti manusia melihat. Tuhan melihat hati. Tuhan senang pada anak yang hatinya penuh kasih, tulus, dan mau menolong tanpa pamer.

Menjadi anak yang berharga bukan soal paling populer atau paling keren. Yang paling berharga di mata Tuhan adalah hati yang baik. Hari ini, yuk lakukan satu kebaikan kecil—menolong teman, memungut sampah, atau menghibur yang sedang sedih. Ingat, Tuhan selalu melihat hatimu.

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 04 April 2026 (English Version) -TUNDA REAKSI, DAHULUKAN DOA
2026-04-05 22:38:50


Philippians 2:4
“Let each of you look not only to his own interests, but also to the interests of others.”

Have you ever felt annoyed because a friend took too long to reply to your message? Or quickly labeled someone just because their lifestyle is different from yours? Naturally, we tend to react fast—making assumptions, judging, or drawing conclusions without knowing the full story. Yet spiritual maturity calls for something deeper: the ability to pause before responding.

We can learn from David and Mephibosheth in 2 Samuel 9. Mephibosheth was a descendant of Saul, physically disabled, and living in fear. Politically speaking, David had every reason to see him as a threat. But David did not react based on instinct or fear. Instead, he chose to seek the truth and show kindness. He saw Mephibosheth not through suspicion, but through a heart anchored in God’s promise.

Often, we struggle to empathize because we react too quickly. This is where prayer becomes essential. Prayer is not the last option when things get complicated—it should be our first response. When we pause and pray before speaking or judging, God helps us see more deeply—not just someone’s attitude, but also the wounds or struggles behind it.

Delay the reaction, let prayer lead. That is where our hearts are trained to become more sensitive, wiser, and more reflective of Christ’s love.

WHAT TO DO?
1. Pause for a moment — when you feel the urge to judge or get angry, stop for five seconds. Use that time to whisper, “Lord, give me Your eyes to see this person.”
2. Turn reaction into response — don’t reply immediately. Let prayer be the “filter” before words leave your mouth.
3. Practice love — remember that everyone carries struggles we may not see. Be a channel of love that lifts up, not one that condemns.

BIBLE MARATHON:
Romans 6

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 04 April 2026 - TUNDA REAKSI, DAHULUKAN DOA*
2026-04-05 22:28:38


Filipi 2:4
“Janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga.”

Pernah merasa kesal karena teman lama membalas chat? Atau langsung memberi label hanya karena gaya hidup seseorang berbeda dari kamu? Secara alami, kita sering bereaksi cepat—membuat asumsi, menghakimi, atau menyimpulkan tanpa tahu cerita lengkapnya. Padahal, kedewasaan rohani menuntut sesuatu yang lebih dalam: kemampuan untuk berhenti sejenak sebelum merespons.

Belajar dari Daud dan Mefiboset dalam 2 Samuel 9. Mefiboset adalah keturunan Saul yang cacat dan hidup dalam ketakutan. Secara politik, Daud punya alasan untuk menganggapnya ancaman. Namun Daud tidak bereaksi berdasarkan insting atau ketakutan. Ia memilih mencari tahu dan menunjukkan kasih. Daud melihat Mefiboset bukan dengan kecurigaan, tetapi dengan hati yang berpegang pada janji Tuhan.

Sering kali kita sulit berempati karena terlalu cepat bereaksi. Di sinilah doa menjadi penting. Doa bukan pilihan terakhir saat situasi sudah rumit, tetapi seharusnya menjadi respons pertama kita. Saat kita berhenti dan berdoa sebelum berbicara atau menilai, Tuhan menolong kita melihat lebih dalam—bukan hanya sikap seseorang, tetapi juga luka atau pergumulan di baliknya.

Tunda reaksi, dahulukan doa. Di situlah hati kita dilatih untuk lebih peka, lebih bijak, dan lebih mencerminkan kasih Kristus.

WHAT TO DO?
1. Diam sejenak, saat kamu merasa ingin menghakimi atau marah, berhentilah 5 detik. Gunakan waktu itu untuk berbisik, “Tuhan, beri aku mata-Mu untuk melihat orang ini.”
2. Ubah reaksi jadi respons, jangan langsung membalas. Jadikan doa sebagai “filter” sebelum kata-kata keluar dari mulutmu.
3. Praktikkan kasih, ingatlah bahwa setiap orang punya pergumulan yang tidak kita ketahui. Jadilah saluran kasih yang mengangkat, bukan menghakimi.

BIBLE MARATHON:
Roma 6

Card image
Renungan Pagi - 04 April 2026
2026-04-05 22:24:43


Orang yang mengenal Allah dengan benar, pasti tidak hanya ingin menerima berkat dari Tuhan, tetapi selalu ingin melayani Tuhan, karena dalam hatinya selalu berkata dengan apa dapat kubalas segala kebaikan Tuhan, kecuali dengan melayani Tuhan.

Jangan bilang mengenal Tuhan kalau masih hitung-hitungan dengan Tuhan, saat bangun pagi untuk berdoa dan membaca Alkitab terasa berat, orang yang mengenal Tuhan dengan benar pasti akan selalu rindu untuk melayani Tuhan.

Card image
Quote Of The Day - 04 April 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-04-05 22:22:26


Keadaan manusia yang berdosa ini menempatkan manusia pada kehidupan yang tidak sesuai dengan standar yang Allah kehendaki untuk dimiliki manusia. Hal inilah yang menyebabkan manusia tidak memiliki tata laksana kehidupan sesuai dengan kehendak Allah.

Card image
Mutiara Suara Kebenaran - 04 April 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-04-05 13:33:01


Tuhan Yesus taat sempurna kepada Allah, sekali pun nyawa-Nya sebagai pertaruhan atau pembuktian ketaatan-Nya.

Card image
EXCLUSIVE RELATIONSHIP - 04 April 2026 (English Version)
2026-04-05 13:31:07


“Even if God does not help us, we will still not worship the statue that my lord has set up,” was the reply of Shadrach, Meshach, and Abednego, showing there was not a shred of suspicion toward God. Even if God did not help, they still refused to worship the statue. This is called unconditional submission—obedience without conditions. Therefore, in our relationship with God, there must be no suspicion at all, even when life worsens, and it seems as if God does not care or has vanished.

John 2:23–24 says, “Now while he was in Jerusalem at the Passover Feast, many believed in his name when they saw the signs that he was doing. But Jesus Himself would not entrust Himself to them, because He knew all people and needed no one to bear witness about man, for He Himself knew what was in man.”

Jesus knew the motives behind their belief. In His earthly life, Jesus studied God’s Word and understood the condition of the human heart. Those people believed, but Jesus did not accept their belief. Have we ever asked whether he truly accepts our belief in God? Is our belief the right kind of belief? The word “believe” has become easy to say and to profess, and many Christians assume their belief already satisfies the requirement for salvation. It turns out there is something behind that word that God must judge.

Because ultimately, in Christianity, God desires an exclusive relationship between us personally and Himself. The way to that relationship is Jesus’ sacrifice on the cross. Through Jesus’ sacrifice, the world’s sin—from Adam’s sin to the last person—has been borne by Jesus. By his death on the cross, he took on the sins of the world, as John says, “Behold the Lamb of God, who takes away the sin of the world.” With this atonement comes judgment. People outside Christianity can also be judged, and those who love their neighbors as themselves may be permitted to enter the coming world as members of that society.

In this relationship, the Father desires there be no deceit but full trust that God is good, perfect, wise, and blameless. And everyone must experience this personally. The problem arises when people fail to understand the meaning and purpose of the salvation Jesus brings. They do not understand that Jesus brings freedom from sin, not freedom from foreign domination or political liberation. The Father desires that salvation bring us into an exclusive relationship with Him, where we trust God fully without doubting Him.

In daily life, we all have the experience of being unable to entrust ourselves to or befriend someone because that person is untrustworthy. Likewise, if we trust Jesus as Lord and Savior, we must lead a spiritual life in which we can be trusted by God, so that a genuine relationship can be built between Him and us. Remember what is written in the Book of James: “That is why he was called a friend of God,” referring to when Abraham offered his son Isaac. Abraham passed that test; there was no suspicion toward God in what he did. That is why he is called a friend of God.

If someone is not truly willing to live a holy life and renounce love of the world, then their faith is not yet acceptable. Salvation must bring us into a relationship with the Father as Father and child, in which there is no suspicion of Him at all. How can that happen? We must have direct experiences in which God leads us into miraculous, difficult, and seemingly irrational circumstances, yet we continue to trust Him. With this quality of faith, our loyalty and obedience will be genuine.

The Lord Jesus bless you

IN CHRISTIANITY, GOD DESIRES AN EXCLUSIVE RELATIONSHIP BETWEEN US PERSONALLY AND HIMSELF.

Card image
HUBUNGAN EKSLUSIF - 04 April 2026
2026-04-05 13:28:54


“Sekalipun Allah tidak menolong kami, kami tetap tidak akan menyembah patung yang tuanku dirikan,” merupakan jawaban Sadrakh, Mesakh, dan Abednego yang menunjukkan bahwa tidak ada sedikit pun kecurigaan terhadap Allah. Sekalipun Allah tidak menolong, mereka tetap tidak mau menyembah patung itu. Inilah yang disebut unconditional submission, yaitu ketaatan yang tidak bersyarat. Karena itu, dalam hubungan kita dengan Tuhan, tidak boleh ada kecurigaan sama sekali, walaupun keadaan hidup semakin memburuk, seolah-olah Tuhan tidak peduli dan Tuhan seperti menghilang.

Dalam Yohanes 2:23–24 tertulis, “Dan sementara Ia di Yerusalem selama Hari Raya Paskah, banyak orang percaya dalam nama-Nya, karena mereka telah melihat tanda-tanda yang diadakan-Nya. Tetapi Yesus sendiri tidak mempercayakan diri-Nya kepada mereka, karena Ia mengenal mereka dan karena Ia tidak memerlukan kesaksian dari siapa pun tentang manusia, sebab Ia tahu apa yang ada di dalam hati manusia.”

Tuhan Yesus mengetahui motif di balik kepercayaan mereka. Dalam perjalanan hidup-Nya sebagai manusia, Yesus mempelajari firman Tuhan dan memahami keadaan hati manusia. Orang-orang itu percaya, tetapi Tuhan Yesus tidak menerima kepercayaan mereka. Pernahkah kita mempersoalkan apakah percaya kita kepada Tuhan sungguh diterima oleh Allah? Apakah percaya kita adalah percaya yang benar? Selama ini, kata percaya menjadi sangat mudah diucapkan, mudah diakui, dan banyak orang Kristen merasa bahwa kepercayaannya sudah memenuhi syarat keselamatan. Ternyata, di balik kata percaya itu, ada sesuatu yang harus dinilai oleh Allah.

Sebab, di dalam kekristenan, pada akhirnya Tuhan menghendaki adanya hubungan yang eksklusif antara kita secara pribadi dengan Allah. Jalan menuju hubungan itu adalah pengurbanan Yesus di kayu salib. Melalui pengurbanan Yesus, dosa dunia—sejak dosa Adam hingga manusia terakhir—telah dipikul oleh Tuhan Yesus. Dengan kematian-Nya di kayu salib, Ia menanggung dosa dunia, seperti yang dikatakan Yohanes, “Lihatlah Anak Domba Allah, yang menghapus dosa dunia.” Dengan adanya pengurbanan Yesus ini, maka ada pengadilan. Orang-orang di luar kekristenan pun dapat diadili, dan mereka yang mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri dapat diperkenankan masuk ke dunia yang akan datang sebagai anggota masyarakat.

Di dalam hubungan inilah Allah Bapa menghendaki agar tidak ada dusta, melainkan kepercayaan penuh bahwa Allah itu baik, sempurna, cerdas, dan tidak bercela. Dan setiap orang harus mengalami hal ini secara pribadi. Masalahnya muncul ketika orang gagal memahami maksud dan tujuan keselamatan yang dibawa oleh Yesus. Mereka tidak memahami bahwa Yesus membawa kemerdekaan dari dosa, bukan kemerdekaan dari penjajahan bangsa asing atau kemerdekaan secara politis. Allah Bapa menghendaki agar keselamatan membawa kita ke dalam hubungan eksklusif dengan Dia, di mana kita memercayai Allah sepenuhnya tanpa meragukan-Nya.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita pasti memiliki pengalaman ketika kita tidak dapat memercayakan diri atau menjalin persahabatan dengan seseorang karena orang tersebut tidak dapat dipercaya. Demikian pula, jika kita memercayai Tuhan Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat, maka kita harus mencapai kehidupan rohani di mana kita pun dapat dipercayai oleh Allah, sehingga terbangun relasi yang sejati antara kita dengan Dia. Ingatlah apa yang tertulis dalam Kitab Yakobus: “Itulah sebabnya ia disebut sahabat Allah,” yaitu ketika Abraham mempersembahkan anaknya, Ishak. Abraham lulus dalam ujian itu; tidak ada kecurigaan terhadap Allah apa pun yang harus ia lakukan. Karena itulah ia disebut sahabat Allah.

Jika seseorang tidak sungguh-sungguh mau hidup suci dan tidak sungguh-sungguh mau meninggalkan percintaan dunia, maka kepercayaannya belum dapat diterima. Keselamatan harus membawa kita kepada hubungan dengan Allah Bapa sebagai Bapa dan anak, di mana tidak ada kecurigaan sama sekali terhadap Dia. Bagaimana hal itu dapat terjadi? Kita harus memiliki pengalaman langsung ketika Tuhan membawa kita ke dalam keadaan-keadaan yang ajaib, sulit, dan tidak masuk akal menurut manusia, namun kita tetap memercayai-Nya. Dengan kualitas percaya seperti inilah, kesetiaan dan ketaatan kita akan memiliki kualitas yang sejati.

Tuhan Yesus memberkati

DI DALAM KEKRISTENAN, PADA AKHIRNYA TUHAN MENGHENDAKI ADANYA HUBUNGAN YANG EKSKLUSIF ANTARA KITA SECARA PRIBADI DENGAN ALLAH.

Card image
KIDS DAILY DEVOTIONAL 03 April 2026 - TUHAN MENYELIDIKI HATIKU
2026-04-04 12:39:53


Yeremia 17:10
“Aku, Tuhan , yang menyelidiki hati, yang menguji batin, untuk memberi balasan kepada setiap orang setimpal dengan tingkah langkahnya, setimpal dengan hasil perbuatannya.”

Shalom, Rehobot Kids! Pernah nggak kamu berbuat baik supaya dipuji? Atau pura-pura baik di depan guru, tapi di belakang berbeda sikapnya? Manusia biasanya hanya bisa melihat apa yang tampak di luar. Tapi Tuhan berbeda. Tuhan melihat sampai ke dalam hati kita.

Ayat hari ini mengingatkan bahwa Tuhan menyelidiki hati dan menguji batin. Artinya, Tuhan tahu alasan di balik setiap tindakan kita. Dia tahu apakah kita menolong karena tulus, atau hanya ingin dipuji. Dia tahu apakah kita meminta maaf dengan sungguh-sungguh, atau hanya supaya tidak dimarahi.

Tuhan bukan mencari anak yang sempurna, tetapi anak yang hatinya jujur. Kalau hati kita tidak benar, Tuhan mau menegur dan membentuk kita. Kalau hati kita tulus, Tuhan pun berkenan dan memberkati langkah kita.

Karena itu, yuk setiap hari kita berdoa, “Tuhan, periksa hatiku. Tolong aku punya hati yang tulus dan bersih.” Saat hati kita benar di hadapan Tuhan, hidup kita pun akan berjalan di jalan yang benar.

Ingat ya, Rehobot Kids, Tuhan melihat lebih dalam dari siapa pun. Jadi mari hidup dengan hati yang jujur dan menyenangkan-Nya.

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 03 April 2026 (English Version) - BEFORE YOU REACT, REFLECT
2026-04-04 12:36:05


Ecclesiastes 7:9
“Do not be quickly provoked in your spirit, for anger resides in the lap of fools.”

In many situations, reaction often comes faster than reflection. When we feel offended, misunderstood, or treated unfairly, we are tempted to respond immediately—through words, attitudes, or rushed decisions. Yet God’s Word reminds us not to be quick to anger, because anger that lingers can damage our own hearts and minds.

Anger is human. But allowing it to take control without processing it wisely is a dangerous choice. Ecclesiastes teaches that uncontrolled anger leads to a loss of wisdom. Reactions born from momentary emotion often result in long-term regret.

Before you react, reflect means giving yourself space to pause. Reflection helps us ask: What am I really feeling? Why does this situation trigger me so strongly? When we stop and bring those feelings before God, we give ourselves the opportunity to respond with wisdom rather than simply react.

God does not ask us to suppress our emotions, but to manage them with wisdom. When we choose reflection before reaction, we are learning to live led by the Spirit—not by temporary emotional outbursts.

WHAT TO DO?
1. When emotions rise, pause before speaking or acting.
2. Reflect on your feelings before God through a short prayer.
3. Choose a response that builds up, not one that simply vents emotion.

BIBLE MARATHON:
Romans 5

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 03 April 2026 - BEFORE YOU REACT, REFLECT
2026-04-04 12:34:43


Pengkhotbah 7:9
“Janganlah lekas-lekas marah dalam hati, karena amarah menetap dalam dada orang bodoh.”

Dalam banyak situasi, reaksi sering kali datang lebih cepat daripada refleksi. Saat disinggung, disalahpahami, atau diperlakukan tidak adil, kita terdorong untuk langsung me respons—entah melalui kata-kata, sikap, atau keputusan yang tergesa-gesa. Namun firman Tuhan mengingatkan agar kita tidak cepat marah, sebab amarah yang dibiarkan menetap justru merusak hati dan pikiran kita sendiri.

Marah itu manusiawi, tetapi membiarkan amarah menguasai tanpa diproses adalah pilihan yang berbahaya. Pengkhotbah menegaskan bahwa amarah yang tidak terkendali membuat seseorang kehilangan hikmat. Reaksi yang lahir dari emosi sesaat sering menghasilkan penyesalan yang panjang.

Before you react, reflect berarti memberi diri kita ruang untuk berhenti sejenak. Refleksi menolong kita bertanya: Apa yang sebenarnya aku rasakan? Mengapa hal ini begitu memicu emosiku? Saat kita berhenti dan membawa perasaan itu kepada Tuhan, kita diberi kesempatan untuk merespons dengan bijak, bukan sekadar bereaksi.

Tuhan tidak meminta kita menekan emosi, melainkan mengelolanya dengan hikmat. Ketika kita memilih refleksi sebelum reaksi, kita sedang belajar hidup dipimpin oleh Roh, bukan oleh ledakan perasaan sesaat.

WHAT TO DO?
1. Saat emosi muncul, berhenti sejenak sebelum berbicara atau bertindak.
2. Refleksikan perasaanmu di hadapan Tuhan melalui doa singkat.
3. Pilih respons yang membangun, bukan yang melampiaskan emosi.

BIBLE MARATHON:
Roma 5

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 03 April 2026 - BEFORE YOU REACT, REFLECT
2026-04-04 02:07:32


Pengkhotbah 7:9 “Janganlah lekas-lekas marah dalam hati, karena amarah menetap dalam dada orang bodoh.”
Dalam banyak situasi, reaksi sering kali datang lebih cepat daripada refleksi. Saat disinggung, disalahpahami, atau diperlakukan tidak adil, kita terdorong untuk langsung me respons—entah melalui kata-kata, sikap, atau keputusan yang tergesa-gesa. Namun firman Tuhan mengingatkan agar kita tidak cepat marah, sebab amarah yang dibiarkan menetap justru merusak hati dan pikiran kita sendiri.

Marah itu manusiawi, tetapi membiarkan amarah menguasai tanpa diproses adalah pilihan yang berbahaya. Pengkhotbah menegaskan bahwa amarah yang tidak terkendali membuat seseorang kehilangan hikmat. Reaksi yang lahir dari emosi sesaat sering menghasilkan penyesalan yang panjang.

Before you react, reflect berarti memberi diri kita ruang untuk berhenti sejenak. Refleksi menolong kita bertanya: Apa yang sebenarnya aku rasakan? Mengapa hal ini begitu memicu emosiku? Saat kita berhenti dan membawa perasaan itu kepada Tuhan, kita diberi kesempatan untuk me respons dengan bijak, bukan sekadar bereaksi.

Tuhan tidak meminta kita menekan emosi, melainkan mengelolanya dengan hikmat. Ketika kita memilih refleksi sebelum reaksi, kita sedang belajar hidup dipimpin oleh Roh, bukan oleh ledakan perasaan sesaat.

WHAT TO DO?
1. Saat emosi muncul, berhenti sejenak sebelum berbicara atau bertindak.
2. Refleksikan perasaanmu di hadapan Tuhan melalui doa singkat.
3. Pilih respons yang membangun, bukan yang melampiaskan emosi.

BIBLE MARATHON: Roma 5

Card image
Renungan Pagi - 03 April 2026
2026-04-04 02:02:33


Jumat Agung bukan sekedar hari kematian Yesus tetapi hari proklamasi kemerdekaan iman.

Karena sebelum Yesus menyerahkan nyawa-Nya, Yesus memproklamasikan berita proklamasi terbesar sepanjang sejarah hidup manusia yaitu SUDAH SELESAI.

Diatas kayu salib, harga dosa kita, harga kutuk yang harus kita tanggung, harga penderitaan dan harga penyakit, semuanya sudah diselesaikan di atas kayu salib.

Card image
Quote Of The Day - 03 April 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-04-04 02:01:38


Dalam hidup kekristenan, yang penting dan utama—bahkan satu-satunya—adalah menjalani sebuah cara hidup istimewa seperti yang dikenakan oleh Tuhan Yesus.

Card image
Mutiara Suara Kebenaran - 03 April 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-04-04 02:00:28


Kematian Tuhan Yesus menjadi kematian yang menanggung maut bagi seluruh umat manusia. Manusia yang seharusnya mengalami maut, yakni keterpisahan dari Allah, sekarang dibebaskan oleh darah Kristus.

Card image
POVERTY THAT PROTECTS - 03 April 2026 (English Version)
2026-04-04 01:58:06


Matthew 5:3
“Blessed are the poor in spirit, for theirs is the kingdom of heaven.”

In this verse, the word poor uses the Greek term πτωχός (ptōkhos), which denotes extreme poverty to the point of having to beg to meet one’s basic needs. Therefore, elsewhere this term is translated as “beggar,” as when it describes Lazarus pleading for scraps from the rich man’s table (Luke 16:20).

This beatitude is recorded by both Matthew and Luke. Parallel to Matthew 5:3, Luke records the blessing in Luke 6:20 using the same word, ptōkhos. But Matthew adds the phrase “in spirit” (τῷ πνεύματι, tō pneumati) after the word poor, while Luke stops at the word poor without that addition.

At first glance, this difference suggests Matthew emphasizes spiritual poverty, while Luke leans toward physical poverty. Many interpreters accept this view, including the Cambridge Bible Commentary (CBC). According to CBC, Matthew emphasizes spiritual poverty as the starting point of repentance required to enter God’s Kingdom. The addition “in spirit,” CBC says, is Matthew’s clarification aimed at religious people of his day who felt “spiritually rich” and in no need of repentance. Thus, “poor in spirit” refers to a humble heart before God — a full dependence by someone who has nothing to boast about before Him. Such an attitude, Jesus says, is blessed. This is the first conclusion about the meaning of “poor in spirit.”

However, if we note the consistent use of ptōkhos in Matthew’s Gospel, we reach a further conclusion. In Matthew, the word ptōkhos appears five times (Matt. 5:3; 11:5; 19:21; 26:9; 26:11). Only in Matthew 5:3 is it given a spiritual nuance. In the other instances, ptōkhos consistently refers to physical poverty or poor people.

Does this remove the meaning of spiritual poverty? No. Instead, we can draw a fuller conclusion without rejecting the previous emphasis. That conclusion is that God calls His people to identify with the poor and marginalized. The phrase “Blessed are the poor in spirit” is an invitation to empty ourselves and show solidarity with the weak, just as God sides with the weak and those treated unjustly. This invitation presents a concept of blessedness that contrasts with the world’s: while the world looks to the rich and powerful as blessed, God pronounces being blessed on the poor and marginalized.

Why can we reach this conclusion? Because someone truly poor before God will not love money and the world. The person poor in spirit will refuse to love worldly pleasures even if given the chance to enjoy them. This attitude affects everyday life, especially how one regards others’ suffering as part of one’s own burden. A person may be rich by human standards but not live in his wealth; he empties himself by choosing not to live lavishly. He shows solidarity with others’ hardships and uses his possessions to serve God through serving people.

Conversely, those who are physically poor are not ashamed or driven by a desire to become rich; they entrust their lives to the God who cares for them. Whether in plenty or lack, their life is determined not by wealth but by dependence on God.

This self-emptying and siding with the marginalized is what is called poverty that protects — a poverty that brings blessedness. Why? Because God is present in and with them (Matt. 25:40). That is why Jesus calls them blessed. In such poverty, a person grows more sensitive and nearer to those in need. Drawing near to others means drawing near to God. By accepting this poverty within us, we actually declare our faithfulness to God by denying ourselves and turning away from the love of the world.

The Lord Jesus bless you

THIS SELF-EMPTYING AND SIDING WITH THE MARGINALIZED IS WHAT IS CALLED POVERTY THAT PROTECTS, A POVERTY THAT BRINGS BLESSEDNESS.

Card image
KEMISKINAN YANG MELINDUNGI - 03 April 2026
2026-04-04 01:40:05


Matius 5:3

“Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.”

Dalam ayat ini, kata miskin menggunakan istilah Yunani πτωχός (ptōkhos), yang menunjuk pada kondisi kemiskinan yang sangat ekstrem, sampai pada keadaan harus meminta-minta demi memenuhi kebutuhan hidupnya. Oleh karena itu, pada bagian lain istilah ini diterjemahkan sebagai “pengemis”, seperti ketika digunakan untuk menggambarkan Lazarus yang meminta sisa makanan dari meja orang kaya (Luk. 16:20).

Ucapan bahagia ini dicatat baik oleh Matius maupun Lukas dalam Injil mereka. Secara paralel dengan Matius 5:3, Lukas juga menuliskan ucapan bahagia tersebut dalam Lukas 6:20 dengan menggunakan kata yang sama, ptōkhos. Namun, Matius menambahkan frasa “di dalam roh” (τῷ πνεύματι, tō pneumati) setelah kata miskin, sedangkan Lukas hanya berhenti pada kata miskin tanpa tambahan tersebut.

Perbedaan frasa ini sekilas memberi kesan bahwa Matius hendak menekankan kemiskinan secara rohani, sementara Lukas lebih mengarah pada kemiskinan secara jasmani. Banyak penafsir mengafirmasi pandangan ini, salah satunya Cambridge Bible Commentary (CBC). Menurut CBC, Matius menekankan kemiskinan rohani sebagai titik awal pertobatan yang menjadi syarat masuk ke dalam Kerajaan Allah. Imbuhan “di dalam roh”, menurut CBC, merupakan penegasan Matius yang ditujukan kepada orang-orang agamawi pada masa itu yang merasa “kaya” secara rohani dan tidak membutuhkan pertobatan. Dengan demikian, miskin di dalam roh menunjuk pada sikap hati yang merendah di hadapan Allah, suatu kebergantungan penuh dari seseorang yang tidak memiliki apa pun untuk dibanggakan di hadapan-Nya. Orang dengan sikap hati seperti inilah yang, menurut Yesus, disebut berbahagia. Inilah kesimpulan pertama mengenai makna “miskin di hadapan Allah”.

Namun, jika kita memperhatikan konsistensi penggunaan kata ptōkhos dalam Injil Matius, sulit untuk tidak sampai pada kesimpulan lanjutan. Dalam Injil Matius, kata ptōkhos muncul sebanyak lima kali (Mat. 5:3; 11:5; 19:21; 26:9; 26:11). Dari kelima kemunculan tersebut, hanya dalam Matius 5:3 kata ini dilekatkan dengan nuansa rohani. Selebihnya, ptōkhos secara konsisten merujuk pada kemiskinan atau orang miskin secara jasmani.

Apakah artinya hal ini meniadakan makna kemiskinan rohani? Tidak. Di sini kita justru dapat menarik kesimpulan yang lebih utuh tanpa menolak penekanan sebelumnya. Kesimpulan tersebut ialah bahwa Allah memanggil umat-Nya untuk berpihak kepada orang-orang miskin dan terpinggirkan. Kalimat “Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah” merupakan undangan untuk mengosongkan diri dan bersolidaritas dengan mereka yang lemah, sebagaimana Allah sendiri berpihak kepada orang-orang yang lemah dan diperlakukan tidak adil. Undangan ini menghadirkan konsep kebahagiaan yang kontras dengan dunia: ketika dunia mencari yang kaya dan berpengaruh untuk disebut berbahagia, Allah justru menyatakan kebahagiaan-Nya kepada yang miskin dan terpinggirkan.

Mengapa kita dapat sampai pada kesimpulan ini? Sebab tidak mungkin seseorang yang sungguh miskin di hadapan Allah mencintai uang dan dunia. Orang yang miskin secara rohani akan menolak untuk mencintai dunia dengan segala kesenangannya, sekalipun ia memiliki kesempatan untuk menikmatinya. Sikap ini tentu berdampak pada cara ia menjalani hidup sehari-hari, terutama dalam memandang penderitaan sesama sebagai bagian dari bebannya sendiri. Seseorang bisa saja kaya menurut ukuran manusia, tetapi tidak hidup dalam kekayaannya. Ia mengosongkan diri dengan memilih untuk tidak hidup mewah. Ia bersolidaritas dengan kesulitan orang-orang di sekitarnya dan menggunakan hartanya untuk melayani Tuhan melalui sesama.

Sebaliknya, bagi mereka yang miskin secara jasmani, kemiskinan tidak membuat mereka minder atau dikuasai oleh hasrat untuk menjadi kaya. Mereka justru melabuhkan hidupnya kepada Allah yang memelihara. Baik dalam kondisi memiliki maupun kekurangan, hidup mereka tidak ditentukan oleh harta, melainkan oleh kebergantungan kepada Allah.

Pengosongan diri dan keberpihakan kepada orang-orang terpinggirkan inilah yang disebut sebagai kemiskinan yang melindungi—kemiskinan yang membawa kebahagiaan. Mengapa demikian? Karena Allah hadir di dalam dan bersama mereka (Mat. 25:40). Itulah sebabnya Yesus menyebut mereka berbahagia. Dalam kemiskinan semacam ini, seseorang menjadi lebih peka dan lebih dekat kepada sesama yang membutuhkan. Dan mendekat kepada sesama berarti mendekat kepada Tuhan. Dengan menerima kemiskinan ini dalam diri kita, sesungguhnya kita sedang menyatakan kesetiaan kepada Tuhan dengan menyangkal diri dan menjauhkan diri dari percintaan dunia.

Tuhan Yesus memberkati

PENGOSONGAN DIRI DAN KEBERPIHAKAN KEPADA ORANG-ORANG YANG TERPINGGIRKAN INILAH YANG DISEBUT SEBAGAI KEMISKINAN YANG MELINDUNGI, KEMISKINAN YANG MEMBAWA KEBAHAGIAAN.

Card image
KIDS DAILY DEVOTIONAL 02 April 2026 - TUHAN MENGENAL HATIKU
2026-04-03 18:02:32


Mazmur 139:23–24
“Selidikilah aku, ya Allah, dan kenallah hatiku, ujilah aku dan kenallah pikiran-pikiranku; lihatlah, apakah jalanku serong, dan tuntunlah aku di jalan yang kekal!”

Rehobot Kids, kita perlu ingat bahwa Tuhan sangat mengenal kita, bahkan lebih dari siapa pun. Tuhan tidak hanya melihat apa yang kita lakukan di luar, tetapi juga melihat isi hati kita yang paling dalam. Saat kita tersenyum, Tuhan tahu apakah hati kita benar-benar senang. Saat kita diam, Tuhan pun tahu apa yang sedang kita rasakan, meskipun kita tidak mengatakannya.

Kadang-kadang, di dalam hati kita ada perasaan yang tidak baik, seperti marah, kesal, iri, atau ingin berbohong. Orang lain mungkin tidak mengetahuinya, tetapi Tuhan tahu semuanya. Namun jangan takut, ya. Tuhan bukan ingin menghukum kita, melainkan ingin menolong kita supaya menjadi anak yang lebih baik.

Bayangkan hati kita seperti sebuah kamar. Kalau kamar itu kotor, kita perlu membersihkannya supaya nyaman dan sehat untuk ditinggali. Begitu juga dengan hati kita. Saat kita berdoa dan meminta Tuhan menyelidiki hati kita, Tuhan dengan lembut menunjukkan bagian mana yang perlu dibersihkan dan diperbaiki.

Tuhan akan menuntun kita agar tidak berjalan di jalan yang salah. Karena itu, yuk Rehobot Kids, berani datang kepada Tuhan dengan hati yang jujur. Saat kita mau diperbaiki oleh Tuhan, hati kita menjadi lebih bersih, lebih damai, dan semakin menyenangkan hati-Nya.

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 02 April 2026 (English Version) -
2026-04-03 17:58:05


Psalm 62:8
“Trust in Him at all times, you people; pour out your hearts to Him, for God is our refuge.”

When emotions rise—anger, disappointment, or offense—our first instinct is often not prayer, but reaction. We want to respond immediately, defend ourselves, explain everything, or vent our feelings. Yet God’s Word invites us to do something different: pour out our hearts to Him first.

Prayer is not a way to avoid problems; it is a way to align our hearts before responding to them. When prayer leads, our response becomes calmer, wiser, and more reflective of Christ’s love. We learn that not every emotion needs to be instantly expressed—some need to be surrendered to God first.

God is a safe place for all our emotions—not only the “good” ones, but also anger, disappointment, and confusion. He is not surprised by what we feel. In fact, He desires that we come honestly before Him, before those emotions control our actions.

To let prayer lead your response means giving God space to work between emotion and action. That is where spiritual maturity is formed—not by suppressing emotions, but by directing them toward God.

WHAT TO DO?
1. When emotions arise, pause and bring them to God in a short prayer.
2. Pour out your heart honestly before Him—no masks.
3. After praying, ask yourself: What response would honor God?

BIBLE MARATHON:
Romans 4

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 02 April 2026 - LET PRAYER LEAD YOUR RESPONSE
2026-04-03 17:36:03


Mazmur 62:9

“Percayalah kepada-Nya setiap waktu, hai umat, curahkanlah isi hatimu di hadapan-Nya.”

Ketika emosi memuncak—marah, kecewa, atau tersinggung—respons pertama kita sering kali bukan doa, melainkan reaksi. Kita ingin segera membalas, menjelaskan, atau meluapkan perasaan. Namun firman Tuhan mengajak kita melakukan sesuatu yang berbeda: mencurahkan isi hati kepada Tuhan terlebih dahulu.

Doa bukan cara untuk menghindari masalah, melainkan cara untuk menata hati sebelum merespons masalah. Saat doa memimpin, respons kita menjadi lebih tenang, lebih bijak, dan lebih mencerminkan kasih Kristus. Kita belajar bahwa tidak semua emosi harus langsung dikeluarkan—sebagian perlu terlebih dahulu diserahkan kepada Tuhan.

Tuhan adalah tempat yang aman untuk menaruh semua emosi kita, bukan hanya yang terlihat baik, tetapi juga amarah, kekecewaan, dan kebingungan. Ia tidak terkejut dengan perasaan kita. Justru Dia rindu kita datang dengan jujur sebelum emosi itu menguasai tindakan kita.

Let prayer lead your response berarti memberi Tuhan ruang untuk bekerja di antara emosi dan tindakan. Di situlah kedewasaan rohani dibentuk: bukan dengan menekan emosi, tetapi dengan mengarahkannya kepada Tuhan.

WHAT TO DO?
1. Saat emosi muncul, tahan responmu dan bawa perasaan itu dalam doa singkat.
2. Curahkan isi hatimu kepada Tuhan dengan jujur, tanpa topeng.
3. Setelah berdoa, tanyakan: respon apa yang memuliakan Tuhan?

BIBLE MARATHON:
Roma 4

Card image
Renungan Pagi - 02 April 2026
2026-04-03 17:28:09


Alkitab mengajarkan, "Kuasailah dirimu dan jadilah tenang, supaya kamu dapat berdoa". Artinya, kalau tidak bisa menguasai diri, kita tidak akan bisa tenang dan kalau tidak bisa tenang, tidak akan bisa berdoa.

Orang yang bisa menguasai diri adalah orang yang bisa berkata "Tidak" kepada sesuatu yang salah. Sebagai orang yang telah diselamatkan Tuhan, hendaklah memiliki hati yang takut akan Tuhan, sehingga dimanapun kita berada, selalu berjalan dalam kemenangan, dan kuasa serta kemuliaan Kristus selalu terpancar dalam hidup kita.

Card image
Quote Of The Day - 02 April 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-04-03 17:26:58


Kita tidak bisa lawan setan tanpa Tuhan, kita hanya bisa lawan dia dengan Tuhan namun kita tidak bisa berjalan dengan Tuhan tanpa doa.

Card image
Mutiara Suara Kebenaran - 02 April 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-04-03 16:54:10


Jangan merasa puas dengan keadaan rohani yang biasa-biasa saja. Biarlah kita memiliki kerinduan yang sungguh untuk menjadi manusia yang semakin serupa dengan Kristus.

Card image
NOT JUST ABOUT BEING FAITHFUL - 02 April 2026 (English Version)
2026-04-03 16:30:12


In Matthew 12:43–45, Jesus teaches about the nature of an evil spirit as understood by the Jews of that time. It says that when an unclean spirit leaves a person, it wanders through dry places. In that era, deserts or barren places were believed to be the dwelling places of evil spirits. When the spirit does not find a suitable place to settle, it returns to its old “house.” Seeing that the house is clean, swept, and unoccupied, it invites seven other spirits more wicked than itself to enter and live there.

Read superficially, and without context, this story might appear to depict Jesus’ view of the supernatural. But understood in relation to the preceding verses, the teaching contains a very challenging truth. Remember that the apostles’ writings originally had no section divisions as we do now. Therefore, if this chapter is read from the first verse, it is clear that in Matthew 12, Jesus is confronting the Pharisees and scribes directly—representatives of the Jewish religious establishment of that time.

From verses 1 to 42, Jesus exposes three main problems in the Pharisees and scribes. First, in the event where Jesus’ disciples pick grain on the Sabbath, they show a legalistic and moralistic attitude that ignores mercy (Matt. 12:1–8). Second, when Jesus heals a man with a withered hand on the Sabbath, they reveal violence and cunning of heart (Matt. 12:9–14). Third, when Jesus casts out demons, they display an evil heart by speaking blasphemies against the Spirit of God (Matt. 12:22–32).

By linking Jesus’ confrontation with the Pharisees and scribes to the teaching about the return of the unclean spirit, Matthew emphasizes their close relationship. The unclean spirit leaving a person symbolizes the Pharisees’ and scribes’ outward claim to be “clean” from visible idolatry, as their ancestors had practiced. They lived very obediently to God according to the Mosaic law as they interpreted it. They observed religious festivals and diligently practiced Jewish rites.

However, they did not fill the “house” — their soul and life — with the true Lord. Jesus should have occupied their souls and lives as Lord over them. Rejecting Jesus means remaining under the influence of a more wicked power. This is evident in the Pharisees’ and scribes’ lives: although they did not commit outward moral sins, they harbored hypocritical, unjust, hard, and even cruel hearts—to the point of conspiring to kill Jesus (Matt. 12:14). This condition is actually far more horrifying than mere involvement in idolatry or fellowship with evil spirits as their ancestors did.

If Matthew 12:43–45 is interpreted in that context, we reach an important conclusion: it is not enough merely not to betray God or to be religiously faithful. Salvation must be filled by receiving Jesus as the Lord of life. Without receiving Jesus, a person remains under the control of the evil one.

Receiving Jesus means accepting His mind and affections. A person who has repented from outward sins—such as stealing, killing, adultery, consorting with dark powers, or living wrongly—must fill their soul with the mind and feelings of Christ. If Jesus’ mind and affections do not replace the old mind and affections, that person can become worse. Why? Because they feel religious and free of visible moral fault, while actually still living according to the desires of the flesh, the desires of the eyes, and the pride of life. All of that is practiced under the guise of religion, so they consider themselves righteous. This condition is like someone who does not finish a course of antibiotics. As a result, the illness becomes resistant and much harder to cure than before.

Therefore, we must realize that fidelity to God is not proven merely by not switching religions. Someone who truly receives Jesus must struggle to have the mind and feelings of Christ. When Christ’s mind and affections rule our lives, we become a “dwelt house,” so the evil one has no power over us. Conversely, if someone thinks having the mind and feelings of Christ is not urgent and still feels entirely entitled to themselves, it is reasonable to suspect they are like an unoccupied house—one that might again be inhabited by seven spirits more wicked than earlier.

The Lord Jesus bless you

SALVATION MUST BE FILLED BY RECEIVING JESUS AS THE LORD OF LIFE. WITHOUT RECEIVING JESUS, A PERSON REMAINS UNDER THE CONTROL OF THE EVIL ONE.

Card image
BUKAN SEKADAR TIDAK BERKHIANAT - 02 April 2026
2026-04-03 16:27:44


Dalam Matius 12:43–45, Tuhan Yesus menyampaikan suatu pengajaran mengenai natur roh jahat sebagaimana dipahami oleh orang Yahudi pada masa itu. Dikatakan bahwa apabila roh jahat keluar dari seseorang, ia akan mengembara ke tempat-tempat tandus. Pada zaman tersebut, tempat tandus atau padang gurun dipercaya sebagai wilayah kediaman roh-roh jahat. Ketika roh itu tidak menemukan tempat yang nyaman untuk berdiam, ia kembali ke “rumah” lamanya. Saat melihat bahwa rumah itu bersih, tersapu, dan tidak bertuan, ia mengajak tujuh roh lain yang lebih jahat daripadanya untuk masuk dan menetap di sana.

Jika dibaca sekilas tanpa memperhatikan konteks, kisah ini tampak hanya menggambarkan pandangan Yesus mengenai sisi lain dari dunia supranatural. Namun, jika dipahami dalam kaitannya dengan ayat-ayat sebelumnya, pengajaran ini justru memuat kebenaran yang sangat menantang. Perlu diingat bahwa tulisan-tulisan para rasul pada mulanya tidak memiliki pembagian perikop seperti yang kita miliki sekarang. Oleh karena itu, jika pasal ini dibaca sejak ayat pertama, terlihat bahwa dalam Matius 12 Yesus sedang berkonfrontasi secara langsung dengan orang-orang Farisi dan ahli Taurat, yang merupakan representasi wajah keagamaan Yahudi pada waktu itu.

Sejak ayat 1 hingga ayat 42, Yesus menyingkapkan tiga persoalan utama dalam diri orang Farisi dan ahli Taurat. Pertama, dalam peristiwa murid-murid Yesus memetik gandum pada hari Sabat, mereka memperlihatkan sikap legalistis dan moralis yang mengabaikan belas kasih (Mat. 12:1–8). Kedua, ketika Yesus menyembuhkan orang yang mati sebelah tangannya pada hari Sabat, mereka menunjukkan kekerasan dan kelicikan hati (Mat. 12:9–14). Ketiga, ketika Yesus mengusir roh jahat, mereka menampakkan hati yang jahat melalui ucapan-ucapan yang menghujat Roh Allah (Mat. 12:22–32).

Dengan mengaitkan kisah konfrontasi Yesus terhadap orang Farisi dan ahli Taurat dengan pengajaran tentang kembalinya roh jahat, Matius hendak menegaskan bahwa terdapat hubungan yang erat di antara keduanya. Roh jahat yang keluar dari manusia melambangkan keadaan orang Farisi dan ahli Taurat yang secara lahiriah telah “bersih” dari dosa penyembahan berhala, sebagaimana yang dahulu dilakukan oleh nenek moyang mereka. Mereka hidup sangat taat kepada Allah menurut hukum Taurat yang mereka yakini. Mereka memelihara hari-hari raya keagamaan dan menjalankan syariat agama Yahudi dengan sungguh-sungguh.

Namun, mereka tidak mengisi “rumah” yang adalah jiwa dan kehidupan mereka dengan Tuan yang sejati. Seharusnya, jiwa dan kehidupan mereka diisi oleh Yesus sebagai Tuan atas hidup mereka. Menolak Yesus berarti membiarkan diri kembali berada di bawah pengaruh kuasa yang lebih jahat. Hal ini nyata dalam kehidupan orang Farisi dan ahli Taurat: sekalipun mereka tidak melakukan dosa moral yang tampak secara lahiriah, mereka menyimpan hati yang munafik, tidak adil, keras, dan bahkan keji—hingga bersekongkol untuk membunuh Yesus (Mat. 12:14). Keadaan ini sesungguhnya jauh lebih mengerikan daripada sekadar terlibat dalam penyembahan berhala atau persekutuan dengan roh jahat seperti yang dilakukan oleh nenek moyang mereka.

Jika penafsiran Matius 12:43–45 ini dirajut dalam konteks tersebut, maka kita sampai pada satu kesimpulan penting: tidak cukup sekadar tidak berkhianat kepada Allah atau setia secara agamawi. Keselamatan harus diisi dengan menerima Yesus sebagai Tuan hidup. Tanpa menerima Yesus, seseorang tetap berada di bawah kendali si jahat.

Menerima Yesus berarti menerima pikiran dan perasaan-Nya. Seseorang yang telah bertobat dari dosa-dosa lahiriah—seperti mencuri, membunuh, berzina, bersekutu dengan kuasa gelap, atau menjalankan praktik hidup yang tidak benar—harus mengisi jiwanya dengan pikiran dan perasaan Kristus. Jika pikiran dan perasaan lama tidak digantikan dengan pikiran dan perasaan Yesus, maka seseorang justru berpotensi menjadi lebih jahat. Mengapa demikian? Karena ia merasa telah beragama dan tidak melakukan kesalahan moral yang tampak, padahal sesungguhnya ia masih hidup dalam keinginan daging, keinginan mata, dan keangkuhan hidup. Semua itu dijalani dalam balutan agama, sehingga ia merasa dirinya benar. Keadaan ini dapat dianalogikan seperti seseorang yang tidak mengonsumsi antibiotik secara tuntas. Akibatnya, penyakit tersebut menjadi resisten dan jauh lebih sulit disembuhkan daripada sebelumnya.

Oleh karena itu, kita perlu menyadari bahwa kesetiaan kepada Tuhan tidak cukup dibuktikan dengan tidak berpindah agama. Seseorang yang sungguh menerima Yesus harus berjuang untuk memiliki pikiran dan perasaan Kristus. Ketika pikiran dan perasaan Kristus menguasai hidup kita, diri kita menjadi “rumah yang bertuan”, sehingga si jahat tidak memiliki kuasa atas kita. Sebaliknya, apabila seseorang merasa bahwa memiliki pikiran dan perasaan Kristus bukanlah sesuatu yang mendesak, dan ia masih merasa berhak sepenuhnya atas dirinya sendiri, maka patut diduga bahwa ia sedang menjadi seperti rumah yang tidak bertuan—rumah yang berpotensi kembali didiami oleh tujuh roh yang lebih jahat.

Tuhan Yesus memberkati

KESELAMATAN HARUS DIISI DENGAN MENERIMA YESUS SEBAGAI TUAN HIDUP. TANPA MENERIMA YESUS, SESEORANG TETAP BERADA DI BAWAH KENDALI SI JAHAT.

Card image
KIDS DAILY DEVOTIONAL 01 April 2026 - HATI-HATI MENJAGA HATI
2026-04-03 16:05:28


Amsal 4:23
“Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan.”

Tahukah kamu, Rehobot Kids, bahwa hati kita itu sangat penting? Hati adalah tempat perasaan dan pikiran kita. Dari hati bisa keluar kata-kata yang baik, tetapi juga bisa keluar kata-kata yang tidak baik. Karena itu, Tuhan mau kita belajar menjaga hati kita setiap hari.

Menjaga hati berarti tidak membiarkan perasaan buruk tinggal lama di dalam hati. Misalnya saat melihat teman punya mainan baru lalu merasa iri, atau saat dimarahi lalu merasa marah. Perasaan seperti itu bisa datang, tetapi kita tidak boleh memeliharanya terus-menerus.

Bayangkan hati kita seperti sebuah taman. Kalau kita menanam bunga yang indah, taman itu akan terlihat cantik dan menyenangkan. Tapi kalau kita membiarkan rumput liar tumbuh, taman akan menjadi berantakan. Begitu juga dengan hati kita. Jika hati diisi dengan kasih, syukur, dan kebaikan, hidup kita akan terasa damai dan menyenangkan.

Amsal 4:23 mengingatkan kita bahwa hidup kita dipengaruhi oleh apa yang ada di dalam hati kita. Jadi, Rehobot Kids, yuk belajar menjaga hati untuk Tuhan. Saat perasaan tidak baik datang, berdoalah dan minta Tuhan menolongmu. Hati yang dijaga akan membawa hidup yang baik, penuh damai, dan menyenangkan hati Tuhan.

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 01 April 2026 (English Version) - SLOW DOWN YOUR ANGER
2026-04-03 15:55:58


Proverbs 14:29
“Whoever is patient has great understanding, but one who is quick-tempered displays folly.”

Anger is human. Disappointment, offense, and frustration are real emotions—especially when we feel misunderstood, underestimated, or treated unfairly. The problem is not the emotion itself, but how quickly we react to it.

Proverbs 14:29 reminds us that those who are quick-tempered often act without wisdom. Hasty reactions can hurt others, damage relationships, and leave regret behind. On the other hand, patience creates space to think clearly, understand the situation, and respond with insight.

God does not ask us to suppress or deny our emotions. Instead, He invites us to slow down our reactions and bring those feelings to Him first. When we pause, pray, and surrender our emotions to God, He helps us respond with love rather than outbursts of anger.

Slowing down your anger is not a sign of weakness—it is a mark of spiritual maturity. That is where God works—shaping a calm heart, wise responses, and a life that honors Him.

WHAT TO DO?
1. When anger rises, pause and take a breath—don’t react immediately.
2. Bring your feelings to God in prayer before speaking or acting.
3. Choose responses that build up, not ones that simply release momentary emotion.

BIBLE MARATHON:
Romans 3

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 01 April 2026 - SLOW DOWN YOUR ANGER
2026-04-03 15:52:17


Amsal 14:29
“Orang yang sabar besar pengertiannya, tetapi siapa cepat marah membesarkan kebodohan.”

Marah itu manusiawi. Kecewa, tersinggung, dan kesal adalah emosi yang nyata, terutama saat kita merasa tidak dimengerti, diremehkan, atau diperlakukan tidak adil. Masalahnya bukan pada emosinya, melainkan pada seberapa cepat kita bereaksi terhadap emosi tersebut.

Amsal 14:29 mengingatkan bahwa orang yang cepat marah sering bertindak tanpa hikmat. Reaksi yang tergesa-gesa bisa melukai orang lain, merusak relasi, dan meninggalkan penyesalan. Sebaliknya, kesabaran memberi ruang untuk berpikir jernih, memahami situasi, dan merespons dengan pengertian.

Tuhan tidak meminta kita menekan atau menyangkal emosi. Ia mengundang kita untuk memperlambat reaksi dan membawa perasaan itu kepada-Nya terlebih dahulu. Saat kita berhenti sejenak, berdoa, dan menyerahkan emosi kita kepada Tuhan, Dia menolong kita merespons dengan kasih, bukan dengan ledakan amarah.

Memperlambat kemarahan bukan tanda kelemahan, tetapi tanda kedewasaan rohani. Di situlah Tuhan bekerja—membentuk hati yang tenang, respons yang bijak, dan hidup yang memuliakan-Nya.

WHAT TO DO?
1. Saat amarah muncul, berhenti sejenak dan tarik napas—jangan langsung bereaksi.
2. Bawa perasaanmu kepada Tuhan dalam doa sebelum berbicara atau bertindak.
3. Pilih respons yang membangun, bukan yang melampiaskan emosi sesaat.

BIBLE MARATHON:
Roma 3

Card image
Renungan Pagi - 01 April 2026
2026-04-02 21:58:13


Sekedar menjadi kristen berbeda dengan ketika kita menyadari kasih sayang Tuhan, kalau sekedar beragama kristen, maka tentunya biasa-biasa saja, karena bisa menyebut diri sebagai kristen tetapi dosa tetap saja dilakukan.

Tetapi waktu menyadari kasih sayang Tuhan, maka pasti kita hanya punya kerinduan untuk bagaimana supaya bisa menyenangkan hati Tuhan, pasti mau meninggalkan segala sesuatu yang merusak hidup dan hari depan, itulah sebabnya kita harus berjalan dalam kebenaran dan kekudusan.

Card image
Quote Of The Day - 01 April 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-04-02 21:55:54


Kita harus jadi penjaga kebenaran dengan cara mengenakan hidup-Nya Tuhan Yesus.

Card image
Mutiara Suara Kebenaran - 01 April 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-04-02 21:54:15


Perjuangan iman menuntut lebih dari sekadar niat. Ia membutuhkan kerendahan hati untuk disiplin dan ketekunan untuk tetap berdiri saat dunia mencoba menarik kita kembali.

Card image
WORLD'S POISON - 01 April 2026 (English Version)
2026-04-02 21:52:18


One thing we must realize and admit is that we are people who have been poisoned. If our bodies have consumed a lot of unhealthy food, breathed polluted air, and drunk unhealthy beverages, they will be poisoned by many toxic substances that enter them. The same is true of our souls. What enters and fills our souls determines the quality of those souls. An unhealthy soul will surely produce poor character; it cannot have the character God desires. Thoughts and feelings that have been heavily poisoned by the world will damage a person’s character or be of low quality.

In Philippians 2:5–8, God’s Word tells us to have the mind and feelings of Christ. That means we carry out the Father’s will. To be able to do the Father’s will requires a clean mind, clean feelings, and a healthy soul. However, if someone’s soul is full of poison — in which are contained thoughts and feelings — then it is impossible for them to have the ability to act and behave like Jesus. From childhood, from an early age, our souls have absorbed and consumed unhealthy spiritual food, or even more unhealthy things.

Indeed, there are people who, from childhood, were taught to know God, taken to Sunday School, taught to pray before sleeping, and who heard Bible stories. But when, during the process of growing up, they encounter various life experiences, hear and see many things that poison their souls, they eventually become ruined. From childhood, we have absorbed ways of life inherited from our ancestors and from the surrounding environment.

Salvation in Jesus Christ is intended to make our souls healthy, free from the poisons that harm us. The purpose is so that we have the Father’s character, that is, to be perfect like the Father. In other words, to have holiness and the ability to be of one mind and one feeling with God. Yet *many people do not realize their condition of having been poisoned by the world, so they do not make an effort to cleanse the poisons within themselves.* In 1 Peter 1:16, God’s Word says, “Be holy, for I am holy.” Holiness is not merely the state of not doing wrong, but the ability to understand God’s will in all things and to do it according to what God desires. If someone still harbors much poison within, they will not have the sensitivity to understand God’s will; they become dull and insensitive. But in verse 18 it is written, “For you know that you were ransomed from the futile ways inherited from your forefathers, not with perishable things such as silver or gold, but with the precious blood of Christ…” Many people feel that because the blood of Jesus has redeemed them, everything is finished; they feel they are already redeemed children. Notice this phrase: “ransomed from your futile way of life.” The problem is that many people do not realize that they must strive to leave the lifestyle inherited from their ancestors. Verse 17 says, “Since you call on a Father who judges impartially according to each one’s deeds, live your time as foreigners here in reverent fear.” That means God will judge and evaluate our deeds. Certainly, if someone still harbors much poison as a result of inheriting a futile way of life from their parents, then their deeds cannot possibly align with what God desires. In 1 Peter 1:13, it is written, “Therefore prepare your minds for action, be sober-minded, and set your hope fully on the grace to be brought to you at the revelation of Jesus Christ.” The mind points to thought. *When we still expect happiness from sources other than encountering God, that is poison.* It means we are still poisoned. A person who does not long for God is actually a traitor. Yet in His patience, God still allows us to change. *If someone does not long for fellowship with God, it is certain that they have no faithfulness.* The Lord Jesus bless you?

Card image
RACUN DUNIA - 01 April 2026
2026-04-02 21:49:36


Satu hal yang harus kita sadari dan kita akui ialah bahwa kita adalah orang-orang yang sudah keracunan. Jika tubuh kita telah mengonsumsi banyak makanan yang tidak sehat, menghirup udara kotor, serta meminum minuman yang tidak sehat, maka tubuh kita akan teracuni oleh banyak zat beracun yang masuk ke dalamnya. Demikian juga dengan jiwa kita. Apa yang masuk dan mengisi jiwa kita menentukan kualitas jiwa itu sendiri. Jiwa yang tidak sehat pasti menghasilkan karakter yang buruk; tidak mungkin memiliki karakter seperti yang Tuhan kehendaki. Pikiran dan perasaan manusia yang telah banyak diracuni oleh dunia akan membuat karakter seseorang menjadi rusak atau berkualitas rendah.

Di dalam Filipi 2:5–8, firman Tuhan mengatakan agar kita memiliki pikiran dan perasaan Kristus. Artinya, kita melakukan kehendak Bapa. Untuk dapat melakukan kehendak Bapa, dibutuhkan pikiran yang bersih, perasaan yang bersih, dan jiwa yang sehat. Namun, apabila jiwa seseorang penuh dengan racun—yang di dalamnya terdapat pikiran dan perasaan—maka tidak mungkin ia memiliki kemampuan untuk bertindak dan berperilaku serupa dengan Yesus. Sejak kecil, sejak masa kanak-kanak, jiwa kita telah menyerap dan mengonsumsi makanan jiwa yang tidak sehat, atau bahkan lebih banyak yang tidak sehat.

Memang ada orang-orang yang sejak kecil sudah diajar mengenal Tuhan, dibawa ke Sekolah Minggu, diajar berdoa sebelum tidur, serta mendengar cerita-cerita dari Alkitab. Namun, ketika dalam proses pertumbuhan mereka memasuki berbagai pengalaman hidup, mendengar, melihat, dan mengalami banyak hal yang membuat jiwanya teracuni, akhirnya mereka pun menjadi rusak. Sejak kanak-kanak, kita telah menyerap cara hidup yang kita warisi dari nenek moyang, juga dari lingkungan sekitar.

Keselamatan dalam Yesus Kristus dimaksudkan agar jiwa kita menjadi sehat, tanpa racun-racun yang memengaruhi kesehatannya. Tujuannya ialah supaya kita memiliki karakter seperti Bapa, yaitu sempurna seperti Bapa. Dengan kata lain, memiliki kesucian dan kemampuan untuk sepikiran serta seperasaan dengan Allah. Namun, banyak orang tidak menyadari keadaan dirinya yang telah diracuni oleh dunia, sehingga mereka tidak melakukan usaha untuk membersihkan racun-racun yang ada di dalam diri mereka.

Di dalam 1 Petrus 1:16, firman Tuhan mengatakan, “Kuduslah kamu, sebab Aku kudus.” Kekudusan bukan sekadar keadaan tidak berbuat salah, melainkan kemampuan untuk mengerti kehendak Allah dalam segala hal dan melakukannya sesuai dengan apa yang Allah kehendaki. Jika seseorang masih menyimpan banyak racun di dalam dirinya, ia tidak akan memiliki kepekaan untuk mengerti kehendak Allah; ia menjadi bodoh dan tidak sensitif.

Namun, pada ayat 18 tertulis, “Sebab kamu tahu, bahwa kamu telah ditebus dari cara hidupmu yang sia-sia, yang kamu warisi dari nenek moyangmu itu, bukan dengan barang yang fana, bukan pula dengan perak atau emas, melainkan dengan darah yang mahal, yaitu darah Kristus sebagai Anak Domba yang tak bernoda dan tak bercacat.” Banyak orang merasa bahwa karena dirinya sudah ditebus oleh darah Yesus, maka semuanya sudah selesai; ia merasa sudah menjadi anak tebusan. Perhatikan kalimat ini: “ditebus dari cara hidupmu yang sia-sia.” Masalahnya ialah banyak orang tidak menyadari bahwa ia harus berusaha meninggalkan cara hidup yang diwarisi dari nenek moyang.

Ayat 17 mengatakan, “Dan jika kamu menyebut-Nya Bapa, yaitu Dia yang tanpa memandang muka menghakimi semua orang menurut perbuatannya, maka hendaklah kamu hidup dalam ketakutan selama kamu menumpang di dunia ini.” Artinya, Allah akan menghakimi dan menilai perbuatan kita. Tentu, jika seseorang masih menyimpan banyak racun akibat mewarisi cara hidup yang sia-sia dari orang tua, maka perbuatannya tidak mungkin sesuai dengan apa yang Allah kehendaki.

Dalam 1 Petrus 1:13 tertulis, “Sebab itu siapkanlah akal budimu, waspadalah dan letakkanlah pengharapanmu seluruhnya pada kasih karunia yang dianugerahkan kepadamu pada waktu penyataan Yesus Kristus.” Akal budi menunjuk pada pikiran. Ketika kita masih mengharapkan kebahagiaan dari sumber lain selain perjumpaan dengan Tuhan, itu adalah racun. Berarti kita masih keracunan. Orang yang tidak merindukan Tuhan sesungguhnya adalah orang yang berkhianat. Namun, dalam kesabaran-Nya, Tuhan masih memberikan kesempatan kepada kita untuk berubah. Jika seseorang tidak merindukan perjumpaan dengan Tuhan, dapat dipastikan bahwa ia tidak memiliki kesetiaan.

Tuhan Yesus memberkati

KETIKA KITA MASIH MENGHARAPKAN KEBAHAGIAAN DARI SUMBER LAIN SELAIN PERJUMPAAN DENGAN TUHAN, ITU ADALAH RACUN.

Card image
KIDS DAILY DEVOTIONAL 31 Maret 2026 - BESERTAKU SELAMANYA
2026-04-02 12:39:45


Yesaya 12:2
“Sungguh, Allah itu keselamatanku; aku percaya dengan tidak gementar, sebab TUHAN ALLAH itu kekuatanku dan mazmurku, Ia telah menjadi keselamatanku.”

Rehobot Kids, sudah sebulan ini kita belajar bersama bahwa Tuhan selalu menyertai kita. Bagaimana kabar kalian hari ini? Semoga hati kalian tetap kuat, tenang, dan penuh sukacita karena berjalan bersama Tuhan setiap hari.

Apa pun keadaan kita sekarang—senang, sedih, takut, atau bingung—ingatlah bahwa Tuhan selalu dekat. Tuhan melihat kita, menjaga kita, dan menolong kita dalam setiap langkah hidup kita. Saat kita bersama Tuhan, Dia memberi keberanian, ketenangan, dan pengharapan yang baru sehingga kita tidak perlu kawatir.

Firman Tuhan hari ini mengingatkan bahwa Tuhan adalah keselamatan kita. Kita bisa percaya penuh kepada-Nya tanpa rasa gentar. Tuhan adalah kekuatan kita dan sumber sukacita kita, seperti nyanyian yang menguatkan hati. Saat kita mengandalkan Tuhan, kita tahu bahwa Dia tidak pernah meninggalkan kita.

Jadi, Rehobot Kids, ingatlah selalu: di mana pun kalian berada—di rumah, di sekolah, atau saat bermain—Tuhan selalu menyertai kalian. Tetaplah berjalan bersama Tuhan dan jangan pernah meninggalkanNya, karena Dia setia menyertai kita selama-lamanya.

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 31 Maret 2026 (English Version) - LOVE THAT GOES BEYOND DIFFERENCES*
2026-04-01 21:32:55


“But to you who are listening I say: Love your enemies, do good to those who hate you, bless those who curse you, pray for those who mistreat you.”
Luke 6:27–28

The world often teaches that love is only meant for those who are on the same wavelength—same interests, same habits, same way of thinking. Jesus even reminds us that when everyone speaks well of us, it is not always a sign of truth—it may simply mean we are following the flow of the world. A young person’s spiritual maturity is truly tested when facing people with different views, even those who openly dislike them. That is where Jesus sets a higher standard: not merely tolerating, but loving and praying.

Praying for people who differ from us—especially those who oppose or hurt us—is not easy. Yet this is precisely how God keeps our hearts healthy. When we pray and ask God to bless them, the poison of hatred, bitterness, and the desire to retaliate gradually loses its power. Spiritual maturity is not measured by how smart we are in debates or how many arguments we win, but by how wide our hearts can remain loving in the midst of differences.

Jesus does not call us to be liked by everyone, but to be disciples who reflect His love. When we choose prayer over emotional reactions and love over ego, we live out the character of Christ—a love that does not depend on how others treat us, but flows from the very heart of God.

WHAT TO DO?
1. One-Minute Prayer — Pray for someone you find difficult to accept, asking God to bless them.
2. Hold Your Reaction — When attacked, choose prayer instead of an emotional response.
3. Stay Classy — Show respect even when opinions differ.

BIBLE MARATHON:
Romans 2

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 31 Maret 2026 - KASIH YANG MELAMPAUI PERBEDAAN
2026-04-01 21:31:06


“Tetapi kepada kamu yang mendengarkan Aku, Aku berkata: Kasihilah musuhmu, berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu; mintalah berkat bagi orang yang mengutuk kamu; berdoalah bagi orang yang mencaci kamu.”
Lukas 6:27–28

Dunia sering mengajarkan bahwa kasih hanya layak diberikan kepada mereka yang satu frekuensi, satu hobi, atau satu pemikiran dengan kita. Bahkan Yesus mengingatkan bahwa ketika semua orang memuji kita, itu belum tentu tanda kebenaran—bisa jadi kita hanya sedang mengikuti arus dunia. Kedewasaan rohani seorang anak muda justru diuji saat ia berhadapan dengan orang yang berbeda pandangan, bahkan dengan mereka yang terang-terangan tidak menyukainya. Di situlah Yesus menetapkan standar yang tinggi: bukan sekadar menoleransi, tetapi mengasihi dan mendoakan.

Mendoakan orang yang berbeda pandangan, apalagi yang memusuhi kita, bukan hal mudah. Namun justru itulah cara Tuhan menjaga hati kita tetap sehat. Saat kita berdoa memohon berkat bagi mereka, racun kebencian, sakit hati, dan keinginan untuk membalas perlahan kehilangan kuasanya. Kedewasaan rohani bukan diukur dari seberapa pintar kita berdebat atau memenangkan argumen, tetapi dari seberapa luas kapasitas hati kita untuk tetap mengasihi di tengah perbedaan.

Yesus tidak memanggil kita untuk menjadi orang yang selalu disukai, tetapi menjadi murid yang mencerminkan kasih-Nya. Ketika kita memilih doa daripada reaksi emosional, dan kasih daripada ego, kita sedang hidup dalam karakter Kristus—kasih yang tidak bergantung pada perlakuan orang lain, tetapi bersumber dari hati Allah sendiri.

WHAT TO DO? 1. Doa 1 Menit – Doakan orang yang sulit kamu terima agar Tuhan memberkatinya.
2. Tahan Reaksi – Saat diserang, pilih doa daripada balasan emosional.
3. Tetap Berkelas – Hormati orang lain meski berbeda pandangan.

BIBLE MARATHON:
Roma 2

Card image
Renungan Pagi - 31 Maret 2026
2026-04-01 21:17:05


Konsep bahwa hidup kristen itu tidak akan diganggu oleh iblis ini keliru, sebab Alkitab berkata lawanmu si iblis sama seperti singa yang berkeliling untuk mencari orang yang dapat ditelannya.

Jadi semua akan diganggu tetapi hanya orang yang tidak siap dan yang tidak berjaga-jaga itu dapat ditelannya.

Hidup kristen itu diganggu oleh iblis tetapi tidak akan dapat dikalahkan sebab roh yang ada dalam kita lebih besar dari pada roh yang ada di dalam dunia ini.

Card image
Renungan Pagi - 31 Maret 2026
2026-04-01 21:14:29


Konsep bahwa hidup kristen itu tidak akan diganggu oleh iblis ini keliru, sebab Alkitab berkata lawanmu si iblis sama seperti singa yang berkeliling untuk mencari orang yang dapat ditelannya.

Jadi semua akan diganggu tetapi hanya orang yang tidak siap dan yang tidak berjaga-jaga itu dapat ditelannya.

Hidup kristen itu diganggu oleh iblis tetapi tidak akan dapat dikalahkan sebab roh yang ada dalam kita lebih besar dari pada roh yang ada di dalam dunia ini.

Card image
Quote Of The Day - 31 Maret 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-04-01 21:13:28


Manusia yang ber-Tuhan pasti memperkarakan dirinya di hadapan Tuhan.

Card image
Mutiara Suara Kebenaran - 31 Maret 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-04-01 21:07:22


Tidak ada kehidupan yang lebih indah daripada kehidupan yang diubahkan menjadi anak-anak Allah yang mampu menyenangkan hati-Nya.

Card image
PROVING THAT GOD IS ALIVE - 31 Maret 2026 (English Version)
2026-04-01 21:06:37


If we reflect, we are children of God who possess the universe—trillions of galaxies, each with hundreds of billions of stars or suns, and each sun with many planets—all of which show that all power is in the Father’s hands. What then do we lack? What are we seeking in this life? What is the value of fleeting earthly wealth and pleasure? Let the church not become merely a religious activity that fails to truly motivate people to encounter God, because its leaders have not encountered Him. Being able to preach, lead an organization, and carry out ministry can continue—especially in a religious society like Indonesia, where being religious is seen as an obligation or necessity, and God is often positioned as a means to obtain physical blessings.

Praise God if He awakens us so that today we can change and choose to follow the Lord Jesus rightly. Let us seek and experience God. Let us challenge ourselves: if we believe God is alive, we must experience Him concretely. The Lord allows various struggles and heavy problems, but through them He teaches us to prove that He is alive. When we dare to give up fleshly pleasures—though our fleshly mind resists; when we commit not to look back and not to long for the world—there will be something we feel is lost within us. Yet precisely there we prove that our God is alive, when He replaces everything with joy and peace that surpasses all understanding—experiences that cannot be explained but must be personally lived.

Many questions are not easily answered. But if God is alive, He can speak. If God promises to be with us until the end of the age, and that promise is given in the context of Jesus’ command, “make disciples of all nations,” then He can teach us. Let us question this honestly and be willing to hear His truths directly from the Great Teacher. We will experience God supplying wisdom that never runs dry. Therein we prove that our God is alive.

Walking with the Lord—living in daily encounter with Him—makes the fog before our eyes seem to lift so we can see the Kingdom of Heaven by faith. Encountering God makes us content to sit at His feet for hours, even when He seems unresponsive. We know He is most glorious and has the right to act as He does, and we must feel worthy to be treated thus. We can sit quietly for hours, even if God seems not to respond, yet remain at ease in His presence, saying to Him, “Lord, I believe in You.”

Each of us must learn. This is not only for clergy or pastors. Every Christian must learn, for each of us is a child of God who will inherit the Kingdom of Heaven and glory with our Lord Jesus Christ. Encountering God makes us willing to suffer and to do anything for God’s pleasure. We long for achievements whose value endures when we close our eyes. Imagine someone who lives unpleasing to God and is then called into eternity—this is no five- or ten-year penalty that can be reduced, but eternity separated from God forever. We must fear that.

Nothing we possess in this world truly matters. We are God’s children who will inherit glory with Jesus. That hope sanctifies—and it is true. Jesus said, “Do not rejoice because you can cast out demons or perform miracles; rejoice because your name is written in the Book of Life and you will inherit the Kingdom of God.” If we truly grasp the hope contained in our calling, we will be willing to leave everything. Yet many do not dare. They excuse themselves, “Others do it too—what harm if I do as well?” or “Just this once, next time I won’t.” In the end, they never truly break free from those sins.

We must dare to leave the love of the world. Encountering God will lead us to true Christianity—not merely a religion but a way of life: how we live as God’s children, and God as our Father. There is no life more beautiful than a life transformed into children of God who can delight His heart.

We must dare to leave worldly affection. Encountering God will lead us to true Christianity—not merely a religion but a way of life: how we live as God’s children, and God as our Father. There is no life more beautiful than a life transformed into children of God who can delight His heart.

The Lord Jesus bless you

THE LORD ALLOWS VARIOUS STRUGGLES AND HEAVY PROBLEMS, BUT THROUGH THEM HE TEACHES US TO PROVE THAT HE IS ALIVE.

Card image
MEMBUKTIKAN BAHWA DIA HIDUP - 31 Maret 2026
2026-04-01 07:27:19


Kalau kita renungkan, kita menjadi anak-anak Allah yang memiliki jagat raya—memiliki triliunan galaksi, di mana setiap galaksi memiliki ratusan miliar bintang atau matahari, dan setiap matahari memiliki banyak planet—yang semuanya menunjukkan bahwa segala kuasa ada di tangan Bapa. Lalu, kita kurang apa lagi? Kita mau mencari apa dalam hidup ini? Apalah artinya kekayaan dan kesenangan dunia yang sesaat? Jangan sampai gereja menjadi sekadar aktivitas keagamaan yang tidak benar-benar memotivasi orang untuk mengalami perjumpaan dengan Allah, karena para pemimpinnya sendiri tidak mengalami perjumpaan dengan Allah. Cakap berkhotbah, mampu memimpin organisasi, dan pelayanan bisa tetap berlangsung. Apalagi di Indonesia, yang masyarakatnya religius. Ber-Tuhan dianggap sebagai kewajiban, bahkan kebutuhan, karena Tuhan sering diposisikan sebagai sarana untuk meraih berbagai berkat jasmani.

Puji Tuhan, jika kita disadarkan oleh Tuhan, sehingga hari ini kita bisa berubah dan memilih untuk mengikut Tuhan Yesus dengan benar. Ayo, kita mengalami dan mencari Tuhan. Mari kita menantang diri kita sendiri: jika kita percaya bahwa Allah itu hidup, maka kita harus mengalami Dia secara nyata. Tuhan mengizinkan berbagai pergumulan dan persoalan yang berat, tetapi melalui semuanya itu kita diajar untuk membuktikan bahwa Dia hidup. Ketika kita berani menanggalkan kesenangan daging—walaupun pikiran daging kita tidak rela; ketika kita berani berkomitmen untuk tidak menoleh ke belakang dan tidak mengingini dunia—akan ada sesuatu yang terasa hilang dalam diri kita. Namun justru di situlah kita membuktikan bahwa Allah kita hidup, ketika Ia menggantikan semuanya dengan sukacita dan damai sejahtera yang melampaui segala akal, yang tidak dapat dijelaskan selain harus dialami sendiri.

Banyak pertanyaan memang tidak mudah terjawab. Tetapi jika Allah itu hidup, Allah dapat berbicara. Jika Allah berjanji menyertai kita sampai kesudahan zaman, dan janji itu diberikan dalam konteks perintah Yesus, “jadikan semua bangsa murid-Ku,” maka itu berarti Dia sanggup mengajar kita. Mari kita mempersoalkan hal itu, kita mempertanyakannya dengan jujur, dan kita mau mendengar langsung dari Sang Guru Agung kebenaran-kebenaran-Nya. Kita akan merasakan bagaimana Tuhan memberikan hikmat yang tidak pernah kering. Dan di situlah kita membuktikan bahwa Allah kita hidup.

Perjalanan bersama Tuhan—hidup dalam perjumpaan dengan Tuhan setiap hari—membuat kabut di depan mata kita seolah-olah tersingkap, sehingga kita dapat melihat Kerajaan Surga dengan iman. Perjumpaan dengan Allah membuat kita betah duduk berjam-jam di kaki Tuhan, sekalipun Allah seakan-akan tidak merespons kita. Namun kita tahu bahwa Dia Mahamulia dan berhak memperlakukan kita demikian, dan kita pun harus merasa pantas diperlakukan seperti itu. Kita dapat duduk diam berjam-jam, walaupun Allah seakan-akan tidak memberikan respons apa pun, tetapi kita tetap betah berada di hadapan-Nya. Lalu kita berkata kepada-Nya, “Tuhan, aku percaya kepada-Mu.”

Setiap kita harus belajar. Ini bukan hanya untuk rohaniwan atau pendeta. Setiap orang Kristen harus belajar, sebab setiap kita adalah anak-anak Allah yang akan mewarisi Kerajaan Surga dan kemuliaan bersama Tuhan kita, Yesus Kristus. Perjumpaan dengan Allah membuat kita rela menderita dan rela melakukan apa pun demi kesukaan Allah. Kita rindu memiliki prestasi yang tinggi—prestasi yang ketika kita menutup mata, nilainya bersifat kekal. Bayangkan jika seseorang hidup dalam keadaan yang belum atau tidak berkenan kepada Allah, lalu dipanggil ke dalam kekekalan. Itu bukan hukuman lima atau sepuluh tahun yang bisa mendapat pengurangan, melainkan kekekalan di mana seseorang terpisah dari Allah selama-lamanya. Kita harus takut akan hal itu.

Tidak ada artinya apa pun yang kita miliki di dunia ini. Kita adalah anak-anak Allah yang akan mewarisi kemuliaan bersama dengan Yesus. Pengharapan itu menguduskan—dan itu benar. Yesus berkata, “Jangan bersukacita karena kamu dapat mengusir setan atau mengadakan mukjizat; bersukacitalah karena namamu tertulis dalam Kitab Kehidupan dan kamu mewarisi Kerajaan Allah.” Jika kita sungguh-sungguh mengetahui pengharapan apa yang terkandung dalam panggilan kita, kita akan rela meninggalkan segala sesuatu. Namun banyak orang tidak berani. Mereka beralasan, “Yang lain juga berbuat demikian. Apa salahnya kalau aku juga melakukannya?” atau “Kali ini saja, nanti lain waktu tidak.” Akhirnya, mereka tidak pernah benar-benar lepas dari dosa-dosa itu.

Kita harus berani meninggalkan percintaan dunia. Perjumpaan dengan Allah akan menggiring kita kepada Kekristenan yang sejati—bukan sekadar agama, melainkan jalan hidup: bagaimana kita hidup sebagai anak-anak Allah, dan Allah sebagai Bapa kita. Tidak ada kehidupan yang lebih indah daripada kehidupan yang diubahkan menjadi anak-anak Allah yang mampu menyenangkan hati-Nya.

Tuhan Yesus memberkati

TUHAN MENGIZINKAN BERBAGAI PERGUMULAN DAN PERSOALAN YANG BERAT, TETAPI MELALUI SEMUANYA ITU KITA DIAJAR UNTUK MEMBUKTIKAN BAHWA DIA HIDUP.

Card image
KIDS DAILY DEVOTIONAL 30 Maret 2026 - BESERTAKU SELAMANYA
2026-04-01 07:24:47


Yesaya 12:2
“Sungguh, Allah itu keselamatanku; aku percaya dengan tidak gementar, sebab TUHAN ALLAH itu kekuatanku dan mazmurku, Ia telah menjadi keselamatanku.”

Rehobot Kids, sudah sebulan ini kita belajar bersama bahwa Tuhan selalu menyertai kita. Bagaimana kabar kalian hari ini? Semoga hati kalian tetap kuat, tenang, dan penuh sukacita karena berjalan bersama Tuhan setiap hari.

Apa pun keadaan kita sekarang—senang, sedih, takut, atau bingung—ingatlah bahwa Tuhan selalu dekat. Tuhan melihat kita, menjaga kita, dan menolong kita dalam setiap langkah hidup kita. Saat kita bersama Tuhan, Dia memberi keberanian, ketenangan, dan pengharapan yang baru sehingga kita tidak perlu kawatir.

Firman Tuhan hari ini mengingatkan bahwa Tuhan adalah keselamatan kita. Kita bisa percaya penuh kepada-Nya tanpa rasa gentar. Tuhan adalah kekuatan kita dan sumber sukacita kita, seperti nyanyian yang menguatkan hati. Saat kita mengandalkan Tuhan, kita tahu bahwa Dia tidak pernah meninggalkan kita.

Jadi, Rehobot Kids, ingatlah selalu: di mana pun kalian berada—di rumah, di sekolah, atau saat bermain—Tuhan selalu menyertai kalian. Tetaplah berjalan bersama Tuhan dan jangan pernah meninggalkanNya, karena Dia setia menyertai kita selama-lamanya.

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 30 Maret 2026 (English Version) - PRAYER IN THE MIDST OF DIFFERENCES
2026-03-31 23:39:49


“But I tell you, love your enemies and pray for those who persecute you.”
Matthew 5:44

Differences of opinion often cause young people to react quickly. A small offense leads to distancing. Feeling out of sync results in silence or broken relationships. Yet spiritual maturity is not measured by how strongly we defend ourselves, but by our ability to keep loving and praying—even for those who do not share our views.

The story of Huldah (2 Kings 22:14–20) offers a profound lesson. When King Josiah discovered the Book of the Law and sought to confirm God’s will, he sent leaders to consult Huldah. She stood before influential figures with authority and possibly differing perspectives. Yet Huldah did not fear, attack, or withdraw. She delivered God’s word firmly, honestly, and obediently—without losing love. She stood in truth while keeping a heart fully submitted to God.

From Huldah, we learn that differences in position, perspective, or background should never be a reason to cut off relationships. In fact, this is where Christlike character is tested: can we love without having to agree, and pray without needing to win the debate? Pausing, listening with an open heart, and then bringing those differences before God in prayer are marks of spiritual maturity.

Loving and praying for those who differ from us is not easy. But that is the path Jesus taught. When we choose prayer over emotional reactions and love over ego, we show that the peace of Christ is stronger than any difference.

WHAT TO DO?
1. When facing someone with a different perspective, pause and choose to listen first.
2. Pray for them—not to “change” their views, but that God’s love would be evident in their lives.
3. Remember Huldah: speak the truth with love, not with anger.

BIBLE MARATHON:
Romans 1

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 30 Maret 2026 - DOA DI TENGAH PERBEDAAN
2026-03-31 23:37:36


“Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.” Matius 5:44
Perbedaan pendapat sering membuat anak muda cepat bereaksi. Sedikit tersinggung, langsung menjauh. Merasa tidak sejalan, lalu memilih diam atau memutus relasi. Padahal, kedewasaan rohani tidak diukur dari seberapa keras kita membela diri, melainkan dari kemampuan kita tetap mengasihi dan berdoa, bahkan bagi mereka yang tidak sepemikiran dengan kita.

Kisah Hulda (2 Raja-Raja 22:14–20) memberi pelajaran yang dalam. Saat Raja Yosia menemukan kitab Taurat dan ingin memastikan kehendak Tuhan, ia mengutus para pemimpin untuk bertanya kepada Hulda. Hulda berhadapan dengan tokoh-tokoh besar yang memiliki kuasa dan kemungkinan pandangan berbeda. Namun Hulda tidak takut, tidak menyerang, dan tidak menghindar. Ia menyampaikan firman Tuhan dengan tegas, jujur, dan taat—tanpa kehilangan kasih. Ia berdiri dalam kebenaran, tetapi tetap menjaga hati yang tunduk kepada Tuhan.

Dari Hulda kita belajar bahwa perbedaan posisi, pandangan, atau latar belakang tidak boleh menjadi alasan untuk memutus relasi. Justru di situlah karakter Kristus diuji: apakah kita mampu mengasihi tanpa harus menyetujui, dan mendoakan tanpa harus menang debat. Diam sejenak, mendengar dengan hati terbuka, lalu membawa perbedaan itu dalam doa adalah tanda kedewasaan rohani.

Mengasihi dan mendoakan orang yang berbeda dengan kita memang tidak mudah. Tapi itulah jalan yang Yesus ajarkan. Ketika kita memilih doa daripada reaksi emosional, kasih daripada ego, kita sedang menunjukkan bahwa damai Kristus lebih kuat daripada perbedaan apa pun.

WHAT TO DO?
1. Saat berhadapan dengan orang yang berbeda pandangan, berhenti sejenak dan pilih untuk mendengar dulu.
2. Doakan mereka, bukan untuk “mengubah” pandangan mereka, tetapi agar kasih Tuhan nyata dalam hidup mereka.
3. Ingat Hulda: sampaikan kebenaran dengan kasih, bukan dengan amarah.

BIBLE MARATHON:
Roma 1

Card image
Renungan Pagi - 30 Maret 2026
2026-03-31 23:35:30


Kalau dusta sudah terjadi dalam keluarga, maka ini adalah situasi yang mengerikan, suami berdusta kepada isterinya, isteri berdusta kepada suaminya, orang tua berdusta kepada anak-anaknya dan akhirnya anak-anak berdusta kepada orang tuanya.

Kita dapat melihat kalau basic keluarga saja sudah saling terjadi dusta, maka ini sangat mengerikan, karena tempat pembelajaran pertama dalam hidup manusia adalah keluarga dan kalau keluarga penuh dengan dusta dan saling mendustai, maka ini artinya keluarga itu sedang sakit.

Card image
Quote Of The Day - 30 Maret 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-03-31 19:41:34


Pembenaran diri melakukan ini dan itu dengan alasan bahwa keselamatan bukan karena perbuatan baik adalah bentuk lain dari orang yang menghindari diri berjuang menjadi sempurna.

Card image
Mutiara Suara Kebenaran - 30 Maret 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-03-31 19:40:24


Keluarga menjadi kokoh ketika setiap anggotanya belajar menyangkal ego, saling mengampuni, dan bersama-sama mencari kehendak Tuhan.

Card image
PORTRAYING THE LIFE OF CHRIST - 30 Maret, 2026 (English Version)
2026-03-31 19:37:31


Today, we scarcely find people who resemble Jesus. This is a great challenge for us— theologians, church leaders, and Christian congregations—who are called to be witnesses in society. How do we testify that Jesus is Savior? That salvation happens through the transformation of our character and disposition, when we are restored to God’s original design. Therefore, we must dare to live out of the ordinary. We must dare to live unnaturally compared to others who are not the chosen. If we still use the ways of Christians from 400–500 years ago, with doctrines that are still maintained and fiercely defended today, we will not be able to face a world that has become very wicked. We must open our hearts to receive insight, revelation, illumination, or enlightenment from God, so that we may receive a fresh word from God’s heart to confront the increasingly corrupt influence of the world today.

Again, the failed efforts of Western society and its theologians to save the church and their societies today are both a map and a valuable spiritual lesson for us. Churches led by leaders who only know God from the academic space of seminaries or theological schools have created an atmosphere of Christianity without an encounter with God. Meanwhile, church groups that emphasize the gifts of the Spirit and miracles often fantasize about God without portraying the life of Jesus. In the end, they fall into prosperity theology, so Christianity is offered as a means to solve life’s problems—illness, economic issues, marriage, children, etc. Ironically, Christianity is reduced to a tool for meeting physical needs.

In fact, God uses charismatic churches. The Lord raised the Pentecostal movement to return to what Jesus taught—to return to the early church. But it is not just about speaking in tongues or spiritual gifts; it is about becoming believers who truly deserve to be called Christians because their lives are like Christ’s. That is what is valuable and of quality; that is what is permanent.

We are not to speak in tongues at every moment, but we must portray the life of Jesus at all times so that people call us “Christian.” The early church devoted itself to the apostles’ teaching and was willing to lose property, family, even life for the sake of the Gospel. That is why they were called the triumphant people—more than conquerors compared to those who excel politically, economically, by rank, title, or power. Believers conquer because they cannot be separated from the love of Christ. So the question for us today: by what measure do we judge our victory? Victory over what?

Specifically, for ministers of God, we are most responsible for the current state of Christianity. If Christianity is declining or deviating, then the church, synod leadership, and ministers must be held accountable. For we—pastors, servants of God, and synod officials—are viewed by the congregation as those who represent God in the world and steward His church.

Many congregants still think like adherents of other religions who consider clerics, ulama, or religious leaders as mediators between God and the people. Therefore, if the leaders themselves do not encounter God and possess only theological knowledge, how grievous is the state of the faith of the congregation they lead? When the world is so corrupt, and the congregation lacks spiritual sensitivity to discern truth, it is ultimately dragged into mere religiosity. They do not live in the true Gospel—namely, making Jesus alive in daily life. As a result, many Christians live with the normalcy of the children of the world.

The Lord Jesus bless you
WE MUST PORTRAY THE LIFE OF JESUS AT ALL TIMES SO THAT PEOPLE CALL US “CHRISTIAN.”

Card image
MEMPERAGAKAN KEHIDUPAN KRISTUS
2026-03-31 19:35:19


Di dunia hari ini, nyaris tidak kita temukan manusia yang serupa dengan Yesus. Dan inilah tantangan besar bagi kita—para teolog, para pemimpin gereja, dan juga jemaat Kristen—yang dipanggil untuk menjadi saksi di tengah-tengah masyarakat. Bagaimana kita menyaksikan bahwa Yesus adalah Juru Selamat, Sang Penyelamat? Penyelamatan itu berlangsung melalui perubahan karakter dan watak kita, ketika kita dikembalikan kepada rancangan Allah semula.

Oleh sebab itu, kita harus berani hidup dalam ketidakwajaran. Kita harus berani hidup tidak wajar seperti manusia lain yang bukan umat pilihan. Jika kita masih memakai cara-cara hidup orang Kristen 400–500 tahun lalu dengan doktrin-doktrin yang hingga hari ini tetap dipertahankan, bahkan dibela mati-matian, kita tidak akan mampu menghadapi dunia yang telah menjadi sangat jahat. Kita harus membuka hati untuk mendengar insight, pewahyuan, iluminasi, atau pencerahan dari Allah, agar kita memperoleh firman yang segar dari hati Allah untuk menghadapi pengaruh dunia yang semakin rusak dewasa ini.

Sekali lagi, kehidupan masyarakat dan para teolog Barat yang gagal menyelamatkan gereja dan masyarakatnya hari ini merupakan peta sekaligus pelajaran rohani yang sangat berharga bagi kita. Gereja-gereja yang dipimpin oleh pemimpin yang hanya mengenal Allah dari ruang akademis seminari atau sekolah tinggi teologi telah menciptakan atmosfer Kekristenan tanpa perjumpaan dengan Allah.

Sementara kelompok gereja-gereja yang menekankan karunia-karunia Roh dan mukjizat sering kali hanya berfantasi mengenai Allah tanpa memperagakan kehidupan Yesus. Akhirnya, mereka jatuh ke dalam teologi kemakmuran, sehingga Kekristenan ditawarkan sebagai sarana untuk menyelesaikan persoalan hidup—penyakit, masalah ekonomi, jodoh, anak, dan sebagainya. Ironisnya, Kekristenan direduksi menjadi alat pemenuhan kebutuhan jasmani.

Padahal, sebenarnya Allah memakai gereja-gereja Kharismatik. Tuhan membangkitkan gereja Pentakosta untuk kembali kepada apa yang Tuhan Yesus ajarkan—kembali kepada gereja mula-mula. Namun, bukan sekadar bahasa roh atau karunia Roh saja, melainkan bagaimana mereka menjadi orang percaya yang benar-benar layak disebut Kristen, karena hidupnya seperti Kristus. Inilah yang bernilai dan berkualitas; inilah yang bersifat permanen.

Kita tidak berbicara dalam bahasa roh setiap saat, tetapi kita harus memperagakan kehidupan Yesus setiap saat yang karenanya orang menyebut kita “Kristen.” Jemaat mula-mula bertekun dalam pengajaran rasul-rasul, berani kehilangan harta, keluarga, bahkan nyawa demi Injil. Itulah sebabnya mereka disebut umat pemenang—lebih dari pemenang dibanding mereka yang unggul secara politik, ekonomi, jabatan, gelar, atau kekuasaan. Orang percaya menang karena tidak dapat dipisahkan dari kasih Kristus.

Maka pertanyaannya bagi kita hari ini: ukuran kemenangan kita apa? Menang atas apa? Secara khusus, bagi para hamba Tuhan, kitalah yang paling bertanggung jawab atas keadaan Kekristenan hari ini. Jika Kekristenan semakin merosot atau mengalami penyimpangan, maka gereja, pengurus sinode, dan para hamba Tuhanlah yang harus bertanggung jawab. Sebab kita—para pendeta, hamba Tuhan, dan pengurus sinode—dipandang oleh jemaat sebagai pihak yang mewakili Allah di dunia dan mengelola gereja-Nya.

Banyak jemaat masih memiliki pola pikir seperti penganut agama lain, yang menganggap rohaniwan, ulama, atau pemimpin agama sebagai mediator antara Allah dan umat. Karena itu, jika para pemimpinnya sendiri tidak mengalami perjumpaan dengan Allah dan hanya memiliki pengetahuan teologis semata, betapa rusaknya kehidupan iman jemaat yang dipimpinnya.

Ketika dunia sudah sedemikian rusak, sementara jemaat tidak memiliki kepekaan rohani untuk memahami kebenaran, mereka akhirnya terseret ke dalam kehidupan keberagamaan semata. Mereka tidak hidup dalam Injil yang sejati—yaitu menghidupkan Yesus di dalam kehidupan sehari-hari. Akibatnya, banyak orang Kristen hidup dalam kewajaran anak-anak dunia.

Tuhan Yesus memberkati

KITA HARUS MEMPERAGAKAN KEHIDUPAN YESUS SETIAP SAAT YANG KARENANYA ORANG MENYEBUT KITA “KRISTEN.”

Card image
KIDS DAILY DEVOTIONAL 29 Maret 2026 - DIA PEGANG TANGANKU SELALU
2026-03-30 12:48:01


Mazmur 73:23
“Tetapi aku tetap di dekat-Mu; Engkau memegang tangan kananku.”

Rehobot Kids, mungkin kalian sudah tidak ingat saat pertama kali belajar berjalan. Waktu itu, kaki masih goyah dan mudah jatuh. Karena itu, papa atau mama selalu memegang tangan kita supaya kita tidak terjatuh. Kalau tangan dilepas, kita bisa jatuh dan terluka.

Walaupun kita sudah mulai bisa berjalan sendiri, orang tua tetap memperhatikan dan sering menggenggam tangan kita, apalagi saat berjalan di tempat ramai seperti mal. Mereka ingin kita tetap dekat, aman, dan tidak tersesat. Pegangan tangan itu tanda kasih dan perlindungan.

Rehobot Kids, begitu juga dengan Allah Bapa. Firman Tuhan berkata bahwa Tuhan memegang tangan kita. Artinya, Tuhan selalu dekat dan tidak pernah meninggalkan kita. Sejak kita lahir di dunia Dia terus berjalan bersama kita.

Saat kita takut, sedih, bingung, atau hampir menjauh dari Tuhan, Dia tetap memegang tangan kita dan menuntun kita kembali ke jalan yang benar. Kita aman dalam genggaman kasih-Nya. Yuk, Rehobot Kids, terus berjalan dengan berpegangan tangan bersama Allah Bapa setiap hari ya.

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 29 Maret 2026 - LEARNING TO LET GO OF EGO
2026-03-30 12:46:46


“But Naaman went away angry and said, ‘I thought that he would surely come out to me and stand and call on the name of the LORD his God, wave his hand over the spot and cure me of my leprosy.’”
2 Kings 5:11

Often, we struggle to distinguish between standing firm in our faith and simply defending our personal ego. As young people, we are easily triggered when we feel underestimated, unappreciated, or treated below our expectations. Yet God’s Word reminds us that not everything needs an immediate reaction. There are moments when we need to pause, be still, listen, and reflect with a calm heart.

Naaman is a very relevant example. He was a great commander, accustomed to honor and special treatment. When the prophet Elisha did not welcome him in a grand manner and simply told him to wash in the Jordan River, Naaman was offended. The issue was not the instruction itself, but his ego feeling humiliated. However, when he chose to listen to the advice of his servants and humbled himself, healing took place. In that moment, Naaman learned that faith is far more valuable than fragile pride.

This story teaches us that not everything must be defended at all costs. Principles of faith and truth are indeed worth standing for, but personal ego often becomes the source of conflict and a barrier to God’s blessings. Pausing and listening with humility gives us space to discern the difference.

Learning to let go of ego is not a sign of weakness, but a mark of spiritual maturity. When we choose to listen first and humble our hearts, we create room for God to work. That is where Christ’s love becomes evident—not through the victory of ego, but through a heart willing to be shaped.

WHAT TO DO?
1. Practice holding back your reaction when you feel offended, and ask yourself: Is this a matter of faith or personal ego?
2. Learn to listen to advice from others, even from those who seem simple—just as Naaman listened to his servants.
3. Choose to fight for truth, not pride; let go of things that wound but do not build.

BIBLE MARATHON:
Acts 28

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 29 Maret 2026 - BELAJAR MELEPASKAN EGO
2026-03-30 12:43:28


“Tetapi Naaman menjadi marah dan pergi sambil berkata: ‘Aku sangka, bahwa setidak-tidaknya ia akan keluar dan berdiri memanggil nama TUHAN Allahnya, lalu menggerakkan tangannya di atas tempat penyakit itu dan dengan demikian menyembuhkan penyakit kustaku.’”
2 Raja-Raja 5:11

Sering kali kita sulit membedakan antara mempertahankan prinsip iman dan sekadar membela ego pribadi. Sebagai anak muda, kita mudah tersulut emosi saat merasa diremehkan, tidak dihargai, atau diperlakukan tidak sesuai ekspektasi. Padahal, firman Tuhan mengingatkan bahwa tidak semua hal harus direspons dengan reaksi cepat. Ada momen di mana kita perlu berhenti sejenak, diam, mendengar, dan menimbang dengan hati yang tenang.

Naaman adalah contoh yang sangat relevan. Ia seorang panglima besar, terbiasa dihormati dan diperlakukan istimewa. Ketika nabi Elisa tidak menyambutnya secara megah dan hanya menyuruhnya mandi di Sungai Yordan, Naaman tersinggung. Masalahnya bukan pada perintah itu, tetapi pada egonya yang merasa direndahkan. Namun saat ia mau mendengarkan nasihat para pelayannya dan menurunkan gengsinya, kesembuhan terjadi. Di titik itu, Naaman belajar bahwa iman jauh lebih berharga daripada harga diri yang rapuh.

Kisah ini mengajarkan kita bahwa tidak semua hal harus dipertahankan mati-matian. Prinsip iman dan kebenaran memang layak dibela, tetapi ego pribadi sering kali justru menjadi sumber konflik dan penghalang berkat. Diam sejenak dan mendengar dengan rendah hati memberi kita ruang untuk membedakan keduanya.

Belajar melepaskan ego bukan tanda kelemahan, melainkan tanda kedewasaan rohani. Saat kita mau mendengar lebih dulu dan merendahkan hati, kita sedang membuka ruang bagi Tuhan untuk bekerja. Di situlah kasih Kristus nyata—bukan lewat kemenangan ego, tetapi lewat hati yang rela dibentuk.

WHAT TO DO?
1. Latih diri untuk menahan reaksi ketika merasa tersinggung, lalu tanyakan: ini prinsip iman atau ego pribadi?
2. Belajar mendengar nasihat orang lain, bahkan dari mereka yang sederhana, seperti Naaman mendengar pelayannya.
3. Pilih untuk memperjuangkan kebenaran, bukan gengsi; lepaskan hal-hal yang hanya melukai tanpa membangun.

BIBLE MARATHON:
Kisah Para Rasul 28

Card image
Renungan Pagi - 29 Maret 2026
2026-03-30 12:41:08


Yang namanya masalah kerap dipakai Tuhan untuk membuat kita semakin dewasa dalam iman, bahkan melalui masalah juga hidup akan terus dimurnikan, sehingga semakin hari setiap kita akan semakin indah dihadapan-Nya.

Ayub mengatakan, "hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau", justru melalui masalah itulah Ayub lebih mengenal dan memahami siapa Allah yang dia sembah.

Card image
Quote Of The Day - 29 Maret 2026
2026-03-29 22:48:59


Banyak orang tidak menyadari kehadiran Iblis dan tidak menangkap manuver-manuvernya, sebab mereka tidak bermusuhan dengan Iblis.

Card image
Mutiara Suara Kebenaran - 29 Maret 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-03-29 22:47:26


Tidak ada keluarga yang sempurna. Akan ada perbedaan, gesekan, dan proses yang tidak mudah. Namun kekuatan keluarga tidak dibangun oleh keadaan yang ideal, melainkan oleh hati yang mau dibentuk Tuhan.

Card image
PACKING UP - 29 Maret 2026 (English Version)
2026-03-29 22:46:21


The central issue behind the church’s decline is the absence of authentic encounters with God. Historical examples, such as the Temple and the Byzantine church in Constantinople, remind us that outward practices, such as attending services or ceremonies, cannot substitute for true encounter with God.

Many Western theologians who teach in seminaries and theologically skilled clergy do not have a genuine encounter with God. The decline of Christianity in Western society and in the Byzantine—Eastern Roman—region, once centered in Constantinople and now part of Turkey, is a severe warning we must heed. Imagine: Turkey, once the center of the Eastern church, now hardly shows signs of a truly living, breathing church life.

If we look at today’s facts, the cities of the seven churches that received letters directly from the Lord Jesus—as recorded in Revelation—are now ruins and little more than Christian tourist sites. Many churches have been repurposed, even turned into places of worship for other religions. This shows that many Christians have fallen into a false Christianity, so God no longer needs to preserve those churches. Many theologians and church leaders skillfully conduct liturgy—praying, singing, praising, and worshiping God, reciting creeds or confessions of faith—yet in reality do not experience an encounter with God nor live in His will.

In this centuries-long decline of Christianity, God has ultimately become merely a body of knowledge called theology. People are satisfied with this theological knowledge, which today has even become a commodity on social media for self-actualization, seeking popularity, money, or influence. Even the most vulgar of speakers can gain a large following. The value of Christianity has become impoverished and shameful. Many people are only skilled at debating and apologetics—explaining, defending, or attacking the Christian faith against other religions or fellow Christians who are considered heretical—but fail to demonstrate the courtesy, gentleness, and politeness of children of God who should emulate the life of Jesus.

As a congregation, we must not be deceived by such people—those who are not truly worthy of being heard. What they possess is knowledge about God, not an encounter with the living God. Knowledge alone is relatively easy and does not require risking one’s life. It is unsurprising, then, that many theologians, church leaders, and even their congregations do not experience a change of nature. A person can be mentally mature yet not undergo the nature-transformation into the likeness of Jesus.

Truly finding God and encountering Him brings inevitable change. The aim of Christianity is not merely to be moral people but to experience a change of nature. This change must be lived personally: having a proper and proportionate fear of God, losing attraction to the world, feeling deep remorse for every sin, longing to live blamelessly and spotlessly, increasingly realizing that this world is not home, and being compelled to return to heaven. All of this must be experienced, not merely known.

Learning knowledge about God from various media is not difficult and can be done without risking one’s whole life. But following Jesus to experience an encounter with God and to live in His holiness demands that one stake one’s entire life. We must commit—even though we may stumble—that we will strive to live blameless and spotless. We must dare to leave the world with all its pleasures, not be bound to material wealth and worldly entertainment. We must truly decide to pack up and go home.

The Lord Jesus bless you

WE MUST TRULY DECIDE TO PACK UP AND GO HOME.

Card image
BERKEMAS-KEMAS - 29 Maret, 2026
2026-03-29 22:43:30


Sejujurnya, gereja telah mengalami kemerosotan. Sebagaimana Allah tidak segan-segan menghancurkan Bait Allah dan meratakannya dengan tanah, Allah juga tidak segan-segan menyerahkan gereja yang pernah menjadi pusat Kekristenan Timur di sebuah kota besar pada masa Bizantium, yaitu Konstantinopel—yang sekarang dikenal sebagai Istanbul, Turki. Sebab, menjadi Kristen, pergi ke gereja, dan menjalankan berbagai seremonial atau liturgi menjadi sia-sia jika tidak disertai dengan perjumpaan yang nyata dengan Allah.

Harus diakui dengan jujur, banyak teolog Barat yang menjadi dosen seminari, rohaniwan gereja yang cakap secara teologis, tetapi tidak mengalami perjumpaan dengan Allah secara riil. Kemerosotan Kekristenan di masyarakat Barat dan di wilayah Bizantium-Romawi Timur—yang dahulu berpusat di Konstantinopel dan kini menjadi wilayah Turki—adalah peringatan keras yang harus kita perhatikan dengan sungguh-sungguh. Bayangkan, Turki yang dahulu menjadi pusat gereja Timur, kini nyaris tidak lagi menunjukkan kehidupan gereja yang benar-benar hidup dan berdetak.

Bahkan, jika kita melihat fakta hari ini, kota-kota dari tujuh jemaat yang menerima surat langsung dari Tuhan Yesus—sebagaimana dicatat dalam Kitab Wahyu—kini tinggal puing-puing dan hanya menjadi lokasi wisata Kristen. Tidak sedikit gereja yang telah berubah fungsi, bahkan menjadi rumah ibadah agama lain. Hal ini menunjukkan bahwa banyak orang Kristen telah terjebak dalam kehidupan kekristenan yang palsu, sehingga Allah pun tidak perlu mempertahankan gereja-gereja tersebut. Banyak teolog dan pemimpin jemaat Kristen dengan penuh keterampilan menyelenggarakan liturgi—berdoa, menyanyi, memuji dan menyembah Allah, mengucapkan kredo atau pengakuan iman—namun pada kenyataannya tidak mengalami perjumpaan dengan Allah dan tidak hidup di dalam kehendak-Nya.

Dalam kemerosotan Kekristenan yang telah berlangsung berabad-abad ini, Allah akhirnya hanya menjadi isi pengetahuan yang disebut teologi. Orang merasa puas dengan pengetahuan teologi tersebut, yang pada masa kini bahkan menjadi komoditas di media sosial untuk mengaktualisasi diri, mencari popularitas, uang, atau pengaruh. Orang yang berbicara dengan gaya paling vulgar pun dapat memperoleh banyak pengikut. Nilai Kekristenan menjadi miskin dan memalukan. Tidak sedikit orang yang hanya cakap berdebat dan berapologetika—menjelaskan, membela, atau menyerang iman Kristen terhadap agama lain atau sesama Kristen yang dianggap sesat—namun tidak menunjukkan kesantunan, kelembutan, dan kesopanan sebagai anak-anak Allah yang seharusnya meneladani hidup Yesus.

Sebagai jemaat, kita tidak boleh tertipu oleh orang-orang seperti ini—orang-orang yang sebenarnya tidak pantas didengar. Yang mereka temukan hanyalah ilmu tentang Allah, bukan perjumpaan dengan Allah yang hidup dan nyata. Jika hanya pengetahuan yang dicapai, itu relatif mudah dan tidak membutuhkan pertaruhan hidup. Maka tidak mengherankan jika banyak teolog, pemimpin gereja, bahkan jemaatnya sendiri, tidak mengalami perubahan kodrat. Seseorang bisa saja dewasa secara mental, tetapi tidak mengalami perubahan kodrat menjadi serupa dengan Yesus.

Sesungguhnya, jika seseorang benar-benar menemukan Allah dan mengalami perjumpaan dengan Allah, perubahan pasti terjadi. Target Kekristenan bukan hanya menjadi orang baik, melainkan mengalami perubahan kodrat. Dan perubahan ini harus dialami secara pribadi: ketika seseorang memiliki kegentaran akan Allah yang benar dan proporsional, ketika ia tidak lagi tertarik kepada dunia, ketika setiap kesalahan yang diperbuat memukul batin dengan keras, ketika ada kerinduan untuk hidup tidak bercacat dan tidak bercela, ketika semakin disadari bahwa dunia bukanlah rumahnya, dan ketika hati terdorong untuk pulang ke surga. Semua ini harus dialami, bukan sekadar diketahui.

Mempelajari pengetahuan tentang Allah dari berbagai media bukanlah hal yang sulit, dan dapat dilakukan tanpa mempertaruhkan segenap hidup. Tetapi mengikut Yesus untuk mengalami perjumpaan dengan Allah dan hidup di dalam kesucian-Nya menuntut pertaruhan seluruh hidup. Kita harus berkomitmen—meskipun masih jatuh bangun—bahwa kita mau hidup tidak bercacat dan tidak bercela. Kita harus berani meninggalkan dunia dengan segala kesenangannya, tidak terikat pada kekayaan materi dan hiburan dunia ini. Kita harus benar-benar mengambil keputusan untuk berkemas-kemas pulang.

Tuhan Yesus memberkati

KITA HARUS BENAR-BENAR MENGAMBIL KEPUTUSAN UNTUK BERKEMAS-KEMAS PULANG.

Card image
KIDS DAILY DEVOTIONAL 28 Maret 2026 - LANGKAH KECIL DI PAGI HARI
2026-03-29 17:34:15


Roma 15:13
“Semoga Allah, sumber pengharapan, memenuhi kamu dengan segala sukacita dan damai sejahtera dalam iman kamu, supaya oleh kekuatan Roh Kudus kamu berlimpah-limpah dalam pengharapan.”

Pagi itu langit tampak mendung. Reno berjalan pelan di belakang ayahnya menyusuri jalan kecil dekat rumah. Hatinya terasa lesu karena beberapa hari terakhir tidak berjalan seperti yang ia harapkan. Dengan suara pelan Reno bertanya, “Ayah, kenapa rasanya semua jadi sulit?”

Ayah berhenti sejenak lalu menunjuk ke depan. “Lihat jalan ini. Kita tidak bisa melihat ujungnya karena ada tikungan dan kabut.” Mereka terus melangkah bersama. Beberapa langkah kemudian, kabut mulai menipis dan jalan di depan terlihat lebih jelas. Ayah tersenyum dan berkata, “Pengharapan itu seperti berjalan bersama Tuhan. Kita tidak selalu tahu apa yang akan terjadi, tapi kita percaya Tuhan memimpin setiap langkah.”

Reno menarik napas dalam-dalam. Ia melanjutkan langkahnya dengan hati yang lebih ringan. Kabut memang belum sepenuhnya hilang, tetapi ia tidak lagi takut. Dalam hatinya Reno berkata, “Aku tidak perlu tahu semuanya sekarang. Aku hanya perlu percaya.”

Rehobot Kids, pengharapan dari Tuhan tidak selalu langsung mengubah keadaan, tetapi mengubah hati kita. Dari gelisah menjadi tenang, dari takut menjadi berani. Saat kita percaya kepada Tuhan, Dia memenuhi hati kita dengan sukacita dan damai sejahtera.

Walaupun jalan hidup belum terlihat jelas, Tuhan adalah sumber pengharapan kita. Bersama Tuhan, setiap langkah kecil hari ini sudah cukup—karena Dia selalu berjalan bersama kita

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 28 Maret 2026 (English Version) - DARING TO BE DIFFERENT WITHOUT HURTING OTHERS
2026-03-29 17:31:51


“Let your conversation be always full of grace, seasoned with salt, so that you may know how to answer everyone.”
Colossians 4:6

Many young people feel that being honest or disagreeing means speaking “straight to the point,” even if the tone becomes sharp or hurtful. Yet spiritual maturity is not measured by how blunt we are, but by how we communicate truth without wounding others. Having an opinion matters—but preserving relationships matters just as much.

Disagreeing politely is not a sign of weakness or fear of losing. On the contrary, it reflects self-control and a mature heart. Jesus Himself often stood in positions that differed from many others, yet His words were always wrapped in love and wisdom. He never lowered the standard of truth, but He also never degraded people.

Differences are natural and healthy within a community, as long as they are expressed with the right attitude. The world is already harsh enough—God calls us to carry truth in a loving way. Be young people known not for being the loudest or the sharpest in debate, but for being the wisest in speech. Dare to be different, without hurting others.

WHAT TO DO?
1. Remain humble in the way you speak and express your thoughts.
2. Show that the love of Jesus is reflected in your life.
3. Start building healthy relationships without hurting others’ feelings.

BIBLE MARATHON:
Acts 27

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 28 Maret 2026 - BERANI BEDA TANPA MENYAKITI
2026-03-29 17:30:01


“Hendaklah kata-katamu senantiasa penuh kasih, jangan hambar, sehingga kamu tahu, bagaimana kamu harus memberi jawab kepada setiap orang.”
Kolose 4:6

Banyak anak muda merasa kalau mau jujur atau tidak setuju, harus bicara “to the point” meski nadanya pedas dan menyinggung. Padahal, kedewasaan rohani bukan diukur dari seberapa blak-blakan kita bicara, tapi dari bagaimana kita menyampaikan kebenaran tanpa melukai orang lain. Berpendapat itu penting, tapi menjaga hubungan juga sama pentingnya.

Berbeda pendapat dengan cara yang sopan bukan tanda lemah atau takut kalah. Justru itu tanda pengendalian diri dan kematangan hati. Yesus sendiri sering berada di posisi yang berseberangan dengan banyak orang, namun perkataan-Nya selalu dibalut kasih dan hikmat. Ia tidak menurunkan standar kebenaran, tapi juga tidak merendahkan manusia.

Perbedaan adalah hal yang wajar dan sehat dalam komunitas, selama disampaikan dengan sikap yang benar. Dunia sudah cukup keras—Tuhan memanggil kita untuk membawa kebenaran dengan cara yang penuh kasih. Jadilah anak muda yang dikenal bukan karena paling vokal atau paling tajam berdebat, tetapi karena paling bijak dalam berkata-kata. Berani beda, tanpa harus menyakiti.

WHAT TO DO?
1. Tetap menjadi pribadi yang rendah hati dalam menyampaikan tutur kata
2. Buktikan bahwa Kasih Yesus juga terpancar dalam dirimu.
3. Mulailah bangun hubungan dengan sesama yang baik tanpa menyakiti perasaan seseorang.

BIBLE MARATHON:
Kisah Para Rasul 27

Card image
Renungan Pagi - 28 Maret 2026
2026-03-29 17:27:52


Jika mengenal Tuhan dengan benar maka dapat memberi melampaui kemampuan, karena kita tahu bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan, tidak pernah mengecewakan, selalu menyediakan segala yang kita butuhkan tepat pada waktunya.

Lalu mengapa kita tidak bisa memberi melampaui kemampuan? Karena selalu berpikir, bagaimana kalau ada kebutuhan mendesak nanti? Bagaimana kalau tiba-tiba sakit nanti?. Terlalu banyak yang dikuatirkan, itulah yang menjadikan kita tidak bisa memberi melampaui kemampuan.

Card image
Quote Of The Day - 28 Maret 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-03-28 22:49:00


Hampir semua orang tidak berperang dan tidak bertarung dengan kuasa kegelapan, karena mereka ada di dalam tawanan atau kekuasaan Iblis.

Card image
Mutiara Suara Kebenaran - 28 Maret 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-03-28 22:48:14


Percaya tanpa perubahan perilaku tidak pernah menjadi iman yang menyelamatkan.

Card image
GOD IS MORE THAN REALITY - 28 Maret 2026 (English Version)
2026-03-28 22:46:30


God is the reality that is always present in our lives, time, place, space, and life’s problems. God truly becomes real to those who genuinely deal with Him—those who earnestly long to experience encountering God. We must trust and acknowledge that God is more than what we can witness, touch, see, or hear. God has existed from eternity to eternity. Everything else may pass away, but God remains the same.

That is why God is more than reality. He existed before any dimension known to humans—whether time, space, or other dimensions—existed. He is the One who created everything from nothing into being. As long as we live, we must truly encounter Him. It is impossible for someone who has never encountered God to become a child of God and enter as a member of the family of God’s Kingdom.

Experiencing the living God—having the experience of encountering God—is not optional but a necessity; something that ought to happen and continue in the life of a believer. If it does not occur, it is a misfortune. Other creatures, like animals, do not need to encounter God. But humans are different. People who practice religion only by religious rites can live out their religious practice without an encounter with God. And sadly, that has become the standard for many religious people. As a result, encountering God is regarded as extraordinary, even though it should be normal and natural.

In fact, many theologians, church leaders, and Christian congregations still live in empty religiosity. They know God but do not experience an encounter with God. Their Christian life is built solely on the doctrines they accept as true. When someone feels they know God, they often assume they have already encountered God. Congregations also think that knowing teachings about God and attending church are enough to constitute an encounter with God.

Even if someone has experienced a miracle, that does not necessarily mean they have encountered God. An encounter with God is a life that walks continuously with God, living in real fellowship with Him. God must be as real as a life partner, as real as a parent, as real as a doctor giving medical advice, as real as a lawyer giving legal counsel, and as real as a friend we socialize with. If God is not that real, then something is wrong—that is a deviation.
Many Christians—including theologians and church leaders—are busy with doctrine but not busy building a concrete encounter with God. Moreover, when someone has earned a bachelor’s, master’s, or doctoral degree in theology, they often feel they have become agents of knowledge about God. Congregations then regard them as trustworthy leaders who can lead the congregation to God. Yet what they often possess is only knowledge about God in the mind, not the experience of encountering God. So do not be surprised when a theologian, pastor, or clergyman falls into moral failure. Knowledge about God alone is not enough to build a true fear of God, because a God who exists only in the mind does not make a person fear God proportionately. Without a real encounter, the human heart is not formed to fear God correctly.

If teachers are in such a state, then that empty Christianity becomes the norm for churches and congregations. And this has continued from century to century, decade to decade, and even for hundreds of years. As a result, the church experiences a very sharp decline. We witness how Christianity is almost extinct in many Western countries, once known as Christian nations, full of theologians, seminaries, and highly accredited, academic theological schools. We also see the reality that God allowed the most magnificent church in the world, Hagia Sophia, to be turned into a house of worship for another religion. This is a stern warning that religion-only Christianity is something nauseating and disappointing to the heart of God the Father. Christians are busy arguing, attacking, and hurting one another, but are not living in a true and real encounter with the Lord.

The Lord Jesus bless you

GOD TRULY BECOMES REAL TO THOSE WHO GENUINELY DEAL WITH HIM, THOSE WHO EARNESTLY LONG TO EXPERIENCE ENCOUNTERING GOD.

Card image
ALLAH LEBIH DARI REALITAS - 28 Maret 2026
2026-03-28 22:44:32


Allah adalah realitas yang selalu hadir di dalam kehidupan, waktu, tempat, ruang, dan persoalan-persoalan hidup kita. Allah sungguh-sungguh akan menjadi nyata bagi orang-orang yang benar-benar mau berurusan dengan Dia—orang-orang yang sungguh-sungguh rindu mengalami perjumpaan dengan Allah. Kita harus memercayai dan mengakui bahwa Allah lebih dari realitas yang dapat kita saksikan, raba, lihat, dan dengar. Allah telah ada dari kekekalan sampai kekekalan. Segala sesuatu dapat berlalu, tetapi Allah tetap sama.

Itulah sebabnya Allah lebih dari realitas. Ia telah ada sebelum segala dimensi yang dikenal manusia—baik dimensi waktu, ruang, maupun dimensi-dimensi lain—ada. Dialah yang menciptakan segala sesuatu dari yang tidak ada menjadi ada. Selama kita hidup, kita harus sungguh-sungguh mengalami perjumpaan dengan Dia. Tidak mungkin seseorang yang tidak pernah mengalami perjumpaan dengan Allah dapat menjadi anak Allah dan masuk sebagai anggota keluarga Kerajaan Allah.

Mengalami Allah yang hidup—memiliki pengalaman perjumpaan dengan Allah—bukanlah sesuatu yang opsional, melainkan suatu keniscayaan; sesuatu yang seharusnya terjadi dan berlangsung dalam hidup orang percaya. Jika hal itu tidak terjadi, itu adalah sebuah kemalangan. Makhluk lain, seperti hewan, tidak perlu mengalami perjumpaan dengan Allah. Tetapi manusia berbeda. Orang-orang yang menjalankan agama hanya dengan tata cara keberagamaan dapat hidup dalam praktik keagamaannya tanpa perjumpaan dengan Allah. Dan sayangnya, itulah yang telah menjadi standar bagi banyak orang beragama. Akibatnya, perjumpaan dengan Allah dipandang sebagai sesuatu yang luar biasa, padahal seharusnya itulah yang normal dan alami.

Faktanya, banyak teolog, pemimpin gereja, dan jemaat Kristen masih hidup dalam keberagamaan yang kosong. Mereka memiliki pengetahuan tentang Allah, tetapi tidak mengalami perjumpaan dengan Allah. Hidup kekristenan mereka dibangun dan didasarkan semata-mata pada doktrin yang mereka akui sebagai kebenaran. Ketika seseorang merasa telah memiliki pengetahuan tentang Allah, ia sering menganggap dirinya sudah mengalami perjumpaan dengan Allah. Jemaat pun berpikir, jika mereka telah mengetahui ajaran tentang Allah dan pergi ke gereja, itu sudah cukup sebagai perjumpaan dengan Allah.

Bahkan, sekalipun seseorang pernah mengalami mukjizat, hal itu belum tentu berarti ia telah mengalami perjumpaan dengan Allah. Perjumpaan dengan Allah adalah kehidupan yang berjalan bersama Allah secara terus-menerus, hidup dalam persekutuan yang nyata dengan Dia. Allah harus senyata pasangan hidup, senyata orang tua, senyata dokter yang memberi nasihat medis, senyata pengacara yang memberi nasihat hukum, dan senyata sahabat yang kita ajak bergaul. Jika Allah tidak senyata itu, maka ada sesuatu yang tidak beres—itu adalah sebuah kemelesetan.

Banyak orang Kristen—termasuk para teolog dan pemimpin gereja—sibuk dengan doktrin, tetapi tidak sibuk membangun perjumpaan konkret dengan Allah. Terlebih lagi, ketika seseorang telah menyandang gelar sarjana, magister, atau doktor teologi, ia sering merasa telah menjadi agen pengetahuan tentang Allah. Jemaat pun menganggap mereka sebagai orang-orang yang dapat dipercaya untuk membawa jemaat kepada Allah. Padahal, yang dimiliki sering kali hanyalah pengetahuan tentang Allah di dalam pikiran, bukan pengalaman perjumpaan dengan Allah. Jadi, jangan heran jika ada teolog, pendeta, atau rohaniwan yang jatuh dalam pelanggaran moral. Pengetahuan tentang Allah saja tidak cukup membangun takut akan Allah yang sejati, karena Allah yang hanya ada di dalam pikiran tidak membuat seseorang gentar akan Allah secara proporsional. Tanpa perjumpaan nyata, hati manusia tidak dibentuk untuk takut akan Allah dengan benar.

Jika para pengajar berada dalam keadaan seperti itu, maka kekristenan yang kosong tersebut menjadi standar bagi gereja dan jemaat. Dan hal ini telah berlangsung dari abad ke abad—puluhan bahkan ratusan tahun. Akibatnya, gereja mengalami kemerosotan yang sangat tajam. Kita menyaksikan bagaimana kekristenan hampir punah di banyak negara Barat yang dahulu dikenal sebagai negara Kristen, penuh dengan teolog, seminari, dan sekolah tinggi teologi yang sangat terakreditasi dan akademis. Kita juga melihat kenyataan bahwa Allah membiarkan gereja termegah di dunia, Hagia Sophia, berubah menjadi rumah ibadah agama lain. Ini merupakan peringatan keras bahwa kekristenan yang hanya bersifat agamawi adalah sesuatu yang memuakkan dan mengecewakan hati Allah Bapa. Orang Kristen sibuk berdebat, saling menyerang, dan saling menyakiti, tetapi tidak hidup dalam perjumpaan yang benar dan nyata dengan Tuhan. Perjumpaan dengan Allah adalah kehidupan yang berjalan bersama Allah secara terus-menerus, hidup dalam persekutuan yang nyata dengan Dia.

Tuhan Yesus memberkati

ALLAH SUNGGUH-SUNGGUH AKAN MENJADI NYATA BAGI ORANG-ORANG YANG BENAR-BENAR MAU BERURUSAN DENGAN DIA, ORANG-ORANG YANG SUNGGUH-SUNGGUH RINDU MENGALAMI PERJUMPAAN DENGAN ALLAH.

Card image
KIDS DAILY DEVOTIONAL 27 Maret 2026 - LAMPU KECIL DI KAMAR AIRA
2026-03-28 22:14:22


1 Yohanes 4:18
“Di dalam kasih tidak ada ketakutan: kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan.”

Aira tidak suka gelap. Setiap malam saat lampu kamar dimatikan, bayangan di dinding terlihat besar dan suara kecil terdengar menakutkan. Suatu malam, rasa takut itu datang lebih kuat dari biasanya. Aira pun berkata pelan kepada ibunya, “Bu, aku takut…”

Ibunya duduk di samping Aira dan berkata lembut, “Tuhan mengasihimu. Kasih Tuhan selalu ada, bahkan saat kamar gelap.” Lalu ibu menyalakan lampu kecil di sudut kamar. Cahayanya tidak terang, tapi cukup membuat Aira melihat sekeliling dengan jelas. Ibu berkata, “Ketakutan itu seperti gelap, dan kasih Tuhan itu seperti cahaya. Saat kita ingat kasih Tuhan, ketakutan akan pergi.”

Aira memejamkan mata dan berdoa singkat. Ia mengingat bahwa Tuhan menjaganya dan tidak pernah meninggalkannya. Perlahan-lahan, hatinya menjadi tenang, dan ia pun tertidur dengan damai.

Rehobot Kids, Firman Tuhan mengajarkan bahwa kasih Tuhan lebih besar dari rasa takut kita. Saat kita mengingat bahwa Tuhan mengasihi dan menjaga kita, hati kita menjadi tenang. Kasih Tuhan adalah terang yang mengusir ketakutan.

Kalau suatu hari kamu merasa takut, berdoalah dan katakan, “Tuhan, terima kasih karena kasih-Mu selalu bersamaku.” Percayalah, terang kasih Tuhan akan membuat hatimu damai.

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 27 Maret 2026 (English Version) - ANTI-BAPER MINDSET: CRITISM DOESN'T MEAN HATE
2026-03-28 22:12:41


“Better is open rebuke than hidden love.”
Proverbs 27:5

Many young people immediately feel “attacked” when their ideas are criticized or their behavior is corrected. Yet, we need to learn to distinguish three important things: criticism is input for personal growth, differences of opinion are simply about perspective, and personal rejection is about hatred. Not everyone who disagrees with you is against you—often, they’re just seeing things from a different angle.

Spiritual maturity is shown through a heart that is not easily defensive. Those who grow are not shaped by constant praise, but by the courage to receive correction without taking offense. Honest correction is actually a sign of care, while empty praise often causes us to stop growing.

When our faith is deeply rooted in God’s love, human opinions no longer shake our inner peace so easily. Criticism no longer feels like a threat, but becomes an opportunity to grow. Having an anti-baper mindset isn’t about being indifferent—it’s about having a secure heart, knowing that our identity is not defined by people’s opinions, but by God’s unchanging love.

WHAT TO DO?
1. Receive feedback with an open heart—don’t immediately feel discouraged.
2. Practice positive thinking; it’s a powerful tool to calm your mind and avoid negative emotions.
3. Commit to becoming spiritually mature—in thoughts, words, and actions.

BIBLE MARATHON:
Acts 26

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 27 Maret 2026 -MENTAL ANTI-BAPER: KRITIK BUKAN BERARTI BENCI
2026-03-28 22:09:47


“Lebih baik teguran yang nyata-nyata daripada kasih yang tersembunyi.”
Amsal 27:5

Banyak anak muda langsung merasa “diserang” saat idenya dikritik atau perilakunya ditegur. Padahal, kita perlu belajar membedakan tiga hal penting: kritik adalah masukan untuk kualitas diri, perbedaan pendapat hanyalah soal sudut pandang, dan penolakan pribadi barulah soal kebencian. Tidak semua yang tidak setuju denganmu sedang melawanmu—sering kali mereka hanya melihat dari angle yang berbeda.

Kedewasaan rohani terlihat dari hati yang tidak mudah defensif. Orang yang bertumbuh bukan dibentuk oleh pujian terus-menerus, tetapi oleh keberanian mendengar teguran tanpa langsung tersinggung. Teguran yang jujur justru tanda kepedulian, sedangkan pujian kosong sering kali membiarkan kita berhenti berkembang.

Kalau akar iman kita tertanam dalam kasih Tuhan, penilaian manusia tidak akan gampang menggoyahkan ketenangan hati. Kritik tidak lagi terasa sebagai ancaman, tapi sebagai kesempatan untuk bertumbuh. Mental anti-baper bukan soal cuek, tapi soal hati yang aman—karena tahu identitas kita tidak ditentukan oleh opini orang, melainkan oleh kasih Tuhan yang teguh.

WHAT TO DO?
1. Menerima masukan dengan perasaan terbuka, jangan langsung down.
2. Selalu berpikir positif, itu menjadi senjata yang bisa menenangkan pikiran dan terhindar dari perasaan buruk.
3. Mulai menjadi pribadi yang semakin dewasa secara rohani, baik dalam pikiran, perkataan dan tindakan.

BIBLE MARATHON:
Kisah Para Rasul 26

Card image
Renungan Pagi - 27 Maret 2026
2026-03-27 22:48:12


Itulah sebabnya memuji Tuhan di tengah pencobaan dan penderitaan seringkali terasa sulit kita lakukan,  namun jika terus melatih diri untuk selalu memuji Tuhan, kita akan beroleh kekuatan untuk memuji Dia apapun keadaan kita seperti Daud yang memuji Tuhan bukan hanya sekali.

Tapi tujuh kali dalam sehari, perlu kita ketahui bahwa memuji Tuhan adalah pelayanan langsung yang kita tujukan kepada Tuhan, jika tanpa kerendahan dan kemurnian hati, pujian tidak mungkin berkenan kepada Tuhan, karenanya bagi orang Kristen yang sungguh-sungguh, tentunya tiada hari tanpa memuji-muji Tuhan!

Card image
Quote Of The Day - 27 Maret 2026 ((Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-03-27 22:44:55


Kalau kita ada di pihak Tuhan, kita pasti akan berjuang untuk tidak melakukan kesalahan sekecil apa pun.    

Card image
Mutiara Suara Kebenaran - 27 Maret 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-03-27 22:43:36


Orang yang menjadi harta Tuhan adalah orang yang menjaga hatinya, menata pikirannya, dan menundukkan keinginannya di bawah kehendak Tuhan.

Card image
BECOMING LIKE STARS - 27 Maret 2026 (English Version)
2026-03-27 22:41:09


Those who possess the glory of God will radiate it through all their behavior. The power of His glory and majesty is the only thing that truly matters in our short lives. That is why Philippians 2:15 says, “So that you may be blameless and innocent, children of God without blemish in the midst of a crooked and perverse generation, among whom you shine like lights in the world.” Therefore, we must not be busy and noisy with trivial or small things, because such things make us lose dignity. Losing dignity is not only before the angels but also before people. We do not intend to judge anyone; we must examine ourselves. Let us not be busy counting money, pursuing rank, exalting titles, or judging appearances while failing to understand the dignity of being children of the great God, children of God who do not hurt or harm anyone.

Again, the Word of God affirms, “So that you may be blameless and innocent, children of God without blemish in the midst of a crooked and perverse generation, among whom you shine like lights in the world.” The preceding verses, Philippians 2:5–8, say, “Let this mind be in you which was also in Christ Jesus, who, being in the form of God, did not consider equality with God something to be grasped, but emptied Himself, taking the form of a servant, being made in the likeness of men. And being found in appearance as a man, He humbled Himself and became obedient to the point of death, even the death of the cross.”

Jesus was crushed; in people’s eyes, there was no beauty in Him. Yet there the greatness of perfect human dignity is revealed—a person who rediscovers the lost glory of God. But remember, the Gospel is a fragrant aroma to those who are saved and a stench to those who are perishing. Sincere children of God will perceive that fragrance as fragrance. But to those whose hearts are crooked, no matter how fragrant our lives are, they will smell stench. What is corrupted is not the glory itself but their senses—their spiritual eyes and nose. Because their hearts are rotten, they only perceive corruption.

Therefore, we should not expect praise, appraisal, adulation, or idolatry from anyone. If we learn God’s Word correctly, we will not idolize humans. We may accept a pastor or servant of God as a mentor, spiritual father, or minister, but we must not idolize them. If a pastor becomes idolized, it may be because he himself cultivated that idolatry, or because his congregation did not grow. Only God deserves our exaltation. People must be honored proportionally. We must be like lights in the world, radiating the glory of God, even though not everyone can see that glory. Yet that glory must truly be present. God’s Word calls us to pursue the way of life that Jesus lived.

We cannot live merely as ordinary humans, for we must put on the life-principles of the Lord Jesus—exactly His principles, without diminution. Many who profess Christianity do not put on the life of Jesus. They are, in essence, false Christians. Terrifyingly, God seems silent. Many church teachings are erroneous, sometimes for hundreds or thousands of years, as if God allows them to be. The life-steps that Jesus took do not happen automatically; they must be fought for. We often hear Christians say, “We are the light of the world.” True. But the question is, are we truly shining? We also say, “We are the salt of the world.” But are we truly salty? Therefore, we must strive to live according to that calling.

The Lord Jesus bless you

WE MUST BE LIKE LIGHTS IN THE WORLD, RADIATING THE GLORY OF GOD, EVEN THOUGH NOT EVERYONE CAN SEE THAT GLORY.

Card image
MENJADI SEPERTI BINTANG - 27 Maret 2026
2026-03-27 22:34:57


Orang yang memiliki kemuliaan Allah akan memancarkannya melalui seluruh perilakunya. Kuasa kemuliaan dan keagungan-Nya adalah satu-satunya hal yang benar-benar penting dalam hidup kita, yang singkat ini. Itulah sebabnya Filipi 2:15 mengatakan, “Supaya kamu tiada beraib dan tiada bernoda, sebagai anak-anak Allah yang tidak bercela di tengah-tengah angkatan yang bengkok hatinya dan yang sesat ini, sehingga kamu bercahaya di antara mereka seperti bintang-bintang di dunia.”

Karena itu, kita tidak boleh sibuk dan ribut dengan hal-hal yang sepele atau kecil, sebab hal-hal tersebut membuat kita kehilangan martabat. Tidak bermartabat bukan hanya di hadapan malaikat, tetapi juga di hadapan manusia. Kita tidak bermaksud menghakimi siapa pun; yang harus kita lakukan adalah memeriksa diri kita sendiri. Jangan kita sibuk menghitung uang, mengejar kedudukan, mengagungkan jabatan, atau menilai penampilan, tetapi tidak mengerti martabat sebagai anak-anak Allah yang agung—anak-anak Allah yang tidak melukai atau menyakiti siapa pun.

Sekali lagi firman Tuhan menegaskan, “Supaya kamu tiada beraib dan tiada bernoda, sebagai anak-anak Allah yang tidak bercela di tengah-tengah angkatan yang bengkok hatinya dan yang sesat ini, sehingga kamu bercahaya di antara mereka seperti bintang-bintang di dunia.” Ayat sebelumnya, Filipi 2:5-8, berkata, “Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.”

Yesus diremukkan; di mata manusia tidak ada keelokan pada-Nya. Namun justru di sanalah tampak keagungan martabat manusia yang sempurna—manusia yang menemukan kembali kemuliaan Allah yang telah hilang. Tetapi ingat, Injil adalah bau harum bagi mereka yang diselamatkan, dan bau busuk bagi mereka yang akan binasa. Anak-anak Allah yang tulus akan mencium keharuman itu sebagai keharuman. Namun bagi orang-orang yang hatinya bengkok, seharum apa pun hidup kita, mereka akan mencium bau busuk. Yang rusak bukan kemuliaan itu, melainkan indera mereka—mata dan hidung rohani mereka. Karena hati mereka busuk, mereka hanya mencium kebusukan.

Karena itu, kita tidak perlu mengharapkan pujian, penilaian, pengagungan, atau pengultusan dari siapa pun. Jika kita belajar firman Tuhan dengan benar, kita tidak akan mengultuskan manusia. Kita boleh menerima gembala atau hamba Tuhan sebagai mentor, bapak rohani, atau pelayan Tuhan, tetapi tidak boleh mengultuskan mereka. Jika seorang pendeta sampai dikultuskan, bisa jadi karena ia sendiri menciptakan pengultusan itu, atau karena jemaatnya tidak bertumbuh. Hanya Tuhan yang patut kita agungkan. Manusia harus dihormati secara proporsional. Kita harus menjadi seperti bintang-bintang di dunia, yang memancarkan kemuliaan Allah, walaupun tidak semua orang mampu melihat kemuliaan itu. Namun kemuliaan itu harus nyata ada. Firman Tuhan memanggil kita untuk menempuh jalan hidup seperti yang ditempuh oleh Yesus.

Kita tidak bisa hidup wajar seperti manusia pada umumnya, sebab kita harus mengenakan prinsip hidup Tuhan Yesus—persis seperti prinsip hidup-Nya, tanpa dikurangi. Banyak orang yang beragama Kristen, tetapi tidak mengenakan kehidupan Yesus. Mereka sejatinya adalah Kristen palsu. Yang mengerikan, Tuhan seakan-akan diam. Tidak sedikit ajaran gereja yang sesat, bahkan telah berlangsung ratusan atau ribuan tahun, dan seolah-olah Tuhan membiarkannya. Langkah kehidupan seperti yang dijalani Tuhan Yesus tidak terjadi secara otomatis; itu harus diperjuangkan. Kita sering mendengar orang Kristen berkata, “Kita adalah terang dunia.” Itu benar. Tetapi pertanyaannya, apakah kita sungguh bercahaya? Kita juga berkata, “Kita adalah garam dunia.” Namun apakah kita sungguh asin? Karena itu, kita harus berjuang untuk hidup sesuai dengan panggilan tersebut.

Tuhan Yesus memberkati

KITA HARUS MENJADI SEPERTI BINTANG-BINTANG DI DUNIA, YANG MEMANCARKAN KEMULIAAN ALLAH, WALAUPUN TIDAK SEMUA ORANG MAMPU MELIHAT KEMULIAAN ITU.

Card image
KIDS DAILY DEVOTIONAL 26 Maret 2026 - TUHAN, TEMPAT AKU CURHAT*
2026-03-26 22:04:16


Mazmur 62:8
“Percayalah kepada-Nya setiap waktu, hai umat, curahkanlah isi hatimu di hadapan-Nya; Allah ialah tempat perlindungan kita.”

Rehobot Kids, pernah nggak kamu punya cerita yang pengin banget dibagikan, tapi bingung mau cerita ke siapa? Atau mungkin ada hal yang _bikin_ kamu sedih, takut, atau kesal, tapi kamu simpan sendiri di hati? Nah, Tuhan itu seperti Sahabat terbaik yang selalu siap mendengarkan.

Firman Tuhan bilang kita boleh mencurahkan isi hati kepada-Nya kapan saja. Mau pagi, siang, atau malam—Tuhan tidak pernah sibuk. Kamu bisa cerita tentang hal yang menyenangkan, hal yang bikin kecewa, bahkan hal yang bikin kamu marah atau takut. Tuhan mendengarkan semuanya dengan penuh kasih.

Tuhan juga adalah tempat perlindungan kita. Saat kamu sedih, Tuhan menghibur. Saat kamu takut, Tuhan menenangkan. Kamu tidak perlu takut salah bicara atau malu, karena Tuhan sangat mengasihimu dan mengenal hatimu.

Yuk, Rehobot Kids, biasakan curhat kepada Tuhan lewat doa. Katakan saja dengan sederhana, “Tuhan Yesus, hari ini aku merasa…” dan ceritakan semuanya. Hati kamu akan terasa lebih lega dan tenang.

Saat kamu sering bicara dengan Tuhan, kamu akan tahu bahwa kamu tidak pernah sendirian. Kamu punya Sahabat hebat yang selalu mendengarkan, melindungi, dan mengasihimu setiap hari.

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 26 Maret 2026 (English Version) - CALMING EMOTIONS WITHOUT SAYING TOO MUCH
2026-03-26 22:01:59


“My dear brothers and sisters, take note of this: Everyone should be quick to listen, slow to speak and slow to become angry.” James 1:19

Have you ever gone full speed after reading a comment or hearing someone’s opinion—then a moment later realized, “Wait… I think I misunderstood…”? As young people, we often feel pressured to always have an opinion and to react quickly. But God’s Word teaches the opposite: be quicker to listen, slower to speak, and slower to get angry.

Listening with an open heart is not a sign of weakness or a loss of principles. It’s actually a sign of maturity. When we give others space to express their thoughts fully, we build bridges—not walls. Many conflicts grow not because the issue is heavy, but because emotions are unmanaged and words come out too fast.

Often, problems arise because we want to defend ourselves more than we want to understand. Attacking someone’s opinion on the spot only kills communication. Learning to listen with respect is a real expression of love. Remember, God gave us two ears and one mouth for a reason—it’s a “divine code” reminding us to take in more than we react. When emotions start rising, pausing and listening can be the wisest step.

WHAT TO DO?
1. Pause before responding — give yourself a few seconds before replying to a chat, comment, or debate.
2. Listen until they’re finished — focus on understanding, not preparing your comeback.
3. Ask with a calm heart — choose respectful questions instead of immediate attacks.

BIBLE MARATHON:
Acts 25

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 26 Maret 2026 - MEREDAM EMOSI TANPA BANYAK BERKATA-KATA
2026-03-26 21:59:48


“Hai saudara-saudara yang kukasihi, ingatlah hal ini: setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah.”
Yakobus 1:19

Pernah nggak sih kamu langsung ngegas waktu baca komentar atau dengar pendapat orang, lalu beberapa saat kemudian baru sadar, “Eh, kayaknya aku salah paham…”? Sebagai anak muda, kita sering didorong untuk selalu punya opini dan cepat bereaksi. Tapi firman Tuhan justru ngajarin kebalikannya: lebih cepat dengar, lebih lambat bicara, dan lebih lambat marah.

Mendengarkan dengan terbuka bukan tanda lemah atau kehilangan prinsip. Justru itu bukti kedewasaan. Saat kita memberi ruang orang lain untuk menyampaikan pikirannya secara utuh, kita sedang membangun jembatan, bukan tembok. Banyak konflik membesar bukan karena masalahnya berat, tapi karena emosi yang tidak dikendalikan dan kata-kata yang keluar terlalu cepat.

Sering kali masalah muncul karena kita lebih ingin membela diri daripada memahami. Menyerang pendapat orang lain secara spontan hanya akan mematikan komunikasi. Belajar mendengar dengan hormat adalah bentuk kasih yang nyata. Ingat, Tuhan memberi kita dua telinga dan satu mulut bukan tanpa alasan—itu “kode ilahi” supaya kita lebih banyak menyerap daripada bereaksi. Saat emosi mulai naik, diam sejenak dan mendengar bisa jadi langkah paling bijak.

WHAT TO DO?
1. Pause sebelum respons –beri jeda beberapa detik sebelum membalas chat, komentar, atau debat.
2. Dengar sampai tuntas – fokus memahami, bukan menyiapkan jawaban.
3. Tanya dengan hati tenang – pilih bertanya dengan hormat daripada langsung menyerang.

BIBLE MARATHON:
Kisah Para Rasul 25

Card image
Renungan Pagi - 26 Maret 2026
2026-03-26 21:56:47


Memuji Tuhan tidak mengenal waktu, tempat dan keadaan, kapanpun, dimana pun, bagaimana pun keadaan, puji-pujian bagi Tuhan harus kita naikkan, memuji Tuhan adalah tindakan yang wajar dan normal bagi orang percaya, kita tidak perlu menjadi  worship leader atau kursus vokal terlebih dahulu agar bersuara bagus.

Dan barulah bernyanyi bagi Tuhan, memuji Tuhan adalah ekspresi yang keluar dari hati terdalam seseorang yang mengagumi Tuhan sebagai respons atas kebaikan-Nya, jadi bila tanpa kekaguman, memuji Tuhan hanya akan menjadi suatu kewajiban atau rutinitas yang dipaksakan.

Card image
Quote Of The Day - 26 Maret 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-03-26 21:55:31


Kalau seseorang mengganggap hal melepaskan diri dari ikatan dunia sebagai hal yang mudah ditanggulangi, itu berarti ia tidak pernah berjuang.

Card image
Mutiara Suara Kebenaran - 26 Maret 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-03-26 21:54:37


Tuhan Yesus melalui Roh Kudus pasti menuntun orang percaya yang mengasihi Dia untuk bisa menemukan Bapa.

Card image
THE LOSS OF THE GLORY OF GOD - 26 Maret 2026 (English Version)
2026-03-26 21:52:23


The fall of humanity into sin resulted in human beings losing the glory of God. The word “loss” in the original text is hysterountai (ὑστεροῦνται), from the verb hystereō (ὑστερέω), which has several meanings: to be inferior, to fall short, to be deficient, to be destitute, to fail, to lack, to suffer need, or to be worse. It conveys the sense of becoming low, failing because of lack, becoming impoverished, suffering, being in need, and becoming worse. Thus, the condition of humanity after the fall into sin is a condition that no longer attains God’s original purpose or design. Human existence becomes fragmented, incomplete, and inadequate. Salvation in Jesus Christ aims to restore humanity to God’s original design, so that human beings may once again possess the glory of God. Salvation is intended to give people the opportunity to rediscover the lost glory of God, to seek and put on that glory once again.

However, this glory of God is not obtained automatically. When a person becomes a Christian or confesses faith in Jesus as Lord and Savior, it does not mean they automatically possess the glory of God. All of this must be pursued through struggle. This is parallel to the Kingdom of God, which is given freely, yet living under its rule is not free of effort; it must be fought for. A saltwater fish cannot live in freshwater. Its nature must first be changed so that it can live and swim in fresh water. The same applies to salvation. If salvation is understood as God’s effort to restore humanity to the original design, then salvation is not merely a ticket to heaven. To open the door of heaven, indeed, no one can do so except Jesus Christ. Without merit, without works, that door is opened.

That is why Paul says, “Do not boast,” because salvation is not the result of human effort. Yet, to enter and live in the Kingdom of God, human nature must be transformed. Therefore, when Ephesians 2:8–9 says, “It is not the result of your own effort; so that no one may boast,” this verse must not be understood to mean that salvation is automatically possessed. On the contrary, the following verses—Ephesians chapters 3 and 4—emphasize: “Put off the old self, put on the new self to live in true righteousness and holiness, and do not give the devil a foothold.” Many people stop at the phrases “not the result of your own effort” and “not because of good works.” Yet the fundamental question is: what is meant by salvation itself? Salvation must be properly understood.

We must not think that simply believing in Jesus means that when we die, we will automatically enter heaven. That is not the case. If the condition of our lives is still in disarray, we will not enter heaven. The Word of God firmly states that “not everyone who says to Me, ‘Lord, Lord,’ will enter the Kingdom of Heaven, but only those who do the will of the Father.” Nothing unclean can enter the Kingdom of Heaven. If a person still steals, harbors hatred and resentment, lives in sexual immorality, has a filthy mouth, delights in hurting others, and is indifferent to the feelings of others, that person will not enter the Kingdom of Heaven. One cannot live in peace and fellowship with God if one is not in a condition that is worthy before Him. That is why the Word of God says, “Work out your salvation with fear and trembling,” and the Lord Jesus commands, “Make disciples of all nations.”

However, very few people truly understand this and genuinely strive for it. Many Christians feel they already possess grace and are at peace with God, and therefore no longer face serious struggles in living out their Christian life. As a result, not a few Christians live in the same ordinary way as those who do not know God. They live like Esau, who exchanged his birthright for a bowl of food. Esau actually possessed the birthright, but he did not value it, guard it, or fill it with the right substance. He despised it and traded it for momentary pleasure.

Likewise, when we confess Jesus as Lord and Savior, that confession must be accompanied by a struggle to regain the glory of God—the glory of God; tēs doxēs tou Theou (τῆς δόξης τοῦ Θεοῦ). The word doxēs comes from doxa (δόξα), which means brightness, radiance, splendor. Therefore, we must strive to work out our salvation so that our lives become a manifestation of the glory of God—a manifestation of God’s excellent power, glory, and majesty. Even if we are materially poor, unattractive in appearance, or do not hold high positions, we can still radiate the glory of God through a transformed life.

The Lord Jesus bless you

WHEN WE CONFESS JESUS AS LORD AND SAVIOR, THAT CONFESSION MUST BE ACCOMPANIED BY A STRUGGLE TO REGAIN THE GLORY OF GOD.

Card image
KEHILANGAN KEMULIAAN ALLAH - 26 Maret 2026
2026-03-26 21:48:43


Kejatuhan manusia ke dalam dosa berakibat manusia kehilangan kemuliaan Allah. Kata “kehilangan” dalam teks aslinya adalah hysterountai (ὑστεροῦνται), dari kata hystereō (ὑστερέω), yang memiliki beberapa pengertian: to be inferior, to fall short, be deficient, be destitute, fail, lack, suffer need, worse; artinya menjadi rendah, gagal karena kekurangan, menjadi miskin, menderita, kekurangan, dan menjadi lebih buruk. Dengan demikian, keadaan manusia setelah jatuh ke dalam dosa adalah keadaan yang tidak mencapai maksud atau rancangan Allah semula. Keadaan manusia menjadi tidak utuh, tidak lengkap, dan tidak memadai. Keselamatan di dalam Yesus Kristus bertujuan mengembalikan manusia kepada rancangan Allah semula, yaitu agar manusia kembali berkeadaan memiliki kemuliaan Allah. Keselamatan dimaksudkan untuk memberi manusia kesempatan menemukan kembali kemuliaan Allah yang hilang, kesempatan untuk mencari dan mengenakan kembali kemuliaan Allah tersebut.

Namun, kemuliaan Allah ini tidak diperoleh secara otomatis. Ketika seseorang menjadi Kristen atau mengaku percaya kepada Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat, itu tidak berarti ia otomatis memiliki kemuliaan Allah. Semua itu harus ditempuh melalui perjuangan. Hal ini paralel dengan Kerajaan Allah yang diberikan secara cuma-cuma, tetapi hidup di dalam pemerintahan Kerajaan Allah bukan sesuatu yang gratis, melainkan harus diperjuangkan. Ikan air laut tidak akan bisa hidup di air tawar. Kodratnya harus diubah terlebih dahulu agar ia dapat hidup dan berenang di air tawar. Demikian pula dengan keselamatan. Jika keselamatan dipahami sebagai upaya Allah mengembalikan manusia ke rancangan semula, maka keselamatan bukan sekadar tiket masuk surga. Untuk membuka pintu surga, memang tidak ada yang dapat melakukannya selain Yesus Kristus. Tanpa jasa, tanpa amal, pintu itu dibukakan.

Itulah sebabnya Paulus berkata, “Jangan memegahkan diri,” sebab keselamatan itu bukan hasil usaha manusia. Namun, untuk masuk dan hidup di dalam Kerajaan Allah, kodrat manusia harus diubah. Maka ketika Efesus 2:8–9 mengatakan, “Itu bukan hasil usahamu; jangan memegahkan diri,” ayat itu tidak boleh dipahami bahwa keselamatan otomatis dimiliki. Justru ayat-ayat berikutnya—Efesus pasal 3 dan 4—menegaskan, “Tanggalkan manusia lama, kenakan manusia baru untuk hidup di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya, dan jangan beri kesempatan kepada Iblis.” Banyak orang berhenti hanya pada kalimat “bukan hasil usahamu” dan “bukan karena perbuatan baik.” Padahal, pertanyaan yang mendasar adalah: apa yang dimaksud dengan keselamatan itu sendiri? Keselamatan harus dipahami dengan benar.

Jangan kita berpikir bahwa asal percaya kepada Yesus, lalu ketika mati otomatis masuk surga. Tidak demikian. Jika keadaan hidup kita masih berantakan, kita tidak akan masuk surga. Firman Tuhan dengan tegas menyatakan bahwa “tidak semua orang yang berseru: Tuhan, Tuhan, akan masuk ke dalam Kerajaan Surga, melainkan mereka yang melakukan kehendak Bapa.” Tidak ada sesuatu yang najis yang dapat masuk ke dalam Kerajaan Surga. Jika seseorang masih mencuri, masih menyimpan kebencian dan dendam, masih hidup dalam perzinahan, mulutnya kotor, suka melukai orang lain, dan tidak peduli terhadap perasaan sesama, ia tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga. Seseorang tidak mungkin hidup dalam perdamaian dan persekutuan dengan Allah jika ia tidak berkeadaan layak di hadapan-Nya. Itulah sebabnya firman Tuhan berkata, “Kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar,” dan Tuhan Yesus memerintahkan, “Jadikan semua bangsa murid-Ku.”

Namun, sangat sedikit orang yang sungguh-sungguh mengerti hal ini dan benar-benar mengusahakannya. Banyak orang Kristen merasa telah memiliki anugerah dan merasa sudah berdamai dengan Allah, sehingga tidak lagi memiliki perjuangan yang serius dalam mengisi hidup kekristenannya. Akibatnya, tidak sedikit orang Kristen hidup dalam kewajaran yang sama seperti orang-orang yang tidak mengenal Allah. Mereka hidup seperti Esau, yang menukar hak kesulungannya dengan semangkuk makanan. Esau sebenarnya memiliki hak kesulungan, tetapi ia tidak menghargai, tidak mempertahankan, dan tidak mengisinya dengan benar. Ia meremehkan dan menukarnya dengan kesenangan sesaat.

Demikian pula, ketika kita mengakui Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat, pengakuan itu harus disertai dengan perjuangan untuk memperoleh kembali kemuliaan Allah—the glory of God; tēs doxēs tou Theou (τῆς δόξης τοῦ Θεοῦ). Kata doxēs berasal dari doxa (δόξα), yang berarti brightness, radiance, splendor—kecerahan, cahaya, dan kemegahan. Karena itu, kita harus berjuang mengerjakan keselamatan agar hidup kita menjadi manifestasi kemuliaan Allah, a manifestation of God’s excellent power, glory, and majesty. Sekalipun kita miskin secara materi, tidak berpenampilan menarik, atau tidak memiliki jabatan tinggi, kita tetap dapat memancarkan kemuliaan Allah melalui kehidupan yang diubahkan.

Tuhan Yesus memberkati

KETIKA KITA MENGAKUI YESUS SEBAGAI TUHAN DAN JURU SELAMAT, PENGAKUAN ITU HARUS DISERTAI DENGAN PERJUANGAN UNTUK MEMPEROLEH KEMBALI KEMULIAAN ALLAH.

Card image
KIDS DAILY DEVOTIONAL 25 Maret 2026 -DAMAI YANG TENANG
2026-03-26 21:40:04


Yohanes 14:27
“Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu.”

Rehobot Kids, pernahkah kamu merasa takut atau cemas? Misalnya saat akan ulangan, dimarahi orang tua, atau suasana di rumah terasa kurang nyaman. Rasanya seperti berada di tengah hujan badai—angin kencang, petir menyambar, dan hati ingin cepat-cepat mencari tempat aman.

Tuhan Yesus tahu perasaan itu. Karena itulah Ia memberikan damai sejahtera-Nya kepada kita. Damai dari Tuhan berbeda dengan damai dari dunia. Dunia berkata damai itu kalau tidak ada masalah, tetapi Tuhan memberi damai yang tetap tinggal meskipun masalah masih ada.

Damai dari Tuhan itu seperti jangkar yang kuat di hati kita. Walaupun keadaan di sekitar terasa kacau, hati kita tetap tenang karena tahu Tuhan selalu menyertai dan menjaga kita.

Saat kamu merasa gelisah, berhentilah sejenak dan berdoa. Katakan, “Tuhan Yesus, aku mau menerima damai-Mu.” Damai-Nya akan menenangkan hatimu dan memberi keberanian.

Yuk, Rehobot Kids, belajar percaya kepada Tuhan setiap hari. Dengan damai dari Tuhan Yesus, hati kita bisa tetap tenang, kuat, dan menjadi berkat bagi orang-orang di sekitar kita.

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 25 Maret 2026 (English Version) - SILENCE THAT SAVES
2026-03-26 21:37:35


“Do not be quick with your mouth, do not be hasty in your heart to utter anything before God. God is in heaven and you are on earth, so let your words be few.”
Ecclesiastes 5:2

In this fast-paced era, young people often feel the need to react immediately. A small opinion—reply. A sharp comment—respond. A difference—debate. Yet God’s Word reminds us: do not be quick to speak. Not everything needs an instant response. Sometimes, silence is the strongest and most saving choice.

Nehemiah gives us an example that is often overlooked. When he heard the news that the walls of Jerusalem were broken down, he did not immediately blame anyone or react emotionally. Instead, he chose to be silent—he sat down, wept, and prayed before God (Nehemiah 1:4). Nehemiah’s silence was not a sign of weakness, but a sign of awareness: before speaking to people, he first came to God.

Silence creates space for prayer, reflection, and clarity of heart. Young people are often tempted to “win” arguments, yet not every conflict needs to be won with words. Self-control does not mean defeat—it is a mark of maturity. In stillness, we learn to discern what needs to be spoken and what is better entrusted to God.

Learning from Nehemiah, we are invited to see silence as spiritual strength. By choosing not to speak hastily, we avoid unnecessary wounds and open the way for solutions filled with wisdom. Sometimes, what saves us most is not many words, but a calm heart and ears willing to listen to God.

WHAT TO DO?
1. Train yourself to pray first before responding to stressful situations.
2. Use moments of silence to seek understanding, not merely to suppress emotions.
3. Learn from Nehemiah: let your words be born from prayer, not from impulse.

BIBLE MARATHON:
Acts 24

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 25 Maret 2026 - DIAM YANG MENYELAMATKAN
2026-03-25 23:57:28


“Janganlah terburu-buru dengan mulutmu, dan hatimu jangan lekas mengeluarkan perkataan di hadapan Allah. Karena Allah ada di sorga dan engkau di bumi, sebab itu biarlah perkataanmu sedikit.”
Pengkhotbah 5:2

Di era serba cepat, anak muda sering merasa harus langsung bereaksi. Ada opini dikit—balas. Ada komentar nyentil—jawab. Ada perbedaan—debat. Padahal firman Tuhan justru mengingatkan: jangan terburu-buru bicara. Tidak semua hal perlu ditanggapi saat itu juga. Kadang, diam adalah pilihan paling kuat dan paling menyelamatkan.

Nehemia memberi contoh yang jarang disorot. Saat mendengar kabar bahwa tembok Yerusalem runtuh, ia tidak langsung menyalahkan siapa pun atau bereaksi emosional. Ia memilih diam, duduk, menangis, dan berdoa di hadapan Tuhan (Nehemia 1:4). Diamnya Nehemia bukan tanda lemah, tapi tanda hati yang sadar: sebelum bicara ke manusia, ia lebih dulu datang ke Tuhan.

Diam memberi ruang untuk doa, refleksi, dan kejernihan hati. Anak muda sering tergoda untuk “menang” dalam argumen, padahal tidak semua konflik harus dimenangkan dengan kata-kata. Menahan diri bukan berarti kalah—justru itu tanda kedewasaan. Dari keheningan, kita belajar membedakan mana yang perlu disuarakan, mana yang cukup diserahkan kepada Tuhan.

Belajar dari Nehemia, kita diajak melihat diam sebagai kekuatan rohani. Dengan memilih untuk tidak terburu-buru bicara, kita menghindari luka yang tidak perlu dan membuka jalan bagi solusi yang penuh hikmat. Kadang, yang paling menyelamatkan bukan kata-kata yang banyak, tapi hati yang tenang dan telinga yang mau mendengar Tuhan.

WHAT TO DO?
1. Latih diri untuk berdoa dulu sebelum me respons situasi yang menekan.
2. Gunakan waktu diam untuk memahami, bukan sekadar menahan emosi.
3. Belajar dari Nehemia: biarkan kata-kata lahir dari doa, bukan dari impuls.

BIBLE MARATHON:
Kisah Para Rasul 24

Card image
Renungan Pagi - 25 Maret 2026
2026-03-25 23:47:39


Apa yang kita pikirkan saat bangun tidur di pagi hari? Banyak orang mengawalinya dengan memikirkan masalah dan kemustahilan sehingga pikiran mereka selalu diliputi kegelisahan, ketakutan, kemarahan atau emosi, berbeda dengan Daud selalu memulai harinya dengan berdoa.

Dan mempersembahkan puji-pujian bagi Tuhan, bahkan "Tujuh kali dalam sehari aku memuji-muji Engkau", tidak sedikit orang Kristen lupa melakukan hal ini, mereka berpikir memuji Tuhan itu cukup dilakukan saat beribadah di gereja atau persekutuan saja, itu salah besar!

Card image
Quote Of The Day - 25 Maret 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-03-25 23:39:05


Salah satu cara berpikir dan gaya hidup Tuhan Yesus selama di dunia ini adalah “kesederhanaan.” 

Card image
Mutiara Suara Kebenaran - 25 Maret 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-03-25 23:38:19

????????????? ?? ??????:
Orang percaya harus menjaga kesucian hidup; dari apa yang dipikirkan, diucapkan, dan dilakukan.

Card image
LONGING TO MEET GOD - 25 Maret 2026 (English Version)
2026-03-25 23:37:27


What a great trap it is for a pastor to become comfortable in ministry, with all life’s facilities and assured livelihood. How great the cost when a servant of God does not earnestly wrestle with truth and put it on in life. They can be trapped in accumulating wealth in the form of foundation or church assets, which in the end are inherited by their family. They hoard money for tomorrow on earth, while so much of God’s work today is neglected and should be sustained by us.

Especially for servants of God, we must be brave enough to lose, even to the point of losing our future. Our hearts sometimes shrink when we think about our children’s future. Such thoughts come from the evil one. Believe that our children will also be cared for by God. Those who do not understand the content and purpose of reconciliation are busy composing descriptions of reconciliation in theological systems. They are entangled in doctrine, noisy, and end up attacking one another. Often this even leads to misleading one another. We must no longer live like that. We must learn to accept others. The most important thing is how we change our own character.

We must have space for freedom in the dynamics of life. We learn to respect one another. We hold to the principle that the truth we understand is true, but toward others, we must have tolerance. Tolerance is not compromise. We live in a civilized society, and we long—not only for Christians of different denominations but even for our non-Christian brothers and sisters—to one day enter the world to come. We must be witnesses to anyone. The main thing is not winning doctrinal debates, but having the character of Christ. Our defense of others does not lie in doctrinal stores that make us fight, but in sincere love, a longing for everyone to be saved, and an example of righteous living. We are citizens of heaven. We must carry the dignity of heavenly nobility. Toward everyone, we show God’s gentle character, with a meek and peaceful spirit.

Those who truly live as citizens of heaven will surely have a strong longing to meet the Lord. As Jesus said, He desires to meet us face to face after He has finished preparing a place. He will come again and take us, so that where He is, there we will be with Him.

If, as the bride, we do not long for the bridegroom, that is a sign of unfaithfulness. That was Paul’s fear when he said, “I am afraid that your minds may be led astray from your sincere and pure devotion to Christ, just as the serpent deceived Eve.” We must be a holy bride, without defect and blameless. A pure virgin means not defiled by worldly affection and sin. Only then are we worthy to be Christ’s bride, and the Father can be reconciled with us. God will not be reconciled with Christians who do not live as Christ’s faithful bride.

In fact, most Christians have been captured by the world through worldly affection, so they no longer long to return to their heavenly homeland, forgetting their homeland. The pleasures of life on earth bind their hearts. This often happens to those who are successful in their careers, businesses, studies, and families, and who possess many life comforts. Therefore, if God allows us to be in such a state, we must not sink into sin. Indeed, at this point, we can measure ourselves: are we worthy to be reconciled with God or not? The measure is simple—do we truly long to meet the Lord as His bride?

Ironically, those who have many problems—career failures, academic struggles, household difficulties, or physical limitations—are more easily broken-hearted toward the world. And when someone is broken-hearted over the world, they are more readily drawn to God. May this reflection lead many of us to change and truly make peace with God.

The Lord Jesus bless you

THOSE WHO TRULY LIVE AS CITIZENS OF HEAVEN WILL SURELY HAVE A STRONG LONGING TO MEET THE LORD.

Card image
KERINDUAN UNTUK BERTEMU TUHAN
2026-03-25 21:25:14


Betapa besar jebakan bagi seorang pendeta untuk merasa nyaman dalam pelayanan, dengan segala fasilitas hidup dan nafkah yang terjamin. Betapa besar pula korbannya jika seorang hamba Tuhan tidak sungguh-sungguh menggumuli kebenaran dan mengenakannya dalam hidup. Mereka dapat terjebak mengumpulkan kekayaan dalam bentuk aset yayasan maupun gereja, yang pada akhirnya diwariskan kepada keluarga. Mereka menimbun uang untuk hari esok di bumi, padahal hari ini begitu banyak pekerjaan Tuhan yang terbengkalai dan seharusnya kita topang.

Khususnya para hamba Tuhan, kita harus berani kehilangan—bahkan seperti kehilangan masa depan. Walaupun hati kita kadang-kadang ciut ketika memikirkan masa depan anak-anak kita. Pikiran seperti itu adalah pikiran yang berasal dari si jahat. Percayalah, anak-anak kita juga akan dipelihara oleh Tuhan.

Orang yang tidak mengerti isi dan maksud perdamaian hanya sibuk menyusun deskripsi perdamaian dalam sistematika teologi. Mereka berkutat dalam doktrin, ribut, dan akhirnya saling menyerang. Bahkan, tidak jarang sampai saling menyesatkan. Kita tidak boleh lagi hidup seperti itu. Kita harus belajar menerima orang lain. Yang terpenting adalah bagaimana kita mengubah karakter kita sendiri.

Kita harus memiliki ruang kebebasan dalam dinamika hidup. Kita belajar saling menghargai. Kita memegang prinsip bahwa kebenaran yang kita pahami adalah benar, tetapi terhadap orang lain kita harus memiliki toleransi. Toleransi bukan kompromi. Kita hidup di tengah masyarakat yang beradab, dan kita merindukan—bukan hanya orang Kristen yang berbeda aliran—bahkan saudara-saudara kita yang non-Kristen pun suatu hari dapat masuk ke dunia yang akan datang. Kita harus menjadi saksi bagi siapa pun. Yang utama bukanlah memenangkan perdebatan doktrin, melainkan memiliki karakter Kristus.

Pembelaan kita bagi orang lain bukan terletak pada khazanah doktrin yang membuat kita bertengkar, tetapi pada kasih yang tulus, kerinduan agar semua orang diselamatkan, dan keteladanan hidup yang benar. Kita adalah warga negara surga. Kita harus memiliki martabat bangsawan surgawi. Kepada semua orang, kita menunjukkan karakter Allah yang lemah lembut, dengan roh yang lemah lembut dan tenteram.

Orang yang sungguh menghayati bahwa dirinya adalah warga negara surga pasti memiliki kerinduan yang kuat untuk bertemu dengan Tuhan. Seperti yang Yesus katakan, Ia ingin bertemu muka dengan muka dengan kita setelah Ia selesai menyediakan tempat. Ia akan datang kembali dan membawa kita, supaya di mana Ia berada, di situ kita berada bersama-sama dengan Dia.

Jika sebagai mempelai perempuan kita tidak merindukan mempelai laki-laki, itu adalah tanda ketidaksetiaan. Itulah yang ditakutkan Paulus ketika ia berkata, “Aku takut, supaya pikiranmu jangan disesatkan dari kesetiaanmu yang sejati kepada Kristus, sama seperti Hawa diperdaya oleh ular.” Kita harus menjadi mempelai yang suci, tidak bercacat dan tidak bercela. Perawan suci berarti tidak ternodai oleh percintaan dunia dan dosa. Hanya dengan demikian kita layak menjadi mempelai Kristus, dan Bapa dapat berdamai dengan kita. Allah tidak akan berdamai dengan orang Kristen yang tidak hidup sebagai mempelai Kristus yang setia.

Faktanya, sebagian besar orang Kristen telah tertawan oleh dunia melalui percintaan dunia, sehingga tidak lagi merindukan pulang ke tanah air surgawi—melupakan homeland-nya. Hati mereka telah terikat oleh kenikmatan hidup di bumi. Hal ini sering terjadi pada mereka yang sukses dalam karier, bisnis, studi, keluarga, dan memiliki berbagai fasilitas hidup. Karena itu, jika Tuhan mengizinkan kita berada dalam keadaan seperti itu, jangan sampai kita tenggelam dalam dosa.

Sesungguhnya, di titik ini kita dapat mengukur diri kita sendiri: apakah kita layak berdamai dengan Allah atau tidak? Ukurannya sederhana—apakah kita sungguh merindukan bertemu dengan Tuhan sebagai mempelai-Nya?

Ironisnya, sering kali justru orang-orang yang memiliki banyak masalah—gagal dalam karier, studi, rumah tangga, atau memiliki keterbatasan fisik—lebih mudah patah hati terhadap dunia. Dan ketika seseorang patah hati terhadap dunia, ia lebih mudah mengarahkan hatinya kepada Tuhan. Kiranya melalui renungan ini, banyak di antara kita yang mau berubah dan sungguh-sungguh mengadakan perdamaian dengan Tuhan.

Tuhan Yesus memberkati

ORANG YANG SUNGGUH-SUNGGUH MENGHAYATI BAHWA DIRINYA ADALAH WARGA NEGARA SURGA PASTI MEMILIKI KERINDUAN YANG KUAT UNTUK BERTEMU DENGAN TUHAN.

Card image
KIDS DAILY DEVOTIONAL 24 Maret 2026 - PERTOLONGAN DARI TUHAN
2026-03-24 22:39:26


Mazmur 9:10
“Orang yang mengenal nama-Mu percaya kepada-Mu, sebab tidak Kautinggalkan orang yang mencari Engkau, ya TUHAN.”

Pagi itu jam menunjukkan pukul 06.30. Felix berangkat ke sekolah dengan sepeda seperti biasanya. Ia mengayuh sepeda dengan semangat karena hari itu ada ujian. Felix sudah belajar dan ingin datang tepat waktu.

Namun di tengah perjalanan, tiba-tiba ban sepedanya bocor. Sepeda tidak bisa dikayuh lagi. Felix harus mendorong sepedanya sambil mencari bantuan. Tak lama kemudian, ia menemukan tempat tambal ban. Saat melihat jam, Felix terkejut—waktu sudah menunjukkan pukul 06.50, sementara ujian dimulai pukul 07.00. Hatinya panik dan takut.

Felix merasa bingung dan hampir putus asa. Lalu ia berhenti sejenak dan berdoa kepada Tuhan. Ia menceritakan semua yang ia rasakan—takut, khawatir, dan berharap bisa sampai tepat waktu. Felix percaya Tuhan mendengarnya.

Tidak lama kemudian, sebuah mobil berhenti. Anya dan sopirnya melihat Felix dan menawarkan bantuan. Setelah membayar tambal ban dan menitipkan sepedanya, Felix diantar ke sekolah. Puji Tuhan, ia sampai tepat waktu sebelum ujian dimulai. Hati Felix penuh syukur karena ia merasakan pertolongan Tuhan.

Rehobot Kids, Firman Tuhan berkata bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan orang yang mencari-Nya. Saat kita berdoa dan percaya, Tuhan selalu mendengar dan menolong kita pada waktu yang tepat. Karena Tuhan setia, kita bisa hidup dengan hati yang tenang dan penuh percaya kepada-Nya.

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 24 Maret 2026 (English Version) - BOLD IN TRUTH WITHOUT BEING HARSH
2026-03-24 22:14:11


“For the law was given through Moses; grace and truth came through Jesus Christ.”
John 1:17

Jesus is the strongest example of how to face differences and debates. He never compromised the truth, yet He never lost love. Sadly, as young people we often fall into two unhealthy extremes: some become too soft just to appear kind, while others become too harsh in order to feel the most right.

Jesus shows us that truth and love are not enemies—they are meant to walk together. He could confront sin without degrading people. He could be firm without being rude. This is especially important in the era of social media and public discussions that can easily become toxic. Standing up for faith was never meant to hurt, belittle, or humiliate others.

Truth delivered with love has the power to transform, not destroy. Spiritual maturity is not seen in how loudly we speak, but in how wisely we act. Be young people who are bold in truth yet humble in heart; firm in faith yet gentle in approach. The world is already loud enough—God calls us to be peacemakers.

WHAT TO DO?
1. Continually examine the condition of your heart—don’t be good on the outside but unhealthy on the inside.
2. Always place love toward everyone, because it is the key to becoming children of God.
3. Strengthen your prayer life in every situation, not only in moments of crisis.

BIBLE MARATHON:
Acts 23

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 24 Maret 2026 - BERANI BENAR TANPA HARUS KASAR
2026-03-24 22:12:30


“Sebab hukum Taurat diberikan oleh Musa, tetapi kasih karunia dan kebenaran datang oleh Yesus Kristus.” Yohanes 1:17

Yesus adalah teladan paling solid dalam menghadapi perbedaan dan perdebatan. Ia tidak pernah mengompromikan kebenaran, tetapi juga tidak pernah kehilangan kasih. Sayangnya, sebagai anak muda kita sering terjebak dalam dua sikap yang keliru: ada yang terlalu lunak demi terlihat baik, dan ada pula yang terlalu keras demi merasa paling benar.

Yesus menunjukkan bahwa kebenaran dan kasih bukan musuh—keduanya justru harus berjalan bersama. Ia bisa menegur dosa tanpa merendahkan manusia. Ia bisa tegas tanpa menjadi kasar. Ini penting, terutama di era media sosial dan ruang diskusi yang gampang banget jadi toxic. Berdiri untuk iman tidak pernah dimaksudkan untuk melukai, merendahkan, atau mempermalukan orang lain.

Kebenaran yang disampaikan dengan kasih punya kuasa untuk mengubah, bukan menghancurkan. Kedewasaan rohani terlihat bukan dari seberapa keras kita bicara, tapi seberapa bijak kita bersikap. Jadilah anak muda yang berani benar, tapi tetap rendah hati; teguh pada iman, tapi lembut dalam cara. Dunia sudah cukup ribut—Tuhan memanggil kita jadi pembawa damai.

WHAT TO DO?
1. Tetap periksa kedalaman hati kita, jangan baik didepan tapi buruk didalam.
2. Taruh selalu sifat Kasih kepada siapapun, karena itu kunci utama menjadi anak-anak Allah.
3. Perkuat doa dalam situasi apapun, jangan hanya dalam situasi genting saja.

BIBLE MARATHON:
Kisah Para Rasul 23

Card image
Renungan Pagi - 24 Maret 2026
2026-03-24 20:39:25


Kita harus mendengar firman Tuhan dan menjadi pelaku firman Tuhan, sebab orang yang mendengar firman Tuhan dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana.

Artinya meskipun ditengah kelemahan dan kekurangan, ditengah kemiskinan dan keterbatasan, selama hidup dalam firman Tuhan, maka berkat Allah yang dahsyat, kemurahan Tuhan yang luar biasa akan berlaku dalam hidup kita.

Card image
Quote Of The Day - 24 Maret 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-03-24 20:38:25


Masalah hidup harus diterima sebagai berkat untuk persiapan ke surga.

Card image
Mutiara Suara Kebenaran - 24 Maret 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-03-24 20:37:01


Kalau orang percaya sungguh-sungguh menginginkan sebuah hubungan yang sepatutnya dengan Bapa, tidak ada lagi yang dapat membahagiakan orang percaya selain Bapa.

Card image
THE INTEREST OF THE KINGDOM OF HEAVEN - 24 Maret 2026 (English Version)
2026-03-24 20:35:49


The interest of the Kingdom of Heaven is the Person of God the Father, who created and owns everything. The essence is simple: to please the Father’s heart. There is no need to make it complicated. The delight of God the Father is when His will is done and fulfilled in each person’s life. This life was indeed created only for the pleasure and satisfaction of God the Father’s heart.

So, we should say, “I am willing to accept this fact, that the life You have created and own is for Your pleasure and satisfaction, O Father.” Doing the Father’s will, as contained in the Lord’s Prayer, “Your kingdom come, Your will be done on earth as it is in heaven,” means my life continually translates Your desires into my whole being.

Humans cannot be without desires. But blessed are those whose desire is to understand God’s will and translate it into their lives. Truly, those redeemed by the blood of Jesus no longer live for their own desires but become executors of God’s will. So it is not the concept “I have desires, then I adjust them to God’s will so they don’t conflict. If they align, you bless them.” Not that. It should be, “I lay down all my desires, then I look to see what You desire me to do.” That means we no longer have our own desires. If there are desires, all of them must be in harmony with God’s will, which we must carry out. Hence, the Word of God says, “Whether you eat or drink, or whatever you do, do all to the glory of God.”

In fact, most people are busy asking God to bless this and that. That is a sign of someone who still has themselves. Maybe they do not do anything morally wrong, they do not grieve God’s heart, but they also do not satisfy His heart. A life not directed toward the pleasure and satisfaction of God’s heart is deception. It means someone is still on the side of the Devil or captive to the power of darkness.

That is why true Christianity is a genuine relationship with God, manifested, experienced, and real, so that believers can understand God’s feelings and act on them. To please God’s heart, one must understand and do His will. Only then can one honestly say, “Your will be done on earth as it is in heaven.” That is the true content and meaning of peace with God. Jesus died to redeem us to change us from a nature of sin to a divine nature, and the model is Jesus Himself. Only a life modeled after Him satisfies God’s heart. Jesus became Lord for the glory of God the Father, not for His own glory. How great the disappointment to God if the Lord Jesus has redeemed us, but we do not live to satisfy the Father’s heart. Why were we redeemed and reconciled then?

Put plainly, it is as if Jesus says, “I have bought you with My blood. I provided atonement with My blood. But you are not reconciled to God. You have reconciled with the world instead. That is disappointing.” If we do not change, we will not dare to stand before the judgment seat of Christ later, because we have disappointed Him. We must change. As allies of God, we must not be mastered by worldly affection. One who is still attracted to the world cannot be in fellowship with God. Conversely, one who is truly an ally of God is no longer mastered by worldly affection. And ultimately, we understand that God’s will is the salvation of souls (1 Tim. 2:4; 2 Pet. 3:9), for He does not wish anyone to perish.

A genuine believer cares about the salvation of other people’s souls. Not merely adding church members, but striving so that others live pleasing to God, so that the number of those who please God’s heart increases. If it is only adding church members, the pastor is pleased, and the organization is proud. But the Kingdom of God is not built on statistics. We must stake our whole lives. First, our own life must please God. Only after that do we work so that others also become people who satisfy God’s heart. That is why Paul said, “For to me, to live is Christ and to die is gain.” So, let us change.

The Lord Jesus bless you

THE INTEREST OF THE KINGDOM OF HEAVEN IS THE PERSON OF GOD THE FATHER, WHO CREATED AND OWNS EVERYTHING.

Card image
KEPENTINGAN KERAJAAN SURGA - 24 Maret 2026
2026-03-24 20:33:41


Kepentingan Kerajaan Surga itu adalah Diri Allah Bapa, yang menciptakan dan memiliki segala sesuatu. Intinya sederhana: menyenangkan perasaan Bapa. Tidak perlu dibuat muluk-muluk. Kesukaan Allah Bapa adalah ketika kehendak-Nya dilakukan dan dipenuhi dalam hidup setiap individu. Kehidupan ini memang diadakan hanya untuk kesenangan dan kepuasan hati Allah Bapa.

Maka seharusnya kita berkata, “Aku bersedia menerima fakta ini, bahwa kehidupan yang Engkau ciptakan dan miliki ini adalah untuk kesenangan dan kepuasan-Mu, ya Bapa.” Melakukan kehendak Bapa, seperti yang termuat dalam Doa Bapa Kami, “Datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di surga,” berarti hidupku senantiasa menerjemahkan keinginan-Mu dalam seluruh keberadaanku.

Manusia tidak mungkin tidak memiliki keinginan. Tetapi berbahagialah orang yang keinginannya adalah mengerti keinginan Allah dan menerjemahkannya dalam hidupnya. Sesungguhnya, orang yang ditebus oleh darah Yesus bukan lagi hidup untuk keinginannya sendiri, melainkan menjadi pelaksana kehendak Tuhan. Jadi, bukan konsep “aku punya keinginan, lalu kusesuaikan dengan kehendak Allah supaya tidak bertentangan. Kalau sesuai, Engkau berkati.” Bukan itu. Seharusnya adalah, “Aku meletakkan semua keinginanku, lalu aku melihat apa yang Engkau kehendaki untuk kulakukan.” Artinya, kita tidak lagi memiliki keinginan sendiri. Kalaupun ada keinginan, semuanya harus selaras dengan kehendak Allah yang wajib kita lakukan. Maka firman Tuhan berkata, “Baik kamu makan atau minum, atau apa pun yang kamu lakukan, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah.”

Faktanya, kebanyakan orang justru sibuk meminta Tuhan memberkati ini dan itu. Itu adalah ciri orang yang masih memiliki dirinya sendiri. Mungkin ia tidak melakukan hal yang secara moral salah, tidak mendukakan hati Tuhan, tetapi juga tidak memuaskan hati-Nya. Hidup yang tidak diarahkan untuk kesenangan dan kepuasan hati Allah adalah kesesatan. Itu berarti seseorang masih berada di pihak Iblis atau tertawan dalam kuasa gelap.

Itulah sebabnya kekristenan sejati adalah hubungan dengan Allah yang sungguh-sungguh terwujud, dialami, dan nyata, sehingga orang percaya dapat mengerti perasaan Allah dan melakukannya. Untuk menyukakan hati Allah, seseorang harus memahami dan melakukan kehendak-Nya. Barulah ia dapat dengan jujur berkata, “Jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di surga.” Itulah isi dan maksud sejati dari perdamaian dengan Allah. Yesus mati menebus kita untuk mengubah kita dari kodrat dosa kepada kodrat ilahi, dan modelnya adalah Yesus sendiri. Hanya model kehidupan seperti inilah yang memuaskan hati Allah. Yesus menjadi Tuhan demi kemuliaan Allah Bapa, bukan demi kemuliaan-Nya sendiri. Maka betapa besar kekecewaan Allah jika Tuhan Yesus telah menebus kita, tetapi kita tidak hidup untuk memuaskan hati Bapa. Untuk apa kita ditebus dan diperdamaikan?

Jika dibahasakan secara lugas, seakan-akan Yesus berkata, “Aku telah membeli engkau dengan darah-Ku. Aku menyediakan pendamaian dengan darah-Ku. Tetapi engkau tidak berdamai dengan Allah. Engkau malah berdamai dengan dunia. Itu mengecewakan.” Jika kita tidak berubah, kita tidak akan berani berdiri di hadapan takhta pengadilan Kristus kelak, karena kita telah mengecewakan-Nya. Kita harus berubah. Sebagai sekutu Allah, kita tidak boleh dikuasai oleh percintaan dunia. Orang yang masih tertarik kepada dunia tidak mungkin dapat bersekutu dengan Allah. Sebaliknya, orang yang benar-benar menjadi sekutu Allah tidak lagi dikuasai oleh percintaan dunia. Dan pada akhirnya kita memahami bahwa kehendak Allah adalah keselamatan jiwa-jiwa (1 Tim. 2:4; 2 Ptr. 3:9), sebab Ia tidak menghendaki seorang pun binasa.

Orang percaya yang sejati peduli terhadap keselamatan jiwa orang lain. Bukan sekadar menambah anggota gereja, melainkan mengusahakan agar orang lain hidup berkenan kepada Allah, sehingga jumlah orang yang menyukakan hati Allah bertambah. Kalau hanya menambah anggota gereja, pendeta yang senang, organisasi yang bangga. Tetapi Kerajaan Allah tidak sedang dibangun dengan statistik. Kita harus mempertaruhkan segenap hidup kita. Yang pertama, hidup kita sendiri harus berkenan kepada Allah. Baru setelah itu kita mengusahakan agar orang lain juga menjadi pribadi-pribadi yang memuaskan hati Allah. Itulah sebabnya Paulus berkata, “Bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan.” Jadi, mari kita berubah.

Tuhan Yesus memberkati KEPENTINGAN KERAJAAN SURGA ITU ADALAH DIRI ALLAH BAPA, YANG MENCIPTAKAN DAN MEMILIKI SEGALA SESUATU.

Card image
KIDS DAILY DEVOTIONAL 23 Maret 2026 - KEBERANIAN DARI TUHAN
2026-03-23 14:53:23


2 Timotius 4:17
“Tetapi Tuhan telah mendampingi aku dan menguatkan aku, supaya dengan perantaraanku Injil diberitakan dengan sepenuhnya… Dengan demikian aku lepas dari mulut singa.”

Akhir pekan ini, Rania akan mengikuti lomba piano di acara pentas seni. Sejak dua bulan lalu, ia rajin berlatih bersama guru lesnya. Setiap pulang sekolah, Rania meluangkan waktu untuk berlatih lagu-lagu yang akan dimainkan. Ia ingin memberikan yang terbaik dari kemampuannya.

Namun saat hari lomba tiba, Rania merasa sangat gugup. Tangannya terasa dingin dan jantungnya berdebar kencang. Mama pun bertanya dengan lembut, “Kamu kenapa, Nak?” Rania menjawab pelan, “Aku takut, Ma. Ini pertama kalinya aku ikut lomba piano.” Mama tersenyum dan berkata, “Kamu tidak sendirian. Tuhan ada di sampingmu dan Dia yang memberi keberanian.”

Kata-kata mama membuat Rania lebih tenang. Ia mengingat bahwa Tuhan selalu menyertainya. Dengan berdoa dan percaya, Rania pun melangkah ke panggung dan memainkan pianonya dengan penuh keberanian.

Rehobot Kids, kita semua pernah merasa takut seperti Rania—takut mencoba hal baru, takut gagal, atau takut tampil di depan banyak orang. Tapi Firman Tuhan mengingatkan kita bahwa Tuhan selalu mendampingi dan menguatkan kita. Saat kita merasa lemah, Tuhanlah sumber keberanian kita.

Jadi, saat kamu merasa takut atau ragu, ingatlah: Tuhan ada di sisimu. Berdoalah, percaya kepada-Nya, dan melangkahlah dengan berani. Bersama Tuhan, kamu pasti bisa melewati setiap tantangan!

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 23 Maret 2026 (English Version) - LOVE THAT MAKES ROOM
2026-03-23 14:52:02


“When Barnabas arrived and saw the grace of God, he was glad and encouraged them all to remain true to the Lord with all their hearts.”
Acts 11:23

In differences and conflicts, young people are often driven to defend themselves, hold tightly to their opinions, or impose their will. Yet, God’s Word reminds us that love and truth should never be set against each other—they must walk together. Barnabas is a living example of how mature love is able to make room without losing direction.

Barnabas was known as the “son of encouragement.” He was not quick to judge, but sensitive to seeing God’s grace at work in the lives of others. Even when a sharp conflict arose between him and Paul regarding John Mark, Barnabas chose to give a second chance. His decision was not a sign of weakness, but a conviction that God was still at work in Mark’s life. Time proved this true—Mark grew and was used by God in extraordinary ways, even writing a Gospel.

From Barnabas, we learn that facing differences is not about winning or losing, but about remaining faithful to the truth wrapped in love. Love that makes room does not mean ignoring principles; it means trusting that God is able to grow people through process. Young people are called to grow in maturity: not every conflict must be avoided, but every conflict can become an opportunity to reflect the character of Christ.

Love that makes room opens the way for spiritual growth—for others and for ourselves. When we choose to love amid differences, we are building the body of Christ with hearts that are healthy, humble, and full of hope.

WHAT TO DO?
1. When facing differences, choose to make room for others to grow.
2. Learn to give counsel with love, not judgment.
3. Remember Barnabas: love that gives opportunity can give birth to greater ministry.

BIBLE MARATHON:
Acts 22

Card image
Renungan Pagi - 23 Maret 2026
2026-03-23 14:49:50


Seringkali lidah dikatakan sebagai pisau, pisau itu berbahaya tetapi juga bisa bermanfaat, dan manfaat pisau sangat bergantung ditangan siapa pisau itu berada, karena pada dasarnya pisau itu memiliki banyak fungsi.

Demikian juga dengan lidah, sebagai orang percaya, kita harus menggunakan lidah dengan bertanggung jawab, bukan untuk menghancurkan hidup orang lain, tetapi untuk membangunnya.

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 23 Maret 2026 - KASIH YANG MEMBERI RUANG
2026-03-23 14:45:59


“Setelah Barnabas datang dan melihat kasih karunia Allah, bersukacitalah ia; ia menasihati mereka, supaya mereka semua tetap setia kepada Tuhan.”
Kisah Para Rasul 11:23

Dalam perbedaan dan pertentangan, anak muda sering terdorong untuk membela diri, mempertahankan pendapat, atau memaksakan kehendak. Padahal, firman Tuhan mengingatkan bahwa kasih dan kebenaran tidak boleh dipertentangkan—keduanya harus berjalan bersama. Barnabas menjadi contoh nyata bagaimana kasih yang dewasa mampu memberi ruang tanpa kehilangan arah.

Barnabas dikenal sebagai “anak penghiburan.” Ia tidak cepat menghakimi, tetapi peka melihat kasih karunia Allah yang sedang bekerja dalam hidup orang lain. Bahkan saat terjadi konflik tajam dengan Paulus mengenai Yohanes Markus, Barnabas memilih memberi kesempatan kedua. Keputusannya bukan tanda kelemahan, melainkan keyakinan bahwa Tuhan masih bekerja dalam hidup Markus. Waktu membuktikan hal itu—Markus bertumbuh dan dipakai Tuhan secara luar biasa, bahkan menulis Injil.

Dari Barnabas kita belajar bahwa menghadapi perbedaan bukan soal menang atau kalah, melainkan soal kesetiaan pada kebenaran yang dibungkus kasih. Kasih yang memberi ruang bukan berarti mengabaikan prinsip, tetapi percaya bahwa Tuhan sanggup menumbuhkan orang melalui proses. Anak muda dipanggil untuk belajar dewasa: tidak semua pertentangan harus dihindari, tetapi setiap pertentangan bisa menjadi kesempatan untuk menghadirkan karakter Kristus.

Kasih yang memberi ruang membuka jalan bagi pertumbuhan rohani—baik bagi orang lain maupun bagi diri kita sendiri. Ketika kita memilih mengasihi di tengah perbedaan, kita sedang membangun tubuh Kristus dengan hati yang sehat, rendah, dan penuh pengharapan.

WHAT TO DO?
1. Saat menghadapi perbedaan, pilih untuk memberi ruang bagi orang lain bertumbuh.
2. Belajar menasihati dengan kasih, bukan dengan penghakiman.
3. Ingat Barnabas: kasih yang memberi kesempatan bisa melahirkan pelayanan yang lebih besar.

BIBLE MARATHON:
Kisah Para Rasul 22

Card image
Quote Of The Day - 23 Maret 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-03-23 14:43:48


Keadaan yang paling mengerikan dalam hidup adalah ketika seseorang tidak sanggup lagi mengingini Tuhan secara benar.   

Card image
Mutiara Suara Kebenaran - 23 Maret 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-03-23 14:28:13


Orang yang terbelenggu oleh dunia berarti dalam cengkeraman keinginan daging, keinginan mata dan keangkuhan hidup dan kasih Bapa tidak ada pada orang tersebut.

Card image
FELLOWSHIP WITH GOD - 23 Maret 2026 (English Version)
2026-03-23 14:27:24


So, if someone is unwilling to fight with their whole life as the price to be paid, they will never possess the Kingdom of Heaven. Many Christians do not know this. It is very concerning. Now, let us be aware. That is why the Lord Jesus himself said, “Seek first the kingdom of God and his righteousness, and all these things will be added to you.” In Luke 12:32–33, the Lord says, “Do not be afraid, little flock, for your Father has been pleased to give you the Kingdom. Sell your possessions and give to people experiencing poverty! Make for yourselves purses that do not wear out, a treasure in heaven that will not be exhausted, thieves cannot reach that, and moths do not destroy it.”

If we do not move our hearts away from the world, we will never be able to enter the Kingdom. How wicked it is when someone teaches, “As long as you confess faith, you automatically obtain the Kingdom of Heaven.” This is deception and a dumbing down that leaves Christians parked on earth instead of oriented to heaven. In fact, many Christians still have their hearts parked on earth. Yet the Lord says, “For where your treasure is, there your heart will be also.” That means our hearts must be moved. Therefore, the Word of the Lord says, “Sell your possessions and give to the poor! Make for yourselves purses that do not wear out, a treasure in heaven that will not be exhausted, thieves cannot reach that, and moths do not destroy it.” Literally, this statement is so, but figuratively, it means that our hearts should not be attached to the world.

The same applies to peace with God. Without Jesus’ sacrifice on the cross, no door would be open to possess and experience peace with God. However, the content and purpose of that peace can only be experienced and possessed through struggle. Thus, by Jesus’ sacrifice on the cross, the door of reconciliation with God was opened. Yet the content and purpose of that reconciliation must be experienced and possessed through the believer’s life struggle. We are reconciled with God, but is there fellowship? What is the content and purpose of that peace? The damage comes when Christians feel they are reconciled and then are content merely to attend church. That is considered the content of peace. In truth, if we are truly reconciled with God, status alone is not enough. There must be a real implication in the content of the peace we live out. It is pointless to establish peace with God if nothing is achieved through that peace.

Peace does not merely give us the status of being reconciled with God; through that peace, a person becomes a citizen of the Kingdom of Heaven, namely, a partner of God. Theologians can competently explain the concept of reconciliation in soteriology. But the question is: what is its content? A person cannot live in peace with God if they do not live as a citizen of the Kingdom of Heaven according to the purpose of the believer’s calling. We are called to be citizens of the Kingdom of Heaven, indeed, more than that, to be members of the family of the Kingdom of God, namely, children of God. Therefore, we must internalize our existence as citizens of heaven.

Ironically, many do not internalize that they are citizens of the Kingdom of Heaven. As a result, they do not live according to that calling. In the end, they will be rejected, and the Lord says, “I never knew you.” A person who does not internalize that they are a citizen of the Kingdom of Heaven cannot live in peace with God. Conversely, if a Christian internalizes their life as a citizen of the Kingdom of Heaven, then they can fellowship with God.

Fellowship with God—in theological terms—is often called being a partner of God. What does it mean? Fellowship with God means having unity of feeling and unity of mind in one struggle for the interests of the Kingdom of God. The interests of the Kingdom of God center on the Person of the Creator and Owner of life, namely God the Father. Thus, the ultimate interest of the Kingdom of God is to bring joy to the heart of God the Father.

May The Lord Jesus bless you

FELLOWSHIP WITH GOD MEANS HAVING UNITY OF FEELING AND UNITY OF MIND IN ONE STRUGGLE FOR THE INTERESTS OF THE KINGDOM OF GOD.

Card image
BERSEKUTU DENGAN ALLAH - 23 Maret 2026
2026-03-23 14:24:39


Jadi, jika seseorang tidak bersedia berjuang dengan segenap hidup sebagai harga yang harus dibayar, maka ia tidak akan pernah memiliki Kerajaan Surga. Banyak orang Kristen tidak mengetahui hal ini. Sangat memprihatinkan. Sekarang, hendaklah kita sadar. Itulah sebabnya Tuhan Yesus sendiri berkata, “Carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenaran-Nya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.” Dalam Lukas 12:32–33 Tuhan berkata, “Janganlah takut, hai kamu kawanan kecil! Karena Bapamu telah berkenan memberikan kamu Kerajaan itu. Juallah segala milikmu dan berikanlah sedekah! Buatlah bagimu pundi-pundi yang tidak dapat menjadi tua, suatu harta di sorga yang tidak akan habis, yang tidak dapat didekati pencuri dan yang tidak dirusakkan ngengat.”

Jika kita tidak memindahkan hati dari dunia, kita tidak akan pernah dapat memiliki Kerajaan itu. Betapa jahatnya jika ada orang yang mengajarkan, “Asal mengaku percaya, kamu otomatis memperoleh Kerajaan Surga.” Ini adalah penyesatan dan pembodohan yang membuat orang Kristen terparkir di bumi, bukan berorientasi ke surga. Faktanya, banyak orang Kristen masih terparkir hatinya di bumi. Padahal Tuhan berkata, “Di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada.” Artinya, hati kita harus dipindahkan. Maka firman Tuhan berkata, “Juallah segala milikmu dan berikanlah sedekah! Buatlah bagimu pundi-pundi yang tidak dapat menjadi tua, suatu harta di sorga yang tidak akan habis, yang tidak dapat didekati pencuri dan yang tidak dirusakkan ngengat.” Secara harfiah, pernyataan ini memang demikian, tetapi secara maknawi, maksudnya adalah agar hati kita tidak terikat pada dunia.

Demikian pula halnya dengan perdamaian dengan Allah. Tanpa pengurbanan Yesus di kayu salib, tidak ada satu pun pintu yang terbuka untuk memiliki dan mengalami perdamaian dengan Allah. Namun, isi dan maksud perdamaian itu hanya dapat dialami dan dimiliki melalui perjuangan. Jadi, oleh pengurbanan Yesus di kayu salib, pintu pendamaian dengan Allah dibukakan. Akan tetapi, isi dan maksud pendamaian tersebut harus dialami dan dimiliki melalui perjuangan hidup orang percaya. Kita dengan Allah telah berdamai, tetapi apakah ada dialog? Apa isi dan maksud perdamaian itu? Kerusakannya adalah ketika orang Kristen merasa sudah berdamai, lalu cukup dengan pergi ke gereja. Itu dianggap sebagai isi perdamaian. Padahal, jika kita sungguh berdamai dengan Allah, tidak cukup hanya statusnya saja. Harus ada implikasi nyata dari isi perdamaian yang dijalani. Percuma mengadakan perdamaian dengan Allah jika tidak ada sesuatu yang dicapai melalui perdamaian itu.

Perdamaian bukan hanya membuat kita berstatus telah berdamai dengan Allah, melainkan melalui perdamaian itu seseorang menjadi warga Kerajaan Surga, yaitu sekutu Allah. Secara teologis, para teolog dapat dengan cakap menjelaskan konsep pendamaian dalam soteriologi. Namun pertanyaannya: apa isinya? Seseorang tidak mungkin hidup dalam perdamaian dengan Allah jika ia tidak hidup sebagai warga Kerajaan Surga sesuai dengan maksud panggilan orang percaya. Kita dipanggil untuk menjadi warga Kerajaan Surga, bahkan lebih dari itu, menjadi anggota keluarga Kerajaan Allah, yaitu anak-anak Allah. Oleh sebab itu, kita harus menghayati keberadaan kita sebagai warga negara surga.

Ironisnya, banyak orang tidak menghayati bahwa dirinya adalah warga Kerajaan Surga. Akibatnya, mereka tidak hidup sesuai dengan maksud panggilan tersebut. Pada akhirnya, mereka akan ditolak, dan Tuhan berkata, “Aku tidak mengenal kamu.” Orang yang tidak menghayati bahwa dirinya adalah warga Kerajaan Surga tidak mungkin hidup dalam perdamaian dengan Allah. Sebaliknya, jika orang Kristen menghayati hidupnya sebagai warga Kerajaan Surga, maka ia dapat bersekutu dengan Allah.

Bersekutu dengan Allah—dalam dunia teologi—sering disebut sebagai menjadi sekutu Allah. Apa artinya? Bersekutu dengan Allah berarti memiliki kesatuan perasaan dan kesatuan pikiran dalam satu perjuangan bagi kepentingan Kerajaan Allah. Kepentingan Kerajaan Allah berpusat pada Pribadi Sang Pencipta dan Pemilik kehidupan, yaitu Allah Bapa. Dengan demikian, kepentingan Kerajaan Allah pada akhirnya adalah menyukakan hati Allah Bapa.

Tuhan Yesus memberkati

BERSEKUTU DENGAN ALLAH BERARTI MEMILIKI KESATUAN PERASAAN DAN KESATUAN PIKIRAN DALAM SATU PERJUANGAN BAGI KEPENTINGAN KERAJAAN ALLAH.

Card image
KIDS DAILY DEVOTIONAL 22 Maret 2026 - DEKAP DALAM PELUK-KU
2026-03-22 20:01:47


Mazmur 145:18
“TUHAN dekat pada setiap orang yang berseru kepada-Nya, pada setiap orang yang berseru kepada-Nya dalam kesetiaan.”

Rehobot Kids, saat Sekolah Minggu kita sering menyanyikan lagu “Ku Mau Cinta Yesus.” Di dalam lagu itu ada kalimat “walaupun badai silih berganti”. Artinya, meskipun hidup tidak selalu mudah dan ada masalah yang datang, kita tetap mau mencintai dan percaya kepada Tuhan. Firman Tuhan hari ini mengingatkan kita bahwa Tuhan selalu dekat dengan anak-anak yang sungguh-sungguh berseru dan berharap kepada-Nya.

Tuhan mendengar setiap doa kita dan selalu menemani langkah kita. Tapi kadang, kita baru ingat Tuhan saat ada masalah saja. Saat senang, tertawa, atau bermain, kita lupa berdoa dan lupa bersyukur. Padahal Tuhan ingin kita selalu datang kepada-Nya, baik saat senang maupun saat sedih.

Rehobot Kids, Tuhan mau kita berharap kepada-Nya setiap waktu. Saat di sekolah, kita bisa menunjukkan kasih Tuhan dengan mendengarkan guru, rajin belajar, dan bersikap baik. Tuhan tidak melihat siapa yang paling pintar atau paling kuat, tetapi Tuhan melihat hati yang rendah hati dan mau taat.

Ada dua hal penting yang Tuhan ajarkan kepada kita. Pertama, memiliki kerendahan hati untuk mengasihi Tuhan dengan tulus; kedua, memiliki kerinduan untuk selalu mencari Tuhan setiap hari. Caranya sederhana—berdoa, membaca Alkitab, dan hidup sesuai dengan Firman Tuhan.

Rehobot Kids, jangan berjalan sendiri ya. Tuhan ingin kita merasakan kehadiran-Nya nyata dalam hidup kita setiap hari. Serahkan hati dan pikiran kita kepada Tuhan, karena tanpa Tuhan kita bukan apa-apa. Yuk, selalu berjalan bersama Tuhan dan tinggal dekat dalam pelukan kasih-Nya

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 22 Maret 2026 (English Version) - STEADFAST LOVE INDIVERSITY
2026-03-22 19:58:14


“As much as it depends on you, live at peace with everyone.”
Romans 12:18

Differences of opinion are a natural part of life—especially as young people. We encounter many characters, backgrounds, and ways of thinking that don’t always align with ours. Even in ministry settings, differences can arise. God’s Word doesn’t say that everyone must always agree, but it reminds us to choose to live in peace, as far as it depends on our attitude and response.

Paul is a powerful example. He often faced stubborn, misunderstanding, and even hostile congregations. But Paul did not use those differences as an excuse to stop loving. He rebuked firmly, but continued to pray. He spoke the truth, but did not abandon love. His focus was not on winning arguments, but on bringing people back to Christ.

From Paul, we learn that spiritual maturity is not seen when everyone agrees with us, but when we keep our hearts in the midst of differences. Not all conflicts must be avoided, but every conflict can be a space to show the character of Christ—humble, patient, and loving.

Love and truth cannot be separated. Love without truth can be misleading, and truth without love can be hurtful. But when the two go together, we are enabled to stand firm without being harsh, and to love without compromising our principles. That is steadfast love in the midst of differences.

WHAT TO DO?
1. When faced with differences, don’t rush to react; ask yourself if your response is born out of love.
2. Learn to rebuke with truth, but keep your heart loving.
3. Remember Paul: conflict is not a reason to stop loving, but an opportunity to grow.

BIBLE MARATHON:
Acts 21

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 22 Maret 2026 - KASIH YANG TEGUH DALAM PERBEDAAN
2026-03-22 19:56:24


“Sedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang.”
Roma 12:18

Perbedaan pendapat adalah bagian alami dari hidup—apalagi sebagai anak muda. Kita bertemu banyak karakter, latar belakang, dan cara berpikir yang tidak selalu sejalan dengan kita. Bahkan di lingkungan pelayanan pun, perbedaan bisa muncul. Firman Tuhan tidak berkata bahwa semua orang harus selalu sepakat, tetapi mengingatkan kita untuk memilih hidup dalam damai, sejauh itu bergantung pada sikap dan respons kita.

Paulus adalah contoh yang kuat. Ia sering berhadapan dengan jemaat yang keras kepala, salah paham, bahkan menentangnya. Namun Paulus tidak menjadikan perbedaan itu sebagai alasan untuk berhenti mengasihi. Ia menegur dengan tegas, tetapi tetap mendoakan. Ia menyampaikan kebenaran, tetapi tidak melepaskan kasih. Fokusnya bukan menang debat, melainkan membawa orang kembali kepada Kristus.

Dari Paulus kita belajar bahwa kedewasaan rohani terlihat bukan saat semua orang setuju dengan kita, tetapi saat kita tetap menjaga hati di tengah perbedaan. Tidak semua konflik harus dihindari, tapi setiap konflik bisa menjadi ruang untuk menunjukkan karakter Kristus—rendah hati, sabar, dan penuh kasih.

Kasih dan kebenaran tidak boleh dipisahkan. Kasih tanpa kebenaran bisa menyesatkan, dan kebenaran tanpa kasih bisa melukai. Tetapi ketika keduanya berjalan bersama, kita dimampukan untuk berdiri teguh tanpa menjadi keras, dan mengasihi tanpa kehilangan prinsip. Itulah kasih yang teguh di tengah perbedaan.

WHAT TO DO?
1. Saat menghadapi perbedaan, jangan terburu-buru bereaksi; tanyakan apakah responmu lahir dari kasih.
2. Belajar menegur dengan kebenaran, tetapi tetap menjaga hati untuk mengasihi.
3. Ingat Paulus: pertentangan bukan alasan untuk berhenti mengasihi, melainkan kesempatan untuk bertumbuh.

BIBLE MARATHON:
Kisah Para Rasul 21

Card image
Renungan Pagi - 22 Maret 2026
2026-03-22 19:50:56


Tuhan akan mengangkat kita, bukan hanya pada waktu jatuh, tapi waktu difitnah orang, waktu direndahkan orang, ketika merasa gagal, ketika merasa tidak mampu.

Ketika dihujat orang, tidak perlu membela diri atau berkecil hati, tetapi naikkanlah pujian dan syukur bagi Tuhan, karena Dia yang akan mengangkat kita, Dia yang akan membela. Alkitab berkata, "Orang yang merendahkan diri akan ditinggikan oleh Tuhan tetapi orang yang meninggikan diri akan direndahkan oleh Tuhan."

Karena itu harus menjaga diri, menjaga hati dan seluruh hidup kita, agar tetap memiliki Mazmur dan pujian bagi Tuhan, dan Tuhan yang akan mengangkat keberadaan kita dan menyatakan kemuliaan-Nya yang luar biasa.

Card image
Mutiara Suara Kebenaran - 22 Maret 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-03-22 19:46:44


Banyak orang Kristen yang tidak mampu menghayati bahwa dunia ini bukan rumah mereka. Hal itu terjadi karena mereka telah dibelenggu oleh percintaan dunia ini.

Card image
TRULY TRUE - 22 Maret 2026 (English Version)
2026-03-22 19:45:25


The means of reconciliation between God and humans is only through the Lord Jesus Christ. There is no way to be reconciled to God except through Jesus Christ. Jesus Christ is the only grace given to humanity for receiving salvation, by which people can be reconciled to God freely. This reconciliation is not because of good deeds or our merits. That is why Paul stresses that we should not boast. (Eph. 2:8–9), For by His grace we obtain salvation, and by His grace we also receive reconciliation with God. However, the realization of peace with God in an ideal and true sense—according to the content and purpose for which that reconciliation was established—is not easy and does not happen automatically. There must be a struggle of believers to make it real.

If we can share in God’s holiness, if our character is transformed so that we put on the divine nature, then we can get along with God. Without holiness, there is no true peace. Without holiness, the content and purpose of reconciliation are not fulfilled. In this regard, we are not only sanctified from sinful deeds, but we must also become persons who are holy in character. Truly, we are not only justified or considered righteous, but we must genuinely be righteous in our state. The Kingdom of Heaven is indeed given freely, not because of human good works. Yet, to live in the Kingdom of Heaven, to possess and enjoy the Kingdom of Heaven, one must experience renewal of life and a change of nature. There must be a change of nature, from a sinful nature to a divine nature, or a change of character to become like Jesus. From a human standpoint, this is impossible, but for God, nothing is impossible.

When the Bible speaks of impossibility in Matthew 19, it actually means a change of character. It concerns a change of nature—how someone attains eternal life or a life of quality. That is the divine nature. Keeping the Mosaic Law is good. When someone asks, “Lord, what must I do to inherit eternal life?” Jesus answered, “Keep the law.” That is good. However, when the rich young man said, “All these I have kept from my youth; what do I still lack?” Jesus answered, “If you want to be perfect, sell all you have, give to the poor, come, and follow Me.” That means learn from Jesus; only then can one possess and enjoy eternal life. For that, the sacrifice of one’s whole life is required.

In Luke 14:33, the Lord Jesus says that a believer must renounce all his possessions to become a disciple, so that his life may be transformed. The price of the Kingdom of Heaven for Jesus was His whole life. He bought it and secured it with His blood. He sacrificed Himself so that the Kingdom of Heaven would be opened to humanity. Likewise, for a believer to enjoy and possess life in the Kingdom of Heaven, he must surrender his whole life. It is not only believing that Jesus died on the cross to atone for sins and provide heaven, but also risking one’s whole life to experience transformation, to enjoy and live in that Kingdom of Heaven.

Many Christians are actually mistaken. They feel it is enough to believe in Jesus as Lord and Savior, then assume they automatically possess the Kingdom of Heaven. Yet the price of the Kingdom of Heaven is one’s whole life. Indeed, the Kingdom of Heaven is given freely, but what is free is actually the opportunity or potential to possess and experience the Kingdom of Heaven.

This is similar to Jesus’ words, “Peace I leave with you; the Peace I give to you. I do not give to you as the world gives.” That Peace is given freely, but to taste and enjoy that Peace, our tastes and life orientation must first be transformed. If Jesus had not died on the cross, the Kingdom of Heaven would have remained tightly shut, and no one could have opened it except Him. Now the Kingdom of Heaven has been opened—freely. However, to possess, enjoy, and live in that Kingdom of Heaven, we must undergo a real change of life.

May The Lord Jesus bless you

TRULY, WE ARE NOT ONLY JUSTIFIED OR CONSIDERED RIGHTEOUS, BUT WE MUST GENUINELY BE RIGHTEOUS IN OUR STATE.

Card image
BENAR-BENAR BENAR - 22 Maret 2026
2026-03-22 19:17:26


Sarana perdamaian antara Allah dan manusia hanya melalui Tuhan Yesus Kristus. Tidak ada jalan pendamaian dengan Allah selain melalui Yesus Kristus. Yesus Kristus adalah satu-satunya anugerah bagi manusia untuk menerima keselamatan, di mana manusia dapat diperdamaikan dengan Allah secara cuma-cuma. Pendamaian ini bukan karena perbuatan baik, bukan karena jasa kita. Itulah sebabnya Paulus menegaskan agar kita tidak memegahkan diri (Ef. 2:8–9), sebab oleh anugerah-Nya kita memperoleh keselamatan dan oleh anugerah-Nya pula kita beroleh pendamaian dengan Allah. Namun, terwujudnya perdamaian dengan Allah secara ideal dan benar—sesuai dengan isi dan maksud pendamaian itu diadakan—tidaklah mudah dan tidak berlangsung secara otomatis. Harus ada perjuangan dari pihak orang percaya untuk mewujudkannya.

Jika kita dapat mengambil bagian dalam kekudusan Allah, jika karakter kita diubahkan sehingga kita mengenakan kodrat ilahi, maka kita dapat mengimbangi Allah. Tanpa kekudusan, tidak ada perdamaian yang sejati. Tanpa kekudusan, isi dan maksud pendamaian itu tidak terwujud. Dalam hal ini, kita bukan hanya dikuduskan dari perbuatan dosa, melainkan juga harus menjadi pribadi yang berkeadaan kudus dalam karakter. Sejatinya, kita bukan hanya dibenarkan atau dianggap benar, melainkan harus sungguh-sungguh berkeadaan benar. Kerajaan Surga memang diberikan dengan cuma-cuma, bukan karena perbuatan baik manusia. Namun, untuk dapat hidup di dalam Kerajaan Surga, untuk dapat memiliki dan menikmati Kerajaan Surga, seseorang harus mengalami pembaruan hidup dan perubahan kodrat. Harus terjadi perubahan kodrat, dari kodrat dosa menuju kodrat ilahi, atau perubahan karakter menjadi serupa dengan Yesus. Secara manusia hal itu mustahil, tetapi bagi Allah tidak ada yang mustahil.

Ketika Alkitab berbicara mengenai ketidakmungkinan dalam Matius 19, yang dimaksud sesungguhnya adalah perubahan karakter. Hal itu berkaitan dengan perubahan kodrat, yaitu bagaimana seseorang memiliki hidup yang kekal atau hidup yang berkualitas. Itulah kodrat ilahi. Melakukan hukum Taurat itu baik. Ketika seseorang bertanya, “Tuhan, apa yang harus kulakukan supaya beroleh hidup yang kekal?” Yesus menjawab, “Lakukan hukum.” Itu baik. Namun, ketika orang muda yang kaya itu berkata, “Semua itu telah kulakukan sejak masa mudaku. Apa lagi yang kurang?” Yesus menjawab, “Jika engkau mau mencapai kualitas yang lebih tinggi, juallah segala milikmu, bagikan kepada orang miskin, datanglah dan ikutlah Aku.” Artinya, belajarlah dari Yesus, barulah seseorang dapat memiliki dan menikmati hidup yang kekal. Untuk itu, dituntut pengorbanan segenap hidup.

Dalam Lukas 14:33, Tuhan Yesus berkata bahwa orang percaya harus melepaskan diri dari segala miliknya untuk dapat menjadi murid, supaya hidupnya dapat diubahkan. Harga Kerajaan Surga bagi Yesus adalah segenap hidup-Nya. Ia membelinya dan menyediakannya dengan darah-Nya. Ia mengurbankan diri-Nya agar Kerajaan Surga terbuka bagi manusia. Demikian pula bagi orang percaya, untuk dapat menikmati dan memiliki hidup dalam Kerajaan Surga, ia harus menyerahkan segenap hidupnya. Bukan hanya meyakini bahwa Yesus mati di kayu salib untuk menebus dosa dan menyediakan surga, melainkan juga mempertaruhkan segenap hidup untuk mengalami perubahan, agar dapat menikmati dan hidup dalam Kerajaan Surga itu.

Banyak orang Kristen sesungguhnya berada dalam kekeliruan. Mereka merasa cukup dengan meyakini Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat, lalu menganggap diri otomatis memiliki Kerajaan Surga. Padahal, harga Kerajaan Surga adalah segenap hidup. Memang, Kerajaan Surga diberikan secara gratis, tetapi yang gratis itu sesungguhnya adalah kesempatan atau potensi untuk memiliki dan mengalami Kerajaan Surga.

Hal ini serupa dengan perkataan Yesus, “Damai sejahtera Kuberikan kepadamu; damai sejahtera yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan dunia.” Damai sejahtera itu diberikan secara cuma-cuma, tetapi untuk dapat mengecap dan menikmati damai sejahtera tersebut, selera dan orientasi hidup kita harus terlebih dahulu diubahkan. Jika Yesus tidak mati di kayu salib, Kerajaan Surga akan tertutup rapat, dan tidak ada seorang pun yang dapat membukanya selain Dia. Sekarang Kerajaan Surga telah dibuka—secara cuma-cuma. Namun, untuk dapat memiliki, menikmati, dan hidup di dalam Kerajaan Surga itu, kita harus mengalami perubahan hidup yang nyata.

Tuhan Yesus memberkati

SEJATINYA, KITA BUKAN HANYA DIBENARKAN ATAU DIANGGAP BENAR, MELAINKAN HARUS SUNGGUH-SUNGGUH BERKEADAAN BENAR.

Card image
KIDS DAILY DEVOTIONAL 21 Maret 2026 - TUHAN LEBIH BESAR DARI SEMUANYA
2026-03-22 15:41:16


Mazmur 121:1–2
“Aku melayangkan mataku ke gunung-gunung; dari manakah akan datang pertolonganku? Pertolonganku ialah dari TUHAN, yang menjadikan langit dan bumi.”

Rehobot Kids, kita percaya bahwa Tuhan adalah Penolong dalam hidup kita. Tuhan selalu menjaga kita—saat tidur, saat sekolah, saat bermain di rumah, dan ke mana pun kita pergi. Pertolongan Tuhan tidak pernah terlambat. Tuhan selalu menolong tepat pada waktunya, bahkan lewat hal-hal kecil yang sering tidak kita sadari.

Misalnya saat kita merasa sulit mencari teman di sekolah. Tuhan bisa menolong lewat kerja kelompok, kegiatan ekstrakurikuler, atau teman yang punya hobi yang sama. Sedikit demi sedikit, Tuhan menunjukkan bahwa kita tidak sendirian.

Saat kita sedih, kecewa, atau takut, Tuhan juga tidak pernah meninggalkan kita. Tuhan selalu dekat dan menjaga kita dengan kasih-Nya. Kehadiran Tuhan sering kita rasakan lewat ayah, ibu, kakak, atau orang-orang yang mengasihi dan melindungi kita setiap hari.

Tuhan jauh lebih besar dari semua masalah dan ketakutan kita. Ia memegang tangan kita dan menuntun kita melewati setiap hari. Karena itu, kita tidak perlu khawatir. Tuhan tahu apa yang kita butuhkan dan perlindungan-Nya selalu ada.

Bersama Tuhan adalah tempat paling aman dan nyaman. Kita bisa bercerita, berdoa, dan merasa tenang karena Tuhan selalu setia. Yuk, Rehobot Kids, selalu ingat: Tuhan lebih besar dari segala kekhawatiran, ketakutan, dan kesedihan kita. Dialah Penolong setia kita. Mari kita belajar terus mengandalkan Tuhan dan membagikan kasih-Nya kepada sesama

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 21 Maret 2026 (English Version) - STAY “RESPECTFUL” EVEN WHEN YOU DISAGREE
2026-03-22 15:36:55


“The second is like it: ‘Love your neighbor as yourself."
Matthew 22:39

As young people, we easily get carried away by our emotions when we disagree—whether it’s in a hangout, a chat group, or a social media comment section. A slight difference in perspective can quickly turn into a heated debate. Sometimes we feel like we are defending the truth, when in fact we are unknowingly putting others down. This is where Jesus reminds us: love is still number one.

Loving others as ourselves means giving room for differences without turning to hatred. We can have strong convictions, but we don’t have to lose our respect. Jesus himself often faced heated debates—especially with the Pharisees—but he never responded with arrogance or harsh words. He remained firm, but full of love.

Following Jesus’ example means learning to listen before reacting, to understand before judging. Respect does not mean agreeing, but choosing to treat others with the same value as we want to be treated. That is where the maturity of faith is tested—not when everyone agrees, but precisely when they disagree.

Because truth without love will only sound like hurtful noise. But truth wrapped in love can become a bridge that touches the heart.

WHAT TO DO?
1. Be brave enough to make decisions with grace when there is a conflict.
2. Always check your heart before doing anything.
3. Be an active listener. Following Jesus means being “present” for others.

BIBLE MARATHON:
Acts 20

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 21 Maret 2026 - TETAP “RESPECT” MESKI BEDA PENDAPAT
2026-03-22 15:00:38


“Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.”
Matius 22:39

Sebagai anak muda, kita gampang banget kebawa emosi saat beda pendapat—entah di tongkrongan, grup chat, atau kolom komentar media sosial. Sedikit beda sudut pandang bisa langsung berubah jadi debat panas. Kadang kita merasa sedang membela kebenaran, padahal tanpa sadar kita justru sedang menjatuhkan orang lain. Di sinilah Yesus mengingatkan kita: kasih itu tetap nomor satu.

Mengasihi sesama seperti diri sendiri berarti memberi ruang untuk perbedaan tanpa harus berubah jadi benci. Kita boleh punya pendirian yang kuat, tapi tidak perlu kehilangan sikap hormat. Yesus sendiri sering berhadapan dengan perdebatan tajam—terutama dengan orang Farisi—namun Ia tidak pernah membalas dengan kesombongan atau kekerasan kata. Ia tetap tegas, tapi penuh kasih.

Meneladani Yesus berarti belajar mendengar sebelum bereaksi, memahami sebelum menghakimi. Respect bukan berarti setuju, tapi memilih untuk tetap memperlakukan orang lain dengan nilai yang sama seperti kita ingin diperlakukan. Di situlah kedewasaan iman diuji—bukan saat semua orang sepaham, tapi justru saat berbeda.

Karena kebenaran tanpa kasih hanya akan terdengar seperti kebisingan yang melukai. Tapi kebenaran yang dibungkus kasih bisa menjadi jembatan yang menyentuh hati.

WHAT TO DO?
1. Berani mengambil keputusan dengan sikap elegant ketika ada sebuah pertentangan,
2. Tetap periksa perasaan hati kalian sebelum bertindak sesuatu,
3. Jadilah pendengar yang aktif, meneladani Yesus berarti mau “hadir” bagi orang lain.

BIBLE MARATHON:
Kisah Para Rasul 20

Card image
Renungan Pagi - 21 Maret 2026
2026-03-21 22:32:59


Cinta Tuhan harus dibuktikan dengan kesiapan kita untuk bersikap tegas terhadap semua hal-hal yang tidak berkenan dan menyakiti hati Tuhan.

Tidak mungkin kita berkata saya cinta Tuhan, tetapi pada kenyataannya tidak berusaha untuk menyenangkan hati-Nya.

Kita harus mencintai Tuhan lebih dari apapun dalam hidup ini, maka akan mampu untuk mengambil keputusan-keputusan yang tegas.

Card image
Quote Of The Day - 21 Maret 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-03-21 22:30:36


Sifat, karakter Allah yang agung, yang penuh belas kasihan itulah yang kita terjemahkan di dalam kata, perbuatan kita dan itu benar-benar membahagiakan Allah, dan itu adalah pelayanan yang sesungguhnya.

Card image
Mutiara Suara Kebenaran - 21 Maret 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-03-21 22:28:57


Orang yang menemukan hati Bapa, tidak lagi merasa bahwa dunia ini rumahnya dan memiliki kerinduan yang sangat kuat untuk pulang ke Rumah Bapa, juga bisa bertemu muka dengan muka dengan Tuhan.

Card image
SPIRITUAL ADULTERY 21 Maret 2026 (English Version)
2026-03-21 22:05:59


In Hebrews 12:16–17, God’s Word delivers a very severe warning that should make us tremble: “See to it that no one is sexually immoral, or is godless like Esau, who for a single meal sold his inheritance rights as the oldest son, for you know that afterward, when he wanted to inherit this blessing, he was rejected. He could bring about no change of mind, though he sought the blessing with tears.” When someone loves the world more than God, he is, in fact, committing spiritual adultery. That is unfaithfulness. Ironically, many Christians live like Esau: pursuing worldly pleasures and not striving to grow to partake in God’s holiness. As a result, they miss a very precious opportunity to be reconciled to God according to the true and balanced standard of reconciliation: God is holy; therefore, we too must be holy. Indeed, we cannot equal God, but what is meant is possessing spiritual intelligence and sensitivity, so that everything we think, say, and do always aligns with God’s thoughts and feelings.

When a person is still immature and newly acquainted with Christianity, he often comes to God only for miracles, material blessings, or help with various life problems. However, when someone has become spiritually mature, they are no longer centered on their personal problems. He begins to ask, “What should I do for God?” At this stage, the main concern is no longer food and drink, but souls that must be saved. He lives as Christ’s ambassador, bringing the message of reconciliation to others. But if someone remains preoccupied with worldly matters, he is grieving the Holy Spirit and may even quench the Holy Spirit, eventually blaspheming the Holy Spirit.

Remember, God does not always tolerate weakness and wrongdoing, because at some point those who should be mature but remain immature will be “struck” by God. If a servant of God is humiliated by circumstances, it is almost certain that he has received repeated warnings but refused to listen. Eventually, he is “stripped naked” in public. Yet, if he were willing to change, God would surely forgive, forget, and set everything right. Perhaps some of us are still living in sin. Please do not feel safe and secure. Do not wait until God humiliates you, for we must bear accountability.

Often, people feel their lives are fine when, in fact, they are not. Everything will be accounted for in due time. On the contrary, if today we strive for God’s work, becoming poured-out wine and broken bread, we will reap beauty in due time. The world is becoming increasingly corrupt and has the power to destroy many lives. Therefore, God’s Word warns us in Ephesians 5:15–17: “Be very careful, then, how you live—not as unwise but as wise, making the most of every opportunity, because the days are evil. Therefore, do not be foolish, but understand what the Lord’s will is.”

Let us leave behind our love affair with the world. This will not make us strange people. On the contrary, when we dare to leave the world, the sweetness of fellowship with God will taste far sweeter. Whatever we possess will become sufficient and satisfying. Let us finish this life’s journey with only one longing, namely, longing for the Lord. This is our prayer: “Lord, I do not want to long for anything. If I may ask, I only want to long for You. I know that if I long for something else, I am betraying You. Lord, when I die, I ask You to send Your holy angels to receive me, together with those whom I love.” How beautiful such a life is. In conclusion, by shifting our desire fully to God, we embrace true spiritual fulfillment.

May The Lord Jesus bless you

WHEN SOMEONE LOVES THE WORLD MORE THAN GOD, HE IS, IN FACT, COMMITTING SPIRITUAL ADULTERY.

Card image
PERZINAAN ROHANI - 21 Maret 2026
2026-03-21 22:03:27


Dalam Ibrani 12:16–17, firman Tuhan menyampaikan peringatan yang sangat keras dan seharusnya membuat kita gentar: “Janganlah ada orang yang menjadi cabul atau yang mempunyai nafsu yang rendah seperti Esau, yang menjual hak kesulungannya untuk sepiring makanan. Sebab kamu tahu, bahwa kemudian, ketika ia hendak menerima berkat itu, ia ditolak, sebab ia tidak beroleh kesempatan untuk memperbaiki kesalahannya, sekalipun ia mencarinya dengan mencucurkan air mata.” Ketika seseorang lebih mencintai dunia daripada Tuhan, sesungguhnya ia sedang melakukan perzinaan rohani. Itu adalah ketidaksetiaan. Ironisnya, banyak orang Kristen hidup seperti Esau: mengejar kesenangan dunia dan tidak berusaha bertumbuh untuk mengambil bagian dalam kekudusan Allah. Akibatnya, mereka menyia-nyiakan kesempatan yang sangat berharga untuk berdamai dengan Allah dalam standar perdamaian yang benar dan seimbang—Allah kudus, maka kita pun harus kudus. Kita memang tidak mungkin menyamai Allah, tetapi yang dimaksud adalah memiliki kecerdasan rohani dan kepekaan, sehingga segala sesuatu yang kita pikirkan, ucapkan, dan lakukan selalu sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah.

Ketika seseorang masih belum dewasa dan baru mengenal Kekristenan, ia sering datang kepada Tuhan hanya karena mukjizat, berkat jasmani, atau pertolongan dari berbagai masalah hidup. Namun, ketika seseorang telah dewasa secara rohani, ia tidak lagi berpusat pada masalah-masalah pribadinya. Ia mulai bertanya, “Apa yang harus kulakukan bagi Tuhan?” Pada tahap ini, persoalan utamanya bukan lagi makan dan minum, melainkan jiwa-jiwa yang harus diselamatkan. Ia hidup sebagai utusan Kristus yang membawa berita pendamaian kepada orang lain. Tetapi jika seseorang tetap sibuk dengan urusan jasmani, ia sedang mendukakan Roh Kudus, bahkan dapat memadamkan Roh Kudus, hingga akhirnya menghujat Roh Kudus.

Ingatlah, Allah tidak selalu menolerir kelemahan dan kesalahan, sebab pada titik tertentu mereka yang seharusnya dewasa tetapi tetap tidak dewasa akan ‘dipukul’ Tuhan. Jika ada hamba Tuhan yang dipermalukan oleh suatu keadaan, hampir pasti ia telah menerima peringatan berkali-kali, tetapi tidak mau mendengar. Akhirnya, ia “ditelanjangi” di depan umum. Padahal, jika ia mau berubah, Tuhan pasti mengampuni, melupakan, dan membereskan segalanya. Mungkin ada di antara kita yang masih hidup dalam dosa. Tolong jangan merasa aman-aman saja. Jangan menunggu sampai dipermalukan Tuhan. Akan ada perhitungannya.

Sering kali orang merasa hidupnya baik-baik saja, padahal sebenarnya tidak. Semua akan diperhitungkan pada waktunya. Sebaliknya, jika hari ini kita berjuang bagi pekerjaan Tuhan, menjadi anggur yang tercurah dan roti yang terpecah, kita akan menuai keindahan pada waktunya. Dunia semakin fasik dan memiliki kuasa yang besar untuk merusak kehidupan banyak orang. Karena itu, firman Tuhan mengingatkan dalam Efesus 5:15–17: Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif, dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat. Sebab itu janganlah kamu bodoh, tetapi usahakanlah supaya kamu mengerti kehendak Tuhan.”

Marilah kita meninggalkan percintaan dunia. Ini tidak membuat kita menjadi orang aneh. Justru ketika kita berani meninggalkan dunia, manisnya persekutuan dengan Tuhan akan terasa jauh lebih manis. Apa pun yang kita miliki akan menjadi cukup dan memuaskan. Biarlah kita mengakhiri perjalanan hidup ini dengan satu kerinduan saja, yaitu merindukan Tuhan. Inilah doa kita: “Tuhan, aku tidak mau merindukan apa pun. Jika aku boleh meminta, aku hanya ingin merindukan Engkau. Aku tahu, jika aku merindukan yang lain, aku sedang mengkhianati Engkau. Tuhan, ketika aku meninggal dunia, aku mohon Engkau mengutus malaikat-Mu yang kudus untuk menjemputku, bersama dengan orang-orang yang kukasihi.” Betapa indahnya hidup yang demikian.

Tuhan Yesus memberkati

KETIKA SESEORANG LEBIH MENCINTAI DUNIA DARIPADA TUHAN, SESUNGGUHNYA IA SEDANG MELAKUKAN PERZINAAN ROHANI.

Card image
KIDS DAILY DEVOTIONAL 20 Maret 2026 - TUHAN LEBIH BESAR DARI SEMUANYA
2026-03-21 17:50:59


Mazmur 121:1–2
“Aku melayangkan mataku ke gunung-gunung; dari manakah akan datang pertolonganku? Pertolonganku ialah dari TUHAN, yang menjadikan langit dan bumi.”

Rehobot Kids, kita percaya bahwa Tuhan adalah Penolong dalam hidup kita. Tuhan selalu menjaga kita—saat tidur, saat sekolah, saat bermain di rumah, dan ke mana pun kita pergi. Pertolongan Tuhan tidak pernah terlambat. Tuhan selalu menolong tepat pada waktunya, bahkan lewat hal-hal kecil yang sering tidak kita sadari.

Misalnya saat kita merasa sulit mencari teman di sekolah. Tuhan bisa menolong lewat kerja kelompok, kegiatan ekstrakurikuler, atau teman yang punya hobi yang sama. Sedikit demi sedikit, Tuhan menunjukkan bahwa kita tidak sendirian.

Saat kita sedih, kecewa, atau takut, Tuhan juga tidak pernah meninggalkan kita. Tuhan selalu dekat dan menjaga kita dengan kasih-Nya. Kehadiran Tuhan sering kita rasakan lewat ayah, ibu, kakak, atau orang-orang yang mengasihi dan melindungi kita setiap hari.

Tuhan jauh lebih besar dari semua masalah dan ketakutan kita. Ia memegang tangan kita dan menuntun kita melewati setiap hari. Karena itu, kita tidak perlu khawatir. Tuhan tahu apa yang kita butuhkan dan perlindungan-Nya selalu ada.

Bersama Tuhan adalah tempat paling aman dan nyaman. Kita bisa bercerita, berdoa, dan merasa tenang karena Tuhan selalu setia. Yuk, Rehobot Kids, selalu ingat: Tuhan lebih besar dari segala kekhawatiran, ketakutan, dan kesedihan kita. Dialah Penolong setia kita. Mari kita belajar terus mengandalkan Tuhan dan membagikan kasih-Nya kepada sesama

Card image
KIDS DAILY DEVOTIONAL 20 Maret 2026 - IF GOD IS ON OUR SIDE
2026-03-21 15:45:36


Romans 8:31
“If God is for us, who can be against us?”

Hello Rehobot Kids! Imagine a tiny ant walking in the forest. Suddenly, a very big elephant walks by. Wow! The ant would probably feel very scared, right? To the ant, the elephant looks like a huge and scary giant.

Now imagine something different. What if the ant climbs onto the elephant’s back? Would it still be afraid of getting stepped on? Of course not! Now the ant is safe and can see everything from a higher place. Things that once looked scary don’t feel so frightening anymore, because the ant is with someone strong.

Rehobot Kids, sometimes we feel like that little ant too. We may feel small and afraid—afraid of not having friends, afraid of tests, afraid of getting scolded, or afraid of doing the right thing. But today’s Bible verse reminds us of something very important: if God is on our side, we don’t need to be afraid. God is much bigger than any problem we face.

When we pray and trust God, it’s like climbing onto God’s “back.” Problems that look big begin to feel smaller, because we know the Almighty God is protecting us and helping us.

Come on, Rehobot Kids, don’t face today alone. Invite God into every step you take. And when fear comes, say with faith, “God is on my side, so I am not afraid!”

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 20 Maret 2026 (English Version) - ENDURING LOVE
2026-03-21 15:44:00


“But Ruth replied, ‘Don’t urge me to leave you or to turn back from following you. Where you go I will go, and where you stay I will stay. Your people will be my people, and your God my God." Ruth 1:16

In the lives of young people, differences are almost inevitable. Differences of opinion with friends, conflicts within the family, or tensions in ministry often test relationships. The question is not whether conflict will come, but how we respond to it. Do we choose to walk away, or do we stand firm in love and truth?

Ruth sets a beautiful example. She stood at a difficult crossroads: return to Moab—a safer, more familiar place—or follow Naomi to a foreign land full of uncertainty. Her decision was not a comfortable one, but one born of love, loyalty, and faith. Ruth chose to stay with Naomi, even when it meant leaving her old identity behind and facing an uncertain future.

Ruth’s attitude teaches us that dealing with differences is not about who wins or who is most right, but about enduring love. She did not impose her will, did not seek personal gain, but chose the right path even though it was difficult. It was this sincere love that ultimately opened the way to blessing—Ruth was accepted, restored, and even became part of the lineage of the Messiah.

Learning from Ruth, we are invited to face differences with a gentle, faithful heart, holding fast to the truth. When love is the foundation of our attitude, conflict does not have to end in division. It is precisely there that the character of Christ is revealed through our lives.

WHAT TO DO?
1. When facing differences, ask yourself: does my response come from love or from ego?
2. Choose to be faithful to the truth, even if it means leaving your comfort zone.
3. Remember Ruth: enduring love can turn differences into a testimony of faith.

BIBLE MARATHON:
Acts 19

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 20 Maret 2026 - KASIH YANG BERTAHAN
2026-03-21 15:42:02


“Tetapi kata Ruth: Janganlah mendesak aku meninggalkan engkau dan pulang dengan tidak mengikuti engkau; sebab ke mana engkau pergi, aku akan pergi, dan ke mana engkau tinggal, aku akan tinggal; bangsamu akan menjadi bangsaku dan Allahmu akan menjadi Allahku.”
Ruth 1:16

Dalam kehidupan anak muda, perbedaan hampir tidak bisa dihindari. Beda pendapat dengan teman, konflik dalam keluarga, atau ketegangan dalam pelayanan sering kali menguji hubungan. Pertanyaannya bukan apakah konflik akan datang, tetapi bagaimana kita me respons nya. Apakah kita memilih menjauh, atau tetap berdiri dalam kasih dan kebenaran?

Ruth memberi teladan yang sangat indah. Ia berada di persimpangan sulit: kembali ke Moab—tempat yang lebih aman dan familiar—atau mengikuti Naomi ke tanah yang asing, penuh ketidakpastian. Keputusannya bukan keputusan yang nyaman, melainkan keputusan yang lahir dari kasih, kesetiaan, dan iman. Ruth memilih tetap bersama Naomi, bahkan ketika itu berarti meninggalkan identitas lama dan menghadapi masa depan yang tidak jelas.

Sikap Ruth mengajarkan bahwa menghadapi perbedaan bukan soal siapa yang menang atau siapa yang paling benar, tetapi tentang kasih yang bertahan. Ia tidak memaksakan kehendak, tidak mencari keuntungan pribadi, tetapi memilih jalan yang benar meski sulit. Kasih yang tulus itulah yang akhirnya membuka jalan berkat—Ruth diterima, dipulihkan, dan bahkan menjadi bagian dari garis keturunan Mesias.

Belajar dari Ruth, kita diajak untuk menghadapi perbedaan dengan hati yang lembut, setia, dan berpegang pada kebenaran. Ketika kasih menjadi dasar sikap kita, pertentangan tidak harus berakhir dengan perpecahan. Justru di situlah karakter Kristus dinyatakan melalui hidup kita.

WHAT TO DO?
1. Saat menghadapi perbedaan, tanyakan: apakah respons ku lahir dari kasih atau dari ego?
2. Pilih untuk setia pada kebenaran, meski itu berarti meninggalkan kenyamanan.
3. Ingat Ruth: kasih yang bertahan bisa mengubah perbedaan menjadi kesaksian iman.
BIBLE MARATHON:
Kisah Para Rasul 19

Card image
Renungan Pagi - 20 Maret 2026
2026-03-21 15:27:32


Buanglah semua kemalasan yang mengikat kehidupan, karena kemalasan menciptakan banyak persoalan, kemalasan menciptakan kegagalan dan kekecewaan dalam hidup kita.

Karena itu mari kita mau hidup bergaul intim dengan Tuhan, karena keintiman dengan Tuhan membuat rajin dan penuh semangat, sehingga dapat melihat banyak mukjizat dan berkat damai sejahtera Allah atas hidup kita.

Card image
Quote Of The Day - 20 Maret 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-03-21 15:24:57


Hidup kita harus menjadi pola yang melaluinya seseorang membangun diri, mengubah diri dari pola hidup salah yang mereka miliki.

Card image
Mutiara Suara Kebenaran - 20 Maret 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-03-21 15:22:43


Dalam ketekunan ada di hadirat Bapa, kita dapat menemukan Dia.

Card image
THE CHANCE IS EXTREMELY LIMITED - 20 Maret 2026 (English Version)
2026-03-21 00:08:43


Christianity today, for many Christians, has become merely a religion, not the way of life of Jesus that must be put on only as we become more and more like Jesus, so that we can be proportionally reconciled with God. When someone can say, “It is no longer I who live, but Christ who lives in me,” then balance with God takes place. Indeed, this is difficult, but there is no other choice. If we are not truly willing to change, we will never become true Christians.

For many people today, Christianity has become merely a religion that wraps their religious life. Yet the essence of true Christianity has been abandoned, namely, the transformation of behavior so that it increasingly conforms to God’s original design, with Jesus as its model. God’s original design is for human beings to be pleasing to Him, whose every action always aligns with God’s thoughts and feelings.

Indeed, none of us is yet perfect. We often feel frustrated when we look at ourselves. However, we must dare to resolve, “Lord, I do not want to be wrong. Not only today, but until I die. I want to live blamelessly.” Therefore, let there be no gaps or opportunities that we leave open for wrongdoing. We do not want to give space to sin. Every time we fall, we must immediately repent. In fact, we should dare to say, “Lord, I am finished with myself and with this world. I am not finished with you. I have been satisfied with myself, with what I have, and I have even committed many wrongs in Your sight to satisfy myself. Now I do not want to be wrong anymore.”

Remember, God’s part has been completed in providing the means of reconciliation. Our part is to change ourselves so that we can live in balance with God. We must realize that the opportunity to experience a transformation that matches God’s is extremely limited. There is no condition more dreadful and more regretful than losing the opportunity. If this momentum passes, there will be no second chance, for this life is only once. In this one opportunity, we must choose to have fellowship and be reconciled with God.

God has provided the means of reconciliation through the blood of the Lord Jesus. However, if someone does not work out their salvation with fear and trembling, is unwilling to live holy, does not offer their life fully to God, and does not shift their heart to the Kingdom of Heaven—which means not doing the Father’s will—then Jesus may say, “I never knew you.” This is truly terrifying.

God did not design salvation and reconciliation in a one-sided way. If God were to force someone to be reconciled to Him unilaterally, that reconciliation would not be sincere, true, or natural. It would be like someone being forced to make peace by a stronger party. God is not like that. Therefore, do not think that God unilaterally determines who is saved. God designed salvation for all people, meaning that everyone has the opportunity to be reconciled with Him. However, whether a person is willing to be saved and reconciled with God in proportion is a personal decision.

That is why the Word of God in 2 Corinthians 5:19–20 says, “Be reconciled to God.” Believers are those who receive the privilege of the firstborn gift, namely the potential to become heirs of the Kingdom of God and to live together with the Lord Jesus. Therefore, when Jesus said, “I am the way, the truth, and the life. No one comes to the Father except through Me,” this verse does not merely mean that Jesus is the only way to heaven. This statement is profoundly exclusive. Only through Jesus can one come to the Father. As expressed in Jesus’ prayer, “You are in Me, and I am in You, that they also may be in Us.” This is an exclusive fellowship. Thus, one must walk that way—hodos—and live in that truth—alētheia—to truly be reconciled with God.

May The Lord Jesus bless you

WE MUST REALIZE THAT THE OPPORTUNITY TO EXPERIENCE A TRANSFORMATION THAT MATCHES GOD'S IS EXTREMELY LIMITED.

Card image
KESEMPATANNYA SANGAT TERBATAS - 20 Maret 2026
2026-03-21 00:06:39


Kekristenan hari ini, bagi banyak orang Kristen, telah menjadi sekadar agama, bukan jalan hidup Yesus yang harus dikenakan. Hanya jika kita semakin serupa dengan Yesus, barulah kita dapat berdamai dengan Allah secara proporsional. Ketika seseorang dapat berkata, “Hidupku bukan aku lagi, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku,” barulah terjadi keseimbangan dengan Allah. Memang ini berat, tetapi tidak ada pilihan lain. Jika kita tidak sungguh-sungguh mau berubah, kita tidak akan pernah menjadi orang Kristen yang sejati.

Kekristenan hari ini, bagi banyak orang, hanya menjadi agama yang membungkus kehidupan keberagamaan mereka. Namun, esensi Kekristenan yang sejati telah ditinggalkan, yaitu perubahan perilaku agar semakin sesuai dengan rancangan Allah semula, dengan Yesus sebagai modelnya. Rancangan Allah semula adalah manusia yang berkenan kepada Allah, yang dalam segala sesuatu yang dilakukan selalu sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah.

Kita semua memang belum sempurna. Kita pun sering merasa frustrasi ketika melihat diri sendiri. Namun, kita harus berani bertekad, “Tuhan, aku tidak mau salah. Bukan hanya hari ini, tetapi sampai aku mati. Aku mau hidup tidak bercacat.” Karena itu, jangan ada celah atau kesempatan yang kita buka untuk berbuat salah. Kita tidak mau memberi ruang bagi dosa. Setiap kali kita jatuh, kita harus segera bertobat. Bahkan, seharusnya kita berani berkata, “Tuhan, aku sudah selesai dengan diriku sendiri dan dunia ini. Aku belum selesai dengan Engkau. Aku sudah puas dengan diriku sendiri, dengan apa yang kumiliki, bahkan aku telah melakukan banyak kesalahan di mata-Mu demi memuaskan diriku sendiri. Sekarang aku tidak mau salah lagi.”

Ingatlah, bagian Tuhan telah selesai dalam menyediakan sarana pendamaian. Bagian kita adalah mengubah diri agar dapat hidup seimbang dengan Allah. *Kita harus menyadari bahwa kesempatan untuk mengalami perubahan demi dapat mengimbangi Allah sangat terbatas.* Tidak ada keadaan yang lebih mengerikan dan lebih disesali daripada kehilangan kesempatan. Jika momentum ini berlalu, tidak ada kesempatan kedua, sebab hidup ini hanya satu kali. Dalam satu kesempatan ini, kita harus memilih untuk bersekutu dan berdamai dengan Allah.

Allah telah menyediakan sarana pendamaian melalui darah Tuhan Yesus. Namun, jika seseorang tidak mengerjakan keselamatannya dengan takut dan gentar, tidak mau hidup suci, tidak mempersembahkan hidup sepenuhnya bagi Allah, dan tidak memindahkan hatinya kepada Kerajaan Surga—yang berarti tidak melakukan kehendak Bapa—maka Yesus dapat berkata, “Aku tidak mengenal kamu.” Ini sungguh mengerikan.

Allah tidak merancang keselamatan dan perdamaian secara sepihak. Jika Allah secara sepihak memaksa seseorang berdamai dengan-Nya, maka perdamaian itu bukanlah perdamaian yang tulus, benar, dan alami. Itu seperti seseorang yang dipaksa berdamai oleh pihak yang lebih kuat. Allah tidak demikian. Karena itu, jangan berpikir bahwa Allah menentukan secara sepihak siapa yang diselamatkan. Allah merancang keselamatan bagi semua orang, artinya setiap orang memiliki kesempatan untuk berdamai dengan Allah. Namun, apakah seseorang mau diselamatkan dan berdamai dengan Allah secara proporsional, itu adalah keputusan pribadi masing-masing.

Itulah sebabnya firman Tuhan dalam 2 Korintus 5:19–20 mengatakan, “Berilah dirimu diperdamaikan dengan Allah.” Be reconciled. Orang percaya adalah orang-orang yang menerima hak istimewa berupa karunia sulung, yaitu potensi untuk menjadi pewaris Kerajaan Allah dan hidup bersama-sama dengan Tuhan Yesus. Karena itu, ketika Yesus berkata, “Akulah jalan, kebenaran, dan hidup. Tidak ada seorang pun datang kepada Bapa kalau tidak melalui Aku,” ayat ini tidak sekadar berarti bahwa Yesus adalah satu-satunya jalan menuju surga. Pernyataan ini bersifat sangat eksklusif. Hanya melalui Yesus seseorang dapat sampai kepada Bapa. Seperti yang diungkapkan dalam doa Tuhan Yesus, “Engkau di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, supaya mereka juga di dalam Kita.” Ini adalah persekutuan yang eksklusif. Maka, seseorang harus melalui jalan itu—hodos—dan hidup dalam kebenaran itu—alētheia—untuk dapat sungguh-sungguh berdamai dengan Allah.

Tuhan Yesus memberkati

KITA HARUS MENYADARI BAHWA KESEMPATAN UNTUK MENGALAMI PERUBAHAN DEMI DAPAT MENGIMBANGI ALLAH SANGAT TERBATAS

Card image
KIDS DAILY DEVOTIONAL 19 Maret 2025 - SAAT TAKUT, AKU PERCAYA TUHAN
2026-03-20 22:56:57


Mazmur 56:3
“Waktu aku takut, aku ini percaya kepada-Mu.”

Rehobot Kids, pernah nggak sepatumu kemasukan kerikil kecil? Walaupun kecil, rasanya bisa bikin sakit saat berjalan. Kalau itu terjadi, pasti kamu akan berhenti sebentar, membuka sepatu, dan membuang kerikilnya, kan? Karena kalau dibiarkan, jalannya jadi tidak nyaman.

Rasa takut itu mirip seperti kerikil kecil di sepatu. Kadang kita takut bicara di depan kelas, takut gelap, takut ditinggal teman, atau takut melakukan hal baru. Kalau rasa takut itu kita simpan terus, hati kita bisa jadi gelisah dan tidak tenang.

Tapi firman Tuhan hari ini mengajarkan kita satu pilihan yang indah: saat kita takut, kita bisa memilih untuk percaya kepada Tuhan. Caranya sederhana—datang kepada Tuhan dalam doa. Bilang saja, “Tuhan, aku sedang takut, tapi aku mau percaya Engkau menjagaku.”

Tuhan sangat mengasihi semua anak-anak. Dia tahu isi hati kita dan tidak ingin kita berjalan dengan rasa takut. Saat kita menyerahkan ketakutan kepada Tuhan, Dia akan menggantinya dengan keberanian dan damai sejahtera.

Yuk, mulai hari ini, setiap kali rasa takut datang, jangan disimpan sendiri. Buang “kerikil” takut itu lewat doa dan berjalanlah lagi dengan sukacita bersama Tuhan. Karena bersama Tuhan, kita selalu aman dan dikuatkan.

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 19 Maret 2025 (English Version) -WHEN FORGIVENESS IS HARD
2026-03-20 22:48:19


“Though they intended to harm me, God intended it for good to accomplish what is now being done, the saving of many lives.”
Genesis 50:20

Forgiveness is never easy—especially when the hurt comes from those closest to us. Joseph understood that feeling very well. He was betrayed by his own brothers, sold like a commodity, treated unfairly, and had to endure a long period of suffering that he never chose. Humanly speaking, Joseph had every reason to hold on to his anger and seek revenge.

But when Joseph finally found himself in a position of power, he chose a different path. He did not deny that what his brothers had done was wrong. He did not twist the facts. But Joseph saw beyond that—he saw the hand of God still at work behind the pain, betrayal, and conflict he had experienced.

From Joseph, we learn that forgiveness does not mean minimizing pain or pretending not to be hurt. Forgiveness is a conscious decision not to let bitterness rule the heart. Joseph did not allow his past to dictate how he loved in the present.

In conflict, we often ask, “Why is this happening to me?” Joseph invites us to shift that question to, “What is God doing through this?” Because love and truth can walk together—we can be honest about our wounds, while choosing not to repay evil with evil.

WHAT TO DO?
1. Be honest with God about the wounds or conflicts that are still difficult for you to forgive.
2. Ask for a heart that wants to see God’s plan, not just your pain.
3. Take one small step today to let go of bitterness—through prayer, attitude, or a more loving response.

BIBLE MARATHON:
Acts 18

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 19 Maret 2025 - WHEN FORGIVENESS IS HARD
2026-03-20 22:42:26


“Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan, dengan maksud melakukan seperti yang terjadi sekarang ini, yakni memelihara hidup suatu bangsa yang besar.” Kejadian 50:20

Mengampuni tidak pernah mudah—terutama ketika luka datang dari orang-orang terdekat. Yusuf sangat memahami rasa itu. Ia dikhianati oleh saudara-saudaranya sendiri, dijual seperti barang, diperlakukan tidak adil, dan harus menjalani penderitaan panjang yang tidak pernah ia pilih. Secara manusia, Yusuf punya semua alasan untuk menyimpan amarah dan membalas.

Namun ketika Yusuf akhirnya berada di posisi berkuasa, ia memilih jalan yang berbeda. Ia tidak menyangkal bahwa apa yang dilakukan saudara-saudaranya adalah kejahatan. Ia tidak memutarbalikkan fakta. Tetapi Yusuf melihat lebih jauh—ia melihat tangan Tuhan yang tetap bekerja di balik luka, pengkhianatan, dan konflik yang ia alami.

Dari Yusuf kita belajar bahwa mengampuni bukan berarti mengecilkan rasa sakit atau berpura-pura tidak terluka. Mengampuni adalah keputusan sadar untuk tidak membiarkan kepahitan menguasai hati. Yusuf tidak membiarkan masa lalunya mendikte cara ia mengasihi di masa kini.

Dalam konflik, kita sering bertanya, “Kenapa ini terjadi padaku?” Yusuf mengajak kita menggeser pertanyaan itu menjadi, “Apa yang Tuhan sedang kerjakan melalui ini?” Karena kasih dan kebenaran bisa berjalan bersama—kita bisa jujur tentang luka, sekaligus memilih untuk tidak membalas kejahatan dengan kejahatan.

WHAT TO DO?
1. Jujurlah pada Tuhan tentang luka atau konflik yang masih sulit kamu ampuni.
2. Mintalah hati yang mau melihat rencana Tuhan, bukan hanya rasa sakitmu.
3. Ambil satu langkah kecil hari ini untuk melepaskan kepahitan—melalui doa, sikap, atau respons yang lebih penuh kasih.

BIBLE MARATHON:
Kisah Para Rasul 18

Card image
Renungan Pagi - 19 Maret 2025
2026-03-20 22:38:31


Orang boleh saja menyandang gelar sarjana berlapis-lapis, bahkan mungkin bergelar profesor, namun gelar, hanya predikat yang merujuk pada disiplin ilmu yang ditekuni, dan bukan merupakan gambaran kepribadiannya, karena cermin dari kepribadian seseorang, ditakar dari cara bicaranya dan kata-kata yang keluar dari mulutnya.

Banyak orang membanggakan titel yang disandangnya, bahkan mungkin saja yang bersangkutan menjadi guru besar dibidang keilmuan, namun hal ini tidak menjadikan dirinya serta merta sosok yang terdidik.

Karena sifat-sifat orang yang terdidik, dapat diukur atau ditakar berdasarkan sikap dalam berinteraksi dengan orang lain, tutur kata yang keluar dari mulutnya, kemampuan untuk mengontrol diri dalam situasi apapun dan tidak menempatkan diri sebagai sosok yang paling pintar.

Card image
Quote Of The Day - 19 Maret 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-03-20 22:31:34


Kita tidak dapat menikmati berkat-Nya tanpa menikmati Diri-Nya

Card image
Mutiara Suara Kebenaran - 19 Maret 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-03-20 22:30:48


Harus diingat, bahwa belajar duduk diam di kaki Bapa bukan sesuatu yang mudah. Tetapi kita harus membiasakannya sampai hal itu menjadi kebutuhan, bukan kewajiban yang berat untuk dilakukan.

Card image
BEING PROGRESSIVE - 19 Maret 2026 (English Version)
2026-03-20 15:04:17


Being pleasing in the sight of God is a progressive process. As biological age increases—marked by birthdays—and as time passes in a person’s Christian journey, one should increasingly be pleasing to God, which means increasingly sharing in God’s holiness. However, because they feel they have already been reconciled with God based on their doctrinal understanding, many Christians do not strive to experience life changes that increasingly please God. These are people who do not work out their salvation with fear and trembling (Phil. 2:12–13). Meanwhile, the influence of a corrupt world binds their lives, drawing them deeper into a state displeasing to God.

Honestly, many Christian ministers, theologians, and church members are in this condition. If they are not reminded, they will never become members of the Kingdom family, and it is even possible for them to slip into eternal fire. They feel they are already at peace, whereas in truth, they have not yet been reconciled in a full, complete, and proportional manner. In 2 Corinthians 5:18, it is said, “All this is from God, who reconciled us to Himself through Christ and gave us the ministry of reconciliation.”

From God’s side, everything has been completed. God has done it. Jesus said, tetelestai—“It is finished.” Yet from the human side, there must be a response: to allow oneself to be reconciled. If we read 2 Corinthians 5:20, it says, “Therefore, we are Christ’s ambassadors, as though God were making His appeal through us. We implore you on Christ’s behalf: be reconciled to God.” So what about our side? Paul says, “So we make it our goal, whether at home in the body or away from it, to be pleasing to Him” (2 Cor. 5:9).

Believers must be willing to grow in maturity so they can become true children of God, who share in His holiness. Therefore, there is a race that must be run, in which the children of God are trained to partake in His holiness. If we desire to be reconciled with God, our lives must be balanced. Our lives must be clean. We no longer have the right to live for ourselves. We must die to ourselves because Jesus has died for us. And if we live, we live for Him who died for us. We must also realize that our home is not on earth, but in the New Heaven and New Earth.

Believers must be willing to grow in maturity so they can become true children of God, who share in His holiness. Therefore, there is a race that must be run, in which the children of God are trained to partake in His holiness. If we desire to be reconciled with God, our lives must be balanced. Our lives must be clean. We no longer have the right to live for ourselves. We must die to ourselves because Jesus has died for us. And if we live, we live for Him who died for us. We must also realize that our home is not on earth, but in the New Heaven and New Earth.

Formerly, before receiving reconciliation with God through the sacrifice of the Lord Jesus, our status was that of enemies of God. Our condition was unclean and evil, thus not in harmony with God. Yet Jesus died on the cross and changed our status, even though our condition was still chaotic and sinful. To be justified means to be regarded as righteous, even though our condition is not yet righteous. In that unrighteous condition, we are already considered righteous. When we first become Christians, there are still many faults and evils; these are still tolerated because we are in process. However, that condition must not continue indefinitely. There must be a change. After our status has changed, we must take responsibility for changing ourselves.

Therefore, in 2 Corinthians 6:17–18, it is said, “Come out from among them and touch no unclean thing, and I will receive you.” Many Christians feel they have already been reconciled, then live like everyone else, without striving to work out their salvation with fear and trembling. There is no effort to share in God’s holiness. As a result, their lives are ruined. If no one reminds them, they will not enter as members of the Kingdom family, nor even as members of the Kingdom community. They may perish. We must realize: God has fulfilled His part; we must fulfill ours.

Many Christians feel that the change of status is enough—already at peace—while their life condition remains in disorder. Some theologians teach, “We are saved not by good works. It doesn’t matter. God does not look at our deeds; He looks at the blood of Jesus that covers us.” Indeed, the blood of Jesus covers us in the first dimension, namely, being “considered righteous.” But then the Word of God says, “Work out your salvation with fear and trembling.” That is our part. Do not stop at the first stage, for reconciliation is progressive in nature—it continues to grow until we truly come to be in harmony with God.

May The Lord Jesus bless you

BEING PLEASING IN THE SIGHT OF GOD IS A PROGRESSIVE PROCESS.

Card image
BERSIFAT PROGRESIF - 19 Maret 2026
2026-03-20 15:01:51


Keberkenanan di hadapan Allah adalah sesuatu yang bersifat progresif. Seiring dengan bertambahnya usia biologis—yang ditandai dengan hari ulang tahun—dan seiring dengan perjalanan waktu hidup kekristenan seseorang, ia harus semakin berkenan kepada Allah, atau yang sama artinya, semakin mengambil bagian dalam kekudusan Allah. Namun, karena merasa sudah diperdamaikan dengan Allah berdasarkan pengertian doktrin di dalam pikirannya, banyak orang Kristen tidak berusaha mengalami perubahan hidup yang semakin berkenan kepada Allah. Inilah orang-orang yang tidak mengerjakan keselamatan dengan takut dan gentar (Flp. 2:12–13). Sementara itu, pengaruh dunia yang fasik membelenggu hidup mereka, sehingga mereka semakin berada dalam keadaan yang tidak berkenan kepada Allah.

Sejujurnya, banyak rohaniwan Kristen, teolog, dan jemaat berada dalam keadaan seperti ini. Jika tidak diingatkan, mereka tidak akan pernah menjadi anggota keluarga Kerajaan, bahkan bukan tidak mungkin meluncur ke api kekal. Mereka merasa sudah berdamai, padahal sesungguhnya belum berdamai secara utuh, lengkap, dan proporsional. Dalam 2 Korintus 5:18 dikatakan, “Dan semuanya ini dari Allah, yang dengan perantaraan Kristus telah mendamaikan kita dengan diri-Nya dan yang telah mempercayakan pelayanan pendamaian itu kepada kami.”

Dari pihak Allah, semuanya telah selesai. Allah telah melakukannya. Yesus berkata, tetelestai—“sudah selesai.” Namun, dari pihak manusia, harus ada respons: memberi diri diperdamaikan. Jika kita membaca 2 Korintus 5:20, dikatakan, “Jadi kami ini adalah utusan-utusan Kristus, seakan-akan Allah menasihati kamu dengan perantaraan kami; dalam nama Kristus kami meminta kepadamu: berilah dirimu didamaikan dengan Allah.” Lalu bagaimana dari pihak kita? Paulus berkata, “Sebab itu juga kami berusaha, baik kami diam di dalam tubuh ini, maupun kami diam di luarnya, supaya kami berkenan kepada-Nya” (2 Kor. 5:9).

Orang percaya harus mau didewasakan agar dapat menjadi anak-anak Allah yang sah, yang mengambil bagian dalam kekudusan Allah. Karena itu, ada perlombaan yang diwajibkan, di mana anak-anak Allah dididik supaya mengambil bagian dalam kekudusan-Nya. Jika kita mau berdamai dengan Allah, hidup kita harus seimbang. Hidup kita harus bersih. Kita tidak lagi berhak hidup untuk diri kita sendiri. Kita harus mati bagi diri kita sendiri, karena Yesus telah mati untuk kita. Dan jika kita hidup, kita hidup bagi Dia yang telah mati untuk kita. Kita juga harus menyadari bahwa rumah kita bukan di bumi, melainkan di Langit Baru dan Bumi Baru (LB3).

Dahulu, sebelum menerima pendamaian dengan Allah melalui kurban Tuhan Yesus, kita berstatus bermusuhan dengan Allah. Keadaan kita kotor dan jahat, sehingga tidak selaras dengan Allah. Namun, Yesus mati di kayu salib dan mengubah status kita, walaupun keadaan kita masih berantakan dan masih jahat. Dibenarkan berarti dianggap benar, meskipun keadaan kita belum benar. Dalam kondisi yang belum benar itu, kita sudah dianggap benar. Ketika baru menjadi Kristen, masih banyak kesalahan dan kejahatan, itu masih ditoleransi karena kita sedang dalam proses. Namun, keadaan itu tidak boleh berlangsung terus-menerus. Harus ada perubahan. Setelah status kita diubah, kitalah yang harus bertanggung jawab untuk mengubah diri kita.

Karena itu, dalam 2 Korintus 6:17–18 dikatakan, “Keluarlah kamu dari antara mereka dan janganlah menjamah apa yang najis, maka Aku akan menerima kamu.” Banyak orang Kristen merasa sudah didamaikan, lalu hidup seperti manusia lain, tanpa usaha mengerjakan keselamatan dengan takut dan gentar. Tidak ada usaha untuk mengambil bagian dalam kekudusan Allah. Akibatnya, hidup mereka rusak. Jika tidak ada yang mengingatkan, mereka tidak akan masuk menjadi anggota keluarga Kerajaan, bahkan tidak menjadi anggota masyarakat Kerajaan. Tidak tertutup kemungkinan mereka binasa. Kita harus sadar: Allah sudah memenuhi bagian-Nya; kitalah yang harus memenuhi bagian kita.

Banyak orang Kristen merasa bahwa perubahan status itu sudah cukup—sudah damai—padahal keadaan hidupnya masih berantakan. Ada teolog yang mengajarkan, “Kita diselamatkan bukan karena perbuatan baik. Tidak apa-apa. Tuhan tidak melihat perbuatan kita; Ia melihat darah Yesus yang membungkus.” Darah Yesus memang membungkus kita pada dimensi pertama, yaitu “dianggap benar.” Namun selanjutnya firman Tuhan berkata, “Kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar.” Itu adalah bagian kita. Jangan berhenti hanya pada tahap pertama, sebab perdamaian itu bersifat progresif—terus berkembang, sampai kita benar-benar berkeadaan selaras dengan Allah.

Tuhan Yesus memberkati

KEBERKENANAN DI HADAPAN ALLAH ADALAH SESUATU YANG BERSIFAT PROGRESIF.

Card image
KIDS DAILY DEVOTIONAL 18 Maret 2026 - SAAT TAKUT, AKU PERCAYA TUHAN
2026-03-20 02:11:11


Mazmur 56:3
“Waktu aku takut, aku ini percaya pada-Mu.”

Rehobot Kids, pernah nggak sepatumu kemasukan kerikil kecil? Walaupun kecil, rasanya bisa bikin sakit saat berjalan. Kalau itu terjadi, pasti kamu akan berhenti sebentar, membuka sepatu, dan membuang kerikilnya, kan? Karena kalau dibiarkan, jalannya jadi tidak nyaman.

Rasa takut itu mirip seperti kerikil kecil di sepatu. Kadang kita takut bicara di depan kelas, takut gelap, takut ditinggal teman, atau takut melakukan hal baru. Kalau rasa takut itu kita simpan terus, hati kita bisa jadi gelisah dan tidak tenang.

Tapi firman Tuhan hari ini mengajarkan kita satu pilihan yang indah: saat kita takut, kita bisa memilih untuk percaya kepada Tuhan. Caranya sederhana—datang kepada Tuhan dalam doa. Bilang saja, “Tuhan, aku sedang takut, tapi aku mau percaya Engkau menjagaku.”

Tuhan sangat mengasihi semua anak-anak. Dia tahu isi hati kita dan tidak ingin kita berjalan dengan rasa takut. Saat kita menyerahkan ketakutan kepada Tuhan, Dia akan menggantinya dengan keberanian dan damai sejahtera.

Yuk, mulai hari ini, setiap kali rasa takut datang, jangan disimpan sendiri. Buang “kerikil” takut itu lewat doa dan berjalanlah lagi dengan sukacita bersama Tuhan. Karena bersama Tuhan, kita selalu aman dan dikuatkan.

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 18 Maret 2026 - IMAN YANG TEGUH, HATI YANG LEMBUT
2026-03-20 01:46:30


_“Daniel berketetapan untuk tidak menajiskan dirinya dengan santapan raja dan dengan anggur yang biasa diminum raja; dimintanyalah kepada pemimpin pegawai istana itu, supaya ia tak usah menajiskan dirinya.” Daniel 1:8

Daniel hidup di lingkungan yang sama sekali tidak mendukung imannya. Ia berada di istana Babel—budaya asing, sistem yang kuat, dan tekanan untuk menyesuaikan diri demi kenyamanan dan posisi. Namun di tengah semua itu, Daniel membuat satu keputusan yang sangat jelas: ia berketetapan untuk tetap setia kepada Tuhan.

Yang menarik, Daniel tidak menunjukkan imannya dengan sikap keras, arogan, atau penuh perlawanan. Ia tidak meremehkan orang lain, tidak memaksakan kehendak, dan tidak menciptakan konflik. Alkitab mencatat bahwa Daniel meminta dengan sikap hormat. Iman Daniel tegas dalam prinsip, tetapi lembut dalam cara.

Dari sini kita belajar bahwa iman yang kuat tidak harus dibungkus dengan sikap kasar. Berdiri dalam kebenaran tidak berarti harus melukai atau merendahkan orang lain. Justru iman yang dewasa terlihat dari kemampuan menyampaikan keyakinan dengan hikmat, kasih, dan kerendahan hati—tanpa kehilangan prinsip.

Dalam kehidupan kita hari ini, perbedaan nilai dan tekanan untuk berkompromi sering muncul: di sekolah, kampus, tempat kerja, bahkan dalam pelayanan. Daniel mengingatkan kita bahwa kita bisa tetap taat kepada Tuhan tanpa kehilangan sikap hormat kepada sesama. Iman boleh berani, tapi hati tetap harus lembut.

WHAT TO DO?
1. Renungkan area mana dalam hidupmu yang sedang menguji keteguhan imanmu.
2. Mintalah hikmat Tuhan untuk bersikap tegas dalam kebenaran, namun lembut dalam cara.
3. Latih dirimu untuk menyatakan iman melalui sikap yang penuh kasih dan hormat.

BIBLE MARATHON:
Kisah Para Rasul 17

Card image
Renungan Pagi - 18 Maret 2026
2026-03-20 01:35:46


Apapun yang murni selalu lebih mahal daripada yang biasa; emas murni selalu lebih mahal dari pada emas yang tidak murni, begitu juga halnya dengan iman kristiani kita.

Kita percaya bahwa kemurnian iman-lah yang menjadikan kita layak dihadapan Allah, orang boleh saja beriman tapi kalau imannya tidak murni, maka tidak ada artinya sebagai orang beriman.

Card image
Quote Of The Day - 18 Maret 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-03-18 22:29:06


Masalah yang terlihat di depan mata hanya bisa dikalahkan dengan iman yang memercayai Tuhan yang tidak nampak di depan mata..

Card image
Mutiara Suara Kebenaran - 18 Maret 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-03-18 22:28:16


Mencari hadirat Bapa membutuhkan ketekunan dan waktu yang panjang, yakni sepanjang umur hidup kita.

Card image
THREE CHARACTERISTICS - 18 Maret 2026 (English Version)
2026-03-18 22:19:22


We need to understand that when the Letter to the Corinthians was written, there were no chapter-and-verse divisions. The entire text was continuous and coherent. Therefore, we must not read a single verse in isolation from the verses before and after it. The division into chapters and verses was added later. Thus, being pleasing to God must be viewed in light of the whole of chapter 5. If we observe 2 Corinthians 5 in its entirety, we will find the characteristics of a life that is pleasing to God.

First, a life that is blameless and without fault (vv. 9–10).

Second, a life that longs to meet the Lord (vv. 1–7). Paul says that if he could choose, he would rather leave this body and meet the Lord. He declares that his life journey is not based on sight, but on faith. He is not bound to what is seen, but to what is unseen. In 2 Corinthians 4, the previous chapter, Paul says, “We fix our eyes not on what is seen, but on what is unseen. For what is seen is temporary, but what is unseen is eternal.”

Third, a life wholly devoted to God as Christ’s ambassador, namely to proclaim the message of reconciliation (vv. 14–15). If Jesus has died for us all, then we all have died. And if we live, we live for Him who died for us. This is the life of a Christian who truly experiences being a new creation (2 Cor. 5:17).

If a person lacks these three characteristics, it means they have not yet become a true Christian. They may adhere to the Christian religion, but have not truly become a Christian, for “Christian” means being like Christ. A blameless life, the awareness that this world is not our home, so that we long to meet the Lord, and a life fully devoted to God—these are the marks of a true believer. If we do not live fully for God, then we are not counted by God, even if we are pastors, church activists, synod leaders, or anyone else. If these three characteristics are absent, then we are not those whom God counts.

Paul possessed these three characteristics: holiness of life, longing to meet the Lord, and total devotion to God. That is why he could say, “For to me, to live is Christ and to die is gain.” In this regard, Paul’s life becomes a model of a believer who has truly experienced reconciliation with God. Yet many Christians, including theologians, feel that they already possess reconciliation with God merely because they have a conceptual framework or a systematic theology of reconciliation.

In reality, reconciliation with God is built on conduct and inward moral qualities pleasing to God, in accordance with the characteristics mentioned: holiness of life, focus on meeting the Lord, and wholehearted devotion to God. For many years, many Christians have lived in a state of not being properly reconciled with God. Indeed, when someone becomes a Christian, they are not immediately required to live a holy, perfect, fully devoted life to God, longing for the Kingdom of Heaven. That requires a process.

However, if someone is biologically advanced in age—for example, 60 years old—and has followed Jesus for 40 years, they should by then display evident spiritual growth and increasingly please God. If not, and if they do not truly pay attention to the quality of their life because they have become accustomed to wrong patterns of living, then those wrong patterns will be regarded as the normal standard. This is what is called deviant normality.

The same thing happened when Christianity became the state religion during the Roman Empire. When Christians no longer experienced persecution, many began to live in a spiritually comfortable yet deviant way. Even today, many Christians live in such deviant normality. In the past, when Christianity was under persecution, the lives of believers were actually normal in God’s eyes. But when Christianity became comfortable, many instead lived abnormally before God.

May Lord Jesus bless you

Card image
3 CIRI - 18 Maret 2026
2026-03-18 22:13:15


Perlu kita ketahui bahwa ketika Surat Korintus ditulis, belum ada pembagian pasal dan ayat. Seluruhnya merupakan satu tulisan yang runtut. Oleh sebab itu, kita tidak boleh membaca satu ayat secara terlepas dari ayat-ayat sebelum dan sesudahnya. Pembagian pasal dan ayat baru ditambahkan kemudian. Maka, keberkenanan kepada Allah harus dilihat dari keseluruhan pasal 5. Jika kita memerhatikan 2 Korintus 5 secara utuh, kita akan menemukan ciri-ciri kehidupan orang yang berkenan kepada Allah.

Pertama, kehidupan yang tidak bercacat dan tidak bercela (ay. 9–10).

Kedua, kehidupan yang merindukan perjumpaan dengan Tuhan (ay. 1–7). Paulus mengatakan bahwa jika ia boleh memilih, ia ingin melepaskan tubuh ini dan bertemu dengan Tuhan. Ia menyatakan bahwa perjalanan hidupnya bukan karena melihat, melainkan karena percaya. Ia tidak terikat pada hal-hal yang kelihatan, melainkan pada hal-hal yang tidak kelihatan. Dalam 2 Korintus 4, pasal sebelumnya, Paulus mengatakan, “Kami tidak memerhatikan yang kelihatan, melainkan yang tidak kelihatan. Sebab yang kelihatan itu sementara, sedangkan yang tidak kelihatan itu kekal.”

Ketiga, kehidupan yang sepenuhnya dipersembahkan kepada Allah sebagai utusan Kristus, yaitu untuk memberitakan berita pendamaian (ay. 14–15). Jika Yesus telah mati untuk kita semua, maka kita semua telah mati. Dan jika kita hidup, kita hidup bagi Dia yang telah mati untuk kita. Inilah kehidupan orang Kristen yang sungguh-sungguh mengalami keadaan sebagai ciptaan yang baru (2 Kor. 5:17).

Jika seseorang tidak memiliki ketiga ciri ini, berarti ia belum menjadi Kristen sejati. Ia mungkin beragama Kristen, tetapi belum menjadi Kristen, sebab Kristen berarti serupa dengan Kristus. Kehidupan yang tidak bercela, kesadaran bahwa dunia ini bukan rumah kita sehingga merindukan perjumpaan dengan Tuhan, serta kehidupan yang sepenuhnya diabdikan kepada Allah—itulah tanda orang percaya yang sejati. Jika kita tidak hidup sepenuhnya bagi Allah, maka kita tidak termasuk dalam perhitungan Allah, sekalipun kita seorang pendeta, aktivis gereja, ketua sinode, atau siapa pun. Jika ketiga ciri ini tidak ada, maka kita bukan orang yang diperhitungkan Allah.

Paulus memiliki ketiga ciri tersebut: kesucian hidup, kerinduan untuk berjumpa dengan Tuhan, dan pengabdian total kepada Tuhan. Karena itulah ia dapat berkata, “Bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan.” Dalam hal ini, kehidupan Paulus menjadi model orang percaya yang benar-benar telah mengalami perdamaian dengan Allah. Namun, banyak orang Kristen, termasuk para teolog, merasa sudah memiliki perdamaian dengan Allah hanya karena memiliki bangunan berpikir atau sistematika teologi mengenai perdamaian tersebut.

Padahal, perdamaian dengan Allah dibangun di atas dasar perilaku dan keadaan moral batiniah yang berkenan kepada Allah, sesuai dengan ciri-ciri yang telah disebutkan: kesucian hidup, fokus pada perjumpaan dengan Tuhan, dan pengabdian sepenuh hati kepada Allah. Selama bertahun-tahun, banyak orang Kristen hidup dalam keadaan tidak berdamai dengan Allah secara proporsional. Memang, ketika seseorang baru menjadi Kristen, ia tidak langsung dituntut untuk hidup suci, sempurna, sepenuhnya bagi Allah, dan merindukan Kerajaan Surga. Hal itu membutuhkan proses.

Namun, jika seseorang telah berusia lanjut secara biologis—misalnya berusia 60 tahun—dan telah mengikut Yesus selama 40 tahun, seharusnya ia telah menunjukkan pertumbuhan rohani yang nyata dan semakin berkenan kepada Allah. Jika tidak, dan ia tidak sungguh-sungguh memerhatikan kualitas hidupnya karena sudah terbiasa dengan pola hidup yang salah, maka pola yang salah itu akan dianggap sebagai standar normal. Inilah yang disebut kenormalan yang menyimpang.

Hal yang sama terjadi ketika Kekristenan menjadi agama negara pada zaman Kekaisaran Roma. Ketika orang Kristen tidak lagi mengalami aniaya, banyak yang mulai hidup dalam kenyamanan rohani yang menyimpang. Hari ini pun banyak orang Kristen hidup dalam kenormalan yang menyimpang. Dulu, ketika Kekristenan berada di bawah aniaya, kehidupan orang percaya justru normal di mata Allah. Namun, ketika Kekristenan menjadi nyaman, justru banyak yang hidup tidak normal di hadapan Allah.

Tuhan Yesus memberkati

PERDAMAIAN DENGAN ALLAH DIBANGUN DI ATAS DASAR PERILAKU DAN KEADAAN MORAL BATINIAH YANG BERKENAN KEPADA ALLAH.

Card image
KIDS DAILY DEVOTIONAL 17 Maret 2026 - SEMANGAT BARU DARI TUHAN
2026-03-18 20:15:33


Yesaya 40:31
“Tetapi orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN mendapat kekuatan baru: mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah.”

Rehobot Kids, pernahkah kamu merasa capek sekali setelah bermain, atau patah semangat karena tugas sekolah terasa sulit? Kadang tubuh kita lelah, kadang hati kita juga ikut lelah dan ingin menyerah.

Bayangkan Spongebob yang sedang bekerja di Krusty Krab. Hari itu sangat ramai! Ia harus berlari ke sana ke mari melayani pelanggan. Lama-lama Spongebob kelelahan, wajahnya berkeringat, dan semangatnya hampir habis. Tapi Spongebob tidak menyerah. Ia berhenti sejenak, menarik napas, lalu bangkit lagi dengan semangat baru.

Firman Tuhan hari ini mengajarkan bahwa orang yang berharap kepada Tuhan akan mendapatkan kekuatan baru. Saat kita lelah atau sedih, Tuhan tidak membiarkan kita sendirian. Tuhan memberi semangat, pengharapan, dan kekuatan supaya kita bisa melangkah lagi—bahkan seperti rajawali yang terbang tinggi dan kuat.

Jadi Rehobot Kids, kalau hari ini kamu merasa capek atau putus asa, datanglah kepada Tuhan. Katakan dalam doamu, “Tuhan, beri aku kekuatan baru.” Percayalah, bersama Tuhan kamu bisa bangkit lagi dengan semangat yang segar dan hati yang kuat!

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 17 Maret 2026 (English Version) - A SECOND CHANCE FROM CONFLICT
2026-03-18 20:12:23


“Greetings from Aristarchus, my fellow prisoner, and from Mark, the cousin of Barnabas—about whom you have received instructions—welcome him if he comes to you.”
Colossians 4:10

We often view conflict as a sign of failed relationships. When conflicts arise, many people choose to walk away, give up, or label the relationship as “over.” However, from a faith perspective, conflict is not always the end. In fact, conflict is often God’s way of shaping character, fostering maturity, and opening new opportunities.

John Mark is a clear example. He once withdrew from serving with Paul, a decision that made Paul hesitant to trust him again. This difference in perspective sparked a sharp conflict between Paul and Barnabas. Paul chose to be firm, while Barnabas chose to give a second chance. The conflict even caused them to part ways.

But time proved something beautiful. Mark did not stop at his failure. Under Barnabas’ guidance, he grew, was restored, and was shaped. Eventually, Paul—who had once rejected him—recognized Mark as a valuable ministry partner. God even used Mark to write the Gospel that has blessed many people to this day.

Mark’s story teaches us that conflict does not have to end in bitterness. Conflict can be a turning point, as long as there is humility to learn and room to grow. For us today, conflict is not a reason to close doors, but an opportunity to ask: what is God teaching us? When we choose love, patience, and give room for restoration, God is able to turn conflict into a blessing—not only for us, but also for many people.

WHAT TO DO?
1. Don’t see conflict as the end; see it as an opportunity to grow.
2. Learn to give others a second chance, as Barnabas did for Mark.
3. Remember Mark: from conflict comes maturity and greater service.

BIBLE MARATHON:
Acts 16

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 17 Maret 2026 - KESEMPATAN KEDUA DARI KONFLIK
2026-03-18 20:02:32


“Salam dari Aristarkhus, teman sepenjara dengan aku, dan dari Markus, kemenakan Barnabas—tentang dia kamu telah menerima pesan; terimalah dia apabila dia datang kepadamu.”
Kolose 4:10

Konflik sering kita anggap sebagai tanda kegagalan relasi. Begitu terjadi benturan, banyak orang memilih menjauh, menyerah, atau memberi label “sudah selesai.” Padahal, dalam perspektif iman, konflik tidak selalu menjadi akhir. Justru sering kali konflik menjadi jalan Tuhan untuk membentuk karakter, menumbuhkan kedewasaan, dan membuka kesempatan baru.

Yohanes Markus adalah contoh nyata. Ia pernah mundur dari pelayanan bersama Paulus, sebuah keputusan yang membuat Paulus ragu untuk kembali mempercayainya. Perbedaan pandangan inilah yang memicu konflik tajam antara Paulus dan Barnabas. Paulus memilih bersikap tegas, sementara Barnabas memilih memberi kesempatan kedua. Konflik itu bahkan membuat mereka berpisah jalan.

Namun waktu membuktikan sesuatu yang indah. Markus tidak berhenti di kegagalannya. Di bawah pendampingan Barnabas, ia bertumbuh, dipulihkan, dan dibentuk. Hingga akhirnya, Paulus—yang dulu menolaknya—mengakui Markus sebagai rekan pelayanan yang berharga. Bahkan Markus dipakai Tuhan untuk menulis Injil yang memberkati banyak orang sampai hari ini.

Kisah Markus mengajarkan bahwa konflik tidak harus berakhir dengan kepahitan. Konflik bisa menjadi titik balik, asal ada kerendahan hati untuk belajar dan ruang untuk bertumbuh. Bagi kita hari ini, konflik bukan alasan untuk menutup pintu, melainkan kesempatan untuk bertanya: apa yang Tuhan sedang ajarkan? Ketika kita memilih kasih, kesabaran, dan memberi ruang bagi pemulihan, Tuhan mampu mengubah konflik menjadi berkat—bukan hanya bagi kita, tetapi juga bagi banyak orang.

WHAT TO DO?
1. Jangan anggap konflik sebagai akhir; lihat sebagai kesempatan untuk bertumbuh.
2. Belajar memberi kesempatan kedua bagi orang lain, seperti Barnabas memberi Markus.
3. Ingat Markus: dari konflik lahir kedewasaan dan pelayanan yang lebih besar.

BIBLE MARATHON:
Kisah Para Rasul 16

Card image
Renungan Pagi - 17 Maret 2026
2026-03-17 23:28:36


Dalam hidup ini ada banyak jalan yang kelihatannya baik, tapi ternyata diujungnya sangat jahat, ada jalan yang kelihatannya menyenangkan, tapi diujungnya sangat menghancurkan.

Untuk itu kita perlu menguji segala sesuatu, tidak dikendalikan oleh emosi dan wajib bergaul intim dengan Tuhan sehingga kita terhindar dari segala jalan yang jahat.

Card image
Quote Of The Day - 17 Maret 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-03-17 23:26:48


Jangan menghina diri kita sendiri dengan menghargai dunia secara berlebihan. 

Card image
Mutiara Suara Kebenaran - 17 Maret 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-03-17 23:25:46


Dari pengalaman ada di hadirat Bapa setiap hari kita dapat menemukan kedekatan yang semestinya dengan Bapa.

Card image
IDEAL RECONCILIATION - 17 Maret 2026 (English Version)
2026-03-17 23:24:08


2 Corinthians 5:19–20
“For God was reconciling the world to Himself in Christ, not counting people’s sins against them. And He has committed to us the message of reconciliation. Therefore, we are Christ’s ambassadors, as though God were making His appeal through us. We implore you on Christ’s behalf: be reconciled to God.”

To be reconciled with God means to live in complete, whole, and balanced fellowship with Him. This phrase is very important. The standard of reconciliation with God is not sufficiently met merely by believing that Jesus is Lord and Savior, becoming a Christian, and attending church. Many Christians feel they are already reconciled with God based on these standards, whereas in truth, they are not yet properly reconciled with Him. They have not been fully reconciled because there is no balance with God. In fact, it is time for a person to possess an adequate level of holiness and maturity to live in a state of reconciliation with God.

God declares in 1 Peter 1:13–17 that believers must live as obedient children of God, holy in all things. Therefore, in 1 Peter 1:16 God says, “Be holy, for I am holy.” And it continues, “If you call on Him as Father, live in reverent fear during your time of exile.” Behind these words, God desires balance between Himself and His people: “Be holy, for I am holy.”

In 2 Corinthians 6:17–18, the Word of God says, “Therefore, come out from among them and be separate, says the Lord. Touch no unclean thing, and I will receive you. And I will be a Father to you. You will be My sons and daughters, says the Lord Almighty.” Believers must come out of corrupt associations, out of a sinful life, and must not touch what is unclean; only then will God welcome them. This is what is meant by “balance”: just as God is holy, so must we be holy. In this matter, it is not God who adjusts Himself to us, but we who must adjust ourselves to God.

That is why, in Galatians 5:25, the Word of God says, “If we live by the Spirit, let us also walk by the Spirit.” In Greek it is written ei zōmen Pneumati, Pneumati kai stoichōmen (Εἰ ζῶμεν Πνεύματι, Πνεύματι καὶ στοιχῶμεν), which in English is translated if we live in the Spirit, let us also walk in the Spirit, and in Latin, si vivimus Spiritu, Spiritu et ambulemus. This means that if we have been made alive by the Spirit, then we must live in harmony with the Spirit; we must align ourselves with God.

The word stoichōmen means to walk in step, like people marching in formation; their steps must be in harmony. We are the ones who must adjust ourselves to God, not the other way around. Indeed, when a child is not yet mature, parents do not demand balance. When a child is still small, parents adapt to the child. Likewise, when a Christian is still immature—both spiritually and biologically—God accommodates them with patience and understanding. However, when believers mature, God’s attitude changes. The Lord desires that believers grow into maturity so they can truly have fellowship with Him—this is called ideal reconciliation.

Theological knowledge alone is insufficient for reconciliation with God. Many can speak convincingly about salvation or reconciliation, but true reconciliation is evidenced in transformed living: conduct, attitudes, and inner character that please God. The main argument in 2 Corinthians 5 is that God seeks this genuine alignment, not just intellectual agreement.

May The Lord Jesus bless you

THE LORD DESIRES THAT BELIEVERS GROW INTO MATURITY SO THEY CAN TRULY HAVE FELLOWSHIP WITH HIM. THIS IS CALLED IDEAL RECONCILIATION.

Card image
PERDAMAIAN YANG IDEAL - 17 Maret 2026
2026-03-17 23:21:53


2 Korintus 5:19–20
“Sebab Allah mendamaikan dunia dengan diri-Nya oleh Kristus dengan tidak memperhitungkan pelanggaran mereka. Ia telah mempercayakan berita pendamaian itu kepada kami. Jadi kami ini adalah utusan-utusan Kristus, seakan-akan Allah menasihati kamu dengan perantaraan kami; dalam nama Kristus kami meminta kepadamu: berilah dirimu didamaikan dengan Allah.”

Berdamai dengan Allah berarti hidup dalam persekutuan yang lengkap, utuh, dan seimbang dengan Allah. Kata ini sangat penting. Standar perdamaian dengan Allah tidak cukup hanya dengan memiliki keyakinan bahwa Yesus adalah Tuhan dan Juru Selamat, menjadi orang Kristen, serta pergi ke gereja. Banyak orang Kristen merasa sudah berdamai dengan Allah berdasarkan standar tersebut, padahal sesungguhnya mereka belum berdamai secara benar dengan Allah. Mereka belum berdamai secara lengkap dan utuh karena tidak ada keseimbangan dengan Allah. Padahal, sudah waktunya seseorang memiliki tingkat kekudusan dan kedewasaan yang memadai untuk dapat hidup dalam perdamaian dengan Allah.

Allah berfirman dalam 1 Petrus 1:13–17 bahwa orang percaya harus hidup sebagai anak-anak Allah yang taat, yang kudus dalam segala hal. Karena itu, dalam 1 Petrus 1:16 Allah berfirman, “Kuduslah kamu, sebab Aku kudus.” Dan selanjutnya dikatakan, “Jika engkau memanggil Allah itu Bapa, hendaklah kamu hidup dalam ketakutan selama menumpang di dunia.” Di balik firman ini, Allah menghendaki adanya keseimbangan antara diri-Nya dan umat-Nya: “Kuduslah kamu, sebab Aku kudus.”

Dalam 2 Korintus 6:17–18 firman Tuhan mengatakan, “Sebab itu: keluarlah kamu dari antara mereka dan pisahkanlah dirimu dari mereka, firman Tuhan, dan janganlah menjamah apa yang najis, maka Aku akan menerima kamu. Dan Aku akan menjadi Bapamu, dan kamu akan menjadi anak-anak-Ku laki-laki dan anak-anak-Ku perempuan, demikianlah firman Tuhan, Yang Mahakuasa.” Orang percaya harus keluar dari pergaulan yang jahat, dari kehidupan yang jahat, dan tidak menyentuh apa yang najis, barulah Allah menyambutnya. Inilah yang dimaksud dengan “keseimbangan”: sebagaimana Allah kudus, demikian pula kita harus kudus. Dalam hal ini, bukan Allah yang menyesuaikan diri dengan kita, melainkan kita yang harus menyesuaikan diri dengan Allah.

Itulah sebabnya, dalam Galatia 5:25 firman Tuhan mengatakan, “Jikalau kita hidup oleh Roh, baiklah hidup kita juga dipimpin oleh Roh.” Dalam bahasa Yunani tertulis ei zōmen Pneumati, Pneumati kai stoichōmen (Εἰ ζῶμεν Πνεύματι, Πνεύματι καὶ στοιχῶμεν), yang dalam bahasa Inggris diterjemahkan if we live in the Spirit, let us also walk in the Spirit, dan dalam bahasa Latin, si vivimus Spiritu, Spiritu et ambulemus. Artinya, jika kita telah dihidupkan oleh Roh, maka kita harus hidup seirama dengan Roh itu; kita harus menyesuaikan diri dengan Allah.

Kata stoichōmen berarti berjalan seirama, seperti orang yang sedang berbaris; langkahnya harus serasi. Kitalah yang harus menyesuaikan diri dengan Allah, bukan sebaliknya. Memang, ketika seorang anak belum dewasa, orang tua tidak menuntut keseimbangan. Saat anak masih kecil, orang tua yang menyesuaikan diri dan mengimbangi anak. Demikian pula, ketika seorang Kristen masih belum dewasa—baik secara rohani maupun biologis—Allah mengimbangi dengan kesabaran dan pengertian. Namun, ketika orang percaya mulai dewasa, sikap Allah berbeda. Tuhan menghendaki orang percaya bertumbuh menjadi dewasa agar dapat bersekutu dengan Dia secara benar—itulah yang disebut sebagai perdamaian yang ideal.

Perdamaian dengan Allah tidak cukup dibangun di atas pengertian teologi semata. Banyak teolog dapat berbicara dengan sangat fasih mengenai keselamatan atau soteriologi, mengenai pendamaian dengan Allah, tetapi pengetahuan itu saja tidak cukup. Perdamaian dengan Allah harus dibangun dalam kehidupan nyata: dalam perilaku, dalam sikap hati, dan dalam keadaan batin yang berkenan di hadapan Allah. Keberkenanan kepada Allah inilah yang menjadi inti dari pembahasan dalam 2 Korintus 5.

Tuhan Yesus memberkati

TUHAN MENGHENDAKI ORANG PERCAYA BERTUMBUH MENJADI DEWASA AGAR DAPAT BERSEKUTU DENGAN DIA SECARA BENAR. ITULAH YANG DISEBUT SEBAGAI PERDAMAIAN YANG IDEAL.

Card image
KIDS DAILY DEVOTIONAL 16 Maret 2026 - TUHAN PENJAGAKU
2026-03-17 14:35:04


Mazmur 121:7–8
“TUHAN akan menjaga engkau terhadap segala kecelakaan; Ia akan menjaga nyawamu. TUHAN akan menjaga keluar masukmu, dari sekarang sampai selama-lamanya.”

Rehobot Kids, pernah nggak kamu merasa takut saat berjalan di tempat gelap atau ketika mendengar suara aneh di malam hari? Biasanya, kita langsung merasa lebih tenang kalau ada mama, papa, atau orang dewasa di dekat kita. Kita tahu ada yang menjaga, sehingga hati kita tidak takut lagi.

Mazmur 121:7–8 mengingatkan kita bahwa Tuhan adalah Penjaga hidup kita. Tuhan bukan hanya menjaga kita saat berdoa atau di gereja saja. Sejak kita bangun pagi, pergi ke sekolah, bermain, belajar, sampai kita kembali tidur di malam hari, Tuhan tetap menjaga kita dengan penuh kasih.

Kadang kita tidak menyadari bahaya apa saja yang sudah Tuhan jauhkan dari hidup kita. Bisa saja Tuhan melindungi kita dari sakit, kecelakaan, atau hal-hal yang tidak kita lihat. Walaupun kita tidak tahu semuanya, Tuhan tahu dan setia menjaga kita setiap waktu.

Karena Tuhan selalu menjaga, kita tidak perlu hidup dalam ketakutan. Kita bisa menjalani hari dengan hati yang tenang dan penuh sukacita. Saat bangun pagi, kita bisa berkata, “Terima kasih Tuhan, Engkau sudah menjagaku.” Saat malam tiba, kita bisa tidur dengan damai karena tahu Tuhan tetap berjaga.

Yuk, Rehobot Kids, belajar percaya penuh kepada Tuhan dan mensyukuri setiap hari yang kita jalani. Kita senantiasa aman dalam penjagaan Tuhan.

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 16 Maret 2026 (English Version) - LEARNING FROM DIFFERENCES
2026-03-17 14:32:42


“Then a sharp disagreement arose, and they parted company; Barnabas took Mark with him, and Paul took Silas.” Acts 15:39

Conflict is often seen as something to be avoided. However, in real life—including in spiritual communities—conflict is a natural part of human relationships. Young people need to learn that conflict is not always bad. It is through conflict that our character is tested and our spiritual maturity is formed. Barnabas sets an interesting example. He was known as the “son of encouragement,” a person full of empathy and support. However, in Acts 15, he had a sharp disagreement with Paul about John Mark. Paul thought Mark was not yet fit for ministry because he had previously withdrawn, while Barnabas chose to give him a second chance. This difference in opinion could not be reconciled, so they eventually parted ways.

At first glance, this separation seems like a failure. However, God was still working behind the scenes. Paul continued his ministry with Silas, while Barnabas guided Mark until he was restored. Later on, Mark was even used by God to write the Gospel. Conflict did not destroy the ministry—it actually expanded its impact.

From this story, we learn that differences do not always have to be resolved. Sometimes, the humility to accept differences and continue to love is a much more mature attitude. Conflict can be a space where God works, shaping our hearts and revealing His plans that are greater than our personal egos.

WHAT TO DO?
1. Don’t be afraid to face conflict; see it as an opportunity to grow.
2. Learn to accept differences without imposing your personal will.
3. Remember Barnabas: love and sympathy can give birth to new opportunities even through conflict.

BIBLE MARATHON:
Acts 15

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 16 Maret 2026 - BELAJAR DARI PERBEDAAN
2026-03-17 14:07:56


“Maka terjadilah perselisihan yang tajam, sehingga mereka berpisah; Barnabas membawa Markus, dan Paulus membawa Silas.” Kisah Para Rasul 15:39

Konflik sering dianggap sebagai drama yang harus dihindari. Padahal, dalam kehidupan nyata—termasuk di komunitas rohani—konflik adalah bagian yang wajar dari relasi manusia. Anak muda perlu belajar bahwa konflik tidak selalu buruk. Justru lewat konflik, karakter kita diuji dan kedewasaan rohani dibentuk.

Barnabas memberi contoh yang menarik. Ia dikenal sebagai “anak penghiburan,” pribadi yang penuh empati dan dukungan. Namun dalam Kisah Para Rasul 15, ia berselisih tajam dengan Paulus soal Yohanes Markus. Paulus menilai Markus belum layak ikut pelayanan karena pernah mundur, sementara Barnabas memilih memberi kesempatan kedua. Perbedaan pandangan ini tidak bisa disatukan, sehingga mereka akhirnya berpisah jalan.

Sekilas, perpisahan ini terlihat seperti kegagalan. Namun ternyata, Tuhan tetap bekerja di balik perbedaan itu. Paulus melanjutkan pelayanan bersama Silas, sementara Barnabas membimbing Markus sampai ia dipulihkan. Bahkan di kemudian hari, Markus dipakai Tuhan untuk menulis Injil. Konflik tidak menghancurkan pelayanan—justru memperluas dampaknya.

Dari kisah ini, kita belajar bahwa perbedaan tidak selalu harus dimenangkan. Kadang, kerendahan hati untuk menerima perbedaan dan tetap mengasihi adalah sikap yang jauh lebih dewasa. Konflik bisa menjadi ruang di mana Tuhan bekerja, membentuk hati kita, dan menunjukkan rencana-Nya yang lebih besar daripada ego pribadi.

WHAT TO DO?
1. Jangan takut menghadapi konflik; lihat sebagai kesempatan untuk bertumbuh.
2. Belajar menerima perbedaan tanpa memaksakan kehendak pribadi.
3. Ingat Barnabas: kasih dan simpati bisa melahirkan kesempatan baru meski lewat konflik.

BIBLE MARATHON:
Kisah Para Rasul 15

Card image
Renungan Pagi - 16 Maret 2026
2026-03-17 14:05:33


Dalam hidup ini setiap kita harus berkarya, meskipun banyak persoalan dan tantangan hidup, jangan sampai tidak berbuat apa-apa dalam hidup kita, semua harus berkarya supaya hidup dapat menjadi berkat, sehingga orang lain dapat melihat kuasa Tuhan dalam hidup kita.

Ketika kita berkarya, maka akan memiliki semangat dalam kehidupan ini, sehingga dengan semangat yang kita miliki pada akhirnya dapat menularkan semangat bagi orang-orang yang ada disekitar, dengan begitu hidup kita menjadi berkat dan semakin maju dan selalu bersemangat.

Card image
Quote Of The Day - 16 Maret 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-03-17 14:04:24


Harta benda kita yang termahal adalah hati kita yang sepenuhnya mencintai Tuhan.

Card image
Mutiara Suara Kebenaran - 16 Maret 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-03-17 14:03:28


Kalau kita mau mengalami Bapa, kita harus terus mencari hadirat Bapa setiap hari. Harus ada waktu khusus yang kita sediakan untuk bertemu dengan Bapa.

Card image
STRIVING TO FULFIL GRACE - 16 Maret 2026
2026-03-16 23:21:32


The statement, “through the obedience of one man, all people become righteous,” means that through the obedience of Jesus—where “all people” here refers to believers—human beings become righteous. Not merely regarded as righteous, but enabled to exist in a state of righteousness truly. That is why there is a process of discipleship in Jesus. Jesus said, “Make disciples of all nations.” Why? So that they may all become like Jesus. This is why the Word of God says, “Work out your salvation with fear and trembling.”

Therefore, the phrase, “the law was added so that the trespass might increase, but where sin increased, grace abounded all the more,” must be understood within the context of salvation history. Throughout the long period before the age of grace, God allowed human beings to live in distorted and corrupted behavior. However, after the age of grace arrived, there came people who live within grace—people who are enabled to put on a life that corresponds to God’s original design. This is the life that Jesus lived.

Hence it is said, “Just as sin reigned in death, so also grace might reign through righteousness to bring eternal life through Jesus Christ our Lord” (Rom. 5:21). This means that if formerly human beings lived in sin with no way out and headed toward death, now in Jesus Christ, they can live in righteousness leading to eternal life. Living in righteousness does not merely mean being considered righteous; it means truly being righteous.

Thus, the phrase “grace will reign through righteousness to eternal life” implies that within grace there is a life that aligns with God’s will, which prepares human beings for eternal life in the new heaven and the new earth. Christians are not sufficiently faithful if they only believe in Christ’s sacrifice and feel that they already possess grace; rather, they must strive to fill that grace with a righteous life.

That is why Paul, in Galatians 5, delivers a statement consistent with what he taught the church in Rome: “It is for freedom that Christ has set us free. Stand firm, then, and do not let yourselves be burdened again by a yoke of slavery” (Gal. 5:1). If we read the following verses, we find the command: “Live by the Spirit, and do not gratify the desires of the flesh” (see Gal. 5:24–25). “Those who belong to Christ Jesus have crucified the flesh with its passions and desires.” Not crucifying the flesh with all its passions means continuing to live in spiritual death and being unable to be reconciled to God. *For only those whom the Holy Spirit leads are called children of God.* If a person lives according to the flesh, he is not a child of God, and one day he will hear the Lord say, “I never knew you.”

When Paul says that we have been set free from sin and become slaves of righteousness, this does not mean that a person is automatically free from sin and instantly lives in righteousness. All of this must be passed through by struggle. Jesus Himself, although He was the Son of God, learned obedience from what He suffered. We must understand that God did not script Jesus’ victory to be easy. There was a real struggle, so it is with us.

Therefore, never follow teachings that say God alone determines who is saved, with no human involvement. The truth is that human beings have the freedom to choose whether to strive for their salvation truly. Do not attempt to link God’s omniscience with human logic carelessly. That is impossible. We must adopt an ethical posture as human beings and as people who belong to God by honoring Him. Do our part, and God will surely do His part. That is why we must strive to work out our salvation.

Hence, in Romans 6:19, Paul says, “Just as you used to offer the parts of your body in slavery to impurity and to ever-increasing wickedness, so now offer them in slavery to righteousness leading to holiness.” If we do this, we will bear fruit that leads to sanctification, and the result is eternal life.

May The Lord Jesus bless you

CHRISTIANS ARE NOT SUFFICIENTLY FAITHFUL IF THEY ONLY BELIEVE IN CHRIST'S SACRIFICE AND FEEL THAT THEY ALREADY POSSESS GRACE; RATHER, THEY MUST STRIVE TO FILL THET GRACE WITH A RIGHTEOUS LIFE.

Card image
BERJUANG MENGISI ANUGERAH
2026-03-16 23:18:55


Kalimat “oleh ketaatan satu orang, semua orang menjadi orang benar” dimaksudkan bahwa oleh ketaatan Yesus—“semua orang” di sini menunjuk kepada orang percaya—manusia menjadi benar. Bukan hanya dianggap benar, melainkan dimungkinkan untuk benar-benar berkeadaan benar. Karena itulah, di dalam Yesus ada proses pemuridan. Yesus berkata, “Jadikanlah semua bangsa murid-Ku.” Mengapa? Supaya mereka semua menjadi seperti Yesus. Itulah sebabnya firman Tuhan berkata, “Kerjakanlah keselamatanmu dengan takut dan gentar.”

Jadi, kalimat “hukum Taurat ditambahkan supaya pelanggaran menjadi semakin banyak, dan di mana dosa bertambah banyak, di sana kasih karunia menjadi berlimpah-limpah” harus dipahami dalam konteks sejarah keselamatan. Selama periode panjang sebelum zaman anugerah, Allah membiarkan manusia hidup dalam kelakuan yang menyimpang dan rusak. Namun, setelah zaman anugerah tiba, ada orang-orang yang hidup di dalam kasih karunia—orang-orang yang dimungkinkan untuk mengenakan kehidupan sesuai dengan rancangan Allah semula. Kehidupan itulah yang dikenakan oleh Yesus.

Karena itu dikatakan, “Sama seperti dosa berkuasa dalam alam maut, demikian kasih karunia akan berkuasa oleh kebenaran untuk hidup yang kekal, oleh Yesus Kristus, Tuhan kita” (Rm. 5:21). Artinya, jika dahulu manusia hidup dalam dosa tanpa jalan keluar dan menuju maut, sekarang di dalam Yesus Kristus manusia dapat hidup di dalam kebenaran menuju hidup yang kekal. Hidup di dalam kebenaran bukan hanya berarti dianggap benar, melainkan benar-benar berkeadaan benar.

Dengan demikian, kalimat “kasih karunia akan berkuasa oleh kebenaran untuk hidup yang kekal” mengandung pengertian bahwa di dalam kasih karunia terdapat kehidupan yang sesuai dengan kehendak Allah, yang mempersiapkan manusia bagi kehidupan kekal di langit baru dan bumi baru. Orang Kristen tidak cukup hanya memiliki keyakinan akan kurban Kristus dan merasa sudah memiliki kasih karunia atau anugerah, tetapi harus berjuang mengisi anugerah tersebut dengan kehidupan yang benar.

Itulah sebabnya Paulus, dalam Galatia 5, menyampaikan pernyataan yang sejalan dengan apa yang ia ajarkan kepada jemaat Roma: “Supaya kita sungguh-sungguh merdeka, Kristus telah memerdekakan kita. Karena itu, berdirilah teguh dan jangan mau lagi dikenakan kuk perhambaan” (Gal. 5:1). Jika kita membaca ayat-ayat berikutnya, kita akan menemukan perintah, “Hiduplah oleh Roh; jangan turuti keinginan daging” (lih. Gal. 5:24–25). “Barangsiapa menjadi milik Kristus Yesus, ia telah menyalibkan daging dengan segala hawa nafsu dan keinginannya.” Tidak menyalibkan daging dengan segala hawa nafsunya berarti tetap hidup dalam kematian rohani dan tidak mungkin berdamai dengan Allah. Sebab hanya orang yang hidup dipimpin oleh Roh Kudus yang disebut anak-anak Allah. Jika seseorang hidup menurut daging, ia bukan anak Allah, dan suatu hari ia akan mendengar Tuhan berkata, “Aku tidak mengenal kamu.”

Ketika Paulus mengatakan bahwa kita telah dimerdekakan dari dosa dan menjadi hamba kebenaran, hal itu tidak berarti bahwa seseorang secara otomatis bebas dari dosa dan langsung hidup dalam kebenaran. Semua itu harus dilalui melalui perjuangan. Yesus sendiri, sekalipun Ia adalah Anak Allah, belajar taat dari apa yang diderita-Nya. Kita harus memahami bahwa Allah tidak menskenariokan kemenangan Yesus secara mudah. Ada perjuangan yang nyata. Demikian pula kita.

Karena itu, jangan sekali-kali kita mengikuti pengajaran yang mengatakan bahwa Allah semata-mata menentukan siapa yang diselamatkan tanpa keterlibatan manusia. Yang benar adalah bahwa manusia memiliki kebebasan untuk memilih apakah ia mau memperjuangkan keselamatannya dengan benar atau tidak. Jangan pula mencoba mengaitkan kemahatahuan Allah dengan logika manusia secara sembrono. Itu tidak mungkin. Kita harus bersikap etis sebagai manusia dan sebagai orang yang ber-Tuhan, dengan menghormati Allah. Lakukan bagian kita, dan Allah pasti melakukan bagian-Nya. Itulah sebabnya kita harus berjuang mengerjakan keselamatan kita.

Karena itu, dalam Roma 6:19 Paulus mengatakan, “Sebab sama seperti kamu dahulu menyerahkan anggota-anggota tubuhmu menjadi hamba kecemaran dan kedurhakaan yang membawa kamu kepada kedurhakaan, demikianlah sekarang kamu harus menyerahkan anggota-anggota tubuhmu menjadi hamba kebenaran yang membawa kamu kepada pengudusan.” Jika hal ini kita lakukan, kita akan menghasilkan buah yang membawa kepada pengudusan, dan kesudahannya adalah hidup yang kekal.

Tuhan Yesus memberkati

ORANG KRISTEN TIDAK CUKUP HANYA MEMILIKI KEYAKINAN AKAN KURBAN KRISTUS DAN MERASA SUDAH MEMILIKI KASIH KARUNIA ATAU ANUGERAH, TETAPI HARUS BERJUANG MENGISI ANUGERAH TERSEBUT DENGAN KEHIDUPAN YANG BENAR.

Card image
KIDS DAILY DEVOTIONAL 15 Maret 2026 - TUHAN PAHLAWANKU
2026-03-16 23:13:07


Zefanya 3:17
“TUHAN Allahmu ada di antaramu sebagai pahlawan yang memberi kemenangan. Ia bergirang karena engkau dengan sukacita, Ia membaharui engkau dalam kasih-Nya, Ia bersorak-sorak karena engkau dengan sorak-sorai.”

Rehobot Kids, pernahkah kamu merasa sangat senang ketika orang tua tersenyum bangga melihat kamu melakukan hal baik? Rasanya hangat dan membuat hati jadi tenang, ya. Tahukah kamu? Tuhan juga memiliki kasih yang seperti itu kepada kita.

Dalam Zefanya 3:17, Tuhan digambarkan sebagai Pahlawan yang selalu ada di dekat kita. Tuhan bukan hanya menjaga, tetapi juga bersukacita karena kita. Saat kita sedih, Tuhan menghibur. Saat kita lelah, Tuhan menguatkan. Saat kita bersukacita, Tuhan ikut bersukacita bersama kita.

Kadang-kadang kita bisa merasa sendirian atau tidak diperhatikan. Tapi firman Tuhan mengingatkan bahwa kita tidak pernah benar-benar sendiri. Tuhan selalu ada di tengah-tengah hidup kita, memperhatikan setiap langkah, dan mengasihi kita dengan kasih yang tidak pernah habis.

Karena itu, Rehobot Kids, kita tidak perlu takut menghadapi hari-hari yang sulit. Kita boleh datang kepada Tuhan setiap saat, menceritakan semua perasaan kita—baik senang maupun sedih. Tuhan pasti senang mendengar cerita kita.

Yuk, hidup dengan hati yang tenang dan penuh percaya. Ingat selalu: Tuhan adalah pahlawan yang mengasihi, menjaga, dan bersukacita atas hidup kita. Kita tidak sendiri, karena Tuhan beserta kita.

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 15 Maret 2026 (English Version) -WHEN EGO ENTERS THE ROOM
2026-03-16 23:10:32


“Pride only causes quarrels, but wisdom is found in those who accept advice.”
Proverbs 13:10

Many conflicts do not start with big issues, but with egos that refuse to yield. When ego enters a relationship—whether friendship, family, ministry, or community—small things can quickly turn into big arguments.

Proverbs honestly states that pride only produces one thing: strife. When we feel we are most right, most hurt, or most deserving of understanding, we stop listening to others. At that point, conflict is no longer about finding a solution, but about winning the ego.

However, God’s word also provides a clear way out: wisdom is found in those who are willing to accept advice. A wise person is not necessarily always right, but is willing to open their heart, listen, and humble themselves. Humility is often far more powerful than the sharpest argument.

Conflict can actually be a mirror for self-discovery. Through conflict, we learn to ask ourselves: am I defending the truth, or just my ego? Not every argument has to be won, but every conflict can always be a lesson for growing in wisdom and love.

WHAT TO DO?
1. When conflict arises, pause and ask: is this about truth or ego?
2. Learn to listen before responding.
3. Ask God for a humble and wise heart.

BIBLE MARATHON:
Acts 14

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 15 Maret 2026 - G R A C E
2026-03-16 13:09:42



“Keangkuhan hanya menimbulkan pertengkaran, tetapi hikmat ada pada orang yang mau menerima nasihat.”
Amsal 13:10
Banyak konflik tidak dimulai dari masalah besar, melainkan dari ego yang tidak mau mengalah. Saat ego masuk ke dalam sebuah hubungan—baik pertemanan, keluarga, pelayanan, maupun komunitas—hal kecil bisa dengan cepat berubah menjadi pertengkaran yang besar.

Amsal dengan jujur menyatakan bahwa keangkuhan hanya menghasilkan satu hal: pertengkaran. Ketika kita merasa paling benar, paling terluka, atau paling layak dimengerti, kita berhenti mendengarkan orang lain. Di titik itu, konflik tidak lagi tentang mencari solusi, tetapi tentang memenangkan ego.

Namun firman Tuhan juga memberi jalan keluar yang jelas: hikmat ada pada orang yang mau menerima nasihat. Orang yang berhikmat bukan berarti selalu benar, melainkan mau membuka hati, mau mendengar, dan mau merendahkan diri. Kerendahan hati sering kali jauh lebih kuat daripada argumen paling tajam.

Konflik sebenarnya bisa menjadi cermin untuk mengenal diri sendiri. Lewat konflik, kita belajar bertanya: apakah aku sedang membela kebenaran, atau sekadar membela ego? Tidak semua perdebatan harus dimenangkan, tetapi setiap konflik selalu bisa menjadi pelajaran untuk bertumbuh dalam hikmat dan kasih.

WHAT TO DO?
1. Saat konflik muncul, berhenti sejenak dan tanyakan: ini soal kebenaran atau ego?
2. Belajar mendengarkan sebelum me _respons._
3. Mintalh Tuhan hati yang rendah dan penuh hikmat.
BIBLE MARATHON:
Kisah Para Rasul 14

Card image
Quote Of The Day - 15 Maret 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-03-16 13:02:28


Orang majus tidak mau tahu seberapa jauh mereka harus berjalan untuk menjumpai Yesus, gembala-gembala dipadang rela meninggalkan kawanan dombanya demi berjumpa dengan Yesus. Sekarang apa persembahan terbaik kita buat Yesus, Yesus tidak membutuhkan emas, kemenyan dan mur, tetapi Yesus mau kita mengalami perjumpaan secara pribadi dan hidup intim dengan Yesus.

Card image
Quote Of The Day - 15 Maret 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-03-16 13:00:21

????? ?? ??? ???: Kita tidak boleh memaksa Tuhan untuk menyatakan Diri secara fisik sehingga kita bisa mengalami Dia. Tetapi tidak bisa tidak, dalam keintiman dengan Tuhan seluruh keberadaan kita, kita bisa mengalami Tuhan.

Card image
Mutiara Suara Kebenaran - 15 Maret 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-03-16 12:59:26


Sesungguhnya, Bapa yang kita sering sebut-sebut dalam doa dan nyanyian-nyanyian adalah Pribadi yang hidup dan mestinya sangat nyata, sehingga orang percaya dapat merasakan dan mengalaminya secara berlimpah.

Card image
G R A C E ‐ 15 Maret 2026 (English Version)
2026-03-15 21:42:05


Romans 5:20–21
“But the law came in so that the transgression might increase; but where sin increased, grace abounded all the more, so that, just as sin reigned in death, so also grace might reign through righteousness to eternal life through Jesus Christ our Lord.”

A person may become a Christian by conviction, by professing belief in Jesus Christ, through family background, or for other reasons, such as marrying a Christian. However, this does not necessarily constitute true faith. True faith is faith that makes a decision and acts to follow Jesus.

Just as through the disobedience of one man, Adam, all people became sinners, so also through the obedience of one Person, the Lord Jesus Christ, humanity becomes righteous. Yet becoming righteous is not merely being justified. Through one man, Adam, all became sinners. Now, through Jesus, humanity becomes righteous. Here, righteousness does not merely mean “being regarded as righteous,” but truly becoming righteous.

Because of Adam, we all became unrighteous: possessing a sinful nature, corrupted, and unworthy to receive eternal life, for nothing unclean can enter the Kingdom of Heaven. Now, because of Jesus, humanity has the possibility of becoming righteous, yet this process does not occur automatically.

The context of these verses is the struggling Roman congregation. Paul is speaking to believers in Rome who lived out an active faith—a faith expressed through obedience and faithfulness. Therefore, we should not simply take these statements and apply them carelessly to our own lives while not living as the Roman believers did. Such an attitude is misleading. We must understand the context. The stories in the Bible must be extracted for their truth and wisdom—this is genuine truth.

The Roman believers had faith and were justified. To have faith means to act, just as Abraham acted on his faith. Thus, if someone claims to have faith, he must act like Abraham. Through one man, Adam, all sinned; through one Person, Jesus, humanity becomes righteous. Becoming righteous is not merely being justified; it is truly becoming righteous. For what purpose? For eternal life.

Therefore, the concept of grace must not be narrowed merely to a gift that enables people to escape hell and enter heaven. Such an understanding is misleading and deceives many. It makes it seem as though human beings do not need to struggle because Jesus has already struggled for them. This is incorrect. We too must struggle. Within grace lies the possibility of possessing the same quality of life that Jesus possessed.

Grace is not merely a gift that allows people to enter heaven and escape hell; within it is the potential and power to possess the quality of life of Jesus. In grace, there is authority (exousia) to live a life of the same quality as that lived by Jesus.

If grace is understood only as a gift to keep people from hell, without being linked to the transformation of life quality into the likeness of Jesus, then this is not a complete understanding of grace. *Grace understood merely as a gift to avoid hell is grace without responsibility; it is futile. It is the same as salvation that is extremely precious but becomes meaningless because it is not worked out with fear and trembling.

That is why believers must live in grace. To live in grace means no longer living in sin. To live in grace means living in responsibility: not living according to the flesh, but living according to the Spirit.

Within grace, there is power that enables us to come out of the sinful nature and experience life transformation, even new birth. However, a new birth is not automatic. New birth is a struggle, not a one-sided event accomplished by God without human involvement. This is the misunderstanding many Christians have, causing many to die spiritually because they assume that God has done everything and that the entire Christian life is merely a divine script. Christianity understood in this way is a corrupted Christianity.

May The Lord Jesus bless you

GRACE UNDERSTOOD MERELY AS A GIFT TO AVOID HELL IS GRACE WITHOUT RESPONSIBILITY; IT IS FUTILE.

Card image
KASIH KARUNIA - 15 Maret 2026
2026-03-15 21:27:52


Roma 5:20–21
“Tetapi hukum Taurat ditambahkan, supaya pelanggaran menjadi semakin banyak; dan di mana dosa bertambah banyak, di sana kasih karunia menjadi berlimpah-limpah, supaya, sama seperti dosa berkuasa dalam alam maut, demikian kasih karunia akan berkuasa oleh kebenaran untuk hidup yang kekal, oleh Yesus Kristus, Tuhan kita.”

Seseorang bisa berkeyakinan menjadi orang Kristen, atau mengaku percaya kepada Yesus Kristus, karena faktor keturunan atau faktor lain, misalnya menikah dengan orang Kristen. Namun, itu belum tentu merupakan iman yang benar. Iman yang benar adalah iman yang mengambil keputusan dan bertindak untuk mengikut Yesus.

Sama seperti oleh ketidaktaatan satu orang, yaitu Adam, semua orang telah menjadi orang berdosa, demikian pula oleh ketaatan satu Pribadi, yaitu Tuhan Yesus Kristus, manusia menjadi benar. Namun, menjadi benar bukan sekadar dibenarkan. Oleh satu orang, Adam, semua orang menjadi berdosa. Sekarang, oleh Yesus, manusia menjadi benar. Benar di sini bukan hanya berarti “dianggap benar,” melainkan sungguh-sungguh menjadi benar.

Oleh karena Adam, kita semua menjadi tidak benar: berkodrat dosa, rusak, dan tidak layak memperoleh hidup yang kekal, sebab tidak ada yang najis yang dapat masuk ke dalam Kerajaan Surga. Sekarang, karena ada Yesus, manusia memiliki kemungkinan untuk menjadi benar, namun proses menjadi benar tersebut tidak berlangsung secara otomatis.

Konteks ayat-ayat ini adalah jemaat Roma yang sedang berjuang. Paulus berbicara kepada jemaat Roma yang hidup dalam iman yang aktif, iman yang diwujudkan dalam ketaatan dan kesetiaan. Karena itu, jangan kita mengambil alih kalimat-kalimat ini lalu mengenakannya secara sembarangan dalam hidup kita, padahal kita tidak menjalani apa yang dijalani jemaat Roma. Sikap seperti itu menyesatkan. Kita harus memahami konteksnya. Kisah-kisah dalam Alkitab harus kita ambil ekstraksi kebenaran dan hikmahnya, itulah kebenaran sejati.

Jemaat Roma beriman dan dibenarkan. Beriman artinya bertindak, seperti Abraham yang bertindak berdasarkan iman. Jadi, jika seseorang mengaku beriman, ia harus bertindak seperti Abraham. Oleh satu orang, Adam, semua orang berdosa; oleh satu Pribadi, Yesus, manusia menjadi benar. Menjadi benar bukan hanya dibenarkan, melainkan benar-benar menjadi benar. Untuk apa? Untuk hidup yang kekal.

Oleh sebab itu, pengertian kasih karunia tidak boleh dipersempit hanya sebagai pemberian cuma-cuma yang membuat manusia terhindar dari neraka dan diperkenankan masuk surga. Pemahaman seperti ini menyesatkan dan membodohi banyak orang. Seolah-olah manusia tidak perlu berjuang karena Yesus sudah berjuang untuknya. Itu keliru. Kita juga harus berjuang. Di dalam kasih karunia terdapat kemungkinan untuk memiliki kualitas hidup seperti yang dimiliki Yesus.

Kasih karunia bukan hanya pemberian cuma-cuma yang memungkinkan manusia masuk surga dan terhindar dari neraka, melainkan di dalam kasih karunia terdapat potensi dan kuasa untuk memiliki kualitas hidup seperti Yesus. Dalam kasih karunia ada kuasa (exousia) untuk menjalani kehidupan dengan kualitas yang sama seperti yang dijalani Yesus.

Jika kasih karunia hanya dipahami sebagai pemberian cuma-cuma agar manusia terhindar dari neraka tanpa dikaitkan dengan perubahan kualitas hidup menjadi serupa dengan Yesus, maka itu bukan pengertian kasih karunia yang utuh. Kasih karunia yang dipahami sekadar pemberian cuma-cuma agar manusia terhindar dari neraka adalah kasih karunia tanpa tanggung jawab, itu sia-sia. Hal itu sama dengan keselamatan yang begitu berharga, tetapi menjadi sia-sia karena tidak dikerjakan dengan takut dan gentar.

Itulah sebabnya, menjadi suatu keharusan mutlak bagi orang percaya untuk hidup di dalam kasih karunia. Hidup di dalam kasih karunia berarti tidak lagi hidup di dalam dosa. Hidup di dalam kasih karunia berarti hidup di dalam tanggung jawab: tidak hidup menurut daging, melainkan hidup menurut Roh.

Di dalam kasih karunia ada kuasa yang memungkinkan kita keluar dari kodrat dosa dan mengalami perubahan hidup, bahkan mengalami kelahiran baru. Namun, kelahiran baru itu bukan sesuatu yang terjadi secara otomatis. Kelahiran baru adalah perjuangan, bukan peristiwa sepihak yang dikerjakan Allah tanpa keterlibatan manusia. Kesalahan inilah yang banyak dimiliki orang Kristen, sehingga banyak yang mati secara rohani karena menganggap bahwa semua telah dikerjakan Allah dan seluruh kehidupan Kristen hanyalah skenario Allah semata. Kekristenan yang dipahami demikian adalah kekristenan yang rusak.

Tuhan Yesus memberkati

KASIH KARUNIA YANG DIPAHAMI SEKADAR PEMBERIAN CUMA-CUMA AGAR MANUSIA TERHINDAR DARI NERAKA ADALAH KASIH KARUNIA TANPA TANGGUNG JAWAB, ITU SIA-SIA.

Card image
KIDS DAILY DEVOTIONAL 14 Maret 2026 - GAK SENDIRIAN
2026-03-15 19:48:30


Mazmur 55:22
“Serahkanlah kuatirmu kepada TUHAN, maka Ia akan memelihara engkau! Tidak untuk selama-lamanya dibiarkan-Nya orang benar itu goyah.”

“Waduh, PR hari ini banyak banget…” “Aku sedih, soalnya temanku suka gangguin aku pas lagi main…”

Rehobot Kids, pernah nggak kalian merasa khawatir, kesal, atau sedih seperti itu? Kadang rasanya berat ya, kalau semua harus dipikirkan sendiri. Tapi Tuhan bilang di Firman-Nya, kita tidak perlu menanggung semua beban itu sendirian.

Mazmur 55:22 mengingatkan kita untuk menyerahkan semua kekhawatiran kepada Tuhan. Artinya, saat hati kita terasa berat, kita boleh datang kepada Tuhan dan menceritakan semuanya. Tuhan mau menjaga, menolong, dan menguatkan kita supaya hati kita tidak goyah.

Misalnya saat PR terasa banyak dan bikin takut, kita bisa berdoa, “Tuhan, tolong aku supaya bisa fokus dan tenang.” Lalu kita mulai mengerjakannya sedikit demi sedikit sambil percaya Tuhan menolong. Atau saat kita sedih karena teman marah atau tidak mau bermain, kita bisa berdoa, “Tuhan, tolong aku tetap sabar dan bisa berdamai.” Tuhan akan menolong kita melalui hati yang lebih tenang dan sikap yang baik.

Menyerahkan kekhawatiran kepada Tuhan itu seperti menyerahkan tas yang berat kepada orang yang kuat. Hati kita jadi lebih ringan, lebih tenang, dan lebih berani menghadapi hari.

Yuk, Rehobot Kids, belajar percaya kepada Tuhan setiap hari. Kita tidak sendirian. Tuhan selalu ada, menjaga, dan memelihara kita dengan kasih-Nya.

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 14 Maret 2026 (English Version) - PEACE OVER BEING RIGHT
2026-03-15 15:45:23


“A hot-tempered person stirs up conflict, but a patient person calms disputes.”
Proverbs 15:18

In conflict, our greatest temptation is often not to seek peace, but to prove that we are right. We want to be heard, understood, and acknowledged. Unfortunately, the desire to “win” often prolongs the quarrel and damages the relationship that should be preserved.

Proverbs 15:18 shows a clear difference: anger fuels conflict, while patience extinguishes it. This means that conflict does not always end because of stronger arguments, but because of a heart that is willing to be calm and humble.

Choosing peace does not mean we are wrong, and giving in does not mean we are weak. It takes maturity of faith to restrain our emotions, guard our words, and not react impulsively. Patient people choose relationships as something more valuable than simply justifying themselves.

Conflict can be a learning space: are we fighting for the truth with love, or just defending our ego? Not all debates must be won. Sometimes, what God wants is a heart that is willing to keep peace. We are called to learn to control our emotions, pause for a moment, listen, and humble our hearts—because peace is often born from humility, not from winning arguments.

WHAT TO DO?
1. When emotions rise, choose to be silent for a moment before responding
. 2. Ask yourself: peace or self-justification?
3. Pray for a patient heart and a loving attitude.

BIBLE MARATHON:
Acts 13

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 14 Maret 2026 - PEACE OVER BEING RIGHT
2026-03-15 15:43:15


“Si pemarah membangkitkan pertengkaran, tetapi orang yang sabar memadamkan perbantahan.”
Amsal 15:18

Dalam konflik, godaan terbesar kita sering kali bukan untuk mencari damai, melainkan untuk membuktikan bahwa kita benar. Kita ingin didengar, dimengerti, dan diakui. Sayangnya, keinginan untuk “menang” justru sering memperpanjang pertengkaran dan melukai hubungan yang seharusnya dijaga.

Amsal 15:18 menunjukkan perbedaan yang jelas: kemarahan menyalakan api konflik, sedangkan kesabaran memadamkannya. Artinya, konflik tidak selalu berhenti karena argumen yang lebih kuat, tetapi karena hati yang mau tenang dan rendah.

Memilih damai bukan berarti kita salah, dan mengalah bukan berarti kita lemah. Justru dibutuhkan kedewasaan iman untuk menahan emosi, menjaga kata-kata, dan tidak bereaksi secara impulsif. Orang yang sabar memilih hubungan sebagai sesuatu yang lebih berharga daripada sekadar pembenaran diri.

Konflik dapat menjadi ruang pembelajaran: apakah kita sedang memperjuangkan kebenaran dengan kasih, atau hanya mempertahankan ego? Tidak semua perdebatan harus dimenangkan. Kadang, yang Tuhan inginkan adalah hati yang mau menjaga damai. Kita dipanggil untuk belajar mengendalikan emosi, berhenti sejenak, mendengar, dan merendahkan hati—karena damai sering lahir dari kerendahan hati, bukan dari kemenangan argumen.

WHAT TO DO?
1. Saat emosi naik, pilih diam sejenak sebelum me respons.
2. Tanyakan pada diri sendiri: damai atau pembenaran diri?
3. Doakan hati yang sabar dan sikap yang penuh kasih.

BIBLE MARATHON:
Kisah Para Rasul 13

Card image
Renungan Pagi - 14 Maret 2026
2026-03-15 15:40:45


Salah satu yang cukup penting yang harus kita miliki dalam hidup ini adalah sahabat; kita boleh saja banyak uang, memiliki jabatan tinggi, tapi tanpa sahabat, hidup akan terasa hampa dan sepi.

Alkitab mengatakan bahwa pergaulan yang buruk merusak kebiasaan yang baik, berarti setiap kita harus menjadi sahabat yang baik bagi orang lain. Menjadi sahabat yang selalu menguatkan dan selalu menjadi berkat, agar lewat persahabatan, kasih Tuhan menjadi nyata bagi orang banyak.

Card image
Quote Of The Day - 14 Maret 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-03-15 15:39:45


Bukan tidak mungkin jika tubuh kita benar-benar menjadi bait Roh Kudus dan Tuhan mau memakainya, kita tidak menggunakan tubuh untuk kepuasan, tidak menggunakan tubuh kita untuk dosa, maka Allah bisa menjadikan tubuh kita ini alat kemuliaan-Nya.

Card image
Mutiara Suara Kebenaran - 14 Maret 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-03-15 15:36:45


Mengampuni memang tidak mudah. Ia membutuhkan kerendahan hati dan keberanian. Namun ingatlah, kita pun telah menerima pengampunan dari Tuhan yang begitu besar. Jangan biarkan dendam tinggal semalam pun di dalam hati.

Card image
A NEW STANDARD OF LIFE - 14 Maret 2026 (English Version)
2026-03-15 15:35:30


Therefore, when Paul says in Romans 3 that “you are justified by faith,” what he means is faith like Paul’s own faith—faith that is accompanied by action. If the Roman believers had not been faithful to Christ—that is, if they had not been willing to live in holiness and suffer for Christ—then peace with God would not have been properly realized or sustained. Many churches and Christians fail to understand this, especially when theologians formulate it rhetorically as, “The blood of Jesus reconciles us; we are already at peace.” Yet Romans 6:1–2 very firmly states, “What shall we say then? Shall we continue in sin that grace may abound? Certainly not! How shall we who died to sin still live in it?”

Furthermore, Romans 6:4 says, “Therefore we were buried with Him through baptism into death, so that just as Christ was raised from the dead by the glory of the Father, so also we might walk in newness of life.” The question is: what is the standard of this new life? Is it merely changing religions—leaving another faith and becoming Christian? Even that is no guarantee. Not a few non-Christians who later become Christians actually live more corrupt lives than before. Many eventually fall into sin because their character is not transformed. They think that by believing in Jesus, they automatically live a new life. Likewise, some people have never gone to church and then begin attending regularly, yet do not experience a genuine life transformation.

There are husbands who previously never went to church and lived in sin, then start coming because of their wives’ encouragement or because of life pressures—falling into poverty, being chased by debt, and so forth. However, if they come to church without undergoing a process of transformation, they may even sin within the church. Some people previously did not serve God, then became motivated to serve, yet their character has not been transformed—they have not yet entered into new life. Formerly, they sinned, and when they became pastors, they still sin in the church. Why? Because their character has not been transformed. Thus, the standard of new life is becoming increasingly like Christ.

Romans 6:5–6 says, “For if we have been united with Him in a death like His, we shall certainly be united with Him in a resurrection like His. We know that our old self was crucified with Him so that the body of sin might be rendered powerless, so that we would no longer be enslaved to sin.”

Then, what is meant by sin? This is the issue. Sin is not merely the violation of laws, but anything that does not conform to God’s thoughts and feelings. Indeed, the Lord has said that following Him is a narrow path. The expression “saved by His life” can be understood to mean that the quality of Jesus’ life—His obedience to the Father and His holiness—must flow into the lives of believers. The Word of God says, “Therefore, just as sin entered the world through one man, and death through sin, and in this way death spread to all people, because all sinned” (Romans 5:12).

Through Adam, sin spread—that is the sinful nature. Now, through the life of Jesus, we are called to live according to God’s design so that we may be reconciled with Him. If the life of Jesus is not flowing in us, then whose life is flowing within us? Let us examine the desires, cravings, and passions that dominate our lives today. What is flowing in us? Do we truly want to change? If not, until death we will continue living in sin—sin that keeps spreading, failure after failure. To reinforce this understanding, we must consider Romans 5:19–21: “For just as through the disobedience of the one man the many were made sinners, so also through the obedience of the one man the many will be made righteous.”

To be made righteous is not merely to be “considered righteous.” And those who are called believers are not merely those who hold convictions, but like the Roman believers—obedient, willing to suffer, and willing to lose everything for Christ. Not a cheap faith like that held by many Christians today, who think that merely becoming a Christian is enough to be called a believer.

May The Lord Jesus bless you

THE STANDARD OF NEW LIFE IS BECOMING INCREASINGLY LIKE CHRIST.

Card image
STANDAR HIDUP BARU 14 Maret 2026
2026-03-15 12:50:34


Jadi, ketika Paulus mengatakan dalam Roma 3 bahwa “kamu dibenarkan oleh iman,” yang dimaksud adalah iman seperti iman Paulus, yaitu iman yang disertai tindakan. Jika jemaat Roma tidak setia kepada Kristus—artinya tidak bersedia hidup dalam kesucian dan tidak rela menderita bagi Kristus—maka perdamaian dengan Allah tidak akan terwujud atau berlangsung dengan benar. Banyak gereja dan orang Kristen tidak memahami hal ini, terlebih ketika para teolog merumuskannya secara redaksional bahwa “kita diperdamaikan oleh darah Yesus, berarti sudah damai.” Padahal, Roma 6:1–2 dengan sangat tegas mengatakan, “Jika demikian, apakah yang hendak kita katakan? Bolehkah kita bertekun dalam dosa, supaya semakin bertambah kasih karunia itu? Sekali-kali tidak! Bukankah kita telah mati bagi dosa, bagaimanakah kita masih dapat hidup di dalamnya?”

Selanjutnya, Roma 6:4 mengatakan, “Dengan demikian kita telah dikuburkan bersama-sama dengan Dia oleh baptisan dalam kematian, supaya, sama seperti Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati oleh kemuliaan Bapa, demikian juga kita akan hidup dalam hidup yang baru.” Pertanyaannya, apakah standar hidup baru itu? Apakah sekadar berpindah agama—dari agama lain lalu menjadi Kristen? Itu pun tidak menjadi jaminan. Tidak sedikit orang non-Kristen yang kemudian menjadi Kristen, tetapi justru hidupnya lebih rusak daripada sebelum menjadi Kristen. Banyak yang akhirnya terjerembab dalam dosa karena karakternya tidak diubahkan. Mereka mengira bahwa dengan percaya Yesus, otomatis mereka telah hidup baru. Demikian pula orang-orang yang tadinya tidak pernah ke gereja, lalu mulai rajin ke gereja, tetapi tidak mengalami perubahan hidup yang sejati.

Ada suami yang sebelumnya tidak pernah ke gereja dan hidup dalam dosa, lalu mulai datang ke gereja karena dorongan istrinya atau karena tekanan hidup—jatuh miskin, dikejar utang, dan sebagainya. Namun, jika ia datang ke gereja tanpa mengalami proses perubahan, ia justru bisa berbuat dosa di dalam gereja. Ada pula orang-orang yang tadinya tidak melayani Tuhan, lalu tergerak untuk melayani, tetapi karakternya belum diubahkan, belum hidup baru. Dulu berbuat dosa, lalu ketika menjadi pendeta, ia tetap berbuat dosa di dalam gereja. Mengapa? Karena karakternya belum diubahkan. Maka standar hidup baru adalah semakin serupa dengan Kristus.

Roma 6:5–6 mengatakan, “Sebab jika kita telah menjadi satu dengan apa yang sama dengan kematian-Nya, kita juga akan menjadi satu dengan apa yang sama dengan kebangkitan-Nya. Karena kita tahu bahwa manusia lama kita telah turut disalibkan, supaya tubuh dosa kita hilang kuasanya, agar jangan kita menghambakan diri lagi kepada dosa.”

Lalu, apakah yang dimaksud dengan dosa? Inilah persoalannya. Dosa bukan hanya pelanggaran terhadap hukum, melainkan segala sesuatu yang tidak sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah. Memang Tuhan sudah mengatakan bahwa mengikut Dia adalah jalan yang sempit. Ungkapan “diselamatkan oleh hidup-Nya” dapat dimengerti bahwa kualitas hidup Yesus—yang taat kepada Bapa dan hidup dalam kesucian—harus menjalar ke dalam hidup orang percaya. Firman Tuhan mengatakan, “Sebab itu, sama seperti dosa telah masuk ke dalam dunia oleh satu orang, dan oleh dosa itu juga maut, demikianlah maut itu telah menjalar kepada semua orang, karena semua orang telah berbuat dosa” (Rm. 5:12).

Melalui Adam, dosa menjalar; itulah kodrat dosa (sinful nature). Sekarang, melalui hidup Yesus, kita dipanggil untuk menjalani kehidupan sesuai dengan rancangan Allah agar dapat diperdamaikan dengan-Nya. Jika hidup Yesus tidak menjalar dalam hidup kita, maka hidup siapa yang sedang menjalar dalam diri kita? Mari kita periksa keinginan, hasrat, dan nafsu apa yang menguasai hidup kita hari ini. Apa yang sedang menjalar dalam hidup kita? Apakah kita sungguh-sungguh mau berubah? Jika tidak, sampai mati kita akan terus hidup dalam dosa—dosa yang terus menjalar, kemelesetan demi kemelesetan. Untuk meneguhkan pemahaman ini, kita harus memperhatikan Roma 5:19–21, “Jadi sama seperti oleh ketidaktaatan satu orang semua orang telah menjadi orang berdosa, demikian pula oleh ketaatan satu orang semua orang menjadi orang benar.”

Menjadi benar bukan sekadar “dianggap benar.” Dan yang disebut beriman bukan hanya memiliki keyakinan, melainkan seperti jemaat Roma yang taat, rela menderita, dan rela kehilangan segala sesuatu demi Kristus. Bukan iman murahan seperti yang banyak dimiliki orang Kristen masa kini, yang menganggap bahwa asal menjadi Kristen saja sudah cukup untuk disebut beriman.

Tuhan Yesus memberkati

STANDAR HIDUP BARU ADALAH SEMAKIN SERUPA DENGAN KRISTUS.

Card image
KIDS DAILY DEVOTIONAL 13 Maret 2026 - TUHAN JAGAIN AKU DAN KAMU
2026-03-14 22:26:27


Mazmur 34:7
“Malaikat TUHAN berkemah di sekeliling orang-orang yang takut akan Dia, lalu meluputkan mereka.”

Rehobot Kids, pernah nggak kamu merasa takut? Takut tidur sendirian, takut sakit, takut tampil di depan banyak orang, atau sedih karena tidak punya teman bermain. Tenang ya, rasa takut itu wajar kok. Semua anak pasti pernah mengalaminya.

Tapi ada kabar baik! Firman Tuhan di Mazmur 34:7 mengatakan bahwa Tuhan menjaga orang-orang yang percaya kepada-Nya. Tuhan bahkan mengutus malaikat-Nya untuk melindungi kita. Artinya, kita tidak pernah sendirian, meskipun kita tidak bisa melihat Tuhan atau malaikat-Nya dengan mata kita.

Kadang kita bisa merasakan penjagaan Tuhan lewat hal-hal sederhana. Misalnya, hati kita jadi lebih tenang saat berdoa, ada orang yang tiba-tiba menolong kita, atau hari yang sulit bisa kita lewati dengan baik. Semua itu adalah tanda bahwa Tuhan sayang dan menjaga kita setiap hari.

Tuhan setia dengan janji-Nya. Ia tidak pernah meninggalkan Rehobot Kids. Jadi, meskipun kita tidak bisa melihat Tuhan, kita tetap bisa merasa aman karena Tuhan selalu ada di dekat kita.

Yuk, Rehobot Kids, belajar percaya kepada Tuhan setiap hari. Ingat selalu: Tuhan jagain aku… dan juga jagain kamu!

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 13 Maret 2026 (English Version) - CHOOSE PATIENCE, NOT PRIDE
2026-03-14 22:24:27


“The end of a matter is better than its beginning; patience is better than pride.”
Ecclesiastes 7:8

In conflict, we often want quick results: quick understanding, quick victory, and quick resolution. Unfortunately, the urge to rush is often not born of wisdom, but of ego. Ecclesiastes reminds us that patience is far more valuable than pride.

Patience helps us see the bigger picture. Not all problems need to be solved while emotions are still running high. Sometimes, giving time actually means giving God space to work—both in our hearts and in the hearts of others.

On the other hand, pride makes us want to win right away. We become unwilling to listen, unwilling to compromise, and unwilling to admit our mistakes. In fact, conflicts resolved with ego often leave deeper wounds than the original problem.

God teaches us that a good ending is far more important than a momentary reaction. In relationships—whether with friends, family, or community—patience keeps us from words and actions we may regret. We learn that maturity in faith is not measured by how loudly we speak, but by how well we can restrain ourselves. Choose patience, because God works beautifully through a humble heart.

WHAT TO DO?
1. When conflict arises, give yourself time before responding.
2. Examine your motivation: ego or love?
3. Pray that God will help you choose patience.

BIBLE MARATHON:
Acts 12

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 13 Maret 2026 - CHOOSE PATIENCE, NOT PRIDE
2026-03-14 22:12:32


“Akhir suatu hal lebih baik daripada awalnya; panjang sabar lebih baik daripada tinggi hati.”
Pengkhotbah 7:8

Dalam konflik, kita sering menginginkan hasil yang serba cepat: cepat dimengerti, cepat menang, dan cepat selesai. Sayangnya, dorongan untuk buru-buru sering kali bukan berasal dari hikmat, melainkan dari ego. Pengkhotbah mengingatkan bahwa kesabaran jauh lebih bernilai daripada kesombongan.

Kesabaran menolong kita melihat gambaran yang lebih besar. Tidak semua masalah harus diselesaikan saat emosi masih panas. Kadang, memberi waktu justru berarti memberi ruang bagi Tuhan untuk bekerja—baik di hati kita maupun di hati orang lain.

Sebaliknya, tinggi hati membuat kita ingin menang saat itu juga. Kita menjadi sulit mendengar, sulit mengalah, dan sulit mengakui kesalahan. Padahal, konflik yang diselesaikan dengan ego sering meninggalkan luka yang lebih panjang daripada masalah awalnya.

Tuhan mengajarkan bahwa akhir yang baik jauh lebih penting daripada reaksi sesaat. Dalam hubungan—baik dengan teman, keluarga, maupun komunitas—kesabaran menjaga kita dari kata-kata dan tindakan yang bisa kita sesali. Kita belajar bahwa kedewasaan iman tidak diukur dari seberapa keras kita berbicara, tetapi dari seberapa mampu kita menahan diri. Pilihlah sabar, karena Tuhan bekerja dengan indah melalui hati yang rendah.

WHAT TO DO?
1. Saat konflik muncul, beri waktu sebelum merespons.
2. Periksa motivasi: ego atau kasih?
3. Berdoalah agar Tuhan menolongmu memilih kesabaran.

BIBLE MARATHON:
Kisah Para Rasul 12

Card image
Renungan Pagi - 13 Maret 2026
2026-03-13 23:45:48


Tuhan sangat menghargai kejujuran hati kita, karena itu berlakulah jujur dihadapan-Nya dan lebih dari itu kita harus tulus dalam mengikut dan melayani Tuhan.

Tuhan tidak pernah mau berhutang, jika kita tulus maka kuasa-Nya akan dinyatakan dalam hidup kita, karena itu relakanlah dirimu untuk hidup dalam kehendak-Nya.

Card image
Quote Of The Day - 13 Maret 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-03-13 23:44:51


Kalau kita belum mengalami Tuhan di dalam seluruh keberadaan kita ini—roh, jiwa dan tubuh dengan indera kita—berarti ada sesuatu yang belum utuh atau belum lengkap.

Card image
Mutiara Suara Kebenaran - 13 Maret 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-03-13 23:43:41

????????????? ?? ??????:
Kita dipanggil bukan hanya untuk bertahan, tetapi untuk mengantar satu sama lain sampai garis akhir.

Card image
MORE THAN CONQUERORS - 13 Maret 2026 (English Version)
2026-03-13 23:42:24


The difference between us and non-Christians does not lie merely in holding different beliefs. Christians believe in Elohim YHWH, God the Father, and the Lord Jesus, who was sent as Savior. However, other religions also have gods and prophets whom they believe in. If the difference were only that, then the quality of life of Christians would not differ from that of followers of other religions. In fact, it is not uncommon for non-Christians to display better behavior than Christians themselves.

However, true Christians—those who genuinely follow in the footsteps of Jesus—must be able to embody what Jesus said in Matthew 5:20: that their religious life must be more righteous than that of the scribes and Pharisees, and perfect like the Father. This is extremely difficult and demanding. The stake is one’s entire life. Yet, if we view it from the perspective of eternity, we will never regret choosing to go all-out for God. The choice lies with each individual, but each individual must also bear the risks. We are free to choose.

Romans 5:1–5 says, “Therefore, since we have been justified by faith, we have peace with God through our Lord Jesus Christ, through whom we have gained access by faith into this grace in which we now stand, and we boast in the hope of the glory of God. Not only so, but we also boast in our sufferings, because we know that suffering produces perseverance; perseverance, character; and character, hope. And hope does not disappoint us, because God’s love has been poured into our hearts through the Holy Spirit who has been given to us.”

From this passage, it is clear that the Roman congregation possessed a spiritual life that met divine standards—not merely the standards of religious people, but the standards of Jesus’ own life. This is evident in Paul’s expressions, such as “we also boast in our sufferings.” Suffering produces perseverance, perseverance produces character, and character produces hope. This shows that the Roman believers were a congregation that steadfastly suffered with Christ, remained faithful in holiness and obedience, and directed their lives toward the hope of eternity, longing to meet Jesus. They were people who loved God through the Holy Spirit. Christians who lack this quality of life cannot truly have peace with God.

That is why Paul continues in Romans 5:10–11, “For if, while we were enemies, we were reconciled to God through the death of His Son, much more, having now been reconciled, we shall be saved by His life. And not only that, but we also rejoice in God through our Lord Jesus Christ, through whom we have now received reconciliation.” The expression “rejoice in God through Christ” means to feel valued, to possess spiritual pride, and to live in abundance through Jesus Christ. That is why the Roman believers were willing to endure suffering and lose everything for the sake of their faith in Christ. Thus, when Paul says, “we who have been justified by faith,” he is referring to himself and the Roman congregation. There is no doubt about the quality of faith of Paul and the Roman believers.

Likewise, when Paul says in chapter 8 that “we are more than conquerors,” he is still referring to himself and the Roman congregation. Therefore, if today we say, “we are more than conquerors,” we must pause and ask: who are we? If we are not like the Roman congregation, we should not say it carelessly. We can only say “more than conquerors” if we possess the same quality of life as the Roman believers. This congregation rejoices in the Lord, that is, it is proud and lives in spiritual abundance even while experiencing poverty, persecution, nakedness, and hunger. It is in this context that Paul says, “Who shall separate us from the love of Christ?”

It must be understood that Rome at that time was a great political power. The Romans were victorious in appearance, wealth, and status. By contrast, Christians were outcasts—people who were rejected, treated as persona non grata, avoided, disliked, and persecuted. Yet Paul said to the believers, “You are greater than they are.” Therefore, if today we feel that we are “more than conquerors,” we must ask: compared to whom? Which victors? This is where much confusion arises. Many people speak without understanding, and in the end, they are not only mistaken but also misleading. Their quality of life is not the quality of true faith. They are not evil; they may even enter heaven because of their goodness, but they do not yet possess genuine faith.

May The Lord Jesus Bless you

We can only say “more than conquerors” if we possess the same quality of life as the Roman believers. This congregation rejoices in the Lord, that is, it is proud and lives in spiritual abundance even while experiencing poverty, persecution, nakedness, and hunger.

Card image
LEBIH DARI PEMENANG - 13 Maret 2026
2026-03-13 19:31:38


Perbedaan kita dengan orang non-Kristen bukan hanya terletak pada keyakinan yang berbeda. Orang Kristen meyakini Elohim YHWH, Allah Bapa, dan Tuhan Yesus yang diutus sebagai Juru Selamat. Namun, agama lain juga memiliki allah dan nabi yang mereka yakini. Jika perbedaannya hanya pada itu, maka kualitas hidup orang Kristen tidak akan berbeda dengan pemeluk agama lain. Bahkan, tidak jarang orang non-Kristen memiliki perilaku yang lebih baik daripada orang Kristen sendiri.

Namun, orang Kristen yang sejati—yang benar-benar mengikuti jejak Yesus—harus dapat mengenakan apa yang Yesus katakan dalam Matius 5:20, bahwa hidup keagamaannya harus lebih benar daripada ahli Taurat dan orang Farisi, dan sempurna seperti Bapa. Ini sangat sulit dan berat. Pertaruhannya adalah segenap hidup. Namun, jika kita melihatnya dari perspektif kekekalan, kita tidak akan pernah menyesal memilih untuk all-out bagi Tuhan. Pilihan itu ada pada setiap pribadi, tetapi risikonya pun harus ditanggung oleh setiap pribadi. Kita boleh memilih.

Roma 5:1–5 mengatakan, “Sebab itu, kita yang dibenarkan karena iman, hidup dalam damai sejahtera dengan Allah oleh karena Tuhan kita, Yesus Kristus. Oleh Dia kita juga beroleh jalan masuk oleh iman kepada kasih karunia ini. Di dalam kasih karunia ini kita berdiri dan kita bermegah dalam pengharapan akan menerima kemuliaan Allah. Dan bukan hanya itu saja, kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan, karena kita tahu bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, dan ketekunan menimbulkan tahan uji, dan tahan uji menimbulkan pengharapan. Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita.”

Dari ayat ini sangat jelas terlihat bahwa jemaat Roma memiliki kualitas kehidupan rohani yang berstandar ilahi, bukan sekadar standar orang beragama, melainkan standar kehidupan Yesus sendiri. Hal ini tampak dari ungkapan Paulus, seperti “bermegah juga dalam kesengsaraan.” Kesengsaraan menimbulkan ketekunan, ketekunan menimbulkan tahan uji, dan tahan uji menimbulkan pengharapan. Ini menunjukkan bahwa jemaat Roma adalah jemaat yang tekun menderita bersama dengan Kristus, tetap setia dalam kesucian dan ketaatan, serta mengarahkan hidupnya pada pengharapan kekekalan untuk bertemu dengan Yesus. Mereka adalah orang-orang yang mengasihi Allah oleh Roh Kudus. Orang Kristen yang tidak memiliki kualitas hidup seperti ini tidak mungkin memiliki perdamaian dengan Allah secara benar.

Itulah sebabnya Paulus melanjutkan dalam Roma 5:10–11, “Sebab jikalau kita, ketika masih seteru, diperdamaikan dengan Allah oleh kematian Anak-Nya, lebih-lebih kita, yang sekarang telah diperdamaikan, pasti akan diselamatkan oleh hidup-Nya! Dan bukan hanya itu saja! Kita malah bermegah dalam Allah oleh Yesus Kristus, Tuhan kita, sebab oleh Dia kita telah menerima pendamaian itu.” Ungkapan “bermegah dalam Allah oleh Kristus” berarti merasa bernilai, memiliki kebanggaan rohani, dan hidup dalam kelimpahan oleh Yesus Kristus. Karena itulah jemaat Roma rela menanggung penderitaan dan kehilangan segala sesuatu demi iman mereka kepada Kristus. Jadi, ketika Paulus berkata, “kita yang dibenarkan karena iman,” yang dimaksud adalah Paulus sendiri dan jemaat Roma. Tidak ada keraguan mengenai kualitas iman Paulus dan jemaat Roma.

Demikian pula ketika Paulus mengatakan dalam pasal 8 bahwa “kita lebih dari orang-orang yang menang,” yang dimaksud tetaplah Paulus dan jemaat Roma. Maka, jika hari ini kita berkata, “kita lebih dari orang-orang yang menang,” kita harus berhenti sejenak dan bertanya: kita ini siapa? Jika kita bukan jemaat Roma, jangan sembarangan mengucapkannya. Kita baru dapat berkata “lebih dari pemenang” jika kita memiliki kualitas hidup seperti jemaat Roma—jemaat yang bermegah dalam Tuhan, yang bangga dan hidup dalam kelimpahan rohani walaupun mengalami kemiskinan, aniaya, ketelanjangan, dan kelaparan. Dalam konteks itulah Paulus berkata, “Siapakah yang dapat memisahkan kita dari kasih Kristus?”

Perlu dipahami bahwa Roma pada masa itu adalah kekuatan politik besar. Orang-orang Roma menang dalam penampilan, kekayaan, dan kedudukan. Sebaliknya, orang Kristen adalah kaum outcast—orang-orang yang terbuang, diperlakukan sebagai persona non grata, dihindari, tidak disukai, dan dianiaya. Namun Paulus berkata kepada jemaat, “Kamu lebih dari mereka.” Maka, jika kita hari ini merasa diri “lebih dari pemenang,” kita harus bertanya: dibandingkan dengan siapa? Pemenang yang mana? Di sinilah banyak kekacauan terjadi. Banyak orang berbicara tanpa pengertian, dan akhirnya bukan hanya keliru, tetapi juga menyesatkan. Kualitas hidupnya bukan kualitas orang beriman. Ia bukan orang jahat, mungkin bisa masuk surga karena kebaikannya, tetapi belum memiliki iman yang sejati.

Tuhan Yesus memberkati

*Kita baru dapat berkata “lebih dari pemenang” jika kita memiliki kualitas hidup seperti jemaat Roma—jemaat yang bermegah dalam Tuhan, yang bangga dan hidup dalam kelimpahan rohani walaupun mengalami kemiskinan, aniaya, ketelanjangan, dan kelaparan.

Card image
KIDS DAILY DEVOTIONAL 12 Maret 2026 -TUHAN TIDAK PERNAH MENINGGALKANKU
2026-03-13 12:54:14


Ibrani 13:5
“…Sebab Allah sendiri telah berfirman: Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau.”

Rehobot Kids, pernahkah kalian merasa sendirian? Mungkin saat teman tidak bisa bermain, saat harus menghadapi sesuatu sendiri, atau ketika keadaan berubah dan terasa tidak nyaman. Perasaan itu bisa membuat hati sedih.

Firman Tuhan hari ini memberi kita penghiburan yang indah. Tuhan berjanji bahwa Ia tidak akan pernah meninggalkan kita. Walaupun teman pergi atau keadaan berubah, Tuhan tetap setia ada di dekat kita.

Tuhan selalu menemani kita di mana pun kita berada—di rumah, di sekolah, bahkan saat kita merasa sendiri. Kita bisa berdoa dan percaya bahwa Tuhan mendengar dan menjaga kita.

Yuk, Rehobot Kids, ingat selalu janji Tuhan ini. Kita tidak pernah sendirian, karena Tuhan selalu setia mendampingi kita setiap hari.

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 12 Maret 2026 (English Version) - NOT WEARY, NOT TIRED
2026-03-13 12:44:52


“But those who wait on the Lord shall renew their strength; they shall mount up with wings like eagles, they shall run and not be weary, they shall walk and not faint.”
Isaiah 40:31

The apostle John was known as a disciple who was very close to Jesus, even referred to as “the disciple whom Jesus loved.” After his ministry with Christ, John did not live an easy life. He was persecuted, exiled to the island of Patmos, and lived in long isolation. Interestingly, John did not experience spiritual exhaustion that caused him to give up. Even in the midst of isolation, he remained faithful in maintaining his spiritual life—praying, meditating on the Word, and listening to God’s voice.

It was this consistent spiritual routine that sustained John in difficult times. Instead of losing hope, he received revelations from God and wrote them down as encouragement for the suffering church. From John, we learn that true strength does not depend on external circumstances, but on maintaining a close relationship with God.

Like John, we are also invited to wait on God faithfully through healthy spiritual habits: prayer, reading the Word, and being still before Him. When we live close to God, He renews our strength. We may still walk and run amid the pressures of life, but we are not overcome by fatigue—because God Himself sustains our steps.

WHAT TO DO?
1. Maintain Spiritual Routines – Set aside time each day for prayer and reading the Word, even when you are tired.
2. Learn to Wait on God – Take a break from your busy schedule and realize that God is your source of strength.
3. Recharge Spiritually – Don’t just be active; make sure your heart is also restored in God’s presence.

BIBLE MARATHON:
Acts 11

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 12 Maret 2026 - TIDAK LESU, TIDAK LELAH
2026-03-13 12:42:03


“Tetapi orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN mendapat kekuatan baru: mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah.”
Yesaya 40:31

Rasul Yohanes dikenal sebagai murid yang sangat dekat dengan Yesus, bahkan disebut sebagai “murid yang dikasihi-Nya.” Setelah masa pelayanannya bersama Kristus, Yohanes tidak menjalani hidup yang mudah. Ia mengalami penganiayaan, dibuang ke Pulau Patmos, dan hidup dalam kesepian yang panjang. Namun menariknya, Yohanes tidak mengalami kelelahan rohani yang membuatnya menyerah. Justru di tengah keterasingan, ia tetap setia memelihara kehidupan rohaninya—berdoa, merenungkan firman, dan mendengarkan suara Tuhan.

Rutinitas rohani yang konsisten itulah yang menopang Yohanes di masa sulit. Alih-alih kehilangan pengharapan, ia justru menerima wahyu dari Tuhan dan menuliskannya sebagai penguatan bagi jemaat yang sedang menderita. Dari Yohanes kita belajar bahwa kekuatan sejati tidak bergantung pada keadaan luar, melainkan pada kedekatan yang terjaga dengan Tuhan.

Seperti Yohanes, kita pun diajak untuk menanti Tuhan dengan setia melalui kebiasaan rohani yang sehat: doa, membaca firman, dan berdiam diri di hadapan-Nya. Ketika kita hidup dekat dengan Tuhan, Dia memperbarui kekuatan kita. Kita mungkin tetap berjalan dan berlari di tengah tekanan hidup, tetapi tidak dikuasai oleh kelelahan—karena Tuhan sendiri yang menopang langkah kita.

WHAT TO DO?
1. Jaga Rutinitas Rohani – Luangkan waktu harian untuk doa dan firman, meski sedang lelah.
2. Belajar Menanti Tuhan – Berhenti sejenak dari kesibukan dan sadari Tuhan sumber kekuatanmu.
3. Isi Ulang Rohani – Jangan hanya aktif, pastikan hatimu juga dipulihkan di hadapan Tuhan.

BIBLE MARATHON:
Kisah Para Rasul 11

Card image
Renungan Pagi - 12 Maret 2026
2026-03-12 22:37:04


Dendam merugikan diri sendiri, mungkin ada orang yang menyakiti hati kita, ingat bahwa dendam bukanlah jalan keluarnya, karena dendam tidak akan pernah menjadi solusi dari sakit hati karena disakiti.

Makin mendendam maka makin rusak hidup kita, makin sakit hati makin hancur masa depan, makin hilang damai sejahtera, oleh karena itu jangan simpan dendam, dan belajarlah untuk melepaskan pengampunan.

Card image
Quote Of The Day - 12 Maret 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-03-12 22:36:00


Kekristenan yang diajarkan sebagai jalan mudah dapat mengakibatkan orang-orang Kristen menjadi duniawi.

Card image
Mutiara Suara Kebenaran - 12 Maret 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-03-12 22:21:17


Jangan biarkan kepahitan, kesalahpahaman, atau ambisi pribadi membuat kita berjalan sendiri. Dunia sudah cukup keras; jangan tambah beban dengan perpecahan.

Card image
RESPONSIBILITY - 12 Maret 2026 (English Version)
2026-03-12 22:20:18


Philippians 2:12
“ “Work out your salvation with fear and trembling.” .”

Some people say that we do indeed have to work, but it is God who works within us. To understand this, we need to look at the original language. The phrase “work out your salvation” uses the word katergazesthe, which means “finish it” or “carry it through to completion.” Meanwhile, the phrase “God who works” uses the word energeō, which means that God supplies energy or power. Thus, God provides the energy, but human beings must do the work. If we do not act, that energy does not operate. There must be a response on the human side. Therefore, the life of Jesus, which is the foundation of our salvation, must also become our life. Believers are not only reconciled in status, but must also strive to be reconciled in real, everyday life, so that they truly live in peace with God.

It is like two people who were once enemies and have since reconciled: after reconciliation, there must be a change in attitude for it to become truly real. Thus, if a married couple quarrels, is prayed for by a pastor, but do not change their attitudes, the conflict will recur. Two months later, they quarrel again and are prayed for again; one month later, they quarrel again; eventually, they divorce. Why? Because there is no change in attitude, harmony is never established. We must change. God does not need to change Himself. That is why Scripture says, “Come out from among them and touch nothing unclean, and I will receive you as My sons and daughters.” And also, “Be holy, for I am holy.”

Many Christians think they have already been reconciled and then live their lives normally like everyone else, without sufficient struggle to attain harmonious peace with God. Yet, to truly be at peace with God, believers must live the kind of life that Jesus lived. That is why the Word of God says that we are “saved by His life.” By His death we are reconciled, and by His life we are saved. What does this mean? If Jesus had not lived a perfect, godly, and obedient life before the Father, He could not have become the source of salvation. He could not have transformed us, shaped us, or become the model of life according to God’s original design.

Because Jesus attained the life that accords with God’s design, He became the firstborn among many brothers. He became the pioneer, the One who opened the way, and then we follow Him. Before this, no one was able to obey the Father fully and live in godliness according to the standard of humanity as originally designed by God. The first Adam failed to become the source of salvation. Scripture says that because of Adam’s sin, all humanity lives under the shadow of death. Now, through one obedient Person—Jesus—humanity receives grace. What is grace? Grace is not cheap grace or grace without responsibility. Grace is indeed free, but wearing it requires responsibility and struggle.

The Word of God says that Jesus became “the source of eternal salvation for all who obey Him.” Thus, salvation is not automatic. Do not think that becoming a Christian automatically means living in harmonious peace with God. Such an understanding is mistaken. The phrase “those who obey Him” indicates obedience to Jesus, which means imitating His life. Only those who truly imitate Jesus’s life genuinely experience reconciliation with God.

In fact, there are three kinds of Christians. First, Christians who leave everything behind truly deny themselves and put on the life of Jesus. They can say, “It is no longer I who live, but Christ who lives in me.” These are justified Christians. Second, Christians who do not dare to go all out. They may not necessarily go to hell, but they only become members of society in the world to come. Third, wicked Christians. These will go to hell.

All three confess Jesus as Lord and Savior. However, the first live all-out according to the measure taught by the Lord Jesus, obey Him, and fully surrender to the One in whom they believe. The second resembles the people of Israel: obeying the law, praising and worshiping God, yet not all-out. They may enter the world to come as members of society. The third belongs to the category of the wicked. And in reality, not a few Christians fall into this category.

The Lord Jesus bless you

GRACE IS INDEED FREE, BUT WEARING IT REQUIRES RESPONSIBILITY AND STRUGGLE.

Card image
TANGGUNG JAWAB - 12 Maret 2026
2026-03-12 22:18:08


Filipi 2:12: “Kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar”

Ada orang berkata bahwa kita memang harus mengerjakan, tetapi Allah yang mengerjakan di dalam kita. Untuk memahami hal ini, kita perlu melihat bahasa aslinya. Ungkapan “kerjakan keselamatanmu” menggunakan kata katergazesthe, yang artinya finish it, kerjakan sampai tuntas. Sementara itu, frasa “Allah yang mengerjakan” menggunakan kata energeō, yang berarti Allah memberikan energi atau daya kerja. Jadi, Allah memberi energi, tetapi manusialah yang harus mengerjakannya. Jika kita tidak mengerjakan, energi itu tidak bekerja. Harus ada respons dari pihak manusia. Karena itu, kehidupan Yesus yang menjadi dasar keselamatan kita harus menjadi kehidupan kita juga. Orang percaya bukan hanya diperdamaikan secara status, tetapi juga harus berjuang untuk diperdamaikan secara nyata dalam kehidupan sehari-hari, supaya ia benar-benar berada dalam keadaan berdamai dengan Allah.

Ibarat dua orang yang bermusuhan lalu berdamai, setelah rekonsiliasi itu harus ada perubahan sikap agar rekonsiliasi tersebut sungguh-sungguh nyata. Sebab itu, jika ada suami istri yang bertengkar lalu didoakan oleh pendeta, tetapi tidak mengubah sikap hidup mereka, maka konflik akan terulang. Dua bulan kemudian bertengkar lagi, didoakan lagi; satu bulan kemudian bertengkar lagi; akhirnya bercerai. Mengapa? Karena tidak ada perubahan sikap, sehingga tidak tercipta keharmonisan. Kita harus berubah. Allah tidak perlu mengubah diri-Nya. Itulah sebabnya Alkitab berkata, “Keluarlah kamu dari antara mereka, janganlah menjamah apa yang najis, maka Aku akan menerima kamu sebagai anak-anak-Ku laki-laki dan perempuan.” Dan juga, “Kuduslah kamu, sebab Aku kudus.”

Banyak orang Kristen berpikir bahwa mereka sudah diperdamaikan, lalu menjalani hidup secara wajar seperti manusia lain, tanpa perjuangan yang memadai untuk memiliki perdamaian yang harmonis dengan Allah. Padahal, untuk sungguh-sungguh berdamai dengan Allah, orang percaya harus memiliki kehidupan seperti yang dijalani oleh Yesus. Itulah sebabnya firman Tuhan mengatakan bahwa kita “diselamatkan oleh hidup-Nya.” Oleh kematian-Nya kita diperdamaikan, dan oleh hidup-Nya kita diselamatkan. Apa maksudnya? Jika Yesus tidak berhasil menjalani kehidupan yang sempurna, saleh, dan taat kepada Bapa, Ia tidak dapat menjadi pokok keselamatan. Ia tidak dapat mengubah kita, tidak dapat membentuk kita, dan tidak dapat menjadi teladan hidup yang sesuai dengan rancangan Allah semula.

Karena Yesus berhasil mencapai kehidupan sesuai dengan rancangan Allah, Ia menjadi yang sulung di antara banyak saudara. Ia menjadi pionir, yang memulai jalan itu, lalu kita mengikuti Dia. Sebelumnya, tidak ada seorang pun yang mampu taat sepenuhnya kepada Bapa dan hidup dalam kesalehan sesuai standar manusia yang dirancang Allah semula. Adam pertama gagal menjadi pokok keselamatan. Alkitab mengatakan bahwa karena dosa Adam, semua manusia hidup di bawah bayang-bayang maut. Sekarang, oleh satu Pribadi yang taat, yaitu Yesus, manusia menerima kasih karunia. Apakah kasih karunia itu? Kasih karunia bukanlah anugerah yang murah atau anugerah tanpa tanggung jawab. Anugerah memang gratis, kasih karunia memang cuma-cuma, tetapi mengenakannya menuntut tanggung jawab dan perjuangan.

Firman Tuhan mengatakan bahwa Yesus menjadi “pokok keselamatan yang abadi bagi semua orang yang taat kepada-Nya.” Jadi, keselamatan tidak bersifat otomatis. Jangan berpikir bahwa menjadi orang Kristen berarti secara otomatis bisa berdamai secara harmonis dengan Allah. Pemahaman seperti itu keliru. Ungkapan “taat kepada-Nya” menunjukkan kepatuhan kepada Yesus, dan itu berarti meneladani hidup-Nya. Hanya orang-orang yang meneladani hidup Yesus yang sungguh-sungguh mengalami pendamaian dengan Allah.

Sesungguhnya, ada tiga jenis orang Kristen. Pertama, orang Kristen yang meninggalkan segala sesuatu, menyangkal diri dengan benar, dan mengenakan hidup Yesus. Mereka dapat berkata, “Hidupku bukan aku lagi, tetapi Kristus yang hidup di dalam aku.” Inilah orang Kristen yang dibenarkan. Kedua, orang Kristen yang tidak berani all-out. Mereka belum tentu masuk neraka, tetapi hanya menjadi anggota masyarakat di dunia yang akan datang. Ketiga, orang Kristen yang jahat. Mereka ini masuk neraka.

Ketiganya sama-sama mengaku Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat. Namun, yang pertama hidup all-out sesuai proporsi yang diajarkan Tuhan Yesus, taat kepada-Nya, dan menyerahkan diri sepenuhnya kepada Pribadi yang dipercayai. Yang kedua mirip bangsa Israel: menaati hukum, memuji dan menyembah Allah, tetapi tidak all-out. Mereka bisa masuk dunia yang akan datang sebagai anggota masyarakat. Yang ketiga masuk kategori orang jahat. Dan faktanya, tidak sedikit orang Kristen yang masuk kategori ini.

Tuhan Yesus memberkati

ANUGERAH MEMANG GRATIS, KASIH KARUNIA MEMANG CUMA-CUMA, TETAPI MENGENAKANNYA MENUNTUT TANGGUNG JAWAB DAN PERJUANGAN.

Card image
KIDS DAILY DEVOTIONAL 10 Maret 2026 - TUHAN SELALU DI SAMPINGKU
2026-03-12 13:06:06


Mazmur 16:8
“Aku senantiasa memandang kepada TUHAN; karena Ia berdiri di sebelah kananku, aku tidak goyah.”

Rehobot Kids, pernahkah kalian merasa takut atau ragu saat harus melakukan sesuatu? Misalnya saat ulangan, tampil di depan kelas, atau menghadapi hal baru. Pada saat seperti itu, hati kita bisa jadi gelisah.

Firman Tuhan hari ini mengingatkan kita untuk selalu mengingat Tuhan. Ketika kita mengingat Tuhan dan percaya bahwa Dia ada di samping kita, hati kita menjadi lebih tenang. Kita tahu bahwa kita tidak sendirian.

Tuhan berdiri dekat dengan kita setiap hari. Kehadiran-Nya membuat kita kuat dan berani, sehingga kita tidak mudah goyah walaupun ada tantangan. Tuhan menjaga langkah kita dan menolong kita saat kita membutuhkan pertolongan.

Yuk, Rehobot Kids, biasakan mengingat Tuhan dalam setiap kegiatanmu. Saat kamu ingat Tuhan, hatimu akan lebih tenang, kuat, dan berani karena Tuhan selalu di sampingmu.

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 10 Maret 2026 (English Version) - JESUS WAS TIRED TOO
2026-03-12 13:00:18


“There was a well of Jacob there. Jesus was tired from his journey, so he sat down by the well. It was about noon.”
John 4:6

We often think that spiritual life means we must always be strong, stable, and never show signs of fatigue. However, today’s verse shows us a very human side of Jesus: Jesus was tired. He walked a long way, exhausted, and chose to sit and rest by the well.

It is important for us to realize that fatigue is not a sin and is not a sign of weak faith. When Jesus was tired, He did not force Himself to keep walking, but stopped for a moment. The Bible clearly records that Jesus did not deny the limits of His body and acknowledged the need to rest.

Interestingly, it was precisely in that moment of exhaustion that Jesus had a very impactful encounter—He met the Samaritan woman and her life was changed. This teaches us that God can still work through our lives, even when we are tired. Rest does not mean giving up, but is part of wisdom and obedience.

This reflection reminds us that strong faith is not always seen in how busy we are or how long we can go without a break. Mature faith also knows when to stop, sit down, and restore ourselves with God. If today you feel tired—physically, mentally, or emotionally—remember one thing: Jesus understands. He has been there. And just as Jesus sat by the well, God also invites you to come and rest in His presence.

WHAT TO DO
1. Allow yourself to rest without guilt.
2. Come to God as you are—tired and honest.
3. Trust that God is still at work, even when your energy is limited.

BIBLE MARATHON:
Acts 9

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 10 Maret 2026 - JESUS WAS TIRED TOO
2026-03-11 21:53:22


“Di situ terdapat sumur Yakub. Yesus sangat letih oleh perjalanan, karena itu Ia duduk di pinggir sumur itu. Hari kira-kira pukul dua belas.”
Yohanes 4:6

Sering kali kita berpikir bahwa hidup rohani berarti harus selalu kuat, stabil, dan tidak boleh terlihat lelah. Namun ayat hari ini menunjukkan sisi Yesus yang sangat manusiawi: Yesus letih. Ia berjalan jauh, kehabisan tenaga, lalu memilih untuk duduk dan beristirahat di tepi sumur.

Ini penting untuk kita sadari: kelelahan bukan dosa dan bukan tanda iman yang lemah. Ketika Yesus letih Ia tidak memaksakan diri untuk terus berjalan, tetapi berhenti sejenak. Alkitab dengan jelas mencatat Yesus tidak menyangkal batas tubuh-Nya dan mengakui kebutuhan untuk beristirahat.

Menariknya, justru di momen kelelahan itulah Yesus mengalami perjumpaan yang sangat berdampak—Ia bertemu perempuan Samaria dan hidupnya diubahkan. Ini mengajarkan kita bahwa Tuhan tetap bisa bekerja melalui hidup kita, bahkan saat kita sedang lelah. Istirahat bukan berarti menyerah, melainkan bagian dari hikmat dan ketaatan.

Renungan ini mengingatkan bahwa iman yang kuat tidak selalu terlihat dari seberapa sibuk kita atau seberapa lama kita bertahan tanpa jeda. Iman yang dewasa juga tahu kapan harus berhenti, duduk, dan memulihkan diri bersama Tuhan. Jika hari ini kamu merasa _capek_—secara fisik, mental, atau emosional—ingatlah satu hal: Yesus mengerti. Ia pernah berada di posisi itu. Dan seperti Yesus yang duduk di tepi sumur, Tuhan juga mengundangmu untuk datang dan beristirahat di hadirat-Nya.

WHAT TO DO?
1. Izinkan dirimu untuk beristirahat tanpa rasa bersalah.
2. Datanglah kepada Tuhan apa adanya—lelah dan jujur.
3. Percaya bahwa Tuhan tetap bekerja, bahkan saat energimu terbatas.

BIBLE MARATHON:
Kisah Para Rasul 9

Card image
Renungan Pagi - 10 Maret 2026
2026-03-11 17:04:30


Salah satu cara setan memperhamba manusia adalah dengan menjadikan kita mengasihi dunia, mungkin rajin ke gereja dan bahkan terlibat dalam berbagai kegiatan rohani, tapi hati tidak sepenuhnya kita persembahkan kepada Tuhan.

Misalnya ketika berdoa, kita hanya meminta agar Tuhan mengerjakan ini itu, hanya memanfaatkan Tuhan untuk segala kenikmatan duniawi, jadi fokus sesungguhnya bukan lagi kepada Tuhan, melainkan bagaimana bisa meraih harta dan kesenangan duniawi.

Seharusnya fokus kita adalah bagaimana semakin dekat kepada Tuhan, bagaimana hati semakin melekat kepada-Nya, dan bagaimana agar hidup kita semakin menjadi berkat bagi banyak orang.

Card image
Quote Of The Day - 10 Maret 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-03-11 17:03:10


Tuhan itu terlalu mulia untuk dibandingkan dengan apa pun dan siapa pun. Jadi seharusnya kita berani untuk melepaskan apa pun demi Dia.

Card image
Mutiara Suara Kebenaran - 10 Maret 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-03-11 17:00:57


Mukjizat terbesar bukanlah tentang peristiwa yang mencengangkan, melainkan hati yang hancur untuk bertobat dan hidup yang diubahkan sepenuhnya.

Card image
COMPROMISE - 10 Maret 2026 (English Version)
2026-03-11 17:00:04


That is why Paul exhorts the congregation in Ephesus:

“Therefore, I say this and testify in the Lord: you must no longer live as those who do not know God live, in the futility of their minds and the darkness of their understanding, being alienated from the life of God because of the ignorance that is in them and because of the hardness of their hearts” (Ephesians 4:17-18).

This means that we must no longer live as we once did. If formerly we were enemies of God, now we have been received and regarded as righteous. However, we must no longer behave and live as we did before. We must change.

The following verses say:

“They have become callous and have given themselves over to sensuality, to indulge greedily in every kind of impurity. But that is not the way of life you learned when you came to know Christ. Surely you heard of Him and were taught in Him in accordance with the truth that is in Jesus: that, regarding your former way of life, you must put off your old self, which is being corrupted by its deceitful desires” (Ephesians 4:19–22).

So, if we have not put off the old self, it means we are still positioning ourselves as enemies of God. Indeed, we have been regarded as righteous, but we must not feel satisfied with merely the status of being “regarded as righteous” and then live without change. God is not unjust in justifying us so that we may enter heaven while still being unrighteous. He justifies us so that we may be transformed, so that we truly become righteous.

Ephesians 4:23–24 says:

“Be renewed in the spirit of your mind, and put on the new self, created according to God in true righteousness and holiness.”

Many Christians feel that they are already at peace with God, when in fact they are still in a state of hostility. If someone has just become a Christian, this may still be understandable. But if this condition persists, it means he does not want to be reconciled to God. Let it not be so. Let us repent. To experience peace with God, our lives must be restored to God’s original design. A person who is being restored to that original design will surely begin to stop loving the world and no longer live in the desires of the flesh that oppose the will of God.

That is why the Word of God in 1 John 2:15–17 says:

“Do not love the world or anything in the world. If anyone loves the world, love for the Father is not in him. For everything in the world—the desires of the flesh, the desires of the eyes, and the pride of life—comes not from the Father but from the world. The world and its desires are passing away, but whoever does the will of God lives forever.”

God cannot be in loving fellowship with someone who does not love Him. God can’t allow someone to love the world and still enter heaven. Therefore, we must transform.

Indeed, being a Christian is difficult—it seems like seeking trouble. But remember: there is no crown without a cross. In reconciliation with God, there is a step of compromise. It is not God who adjusts Himself to us, but we who must adjust ourselves to God. We must compromise with truth and holiness, but no longer compromise with the world. We must betray our flesh, our lusts, our ego, and our ambitions. That is what it means to deny oneself. We cannot compromise with both at the same time.

That is why the Word of God says, “You cannot serve two masters.” And also:

“Those who belong to Christ Jesus have crucified the flesh with its passions and desires. Since we live by the Spirit, let us also walk by the Spirit” (Galatians 5:24–25).

It is not God who follows our rhythm, but we who must follow God’s rhythm; we are the ones who must align ourselves with God. A believer’s life is a journey to experience peace with God. Therefore, let us mourn as we look at the state of our lives, still chaotic and unresolved. We want to repent. We want to change.

The Lord Jesus bless you

IF WE HAVE NOT PUT OFF THE OLD SELF, IT MEANS WE ARE STILL POSITIONING OURSELVES AS ENEMIES OF GOD.

Card image
KOMPROMI - 10 Maret 2026
2026-03-11 16:57:13


Itulah sebabnya Paulus menasihati jemaat di Efesus, “Sebab itu kukatakan dan kutegaskan ini kepadamu di dalam Tuhan: jangan hidup lagi sama seperti orang-orang yang tidak mengenal Allah dengan pikirannya yang sia-sia dan pengertiannya yang gelap, jauh dari hidup persekutuan dengan Allah, karena kebodohan yang ada di dalam mereka dan karena kedegilan hati mereka” (Ef. 4:17–18). Artinya, kita tidak boleh lagi hidup seperti dahulu. Jika dulu kita adalah musuh Allah, sekarang kita telah diterima dan dianggap benar. Namun, jangan lagi kita bersikap dan berperilaku seperti dulu. Kita harus berubah.

Ayat selanjutnya mengatakan, “Perasaan mereka telah tumpul, sehingga mereka menyerahkan diri kepada hawa nafsu dan mengerjakan dengan serakah segala macam kecemaran. Tetapi kamu bukan demikian. Kamu telah belajar mengenal Kristus. Karena kamu telah mendengar tentang Dia dan menerima pengajaran di dalam Dia menurut kebenaran yang nyata dalam Yesus, yaitu bahwa kamu, berhubung dengan kehidupan kamu yang dahulu, harus menanggalkan manusia lama, yang menemui kebinasaannya oleh nafsunya yang menyesatkan” (Ef. 4:19–22). Jadi, jika kita belum menanggalkan manusia lama, berarti kita masih memosisikan diri sebagai musuh Allah. Kita memang sudah dianggap benar, tetapi jangan kita merasa cukup hanya dengan status “dianggap benar” lalu hidup tanpa perubahan. Allah tidak jahat dengan membenarkan kita supaya kita masuk surga dalam keadaan tidak benar. Ia membenarkan kita supaya kita diubahkan, agar kita sungguh-sungguh menjadi benar.

Efesus 4:23–24 mengatakan, “Supaya kamu dibaharui di dalam roh dan pikiranmu, dan mengenakan manusia baru, yang telah diciptakan menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya.” Banyak orang Kristen merasa sudah berdamai dengan Allah, padahal sebenarnya masih berada dalam keadaan bermusuhan. Jika seseorang baru menjadi Kristen, hal itu masih dapat dimaklumi. Namun, jika keadaan itu terus-menerus berlangsung, berarti ia tidak mau berdamai dengan Allah. Jangan demikian. Marilah kita bertobat. Untuk dapat mengalami perdamaian dengan Allah, hidup kita harus dikembalikan kepada rancangan Allah semula. Orang yang sedang dipulihkan ke dalam rancangan semula pasti mulai tidak mencintai dunia dan tidak lagi hidup dalam keinginan daging yang bertentangan dengan kehendak Allah.

Itulah sebabnya firman Tuhan dalam 1 Yohanes 2:15–17 mengatakan, “Janganlah kamu mengasihi dunia dan apa yang ada di dalamnya. Jikalau orang mengasihi dunia, maka kasih akan Bapa tidak ada di dalam orang itu. Sebab semua yang ada di dalam dunia, yaitu keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup, bukanlah berasal dari Bapa, melainkan dari dunia. Dan dunia ini sedang lenyap dengan keinginannya, tetapi orang yang melakukan kehendak Allah tetap hidup selama-lamanya.” Allah tidak mungkin berkasih-kasihan dengan orang yang tidak mengasihi-Nya. Tidak mungkin Allah membiarkan seseorang mencintai dunia, tetapi tetap masuk surga. Oleh sebab itu, kita harus mengalami perubahan.

Sesungguhnya, menjadi orang Kristen itu berat—seolah-olah mencari persoalan. Namun, ingatlah: tidak ada mahkota tanpa salib. Dalam perdamaian dengan Allah, ada langkah kompromi. Bukan Allah yang menyesuaikan diri dengan kita, melainkan kita yang harus menyesuaikan diri dengan Allah. Kita harus berkompromi dengan kebenaran dan kesucian, tetapi tidak lagi berkompromi dengan dunia. Kita harus berkhianat terhadap daging, hawa nafsu, ego, dan ambisi kita. Itulah yang disebut menyangkal diri. Kita tidak bisa berkompromi dengan keduanya sekaligus.

Itulah sebabnya firman Tuhan mengatakan, “Kamu tidak dapat mengabdi kepada dua tuan.” Dan juga, “Barangsiapa menjadi milik Kristus Yesus, ia telah menyalibkan daging dengan segala hawa nafsu dan keinginannya. Jikalau kita hidup oleh Roh, baiklah hidup kita juga dipimpin oleh Roh” (Gal. 5:24–25).

Bukan Allah yang mengikuti irama kita, melainkan kita yang harus mengikuti irama Allah; kitalah yang harus menyelaraskan diri dengan Allah. Perjalanan hidup orang percaya adalah perjalanan untuk mengalami perdamaian dengan Allah. Karena itu, marilah kita meratap, melihat keadaan hidup kita yang masih carut-marut dan belum beres. Kita mau bertobat. Kita mau berubah.

Tuhan Yesus memberkati

JIKA KITA BELUM MENANGGALKAN MANUSIA LAMA, BERARTI KITA MASIH MEMOSISIKAN DIRI SEBAGAI MUSUH ALLAH.

Card image
KIDS DAILY DEVOTIONAL 09 Maret 2026 - TUHAN TUNTUN JALANKU
2026-03-10 15:26:10

Amsal 3-5
“Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri. Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu.”

Rehobot Kids, pernahkah kalian merasa bingung memilih apa yang benar? Misalnya saat mengerjakan tugas yang sulit, bertengkar dengan teman, atau takut mencoba hal baru. Kadang kita tidak tahu harus berbuat apa. Tapi kabar baiknya, Tuhan selalu siap menolong kita.

Firman Tuhan dalam Amsal 3:5–6 mengajarkan kita untuk percaya penuh kepada Tuhan, bukan hanya mengandalkan pikiran kita sendiri. Tuhan tahu jalan terbaik, bahkan saat kita belum mengerti apa yang sedang terjadi.

Percaya kepada Tuhan berarti mau berdoa, meminta pertolongan-Nya, dan taat pada firman-Nya. Seperti anak yang percaya pada orang tuanya saat menyeberang jalan, kita pun bisa merasa aman karena Tuhan sedang menuntun langkah kita. Tuhan melihat, menjaga, dan menolong kita setiap saat.

Saat kita percaya kepada Tuhan, hati kita menjadi lebih tenang dan berani. Kita tidak mudah takut atau putus asa, karena kita tahu Tuhan selalu menyertai dan meluruskan jalan hidup kita, satu langkah demi satu langkah.

Yuk, Rehobot Kids, belajar percaya kepada Tuhan setiap hari—di rumah, di sekolah, dan saat menghadapi kesulitan. Bersama Tuhan, kita tidak akan tersesat.

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 09 Maret 2026 (English Version) - WHEN YOUR SOUL FEELS HEAVY
2026-03-10 14:35:39


“Why are you downcast, O my soul? Why so disturbed within me? Put your hope in God, for I will yet praise him, my Savior and my God.”
Psalm 42:6

Have you ever felt that your body is fine, but your soul feels heavy? There are no major problems, but your heart is restless, your motivation is low, and joy feels far away. Psalm 42 describes this condition very honestly—an inner exhaustion that is often difficult to explain in words.

The psalmist does not hide his struggles. He even speaks to his own soul, acknowledging that there is pressure and anxiety within him. This reminds us that inner exhaustion is not a sign of failed faith, but a sign that we are human beings carrying the burdens of life.

Interestingly, the psalmist does not stop at complaining. He directs his soul back to hope in God. That hope does not arise because circumstances have changed immediately, but because he knows on whom he relies. In the midst of a heavy soul, he chooses to remember who God is to him—a faithful Helper and a God who does not abandon him.

We learn that faith is not about always feeling strong. Faith also means choosing to hope, even when our feelings have not yet recovered. When our “spiritual batteries” feel low, we don’t need to distance ourselves from God—that is precisely the best time to come to Him. If your soul feels heavy today, God is not angry and He is not far away. He invites you to be honest, then slowly lifts your head with new hope.

✅ WHAT TO DO?
1. Acknowledge your feelings honestly before God.
2. Remind yourself of God’s faithfulness in the past.
3. Choose to hope in God, even if your feelings haven’t changed.

BIBLE MARATHON:
Acts 8

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 09 Maret 2026 - WHEN YOUR SOUL FEELS HEAVY
2026-03-10 14:29:39


“Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku, dan gelisah di dalam diriku? Berharaplah kepada Allah! Sebab aku akan bersyukur lagi kepada-Nya, penolongku dan Allahku!”
Mazmur 42:6

Pernahkah kamu merasa tubuhmu baik-baik saja, tetapi jiwamu terasa berat? Tidak ada masalah besar yang terlihat, namun hati gelisah, motivasi menurun, dan sukacita terasa jauh. Mazmur 42 menggambarkan kondisi ini dengan sangat jujur—sebuah kelelahan batin yang sering kali sulit dijelaskan dengan kata-kata.

Pemazmur tidak menutupi pergumulannya. Ia bahkan berbicara kepada jiwanya sendiri, mengakui bahwa ada tekanan dan kegelisahan di dalam dirinya. Ini mengingatkan kita bahwa keletihan batin bukan tanda iman yang gagal, melainkan tanda bahwa kita manusia yang sedang memikul beban kehidupan.

Yang menarik, pemazmur tidak berhenti pada keluhan. Ia mengarahkan jiwanya kembali untuk berharap kepada Allah. Harapan itu tidak muncul karena keadaan langsung berubah, tetapi karena ia tahu kepada siapa ia bersandar. Di tengah jiwa yang berat, ia memilih mengingat siapa Tuhan baginya—Penolong yang setia dan Allah yang tidak meninggalkan.

Kita belajar bahwa iman bukan soal selalu merasa kuat. Iman juga berarti tetap memilih berharap, bahkan ketika perasaan belum pulih. Saat “baterai rohani” terasa lemah, kita tidak perlu menjauh dari Tuhan—justru itulah saat terbaik untuk datang kepada-Nya. Jika hari ini jiwamu terasa berat, Tuhan tidak marah dan tidak jauh. Ia mengundangmu untuk jujur, lalu perlahan mengangkat kepalamu dengan pengharapan yang baru.

WHAT TO DO?
1. Akui dengan jujur perasaanmu di hadapan Tuhan.
2. Ingatkan dirimu sendiri akan kesetiaan Tuhan di masa lalu.
3. Pilih untuk berharap kepada Tuhan, meski perasaan belum berubah.

BIBLE MARATHON:
Kisah Para Rasul 8

Card image
Quote Of The Day - 09 Maret 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-03-10 14:04:40


Mukjizat dilakukan dengan maksud supaya mengenal pribadi Sang Pembuat mukjizat, bukan untuk mengagumi mukjizat itu sendiri.

Card image
Mutiara Suara Kebenaran - 09 Maret 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-03-10 14:02:58


Hidup berkenan bukan soal popularitas atau pengakuan, melainkan tetap taat meski tidak ada yang melihat. Karena pada akhirnya, yang menentukan nilai hidup kita bukanlah pengakuan manusia, melainkan apakah kita setia di hadapan Tuhan.

Card image
THERE IS A POSSIBILITY - 09 Maret 2026 (English Version)
2026-03-09 22:12:39


Therefore, it is human beings who must be changed. Transforming humanity from a sinful nature to a divine nature requires a long process. The stake is one’s entire life, without limit. In Colossians 1:21, it is stated that human disobedience to God is an attitude of hostility toward God. Indeed, through the sacrifice of Jesus, we are reconciled, but that reconciliation does not take place automatically. There must be a step from both sides. When Jesus died on the cross for us, it was a passive act of reconciliation. Even when we were still enemies, we were already reconciled. Before we were born, Jesus had already provided that reconciliation. However, after we come into existence as human beings, we must choose.

Many people become Christians from childhood because their parents are Christians. In reality, they become Christians without choosing to do so. In this sense, they have not yet become true Christians. If parents can provide an example of how to follow Jesus by imitating His life, even to the point of suffering for the Lord, only then will children see that such a life cannot be followed automatically. The child must struggle to possess that life and to follow Jesus correctly.

From God’s side, everything has already been done. God has already begun. The Father completed it at Golgotha by sending His Son as the way of reconciliation. However, from the human side, there must also be concrete steps or actions to realize that reconciliation.

In Colossians 1:19–23, it says:

“For God was pleased to have all His fullness dwell in Him, and through Him to reconcile to Himself all things, whether things on earth or things in heaven, by making peace through His blood, shed on the cross. Once you were alienated from God and were enemies in your minds because of your evil behavior. Still, now He has reconciled you by Christ’s physical body through death to present you holy in His sight, without blemish and free from accusation. If you continue in your faith, established and firm, and do not move from the hope held out in the Gospel, which you have heard and that has been proclaimed to every creature under heaven, and of which I, Paul, have become a servant.”

From this passage, it is clearly seen that there is a possibility that a person may be “shifted away” from the hope of the Gospel if he continues to love the world and live according to the flesh. This aligns with James 4:4: “You adulterous people, do you not know that friendship with the world is hostility toward God? Therefore, whoever wants to be a friend of the world makes himself an enemy of God.” If our happiness still depends on worldly material things, we become enemies of God. A person who lives to satisfy his own desires is building friendship with the world and hostility toward God. This is what it means to live in the flesh.

Romans 8:7 says, “For the mind set on the flesh is hostile toward God, for it does not submit to the law of God; indeed, it cannot.” If we still follow the desires of the flesh, we make ourselves enemies of God. Do not say that we have already been reconciled with God. The process of putting to death the flesh, ambitions, and lusts is not easy. However, with time and an increasingly resolute commitment, it can be accomplished—though it may still be unstable. The more we become like Jesus, the more at peace we can be with God. The standard for being reconciled with God is Jesus Himself. Since the desires of the flesh are hostile toward God, the flesh must be put to death.

A person who is easily angered, wants to strike others, especially if he feels powerful, threatens, wants to imprison others, and takes pride in harming others, is a person who is not at peace with God. Ironically, such things can occur within the church environment, even among elders and pastors. Therefore, we learn: when we are hurt, we remain silent; when we are slandered, we remain silent; when we are bullied, we remain silent. Why? Because we want to be at peace with God. If we are provoked to anger and retaliate, we actually make ourselves enemies of God.

May The Lord Jesus bless you

A PERSON WHO LIVES TO SATISFY HIS OWN DESIRES IS BUILDING FRIENDSHIP WITH THE WORLD AND HOSTILITY TOWARD GOD.

Card image
ADA KEMUNGKINAN - 09 Maret 2026
2026-03-09 15:59:31


Jadi, manusialah yang harus diubah. Mengubah manusia dari kodrat dosa ke kodrat ilahi membutuhkan waktu yang panjang. Pertaruhannya adalah segenap hidup tanpa batas. Dalam Kolose 1:21 dinyatakan bahwa tindakan manusia yang tidak taat kepada Allah merupakan sikap memusuhi Allah. Memang, oleh kurban Yesus kita diperdamaikan, tetapi perdamaian itu tidak terwujud secara otomatis. Harus ada langkah dari dua pihak. Ketika Yesus mati di kayu salib bagi kita, itu merupakan proses pendamaian secara pasif bagi kita. Bahkan ketika kita masih seteru, kita sudah diperdamaikan. Kita belum lahir, Yesus sudah menyediakan pendamaian itu. Namun, setelah kita hadir sebagai manusia, kita harus memilih.

Banyak orang menjadi Kristen sejak kecil karena orang tuanya beragama Kristen. Sesungguhnya, mereka menjadi Kristen tanpa memilih. Dalam pengertian ini, mereka belum menjadi Kristen yang sejati. Jika orang tua dapat memberikan teladan bagaimana mengikut Yesus dengan meneladani hidup-Nya, bahkan sampai pada tingkat menderita bagi Tuhan, barulah anak melihat bahwa kehidupan seperti ini tidak bisa diikuti secara otomatis. Anak harus berjuang untuk memiliki hidup dan mengikut Yesus dengan benar.

Dari pihak Allah, semuanya telah dilakukan. Allah sudah memulai. Bapa menyelesaikannya di Bukit Golgota dengan mengutus Putra-Nya sebagai jalan pendamaian. Namun, dari pihak manusia juga harus ada langkah atau tindakan konkret untuk mewujudkan pendamaian itu. Dalam Kolose 1:19–23 dikatakan: “Karena seluruh kepenuhan Allah berkenan diam di dalam Dia, dan oleh Dialah Ia memperdamaikan segala sesuatu dengan diri-Nya, baik yang ada di bumi maupun yang ada di sorga, sesudah Ia mengadakan pendamaian oleh darah salib Kristus. Juga kamu yang dahulu hidup jauh dari Allah dan yang memusuhi-Nya dalam hati dan pikiran seperti yang nyata dari perbuatanmu yang jahat, sekarang diperdamaikan-Nya di dalam tubuh jasmani Kristus oleh kematian-Nya, untuk menempatkan kamu kudus dan tak bercela dan tak bercacat di hadapan-Nya. Sebab itu kamu harus bertekun dalam iman, tetap teguh dan tidak bergoncang, dan jangan mau digeser dari pengharapan Injil, yang telah kamu dengar dan yang telah dikabarkan di seluruh alam di bawah langit, dan yang aku ini, Paulus, telah menjadi pelayannya.”

Dari ayat ini, jelas terlihat adanya kemungkinan seseorang “digeser” dari pengharapan Injil apabila ia tetap mengasihi dunia dan hidup dalam daging. Hal ini sejalan dengan Yakobus 4:4, “Hai kamu, orang-orang yang tidak setia! Tidakkah kamu tahu bahwa persahabatan dengan dunia adalah permusuhan dengan Allah? Jadi, barangsiapa hendak menjadi sahabat dunia ini, ia menjadikan dirinya musuh Allah.” Jika saat ini kebahagiaan kita masih bertumpu pada materi dunia, berarti kita menjadikan diri kita musuh Allah. Orang yang hidup untuk memuaskan keinginannya sendiri sedang membangun persahabatan dengan dunia dan permusuhan dengan Allah. Itulah yang disebut hidup dalam daging.

Roma 8:7 mengatakan, “Sebab keinginan daging adalah perseteruan terhadap Allah, karena ia tidak takluk kepada hukum Allah; hal ini memang tidak mungkin baginya.” Jika kita masih mengikuti keinginan daging, kita menjadikan diri kita musuh Allah. Jangan mengatakan bahwa kita sudah diperdamaikan dengan Allah. Proses mematikan daging, ambisi, dan hawa nafsu bukanlah perkara mudah. Namun, melalui perjalanan waktu dan komitmen yang makin bulat, hal itu dapat dikerjakan—meskipun kadang masih belum stabil. Semakin kita menjadi serupa dengan Yesus, semakin kita dapat berdamai dengan Allah. Standar untuk berdamai dengan Allah adalah Yesus sendiri. Karena keinginan daging adalah perseteruan terhadap Allah, maka daging itu harus dimatikan.

Orang yang mudah marah, ingin memukul orang lain, apalagi merasa kuat, mengancam, ingin memenjarakan orang, dan bangga dapat menyakiti sesama, adalah orang yang tidak berdamai dengan Allah. Ironisnya, hal-hal seperti ini bisa terjadi di lingkungan gereja, bahkan di antara para majelis dan pendeta. Karena itu, kita belajar: ketika kita disakiti, kita diam; ketika kita difitnah, kita diam; ketika kita dibully, kita diam. Mengapa demikian? Karena kita ingin berdamai dengan Allah. Jika kita terpancing untuk marah dan membalas dendam, kita justru menjadikan diri kita musuh Allah.

Tuhan Yesus memberkati

ORANG YANG HIDUP UNTUK MEMUASKAN KEINGINANNYA SENDIRI SEDANG MEMBANGUN PERSAHABATAN DENGAN DUNIA DAN PERMUSUHAN DENGAN ALLAH.

Card image
KIDS DAILY DEVOTIONAL 07 Maret 2026 - BE BRAVE,GOD IS WITH YOU!
2026-03-08 23:19:09


Yosua 1:9
“Bukankah telah Kuperintahkan kepadamu: kuatkan dan teguhkanlah hatimu? Janganlah kecut dan tawar hati, sebab TUHAN, Allahmu, menyertai engkau ke mana pun engkau pergi.”

Halo, Rehobot Kids! Pernahkah kamu merasa takut mencoba hal baru? Misalnya masuk sekolah baru, tampil di depan kelas, atau melakukan sesuatu yang belum pernah kamu lakukan sebelumnya. Merasa takut itu wajar, dan semua anak pasti pernah mengalaminya.

Tuhan pernah berkata kepada Yosua supaya ia tidak takut dan tidak berkecil hati. Mengapa? Karena Tuhan sendiri berjanji akan menyertai Yosua ke mana pun ia pergi. Janji Tuhan ini bukan hanya untuk Yosua saja, tetapi juga untuk kita semua hari ini.

Saat kamu merasa takut, ingatlah bahwa Tuhan selalu bersamamu. Tuhan memberi keberanian dan kekuatan di dalam hatimu. Kita bisa berani bukan karena kita hebat, tetapi karena Tuhan ada di pihak kita dan menolong kita.

Yuk, Rehobot Kids, belajar percaya kepada Tuhan setiap hari. Saat rasa takut datang, katakan dalam hatimu dengan penuh iman: “Aku berani, karena Tuhan bersamaku!”

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 07 Maret 2026 (English Version)FAITHFUL AMID PRESSURE
2026-03-08 00:45:06


“After Daniel learned that the decree had been signed, he went home. In his upper room, there were windows open toward Jerusalem. Three times a day he knelt down, prayed, and praised his God, just as he had done previously.”
Daniel 6:10

Daniel lived under tremendous pressure. His faith made him stand out, and it was precisely because of that faith that he became a target. The decree signed by the king threatened his life, but Daniel did not change his loyalty to God. He did not panic, he did not compromise, and he did not pretend to be strong. He chose to remain faithful, even though obedience was risky.

Daniel teaches us that spiritual exhaustion and life’s pressures do not always arise from sin or weak faith. Sometimes, exhaustion comes precisely because we continue to do what is right in the midst of difficult circumstances. Remaining faithful day after day—especially when misunderstood, opposed, or unappreciated—can be very draining on the heart and energy.

But Daniel did not rely on his own strength. He knelt before God, as he had always done since long ago. His breakthrough did not begin in the lions’ den, but in his prayer room. God’s deliverance came because Daniel chose faithfulness over fear, and dependence on God over trust in his own strength.

This story reminds us that God sees those who remain faithful in the midst of pressure. When we feel tired, depressed, or about to give up, God does not demand perfection from us. Instead, He invites us to come to Him—not to prove anything, but to believe. Breakthroughs come to those who keep their hearts fixed on God, even when the pressure is real.

Strong faith does not mean being without fear or fatigue, but rather choosing to believe in God in the midst of it all.

WHAT TO DO?
1. Identify the pressures that are testing your faith right now.
2. Remain consistent in prayer, even when you feel tired or discouraged.
3. Believe that God values faithfulness and will bring breakthrough in His time.

BIBLE MARATHON:
Acts 6

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 07 Maret 2026 - SETIA DI TENGAH TEKANAN
2026-03-08 00:38:30


“Setelah Daniel tahu bahwa surat keputusan itu telah ditandatangani, pergilah ia ke rumahnya. Di kamar atasnya ada tingkap-tingkap yang terbuka ke arah Yerusalem. Tiga kali sehari ia berlutut, berdoa serta memuji Allahnya, seperti yang biasa dilakukannya sejak dahulu.”
Daniel 6:10

Daniel hidup di bawah tekanan yang sangat besar. Imannya membuat ia menonjol, dan justru karena iman itu ia menjadi sasaran. Surat keputusan yang ditandatangani raja mengancam nyawanya, namun Daniel tidak mengubah kesetiaannya kepada Tuhan. Ia tidak panik, tidak berkompromi, dan tidak berpura-pura kuat. Ia memilih tetap setia, meskipun ketaatan itu penuh risiko.

Daniel mengajarkan bahwa kelelahan rohani dan tekanan hidup tidak selalu muncul karena dosa atau lemahnya iman. Terkadang, kelelahan justru datang karena kita terus melakukan hal yang benar di tengah situasi yang sulit. Tetap setia hari demi hari—apalagi saat disalahpahami, ditentang, atau tidak dihargai—bisa sangat menguras hati dan tenaga.

Namun Daniel tidak mengandalkan kekuatannya sendiri. Ia berlutut di hadapan Tuhan, seperti yang selalu ia lakukan sejak dahulu. Terobosannya tidak dimulai di gua singa, tetapi di ruang doanya. Pembebasan dari Tuhan terjadi karena Daniel memilih kesetiaan daripada rasa takut, dan ketergantungan kepada Tuhan daripada kepercayaan pada kekuatan diri sendiri.

Kisah ini mengingatkan kita bahwa Tuhan melihat orang-orang yang tetap setia di tengah tekanan. Saat kita merasa lelah, tertekan, atau hampir menyerah, Tuhan tidak menuntut kita tampil sempurna. Ia justru mengundang kita untuk datang kepada-Nya—bukan untuk membuktikan apa pun, tetapi untuk percaya. Terobosan datang bagi mereka yang tetap menambatkan hati kepada Tuhan, meskipun tekanan itu nyata.

Iman yang kuat bukan berarti tanpa rasa takut atau kelelahan, melainkan tetap memilih percaya kepada Tuhan di tengah semuanya.

WHAT TO DO?
1. Identifikasi tekanan yang sedang menguji imanmu saat ini.
2. Tetap konsisten dalam doa, meskipun kamu merasa lelah atau tawar hati.
3. Percayalah bahwa Tuhan menghargai kesetiaan dan akan membawa terobosan pada waktu-Nya.

BIBLE MARATHON:
Kisah Para Rasul 6

Card image
Renungan Pagi - 07 Maret 2026
2026-03-08 00:35:42


Alkitab berkata seberapa pun kakimu melangkah, sebesar itu pula akan Ku berikan kepadamu.

Artinya kalau kita bekerja keras, berjuang keras, maka Tuhan akan menyediakan segalanya buat kita.

Alkitab berkata seribu boleh rebah disisi kirimu dan sepuluh ribu boleh rebah disebelah kananmu, itu tidak akan menimpa engkau, inilah bukti bahwa kita disertai Tuhan.

Card image
Quote Of The Day - 07 Maret 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-03-08 00:34:37


Tantangan justru menjadi bukti bahwa pelayanan pekerjaan Tuhan berhadapan dengan kuasa yang tidak menghendaki perkembangannya.

Card image
Mutiara Suara Kebenaran - 07 Maret 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-03-07 23:27:58


Karena proses bukan untuk menghancurkan, melainkan untuk menjadikan kita semakin berkenan di hadapan-Nya.

Card image
PLEASING ONESELF - 07 Maret 2026 (English Version)
2026-03-07 23:26:51


Peace is not sufficiently demonstrated by merely being a Christian and faithfully attending church. This is a matter of condition: whether our very being allows us to reconcile with God. So it is not merely about having the status of being justified and then automatically being at peace with God, but about a state of life that must truly become righteous.

There are also Christians who feel they are already at peace with God simply because they believe they have repented, in the sense of having abandoned ways of life that contradict moral standards. They had previously committed moral violations, then stopped and confessed that they had accepted Jesus as Lord and Savior. Yet repentance is a daily life step. In Greek, it is metanoia, meaning a change of mind that leads to a new way of thinking.

A changed way of thinking will transform one’s lifestyle and manner of living. A transformed lifestyle will continue to transform nature so that, from being human in nature, one becomes divine in nature. A person who does not increasingly partake in the divine nature, does not increasingly share in God’s holiness, does not become more like Jesus, and does not move toward perfection like the Father, cannot possibly be at peace with God. Therefore, it is not enough for someone to say that they repented in a certain year, then attended theological school and became a pastor. If their character has not become divine, they cannot be “in sync” with or reconciled to God. A life condition that misses the mark (hamartia, Greek) does not please the Lord, but grieves His heart. Therefore, the older we become, the less likely we are to miss the mark. Everything we think and say should always align with God’s thoughts and feelings. If not, true reconciliation will never take place.

Indeed, for new Christians who still struggle or even commit moral violations, God may show tolerance. But after ten or twenty years as a Christian, one cannot continue living as before. There must be a transformation. Humans typically seek self-pleasure without considering God, and this grieves God. To please God, one must stop pleasing oneself. Many believe self-pleasure brings happiness, but it is a false pleasure that distances us from God. Without change, reconciliation with God is impossible. True fulfillment comes from finding God, and in doing so, finding oneself.

*A person who pleases God is actually pleasing themselves.* An unbeliever will not strive to find, know, and please God’s heart. A person who stops seeking happiness from this world will seek happiness in the Lord. Therefore, the step we must pursue in this life—and must begin now—is to ensure that everything we think, say, and do always aligns with the thoughts and feelings of God, so that we truly please His heart. God cannot be reconciled with those who do not please Him. Essentially, we were created for Him, for His pleasure and delight. Like it or not, that is the purpose of our creation, and precisely there lies our happiness. Therefore, once we become Christians, we can no longer live “normally” by worldly standards, for we must begin to live theocentrically rather than egocentrically.

God wants to change us. That’s why He gave us the Holy Spirit, who guides us into all truth. He works in all things for our good and works on our lives, perfecting us. However, many people think that the blood of Jesus has covered them, so God accepts them as they are and allows them to remain as they are, as long as the blood of Jesus has “covered” them. This understanding is wrong. That’s why the Lord said, “Make disciples of all nations.” There is a process we must undergo to be transformed. Through this change, we can reconcile with God, be in harmony with God, and be bound to God.

Parents love their children. When children are small, even when they wet the bed or misbehave, parents still comfort and care for them. But parents expect their children to mature, to fit in, and be in sync with them. Similarly, our lives are about becoming more perfect and more like Jesus so that we can walk with Him.

May The Lord Jesus bless you

A PERSON WHO PLEASES GOD IS ACTUALLY PLEASING THEMSELVES.

Card image
MEMBAHAGIAKAN DIRI SENDIRI - 07 Maret 2026
2026-03-07 12:22:35


Perdamaian tidak cukup ditunjukkan dengan menjadi orang yang beragama Kristen dan setia pergi ke gereja. Ini adalah persoalan keadaan: apakah keberadaan kita memungkinkan rekonsiliasi dengan Allah. Jadi, bukan hanya soal status dibenarkan lalu otomatis bisa berdamai dengan Allah, melainkan keadaan hidup yang harus sungguh-sungguh menjadi benar.

Ada pula orang-orang Kristen yang merasa sudah berdamai dengan Allah hanya karena merasa sudah bertobat, dalam arti telah meninggalkan cara hidup yang bertentangan dengan moral. Tadinya melakukan pelanggaran moral, lalu berhenti dari pelanggaran tersebut dan mengaku menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat. Padahal, pertobatan adalah langkah hidup setiap hari. Dalam bahasa Yunaninya, metanoia, yaitu perubahan pikiran yang membuat seseorang memiliki cara berpikir yang baru.

Cara berpikir yang berubah akan mengubah gaya dan cara hidup. Gaya dan cara hidup yang berubah akan terus berlanjut sampai pada perubahan kodrat, sehingga dari manusia yang berkodrat manusiawi menjadi manusia yang berkodrat ilahi. Orang yang tidak semakin berkodrat ilahi, tidak semakin mengambil bagian dalam kekudusan Allah, tidak makin serupa dengan Yesus dan tidak menuju kesempurnaan seperti Bapa, tidak mungkin berdamai dengan Allah. Karena itu, tidak cukup seseorang berkata sudah bertobat pada tahun tertentu, lalu sekolah teologi dan menjadi pendeta. Jika karakternya belum berkarakter ilahi, ia tidak bisa “klop” atau berekonsiliasi dengan Allah. Keadaan hidup yang meleset (hamartia, Yun.) tidak menyukakan hati Tuhan, melainkan mendukakan hati-Nya. Oleh sebab itu, semakin tua, kita seharusnya semakin tidak meleset. Segala sesuatu yang kita pikirkan dan ucapkan seharusnya selalu sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah. Jika tidak, tidak akan pernah terjadi rekonsiliasi yang sejati.

Memang, bagi orang Kristen yang baru, ketika keberadaannya masih sering meleset atau bahkan masih melakukan pelanggaran moral, Tuhan dapat menunjukkan toleransi. Namun, jika seseorang telah belasan atau puluhan tahun menjadi Kristen, ia tidak bisa terus-menerus hidup seperti manusia pada umumnya. Ia harus mengalami perubahan kodrat. Pada umumnya, manusia masih mencari kesenangan diri sendiri dan tidak memikirkan perasaan Allah. Orang yang masih mencari kesenangan diri sendiri adalah orang yang mendukakan hati Allah. Sebaliknya, orang yang berusaha menyukakan hati Allah seharusnya berhenti membahagiakan dirinya sendiri. Namun, banyak orang berpikir bahwa dengan menyenangkan diri sendiri, ia akan bahagia. Padahal belum tentu. Itu adalah kesenangan palsu, yang korbannya adalah mendukakan hati Allah. Akibatnya, rekonsiliasi dengan Allah tidak pernah terjadi. Hal ini sejajar dengan kebenaran bahwa orang yang menemukan Allah akan menemukan dirinya sendiri.

Orang yang dapat menyukakan hati Allah sesungguhnya sedang menyukakan dan membahagiakan dirinya sendiri. Orang yang tidak percaya tidak akan berusaha menemukan, mengenal, dan menyenangkan hati Allah. Orang yang berhenti mencari kebahagiaan dari dunia ini akan mencari kebahagiaan di dalam Tuhan. Karena itu, langkah yang harus kita usahakan dalam hidup ini—dan harus kita mulai sekarang—adalah bagaimana segala sesuatu yang kita pikirkan, ucapkan, dan lakukan selalu sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah, sehingga sungguh-sungguh menyenangkan hati-Nya. Allah tidak mungkin berekonsiliasi dengan orang yang tidak menyenangkan hati-Nya. Pada hakikatnya, kita memang diciptakan untuk Dia, untuk kesukaan dan kesenangan hati-Nya. Suka atau tidak suka, itulah tujuan penciptaan kita. Dan justru di sanalah kebahagiaan kita. Oleh sebab itu, jika kita menjadi orang Kristen, kita tidak mungkin lagi hidup secara “wajar” menurut standar dunia, sebab kita harus mulai hidup teosentris, bukan egosentris.

Allah ingin mengubah kita. Itulah sebabnya Ia memberikan Roh Kudus yang menuntun kita kepada seluruh kebenaran. Ia bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi kita dan menggarap hidup kita, mengerjakan kesempurnaan di dalam diri kita. Namun, banyak orang berpikir bahwa darah Yesus sudah menudungi mereka, sehingga Allah menerima mereka apa adanya dan membiarkan keadaan mereka terus seperti itu, yang penting darah Yesus telah “membungkus.” Pemahaman ini keliru. Itulah sebabnya Tuhan berkata, “Jadikanlah semua bangsa murid-Ku.” Ada proses yang harus dijalani agar kita diubahkan. Melalui perubahan itulah kita dapat berekonsiliasi dengan Allah, menjadi selaras, “klop,” atau “krek” dengan Allah.

Orang tua mengasihi anak-anaknya. Ketika anak masih kecil, mengompol atau nakal sering kali tidak diperhitungkan; anak itu tetap dipeluk, dicium, dan diperhatikan. Namun, orang tua tidak menghendaki anaknya terus-menerus menjadi anak yang suka mengompol. Anak itu harus bertumbuh dewasa, memiliki kedewasaan seperti orang tuanya, dan dapat “klop” serta “krek” dengan orang tua. Demikian pula dengan kita. Agenda hidup kita satu-satunya adalah semakin sempurna dan semakin serupa dengan Yesus, sebab kita rindu dapat berjalan bersama Dia.

Tuhan Yesus memberkati

ORANG YANG DAPAT MENYUKAKAN HATI ALLAH SESUNGGUHNYA SEDANG MENYUKAKAN DAN MEMBAHAGIAKAN DIRINYA SENDIRI.

Card image
KIDS DAILY DEVOTIONAL 06 Maret 2026 - GOD IS EVERYWHERE WITH ME
2026-03-06 22:49:38


Mazmur 139:7–8
“Ke mana aku dapat pergi menjauhi Roh-Mu, ke mana aku dapat lari dari hadapan-Mu? Jika aku naik ke langit, Engkau ada di sana; jika aku membuat tempat tidurku di dunia orang mati, di situ pun Engkau.”

Halo, Rehobot Kids! Pernahkah kamu bertanya dalam hati, “Apakah Tuhan selalu bersamaku?” Saat di rumah, di sekolah, saat bermain, atau bahkan saat tidur? Firman Tuhan hari ini memberi jawaban yang sangat indah: Tuhan selalu ada di mana pun kita berada.

Daud menuliskan bahwa tidak ada satu tempat pun yang jauh dari Tuhan. Mau di tempat tinggi, tempat gelap, atau tempat yang sepi—Tuhan tetap ada. Artinya, kita tidak pernah sendirian, sekalipun kadang kita merasa begitu.

Saat kamu merasa takut, sedih, atau bingung, Tuhan ada bersamamu. Saat kamu senang dan tertawa, Tuhan juga ada. Tuhan melihatmu, menjaga langkahmu, dan mengasihimu setiap waktu.

Bayangkan seperti bayangan yang selalu mengikuti kita ke mana pun kita pergi. Tapi Tuhan jauh lebih dari sekadar bayangan—Dia melindungi, menuntun, dan memeluk kita dengan kasih-Nya yang besar.

Yuk, Rehobot Kids, ingat selalu dan katakan dalam hatimu: “Ke mana pun aku pergi, Tuhan selalu bersamaku!”

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 06 Maret 2026 (English Version) - SYMPATHY THAT GIVES LIFE
2026-03-06 22:47:40


“Bear one another’s burdens, and so fulfill the law of Christ.”
Galatians 6:2

When we learn to walk in “someone else’s shoes,” we begin to see life from a different perspective. Unfortunately, as young people, we often rush to judge without truly understanding the burdens others are carrying. In fact, sympathy is the way God uses to grow love and spiritual maturity in us.

The Bible gives us a beautiful example through the character of Tabitha, also known as Dorcas. She was known not for her words, but for her actions. Tabitha was full of sympathy for the poor in Joppa. She did not busy herself with judging or criticizing, but chose to sew clothes and help those in need. When Tabitha died, many people wept because they had lost someone whose life had such an impact. Through their prayers and faith, God even used Peter to raise Tabitha back to life.

Tabitha’s story teaches us that compassion is not just a feeling of pity, but a concrete action. She did not see the poor from their weaknesses, but walked with them, carried their burdens, and brought Christ’s love to life. It is this kind of compassion that gives life—both to those who receive it and those who give it.

Learning from Tabitha’s life, we are invited to develop sympathy that gives life. By refraining from judgment and choosing to care, we can become channels of Christ’s love in a world that is often quicker to judge than to understand.

WHAT TO DO?
1. Train yourself to see the needs of others before judging their weaknesses.
2. Express sympathy in concrete actions, no matter how small, like Tabitha sewing clothes.
3. Remember: sincere sympathy can revive the faith and hope of others.

BIBLE MARATHON:
Acts 5

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 06 Maret 2026 - SIMPATI YANG MENGHIDUPKAN
2026-03-06 22:43:18


“Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu! Demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus.” Galatia 6:2

Ketika kita belajar berjalan dalam “sepatu orang lain”, kita mulai melihat hidup dari sudut pandang yang berbeda. Sayangnya, sebagai anak muda kita sering terburu-buru menghakimi tanpa benar-benar memahami beban yang sedang dipikul orang lain. Padahal, simpati adalah jalan yang Tuhan pakai untuk menumbuhkan kasih dan kedewasaan rohani dalam diri kita.

Alkitab memberi contoh indah melalui tokoh Tabita, yang juga dikenal sebagai Dorkas. Ia dikenal bukan karena kata-katanya, melainkan karena perbuatannya. Tabita penuh simpati kepada orang miskin di Yope. Ia tidak sibuk menilai atau mengkritik, tetapi memilih menjahit pakaian dan menolong mereka yang membutuhkan. Ketika Tabita meninggal, banyak orang menangis karena kehilangan sosok yang hidupnya begitu berdampak. Bahkan melalui doa dan iman mereka, Tuhan memakai Petrus untuk membangkitkan Tabita kembali.

Kisah Tabita mengajarkan bahwa simpati bukan sekadar perasaan iba, tetapi tindakan nyata. Ia tidak melihat orang miskin dari kelemahan mereka, melainkan berjalan bersama mereka, menanggung beban mereka, dan menghadirkan kasih Kristus secara nyata. Simpati seperti inilah yang menghidupkan—baik bagi yang menerima maupun bagi yang memberi.

Belajar dari hidup Tabita, kita diajak untuk mengembangkan simpati yang menghidupkan. Dengan menahan diri dari penghakiman dan memilih untuk peduli, kita bisa menjadi saluran kasih Kristus yang nyata di tengah dunia yang sering kali lebih cepat menilai daripada memahami.

WHAT TO DO?
1. Latih diri untuk melihat kebutuhan orang lain sebelum menilai kelemahan mereka.
2. Wujudkan simpati dalam tindakan nyata, sekecil apa pun, seperti Tabita menjahit pakaian.
3. Ingat: simpati yang tulus bisa menghidupkan iman dan harapan orang lain.

BIBLE MARATHON:
Kisah Para Rasul 5

Card image
Renungan Pagi - 06 Maret 2026
2026-03-06 22:41:37


Kita adalah gembala bagi diri sendiri, artinya harus membimbing diri kita dengan benar, harus memastikan berjalan dalam tuntunan Roh Kudus, harus memaksakan diri untuk menjadi pelaku firman Tuhan yang setia, harus memastikan diri kita tidak menyimpang dari jalan-jalan Tuhan dan kebenaran-Nya.

Sebagai gembala bagi diri sendiri, maka harus tegas terhadap segala yang mau menjauhkan diri kita dari Tuhan, harus berani berkata tidak, jika itu bukan kebenaran, Alkitab berkata kuasailah dirimu dan jadilah tenang, artinya harus menggembalakan diri kita supaya selalu dalam kehendak-Nya, selalu dalam tuntunan-Nya, dan selalu dalam kasih anugerah-Nya.

Card image
Quote Of The Day - 06 Maret 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-03-06 21:08:07


Tantangan merupakan ujian apakah seseorang adalah hamba yang setia atau tidak setia.

Card image
Mutiara Suara Kebenaran - 06 Maret 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-03-06 21:06:00


Jangan menyerah pada proses yang sedang kamu jalani. Jika Tuhan mengizinkan itu terjadi, Dia juga setia memberi kekuatan agar kita dimampukan untuk melewatinya.

Card image
GRIEVING THE HEART OF GOD - 06 Maret 2026 (English Version)
2026-03-06 21:05:13


The word “peace” can have many meanings. First, peace can mean a calm state, usually referring to a situation or place where there is no noise, disturbance, war, or conflict; a state of safety without threat. Second, peace is often used to describe a person’s emotional state that is not characterized by agitation. Therefore, the word “peace” often correlates with the words “happiness” and “well-being.”

Then, what is meant by “peacemaking” or “reconciliation”? Reconciliation is usually used to refer to efforts to end disputes, wars, rivalry aimed at bringing each other down, conflicts, clashes of interest, or debates and arguments. In reconciliation, there is always a step of compromise to resolve a problem between two or more parties in conflict or not in harmony—parties who have previously harmed or hurt one another. In reconciliation, the aim is to eliminate, or at least reduce, demands against a particular party, so that no one feels pressured or injured.

So, how about reconciliation in the context of the life of believers, especially in the relationship between God and humanity? The relationship between God and humanity has been damaged because humans failed to do what was right, thus ruining their own condition. We know that the initial act of human rebellion occurred when humans disobeyed God’s instruction, namely the prohibition against eating the fruit of the knowledge of good and evil.

Human disobedience to God is rebellion against God, which places humans as enemies of God. This condition grieves the heart of God because humans are no longer in the state God originally designed them for. Just as parents who fail to raise their children well—either because of their own limitations or because the child refuses to be taught—do not only grieve the parents’ hearts, but also wound their hearts. Likewise, a leader who hopes that a trusted subordinate will carry out a task well but instead fails to do so or is unable to do so is deeply grieved.

This damaged human condition, as Paul describes it in Romans 3:23, is “falling short of the glory of God.” Humanity is in a state that does not correspond to God’s original design. Humans have become beings who no longer meet God’s standards. Because of this condition—caused by human disobedience from the beginning, pioneered by Adam—humans not only position themselves as enemies of God, but also exist in a state of inability to continually fellowship with God. There would be no opportunity and no capacity to return to fellowship unless God loved humanity.

But praise be to God, the good God wills to bring about reconciliation with humanity. God Himself initiates this. That is why Paul says that humans should not boast or take pride: salvation is not the result of works but of faith. This means that God takes the initiative to restore peace with humans who are unable to fellowship with Him.

Because humans are God’s children, when their condition does not conform to God’s will, it grieves His heart. As long as a person’s condition is not as God desires, so long is God’s heart grieved. And as long as a person’s life grieves the heart of God, true and proper peace with God is impossible.

In fact, many Christians are still not in the condition God desires. This means they are not truly at peace with God, yet they feel that they already are. This is the deception in the thinking and lives of many people. Many Christians feel they are already at peace with God simply because they have been Christians since childhood or were born into a Christian family. Being a Christian since childhood is assumed to mean being automatically at peace with God. This understanding is mistaken. May Lord Jesus bless you AS LONG AS A PERSON'S LIFE GRIEVES THE HEART OF GOD, TRUE AND PROPER PEACE WITH GOD IS IMPOSSIBLE.

Card image
MENDUKAKAN HATI ALLAH - 06 Maret 2026
2026-03-06 18:51:07


Kata “damai” dapat memiliki banyak arti. Pertama, damai dapat berarti suatu keadaan tenang, yang biasanya menunjuk pada situasi atau tempat yang tidak ada kegaduhan, tidak ada keributan, peperangan, atau perselisihan; suatu keadaan yang aman, tanpa ancaman. Kedua, damai juga sering digunakan untuk menggambarkan keadaan emosi seseorang yang tidak bergejolak secara negatif. Oleh karena itu, kata “damai” sering berkorelasi dengan kata “kebahagiaan” dan “kesejahteraan hidup.”

Lalu, apa yang dimaksud dengan “perdamaian”? Perdamaian biasanya digunakan untuk menunjuk pada usaha mengakhiri suatu perselisihan, peperangan, persaingan untuk saling menjatuhkan, konflik, adu kepentingan, atau perdebatan dan adu argumentasi. Dalam perdamaian, selalu ada langkah kompromi untuk mengakhiri suatu persoalan antara dua pihak atau lebih yang sedang berselisih atau tidak rukun—pihak-pihak yang sebelumnya saling merugikan atau saling menyakiti. Dalam perdamaian terdapat usaha untuk meniadakan, atau setidak-tidaknya mengurangi, tuntutan terhadap pihak tertentu, sehingga tidak ada pihak yang merasa tertekan atau disakiti.

Lalu bagaimana dengan perdamaian dalam konteks hidup orang percaya, khususnya dalam hubungan antara Allah dan manusia? Hubungan antara Allah dan manusia telah rusak karena manusia tidak melakukan apa yang patut, sehingga manusia merusak keadaannya sendiri. Kita mengetahui bahwa fragmen awal pemberontakan manusia terjadi ketika manusia tidak menuruti nasihat Allah, yaitu larangan untuk memakan buah pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat.

Ketidaktaatan manusia kepada Allah merupakan pemberontakan terhadap Allah, yang menempatkan manusia sebagai musuh Allah. Keadaan ini menyakiti hati Allah, sebab manusia tidak lagi berada dalam keadaan yang sesuai dengan rancangan Allah semula. Seperti halnya orang tua yang gagal membesarkan anak—baik karena keterbatasan orang tua itu sendiri maupun karena anak tersebut tidak mau dididik—bukan hanya perilaku salah anak yang mendukakan hati orang tua, melainkan seluruh keberadaan anak itu dapat melukai hati orang tua. Demikian pula seorang pemimpin yang berharap orang kepercayaannya dapat menjalankan tugas dengan baik, tetapi ternyata tidak melakukannya atau tidak mampu melakukannya; hal itu menyakiti hati pemimpin tersebut.

Keadaan manusia yang telah rusak ini disebut oleh Paulus dalam Roma 3:23 sebagai “kehilangan kemuliaan Allah.” Manusia berada dalam kondisi yang tidak sesuai dengan rancangan Allah semula. Manusia telah menjadi manusia yang tidak lagi memenuhi standar Allah. Dengan keadaan manusia yang tidak sesuai dengan standar yang Allah rancang—akibat ketidaktaatan manusia sejak awal, yang dipelopori oleh Adam—manusia bukan saja memosisikan diri sebagai musuh Allah, tetapi juga berada dalam keadaan tidak mampu untuk terus-menerus bersekutu dengan Allah. Tidak ada kesempatan dan tidak ada kemampuan untuk bersekutu kembali, jika Allah tidak mengasihi manusia.

Namun, puji Tuhan, Allah yang baik berkehendak mengadakan rekonsiliasi dengan manusia. Allahlah yang memprakarsai hal ini. Itulah sebabnya Paulus mengatakan agar manusia tidak membanggakan atau memegahkan diri, sebab keselamatan bukan hasil perbuatan, melainkan karena iman. Artinya, Allah yang berinisiatif untuk kembali membangun perdamaian dengan manusia yang berada dalam keadaan tidak mampu bersekutu dengan-Nya.

Karena manusia adalah anak-anak Allah, maka ketika keadaan manusia tidak sesuai dengan kehendak Allah, hal itu mendukakan hati-Nya. Selama keadaan seseorang belum seperti yang Allah kehendaki, selama itu pula hati Allah didukakan. Dan selama kehidupan seseorang mendukakan hati Allah, tidak mungkin ada perdamaian yang sejati dan proporsional dengan Allah.

Faktanya, banyak orang Kristen yang keadaannya masih belum seperti yang Allah kehendaki. Artinya, mereka belum sungguh-sungguh berdamai dengan Allah, namun merasa sudah berdamai dengan Allah. Inilah penyesatan dalam pikiran dan kehidupan banyak orang. Banyak orang Kristen merasa sudah berdamai dengan Allah hanya karena mereka telah menjadi orang Kristen sejak kecil, atau karena beragama Kristen sejak lahir—dilahirkan dan dibesarkan dalam keluarga Kristen. Status sebagai orang Kristen sejak kecil dianggap secara otomatis berarti sudah berdamai dengan Allah. Pemahaman ini keliru.

Tuhan Yesus memberkati

SELAMA KEHIDUPAN SESEORANG MENDUKAKAN HATI ALLAH, TIDAK MUNGKIN ADA PERDAMAIAN YANG SEJATI DAN PROPORSIONAL DENGAN ALLAH.

Card image
KIDS DAILY DEVOTIONAL 05 Maret 2026 - YESUS SAHABAT TERBAIKKU
2026-03-05 19:30:22


Matius 28:20
“…Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.”

Bima punya banyak teman di sekolah. Ada teman bermain, ada juga teman sebangku yang suka berbagi pensil warna. Bima senang sekali punya teman, karena bersama teman semuanya terasa lebih menyenangkan.

Suatu sore, Bima sedang mengerjakan PR matematika yang terasa sangat sulit. Ia menggaruk-garuk kepala sambil berkata, “ Aduh, susah sekali!” Lalu Bima teringat cerita Mama. Mama pernah bilang bahwa Tuhan Yesus adalah Sahabat Terbaik yang selalu bersama kita, kapan pun dan di mana pun. Tuhan Yesus berjanji tidak akan pernah meninggalkan kita, sampai akhir zaman.

Malam harinya, saat Bima sudah berbaring di tempat tidur dan lampu kamar dimatikan, ia tidak merasa takut. Walaupun gelap, Bima merasa tenang karena ia tahu Tuhan Yesus ada bersamanya dan menjaganya sepanjang malam. Hatinya terasa aman dan damai.

Rehobot Kids, mungkin kalian juga pernah seperti Bima—kesulitan mengerjakan PR, takut saat kamar gelap, atau merasa sendirian. Ingat ya, Tuhan Yesus adalah Sahabat yang tidak pernah pergi. Ke mana pun kamu pergi dan apa pun yang kamu lakukan, Tuhan Yesus selalu menyertaimu.

Card image
05 Maret 2026 - SEEING THROUGH THE EYES OF OTHERS
2026-03-05 19:27:54

“Let each of you look not to your own interests, but also to the interests of others.”
Philippians 2:4

As young people, we are often tempted to judge others by what we see on the outside: the way they talk, their lifestyle, or their views that differ from ours. Without realizing it, we jump to conclusions. In reality, we never truly know the whole story behind someone’s life. God’s Word reminds us that spiritual maturity is not about how quickly we judge, but how willing we are to pay attention to and care for others, not just ourselves.

The Bible gives us an example through the story of Mephibosheth (2 Samuel 9). He had been disabled since childhood and lived in fear as a descendant of Saul. In the eyes of many, Mephibosheth could be considered a threat or a burden. However, David chose to see him with sympathy, not judgment. He invited Mephibosheth to sit at the king’s table and gave him an honor he had never imagined before.

This story teaches us to learn to “walk in someone else’s shoes.” Sympathy means being willing to try to understand what they are going through, not just judging from the outside. When we are willing to look deeper, relationships are built in a healthier and more loving way.

Developing sympathy is a sign of spiritual maturity. When we learn to see through the eyes of others, we not only avoid judgmental attitudes, but also become a channel of Christ’s love for the world around us.

WHAT TO DO?
1. When dealing with people who are different, pause for a moment and imagine what they are going through.
2. Train yourself to pay attention to the interests of others, not just your own.
3. Remember Mephibosheth: love can lift up those who are considered lowly by the world.

BIBLE MARATHON:
Acts 4

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 05 Maret 2026 - MELIHAT DENGAN MATA ORANG LAIN
2026-03-05 19:23:13


“Janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga.”
Filipi 2:4

Sebagai anak muda, kita sering tergoda menilai orang lain dari apa yang terlihat di luar: cara bicara, gaya hidup, atau pandangan mereka yang berbeda dari kita. Tanpa sadar, kita menarik kesimpulan cepat. Padahal, kita tidak pernah benar-benar tahu cerita utuh di balik hidup seseorang. Firman Tuhan mengingatkan bahwa kedewasaan rohani bukan soal seberapa cepat kita menilai, tetapi seberapa mau kita memperhatikan dan peduli pada orang lain, bukan hanya diri sendiri.

Alkitab memberi contoh lewat kisah Meziboset (2 Samuel 9). Ia cacat sejak kecil dan hidup dalam ketakutan sebagai keturunan Saul. Di mata banyak orang, Meziboset bisa dianggap sebagai ancaman atau beban. Namun Daud memilih melihat dengan mata simpati, bukan penghakiman. Ia mengundang Meziboset duduk di meja raja dan memberinya kehormatan yang sama sekali tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.

Kisah ini mengajar kita untuk belajar “berjalan di sepatu orang lain.” Simpati berarti mau mencoba memahami apa yang mereka alami, bukan sekadar menilai dari luar. Ketika kita mau melihat lebih dalam, relasi pun dibangun dengan lebih sehat dan penuh kasih.

Mengembangkan simpati adalah tanda kedewasaan rohani. Saat kita belajar melihat dengan mata orang lain, kita bukan hanya menghindari sikap menghakimi, tetapi juga menjadi saluran kasih Kristus yang nyata bagi dunia di sekitar kita.

WHAT TO DO?
1. Saat berhadapan dengan orang yang berbeda, berhenti sejenak dan bayangkan apa yang mereka alami.
2. Latih diri untuk memperhatikan kepentingan orang lain, bukan hanya kepentingan diri sendiri.
3. Ingat Meziboset: kasih bisa mengangkat orang yang dianggap rendah oleh dunia.

BIBLE MARATHON:
Kisah Para Rasul 4

Card image
Renungan Pagi - 05 Maret 2026
2026-03-05 19:21:49


Ibadah yang benar dan berkenan dimulai dari sikap hati yang hormat dan takut akan Tuhan, jadi bukan sekedar menjalankan ritual keagamaan.

Melainkan bagaimana mengalami perjumpaan pribadi dengan Tuhan, tinggal di hadirat-Nya, bersekutu dan bergaul intim dengan-Nya. Inilah esensi ibadah.

Card image
Quote Of The Day - 05 Maret 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-03-05 19:20:58


Keadaan dunia hari ini yang begitu jahat dan rusak, justru menjadi peluang orang percaya untuk berkarya.

Card image
Mutiara Suara Kebenaran - 05 Maret 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-03-05 19:18:35


Setiap proses tidak selalu nyaman. Ada tekanan, ada air mata, ada pergumulan batin. Namun justru di sanalah Tuhan sedang bekerja, membentuk karakter, memurnikan motivasi, dan melatih kita untuk tetap percaya kepada-Nya.

Card image
THE ACTIVE ROLE OF BELIEVERS - 05 Maret 2026 (English Version)
2026-03-05 19:17:24


Holy does not merely mean not sinning; it also means that everything we do always aligns with God’s thoughts and feelings. Therefore, the word “way” in Jesus’ statement, ‘I am the way,’ must be understood in its full dimension: passively, Jesus provides the way; actively, we must walk in that way. Jesus is the way, and we must put on His life. Thus, for believers to truly achieve reconciliation with God, they must invest their entire lives without limit. The active participation of believers in receiving God’s word through the Holy Spirit in their lives for the sake of the transformation of nature is vitally important. And that is the substance of our lives. So, when we become believers, the content of our lives is indeed only that. We must dare to commit ourselves first, even though we have not yet reached the ideal state.

What God desires is that we dare to commit ourselves to live blameless and spotless lives, leaving behind love for the world. This commitment is the initial step in the process of transformation toward putting on the divine nature or becoming like Jesus. Jesus as the way is not merely to be believed in or acknowledged, but to be walked in. For “believing” is an action, not merely an activity of the mind. Belief is not only intellectual conviction, but concrete action.

Therefore, the difference between us and non-Christians is not merely a matter of confession. They do not confess Jesus as Lord and Savior, whereas we do. If that is all, then it has no value. Yet strangely, many Christians feel that this is its main value. That confession indeed has value, but it is only the beginning.

Our true worth is shown when belief becomes action, imitating Jesus’ life. Jesus taught that our faith must surpass mere religious observance and that our morality must exceed common religious standards. The central argument is that perfection, as described in Matthew 5:20—being perfect like the Father—means acting consistently with God’s will and feelings. This is how we take on God’s nature and participate in the divine life.

Perfect like the Father does not mean equaling the Father. God’s capacity is perfect, whereas ours is not. However, in the moral realm, we can do everything in accordance with God’s will and feelings. Thus, in character and morality, believers become like miniature versions of God’s character and morality. And this is the Gospel: the divine nature. So, if we are like Jesus, it does not mean we are perfect to the same degree as Jesus. Jesus, our Lord, possesses far greater capacity in all His struggles. We have a more limited capacity. Yet within that limited capacity, we can still do everything in accordance with God’s will and feelings, as His miniature.

Thus, in character and morality, believers are miniatures of God. Indeed, this is the essence of the Gospel. If a child resembles us, people will say, “He looks like his father.” The child does not have the same capacity as the parent, but he is a miniature version of him. Likewise, we are miniatures of God. Through our deeds, people can see whether we glorify the Father, because what they see is our character. That is why, in the Bible, when people ask, “Who is the true God?” the answer is the nation of Israel; but when people ask, “What is God truly like?” they should look at the conduct of Christians. If Christianity is right, they can truly be aligned with God the Father.

Therefore, the Gospel is called the power of God for salvation. This means the truth of the Gospel can transform a person’s thinking. Continuous transformation of the mind will result in the transformation of nature. If this process continues, fellowship takes place: we abide in the Father, and the Father abides in us. God is pleased and “at ease” with those whose words are true, whose hearts are pure, and who harbor no evil. Thus, if we still live in ways that do not conform to God’s holiness, it means our faith or belief is not yet true.

In summary, the main standard for believers is to adopt the divine nature, enabling true reconciliation with God. This goal requires lifelong commitment and continual effort. Believers must be willing to leave behind worldly desires and dedicate themselves to living in holiness, guided by God’s word.

The crucial question we must wrestle with is: “Have we truly made peace with God?” Do not stop at reconciliation in theory, for true reconciliation occurs in the concrete application of life. How dreadful it would be if someone were to die without having been reconciled with God. A believer who has truly been reconciled with God surely understands that the standard of his holiness is God Himself. Yet God still gives opportunity. Christianity saves no one unless that person lives in God’s holiness.

The Lord Jesus bless you

A BELIEVER WHO HAS TRULY BEEN RECONCILED WITH GOD SURELY UNDERSTANDS THAT THE STANDARD OF HIS HOLINESS IS GOD HIMSELF.

Card image
KEAKTIFAN ORANG PERCAYA - 05 Maret 2026
2026-03-05 19:12:59


Suci bukan hanya berarti tidak berbuat dosa, melainkan bahwa segala sesuatu yang kita lakukan selalu sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah. Oleh sebab itu, kata “jalan” dalam ucapan Yesus, “Akulah jalan,” harus dipahami dalam dimensi yang lengkap: secara pasif, Yesus menyediakan jalan; secara aktif, kita harus menjalani jalan itu. Yesus adalah jalan itu, dan kita harus mengenakan hidup-Nya. Maka, agar orang percaya sungguh-sungguh memiliki pendamaian dengan Allah, ia harus menginvestasikan seluruh hidupnya tanpa batas. Keaktifan orang percaya dalam menerima penggarapan Allah melalui Roh Kudus di dalam hidupnya demi perubahan kodrat sangatlah penting. Dan itulah isi hidup kita. Jadi, ketika kita menjadi orang percaya, isi hidup kita memang hanya untuk itu. Kita harus berani berkomitmen terlebih dahulu, walaupun kita belum mencapai keadaan yang ideal.

Yang Allah kehendaki adalah agar kita berani berkomitmen untuk hidup tidak bercacat dan tidak bercela, meninggalkan percintaan dunia. Komitmen ini merupakan langkah awal yang akan mengawali proses perubahan untuk mengenakan kodrat ilahi atau menjadi serupa dengan Yesus. Yesus sebagai jalan bukan hanya untuk dipercayai atau diakui, melainkan untuk dijalani. Sebab “percaya” adalah tindakan, bukan sekadar aktivitas pikiran. Percaya bukan hanya keyakinan dalam nalar, melainkan tindakan nyata.

Karena itu, perbedaan kita dengan orang non-Kristen bukan hanya pada pengakuan. Mereka tidak mengakui Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat, sedangkan kita mengakui. Jika hanya sebatas itu, maka hal tersebut tidak memiliki nilai sama sekali. Namun anehnya, banyak orang Kristen merasa itulah nilai utamanya. Pengakuan itu memang bernilai, tetapi itu baru permulaan.

Nilai sejati kita tampak ketika kita beriman dan bertindak. Tindakan kita adalah meneladani hidup Yesus. Itulah sebabnya Yesus berkata bahwa hidup keagamaan kita harus lebih benar daripada hidup keagamaan ahli Taurat dan orang Farisi; jika tidak, kita tidak akan masuk surga. Artinya, kita harus memiliki moral yang melampaui orang-orang beragama, bahkan melampaui tokoh-tokohnya. Oleh sebab itu, dalam Matius 5:20 dikatakan, you must be perfect—kamu harus sempurna. Sempurna seperti Bapa berarti orang percaya harus mampu bertindak selalu sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah. Ini sama dengan memiliki keserupaan hakikat dengan Allah, mengenakan kodrat ilahi, dan mengambil bagian dalam kekudusan Allah.

Sempurna seperti Bapa bukan berarti menyamai Bapa. Kapasitas Allah sempurna, sedangkan kapasitas kita tidak. Namun, dalam ranah moral, kita dapat melakukan segala sesuatu sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah. Dengan demikian, orang percaya dalam karakter dan moralnya menjadi seperti miniatur karakter dan moral Allah. Dan inilah Injil: kodrat ilahi. Jadi, jika kita serupa dengan Yesus, bukan berarti kita sempurna sekelas Yesus. Yesus, Tuhan kita, memiliki kapasitas yang jauh lebih besar dalam segala pergumulan-Nya. Kita memiliki kapasitas yang lebih terbatas. Namun, di dalam kapasitas yang terbatas itu, kita tetap dapat melakukan segala sesuatu sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah—sebagai miniatur-Nya.

Dengan demikian, orang percaya dalam karakter dan moralnya adalah miniatur dari karakter dan moral Allah. Sesungguhnya, inilah inti Injil. Jika kita memiliki anak yang mirip dengan kita, orang akan berkata, “Ini mirip bapaknya.” Anak itu tidak memiliki kapasitas yang sama dengan orang tuanya, tetapi ia adalah miniaturnya. Demikian pula kita adalah miniatur Allah. Melalui perbuatan kita, orang dapat melihat apakah kita memuliakan Bapa, sebab yang mereka lihat adalah karakter kita. Itulah sebabnya, di dalam Alkitab, jika orang mempertanyakan “siapakah Allah yang benar,” maka jawabannya adalah bangsa Israel; tetapi jika orang bertanya “bagaimana Allah itu benar,” maka lihatlah kelakuan orang Kristen. Jika kelakuan orang Kristen benar, maka ia dapat benar-benar selaras dengan Allah Bapa.

Oleh karena itu, Injil disebut sebagai kuasa Allah yang menyelamatkan. Artinya, kebenaran Injil mampu mengubah cara berpikir seseorang. Perubahan cara berpikir yang terus-menerus akan menghasilkan perubahan kodrat. Jika proses ini berlangsung terus, maka terjadilah persekutuan: kita tinggal di dalam Bapa, dan Bapa tinggal di dalam kita. Allah berkenan dan “nyaman” dengan orang-orang yang perkataannya benar, hatinya bersih, dan tidak menyimpan kejahatan. Jadi, jika kita masih hidup tidak sesuai dengan kesucian Allah, berarti iman atau kepercayaan kita belum benar.

Kesimpulannya, standar hidup yang harus dicapai orang percaya adalah memiliki kodrat ilahi agar dapat hidup dalam keadaan berekonsiliasi dengan Allah. Dan ini harus menjadi pergumulan seumur hidup, yang tidak pernah berhenti sampai kita menutup mata. Untuk itu, orang percaya harus rela meninggalkan dunia dan segala kesenangannya serta berkomitmen untuk hidup dalam kesucian sesuai dengan standar kesucian Allah.

Pertanyaan penting yang harus kita pergumulkan adalah: “Apakah kita saat ini benar-benar sudah berdamai dengan Allah?” Jangan berhenti pada pendamaian secara teori, sebab pendamaian sejati terjadi dalam aplikasi konkret kehidupan. Betapa mengerikannya jika seseorang meninggal dunia dalam keadaan belum diperdamaikan dengan Allah. Orang percaya yang sungguh-sungguh telah berdamai dengan Allah pasti memahami bahwa standar kesuciannya adalah Allah sendiri. Namun, Tuhan masih memberi kesempatan. Agama Kristen tidak menyelamatkan siapa pun jika orang tersebut tidak hidup di dalam kesucian Allah.

Tuhan Yesus memberkati

STANDAR HIDUP YANG HARUS DICAPAI ORANG PERCAYA ADALAH MEMILIKI KODRAT ILAHI AGAR DAPAT HIDUP DALAM KEADAAN BEREKONSILIASI DENGAN ALLAH.

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 04 Maret 2026 (English Version) - IT IS NOT RIGHT TO JUDGE OTHERS
2026-03-05 12:57:48


“Do not judge, so that you will not be judged. For with the judgment you use, you will be judged, and the measure you use will be used to measure you.”
Matthew 7:1–2

Without realizing it, we often feel more righteous when we see other people’s failures or mistakes. We are quick to judge, as if we hold higher moral standards. However, Jesus firmly reminds us that what we sow through the way we judge others is what we will reap. Judging others is often not a matter of righteousness, but a sign that we are closing our eyes to our own shortcomings.

God calls us, especially as young people, to realize that everyone is fighting their own battles—battles that we may never fully see or understand. Therefore, sympathy and empathy are key to stopping ourselves from taking the position of judge. When we change our perspective from judging to understanding, that is when we are reflecting the love of Christ.

Remember, we are all recipients of God’s grace. If the Holy God Himself does not immediately destroy us when we fall and sin, then who are we to judge others harshly? Living in love means giving room for repentance, restoration, and hope—not condemnation.

WHAT TO DO?
1. Start by thinking clearly before saying anything to others.
2. Cultivate genuine sympathy; sympathy begins with ears that are willing to listen.
3. Be aware of your own position; do not immediately judge someone without considering their personal circumstances.

BIBLE MARATHON:
Acts 3

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 04 Maret 2026 - TAK PANTAS MENGHAKIMI SESAMA
2026-03-05 12:52:34


“Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi. Karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu.”
Matius 7:1–2

Tanpa sadar, kita sering merasa lebih benar ketika melihat kegagalan atau kesalahan orang lain. Kita cepat menilai, seolah-olah kita memegang standar moral yang lebih tinggi. Namun, Yesus dengan tegas mengingatkan bahwa apa yang kita tabur lewat cara kita menilai orang lain, itulah yang akan kita tuai. Menghakimi orang lain sering kali bukan soal kebenaran, melainkan tanda bahwa kita sedang menutup mata terhadap kekurangan diri sendiri.

Tuhan memanggil kita, khususnya sebagai anak muda, untuk menyadari bahwa setiap orang sedang berjuang dalam pertarungannya masing-masing—perjuangan yang mungkin tidak pernah kita lihat atau pahami sepenuhnya. Karena itu, simpati dan empati menjadi kunci untuk berhenti mengambil posisi sebagai hakim. Saat kita mengubah cara pandang dari menghakimi menjadi memahami, di situlah kita sedang mencerminkan kasih Kristus.

Ingatlah, kita semua adalah penerima anugerah Tuhan. Jika Tuhan yang Mahasuci saja tidak langsung menghancurkan kita saat kita jatuh dan bersalah, lalu siapakah kita sehingga berani menghakimi sesama dengan keras? Hidup dalam kasih berarti memberi ruang bagi pertobatan, pemulihan, dan harapan—bukan vonis.

WHAT TO DO?
1. Mulai berpikir dengan jernih dahulu sebelum mengucapkan sesuatu kepada orang lain.
2. Mulai miliki rasa simpati yang tulus; bersimpati dimulai dari telinga yang mau mendengar.
3. Sadar dengan keberadaan diri sendiri, jangan langsung menghakimi seseorang tanpa melihat kondisi pribadi.

BIBLE MARATHON:
Kisah Para Rasul 3

Card image
Renungan Pagi - 04 Maret 2026
2026-03-04 23:04:03


Seorang anak Tuhan yang baik pasti ingin selalu dekat dengan Bapanya untuk menerima kekuatan, damai sejahtera, menerima petunjuk dan tuntunan.

Karena seorang yang dekat dengan Tuhan akan mengerti apa yang Tuhan mau, mengerti apa yang Allah sediakan baginya, dan mengerti apa yang menjadi tugas dan tanggung jawabnya.

Card image
Quote Of The Day - 04 Maret 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-03-04 22:53:36


Gereja Tuhan harus militan dan tidak lagi melihat diri sendiri, atau pelayanan ke dalam semata-mata.

Card image
Mutiara Suara Kebenaran - 04 Maret 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-03-04 22:52:15


Pencobaan tidak melebihi kemampuan yang Tuhan percayakan kepadamu. Jika Tuhan izinkan engkau melewatinya, itu berarti Ia sudah menyediakan kekuatan untuk menaklukkannya.

Card image
REJECTING GRACE - 04 Maret 2026 (English Version)
2026-03-04 22:49:46


There is a verse that says, “Under heaven there is no other name by which humanity can obtain salvation except the name of Jesus.” Thus, Jesus bore all the sins of humankind. However, in John 14:6, the meaning goes even further. If a person has a visa, they may enter Indonesia, but that does not mean they are allowed to enter the palace. To enter the palace, it is not enough to have a visa; one must be a member of the president’s family, a trusted confidant, or directly connected to the palace’s affairs.

Likewise, we do not merely receive a “visa” to enter heaven. A person who does good deeds may enter the world to come. But to enter the palace, or the Father’s house, to become a member of the family of the Kingdom of God, is another matter altogether. John 14:6 speaks of entering into life in fellowship with God, namely, living in true Christianity.

That is the Gospel. And the Gospel far surpasses all forms of success and achievement. To possess life itself is enough. That is the eternal treasure. Therefore, we must devote our entire lives to undergoing the process of reconciliation with God—be reconciled to God. “Be reconciled,” and the way to do so is by changing our lives. We must therefore have pure hearts: there must be no resentment, hatred, pride, arrogance, or other evil intentions. This process consumes our entire lives so that we may attain it. Another verse says, “Be holy”; whoever rejects this rejects God. Thus, if we are unwilling to live in purity, we are in fact rejecting the grace of salvation.

Therefore, do not think that you have already received the grace of salvation simply because you believe in Jesus as Lord and Savior. Jesus is the way to the Father, and this must be understood from two aspects: passive and active. Salvation and reconciliation cannot come from a single side, nor do they occur automatically from God’s side alone. God is indeed active, and this has been perfectly accomplished on the cross. However, on the human side, there must also be active participation, and that is our responsibility.

The cross has, de jure (legally), freed us and opened the opportunity for humanity to be reconciled with God. But in reality, de facto, humans must struggle to change themselves through the means of salvation that God provides: the Holy Spirit, who guides us into all truth; the Gospel, the power of God for salvation; and God’s formative process in every event we experience. There must be effort on our part to actualize that reconciliation. From God’s side, reconciliation is always available—not by our initiative, but by God’s. Yet we must respond to God’s grace with action.

If someone claims to believe in and accept Jesus as the way of reconciliation but does not strive to change and put on the divine nature, then he does not experience the life that has been reconciled to God. He does not become the kind of human being God desires, for the human being God desires is one who is in His image and likeness. A person who is not reconciled to the truth actually drifts away from God, becomes lost, and fails to find his true self because he does not become the original human being God intended him to be. On the contrary, when we strive to attain the holiness God desires, we discover the person God intends us to be. Otherwise, we will never truly find ourselves.

One aspect shows that Jesus is the way, meaning that through the cross He bore all sins to reconcile us to God. This is the passive dimension of salvation that we receive. However, there is another aspect to Jesus’s saying, “Make disciples of all nations.” This means learning and being trained to experience transformation—not merely general moral improvement, but becoming like Jesus, partaking of the divine nature. It is this transformation of nature that fosters fellowship with God, the true goal of reconciliation. A life that partakes of the divine nature enables us to have a harmonious relationship with God. Conversely, if we do not attain the holiness God desires, we will not be able to live in harmony with Him.

The Lord Jesus bless you

Card image
MENOLAK ANUGERAH - 04 Maret 2026
2026-03-04 22:47:21


Ada ayat yang mengatakan bahwa di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang olehnya manusia beroleh keselamatan selain nama Yesus. Jadi, Yesus memikul semua dosa manusia. Namun, di dalam Yohanes 14:6, pengertiannya melangkah lebih jauh. Jika diibaratkan dengan sebuah visa, seseorang bisa mendapatkan visa untuk masuk ke Indonesia, tetapi tidak berarti ia boleh masuk ke istana. Untuk masuk ke istana, tidak cukup hanya memiliki visa; ia harus merupakan keluarga presiden, orang kepercayaan presiden, atau seseorang yang bertalian langsung dengan urusan istana.

Demikian pula, kita bukan hanya mendapatkan “visa” untuk masuk surga. Orang yang berbuat baik bisa saja masuk ke dunia yang akan datang. Tetapi untuk masuk ke istana, atau Rumah Bapa, menjadi anggota keluarga Kerajaan Allah, itu perkara lain. Dalam Yohanes 14:6 dikatakan tentang masuk ke dalam kehidupan untuk bersekutu dengan Allah, yaitu hidup dalam kekristenan yang sejati.

Itulah Injil. Dan Injil jauh melampaui segala bentuk sukses dan keberhasilan. Kita memiliki hidup itu sendiri sudah cukup. Itulah harta yang kekal. Karena itu, kita harus menyediakan segenap hidup kita untuk menjalani proses pendamaian dengan Allah—be reconciled to God. “Berilah dirimu diperdamaikan,” caranya adalah dengan mengubah hidup kita. Maka kita harus memiliki hati yang bersih: tidak boleh ada dendam, kebencian, kesombongan, keangkuhan, atau maksud-maksud jahat lainnya. Proses ini menyita seluruh hidup kita agar kita dapat mencapainya. Ayat lain mengatakan, “Kuduslah kamu”; siapa yang menolak ini berarti menolak Allah. Jadi, jika kita tidak mau hidup bersih, sesungguhnya kita menolak anugerah keselamatan.

Karena itu, jangan merasa sudah menerima anugerah keselamatan hanya karena percaya kepada Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat. Yesus adalah jalan untuk sampai kepada Bapa, dan hal ini harus dipahami dari dua aspek: pasif dan aktif. Keselamatan dan pendamaian tidak dapat berlangsung hanya dari satu aspek atau dari satu pihak saja, dan tidak berlangsung secara otomatis dari pihak Allah semata. Allah memang aktif, dan hal itu telah dilakukan secara sempurna di kayu salib. Namun, dari pihak manusia juga harus ada keaktifan, dan itulah tanggung jawab kita.

Salib secara de jure atau secara hukum telah membebaskan kita dan membuka peluang bagi manusia untuk diperdamaikan dengan Allah. Tetapi dalam kenyataannya, secara de facto, manusia harus berjuang mengubah diri dengan fasilitas keselamatan yang Allah sediakan, yaitu Roh Kudus yang menuntun kita kepada seluruh kebenaran, Injil sebagai kuasa Allah yang menyelamatkan, serta proses pembentukan Allah melalui setiap peristiwa yang kita alami. Harus ada usaha dari pihak kita untuk mewujudkan pendamaian itu. Dari pihak Allah, pendamaian selalu tersedia—bukan atas inisiatif kita, melainkan atas inisiatif Allah—tetapi kita harus merespons anugerah Allah tersebut dengan tindakan.

Jika seseorang mengaku percaya dan menerima Yesus sebagai jalan pendamaian, tetapi tidak berusaha mengubah diri untuk mengenakan kodrat ilahi, maka ia tidak menemukan kehidupan yang telah diperdamaikan dengan Allah itu. Ia tidak menjadi manusia sebagaimana yang dikehendaki Allah, sebab manusia yang dikehendaki Allah adalah manusia yang segambar dan serupa dengan Dia. Orang yang tidak diperdamaikan sejatinya menjauh dari Allah, tersesat hingga tidak menemukan dirinya sendiri, karena ia tidak menjadi manusia orisinal seperti yang Allah kehendaki. Sebaliknya, ketika kita berusaha memiliki kekudusan seperti yang Allah kehendaki, kita menemukan manusia yang Allah inginkan itu. Jika tidak, kita tidak akan pernah menemukan diri kita.

Satu aspek menunjukkan bahwa Yesus adalah jalan, artinya melalui salib Ia memikul semua dosa untuk mendamaikan kita dengan Allah. Inilah dimensi pasif dari keselamatan yang kita terima. Namun, ada aspek lain ketika Yesus berkata, “Jadikanlah semua bangsa murid-Ku.” Ini berarti belajar dan dididik untuk mengalami perubahan, bukan hanya secara moral umum, melainkan menjadi serupa dengan Yesus—berkodrat ilahi. Perubahan kodrat inilah yang membangun persekutuan dengan Allah, yang merupakan tujuan sejati dari pendamaian itu. Keadaan hidup yang berkodrat ilahi memungkinkan kita memiliki hubungan yang harmonis dengan Allah. Sebaliknya, jika kita tidak mencapai kekudusan yang Allah kehendaki, kita tidak akan dapat hidup harmonis dengan Allah.

Tuhan Yesus memberkati

JIKA KITA TIDAK MAU HIDUP BERSIH, SESUNGGUHNYA KITA MENOLAK ANUGERAH KESELAMATAN.

Card image
KIDS DAILY DEVOTIONAL 03 Maret 2026 - TUHAN MEMBERI DAMAI DI HATIKU
2026-03-04 12:59:20


Yesaya 41:10
“Janganlah takut, sebab Aku menyertai engkau, janganlah bimbang, sebab Aku ini Allahmu; Aku akan meneguhkan, bahkan akan menolong engkau; Aku akan memegang engkau dengan tangan kanan-Ku yang membawa kemenangan.”

Halo, Rehobot Kids! Di zaman sekarang, sering kali kita mendengar berita atau cerita yang membuat hati menjadi cemas dan takut. Kadang walaupun tidak ada hal menakutkan di sekitar kita, hati tetap gelisah. Kita jadi sulit tidur, khawatir, atau terus memikirkan sesuatu. Tapi tahukah kamu? Tuhan datang bukan dengan membuat kita takut, melainkan dengan membawa damai.

Melalui Firman-Nya, Tuhan berkata, “Jangan takut, sebab Aku menyertai engkau.” Artinya, Tuhan tahu isi hati kita. Saat kita lemah atau cemas, Tuhan tidak memarahi kita, tetapi justru menguatkan kita dengan kasih-Nya. Tuhan ingin hati kita tenang dan percaya penuh kepada-Nya.

Coba bayangkan sebuah danau yang airnya bergelombang karena angin kencang. Saat angin berhenti, air menjadi tenang dan jernih. Hati kita juga bisa seperti itu. Saat kita khawatir, hati kita bergelombang. Tetapi saat kita berdoa dan mengingat Tuhan, damai Tuhan membuat hati kita tenang kembali.

Rehobot Kids, jika hatimu sedang gelisah atau takut, ingatlah bahwa Tuhan tidak jauh. Dia ada di dekatmu dan memegang tanganmu. Datanglah kepada Tuhan dalam doa. Tuhan akan menaruh damai di dalam hatimu, membuatmu merasa aman, tenang, dan dikasihi setiap hari.

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 03 Maret 2026 (English Version) - BEING PRESENT MATTERS
2026-03-04 12:57:21


“Then Jesus wept.”
John 11:35

This verse is very short, but its meaning is profound. Jesus wept not because He did not know what was going to happen—He knew Lazarus would be raised. However, He still chose to be present and feel the grief of Mary and Martha. Jesus did not rush to show His power; He first showed His empathy.

Often, when we see others hurting, we are tempted to immediately offer solutions, advice, or even a “little sermon.” However, not all wounds need answers. Sometimes, all that is needed is someone who is willing to sit with us, listen without judgment, and not leave when the atmosphere feels heavy.

Jesus showed that true empathy is not about talking a lot, but about a heart that is willing to connect. He did not distance Himself from human sorrow, but entered into it. Being present matters—sincere presence is often the most tangible form of love.

When we choose to be present for others, we are reflecting the heart of Jesus: present not to control, not to lecture, but to accompany and strengthen.

WHAT TO DO?
1. When someone is hurting, resist the urge to immediately offer solutions—learn to be present and listen.
2. Take time today to accompany someone, even if it’s just with your presence and simple attention.
3. Pray that God will help you become a sensitive person who is willing to be present for others.

BIBLE MARATHON:
Acts 2

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 03 Maret 2026 - BEING PRESENT MATTERS
2026-03-04 12:55:18


“Maka menangislah Yesus.”
Yohanes 11:35

Ayat ini memang sangat pendek, tetapi maknanya begitu dalam. Yesus menangis bukan karena Ia tidak tahu apa yang akan terjadi—Ia tahu Lazarus akan dibangkitkan. Namun, Ia tetap memilih untuk hadir dan merasakan duka Maria dan Marta. Yesus tidak terburu-buru menunjukkan kuasa-Nya, Ia terlebih dahulu menunjukkan empati-Nya.

Sering kali, saat melihat orang lain terluka, kita tergoda untuk langsung memberi solusi, nasihat, atau bahkan “khotbah kecil”. Padahal, tidak semua luka membutuhkan jawaban. Kadang, yang paling dibutuhkan hanyalah seseorang yang mau duduk bersama, mendengar tanpa menghakimi, dan tidak pergi saat suasana terasa berat.

Yesus menunjukkan bahwa empati sejati bukan tentang banyak bicara, melainkan tentang hati yang mau terhubung. Ia tidak menjauh dari kesedihan manusia, tetapi masuk ke dalamnya. Being present matters—kehadiran yang tulus sering kali menjadi bentuk kasih yang paling nyata.

Saat kita memilih untuk hadir bagi orang lain, kita sedang mencerminkan hati Yesus: hadir bukan untuk mengatur, bukan untuk menggurui, tetapi untuk menemani dan menguatkan.

WHAT TO DO?
1. Saat ada orang yang sedang terluka, tahan diri untuk langsung memberi solusi – belajarlah untuk hadir dan mendengar.
2. Luangkan waktu hari ini untuk menemani seseorang, meski hanya dengan kehadiran dan perhatian sederhana.
3. Berdoalah agar Tuhan menolongmu menjadi pribadi yang peka dan mau hadir bagi sesama.

BIBLE MARATHON:
Kisah Para Rasul 2

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 03 Maret 2026 - BEING PRESENT MATTERS
2026-03-04 12:48:09


“Maka menangislah Yesus.” Yohanes 11:35

Ayat ini memang sangat pendek, tetapi maknanya begitu dalam. Yesus menangis bukan karena Ia tidak tahu apa yang akan terjadi—Ia tahu Lazarus akan dibangkitkan. Namun, Ia tetap memilih untuk hadir dan merasakan duka Maria dan Marta. Yesus tidak terburu-buru menunjukkan kuasa-Nya, Ia terlebih dahulu menunjukkan empati-Nya.

Sering kali, saat melihat orang lain terluka, kita tergoda untuk langsung memberi solusi, nasihat, atau bahkan “khotbah kecil”. Padahal, tidak semua luka membutuhkan jawaban. Kadang, yang paling dibutuhkan hanyalah seseorang yang mau duduk bersama, mendengar tanpa menghakimi, dan tidak pergi saat suasana terasa berat.

Yesus menunjukkan bahwa empati sejati bukan tentang banyak bicara, melainkan tentang hati yang mau terhubung. Ia tidak menjauh dari kesedihan manusia, tetapi masuk ke dalamnya. Being present matters_—kehadiran yang tulus sering kali menjadi bentuk kasih yang paling nyata.

Saat kita memilih untuk hadir bagi orang lain, kita sedang mencerminkan hati Yesus: hadir bukan untuk mengatur, bukan untuk menggurui, tetapi untuk menemani dan menguatkan.

WHAT TO DO?
1. Saat ada orang yang sedang terluka, tahan diri untuk langsung memberi solusi – belajarlah untuk hadir dan mendengar.
2. Luangkan waktu hari ini untuk menemani seseorang, meski hanya dengan kehadiran dan perhatian sederhana.
3. Berdoalah agar Tuhan menolongmu menjadi pribadi yang peka dan mau hadir bagi sesama.

BIBLE MARATHON:
Kisah Para Rasul 2

Card image
Renungan Pagi - 03 Maret 2026
2026-03-03 22:43:17


Ada banyak orang tidak menganggap bahwa firman Tuhan itu penting, padahal firman Tuhan itu adalah makanan rohani, dimana setiap hari kita harus bergaul dengan firman Tuhan, merenungkan firman Tuhan.

Karena Alkitab berkata, "Orang yang merenungkan Taurat Tuhan siang dan malam, ia seperti pohon yang ditanam ditepi aliran air yang akan selalu menghasilkan buah pada musimnya, yang tidak layu daunnya dan apa saja yang dikerjakannya pasti berhasil.

Card image
Quote Of The Day - 03 Maret 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-03-03 22:42:35


Tuhan akan memberikan karunia pada waktu tepat sesuai dengan kebutuhan demi kepentingan-Nya dalam kebijaksanaan-Nya.

Card image
Mutiara Suara Kebenaran - 03 Maret 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-03-03 22:41:51


Orang yang memiliki kesalehan sejati akan menjaga pikirannya, mengendalikan keinginannya, dan menata langkah hidupnya dengan penuh kesadaran. Keindahan dunia akan selalu kalah oleh keindahan kebenaran.

Card image
RECONCILIATION - 03 Maret 2026 (English Version)
2026-03-03 22:40:19


In 1 Peter 1:16, the Word of God says, “Be holy, for I am holy.” True reconciliation can only take place if believers possess holiness like God’s holiness. This means that believers must partake in God’s holiness (Hebrews 12:9–10). Therefore, if we do not live holy and pure lives in accordance with God’s nature, we cannot experience true reconciliation.

The problem is that God seems to be silent. We live carelessly, acting however we please in what we say and do, as though God is not disturbed by it. The church often fails to remind the congregation that this is the wrong way of living. As a result, everything becomes mere pretense. In Hebrews 12:5–8 and 12:10, we are told that we must partake of God’s holiness. The Word of God shows that true believers receive discipline from the Father, so that from being illegitimate or careless children, they may become legitimate sons (Greek: huios), able to partake in God’s holiness. This is absolute.

That is why, in 2 Corinthians 6:17–18, the Word of God says: “Therefore, come out from among them and be separate, says the Lord, and touch no unclean thing, and I will receive you. And I will be a Father to you, and you shall be My sons and daughters, says the Lord Almighty.”

We must have God’s standard of holiness. That is why 1 Thessalonians 4:7–8 says, “For God did not call us to uncleanness, but to holiness. Therefore, whoever rejects this does not reject man, but God, who has given His Holy Spirit to you.”

These verses clearly show that we must live by God’s standard of holiness. This standard applies only to those who receive the Holy Spirit. So, those considered righteous must have holiness like God’s. Jesus died for all, but not all are justified. Only those brought to the Father are justified. Though not yet truly righteous, they are regarded as righteous. The Father gives the Holy Spirit and says, “Be holy, for I am holy. Come out from among them, touch no unclean thing, and I will receive you.” If someone still touches what is unclean, He cannot receive them.

The Bible also says that only the pure in heart will see God, meaning those who are reconciled to God. Therefore, how evil is the teaching that suggests that, without effort, without a true process of maturity, and without genuine discipleship, a person can achieve ideal reconciliation with God. Jesus indeed died for all people, but not all people have the opportunity to be reconciled to God in the harmonious, exclusive relationship between God as Father and us, believers, as children, according to God’s original design.

This is what is meant in the prayer spoken by the Lord Jesus in John 17:20–21: “”I do not pray for these alone, but also for those who will believe in Me through their word, that they all may be one, as You, Father, are in Me, and I in You; that they also may be in Us, so that the world may believe that You sent Me” We can be in fellowship with the Father. In this reconciliation, believers can abide in the Father and share a unique, exclusive relationship with Him, set apart from any other connection, which is truly extraordinary. Indeed, this is what the Lord Jesus meant when He said, “No one comes to the Father except through Me” The expression ” comes to the Fath” in the original language is erchomai (Greek: ἔρχομαι), which mean” to come in” or “unto” i.e., to enter. Many Christians understand this statement only to the extent that outside of Jesus, there is no salvation. That is true. However, this verse not only states that outside of Christ there is no salvation; it also emphasizes that only through Christ can believers access this exclusive and intimate relationship with the Father, reserved forGod’ss children, who are reconciled to Him.

The Lord Jesus bless you

TRUE RECONCILIATION CAN ONLY TAKE PLACE IF BELIEVERS POSSESS HOLINESS LIKE GOD'S HOLINESS.

Card image
REKONSILIASI - 03 Maret 2026
2026-03-03 22:38:33


Di dalam 1 Petrus 1:16, firman Tuhan mengatakan, “Kuduslah kamu, sebab Aku kudus.” Rekonsiliasi sejati hanya dapat terwujud jika orang percaya memiliki kekudusan seperti kekudusan Allah. Hal ini berarti bahwa orang percaya harus mengambil bagian dalam kekudusan Allah (Ibr. 12:9–10). Jadi, jika kita tidak hidup kudus dan bersih sesuai dengan hakikat Allah, kita tidak dapat mengalami rekonsiliasi dengan benar.

Masalahnya, Tuhan seakan-akan diam. Kita hidup sembarangan, bertindak sesuka hati dengan apa yang kita ucapkan dan lakukan, seolah-olah Allah tidak terganggu. Gereja pun sering kali tidak mengingatkan umat bahwa itu adalah cara hidup yang salah. Akibatnya, semuanya menjadi serba sandiwara. Dalam Ibrani 12:5–8 dan 12:10 dikatakan bahwa kita harus mengambil bagian dalam kekudusan Allah. Firman Tuhan menunjukkan bahwa orang percaya yang benar menerima didikan dari Bapa, supaya dari anak yang tidak sah atau anak gampang menjadi anak yang sah (Yun. huios), sehingga dapat mengambil bagian dalam kekudusan Allah. Hal ini adalah sesuatu yang mutlak.

Itulah sebabnya, dalam 2 Korintus 6:17–18, firman Tuhan mengatakan, “Sebab itu: Keluarlah kamu dari antara mereka dan pisahkanlah dirimu dari mereka, firman Tuhan, dan janganlah menjamah apa yang najis, maka Aku akan menerima kamu. Dan Aku akan menjadi Bapamu, dan kamu akan menjadi anak-anak-Ku laki-laki dan anak-anak-Ku perempuan, demikianlah firman Tuhan, Yang Mahakuasa.” Kita harus memiliki standar kekudusan Allah. Itulah sebabnya, dalam 1 Tesalonika 4:7–8 dikatakan, “Allah memanggil kita bukan untuk melakukan apa yang cemar, melainkan apa yang kudus. Karena itu, siapa yang menolak ini bukanlah menolak manusia, melainkan menolak Allah yang telah memberikan juga Roh-Nya yang kudus kepada kamu.”

Dengan sangat jelas, ayat-ayat ini menunjukkan bahwa kita harus memiliki standar kekudusan Allah. Standar ini hanya diberlakukan bagi orang yang menerima Roh Kudus. Jadi, standar hidup orang yang menerima Roh Kudus atau yang dianggap benar adalah memiliki kekudusan seperti Allah. Yesus mati untuk semua orang, untuk seluruh umat manusia, tetapi tidak semua manusia dibenarkan, sebab yang dibenarkan hanyalah mereka yang dibawa kepada Bapa. Walaupun belum benar, mereka dianggap benar. Bapa memberikan Roh Kudus, dan kepada mereka Bapa berkata, “Kuduslah kamu, sebab Aku kudus. Keluarlah kamu dari antara mereka, jangan menjamah apa yang najis, maka Aku akan menerima kamu.” Artinya, jika seseorang masih menjamah apa yang najis, Ia tidak dapat menerimanya.

Alkitab juga mengatakan bahwa hanya orang yang suci yang akan melihat Allah, artinya mereka yang diperdamaikan. Oleh sebab itu, betapa jahatnya ajaran yang mengesankan bahwa tanpa usaha, tanpa proses pendewasaan yang benar, dan tanpa pemuridan yang sejati, seseorang dapat memiliki pendamaian yang ideal dengan Allah. Yesus memang mati untuk semua orang, tetapi tidak semua orang memiliki kesempatan untuk diperdamaikan dengan Allah dalam harmonisasi hubungan yang eksklusif antara Allah sebagai Bapa dan kita, orang percaya, sebagai anak, sesuai dengan rancangan Allah semula.

Inilah yang dimaksud dalam doa yang diucapkan Tuhan Yesus dalam Yohanes 17:20–21, “Dan bukan untuk mereka ini saja Aku berdoa, tetapi juga untuk orang-orang yang percaya kepada-Ku oleh pemberitaan mereka; supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku.” Kita dapat berada di dalam persekutuan dengan Bapa. Dalam pendamaian itu, orang percaya dapat tinggal di dalam Bapa. Ini sungguh luar biasa. Sesungguhnya, inilah yang dimaksud Tuhan Yesus dalam pernyataan-Nya, “Tidak seorang pun sampai kepada Bapa, kecuali melalui Aku.” Ungkapan “sampai kepada Bapa” dalam bahasa aslinya adalah erchomai (Yun. ἔρχομαι), yang berarti to come into or unto, datang untuk masuk. Banyak orang Kristen memahami pernyataan ini hanya sebatas bahwa di luar Yesus tidak ada keselamatan. Itu benar. Namun, ayat ini bukan sekadar menunjuk bahwa di luar Kristus tidak ada keselamatan, melainkan menunjuk kepada hubungan yang eksklusif.

Tuhan Yesus memberkati

REKONSILIASI SEJATI HANYA DAPAT TERWUJUD JIKA ORANG PERCAYA MEMILIKI KEKUDUSAN SEPERTI KEKUDUSAN ALLAH.

Card image
KIDS DAILY DEVOTIONAL 02 Maret 2026 - GEMBALA YANG MENJAGA AKU
2026-03-03 20:12:04


Mazmur 23:4
“Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku.”

Halo, Rehobot Kids! Setiap anak pasti pernah mengalami hari yang sulit. Kadang kita merasa sedih, takut, atau bingung harus berbuat apa. Ada saatnya kita dimarahi orang tua, bertengkar dengan teman, atau merasa tidak berani mencoba hal yang baru. Tapi ingat ya, saat hari terasa berat, Tuhan tidak pernah meninggalkan kita.

Alkitab menggambarkan Tuhan seperti Gembala yang baik. Seorang gembala selalu berjalan bersama domba-dombanya. Saat jalannya gelap atau berbatu, gembala tetap menemani supaya dombanya tidak tersesat atau jatuh. Begitu juga Tuhan dengan kita. Saat hidup terasa menakutkan, Tuhan ada dekat kita dan menjaga setiap langkah kita.

Walaupun kadang kita masih merasa takut, hati kita bisa tetap tenang karena tahu Tuhan sedang menyertai. Seperti domba yang merasa aman karena ada gembalanya, kita pun aman karena Tuhan setia dan penuh kasih menjaga kita setiap hari.

Firman Tuhan dalam Mazmur 23:4 mengingatkan kita bahwa kita tidak perlu takut, karena Tuhan selalu bersama kita. Jadi saat kamu merasa sedih atau takut, ingatlah: Tuhan adalah Gembalamu. Dia menuntunmu, melindungimu, dan tidak pernah melepaskan tanganmu.

Yuk, Rehobot Kids, belajar percaya kepada Tuhan setiap hari. Bersama Tuhan, kita selalu aman karena Dia menjaga kita dengan kasih-Nya.

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 02 Maret 2026 - EMPATHY OVER JUDGEMENT
2026-03-03 12:53:24


“Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita, dan menangislah dengan orang yang menangis.”
Roma 12:15

Sering kali kita menilai seseorang hanya dari apa yang terlihat di luar: cara bicara, sikap, penampilan, atau respons yang sekilas tampak “aneh”. Tanpa sadar, kita cepat memberi label. Padahal, don’t judge a book by its cover. Apa yang kita lihat di permukaan hampir tidak pernah menjadi keseluruhan cerita hidup seseorang.

Orang yang pendiam belum tentu sombong. Mereka yang terlihat cuek bisa saja sedang berjuang dengan luka batin. Seseorang yang mudah marah mungkin sedang kelelahan secara emosional. Ketika kita terlalu cepat menghakimi, kita justru menutup mata terhadap pergumulan yang sebenarnya sedang mereka alami.

Firman Tuhan hari ini mengajak kita untuk mengganti penghakiman dengan empati. Roma 12:15 mengingatkan bahwa kasih sejati tidak berdiri dari kejauhan sambil menilai, tetapi berani mendekat dan ikut merasakan. Bersukacita dengan yang bersukacita, dan menangis dengan yang menangis—itulah empati yang nyata.

Empati menolong kita berhenti melihat orang hanya dari “cover”-nya, lalu mulai peduli pada isi hati mereka. Inilah sikap yang mencerminkan hati Kristus Yesus: Dia tidak datang untuk menghakimi, melainkan hadir, memahami, dan memulihkan dari dalam.

WHAT TO DO?
1. Saat tergoda untuk menghakimi seseorang, ingatkan diri sendiri: don’t judge by the cover.
2. Latih dirimu untuk mendengar lebih banyak daripada berbicara, terutama kepada mereka yang terlihat terluka atau terabaikan.
3. Tunjukkan empati hari ini melalui satu tindakan sederhana: hadir, mendengar, atau memberi dukungan tanpa menghakimi.

BIBLE MARATHON:
Yohanes 21

Card image
Renungan Pagi - 02 Maret 2026
2026-03-03 12:51:10


Banyak kegagalan dan kehancuran yang terjadi dalam hidup ini, penyebabnya karena gagal untuk menahan diri, asal saja kita mau belajar untuk menahan diri didalam banyak hal, maka akan melihat begitu banyak berkat dan sukacita menyertai langkah hidup kita.

Oleh karena itu, kita harus menahan diri dari segala pikiran-pikiran negatif, harus menahan diri untuk tidak membalas yang jahat dengan yang jahat, harus menahan diri dari segala tawaran-tawaran dunia, harus menahan diri untuk tidak bersungut-sungut.

Card image
Quote Of The Day - 02 Maret 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-03-03 12:50:11


Berkat jasmani banyak atau sedikit dipengaruhi oleh ketekunan seseorang bekerja. Juga tergantung kepercayaan Tuhan kepada masing-masing orang percaya berdasarkan kebutuhan.

Card image
Mutiara Suara Kebenaran - 02 Maret 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-03-03 12:47:56


Kecantikan sejati mendorong seseorang untuk menyenangkan hati Tuhan. Orang yang mengejar kecantikan sejati tidak sibuk mengesankan orang lain, tetapi sibuk membenahi batinnya di hadapan Allah.

Card image
MAKING A CHANGE - 02 Maret 2026 (English Version)
2026-03-02 23:05:39


The redemption accomplished by the Lord Jesus—the work of God’s salvation in Jesus Christ—must be received by faith. And faith is not merely acknowledging Jesus’ status as Lord and Savior. Faith is not only an activity of reason or thought, but an action. Because of this misunderstanding, de facto, many Christians have not truly been saved or genuinely reconciled with God. That is why Paul says, “Be reconciled.” If Paul says this, it means there must be effort on the human side to create that reconciliation.

To understand this, we must first grasp what is meant by “being reconciled.” What does it mean? Reconciliation means peace with God. Reconciliation is an act of restoring a relationship that has been broken, damaged, or fractured between two parties so that it may be reestablished as it was originally or according to the purpose for which the relationship existed. This aligns with the meaning of salvation: God’s work in restoring humanity to His original design. The purpose of restoring humanity to God’s original design is to enable humans to be in a condition that can restore their relationship with God. The one at fault is not God, but humanity. And humanity is unable to carry out reconciliation or make peace.

Praise be to God, salvation is God’s initiative. He sent His only Son, the Lord Jesus. However, this does not automatically trigger reconciliation. The coming of the Lord Jesus allows us to be regarded as righteous first, even though we are not yet truly righteous, and then to be brought before the Father in heaven. For the relationship to be truly restored, humanity, which has betrayed God, must change. In reconciliation with God, the one who must change is humanity, because it is humanity that has lost God’s glory.* God has not lost His glory; humanity has. That is why, in the process of salvation, believers must truly know the nature of God and strive with all their effort to partake in His nature (2 Peter 1:3–4).

That is why, in 2 Corinthians 5:9–10, Paul says, “So we make it our aim, whether at home in the body or away from it, to be pleasing to Him. For we must all appear before the judgment seat of Christ, so that each one may receive what is due for what he has done in the body, whether good or evil.” Why must we please Him? Is it to be saved? Certainly not. Salvation is God’s initiative. God provides the way of salvation—“not by your own efforts” (Ephesians 2:8–9)—but through faith. Faith is the response to God’s saving work.

If Christians are “parked” in the understanding, “you have already been reconciled, you are already saved,” and then, in the church liturgy we follow and in the songs we sing, we praise and worship God, glorifying Him for the salvation He has given, so that reconciliation is considered to have already taken place, this is not wrong. However, the question is: have we become people who possess the potential for a harmonious relationship with God? For this to happen, our nature must change. This is the essence of the Christian life journey. We, as believers, must change ourselves so that we can correspond with God in true reconciliation.

Simply put, when we are hostile toward someone, we may fight, quarrel, argue, or clash with them, and then be reconciled so that we can have a relationship as before, or according to the purpose for which the relationship was established. This means that the relationship must continue to be maintained. It is not like people who fight on the street are reconciled and then go their separate ways. With God, we must continually have fellowship as children, and God is our Father. Reconciliation can only occur with change.

The Lord Jesus bless you

IN RECONCILIATION WITH GOD, THE ONE WHO MUST CHANGE IS HUMANITY, BECAUSE IT IS HUMANITY THAT HAS LOST GOD'S GLORY.

Card image
MELAKUKAN PERUBAHAN - 02 Maret 2026
2026-03-02 22:45:34


Penebusan yang dilakukan Tuhan Yesus—karya keselamatan Allah di dalam Yesus Kristus—harus diterima dengan iman. Dan iman itu tidak sama dengan sekadar pengakuan status Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat. Iman bukan hanya aktivitas nalar atau pikiran, melainkan tindakan. Oleh karena kesalahan pengertian tersebut, secara de facto atau kenyataannya, banyak orang Kristen yang sebenarnya belum diselamatkan atau belum benar-benar diperdamaikan dengan Allah. Itulah sebabnya Paulus mengatakan, “Berilah dirimu didamaikan.” Kalau sampai Paulus mengatakan demikian, berarti harus ada usaha dari pihak manusia untuk menciptakan atau membangun perdamaian tersebut.

Untuk memahami hal ini, kita harus terlebih dahulu mengerti apa yang dimaksud dengan “diperdamaikan.” Apa artinya? Perdamaian berarti rekonsiliasi dengan Allah. Rekonsiliasi adalah tindakan untuk memulihkan hubungan yang sudah putus, rusak, atau retak dari dua pihak agar terjalin kembali seperti semula atau sesuai dengan maksud hubungan itu diadakan. Hal ini selaras dengan pengertian keselamatan, yaitu usaha Allah dalam proses mengembalikan manusia ke dalam rancangan Allah semula. Maksud dikembalikannya manusia ke rancangan Allah semula adalah supaya manusia berada dalam keadaan yang memungkinkan, atau berpotensi, memulihkan hubungan dengan Allah. Yang salah bukan Allah, melainkan manusia. Dan manusia berada dalam keadaan tidak mampu melakukan rekonsiliasi atau berdamai.

Puji Tuhan, keselamatan merupakan inisiatif dari pihak Allah. Ia mengutus Putra Tunggal-Nya, Tuhan Yesus. Namun, hal itu tidak serta-merta membuat pendamaian atau rekonsiliasi tersebut terjadi secara otomatis. Kedatangan Tuhan Yesus membuat kita dianggap benar terlebih dahulu, walaupun kita belum benar, lalu dibawa kepada Bapa di surga. Agar hubungan itu benar-benar pulih, manusia yang telah berkhianat harus mengubah diri. Dalam rekonsiliasi dengan Allah, yang harus melakukan perubahan adalah manusia, karena manusialah yang telah kehilangan kemuliaan Allah. Allah tidak kehilangan kemuliaan-Nya; manusialah yang kehilangan kemuliaan-Nya. Itulah sebabnya, dalam proses keselamatan, orang percaya harus mengenal hakikat Allah dengan benar dan harus berusaha dengan segala perjuangan untuk memiliki kodrat-Nya (2Ptr. 1:3–4).

Itulah sebabnya, dalam 2 Korintus 5:9–10, Paulus mengatakan, “Sebab itu juga kami berusaha, baik kami diam di dalam tubuh ini maupun kami diam di luarnya, supaya kami berkenan kepada-Nya. Sebab kita semua harus menghadap takhta pengadilan Kristus, supaya setiap orang memperoleh apa yang patut diterimanya, sesuai dengan yang dilakukannya dalam hidupnya ini, baik ataupun jahat.” Mengapa harus berkenan? Apakah supaya bisa diselamatkan? Tentu tidak. Keselamatan adalah inisiatif Allah. Allah menyediakan jalan keselamatan—“bukan hasil usahamu” (Ef. 2:8–9)—melainkan karena iman. Iman adalah respons terhadap karya keselamatan Allah tersebut.

Jika orang-orang Kristen “diparkir” dengan pengertian, “kamu sudah didamaikan, kamu sudah selamat,” lalu dalam liturgi gereja yang kita ikuti dan lagu-lagu yang kita nyanyikan kita memuji dan menyembah Allah, mengagungkan Dia karena keselamatan yang telah Dia berikan sehingga pendamaian dianggap telah terjadi, hal itu tidak salah. Namun, pertanyaannya adalah: apakah kita sudah menjadi manusia yang memiliki potensi hubungan yang harmonis dengan Allah? Sebab untuk itu, kodrat kita harus berubah. Itulah isi dari perjalanan hidup orang Kristen. Kita, orang percaya, harus mengubah diri agar dapat mengimbangi Allah dalam sebuah rekonsiliasi.

Sederhananya, kita bermusuhan dengan seseorang sehingga kita berkelahi, berkonflik, ribut, atau berantem dengannya, lalu didamaikan agar memiliki hubungan seperti semula, atau sesuai dengan maksud tujuan hubungan itu diadakan. Itu berarti hubungan tersebut harus terus dipelihara. Tidak seperti orang yang berkelahi di jalan, setelah didamaikan lalu berpisah. Dengan Allah, kita harus terus bersekutu sebagai anak, dan Allah adalah Bapa kita. Rekonsiliasi hanya dapat terjadi jika ada perubahan.

Tuhan Yesus memberkati

ORANG PERCAYA, HARUS MENGUBAH DIRI AGAR DAPAT MENGIMBANGI ALLAH DALAM SEBUAH REKONSILIASI.

Card image
KIDS DAILY DEVOTIONAL 01 Maret 2026 - SELALU BERSAMA-MU, TUHAN
2026-03-02 19:51:21


Ulangan 31:6
“Kuatkan dan teguhkanlah hatimu, janganlah takut dan jangan gemetar karena mereka, sebab Tuhan , Allahmu, Dialah yang berjalan menyertai engkau; Ia tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau.”

Halo, Rehobot Kids! Pernah nggak kamu merasa takut? Mungkin takut gelap, takut tidur sendiri, takut pergi ke tempat baru, takut hari pertama sekolah, atau takut tampil sendirian tanpa ditemani orang tua. Rehobot Kids, merasa takut itu wajar, loh. Semua anak pasti pernah mengalaminya. Tapi tahukah kamu? Tuhan tidak pernah meninggalkan kita, bahkan saat kita sedang sangat takut.

Coba bayangkan kamu berjalan di tempat yang gelap. Kalau ada ayah, ibu, atau kakak yang menggandeng tanganmu, pasti kamu merasa lebih berani, kan? Walaupun jalannya gelap, kamu tahu kamu tidak sendirian. Begitu juga dengan Tuhan. Walaupun kita tidak bisa melihat Tuhan dengan mata, Tuhan selalu ada dan berjalan bersama kita ke mana pun kita pergi.

Firman Tuhan dalam Ulangan 31:6 mengingatkan kita bahwa Tuhan setia dan selalu menyertai kita. Saat kamu merasa takut atau sendirian, ingatlah bahwa Tuhan ada di dekatmu. Kamu bisa berdoa dengan sederhana, “Tuhan, aku sedang takut, tapi aku percaya Engkau bersamaku. Tolong aku supaya aku merasa aman dan berani.”

Yuk, Rehobot Kids, kita belajar percaya kepada Tuhan setiap hari. Bersama Tuhan, kita tidak perlu takut. Tuhan selalu menjaga, menguatkan, dan mengasihi kita dengan setia.

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 01 Maret 2026 (English Version) - EMPATHY OVER JUDGEMENT
2026-03-02 19:41:33


“Rejoice with those who rejoice; mourn with those who mourn.”
Romans 12:15

We often judge people based only on what we see on the surface: the way they speak, their attitude, appearance, or responses that may seem “odd” at first glance. Without realizing it, we are quick to label others. But remember—don’t judge a book by its cover. What we see on the surface is almost never the full story of someone’s life.

Quiet people are not necessarily arrogant. Those who appear indifferent may be carrying deep emotional wounds. Someone who gets angry easily might be emotionally exhausted. When we are too quick to judge, we actually blind ourselves to the real struggles they may be facing.

Today’s Scripture invites us to replace judgment with empathy. Romans 12:15 reminds us that true love does not stand at a distance and evaluate, but dares to draw near and feel alongside others. Rejoicing with those who rejoice and weeping with those who weep—that is genuine empathy.

Empathy helps us stop seeing people only by their “cover” and begin to care about what is in their hearts. This is the attitude that reflects the heart of Christ Jesus: He did not come to judge, but to be present, to understand, and to restore from within.

WHAT TO DO?
1. When you feel tempted to judge someone, remind yourself: don’t judge by the cover.
2. Train yourself to listen more than you speak, especially to those who seem hurt or overlooked.
3. Show empathy today through one simple act: be present, listen, or offer support without judgment.

BIBLE MARATHON:
John 21

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 01 Maret 2026 - EMPATHY OVER JUDGEMENT
2026-03-02 19:39:40


“Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita, dan menangislah dengan orang yang menangis.”
Roma 12:15

Sering kali kita menilai seseorang hanya dari apa yang terlihat di luar: cara bicara, sikap, penampilan, atau respons yang sekilas tampak “aneh”. Tanpa sadar, kita cepat memberi label. Padahal, don’t judge a book by its cover. Apa yang kita lihat di permukaan hampir tidak pernah menjadi keseluruhan cerita hidup seseorang.

Orang yang pendiam belum tentu sombong. Mereka yang terlihat cuek bisa saja sedang berjuang dengan luka batin. Seseorang yang mudah marah mungkin sedang kelelahan secara emosional. Ketika kita terlalu cepat menghakimi, kita justru menutup mata terhadap pergumulan yang sebenarnya sedang mereka alami.

Firman Tuhan hari ini mengajak kita untuk mengganti penghakiman dengan empati. Roma 12:15 mengingatkan bahwa kasih sejati tidak berdiri dari kejauhan sambil menilai, tetapi berani mendekat dan ikut merasakan. Bersukacita dengan yang bersukacita, dan menangis dengan yang menangis—itulah empati yang nyata.

Empati menolong kita berhenti melihat orang hanya dari “cover”-nya, lalu mulai peduli pada isi hati mereka. Inilah sikap yang mencerminkan hati Kristus Yesus: Dia tidak datang untuk menghakimi, melainkan hadir, memahami, dan memulihkan dari dalam.

WHAT TO DO?
1. Saat tergoda untuk menghakimi seseorang, ingatkan diri sendiri: don’t judge by the cover.
2. Latih dirimu untuk mendengar lebih banyak daripada berbicara, terutama kepada mereka yang terlihat terluka atau terabaikan.
3. Tunjukkan empati hari ini melalui satu tindakan sederhana: hadir, mendengar, atau memberi dukungan tanpa menghakimi.

BIBLE MARATHON:
Yohanes 21

Card image
Renungan Pagi - 01 Maret 2026
2026-03-02 19:37:44


Dalam hidup ini kita boleh bicara tentang Tuhan, bersaksi tentang mukjizat Tuhan yang kita alami, tetapi kalau tidak pernah jujur, justru nama Yesus yang dipermalukan.

Itulah sebabnya, kita harus berhati-hati terhadap hal kebohongan dan kemunafikan karena kita akan diremehkan, direndahkan dan dilecehkan orang.

Tetapi kalau hidup dengan kejujuran, maka hidup kita pasti akan menjadi kesaksian bagi banyak orang dan nama Tuhan dipermuliakan.

Card image
Quote Of The Day - 01 Maret 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-03-01 13:10:06


Banyak hal dalam hidup ini yang harus diselesaikan dengan upaya, tenaga dan kerja keras kita sendiri, inilah yang disebut dengan tanggung jawab.

Card image
Mutiara Suara Kebenaran - 01 Maret 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-03-01 13:08:39


Mengikut Tuhan selalu menuntut keputusan. Orang yang dewasa rohani tidak menunggu didorong keadaan. Ia memilih dengan sadar untuk berdiri di pihak Tuhan, apa pun risikonya.

Card image
NO EFFORT - 01 Maret 2026 (English Version)
2026-03-01 13:06:46


Romans 5:10
“For if, while we were enemies, we were reconciled to God through the death of His Son, much more, having been reconciled, we shall be saved by His life!”

This verse shows that when we had not yet known Jesus, had not yet repented, or, like Paul, who previously persecuted Christians, we were all reconciled to God through the death of His Son, our Lord Jesus Christ. This demonstrates that Jesus died for all people, not only for some. The Bible clearly states, “For if, while we were enemies, we were reconciled to God through the death of His Son.” The one who spoke or wrote this was the Apostle Paul, who, before his repentance, was named Saul and persecuted Christians.

This is in line with what is stated in 2 Corinthians 5:19–20: “That is, God was reconciling the world to Himself in Christ, not counting their trespasses against them. And He has committed to us the message of reconciliation. Therefore, we are ambassadors for Christ, as though God were making His appeal through us. We implore you on Christ’s behalf: be reconciled to God.” All nations must know this. Therefore, Paul says that he and those who are called, as he was, have been entrusted with the responsibility to proclaim this message. Paul and those called to preach the gospel are ambassadors for Christ.

Furthermore, Paul firmly urges believers—in the name of Christ, in the name of the Lord—those who already believe, namely the chosen people, “Be reconciled.” The words “reconciled” or “be reconciled” in these verses all use the same term, katallassō (Greek: Καταλλάσσω), which in almost all English Bible translations is rendered as reconcile. In the verses above, we are clearly shown that there are two aspects, or two parties, in this reconciliation.

The first is from God’s side, the second from the human side. First, when we were still enemies, unrepentant, and perhaps did not yet know Jesus—like Paul, once called Saul, still persecuting believers—we were reconciled to God through Jesus’s death. Second, our own responsibility is involved. When 2 Corinthians 5:19 says, “Be reconciled to God,” it means we must allow ourselves to be reconciled to God. Yet many Christians today do not understand this responsibility.

Many Christians feel they have already been reconciled to God, so they make little effort to live out their Christian life. They believe that Jesus is the Savior who died on the cross, bore human sin, and became the mediator between God and humanity. Those who feel they have believed in this work of salvation then assume that they are already in a state of reconciliation with God. Yet, in fact, although Jesus does bring peace, many Christians have not yet allowed themselves to be reconciled to God. This is what is meant by the absence of believers’ effort to build that reconciliation. As a result, they feel that their lives are already at peace with God.

Consider, for example, during Christmas, all Christians say that Jesus has come and that His coming saves humanity. Everyone gives thanks, rejoices in a festive atmosphere, and celebrates the coming Savior, as if all who celebrate already possess salvation. Yet in reality, many have not yet allowed themselves to be saved. Many Christians believe salvation is automatic when a person acknowledges Jesus as Savior. This is the same as feeling at peace with God simply by acknowledging Jesus as the means of reconciliation between God and humanity. Theological doctrine has shaped this idea so that congregations equate acknowledging Jesus as the means of reconciliation with already being at peace with God.

This shows that Christians often see only one aspect of salvation, namely the passive aspect of reconciliation—the idea that God has reconciled Himself to us when we were still enemies and opposed to Him. They see only one aspect, whereas another accompanies it: “be reconciled.” Essentially, this is the same understanding as, “Jesus died on the cross to redeem human sin, and if someone confesses that Jesus is the Redeemer, then automatically their sins are forgiven, and they already possess salvation.”

The Lord Jesus bless you

MANY CHRISTIANS FEEL THEY HAVE ALREADY BEEN RECONCILED TO GOD, SO THEY MAKE LITTLE EFFORT TO LIVE OUT THEIR CHRISTIAN LIFE.

Card image
TIDAK ADA USAHA - 01 Maret 2026
2026-03-01 12:57:36


Roma 5:10
“Sebab jikalau kita, ketika masih seteru, diperdamaikan dengan Allah oleh kematian Anak-Nya, lebih-lebih kita, yang sekarang telah diperdamaikan, pasti akan diselamatkan oleh hidup-Nya!”

Ayat ini menunjukkan bahwa ketika kita belum mengenal Yesus, belum bertobat, atau seperti Paulus yang dahulu masih menganiaya orang-orang Kristen, kita semua telah diperdamaikan dengan Allah oleh kematian Anak-Nya, Tuhan kita Yesus Kristus. Hal ini menunjukkan bahwa Yesus mati untuk semua orang, bukan hanya untuk sebagian orang. Alkitab dengan jelas mengatakan, “Sebab jikalau kita, ketika masih seteru, diperdamaikan dengan Allah oleh kematian Anak-Nya.” Yang mengucapkan atau menuliskan hal ini adalah Rasul Paulus, yang sebelum bertobat bernama Saulus, seorang penganiaya orang-orang Kristen.

Hal ini senada dengan yang dikatakan dalam 2 Korintus 5:19–20, “Sebab Allah mendamaikan dunia dengan diri-Nya oleh Kristus dengan tidak memperhitungkan pelanggaran mereka. Ia telah mempercayakan berita pendamaian itu kepada kami. Jadi kami ini adalah utusan-utusan Kristus, seakan-akan Allah menasihati kamu dengan perantaraan kami; dalam nama Kristus kami meminta kepadamu: berilah dirimu didamaikan dengan Allah.” Hal ini harus diketahui oleh semua bangsa. Oleh karena itu, Paulus mengatakan bahwa dirinya dan orang-orang yang dipanggil seperti dirinya mendapat kepercayaan untuk menyampaikan berita tersebut. Paulus dan orang-orang yang terpanggil untuk memberitakan Injil adalah utusan-utusan Kristus. Selanjutnya, dengan tegas Paulus, dalam nama Kristus—dalam nama Tuhan—menasihati orang-orang yang sudah percaya—yang dimaksud adalah umat pilihan—“Berilah dirimu didamaikan.” Kata “diperdamaikan” atau “didamaikan” dalam ayat-ayat ini semuanya menggunakan satu kata, yaitu katallassō (Yun. Καταλλάσσω), yang dalam hampir semua terjemahan Alkitab bahasa Inggris diterjemahkan reconcile. Dalam ayat-ayat di atas, dengan jelas ditunjukkan kepada kita adanya dua aspek, atau dapat dikatakan dua pihak, dalam pendamaian itu.

Yang pertama adalah dari pihak Allah, dan yang kedua dari pihak manusia. Pertama, ketika kita masih seteru, belum bertobat, dan mungkin belum mengenal Yesus—seperti Paulus yang dahulu bernama Saulus dan masih menganiaya orang-orang percaya—kita diperdamaikan dengan Allah oleh kematian Yesus. Yang kedua adalah dari aspek atau pihak kita. Ketika firman Tuhan dalam 2 Korintus 5:20 mengatakan, “Berilah dirimu didamaikan dengan Allah,” berarti ada tanggung jawab dari pihak kita untuk memberi diri didamaikan dengan Allah. Namun, kenyataan yang kita saksikan dalam kehidupan banyak orang Kristen hari ini, mereka tidak mengerti adanya tanggung jawab ini.

Banyak orang Kristen merasa sudah diperdamaikan dengan Allah sehingga tidak ada usaha yang berarti dalam mengisi hidup kekristenannya. Mereka percaya bahwa Yesus adalah Juru Selamat yang mati di kayu salib, mengangkut dosa manusia, dan menjadi pendamai antara Allah dan manusia. Mereka yang merasa sudah memercayai karya keselamatan tersebut lalu merasa sudah berada dalam keadaan diperdamaikan dengan Allah. Padahal, faktanya memang Yesus membawa perdamaian, tetapi banyak orang Kristen belum memberi dirinya didamaikan dengan Allah. Inilah yang dimaksud dengan tidak adanya usaha dari pihak orang percaya untuk membangun perdamaian itu. Akibatnya, mereka merasa bahwa hidupnya memang sudah berdamai dengan Allah.

Perhatikan, pada waktu Natal, semua orang Kristen mengatakan bahwa Yesus telah datang dan kedatangan-Nya menyelamatkan manusia. Semua mengucap syukur, euforia dalam suasana sukacita, merayakan Juru Selamat yang datang, dan terkesan bahwa semua yang merayakan telah memiliki keselamatan. Padahal, faktanya banyak dari mereka belum memberi diri diselamatkan. Banyak orang Kristen berpikir bahwa keselamatan diterima secara otomatis ketika seseorang mengakui bahwa Yesus adalah Juru Selamat. Ini sama dengan merasa sudah berdamai dengan Allah karena mengakui Yesus sebagai sarana pendamaian antara Allah dan manusia. Doktrin teologi memformat hal tersebut, lalu jemaat pun terformat dalam pikirannya bahwa mengakui Yesus sebagai sarana pendamaian Allah dan manusia berarti sudah berada dalam keadaan berdamai dengan Allah.

Hal ini menunjukkan bahwa orang-orang Kristen hanya melihat satu aspek keselamatan, yaitu satu aspek dari pendamaian, yakni aspek pasif: bahwa Allah telah mendamaikan diri-Nya dengan kita pada waktu kita masih berseteru dan berkeadaan memusuhi Allah. Mereka hanya melihat satu aspek, padahal masih ada aspek lain yang menyertainya, yaitu, “berilah dirimu didamaikan.” Ini pada hakikatnya sama dengan pemahaman, “Yesus mati di kayu salib menebus dosa manusia, lalu jika seseorang mengaku bahwa Yesus adalah Penebus dosa, otomatis dosanya sudah ditebus dan ia sudah memiliki keselamatan.”

Tuhan Yesus memberkati

BANYAK ORANG KRISTEN MERASA SUDAH DIPERDAMAIKAN DENGAN ALLAH SEHINGGA TIDAK ADA USAHA YANG BERARTI DALAM MENGISI HIDUP KEKRISTENANNYA.

Card image
KIDS DAILY DEVOTIONAL 28 Februari 2026 - PILIHAN PAGI TAMAPILIHAN PAGI TAMA
2026-02-28 23:28:41


Mazmur 112:5
“Mujur orang yang menaruh belas kasihan dan yang memberi pinjaman, yang melakukan urusannya dengan sewajarnya.”

Suatu pagi dalam perjalanan ke sekolah, Tama melihat seorang teman berjalan sendirian dengan wajah murung. Ia sempat ragu untuk menyapa dan memilih diam saja. Namun Tama teringat bahwa setiap hari Tuhan memberi kesempatan baru untuk melakukan kebaikan, sekecil apa pun.

Akhirnya Tama berjalan di samping temannya dan menyapa dengan sederhana, “Pagi.” Ia tidak bertanya banyak, hanya menemani. Sepanjang jalan, temannya mulai tersenyum dan merasa tidak sendirian lagi.

Sesampainya di sekolah, temannya berkata, “Makasih ya, aku tadi sebenarnya sedang sedih.” Tama terkejut, karena ia merasa hanya melakukan hal kecil. Tapi hari itu Tama belajar bahwa perhatian sederhana bisa membawa penghiburan besar.

Mazmur 112:5 mengajarkan bahwa Tuhan memberkati orang yang berhati lembut dan penuh belas kasihan. Tuhan bisa memakai sapaan, kehadiran, dan sikap peduli untuk menolong orang lain.

Rehobot Kids, mari mulai hari dengan hati yang penuh kasih. Sapaan kecil dan perhatian sederhana bisa menjadi berkat besar bagi orang lain—dan membuat hati Tuhan bersukacita.

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 28 Februari 2026 (English Version) -
2026-02-28 22:59:10


“A generous person will prosper; whoever refreshes others will be refreshed.”
Proverbs 11:25

The Dead Sea is known as one of the most unique places in the world. Its water is extremely salty, making it nearly impossible for life to survive there. One simple reason explains this: the Dead Sea only receives water—it does not flow out. Everything comes in, but nothing goes out.

Unknowingly, our lives can resemble the Dead Sea. We receive so many blessings—God’s love, forgiveness, spiritual growth, and even a good community—but we stop at ourselves. When blessings are kept and not shared, our lives gradually lose their impact.

God calls us not only to be blessed, but to be a blessing. This means that what we receive from Him should flow to others through our attitudes, words, actions, and tangible love. When our lives become channels, God entrusts even more to us.

WHAT TO DO?
1. Reflect on the blessings God has already given in your life.
2. Ask yourself: have these blessings flowed to others?
3. Take one simple action today to be a blessing to someone else.

BIBLE MARATHON:
John 20

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 28 Februari 2026 - LAUT MATI
2026-02-28 22:57:04


“Siapa banyak memberi berkat, diberi kelimpahan, siapa memberi minum, ia sendiri akan diberi minum”.
Amsal 11:25

Laut Mati dikenal sebagai salah satu tempat paling unik di dunia. Airnya sangat asin, sampai hampir tidak ada kehidupan yang bisa bertahan di sana. Salah satu alasannya sederhana: Laut Mati hanya menerima aliran air, tetapi tidak mengalirkannya kembali. Semua masuk, tidak ada yang keluar.

Tanpa sadar, hidup kita pun bisa menyerupai Laut Mati. Kita menerima begitu banyak berkat, kasih Tuhan, pengampunan, pertumbuhan rohani, bahkan komunitas yang baik tetapi berhenti sampai di diri sendiri. Ketika berkat hanya disimpan, bukan dibagikan, hidup kita perlahan kehilangan dampak.

Tuhan memanggil kita bukan hanya untuk diberkati, tetapi menjadi berkat. Artinya apa yang kita terima dari Tuhan seharusnya mengalir ke orang lain melalui sikap, perkataan, tindakan, dan kasih yang nyata. Ketika hidup kita menjadi saluran, Tuhan terus mempercayakan lebih banyak lagi

WHAT TO DO?
1. Renungkan berkat apa yang Tuhan sudah berikan dalam hidupmu.
2. Tanyakan pada diri sendiri: apakah berkat itu sudah mengalir ke orang lain?
3. Lakukan satu tindakan sederhana hari ini untuk menjadi berkat bagi sesama.

BIBLE MARATHON:
Yohanes 20

Card image
Renungan Pagi - 28 Februari 2026
2026-02-28 22:55:44


Orang yang tidak memiliki hubungan dekat dan intim dengan Tuhan akan sulit mengakui kesalahannya, kesalahan bukanlah kejahatan.

Karena itu jika berbuat salah, akui dengan jujur, karena setiap kita bisa salah, bisa lupa, tapi tetaplah belajar mengakui kesalahan.

Jalinlah keintiman dengan Tuhan agar Roh Kudus senantiasa hadir dalam hidup kita dan mintalah kepada Roh Kudus untuk memberikan hati yang lembut, karena hanya orang yang lembut hati yang bisa mengakui kesalahannya.

Card image
Quote Of The Day - 28 Februari 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-02-28 22:53:32


Respons seseorang dalam panggilan Tuhan menunjukkan kualitas cintanya kepada Tuhan. 

Card image
Mutiara Suara Kebenaran - 28 Februari 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-02-28 22:51:46


Berjalan seiring dengan Tuhan juga berarti peka terhadap pimpinan Roh Kudus. Hidup seperti ini memang tidak selalu mudah, tetapi selalu benar. Dan kebenaran selalu membawa damai, sekalipun harus melalui salib.

Card image
HURTING ONESELF - 28 Februari 2026 (English Version)
2026-02-28 22:44:18


Human beings often live as though they already possess everything. This attitude appears normal and is even regarded as a sign of maturity and independence. Yet in truth, living this way is the most subtle denial of the most basic truth: we exist because we were created. There is a God who created life, and He has a will and a plan for every human being. The question is not whether we know this, but whether we truly live within that reality.

We should be grateful that we live in a place and a time where the gospel can still be proclaimed freely. The opportunity to change is still open. Therefore, while the door of grace has not yet closed, human beings are called to make a serious decision: to choose God, to understand His will, and to do His will. This choice does not stop at a confession of faith, but demands full attention to the steps of daily life—the words we speak, our attitude toward our spouse, children, and parents, the way we treat time, money, and every aspect of life.

Life itself is actually God’s domain. Human beings are not owners, but stewards. Therefore, life must be surrendered back to the One who owns it. In this reality, people are often confronted with difficult choices. Opportunities to follow sin are always present, but obedience demands self-denial, and this feels like hurting oneself. Holding back anger when one wants to vent it, choosing silence when one wants to retaliate, refusing momentary pleasure for the sake of truth—this is what is called the death of the flesh. It is not a reckless act, but a conscious decision to live under God’s control and will.

God Himself has set a high standard for life: perfection. Rejecting this calling is not merely rejecting a teaching, but rejecting God Himself. Many people consider this demand unreasonable and too heavy. Indeed, it is not easy. The stake is not merely comfort in life, but one’s entire existence. Yet in the midst of that struggle, when a person begins to set aside time to meet with God, an inner space truly opens—a space where God speaks gently yet firmly.

As life undergoes a process of cleansing, a person’s spiritual sensitivity increases, so that God’s voice becomes clearer, until the heart is filled with holy reverence. At that moment, a person may arrive at the deepest confession: the old life has ended, the actual harbor has been found, and happiness is no longer sought outside of God. From this point on, a changed life is no longer an optional choice but a necessity. Holiness demands real struggle, not compromise.

The apostle Peter affirms this in his letter. He writes that warnings are given to stir up sincere understanding, so that believers may remember the words spoken by the prophets and the commandment of the Lord delivered through the apostles (2 Pet. 3:1–2). Warnings often sound uncomfortable: do not be angry, do not live carelessly, repent. Yet later, people will realize that those very warnings were what saved them. Eternity is an overwhelming reality, and ignoring it means risking everything.

Sadly, spiritual warnings are often misunderstood. There is a stigma that servants of God merely frighten people with hell for personal interests. This view is not only wrong but also dangerous because it dulls the heart to truth. Spiritual disease is far more deadly than physical illness. Those lying in a hospital bed still have hope of recovery, but a soul that falls into eternal destruction knows only weeping and gnashing of teeth.

Peter again warns that in the last days scoffers will come, living according to their own desires. They question the promise of the Lord’s coming and live as though everything will continue as it has from the beginning (2 Pet. 3:3–5). Ironically, they are not people who do not know God, but those who claim to believe that God is the Creator of heaven and earth. Their confession of faith does not align with their way of life. Through careless living, they mock God—not with words, but with deeds.

History bears witness that God’s judgment is not a myth. The world that was once destroyed by the flood is now being preserved for the coming judgment (2 Pet. 3:6–7). This reality leaves one unavoidable conclusion: life cannot be lived carelessly. There is a living God, and one day every human being will stand before Him.

This awareness should move people to repentance. Repentance is not merely out of fear, but out of an understanding of truth. Ignoring this call means harming oneself—not only in this present life, but also in eternity. Living rightly before God is not a burden, but the only path.

Lord Jesus bless you
OPPORTUNITIES TO FOLLOW SIN ARE ALWAYS PRESENT, BUT OBEDIENCE DEMANDS SELF-DENIAL, AND THIS FEELS LIKE HURTING ONESELF.

Card image
MELUKAI DIRI SENDIRI - 28 Februari 2026
2026-02-28 21:18:25


Manusia kerap hidup seolah-olah ia telah memiliki segala sesuatu. Sikap ini tampak wajar, bahkan dianggap sebagai tanda kedewasaan dan kemandirian. Namun sesungguhnya, hidup dengan cara demikian adalah bentuk penyangkalan paling halus terhadap kebenaran paling dasar: kita ada karena diciptakan. Ada Allah yang menciptakan hidup ini, dan Ia memiliki kehendak serta rencana atas setiap manusia. Pertanyaannya bukan apakah kita mengetahui hal itu, melainkan apakah kita sungguh-sungguh hidup di dalamnya.

Kita patut bersyukur karena hidup di sebuah tempat dan zaman di mana Injil masih dapat diberitakan dengan bebas. Kesempatan untuk berubah masih terbuka. Oleh karena itu, selama pintu anugerah belum tertutup, manusia dipanggil untuk mengambil keputusan yang serius: memilih Tuhan, memahami kehendak-Nya, dan melakukan kehendak tersebut. Pilihan ini tidak berhenti pada pengakuan iman, tetapi menuntut perhatian penuh terhadap langkah hidup sehari-hari—perkataan yang diucapkan, sikap terhadap pasangan, anak, orang tua, cara memperlakukan waktu, uang, dan seluruh aspek kehidupan.

Hidup ini sesungguhnya adalah ruang milik Tuhan. Manusia bukan pemilik, melainkan penatalayan. Karena itu, hidup perlu diserahkan kembali kepada Dia yang Empunya. Dalam realitas ini, manusia sering diperhadapkan pada pilihan yang tidak mudah. Kesempatan untuk menuruti dosa selalu tersedia, tetapi ketaatan menuntut penyangkalan diri dan itu terasa seperti melukai diri sendiri. Menahan amarah ketika ingin meluapkannya, memilih diam ketika ingin membalas, menolak kenikmatan sesaat demi kebenaran. Inilah yang disebut kematian daging—bukan tindakan yang liar, melainkan keputusan sadar untuk hidup di bawah kendali dan kehendak Tuhan.

Tuhan sendiri menetapkan standar hidup yang tinggi: kesempurnaan. Menolak panggilan ini bukan sekadar menolak sebuah ajaran, tetapi menolak Allah itu sendiri. Banyak orang menganggap tuntutan ini tidak wajar dan terlalu berat. Memang tidak mudah. Taruhannya bukan sekadar kenyamanan hidup, melainkan seluruh keberadaan manusia. Namun di tengah pergumulan itu, ketika seseorang mulai menyediakan waktu untuk sungguh-sungguh berjumpa dengan Tuhan, sebuah ruang batin terbuka—ruang di mana Tuhan berbicara dengan lembut namun tegas.

Seiring dengan proses pembersihan hidup, kepekaan rohani seseorang akan meningkat sehingga suara Tuhan menjadi semakin jelas hingga pada titik di mana hatinya diliputi oleh kegentaran yang kudus. Pada saat itu, manusia dapat sampai pada pengakuan terdalam: hidup lama telah berakhir, pelabuhan sejati telah ditemukan, dan kebahagiaan tidak lagi dicari di luar Tuhan. Dari titik ini, perubahan hidup bukan lagi pilihan opsional, melainkan keniscayaan. Kekudusan menuntut perjuangan nyata, bukan kompromi.

Rasul Petrus menegaskan hal ini dalam suratnya. Ia menulis bahwa peringatan-peringatan diberikan untuk membangkitkan pengertian yang murni, agar orang percaya mengingat firman para nabi dan perintah Tuhan yang telah disampaikan melalui para rasul (2 Ptr. 3:1–2). Peringatan sering kali terdengar tidak nyaman: jangan marah, jangan hidup sembarangan, bertobatlah. Namun justru di kemudian hari, manusia akan menyadari bahwa peringatan itulah yang menyelamatkan. Kekekalan adalah realitas yang dahsyat, dan mengabaikannya berarti mempertaruhkan segalanya.

Sayangnya, peringatan rohani kerap disalahpahami. Ada stigma bahwa para pelayan Tuhan hanya menakut-nakuti manusia dengan neraka demi kepentingan pribadi. Pandangan ini bukan hanya keliru, tetapi berbahaya, sebab menumpulkan hati terhadap kebenaran. Penyakit rohani jauh lebih mematikan daripada penyakit jasmani. Tubuh yang terbaring di rumah sakit masih memiliki harapan pemulihan, tetapi jiwa yang terjerumus ke dalam kebinasaan kekal hanya mengenal ratap tangis dan kertak gigi.

Petrus kembali mengingatkan bahwa di akhir zaman akan muncul pengejek-pengejek yang hidup menuruti hawa nafsunya. Mereka mempertanyakan janji kedatangan Tuhan dan hidup seolah-olah segala sesuatu akan tetap berjalan seperti semula (2 Ptr. 3:3–5). Ironisnya, mereka bukan orang-orang yang tidak mengenal Allah, melainkan mereka yang mengaku percaya bahwa Allah adalah Pencipta langit dan bumi. Pengakuan iman mereka tidak sejalan dengan perilaku hidup. Dengan cara hidup yang sembrono, mereka mengejek Tuhan bukan dengan kata-kata, tetapi dengan perbuatan.

Sejarah menjadi saksi bahwa penghakiman Allah bukanlah mitos. Dunia yang dahulu pernah binasa oleh air bah kini dipelihara untuk penghakiman yang akan datang (2 Ptr. 3:6–7). Realitas ini meninggalkan satu kesimpulan yang tidak dapat dihindari: hidup ini tidak dapat dijalani sembarangan. Ada Allah yang hidup, dan suatu hari setiap manusia akan berdiri di hadapan-Nya.

Kesadaran ini seharusnya menggugah manusia untuk bertobat. Bertobat bukan karena takut semata, tetapi karena menyadari kebenaran. Mengabaikan panggilan ini berarti membahayakan diri sendiri—bukan hanya dalam hidup sekarang, tetapi juga dalam kekekalan. Hidup yang benar di hadapan Tuhan bukan beban, melainkan satu-satunya jalan menuju keselamatan yang sejati.

Tuhan Yesus memberkati

KESEMPATAN UNTUK MENURUTI DOSA SELALU TERSEDIA, TETAPI KETAATAN MENUNTUT PENYANGKALAN DIRI DAN ITU TERASA SEPERTI MELUKAI DIRI SENDIRI.

Card image
KIDS DAILY DEVOTIONAL 27 Februari 2026 - WAKTU MILIK LIVIA
2026-02-28 18:06:01


1 Timotius 6:18
“Peringatkanlah agar mereka itu berbuat baik, menjadi kaya dalam kebajikan, suka memberi dan membagi.”

Hari Sabtu adalah hari yang paling Livia tunggu. Ia ingin bermain game dan menonton film favoritnya. Namun sore itu, ibunya meminta Livia menemani adiknya yang sedang kesulitan mengerjakan PR. Livia melirik jam dan merasa waktu bermainnya berkurang. Ia sempat berpikir, “Ini kan waktuku.”

Tetapi Livia teringat bahwa Tuhan sudah memberinya banyak hal: keluarga, rumah, dan kesempatan belajar. Akhirnya ia duduk di samping adiknya, membantu dengan sabar meski pertanyaannya berulang-ulang. Saat PR selesai, adiknya tersenyum lebar dan berkata, “Terima kasih, Kak.”

Walaupun waktu bermainnya berkurang, hati Livia justru terasa penuh dan bahagia. Ia belajar bahwa berbagi tidak selalu tentang barang, tetapi juga tentang waktu, perhatian, dan kasih.

Firman Tuhan mengajarkan kita untuk berbuat baik dan suka berbagi. Saat kita bersyukur, hati kita tidak pelit, karena kita percaya Tuhan selalu mencukupi.

Rehobot Kids, yuk belajar berbagi bukan hanya barang, tetapi juga waktu dan perhatian. Dari hal sederhana itulah kasih Tuhan bisa dirasakan oleh orang lain.

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 27 Februari 2026 (English Version) - BECOMING GOD'S INSTRUMENT
2026-02-28 18:03:35


“For we are God’s handiwork, created in Christ Jesus to do good works, which God prepared in advance for us to do.”
Ephesians 2:10

Each of us is created with a purpose. No life is accidental, and no story is meaningless. God shapes us with different characters, experiences, and talents so that our lives can be used as His instruments.

Being God’s instrument does not always mean doing big things that everyone notices. Sometimes, God uses us through simple acts: listening sincerely, encouraging a weary friend, being honest when others take shortcuts, or showing love in stressful environments.

We are called to keep growing so that our lives are increasingly ready for God’s use. When we surrender ourselves and allow God to lead, our lives can become channels of blessing for our families, schools or campuses, and workplaces.

God does not seek perfect instruments, but hearts willing to be used. When we are willing, God works through our lives to make a real impact.

WHAT TO DO?
1. Reflect on the area where God wants to use your life today.
2. Surrender your talents, time, and opportunities to God.
3. Take one small action that can be a blessing to someone else.

BIBLE MARATHON:
John 19

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 27 Februari 2026 - MENJADI ALAT TUHAN
2026-02-28 18:01:49


“Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya.”
Efesus 2:10

Setiap dari kita diciptakan dengan tujuan. Tidak ada hidup yang kebetulan, tidak ada cerita yang sia-sia. Tuhan membentuk kita dengan karakter, pengalaman dan talenta yang berbeda agar hidup kita dapat dipakai sebagai alat-Nya.

Menjadi alat Tuhan tidak selalu berarti melakukan hal besar yang terlihat banyak orang. Terkadang, Tuhan memakai kita lewat tindakan sederhana mendengarkan dengan tulus, menguatkan teman yang sedang lelah, bersikap jujur ketika orang lain memilih jalan pintas, atau menunjukkan kasih di tempat yang penuh tekanan.

Kita dipanggil untuk terus bertumbuh agar hidup kita semakin siap dipakai Tuhan. Ketika kita menyerahkan diri dan membiarkan Tuhan memimpin, hidup kita bisa menjadi saluran berkat bagi keluarga, lingkungan sekolah, atau kampus, serta dunia kerja.

Tuhan tidak mencari alat yang sempurna, tetapi hati yang mau dipakai. Saat kita bersedia, Tuhan akan bekerja melalui hidup kita untuk membawa dampak yang nyata.

WHAT TO DO?
1. Renungkan di area mana Tuhan ingin memakai hidupmu hari ini.
2. Serahkan talenta, waktu dan kesempatan yang kamu miliki kepada Tuhan.
3. Lakukan satu tindakan kecil yang bisa menjadi berkat bagi orang lain.

BIBLE MARATHON:
Yohanes 19

Card image
Renungan Pagi - 27 Februari 2026
2026-02-27 22:39:47


Ketika ada orang merancangkan yang jahat kepada kita, jangan kecewa, jangan marah dan berontak, tidak perlu ada kebencian dan amarah bahkan berpikir untuk menghancurkan orang tersebut, karena kita harus belajar berserah, Alkitab memiliki rumusan yang luar biasa yaitu besi menajamkan besi, manusia menajamkan sesamanya.

Artinya orang-orang yang melakukan yang jahat dan bertindak semena-mena, Allah ijinkan untuk mendatangkan kebaikan, jadi dengan begitu kita dapat belajar untuk berserah, mengandalkan Tuhan dengan iman, belajar memiliki hati yang dekat dengan Tuhan sehingga hati tidak penuh dengan kepahitan, kebencian dan kemarahan.

Card image
Quote Of The Day - 27 Februari 2026 (English Version)
2026-02-27 22:37:54


Satu-satunya keadaan aman adalah menjadi kekasih Tuhan.

Card image
Mutiara Suara Kebenaran - 27 Februari 2026 (English Version)
2026-02-27 22:36:58


Jika hari ini kita mendapati diri masih sangat takut menghadapi bahaya atau kematian, itu bukan untuk membuat kita putus asa, melainkan untuk mengoreksi arah hidup.

Card image
GOD'S PROTECTION - 27 Februari 2026 (English Version)
2026-02-27 22:35:05


Have people ever reflected on a nearly impossible possibility: what if there were no God who created heaven and earth, no Lord who sustains the universe and all living creatures, yet everything still functioned well and in an orderly way? A stable, harmonious, even perfect order—without a divine Person behind it. Ironically, although such an idea makes no sense logically, most people live as though God truly did not exist.

Many claim to be religious, even to believe in God, yet their way of life does not reflect that confession. Life is lived without awareness of a Person who created, owns, and rules over all things. A world that has fallen into evil further shapes this kind of lifestyle, lowering the standard of holiness. It is therefore not surprising that only a few believers genuinely pursue a holy life, let alone perfection. Yet in the Old Testament, figures such as Joshua, Samuel, and Joseph displayed a very high level of obedience to God by the standards of their time.

Believers today are actually called even further—not merely to live well, but to live toward perfection. Confessing that God is the Creator of heaven and earth means acknowledging that He is a living Person, with will and purpose. He is not merely a religious concept, but Elohim Yahweh who reigns sovereignly. Human beings do not have the choice of whether to be born, nor can they choose the conditions of their birth. But they are free to choose whether to live according to God’s will and plan or to their own.

If humans had not fallen into sin, the earth would have remained in a perfect order. In such a condition, there would be no need to seek special protection, because the entire system of life would be secure, without rebellion and without the seed of sin. But reality is different. Humans’ falling into sin has made the need for God’s protection absolute. This is not because the order of God’s creation is flawed—since that order remains good and perfect—but because of the presence of an evil being who seeks to destroy humans and drag them into darkness. In this reality, human beings need divine protection.

Sadly, many people feel they have full rights over their own will, as though God did not exist. And even if they do believe, their confession is often not aligned with an attitude worthy of God. Misguided religious practices worsen this situation when churches promise that God will surely fulfill every human request. Troubled people are invited, prayed for, and given instant hope, as if God’s protection operates without order. Such an approach actually damages the understanding of divine justice and order.

The church should teach not merely how to ask for God’s protection, but how to live in a manner worthy of being under His protection. God’s protection is not automatic; it is closely related to a person’s way of life before Him.

First, human beings must acknowledge that everything they possess belongs to God. Life, time, money, possessions, and all resources are not personal property but are entrusted to us by God. When someone truly realizes that they are merely stewards, not owners, they live with an attitude of submission and responsibility. In such a condition, God’s protection becomes natural, because what is being protected is His own possession. Even if something must be taken away or lost, the heart remains at peace, because everything rests within God’s sovereignty.

Second, God’s protection does not eliminate human responsibility to protect themselves. Divine order works through the principle of cause and effect. Someone lazy in learning, fails to develop their potential, and neglects the responsibilities of life cannot blame God when they reap poverty or failure. What is sown will be reaped. This principle is part of God’s order and has never been revoked.

Third, human beings are called to take part in God’s project. Life unfolds within a universe that has a divine purpose. God did not create human beings without intent. Therefore, within the limited span of life—whether seventy years or more—human beings are called to do the Father’s will and complete the work entrusted to them. A life that is within God’s plan is the safest, because it stands precisely at the center of His will.

The Lord Jesus bless you

GOD'S PROTECTION IS NOT AUTOMATIC; IT IS CLOSELY RELATED TO A PERSON'S WAY OF LIFE BEFORE HIM.

Card image
PERLINDUNGAN TUHAN - 27 Februari 2026
2026-02-27 20:33:48


Pernahkah manusia merenungkan sebuah kemungkinan yang nyaris mustahil: seandainya tidak ada Allah yang menciptakan langit dan bumi, tidak ada Tuhan yang memelihara jagat raya dan seluruh makhluk hidup, namun segala sesuatu tetap berjalan dengan baik dan tertib? Sebuah tatanan yang stabil, harmonis, bahkan sempurna—tanpa Pribadi ilahi di baliknya. Ironisnya, meskipun secara logis hal itu tidak masuk akal, sebagian besar manusia menjalani hidup seolah-olah Tuhan memang tidak ada.

Banyak orang mengaku beragama, bahkan mengaku percaya kepada Allah, namun sikap hidupnya tidak mencerminkan pengakuan tersebut. Hidup dijalani tanpa kesadaran bahwa ada Pribadi yang menciptakan, memiliki, dan berdaulat atas segala sesuatu. Dunia yang telah jatuh dalam kejahatan turut membentuk pola hidup demikian, sehingga standar kekudusan menjadi semakin rendah. Tidak mengherankan jika hanya sedikit orang percaya yang sungguh-sungguh mengejar hidup kudus, apalagi sempurna. Padahal dalam kesaksian Perjanjian Lama, tokoh-tokoh seperti Yosua, Samuel, dan Yusuf telah menunjukkan kualitas hidup yang sangat tinggi dalam ketaatan kepada Allah—menurut ukuran zaman mereka.

Orang percaya pada masa kini sesungguhnya dipanggil lebih jauh lagi, bukan sekadar hidup baik, tetapi hidup menuju kesempurnaan. Pengakuan bahwa Allah adalah Pencipta langit dan bumi berarti mengakui bahwa Ia adalah Pribadi yang hidup, memiliki kehendak dan rencana. Ia bukan sekadar konsep religius, melainkan Elohim Yahweh yang berdaulat. Manusia memang tidak memiliki pilihan untuk dilahirkan atau tidak, apalagi memilih kondisi kelahirannya. Namun manusia diberi kebebasan untuk memilih: apakah ia akan hidup menurut kehendak dan rencana Allah, atau menurut kehendak dan rencananya sendiri.

Seandainya manusia tidak jatuh ke dalam dosa, bumi akan tetap berada dalam tatanan yang baik dan sempurna. Dalam kondisi demikian, manusia tidak perlu mencari perlindungan secara khusus, sebab seluruh sistem kehidupan telah aman, tanpa pemberontakan dan tanpa benih dosa. Namun kenyataannya berbeda. Kejatuhan manusia ke dalam dosa membuat kebutuhan akan perlindungan Tuhan menjadi mutlak. Bukan karena tatanan ciptaan Allah rusak—sebab tatanan itu tetap baik dan sempurna—melainkan karena hadirnya oknum jahat yang berusaha merusak manusia dan menyeretnya ke dalam kegelapan. Dalam realitas inilah manusia membutuhkan perlindungan ilahi.

Sayangnya, Banyak orang merasa memiliki hak penuh atas kehendaknya sendiri seolah Tuhan tidak eksis, dan jikapun mereka percaya, pengakuan itu sering kali tidak selaras dengan sikap yang pantas bagi Tuhan. Situasi ini diperparah oleh praktik keagamaan yang keliru, ketika gereja menjanjikan bahwa Tuhan pasti akan memenuhi setiap permintaan manusia. Orang-orang yang bermasalah diundang, didoakan, dan diberi harapan instan, seolah-olah perlindungan Tuhan bekerja tanpa tatanan. Padahal pendekatan seperti ini justru merusak pemahaman akan keadilan dan keteraturan ilahi.

Seharusnya gereja mengajarkan bukan sekadar bagaimana meminta perlindungan Tuhan, melainkan bagaimana hidup secara pantas untuk berada di bawah perlindungan-Nya. Perlindungan Tuhan bukanlah sesuatu yang otomatis, melainkan berkaitan erat dengan sikap hidup manusia di hadapan-Nya.

Pertama, manusia harus mengakui bahwa segala sesuatu yang dimilikinya adalah milik Tuhan. Hidup, waktu, uang, harta, dan seluruh sumber daya bukan milik pribadi, melainkan titipan Allah. Ketika seseorang sungguh menyadari bahwa dirinya hanyalah pengelola, bukan pemilik, ia hidup dalam sikap tunduk dan bertanggung jawab. Dalam kondisi seperti ini, perlindungan Tuhan menjadi wajar, sebab yang dilindungi adalah milik-Nya sendiri. Bahkan jika sesuatu harus diambil atau hilang, hati tetap tenang karena semuanya berada dalam kedaulatan Tuhan.

Kedua, perlindungan Tuhan tidak meniadakan tanggung jawab manusia untuk melindungi dirinya sendiri. Tatanan ilahi bekerja melalui prinsip sebab-akibat. Seseorang yang malas belajar, tidak mengembangkan potensi, dan mengabaikan tanggung jawab hidup tidak dapat menyalahkan Tuhan ketika menuai kemiskinan atau kegagalan. Apa yang ditabur, itulah yang dituai. Prinsip ini merupakan bagian dari tatanan Allah yang tidak pernah dibatalkan.

Ketiga, manusia dipanggil untuk ikut ambil bagian dalam proyek Allah. Hidup ini berlangsung dalam semesta yang memiliki tujuan ilahi. Allah tidak menciptakan manusia tanpa maksud. Karena itu, dalam rentang hidup yang terbatas—entah tujuh puluh tahun atau lebih—manusia dipanggil untuk melakukan kehendak Bapa dan menyelesaikan pekerjaan yang dipercayakan kepadanya. Hidup yang berada di dalam rencana Allah adalah hidup yang paling aman, sebab berada tepat di pusat kehendak-Nya.

Tuhan Yesus memberkati

PERLINDUNGAN TUHAN BUKANLAH SESUATU YANG OTOMATIS, MELAINKAN BERKAITAN ERAT DENGAN SIKAP HIDUP MANUSIA DI HADAPAN-NYA.

Card image
KIDS DAILY DEVOTIONAL 26 Februari 2026 - PENSIL WARNA PENDEK DITO
2026-02-27 00:01:14


Yohanes 6:9
“Di sini ada seorang anak, yang mempunyai lima roti jelai dan dua ikan; tetapi apakah artinya itu untuk orang sebanyak ini?”

Dito sangat suka menggambar. Suatu hari, guru seni meminta semua murid membuat poster bertema “Berbagi Itu Indah.” Masalahnya, pensil warna Dito sudah hampir habis—pensil merahnya pendek, pensil birunya pun tumpul. Awalnya, Dito ingin menyimpan pensil itu untuk dirinya sendiri.

Namun, Dito melihat Raka, teman sebangkunya, tampak bingung karena lupa membawa pensil warna. Dito berpikir, “Kalau aku tidak berbagi, Raka tidak bisa menggambar sama sekali.” Akhirnya, Dito dengan tulus meminjamkan pensilnya. Mereka pun menggambar bersama dan saling bergantian memakai pensil yang tersisa.

Hasilnya, poster mereka menjadi salah satu yang paling menarik di kelas. Guru berkata bahwa poster itu indah bukan hanya karena gambarnya, tetapi juga karena kisah di baliknya. Dito pun belajar bahwa Tuhan bisa memakai hal kecil yang kita miliki ketika kita mau berbagi dengan hati yang rela.

Rehobot Kids, Tuhan tidak melihat seberapa banyak yang kita punya, tetapi seberapa tulus hati kita saat memberi. Seperti lima roti dan dua ikan, hal kecil di tangan Tuhan bisa menjadi berkat besar. Yuk, jangan ragu berbagi apa yang ada padamu, karena melalui kebaikan kecil, Tuhan bekerja dengan cara yang luar biasa!

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 26 Februari 2026 (English Version) - FAITH THAT MAKES AN IMPACT
2026-02-26 23:58:59


“In the same way, let your light shine before others, that they may see your good deeds and glorify your Father in heaven.”
Matthew 5:16

The faith God plants in our lives is not meant to be kept to ourselves. True faith is reflected through our attitudes, words, and daily actions. Jesus invites us to be a light—not through grand speeches, but through tangible deeds.

Being a light often starts with simple things. In the family, light is shown through respect, patience, and care. At school or campus, light is demonstrated through honesty, integrity, and how we treat others. In the workplace, light is expressed through responsibility, a strong work ethic, and attitudes that reflect Christ’s love.

A light does not need to be loud to be noticed. It only needs to faithfully be in its place and fulfill its purpose. When our faith is expressed through good deeds, others see God’s work in our lives, and His name is glorified.

WHAT TO DO?
1. Reflect on the area where God is calling you to be a light today.
2. Take one simple action that reflects your faith and Christ’s love.
3. Pray that your life may be used by God to bless many people.

BIBLE MARATHON:
John 18

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 26 Februari 2026 - IMAN YANG BERDAMPAK
2026-02-26 23:51:54


“Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.”
Matius 5:16

Iman yang Tuhan tanamkan dalam hidup kita tidak dimaksudkan untuk disimpan sendiri. Iman sejati akan terlihat melalui sikap, perkataan, dan tindakan kita sehari-hari. Tuhan Yesus mengajak kita untuk menjadi terang bukan dengan kata-kata yang besar, tetapi melalui perbuatan yang nyata.

Menjadi terang sering kali dimulai dari hal-hal sederhana. Di dalam keluarga, terang terlihat sikap hormat, kesabaran, dan kepedulian. Di sekolah dan kampus, terang tampak melalui kejujuran, integritas, dan cara kita memperlakukan orang lain. Di tempat kerja, terang dinyatakan lewat tanggung jawab, etos kerja yang baik, dan sikap yang mencerminkan kasih Kristus.

Terang tidak perlu bersuara keras untuk terlihat. Terang cukup setia berada di tempatnya dan menjalankan fungsinya. Ketika iman kita dinyatakan lewat perbuatan baik, orang lain melihat karya Tuhan melalui hidup kita dan nama Tuhan pun dimuliakan.

WHAT TO DO?
1. Renungkan di area mana Tuhan memanggilmu untuk menjadi terang hari ini.
2. Lakukan satu tindakan sederhana yang mencerminkan iman dan kasih Kristus.
3. Berdoa agar hidupmu boleh dipakai Tuhan menjadi berkat bagi banyak orang.

BIBLE MARATHON:
Yohanes 18

Card image
Renungan Pagi - 26 Februari 2026
2026-02-26 23:48:42


Allah yang kita sembah adalah Allah yang kasih-Nya tidak pernah berubah, kesetiaan-Nya kekal sampai selama-lamanya, dan karena itulah Dia menginginkan agar dalam segala hal kesetiaan kita kepada Tuhan tidak berubah.

Realitanya keadaan bisa berubah, situasi boleh berubah, kasih manusia boleh berubah, apapun dalam kehidupan boleh berubah, tetapi biarlah kesetiaan kepada Tuhan, pelayanan kepada Tuhan tetap tidak berubah, karena Allah yang kita sembah kasih-Nya tidak berubah, dulu, hari ini dan sampai selama-lamanya.

Card image
Quote Of The Day - 26 Februari 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-02-26 23:47:30


Kacamata kekekalan membuat seseorang memandang masalah terbesar dalam hidup adalah ketika ia melukai hati Tuhan.

Card image
Mutiara Suara Kebenaran - 26 Februari 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-02-26 23:46:18


Orang yang sungguh berjalan dalam terang tidak puas hanya dengan kegiatan rohani yang padat. Ia rindu hidupnya benar di hadapan Tuhan. Ia bersedia dikoreksi, diproses, dan diubah.

Card image
FAVORED BY GOD - 26 Februari 2026 (English Version)
2026-02-26 23:45:09


Throughout life, human beings experience many unpleasant events. In fact, when honestly reflected upon, experiences that fall short of expectations often outnumber those that bring happiness. Many things happen outside the carefully arranged targets and plans. A natural question then arises: why must all these things happen, especially when people have become children of the heavenly Father and have sought to live rightly before Him?

To understand this, at least two spiritual realities need to be considered. First, in life, there must be factual proof, and this is an expression of God’s justice. God is indeed omniscient; He knows who will be faithful and who truly chooses Him. However, that divine knowledge must still be manifested in concrete reality. Faithfulness is not enough to be known—it must be proven. Therefore, testing becomes an inevitability in the lives of believers.

This principle is evident from the very beginning of human history. When Adam and Eve fell into sin, God could not compromise. They had to be expelled from the Garden of Eden as an expression of God’s justice. The same principle appears in the story of Job. God declared to Satan that Job was a faithful and upright servant. Yet that faithfulness was not sufficient as a verbal declaration alone. Satan challenged it, claiming that Job’s faithfulness existed only because of God’s protective hedge. Then the hedge was removed. His children died, his possessions vanished, and his body was afflicted with disease. All of this did not happen because God was cruel, but because God’s justice required real proof.

Second, suffering and trials are permitted because human beings must be perfected. In the process of faith, God does not merely test human choices but also shapes character and personality. Abraham’s experience provides a powerful illustration. When he was confronted with the option of surrendering Isaac or holding on to him, God was actually at work in Abraham’s inner life. This process was necessary so that when human beings enter eternity, they truly stand in a state that is worthy and complete before God.

Therefore, faith must not be reduced to a mere verbal confession that Jesus is Lord and Savior. Belief without a transformation of behavior has never been saving faith. Salvation demands fundamental transformation in life—a change in attitudes, habits, and life orientation. This is where the complexity of human beings as soulful creatures is tested. Letting go of sin and old habits is not easy, because these things are deeply embedded within us. Yet it is precisely in this struggle that commitment to God is tested and purified.

When someone truly chooses God and says, “I choose You, Lord,” that choice must be expressed in concrete change. This process requires deep commitment, because what must often be released are the very things that have provided a sense of security and false happiness. At this point, a person learns to say honestly that whatever happens, God alone is the sole source of life’s joy.

God allows painful events to occur not without purpose; in them, the truth is revealed that those who are processed through suffering are souls specially favoured by God. When efforts fail, loved ones are taken away, or life’s hopes collapse one by one, God is not acting wrongly. On the contrary, God is separating and sanctifying His people as His special possession.

Therefore, every form of pleasure that begins to take first place in life must be treated with caution. This does not mean that people may not love their families or enjoy relationships, but none of these things should ever become idols. Loving without idolizing is a sign of spiritual maturity. We must protect our children and descendants through holy living and by drawing near as God’s beloved. In this way, we protect those whom we love.

Every person has a different life history, filled with failures and limitations. Yet if someone continues to hold firmly to the commitment to make God the only source of happiness and the ultimate support of life, that person will continue to grow in spiritual maturity. The more mature a person becomes, the fewer opportunities for joy in the world seem to exist. For as long as human beings seek, create, or expect happiness from the world, they are in fact still under the influence of the power of darkness, as recorded in Luke 4:5–8. Desiring the world means displacing God from the centre of worship.

For this reason, God allows painful events to occur, shattering human pride and self-exaltation. God is preparing His people so they may be worthy to serve as His spokespersons and examples to others. Pride and excessive self-importance are things God hates. He desires to bring human beings to the point where they themselves are no longer the center of enjoyment, but are fully submitted and dissolved in His presence.

The Lord Jesus bless you

GOD ALLOWS PAINFUL EVENTS TO OCCUR NOT WITHOUT PURPOSE, IN THEM, THE TRUTH IS REVEALED THAT THOSE WHO ARE PROCESSED THROUGH SUFFERING ARE SOULS SPECIALLY FAVOURED BY GOD.

Card image
DIISTIMEWAKAN TUHAN - 26 Februari 2026
2026-02-26 23:42:40


Dalam perjalanan hidup, manusia mengalami banyak peristiwa yang tidak selalu menyenangkan. Bahkan, jika direnungkan dengan jujur, jumlah pengalaman yang tidak sesuai harapan sering kali lebih banyak daripada yang membahagiakan. Banyak hal terjadi di luar target dan rencana yang telah disusun. Pertanyaan yang wajar kemudian muncul: mengapa semua itu harus terjadi, padahal manusia telah menjadi anak-anak Bapa di surga dan telah berusaha hidup benar di hadapan-Nya?

Untuk memahami hal ini, setidaknya ada dua realitas rohani yang perlu diperhatikan. Pertama, di dalam kehidupan harus ada pembuktian yang bersifat faktual, dan inilah wujud keadilan Allah. Allah memang Mahatahu; Ia tahu siapa yang akan setia dan siapa yang memilih-Nya dengan sungguh. Namun, pengetahuan ilahi tersebut tetap harus dinyatakan dalam fakta. Kesetiaan tidak cukup diketahui, tetapi harus dibuktikan. Karena itu, ujian menjadi keniscayaan dalam kehidupan orang percaya.

Prinsip ini tampak jelas sejak awal sejarah manusia. Ketika Adam dan Hawa jatuh ke dalam dosa, Allah tidak dapat berkompromi. Mereka harus diusir dari taman Eden sebagai bentuk penegakan keadilan Allah. Hal yang sama terlihat dalam kisah Ayub. Allah menyatakan kepada Iblis bahwa Ayub adalah hamba yang setia dan saleh. Namun kesetiaan itu tidak cukup dinyatakan secara verbal. Iblis menantang dengan mengatakan bahwa kesetiaan Ayub ada karena pagar perlindungan Allah. Maka pagar itu dicabut. Anak-anaknya mati, hartanya lenyap, dan tubuhnya ditimpa penyakit. Semua itu bukan karena Allah kejam, melainkan karena keadilan Allah menuntut pembuktian yang nyata.

Kedua, penderitaan dan ujian diizinkan karena manusia harus disempurnakan. Dalam proses iman, Allah tidak hanya menguji pilihan manusia, tetapi juga membentuk karakter dan kepribadiannya. Pengalaman Abraham menjadi gambaran yang kuat. Ketika ia diperhadapkan pada pilihan antara menyerahkan Ishak atau mempertahankannya, sesungguhnya Allah sedang menggarap batin Abraham. Proses ini diperlukan agar ketika manusia memasuki kekekalan, ia sungguh berada dalam keadaan yang layak dan sempurna di hadapan Allah.

Karena itu, iman tidak boleh direduksi hanya pada pengakuan verbal bahwa Yesus adalah Tuhan dan Juruselamat. Percaya tanpa perubahan perilaku tidak pernah menjadi iman yang menyelamatkan. Keselamatan menuntut transformasi nyata dalam hidup—perubahan sikap, kebiasaan, dan orientasi hidup. Di sinilah kompleksitas manusia sebagai makhluk berjiwa diuji. Melepaskan dosa dan kebiasaan lama bukan perkara mudah, sebab semuanya telah melekat kuat dalam diri. Namun justru di dalam pergumulan inilah komitmen kepada Allah diuji dan dimurnikan.

Ketika seseorang sungguh memilih Allah dan berkata, “Aku memilih-Mu, Tuhan,” maka pilihan itu harus dinyatakan dalam perubahan konkret. Proses ini menuntut komitmen yang dalam, karena sering kali yang dilepaskan adalah hal-hal yang selama ini memberi rasa aman dan kebahagiaan semu. Pada titik inilah seseorang belajar berkata dengan jujur bahwa apa pun yang terjadi, hanya Tuhanlah satu-satunya kebahagiaan hidup.

Allah mengizinkan peristiwa menyakitkan terjadi bukan tanpa alasan; di situlah tersingkap kebenaran bahwa mereka yang diproses melalui penderitaan adalah jiwa-jiwa yang sedang diistimewakan oleh Tuhan. Ketika usaha tidak berhasil, orang yang dikasihi dipanggil pulang, atau harapan hidup runtuh satu per satu, Allah tidak sedang salah bertindak. Sebaliknya, Allah sedang memisahkan dan menguduskan umat-Nya sebagai milik-Nya yang khusus.

Oleh karena itu, setiap bentuk kesenangan yang mulai mengambil tempat utama dalam hidup perlu dicurigai. Bukan berarti manusia tidak boleh mengasihi keluarga atau menikmati relasi, tetapi tidak satu pun dari semua itu boleh menjadi berhala. Mengasihi tanpa memberhalakan adalah tanda kedewasaan rohani. Kita harus melindungi anak cucu dengan kesucian hidup dan merapat menjadi kekasih-Nya. Dengan cara itulah kita melindungi orang-orang yang kita kasihi.

Setiap orang memiliki sejarah hidup yang berbeda, penuh dengan kegagalan dan keterbatasan. Namun jika seseorang tetap berpegang pada komitmen untuk menjadikan Allah satu-satunya sumber kebahagiaan dan sandaran hidup, ia akan terus bertumbuh dalam kedewasaan rohani. Semakin dewasa seseorang, semakin kecil ia melihat peluang kebahagiaan dalam dunia. Sebab ketika manusia masih mencari, menciptakan, atau mengharapkan kebahagiaan dari dunia, sesungguhnya ia masih berada di bawah pengaruh kuasa kegelapan, sebagaimana dicatat dalam Lukas 4:5–8. Mengingini dunia berarti menggeser Allah dari pusat penyembahan.

Karena itu, Allah mengizinkan peristiwa-peristiwa yang menyakitkan terjadi untuk meremukkan harga diri dan kesombongan manusia. Allah sedang memproses umat-Nya agar layak menjadi juru bicara-Nya dan teladan bagi sesama. Kesombongan dan harga diri yang berlebihan adalah sesuatu yang dibenci Allah. Ia menghendaki manusia sampai pada titik di mana dirinya tidak lagi menjadi pusat kenikmatan, melainkan sepenuhnya tunduk dan larut di hadapan-Nya.

Tuhan Yesus memberkati

ALLAH MENGIZINKAN PERISTIWA MENYAKITKAN TERJADI BUKAN TANPA ALASAN, DI SITULAH TERSINGKAP KEBENARAN BAHWA MEREKA YANG DIPROSES MELALUI PENDERITAAN ADALAH JIWA-JIWA YANG SEDANG DIISTIMEWAKAN OLEH TUHAN.

Card image
KIDS DAILY DEVOTIONAL 25 Februari 2026 - MENELADANI KASIH YESUS
2026-02-26 13:22:38


Yohanes 13:15
“Sebab Aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu.”

Hari ini adalah hari libur sekolah. Ayah dan Ibu mengajak Armand pergi piknik ke taman hutan kota. Sejak pagi, Armand sudah sangat bersemangat menyiapkan bekal pikniknya—mulai dari nasi dan lauk-pauk hingga camilan ringan. Kali ini mereka pergi menggunakan busway, sesuatu yang membuat Armand semakin antusias.

Saat tiba di halte dan berjalan menuju taman, seorang anak kecil dengan wajah lesu menghampiri mereka sambil menawarkan tisu. Karena Ibu lupa membawa tisu, ia pun membelinya. Armand memperhatikan wajah anak itu dengan seksama, dan hatinya tergerak oleh rasa kasihan.

Dengan inisiatif sendiri, Armand membuka tasnya dan membagikan beberapa makanan serta camilan yang ia bawa. Anak kecil itu menerima dengan mata berkaca-kaca dan berkata bahwa ia belum makan sejak pagi karena tisunya belum laku.

Rehobot Kids, kisah Armand mengajarkan kita untuk meneladani kasih Tuhan Yesus. Saat kita mau berbagi dengan tulus dan tanpa pamrih, kita sedang melakukan apa yang Yesus ajarkan. Tindakan kecil yang dilakukan dengan kasih bisa membawa sukacita, harapan, dan terang bagi orang lain. Yuk, belajar hidup seperti Yesus—mengasihi lewat perbuatan nyata setiap hari.

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 25 Februari 2026 (English Version) - YOU ARE NOT ALONE
2026-02-26 13:19:37


“The Lord is close to the brokenhearted and saves those who are crushed in spirit.”
Psalm 34:19

There are times when life feels heavy. Words from others, rejection, or experiences of being bullied can leave our hearts weary and lonely. Sometimes we smile on the outside while carrying pain inside. If you are in that season, today’s Scripture delivers an important message: you are not alone.

Psalm 34:19 reminds us that God is not distant or indifferent. He is near, especially to those whose hearts are hurting. God sees the tears that others may not notice, and He understands the pain that is hard to put into words.

God’s closeness doesn’t always make our problems disappear immediately, but His presence gives us strength to endure and hope to move forward. In the midst of our pain, God walks with us, embraces our broken hearts, and gradually restores them.

WHAT TO DO?
1. Take time to be honest with God about what you are feeling.
2. Remind yourself today: you are valuable and not alone.
3. If possible, share your struggles with someone you trust within your community.

BIBLE MARATHON:
John 17

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 25 Februari 2026 - KAMU TIDAK SENDIRIAN
2026-02-26 13:17:42


“Tuhan itu dekat kepada orang-orang yang patah hati, dan Ia menyelamatkan orang-orang yang remuk jiwanya”.
Mazmur 34:19

Ada kalanya hidup terasa berat. Luka karena perkataan orang lain, penolakan atau pengalaman di bully bisa membuat hati terasa lelah dan sendirian. Terkadang kita tersenyum di luar, tetapi menyimpan kepedihan di dalam. Jika kamu sedang berada di fase itu, firman Tuhan hari ini mengatakan satu hal penting: kamu tidak sendirian.

Mazmur 34:19 mengingatkan bahwa Tuhan bukan Allah yang jauh dan tidak peduli. Ia dekat, khususnya kepada mereka yang hatinya terluka. Tuhan melihat air mata yang mungkin tidak dilihat orang lain, dan Ia memahami rasa sakit yang sulit diungkapkan dengan kata-kata.

Kedekatan Tuhan bukan berarti masalah langsung hilang, tetapi kehadiran-Nya memberi kekuatan untuk bertahan dan harapan untuk melangkah. Di tengah luka, Tuhan berjalan bersama kita, memeluk hati yang hancur, dan perlahan memulihkannya.

WHAT TO DO?
1. Luangkan waktu untuk jujur kepada Tuhan tentang apa yang kamu rasakan.
2. Ingatkan dirimu hari ini: kamu berharga dan tidak sendirian.
3. Jika memungkinkan, bagikan pergumulanmu kepada orang yang kamu percaya dalam komunitas.

BIBLE MARATHON:
Yohanes 17

Card image
Renungan Pagi - 25 Februari 2026
2026-02-26 13:02:28


Kita harus tulus dan tidak munafik dalam kesaksian-kesaksian, ketika bersaksi tujuannya bukan untuk membuktikan bahwa kita lebih hebat dari orang lain dan ingin mencari pujian dari manusia, tetapi dalam kesaksian, tujuannya supaya hanya nama Tuhan saja yang dimuliakan.

Jangan menjadi orang percaya yang munafik dalam setiap kesaksian, yaitu karena hanya membesarkan peristiwa-peristiwa supaya orang dapat menganggap betapa hebatnya kita, tapi biarlah dalam ketulusan bersaksi karena mau memuliakan Tuhan, mau menyatakan betapa hebat dan dahsyatnya Tuhan kita.

Card image
Quote Of The Day - 25 Februari 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-02-26 13:01:44


Tidak ada seorang pun di dunia ini yang punya hak untuk menghakimi sesamanya.

Card image
Mutiara Suara Kebenaran - 25 Februari 2026
2026-02-26 13:01:01

Orang yang sungguh mencari Tuhan tidak hidup setengah-setengah. Ia hidup dengan intensitas rohani yang sehat, dengan kesadaran bahwa hidup ini adalah perlombaan menuju kekekalan. Dan hanya mereka yang berlari dengan fokus dan presisi yang akan tiba di garis akhir dengan sukacita.

Card image
IF THE LORD WILLS - 25 Februari 2026 (English Version)
2026-02-26 13:00:07


People who lack certainty by the world’s standards are often more open to the Kingdom of Heaven. Conversely, the certainties that humans construct—wealth, power, connections, security—usually give rise to pride before God. To preserve a sense of safety, people may justify any means and neglect their relationship with God. Unaware of it, they become ensnared in traps that endanger their own souls.

The church is not immune to this mindset. Ironically, many churches today resemble other religions: God is reduced to a means of supporting worldly life, a contributor to economic success, health, and comfort. Yet the Gospel never teaches that this world is human’s home. The world is not the final harbor, but a place of transit.

Scripture clearly states: “You do not even know what will happen tomorrow. What is your life? You are a mist that appears for a little while and then vanishes.” Therefore, every human plan should always be accompanied by this awareness: if the Lord wills. This principle is not merely a religious phrase, but an inner posture that fully accepts the sovereignty of God.

Problems arise when people become strong—strong in wealth, connections, power, or legal protection. At that point, the phrase “if the Lord wills” grows thin, even disappearing altogether. What is dangerous is not the strength itself, but the loss of awareness of eternity. Thus, when God allows difficulties and uncertain circumstances, they are actually nourishment for the soul. God is safeguarding us so that we do not forget this eternal principle.

Relying on human connections, power, or influence for life’s certainty deeply grieves God. There is nothing wrong with having connections or support, but relying on them for certainty displaces God from His rightful place. Believers are called to say, “If the Lord wills, we will live and do this or that.” This means that whatever happens is accepted as part of God’s best will.

Many people live as though this world were the only place to live. Heaven is considered abstract and distant. Yet the coming Kingdom of God—the New Heaven and the New Earth—is a very concrete reality. That new world will be like this earth, but without sin, without rebellion, and without death. There, and only there, true certainty is found.

Therefore, no matter how good earthly life may be—healthy, happy, prosperous—it is not true certainty. In fact, it can be dangerous if it causes people to cling to the world. The Gospel affirms that this world is not our home. Ironically, however, many churches teach the opposite: how to enjoy the world with God’s help.

In truth, human beings relate to God not to obtain certainty in earthly life, but to discover and fulfill God’s plan. The principle “if the Lord wills” means living with a focus on God’s will, not merely on personal gain. God must not be reduced to a tool for worldly success. If that happens, God is no longer God, but a servant to human ambition.

Unexpected problems often shake those whom God truly loves. These jolts are meant to awaken them to the fact that there is no true certainty in this world. By contrast, those who are left unshaken often become proud and feel capable of controlling everything. This condition is the most terrifying of all because it reveals a heart drifting farther and farther from the Kingdom of God.

The only true certainty is God and His Kingdom. Everything else will pass away. Therefore, living amid worldly uncertainty while resting in God’s certainty is, in fact, the healthiest path for the soul and the only path that leads to eternity.

The Lord Jesus bless you

EVERY HUMAN PLAN SHOULD ALWAYS BE ACCOMPANIED BY THIS AWARENESS: IF THE LORD WILLS.

Card image
JIKA TUHAN MENGHENDAKI - 25 Februari 2026
2026-02-25 23:26:01


Orang yang tidak memiliki kepastian menurut ukuran dunia justru sering kali lebih terbuka terhadap Kerajaan Surga. Sebaliknya, kepastian yang dibangun manusia—kekayaan, kuasa, relasi, keamanan—sering kali memicu kesombongan di hadapan Tuhan. Demi mempertahankan rasa aman, manusia dapat menghalalkan segala cara dan mengabaikan relasi dengan Allah. Tanpa disadari, mereka terjerat dalam jebakan yang membahayakan jiwanya sendiri.

Gereja pun tidak kebal terhadap pola pikir ini. Ironisnya, banyak gereja masa kini justru menyerupai agama-agama lain: Tuhan dijadikan sarana untuk menopang kehidupan duniawi, kontributor bagi kesuksesan ekonomi, kesehatan, dan kenyamanan hidup. Padahal Injil tidak pernah mengajarkan bahwa dunia ini adalah rumah manusia. Dunia bukan pelabuhan terakhir, melainkan tempat persinggahan.

Firman Tuhan dengan tegas menyatakan: “Sedang kamu tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Apakah arti hidupmu? Hidupmu sama seperti uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap.” Karena itu, setiap rencana manusia seharusnya selalu diiringi dengan kesadaran: jika Tuhan menghendaki. Prinsip ini bukan sekadar kalimat religius, melainkan sikap batin yang menerima sepenuhnya kedaulatan Allah.

Masalah muncul ketika manusia menjadi kuat—kuat uangnya, relasinya, kekuasaannya, atau perlindungan hukumnya. Pada titik ini, kalimat “jika Tuhan menghendaki” menjadi semakin tipis, bahkan nyaris hilang. Yang membahayakan bukan kekuatan itu sendiri, melainkan hilangnya kesadaran akan kekekalan. Karena itu, ketika Tuhan mengizinkan kesulitan dan keadaan yang tidak menentu, sesungguhnya itu adalah nutrisi bagi jiwa. Tuhan sedang menjaga agar manusia tidak melupakan prinsip kekal ini.

Mengandalkan relasi, kuasa, atau pengaruh manusia demi kepastian hidup sangat mendukakan Tuhan. Tidak salah memiliki koneksi atau dukungan, tetapi mengandalkannya sebagai sumber kepastian berarti menggeser posisi Tuhan. Orang percaya dipanggil untuk berkata: “Jika Tuhan menghendaki, kami akan hidup dan berbuat ini dan itu.” Artinya, apa pun yang terjadi diterima sebagai bagian dari kehendak Allah yang terbaik.

Banyak orang hidup dengan pola pikir seolah-olah dunia ini adalah satu-satunya tempat hidup. Surga dianggap abstrak dan jauh. Padahal Kerajaan Allah yang akan datang—Langit Baru dan Bumi Baru—adalah realitas yang sangat konkret. Dunia baru itu seperti bumi ini, tetapi tanpa dosa, tanpa pemberontakan, dan tanpa kematian. Di sanalah kepastian sejati berada.

Karena itu, sebaik apa pun keadaan hidup di bumi—sehat, bahagia, mapan—semuanya bukan kepastian. Bahkan dapat membahayakan jika membuat manusia melekat pada dunia. Injil menegaskan bahwa dunia bukan rumah kita. Namun ironisnya, banyak gereja justru mengajarkan sebaliknya: bagaimana menikmati dunia dengan bantuan Tuhan.

Sesungguhnya, manusia berurusan dengan Tuhan bukan untuk memperoleh kepastian hidup di bumi, melainkan untuk menemukan dan menggenapi rencana Allah. Prinsip “jika Tuhan menghendaki” berarti hidup difokuskan pada kehendak Allah, bukan sekadar keuntungan. Tuhan tidak boleh direduksi menjadi alat untuk sukses duniawi. Jika demikian, Tuhan bukan lagi Tuhan, melainkan hamba bagi ambisi manusia.

Orang-orang yang sungguh dikasihi Tuhan sering kali digoncang dengan masalah-masalah yang tidak terduga. Sengatan-sengatan ini dimaksudkan untuk menyadarkan bahwa di dunia ini tidak ada kepastian sejati. Sebaliknya, orang yang dibiarkan tanpa guncangan sering kali menjadi sombong dan merasa mampu mengatur segalanya. Kondisi inilah yang paling mengerikan, sebab menunjukkan hati yang semakin jauh dari Kerajaan Allah.

Satu-satunya kepastian yang sejati hanyalah Tuhan dan Kerajaan-Nya. Segala sesuatu yang lain akan berlalu. Oleh karena itu, hidup dalam ketidakpastian duniawi, tetapi bersandar pada kepastian Allah, justru merupakan jalan yang sehat bagi jiwa dan satu-satunya jalan menuju kekekalan.

Tuhan Yesus memberkati

SETIAP RENCANA MANUSIA SEHARUSNYA SELALU DIIRINGI DENGAN KESADARAN: JIKA TUHAN MENGHENDAKI.

Card image
KIDS DAILY DEVOTIONAL 24 Februari 2026 - MELAYANI DENGAN KASIH
2026-02-25 23:17:46


1 Petrus 4:10
“Layanilah seorang akan yang lain, sesuai dengan karunia yang telah diperoleh tiap-tiap orang sebagai pengurus yang baik dari kasih karunia Allah.”

Bel istirahat berbunyi nyaring. Nina membuka bekalnya yang hangat buatan ibu. Saat itu, ia melihat Julia hendak ke kantin, tetapi tampak kesulitan berdiri karena kakinya masih sakit akibat kecelakaan kecil kemarin. Julia terlihat ragu dan sedikit kesakitan.

Tanpa berpikir lama, Nina segera menghampiri Julia. Ia meminta Julia duduk kembali dan dengan tulus menawarkan diri untuk membelikan makanan di kantin. Nina melakukannya dengan senang hati, bukan karena diminta, tetapi karena ingin menolong.

Rehobot Kids, dari kisah ini kita belajar bahwa Tuhan memanggil kita untuk saling melayani. Kita mungkin tidak punya hal besar untuk diberikan, tetapi Tuhan sudah memberi setiap kita kemampuan dan kesempatan untuk menolong orang lain. Ketika kita menggunakan apa yang kita punya dengan kasih, Tuhan sangat disenangkan.

Yuk, belajar seperti Nina yang peka melihat kebutuhan orang lain dan mau melayani dengan tulus hati. Saat kita melayani sesama, kasih Tuhan menjadi nyata melalui hidup kita setiap hari.

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 24 Februari 2026 (English Version) - LET KINDNESS WIN
2026-02-25 23:15:37


“Do not be overcome by evil, but overcome evil with good.”
Romans 12:21

When we are betrayed, hurt, or bullied, those uncomfortable feelings are very real. We may try to hold back from retaliating, yet the desire to repay the same treatment still arises. Sometimes, there is even a strong urge in our hearts to see them feel the same pain we experienced.

These feelings are human. However, God’s Word invites us to pause and ask: Will repaying evil with evil truly heal our wounds? Is God pleased when we entertain thoughts of retaliation? Romans 12:21 reminds us that when we repay evil with evil, we are actually allowing evil to control our hearts.

Choosing goodness does not mean ignoring the pain we feel. Kindness is a decision not to let bitterness define who we are. By choosing goodness, we protect the integrity of our hearts and give God space to work for restoration.

Jesus Himself faced insults, rejection, and violence, yet He did not respond with hatred. He demonstrated that love and kindness have greater power than evil. When we choose goodness, we are declaring that our wounds will not be the end of our story.

WHAT TO DO?
1. Acknowledge your feelings before God without hiding them.
2. Surrender your pain and anger to God, asking for strength to respond wisely.
3. Take one act of kindness today, no matter how small, as a response to God’s Word.

BIBLE MARATHON:
John 16

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 24 Februari 2026 - LET KINDNESS WIN
2026-02-25 22:08:46

“Janganlah kamu kalah terhadap kejahatan, tetapi kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan.”
Roma 12:21

Saat dikhianati, disakiti dan dibully, perasaan tidak nyaman itu sangat nyata. Kita mungkin sudah berusaha menahan diri untuk tidak membalas, tetapi tetap aja muncul keinginan untuk membalas perlakuan yang sama. Bahkan, ada dorongan kuat dalam hati untuk melihat mereka merasakan sakit yang pernah kita alami.

Perasaan itu manusiawi. Namun, firman Tuhan mengajak kita untuk berhenti sejenak dan bertanya: apakah membalas kejahatan dengan kejahatan benar-benar akan menyembuhkan luka kita? Apakah Tuhan berkenan sama kita ada pikiran mau membalas mereka dengan kejahatan? Roma 12:21 mengingatkan bahwa ketika kita membalas kejahatan dengan kejahatan, sebenarnya kita sedang membiarkan kejahatan menguasai hati kita.

Memilih kebaikan bukan berarti kita menganggap remeh luka yang ada. Kebaikan adalah keputusan untuk tidak membiarkan kepahitan menentukan siapa diri kita. Dengan memilih kebaikan, kita menjaga hati kita tetap utuh dan memberi ruang Tuhan untuk bekerja memulihkan.

Tuhan Yesus sendiri menghadapi hinaan, penolakan, dan kekerasan, namun Ia tidak membalas dengan kebencian. Ia menunjukkan bahwa kasih dan kebaikan memiliki kuasa yang lebih besar daripada kejahatan. Ketika kita memilih kebaikan, kita sedang berkata bahwa luka tidak akan menjadi akhir dari cerita kita.

WHAT TO DO?
1. Akui perasaanmu di hadapan Tuhan tanpa menutupinya
2. Serahkan luka dan amarahmu kepada Tuhan, minta kekuatan untuk merespons dengan bijak.
3. Lakukan satu tindakan kebaikan hari ini, sekecil apa pun, sebagai bentuk respon kita pada firman Tuhan.

BIBLE MARATHON:
Yohanes 16

Card image
Renungan Pagi - 24 Februari 2026
2026-02-25 21:20:27


Melayani pekerjaan Tuhan bukan sekedar kewajiban, bukan sekedar rutinitas, tetapi melayani justru karena kita mengerti kasih setia Tuhan, kebaikan Tuhan, dan mengerti bahwa kita sudah diselamatkan.

Karena Tuhan sudah menyelamatkan, maka harus menjadi saksi, menjadi berkat dan terang, bahkan melalui kita orang lain dapat diselamatkan.

Melayani pekerjaan Tuhan diperlukan keintiman dengan Tuhan dan mengerti kasih setia Tuhan, kebaikan Tuhan, dan mengerti bahwa kita sudah diselamatkan melalui pekerjaan Tuhan yang dahsyat dalam Yesus Kristus.

Card image
Quote Of The Day - 24 Februari 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-02-25 21:18:51


Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali; maka menjeritlah dan akui kesalahan kita dan berubahlah! Dia Allah yang hidup, yang akan bereaksi kalau kita menggeliat untuk berubah dan bertobat.

Card image
Mutiara Suara Kebenaran - 24 Februari 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-02-25 21:17:54


Jadilah pribadi-pribadi yang hidup dengan gairah Yesus, gairah yang mendorong kita untuk terus mencari kehendak Bapa, melakukan-Nya dengan sungguh-sungguh, dan menyelesaikan pekerjaan-Nya dengan setia sampai akhir hidup.

Card image
LIVING IN CERTAINTY 24 Februari 2026 (English Version)
2026-02-25 21:17:06


Every human being longs for certainty. The certainty most commonly desired is a good life according to human standards: a healthy body, a whole and harmonious family, stable finances, and a safe, comfortable living situation. To achieve such certainty, people struggle hard to avoid illness, disaster, poverty, failure, and insecurity. All their energy is poured out so that life will run according to their expectations and predetermined goals.

Aware of their own limitations, human beings then seek strength outside themselves. This is where religion—in a general sense—becomes a means of obtaining certainty. Whatever it is called—God, deity, or some other power—it serves as a support, making tomorrow feel more secure. From experience, people learn that many events occur beyond prediction and calculation. The future cannot be fully penetrated. Therefore, people want to know what will happen tomorrow. This need gives rise to practices such as divination, occultism, and various other attempts to seek certainty.

Believers, however, must understand one fundamental truth: this world is a fallen world. There is no true certainty in it. The only absolute certainty in this world is uncertainty itself. Why is this so? Because this world is not the world that God designed initially, desired, and intended. The all-wise God did not create the world with a broken system like the one that exists now.

Indeed, some people appear “fortunate”—the wealthy, the nobility, or those who live in times and places without war and disaster—so that the world seems almost like Paradise. Yet such conditions are rare and temporary. Ironically, it is precisely this comfortable situation that can become a dangerous trap, because it makes people feel that they do not need God. When people think sufficiently, securely, and capably, they stop correcting themselves. Yet true life is not the present life, but the life that is to come.

This is why Jesus said that it is difficult for a rich person to enter the Kingdom of Heaven. It is not wealth itself that is the problem, but the power—money, connections, influence—that makes people feel they do not need God. Psalm 73 describes this reality sharply. The wicked appear carefree, healthy, and increasing in wealth, as though their lives are secure forever. Yet the psalmist also realizes that all of this ends suddenly. They are placed in “slippery places,” and in an instant, they vanish like a dream that disappears when one awakens.

If this is the case, then a life that is uncertain by worldly standards is not necessarily a bad thing. In fact, such uncertainty can be a grace, because it preserves an awareness of eternity. Those who are not swept away by worldly pleasures are more easily directed toward the Kingdom of God. However, this does not mean that people may live carelessly or irresponsibly. Uncertainty is not an excuse for negligence, but a call to rely entirely on the Lord.

The Lord Jesus bless you

THE ONLY ABSOLUTE CERTAINTY IN THIS WORLD IS UNCERTAINTY ITSELF. BECAUSE THIS WORLD IS NOT THE WORLD THAT GOD DESIGNED INITIALLY, DESIRED, AND INTENDED.

Card image
HIDUP DALAM KEPASTIAN - 24 Februari 2026
2026-02-25 00:13:37


Setiap manusia mendambakan kepastian. Kepastian yang umumnya diharapkan adalah keadaan hidup yang baik menurut ukuran manusia: tubuh yang sehat, rumah tangga yang utuh dan harmonis, ekonomi yang mapan, serta situasi hidup yang aman dan menyenangkan. Demi memperoleh kepastian seperti ini, manusia berjuang keras, berusaha menghindari sakit penyakit, bencana, kemiskinan, kegagalan, dan ketidakamanan. Seluruh energi dicurahkan agar hidup berjalan sesuai harapan dan target yang telah ditetapkan.

Dalam kesadaran akan keterbatasan dirinya, manusia lalu mencari kekuatan di luar dirinya. Di sinilah agama—dalam pengertian umum—menjadi sarana untuk memperoleh kepastian. Apa pun sebutannya—dewa, allah, atau kekuatan lain—semuanya berfungsi sebagai sandaran agar hari esok terasa lebih aman. Manusia belajar dari pengalaman bahwa banyak peristiwa terjadi di luar prediksi dan perhitungan. Masa depan tidak dapat ditembus sepenuhnya. Karena itu, manusia ingin mengetahui apa yang akan terjadi esok hari. Kebutuhan inilah yang melahirkan praktik-praktik peramalan, perdukunan, dan bentuk pencarian kepastian lainnya.

Namun orang percaya perlu memahami satu kebenaran mendasar: dunia ini adalah dunia yang telah jatuh. Tidak ada satu pun kepastian sejati di dalamnya. Satu-satunya kepastian di dunia ini justru adalah ketidakpastian. Mengapa demikian? Karena dunia ini bukan dunia yang dirancang, dikehendaki, dan diingini Allah sejak semula. Allah yang Mahabijaksana tidak menciptakan dunia dengan sistem yang rusak seperti sekarang.

Memang ada sebagian orang yang tampak “beruntung”—orang kaya, bangsawan, atau mereka yang hidup di masa dan tempat tanpa perang dan bencana—sehingga seolah-olah dunia ini dapat menjadi seperti Firdaus. Namun keadaan semacam itu jarang dan bersifat sementara. Ironisnya, justru kondisi yang nyaman ini dapat menjadi jebakan yang berbahaya, karena membuat manusia merasa tidak membutuhkan Tuhan. Ketika manusia merasa cukup, aman, dan berdaya, ia berhenti membenahi diri. Padahal? kehidupan yang sejati bukanlah kehidupan sekarang, melainkan kehidupan yang akan datang.

Inilah sebabnya Yesus berkata bahwa orang kaya sukar masuk Kerajaan Surga. Bukan karena kekayaan itu sendiri, melainkan karena kekuatan—uang, relasi, kuasa—membuat manusia merasa tidak memerlukan Tuhan. Mazmur 73 menggambarkan realitas ini dengan tajam. Orang fasik tampak senang, sehat, dan bertambah harta, seolah-olah hidup mereka aman selamanya. Namun pemazmur juga menyadari bahwa semua itu berakhir secara tiba-tiba. Mereka ditempatkan di “tempat-tempat licin”, dan dalam sekejap lenyap seperti mimpi yang buyar saat orang terbangun.

Jika demikian, keadaan hidup yang tidak pasti menurut ukuran dunia bukanlah sesuatu yang buruk. Justru ketidakpastian itu dapat menjadi anugerah, karena memelihara kesadaran akan kekekalan. Orang yang tidak hanyut dalam kesenangan dunia lebih mudah diarahkan kepada Kerajaan Allah. Namun hal ini tidak berarti manusia boleh hidup ceroboh atau tidak bertanggung jawab. Ketidakpastian bukan alasan untuk kelalaian, melainkan panggilan untuk bersandar sepenuhnya kepada Tuhan.

Tuhan Yesus memberkati

SATU-SATUNYA KEPASTIAN DI DUNIA INI JUSTRU ADALAH KETIDAKPASTIAN. KARENA DUNIA INI BUKAN DUNIA YANG DIRANCANG DIKEHENDAKI, DAN DIINGINI ALLAH SEJAK SEMULA.

Card image
Bacaan Alkitab Setahun - 24 Februari 2026
2026-02-24 22:41:06

Bilangan 3-4

Card image
KIDS DAILY DEVOTIONAL 23 Februari 2026 - TAMPIL BEDA
2026-02-24 20:30:07


Kolose 3:12
“Karena itu, sebagai orang-orang pilihan Allah yang dikuduskan dan dikasihi-Nya, kenakanlah belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran.”

Rehobot Kids, pernahkah kamu melihat orang yang sibuk dengan urusannya sendiri dan tidak peduli pada orang lain? Dunia saat ini sering kali penuh dengan orang-orang yang hanya memikirkan dirinya sendiri. Kesibukan dan masalah membuat banyak orang lupa untuk saling menolong.

Tetapi Tuhan memanggil kita untuk tampil beda. Sebagai anak-anak pilihan Allah yang sudah dikasihi-Nya, kita diajar untuk mengenakan hati yang penuh belas kasihan, kebaikan, kerendahan hati, dan kesabaran. Artinya, kita mau peduli, mau menolong, dan mau berbagi dengan orang lain.

Saat kita berbagi dan menolong, hati kita menjadi lebih peka. Kita mulai melihat kebutuhan orang lain dan belajar mengasihi seperti Tuhan mengasihi kita. Dunia sangat membutuhkan anak-anak yang mau peduli dan berbuat baik.

Yuk, Rehobot Kids, kita pilih untuk tampil beda! Mulailah dari hal sederhana: membantu teman, menghibur yang sedih, dan berbagi dengan tulus. Dengan begitu, kasih Tuhan bisa terlihat nyata melalui hidup kita.

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 23 Februari 2026 (English Version) - RESPONDING WITH WISDOM
2026-02-24 19:01:27


“A gentle answer turns away wrath, but a harsh word stirs up anger.”
Proverbs 15:1

In this fast-paced world, we are often pressured to react quickly—especially when we are hurt, belittled, or bullied. Notifications keep coming, harsh comments appear without filter, and our emotions are triggered. It feels natural to want to respond with equally sharp words.

But today’s Scripture invites us not just to react, but to respond with wisdom.

A gentle answer does not mean weakness. It actually requires strength of heart and maturity in faith to choose words that do not escalate the situation. When we hold back our ego and choose a wise attitude, we create space for God’s peace to work both in our hearts and in the tense situation.

Jesus Himself set the example. He did not repay insult with insult, but with love and truth. His response shows that love is always stronger than anger.

WHAT TO DO?
1. Don’t respond immediately when emotions are high. Take a moment to calm down and think.
2. Ask yourself: Will my words bring peace or make things worse?
3. Entrust painful situations to God and trust that He works, not your emotions.

BIBLE MARATHON:
John 15

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 23 Februari 2026 - MERESPON DENGAN HIKMAT
2026-02-24 18:59:15


“Jawaban yang lemah lembut meredakan kegeraman, tetapi perkataan yang pedas membangkitkan marah”.
Amsal 15:1

Di dunia yang serba cepat ini, kita sering dituntut untuk bereaksi dengan cepat juga apalagi saat disakiti, direndahkan atau di bully. Notifikasi datang silih berganti, komentar pedas muncul tanpa filter dan emosi kita pun ikut terpancing. Rasanya wajar kalau ingin membalas dengan kata-kata yang sama tajamnya.

Namun firman Tuhan hari ini mengajak kita untuk tidak sekadar bereaksi, tetapi me respons dengan hikmat.

Jawaban yang lembut bukan berarti lemah. Justru dibutuhkan kekuatan hati dan kedewasaan iman untuk memilih kata-kata yang tidak memperkeruh keadaan. Saat kita menahan ego dan memilih sikap yang bijak, kita sedang memberi ruang bagi damai Tuhan bekerja baik di hati kita maupun di situasi yang sedang panas.

Yesus sendiri memberi teladan. Ia tidak membalas hinaan dengan hinaan, tetapi dengan kasih dan kebenaran. Respons-Nya menunjukkan bahwa kasih selalu lebih kuat daripada amarah.

WHAT TO DO?
1. Jangan langsung membalas saat emosi naik. Ambil waktu sejenak untuk tenang dan berpikir.
2. Tanyakan ke diri sendiri: Apakah kata-kataku akan membawa damai atau memperkeruh keadaan?
3. Serahkan situasi yang menyakitkan kepada Tuhan dan percaya Dia yang bekerja, bukan emosimu.

BIBLE MARATHON:
Yohanes 15

Card image
Renungan Pagi - 23 Februari 2026
2026-02-24 18:57:07


Setiap detakan waktu ibarat kesempatan emas yang Tuhan berikan untuk kita, waktu selalu bergerak maju dan tidak dapat pernah diputar kembali.

Oleh karena itu, mari singkirkan setiap kemalasan dalam diri kita, jangan biarkan rasa malas dan kelambanan mengambil kesempatan berharga yang Tuhan berikan kepada kita.

Card image
Quote Of The Day - 23 Februari 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-02-24 18:54:39


Tuhan disenangkan kalau kita bisa memaksimalkan potensi, berjerih lelah bertarung melawan kesulitan hidup ini bagi kepentingan-Nya.

Card image
Mutiara Suara Kebenaran - 23 Februari 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-02-24 18:53:31


Perjuangan hidup yang dijalani dengan iman tidak pernah sia-sia. Tuhan mencatat setiap kesetiaan, setiap pengorbanan, dan setiap ketaatan yang dilakukan demi-Nya. 

Card image
THE MEASURE OF MATURITY - 23 Februari 2026 (English Version)
2026-02-24 18:49:29


A critical indicator of spiritual maturity is the decreasing number of things a person expects from this world. As age and life experience increase, the space for enjoying the world becomes narrower, and the objects of worldly happiness become more limited. At some point, a person realizes that the world no longer offers complete and lasting happiness. This awareness is not a sign of despair but of maturity.

In youth, people generally live with many expectations. There are many things they want to attain: education that yields degrees, jobs that provide income, a life partner who promises happiness, children who bring complete joy, and various facilities thought to perfect life. In this process, often without realizing it, people become “indebted” to the world. The world plants expectations that bind them, so that they feel they cannot help but desire what the world offers.

This phenomenon explains why, as they grow older, several people become more easily angered and harsher. Some disappointments are unexpressed and unresolved, which then accumulate into anger. Because they do not know how to channel that anger, even small things can trigger emotional outbursts. From a spiritual perspective, such a condition shows a soul that is being shaped away from the light and increasingly dominated by darkness. Tragically, many people are being led in this direction without realizing it—toward a life without thirst for spiritual things and without longing for God.

Most people still think their happiness is incomplete because they have not yet attained many worldly things. This way of thinking is actually a sign that spiritual maturity has not yet been achieved. True maturity is marked by the awareness that there are fewer and fewer things that can be hoped for from this world.

This awareness often becomes stronger when someone enters married life. At this stage, a person begins to realize that life’s satisfaction is limited: household life, sexual relations, and the presence of children do not always bring the happiness imagined. In fact, under certain conditions, a misguided marriage can become a source of deep suffering. The situation becomes even heavier when family relationships are troubled, children are unfilial, economic conditions do not improve, or illnesses come one after another.

The reality of life shows how short and fragile human life is. Life’s tragedies are not experienced only by others, but also by oneself. This awareness should prepare a person to live with an eternal orientation. Human beings are called to become people who are ready to “pack up,” that is, to have an inner condition that supports the final goal: life in the New Heaven and Earth. For this, a strong commitment is needed to remain faithful and steadfast in the truth.

Ironically, a comfortable life because everything is running well—healthy, financially sufficient, and free from major problems—often makes it difficult for people to accept pure truth. Even when that truth is heard, there is not always a longing to put it into real life. In such conditions, spiritual life becomes dull, and the orientation toward eternity fades. Jesus Himself said that it is easier for a camel to go through the eye of a needle than for a rich person to enter the Kingdom of God. Wealth and comfort often enlarge a person’s “wings,” but not to fly toward eternity, rather to maintain power, pride, and a false sense of security in this world.

Therefore, as a person matures, they realize that the world cannot make them happy. At this point, life converges on a single center: God, the only source of happiness. When God becomes the only One hoped for, only then can a person be called a beloved of God—someone who lives in an intimate and whole relationship with Him.

The story of Abraham illustrates this principle powerfully. For decades, Abraham waited for a child, a waiting period that was psychologically and emotionally very heavy. When Isaac was finally born, it cannot be denied that Isaac became a great source of joy for Abraham. At that point, Abraham could have felt that his life was complete. Yet it was precisely there that God tested his heart. Isaac had the potential to replace God as the center of Abraham’s heart. God desires a friend whose heart is not bound to anyone or anything other than Himself alone.

The test God gave to Abraham was, in essence, a question about the deepest priority: choosing the gift or the Giver, choosing the blessing or the Giver of the blessing. Abraham was called to prove that his love and loyalty to God surpassed everything that was most precious in his life. The same question is actually addressed to every believer: what is the center of one’s happiness in life, and who is truly chosen when one must determine the final direction of life?

The Lord Jesus bless you

A CRITICAL INDICATOR OF SPIRITUAL MATURITY IS THE DECREASING NUMBER OF THINGS A PERSON EXPECTS FROM THIS WORLD.

Card image
UKURAN KEDEWASAAN - 23 Februari 2026
2026-02-23 22:43:28


Salah satu indikator penting dari pertumbuhan kedewasaan rohani adalah semakin berkurangnya hal-hal yang diharapkan manusia dari dunia ini. Seiring bertambahnya usia dan pengalaman hidup, ruang untuk menikmati dunia menjadi semakin sempit, dan objek kebahagiaan duniawi pun semakin terbatas. Pada titik tertentu, seseorang mulai menyadari bahwa dunia tidak lagi mampu menawarkan kebahagiaan yang utuh dan bertahan lama. Kesadaran ini bukan tanda keputusasaan, melainkan tanda kedewasaan.

Pada masa muda, manusia umumnya hidup dengan berbagai harapan. Ada banyak hal yang ingin diraih dan dicapai: pendidikan yang menghasilkan gelar, pekerjaan yang memberi penghasilan, pasangan hidup yang menjanjikan kebahagiaan, anak yang melengkapi sukacita, serta berbagai fasilitas yang dianggap menyempurnakan hidup. Dalam proses ini, tanpa disadari, manusia menjadi “berutang” kepada dunia. Dunia menanamkan harapan-harapan yang membelenggu, sehingga manusia merasa tidak dapat, tidak harus menginginkan apa yang dunia tawarkan.

Fenomena ini menjelaskan mengapa tidak sedikit orang yang semakin bertambah usia justru semakin mudah marah dan keras. Ada kekecewaan yang tidak tersampaikan dan tidak terselesaikan, yang kemudian menumpuk menjadi kemarahan. Karena tidak tahu kepada siapa kemarahan itu dilampiaskan, hal-hal kecil pun cukup untuk memicu ledakan emosi. Dalam perspektif rohani, kondisi seperti ini menunjukkan jiwa yang sedang dibentuk untuk menjauh dari terang dan semakin dikuasai oleh kegelapan. Tragisnya, ada banyak orang yang tanpa sadar sedang diarahkan ke arah ini—kehidupan tanpa kehausan akan perkara rohani dan tanpa kerinduan kepada Allah.

Sebagian besar manusia masih berpikir bahwa kebahagiaan hidupnya belum lengkap karena masih ada banyak hal duniawi yang belum diraih. Cara berpikir seperti ini justru menjadi tanda bahwa kedewasaan rohani belum tercapai. Kedewasaan sejati ditandai oleh kesadaran bahwa semakin sedikit hal yang dapat diharapkan dari dunia ini.

Kesadaran ini sering kali semakin kuat ketika seseorang memasuki kehidupan pernikahan. Pada tahap ini, seseorang mulai menyadari bahwa kepuasan hidup ternyata terbatas: rumah tangga, relasi seksual, dan kehadiran anak tidak selalu menghadirkan kebahagiaan seperti yang dibayangkan. Bahkan, dalam kondisi tertentu, pernikahan yang keliru justru menjadi sumber penderitaan yang mendalam. Situasi semakin berat ketika relasi keluarga bermasalah, anak tidak berbakti, kondisi ekonomi tidak membaik, atau penyakit datang silih berganti.

Realitas hidup menunjukkan betapa singkat dan rapuhnya kehidupan manusia. Tragedi hidup tidak hanya dialami oleh orang lain, tetapi juga oleh diri sendiri. Kesadaran ini seharusnya mempersiapkan manusia untuk hidup dengan orientasi kekekalan. Manusia dipanggil untuk menjadi pribadi yang siap “berkemas-kemas”, yakni memiliki kondisi batin yang mendukung tujuan akhir: kehidupan dalam Langit Baru dan Bumi Baru. Untuk itu, dibutuhkan komitmen yang kuat untuk setia dan bertahan dalam kebenaran.

Ironisnya, kondisi hidup yang nyaman karena running well—sehat, berkecukupan secara finansial, dan bebas dari masalah besar—sering kali justru membuat manusia sulit menerima kebenaran yang murni. Bahkan ketika kebenaran itu didengar, tidak selalu ada kerinduan untuk mengenakannya dalam kehidupan nyata. Dalam keadaan seperti ini, kehidupan rohani menjadi tumpul, dan orientasi kekekalan memudar. Yesus sendiri menyatakan bahwa lebih mudah seekor unta masuk ke lubang jarum daripada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah. Kekayaan dan kenyamanan kerap memperbesar “sayap” manusia, tetapi bukan untuk terbang menuju kekekalan, melainkan untuk mempertahankan kekuasaan, harga diri, dan rasa aman semu di dunia ini.

Oleh karena itu, semakin seseorang bertumbuh dewasa, semakin ia menyadari bahwa dunia tidak lagi mampu membahagiakannya. Pada titik inilah hidup mengerucut pada satu pusat: Allah sebagai satu-satunya sumber kebahagiaan. Ketika Allah menjadi satu-satunya yang diharapkan, barulah manusia dapat disebut sebagai kekasih Allah—sebagai pribadi yang hidup dalam relasi intim dan utuh dengan-Nya.

Kisah Abraham memberikan gambaran yang kuat mengenai prinsip ini. Selama puluhan tahun Abraham menantikan seorang anak, sebuah penantian yang secara psikologis dan emosional sangat berat. Ketika Ishak akhirnya lahir, tidak dapat disangkal bahwa Ishak menjadi sumber kebahagiaan besar bagi Abraham. Pada titik itu, Abraham dapat saja merasa hidupnya telah lengkap. Namun justru di sanalah Allah menguji hatinya. Ishak berpotensi menggantikan posisi Allah di pusat hati Abraham. Allah menghendaki sahabat yang hatinya tidak terikat pada siapa pun atau apa pun selain Dia sendiri.

Ujian yang diberikan Allah kepada Abraham pada hakikatnya adalah pertanyaan tentang prioritas terdalam: memilih pemberian atau Pemberi, memilih berkat atau Sang Pemberi berkat. Abraham dipanggil untuk membuktikan bahwa kasih dan kesetiaannya kepada Allah melampaui segala hal yang paling berharga dalam hidupnya. Pertanyaan yang sama sesungguhnya diarahkan kepada setiap orang percaya: apa yang menjadi pusat kebahagiaan hidup, dan siapakah yang benar-benar dipilih ketika harus menentukan arah akhir kehidupan?

Tuhan Yesus memberkati

SALAH SATU INDIKATOR PENTING DARI PERTUMBUHAN KEDEWASAAN ROHANI ADALAH SEMAKIN BERKURANGNYA HAL-HAL YANG DIHARAPKAN MANUSIA DARI DUNIA INI.

Card image
Bacaan Alkitab Setahun - 23 Februari 2026
2026-02-23 22:28:26

Bilangan 1-2

Card image
KIDS DAILY DEVOTIONAL 22 Februari 2026 - KUE JAWABAN DOA
2026-02-22 22:15:40


Amsal 22:9
“Orang yang baik hati akan diberkati, karena ia membagi rezekinya dengan si miskin.”

Suatu hari, seorang anak berdiri di depan etalase toko kue. Ia memandang kue-kue ulang tahun yang cantik dan lezat. Hatinya ingin sekali membeli satu kue, tetapi ia hanya bisa menatap dari jauh karena uangnya tidak cukup.

Pemilik toko kue melihat anak itu lalu bertanya dengan ramah, “Kamu mau membeli kue?” Anak itu menjawab pelan, “Saya ingin membeli kue ulang tahun untuk ibu saya, tapi uang saya tidak cukup.”

Pemilik toko tersenyum hangat dan berkata, “Tidak apa-apa. Hari ini kamu boleh memilih kue yang kamu mau untuk ibumu. Bawa pulang saja. Tidak perlu memikirkan kekurangannya.”

Dengan hati penuh sukacita, anak itu membawa pulang kue tersebut. Ia bisa merayakan ulang tahun ibunya yang sedang sakit. Doanya kepada Tuhan akhirnya terjawab melalui kebaikan seorang pemilik toko kue.

Rehobot Kids, dari cerita ini kita belajar bahwa kebaikan kecil bisa menjadi jawaban doa bagi orang lain. Saat kita mau berbagi dengan hati yang baik, Tuhan memakai kita untuk membawa sukacita dan harapan.

Yuk, belajar menjadi anak yang baik hati dan mau berbagi. Kita mungkin tidak tahu, tapi bisa jadi melalui kebaikan kita, Tuhan sedang menjawab doa seseorang.

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 22 Februari 2026 (English Version) - A CLASSY WAY TO LOVE YOUR ENEMIES
2026-02-22 22:12:07


“Do not seek revenge or bear a grudge against anyone among your people, but love your neighbor as yourself. I am the LORD.”
Leviticus 19:18

Facing bullying within friendships is one of the toughest tests for our mental and emotional well-being. Our natural response is usually to fight back or, at the very least, to hold deep resentment. However, Leviticus 19:18 sets a very different standard. This command does not mean allowing ourselves to be mistreated, but rather an invitation to break the cycle of hatred. When we repay evil with evil, we unknowingly allow the offender to control our character and drag us down to the same level.

When we realize that our worth comes from God, we gain the strength not to hold grudges. Forgiving does not mean justifying wrong behavior, but freeing our hearts from the poison of bitterness. By choosing not to retaliate, you demonstrate true class as someone who carries the character of God’s Kingdom—a character stronger than anger and emotional wounds. Self-control in the midst of provocation is a real mark of spiritual maturity.

Loving our enemies is indeed not easy, but it is this kind of love that sets God’s children apart. It is love that is not born from fleeting emotions, but from a decision to live rightly before God. When you choose love over revenge, you are protecting your heart and keeping your life whole.

WHAT TO DO?
1. Get used to starting with small things without waiting for big goals or instant change.
2. Honestly evaluate yourself so you can better understand your life process and continue growing in God.
3. Build consistency in your life plans without waiting for strong motivation to begin good habits.

BIBLE MARATHON:
John 14

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 22 Februari 2026 - CARA BERKELAS MENGASIHI MUSUHMU
2026-02-22 22:10:05


“Janganlah engkau menuntut balas, dan janganlah menaruh dendam terhadap orang-orang sebangsamu, melainkan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri; Akulah TUHAN.”
Imamat 19:18

Menghadapi perundungan (bullying) dalam pertemanan adalah salah satu ujian terberat bagi mental dan emosi. Respons alami kita biasanya ingin membalas, atau setidaknya menyimpan dendam yang mendalam. Namun, Imamat 19:18 memberikan standar yang sangat berbeda. Perintah ini bukan berarti kita membiarkan diri diinjak-injak, melainkan sebuah ajakan untuk memutus rantai kebencian. Saat kita membalas kejahatan dengan kejahatan, tanpa sadar kita sedang membiarkan pelaku mengendalikan karakter kita dan menyeret kita ke level yang sama.

Ketika kita sadar bahwa harga diri kita berasal dari Tuhan, kita memiliki kekuatan untuk tidak menyimpan dendam. Mengampuni bukan berarti membenarkan perilaku yang salah, tetapi membebaskan hati kita dari racun kepahitan. Dengan tidak membalas, kamu sedang menunjukkan kelas sebagai orang yang punya karakter Kerajaan Allah—karakter yang lebih kuat daripada amarah dan luka batin. Mengendalikan diri di tengah provokasi adalah bentuk kedewasaan rohani yang nyata.

Mengasihi musuh memang tidak mudah, tetapi itulah kasih yang membedakan anak Allah. Kasih yang tidak lahir dari emosi sesaat, melainkan dari keputusan untuk hidup benar di hadapan Tuhan. Saat kamu memilih kasih daripada balas dendam, kamu sedang menjaga hatimu tetap sehat dan hidupmu tetap utuh.

WHAT TO DO?
1. Biasakan mulai dari hal kecil tanpa menunggu target besar atau perubahan instan.
2. Evaluasi diri dengan jujur agar semakin paham proses hidup dan terus bertumbuh di dalam Tuhan.
3. Bangun konsistensi dalam rencana hidup, tanpa menunggu motivasi besar untuk memulai kebiasaan baik.

BIBLE MARATHON:
Yohanes 14

Card image
Renungan Pagi - 22 Februari 2026
2026-02-22 22:07:58


Dalam hidup ini seringkali yang kita ingat adalah hal-hal yang menyakitkan, hal-hal yang mengecewakan, hal-hal yang pahit, dan sebagainya, itulah sebabnya ada banyak orang yang hidup dengan tidak ada semangat karena yang diingat adalah hal-hal yang menyakitkan.

Akan tetapi kita diajar Tuhan untuk mengingat hal-hal yang baik, karena dengan mengingat hal-hal yang baik yang Tuhan kerjakan dalam hidup kita, maka semangat bangkit, kekuatan semakin kokoh dan iman kita semakin tegar dalam sutuasi dan kondisi apapun.

Card image
Quote Of The Day - 22 Februari 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-02-22 17:31:04


Gereja harus mengajarkan bahwa jemaat harus bekerja keras sebagai ibadah yang sejati untuk menyelesaikan semua permasalahan.

Card image
Mutiara Suara Kebenaran - 22 Februari 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-02-22 17:29:10


Orang yang haus akan Allah tidak puas dengan pengenalan yang dangkal. Ia rindu lebih mengenal, lebih dekat, dan lebih taat.

Card image
THE ENCOUNTER BETWEEN GRACE, OPPORTUNITY, AND RISK - 22 Februari 2026 (English Version)
2026-02-22 17:27:40


A person who has been forgiven has a clear purpose: to be allowed to improve themselves and their condition. In 1 Corinthians 15:34a, it is written, “Come back to your senses as you ought, and stop sinning.” There is a correlation between forgiveness and the opportunity to become better. However, it must first be emphasized that God does not forgive us because we do good. On the contrary, before any good deeds are shown, God has already extended His grace to forgive us. This means that forgiveness is, first and foremost, God’s grace toward humanity. No matter how well a person behaves afterward, if God had not first opened Himself to reconciliation with us, all good deeds would be in vain. Thus, when we say that forgiveness has a clear purpose, we do not intend to elevate good works or eliminate the element of grace in God’s forgiveness.

The gracious God who forgives us desires change in us. From the human perspective, this is a great opportunity that must be responded to sincerely. A person who does not respond adequately to God’s forgiveness by changing their life during this opportunity is effectively treating God’s grace as cheap. When we realize we have been forgiven, we should begin to take our lives seriously, for this opportunity could end at any time. Therefore, there is no more appropriate response to God’s grace than continual repentance. Forgiveness is an opportunity.

From God’s perspective, however, forgiveness is not only grace but also a risk that God Himself takes. Risk here means that there is no guarantee that when God grants His forgiveness, human beings will respond correctly. There is always the possibility that people will continue to turn their backs on God and repeatedly fall into the same mistakes. Yet rather than focusing on that risk, God still opens the door of forgiveness to us. Here we can perceive the astonishing greatness of God’s heart. Even when there is no sufficient reason to forgive, He chooses to remain faithful, even when we are unfaithful. Therefore, forgiveness does not speak only of grace and opportunity, but also of risk. Forgiveness is the encounter of three major crossroads: grace, opportunity, and risk.

This truth has substantial implications for the forgiveness we extend to others. When we understand that forgiveness is grace, opportunity, and risk all at once, we realize that when we forgive someone, there is always the possibility that we may be hurt again by the same person through the same wrongdoing. Even though that possibility is real, we are still called to give that person another opportunity. Why? Because we ourselves have first been given a great opportunity in the grace of God. In other words, what we have received from God must also be passed on to others.

Reading this truth is like placing burning coals upon our own heads. On the one hand, we know it is true; on the other hand, it is tough and can even feel consuming. Yet there is no other option. Shouldn’t our lives be like His? If so, then living in forgiveness that embraces these three dimensions is something we cannot avoid. To forgive means continually placing ourselves in a vulnerable position. We may be betrayed again at any time. There is no guarantee that the person we forgive will change. Yet this is the very nature of forgiveness: the meeting point of grace (our generosity of heart), opportunity (our willingness to open ourselves), and risk (the absence of guarantees).

Without any one of these three, true forgiveness cannot occur. Therefore, let us realize today that when we forgive someone, we have only one hope: to express all three under the guidance of the Spirit of God. Let us not be driven merely by ego—wanting to forgive, yet unwilling to open the opportunity for relationships to be restored as before, and unwilling to accept the risk that we may be hurt again.

The Lord Jesus bless you

FORGIVENESS IS GRACE, OPPORTUNITY, AND RISK ALL AT ONCE, WE REALIZE THAT WHEN WE FORGIVE SOMEONE, THERE IS ALWAYS THE POSSIBILITY THAT WE MAY BE HURT AGAIN BY THE SAME PERSON THROUGH BY THE SAME PERSON THROUGH THE SAME WRONGDOING.

Card image
PERTEMUAN ANTARA ANUGERAH, KESEMPATAN, DAN RISIKO - 22 Februari 2026
2026-02-22 17:16:33


Seseorang yang diampuni memiliki tujuan yang jelas, yakni beroleh kesempatan untuk memperbaiki diri dan keadaannya. Dalam 1 Korintus 15:34a dikatakan, “Sadarlah kembali sebaik-baiknya dan jangan berbuat dosa lagi!” Ada korelasi antara pengampunan dan kesempatan untuk menjadi lebih baik. Namun, perlu ditegaskan terlebih dahulu bahwa bukan karena kita berbuat baik maka kita diampuni oleh Allah. Sebaliknya, sebelum perbuatan baik itu kita tunjukkan, Allah telah terlebih dahulu memberi rahmat-Nya untuk mengampuni kita. Ini berarti bahwa pengampunan, pertama-tama, adalah anugerah Allah bagi manusia. Sebaik apa pun manusia bertingkah laku di kemudian hari, seandainya Allah tidak membuka diri-Nya untuk diperdamaikan dengan kita, sia-sialah semua perbuatan baik tersebut. Jadi, dengan mengatakan bahwa pengampunan memiliki tujuan yang jelas, sama sekali tidak dimaksudkan untuk mengutamakan perbuatan baik dan menghilangkan unsur anugerah dari pengampunan Allah.

Allah yang bermurah hati mengampuni kita menghendaki adanya perubahan dalam diri kita. Dari sisi manusia, ini adalah kesempatan besar yang perlu direspons dengan sungguh-sungguh. Seseorang yang tidak merespons pengampunan Allah secara memadai dengan mengubah dirinya dalam kesempatan ini sama dengan menganggap murah kasih karunia Allah. Seharusnya, ketika kita sadar bahwa kita telah diampuni, kita mulai memperkarakan hidup kita dengan serius. Sebab, mungkin saja kesempatan ini dapat berakhir kapan saja. Oleh karena itu, tidak ada respons yang lebih tepat untuk menanggapi anugerah Allah selain bertobat setiap saat. Pengampunan adalah kesempatan.

Namun, dari sisi Allah, pengampunan tidak hanya merupakan anugerah, melainkan juga risiko yang diambil oleh Allah sendiri. Risiko di sini berarti bahwa tidak ada jaminan bahwa ketika Allah memberi pengampunan-Nya, manusia akan meresponsnya dengan benar. Selalu ada kemungkinan bahwa manusia tetap membelakangi Allah dan terus jatuh bangun tanpa henti dalam kesalahan yang sama. Alih-alih memikirkan risiko itu, Allah tetap membuka pintu pengampunan-Nya bagi kita. Di sini kita dapat menghayati betapa dahsyatnya kebesaran hati Allah. Meski tidak ada alasan yang cukup untuk mengampuni, Ia tetap memilih setia, sekalipun kita tidak setia. Oleh karena itu, pengampunan tidak hanya berbicara tentang anugerah dan kesempatan, tetapi juga risiko. Pengampunan adalah perjumpaan dari tiga simpang besar, yakni anugerah, kesempatan, dan risiko.

Kebenaran ini memberi implikasi yang kuat bagi pengampunan yang kita tumpahkan kepada sesama. Dengan memahami bahwa pengampunan adalah anugerah, kesempatan, sekaligus risiko, ketika kita mengampuni seseorang, kita sadar bahwa selalu ada kemungkinan kita akan dilukai kembali oleh orang yang sama melalui kesalahan yang sama. Kendati kemungkinan itu niscaya, kita tetap perlu memberi kesempatan kepada orang tersebut. Mengapa? Karena kita telah terlebih dahulu diberi kesempatan yang besar dalam anugerah Allah. Dengan kata lain, apa yang telah kita terima dari Allah wajib kita limpahkan juga kepada orang lain.

Membaca kebenaran ini seperti menaruh bara api di atas kepala kita sendiri. Di satu sisi kita tahu bahwa ini benar, tetapi di sisi lain hal ini sangat sulit dan bahkan dapat menghanguskan kita. Namun, tidak ada pilihan lain. Bukankah hidup kita seharusnya serupa dengan-Nya? Jika demikian, hidup dalam pengampunan yang merengkuh ketiga sisi ini adalah sesuatu yang tidak dapat kita hindari. Mengampuni berarti selalu menempatkan diri kita dalam posisi yang rapuh. Kita dapat dikhianati kembali kapan saja. Tidak ada jaminan bahwa orang yang kita ampuni akan berubah. Namun, inilah hakikat pengampunan: pertemuan antara anugerah (kemurahan hati kita), kesempatan (kesediaan membuka hati), dan risiko (ketiadaan jaminan).

Tanpa salah satu dari ketiganya, pengampunan yang sejati tidak akan terjadi. Oleh karena itu, marilah kita menyadari hari ini bahwa ketika mengampuni seseorang, harapan kita hanya satu, yakni mengekspresikan ketiganya dalam tuntunan Roh Allah. Jangan sampai kita hanya dikuasai oleh ego, sehingga kita ingin memberi pengampunan, tetapi tidak bersedia membuka kesempatan agar hubungan dipulihkan seperti sediakala dan menerima risiko bahwa kita dapat dilukai kembali.

Tuhan Yesus memberkati

PENGAMPUNAN ADALAH ANUGERAH, KESEMPATAN, SEKALIGUS RISIKO, KETIKA KITA MENGAMPUNI SESEORANG, KITA SADAR BAHWA SELALU ADA KEMUNGKINAN KITA AKAN DILUKAI KEMBALI OLEH ORANG YANG SAMA MELALUI KESALAHAN YANG SAMA.

Card image
Bacaan Alkitab Setahun - 22 Februari 2026
2026-02-22 17:13:27

Imamat 26-27

Card image
KIDS DAILY DEVOTIONAL 21 Februari 2026 - TIDAK HARUS MENUNGGU KAYA
2026-02-22 07:49:41


2 Korintus 8:12
“Sebab jika kamu rela untuk memberi, maka pemberianmu akan diterima, kalau pemberianmu itu berdasarkan apa yang ada padamu, bukan berdasarkan apa yang tidak ada padamu.”

Andi sedang berpikir keras. “Apa ya yang bisa aku berikan untuk Budi yang rumahnya kebakaran?” Andi merasa bingung karena ia masih anak-anak. Ia belum punya uang sendiri dan tentu saja tidak bisa membangun rumah baru untuk Budi. Dalam hatinya, Andi berkata, “Coba kalau aku sudah kaya, pasti aku bisa menolong lebih banyak.”

Tapi kemudian Andi mulai sadar, ia sebenarnya tetap bisa memberi. Ia bisa memberikan baju-baju yang masih layak dipakai, meminjamkan buku pelajaran supaya Budi tetap bisa belajar, dan yang paling penting, mendoakan Budi serta keluarganya agar Tuhan memberi kekuatan dan penghiburan.

Rehobot Kids, untuk memberi kepada orang lain, kita tidak perlu menunggu sampai menjadi kaya atau punya banyak uang. Tuhan tidak menilai seberapa besar pemberian kita, tetapi melihat kerelaan dan ketulusan hati kita.

Firman Tuhan hari ini mengajarkan bahwa pemberian yang berasal dari apa yang kita miliki sekarang, jika diberikan dengan rela, sangat berharga di mata Tuhan. Hal kecil yang kita berikan bisa menjadi berkat besar bagi orang lain.

Yuk, mulai belajar memberi dari sekarang. Apa pun yang kita punya—waktu, perhatian, barang sederhana, atau doa—jika diberikan dengan tulus, Tuhan pasti memakainya untuk membawa kebaikan dan sukacita bagi banyak orang.

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 21 Februari 2026 (English Version) - FAITHFULNESS WRAPPED IN COMMITMENT
2026-02-22 07:45:18


“Whoever is faithful in very little is also faithful in much, and whoever is dishonest in very little is also dishonest in much.”
Luke 16:10

Many of us have big dreams: becoming great leaders, successful entrepreneurs, or serving many people. But Luke 16:10 reminds us of one important truth—great responsibility is not a “lucky reward.” It is the result of faithfulness in small things. It is through small matters that we learn commitment, because often the greatest challenges are hidden in things that seem insignificant.

God pays attention to how we handle what may appear unimportant: time discipline, honesty, small responsibilities, and daily consistency. If we take small things lightly, our character will never be ready to carry greater weight. Faithfulness in small things is a character-forming process that often happens behind the scenes, far from the spotlight.

To God, those moments are proof of our true character. “Big things” may come as a bonus, but faithfulness wrapped in commitment is the main requirement. Don’t let us become so busy chasing big stages while our behind-the-scenes life is falling apart. Remember, God is not looking for the most talented people, but for those who are most trustworthy in the small things they do every day.

✅ WHAT TO DO?
1. Get used to starting with small things without waiting for big goals or instant change.
2. Honestly evaluate yourself to better understand your life process and continue growing in God.
3. Build consistency in your life plans without waiting for strong motivation to begin good habits.

BIBLE MARATHON:
John 13

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 21 Februari 2026 - KESETIAAN DIBALUT DENGAN KOMITMEN
2026-02-22 07:42:13


“Barang siapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barang siapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar.”
Lukas 16:10

Banyak dari kita punya mimpi besar: ingin jadi pemimpin hebat, pengusaha sukses, atau melayani banyak orang. Tapi Lukas 16:10 mengingatkan satu hal penting— tanggung jawab besar bukanlah “hadiah keberuntungan”. Semua itu adalah hasil dari kesetiaan dalam hal-hal kecil. Justru dari perkara kecil itulah kita belajar berkomitmen, karena sering kali tantangan terbesar tersembunyi di hal-hal yang terlihat sepele.

Tuhan memperhatikan bagaimana kita mengelola hal-hal yang tampaknya tidak berarti: disiplin waktu, kejujuran, tanggung jawab kecil, dan konsistensi sehari-hari. Kalau kita meremehkan hal kecil, karakter kita tidak akan pernah siap memikul beban yang lebih besar. Kesetiaan dalam perkara kecil adalah proses pembentukan karakter yang sering terjadi di balik layar, jauh dari sorotan.

Bagi Tuhan, momen-momen itulah pembuktian kualitas diri kita. “Perkara besar” bisa datang sebagai bonus, tetapi kesetiaan yang dibalut dengan komitmen adalah syarat utama. Jangan sampai kita sibuk mengejar panggung besar, sementara kehidupan di balik layar justru berantakan. Ingat, Tuhan tidak mencari orang yang paling berbakat, tetapi orang yang paling dapat dipercaya dalam hal-hal kecil yang dikerjakan setiap hari.

WHAT TO DO?
1. Biasakan mulai dari hal kecil tanpa menunggu target besar atau perubahan instan.
2. Evaluasi diri dengan jujur agar semakin paham proses hidup dan terus bertumbuh di dalam Tuhan.
3. Bangun konsistensi dalam rencana hidup, tanpa menunggu motivasi besar untuk memulai kebiasaan baik.

BIBLE MARATHON:
Yohanes 13

Card image
Renungan Pagi - 21 Februari 2026
2026-02-22 07:39:43


Iblis paling senang melihat orang-orang yang tidak beribadah kepada Tuhan, ketika tidak beribadah, itu sama dengan kita kehilangan kuasa Allah.

Ketika beribadah kepada Tuhan, maka kita akan memiliki kuasa Allah, Alkitab berkata tunduklah kepada Allah, lawanlah iblis, maka iblis akan lari.

Sadarilah setiap kita butuh ibadah, karena ibadah itu bukan hanya mengandung janji tetapi dengan beribadah yang benar, maka hidup kita akan penuh dan mengalami janji-janji Tuhan.

Card image
Quote Of The Day - 21 Februari 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-02-22 07:38:08


Sebagai tanda, Tuhan bisa membuat mukjizat dengan memberi pertolongan secara spektakuler pada awal seseorang menjadi orang Kristen, tetapi seterusnya orang Kristen harus dewasa dengan mengembangkan semua potensi demi pekerjaan-Nya.

Card image
Mutiara Suara Kebenaran - 21 Februari 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-02-22 07:33:50


Orang yang serius mengejar kesalehan akan bersikap tegas terhadap dirinya sendiri. Bukalah hati bagi firman, kebenaran, dan suara Tuhan.

Card image
SANCTIFIED BY PRAYER - 21 Februari 2026 (English Version)
2026-02-22 07:31:40


1 Timothy 4:5
“…for it is sanctified by the Word of God and by prayer.”

This statement affirms that sanctification in the life of a believer is not accomplished only through the blood of Christ, the Word of God, and the work of the Holy Spirit, but also through prayer. The question is: what does Paul mean by sanctification through worship? What Paul means is that through unceasing fellowship with the Lord in personal prayer, a person is directed to have the character of the Father.

Prayer here must not be understood merely as a religious activity or a spiritual routine, but as a living and ongoing fellowship with God. Prayer is a dialogue, a relationship, and a continuous interaction between human beings and the Father. Therefore, when Scripture commands believers to “pray without ceasing” (1 Thess. 5:17), it does not mean uttering words of prayer without pause, but living in an awareness of God’s presence and in uninterrupted fellowship with Him.

The Lord Jesus illustrated perseverance in this fellowship through the parable of a widow who kept coming to a judge who neither feared God nor cared about anyone (Luke 18:1–8). This parable is not merely about persistence in asking for something, but about persistence in continually coming before a higher authority. Jesus even concludes the parable with a probing question. Whether He will find such faith on the earth at the end of the age (Luke 18:8). This question shows that in a world that is increasingly busy and indifferent to God, steadfast fellowship with God is becoming increasingly rare.

When human beings no longer care about God, their way of thinking and philosophy of life gradually drift away from God, and even stand in opposition to the truth of God. As a result, ungodly people emerge who do not fear God and do not honor His law. This phenomenon occurs not only outside the church, but also within the lives of many Christians who, in reality, are more familiar with worldly entertainment, pleasures, and distractions than with God as the source of true joy.

Therefore, it becomes imperative for every believer to set aside specific time to “appear before” the Father and the Lord Jesus Christ. The time set apart must not be leftover time or time taken casually, but prime time—the best time—when a person truly comes with deep longing and a keen awareness of their urgent need for God. Prayer must not be reduced to a mere schedule of personal devotion or a spiritual obligation carried out without desire. If worship becomes merely routine, without longing, then true fellowship does not take place.

The desire to meet God must be the strongest in a believer’s life, surpassing all other desires. If God is not the primary attraction of the human heart, then something else has taken His place. In this context, prayer becomes a means of sanctification because, through personal encounters with God, human beings are realigned with His will and character.

In intimate encounters with God, a person becomes increasingly aware of God’s incomparable holiness. At the same time, they also see the brokenness in their own lives and the importance of honesty. The distance between God’s holiness and the human condition becomes strikingly clear. It is here that true repentance occurs. Every encounter with God gives birth to new awareness, new commitment, and a renewed resolve to live blameless and without reproach. It is not uncommon for someone to feel that each encounter is like a continual new birth.

From this point, believers begin to train themselves not to touch what is wrong in thought, word, or deed. Sanctification through prayer does not start with significant matters, but with simple ones: guarding one’s thoughts, weighing one’s words, and directing one’s heart toward what is right in God’s eyes. The mind is no longer allowed to roam freely, the mouth no longer speaks carelessly, and the heart no longer becomes a dwelling place for impure things. When the mind and heart are governed by the Word of God, actions that deviate from God’s will can be avoided.

Through continual encounters with the Lord, spiritual impartation takes place, in which He shares His Spirit, His passion, and His divine life with believers. God’s holiness is transmitted—not mechanically, but through relationship. The heavenly passion that flows from God’s presence inspires believers to walk in holiness, not out of compulsion, but out of love and a desire to please the Father’s heart.

From this experience, a person begins to understand what it means to be personally discipled by the Lord Jesus. Indeed, this is God’s valid will: that believers become disciples of Christ, not merely disciples of pastors, churches, or particular religious systems—human beings and the church function only as temporary helpers and mentors. In essence, it is the Lord Jesus Himself who disciples believers through the Word, the Spirit, and personal encounters in prayer. Therefore, meeting God personally in prayer is not an optional addition to the Christian life, but an absolute necessity.

The Lord Jesus bless you

PRAYER BECOMES A MEANS OF SANCTIFICATION BECAUSE, THROUGH PERSONAL ENCOUNTERS WITH GOD, HUMAN BEINGS ARE REALIGNED WITH HIS WILL AND CHARACTER.

Card image
DIKUDUSKAN OLEH DOA - 21 Februari 2026
2026-02-22 07:24:49


1 Timotius 4:5
“… sebab semuanya itu dikuduskan oleh firman Allah dan oleh doa.”

Pernyataan ini menegaskan bahwa pengudusan dalam kehidupan orang percaya tidak hanya dikerjakan melalui darah Kristus, firman Allah, dan pekerjaan Roh Kudus, tetapi juga melalui doa. Pertanyaannya adalah: apa yang dimaksud Paulus dengan pengudusan melalui doa? Maksud pernyataan Paulus ini adalah bahwa melalui persekutuan yang tiada henti dengan Tuhan dalam doa pribadi, maka seseorang diarahkan untuk memiliki karakter Bapa.

Doa di sini tidak boleh dipahami semata-mata sebagai aktivitas keagamaan atau rutinitas rohani, melainkan sebagai persekutuan yang hidup dan berkesinambungan dengan Allah. Doa adalah dialog, relasi, dan interaksi terus-menerus antara manusia dengan Bapa. Karena itu, ketika Alkitab memerintahkan agar orang percaya “berdoa tanpa henti” (1 Tes. 5:17), yang dimaksud bukanlah mengucapkan kata-kata doa tanpa jeda, melainkan hidup dalam kesadaran akan hadirat Allah dan persekutuan yang tidak terputus dengan-Nya.

Tuhan Yesus menggambarkan ketekunan dalam persekutuan ini melalui perumpamaan tentang seorang janda yang terus-menerus datang kepada hakim yang tidak takut akan Allah dan tidak peduli kepada siapa pun (Luk. 18:1–8). Perumpamaan ini bukan sekadar mengajarkan ketekunan meminta sesuatu, melainkan ketekunan untuk terus datang dan berhadapan dengan otoritas yang lebih tinggi. Yesus bahkan menutup perumpamaan itu dengan pertanyaan yang menggugah: apakah Ia akan mendapati iman seperti itu pada akhir zaman (Luk. 18:8)? Pertanyaan ini menunjukkan bahwa di tengah dunia yang semakin sibuk dan tidak memedulikan Tuhan, persekutuan yang tekun dengan Allah justru menjadi semakin langka.

Ketika manusia tidak lagi memedulikan Tuhan, cara berpikir dan filosofi hidupnya perlahan-lahan semakin jauh bahkan sampai bertentangan dari kebenaran Allah. Akibatnya, lahirlah manusia-manusia fasik yang tidak takut Tuhan dan tidak menghormati hukum-Nya. Fenomena ini tidak hanya terjadi di luar gereja, tetapi juga di dalam kehidupan banyak orang Kristen yang ternyata lebih akrab dengan hiburan dunia, kesenangan, dan distraksi, daripada dengan Tuhan sebagai sumber kebahagiaan sejati.

Oleh sebab itu, menjadi mutlak bagi setiap orang percaya untuk menyediakan waktu khusus untuk “menghadap” Bapa dan Tuhan Yesus Kristus. Waktu yang disediakan bukanlah sisa waktu atau waktu seadanya, melainkan waktu prima—waktu terbaik—di mana seseorang sungguh-sungguh datang dengan kerinduan yang dalam dan kesadaran akan kebutuhan yang mendesak akan Tuhan. Doa tidak boleh direduksi menjadi sekadar jadwal saat teduh atau kewajiban rohani yang dijalankan tanpa hasrat. Jika doa hanya menjadi rutinitas tanpa kerinduan, maka persekutuan sejati tidak terjadi.

Hasrat untuk bertemu dengan Tuhan harus menjadi hasrat yang paling kuat dalam hidup orang percaya, melampaui semua keinginan lainnya. Jika bukan Tuhan yang menjadi daya tarik utama hati manusia, berarti ada hal lain yang telah menggantikan posisi-Nya. Dalam konteks inilah doa menjadi sarana pengudusan, karena melalui perjumpaan pribadi dengan Allah, manusia mulai diselaraskan kembali dengan kehendak dan karakter-Nya.

Dalam perjumpaan yang intim dengan Allah, seseorang akan semakin menyadari kekudusan Allah yang tidak tertandingi. Bersamaan dengan itu, ia juga akan melihat dengan jujur kerusakan hidup dan keberadaan dirinya sendiri. Jarak antara kesucian Allah dan kondisi manusia menjadi sangat nyata. Di sinilah pertobatan sejati terjadi. Setiap perjumpaan dengan Tuhan melahirkan kesadaran baru, komitmen baru, dan tekad untuk hidup tidak bercacat dan tidak bercela. Tidak jarang seseorang merasakan bahwa setiap perjumpaan itu seperti kelahiran baru yang terus-menerus.

Dari titik inilah orang percaya mulai melatih diri untuk tidak menyentuh apa yang salah—baik dalam pikiran, perkataan, maupun perbuatan. Pengudusan melalui doa tidak dimulai dari perkara-perkara besar, melainkan dari hal-hal sederhana: cara berpikir yang dijaga, perkataan yang ditimbang, dan sikap hati yang diarahkan kepada apa yang benar menurut Tuhan. Pikiran tidak lagi dibiarkan liar, mulut tidak lagi sembarangan berbicara, dan hati tidak lagi menjadi tempat bagi hal-hal yang najis. Ketika pikiran dan hati dikendalikan oleh firman Tuhan, maka perbuatan yang menyimpang dari kehendak Allah dapat dihindari.

Melalui perjumpaan yang terus-menerus dengan Tuhan, terjadi impartasi rohani di mana Ia membagikan spirit, gairah, dan kehidupan ilahi-Nya ke dalam diri orang percaya. Kekudusan Allah menular, bukan secara mekanis, tetapi melalui relasi. Gairah surgawi yang lahir dari hadirat Tuhan menginspirasi orang percaya untuk berjalan dalam kesucian, bukan karena paksaan, melainkan karena dorongan kasih dan kerinduan untuk menyenangkan hati Bapa.

Dari pengalaman inilah seseorang mulai memahami apa artinya dimuridkan secara pribadi oleh Tuhan Yesus. Sesungguhnya, inilah kehendak Allah yang sejati: bahwa orang percaya menjadi murid Kristus, bukan sekadar murid pendeta, gereja, atau sistem keagamaan tertentu. Manusia dan gereja hanya berfungsi sebagai penolong dan mentor sementara. Pada hakikatnya, Tuhan Yesus sendirilah yang memuridkan orang percaya melalui firman, Roh, dan perjumpaan pribadi dalam doa. Karena itu, berjumpa secara pribadi dengan Tuhan dalam doa bukanlah pilihan tambahan dalam kehidupan Kristen, melainkan kebutuhan yang mutlak.

Tuhan Yesus memberkati

DOA MENJADI SARANA PENGUDUSAN, KARENA MELALUI PERJUMPAAN PRIBADI DENGAN ALLAH, MANUSIA MULAI DISELARASKAN KEMBALI DENGAN KEHENDAK DAN KARAKTER-NYA.

Card image
Bacaan Alkitab Setahun - 21 Februari 2026
2026-02-21 23:49:50

Imamat 24-25

Card image
KIDS DAILY DEVOTIONAL 20 Februari 2026 - MENJADI TERANG DENGAN BERBAGI
2026-02-21 23:36:23


Yesaya 58:10
“Apabila engkau menyerahkan kepada orang lapar apa yang kauinginkan sendiri dan memuaskan hati orang yang tertindas, maka terangmu akan terbit dalam gelap dan kegelapanmu akan seperti rembang tengah hari.”

Rehobot Kids, ingatkah saat perayaan Natal ketika kita menyalakan lilin bersama-sama? Awalnya hanya satu lilin yang menyala, lalu apinya dibagikan ke lilin-lilin lain. Ajaibnya, saat kamu membagikan api kepada teman, apakah lilinmu menjadi padam? Tidak! Justru ruangan yang tadinya gelap menjadi semakin terang.

Begitu juga dengan kebaikan. Tuhan mengajar kita untuk berbagi bukan hanya dari kelebihan, tetapi juga dari hal yang kita sukai. Saat kita mau berbagi bekal makanan, mainan kesayangan, atau waktu untuk menemani teman yang sedang sedih, kebaikan itu tidak akan habis. Tuhan adalah sumber segala kebaikan dan terang. Dia yang akan mengisi kembali hati kita dengan sukacita dan berkat.

Firman Tuhan hari ini mengingatkan bahwa ketika kita menolong orang yang lapar dan menghibur orang yang sedih, terang Tuhan akan bersinar melalui hidup kita. Walaupun awalnya terlihat kecil, kebaikan itu bisa membawa terang besar bagi orang lain.

Jadi Rehobot Kids, jangan takut berbagi, ya! Jadilah seperti lilin kecil yang mau berbagi terang. Saat kamu melihat orang lain tersenyum karena kebaikanmu, itulah tanda bahwa cahaya Tuhan sedang bersinar lewat hidupmu dan menerangi hati banyak orang.

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 20 Februari 2026 - COMMITMENT UNTIL THE END
2026-02-21 23:29:56


2 Timothy 4:7
“I have fought the good fight, I have finished the race, I have kept the faith.”

Commitment is easy to say, but hard to live out. Many people start with passion, but quit when challenges come. Yet if we want to grow in the Lord, we must dare to say: no turning back.

A real-life example can be seen in Nelson Mandela, a world figure still popular today. Even though he was imprisoned for decades, he remained steadfast in fighting for justice and equality. His commitment never wavered, even though his path was full of suffering. From Mandela’s story, we learn that true commitment isn’t measured by how easy the journey is, but by the courage to keep moving forward despite obstacles.

In our own lives, faith commitment is like a long race. Sometimes there are temptations to quit, sometimes we feel tired, but if we keep walking, God will give us strength. Challenges become a kind of “spiritual gym” that makes our faith stronger and our character more mature.

God wants us to be a generation that endures until the end. The world may offer shortcuts or temporary comfort, but walking with God is always more valuable. Remember, commitment is not just about starting with enthusiasm—it’s about finishing the race with faith still burning bright.

WHAT TO DO?
1. Reflect on your commitment: are you truly willing to grow in God without turning back?
2. Face challenges with prayer and faith—don’t let problems make you give up.
3. Find inspiration from historical figures or spiritual friends who can strengthen you to remain faithful

BIBLE MARATHON:
John 12

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 20 Februari 2026 - KOMITMEN SAMPAI AKHIR
2026-02-21 23:20:09


2 Timotius 4:7
“Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman.”

Komitmen itu gampang diucapkan, tapi sulit dijalani. Banyak orang semangat di awal, tapi mundur ketika tantangan datang. Padahal, kalau kita mau bertumbuh dalam Tuhan, kita harus berani bilang: no turning back.

Contoh nyata bisa kita lihat dari Nelson Mandela, tokoh sejarah dunia yang populer hingga kini. Meski harus dipenjara selama puluhan tahun, ia tetap teguh memperjuangkan keadilan dan kesetaraan. Komitmennya nggak pernah goyah walau jalannya penuh penderitaan. Dari kisah Mandela, kita belajar bahwa komitmen sejati bukan diukur dari seberapa mudah perjalanan kita, tapi dari keberanian untuk tetap maju meski ada rintangan.

Kalau dibawa ke kehidupan kita, komitmen iman itu mirip dengan perjuangan panjang. Kadang ada godaan buat mundur, kadang ada rasa capek, tapi kalau kita terus melangkah, Tuhan akan kasih kekuatan. Tantangan justru jadi “gym rohani” yang bikin iman kita makin kuat dan karakter kita makin matang.

Tuhan mau kita jadi generasi yang berani bertahan sampai akhir. Dunia mungkin tawarkan jalan pintas atau kenyamanan sesaat, tapi jalan bersama Tuhan selalu lebih bernilai. Ingat, komitmen itu bukan soal mulai dengan semangat, tapi soal bertahan sampai garis akhir dengan iman yang tetap menyala.

WHAT TO DO
1. Renungkan komitmenmu: apakah kamu sungguh-sungguh mau bertumbuh dalam Tuhan tanpa mundur.
2. Hadapi tantangan dengan doa dan iman, jangan biarkan masalah bikin kamu menyerah.
3. Cari inspirasi dari tokoh sejarah atau sahabat rohani yang bisa menguatkanmu untuk tetap setia.

BIBLE MARATHON:
Yohanes 12

Card image
Renungan Pagi - 20 Februari 2026
2026-02-21 23:17:05


Jangan berpikir kalau kita kaya, maka rumah tangga akan bahagia, jangan berpikir jika sudah memberikan uang yang banyak kepada anak-anak, maka anak-anak akan bahagia.

Keluarga yang bahagia tidak tergantung kepada berapa banyaknya harta yang kita miliki, tetapi keluarga yang bahagia ditentukan oleh hati yang saling mengasihi, saling menghormati, saling menghargai dan bagaimana cara hidup kita yang takut akan Tuhan.

Card image
Quote Of The Day - 20 Februari 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-02-21 00:13:39


Kebenaran tidak bisa menolerir orang yang tidak memiliki integritas.

Card image
Mutiara Suara Kebenaran - 20 Februari 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-02-21 00:11:44


Hanya orang yang membutuhkan Tuhan, menghormati Dia dan hanya orang yang menghormati Tuhan yang layak hidup dalam Kerajaan Surga.

Card image
SANCTIFIED BY THE SPIRIT - 20 Februari 2026 (English Version)
2026-02-21 00:10:03


1 Peter 1:2
“…who have been chosen according to the foreknowledge of God the Father, Sanctified by the Spirit, for obedience to Jesus Christ and for sprinkling with His blood: May grace and peace be multiplied to you.”

This statement affirms that sanctification is not accomplished only by the blood of Christ and the Word of God, but also by the Holy Spirit’s work. The question, then, is: what does it mean to be sanctified by the Spirit, and how does this process of sanctification take place? To understand this, it is necessary to distinguish the Word in two dimensions: Logos and Rhema. When a person hears or studies the Word of God, that Word first works in the realm of understanding and reasoning.

Logos is the Word that is understood in the mind through teaching that is heard. For example, a person may realize God’s command, “Love your enemies.” Intellectually, this command can be grasped and even agreed with. However, such understanding does not automatically make a person able to love their enemies. For that to happen, the Word that has been understood must be tested and embodied in real life. When someone truly experiences opposition, hurt, or injustice, the Holy Spirit’s presence becomes evident.

In such concrete experiences, the Holy Spirit brings to remembrance the Word that was previously received. The Word that was once merely Logos in the mind is now made alive and applied specifically within a real situation. This is what is called Rhema—the Word that the Holy Spirit communicates personally and contextually to be obeyed. Through Rhema, the Word of God no longer remains a concept, but becomes living guidance that directs attitudes and actions.

In certain situations—especially for those who love God—the Lord sanctifies through various life experiences (Rom. 8:28). Life experiences, including suffering and hardship, become instruments of divine discipline. However, this process is effective only for those who are genuinely willing to receive the Lord’s discipline (Heb. 12:7–9). Spiritual maturity is impossible without involvement in authentic experiences that are often painful; yet it is precisely through such paths that God works to cleanse and shape our character.

In this process, the Father disciplines His children through the Holy Spirit. The Holy Spirit works within the inner being, revealing truth, convicting, strengthening, and enabling a person to obey. This is what it means to be sanctified by the Spirit. Holiness is not achieved by human strength, nor by sheer willpower or self-discipline alone, but by the help of the Spirit of God. The Holy Spirit is the “fa” ility of salvation” t” at God provides to guide believers toward the perfection He desires.

This is consistent with the words of the Lord Jesus in His prayer, when He said that He sanctified Himself so that believers might be sanctified in the truth (John 17:18–19). This statement shows that the Lord Jesus Himself underwent a process of obedience marked by struggle. He did not attain perfection easily, but through suffering and total obedience to the Father’s will. He underwent this process so that He might become the perfect example for believers and be used by God as the means of salvation.

Hebrews 5:8–9 states this very clearly: “Although He was a Son, He learned obedience from what He suffered, and having been made perfect, He became the source of eternal salvation for all who obey Him.” After the Lord Jesus completed His saving work, He opened the way for human beings to undergo a similar process of sanctification—being sanctified, processed, and used by the Father. The Apostle Paul himself experienced this sanctification when he was set apart and appointed as an instrument of God to fulfill His plan (Rom. 1:1).

Thus, true sanctification does not stop at a change of status or mere character improvement, but culminates in a life being used as an instrument in the Father’s hands to accomplish His purposes in this world. God plans to destroy the works of the devil (1 John 3:8). This understanding aligns with the meaning of the Hebrew word “holy,” qadhôš, which means “set apart for use.”

The Lord Jesus bless you

SANCTIFICATION IS NOT ACCOMPLISHED ONLY BY THE BLOOD OF CHRIST AND THE WORD OF GOD, BUT ALSO BY THE HOLY SPIRIT'S WORK.

Card image
DIKUDUSKAN OLEH ROH - 20 Februari 2026
2026-02-21 00:08:17


1 Petrus 1:2
“… yaitu orang-orang yang dipilih, sesuai dengan rencana Allah, Bapa kita, dan yang dikuduskan oleh Roh, supaya taat kepada Yesus Kristus dan menerima percikan darah-Nya. Kiranya kasih karunia dan damai sejahtera makin melimpah atas kamu.”

Pernyataan ini menegaskan bahwa pengudusan bukan hanya dikerjakan oleh darah Kristus dan firman Allah, tetapi juga oleh pekerjaan Roh Kudus. Pertanyaannya kemudian adalah: apa yang dimaksud dengan dikuduskan oleh Roh, dan bagaimana proses pengudusan itu berlangsung? Untuk memahami hal ini, perlu dibedakan pengertian firman dalam dua dimensi, yakni Logos dan Rhema. Ketika seseorang mendengar atau mempelajari firman Tuhan, firman tersebut pertama-tama bekerja pada ranah pengertian dan penalaran.

Logos adalah firman yang dipahami di dalam pikiran melalui pengajaran yang didengar. Sebagai contoh, seseorang dapat memahami perintah Tuhan: “Kasihilah musuhmu.” Secara intelektual, perintah ini dapat dimengerti dan bahkan disetujui. Namun pemahaman tersebut tidak serta-merta membuat seseorang mampu mengasihi musuh. Untuk itu, firman yang telah dipahami harus diuji dan diwujudkan dalam kenyataan hidup. Ketika seseorang sungguh-sungguh mengalami situasi dimusuhi, disakiti, atau diperlakukan tidak adil, di sanalah peran Roh Kudus menjadi nyata.

Dalam pengalaman konkret itulah Roh Kudus mengingatkan firman yang telah diterima sebelumnya. Firman yang semula hanya menjadi Logos dalam pikiran kini dihidupkan dan diarahkan secara spesifik dalam situasi nyata. Inilah yang disebut sebagai Rhema, yaitu firman yang disampaikan Roh Kudus secara personal dan kontekstual untuk ditaati. Melalui Rhema, firman Allah tidak lagi berhenti sebagai konsep, melainkan menjadi tuntunan hidup yang mengarahkan sikap dan tindakan.

Dalam kasus-kasus tertentu—terutama bagi mereka yang mengasihi Allah—Tuhan mengerjakan pengudusan melalui berbagai peristiwa kehidupan (Rm. 8:28). Pengalaman hidup, termasuk penderitaan dan kesukaran, menjadi sarana didikan ilahi. Namun proses ini hanya efektif bagi mereka yang sungguh-sungguh bersedia menerima didikan Tuhan (Ibr. 12:7–9). Pendewasaan rohani mustahil terjadi tanpa keterlibatan pengalaman nyata yang sering kali menyakitkan, namun justru melalui jalan itulah Tuhan bekerja membersihkan dan membentuk karakter kita.

Dalam proses tersebut, Bapa mendidik anak-anak-Nya melalui Roh Kudus. Roh Kudus bekerja di dalam batin manusia, menyingkapkan kebenaran, menegur, menguatkan, dan memampukan seseorang untuk taat. Inilah yang dimaksud dengan dikuduskan oleh Roh. Kekudusan tidak dicapai oleh kekuatan manusia, bukan oleh kemauan atau keteguhan diri semata, melainkan oleh pertolongan Roh Allah. Roh Kudus adalah “fasilitas keselamatan” yang Allah sediakan untuk menuntun orang percaya menuju kesempurnaan yang dikehendaki-Nya.

Hal ini sejalan dengan perkataan Tuhan Yesus dalam doa-Nya, bahwa Ia menguduskan diri-Nya supaya orang percaya dikuduskan dalam kebenaran (Yoh. 17:18–19). Pernyataan ini menunjukkan bahwa Tuhan Yesus sendiri menjalani proses ketaatan yang penuh pergumulan. Ia tidak mencapai kesempurnaan dengan mudah, tetapi melalui penderitaan dan ketaatan yang total kepada kehendak Bapa. Proses ini dijalani agar Ia menjadi teladan sempurna bagi orang percaya dan dipakai Allah sebagai sarana keselamatan.

Ibrani 5:8–9 menegaskan hal ini dengan sangat jelas: “Sekalipun Ia adalah Anak, Ia telah belajar menjadi taat dari apa yang diderita-Nya, dan sesudah Ia mencapai kesempurnaan-Nya, Ia menjadi pokok keselamatan yang abadi bagi semua orang yang taat kepada-Nya.” Setelah Tuhan Yesus menyelesaikan karya penyelamatan-Nya, Ia membuka jalan bagi manusia untuk mengalami proses pengudusan yang serupa—dikuduskan, diproses, dan dipakai oleh Bapa. Rasul Paulus sendiri mengalami pengudusan ini ketika ia dipisahkan dan ditetapkan menjadi alat Allah untuk menggenapi rencana-Nya (Rm. 1:1).

Dengan demikian, Pengudusan sejati tidak berhenti pada perubahan status atau perbaikan karakter semata, melainkan berujung pada pemakaian hidup sebagai alat di tangan Bapa untuk menggenapi rencana-Nya di dunia ini. Rencana Allah adalah membinasakan pekerjaan-pekerjaan Iblis (1 Yoh. 3:8). Pemahaman ini sejalan dengan arti kata “kudus” dalam bahasa Ibrani, qadhos, yang berarti “dipisahkan untuk digunakan.

Tuhan Yesus memberkati

PENGUDUSAN BUKAN HANYA DIKERJAKAN OLEH DARAH KRISTUS DAN FIRMAN ALLAH, TETAPI JUGA OLEH PEKERJAAN ROH KUDUS.

Card image
Bacaan Alkitab Setahun - 20 Februari 2026
2026-02-21 00:03:38

Imamat 22-23

Card image
KIDS DAILY DEVOTIONAL 19 Februari 2026 - SALING MENGUATKAN
2026-02-20 13:08:16


1 Tesalonika 5:11
“Karena itu nasihatilah seorang akan yang lain dan saling membangunlah kamu seperti yang memang kamu lakukan.”

Rehobot Kids, pernahkah kamu melihat teman yang sedang sedih, murung, atau duduk sendirian karena tidak ada yang mengajak bermain? Kadang teman kita terlihat tidak ceria seperti biasanya. Saat itulah mereka sebenarnya sedang membutuhkan perhatian dan semangat dari orang lain.

Di Alkitab, ada kisah tentang Hana. Hana sangat sedih karena belum memiliki anak. Ia menangis dan berdoa dengan sungguh-sungguh kepada Tuhan. Lalu datanglah Imam Eli yang memberi Hana kata-kata penghiburan dan pengharapan. Hana percaya bahwa Tuhan mendengar doanya, dan hatinya pun menjadi tenang.

Dari kisah ini, kita belajar bahwa memberi tidak selalu berupa barang atau hadiah. Kita bisa memberi semangat kepada teman yang sedih, menghibur teman yang kecewa karena nilainya kurang baik, menenangkan teman yang sedang marah, atau memberi senyuman dan pelukan kepada orang tua yang lelah.

Rehobot Kids, perhatian dan kata-kata yang baik adalah pemberian yang sangat berharga. Yuk, kita belajar saling menguatkan, memberi semangat, dan menghibur sesama. Saat kita melakukan itu, kita sedang membangun satu sama lain dan menyenangkan hati Tuhan.

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 19 Februari 2026 (English Version) - COMMITMENT WITHOUT TURNING BACK
2026-02-20 13:06:05


Luke 9:62
“No one who puts a hand to the plow and looks back is fit for service in the kingdom of God.”

Living in God is not always a smooth journey. There are challenges, temptations, and even moments when we feel like giving up. But once we commit to growing in the Lord, we must dare to say: no turning back.

A real-life story that went viral was about Laura Anna, a young Indonesian who became paralyzed after an accident. Even though her condition was heavy, Laura bravely spoke out, fought for justice, and inspired many people through her testimony. Films and media coverage of her struggle touched countless young people, because she showed commitment to stay strong even when her path was full of challenges.

Commitment is like climbing a mountain. Sometimes you get tired, sometimes you feel like stopping, but if you keep moving forward, you’ll eventually reach the peak. In the same way with faith if we keep pressing on, God will give us strength. Friends, don’t let challenges make you quit. It’s through those challenges that our character is shaped and our faith grows stronger.

God wants us to be a generation that boldly says “no turning back.” Once we choose to follow Jesus, we must keep walking until the end. The world may offer shortcuts, but walking with God is always more valuable. Remember, commitment is not just about starting with enthusiasm it’s about enduring to the very end.

WHAT TO DO?
1. Reflect on your commitment: are you truly willing to grow in God without turning back?
2. Face challenges with prayer and faith—don’t let problems make you give up.
3. Find spiritual friends who can support you to remain faithful in your journey of faith.

BIBLE MARATHON:
John 11

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 19 Februari 2026 - KOMITMEN TANPA MUNDUR
2026-02-20 13:00:09


Lukas 9:62
“Setiap orang yang siap untuk membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerajaan Allah.”

Hidup dalam Tuhan itu bukan perjalanan yang selalu mulus. Ada tantangan, ada godaan, bahkan ada momen di mana kita _pengen_ mundur. Tapi kalau kita sudah komitmen untuk bertumbuh dalam Tuhan, kita harus berani bilang: no turning back.

Kisah nyata yang sempat viral adalah tentang Laura Anna, seorang anak muda Indonesia yang mengalami kelumpuhan akibat kecelakaan. Meski kondisinya berat, Laura tetap berani bersuara, memperjuangkan keadilan, dan menginspirasi banyak orang lewat kesaksiannya. Film& dan liputan tentang perjuangannya bikin banyak anak muda tersentuh, karena ia menunjukkan komitmen untuk tetap kuat meski jalannya penuh tantangan.

Komitmen itu kayak perjalanan naik gunung. Kadang capek, kadang pengen berhenti, tapi kalau kita terus melangkah, puncak pasti bisa dicapai. Sama halnya dengan iman kalau kita terus maju, Tuhan akan kasih kekuatan. Rehobot Youth, jangan biarkan tantangan bikin kamu mundur. Justru lewat tantangan, karakter kita ditempa dan iman kita makin kuat.

Tuhan mau kita jadi generasi yang berani bilang “no turning back.” Sekali kita pilih ikut Yesus, kita harus jalan terus sampai akhir. Dunia mungkin tawarkan jalan pintas, tapi jalan bersama Tuhan selalu lebih bernilai. Ingat, komitmen itu bukan soal mulai dengan semangat, tapi soal bertahan sampai akhir.

WHAT TO DO?
1. Renungkan komitmenmu: apakah kamu sungguh-sungguh mau bertumbuh dalam Tuhan tanpa mundur.
2. Hadapi tantangan dengan doa dan iman, jangan biarkan masalah bikin kamu menyerah.
3. Cari sahabat rohani yang bisa mendukungmu untuk tetap setia dalam perjalanan iman.

BIBLE MARATHON:
Yohanes 11

Card image
Renungan Pagi - 19 Februari 2026
2026-02-19 22:23:36


Banyak orang melayani hanya untuk mencari muka; ketika dipuji orang mereka semangat, tapi ketika dikritik orang mereka marah, tersinggung dan kecewa.

Orang yang menyadari panggilannya takkan marah, takkan tersinggung, dan takkan kecewa, melainkan akan giat bekerja keras, siap berkorban, setia sampai pada kesudahannya.

Card image
Quote Of The Day - 19 Februari 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-02-19 22:21:52


Kualitas sebuah hubungan dapat dinilai dari isi percakapannya.

Card image
Mutiara Suara Kebenaran - 19 Februari 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-02-19 22:20:47


Belajarlah mempercayakan setiap perkara, besar maupun kecil ke dalam tangan Tuhan. Sebab hidup yang bersandar penuh kepada-Nya adalah hidup yang benar, tenang, dan berkenan di hadapan Allah.

Card image
SANCTIFICATION BY THE WORD - 19 Februari 2026 (English Version)
2026-02-19 22:19:24


Sanctification by the Word refers to the work of God carried out through the power of His Word as it is understood, embraced, and lived out by human beings in accordance with God’s will. The Word of God is not merely spiritual information, but God’s primary instrument for maturing human beings so that they no longer live in sin, but live according to His will. When the Word of God is said to sanctify, it means that the Word actively restrains people from evil deeds and shapes a life pleasing to God (John 17:14–17).

However, sanctification by the Word does not take place automatically. Human beings are required to diligently learn and remain in the truth of God’s Word. The Lord Jesus Himself affirmed that true freedom is experienced only by those who “abide in My word” (John 8:31–32). The liberty referred to here is freedom from the tendency to continue living in sin. Thus, sanctification by the Word involves active human participation. Without this proactive attitude, sanctification will not occur.

In this context, sanctification by the blood of the Lord Jesus can become futile if it is not followed by sanctification through the Word. When a person refuses to enter the process of being shaped by the Word, he is, in fact, treating the blood of Christ with contempt (Hebrews 10:29). Sanctification by the blood is intended to lead human beings into sanctification by the Word, where the blood of Christ changes our status. The Word of God changes our character.

The Word of God gives birth to faith, and it is this faith that saves (Romans 1:16–17). The gospel referred to by the Apostle Paul is the truth taught by the Lord Jesus—the living and powerful Word. Therefore, the salvation of God’s chosen people cannot be separated from the Word of God. It is impossible for someone to experience genuine salvation without undergoing a renewal of the mind produced by the Word. The Word of God renews the mind and forms a new perspective on life, so that human beings increasingly become like Christ.

The Lord Jesus reaffirmed this principle when He said, “If you abide in My word, you are truly My disciples, and you will know the truth, and the truth will set you free” (John 8:31–32). Being a disciple is not merely a confession of faith, but a life that is continually shaped by truth. Abiding in the Word means engaging in a sustained effort to learn, understand, and live out the Word of God. This process transforms the way one thinks, one’s values, and the direction of one’s existence.

Considering how central the Word of God is in the process of salvation—namely, the restoration of human beings to God’s original design—studying the Word must become a daily struggle. Growth in the understanding of truth must not be treated as a secondary activity, but as an absolute necessity. Just as the physical body requires daily food, so the spiritual person requires daily nourishment from the Word of God. Without this nourishment, spiritual life will weaken and eventually die.

Studying the Word of God can be done through various means, such as the Bible, spiritual literature, recorded sermons, digital media, and spiritual fellowship. However, what matters most is not the abundance of resources but the sincerity in setting aside time. Learning God’s Word must not be done only when there is spare time, but must be positioned as a top priority in the life of a believer.

The consequences of a Christian life that neglects growth in the Word are often not immediately felt. The effects may only become apparent after many years, even decades, when a person realizes that their spiritual life has stagnated or gone astray. This is why many assume that neglecting the Word of God carries no serious consequences. In reality, such neglect slowly erodes a person’s spiritual life and distances them from the true goal of salvation.

Therefore, every opportunity where the Word of God is taught—whether in worship services, prayer meetings, Bible studies, or spiritual seminars—must be regarded as extremely valuable. The sacrifice of time, energy, and cost is insignificant compared to the eternal value gained. Because a person’s understanding of the Word of God determines the direction of growth toward maturity, great care must be taken in choosing sources of teaching. Not every learning that uses the Bible automatically conveys the truth. Many teachings appear spiritual, yet do not lead to growth in holiness and conformity to Christ.

The Lord Jesus bless you

SANCTIFICATION BY THE WORD REFERS TO THE WORK OF GOD CARRIED OUT THROUGH THE POWER OF HIS WORD AS IT IS UNDERSTOOD, EMBRACED, AND LIVED OUT BY HUMAN BEINGS IN ACCORDANCE WITH GOD'S WILL.

Card image
PENGUDUSAN OLEH FIRMAN - 19 Februari 2026
2026-02-19 22:05:58


Pengudusan oleh firman menunjuk pada karya Allah yang dikerjakan melalui kuasa firman-Nya yang dipahami, dihayati, dan dihidupi oleh manusia sesuai kehendak Allah. Firman Tuhan bukan sekadar informasi rohani, melainkan sarana utama Allah untuk mendewasakan manusia agar tidak lagi hidup dalam dosa, melainkan hidup sesuai dengan kehendak-Nya. Ketika firman Tuhan dikatakan menguduskan, artinya firman itu bekerja secara aktif menghindarkan manusia dari perbuatan jahat dan membentuk hidup yang berkenan kepada Allah (Yoh. 17:14–17).

Namun pengudusan oleh firman tidak berlangsung secara otomatis. Manusia dituntut untuk tekun belajar dan tinggal di dalam kebenaran firman Tuhan. Tuhan Yesus sendiri menegaskan bahwa kemerdekaan sejati hanya dialami oleh mereka yang “tetap di dalam firman” (Yoh. 8:31–32). Kemerdekaan yang dimaksud disini adalah kebebasan dari kecenderungan untuk terus hidup dalam dosa. Dengan demikian, pengudusan oleh firman melibatkan peran aktif manusia. Tanpa sikap proaktif ini, proses pengudusan tidak akan berjalan.

Dalam konteks ini, pengudusan oleh darah Tuhan Yesus dapat menjadi sia-sia apabila tidak diikuti oleh pengudusan melalui firman. Ketika seseorang menolak masuk ke dalam proses pembentukan oleh firman, sesungguhnya ia sedang meremehkan darah Kristus sendiri (Ibr. 10:29). Pengudusan oleh darah dimaksudkan untuk membawa manusia ke dalam pengudusan oleh firman, di mana darah Kristus mengubah status kita dan firman Tuhan mengubah karakter kita.

Firman Tuhan melahirkan iman, dan iman itulah yang menyelamatkan (Rm. 1:16–17). Injil, yang dimaksud oleh Rasul Paulus, adalah kebenaran yang diajarkan oleh Tuhan Yesus—firman yang hidup dan berkuasa. Oleh sebab itu, keselamatan umat pilihan tidak dapat dipisahkan dari firman Tuhan. Tidak mungkin seseorang mengalami keselamatan yang sejati tanpa mengalami pembaruan cara berpikir yang dihasilkan oleh firman. Firman Tuhan memperbarui akal budi dan membentuk perspektif hidup yang baru, sehingga manusia semakin serupa dengan Kristus.

Tuhan Yesus menegaskan kembali prinsip ini dengan berkata, “Jikalau kamu tetap dalam firman-Ku, kamu benar-benar adalah murid-Ku dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu” (Yoh. 8:31-32). Menjadi murid bukan sekadar pengakuan iman, melainkan hidup yang terus-menerus dibentuk oleh kebenaran. Tinggal di dalam firman berarti menjalani usaha yang berkesinambungan untuk belajar, memahami, dan menghidupi firman Tuhan. Proses ini mengubah cara berpikir, nilai hidup, serta arah keberadaan manusia.

Mengingat betapa sentralnya peran firman Tuhan dalam proses keselamatan—yakni pemulihan manusia kepada rancangan Allah semula—maka belajar firman Tuhan harus menjadi perjuangan harian. Pertumbuhan dalam pengertian kebenaran tidak boleh dianggap sebagai aktivitas sampingan, melainkan kebutuhan mutlak. Seperti tubuh jasmani memerlukan makanan setiap hari, demikian pula manusia rohani memerlukan asupan firman Tuhan setiap hari. Tanpa asupan ini, kehidupan rohani akan melemah dan akhirnya mati.

Belajar firman Tuhan dapat dilakukan melalui berbagai sarana, seperti Alkitab, literatur rohani, rekaman khotbah, media digital, dan persekutuan rohani. Namun yang terpenting bukanlah kelimpahan sarana, melainkan kesungguhan menyediakan waktu. Belajar firman Tuhan tidak boleh dilakukan hanya ketika ada waktu luang, tetapi harus diposisikan sebagai prioritas utama dalam kehidupan orang percaya.

Akibat dari kehidupan Kristen yang mengabaikan pertumbuhan dalam firman sering kali tidak langsung terasa. Dampaknya baru terlihat setelah bertahun-tahun, bahkan puluhan tahun, ketika seseorang menyadari bahwa hidup rohaninya stagnan atau menyimpang. Karena itu, banyak orang mengira bahwa mengabaikan firman Tuhan tidak membawa konsekuensi serius. Padahal, pengabaian ini perlahan-lahan menggerogoti kehidupan rohani dan menjauhkan seseorang dari tujuan keselamatan yang sejati.

Oleh sebab itu, setiap kesempatan di mana firman Tuhan diajarkan—baik dalam kebaktian, persekutuan doa, pendalaman Alkitab, maupun seminar rohani—harus dipandang sebagai momentum yang sangat berharga. Pengorbanan waktu, tenaga, dan biaya tidak sebanding dengan nilai kekal yang diperoleh. Karena pengertian seseorang akan firman Tuhan menentukan arah pertumbuhan menuju kesempurnaan, maka kehati-hatian dalam memilih sumber pengajaran menjadi sangat penting. Tidak semua pengajaran yang menggunakan Alkitab secara otomatis menyampaikan kebenaran. Banyak ajaran yang kelihatannya rohani, tetapi tidak membawa kepada pertumbuhan menuju kekudusan dan keserupaan dengan Kristus.

Tuhan Yesus memberkati

PENGUDUSAN OLEH FIRMAN MENUNJUK PADA KARYA ALLAH YANG DIKERJAKAN MELALUI KUASA FIRMAN-NYA YANG DIPAHAMI, DIHAYATI, DAN DIHIDUPI OLEH MANUSIA SESUAI KEHENDAK ALLAH.

Card image
Bacaan Alkitab Setahun - 19 Februari 2026
2026-02-19 22:00:38

Imamat 19-21

Card image
KIDS DAILY DEVOTIONAL 18 Februari 2026 - KASIH ITU MEMBERI
2026-02-19 12:56:23


Yohanes 15:12 (TB)
“Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu.”

Rehobot Kids, kamu tahu film Disney Wish yang sempat ramai dibicarakan? Di film itu, Asha berani memberikan dirinya untuk menolong orang lain, walaupun harus mengorbankan kenyamanannya. Sikap Asha mengingatkan kita pada Yesus, yang telah memberikan segalanya bagi kita—kasih, pengampunan, bahkan hidup-Nya. Karena itu, Yesus mengajarkan kita untuk saling mengasihi seperti Dia telah mengasihi kita.

Memberi tidak harus selalu berupa hal besar. Kadang, tindakan kecil seperti berbagi pensil, membantu teman membawa buku, atau menyapa dengan senyum bisa membuat orang lain merasa diperhatikan dan disayang. Hal-hal sederhana itu adalah bentuk kasih yang nyata.

Yesus ingin kita hidup dengan hati yang mau memberi. Saat kita memberi dengan tulus, Tuhan melihatnya dan bersukacita. Ia senang pada anak-anak yang mau menolong dan berbagi kasih kepada sesama.

Rehobot Kids, yuk biasakan memberi setiap hari, sekecil apa pun itu. Ingat, setiap tindakan kasih yang kita lakukan adalah cara kita meniru Yesus. Dengan memberi, kita bukan hanya membuat orang lain bahagia, tetapi juga menunjukkan bahwa kasih Tuhan hidup melalui kita.

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 18 Februari 2026 (English Version) - FRIENDS WHO DARE TO CORRECT
2026-02-19 05:24:39


Proverbs 27:17
“As iron sharpens iron, so one person sharpens another.”

Friendship isn’t just about having fun together or supporting each other in good times. A true friend also dares to say, “Hey, you’re wrong,” in a loving way. Sometimes it’s uncomfortable to hear, but correction is exactly what helps us grow and keeps us from falling into the same mistakes.

If we look at Indonesia’s history, there was the friendship between Soekarno and Mohammad Hatta. Both were freedom fighters, but they didn’t always agree. There were moments when Hatta bravely reminded Soekarno about political decisions that could be risky. Because of that courage, they complemented each other and led the nation toward something better. Their friendship shows us that true friends don’t just support, but also dare to correct.

Correction done with love should always be given directly to a friend, not behind their back. If we choose to talk behind someone’s back, it means we don’t truly love them. Honest and loving correction shows genuine care, because we want our friends to grow and not get trapped in the same mistakes.

So, if you have a friend who dares to remind you, don’t see it as a disturbance see it as a gift. Sincere correction is a sign of care. With friends like that, your life journey will be more directed, and you’ll grow into the best version of yourself.

WHAT TO DO?
1. Learn to accept correction with an open heart, without being defensive.
2. Evaluate your circle of friends: do they dare to remind you when you’re wrong?
3. Train yourself to be a friend who corrects with love, not one who tears down.

BIBLE MARATHON:
John 10

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 18 Februari 2026 - SAHABAT YANG BERANI MENGOREKSI
2026-02-19 05:22:17


Amsal 27:17
“Besi menajamkan besi, orang menajamkan sesamanya.”
Pertemanan itu bukan cuma soal seru-seruan bareng atau saling dukung di masa senang. Sahabat sejati juga berani bilang “hei, kamu salah” dengan cara yang penuh kasih. Kadang itu nggak enak didengar, tapi justru koreksi itulah yang bikin kita bertumbuh dan nggak jatuh ke lubang yang sama.

Kalau kita lihat sejarah Indonesia, ada persahabatan antara Soekarno dan Mohammad Hatta. Mereka berdua sama-sama pejuang kemerdekaan, tapi nggak selalu sependapat. Ada momen ketika Hatta berani mengingatkan Soekarno tentang keputusan politik yang bisa berisiko. Justru karena keberanian itu, mereka bisa saling melengkapi dan membawa bangsa ke arah yang lebih baik. Persahabatan mereka jadi contoh bahwa teman sejati bukan hanya mendukung, tapi juga berani mengoreksi.

Yang namanya menegur dengan kasih itu selalu berani dilakukan langsung kepada sahabatnya, bukan malah dibicarakan di belakang. Kalau kita memilih untuk menegur di belakang, itu sama saja kita tidak benar-benar mengasihi sahabat kita. Teguran yang jujur dan penuh kasih justru menunjukkan kepedulian, karena kita ingin sahabat kita bertumbuh dan tidak terjebak dalam kesalahan yang sama.

Jadi, kalau kamu punya sahabat yang berani mengingatkan, jangan anggap itu gangguan, anggap itu hadiah. Koreksi yang tulus adalah tanda kepedulian. Dengan sahabat seperti itu, perjalanan hidupmu akan lebih terarah, dan kamu bisa bertumbuh jadi versi terbaik dari dirimu.

WHAT TO DO?
1. Belajar menerima koreksi dengan hati terbuka, jangan langsung defensif.
2. Evaluasi circle pertemananmu: apakah mereka berani mengingatkanmu ketika salah.
3. Latih diri untuk jadi sahabat yang berani mengoreksi dengan kasih, bukan menjatuhkan.

BIBLE MARATHON:
Yohanes 10

Card image
Renungan Pagi - 18 Februari 2026
2026-02-19 05:19:05


Kita boleh saja melayani, boleh saja menolong orang miskin, boleh saja mengulurkan tangan bagi setiap orang yang membutuhkan pertolongan.

Tetapi kalau melakukannya dengan kesombongan, maka perbuatan dan pengorbanan yang kita lakukan tidak akan ada artinya apa-apa.

Kalau melakukan perbuatan baik karena kesombongan, maka itu merupakan kejahatan di mata Tuhan, kesombongan akan membuat kita tidak menghargai anugerah Tuhan.

Card image
Quote Of The Day - 18 Februari 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-02-19 05:18:04


Orang harus melihat dua hal dalam hidup kita, yaitu kesucian dan kekekalan.

Card image
Mutiara Suara Kebenaran - 18 Februari 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-02-19 05:16:46


Orang yang bersyukur memiliki jiwa yang tertib. Tuhan tidak menuntut kita selalu tersenyum, tetapi Tuhan menghendaki hati yang percaya. Ketika kepercayaan itu ada, ucapan syukur akan mengalir.

Card image
ACTIVE HOLLINESS - 18 Februari 2026 (English Version)
2026-02-18 22:54:33


The new status that human beings receive through the redemptive work of Christ places them no longer as rebels but as children. According to Hebrews 12, they are children, yet illegitimate children (Gk. nothos). It is precisely this status that opens the way for God the Father to discipline those who confess and receive Jesus Christ as Lord and Owner of their lives. The purpose of this divine discipline is clear, namely that they may share in God’s holiness (Heb. 12:5–10).

In sanctification, there are two inseparable aspects—first, sanctification as a change of status, from rebel to child. Second, sanctification is the granting of the potential or possibility for human beings to be truly like the Father. It is this second aspect that requires an active human response. Without that response, a person will remain at the stage of nothos, never growing into huios (Gk.), that is, a legitimate and mature son. The change from nothos to huios is not automatic but requires obedience and personal struggle on the part of each individual.

Sanctification does not stop at a mere change of status, but must continue as a real process in which every step of the sanctified person’s life truly radiates holiness. The Word of God states this clearly. In 1 Thessalonians 4:7, it is written, “For God did not call us to be impure, but to live a holy life.” In line with this, 1 Peter 1:16 affirms, “Be holy, because I am holy.” These commands are not addressed to those outside the faith, but to believers. Thus, believers are called to live in active holiness.

Active holiness is the human response to the grace of Christ, manifested through the willingness to let go of sinful character, so that one is not only forgiven from the past but also empowered not to keep falling into the same sins. Active holiness is not merely dealing with past failures, but striving so that the possibility of sinning again is increasingly narrowed. This is what is meant by responsible grace. Those who receive God’s forgiveness no longer live carelessly but surrender themselves to be shaped by God.

The transformation God works is not a superficial improvement but the restoration of the image of God damaged by sin. This process directs human beings back to God’s original design. When a person experiences active sanctification, their life becomes different. Holiness makes them set apart—not in a socially exclusive sense, but different morally and spiritually. This difference shows that those who are sanctified have a life direction that differs from that of those who do not receive salvation in Christ. Its ultimate projection is perfection, like the Father in heaven.

Therefore, forgiveness without the process of sanctification fatally reduces the work of God, treating Him as merely a “cleanser of sin” and ignoring His role as the Father who disciplines His children. Such a view is hazardous. A thief who is only forgiven without being trained to stop stealing will not change; he will, in fact, become even more rampant in his crimes. Likewise, a believer who relies only on forgiveness without a willingness to change will remain living in the same patterns of sin.

If New Testament believers receive only forgiveness without being disciplined to become perfect and restored to God’s original design, then there is no fundamental difference from Old Testament piety. Yet the Gospel calls people not only to be forgiven, but to be fully restored and to regain the glory of God that has been lost. The change of status from rebel to child must continue until a person truly lives in holiness, as the Father does.

That is why the apostle Peter reminds us in 1 Peter 1:17 that if we call on God as Father, we must live in reverent fear during our time on earth. Living as God’s children demands an attitude of reverence, submission, and obedience to the Father’s will. The model of the Son who thoroughly pleased the Father is the Lord Jesus Christ Himself. Therefore, the goal of salvation is that believers conform to Christ (Rom. 8:28–29).

If someone refuses the process of becoming like Christ, they are, in reality, rejecting the very purpose of forgiveness itself. Forgiveness is given not to allow people to remain as they were, but to enable them to enter a process of transformation that prepares them to be glorified together with Christ. Active holiness, therefore, is not an optional addition in the Christian life, but the very essence of salvation itself.

The Lord Jesus bless you

Active holiness is not an optional addition in the Christian life, but the very essence of salvation itself.

Card image
KEKUDUSAN AKTIF - 18 Februari 2026
2026-02-18 22:50:40


Status baru yang diterima manusia melalui karya penebusan Kristus menempatkan manusia bukan lagi sebagai pemberontak, melainkan sebagai anak. Menurut Ibrani 12, sebagai anak, tetapi anak gampang (Yun. nothos). Status inilah yang justru membuka ruang bagi Allah Bapa untuk mendidik mereka yang mengaku dan menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Pemilik kehidupan. Tujuan didikan Ilahi ini jelas, yaitu supaya mereka dapat mengambil bagian dalam kekudusan Allah (Ibr. 12:5–10).

Di dalam pengudusan, terdapat dua aspek yang tidak dapat dipisahkan. Pertama, pengudusan sebagai perubahan status—dari pemberontak menjadi anak. Kedua, pengudusan sebagai pemberian potensi atau kemungkinan bagi manusia untuk benar-benar berkeadaan seperti Bapa. Aspek kedua inilah yang menuntut respons aktif dari manusia. Tanpa respons tersebut, seseorang akan tetap berada pada tahap nothos, tidak pernah bertumbuh menjadi huios (Yun), yakni anak yang sah dan dewasa. Perubahan dari nothos ke huios bukan proses otomatis, melainkan melibatkan ketaatan dan perjuangan pribadi setiap individu.

Pengudusan tidak berhenti pada sekadar perubahan status, melainkan harus berlanjut menjadi proses nyata di mana setiap langkah hidup orang yang telah dikuduskan sungguh-sungguh memancarkan kekudusan. Firman Tuhan dengan jelas menyatakan hal ini. Dalam 1 Tesalonika 4:7 tertulis, “Allah memanggil kita bukan untuk melakukan apa yang cemar, melainkan apa yang kudus.” Sejalan dengan itu, 1 Petrus 1:16 menegaskan, “Kuduslah kamu, sebab Aku kudus.” Perintah-perintah ini tidak ditujukan kepada orang-orang di luar iman, melainkan kepada orang-orang percaya. Dengan demikian, orang percaya dipanggil untuk hidup dalam kekudusan yang aktif.

Kekudusan aktif adalah respons manusia atas anugerah Kristus yang terwujud melalui kesediaan melepas karakter dosa, sehingga ia tidak hanya diampuni dari masa lalu tetapi juga dimampukan untuk tidak terus jatuh dalam dosa yang sama. Kekudusan aktif bukan sekadar mengurus kesalahan yang telah terjadi, melainkan mengupayakan supaya kemungkinan untuk berbuat dosa kembali semakin disempitkan. Inilah yang dimaksud dengan anugerah yang bertanggung jawab. Orang yang menerima pengampunan Allah tidak lagi hidup sembarangan, melainkan menyerahkan diri untuk diperbaiki oleh Tuhan.

Perbaikan yang Tuhan kerjakan bukanlah perbaikan dangkal, melainkan pemulihan gambar Allah yang telah rusak oleh dosa. Proses ini mengarahkan manusia kembali kepada rancangan semula Allah. Ketika seseorang mengalami pengudusan aktif, hidupnya menjadi berbeda. Kekudusan menjadikannya terpisah, bukan dalam arti eksklusif secara sosial, melainkan berbeda secara moral dan rohani. Perbedaan ini menunjukkan bahwa mereka yang dikuduskan memiliki arah hidup yang tidak sama dengan mereka yang tidak menerima keselamatan di dalam Kristus. Proyeksi akhirnya adalah kesempurnaan seperti Bapa di surga.

Karena itu, pengampunan tanpa proses pengudusan akan mereduksi karya Allah secara fatal, karena memperlakukan-Nya seolah hanya sebagai ‘pembersih dosa’ dan mengabaikan peran-Nya sebagai Bapa yang mendidik anak-anak-Nya. Pandangan seperti ini sangat berbahaya. Seorang pencuri yang hanya dimaafkan tanpa dididik untuk berhenti mencuri tidak akan berubah; ia justru akan semakin merajalela dalam kejahatannya. Demikian pula orang percaya yang hanya mengandalkan pengampunan tanpa kesediaan untuk berubah akan tetap hidup dalam pola dosa yang sama.

Jika orang percaya Perjanjian Baru hanya menerima pengampunan tanpa dididik untuk menjadi sempurna dan dipulihkan kepada rancangan Allah semula, maka tidak ada perbedaan mendasar dengan kesalehan Perjanjian Lama. Padahal, Injil memanggil manusia bukan hanya untuk diampuni, tetapi untuk dipulihkan sepenuhnya dan memperoleh kembali kemuliaan Allah yang telah hilang. Perubahan status dari pemberontak menjadi anak harus berlanjut sampai seseorang benar-benar hidup dalam kekudusan seperti Bapa.

Itulah sebabnya Rasul Petrus mengingatkan dalam 1 Petrus 1:17 bahwa jika kita memanggil Allah sebagai Bapa, kita harus hidup dalam ketakutan yang kudus selama menumpang di dunia ini. Hidup sebagai anak Allah menuntut sikap hormat, tunduk, dan taat kepada kehendak Bapa. Model Anak yang sepenuhnya menyukakan hati Bapa adalah Tuhan Yesus Kristus sendiri. Karena itu, proyeksi keselamatan adalah supaya orang percaya menjadi serupa dengan Kristus (Rm. 8:28–29).

Jika seseorang menolak proses untuk menjadi serupa dengan Kristus, maka sesungguhnya ia menolak tujuan pengampunan itu sendiri. Pengampunan diberikan bukan untuk membiarkan manusia tetap seperti sebelumnya, melainkan agar ia dapat masuk ke dalam proses perubahan yang mempersiapkannya untuk dimuliakan bersama-sama dengan Kristus. Kekudusan aktif, dengan demikian, bukan pilihan tambahan dalam kehidupan Kristen, melainkan esensi dari keselamatan itu sendiri.

Tuhan Yesus memberkati

KEKUDUSAN AKTIF BUKAN PILIHAN TAMBAHAN DALAM KEHIDUPAN KRISTEN, MELAINKAN ESENSI DARI KESELAMATAN ITU SENDIRI.

Card image
Bacaan Alkitab Setahun - 18 Februari 2026
2026-02-18 22:31:55

Imamat 16-18

Card image
KIDS DAILY DEVOTIONAL 17 Februari 2026 - BERBAGI ITU INDAH
2026-02-18 13:17:49


Filipi 4:19 (TB)
“Allahku akan memenuhi segala keperluanmu menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya dalam Kristus Yesus.”

Rehobot Kids, pernahkah kamu menonton fil animasi Inside Out 2 yang sedang viral? Di film itu, kita melihat bagaimana setiap emosi belajar bekerja sama supaya Riley bisa bertumbuh dengan baik. Ada saatnya satu emosi harus rela berbagi ruang dengan emosi lain agar Riley bisa belajar hal baru. Nah, berbagi itu mirip seperti cerita tersebut—kadang kita perlu rela memberi sebagian dari apa yang kita punya supaya orang lain bisa merasakan sukacita dan kasih.

Tuhan mengingatkan kita bahwa semua yang kita miliki berasal dari-Nya. Karena itu, saat kita berbagi makanan, mainan, atau waktu untuk menolong teman, kita sedang menunjukkan bahwa kita percaya Tuhan sanggup mencukupi kebutuhan kita. Kita tidak perlu takut kekurangan, sebab Tuhan tahu apa yang kita perlukan dan selalu setia memelihara kita.

Berbagi juga membuat hati kita lebih peka terhadap orang lain. Misalnya, ketika ada teman yang tidak membawa bekal, kita bisa berbagi sedikit dari milik kita. Tindakan sederhana itu bisa membuat teman merasa diperhatikan dan merasakan kasih Tuhan melalui hidup kita.

Rehobot Kids, yuk biasakan berbagi di rumah, di sekolah, dan di gereja. Ingatlah, berbagi bukan hanya tentang memberi barang, tetapi juga memberi perhatian, senyuman, dan doa. Karena berbagi itu indah, dan melalui berbagi kita belajar percaya bahwa Tuhan selalu mencukupkan kita.

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 17 Februari 2026 (English Version) - FRIENDS WHO DARE TO CORRECT
2026-02-18 13:14:59


Proverbs 27:6 “Wounds from a friend can be trusted, but an enemy multiplies kisses.”

Friendship isn’t just about laughing together or supporting each other in good times. A true friend also dares to say, “Hey, you’re wrong,” in a loving way. Sometimes it’s uncomfortable to hear, but correction is exactly what helps us grow and keeps us from falling into the same mistakes.

If we look at Christian figures in Indonesia, such as Rev. Ingwer Ludwig Nommensen, a missionary known in the Batak region, he didn’t just build churches he built communities. He often corrected and reminded his congregation not to fall back into harmful old habits. Those corrections helped many people learn to live more disciplined lives and grow in their faith.

In our era today, a friend who dares to correct is like a “brake” that keeps us from going out of control. Imagine having friends who always say “it’s fine” even when we’re wrong eventually we’d fall into bad habits without realizing it. But if there’s a friend who dares to say, “Stop, that’s not good,” it’s actually a sign they care about our future.

God wants us to learn to value correction. Don’t get offended or walk away, but see the good intention behind the rebuke. And on the flip side, we are also called to be friends who dare to correct in a way that builds up, not tears down. That way, our circle becomes a healthy place to grow together.

WHAT TO DO?
1. Learn to accept correction with an open heart, without being defensive.
2. Evaluate your circle of friends: do they dare to correct you when you’re wrong?
3. Train yourself to be a friend who corrects with love, not one who tears down.

BIBLE MARATHON:
John 9

Card image
Renungan Pagi - 17 Februari 2026
2026-02-18 13:07:32


Ketika kita sedang menghadapi berbagai masalah dalam kehidupan, jangan biasakan mengikuti perasaan dan suasana hati, karena itu adalah kesempatan bagi setan untuk mencari celah supaya bisa menghancurkan kita.

Tugas kita justru ditengah masalah, harus tetap berdiri tegar, tetap kuat dan berani, karena Tuhan tidak akan pernah mengecewakan kita.

Tetaplah kuat dan berani, karena Tuhan selalu memberikan pertolongan untuk membebaskan dan menguatkan kita meniti masa depan agar berhasil mengatasi berbagai masalah dalam kehidupan.

Card image
Mutiara Suara Kebenaran - 17 Februari 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-02-17 23:23:14


Jangan menuntut Tuhan menuruti keinginan kita, tetapi izinkan Tuhan membentuk hidup kita. Pemulihan sejati bukan selalu perubahan keadaan, melainkan perubahan batin.

Card image
THE RESPONSIBILITY TO CHANGE - 17 Februari 2026 (English Version)
2026-02-17 23:22:16


A mistaken understanding of purification has distorted the principle of salvation in Jesus Christ. Therefore, this concept must be understood correctly and faithfully according to the testimony of Scripture. The sacrifice of the Lord Jesus was not primarily intended to cleanse human beings from “stains of sin,” as if sin were merely a moral blemish attached to a person. The essence of the problem of sin is far more serious: sin is human rebellion against a holy and just God, which arouses God’s wrath. This dimension must be seen as central in understanding salvation.

No religion in the world has a concept of salvation like that revealed in the Gospel. This is not surprising, for salvation indeed comes from the Jews, through God’s progressive revelation, brought to completion in Christ. The Gospel does not speak of human efforts to improve themselves so that God may accept them, but of God’s own action to restore a relationship ruined by human rebellion.

In Isaiah 1:18, the Lord says, “Though your sins are like scarlet, they shall be as white as snow.” This statement is often understood superficially as the mere removal of sin without further implications. Yet this verse is meant to affirm that God no longer counts the sins of His people who have repented. However, this removal of sin does not in any way cancel the demand for genuine repentance. On the contrary, God’s act of not remembering sin gives rise to responsibility and a calling for human beings to be transformed into the people God desires.

If forgiveness is centered only on the human condition—that is, on the removal of guilt symbolized by stains of sin—then such forgiveness is anthropocentric. True forgiveness must be theocentric—*centered on God—which means its primary focus is not the guilty condition of human beings, but the heart of God that His creation has betrayed. Through the sacrifice of the Lord Jesus, God’s wrath against humanity is fully appeased.* This is where human beings experience sanctification. Yet this sanctification is still at the stage of passive sanctification.

Sanctification by the blood of the Lord Jesus must not be imagined as though, once a person is “sanctified,” all issues of sin are automatically finished. Many teachings implicitly suggest that Christ’s sacrifice provides an “all-in” salvation package: once someone believes, they are considered holy, pleasing to God, and certainly going to heaven without any further struggle. Such an understanding has caused many Christians to lose the drive to grow and to live in absolute holiness.

The Bible does acknowledge the presence of a sinful nature that still clings to human beings. The blood of the Lord Jesus does not automatically transform this nature into a divine nature. This passive cleansing or sanctification does not instantly change the sinful nature into a divine one; it does not automatically make a person truly pleasing to God. When the Bible says that the blood of Jesus cleanses, it means a change in status: human beings who were previously guilty are now regarded as not guilty before God. This status is given because the Lord Jesus has borne the punishment that should have fallen on humanity.

Thus, God’s justice is upheld. The offense is still punished, but Christ bears the punishment as the substitute for human beings. This is the true meaning of redemption: not the abolition of God’s law, but the fulfillment of that law through the sacrifice of the Son of God. In this divine order, there is no forgiveness without the shedding of blood. God’s justice is satisfied, and human beings receive a new status before Him.

Sanctification by the blood of Christ—which changes the status of a sinner into that of one who is justified—is passive. In this, human beings are entirely passive. There is no merit, effort, or contribution from them at all. The Lord Jesus accomplishes everything. Therefore, no one can boast of being holy based on their own deeds. Human salvation is not the result of human effort or goodness, but purely the grace of God.

Yet precisely because this passive sanctification is given freely, human beings are called to respond to it with a changed life. Passive sanctification is not the final goal, but the doorway into active sanctification—the process in which believers consciously, obediently, and persistently work out their salvation. Here is where human responsibility begins: a life that has been redeemed must be directed to please God truly.

The Lord Jesus bless you

PASSIVE SANCTIFICATION IS NOT THE FINAL GOAL, BUT THE DOORWAY INTO ACTIVE SANCTIFICATION—THE PROCESS IN WHICH BELIEVERS CONSCIOUSLY, OBEDIENTLY, AND PERSISTENTLY WORK OUT THEIR SALVATION.

Card image
TANGGUNG JAWAB UNTUK BERUBAH - 17 Februari 2026
2026-02-17 22:01:14


Pemahaman yang keliru mengenai penyucian telah menyimpangkan prinsip keselamatan di dalam Yesus Kristus. Oleh sebab itu, konsep ini harus dipahami secara tepat dan setia pada kesaksian Alkitab. Pengurbanan Tuhan Yesus bukan terutama dimaksudkan untuk membersihkan manusia dari “bercak-bercak dosa” seolah-olah dosa hanyalah noda moral yang melekat pada diri manusia. Hakikat persoalan dosa jauh lebih serius: dosa adalah pemberontakan manusia terhadap Allah yang kudus dan adil, yang membangkitkan murka Allah. Dimensi ini harus dipandang sebagai pokok utama dalam memahami keselamatan.

Tidak ada agama di dunia yang memiliki konsep keselamatan seperti yang dinyatakan dalam Injil. Hal ini tidak mengherankan, sebab keselamatan memang datang dari bangsa Yahudi, melalui wahyu Allah yang progresif dan tuntas di dalam Kristus. Injil tidak berbicara tentang usaha manusia untuk memperbaiki diri agar diterima Allah, melainkan tentang tindakan Allah sendiri untuk memulihkan hubungan yang telah dirusak oleh pemberontakan manusia.

Dalam Yesaya 1:18 Tuhan berfirman, “Sekalipun dosamu merah seperti kirmizi, akan menjadi putih seperti salju.” Pernyataan ini sering dipahami secara dangkal sebagai penghapusan dosa tanpa implikasi lebih lanjut. Padahal ayat ini hendak menegaskan bahwa Allah tidak lagi memperhitungkan kesalahan umat-Nya yang telah bertobat. Namun, penghapusan dosa ini sama sekali tidak meniadakan tuntutan pertobatan yang nyata. Justru tindakan Tuhan tidak mengingat dosa melahirkan tanggung jawab dan panggilan untuk manusia agar berubah menjadi umat seperti yang dikehendaki oleh Allah.

Jika pengampunan dipusatkan pada kondisi manusia semata—yakni pada penghapusan kesalahan yang dilambangkan oleh bercak-bercak dosa—maka pengampunan tersebut bersifat antroposentris. Pengampunan yang sejati harus bersifat teosentris—berpusat pada Allah—artinya fokus utamanya bukanlah kondisi manusia yang bersalah, melainkan hati Allah yang telah dikhianati oleh ciptaan-Nya. Melalui pengurbanan Tuhan Yesus, murka Allah atas manusia diredakan secara tuntas. Di sinilah manusia mengalami pengudusan. Namun pengudusan ini baru berada pada tahap pengudusan pasif.

Pengudusan oleh darah Tuhan Yesus tidak boleh dibayangkan seolah-olah setelah seseorang “disucikan,” maka semua persoalan dosa selesai secara otomatis. Banyak pengajaran secara implisit menyampaikan bahwa korban Kristus memberikan paket keselamatan yang bersifat “all in”: begitu seseorang percaya, ia dianggap suci, berkenan kepada Allah, dan pasti masuk surga tanpa perlu perjuangan lanjutan. Pemahaman seperti ini telah membuat banyak orang Kristen kehilangan dorongan untuk bertumbuh dan hidup dalam kekudusan yang nyata.

Alkitab memang mengakui adanya kodrat dosa (Ing. sinful nature) yang masih melekat dalam diri manusia. Darah Tuhan Yesus tidak secara otomatis mengubah kodrat ini menjadi kodrat Ilahi. Penyucian atau pengudusan secara pasif ini tidak membuat kodrat dosa berubah seketika menjadi kodrat Ilahi; tidak otomatis membuat manusia berkeadaan berkenan kepada Tuhan. Ketika Alkitab mengatakan bahwa darah Yesus menyucikan, yang dimaksud adalah perubahan status: manusia yang sebelumnya berstatus bersalah kini berstatus tidak bersalah di hadapan Allah. Status ini diberikan karena Tuhan Yesus telah menanggung hukuman yang seharusnya ditimpakan kepada manusia.

Dengan demikian, keadilan Allah ditegakkan. Pelanggaran tetap dihukum, tetapi hukuman itu dijalankan atas Kristus sebagai pengganti manusia. Inilah makna penebusan yang sejati: bukan penghapusan hukum Allah, melainkan penggenapan hukum tersebut melalui pengorbanan Anak Allah. Dalam tatanan Ilahi ini, tidak ada pengampunan tanpa penumpahan darah. Keadilan Allah dipuaskan, dan manusia memperoleh status baru di hadapan-Nya.

Pengudusan oleh darah Kristus—yang mengubah status orang berdosa menjadi orang yang dibenarkan—adalah pengudusan pasif. Dalam hal ini manusia sepenuhnya bersikap pasif. Tidak ada jasa, usaha, atau kontribusi manusia sedikit pun. Semua dikerjakan oleh Tuhan Yesus. Karena itu, tidak seorang pun dapat membanggakan dirinya sebagai orang kudus berdasarkan perbuatannya. Keselamatan manusia bukan hasil usaha atau kebaikan manusia, melainkan murni karena anugerah Allah.

Namun justru karena pengudusan pasif ini diberikan secara cuma-cuma, manusia dipanggil untuk meresponsnya dengan hidup yang berubah. Pengudusan pasif bukan tujuan akhir, melainkan pintu masuk menuju pengudusan aktif—yakni proses di mana orang percaya dengan sadar, taat, dan tekun mengerjakan keselamatannya. Di sinilah tanggung jawab manusia dimulai: hidup yang telah ditebus harus diarahkan untuk benar-benar menjadi hidup yang berkenan kepada Allah.

Tuhan Yesus memberkati

PENGUDUSAN PASIF BUKAN TUJUAN AKHIR, MELAINKAN PINTU MASUK MENUJU PENGUDUSAN AKTIF, YAKNI PROSES DI MANA ORANG PERCAYA DENGAN SADAR, TAAT, DAN TEKUN MENGERJAKAN KESELAMATANNYA.

Card image
KIDS DAILY DEVOTIONAL 16 Februari 2026 - MENGAMPUNI BUKTI KITA PENUH KASIH
2026-02-17 16:17:58


Efesus 4:32
“Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu.”

Sobat Junior, pernahkah kamu merasa hangat dan senang setelah berbagi dengan teman? Misalnya berbagi bekal, meminjamkan alat tulis, atau menolong teman yang jatuh. Walaupun sederhana, kebaikan itu bisa membuat hati kita dan orang lain ikut bahagia.

Firman Tuhan mengajarkan kita untuk hidup ramah, penuh kasih, dan saling mengampuni. Tuhan tidak ingin kita hidup egois, tetapi saling menolong dan mengasihi, seperti Tuhan lebih dulu mengasihi dan mengampuni kita.

Mengampuni adalah tanda kita penuh dengan kasih. Kasih yang kita terima dari Tuhan, kita bagikan lewat memilih bersikap ramah dan tidak membalas kejahatan dengan kejahatan. Teman kita bisa merasakan kebaikan Tuhan lewat tindakan kecil yang kita lakukan. Sehingga kasih Tuhan menjadi nyata melalui hidup kita.

Yuk, Sobat Junior, syukuri hari ini dengan hidup penuh kasih. Mari saling menolong, berbagi dengan tulus, dan menjadi saluran kasih Tuhan di mana pun kita berada.

Card image
CHOOSE WISE FRIENDSYOUTH DAILY DEVOTIONAL 16 Februari 2026 (English Version) -
2026-02-17 16:12:33


“Whoever walks with the wise becomes wise, but the companion of fools will suffer harm.” Proverbs 13:20

Having many friends is a beautiful thing. Through friendship, we get to know one another, share experiences and knowledge, and enrich each other’s perspectives. However, the Bible reminds us that it is not just the number of friends that matters, but who we choose as our close companions.

Proverbs 13:20 emphasizes that our associations have a great influence on our lives. Often without realizing it, our attitudes, ways of thinking, and even the decisions we make are shaped by the people closest to us. Walking with the wise helps us grow, while unhealthy relationships can bring harmful consequences.

Wise friends are not perfect friends, but friends who are willing to walk with God, who lovingly offer counsel, and who encourage us to live rightly. It is this kind of friendship that helps us become better people over time.

WHAT TO DO?
1. Reflect on who has the greatest influence in your life right now.
2. Ask God for wisdom to build healthy and edifying friendships.
3. Be a wise friend to others as well.

BIBLE MARATHON:
John 8

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 16 Februari 2026 - PILIHLAH TEMAN YANG BIJAK
2026-02-17 15:58:01


“Siapa bergaul dengan orang bijak menjadi bijak, tetapi siapa berteman dengan orang bebal menjadi malang.“ Amsal 13:20

Memiliki banyak teman adalah hal yang indah. Melalui pertemanan, kita bisa saling mengenal, berbagi pengalaman, pengetahuan, dan memperkaya cara pandang satu sama lain. Namun, Alkitab mengingatkan bahwa bukan hanya jumlah teman yang penting, melainkan siapa yang kita jadikan teman dekat.

Amsal 13:20 menegaskan bahwa pergaulan memiliki pengaruh besar dalam hidup kita. Tanpa disadari, sikap, cara berpikir, bahkan keputusan yang kita ambil sering dibentuk oleh orang-orang yang paling dekat dengan kita. Bergaul dengan orang bijak akan menolong kita bertumbuh, sedangkan pergaulan yang salah dapat membawa dampak yang merugikan.

Teman yang bijak bukan berarti teman yang sempurna, tetapi teman yang mau berjalan bersama Tuhan, berani menasihati dengan kasih, dan mendorong kita untuk hidup lebih benar. Persahabatan seperti inilah yang menolong kita menjadi pribadi yang lebih baik dari waktu ke waktu.

WHAT TO DO?
1. Renungkan siapa saja yang paling memengaruhi hidupmu saat ini.
2. Mintalah hikmat Tuhan untuk membangun pertemanan yang sehat dan membangun.
3. Jadilah juga teman yang bijak bagi orang lain.

BIBLE MARATHON:
Yohanes 8

Card image
Renungan Pagi - 16 Februari 2026
2026-02-17 15:56:12


Orang yang tinggi hati akan kehilangan kebaikannya, artinya dia boleh melakukan yang baik seperti apapun, tetapi kalau dasarnya adalah kesombongan, berarti motivasinya bukan untuk kasih dan bukan untuk Tuhan.

Motivasinya adalah hanya untuk kepentingan diri sendiri, itulah sebabnya tinggi hati adalah dosa yang terburuk sebab dia menghapuskan dan menghilangkan segala yang baik.

Card image
Mutiara Suara Kebenaran - 16 Februari 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-02-17 00:12:31


Ketika kita memilih untuk hidup benar,

Card image
SANCTIFICATION - 16 Februari 2026 (English Version)
2026-02-17 00:07:46


Romans 1:7
“To all in Rome who are loved by God and called to be his holy people: Grace and peace to you from God our Father and from the Lord Jesus Christ.”

This statement by the Apostle Paul contains a fundamental lesson in the Christian life: sanctification. A misinterpretation of sanctification will directly affect the quality of a believer’s spiritual life. Therefore, this concept must not be understood in a shallow or mistaken way. The expression “called to be his holy people” is often misunderstood to suggest that sanctification is an automatic process carried out entirely by God without human involvement. The phrase “called to be” indeed gives the impression that human beings are passive, while God is fully active. However, such an understanding is contrary to the whole witness of Scripture. Human beings were created as free beings, called to respond to God’s grace consciously and responsibly. Human beings are not robots whose lives are determined by fate. Therefore, the doctrine of absolute predestination, which eliminates human responsibility, does not derive from the Bible but is drawn from theological systems outside the revelation of Holy Scripture.

Throughout the Bible, the call to respond to grace is always accompanied by the demand to “work out your salvation.” Grace is given not to leave people as they are, but to bring them back to God’s original design: human beings who are blameless and without defect, who partake in God’s holiness, and even share in the divine nature. God wants to make believers holy, but if someone refuses, God does not force them. God does not coerce people to obey, because coercion is not God’s nature. From this, it is clear that some are willing to repent and sincerely receive Christ, while others reject Him. The life of a believer thus becomes a struggle: one can become a victor, but one can also become a loser (Luke 13:23–24).

So far, sanctification is often mistakenly understood as a process of “cleansing” in a physical sense. As if being sanctified were the same as cleaning a dirty surface—like sweeping a floor or wiping a table. This understanding is not correct. *Sanctification is not directed toward physical objects that have areas or surfaces.* When a person sins and it is said that their heart must be cleansed, the issue is not a bodily organ, but the whole human existence. Therefore, sanctification must be understood as an act of God that flows from the sacrifice of Christ’s cross, placing human beings in a new status.

Sin places human beings in the position of sinners who are not pleasing to God and who do not meet His standard of holiness. This status closes off the possibility of people living as children of God and removes their potential to be like their Father. Forgiveness changes a person’s status from guilty to not guilty. This process is parallel to redemption. To be redeemed means to be bought to have one’s status transferred, from an enslaved person to a free person, from a rebel to belonging to God. Redemption places human beings as God’s possession, as servants who live for His will.

Through the redemptive sacrifice of Christ, sinful human beings are treated as though they were not guilty. All sins—those that have been committed, are being committed, and will be committed—are nailed to the cross. This is what can be called passive sanctification. This sanctification does not yet make a person truly good or holy in the reality of life. Passive sanctification is a change of status that opens the possibility for a person to enter the process of spiritual maturation.

The purpose of passive sanctification is that human beings, through the process of discipleship and spiritual growth, truly become holy like the Father (Matthew 5:48; 1 Peter 1:16). Therefore, sanctification does not stop at status, but must continue into condition. This is parallel to the concept of justification. Through the sacrifice of Christ, sinners are justified passively—regarded as righteous before God. But believers must not stop or be satisfied with this passive justification. They are called to strive toward active justification, namely, a life that is truly righteous in daily reality.

The Lord Jesus bless you

SANCTIFICATION MUST BE UNDERSTOOD AS AN ACT OF GOD THAT FLOWS FROM THE SACRIFICE OF CHRIST'S CROSS, PLACING HUMAN BEINGS IN A NEW STATUS.

Card image
PENGUDUSAN - 16 Februari 2026
2026-02-17 00:03:47


Roma 1:7
“Kepada kamu sekalian yang tinggal di Roma, yang dikasihi Allah, yang dipanggil dan dijadikan orang-orang kudus: Kasih karunia menyertai kamu dan damai sejahtera dari Allah, Bapa kita, dan dari Tuhan Yesus Kristus.”

Pernyataan Rasul Paulus ini mengandung satu pelajaran yang sangat mendasar dalam kehidupan Kekristenan, yakni tentang pengudusan. Kesalahan memahami pengudusan akan berdampak langsung pada kualitas hidup rohani orang percaya. Oleh karena itu, konsep ini tidak boleh dipahami secara dangkal atau keliru. Ungkapan “dipanggil dan dijadikan orang-orang kudus” sering disalahmengerti seolah-olah pengudusan adalah proses otomatis, sepenuhnya dikerjakan oleh Allah tanpa keterlibatan manusia. Kata “dijadikan” memang memberi kesan bahwa manusia bersifat pasif, sementara Allah sepenuhnya aktif. Namun pemahaman seperti ini bertentangan dengan keseluruhan kesaksian Alkitab. Manusia diciptakan sebagai makhluk bebas yang dipanggil untuk merespons anugerah Allah secara sadar dan bertanggung jawab. Manusia bukan robot yang hidupnya ditentukan oleh takdir. Karena itu, ajaran tentang takdir mutlak yang meniadakan tanggung jawab manusia sejatinya tidak bersumber dari Alkitab, melainkan merupakan serapan dari sistem teologi di luar wahyu Kitab Suci.

Di sepanjang Alkitab, panggilan untuk merespons anugerah selalu disertai dengan tuntutan untuk “mengerjakan keselamatan.” Anugerah diberikan bukan untuk membiarkan manusia tinggal apa adanya, melainkan untuk membawa manusia kembali kepada rancangan Allah semula: manusia yang tidak bercacat dan tidak bercela, yang mengambil bagian dalam kekudusan Allah, bahkan mengenakan kodrat Ilahi. Allah mau menjadikan orang percaya sebagai orang kudus, tetapi kalau seseorang menolaknya, maka Allah tidak memaksanya. Allah tidak memaksa manusia untuk taat, sebab paksaan bukanlah hakikat Allah. Dari sini terlihat jelas bahwa ada orang-orang yang bersedia bertobat dan menerima Kristus dengan sungguh-sungguh, tetapi ada pula yang menolaknya. Hidup orang percaya dengan demikian menjadi sebuah perjuangan: seseorang bisa menjadi pemenang, tetapi juga bisa menjadi orang yang kalah (Luk. 13:23–24).

Selama ini, pengudusan sering dipahami secara keliru sebagai proses “pembersihan” dalam pengertian fisik. Seolah-olah disucikan sama dengan membersihkan suatu bidang yang kotor—seperti menyapu lantai atau mengelap meja. Pemahaman ini tidak tepat. Pengudusan tidak ditujukan kepada objek fisik yang memiliki bidang atau permukaan. Ketika seseorang berdosa dan dikatakan bahwa hatinya harus disucikan, pertanyaannya bukan tentang organ jasmani, melainkan tentang keberadaan manusia secara utuh. Oleh sebab itu, pengudusan harus dipahami sebagai tindakan Allah yang bersumber dari korban salib Kristus untuk menempatkan manusia dalam status yang baru.

Dosa menempatkan manusia pada kedudukan sebagai pendosa yang tidak berkenan kepada Allah dan tidak memenuhi standar kekudusan-Nya. Status ini menutup kemungkinan manusia hidup sebagai anak-anak Allah dan menghilangkan potensi manusia untuk serupa dengan Bapanya. Pengampunan mengubah keadaan dari manusia yang berstatus sebagai orang bersalah menjadi orang yang dianggap tidak bersalah. Proses ini sejajar dengan penebusan. Ditebus berarti dibeli untuk dipindahkan statusnya—dari budak menjadi orang merdeka, dari pemberontak menjadi milik Allah. Penebusan menempatkan manusia sebagai milik Tuhan, sebagai hamba yang hidup untuk kehendak-Nya.

Melalui korban penebusan Kristus, manusia yang berdosa diperlakukan sebagai manusia yang tidak bersalah. Semua dosa—yang telah dilakukan, sedang dilakukan, maupun yang akan dilakukan—dipakukan di kayu salib. Inilah yang dapat disebut sebagai pengudusan pasif. Pengudusan ini belum menjadikan seseorang benar-benar baik atau suci dalam kenyataan hidup. Pengudusan pasif adalah perubahan status yang membuka kemungkinan bagi manusia untuk masuk ke dalam proses selanjutnya, yakni pendewasaan rohani.

Tujuan pengudusan pasif adalah agar manusia, melalui proses pemuridan dan pertumbuhan rohani, sungguh-sungguh menjadi suci seperti Bapa (Mat. 5:48; 1 Ptr. 1:16). Karena itu, pengudusan tidak berhenti pada status, tetapi harus berlanjut pada keadaan. Hal ini sejajar dengan konsep pembenaran. Melalui pengorbanan Kristus, orang berdosa dibenarkan secara pasif—dianggap benar di hadapan Allah. Namun orang percaya tidak boleh berhenti atau merasa puas pada pembenaran pasif ini. Ia dipanggil untuk berjuang menuju pembenaran aktif, yakni hidup yang benar-benar benar dalam kenyataan sehari-hari.

Tuhan Yesus memberkati

PENGUDUSAN HARUS DIPAHAMI SEBAGAI TINDAKAN ALLAH YANG BERSUMBER DARI KORBAN SALIB KRISTUS UNTUK MENEMPATKAN MANUSIA DALAM STATUS YANG BARU.

Card image
Bacaan Alkitab Setahun - 16 Februari 2026
2026-02-17 00:01:11

Imamat 11-13

Card image
KIDS DAILY DEVOTIONAL 15 Februari 2026 - KEBAIKAN KECIL YANG BERARTI
2026-02-16 13:10:34


Amsal 3:27
“Janganlah menahan kebaikan dari pada orang-orang yang berhak menerimanya, padahal engkau mampu melakukannya.”

Rehobot Kids, pernahkah kamu melihat teman yang tampak kesulitan, tapi tidak berani meminta bantuan? Mungkin ia kebingungan mengerjakan tugas, duduk sendirian saat istirahat, atau terlihat sedih. Kadang mereka tidak minta tolong karena malu atau takut merepotkan orang lain.

Firman Tuhan mengajarkan kita untuk tidak menahan kebaikan jika kita mampu melakukannya. Artinya, saat kita bisa menolong, Tuhan ingin kita segera bertindak dengan hati yang tulus, tanpa menunggu diminta.

Menolong tidak harus dengan hal besar. Kebaikan kecil juga sangat berarti, seperti meminjamkan pensil, membantu menjelaskan pelajaran, menemani teman yang sendirian, atau sekadar bertanya, “Kamu baik-baik saja?” Hal sederhana itu bisa membuat hati seseorang merasa dikuatkan.

Tuhan memakai kebaikan kecil kita untuk menyatakan kasih-Nya. Saat kita berbuat baik, kita sedang menjadi alat Tuhan untuk membawa penghiburan dan sukacita.

Yuk, Rehobot Kids, belajar peka dan berani berbuat baik setiap hari. Jangan menunda kebaikan, karena kebaikan kecil yang kita lakukan hari ini bisa membawa arti besar bagi orang lain.

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 15 Februari 2026 (English Version) - FRIENDSHIP THAT SHAPES CHARACTER
2026-02-16 13:08:52


“Better is open rebuke than hidden love.”
Proverbs 27:5

In friendship, we often feel comfortable when there is a friend who is always there for us—supporting and comforting us. However, healthy friendship does not stop at support alone. A true friend is also brave enough to remind us and correct us when we are heading in the wrong direction.

Proverbs 27:5 emphasizes that correction from a friend, even when it feels uncomfortable and hurts our ego, is actually born out of sincere love. Correction is not meant to tear us down, but to help us become better people and grow in the Lord.

A friend who truly loves will not allow us to remain in our mistakes. They are willing to speak the truth with a loving and humble attitude. On the other hand, praise without honesty can trap us in a misleading comfort.

WHAT TO DO:
1. Reflect on whether your current friendships help you grow in the Lord.
2. Be open to advice and correction that are given in love.
3. Learn to be a friend who is honest and loving—not only supportive, but also edifying.

BIBLE MARATHON:
John 7

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 15 Februari 2026 - FRIENDSHIP THAT SHAPES CHARACTER blm
2026-02-15 23:26:27


“Lebih baik teguran yang nyata-nyata dari pada kasih yang tersembunyi”. Amsal 27:5
Dalam pertemanan, kita sering merasa nyaman ketika ada sahabat selalu ada bagi kita dia ada untuk mendukung dan menghibur hati kita. Namun, persahabatan yang sehat tidak berhenti pada dukungan saja. Sahabat sejati juga berani mengingatkan dan menegur ketika kita berjalan di arah yang keliru.

Amsal 27:5 menegaskan bahwa teguran dari sahabat, meskipun terkadang terasa tidak nyaman, melukai ego kita, justru itu lahir dari kasih yang tulus. Teguran bukan untuk menjatuhkan, melainkan untuk menolong kita menjadi pribadi yang lebih baik dan bertumbuh dalam Tuhan.

Sahabat yang benar-benar mengasihi tidak akan membiarkan kita terus berada dalam kesalahan. Ia berani berkata jujur, dengan sikap yang penuh kasih dan kerendahan hati. Sebaliknya, pujian tanpa kejujuran bisa membuat kita terjebak dalam kenyamanan yang menyesatkan.

WHAT TO DO?
1. Renungkan, apakah pertemananmu saat ini menolongmu bertumbuh dalam Tuhan.
2. Terbukalah terhadap nasihat dan koreksi yang disampaikan dengan kasih.
3. Belajarlah menjadi sahabat yang jujur dan penuh kasih, bukan hanya mendukung, tetapi juga membangun.

BIBLE MARATHON:
Yohanes 7

Card image
Renungan Pagi - 15 Februari 2026
2026-02-15 23:23:15


"Hidup kristiani bukanlah sekedar "Haleluyah! aku sudah diselamatkan!" melainkan harus menanggapi keselamatan itu dengan tindakan iman, tetap berjuang untuk menerima mahkota.

Dan senantiasa hidup semakin hari semakin maju, semakin menyukakan hati Tuhan, semakin berkenan dan semakin seperti Kristus, hingga "Bukan aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku."

Card image
Quote Of The Day - 15 Februari 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-02-15 23:16:30


Hidup menjadi tidak bernilai ketika seseorang menghabiskan umur hidupnya hanya untuk membangun monumennya sendiri.

Card image
Mutiara Suara Kebenaran - 15 Februari 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-02-15 23:15:41


Setiap pilihan yang kita ambil hari ini akan menentukan arah hidup serta kualitas kerohanian kita di masa depan.

Card image
THE JOY OF FORGIVENESS - 15 Februari 2026 (English Version)
2026-02-15 23:14:25


The teaching of the Lord Jesus about forgiveness is directed straight at human life, especially the lives of believers. This teaching demands an honest recognition of one’s own condition. Without such self-awareness, a person is actually dragging himself toward destruction. The Bible clearly affirms that every human being stumbles in many ways—in words, deeds, and attitudes of the heart. Humanity lives under the shadow of death as a consequence of sin and transgression. The wages of sin are death, a decree that cannot be negotiated or avoided. No one can escape the deadly consequences of sin.

Yet amid this bleak reality, the mercy of God is revealed in a very real way. God the Father, the King above all kings, demonstrated His love by giving His only Son as a sacrifice for the redemption of human sin. Humanity’s countless sins were redeemed by the shedding of Jesus Christ’s blood. Without the sacrifice of the Lamb of God on the cross, the debt of human sin could never have been paid—no matter how long. God fully understood humanity’s helplessness in the face of sin, and therefore He sent His Son to save humankind.

As those who have received forgiveness for such an enormous debt of sin, believers are called to do the same toward their fellow human beings. The debt of human sin before God is far too great to be repaid by any effort, yet God has released it through the sacrifice of Christ. Therefore, there is no reason for believers to refuse to forgive the offenses of others. Awareness of who we once were—outcasts facing eternal destruction—must always be remembered. Now, by the grace of God, believers have been raised as a royal priesthood, a holy nation, God’s own possession.

This awareness calls for compassion that mirrors God’s own mercy. Unwillingness to forgive reflects ingratitude, a lack of self-awareness, and even disrespect toward God. God does not tolerate such spiritual arrogance. If God has forgiven the vast sins of humanity, then the relatively small offenses of others are not worthy of becoming reasons to withhold forgiveness. The question of how long one must forgive is answered: as long as forgiveness remains a human obligation before God. The offender’s change or repentance is a matter between that person and God, not the responsibility of another human being. The responsibility of believers is only to forgive, just as God has first forgiven. God has never appointed human beings to judge one another; He alone is the righteous Judge. To assume that role is to overstep the authority God has established.

Forgiveness brings absolute joy to spiritual life. When a person forgives, he is reminded once again of the forgiveness he himself has received from God. The heart becomes light, joy fills the inner being, and the burdens pressing upon the soul are lifted. Forgiveness also opens the opportunity for the forgiven person to amend their life and walk on the right path. Conversely, an unwillingness to forgive produces deep sorrow, ongoing inner pressure, and a life dominated by memories of others’ wrongs. Such an attitude not only damages oneself but also allows others to remain trapped under the shadow of unresolved sin.

To withhold forgiveness is the same as storing deadly poison in one’s spiritual life. That poison slowly destroys the heart and damages one’s relationship with God. Therefore, the poison must be discarded by forgiving, pardoning, and releasing. A way of life that aligns with God’s own actions is what is counted as righteousness. Righteousness expressed in tangible behavior will lead believers into the fulfillment of God’s promises—life in the new heaven and the new earth, within the divine realm filled with peace.

The Lord Jesus bless us

As those who have received forgiveness for such an enormous debt of sin, believers are called to do the same toward their fellow human beings.

Card image
KEBAHAGIAN PENGAMPUNAN - 15 Februari 2026
2026-02-15 23:10:20


Ajaran Tuhan Yesus tentang pengampunan sesungguhnya diarahkan langsung kepada kehidupan manusia, khususnya orang-orang percaya. Ajaran ini menuntut pengenalan yang jujur ​​terhadap kondisi diri sendiri. Tanpa pengenalan tersebut, manusia justru sedang menyeret dirinya menuju kebinasaan. Alkitab dengan jelas menegaskan bahwa setiap manusia berbuat dosa dalam banyak hal—baik dalam perkataan, perbuatan, maupun sikap hati. Manusia hidup dalam bayang-bayang kematian sebagai konsekuensi dari dosa dan pelanggaran. Upah dosa adalah maut, sebuah ketetapan yang tidak dapat ditawar ataupun dihindari. Tidak ada manusia yang mampu meloloskan diri dari akibat dosa yang mematikan ini.

Namun, di tengah kenyataan yang suram tersebut, belas kasih Allah dinyatakan dengan sangat nyata. Allah Bapa, Raja di atas segala raja, menunjukkan kasih-Nya dengan menghadirkan Anak-Nya yang Tunggal sebagai korban penebus dosa manusia. Dosa manusia yang begitu banyak telah ditebus melalui penumpahan darah Yesus Kristus. Tanpa pengorbanan Anak Domba Allah di kayu salib, dosa hutang manusia tidak akan pernah dapat dilunasi, bahkan sampai selama-lamanya. Allah sepenuhnya memahami ketidakberdayaan manusia dalam menghadapi dosa, dan karena itu Ia mengaruniakan Anak-Nya demi keselamatan umat manusia.

Sebagai orang-orang yang telah menerima pengampunan atas dosa yang begitu besar, orang-orang percaya dipanggil untuk melakukan hal yang sama kepada sesama manusia. Hutang dosa manusia kepada Allah terlalu besar untuk diperoleh melalui usaha apa pun, namun Allah telah membebaskannya melalui pengorbanan Kristus. Oleh karena itu, tidak ada alasan bagi orang percaya untuk menolak mengampuni kesalahan sesamanya. Kesadaran akan siapa manusia sebelumnya—orang buangan yang terancam kebinasaan kekal—harus selalu diingat. Kini, atas karunia Allah, orang-orang percaya telah diangkat menjadi imamat rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri.

Kesadaran ini menuntut sikap belas kasihan yang serupa dengan belas kasihan Allah. Ketidakmauan untuk mengampuni menunjukkan sikap tidak tahu diri, tidak tahu berterima kasih, bahkan sikap tidak menghormati Allah. Allah tidak menoleransi keangkuhan rohani semacam ini. Jika dosa manusia yang begitu banyak telah diamuni oleh Allah, maka kesalahan sesama yang relatif kecil tidak layak dijadikan alasan untuk menahan kesabaran. Pertanyaan tentang sampai kapan seseorang harus mengampuni dijawab dengan sederhana: menyimpan itu menjadi kewajiban manusia di hadapan Allah. Perubahan atau pengobatan orang yang bersalah adalah urusannya dengan Tuhan, bukan tanggung jawab manusia. Tanggung jawab orang percaya hanyalah mengampuni, sebagaimana Allah telah terlebih dahulu mengampuni. Allah tidak pernah mengangkat manusia menjadi hakim atas sesamanya; Allah sendirilah Hakim yang adil. Mengambil peran tersebut berarti melampaui wewenang yang telah ditetapkan Allah.

Pengampunan membawa kebahagiaan yang nyata bagi kehidupan rohani. Ketika seseorang mengampuni, ia diingatkan kembali akan memaafkan Allah yang telah menerimanya. Hati menjadi ringan, kegembiraan memenuhi batin, dan beban yang mendorong jiwa terangkat. Pengampunan juga membuka kesempatan bagi orang yang diamuni untuk memperbaiki hidupnya dan berjalan di jalan yang benar. Sebaliknya, ketidakmauan untuk memaafkan menimbulkan dukacita yang mendalam, tekanan batin yang terus-menerus, serta kehidupan yang dikuasai oleh mengingat akan kesalahan orang lain. Sikap ini bukan hanya merusak diri sendiri, namun juga membiarkan sesama hidup dalam bayang-bayang dosa yang tidak terselesaikan.

Menahan pengampunan sama dengan menyimpan racun mematikan dalam kehidupan rohani. Racun tersebut perlahan-lahan menghancurkan hati dan merusak hubungan dengan Allah. Oleh karena itu, racun itu harus dibuang dengan cara memaafkan, mengampuni, dan melepaskan. Sikap hidup yang selaras dengan tindakan Allah inilah yang dianggap sebagai kebenaran. Kebenaran yang terwujud dalam perilaku nyata akan membawa orang percaya masuk ke dalam penggenapan janji Allah—kehidupan di langit baru dan bumi baru, di dalam kawasan ilahi yang penuh dengan kedamaian sejahtera.

Tuhan Yesus memberkati

Sebagai orang-orang yang telah menerima pengampunan atas dosa yang begitu besar, orang-orang percaya dipanggil untuk melakukan hal yang sama kepada sesama manusia.

Card image
KIDS DAILY DEVOTIONAL 14 Februari 2026 - SENYUM DARI BERBAGI
2026-02-15 22:56:44


Mazmur 37:25–26
“Dahulu aku muda, sekarang telah menjadi tua, tetapi tidak pernah kulihat orang benar ditinggalkan… tiap hari ia menaruh belas kasihan dan memberi, dan anak cucunya menjadi berkat.”

Halo, Rehobot Kids! Pernahkah kamu berbagi mainan atau makanan dengan teman? Bagaimana perasaanmu setelah itu? Biasanya hati terasa senang, ya—apalagi saat melihat teman tersenyum bahagia.

Riko memiliki sebuah kotak mainan kecil. Suatu hari, teman-temannya datang bermain, tetapi ada yang lupa membawa mainan. Awalnya Riko khawatir mainannya akan habis dan ia tidak bisa bermain sendiri. Namun ketika ia mulai meminjamkan mainannya, Riko justru merasa senang karena melihat teman-temannya bahagia. Berbagi bukan hanya tentang mainan atau benda, tetapi juga tentang memberi kasih dan perhatian. Mazmur 37:25–26 mengingatkan kita bahwa orang yang murah hati tidak akan kekurangan. Tuhan melihat hati yang mau berbagi dan memberkati orang yang menaruh belas kasihan. Riko belajar bahwa memberi bukan hanya soal apa yang dimiliki, tetapi juga soal percaya kepada Tuhan. Dari kotak mainannya yang kecil, Riko belajar tentang iman, kasih, dan sukacita sejati. _Yuk,_ Rehobot _Kids,_ kita meneladani Riko. Mulailah berbagi dengan tulus, menolong teman, dan menebar kebaikan. Saat kita memberi dengan hati yang tulus, senyum dan sukacita akan hadir—dan kita menjadi berkat bagi banyak orang.

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 14 Februari 2026 (English Version) NOT STANDING ALONE
2026-02-15 22:47:59


“When Moses’ hands grew tired, they took a stone… Aaron and Hur held up his hands.”
Exodus 17:12

Moses is a very familiar biblical figure to us—a great leader used by God. Yet in the midst of the battle against Amalek, Moses grew weary. The hands lifted in prayer began to fall, and at that moment, Aaron and Hur stepped in to support him.

This story reminds us that even those who are strong in faith can grow tired. God did not design us to carry everything alone. He provides community so that we can support one another, especially when our strength begins to run out.

Aaron and Hur did not replace Moses; they stood beside him. They did their part so that Moses could continue to fulfill his calling. In the same way, within a spiritual community, we are called to support one another, not to bring each other down.

WHAT TO DO?
1. Realize that you do not have to walk your faith journey alone.
2. Pray for the people God has placed around you to support you in your community.
3. Be someone who is sensitive and ready to support others when they are weary.

BIBLE MARATHON:
John 6

Card image
YOUTH DAILY DEVOTION 14 Februari 2026 - NOT STANDING ALONE
2026-02-15 22:42:30


“Tetapi tangan Musa menjadi lelah, maka mereka mengambil sebuah batu… Harun dan Hur memegang kedua tangannya.”
Keluaran 17:12

Musa adalah tokoh Alkitab yang sangat familiar bagi kita. Seorang pemimpin besar yang dipakai Tuhan. Namun, di tengah pertempuran melawan Amalek, Musa mengalami kelelahan. Tangan yang terangkat untuk berdoa mulai turun, dan pada saat itulah Harun dan Hur hadir untuk menopangnya.

Kisah ini mengingatkan kita bahwa bahkan orang yang kuat dalam iman pun bisa lelah. Tuhan tidak merancang kita untuk menanggung semuanya sendirian. Ia menghadirkan komunitas agar kita bisa saling menopang, terutama ketika kekuatan kita mulai habis.

Harun dan Hur tidak menggantikan Musa, tetapi mereka berdiri di sisinya. Mereka melakukan bagian mereka agar Musa tetap dapat menjalankan panggilannya. Begitu juga dalam komunitas rohani, kita dipanggil untuk saling mendukung, bukan saling menjatuhkan.

WHAT TO DO?
1. Sadari bahwa kamu tidak harus menjalani perjalanan iman sendirian.
2. Doakan orang-orang yang Tuhan tempatkan untuk menopangmu dalam komunitas.
3. Jadilah pribadi yang peka dan siap menopang orang lain ketika mereka lelah.

BIBLE MARATHON:
Yohanes 6

Card image
Renungan Pagi - 14 Februari 2026
2026-02-15 22:10:59


Anak-anak itu memang lucu karena kepolosannya, keceriaannya dan tingkah lakunya, tetapi kekanak-kanakan itu menyebalkan.

Ada banyak suami atau istri yang kekanak-kanakan, ada banyak pelayan Tuhan yang kekanak-kanakan, cepat tersinggung, cepat kecewa, cepat marah dan tidak bisa dinasehati, itulah sifat yang amat kekanak-kanakan.

Tetapi orang-orang yang siap menghadapi masalah akan menjadikannya dewasa. Menjadi tua itu pasti, tetapi menjadi dewasa itu perlu proses dalam kehidupan melalui masalah.

Card image
Quote Of The Day - 14 Februari 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-02-15 22:00:39


Dalam pergumulan menghadapi berbagai persoalan hidup, kita menjadi dewasa mental sebagai fondasi bangunan kedewasaan rohani.

Card image
Mutiara Suara Kebenaran - 14 Februari 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-02-15 21:59:47


Masa muda bukan alasan untuk hidup sembarangan. Justru di masa inilah Tuhan memberikan kesempatan yang sangat berharga untuk membangun dasar hidup yang benar dan membentuk karakter kita.

Card image
DO NOT ARGUE ABOUT FORGIVENESS - 14 Februari 2026 (English Version)
2026-02-15 14:00:45


In general, people find it difficult to forgive the mistakes, offenses, or sins others commit against them. With various arguments that appear rational, a person may feel they have strong reasons not to extend forgiveness to someone who has hurt them. These arguments often sound reasonable—even convincing—but in reality, they become obstacles to genuine forgiveness.
In marriage, for example, a wife may find it very difficult to forgive a husband who has been unfaithful and violated the norms of marriage. Even if forgiveness is verbally expressed, traces of the wound often remain etched in memory. Whenever a disagreement or minor conflict arises, memories of the infidelity resurface and are used like a weapon to wound again. If this continues, forgiveness has not truly been given. There is still a small ember hidden beneath the ashes, ready to flare up when emotions heat up.

The same applies when a wife is unfaithful to her husband. In such situations, the betrayed husband often feels that forgiveness is impossible. This is also true in other family relationships. Children who are rejected by their parents, or parents who are no longer acknowledged by their children, face deep wounds that are not readily accepted. Forgiving rejecting parents, or receiving back children who have caused harm through wrongdoing, can seem utterly impossible from a human perspective.

However, what is impossible for humans is possible for God. With the help of the Holy Spirit, the human heart can be softened to accept and forgive others’ wrongs. Forgiveness is indeed not easy, but when a person is willing to obey, God will grant the ability to forgive, to pardon, and even to release painful memories. In such obedience, a person is shown to be victorious in the matter of forgiveness.

The next question is: what if the person who has been forgiven commits the same offense again? The Bible does not encourage argumentation or retaliation, but calls us to forgive again and to entrust the matter to God’s sovereignty. When a matter is handed over to the Lord, God Himself will act. God is never indifferent to believers whose lives are oppressed, who are treated unjustly, or who are wounded in inhumane ways. Therefore, the resolution of such matters should not be pursued by human means, but by surrendering them to God, who can settle everything in His own way. Scripture solemnly warns that it is a fearful thing to fall into the hands of the living and powerful God.

Jesus’ teaching on forgiveness in Matthew 18:21–35 clearly illustrates this principle. In that passage, a servant is brought before a king because he owes ten thousand talents—an amount equivalent to hundreds of billions or even trillions in today’s currency. Unable to repay the debt, the king orders that the servant, along with his wife and children, be sold to repay what he owes. In desperation, the servant falls and begs for mercy so that he and his family will not be separated. Moved by compassion, the king cancels the entire debt.

However, after being released, the servant encounters a fellow servant who owes him a hundred denarii—a minimal amount compared to his own debt, since one talent equals six thousand denarii. Instead of showing mercy, he seizes and chokes his fellow servant, demanding repayment. Even when the fellow servant pleads for patience, he refuses and throws him into prison. This attitude reveals a shocking corruption of heart: he forgets the immense forgiveness he has received and refuses to extend even a minor forgiveness to another.

When the king hears about this, he becomes furious and orders that the servant be arrested and imprisoned until he can repay all his debt. This story emphasizes that forgiveness received but not passed on to others will ultimately result in judgment. Therefore, forgiveness is not a matter for argument, but an act of obedience that must be lived out. Those who have been forgiven are called to forgive—without conditions and without self-justification.

The Lord Jesus bless you

FORGIVENESS IS NOT A MATTER FOR ARGUMENT, BUT AN ACT OF OBEDIENCE THAT MUST BE LIVED OUT.

Card image
JANGAN BERARGUMENTASI PERIHAL PENGAMPUNAN - 14 Februari 2026
2026-02-15 13:58:43


Pada umumnya, manusia mengalami kesulitan untuk mengampuni kesalahan, pelanggaran, atau dosa orang lain yang dilakukan terhadap dirinya. Dengan berbagai argumentasi yang tampak rasional, seseorang merasa memiliki alasan kuat untuk tidak memberi pengampunan kepada pihak yang telah melukainya. Argumentasi tersebut sering kali terdengar masuk akal, bahkan meyakinkan, namun sesungguhnya justru menjadi penghalang bagi terjadinya pengampunan yang sejati.

Dalam kehidupan pernikahan, misalnya, seorang istri tidak mudah mengampuni suami yang telah berlaku tidak setia dan melanggar norma-norma perkawinan. Kalaupun pengampunan itu dinyatakan, sering kali masih tersisa jejak luka yang tidak terhapus dalam ingatan. Setiap kali terjadi perselisihan atau pertengkaran kecil, ingatan akan ketidaksetiaan tersebut kembali dimunculkan, seolah menjadi senjata yang diarahkan untuk melukai. Jika hal ini terus terjadi, sesungguhnya pengampunan belum sungguh-sungguh diberikan. Masih ada bara kecil yang tersimpan di dalam sekam, siap menyala kembali ketika situasi memanas.

Hal yang sama juga berlaku ketika seorang istri berlaku tidak setia kepada suaminya. Dalam kondisi seperti ini, suami yang dikhianati sering kali merasa tidak mungkin untuk mengampuni. Demikian pula dalam relasi keluarga lainnya. Anak-anak yang ditolak oleh orang tuanya, atau sebaliknya orang tua yang tidak lagi diakui oleh anak-anaknya, menghadapi luka yang mendalam dan tidak mudah untuk diterima. Mengampuni orang tua yang menolak, atau menerima kembali anak yang melukai dengan kejahatan, tampak sebagai sesuatu yang mustahil bagi manusia.

Namun, apa yang mustahil bagi manusia adalah mungkin bagi Allah. Oleh pertolongan Roh Kudus, hati manusia dapat dilembutkan untuk menerima dan mengampuni kesalahan orang lain. Pengampunan memang bukan perkara yang mudah, tetapi ketika seseorang bersedia untuk taat, Allah akan memberikan kemampuan untuk mengampuni, memaafkan, bahkan melepaskan ingatan yang melukai. Dalam ketaatan itulah seseorang dinyatakan menang dalam perkara pengampunan.

Pertanyaan berikutnya adalah bagaimana jika orang yang telah diampuni kembali melakukan kesalahan yang sama? Jawaban yang diberikan Alkitab tidak mendorong manusia untuk berargumentasi atau membalas, melainkan untuk kembali mengampuni dan menyerahkan perkara tersebut kepada kedaulatan Allah. Ketika suatu urusan telah diserahkan kepada Tuhan, Allah sendiri yang akan bertindak. Allah tidak pernah abai terhadap orang-orang percaya yang hidupnya ditindas, diperlakukan secara sewenang-wenang, atau dilukai secara tidak manusiawi. Karena itu, penyelesaian persoalan tidak seharusnya dilakukan dengan cara manusia, melainkan dengan menyerahkannya kepada Allah, yang sanggup membereskan segala sesuatu dengan cara-Nya sendiri. Alkitab dengan tegas memperingatkan bahwa sangat mengerikan jika seseorang jatuh ke dalam tangan Allah yang hidup dan berkuasa.

Pengajaran Tuhan Yesus tentang pengampunan dalam Matius 18:21–35 memperjelas prinsip ini. Dalam perikop tersebut dikisahkan seorang hamba yang dihadapkan kepada raja karena memiliki utang sebesar sepuluh ribu talenta—jumlah yang setara dengan ratusan miliar hingga triliunan rupiah. Karena tidak mampu membayar, raja memerintahkan agar ia beserta istri dan anak-anaknya dijual untuk melunasi utangnya. Dalam keadaan terdesak, hamba itu sujud dan memohon belas kasihan agar dirinya dan keluarganya tidak dipisahkan. Melihat permohonannya, raja tergerak oleh belas kasihan dan menghapus seluruh utangnya.

Namun, setelah dibebaskan, hamba tersebut bertemu dengan rekannya yang berutang seratus dinar—jumlah yang sangat kecil jika dibandingkan dengan utangnya sendiri, sebab satu talenta setara dengan enam ribu dinar. Alih-alih menunjukkan belas kasihan, ia justru menangkap dan mencekik rekannya sambil menuntut pelunasan utang. Meskipun rekannya itu memohon kesabaran, ia menolak dan menjebloskannya ke dalam penjara. Sikap ini menunjukkan kebejatan hati yang luar biasa: ia melupakan pengampunan besar yang telah diterimanya dan menolak memberikan pengampunan kecil kepada orang lain.

Ketika raja mendengar peristiwa tersebut, ia murka dan memerintahkan agar hamba itu ditangkap serta dipenjarakan sampai seluruh utangnya dilunasi. Kisah ini menegaskan bahwa pengampunan yang diterima tetapi tidak diteruskan kepada sesama akan berujung pada penghukuman. Dengan demikian, pengampunan bukanlah ruang untuk berargumentasi, melainkan ketaatan yang harus dijalani. Orang yang telah diampuni dipanggil untuk mengampuni, tanpa syarat dan tanpa pembenaran diri.

Tuhan Yesus memberkati

PENGAMPUNAN BUKANLAH RUANG UNTUK BERARGUMENTASI, MELAINKAN KETAATAN YANG HARUS DIJALANI.

Card image
Bacaan Alkitab Setahun - 14 Februari 2026
2026-02-15 13:56:20


Imamat 5-7

Card image
KIDS DAILY DEVOTIONAL 13 Februari 2026 - BERBAGI DENGAN SUKACITA
2026-02-13 20:46:28


Amsal 11:25
“Siapa banyak memberi berkat, diberi kelimpahan; siapa memberi minum, ia sendiri akan diberi minum.”

Halo, Rehobot Kids! Pernahkah kamu merasa senang ketika ada teman yang mau berbagi denganmu? Mungkin ia berbagi makanan, meminjamkan pensil, atau sekadar tersenyum dan menyapamu. Hal-hal kecil seperti itu bisa membuat hati kita terasa hangat dan gembira.

Tuhan memberi kita hati yang baik supaya kita bisa berbuat kebaikan. Berbagi tidak harus selalu berupa barang. Di rumah, kita bisa membantu orang tua. Di sekolah, kita bisa menolong teman. Di gereja, kita bisa bersikap ramah dan tidak egois. Saat ada teman yang sedih, kita bisa mendoakannya. Saat ada teman yang sendirian, kita bisa menemaninya. Semua tindakan sederhana itu sangat berharga di mata Tuhan jika dilakukan dengan penuh kasih.

Firman Tuhan dalam Amsal 11:25 mengajarkan bahwa Tuhan senang kepada anak-anak yang suka berbagi. Tuhan berjanji memberkati orang yang murah hati. Artinya, saat kita membuat orang lain senang, Tuhan juga memenuhi hati kita dengan sukacita.

Yuk, Rehobot Kids, belajar berbagi dengan hati yang gembira setiap hari. Ketika kita berbagi, kita menjadi berkat bagi banyak orang dan membuat hati Tuhan senang.

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 13 Februari 2026 (English Version) - FAITH BUILT IN FELLOWSHIP
2026-02-13 20:43:47


“They devoted themselves to the apostles’ teaching and to fellowship, to the breaking of bread and to prayer.” Acts 2:42

The journey of faith is not built instantly, nor was it ever meant to be walked alone. From the very beginning, the early church grew because God’s people lived in genuine fellowship. They studied the Word together, shared life with one another, and prayed for each other.

Fellowship is more than just a routine gathering—it is a space where faith is nurtured. Within community, we learn to understand God’s Word, learn to love sincerely, and learn to remain faithful in walking with God through the various situations of life.

The early church reminds us that faith grows when there is a willingness to show up and be involved. When we open ourselves in fellowship, God uses the community to strengthen us, correct us, and help us grow.

WHAT TO DO?
1. Give thanks for the spiritual community God has placed in your life.
2. Pray for the Rehobot Youth fellowship, that it may become a healthy place for faith to grow.
3. Take one step to be more involved and faithful in fellowship.

BIBLE MARATHON:
John 5

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 13 Februari 2026 - FAITH BUILT IN FELLOWSHIP
2026-02-13 20:40:39


“Mereka bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan. Dan mereka selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa.”
Kisah Para Rasul 2:42

Perjalanan iman tidak dibangun dengan instan, dan juga tidak dimaksudkan untuk dijalani sendirian. Sejak awal, gereja mula-mula bertumbuh karena umat Tuhan hidup dalam persekutuan yang nyata. Mereka belajar firman bersama, saling berbagi hidup, dan berdoa satu sama lain.

Persekutuan bukan sekadar rutinitas berkumpul, tetapi ruang di mana iman dipelihara. Di dalam komunitas, kita belajar memahami firman Tuhan, belajar mengasihi dengan tulus, dan belajar tetap setia berjalan bersama Tuhan di tengah berbagai situasi hidup.

Gereja mula-mula mengingatkan kita bahwa iman bertumbuh ketika ada kesediaan untuk hadir dan terlibat. Ketika kita membuka diri dalam persekutuan, Tuhan memakai komunitas untuk menguatkan, menegur, dan menumbuhkan kita.

WHAT TO DO?
1. Bersyukur atas komunitas rohani yang Tuhan berikan dalam hidupmu.
2. Doakan persekutuan Rehobot Youth agar menjadi tempat pertumbuhan iman yang sehat.
3. Ambil satu langkah untuk lebih terlibat dan setia dalam persekutuan.

BIBLE MARATHON:
Yohanes 5

Card image
Renungan Pagi - 13 Februari 2026
2026-02-13 20:16:57


Jangan berjalan jauh dari firman Tuhan, karena dalam firman Tuhanlah kita dituntun, dalam firman Tuhanlah dikuatkan dan dalam firman Tuhanlah akan melihat janji-janji Tuhan tergenapi dalam hidup kita.

Alkitab mengingatkan, kalau merenungkan taurat Tuhan siang dan malam, maka kita akan seperti pohon yang ditanam ditepi aliran air, yang akan berbuah pada musimnya, yang tidak akan layu daunnya, apa saja yang diperbuatnya akan berhasil, jadi jika berjalan seirama dengan firman Tuhan, jalan kita tidak akan tersesat.

Card image
Quote Of The Day - 13 Februari 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-02-13 20:05:57


Kita datang telanjang dan kembali telanjang, bila kita sekarang diberkati, semua karena Tuhan. Jangan sombong!

Card image
Mutiara Suara Kebenaran - 13 Februari 2026
2026-02-13 20:03:17


Selama masih ada nafas, Tuhan mau memperbarui kita. Jangan berhenti bertumbuh. Jangan berhenti belajar taat. Jangan sampai keburu tua, tetapi belum menjadi seperti yang Tuhan kehendaki.

Card image
HINDERED PRAYER - 13 Februari 2026 (English Version)
2026-02-13 20:01:25


The prayers of believers do not always reach God. The Bible clearly states that when the children of God still harbor unresolved evil and sin, their prayers are hindered. In such a condition, prayer is nothing more than words spoken into space, for God is not present there. When a person harbors evil, God has, in fact, withdrawn Himself from that person. Therefore, believers must continually live in spiritual awareness so that they can recognize any evil and sin still hidden within them and immediately deal with it, correct it, and abandon it. Without genuine repentance, separation from the holy God becomes an unavoidable consequence.

God cannot be approached by His children who are still stained with unresolved sin. Thus, dealing with sin and evil is an essential prerequisite in one’s relationship with God. Believers are called to commit themselves to living holy and pure lives, leaving behind every form of evil and sin, and only then coming before God in prayer and dialogue. This principle is clearly seen when the Lord Jesus taught His disciples to pray, especially in the words, “Forgive us our trespasses, as we also forgive those who trespass against us.” This statement emphasizes that before a person comes to God to ask for forgiveness, they must first resolve their wrongdoing with others.

The phrase forgive us our trespasses reflects an awareness that human beings have faults, sins, and transgressions. This awareness should be the foundational attitude of every believer. James 3:2 says, “For we all stumble in many ways.” This statement calls for humility, so that believers do not consider themselves more righteous than others. Every person has the potential to fail and must therefore remain vigilant. The primary focus of spiritual life is not to find fault with others, but to remove the “log” of wrongdoing within oneself.

The effort to be made right before God is a long process that requires sincerity and perseverance. However, this process is often disrupted when someone becomes preoccupied with noticing others’ faults and feels entitled to correct them. Ironically, while their own lives remain unresolved, they try to fix others’ lives. Such an attitude is a dangerous form of hypocrisy and can destroy a believer’s spiritual life.

Jesus clearly taught this principle in Matthew 5:23–24. He said that if someone is about to offer a gift to God and remembers that their brother has something against them, they must first leave the gift there. They should go and be reconciled with their brother, and only then return to offer their gift to God. This statement is very straightforward and does not require complicated interpretation. God does not accept the worship of believers whose relationships with others are still unresolved. Even if someone brings an offering, God remains unmoved, because what God looks at is not what a person brings, but the condition of their life and their spiritual relationships.

Coming to God is a necessity for believers, but that coming must be accompanied by a life that has been solved. Without reconciliation with others, God will not respond to the prayers and worship of believers. Relationships with fellow human beings have a direct impact on one’s relationship with God. When horizontal relationships are broken, the vertical relationship with God is also disturbed.

Love for God cannot be separated from love for others. God does not forgive believers who still harbor bitterness, resentment, and anger toward their fellow human beings. Every person has the potential to commit wrongs, including ourselves. Therefore, what we expect of others, we should first do for them. In this way, the forgiveness that God works in the lives of believers is closely related to the forgiveness they extend to others. Ultimately, the matter of forgiveness lies in the choice and responsibility of each believer.

The Lord Jesus bless you

WHEN THE CHILDREN OF GOD STILL HARBOR UNRESOLVED EVIL AND SIN, THEIR PRAYERS ARE HINDERED.

Card image
DOA YANG TERHALANG - 13 Februari 2026
2026-02-13 19:57:03


Doa orang percaya tidak selalu sampai kepada Allah. Alkitab dengan tegas menyatakan bahwa ketika anak-anak Allah masih menyimpan kejahatan dan dosa yang belum diselesaikan, doa mereka terhalang. Dalam kondisi demikian, doa tidak lebih dari sekadar kata-kata yang diucapkan ke ruang hampa, sebab Allah tidak hadir di sana. Ketika seseorang menyimpan kejahatan, sesungguhnya Allah telah menarik diri darinya. Oleh karena itu, orang percaya perlu senantiasa berada dalam kesadaran rohani, agar mampu mengenali kejahatan dan dosa yang masih tersimpan di dalam dirinya untuk segera dibereskan, diperbaiki, dan ditinggalkan. Tanpa pertobatan yang sungguh, keterpisahan dari Allah yang kudus menjadi konsekuensi yang tidak terhindarkan.

Allah tidak dapat dijangkau oleh anak-anak-Nya yang masih berlumuran dosa yang belum diselesaikan. Maka, penyelesaian persoalan dosa dan kejahatan menjadi prasyarat penting dalam relasi dengan Allah. Orang percaya dipanggil untuk berkomitmen hidup suci dan kudus, meninggalkan segala bentuk kejahatan dan dosa, barulah kemudian datang kepada Allah dalam doa dan dialog. Prinsip ini tampak jelas ketika Tuhan Yesus mengajarkan doa kepada murid-murid-Nya, khususnya dalam kalimat, “Ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami.” Kalimat ini menegaskan bahwa sebelum seseorang datang kepada Allah untuk memohon pengampunan, ia harus terlebih dahulu menyelesaikan kesalahannya dengan sesama.

Ungkapan ampunilah kami akan kesalahan kami menunjukkan adanya kesadaran bahwa manusia memiliki kesalahan, dosa, dan pelanggaran. Kesadaran inilah yang seharusnya menjadi sikap dasar orang percaya. Yakobus 3:2 menyatakan, “Sebab kita semua bersalah dalam banyak hal.” Pernyataan ini menuntut kerendahan hati, agar orang percaya tidak memandang dirinya lebih benar daripada orang lain. Setiap orang memiliki potensi untuk bersalah dan karena itu harus terus berjaga-jaga terhadap dirinya sendiri. Fokus utama kehidupan rohani bukanlah mencari kesalahan orang lain, melainkan menyingkirkan “balok” kesalahan dalam diri sendiri.

Upaya pembenaran diri sendiri di hadapan Allah merupakan proses yang panjang dan menuntut kesungguhan. Namun, proses ini kerap terganggu ketika seseorang mulai lebih sibuk memperhatikan kesalahan orang lain dan merasa memiliki hak untuk memperbaikinya. Ironisnya, ketika hidup pribadi belum beres, seseorang justru berusaha membereskan hidup orang lain. Sikap semacam ini merupakan bentuk kemunafikan yang berbahaya dan dapat merusak kehidupan rohani orang percaya.

Yesus dengan jelas mengajarkan prinsip ini dalam Matius 5:23–24. Ia menyatakan bahwa jika seseorang hendak mempersembahkan persembahan kepada Allah, tetapi teringat bahwa saudaranya memiliki sesuatu terhadap dirinya, maka persembahan itu harus ditinggalkan terlebih dahulu. Orang tersebut harus pergi berdamai dengan saudaranya sebelum kembali mempersembahkan persembahan kepada Allah. Pernyataan ini sangat lugas dan tidak memerlukan penafsiran yang rumit. Allah tidak menerima ibadah orang percaya yang relasinya dengan sesama belum diselesaikan. Sekalipun seseorang membawa persembahan, Allah tidak bergeming, sebab yang diperhatikan Allah bukanlah apa yang dibawa manusia, melainkan keadaan hidup dan relasi rohaninya.

Datang kepada Allah merupakan keharusan bagi orang percaya, tetapi kedatangan itu harus disertai dengan kehidupan yang telah dibereskan. Tanpa penyelesaian relasi dengan sesama, Allah tidak akan merespons doa dan ibadah orang percaya. Relasi dengan sesama manusia memiliki dampak langsung terhadap relasi dengan Allah. Ketika relasi horizontal bermasalah, relasi vertikal pun sesungguhnya sedang terganggu.

Kasih kepada Allah tidak dapat dipisahkan dari kasih kepada sesama. Allah tidak mengampuni orang-orang percaya yang masih menyimpan kepahitan, dendam, dan kemarahan terhadap sesamanya. Setiap manusia berpotensi melakukan kesalahan, termasuk diri kita sendiri. Oleh karena itu, apa yang kita harapkan orang lain lakukan kepada kita, seharusnya kita lakukan terlebih dahulu kepada mereka. Dengan demikian, pengampunan yang Allah kerjakan dalam kehidupan orang percaya berkaitan erat dengan pengampunan yang ia berikan kepada sesamanya. Pada akhirnya, perkara pengampunan berada dalam pilihan dan tanggung jawab setiap orang percaya.

Tuhan Yesus memberkati

KETIKA ANAK-ANAK ALLAH MASIH MENYIMPAN KEJAHATAN DAN DOSA YANG BELUM DISELESAIKAN, DOA MEREKA TERHALANG.

Card image
Bacaan Alkitab Setahun - 13 Februari 2026
2026-02-13 12:57:34

Imamat 1-4

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 12 Februari 2026 (English Version) - STRONGER THROUGH COMMUNITY
2026-02-12 22:38:27


“And let us consider how we may spur one another on toward love and good deeds.”
Hebrews 10:24

Sometimes we think that faith is a personal matter between us and God. While it’s true that faith is personal, it was never meant to be lived out alone. We are social beings who need one another—community is where we grow together.

Hebrews 10:24 reminds us to pay attention to one another and to encourage one another. This means we no longer focus only on our own faith journey, but we also care about the spiritual growth of others. When we are strong, we can strengthen others. When we are tired or fall, the community becomes the place where we are supported.

Community is not about being perfect together, but about walking together. It is where we learn to love, learn patience, and learn to remain faithful in doing good, even when it isn’t always easy.

Through the community God provides, our faith is shaped, nurtured, and strengthened. Because in the end, we truly are stronger when we don’t walk alone.

WHAT TO DO?
1. Take time to give thanks for the community God has placed in your life.
2. Pray for one friend or community member, that their faith will continue to be strengthened.
3. Take one simple step today to be present and care for your community.

BIBLE MARATHON:
John 4

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 12 Februari 2026 - STRONGER THROUGH COMMUNITY
2026-02-12 22:35:44


“Dan baiklah kita saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik.”
Ibrani 10:24

Terkadang kita berpikir bahwa iman itu urusan pribadi antara kita dan Tuhan. Memang benar iman bersifat personal, tetapi iman tidak pernah dimaksudkan untuk dijalani sendirian. Kita dikatakan sebagai makhluk sosial yang membutuhkan satu sama lain alias komunitas sebagai tempat bertumbuh bersama.

Ibrani 10:24 mengingatkan kita untuk saling memperhatikan dan saling mendorong. Artinya kita tidak lagi berfokus pada perjalanan iman kita sendiri, tetapi juga peduli pada pertumbuhan iman orang lain. Saat kita sedang kuat, kita bisa menguatkan yang lain. Saat kita lelah atau jatuh, komunitas menjadi tempat kita ditopang.

Komunitas bukan hanya menjadi sempurna bersama, tetapi tentang berjalan bersama. Di sanalah kita belajar mengasihi, belajar sabar, dan belajar tetap setia melakukan hal-hal baik, meskipun tidak selalu mudah.

Melalui komunitas yang Tuhan sediakan, iman kita dibentuk, dipelihara, dan dikuatkan. Karena pada akhirnya, kita memang lebih kuat ketika kita tidak berjalan sendiri.

WHAT TO DO:
1. Luangkan waktu untuk mengucap syukur atas komunitas yang Tuhan berikan dalam hidupmu.
2. Doakan satu teman atau anggota komunitas agar imannya terus dikuatkan.
3. Ambil satu langkah sederhana hari ini untuk hadir dan peduli dalam komunitasmu.

BIBLE MARATHON:
Yohanes 4

Card image
Renungan Pagi - 12 Februari 2026
2026-02-12 22:33:23


Terlalu banyak orang yang memberi tetapi mengharapkan menerima kembali banyak, kalau kita memberi kepada Tuhan berilah dengan segenap hati, dengan kerelaan hati dan jangan di ingat-ingat lagi, karena semua yang kita miliki datangnya dari Tuhan.

Jangan merasa sudah hebat, ketika memberi kepada Tuhan, karena apa yang kita punya semuanya datangnya dari Tuhan, tetapi ketika berkorban dalam kerendahan hati, maka disitulah kita melihat berkat Allah turun.

Card image
Quote Of The Day - 12 Februari 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-02-12 22:32:44


Pengalaman emosi tidak dapat menjadi dasar pengalaman bersama Tuhan, karena emosi bisa bersifat temporal.

Card image
Mutiara Suara Kebenaran - 12 Februari 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-02-12 22:22:20


Di tengah banyak perubahan yang silih berganti, ada satu hal yang Tuhan kehendaki tetap bertumbuh dalam diri kita yaitu hati yang senantiasa diperbarui dalam kebenaran-Nya.

Card image
FORGIVE, THEN BE FORGIVEN - 12 Februari 2026 (English Version)
2026-02-12 22:21:17


Matthew 6:12
“And forgive us our trespasses, as we also forgive those who trespass against us.”

This verse from Matthew 6:12 is part of the prayer that the Lord Jesus taught His disciples. When we read the prayer in its entirety, we realize that Jesus was not merely presenting sentences to be recited in prayer, but a way of life to be lived—namely, in the lives of believers. The preceding verses in Matthew chapter 6 affirm that the prayer taught by Jesus must be manifested in behavior, not merely in words, phrases, or prayer narratives.

Matthew 6:5 says, “And when you pray, do not be like the hypocrites, for they love to pray standing in synagogues and on street corners so that others may see them. Truly I tell you, they have received their reward.” Praying—or dialoguing with God—is a way of life for believers. It is a very personal space between a believer and their God, with no need for anyone else to know. Why is there an impression of hypocrisy in matters of dialoguing with God? Because human beings have a great potential to be dishonest before the Lord. Therefore, we must be truly alert and avoid hypocrisy when we speak with God in prayer.

If the Bible addresses the presence of hypocrisy in prayer, it means that this potential genuinely exists among believers. We must be vigilant over ourselves so that we do not fall into such hypocrisy. Hypocrisy—pretense, acting, wearing a mask, and having a double face—is very possible in spiritual life. This is why the Lord Jesus’ message in Matthew 6:5 was delivered to His disciples then and remains relevant for believers today.

Prayer is a dialogue between us and God, our Father in heaven. Its nature is profoundly personal and reflects an intimate relationship. “But when you pray, go into your room, close the door and pray to your Father, who is unseen.” This message emphasizes that prayer is a person’s private time with God. Then what about when someone is asked to pray to open a worship service attended by many people? This is where spiritual stability is required of believers. Remember, prayer is a personal dialogue with God. Pray before many people in the same way you pray privately. What is being offered is not a series of prayer sentences, but a dialogue with God.

Believers need to avoid praying with ulterior motives—for example, praying academically, seeking to be seen as skilled in worship, or speaking in tongues to appear more spiritual. The writer is not saying that speaking in tongues in prayer is wrong, but it must be done strictly under the guidance of the Holy Spirit. Do not let prayer become a means of performing, building a platform, or seeking popularity, recognition, or the admiration of listeners. Pray with the heart, not merely with the mouth. The words of prayer must be in harmony with one’s conduct. Otherwise, a person is spending time offering prayers that God does not hear.

Believers certainly desire their prayers to be heard and answered by God. Believers are children of God, and God surely hears the conversations of His children. However, there is an important matter to consider when we pray to God: we must be in a state of purity, free from sin and transgression. Isaiah 59:2 says, “But your iniquities have separated you from your God; your sins have hidden His face from you, so that He will not hear.” This statement from the prophet Isaiah, inspired by the Holy Spirit, gives a severe warning about how we deal with God. God cannot draw near to evil and sin.

The Lord Jesus bless you

THERE IS AN IMPORTANT MATTER TO CONSIDER WHEN WE PRAY TO GOD: WE MUST BE IN A STATE OF PURITY, FREE FROM SIN AND TRANSGRESSION.

Card image
AMPUNI, BARU DIAMPUNI - 12 Februari 2026
2026-02-12 22:17:39


Matius 6:12
“Dan ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami.”

Petikan ayat dalam Injil Matius 6:12 merupakan bagian dari rangkaian doa yang diajarkan oleh Tuhan Yesus kepada murid-murid-Nya. Jika membaca keseluruhan doa yang diajarkan-Nya, sesungguhnya Tuhan Yesus tidak sekadar memaparkan kalimat-kalimat doa, melainkan gaya hidup yang harus terimplementasi dalam kehidupan manusia, yakni orang-orang percaya. Ayat-ayat sebelumnya dalam pasal 6 Injil Matius telah mengokohkan bahwa doa yang diajarkan oleh Tuhan Yesus harus terwujud dalam perilaku, bukan sekadar kata, kalimat, atau narasi doa.

Matius 6:5 berkata, “Dan apabila kamu berdoa, janganlah berdoa seperti orang munafik. Mereka suka mengucapkan doanya dengan berdiri di rumah-rumah ibadat dan pada tikungan-tikungan jalan raya, supaya mereka dilihat orang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya.” Berdoa atau berdialog dengan Allah adalah gaya hidup orang-orang percaya. Ini merupakan ruang yang sangat pribadi antara orang percaya dengan Allahnya, tanpa perlu diketahui oleh siapa pun. Mengapa dikesankan adanya sikap munafik dalam urusan berdialog dengan Allah? Karena manusia memiliki potensi besar untuk bersikap tidak jujur di hadapan Tuhan. Oleh sebab itu, kita harus benar-benar waspada dan menjauhkan diri dari sikap munafik ketika berdialog dengan Tuhan dalam doa.

Jika Alkitab menyinggung adanya kemunafikan dalam berdoa, itu berarti potensi tersebut nyata terjadi di tengah orang-orang percaya. Kita perlu waspada terhadap diri kita sendiri agar tidak jatuh ke dalam kemunafikan tersebut. Kemunafikan—kepura-puraan, sandiwara, bertopeng, dan berwajah dua—sangat mungkin terjadi dalam kehidupan rohani. Inilah alasan mengapa pesan Tuhan Yesus dalam Matius 6:5 disampaikan kepada murid-murid-Nya pada waktu itu dan tetap relevan bagi orang-orang percaya pada masa kini.

Berdoa adalah berdialog antara kita dengan Allah, Bapa di surga. Sifatnya sangat pribadi dan mencerminkan relasi yang intim. “Masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu, dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi.” Pesan ini menegaskan bahwa doa adalah waktu pribadi seseorang dengan Allah. Lalu bagaimana ketika seseorang diminta berdoa untuk membuka ibadah yang dihadiri banyak orang? Di sinilah diperlukan kestabilan rohani orang percaya. Ingat, berdoa tetaplah berdialog dengan Allah dan bersifat pribadi. Berdoalah di hadapan orang banyak sebagaimana kita berdoa secara pribadi. Yang disampaikan bukan rangkaian kalimat doa, melainkan dialog dengan Allah.

Orang percaya perlu menghindari doa dengan maksud-maksud tertentu, misalnya menyampaikan kalimat doa yang terkesan akademis, ingin dianggap pintar berdoa, atau menyisipkan bahasa roh agar terlihat lebih rohani. Penulis tidak mengatakan bahwa berbahasa roh dalam doa itu salah, tetapi hal tersebut harus dilakukan dengan ketat dalam tuntunan Roh Kudus. Jangan sampai doa hanya menjadi sarana untuk tampil, membangun panggung, atau mencari popularitas, pengakuan, dan decak kagum pendengar. Berdoalah dengan hati, bukan sekadar dengan mulut. Ucapan doa harus sinkron atau sama dengan perilaku. Jika tidak, seseorang sedang menghabiskan waktu menaikkan doa yang tidak didengarkan oleh Allah.

Orang-orang percaya tentu menginginkan agar doa mereka didengar dan dikabulkan oleh Allah. Orang percaya adalah anak-anak Allah, dan Allah tentu mendengar percakapan anak-anak-Nya. Namun, ada hal penting yang perlu diperhatikan ketika kita berdoa kepada Allah: yakni kita harus berada dalam keadaan bersih, tidak menyimpan dosa atau pelanggaran. Yesaya 59:2 berkata, “Tetapi yang merupakan pemisah antara kamu dan Allahmu ialah segala kejahatanmu, dan yang membuat Dia menyembunyikan diri terhadap kamu, sehingga Ia tidak mendengar, ialah segala dosamu.” Pernyataan nabi Yesaya, yang diilhami oleh Roh Kudus, memberikan peringatan yang serius ketika kita berurusan dengan Allah. Allah tidak dapat berdekatan dengan kejahatan dan dosa.

Tuhan Yesus memberkati

ADA HAL PENTING YANG PERLU DIPERHATIKAN KETIKA KITA BERDOA KEPADA ALLAH: YAKNI KITA HARUS BERADA DALAM KEADAAN BERSIH, TIDAK MENYIMPAN DOSA ATAU PELANGGARAN.

Card image
Bacaan Alkitab Setahun - 12 Februari 2026
2026-02-12 22:12:59

Keluaran 39-40

Card image
KIDS DAILY DEVOTIONAL 11 Februari 2026 - LOVE THROUGH ACTION
2026-02-11 23:51:42


1 Yohanes 3:18
“Anak-anakku, marilah kita mengasihi bukan dengan perkataan atau dengan lidah, tetapi dengan perbuatan dan dalam kebenaran.”

“Rotiku cuma satu,” gumam Lala saat jam istirahat. Di sampingnya, Beni tampak bingung karena lupa membawa bekal. Lala ragu sejenak. Ia ingin makan sendiri, tapi ia teringat firman Tuhan yang didengarnya pagi itu. Dengan senyum kecil, Lala membelah rotinya dan memberikan setengah kepada Beni. “Kita makan bareng ya,” katanya. Mata Beni pun berbinar, “Terima kasih, Lala.”

Saat pulang, Lala menceritakan kejadian itu kepada ayahnya. Ayah tersenyum hangat dan berkata, “Tuhan senang ketika kasih bukan hanya diucapkan, tapi dilakukan. Saat kamu berbagi, kasih Tuhan bisa dirasakan orang lain.” Lala merasa hatinya ringan dan bahagia.

Keesokan harinya, Lala melihat temannya kesulitan merapikan kelas. Tanpa diminta, ia langsung membantu. Kelas pun terasa lebih rapi dan ceria. Lala menyadari bahwa tindakan kecil bisa membuat suasana menjadi lebih hangat.

Rehobot Kids, Tuhan mengajar kita untuk mengasihi bukan hanya dengan kata-kata, tetapi dengan perbuatan. Berbagi waktu, tenaga, dan apa yang kita miliki membuat kasih Tuhan terlihat nyata. Yuk, tunjukkan kasih Tuhan lewat tindakan sederhana setiap hari, supaya dunia di sekitar kita menjadi lebih hangat dan penuh kasih.

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 11 Februari 2026 (English Version) - A TRUE FRIEND
2026-02-11 23:49:02


“A friend loves at all times, and a brother is born for adversity.”
Proverbs 17:17

Having lots of friends is easy. But having a true friend? That’s rare. When things are good, everyone can show up. But when you’re tired, disappointed, or falling apart—who still stays?

God’s Word says that a true friend loves at all times. Not only when things are going well. Not only when you’re funny, successful, or useful. A true friend keeps loving even when you have nothing to offer. In fact, they become like a brother or sister in times of trouble.

Jesus teaches us the true meaning of friendship. He remained faithful to His disciples even when they failed, denied Him, and ran away. From this, we learn that true love is consistent, not conditional.

So today’s question isn’t just, Who is my friend? But also, Have I been a faithful friend?

Because healthy friendships don’t just make us feel comfortable—they help us grow. A true friend doesn’t walk away; they walk alongside us, strengthen us, and encourage us to keep walking with God.

WHAT TO DO?
1. Think of one person God has entrusted to you as a friend in your life.
2. Pray for them today—specifically and sincerely.
3. Take one real action: listen, support, or be present for them, without waiting to be asked.

BIBLE MARATHON:
John 3

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 11 Februari 2026 - SAHABAT YANG SEJATI
2026-02-11 23:46:42


“Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu, dan menjadi seorang saudara dalam kesukaran”.
Amsal 17:17

Memiliki banyak teman itu gampang. Tapi punya sahabat sejati? Itu langka. Di masa senang, semua bisa datang. Tapi waktu kamu lagi capek, kecewa, atau jatuh, siapa yang masih stay?

Firman Tuhan bilang, Sahabat sejati itu menaruh kasih setiap waktu. Bukan cuma pas suasana lagi baik. Bukan cuma pas kamu lucu, berhasil atau bermanfaat. Sahabat sejati tetap mengasihi bahkan saat kamu nggak punya apa-apa untuk ditawarkan. Bahkan, dia jadi seperti saudara dalam kesukaran.

Tuhan Yesus mengajari kita arti persahabatan yang sebenarnya. Dia tetap setia pada murid-murid-Nya, bahkan ketika mereka gagal, menyangkal, dan lari. Dari sini kita belajar: kasih sejati itu konsisten, bukan kondisional.

Pertanyaan hari ini bukan cuma, siapa sahabatku? Tapi juga, apakah aku sudah jadi sahabat yang setia?

Karena persahabatan yang sehat nggak cuma bikin kita nyaman, tapi juga bikin kita bertumbuh. Sahabat sejati nggak ninggalin, dia menemani, menguatkan, dan mendorong kita untuk tetap jalan bareng Tuhan.

WHAT TO DO?
1. Pikirkan satu orang yang Tuhan percayakan sebagai sahabat dalam hidupmu.
2. Doakan dia hari ini, secara khusus dan sungguh-sungguh.
3. Lakukan satu tindakan nyata: dengarkan, dukung, atau hadir buat dia, tanpa nunggu diminta.

BIBLE MARATHON:
Yohanes 3

Card image
Renungan Pagi - 11 Februari 2026
2026-02-11 22:12:07


Jangan sibuk memikirkan bagaimana kita berjasa buat orang lain, tetapi berusahalah untuk melakukan segala sesuatu dengan yang terbaik.

Makin berpikir untuk menjadi orang yang berjasa bagi orang lain, kita tidak beda dengan orang munafik yang sedang mencari nama untuk dirinya sendiri.

Marilah menjadi orang percaya yang senantiasa melakukan segala sesuatu yang dipercayakan Tuhan dengan yang terbaik, ketika melakukan yang terbaik, maka disitulah Tuhan akan mencurahkan berkat-Nya.

Card image
Quote Of The Day - 11 Februari 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-02-11 22:09:58


Tuhan menghendaki agar kita menggulirkan hari hidup kita, menapaki hari hidup kita dengan satu tujuan: Tuhan saja. Yang penting kita bisa melewati hari demi hari.

Card image
Mutiara Suara Kebenaran - 11 Februari 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-02-11 22:09:00


Kalau kita percaya bahwa Tuhan benar-benar hidup dan nyata, maka kita harus punya pengalaman bersama Dia.

Card image
FORGIVENESS AS THE PATH TO RESTORATION - 11 Februari 2026 (English Version)
2026-02-11 22:07:42


Matthew 6:14
“For if you forgive other people when they sin against you, your heavenly Father will also forgive you.”

Life experience shows that forgiveness is not easy. When the heart is wounded, betrayed, or treated unjustly, the natural human response is to withdraw and store up pain. In many cases, the refusal to forgive is seen as a form of self-protection. Yet this attitude actually binds the heart and ties a person to the past. God calls people to forgive, not because others deserve it, but because we ourselves need restoration.

Jesus places forgiveness at the very core of the believer’s life. In the Lord’s Prayer, He teaches us to ask, “Forgive us our debts, as we also have forgiven our debtors” (Matt. 6:12). This statement emphasizes that forgiveness is not merely an optional spiritual practice, but a foundation of our relationship with God and with others. Receiving God’s grace cannot be separated from the willingness to share that grace with others.

Misunderstandings about forgiveness often make people reluctant to practice it. Forgiving does not mean justifying wrongdoing, simply forgetting the pain that occurred, or forcing oneself back into an unhealthy relationship. Forgiving means releasing the right to retaliate, entrusting vengeance to God, and choosing no longer to be controlled by bitterness. In this sense, forgiveness is not merely a matter of feelings but a conscious decision to make peace with others, even though there may be a risk of being hurt again.

Refusing to forgive turns the heart into fertile ground for bitterness. Bitterness not only damages relationships with others but also erodes one’s spiritual life. Prayer feels heavy, joy fades, and peace disappears. On the other hand, when a person chooses to forgive, they open the door to the restoration that God is working on. The wound may not disappear immediately, but the heart begins to be freed from the burden that has long pressed it down.

Jesus Himself gave the highest example of forgiveness. On the cross, while enduring suffering and humiliation, He prayed, “Father, forgive them, for they do not know what they are doing.” The forgiveness Jesus expressed did not wait for an apology, did not depend on a change of attitude, and was not bound to the right moment. That forgiveness flowed from love fully surrendered to God. From the cross, believers learn that true forgiveness comes from a heart submitted to the Father’s will.

Forgiveness also brings healing to oneself. When bitterness is released, space is created for the Holy Spirit’s work in the heart. A peace that surpasses understanding begins to be experienced—not because circumstances have changed, but because the inner person has been restored. In this way, forgiveness frees people from the chains of the past and enables them to step into the future with a light and liberated heart.

Along life’s journey, there may be events or people who still leave wounds behind. God does not demand that we forgive by our own strength. He invites each person to come to Him and ask for a new heart. Ultimately, forgiveness is not primarily about others, but about the freedom and restoration that God provides for the human heart.

The Lord Jesus bless you

FORGIVENESS DOES NOT ERASE THE WOUNDS OF THE PAST, BUT IT FREES THE HEART TO MOVE FORWARD.

Card image
MENGAMPUNI SEBAGAI JALAN PEMULIHAN - 11 Februari 2026
2026-02-11 22:04:10


Matius 6:14
“Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di sorga akan mengampuni kamu juga.”

Pengalaman hidup menunjukkan bahwa mengampuni bukanlah perkara yang mudah. Ketika hati dilukai, dikhianati, atau diperlakukan tidak adil, reaksi alami manusia adalah menutup diri dan menyimpan luka. Dalam banyak kasus, ketidakmauan untuk mengampuni dianggap sebagai bentuk perlindungan diri. Namun, sikap tersebut justru membelenggu hati dan mengikat seseorang pada masa lalu. Allah memanggil manusia untuk mengampuni bukan karena orang lain mempunyai kemampuan yang layak, melainkan karena manusia sendiri yang membutuhkan pemulihan.

Yesus menempatkan diri sebagai bagian inti dari kehidupan orang percaya. Dalam Doa Bapa Kami, Ia mengajarkan permohonan, “Ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami” (Mat. 6:12). Pernyataan ini menegaskan bahwa pengampunan bukan sekadar pilihan rohani tambahan, melainkan fondasi hubungan dengan Allah dan sesama. Penerimaan kasih karunia Allah tidak dapat dipisahkan dari kesediaan untuk membagikannya kepada orang lain.

Kesalahpahaman tentang pengampunan sering kali membuat orang enggan melakukannya. Mengampuni bukan berarti membenarkan perbuatan yang salah, melupakan begitu saja luka yang terjadi, atau memaksa diri kembali ke dalam hubungan yang tidak sehat. Mengampuni berarti melepaskan hak untuk membalas, menyerahkan kepuasan kepada Allah, dan memilih untuk tidak lagi dikuasai oleh kepahitan. Dalam pengertian ini, memaafkan bukan semata-mata persoalan perasaan, melainkan sebuah keputusan sadar untuk berdamai dengan sesama, meski ada kemungkinan untuk kembali terluka di kemudian hari.

Penolakan untuk mengampuni menjadikan hati sebagai lahan subur bagi kepahitan. Kepahitan tidak hanya merusak hubungan dengan sesama, tetapi juga menggerogoti kehidupan rohani. Doa terasa berat, kegembiraan memudar, dan kedamaian sejahtera menghilang. Sebaliknya, ketika seseorang memilih untuk mengampuni, ia sedang membuka pintu bagi pemulihan yang Allah kerjakan. Luka mungkin tidak langsung hilang, tapi hati mulai terbebas dari beban yang selama ini menekan.

Yesus sendiri memberikan teladan tertinggi tentang pengampunan. Di kayu salib, saat merasa terhina dan menghina, Ia berdoa, “Ya Bapa, ampunilah mereka, karena mereka tidak tahu apa yang mereka buat.” Pengampunan yang Yesus wujudkan tidak menunggu permintaan maaf, tidak mengharapkan perubahan sikap, dan tidak bergantung pada waktu yang tepat. Pengampunan itu lahir dari kasih yang sepenuhnya diserahkan kepada Allah. Dari salib, orang percaya belajar bahwa pengampunan bersumber dari hati yang tunduk kepada kehendak Bapa yang sejati.

Pengampunan juga membawa kesembuhan bagi diri sendiri. Ketika kepahitan dilepas, ruang dibuka bagi karya Roh Kudus di dalam hati. Damai sejahtera yang melampaui akal mulai dialami, bukan karena keadaan berubah, melainkan karena batin yang dikasihi. Dengan demikian, membebaskan manusia dari belenggu masa lalu dan memampukannya melangkah ke masa depan dengan hati yang ringan dan merdeka.

Dalam perjalanan hidup, mungkin ada peristiwa atau pribadi yang masih meninggalkan luka. Allah tidak menuntut manusia untuk mengampuni dengan kekuatannya sendiri. Ia mengundang setiap orang untuk datang kepadanya dan memohon hati yang baru. Pada akhirnya, pengampunan bukan terutama tentang orang lain, melainkan tentang kebebasan dan pemulihan yang Allah sediakan bagi hati manusia.

Tuhan Yesus memberkati

PENGAMPUNAN TIDAK MENGHAPUS LUKA MASA LALU, TETAPI MEMBEBASKAN HATI UNTUK MELANGKAH KE MASA DEPAN.

Card image
KIDS DAILY DEVOTIONAL 10 Februari 2026 - BERBAGI UNTUK TUHAN
2026-02-11 19:38:14


Matius 25:35
“Sebab ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu memberi Aku tumpangan.” Hai, Rehobot Kids! Pernahkah kamu melihat teman yang tidak membawa bekal, lupa pensil, atau terlihat sedih karena tidak punya teman bermain? Apa yang kamu lakukan saat melihat hal itu? Ketika kamu mau berbagi, walaupun hanya sedikit, itu sangat berarti bagi orang lain.

Yesus mengajarkan kita untuk peduli kepada sesama, dalam Matius 25:35. Saat kita menolong orang yang lapar, haus, atau membutuhkan pertolongan, itu sama seperti kita melakukannya untuk Tuhan. Wah, luar biasa ya! Ternyata setiap kebaikan yang kita lakukan dilihat langsung oleh Tuhan.

Mungkin kamu berpikir, “Aku hanya berbagi sedikit.” Tapi ingat, kebaikan yang dilakukan dengan hati yang tulus tidak pernah sia-sia. Tuhan melihat setiap tindakan kecil, meskipun tidak ada orang lain yang memuji atau memperhatikannya.

Yuk, Rehobot Kids, belajar selalu peduli dan mau berbagi. Dengan berbagi, kita bukan hanya menolong orang lain, tetapi juga menyenangkan hati Tuhan. Ingat ya— sharing is caring!

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 10 Februari 2026 (English Version) - MORE THAN JUST HANGING OUT
2026-02-11 19:36:29


“And let us consider one another in order to stir up love and good works, not forsaking the assembling of ourselves together, as is the manner of some, but exhorting one another, and so much the more as you see the Day approaching.”
Hebrews 10:24–25

For Gen Z, hanging out has become part of everyday lifestyle. It can happen in cafés, ministry basecamps, friends’ houses, or even in digital spaces like group chats and social media. However, God’s Word reminds us that togetherness is not merely about spending time, but about building one another up and growing together.

Many friendships are filled only with laughter, light conversations, and momentary fun, yet bring no real growth. On the other hand, there are communities that may seem simple, but within them there is support, strengthening of faith, and the courage to lovingly correct one another. This is the difference between merely hanging out and fellowship that brings real impact to life.

We can see this clearly when young people gather. Some meetings end without direction or purpose, with everyone busy on their own devices. But there are also moments of togetherness filled with sharing struggles, praying together, or discussing life and faith. In moments like these, God is at work—shaping character, growing empathy, training cooperation, and planting a sense of responsibility toward one another.

WHAT TO DO?
Be an initiator of goodness by directing friendships toward love, encouragement, and spiritual growth.

Fill your time together with meaningful activities, such as sharing life stories, praying together, or talking about your experiences with God.

Honestly evaluate your togetherness: does each meeting strengthen your faith, or is it merely passing time?

BIBLE MARATHON:
John 2

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 10 Februari 2026 - BUKAN SEKADAR NONGKRONG
2026-02-11 19:32:01


“Dan marilah kita saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik. Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti yang dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat.”
Ibrani 10:24–25

Bagi Gen Z, nongkrong sudah jadi bagian dari gaya hidup. Nongkrong bisa terjadi di kafe, basecamp pelayanan, rumah teman, bahkan di ruang digital seperti grup chat dan media sosial. Namun, firman Tuhan mengingatkan bahwa kebersamaan bukan sekadar soal menghabiskan waktu, melainkan tentang bagaimana kita saling membangun dan bertumbuh.

Tidak sedikit pertemanan yang hanya berisi tawa, cerita ringan, dan kesenangan sesaat, tetapi tidak membawa pertumbuhan. Sebaliknya, ada komunitas yang mungkin terlihat sederhana, namun di dalamnya terdapat dukungan, penguatan iman, dan keberanian untuk saling menegur dalam kasih. Inilah perbedaan antara sekadar nongkrong dan persekutuan yang memberi dampak nyata bagi hidup.

Contohnya bisa kita lihat saat berkumpul bersama. Ada pertemuan yang berakhir tanpa arah dan tujuan, hanya sibuk dengan gawai masing-masing. Namun, ada juga kebersamaan yang diisi dengan saling berbagi pergumulan, berdoa bersama, atau berdiskusi tentang kehidupan dan iman. Dalam momen-momen seperti inilah Tuhan bekerja—membentuk karakter, menumbuhkan empati, melatih kerja sama, dan menanamkan tanggung jawab terhadap sesama.

WHAT TO DO:
1. Jadilah inisiator kebaikan dengan mengarahkan pertemanan pada kasih, penguatan, dan pertumbuhan iman.
2. Isi kebersamaan dengan hal bermakna, seperti berbagi cerita hidup, berdoa bersama, atau membicarakan pengalaman dengan Tuhan.
3. Evaluasi kebersamaanmu dengan jujur: apakah setiap pertemuan menumbuhkan iman atau sekadar menghabiskan waktu.


BIBLE MARATHON: Yohanes 2

Card image
Renungan Pagi - 10 Februari 2026
2026-02-10 22:31:19


Ada banyak orang pergi ke gereja, terlibat dalam pelayanan, mereka dengar firman bahkan mungkin juga menyampaikan firman Tuhan, tetapi mereka tidak menjadi pelaku firman Tuhan.

Orang yang menjadi pelaku firman, pasti dimanapun mereka berada akan menjadi berkat dan selalu memberikan dampak yang positif, mari kita mau jadi pelaku firman Tuhan.

Card image
Quote Of The Day - 10 Februari 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-02-10 22:30:44


Kalau kita menghargai keselamatan, kita pasti menghargai Kerajaan Surga yang menjadi tujuan kita.

Card image
Mutiara Suara Kebenaran - 10 Februari 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-02-10 20:28:36


Orang yang sungguh-sungguh hidup di dalam kebenaran, artinya berkelakuan serupa dengan Yesus dan tidak terikat dengan dunia ini, dapat memahami kemuliaan Kerajaan Allah yang tiada tara.

Card image
FORGIVING YOURSELF - 10 Februari 2026 (English Version)
2026-02-10 20:26:47


Romans 8:1
“Therefore, there is now no condemnation for those who are in Christ Jesus.”

Forgiving others is often seen as difficult, but forgiving oneself is usually a much deeper struggle. A person may be able to say to others, “It’s okay,” yet toward themselves they hold on to harsh words—regret, guilt, and self-judgment. Past mistakes are replayed over and over, old failures resurface, and the heart eventually becomes trapped in a prison built by one’s own hands.

Many believers genuinely love God, yet still carry the burden of past wounds. They believe that God has forgiven them, but find it hard to accept that this forgiveness truly applies to them personally. Yet God’s Word clearly declares that in Christ there is no longer any condemnation. If God Himself has forgiven, the question is: why do human beings continue to condemn themselves?

Forgiving yourself does not mean denying or minimizing sin. The Bible never teaches denial of wrongdoing. On the contrary, forgiveness always begins with honest confession and sincere repentance. But once that confession has taken place, God no longer remembers the forgiven sin. The one who often fails to let go of the past is the person themselves. Guilt is preserved as though inner suffering were a price that must continually be paid for past mistakes.

The story of King David provides a clear example. He committed grave sins—adultery and murder—at a time when the nation of Israel was at war. Yet when David truly repented, God forgave him. Psalm 51 portrays David’s broken and contrite heart, but it also reveals God’s real work of restoration. David did not live in a state of perpetual guilt. He rose again, continued his calling, and was used by God to fulfill His purposes.

Forgiving yourself means accepting that God’s grace is far greater than human failure. It takes courage to stop judging yourself by the past and to begin seeing yourself through the lens of your new identity in Christ. A believer is no longer merely someone who “once fell,” but someone who “is being restored.” Forgiving yourself is an act of faith—trusting that God truly makes all things new.

Often, the loudest voice comes from within—the voice that says, “You are not worthy,” “You have failed,” or “It is too late.” Yet God’s Word declares the opposite: “Therefore, if anyone is in Christ, he is a new creation” (2 Corinthians 5:17). Forgiving yourself means choosing to believe God’s Word more than the wounded inner voice distorted by guilt.

Forgiveness toward oneself also opens the way for spiritual growth. As long as a person lives in constant guilt, moving forward becomes difficult. Fear of serving, doubt about being used by God, and feelings of unworthiness continue to bind the heart. Yet God often uses those who have fallen precisely because they have come to know grace more deeply and personally.

In the end, God’s calling is not to keep looking backward, but to walk forward with Him. Christ has borne past wounds on the cross. Believers are called to live in the freedom that God has provided. Forgiving yourself is not an act of selfishness, but an act of obedience—to live in the truth of His grace.

The Lord Jesus bless you

FORGIVING YOURSELF IS A STEP OF FAITH—BELIEVING THAT GOD'S GRACE IS GREATER THAN OUR PAST.

Card image
KIDS DAILY DEVOTIONAL 09 Februari 2026 - HATI YANG TULUS
2026-02-09 23:09:05


Kolose 3:23
“Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.”

Anton yang duduk di kelas 1 SD bercerita kepada papanya tentang temannya di sekolah, Rudi. Rudi sering membagikan permen atau cokelat kepada teman-teman sekelas. Namun setelah berbagi, Rudi suka pamer dan berbicara dengan sombong kepada teman-teman di kelas lain. Rudi berpikir dengan berbagi seperti itu, ia akan punya banyak teman.

Anehnya, tidak banyak teman yang mau dekat dengan Rudi. Anton pun bingung dan bertanya kepada papanya. Papa Anton lalu menjelaskan bahwa berbagi bukan hanya soal seberapa sering kita memberi, tetapi bagaimana sikap hati kita saat memberi. Jika kita berbagi untuk pamer atau ingin dipuji, itu bukan hati yang benar.

Papa Anton berkata bahwa Tuhan tidak suka jika kita berbuat baik dengan sikap hati yang salah. Tuhan ingin kita berbagi dengan tulus, tanpa ingin dilihat atau dipuji orang lain. Saat kita memberi dengan hati yang murni, kasih Tuhan bisa benar-benar dirasakan oleh orang lain.

Firman Tuhan dalam Kolose 3:23 mengingatkan kita bahwa apa pun yang kita lakukan harus dilakukan seperti untuk Tuhan, bukan untuk manusia. Jika kita melakukannya untuk Tuhan, maka kita akan melakukannya dengan sikap hati yang terbaik.

Rehobot Kids, yuk
belajar memiliki hati yang tulus. Berbagi dengan kasih, tanpa pamer, dan tanpa sombong. Tuhan melihat setiap kebaikan yang kita lakukan dengan hati yang benar, dan Tuhan pasti senang serta memberkati kita.

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 09 Februari 2026 (English Version) - KNOWING YOURSELF THROUGH OTHERS
2026-02-09 23:05:21


“The purposes of a person’s heart are deep waters, but one who has insight draws them out.”
Proverbs 20:5

Many people try to define themselves through achievements, the number of likes on social media, or recognition from those around them. But God’s Word reminds us that the human heart is not easy to understand—even by ourselves. Often, it is through the presence of other people in our lives—friends or close companions—that we begin to truly discover who we are.

In friendship, we are often given an honest mirror. Some friends dare to correct us when our attitudes hurt others, while others encourage us when we start doubting our own abilities. Through their responses, we learn to recognize our strengths, weaknesses, and attitudes that still need to change. This process is not always comfortable, but it is essential for character growth and spiritual maturity.

We see this clearly in everyday life, such as when serving in a ministry team or working on group projects. Sometimes we feel we’ve done our best, yet teammates may point out that our communication feels too harsh or not open enough. Through moments like these, we learn to manage our emotions, improve how we speak, and build healthier relationships. God often uses other people as His tools to “draw out” what’s inside our hearts so that our lives can be shaped according to His will.

WHAT TO DO?
1. Be open to constructive feedback that builds your character and faith from the people God has placed around you.
2. Use relationships as a mirror to recognize your strengths and the areas of life that still need growth.
3. Develop humility so that the process of growing through others becomes a blessing, not a wound.

BIBLE MARATHON:
John 1

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 09 Februari 2026 - MENGENAL DIRI LEWAT ORANG LAIN
2026-02-09 23:01:51


“Rancangan di dalam hati manusia itu seperti air yang dalam, tetapi orang yang pandai tahu menimbanya.”
Amsal 20:5

Banyak orang berusaha mengenal dirinya lewat pencapaian, jumlah likes di media sosial, atau pengakuan dari lingkungan sekitar. Namun, Firman Tuhan mengingatkan bahwa isi hati manusia tidak mudah dipahami, bahkan oleh diri kita sendiri. Sering kali, justru melalui kehadiran orang lain dalam hidup kita—entah itu teman atau sahabat—kita belajar mengenal siapa diri kita sebenarnya.

Dalam pertemanan, kita kerap menerima cermin yang jujur. Ada teman yang berani menegur ketika sikap kita melukai orang lain, ada juga yang menguatkan saat kita meragukan kemampuan diri sendiri. Melalui respons mereka, kita belajar mengenali kekuatan, kelemahan, serta sikap yang perlu diperbaiki. Proses ini memang tidak selalu nyaman, tetapi sangat penting untuk pertumbuhan karakter dan kedewasaan rohani.

Contohnya bisa kita lihat dalam kehidupan sehari-hari, seperti saat bekerja dalam tim pelayanan atau kelompok tugas. Kadang kita merasa sudah memberi yang terbaik, tetapi rekan satu tim justru memberi masukan bahwa cara komunikasi kita terlalu keras atau kurang terbuka. Dari situ, kita belajar mengelola emosi, memperbaiki cara berbicara, dan membangun relasi yang lebih sehat. Tuhan sering memakai orang lain sebagai alat untuk “menimba” isi hati kita agar hidup kita semakin dibentuk sesuai kehendak-Nya.

WHAT TO DO?
1. Terbuka terhadap masukan yang membangun karakter dan imanmu dari orang-orang yang Tuhan tempatkan di sekitarmu.
2. Gunakan relasi sebagai cermin untuk mengenali kekuatan dan area hidup yang masih perlu diperbaiki.
3. Bangun sikap rendah hati agar proses bertumbuh lewat orang lain menjadi berkat, bukan luka.

BIBLE MARATHON:
Yohanes 1

Card image
Renungan Pagi - 09 Februari 2026
2026-02-09 22:59:04


Salah satu hal yang berbahaya dalam kehidupan kekristenan adalah ketika kita sudah tidak lagi beribadah kepada Tuhan, tidak hanya itu saja, keadaan yang berbahaya juga ketika ibadah yang dilakukan karena dorongan seseorang atau karena keadaan tertentu, misalnya beribadah hanya karena sedang susah, sedang dalam situasi yang sangat menekan.

Tuhan menghendaki kita beribadah karena cinta akan Tuhan, karena kesadaran bahwa tanpa Tuhan kita tidak dapat berbuat apa-apa.

Daud berkata dengan apakah dapat kubalas segala kebaikan Tuhan dalam hidupku, karena didorong oleh cinta kepada Tuhan, membalas cinta Tuhan yang besar dan dengan segenap hati, maka ibadah kita pasti menjadi ibadah yang berkenan dihati Tuhan, dapat merubah karakter dan memberikan ketentraman dalam jiwa kita.

Card image
Quote Of The Day - 09 Februari 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-02-09 22:57:07


Orang yang tidak berhasrat menuju Rumah Bapa adalah orang yang tidak menghargai keselamatan, tidak menghargai Rumah Bapa, dan juga berarti tidak menghargai Tuhan sendiri.

Card image
Mutiara Suara Kebenaran - 09 Februari 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-02-09 22:55:27


Mendengarkan Firman-Nya bukan hanya soal telinga rohani, tetapi soal ketaatan hidup. Jiwa yang teduh akan lebih mudah menerima kebenaran, sekalipun kebenaran itu menuntut perubahan dan penyangkalan diri.

Card image
FORGIVING WITHOUT WAITING FOR AN APOLOGY - 09 Februari 2026 (English Version)
2026-02-09 22:47:34


Ephesians 4:32
“Be kind and compassionate to one another, forgiving each other, just as in Christ God forgave you.”

One of the greatest struggles in practicing forgiveness is the tendency to wait for an admission of wrongdoing from the person who hurt us. Statements such as, “I will forgive if they admit it,” sound reasonable and even fair. However, in light of God’s Word, forgiveness is never conditioned on the offender’s response or attitude. Forgiveness always begins with the heart’s obedience to God.

The reality of life shows that not everyone who causes harm will come to apologize. There are wounds left open, words never taken back, and betrayals never acknowledged. If forgiveness is made dependent on confession or an apology, the human heart remains bound to the painful person and event. God does not desire His children to live imprisoned by unresolved wounds from the past.

The apostle Paul exhorts the believers in Ephesus to forgive one another “just as in Christ God forgave you.” The basis of this forgiveness is not human worthiness, but God’s love. Even while humanity was still in sin, Christ died for them. This is the foundation of a believer’s forgiveness: forgiveness does not arise from a change in others, but from the awareness that we have first received God’s forgiveness.

Forgiving without an apology does not mean denying the pain that was experienced. God does not ask people to pretend that everything is fine. The wounds are real, the tears are real, and the process of healing is real. Yet forgiveness means choosing to place justice into God’s hands and refusing to let bitterness take root in the heart. In forgiving, a person tells God that they will not retaliate and will not nurture hatred that ultimately destroys them.

Jesus gave the most radical example of forgiveness when He was crucified. Not one of those who crucified Him came to ask for forgiveness. Yet from the cross, Jesus prayed, “Father, forgive them.” That forgiveness did not flow from a change in the perpetrators’ attitudes, but from love that was obedient to the Father’s will. From that forgiveness, salvation flowed to the world.

Forgiving without waiting for an apology is also a form of inner release. In forgiveness, a person lets go of the demand that others always be understood, justified, or restored. They stop waiting for others to fix the past and begin to make room for God to restore the future. Such forgiveness frees the heart from prolonged emotional exhaustion.

Nevertheless, forgiveness is not always identical with the restoration of a relationship. Certain relationships need distance for the sake of spiritual and emotional health. Forgiveness speaks about the condition of the heart, not always about restoring closeness or trust. A person can forgive sincerely without returning to a situation that could cause harm.

In every person’s life, there may be areas of past wounds that have not yet been fully released. It may be that the one who caused the hurt never apologized, or is not even aware of their wrongdoing. Yet God still calls believers to obedience—not for the sake of the other party, but for the sake of true freedom and healing of the heart. This obedience opens the way for the peace of God to work in a person’s life.

The Lord Jesus bless you

FORGIVING WITHOUT AN APOLOGY IS A DECISION OF FAITH TO FREE THE HEART, NOT TO JUSTIFY THE WOUND.

Card image
MENGAMPUNI TANPA MENUNGGU PERMINTAAN MA'AF - 09 Februari 2026
2026-02-09 12:48:53


Efesus 4:32
“Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu.”

Salah satu pergumulan terbesar dalam praktik pengampunan adalah kecenderungan untuk menunggu pengakuan salah dari orang yang telah melukai kita. Ungkapan seperti, “Aku akan mengampuni kalau ia mengaku,” terdengar wajar dan bahkan terasa adil. Namun, dalam terang firman Tuhan, pengampunan tidak pernah disyaratkan oleh respons atau sikap pihak yang bersalah. Pengampunan justru selalu dimulai dari ketaatan hati kepada Allah.

Realitas kehidupan menunjukkan bahwa tidak semua orang yang melukai akan datang meminta maaf. Ada luka yang dibiarkan menganga, kata-kata yang tidak pernah ditarik kembali, dan pengkhianatan yang tidak pernah diakui. Jika pengampunan digantungkan pada pengakuan atau permintaan maaf, hati manusia akan terus terikat pada orang dan peristiwa yang menyakitkan tersebut. Allah tidak menghendaki anak-anak-Nya hidup terpenjara oleh luka masa lalu yang tidak pernah diselesaikan.

Rasul Paulus menasihatkan jemaat Efesus untuk saling mengampuni “sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu.” Dasar pengampunan ini bukanlah kelayakan manusia, melainkan kasih Allah. Bahkan ketika manusia masih berada dalam dosa, Kristus telah mati bagi mereka. Inilah fondasi pengampunan orang percaya: pengampunan tidak lahir dari perubahan orang lain, tetapi dari kesadaran bahwa diri sendiri telah lebih dahulu menerima pengampunan Allah.

Mengampuni tanpa adanya permintaan maaf bukan berarti menyangkal rasa sakit yang dialami. Allah tidak menuntut manusia berpura-pura baik-baik saja. Luka itu nyata, air mata itu nyata, dan proses pemulihan pun nyata. Namun, pengampunan berarti memilih untuk menyerahkan keadilan ke dalam tangan Allah dan tidak membiarkan kepahitan berakar di dalam hati. Dalam pengampunan, manusia berkata kepada Allah bahwa ia tidak akan membalas dan tidak akan memelihara kebencian yang merusak dirinya sendiri.

Yesus memberikan teladan pengampunan yang paling radikal ketika Ia disalibkan. Tidak ada satu pun dari mereka yang menyalibkan-Nya datang meminta maaf. Namun dari salib, Yesus berdoa, “Ya Bapa, ampunilah mereka.” Pengampunan tersebut tidak lahir dari perubahan sikap para pelaku kekerasan, melainkan dari kasih yang taat kepada kehendak Bapa. Dari pengampunan inilah keselamatan mengalir bagi dunia.

Mengampuni tanpa menunggu permintaan maaf juga merupakan bentuk pelepasan batin. Dalam pengampunan, manusia melepaskan tuntutan untuk selalu dimengerti, dibenarkan, atau dipulihkan oleh orang lain. Ia berhenti menunggu orang lain memperbaiki masa lalu dan mulai memberi ruang bagi Allah untuk memulihkan masa depan. Pengampunan semacam ini membebaskan hati dari kelelahan emosional yang berkepanjangan.

Namun demikian, pengampunan tidak selalu identik dengan pemulihan relasi. Ada relasi-relasi tertentu yang perlu dijaga jaraknya demi kesehatan rohani dan emosional. Pengampunan berbicara tentang kondisi hati, bukan selalu tentang pemulihan kedekatan atau kepercayaan. Seseorang dapat mengampuni dengan tulus tanpa harus kembali ke situasi yang berpotensi melukai.

Dalam kehidupan setiap orang, mungkin terdapat area luka masa lalu yang belum dilepaskan sepenuhnya. Bisa jadi orang yang melukai tidak pernah meminta maaf, bahkan tidak menyadari kesalahannya. Namun, Allah tetap memanggil orang percaya untuk taat—bukan demi kepentingan pihak lain, melainkan demi kebebasan dan pemulihan hati yang sejati. Ketaatan inilah yang membuka jalan bagi damai sejahtera Allah bekerja di dalam kehidupan manusia.

Tuhan Yesus memberkati

MENGAMPUNI TANPA PERMINTAAN MAAF ADALAH KEPUTUSAN IMAN UNTUK MEMBEBASKAN HATI, BUKAN MEMBENARKAN LUKA.

Card image
Bacaan Alkitab Setahun - 09 Februari 2026
2026-02-09 12:46:23

Keluaran 30-32

Card image
KIDS DAILY DEVOTIONAL 07 Februari 2026 - YESUS AJARKU BERBAGI
2026-02-08 12:40:54


Filipi 2:4
“Janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga.”

Adik-adik, pernahkah kalian ingin menyimpan semua mainan atau makanan hanya untuk diri sendiri? Hmm, itu wajar kok. Tetapi Tuhan ingin mengajarkan kita sesuatu yang jauh lebih indah. Dalam ayat yang kita baca diatas mengingatkan kita untuk tidak egois dan mau peduli kepada orang lain.

Suatu hari, ada seorang anak yang membawa bekal ke sekolah. Ia melihat temannya tidak membawa makanan. Awalnya ia ragu, karena ia juga merasa lapar. Namun ia teringat bahwa berbagi adalah perbuatan yang menyenangkan hati Tuhan. Dengan senyum, ia pun membagi bekalnya. Ternyata, hatinya justru merasa lebih bahagia dibandingkan saat ia makan sendiri. Berbagi mengajar kita untuk peduli dengan kebutuhan orang lain. Ketika kita mau berbagi waktu, tenaga, atau barang, kita sedang mengikuti teladan Tuhan Yesus yang penuh kasih. Kasih yang kita berikan tidak pernah sia-sia, karena kasih itu juga menguatkan hati kita sendiri.

Yuk, Rehobot Kids, biasakan berbagi dengan sukacita—di rumah, di sekolah, dan di gereja. Jangan menahan kebaikan yang bisa kita lakukan. Melalui hal-hal sederhana, Tuhan memakai kita untuk menjadi berkat bagi banyak orang.

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 07 Februari 2026 (English Version) - YOUR LIFE IS NO LONGER THE OLD VERSION
2026-02-08 12:38:58


“Therefore, if anyone is in Christ, the new creation has come: The old has gone, the new is here!”
2 Corinthians 5:17

Many young people feel trapped by their past—whether it’s because of major mistakes, academic failures, or old wounds that haven’t fully healed. Those things can make us feel “broken” and unworthy of moving forward. The world is quick to label us based on what we’ve done before. But God works in a completely different way. He doesn’t define us by our past; He looks at what He is doing—and will continue to do—in our lives.

God doesn’t just fix or patch up our old life. He does a total reset. In Christ, you are given a completely new identity. Your status is no longer “the failure” or “the problem kid,” but a child of God. Being a new creation is like deleting an old file full of viruses and replacing it with a brand-new operating system—clean, fresh, and ready to be used for a greater purpose.

Christ paid a high price so you could have a new beginning. Your life is now a blank canvas that God is ready to fill with His extraordinary work. You are not meant to replay your old story, but to live out a new one together with God.

WHAT TO DO?
1. Stop judging yourself—if God has forgiven your past, don’t keep living in it.
2. Leave old footprints behind—choose environments and communities that help you grow in faith.
3. Build a new life vision—practice one godly character trait as real evidence that God is transforming your life.

BIBLE MARATHON:
Luke 23

Card image
HIDUPMU BUKAN VERSI YANG DULU LAGI
2026-02-08 12:23:23


“Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.”
2 Korintus 5:17

Banyak Gen Z merasa terjebak oleh masa lalu—entah karena kesalahan besar, kegagalan akademik, atau luka lama yang belum sembuh. Semua itu membuat kita merasa “rusak” dan tidak layak untuk melangkah maju. Dunia mungkin cepat memberi label berdasarkan apa yang pernah kita lakukan. Tapi Tuhan bekerja dengan cara yang sangat berbeda. Dia tidak melihat kita dari masa lalu, melainkan dari apa yang sedang dan akan Ia kerjakan dalam hidup kita.

Tuhan tidak sekadar memperbaiki atau menambal hidup lama kita. Dia melakukan total reset. Di dalam Kristus, kamu diberi identitas yang benar-benar baru. Statusmu bukan lagi “si gagal” atau “yang bermasalah”, tetapi anak Allah. Menjadi ciptaan baru itu seperti file lama yang penuh virus kesalahan dihapus, lalu diganti dengan sistem operasi yang benar-benar baru—bersih, segar, dan siap dipakai untuk tujuan yang lebih besar.

Kristus sudah membayar harga yang mahal supaya kamu punya kesempatan baru. Hidupmu sekarang adalah kanvas putih yang Tuhan siapkan untuk dilukis dengan karya-karya-Nya yang luar biasa. Kamu bukan hidup untuk mengulang cerita lama, tapi untuk menjalani cerita baru bersama Tuhan.

WHAT TO DO?
1. Berhenti menghakimi diri sendiri — kalau Tuhan sudah mengampuni masa lalumu, jangan terus hidup di dalamnya.
2. Tinggalkan jejak lama — pilih lingkungan dan komunitas yang menolongmu bertumbuh dalam iman.
3. Bangun visi hidup baru — latih satu karakter ilahi sebagai bukti nyata hidupmu sudah diubahkan Tuhan.

BIBLE MARATHON:
Lukas 23

Card image
Renungan Pagi - 07 Februari 2026
2026-02-08 12:13:28


Yang namanya emosi dan marah, lebih banyak negatifnya dari pada positifnya, artinya kalau kita mudah marah dan mudah emosi, maka akan kehilangan hal-hal yang baik dalam hidup ini.

Itulah sebabnya ada orang yang tidak lagi disukai oleh orang-orang di sekitarnya, karena sikapnya yang mudah marah dan emosi.

Orang yang sadar dan panjang sabar akan dapat menyelesaikan banyak persoalan, banyak berkat yang diperoleh, banyak hal-hal besar dapat kita nikmati, karena itu sadar dan belajar sabar untuk menguasai diri.

Card image
Quote Of The Day - 07 Februari 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-02-08 01:29:50


Dari perkara kecil kita belajar setia, maka kita akan membangun kesucian yang sempurna.

Card image
Mutiara Suara Kebenaran - 07 Februari 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-02-08 01:28:59


Jika hari ini engkau lelah, terluka, atau menangis, jangan merasa gagal. Tetaplah hidup benar dan taat kepada Tuhan. Di situlah kekuatan sejati dibangun, ketika kita memilih setia meski perasaan tidak mendukung.

Card image
FORGIVENESS IS A PROCESS, NOT MERELY A DECISION - 07 Februari 2026 (English Version)
2026-02-07 22:10:33


Matthew 10:34–36
“Psalm 147:3 “He heals the brokenhearted and binds up their wounds.”

Forgiveness is often understood as an action that is completed in a single moment. It is as if, once someone says, “I forgive,” all inner wounds instantly disappear and the heart is fully restored. Yet life experience shows that forgiveness is rarely instantaneous. Deep wounds, lingering betrayals, and painful experiences that leave trauma cannot be healed in a moment. In many cases, forgiving is a gradual process that takes time.

God understands this reality. He does not demand that people heal themselves immediately; instead, He invites everyone to come to Him just as they are. Psalm 147:3 declares that the Lord heals the brokenhearted and binds up their wounds. The healing God brings does not always happen instantly, but it always unfolds with certainty. In this process, God works faithfully, wrapping inner wounds with His love, hope, and presence.

Seeing forgiveness as a process requires honesty about the pain that is experienced. Forgiving does not mean denying the wound, suppressing emotions, or forcing oneself to appear fine. Rather, forgiveness is the courage to face suffering together with God. Often, the same wounds must be brought repeatedly in prayer because the pain resurfaces. This is not a sign of failure to forgive, but part of an ongoing journey of healing.

Jesus Himself understands the process of human suffering. He wept, felt grief, and endured a long path of suffering that led to the cross. Yet from that suffering, salvation was born. This example shows that God is not in a hurry to restore, but faithfully accompanies every stage of the human journey. When someone chooses to forgive, God does not demand perfect strength; He walks alongside them in their weakness.

Forgiveness as a process also means learning to let go little by little. At the early stages, a person may only be able to pray honestly, “Lord, I want to forgive, but I am not yet able.” At the next stage, they may begin to pray for the one who hurt them. And then, at some point, often without realizing it, the wound no longer controls the heart. This is the work of the Holy Spirit—slow, yet honest and profoundly transformative.

In this process, it is essential to distinguish between forgiveness and the restoration of a relationship. Forgiveness is always necessary, but restoring a relationship requires time, changed attitudes, and wisdom. God does not always ask someone to return to a relationship that caused harm; instead, He calls each person to free their heart from bitterness. In this way, forgiveness is primarily about inner freedom, not always about instant reconciliation.

There are moments when a person grows weary because the wound seems slow to heal. Yet God’s Word reminds us that not a single tear goes unnoticed by Him. Every prayer, every tear, and every small step toward forgiveness is part of the work of restoration that God is carrying out. He never leaves anyone in the middle of that process.

For those who are still on the journey of forgiving, hope remains open. God does not measure the speed of healing, but the honesty of walking with Him. When the process is entirely entrusted to God, He will heal the heart in His time. Forgiveness is not primarily about how quickly the wound disappears, but about who holds our hand throughout the healing journey.

The Lord Jesus bless us

FORGIVENESS IS A JOURNEY WITH GOD—SLOW, HONEST, AND FULL OF GRACE.

Card image
MENGAMPUNI ADALAH PROSES, BUKAN SEKADAR KEPUTUSAN - 07 Februari 2026
2026-02-07 22:08:28


Mazmur 147:3
“Ia menyembuhkan orang-orang yang patah hati dan membalut luka-luka mereka.”

Pengampunan sering kali dipahami sebagai sebuah tindakan yang selesai dalam satu momen. Seolah-olah setelah seseorang menyatakan, “Aku mengampuni,” maka seluruh luka batin langsung lenyap dan hati kembali pulih sepenuhnya. Namun, pengalaman hidup menunjukkan bahwa pengampunan jarang bersifat instan. Luka yang dalam, pengkhianatan yang membekas, serta pengalaman pahit yang menorehkan trauma tidak dapat dipulihkan dalam sekejap. Dalam banyak kasus, mengampuni merupakan sebuah proses yang berjalan perlahan dan membutuhkan waktu.

Allah memahami kenyataan tersebut. Ia tidak menuntut manusia untuk menyembuhkan dirinya sendiri dengan segera, melainkan mengundang setiap orang datang kepada-Nya dalam keadaan apa adanya. Mazmur 147:3 menyatakan bahwa Tuhan menyembuhkan orang-orang yang patah hati dan membalut luka-luka mereka. Penyembuhan yang dikerjakan Allah tidak selalu terjadi secara seketika, tetapi selalu berlangsung dengan kepastian. Dalam proses itulah Allah bekerja dengan setia, membalut luka batin dengan kasih, pengharapan, dan kehadiran-Nya.

Pengampunan sebagai proses menuntut kejujuran terhadap rasa sakit yang dialami. Mengampuni tidak berarti menyangkal luka, menekan emosi, atau memaksakan diri untuk terlihat baik-baik saja. Sebaliknya, pengampunan adalah keberanian untuk menghadapi penderitaan bersama Allah. Tidak jarang seseorang harus membawa luka yang sama berulang kali dalam doa, karena rasa sakit itu muncul kembali. Keadaan ini bukan tanda kegagalan dalam mengampuni, melainkan bagian dari proses pemulihan yang sedang berlangsung.

Yesus sendiri memahami proses penderitaan manusia. Ia menangis, merasakan duka, dan menjalani penderitaan yang panjang hingga disalibkan. Namun, dari penderitaan itulah keselamatan dilahirkan. Teladan ini menunjukkan bahwa Allah tidak tergesa-gesa dalam memulihkan, tetapi setia menyertai setiap tahap perjalanan manusia. Ketika seseorang memilih untuk mengampuni, Allah tidak menuntut kekuatan yang sempurna, melainkan berjalan bersama dalam kelemahan.

Mengampuni sebagai proses juga berarti belajar melepaskan sedikit demi sedikit. Pada tahap awal, seseorang mungkin hanya mampu berdoa dengan kejujuran, “Tuhan, aku mau mengampuni, tetapi aku belum sanggup.” Pada tahap berikutnya, ia mungkin mulai mendoakan orang yang telah melukainya. Hingga pada suatu waktu, tanpa disadari, luka tersebut tidak lagi menguasai hati. Inilah karya Roh Kudus yang bekerja secara perlahan, tetapi nyata dan mendalam.

Dalam proses ini, penting untuk membedakan antara pengampunan dan pemulihan relasi. Pengampunan selalu diperlukan, tetapi pemulihan relasi menuntut waktu, perubahan sikap, dan hikmat. Allah tidak selalu meminta seseorang kembali ke dalam relasi yang melukai, tetapi Ia memanggil setiap orang untuk membebaskan hatinya dari kepahitan. Dengan demikian, pengampunan berkaitan terutama dengan kebebasan batin, bukan selalu dengan rekonsiliasi yang instan.

Ada saat-saat ketika seseorang merasa lelah karena luka terasa tidak kunjung sembuh. Namun, firman Tuhan mengingatkan bahwa tidak satu pun air mata diabaikan-Nya. Setiap doa, setiap tangisan, dan setiap langkah kecil menuju pengampunan merupakan bagian dari karya pemulihan yang sedang Allah kerjakan. Ia tidak pernah meninggalkan manusia di tengah proses tersebut.

Bagi mereka yang sedang berada dalam perjalanan untuk mengampuni, pengharapan tetap terbuka. Allah tidak menilai kecepatan pemulihan, melainkan kejujuran dalam berjalan bersama-Nya. Ketika proses itu diserahkan sepenuhnya kepada Allah, Ia akan menyembuhkan hati sesuai dengan waktu-Nya. Sebab, mengampuni bukan terutama tentang seberapa cepat luka menghilang, melainkan tentang siapa yang memegang tangan manusia selama proses penyembuhan itu berlangsung.

Tuhan Yesus memberkati

MENGAMPUNI ADALAH PERJALANAN BERSAMA ALLAH—PELAN, JUJUR, DAN PENUH KASIH KARUNIA.

Card image
Bacaan Alkitab Setahun - 07 Februari 2026
2026-02-07 22:06:28

Keluaran 25-27

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 06 Februari 2026 (English Version) - UPGRADE YOUR MINDSET
2026-02-07 12:46:38


“Do not conform to the pattern of this world, but be transformed by the renewing of your mind. Then you will be able to test and approve what God’s will is—His good, pleasing, and perfect will.”
Romans 12:2

Today’s world is full of “molding machines” trying to shape who we are. Trends, lifestyles, definitions of success, even ways of thinking—everything subtly pressures us to just go with the flow. If we’re not careful, we can be shaped without ever making a conscious choice. That’s why Romans 12:2 is such a strong reminder for us as young people: don’t let the world decide who you become. God didn’t create us to be copy–paste versions of our surroundings, but to be original, rooted, and grounded in truth.

The problem is, many of us are willing to sacrifice values just to be accepted. We’re afraid of being labeled outdated, irrelevant, or “not cool enough.” But following the wrong flow doesn’t make us free—it makes us lost. God wants us to have strong character—not stubborn, but principled. Not resistant to change, but clear about direction. Our identity isn’t shaped by trends; it’s defined by the God who created us.

When we allow God’s Word to renew the way we think, our lives gain a powerful filter. We stop living based on FOMO and start living with wisdom. We learn to distinguish what’s merely viral from what’s true, what only pleases ourselves from what truly pleases God. A renewed mind leads to a focused life—full of hope and aligned with God’s purpose.

WHAT TO DO?
1. Filter your content—choose what builds your faith and character, not what drains your soul.
2. Start your day with God’s Word, not straight with phone notifications.
3. Dare to stand out—say “no” to anything that goes against your faith.

BIBLE MARATHON:
Luke 22

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 06 Februari 2026 - UPGRADE YOUR MINDSET
2026-02-07 12:39:40


“Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaruan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah, dan yang sempurna.”
Roma 12:2

Dunia hari ini penuh dengan “mesin cetak” yang berusaha membentuk kita. Tren, gaya hidup, standar sukses, sampai cara berpikir—semuanya pelan-pelan menekan kita supaya ikut arus. Kalau tidak sadar, kita bisa terbentuk tanpa pernah memilih. Karena itu Roma 12:2 jadi peringatan keras buat kita, jangan biarkan dunia menentukan siapa dirimu. Tuhan tidak menciptakan kita untuk jadi versi copy–paste dari lingkungan sekitar, tapi pribadi yang original, kuat, dan berakar pada kebenaran.

Masalahnya, sering kali kita rela mengorbankan nilai demi diterima. Takut dibilang nggak gaul, nggak update, atau nggak relevan. Padahal, mengikuti arus yang salah justru bikin kita kehilangan arah. Tuhan ingin kita punya karakter yang teguh—bukan keras kepala, tapi berprinsip. Bukan anti perubahan, tapi tahu ke mana harus melangkah. Identitas kita bukan ditentukan oleh tren, tapi oleh Tuhan yang menciptakan kita.

Saat kita mengizinkan firman Tuhan memperbarui cara berpikir kita, hidup kita punya “filter” yang kuat. Kita nggak lagi hidup berdasarkan FOMO, tapi berdasarkan hikmat. Kita bisa membedakan mana yang sekadar viral dan mana yang benar, mana yang menyenangkan diri sendiri dan mana yang berkenan kepada Tuhan. Pikiran yang diperbarui akan membawa hidup yang terarah, penuh harapan, dan sesuai dengan rencana Tuhan.

WHAT TO DO?
1. Filter kontenmu, pilih yang membangun iman dan karakter, bukan yang cuma melelahkan jiwa.
2. Awali hari dengan firman Tuhan, bukan langsung dengan notifikasi ponsel.
3. Berani tampil beda, katakan “tidak” pada hal yang bertentangan dengan imanmu.

BIBLE MARATHON:
Lukas 22

Card image
Renungan Pagi - 06 Februari 2026
2026-02-06 22:25:43


Cinta Tuhan tidak cukup hanya ada didalam hati, tetapi cinta Tuhan yang sebenarnya adalah apa yang dari hati dan harus berdampak jelas lewat perbuatan nyata dalam hidup kita.

Firman Tuhan mengatakan, "Iman tanpa perbuatan pada hakekatnya mati". Tetapi iman yang disertai dengan perbuatan itulah yang membuat hidup kita bertumbuh.

Card image
Quote Of The Day - 06 Februari 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-02-06 22:24:19


Harus ada respons, harus ada tindakan konkret kita untuk bisa mengubah sejarah hidup kita.     

Card image
Mutiara Suara Kebenaran - 06 Februari 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-02-06 22:23:19


Banyak orang di bawah bayang-bayang binasa, terpisah dari Allah selama-lamanya, tetapi mereka bisa hidup dalam ketenangan. Ini membuktikan bahwa jiwa mereka sudah rusak.

Card image
WHEN WOUNDS TEACH US ABOUT LOVING - 06 Februari 2026 (English Version)
2026-02-06 19:09:59


The Bible provides a firm command to every believer regarding love and forgiveness. As stated in Ephesians 4:31–32: “Get rid of all bitterness, rage and anger, brawling and slander, along with every form of malice. Be kind and compassionate to one another, forgiving each other, just as in Christ God forgave you.” This command emphasizes that the life of a believer cannot be separated from the calling to love and forgive, even amid painful life experiences.

In the journey of life, almost everyone has experienced a wound—being hurt, betrayed, abandoned, or belittled. These wounds do not end with the past event; they leave long emotional footprints. There are recurring memories, lingering traumas, and words that are difficult to forget. Unknowingly, humans continue living while carrying that pain. Often, a person thinks they are fine, but when a particular name is mentioned, or a similar situation recurs, the old cracks in the heart reopen.

In the context of the verse from Ephesians, the bitterness that must be discarded is not merely physically distancing oneself from the person who caused the hurt, but discarding the hatred itself.* Hatred not only damages relationships with others; it also erodes the soul of the one who harbors it. Hatred can be likened to drinking poison and hoping the other person dies. God never designed humans to live by “chewing” on bitterness, but to dwell in love and restoration.

Imagine if the person who caused the wound was a parent, a spouse, or one’s own child. In many cases, it is difficult to hate them entirely. The question then arises: why are humans so stubborn in maintaining anger toward others who are also created in the image of God? Wounds drive humans to defend themselves, but love invites humans to view others from God’s perspective—that everyone is in the same process: falling and rising, failing and learning, hurting and growing.

Humans often mourn the events that bring them down and ask, “Why was I hurt? Why me?” However, the reflection of faith brings us to a spiritual paradox: God allows tears not to grow hatred, but to shape the human soul. Tears dissolve pride, erode the ego, and open a space for God’s grace to work. God does not demand that humans pretend to be strong; instead, He invites humans to rise without making their wounds their identity.

The urge to retaliate or demand justice often arises when a wound is still fresh. There is a desire to say that the other person deserves punishment. Yet, in those moments, the Holy Spirit reminds us that if justice were applied in its entirety, we too would deserve punishment for our own mistakes. The realization that God’s forgiveness far outweighs others’ faults becomes the turning point, softening the heart.

Life is not an arena for determining who is the most “right” or the most hurt. Life is a space for restoration where God teaches humans to forgive because they themselves have been forgiven. Salvation and intimacy with God are far more valuable than a bruised reputation or material loss. Many lose their peace for the sake of maintaining a position, pride, or self-justification, even though their relationship with God matters most.

True forgiveness does not depend on external factors, but on an internal decision to no longer let the wound control one’s life. Forgiveness breaks the power of trauma, stops the chain of resentment, and restores the dignity of the soul. The person who forgives is not the loser, but the one who has triumphed over themselves.

In the silence of life, there may be a name or an event that resurfaces in memory—a certain face, an old incident, or words that once pierced the heart. God’s invitation is not to run away from that memory, but to bring it before Him. When the wound is surrendered to God, His love touches the deepest parts that have been closely guarded, allowing one to pray honestly for inner freedom.

Ultimately, true joy is not born from successfully proving oneself right, but from a life lived close to God and surrendered to His control. With strength that comes from Christ, believers are enabled to say to those who once hurt them, “I forgive, because Christ first forgave me.”

The Lord Jesus bless us

THE PERSON WHO FORGIVES IS NOT THE LOSER, BUT THE ONE WHO HAS TRIUMPHED OVER THEMSELVES.

Card image
KETIKA LUKA MENGAJAR KITA TENTANG MENGASIHI - 06 Februari 2026
2026-02-06 12:59:13


Alkitab memberikan perintah yang tegas kepada setiap orang percaya mengenai kasih dan pengampunan. Dalam Efesus 4:31–32 dinyatakan, “Segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian, dan fitnah hendaklah dibuang dari antara kamu, demikian pula segala kejahatan. Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu.” Perintah ini menegaskan bahwa kehidupan orang percaya tidak dapat dipisahkan dari panggilan untuk mengasihi dan mengampuni, bahkan di tengah pengalaman hidup yang menyakitkan.

Dalam perjalanan hidup, hampir setiap orang pernah mengalami luka—disakiti, dikhianati, ditinggalkan, atau diremehkan. Luka tersebut tidak berhenti pada peristiwa yang telah berlalu, tetapi meninggalkan jejak emosional yang panjang. Ada ingatan yang terus berulang, trauma yang menetap, serta kata-kata yang sulit dilupakan. Tanpa disadari, manusia melanjutkan hidup sambil menggendong rasa sakit itu. Sering kali seseorang mengira dirinya telah baik-baik saja, tetapi ketika nama tertentu disebut atau situasi serupa terulang, keretakan hati yang lama kembali terbuka.

Dalam konteks ayat Efesus tersebut, kepahitan yang harus dibuang bukanlah sekadar menjauh secara fisik dari orang yang melukai, melainkan membuang rasa benci itu sendiri. Kebencian bukan hanya merusak relasi dengan sesama, tetapi juga menggerogoti jiwa orang yang memeliharanya. Kebencian dapat diibaratkan seperti meminum racun dengan harapan orang lain yang mati. Allah tidak pernah merancang manusia untuk hidup dengan mengunyah kepahitan, melainkan untuk tinggal di dalam kasih dan pemulihan.

Bayangkan jika orang yang melukai itu adalah orang tua, pasangan hidup, atau anak sendiri. Dalam banyak kasus, seseorang akan kesulitan untuk membenci mereka sepenuhnya. Pertanyaan yang muncul kemudian adalah mengapa manusia begitu keras memelihara amarah terhadap sesama lain yang juga diciptakan menurut gambar Allah. Luka mendorong manusia untuk membela diri, tetapi kasih mengundang manusia untuk memandang sesama dari sudut pandang Allah—bahwa setiap orang sedang berada dalam proses yang sama: jatuh dan bangkit, salah dan belajar, terluka dan bertumbuh.

Manusia sering kali meratapi peristiwa yang menjatuhkannya dan bertanya, “Mengapa aku disakiti? Mengapa harus aku?” Namun, refleksi iman membawa kepada sebuah paradoks rohani: Allah mengizinkan air mata bukan untuk menumbuhkan kebencian, melainkan untuk membentuk manusia. Air mata meluruhkan kesombongan, mengikis ego, dan membuka ruang bagi anugerah Allah untuk bekerja. Allah tidak menuntut manusia berpura-pura kuat, tetapi mengundang manusia untuk bangkit tanpa menjadikan luka sebagai identitas diri.

Dorongan untuk membalas atau menuntut keadilan sering kali muncul ketika luka masih segar. Ada keinginan untuk berkata bahwa orang lain layak menerima hukuman. Namun, di saat seperti itu, Roh Kudus mengingatkan bahwa jika keadilan diterapkan sepenuhnya, manusia pun layak menerima hukuman atas kesalahannya sendiri. Kesadaran bahwa pengampunan Allah jauh melampaui kesalahan sesama menjadi titik balik yang melunakkan hati.

Hidup bukanlah arena untuk menentukan siapa yang paling benar atau siapa yang paling terluka. Hidup adalah ruang pemulihan tempat Allah mengajar manusia untuk mengampuni karena mereka sendiri telah diampuni. Keselamatan dan kedekatan dengan Allah jauh lebih bernilai daripada kehormatan yang tergores atau kerugian materi yang dialami. Banyak orang kehilangan damai sejahtera demi mempertahankan posisi, harga diri, atau pembenaran diri, padahal relasi dengan Allah adalah yang terutama.

Pengampunan sejati tidak bergantung pada faktor eksternal, melainkan pada keputusan batin untuk tidak lagi membiarkan luka mengendalikan hidup. Pengampunan memutus kuasa trauma, menghentikan rantai dendam, dan memulihkan martabat jiwa. Orang yang mengampuni bukanlah orang yang kalah, melainkan orang yang menang atas dirinya sendiri.

Dalam keheningan hidup, mungkin ada nama atau peristiwa yang kembali muncul dalam ingatan—wajah tertentu, kejadian lama, atau kata-kata yang pernah melukai hati. Undangan Allah bukanlah untuk melarikan diri dari ingatan itu, melainkan membawanya ke hadapan-Nya. Ketika luka diserahkan kepada Allah, kasih-Nya menjamah bagian terdalam yang selama ini dijaga dengan rapat, dan manusia dapat berdoa dengan jujur untuk kebebasan batin.

Pada akhirnya, sukacita sejati tidak lahir dari keberhasilan membuktikan diri benar, melainkan dari hidup yang dekat dengan Allah dan berserah kepada kendali-Nya. Dengan kekuatan yang berasal dari Kristus, orang percaya dimampukan untuk berkata kepada mereka yang pernah melukai, “Aku mengampuni, sebab Kristus telah lebih dahulu mengampuniku.”

Tuhan Yesus memberkati

ORANG YANG MENGAMPUNI BUKANLAH ORANG YANG KALAH, MELAINKAN ORANG YANG MENANG ATAS DIRINYA SENDIRI.

Card image
Bacaan Alkitab Setahun - 06 Februari 2026
2026-02-06 12:56:28


Keluaran 22-24

Card image
KIDS DAILY DEVOTIONAL 05 Februari 2026 - SALING MELENGKAPI DENGAN KASIH
2026-02-06 12:50:55


Roma 12:13
"Bantulah dalam kekurangan orang-orang kudus dan usahakanlah dirimu untuk selalu memberikan tumpangan!"

Di dekat rumah Cora ada sebuah taman bermain kecil. Sayangnya, ayunannya rusak dan pagarnya sudah kusam. Cora ingin sekali taman itu bisa dipakai bermain lagi. Ia pun mengajak teman-temannya untuk bersama-sama memperbaiki ayunan tersebut.

Cora teringat bahwa setiap orang bisa saling melengkapi dengan apa yang mereka miliki. Ia mengajak teman-temannya bekerja sama dengan penuh kasih. Andi membawa palu, Boni membawa tang, dan Erik membawa es teh manis. Mereka bekerja bersama dengan gembira. Saat Cora, Andi, dan Boni merasa haus, Erik langsung membagikan es teh buatannya. Semua saling membantu sesuai kemampuan masing-masing.

Akhirnya, pekerjaan pun selesai. Ayunan sudah tidak rusak lagi dan bisa digunakan untuk bermain. Mereka bersorak gembira, “Horeee!” Taman bermain itu kembali dipenuhi tawa dan sukacita.

Firman Tuhan dalam Roma 12:13 mengajarkan kita untuk saling peduli dan membantu satu sama lain. Kita tidak harus punya uang banyak atau hal yang besar untuk menolong orang lain. Dengan kasih, perhatian, dan apa yang kita miliki, kita sudah bisa menjadi berkat.

Yuk, Rehobot Kids, belajar saling melengkapi dan peduli. Ketika kita mau bekerja sama dengan kasih, Tuhan memakai hidup kita untuk membawa sukacita bagi banyak orang.

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 05 Februari 2026 (English Version) - STAY CLOSE WITH GOD, STAY GUARDED IN LIFE
2026-02-06 12:49:31


“Draw near to God, and He will draw near to you. Cleanse your hands, you sinners; and purify your hearts, you double-minded.”
James 4:8

In the middle of today’s fast-paced life, we are constantly faced with choices, and everything depends on how we respond to them. The world offers endless noise—pressure, distractions, and temporary pleasures—that often pull us away from inner peace. As young people, it’s easy to seek validation from others or chase things that look exciting but leave us empty inside. That’s why we need to be aware: don’t let busyness slowly pull our hearts away from God.

When we take even one small step closer to Him—through prayer, personal devotion, or quiet moments—God, in His great love, draws near to us. In that closeness, our lives are guarded. Our hearts find a strong anchor, so we are not easily swept away by the flow of the world, even when life’s storms come one after another.

Our lives are guarded not because we are strong, but because we remain under God’s protection. When our hearts are kept pure and our focus stays on Him, God gives us wisdom to discern what is right and what is wrong. In this way, our youth is not wasted but becomes a reflection of God’s glory. Simply put: the closer we are to God, the more guarded our lives will be.

WHAT TO DO?
1. Create moments of quiet so your heart is not ruled by distractions and can refocus on God.
2. Come to God with an open heart through honest prayer in every situation.
3. Train your sensitivity to hear God’s voice by remaining calm and leaning on His presence.

BIBLE MARATHON:
Luke 21

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 05 Februari 2026 - HANYA DEKAT TUHAN, HIDUP KITA TERJAGA
2026-02-06 12:47:57


“Mendekatlah kepada Allah, dan Ia akan mendekat kepadamu. Tahirkanlah tanganmu, hai kamu orang-orang berdosa, dan sucikanlah hatimu, hai kamu yang mendua hati!”
Yakobus 4:8

Di tengah padatnya kehidupan saat ini, kita terus diperhadapkan pada berbagai pilihan, dan semuanya bergantung pada bagaimana kita mengambil keputusan. Dunia menawarkan banyak kebisingan—tuntutan, distraksi, dan kesenangan sesaat—yang sering kali menjauhkan kita dari ketenangan batin. Sering kali kita mudah tergoda untuk mencari validasi dari orang lain atau mengejar hal-hal yang terlihat menyenangkan, tapi kosong. Karena itu, kita perlu mulai sadar: jangan sampai kesibukan membuat hati kita menjauh dari Tuhan.

Saat kita mengambil satu langkah kecil untuk mendekat kepada-Nya—lewat doa, saat teduh, atau keheningan—Tuhan dengan kasih-Nya yang besar akan menyambut dan mendekat kepada kita. Di dalam kedekatan itulah hidup kita terjaga. Hati kita menemukan jangkar yang kuat, sehingga tidak mudah terseret arus dunia, meskipun badai kehidupan datang silih berganti.

Hidup kita terjaga bukan karena kita kuat, melainkan karena kita berada di bawah perlindungan Tuhan. Ketika hati dijaga tetap bersih dan fokus kita tertuju kepada-Nya, Tuhan memberi hikmat untuk membedakan mana yang baik dan mana yang jahat. Dengan begitu, masa muda kita tidak terbuang sia-sia, tetapi dipakai untuk memancarkan kemuliaan Tuhan. Sederhananya: semakin dekat dengan Tuhan, semakin terjaga hidup kita.

WHAT TO DO?
1. Sediakan ruang hening agar hati tidak dikuasai distraksi dan kembali fokus kepada Tuhan.
2. Datang kepada Tuhan dengan hati terbuka lewat doa yang jujur dalam setiap keadaan.
3. Latih kepekaan mendengar suara Tuhan dengan tetap tenang dan bersandar pada hadirat-Nya

BIBLE MARATHON:
Lukas 21

Card image
Renungan Pagi - 05 Februari 2026
2026-02-06 12:46:43


Kedekatan pada sesuatu sangat mempengaruhi bahkan menentukan masa depan hidup kita, karena jika dekat dengan orang-orang yang dapat menopang, memberi semangat, dorongan atau motivasi, maka hasil dalam kehidupan kita akan sangat berpengaruh baik.

Tapi sebaliknya jika dekat dengan orang-orang yang justru melemahkan, menjatuhkan dan memberikan pengaruh yang buruk dalam hidup kita, maka langkah-langkah hidup selanjutnya justru akan mengalami kegagalan bahkan kehancuran.

Card image
Quote Of The Day - 05 Februari 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-02-06 12:45:27


Selagi kita masih memiliki jantung yang berdetak, nadi yang berdenyut, kita masih memiliki nafas hidup, Tuhan mau mengoreksi catatan hidup kita.

Card image
Mutiara Suara Kebenaran - 05 Februari 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-02-06 12:44:45


Ketika kita setia berjalan bersama dengan Tuhan, kita akan mendapatkan bahwa tujuan terindah bukanlah keberhasilan duniawi, melainkan hidup yang berkenan kepada Tuhan.

Card image
EMBRACING REALITY - 05 Februari 2026 (English Version)
2026-02-06 12:41:17


Over time, science continues to advance. One form of this progress is the growing understanding of the human soul within psychology. Psychology explains much about how a person’s inner dynamics strongly influence their entire life. There is a powerful reciprocal interaction between the physical body and the human psyche. From a theological perspective, this relationship can even be expanded to include the spirit or spiritual dimension. Thus, there is a strong interplay between body, soul, and spirit. Human beings are not fragmented within themselves, but are a unified whole.

The implication is that when one aspect of a person is unhealthy, it will affect the others. For example, if someone continually harbors bitterness, the likelihood of developing heart disease or cancer increases. Conversely, someone who does not maintain healthy eating habits may experience effects on mental health, such as irritability or difficulty concentrating. Negative emotions will shape a spirit or character that ends up hurting others. Here we see a strong interaction among all three. It is no wonder that Paul, in 1 Thessalonians 5:23, prays for the body, soul, and spirit of believers to be sanctified together in preparation for the coming of the Lord.

Regarding forgiveness, it must be understood that it begins with accepting reality. When we intend to forgive someone, it is not easy for our body, soul, and spirit to do so. Many Christians—even some ministers—give the impression that forgiveness is very easy. They use Ephesians 4:26 to suggest that if forgiveness is not released immediately, a believer is instantly sinning against God. Indeed, believers should not become comfortable harboring bitterness, as it is harmful. However, in releasing forgiveness, there is a process that must be gone through, much like repentance: accepting the reality of the wound.

Just as repentance begins with awareness and acceptance of what is wrong within us, so too does forgiveness. Forgiveness can start to unfold when we accept that others’ actions have hurt us. There is a tendency among Christians to act as if they are fine because they are afraid of being labeled as slow to forgive. Yet inwardly, they have not finished dealing with the pain. They are only denying the pain, not making peace with it. Making peace with pain that leads to forgiveness always starts with honesty—that we are hurt and that it truly hurts us. This honesty toward ourselves and toward God must be expressed through sincere dialogue in prayer. A person who does not admit that they are wounded, or who too quickly claims to have forgiven, will find it challenging to arrive at genuine forgiveness. Only those who acknowledge that they are sick can be healed. We must bring the reality of our wounds before God in honest prayer and lament.

Sincere acknowledgment of our wounds opens the door to God’s grace. By admitting this, God will help bind those wounds through various events He allows. God can arrange different circumstances so that we can begin the process of making peace with ourselves. At some point, the wounds we carry no longer gape open, and forgiveness begins to feel easier to express. It is at this point that true forgiveness can emerge. Not because we forget what others have done—perhaps we will remember it until we die—but because we have accepted and made peace with the wrong that was done to us. We realize that they, too, are fellow human beings striving to become better, just as we are. In that process, they may unintentionally hurt us. Or even if they did it intentionally, there is undoubtedly a chain of events in their lives that shaped them into people who hurt others. By accepting the reality of our wounds and then walking through the process with God, we are enabled to give birth to sincere forgiveness.

The Lord Jesus bless you

BY ACCEPTING THE REALITY OF OUR WOUNDS AND THEN WALKING THROUGH THE PROCESS WITH GOD, WE ARE ENABLED TO GIVE BIRTH TO SINCERE FORGIVENESS.

Card image
MENERIMA REALITAS - 05 Februari 2026
2026-02-06 12:39:06


Makin hari, ilmu pengetahuan semakin maju. Salah satu bentuk kemajuan ilmu pengetahuan adalah berkembangnya pemahaman tentang jiwa manusia yang digeluti dalam disiplin ilmu psikologi. Ilmu psikologi banyak menjelaskan kepada kita bagaimana dinamika kejiwaan seseorang sangat memengaruhi seluruh kehidupannya. Ada interaksi timbal balik yang kuat antara tubuh jasmani dan jiwa seseorang. Bahkan, jika dipandang dari sudut pandang teologis, hubungan tersebut dapat ditambah dengan roh atau dimensi kerohanian. Jadi, ada hubungan timbal balik yang kuat antara tubuh, jiwa, dan roh seseorang. Manusia dalam dirinya sendiri tidak terpisah-pisah, melainkan merupakan satu kesatuan yang utuh.

Implikasi dari hal ini adalah apabila ada salah satu unsur dalam diri manusia yang tidak sehat, hal tersebut akan memengaruhi unsur lainnya. Misalnya, jika seseorang terus menyimpan akar pahit, peluangnya untuk mengalami penyakit jantung atau kanker menjadi lebih tinggi. Sebaliknya, seseorang yang tidak menjaga pola makan sehat dapat mengalami dampak pada kesehatan mentalnya, seperti mudah marah atau sulit berkonsentrasi. Emosi yang buruk akan membentuk roh atau karakter yang melukai orang lain. Di sini kita menjumpai interaksi yang kuat antara ketiganya. Tidak heran apabila Paulus, dalam 1 Tesalonika 5:23, berdoa bagi tubuh, jiwa, dan roh orang percaya agar dapat dikuduskan secara bersamaan menjelang kedatangan Tuhan.

Terkait dengan hal mengampuni, perlu diketahui bahwa pengampunan dimulai dengan penerimaan terhadap realitas. Ketika kita hendak mengampuni seseorang, tidak mudah bagi tubuh, jiwa, dan roh kita untuk melakukan hal tersebut. Banyak orang Kristen atau bahkan hamba Tuhan mengesankan bahwa pengampunan begitu mudah dilakukan. Mereka menggunakan Efesus 4:26 untuk memberi kesan bahwa jika pengampunan tidak dilepaskan pada saat itu juga, maka orang percaya akan langsung berdosa kepada Allah. Memang ada benarnya bahwa orang percaya tidak boleh betah menyimpan kepahitan karena hal itu akan berdampak buruk bagi dirinya. Namun, dalam melepaskan pengampunan, ada proses yang perlu dijalani, layaknya pertobatan: menerima realitas luka.

Sebagaimana pertobatan dimulai dari kesadaran dan penerimaan akan ketidaktepatan dalam diri kita, demikian pula pengampunan. Pengampunan dapat mulai dilepaskan ketika kita menerima bahwa kita terluka oleh perbuatan orang lain. Ada kecenderungan orang Kristen bertingkah seolah-olah ia baik-baik saja karena takut dicap tidak cepat melepaskan pengampunan. Padahal, dalam dirinya, ia belum selesai dengan rasa sakit itu. Ia hanya menyangkal (denial) rasa sakit tersebut, bukan berdamai dengannya. Berdamai dengan rasa sakit yang berujung pada pengampunan selalu berangkat dari kejujuran bahwa kita terluka dan bahwa hal itu sungguh menyakiti kita. Kejujuran kepada diri sendiri dan kepada Tuhan ini harus diekspresikan melalui dialog yang tulus dalam doa. Seseorang yang tidak mengakui bahwa ia terluka atau terlalu cepat mengatakan bahwa ia telah mengampuni akan sulit berujung pada pengampunan yang sejati. Hanya orang yang mengakui atau menyadari bahwa ia sakit yang dapat disembuhkan. Kita harus membawa realitas luka-luka yang kita alami itu dalam doa dan ratap tangis secara jujur.

Pengakuan yang tulus akan luka membuka pintu anugerah Allah bagi kita. Dengan mengakui hal tersebut, Allah akan menolong kita membebat luka itu melalui berbagai peristiwa yang diizinkan-Nya terjadi. Allah dapat mengatur berbagai kemungkinan agar kita dapat memulai proses berdamai dengan diri sendiri. Sampai pada suatu titik, luka yang kita miliki tidak lagi menganga, dan pengampunan mulai terasa ringan untuk diucapkan. Pada titik inilah pengampunan yang tulus dapat keluar. Bukan karena kita melupakan apa yang telah dilakukan oleh orang lain—mungkin sampai mati kita tetap mengingatnya—tetapi karena kita telah menerima atau berdamai dengan kesalahan yang dilakukan orang lain terhadap kita. Kita menyadari bahwa mereka juga adalah sesama manusia yang sedang berjuang untuk menjadi lebih baik, sama seperti kita. Dalam proses tersebut, bukan tidak mungkin mereka melukai kita tanpa sengaja. Atau, jika pun mereka melakukannya dengan sengaja, pasti ada rentetan peristiwa dalam hidup mereka yang menggiring mereka menjadi pribadi yang melukai orang lain. Dengan menerima realitas luka dan kemudian berproses bersama Allah, kita dimampukan untuk melahirkan pengampunan yang tulus.

Tuhan Yesus memberkati

DENGAN MENERIMA REALITAS LUKA DAN KEMUDIAN BERPROSES BERSAMA ALLAH, KITA DIMAMPUKAN UNTUK MELAHIRKAN PENGAMPUNAN YANG TULUS.

Card image
Bacaan Alkitab Setahun - 05 Februari 2026
2026-02-06 12:37:42

Keluaran 19-21

Card image
KIDS DAILY DEVOTIONAL 06 Februari 2026 - MEMBERI DENGAN HATI YANG GEMBIRA
2026-02-04 20:35:53


2 Korintus 9:7
"Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita."

Hari ini adalah hari libur sekolah. Rina diajak mama pergi ke pasar tradisional untuk membeli keperluan rumah. Rina senang sekali bisa ikut membantu mama berbelanja. Ia dengan semangat membawa beberapa kantong plastik berisi belanjaan mama.

Tiba-tiba Rina meminta sedikit uang kepada mamanya. Saat mama bertanya untuk apa uang itu, Rina hanya tersenyum. Mama pun memberikannya. Tidak lama kemudian, Rina berjalan ke arah pintu keluar pasar dan menghampiri seorang anak kecil yang sedang duduk berjualan tisu. Rina membeli tisu tersebut tanpa meminta uang kembaliannya. Bahkan, ia juga membagikan beberapa jajanan dari kantong belanjaannya kepada anak kecil itu.

Dari kejauhan, mama Rina memperhatikan semua yang dilakukan Rina. Setelah Rina kembali, mama langsung memeluknya dengan hangat dan tersenyum bangga. Hati mama sangat senang melihat Rina memberi dengan tulus dan gembira.

Firman Tuhan dalam 2 Korintus 9:7 mengajarkan bahwa Tuhan mengasihi orang yang memberi dengan hati yang rela dan penuh sukacita. Memberi bukan karena terpaksa, tetapi karena hati yang mau berbagi.

Rehobot Kids, yuk belajar memberi dengan hati yang gembira seperti Rina. Anak yang murah hati sangat disukai Tuhan, dan Tuhan akan memakai hati yang mau berbagi untuk menjadi berkat bagi banyak orang.

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 04 Februari 2026 - FRIENDS WHO HELP YOU GROW
2026-02-04 20:33:30


1 Samuel 18:1
“After David had finished talking with Saul, Jonathan became one in spirit with David, and he loved him as himself.”

Everyone needs friends, but not every friend helps us grow. Some make us more excited, while others pull us further away from our life’s purpose. That’s why it’s so important to analyze: is our circle helping us level up, or keeping us stuck?

A clear example can be seen in the story of David and Jonathan. They weren’t just friends, but truly became each other’s support system. Jonathan was willing to support David even though it meant David would become king instead of his own father. That shows us that true friendship isn’t afraid of losing position, but instead pushes a friend to reach God’s calling.

In today’s era, a relationship like David and Jonathan is similar to having friends who always back us up not only in good times but also in hard times. Healthy friends don’t make us insecure; they help us feel more confident and draw us closer to God. This kind of circle is what we should look for and nurture.

But, if we have friends who pull us away from God, tear us down, or keep us stuck in bad habits, that’s a warning sign. God wants us to be wise in choosing our circle. It doesn’t mean build emotional walls, but we need to recognize who can truly be the kind of friend that helps us grow.

WHAT TO DO?
1. Evaluate your circle: are they drawing you closer to God or pulling you away?
2. Learn to be a healthy friend: support your friends to grow, not tear them down.
3. Be brave to choose a circle that helps you level up, even if it means reducing time with toxic friends.

BIBLE MARATHON:
Luke 20

Card image
Renungan Pagi - 04 Februari 2026
2026-02-04 17:38:04


Seorang yang menaruh belas kasihan kepada sesamanya dimanapun dia berada pasti akan disukai.

Dalam rumah tangga dia akan menjadi seorang mama atau istri yang dihormati, karena dia berbelas kasihan kepada sesama, jika dia seorang suami dia akan menjadi suami atau ayah yang dihormati dan dihargai serta disukai, karena dia seorang suami yang menaruh belas kasihan kepada sesamanya.

Dengan melihat bukti kehidupan yang memiliki belas kasihan, maka kita akan disukai oleh banyak orang.

Card image
Quote Of The Day - 04 Februari 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-02-04 17:36:03


Perbuatan baik seseorang terhadap orang yang membutuhkan pertolongan, yang dapat dinikmati Tuhan, Tuhan ingat dan Tuhan catat.

Card image
Mutiara Suara Kebenaran - 04 Februari 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-02-04 17:33:29


Kalau kita sudah memiliki keselamatan jiwa, yaitu proses dikembalikan ke rancangan Allah semula, maka kita bisa menghayati betapa indahnya persekutuan dengan Allah.

Card image
MAKING ROOM FOR FORGIVENESS - 04 Februari 2026 (English Version)
2026-02-04 17:32:14


Christianity is not merely a religion, but a way of life. The beauty of the Christian journey of faith does not lie in the grandeur of church buildings, the solemnity of worship rituals, or the festivity of religious celebrations. That beauty is found in the reciprocal relationship between God and human beings—a relationship in which people enjoy His presence, and God takes delight in the worship of His people. God is not an abstract concept produced by human thought, but a real Person who can be personally experienced. Psalm 34:8 declares, “Taste and see that the LORD is good; blessed is the one who takes refuge in Him.” This relationship involves every dimension of human life: feelings, experiences, and spiritual awareness.

Yet life experience also reveals another reality. Human beings—including those closest to us, such as spouses, parents, children, and friends—can change and disappoint us. Many disappointments are born from expectations that are too high of others, as if they were incapable of betrayal. When disappointment is not handled correctly, it can lead to hatred, bitterness, despair, and even actions that harm oneself and relationships. Therefore, disappointment must be responded to with an essential spiritual attitude: making room for forgiveness.

The first principle that must be embraced is making room for the possibility of betrayal. God teaches His people to view life realistically. He never promises that people will not disappoint us, but He warns us not to place absolute hope in others. Isaiah 49:15 even presents an extreme picture: a mother may forget her nursing child, but God will not forget His people. This statement affirms that human love, however strong, is still limited, whereas God’s love never wavers. Making room for the possibility that others may hurt or betray us is not a pessimistic attitude, but a sign of spiritual maturity. With such inner readiness, the heart is as if protected by a strong shield, so that when betrayal truly occurs, the heart is not shattered and does not fall into prolonged despair.

The second principle is understanding that God often allows betrayal to occur as a means of spiritual learning. Every time someone is hurt, they face two choices: to look for a scapegoat or to use the experience as an opportunity for introspection and growth. God often uses inner wounds to train the heart in forgiveness and to shape the maturity of faith. Christ Himself gave the perfect example. He knew from the beginning that one of His disciples would betray Him, yet He still chose the path of love. On the cross, He prayed, “Father, forgive them, for they do not know what they are doing” (Luke 23:34). Forgiveness, in this sense, is not a justification of evil, but a spiritual decision not to allow wounds to rule one’s life.

The third principle reveals the truth that human betrayal actually opens our inner eyes to see God as the true Lover of our souls. People often give their best at the beginning, but disappoint later. God is different. He gives His best from beginning to end. The miracle at Cana illustrates this principle, when the best wine was served at the end of the feast. What comes from God is always better than anything human beings can give.

In daily life, these principles must be lived out concretely. Making room for forgiveness helps us love others rightly—a love rooted in our relationship with God, not in human perfection. In situations of pain caused by betrayal, the Word of God invites each person to bring that wound into His presence. There, forgiveness is no longer a moral burden, but a path of restoration that brings freedom.

In the end, people learn that they may be able to live without many things and even without many people, but they cannot live without God. He is the true Lover of the soul—the One who never leaves, never forgets, and never betrays.

The Lord Jesus bless you

DISAPPOINTMENT MUST BE RESPONDED TO WITH AN ESSENTIAL SPIRITUAL ATTITUDE: MAKING ROOM FOR FORGIVENESS.

Card image
MEMBERI RUANG PENGAMPUNAN - 04 Februari 2026
2026-02-04 17:23:12


Kekristenan bukan sekadar sebuah agama, melainkan sebuah jalan kehidupan. Keindahan perjalanan iman Kristen tidak terletak pada megahnya bangunan gereja, kekhidmatan ritual ibadah, atau kemeriahan perayaan hari raya. Keindahan itu justru ditemukan dalam relasi timbal balik antara Allah dan manusia—relasi di mana manusia menikmati kehadiran-Nya, dan Allah berkenan atas penyembahan umat-Nya. Allah bukan konsep abstrak hasil pemikiran manusia, melainkan Pribadi yang nyata dan dapat dialami secara personal. Mazmur 34:9 menegaskan, “Kecaplah dan lihatlah, betapa baiknya TUHAN itu! Berbahagialah orang yang berlindung pada-Nya!” Relasi ini melibatkan seluruh dimensi kehidupan manusia: perasaan, pengalaman, dan kesadaran rohani.

Namun, pengalaman hidup juga menunjukkan realitas lain. Manusia—termasuk orang-orang terdekat seperti pasangan hidup, orang tua, anak, dan sahabat—dapat berubah dan mengecewakan. Banyak kekecewaan lahir dari harapan yang terlalu tinggi kepada manusia, seolah-olah mereka tidak mungkin berkhianat. Ketika kekecewaan tidak dikelola dengan benar, ia dapat menyeret seseorang ke dalam kebencian, kepahitan, keputusasaan, bahkan tindakan-tindakan yang merusak diri dan relasi. Oleh karena itu, kekecewaan perlu direspons dengan satu sikap rohani yang esensial, yaitu memberi ruang bagi pengampunan.

Prinsip pertama yang perlu dimiliki ialah memberi ruang bagi kemungkinan pengkhianatan. Allah mengajar umat-Nya untuk memandang hidup secara realistis. Ia tidak pernah menjanjikan bahwa manusia tidak akan mengecewakan, tetapi Ia mengingatkan agar manusia tidak menggantungkan harapan secara absolut kepada sesamanya. Yesaya 49:15 bahkan menyampaikan gambaran yang ekstrem: seorang ibu dapat melupakan anak kandungnya, tetapi Allah tidak akan melupakan umat-Nya. Pernyataan ini menegaskan bahwa kasih manusia, betapapun kuatnya, tetap terbatas, sedangkan kasih Allah tidak pernah goyah. Memberi ruang bagi kemungkinan orang lain menyakiti atau mengkhianati bukanlah sikap pesimistis, melainkan tanda kedewasaan rohani. Dengan kesiapan batin semacam ini, hati seolah dilindungi oleh sebuah pelindung yang kokoh, sehingga ketika pengkhianatan benar-benar terjadi, hati tidak hancur dan tidak terjerumus ke dalam keputusasaan yang berkepanjangan.

Prinsip kedua adalah memahami bahwa Allah kerap mengizinkan pengkhianatan terjadi sebagai sarana pembelajaran rohani. Setiap kali seseorang dilukai, ia diperhadapkan pada dua pilihan: mencari kambing hitam atau menjadikan peristiwa tersebut sebagai kesempatan untuk introspeksi dan pertumbuhan. Allah sering memakai luka batin untuk melatih hati dalam pengampunan dan membentuk kedewasaan iman. Kristus sendiri memberikan teladan yang sempurna. Ia mengetahui sejak awal bahwa salah seorang murid-Nya akan mengkhianati-Nya, namun Ia tetap memilih jalan kasih. Di kayu salib Ia berdoa, “Ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat” (Luk. 23:34). Pengampunan, dalam hal ini, bukanlah pembenaran atas kejahatan, melainkan keputusan rohani untuk tidak membiarkan luka menguasai hidup.

Prinsip ketiga menyingkapkan kebenaran bahwa pengkhianatan manusia justru membuka mata batin untuk melihat Allah sebagai kekasih jiwa yang sejati. Manusia sering memberi yang baik di awal, tetapi mengecewakan di kemudian hari. Allah berbeda. Ia memberi yang terbaik dari awal hingga akhir. Mukjizat di Kana memperlihatkan prinsip ini, ketika anggur terbaik justru disajikan pada bagian akhir pesta. Anggur yang berasal dari Allah selalu lebih baik daripada apa pun yang diberikan manusia.

Dalam kehidupan sehari-hari, prinsip-prinsip ini perlu dihidupi secara konkret. Memberi ruang pengampunan menolong manusia mengasihi sesama secara benar—kasih yang berakar pada relasi dengan Allah, bukan pada kesempurnaan manusia. Dalam situasi luka akibat pengkhianatan, firman Tuhan mengundang setiap orang untuk membawa luka itu ke hadirat-Nya. Di sanalah pengampunan tidak lagi menjadi beban moral, melainkan jalan pemulihan yang membebaskan.

Pada akhirnya, manusia belajar bahwa ia mungkin dapat hidup tanpa banyak hal dan bahkan tanpa banyak orang, tetapi tidak dapat hidup tanpa Allah. Dialah kekasih jiwa yang sejati—Pribadi yang tidak pernah meninggalkan, tidak pernah melupakan, dan tidak pernah berkhianat.

Tuhan Yesus memberkati

KEKECEWAAN PERLU DIRESPONS DENGAN SATU SIKAP ROHANI YANG ESENSIAL, YAITU MEMBERI RUANG BAGI PENGAMPUNAN.

Card image
Bacaan Alkitab Setahun - 04 Februari 2026
2026-02-04 17:18:58

Keluaran 16-18

Card image
KIDS DAILY DEVOTIONAL 03 Februari 2026 - BERBAGI DENGAN HATI BERSYUKUR
2026-02-03 22:58:10


Ibrani 13:16
“Dan janganlah kamu lupa berbuat baik dan memberi bantuan, sebab korban-korban yang demikianlah yang berkenan kepada Allah.”

Rehobot Kids, tahukah kamu, bahwa semua yang kita miliki adalah pemberian dari Tuhan? Mainan, makanan, pakaian, bahkan keluarga yang menyayangi kita—semuanya adalah berkat dari Tuhan. Salah satu cara sederhana untuk menunjukkan rasa syukur kita kepada Tuhan adalah dengan berbagi.

Berbagi tidak harus menunggu kita punya banyak. Kita bisa berbagi hal-hal kecil, seperti membagi kue dengan teman, meminjamkan krayon, atau menemani teman yang sedang sendirian menunggu jemputan. Saat kita mau berbagi, Tuhan melihat hati kita yang bersyukur. Hati yang bersyukur tidak merasa kekurangan, tapi mau memberi dengan sukacita.

Coba bayangkan kamu punya permen. Kalau kamu memakannya sendiri, kamu senang sebentar. Tapi kalau kamu berbagi dengan teman, kalian berdua bisa tersenyum dan berbincang bersama. Memberi membuat hati kita lebih lembut dan penuh sukacita, karena memberi itu menyenangkan.

Firman Tuhan dalam Ibrani 13:16 mengingatkan kita untuk tidak lupa berbuat baik dan berbagi, karena itulah yang berkenan kepada Tuhan. Yuk, Rehobot Kids, belajar menjadi anak yang suka berbagi dengan hati yang tulus. Saat kita memberi dengan penuh syukur, kita bukan hanya membahagiakan orang lain, tetapi juga membuat Tuhan tersenyum. Kasih Tuhan pun nyata melalui hidup kita setiap hari.

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 03 Februari 2026 (English Version) - A CIRCLE THAT HELPS YOU GROW
2026-02-03 22:55:46


Ecclesiastes 4:9
“Two are better than one, because they have a good return for their labor.”

Friendship is like a sports team you can’t win if you play alone. A healthy circle makes you stronger, but the wrong circle can cause you to fall. That’s why it’s so important to check: are the friends around you helping you grow, or keeping you stuck?

Take Erling Haaland as an example, a young striker who’s currently in the global spotlight. Haaland isn’t great just because of his talent, but also because of the support from his team and clubmates who help him maximize his potential. Without teamwork and a healthy circle, he wouldn’t be able to score as many goals. From this, we learn: the right friends can be a huge push for our growth.

But, if your circle is toxic always tearing you down, making you insecure, or pulling you away from God it’s like playing soccer with a team that never passes the ball. You’ll get exhausted on your own and never move forward. That’s why we need to bravely analyze: is this relationship drawing me closer to my life’s purpose, or pulling me away?

God wants us to have a healthy circle, like a solid team. It doesn’t mean rejecting everyone, but we need to know who can truly be a support system. If we want to grow, our circle must help us become more confident, more mature, and closer to God.
WHAT TO DO?
1. Evaluate your circle: who helps you move forward, and who holds you back.
2. Choose close friends who can be a healthy support system, not ones who drag you down.
3. Learn to be a positive friend yourself so others can grow through your presence.

BIBLE MARATHON:
Luke 19

Card image
Renungan Pagi - 03 Februari 2026
2026-02-03 22:53:33


Kesetiaan tidaklah selamanya mendatangkan senyuman; terkadang kesetiaan mendatangkan air mata. Dunia penuh dengan orang yang tidak setia, dunia penuh dengan orang yang berkhianat.

Tapi kita percaya di manapun Tuhan menempatkannya, orang percaya akan tetap setia, meskipun terkadang kesetiaan harus dibayar mahal, tapi orang yang setia sampai akhir akan melihat kemenangan yang luar biasa.

Card image
Quote Of The Day - 03 Februari 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-02-03 22:52:47


Orang yang hatinya bersih adalah orang yang diurapi Roh Kudus karena Roh Kudus tidak bisa tinggal di hati orang-orang yang tidak bersih.

Card image
Mutiara Suara Kebenaran - 03 Februari 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-02-03 22:51:20


Kalau orang Yahudi sembahyang, mereka punya kiblat ke Yerusalem. Kalau orang Kristen, kiblatnya tidak di bumi ini. Kita boleh berdoa ke arah mana pun secara fisik, tetapi langkah hidup kita setiap hari harus jelas arahnya, yaitu Yerusalem Baru, Kerajaan Surga.

Card image
THE FOUNDATION OF FORGIVENESS - 03 Februari 2026 (English Version)
2026-02-03 22:50:04


In Christianity, forgiveness begins with God’s own forgiveness. Romans 5:8 says, “But God demonstrates His love for us in this: while we were still sinners, Christ died for us.” God’s action in reconciling humanity to Himself through the death of Jesus is an initiative of forgiveness and the restoration of the relationship between Himself and humankind. In fact, even before Jesus became the atoning sacrifice for human sin, the Garden of Eden had borne silent witness to the pouring out of divine forgiveness. Humanity, who should have died immediately after eating the fruit, instead received God’s mercy, with death executed long after their expulsion from Eden. Beyond Eden, the rainbow that appeared after the flood adds to the long line of God’s initiatives throughout Scripture to forgive humanity and thus allow it to continue existing before Him. Forgiveness, in its various forms, begins with God Himself.

Not only does forgiveness begin with God, but it is also centered on Him. This means that from that forgiveness, human beings then have the responsibility to do the same toward others as an expression of gratitude for the forgiveness God has given. Forgiveness must be reciprocated to God through mercy toward others. The Lord’s Prayer describes this explicitly: “And forgive us our trespasses, as we also forgive those who trespass against us.” The parable of the unmerciful servant (Matt. 18:21–35) also shows that forgiveness granted by God must be responded to with reconciliation toward others. These two passages clearly indicate that forgiveness toward others is never confined solely to human relationships. Our forgiveness of others affects our relationship with God Himself. Therefore, in essence, forgiveness is always God-centered. We forgive because of God, and we can also forgive because of Him.

This foundation of Christian forgiveness—which begins with God and is centered on God—has substantial implications for us. The first implication is that Christian forgiveness is not merely the release of a mental burden. The psychological element in forgiveness cannot be avoided, but it does not end there. Forgiveness is also a theological matter—our business with God. The health of our relationship with God is reflected in our openness to forgive others. Even if it is not always instantaneous, at the very least the direction of one’s heart—whether willing to ignore or not—is laid bare before God. We need to realize that forgiveness is a condition for connectedness with God. At the very least, a willingness to open one’s heart toward forgiveness is a sign that we have a healthy relationship with God.

The final implication, no less significant, is that Christian forgiveness is not done alone. We are accompanied by a Person who is gentle, understanding, and compassionate. He knows very well that forgiving can sometimes be a tough decision and can place us at our lowest point. Therefore, He does not come with a face of judgment, but with a face of strengthening. He does not hastily demand that we release forgiveness as if we had no feelings. Instead, He shares in the pain of our wounds and helps us to acknowledge them fully. Little by little, He binds us up, brings comfort and the necessary events to dress those wounds, and imparts inner strength for us to go through it all. Without realizing it, we begin to open our hearts toward those who have hurt us and forgive them. We cannot do it on our own. But because forgiveness is founded on and centered in God, we are accompanied by His Spirit. This is the good news of Christian forgiveness: forgiveness is not only a personal decision, but also a process of the birth of new awareness, midwifed by God Himself.

The Lord Jesus bless you

THE FORGIVENESS IS NOT ONLY A PERSONAL DECISION, BUT ALSO A PROCESS OF THE BIRTH OF NEW AWARENESS, MIDWIFED BY GOD HIMSELF.

Card image
DASAR PENGAMPUNAN - 03 Februari 2026
2026-02-03 22:35:49


Dalam Kristianitas, pengampunan bermula dari pengampunan Allah sendiri. Roma 5:8 mengatakan, “Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa.” Tindakan Allah untuk memperdamaikan manusia dengan Diri-Nya melalui kematian Yesus merupakan inisiatif untuk mengampuni dan memulihkan hubungan antara Diri-Nya dan manusia. Bahkan, sebelum Yesus menjadi pendamaian bagi dosa manusia, Taman Eden telah menjadi saksi bisu bagaimana pengampunan ilahi dicurahkan. Manusia yang seharusnya langsung mati setelah memakan buah tersebut justru memperoleh kemurahan Allah, dengan kematian yang dieksekusi jauh setelah pengusiran dari Eden. Selain kisah Eden, pelangi yang terbit setelah air bah menambah deret panjang inisiatif Allah sepanjang Alkitab dalam mengampuni peradaban manusia dan dengan demikian memberi kesempatan baginya untuk terus berada di hadapan-Nya. Pengampunan, dalam berbagai bentuk, dimulai dari Allah sendiri.

Tidak hanya dimulai dari Allah, pengampunan itu juga selanjutnya berpusat pada Allah. Artinya, dari pengampunan itulah manusia kemudian memiliki tanggung jawab untuk melakukan hal serupa terhadap sesamanya sebagai tanda syukur atas pengampunan yang telah diberikan Allah. Pengampunan itu harus dilakukan secara timbal balik kepada Allah melalui kemurahan hati kepada sesama. Doa Bapa Kami menggambarkan hal ini secara eksplisit: “Dan ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami.” Perumpamaan tentang hamba yang tidak mengampuni (Mat. 18:21–35) juga menunjukkan bahwa pengampunan yang telah diberikan oleh Allah perlu direspons dengan rekonsiliasi dengan sesama. Dua bagian ini memberi petunjuk yang jelas bahwa pengampunan terhadap sesama tidak pernah hanya terisolasi pada hubungan antar manusia saja. Pengampunan kita terhadap sesama berpengaruh pada hubungan kita dengan Allah sendiri. Jadi, pada hakikatnya, pengampunan selalu berpusat kepada Allah. Kita mengampuni karena Allah dan mampu mengampuni juga karena Dia.

Dasar pengampunan Kristiani yang dimulai dari Allah dan berpusat pada Allah sendiri memberi implikasi yang kuat bagi kita. Implikasi pertama ialah bahwa pengampunan Kristiani bukanlah sekadar pelepasan beban mental. Keterlibatan unsur psikologis dalam pengampunan memang tidak dapat dihindari, tetapi tidak berhenti di situ. Pengampunan juga merupakan persoalan teologis—urusan kita dengan Allah. Sehat atau tidaknya relasi dengan Allah dicerminkan oleh keterbukaan kita untuk mengampuni sesama. Meski tidak selalu instan, setidaknya arah hati seseorang—apakah mau mengampuni atau tidak—telanjang di hadapan Allah. Kita perlu menyadari bahwa pengampunan adalah syarat keterhubungan dengan Allah. Setidak-tidaknya, kesediaan untuk membuka hati menuju pengampunan merupakan tanda bahwa kita memiliki relasi yang sehat dengan Allah.

Implikasi terakhir yang tidak kalah kuatnya ialah bahwa pengampunan Kristiani tidak dilakukan seorang diri. Kita bersama dengan Pribadi yang lemah lembut, penuh pengertian, dan berbelas kasih. Ia tahu betul bahwa mengampuni terkadang menjadi keputusan yang sangat sulit dan menempatkan kita pada titik nadir. Oleh karena itu, Ia tidak datang dengan wajah penghakiman, melainkan wajah penguatan. Ia tidak terburu-buru meminta kita melepaskan pengampunan seolah-olah kita tidak memiliki perasaan. Sebaliknya, Ia turut berbelarasa dengan luka yang kita rasakan dan menyadarkan kita untuk menerimanya sepenuhnya. Pelan-pelan, Ia membebat kita, menghadirkan penghiburan dan kejadian-kejadian yang diperlukan untuk membalut luka itu, serta mengimpartasikan kekuatan dalam batin kita untuk melalui semuanya. Tanpa disadari, kita mulai dapat membuka hati terhadap mereka yang melukai kita dan mengampuninya. Kita tidak mampu sendiri. Namun, karena pengampunan berdasar dan berpusat pada Allah, kita ditemani oleh Roh-Nya. Inilah kabar baik dalam pengampunan Kristiani: pengampunan bukan hanya sebuah keputusan pribadi, melainkan juga proses kelahiran kesadaran baru yang dibidani oleh Allah sendiri.

Tuhan Yesus memberkati

PENGAMPUNAN BUKAN HANYA SEBUAH KEPUTUSAN PRIBADI, MELAINKAN JUGA PROSES KELAHIRAN KESADARAN BARU YANG DIBIDANI OLEH ALLAH SENDIRI

Card image
Bacaan Alkitab Setahun - 03 Februari 2026
2026-02-03 22:33:40

Keluaran 13-15

Card image
KIDS DAILY DEVOTIONAL 02 Februari 2026 - ANAK YANG RINGAN TANGAN
2026-02-02 22:42:58


Galatia 6:10
“Karena itu, selama masih ada kesempatan bagi kita, marilah kita berbuat baik kepada semua orang.”

Halo, Rehobot Kids! Tuhan sangat senang melihat anak-anak yang mau membantu dengan hati yang gembira. Tuhan mengajar kita untuk menjadi anak yang ringan tangan, artinya tidak malas menolong, tetapi cepat membantu ketika melihat orang lain membutuhkan pertolongan.

Sering kali, orang lain tidak membutuhkan bantuan yang besar. Mereka hanya perlu sedikit perhatian agar merasa dihargai dan tidak sendirian. Misalnya, membantu ibu merapikan mainan, menolong ayah mengambil barang, atau membantu teman mengikat tali sepatu. Hal-hal kecil seperti ini bisa membawa sukacita bagi orang lain.

Bayangkan jika kamu sedang membawa banyak buku lalu ada teman yang membantu membawakan satu buku. Walaupun hanya sedikit, pasti kamu merasa terbantu dan senang. Begitulah kebaikan bekerja—tindakan kecil bisa membuat hati orang lain menjadi hangat.

Arti dari firman Tuhan dalam Galatia 6:10 yang kita baca diatas adalah, Tuhan ingin kita memakai setiap kesempatan untuk berbuat baik. Saat kita membantu dan berbagi, kita sedang menabur benih kasih yang akan bertumbuh menjadi kebaikan yang besar. Maka, yuk kita belajar menjadi anak-anak yang ringan tangan. Melalui pertolongan sederhana yang kita lakukan setiap hari, orang lain bisa merasakan kasih Tuhan lewat hidup kita.

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 02 Februari 2026 (English Version) - FRIENDS WHO HELP YOU LEVEL UP
2026-02-02 22:40:27


Corinthians 15:33
“Do not be misled: ‘Bad company corrupts good character."

Friendships are like a playlist some songs lift you up, others bring you down. Same with friends: some help you grow, while others keep you stuck. That’s why it’s so important to check your circle: are they making your life more positive, or are they pulling you off track?

Take Billie Eilish as an example, an international musician loved by Gen Z. Billie often shares how the support of people close to her gave her the courage to explore music honestly, without following trends that didn’t fit her. A healthy team and circle helped her grow not just as an “icon,” but as a more mature person. From this, we learn: the right friends can be a huge push for growth.

On the other hand, if your circle is toxic always tearing you down, making you insecure, or pulling you away from God it’s like a song that constantly kills your vibe. We need to realize that not every friendship is a place to grow. Sometimes we have to be brave enough to say “enough” so our lives don’t keep getting dragged in the wrong direction.

God teaches us to be wise in choosing who we allow to be close to our lives. It’s not about shutting ourselves off from others, but about recognizing who truly supports our growth. A healthy circle of friends helps us grow—encouraging us to become stronger, more mature, and to walk more closely with God.

WHAT TO DO?
1. Evaluate your circle: who helps you move forward, and who holds you back.
2. Choose close friends who can be a healthy support system, not ones who drag you down.
3. Learn to be a positive friend yourself—don’t just look for good friends, but be one who helps others grow.

BIBLE MARATHON :
Luke 18

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 02 Februari 2026 - TEMAN YANG BIKIN KITA NAIK LEVEL
2026-02-02 22:30:24


1 Korintus 15:33 “Janganlah kamu sesat: Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik.”

Pertemanan itu kayak playlist music ada lagu yang bikin semangat, ada juga yang bikin down. Sama halnya dengan teman, ada yang bikin kita bertumbuh, ada juga yang bikin kita stuck. Jadi penting banget buat kita ngecek circle kita: apakah mereka bikin hidup kita lebih bernuansa positif, atau malah bikin kita kehilangan arah?

Contohnya bisa kita lihat dari Billie Eilish, musisi internasional yang banyak digemari Gen Z. Billie sering cerita kalau dukungan orang-orang terdekatnya bikin dia berani eksplorasi musik dengan jujur, tanpa harus ikut-ikutan tren yang nggak sesuai dengan dirinya. Teman dan tim yang sehat bikin dia bisa berkembang, bukan cuma jadi “ikon” tapi juga pribadi yang lebih matang. Dari sini kita belajar: teman yang tepat bisa jadi dorongan besar buat kita bertumbuh.

Sebaliknya, kalau circle kita toxic misalnya suka menjatuhkan, bikin insecure, atau menjauhkan kita dari Tuhan itu kayak lagu yang bikin mood drop terus. Kita harus sadar bahwa nggak semua pertemanan layak dijadikan tempat bertumbuh. Kadang kita perlu berani bilang “cukup” supaya hidup kita nggak terus diseret ke arah yang salah.

Tuhan mengajarkan kita untuk berhikmat dalam menentukan siapa yang kita izinkan dekat dengan hidup kita. Bukan soal menutup diri dari orang lain, melainkan tentang mengenali siapa yang sungguh mendukung pertumbuhan kita. Lingkaran pertemanan yang baik akan menolong kita berkembang—mendorong kita menjadi pribadi yang lebih kuat, lebih matang, dan semakin berjalan dekat dengan Tuhan.

WHAT TO DO?
1. Evaluasi circle pertemananmu: siapa yang bikin kamu maju, siapa yang bikin kamu mundur.
2. Pilih teman dekat yang bisa jadi support system sehat, bukan yang bikin kamu jatuh.
3. Belajar jadi teman yang positif juga, supaya orang lain bisa bertumbuh lewat kehadiranmu.

BIBLE MARATHON:
Lukas 18

Card image
Renungan Pagi - 02 Februari 2026
2026-02-02 22:16:32


Ada orang yang dipuji karena mengatakan kebenaran tapi ada juga orang yang dimaki karena mengatakan kebenaran; ada orang yang diterima karena mengatakan kebenaran tapi ada juga yang ditolak karena mengatakan kebenaran.

Sebagai orang percaya tidak punya pilihan lain; apapun resikonya, tetap harus mengatakan kebenaran; hanya saja, caranya harus tepat, saatnya harus tepat, sikapnya harus tepat dan kata-katanya harus tepat.

Card image
Renungan Pagi - 02 Februari 2026
2026-02-02 22:14:57


Ada orang yang dipuji karena mengatakan kebenaran tapi ada juga orang yang dimaki karena mengatakan kebenaran; ada orang yang diterima karena mengatakan kebenaran tapi ada juga yang ditolak karena mengatakan kebenaran.

Sebagai orang percaya tidak punya pilihan lain; apapun resikonya, tetap harus mengatakan kebenaran; hanya saja, caranya harus tepat, saatnya harus tepat, sikapnya harus tepat dan kata-katanya harus tepat.

Card image
Quote Of The Day - 02 Februari 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-02-02 22:08:27


Hati yang bersih harus kita upayakan, karenanya setiap kali ada niat-niat yang tidak Tuhan kehendaki, kita harus buang segera, jangan sampai beranak-pinak menjadi besar dan kuat, akhirnya bisa menguasai hidup.

Card image
Mutiara Suara Kebenaran - 02 Februari 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-02-02 22:04:00


Tuhan mau kita hanya mencari kehormatan di kekekalan, kehormatan yang diberikan Allah; bukan kehormatan dari manusia.

Card image
FORGIVENESS IS NOT OUR RIGHT - 02 Februari 2026 (English Version)
2026-02-02 21:59:56


In everyday life, some expressions sound reasonable and rational, and we often say them without much thought. Sentences such as “I can forgive, but this one was already too much” or “There has to be a limit to forgiveness” sound human and sensible. Yet this is precisely where the problem lies. These statements contain theological assumptions that are rarely noticed but are very fundamental.

Unconsciously, such expressions place human beings as the “owners of forgiveness.” Forgiveness seems to be in human hands, so people feel entitled to decide who deserves it and how far it should extend. Before discussing forgiveness toward others, the fundamental question that must be honestly answered is: Who are human beings really before God?

The apostle Paul gives a clear answer in Romans 3:23–24. He declares that all have sinned and fall short of the glory of God, and are justified freely by His grace through Christ Jesus. This statement leaves no room for exceptions. There is no spiritual hierarchy, no level of worthiness, and no privileged position. All human beings—without exception—stand in the same position: guilty and in need of grace.

In Paul’s thinking, sin is not merely a moral or legal violation. Sin is an existential failure, a condition in which human beings lose their direction, meaning, and true purpose in life. Humanity fails to become what God intended. Yet it is precisely at this point of total failure that the Gospel speaks of grace: justification given freely by God. If salvation begins with grace that cannot be bought, then forgiveness never starts with the question of who deserves it.

The problem is that the grace humans receive often does not transform their way of thinking. God’s forgiveness is received and enjoyed, but at the same time, people still want to control it—regulating its distribution, setting its limits, and deciding who is worthy or unworthy to receive it. Grace, which should free humans from the position of judge, is instead used to reinforce that position—those who have been forgiven become judges over others.

In this context, Peter’s question to Jesus becomes very relevant. He asked, “Lord, how many times shall I forgive my brother? Up to seven times?” (Matt. 18:21). This question did not come from evil intent. On the contrary, it reflected high religiosity. In Jewish tradition, forgiving three times was already considered very pious. Peter raised the standard to seven times—a symbolic number representing completeness. Yet behind this good intention lay a fundamental problem: Peter still wanted to control forgiveness. He was not asking how to forgive rightly, but when his obligation would be finished.

Jesus’ answer shattered that entire line of reasoning. “Not seven times, but seventy times seven” (Matt. 18:22). Jesus was not offering a new number, but dismantling a whole way of thinking based on calculation. As long as forgiveness can be counted, it has not yet become the Gospel; it is merely moral ethics. Deliberately, Jesus overturns the world’s logic—which lives in an endless spiral of revenge—into an infinite spiral of forgiveness. The Kingdom of God does not operate with the arithmetic of sin, but with grace.

Jesus then reinforces this truth through the parable of a servant who owed a debt impossible to repay in a lifetime. The king canceled the entire debt unconditionally. Yet that servant refused to forgive a fellow servant who owed him a minimal amount. Ironically, he had just come out of the room of forgiveness, but immediately revealed the face of an executioner. The king’s anger was not primarily because of the servant’s old debt, but because forgiveness was enjoyed selfishly and not passed on to others.

At this point, the Gospel directs human beings to stop talking about others and to begin looking at themselves. Who are we that we feel entitled to decide who deserves to be forgiven and who does not? We are not the owners of forgiveness, not its managers, and not its distributors. We are the only people who live because of the forgiveness that we ourselves were never truly worthy to receive.

Forgiveness does not mean justifying evil or denying wounds. Forgiveness means returning the right to judge into God’s hands. The Gospel never asks whether others deserve to be forgiven. The Gospel asks whether we are willing to live consistently with the grace we have received.

The Lord Jesus bless you?

AS LONG AS FORGIVENESS CAN BE COUNTED, IT HAS NOT YET BECOME THE GOSPEL; IT IS MERELY MORAL ETHICS.

Card image
PENGAMPUNAN BUKAN HAK KITA - 02 Februari 2026
2026-02-02 21:56:01


Dalam kehidupan sehari-hari, terdapat ungkapan-ungkapan yang terdengar wajar dan rasional, bahkan sering kali kita ucapkan tanpa banyak pertimbangan. Kalimat seperti, “Saya bisa mengampuni, tetapi yang itu sudah keterlaluan,” atau “Ada batasnya juga memberi pengampunan,” terdengar manusiawi dan masuk akal. Namun justru di situlah persoalannya. Kalimat-kalimat tersebut menyimpan asumsi teologis yang jarang disadari, tetapi sangat mendasar.

Tanpa disadari, ungkapan-ungkapan itu menempatkan manusia sebagai “pemilik pengampunan”. Pengampunan seolah-olah berada dalam genggaman tangan manusia, sehingga manusia merasa berhak menentukan siapa yang layak menerima pengampunan dan sejauh mana pengampunan itu diberikan. Sebelum melangkah lebih jauh dalam membahas pengampunan terhadap sesama, pertanyaan mendasar yang perlu dijawab dengan jujur adalah: siapakah manusia sebenarnya di hadapan Allah?

Rasul Paulus memberikan jawaban yang tegas dalam Roma 3:23–24. Ia menyatakan bahwa semua orang telah berbuat dosa dan kehilangan kemuliaan Allah, tetapi dibenarkan dengan cuma-cuma oleh kasih karunia melalui Kristus Yesus. Pernyataan ini tidak menyisakan ruang untuk pengecualian. Tidak ada hierarki rohani, tidak ada tingkat kelayakan, dan tidak ada posisi istimewa. Semua manusia—tanpa terkecuali—berdiri pada posisi yang sama: bersalah dan membutuhkan anugerah.

Dalam pemikiran Paulus, dosa bukan sekadar pelanggaran moral atau hukum. Dosa adalah kegagalan eksistensial, sebuah kondisi di mana manusia kehilangan arah, makna, dan tujuan hidup yang sejati. Manusia gagal menjadi pribadi seperti yang Allah kehendaki. Namun justru pada titik kegagalan total inilah Injil berbicara tentang anugerah: pembenaran yang diberikan Allah secara cuma-cuma. Jika keselamatan dimulai dari anugerah yang tidak diperjualbelikan, maka pengampunan tidak pernah dimulai dari pertanyaan tentang siapa yang pantas menerimanya.

Masalahnya, anugerah yang diterima manusia sering kali tidak mengubah kerangka berpikirnya. Pengampunan Allah diterima dan dinikmati, tetapi pada saat yang sama manusia masih ingin menguasai pengampunan itu—mengatur distribusinya, menetapkan batasnya, dan menentukan siapa yang layak atau tidak layak menerimanya. Anugerah yang seharusnya membebaskan manusia dari posisi hakim justru digunakan untuk mengukuhkan posisi tersebut. Manusia yang telah diampuni berubah menjadi hakim bagi sesamanya.

Dalam konteks inilah pertanyaan Petrus kepada Yesus menjadi sangat relevan. Ia bertanya, “Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku? Sampai tujuh kali?” (Mat. 18:21). Pertanyaan ini tidak lahir dari niat jahat. Sebaliknya, pertanyaan tersebut mencerminkan religiositas yang tinggi. Dalam tradisi Yahudi, mengampuni tiga kali sudah dianggap sangat saleh. Petrus menaikkan standar itu menjadi tujuh kali—angka simbolik yang melambangkan kesempurnaan. Namun di balik niat baik itu tersembunyi satu persoalan mendasar: Petrus masih ingin mengendalikan pengampunan. Ia tidak bertanya bagaimana mengampuni dengan benar, melainkan kapan kewajibannya selesai.

Jawaban Yesus mengguncang seluruh logika tersebut. “Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali” (Mat. 18:22). Yesus tidak sedang menawarkan angka baru, melainkan meruntuhkan seluruh cara berpikir yang berbasis perhitungan. Selama pengampunan masih dapat dihitung, ia belum menjadi Injil, melainkan sekadar etika moral. Dengan sengaja Yesus membalik logika dunia—yang hidup dalam spiral balas dendam tanpa batas—menjadi spiral pengampunan tanpa batas. Kerajaan Allah tidak beroperasi dengan aritmatika dosa, melainkan dengan anugerah.

Yesus kemudian menegaskan kebenaran ini melalui perumpamaan tentang seorang hamba yang berutang dalam jumlah yang mustahil dilunasi seumur hidupnya. Sang raja menghapus seluruh utang itu tanpa syarat. Namun hamba tersebut justru menolak mengampuni sesamanya yang berutang dalam jumlah yang sangat kecil. Ironisnya, ia baru saja keluar dari ruang pengampunan, tetapi segera memperlihatkan wajah seorang algojo. Murka raja bukan terutama karena dosa lama hamba itu, melainkan karena pengampunan yang dinikmati secara egois dan tidak diteruskan kepada sesama.

Pada titik inilah Injil mengarahkan manusia untuk berhenti membicarakan orang lain dan mulai bercermin pada dirinya sendiri. Siapakah manusia sehingga merasa berhak menentukan siapa yang layak diampuni dan siapa yang tidak? Manusia bukan pemilik pengampunan, bukan pengelolanya, dan bukan pula distributornya. Manusia hanyalah orang-orang yang hidup karena pengampunan yang sejatinya tidak pernah layak mereka terima.

Pengampunan tidak berarti membenarkan kejahatan atau meniadakan luka. Pengampunan berarti menyerahkan kembali hak untuk menghakimi ke dalam tangan Allah. Injil tidak pernah bertanya apakah orang lain pantas diampuni. Injil justru bertanya apakah manusia bersedia hidup konsisten dengan anugerah yang telah ia terima.

Tuhan Yesus memberkati?

SELAMA PENGAMPUNAN MASIH DAPAT DIHITUNG, IA BELUM MENJADI INJIL, MELAINKAN SEKADAR ETIKA MORAL.

Card image
Bacaan Alkitab Setahun - 02 Februari 2026
2026-02-02 21:53:31

Keluaran 10-12

Card image
KIDS DAILY DEVOTIONAL 01 Februari 2026 - HATI YANG MAU MENOLONG
2026-02-02 21:47:14


Amsal 19:17
“Siapa menaruh belas kasihan kepada orang yang lemah, memiutangi Tuhan.”

Halo, Rehobot Kids! Pernahkah kamu melihat teman yang sedang sedih, lapar, atau kesulitan? Mungkin ada teman yang lupa membawa pensil, atau ada yang duduk sendirian karena tidak punya teman bermain. Saat melihat hal-hal seperti itu, Tuhan rindu hati kita tergerak untuk menolong.

Tuhan tidak selalu meminta kita melakukan hal yang besar. Sering kali, hal kecil justru sangat berarti. Misalnya meminjamkan pensil, berbagi bekal makanan, atau menemani teman yang sedang sedih. Walaupun terlihat sederhana, bagi Tuhan perbuatan itu sangat berharga.

Coba bayangkan jika kamu jatuh dan lututmu sakit, lalu ada teman yang datang dan berkata, “Tidak apa-apa, aku temani ya.” Pasti hatimu merasa lebih tenang dan senang. Begitu juga saat kita menolong orang lain—mereka bisa merasakan kasih Tuhan melalui perbuatan kita.

Ayat yang kita baca diatas artinya setiap kali kita menolong orang lain, Tuhan melihatnya dan Tuhan berkenan. Yuk, Rehobot Kids, belajar punya hati yang peka dan mau menolong. Jangan menunggu jadi orang besar untuk berbuat baik. Mulailah dari hal kecil setiap hari, karena melalui tindakan sederhana kita, kasih Tuhan bisa nyata bagi banyak orang.

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 01 Februari 2026 (English Version) - A HEART THAT WANTS TO HELP
2026-02-02 19:24:22


Proverbs 19:17
“Whoever is kind to the poor lends to the Lord.”

Hi, Rehobot Kids! Have you ever seen a friend who looked sad, hungry, or was having a hard time? Maybe a friend forgot to bring a pencil, or someone was sitting alone because they had no one to play with. When we see things like that, God wants our hearts to be moved to help.

God doesn’t always ask us to do big, amazing things. Very often, small things mean a lot. For example, lending a pencil, sharing your lunch, or sitting with a friend who feels sad. Even though these things look simple, they are very precious to God.

Imagine if you fell down and hurt your knee, and then a friend came and said, “It’s okay, I’ll stay with you.” You would feel calmer and happier, right? It’s the same when we help others—they can feel God’s love through what we do.

The verse we read today means that every time we help someone, God sees it and is pleased. So, Rehobot Kids, let’s learn to have caring hearts that are ready to help. Don’t wait until you’re grown up to do good things. Start with small acts every day, because through our simple actions, God’s love can become real to many people.

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 01 Februari 2026 - BERTUMBUH LEWAT PERTEMANAN
2026-02-02 19:19:58


Amsal 13:20
“Siapa bergaul dengan orang bijak menjadi bijak, tetapi siapa berteman dengan orang bebal menjadi celaka.”

Hidup kita nggak pernah lepas dari pertemanan. Mau di sekolah, kampus, kerja, atau komunitas, circle teman selalu ada. Pertanyaannya: apakah circle itu bikin kita naik level, atau justru bikin kita stuck di tempat?

Kalau kamu pernah nonton Spider-Man: Across the Spider-Verse, pasti ingat gimana Miles Morales bertumbuh bukan cuma karena kekuatan supernya, tapi juga karena dukungan dan tantangan dari teman-temannya. Ada yang bikin dia makin berani, ada juga yang bikin dia harus hati-hati. Sama kayak kita, nggak semua teman otomatis bikin kita bertumbuh kita perlu jeli lihat apakah hubungan itu membawa kita ke arah yang lebih baik atau malah bikin mundur.

Pertemanan yang sehat itu kayak vitamin: bikin kita kuat, semangat, dan berani ambil langkah baru. Tapi kalau temannya toxic, suka menjatuhkan, atau bikin kita jauh dari Tuhan, itu tanda bahaya. Jadi penting banget buat kita belajar analisa: apakah hubungan ini bikin aku makin dekat sama panggilan hidupku, atau justru menjauh?

Tuhan mau kita bijak dalam memilih circle. Bukan berarti kita harus menjauh dari semua orang yang berbeda, tapi kita perlu sadar bahwa teman dekat punya pengaruh besar. Kalau kita mau bertumbuh, kita harus berani pilih pertemanan yang sehat, yang bikin kita makin dewasa, makin berani, dan makin dekat sama Tuhan.

WHAT TO DO?
1. Luangkan waktu buat refleksi: siapa teman yang benar-benar bikin kamu bertumbuh, siapa yang bikin kamu mundur.
2. Berani ambil keputusan: tetap sayang sama semua orang, tapi pilih circle yang sehat buat perjalanan hidupmu.
3. Jadilah teman yang positif juga—bukan cuma cari teman baik, tapi juga jadi teman yang bikin orang lain bertumbuh.

BIBLE MARATHON:
Lukas 17

Card image
Renungan Pagi - 01 Februari 2026
2026-02-02 19:18:10


Seringkali dalam hidup ini ketika melihat masalah, cenderung emosi, ketika ada orang membicarakan yang buruk kepada kita, kemudian emosi dan mendatangi orang tersebut serta memaki-maki dia.

Allah tidak akan bertindak menolong, jika kita sudah dipenuhi dengan emosi, karena itu jangan biarkan emosi menjadi hambatan untuk meraih berkat Tuhan dan kemenangan, mari belajar untuk menguasai diri, menjadi tenang supaya dapat berdoa dan dapat berkenan kepada Allah.

Card image
Quote Of The Day - 01 Februari 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-02-02 19:16:44


Hati yang bersih adalah hati yang tidak menyimpan dendam, tidak memuat kebencian, dan merasa puas dengan apa yang telah menjadi bagiannya.

Card image
Mutiara Suara Kebenaran - 01 Februari 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-02-02 19:10:56


Yesus mengemukakan bahwa nilai harta seluruh dunia tidak lebih dari nilai satu jiwa manusia. Artinya, jiwa itu sangat berharga. Oleh sebab itu, jiwa harus masuk surga.

Card image
COSTLY FORGIVENESS 01 Februari 2026 (English Version)
2026-02-02 19:10:18


In the Lord’s Prayer, there is a sentence that is often spoken lightly, yet in reality carries a very heavy meaning: “Forgive us our trespasses, as we also forgive those who trespass against us” (Matt. 6:12). This sentence is not merely a prayerful request, but a declaration of life that bears unavoidable spiritual consequences. The prayer not only directs human beings to God but also tests the depth of their relationships with others.

Too often, God’s forgiveness is understood superficially, as if forgiveness were cheap simply because God is love. But Scripture reveals a far deeper reality. God is indeed loving, but He is also holy and just. Forgiveness does not arise from momentary emotion, but from a perfect divine order. Every sin demands a penalty; every transgression has consequences. If God were to forgive without justice, then His holiness would be meaningless. Precisely through forgiveness, God shows how seriously He regards sin and how highly He upholds holiness.

That is why forgiveness always requires a sacrifice. In the Old Testament, the blood of animals was poured out as a sign that sin had a price that had to be paid. Yet the blood of animals could never truly remove human sin, because sin is committed by human beings themselves. Here, the Gospel reveals how costly forgiveness is: God the Father gave His only Son, Jesus Christ, to bear the penalty for human sin. The cross is not merely a symbol of love, but the perfect fulfillment of God’s justice.

For God, forgiving humanity was no small matter. He was willing to give up His beloved Son for the salvation of humankind. When this truth is truly contemplated, the human heart should be shaken. Forgiveness cannot be received with indifference, as though no price had been paid. The cross of Christ stands as a witness that forgiveness is costly, painful, and full of sacrifice—both for the Son of God who was crucified and for the Father who gave Him up.

Therefore, Jesus firmly links God’s forgiveness with human forgiveness toward others. One cannot enjoy God’s forgiveness while continuing to harbor resentment, hatred, and bitterness. In the parable of the unmerciful servant (Matt. 18:32–35), Jesus shows that forgiveness once received can end in judgment when a person refuses to forgive others. This is not merely a symbolic warning, but a severe rebuke to the spiritual life of believers.

True forgiveness almost always involves pain. If someone forgives without losing anything, perhaps that forgiveness has not truly taken place. It is precisely in pain that human beings begin to understand the heart of God. God forgave humanity at a high cost; therefore, forgiving others is never cheap or free from inner struggle.

When a person begins to grasp the sacrifice of Christ—His blood poured out, His body torn on the cross, and His total love for humanity—inner wounds gradually lose their power. Resentment subsides, bitterness weakens, and anger slowly fades. Not because the scars are unreal, but because the cross of Christ is far greater than any wound.

This writing invites honest reflection: have we forgiven as the Father has forgiven? Or is there still a desire to cling to the right to hate, to remember wrongs, and to demand revenge? The Lord’s Prayer leaves no room for compromise. This prayer calls every believer to have a heart like the Father’s.

Forgiveness, in the end, is not merely a moral teaching, but a call to a way of life. Believers no longer live for themselves, but for Him who paid the highest price. And every time someone forgives, they are walking in the footsteps of the cross—the footsteps of a costly love, yet liberating.

Card image
PENGAMPUNAN YANG MAHAL - 01 Februari 2026
2026-02-02 19:01:50


Dalam Doa Bapa Kami terdapat satu kalimat yang kerap diucapkan dengan ringan, tetapi sesungguhnya mengandung makna yang sangat berat: “Ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami” (Mat. 6:12). Kalimat ini bukan sekadar permohonan doa, melainkan sebuah pernyataan hidup yang memuat konsekuensi rohani yang tidak dapat dihindari. Doa tersebut tidak hanya mengarahkan manusia kepada Allah, tetapi sekaligus menguji kedalaman relasinya dengan sesama.

Sering kali pengampunan Allah dipahami secara dangkal, seolah-olah pengampunan itu murah karena Allah adalah kasih. Namun Alkitab menyatakan realitas yang jauh lebih dalam. Allah memang penuh kasih, tetapi Ia juga kudus dan adil. Pengampunan tidak lahir dari emosi sesaat, melainkan dari tatanan ilahi yang sempurna. Setiap dosa menuntut ganjaran; setiap pelanggaran memiliki konsekuensi. Jika Allah mengampuni tanpa tatanan keadilan, maka kekudusan-Nya menjadi tidak bermakna. Justru melalui pengampunan, Allah memperlihatkan betapa serius-Nya Ia memandang dosa dan betapa tinggi nilai kekudusan yang Ia junjung.

Karena itulah pengampunan selalu menuntut korban. Dalam Perjanjian Lama, darah binatang dicurahkan sebagai tanda bahwa dosa memiliki harga yang harus dibayar. Namun darah binatang tidak pernah benar-benar menghapus dosa manusia, sebab dosa dilakukan oleh manusia sendiri. Di sinilah Injil menyatakan betapa mahalnya harga pengampunan: Allah Bapa menyerahkan Anak Tunggal-Nya, Yesus Kristus, untuk menanggung ganjaran dosa manusia. Salib bukan sekadar simbol kasih, melainkan perwujudan keadilan Allah yang digenapi secara sempurna.

Bagi Allah, mengampuni manusia bukanlah perkara kecil. Ia rela menyerahkan Anak yang dikasihi-Nya demi keselamatan manusia. Ketika kebenaran ini direnungkan dengan sungguh, seharusnya hati manusia terguncang. Pengampunan tidak dapat diterima dengan sikap acuh tak acuh, seakan-akan tidak ada harga yang dibayar. Salib Kristus berdiri sebagai saksi bahwa pengampunan itu mahal, menyakitkan, dan penuh pengorbanan—baik bagi Anak Allah yang disalibkan maupun bagi Bapa yang menyerahkan-Nya.

Oleh karena itu, Yesus secara tegas mengaitkan pengampunan Allah dengan pengampunan manusia kepada sesamanya. Seseorang tidak dapat menikmati pengampunan Allah sambil tetap memelihara dendam, kebencian, dan kepahitan. Dalam perumpamaan tentang hamba yang tidak mau mengampuni (Mat.18:32–35), Yesus menunjukkan bahwa pengampunan yang telah diterima dapat berujung pada penghakiman ketika seseorang menolak mengampuni orang lain. Ini bukan sekadar peringatan simbolis, melainkan sebuah teguran serius bagi kehidupan rohani orang percaya.

Pengampunan sejati hampir selalu melibatkan rasa sakit. Jika seseorang mengampuni tanpa kehilangan apa pun, mungkin pengampunan itu belum sungguh terjadi. Justru di dalam rasa sakit itulah manusia mulai memahami hati Allah. Allah mengampuni manusia dengan harga yang mahal; karena itu pengampunan kepada sesama pun tidak pernah murah atau bebas dari pergumulan batin.

Ketika seseorang mulai menghayati pengorbanan Kristus—darah-Nya yang tercurah, tubuh-Nya yang terkoyak di kayu salib, dan kasih-Nya yang total kepada manusia—luka-luka batin perlahan kehilangan kuasanya. Dendam mereda, kepahitan melemah, dan amarah berangsur-angsur sirna. Bukan karena luka itu tidak nyata, tetapi karena salib Kristus jauh lebih besar daripada luka mana pun.

Tulisan ini mengundang refleksi yang jujur: apakah manusia telah mengampuni sebagaimana Bapa telah mengampuni? Ataukah masih ada keinginan untuk memegang hak membenci, mengingat kesalahan, dan menuntut pembalasan? Doa Bapa Kami tidak memberi ruang bagi kompromi. Doa ini memanggil setiap orang percaya untuk memiliki hati yang serupa dengan hati Bapa.

Pengampunan, pada akhirnya, bukan sekadar ajaran moral, melainkan panggilan hidup. Orang percaya hidup bukan lagi untuk dirinya sendiri, melainkan untuk Dia yang telah membayar harga termahal. Dan setiap kali seseorang mengampuni, ia sedang melangkah di jejak salib—jejak kasih yang mahal, tetapi memerdekakan.

Tuhan Yesus memberkati?

PENGAMPUNAN SEJATI HAMPIR SELALU MELIBATKAN RASA SAKIT.

Card image
Bacaan Alkitab Setahun - 01 Februari 2026
2026-02-02 18:59:49

Keluaran 7-9

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 31 Januari 2026 - HIDUP BENAR ALA MARIA MAGDALENA
2026-02-01 22:55:26

“Maka Yesus berkata pula kepada orang banyak, kata-Nya: "Akulah terang dunia; barangsiapa mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang hidup."
Yohanes 8:12

Dalam serial The Chosen, salah satu tokoh yang paling menyentuh hati adalah Maria Magdalena. Ia digambarkan sebagai sosok yang pernah jatuh dalam kegelapan, tapi kemudian dipulihkan oleh Yesus. Dari kisah ini kita belajar bahwa cara terbaik berterima kasih kepada Tuhan atas anugerah-Nya adalah dengan memilih hidup benar meninggalkan masa lalu dan berjalan dalam terang.

Maria Magdalena tidak hanya bersyukur dengan kata-kata, tapi dengan gaya hidup baru. Ia setia mengikuti Yesus, meski harus meninggalkan kebiasaan lama dan menghadapi pandangan sinis orang lain. Sikap ini menunjukkan bahwa syukur sejati bukan sekadar ucapan, melainkan komitmen untuk hidup sesuai dengan kehendak Tuhan.

Sebagai anak muda, kita mungkin punya “masa lalu” atau kebiasaan yang bikin kita jauh dari Tuhan. Tapi sama seperti Maria, kita bisa memilih untuk berubah. Hidup benar berarti berani bilang “cukup” pada hal-hal yang bikin kita jatuh, dan mulai melangkah dengan cara yang memuliakan Tuhan.

Akhirnya, hidup benar akan jadi kesaksian yang kuat. Orang lain bisa melihat perubahan nyata dalam diri kita, dan itu akan jadi bukti bahwa Tuhan bekerja. Itulah cara paling indah untuk bilang “thank you” pada Tuhan: bukan hanya lewat kata-kata, tapi lewat hidup yang benar dan setia.

WHAT TO DO?
1. Renungkan hal-hal yang perlu kamu tinggalkan supaya bisa hidup lebih benar.
2. Ambil langkah kecil hari ini untuk berjalan dalam terang (misalnya: jujur, berdoa, atau menolong).
3. Jadikan perubahan hidupmu sebagai bentuk syukur nyata kepada Tuhan.

BIBLE MARATHON:
Lukas 16

Card image
Quote Of The Day - 31 Januari 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-02-01 22:52:47


Memilih untuk menjadi orang saleh, sama dengan memilih memisahkan diri dari dunia.

Card image
Mutiara Suara Kebenaran - 31 Januari 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-02-01 13:37:29


Iblis adalah oknum jahat yang selalu berusaha agar orang percaya tidak fokus kepada tujuan hidupnya, yaitu kepada Tuhan dan Kerajaan-Nya.

Card image
COMMITMENT TO BECOMING A HOLY EXAMPLE - 31 Januari 2026 (English Version)
2026-02-01 13:34:04


When the color of our life differs from the world’s, we are challenging the world—and even challenging Christians who are still worldly. One day, let it never be that someone says, “Why didn’t you compel us to follow?” We may not have position, wealth, or influence, but if we experience the fullness of God, our value far exceeds all of those things. We are constantly in a race: will the world seize us, or will we choose to be seized by God?

Living a holy life is not easy. Many people think earning money is more complicated than living a holy life, yet the Bible says, “Seek first the Kingdom of God,” precisely because that is the most difficult pursuit. God is not concerned with who we were in the past, but who we are today and who we are becoming. He forgives our sins—but do we truly have the resolve to abandon them? Not merely words of promise, but a commitment that God tests—whether there is still an attitude in us that is unworthy.

Humans may have ambitions and desires. But Satan can use those desires to control us. Therefore, direct our ambition toward the peak of holiness, the peak of purity, the peak of devotion. Why do we not aspire to become a person who is blameless and pleasing to God? The flesh resists, but we must break it and become godly, which is an eternal treasure—a treasure we will never regret.

We may not yet be perfect, but we must be committed to becoming an example. Soften our hearts like Jesus. When we walk through the actual process of holiness, we will draw others into that process. The church must be a place that kills the flesh and gives birth to the new man, not merely a place that performs liturgical activities.

Let us be transformed so that our lives become beautiful and become a gift to those closest to us. We have a future as high-ranking officers of the Kingdom of Heaven. With a holy life, no one will have any grounds to accuse us on the day of judgment. This commitment must become a habit—then a habitat—until doing the will of God is no longer a duty, but a necessity.

When we live in holiness, seeing lost souls becomes our “spiritual sustenance.” We begin to ask: How can I take part in God’s work? Who can I bring to Him? It starts with family, relatives, neighbors, coworkers, and anyone God allows us to meet.

The Lord Jesus bless you?

DIRECT OUR AMBITION TOWARD THE PEAK OF HOLINESS, THE PEAK OF PURITY, THE PEAK OF DEVOTION.

Card image
KOMITMEN MENJADI TELADAN KUDUS - 31 Januari 2026
2026-01-31 22:59:47


Ketika warna hidup kita berbeda dari dunia, kita sedang menantang dunia dan bahkan menantang orang Kristen yang masih serupa dunia. Suatu hari, jangan sampai orang berkata, “Mengapa kamu tidak memaksa kami ikut?” Kita mungkin tidak mempunyai kedudukan, kekayaan, atau pengaruh, tetapi jika kita mengalami kepenuhan Allah, nilai kita jauh melampaui semua itu. Kita berkejar-kejaran antara dunia yang hendak merenggut kita atau kita yang memilih direnggut Tuhan.

Hidup suci bukanlah sesuatu yang mudah. Banyak orang yang berpikir mencari uang lebih sulit daripada hidup suci, padahal Alkitab berkata, “Carilah dahulu Kerajaan Allah,” karena memang itulah hal yang paling sukar. Tuhan tidak berpisah dengan siapa kita di masa lalu, tetapi siapa kita hari ini dan siapa kita akan menjadi. Ia mengampuni dosa-dosa kita, tetapi apakah kita benar-benar memiliki tekad meninggalkannya? Bukan sekadar janji, melainkan komitmen yang diperiksa Tuhan—apakah ada sikap hati kita yang belum puas?

Manusia boleh memiliki ambisi dan keinginan. Namun setan dapat menggunakan keinginan itu untuk menguasai kita. Oleh karena itu, arahkan ambisi kita kepada puncak kekudusan, puncak kesucian, puncak pengabdian. Mengapa kita tidak berambisi menjadi manusia yang tidak bercela dan menyenangkan hati Tuhan? Daging kita menolak, tapi kita harus memecahkannya dan menjadi orang saleh. Inilah harta abadi yang tidak akan pernah disesali.

Kita memang belum sempurna, tetapi kita harus berkomitmen menjadi teladan. Lunakkan hati seperti Yesus. Jika kita menjalani proses kekudusan yang benar, kita akan menarik orang lain untuk memasuki proses itu. Gereja harus menjadi tempat membunuh kedagingan dan melahirkan manusia baru, bukan sekadar menjalankan aktivitas liturgi.

Mari berubah, supaya hidup kita indah dan menjadi hadiah bagi orang-orang terdekat. Kita punya masa depan sebagai perwira tinggi Kerajaan Surga. Dengan hidup suci, tidak ada orang yang memiliki alasan untuk menyalahkan kita pada hari penghakiman. Komitmen ini harus menjadi habitat, kemudian habitat—hingga melakukan kehendak Allah bukan lagi kewajiban, tetapi kebutuhan.

Ketika kita telah hidup dalam kekudusan, melihat jiwa-jiwa yang terhilang menjadi “rezeki rohani” kita. Kita mulai bertanya: Bagaimana saya mengambil bagian dalam pekerjaan Tuhan? Siapa yang bisa kubawa kepada-Nya? Mulai dari keluarga, kerabat, tetangga, teman kantor, dan siapa pun yang Tuhan izinkan kita temui.

Tuhan Yesus memberkati?

ARAHKAN AMBISI KITA KEPADA PUNCAK KEKUDUSAN, PUNCAK KESUCIAN, PUNCAK PENGABDIAN.

Card image
Bacaan Alkitab Setahun - 31 Januari 2026
2026-01-31 22:54:01

Keluaran 4-6

Card image
KIDS DAILY DEVOTIONAL 30 Januari 2026 - MENGINGAT TUHAN
2026-01-30 23:31:25


Mazmur 105:2
“Bernyanyilah bagi-Nya, bermazmurlah bagi-Nya, percakapkanlah segala perbuatan-Nya yang ajaib!”

Rehobot Kids, pernah nggak kamu tiba-tiba tersenyum sendiri karena ingat hal menyenangkan? Mungkin waktu dapat nilai bagus, dibantu teman, atau diajak jalan sama keluarga. Saat kita mengingat kebaikan itu, hati kita langsung terasa hangat dan bahagia.

Begitu juga saat kita mengingat Tuhan. Ketika kita melihat kembali semua yang Tuhan sudah lakukan—memberi udara untuk bernapas, keluarga yang menyayangi, teman-teman yang baik, kesehatan, dan kesempatan bangun pagi—hati kita dipenuhi rasa syukur. Tuhan bekerja dalam hidup kita setiap hari, bahkan lewat hal-hal sederhana.

Mazmur 105:2 mengajak kita untuk memuji Tuhan dan menceritakan perbuatan-Nya yang ajaib. Artinya, bukan hanya menikmati berkat Tuhan, tetapi juga mengingatnya dan membagikan cerita tentang kebaikan-Nya kepada orang lain, supaya mereka juga tahu betapa baiknya Tuhan.

Mulai sekarang, Rehobot Kids bisa membiasakan diri mengingat kebaikan Tuhan lewat doa sebelum tidur, menulis tiga hal yang disyukuri setiap hari, atau cukup berkata, “Terima kasih, Tuhan,” saat mengalami sesuatu yang membuatmu senang.

Ingat ya, setiap hari selalu ada alasan untuk bersyukur bagi Tuhan. Semakin kita mengingat kebaikan-Nya, semakin besar sukacita yang memenuhi hati kita!

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 30 Januari 2026 (English Version) - LIVING RIGHT, I STILL BELIEVE STYLE
2026-01-30 23:11:39


“How can a young person keep their way pure? By living according to Your word.”
Psalm 119:9

The film “I Still Believe,” which tells the story of Jeremy Camp’s journey, has been a favorite for many young people. The story isn’t only about music, but about how Jeremy chose to live rightly and remain faithful to God even when he had to lose someone he loved. From this, we learn that the best way to thank God isn’t merely through words, but through the decision to keep walking according to His Word.

Living rightly isn’t always easy. Jeremy faced pain, loss, and big questions about faith. But he still chose to be grateful and obedient. This shows that true gratitude isn’t only when life feels beautiful, but also when we dare to say, “Lord, I still believe You are good.”

Rehobot Youth, we are often faced with a choice: follow the current of the world or keep living according to God’s Word. Living rightly means daring to be different—daring to be honest, daring to guard our hearts—even when people might say it’s “not cool.” But that’s exactly where we show our gratitude to God for the life He has given us.

In the end, living rightly becomes a powerful testimony. Just as Jeremy, through his music and life story, inspired many people, we too can be a blessing to those around us. Living rightly is the most real way to say “thank you” to God.

WHAT TO DO?
1. Choose one area of your life that needs to be straightened out according to God’s Word (for example: honesty, relationships, or discipline).
2. Don’t stop being grateful, even when circumstances are difficult.
3. Make living rightly a daily lifestyle, not just a temporary moment.

BIBLE MARATHON:
Luke 15

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 30 Januari 2026 - HIDUP BENAR ALA “I Still Believe"
2026-01-30 23:04:49


“Dengan apakah seorang muda mempertahankan kelakuannya bersih? Dengan hidup sesuai firman-Mu.” Mazmur 119:9

Film “I Still Believe” yang mengisahkan perjalanan Jeremy Camp sempat jadi favorit banyak anak muda. Ceritanya bukan hanya tentang musik, tapi tentang bagaimana Jeremy tetap memilih hidup benar dan setia pada Tuhan meski harus kehilangan orang yang ia cintai. Dari kisah ini kita belajar bahwa cara terbaik berterima kasih kepada Tuhan bukan sekadar lewat kata-kata, tapi lewat keputusan untuk tetap berjalan sesuai firman-Nya.

Hidup benar itu nggak selalu gampang. Jeremy menghadapi rasa sakit, kehilangan, dan pertanyaan besar tentang iman. Tapi ia tetap memilih untuk bersyukur dan taat. Sikap ini menunjukkan bahwa syukur sejati bukan hanya saat hidup terasa indah, melainkan saat kita berani berkata: “Tuhan, aku tetap percaya Engkau baik.”

Rehobot Youth, kita sering dihadapkan pada pilihan: ikut arus dunia atau tetap hidup sesuai firman. Hidup benar berarti berani berbeda, berani jujur, berani menjaga hati, meski kadang dianggap “nggak keren.” Justru di situlah kita sedang menunjukkan rasa syukur kita kepada Tuhan atas hidup yang Ia beri.

Akhirnya, hidup benar akan jadi kesaksian yang kuat. Sama seperti Jeremy yang lewat musik dan kisah hidupnya menginspirasi banyak orang, kita pun bisa jadi berkat bagi sekitar. Hidup benar adalah cara paling nyata untuk bilang “thank you” pada Tuhan.

WHAT TO DO?
1. Pilih satu area hidupmu yang perlu diluruskan sesuai firman (misalnya: kejujuran, relasi, atau disiplin).
2. Jangan berhenti bersyukur, bahkan ketika keadaan sulit.
3. Jadikan hidup benar sebagai gaya hidup sehari-hari, bukan hanya momen sesaat.

BIBLE MARATHON:
Lukas 15

Card image
Renungan Pagi - 30 Januari 2026
2026-01-30 22:59:35


Dunia ini penuh dengan orang-orang beragama yang memakai topeng-topeng kepalsuan, banyak orang menyebut-nyebut nama Tuhan tetapi melakukan hal-hal yang jahat dimata Tuhan.

Berbicara tentang Tuhan, tetapi langkah-langkah hidupnya penuh dengan kelicikan, mencari keuntungan dan kepentingan diri sendiri. Mari hidup kita berlaku baik, hidup benar, hidup seturut dengan firman Tuhan, sehingga dapat menjadi teladan, dapat menjadi berkat dan dapat menyatakan kasih kepada banyak orang.

Card image
Quote Of The Day - 30 Januari 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-01-30 22:57:59

????? ?? ??? ???:
Kegagalan mengenali tujuan hidup mengakibatkan kita terjebak dalam kesia-siaan.

Card image
Mutiara Suara Kebenaran - 30 Januari 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-01-30 22:54:16


Orang percaya harus tetap waspada dan berjaga-jaga agar dapat mengenali tipu daya musuh.

Card image
INFECTING OTHERS WITH LIVING IN THE SPIRIT - 30 Januari 2026 (English Version)
2026-01-30 22:52:43


We are indebted people, not to live according to the flesh, but to live according to the Spirit. Living according to the Spirit means doing the will of God, translating His thoughts and feelings into our concrete daily actions. When our lives are aligned with the Spirit, we reflect the life of Jesus, who revealed the invisible God. In the same way, we are called to translate the life of Jesus into tangible actions.

Someone who truly lives according to the Spirit will carry the same burden as God’s heart—that He does not want anyone to perish. Therefore, we feel indebted to bring salvation to every person we meet, even though we realize not everyone will receive it. However, let it never happen that someone rejects salvation because of our mistakes or lack of seriousness.

To carry such a burden, a person must first live in holiness, not be bound to the world, and not be made happy by the facilities of this world. If someone still lives in sin and is in love with the world, they cannot share God’s burden and cannot possibly carry the burden of salvation for others. A clear sign of someone who has not truly been saved is the lack of burden for the salvation of others. Conversely, those who live according to the Spirit, build holiness, and long for the Kingdom of God will be ready to sacrifice anything for the salvation of souls, because one soul is more valuable than the whole world.

Yet many people are unwilling to suffer with Christ. They do not understand what it means to love themselves correctly, which is to pursue their own salvation. Wrong self-love is selfishness, but loving oneself correctly means striving to return to God’s original design. A person who undergoes this transformation will hunger and thirst for righteousness, always looking to Jesus as the standard, and striving to become like Him. From that transformative experience, they will begin to “infect” others, bringing them into the same process.

Church ministry often loses its focus because it is not directed at transforming human nature to become like Christ. Yet the fullness of God that radiates His glory must be pursued, and those who experience that transformation will continue to grow. Only glorious people—those who experience a change of nature—are worthy to receive the glorified body. Therefore, every child of God must feel indebted to help others come out of their old nature into the divine nature.

We are called to be the salt of the world, infecting others with a different kind of life. No worldly pleasure—wealth, status, attractiveness, popularity—can satisfy. But becoming a person who pleases God and makes others catch a longing for holiness—that is true glory.

The Lord Jesus bless you?

WE ARE CALLED TO BE THE SALT OF THE WORLD, INFECTING OTHERS WITH A DIFFERENT KIND OF LIFE.

Card image
MENULARI SESAMA DENGAN HIDUP DALAM ROH - 30 Januari 2026
2026-01-30 22:36:07


Kita adalah orang yang berutang, bukan untuk hidup menurut daging, melainkan hidup menurut Roh. Hidup menurut Roh berarti melakukan kehendak Allah, menerjemahkan pikiran dan perasaan-Nya dalam perilaku konkret kita setiap hari. Ketika hidup kita selaras dengan Roh, kita mencerminkan kehidupan Yesus yang menampilkan Allah yang tidak terlihat. Dengan demikian, kita pun dipanggil untuk menerjemahkan kehidupan Yesus dalam tindakan nyata.

Seseorang yang benar-benar hidup menurut Roh akan memiliki beban yang sama seperti hati Allah—bahwa Ia tidak menghendaki seorang pun binasa. Oleh karena itu, kita pun memiliki perasaan berutang untuk menyelamatkan setiap orang yang kita temui, meskipun kita sadar tidak semua orang akan menerima keselamatan tersebut. Namun, jangan sampai ada orang yang menolak keselamatan karena kesalahan atau ketidaksungguhan kita.

Untuk memiliki beban itu, seseorang harus terlebih dahulu hidup dalam kekudusan, tidak terikat pada dunia, tidak dibahagiakan oleh fasilitas dunia ini. Jika seseorang masih hidup dalam dosa dan kecintaan terhadap dunia, ia tidak mungkin sepenanggungan dengan Tuhan dan tidak mungkin memiliki beban keselamatan bagi orang lain. Ciri orang yang belum benar-benar selamat adalah tidak adanya beban untuk keselamatan sesama. Sebaliknya, mereka yang hidup menurut Roh, membangun kesucian, dan merindukan Kerajaan Allah akan siap mengalami kehancuran apa pun demi keselamatan jiwa—karena satu jiwa lebih berharga dari seluruh dunia.

Namun, banyak orang yang tidak berani memiliki bersama Kristus. Mereka tidak memahami mencintai diri sendiri secara benar, yaitu mengusahakan keselamatan dirinya. Pengasihan diri yang salah adalah egoisme, namun mencintai diri secara benar berarti mengusahakan diri kembali ke rencana Allah. Orang yang mengalami transformasi ini akan haus dan lapar akan kebenaran, selalu memandang Yesus sebagai standar, dan berjuang untuk mencapai keserupaan dengan-Nya. Dari pengalaman perubahan itulah ia akan “menulari” orang lain, membawa mereka masuk dalam proses serupa.

Pelayanan gereja sering kali kehilangan fokus karena tidak diarahkan pada perubahan kodrat manusia menjadi serupa Kristus. Padahal, kepenuhan Allah yang memancarkan kemuliaan-Nya harus diperjuangkan, dan mereka yang merasakan perubahan itu akan terus bertumbuh. Hanya manusia yang mulia—yang mengalami perubahan kodrat—yang layak menerima kemuliaan tubuh. Oleh karena itu, setiap anak Tuhan harus merasa berutang untuk membantu orang lain keluar dari kodrat lama menuju kodrat ilahi.

Kita dipanggil untuk menjadi garam dunia, menulari sesama dengan kehidupan yang berbeda. Tidak ada kesenangan dunia—kekayaan, kedudukan, keindahan, kepopuleran—yang dapat memuaskan. Tetapi menjadi pribadi yang menyukakan hati Allah dan membuat orang lain terjangkit kerinduan akan kekudusan, itulah kemuliaan yang sejati.

Tuhan Yesus memberkati?

KITA DIPANGGIL UNTUK MENJADI GARAM DUNIA, MENULARI SESAMA DENGAN KEHIDUPAN YANG BERBEDA.

Card image
Bacaan Alkitab Setahun - 30 Januari 2026
2026-01-30 22:34:13

Keluaran 1-3

Card image
KIDS DAILY DEVOTIONAL 29 Januari 2026 - MENJADI TERANG MELALUI SYUKUR
2026-01-30 13:05:01


Matius 5:16
“Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.”

Hari itu hujan deras membuat lapangan sekolah becek dan pelajaran olahraga dibatalkan. Banyak siswa kecewa dan mulai mengeluh. Tapi Mira berkata, “ Gak apa-apa, teman-teman. Kita tetap bisa bersenang-senang di kelas!” Ia mengajak teman-temannya bermain permainan sederhana, dan suasana kelas pun berubah jadi ceria. Bu Guru tersenyum dan berkata, “Mira, kamu jadi terang hari ini.” Mira bingung, lalu Bu Guru menjelaskan, “Karena kamu membuat suasana lebih baik lewat sikapmu yang bersyukur.”

Rehobot Kids, ketika kamu bersyukur, hatimu jadi damai. Tapi bukan itu saja—sikapmu juga bisa membuat orang lain ikut merasa damai dan senang. Syukur itu menular! Dengan bersyukur, kita bisa mengubah suasana yang awalnya buruk menjadi menyenangkan.

Yesus berkata bahwa kita harus menjadi terang. Itu artinya, lewat sikap baik, perkataan yang manis, dan hati yang bersyukur, orang lain bisa melihat kasih Tuhan dalam hidup kita. Kamu menjadi terang saat kamu membantu teman, menghibur yang sedih, atau tetap tersenyum meski keadaan tidak sesuai keinginan.

Kita tidak perlu melakukan hal besar untuk menjadi terang. Tindakan kecil yang dilakukan dengan hati bersyukur sudah cukup untuk membuat perbedaan.

Hari ini, Rehobot Kids, cobalah lakukan satu hal kecil untuk membawa terang: menolong, menghibur, meminta maaf, atau mengucapkan kata-kata baik. Ketika kamu melakukannya dengan hati bersyukur, terangmu akan bercahaya dan menguatkan banyak orang!

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 29 Januari 2026 (English Version) - LIVING RIGHT, LIVING WITH GRATITUDE
2026-01-30 12:59:29


“He has shown you, O man, what is good; and what does the LORD require of you but to do justly, to love mercy, and to walk humbly with your God?”
Micah 6:8

Many people think that the way to thank God is simply by saying words of gratitude in prayer. But the Bible clearly says: the best way to show gratitude is by living rightly. Living rightly isn’t just about “not doing evil,” but actively choosing the path that aligns with God’s will.

We can see a real-life example in Sadie Robertson Huff, a Christian influencer followed by many young people. She remains consistent in sharing messages of faith in the middle of a social media world full of image-building. Sadie shows that living rightly is a form of gratitude—not just words, but a lifestyle that is transparent, honest, and brave enough to be different.

As young people, we are often tempted to follow trends that aren’t always healthy. But living rightly means daring to say “no” to things that draw us away from God. In doing so, we are saying, “Lord, I’m grateful for my life, so I want to live it according to Your will.”

Living rightly isn’t always easy. There’s a risk of being excluded or seen as “not cool.” But believe this: living rightly brings peace and becomes a powerful testimony. That’s the coolest way to say “thank you” to God—not only through words, but through the way we live every day.

WHAT TO DO?
1. Choose one small habit you can straighten out (for example: be honest in your assignments, don’t cheat).
2. Be brave enough to say “no” to things that pull you away from God.
3. Make living rightly a lifestyle, not just a moment.

BIBLE MARATHON:
Luke 14

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 29 Januari 2026 - HIDUP BENAR, HIDUP BERSYUKUR
2026-01-30 12:55:54


“Hai manusia, telah diberitahukan kepadamu apa yang baik. Dan apakah yang dituntut TUHAN dari padamu: selain berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allahmu?”
Mikha 6:8

Banyak orang mengira cara berterima kasih kepada Tuhan cukup dengan ucapan syukur di doa. Padahal, Alkitab jelas bilang: cara terbaik berterima kasih adalah dengan hidup benar. Hidup benar itu bukan sekadar “jangan berbuat jahat,” tapi aktif memilih jalan yang sesuai dengan kehendak Tuhan.

Contoh nyata bisa kita lihat dari sosok Sadie Robertson Huff, influencer Kristen yang banyak diikuti anak muda. Ia tetap konsisten membagikan pesan iman di tengah dunia media sosial yang penuh pencitraan. Sadie menunjukkan bahwa hidup benar adalah bentuk syukur: bukan sekadar kata-kata, tapi gaya hidup yang transparan, jujur, dan berani berbeda.

Kita sering tergoda untuk ikut tren yang kadang nggak sehat. Tapi hidup benar berarti berani bilang “nggak” pada hal-hal yang bikin kita jauh dari Tuhan. Justru dengan cara itu, kita sedang berkata: “Tuhan, aku bersyukur atas hidupku, jadi aku mau menjalaninya sesuai kehendak-Mu.”

Hidup benar memang nggak selalu gampang. Ada risiko dikucilkan atau dianggap “nggak gaul.” Tapi percayalah, hidup benar akan membawa damai sejahtera dan jadi kesaksian yang kuat. Itulah cara paling keren untuk bilang “thank you” pada Tuhan: bukan cuma lewat kata, tapi lewat cara kita hidup setiap hari.

WHAT TO DO?
1. Pilih satu kebiasaan kecil yang bisa kamu luruskan (misalnya: jujur dalam tugas, nggak menyontek).
2. Berani bilang “nggak” pada hal-hal yang bikin kamu jauh dari Tuhan.
3. Jadikan hidup benar sebagai gaya hidup, bukan sekadar momen sesaat.

BIBLE MARATHON:
Lukas 14

Card image
Renungan Pagi - 29 Januari 2026
2026-01-30 12:52:54

Ada banyak orang memang berdoa, tetapi tidak mau bekerja keras, sebenarnya Tuhan mau mengerjakan banyak mukjizat dalam hidup kita.

Tetapi seringkali yang menjadi persoalan adalah karena kita malas sehingga mukjizat itu tidak pernah terjadi dalam hidup kita.

Tuhan menunggu kita sampai mau bekerja keras, maka Tuhan akan mengerjakan bagian-Nya dalam hidup kita.

Card image
Quote Of The Day - 29 Januari 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-01-30 12:52:01


Melalui perbuatan baik dan kelakuan yang agung dan mulia, kita membuat Tuhan hidup dalam hidup kita.

Card image
Mutiara Suara Kebenaran - 29 Januari 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-01-30 12:51:18


Tekanan itu bukan saja keadaan hidup yang tidak menyenangkan. Justru keadaan hidup yang menyenangkan, malah jauh lebih berbahaya.

Card image
COMMITMENT DOES NOT GO THROUGH A PROCESS - 29 Januari 2026 (English Version)
2026-01-30 12:50:28


Matthew 17:20
He replied, “Because you have so little faith. Truly I tell you, if you have faith as small as a mustard seed, you can say to this mountain, ‘Move from here to there,’ and it will move. Nothing will be impossible for you.”

In this verse, there is an implied formula: “I am willing to do what I am not able to do.” Just like Jesus, we can’t be absolutely perfect as He is. However, the perfection that God desires for each of us must be attainable. Humanly speaking, it is impossible, but we must be willing. We surrender our lives, for what is impossible for man is not impossible for God. We must be willing first. God said in Luke 14, “Your enemy has twenty thousand soldiers, you only have ten thousand. You cannot win. Give the ten thousand first, and I will add the rest.” Impossible for man, not impossible for God. We must be willing to do what we cannot do: to become perfect like the Lord Jesus, to live without spot and without blemish. It is impossible — yet we must be willing. If we are eager and surrender ourselves to this, then God will add His part, for He has a portion in it.

However, if we ourselves are not willing, then it will never happen. Leave the world as proof of our love for Him, and God will work in all things for the good of those who love Him. What is the standard of our love? To love with all our heart, all our soul, all our mind, and all our strength. To love with all our hearts, even though we are still “fleshly.” With all our mind we serve the law of God, even though we still have a sinful nature. We can still love Him even though God is invisible. Are we brave enough? That is the issue. It depends on us.

Whether we trade in the marketplace or preach from the pulpit, it means nothing if our heart’s motivation is wrong. What matters is the motivation of our hearts. Therefore, we must dare to leave the world first; only then can our inner being be shaped by God, so that every movement, feeling, and action pleases Him. That is what is right. It is not about becoming a pastor or an activist — those are according to each person’s calling. Even if we become an app-based transportation driver, that too is honorable. What matters is the motivation of our life: leave the world. How we fulfill it takes time — but the commitment must be there. If we commit when we do wrong, guilt will be powerful. We will not be able to endure living in sin. The pleasures of the world will fade day by day. We can still enjoy traveling, eating with family and friends — God created those things to be enjoyed — but without being attached to them.

God does not gradually own us. He has already paid in full. The process of fulfilling life as belonging to God is maturity, but commitment does not go through a process. The problem is, we used to think that commitment is a process: as long as we do not betray God, we gradually surrender our lives little by little, until eventually everything is surrendered. That is wrong. It must not be so. Commitment must be 100% from the start.

In fact, the spiritual life shows that we have never gradually come to belong to God. Yet God has already purchased us; therefore, we must commit to fully belonging to Him. It turns out that because we felt we could do it gradually, we opened our lives to worldly desires — and as a result, we became owned by the world. In our hearts, we cry out: Why are we not growing significantly as children of God? Why are we not reaching the holiness that God desires?

The fact is, many negative feelings still dominate us — pride, the desire to be valued, being easily offended, being disappointed, being unable to accept others, being quick to burst into anger, and so on. In our flesh, there are still desires that sometimes press to be satisfied. We must be honest: these conditions show that we have not yet dared to commit. Now we learn to leave the world. We are not made happy by anyone except God. This kind of principle must be built.

The Lord Jesus bless you?

WE MUST COMMIT TO FULLY BELONGING TO HIM.

Card image
KOMITMEN TIDAK MELALUI PROSES - 29 Januari 2026
2026-01-30 12:48:44


Matius 17:20
Ia berkata kepada mereka: “Karena kamu kurang percaya. Sebab Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja, kamu dapat berkata kepada gunung ini: Pindah dari tempat ini ke sana, maka gunung ini akan pindah, dan takkan ada yang mustahil bagimu.”

Dalam ayat tersebut tersirat satu rumusan: “Aku mau melakukan apa yang tidak bisa kulakukan.” Seperti Yesus, kita tidak mungkin bisa sempurna seperti Dia. Namun, sempurna seperti yang dikehendaki Allah bagi setiap kita harus bisa dicapai. Secara manusia hal itu tidak mungkin terjadi, tetapi kita bersedia. Kita menyerahkan hidup kita, sebab yang mustahil bagi manusia tidak mustahil bagi Allah. Kita harus bersiap terlebih dahulu. Tuhan berkata dalam Lukas 14, "Musuhmu dua puluh ribu, kamu sepuluh ribu orang. Kamu tidak mungkin menang. Beri dulu sepuluh ribu, Aku akan menambahkan." Mustahil bagi manusia, tidak mustahil bagi Allah. Kita mau melakukan apa yang tidak bisa kita lakukan, yakni menjadi sempurna seperti Tuhan Yesus, hidup tidak bercacat dan tidak bercela. Tidak mungkin, tapi kita mau melakukannya. Kalau kita mau, dan menyerahkan diri untuk itu, maka Allah yang akan menambahkannya, karena ada bagian-Nya.

Namun, jika kita sendiri tidak bersedia, maka hal itu tidak mungkin terjadi. Tinggalkan dunia sebagai bukti cinta kita kepada-Nya, maka Allah bekerja dalam segala hal untuk mendatangkan kebaikan bagi orang yang mencintai-Nya. Apa standar kasih kita? Mengasihi dengan segenap hati, segenap jiwa, segenap akal budi, dan segenap kekuatan. Mengasihi dengan segenap hati walaupun kenyataannya kita masih “berdaging.” Dengan segenap akal budi kita mengabdi pada hukum Allah, sementara kita masih memiliki kodrat dosa. Kita tetap bisa mencintai Dia meski Allah tidak terlihat. Berani bukan? Itu masalahnya. Tergantung kita.

Entah kita berdagang di pasar atau berkhotbah di mimbar, tidak ada artinya jika motivasi hati kita salah. Yang penting adalah motivasi hati kita. Oleh karena itu, kita harus berani meninggalkan dunia terlebih dahulu; barulah batin kita digarap oleh Tuhan, sehingga setiap gerak, perasaan, dan tindakan kita menyenangkan Dia. Itulah yang benar. Bukan soal menjadi pendeta atau aktivis—itu semua sesuai panggilan masing-masing. Kita menjadi pengemudi transportasi aplikasi, misalnya, itu pun mulia. Yang penting adalah motivasi hidup kita: meninggalkan dunia. Soal bagaimana memenuhinya, itu memang perlu waktu, asal komitmennya ada. Jika kita memiliki komitmen, ketika berbuat salah, rasa dosanya akan sangat kuat. Kita tidak akan betah hidup dalam dosa. Kesenangan dunia makin hari makin pudar. Namun kita tetap dapat menikmati wisata, makan bersama keluarga dan teman-teman; memang Tuhan menciptakan itu untuk dinikmati, tetapi tanpa terikat.

Kita tidak dimiliki Allah secara bertahap. Dia sudah membayar tunai. Bagaimana kita hidup untuk memenuhi menjadi milik Allah adalah proses pendewasaan, namun komitmen tidak melalui proses. Masalahnya, dulu kita berpikir komitmen itu proses: pokoknya tidak melestarikan Tuhan, lalu seiring pertumbuhan rohani kita menyerahkan hidup sedikit demi sedikit, sampai akhirnya semuanya. Itu salah. Tidak boleh demikian. Komitmen harus langsung seratus persen.

Sejujurnya, fakta kehidupan rohani menunjukkan bahwa kita tidak pernah memiliki Allah secara bertahap. Padahal Tuhan sudah membeli kita; maka kita harus berkomitmen dimiliki Dia secara penuh. Ternyata, karena kita merasa boleh secara bertahap, kita membuka hidup bagi keinginan dunia, sehingga kita justru memiliki dunia. Dalam hati kita menjerit: mengapa kita tidak bertumbuh signifikan sebagai anak-anak Allah? Mengapa kita tidak mencapai kesucian yang dikehendaki Allah?

Nyatanya, masih banyak perasaan negatif yang menguasai diri kita, seperti kesombongan, keinginan untuk dianggap berharga, mudah didapat, kecewa, suka menerima orang lain, mudah meledak dalam kemarahan, dan sebagainya. Di dalam daging kita pun masih ada keinginan-keinginan yang terkadang mendesak untuk dipuaskan. Kita jujur, kita punya keadaan seperti itu. Itu menunjukkan bahwa kita belum berani berkomitmen. Sekarang kita belajar meninggalkan dunia. Kita tidak bisa dibahagiakan oleh siapa pun selain Tuhan. Prinsip seperti ini harus kita bangun.

Tuhan Yesus memberkati?

KITA HARUS BERKOMITMEN DIMILIKI DIA SECARA PENUH.

Card image
Bacaan Alkitab Setahun - 29 Januari 2026
2026-01-29 19:45:28

Kejadian 48-50

Card image
Truth Kids 28 Januari 2026 - BEKERJA DENGAN HATI BERSYUKUR
2026-01-28 23:51:54


Kolose 3:23
“Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.”

Hari Minggu pagi, gereja sedang sibuk menyiapkan ibadah anak. Semua guru sekolah minggu merapikan ruangan, sementara Gio dan teman-temannya diminta membantu menyusun kursi. Gio mengeluh, “Kenapa harus aku? Capek ah!” Gurunya tersenyum dan berkata, “Gio, kalau kita melakukan sesuatu dengan hati bersyukur, itu sama seperti kita melakukannya untuk Tuhan.” Kata-kata itu membuat Gio merenung.

Akhirnya Gio mulai membantu dengan lebih semangat, dan ketika semua kursi tersusun rapi, ia merasa senang. Ternyata, melayani Tuhan membawa sukacita! Rehobot Kids, ayat hari ini mengajarkan bahwa apa pun yang kita lakukan—belajar, menolong teman, membantu orang tua—semua bisa dilakukan seperti untuk Tuhan, yaitu dengan tulus dan tanpa menggerutu.

Saat kita bersyukur, pekerjaan terasa lebih ringan. Kita sadar bahwa kesempatan untuk melayani dan membantu adalah berkat yang Tuhan berikan. Hati yang bersyukur membuat kita bekerja lebih sungguh-sungguh dan membawa sukacita bagi orang lain.

Mulai hari ini, cobalah lakukan satu hal dengan hati bersyukur: merapikan kamar, membantu adik, atau menolong teman tanpa menunggu disuruh. Kamu akan merasakan damai dan sukacita dari Tuhan.

Ingat ya, Rehobot Kids: tangan kecilmu bisa melakukan hal besar ketika kamu melakukannya dengan hati penuh syukur!

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 28 Januari 2026 (English Version) - GRATITUDE THROUGH TIM TEBOW'S CONSISTENCY
2026-01-28 23:48:28


“Whatever you do, work at it with all your heart, as working for the Lord, not for human masters.”
Colossians 3:23

Tim Tebow, a former NFL athlete and well-known Christian public figure, is recognized not only for his achievements on the field but also for his consistent commitment to honoring God. He often knelt in prayer in the middle of games—a simple act, yet full of meaning. From this, we learn that gratitude can be expressed through everyday obedience, even under the world’s spotlight.

Tebow’s obedience didn’t mean his life was always smooth. He faced criticism, mockery, and even career setbacks. Yet he remained faithful in showing his faith. This reminds us that true gratitude isn’t only for good times—it’s also when we choose to stay obedient even when life is hard.

As young people, we’re often tempted to feel grateful only when things go according to plan. But it’s in difficult moments that our faithfulness is tested. Tebow teaches us that gratitude is not just words, but a consistent lifestyle: continuing to pray, continuing to believe, continuing to stay faithful.

In the end, a life of obedience and faithfulness becomes a powerful testimony. Others can see God through the way we live with gratitude. Just as Tebow is known not only as an athlete but as someone who remains faithful, we too can shine as a light through our daily obedience.

WHAT TO DO?
1. Practice small habits that express gratitude, such as a short prayer before starting an activity.
2. Don’t stop obeying even when things don’t turn out as you hoped.
3. Remember: consistency in faithfulness will become a testimony that speaks louder than words.

BIBLE MARATHON:
Luke 13

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 28 Januari 2026 - SYUKUR LEWAT KONSISTENSI TIM TEBOW
2026-01-28 23:39:03


“Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.”
Kolose 3:23

Tim Tebow, mantan atlet NFL sekaligus figur publik Kristen, dikenal bukan hanya karena prestasinya di lapangan, tapi juga karena konsistensinya memuliakan Tuhan. Ia sering berlutut berdoa di tengah pertandingan, sebuah sikap sederhana tapi penuh makna. Dari sini kita belajar bahwa syukur bisa diwujudkan lewat ketaatan sehari-hari, bahkan di tengah sorotan dunia.

Ketaatan Tebow bukan berarti hidupnya selalu mulus. Ia menghadapi kritik, ejekan, bahkan kegagalan karier. Namun, ia tetap setia menunjukkan imannya. Sikap ini mengingatkan kita bahwa syukur sejati bukan hanya saat keadaan baik, tapi juga saat kita berani tetap taat meski situasi sulit.

Kita sering tergoda untuk hanya bersyukur ketika hal-hal berjalan sesuai rencana. Padahal, justru di momen sulitlah kesetiaan kita diuji. Tebow mengajarkan bahwa syukur bukan sekadar kata-kata, melainkan gaya hidup yang konsisten: tetap berdoa, tetap percaya, tetap setia.

Akhirnya, hidup yang taat dan setia akan jadi kesaksian yang kuat. Orang lain bisa melihat Tuhan lewat cara kita bersyukur. Sama seperti Tebow yang dikenal bukan hanya sebagai atlet, tapi sebagai pribadi yang setia, kita pun bisa jadi terang lewat ketaatan kita sehari-hari.

WHAT TO DO?
1. Latih kebiasaan kecil yang menunjukkan syukur, misalnya doa singkat sebelum aktivitas.
2. Jangan berhenti taat meski keadaan tidak sesuai harapan.
3. Ingat: konsistensi dalam kesetiaan akan jadi kesaksian yang berbicara lebih keras daripada kata-kata.

BIBLE MARATHON:
Lukas 13

Card image
Renungan Pagi - 28 Januari 2026
2026-01-28 23:33:18


Kesaksian bukanlah karunia melainkan tugas dan tanggung jawab setiap kita yang percaya, ketika menyadari bahwa kesaksian adalah tugas dan tanggung jawab.

Maka setiap bangun pagi kita akan berdoa, "Tuhan, jadikanlah aku saksi-Mu hari ini, sehingga dimana pun aku berada, aku akan mencerminkan kemuliaan Kristus, sehingga lewat hidupku, kasih Allah menjadi nyata bagi semua orang.

Card image
Quote Of The Day - 28 Januari 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-01-28 21:18:08


Kesalahan banyak orang Kristen hari ini adalah selalu menuntut pemulihan atas segala aspek hidupnya di bumi saat ini, menurut waktu dan seleranya; padahal kekristenan menuntut kita untuk memikul salib dan menjadi saksi.

Card image
Mutiara Suara Kebenaran - 28 Januari 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-01-28 21:17:14


Tekanan dalam hidup datang dari si musuh, yaitu kuasa kegelapan dalam berbagai bentuk dan cara. Tekanan ini disebutkan oleh Petrus sebagai “penderitaan” yang dialami semua saudara seiman di seluruh dunia (1Ptr. 5:9).

Card image
NOT DARING TO COMMIT ' 28 Januari 2026 (English Version)
2026-01-28 21:16:21


The rich young man in Matthew 19 said, “Lord, what must I do to gain eternal life?” Jesus showed him the path: he had to be a person who obeyed the law; he must be obedient to the commandments. This rich young man was not only wealthy but also devout in the eyes of religious society. He said, “I have kept all of them, Lord. What do I still lack?” Jesus did not deny it; He acknowledged that he had obeyed the law. But when he asked, “What do I still lack?”, Jesus saw that he desired a greater portion — a more perfect life. So, Jesus said to him, “Sell all you have, give to the poor, come, and follow Me.” If that man had done what Jesus commanded, would he have become perfect instantly? Certainly not. Would he immediately be free from his attachment to wealth? Impossible. He had lived with the mindset of his environment; he could not have changed instantly. But if only he dared to say, “Yes, Lord,” surely the Lord would have led him.

That is why Jesus said in Luke 14:33, “Whoever does not give up everything he has cannot be My disciple.” Let go first — commit first, but this does not mean we must literally leave our houses or give all our money to the church. No. What is meant is the commitment that God calls us to and belongs to Him. One hundred percent of our lives belong to Him, not to ourselves. We want to live holy, blameless, and spotless. We live only to serve God. The world is not our home; our home is in heaven, and we want to return there. That comes first.

If we do not dare to commit, we will never truly change. That is why Hebrews 12:1 says, “Lay aside every weight and the sin that so easily entangles.” Some may ask how to lay aside burdens and sin, for it is difficult. We must commit first, fixing our eyes on Jesus; only then can the Father discipline us. But if we are honest, we fear making such a commitment — especially if we have become suspicious of the church. Yet this commitment does not force us to give money to the church or become a pastor. When talking at this level, the subject of tithing is not even relevant. That is not the issue. Our whole life belongs to God. Besides, God does not concern Himself with whether we are merchants or preachers in the pulpit; God concerns Himself with the attitude of our hearts.

Servants of God are very susceptible to using God’s name for personal or organizational advantage. Anyone can use God’s name. But now we understand that what matters is becoming the bride of Christ. We must dare to cut off everything. We must have this commitment first, then God will shape us. Attending church with all its activities is useless and meaningless if we do not have this commitment. After many years as Christians—becoming elders, activists, and even pastors—we will never reach the peak God desires if the commitment is missing. How do we fulfill it? Learn from the Lord Jesus. That is why Scripture says in Romans 8:12-14 that “we are debtors,” not to live according to the flesh, but according to the Spirit. In Romans 7, the Word of God says, “With my mind I serve the law of God, but with my flesh I serve the law of sin.”

Therefore, in Matthew 19, the rich young man eventually went away, and Jesus did not lower His standard. Jesus is not like a merchant in the market who negotiates. The standard of Christian life in the early church was not reduced, even though it was a newborn church. God shaped the atmosphere so that the situation was “elevated” — intensified — but the standard was not changed. At that time, there was still no New Testament Bible, no church bylaws, and no established doctrine. Today, we have such a great inheritance of faith that it should open our eyes to understand what God wants.

Leaving the world does not mean giving up all wealth and handing it to the church. Leaving the world means, first, that our hearts are not attached to it. We may enjoy the world without being bound by it; the world must not determine our happiness. Second, we must not be bound by the flesh. Sex and food can be enjoyed, but distortion is evil. Do not distort. The Holy Spirit will lead us. There must first be a commitment to leave the world — only then will God lead us.

The Lord Jesus bless you?

IF WE DO NOT DARE TO COMMIT, WE WILL NEVER TRULY CHANGE.

Card image
Bacaan Alkitab Setahun - 28 Januari 2026
2026-01-28 21:12:55

Kejadian 46-47

Card image
TIDAK BERANI BERKOMITMEN - 28 Januari 2026
2026-01-28 21:11:30


Orang muda kaya dalam Matius 19 berkata, “Tuhan, apa yang harus aku lakukan supaya aku beroleh hidup yang kekal?” Tuhan menunjukkan jalan bahwa ia harus menjadi orang yang menurut hukum; ia harus taat kepada hukum. Orang muda kaya ini ternyata bukan hanya kaya, melainkan saleh juga di mata orang beragama. Ia berkata, “Semua sudah kulakukan, Tuhan. Kurang apa lagi?” Tuhan tidak membantah; Tuhan mengakui bahwa dia sudah melakukan hukum. Namun ketika ia bertanya, “Apalagi yang kurang?”, Tuhan melihat bahwa ia menginginkan porsi yang lebih sempurna. Maka Tuhan berkata kepadanya, “Juallah segala milikmu, bagikan kepada orang miskin, datanglah ke mari, ikutlah Aku.” Seandainya orang itu melakukan apa yang Tuhan perintahkan, apakah ia sekaligus menjadi sempurna? Pastinya tidak. Apakah itu berarti ia langsung bisa meninggalkan kecintaannya pada hartanya? Tidak mungkin. Ia sudah hidup dengan gaya berpikir seperti lingkungannya; tidak mungkin dia berubah secara tiba-tiba. Tetapi jika dia berani berkata, “Ya, Tuhan,” pasti Tuhan akan memimpin dia.

Karena itu Tuhan bersabda dalam Lukas 14:33, “Kalau kamu tidak melepaskan dirimu dari segala milikmu, kamu tidak dapat menjadi murid-Ku.” Tinggalkan dulu, berkomitmen dulu. Ini tidak berarti kita harus secara harfiah meninggalkan rumah atau memberikan semua uang ke gereja. Bukan. Yang dimaksud adalah komitmen bahwa kita dipanggil Tuhan dan menjadi milik-Nya. Seratus persen hidup kita adalah milikNya, bukan milik kita sendiri. Kita mau hidup suci, tidak bercacat dan tidak bercela. Kita hidup hanya untuk mengabdi kepada Tuhan. Dunia bukan rumah kita; rumah kita di surga, dan kita mau pulang. Itu dulu.

Jika kita tidak berani berkomitmen, kita tidak akan pernah berubah secara benar. Oleh karena itu Ibrani 12:1 berkata, “Tanggalkanlah segala beban dan dosa.” Mungkin ada di antara kita yang bertanya bagaimana cara menanggalkan beban dan dosa, karena itu sulit. Kita harus berkomitmen terlebih dahulu, dengan mata yang memandang kepada Yesus; barulah Bapa dapat mendidik kita. Namun sejujurnya, kita takut melakukan hal tersebut, apalagi jika kita sudah curiga terhadap gereja. Padahal komitmen ini tidak membuat kita harus memberi uang kepada gereja atau menjadi pendeta. Jika sudah bicara sampai level ini, kita tidak lagi bicara soal perpuluhan. Itu bukan masalah yang sama sekali. Segenap hidup kita milik Tuhan. Lagi pula Tuhan tidak mempersoalkan apakah kita seorang pedagang atau pengkhotbah di mimbar; Tuhan mempersoalkan sikap hati kita.

Hamba Tuhan sangat berpotensi menjual nama Tuhan untuk kepentingan pribadi atau organisasi. Semua bisa memakai nama Tuhan. Tetapi sekarang kita sadar bahwa yang penting adalah menjadi memelai Tuhan. Kita harus berani dipotong . Komitmen seperti ini harus kita miliki terlebih dahulu, baru Tuhan membentuk kita. Pergilah ke gereja dengan segala kegiatannya itu percuma dan sia-sia jika kita tidak memiliki komitmen. Nanti bertahun-tahun menjadi orang Kristen, menjadi majelis, aktivis, bahkan pendeta, kita tetap tidak akan sampai pada titik puncak yang dikehendaki Allah. Soal bagaimana memenuhinya, belajarlah kepada Tuhan Yesus. Karena itu Alkitab berkata dalam Roma 8:12–14 bahwa “kita melakukan,” bukan hidup menurut daging, melainkan menurut Roh. Dalam Roma 7, firman Tuhan berkata, “Dengan akal budiku aku mengabdi pada hukum Allah; dengan tubuh insaniku aku mengabdi pada hukum dosa.”

Jadi, dalam Matius 19, orang muda kaya tersebut akhirnya pergi, dan Tuhan tidak menurunkan standar-Nya. Tuhan Yesus bukan seperti pedagang di pasar yang masih bisa menawar. Standar orang Kristen dalam gereja mula-mula pun tidak diturunkan meskipun itu gereja baru. Tuhan mengondisikan suasana sehingga masalah “diangkat ke atas” (dieskalasi); situasi dibuat berbeda, tetapi standarnya tidak. Pada saat itu belum ada Alkitab Perjanjian Baru, belum ada anggaran dasar dan anggaran rumah tangga, belum ada doktrin gereja yang mapan. Sekarang kita memiliki begitu banyak warisan iman yang mestinya cukup membuka mata kita untuk memahami apa yang Allah kehendaki.

Meninggalkan dunia bukan berarti kita meninggalkan harta kekayaan lalu menyerahkannya kepada gereja. Meninggalkan dunia berarti: pertama , hati kita tidak terikat pada dunia. Kita menikmati dunia tanpa ikatan; kebahagiaan kita tidak ditentukan oleh dunia. Kedua , jangan terikat pada daging. Seks dan makan dapat dinikmati, tetapi penyimpangan adalah kejahatan. Jangan menyimpang. Roh Kudus akan memimpin kita. Harus ada komitmen untuk meninggalkan dunia, barulah Tuhan akan memimpin kita.

Tuhan Yesus memberkati?

JIKA KITA TIDAK BERANI BERKOMITMEN, KITA TIDAK AKAN PERNAH BERUBAH SECARA BENAR.

Card image
KIDS DAILY DEVOTIONAL 27 Januari 2026 - KEKUATAN BARU SETIAP HARI
2026-01-27 23:30:11


Yesaya 40:31
“Tetapi orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN mendapat kekuatan baru: mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah”

Pagi itu, Nara bangun dengan rasa malas dan tubuh yang sangat lelah. Latihan basket kemarin membuat badannya pegal, dan ia merasa tidak sanggup mengikuti pelajaran di sekolah. “Aku capek banget… rasanya mau menyerah saja,” pikirnya dengan sedih.

Saat sarapan, papanya berkata lembut, “Nara, Tuhan memberi kekuatan baru setiap hari. Kamu tidak berjalan sendiri.” Kata-kata itu membuat Nara teringat ayat tentang Tuhan yang memberikan kekuatan seperti rajawali yang terbang tinggi. Hatinya mulai terasa lebih tenang.

Rehobot Kids, ayat hari ini mengingatkan kita bahwa saat tubuh, pikiran, atau hati kita lelah, Tuhan tidak tinggal diam. Justru kepada orang yang datang dan berharap kepada-Nya, Tuhan memberikan kekuatan baru. Seperti rajawali yang kuat menghadapi angin kencang, Tuhan memberi semangat agar kita tidak mudah menyerah.

Karena itu, bersyukur bukan hanya saat kita senang, tetapi juga saat kita lemah. Ketika kita berkata, “Terima kasih Tuhan, Engkau bersamaku,” hati kita menjadi lebih damai. Tuhan selalu ada untuk menolong dan memberi keberanian di waktu yang tepat.

Kalau kamu merasa ingin menyerah, berhentilah sebentar dan berdoalah, “Tuhan, beri aku kekuatan baru.” Percayalah, Tuhan akan menguatkanmu kembali. Rehobot Kids, setiap hari Tuhan memberi kekuatan baru—dan itu alasan besar untuk selalu bersyukur!

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 27 Januari 2026 (English Version) - GRATITUDE THROUGH DEBORAH'S LEADERSHIP
2026-01-27 23:24:30


“At that time Deborah, a prophetess, the wife of Lappidoth, was leading Israel.”
Judges 4:4

Deborah is a unique woman in Israel’s history. She was not only a prophetess, but also a courageous leader in the middle of a difficult situation. When Israel was oppressed by Sisera, Deborah did not remain silent. She obeyed God’s call to lead, even though that role was usually held by men. From Deborah, we learn that gratitude can be expressed through faithfulness in walking out God’s calling—whatever form it takes.

Deborah’s obedience is clearly seen in the way she strengthened Barak to go into battle. She believed that victory did not come from human strength, but from God who is faithful. This shows that gratitude is not just words, but also the courage to step into God’s will, even when it involves risk.

In our lives, we may not lead an army like Deborah did. But we can imitate her faithfulness by boldly taking on responsibility, staying obedient even when we feel weak, and trusting that God is the One who gives strength. True gratitude appears when we say, “Lord, I want to be faithful to Your calling, even when I feel like I’m not enough.”

In the end, Deborah’s leadership brought Israel victory and relief. This means that when we remain obedient and faithful, God can use our lives to bring blessing to many people. Gratitude expressed through faithfulness will always produce beautiful fruit.

WHAT TO DO?
1. Don’t hesitate to take on the responsibility God entrusts to you, no matter how small it is.
2. Practice the courage to obey, even when the situation feels challenging.
3. Remember: true gratitude is being faithful to God’s calling, not just speaking sweet words.

BIBLE MARATHON:
Luke 12

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 27 Januari 2026 - SYUKUR LEWAT KEPEMIMPINAN DEBORA
2026-01-27 23:22:47


“Pada waktu itu Debora, seorang nabiah, isteri Lapidot, memimpin orang Israel.”
Hakim-hakim 4:4

Debora adalah sosok wanita yang unik dalam sejarah Israel. Ia bukan hanya seorang nabiah, tetapi juga pemimpin yang berani di tengah situasi sulit. Ketika bangsa Israel ditindas oleh Sisera, Debora tidak tinggal diam. Ia taat pada panggilan Tuhan untuk memimpin, meski peran itu biasanya dipegang oleh laki-laki. Dari Debora kita belajar bahwa syukur bisa diwujudkan lewat kesetiaan menjalani panggilan Tuhan, apa pun bentuknya.

Ketaatan Debora terlihat jelas ketika ia menguatkan Barak untuk maju berperang. Ia percaya bahwa kemenangan bukan karena kekuatan manusia, melainkan karena Tuhan yang setia. Sikap ini menunjukkan bahwa syukur bukan hanya ucapan, tapi juga keberanian untuk melangkah sesuai kehendak Tuhan, meski penuh risiko.

Dalam hidup kita, mungkin kita tidak memimpin pasukan seperti Debora. Tapi kita bisa meneladani kesetiaannya dengan berani mengambil tanggung jawab, tetap taat meski merasa lemah, dan percaya bahwa Tuhan yang memberi kekuatan. Syukur sejati muncul ketika kita berkata: “Tuhan, aku mau setia pada panggilan-Mu, meski aku merasa tidak cukup.”

Akhirnya, kepemimpinan Debora membawa bangsa Israel pada kemenangan dan kelegaan. Artinya, ketika kita taat dan setia, Tuhan bisa memakai hidup kita untuk membawa berkat bagi banyak orang. Syukur yang diwujudkan lewat kesetiaan akan selalu menghasilkan buah yang indah.

WHAT TO DO?
1. Jangan ragu mengambil tanggung jawab yang Tuhan percayakan, sekecil apa pun itu.
2. Latih keberanian untuk taat, meski situasi terasa menantang.
3. Ingat: syukur sejati adalah setia pada panggilan Tuhan, bukan hanya ucapan manis.

BIBLE MARATHON:
Lukas 12

Card image
Quote Of The Day - 27 Januari 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-01-27 23:13:55


Mengucap syukur adalah sikap hati yang tetap memercayai Tuhan bahwa segala sesuatu ada dalam kontrol-Nya; sebaliknya, sikap marah dan tidak puas dengan keadaan yang ada merupakan bahasa jiwa yang tidak memercayai Tuhan yang mengontrol segala sesuatu.

Card image
Mutiara Suara Kebenaran - 27 Januari 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-01-27 23:12:31


Terdapat banyak tekanan dalam hidup ini, tekanan yang bertujuan agar orang percaya bergeser dari jalur perjalanan hidup yang benar yang sudah dimiliki.

Card image
COMMITMENT FOREVER - 27 Januari 2026 (English Version)
2026-01-27 23:11:25


Many Christians struggle with this: after years of being believers, they still feel they always fail to please God. For years, they have longed for a blameless, spotless life—a perfect life—yet they continue to feel like failures. They eventually reach a point of discouragement and begin to ask, “Is it really possible for me to attain a blameless and spotless life (to reach perfection)?” After decades of falling and rising again, some begin to discover a life principle that slowly transforms them—though of course, the process must continue. Starting from the understanding of Christian life in the first century, we see how God separated believers from Judaism.

If we read the book of Acts, we find that John and Peter still went to the Temple, continuing Jewish worship. But God separated His people through the chief priests and Jewish religious leaders who arrested Christians and stoned them to death (as happened to Stephen). One of the figures who led this persecution was Saul, who ruthlessly arrested and killed Christians. Then Saul repented, and his name was changed to Paul.

On the other hand, believers were also separated from the world drastically through persecution inflicted by the Roman Empire. The church was separated from the world; the church had no access whatsoever to enjoy life. Christians were beheaded, burned alive, boiled to death, or thrown into cages with wild beasts to be devoured. In Rome, the Colosseum still stands as a witness to these events.

Yet through these persecutions, believers were separated from the world. We believe, understand, and begin to experience that this pattern became an important format—one that can serve as a model and foundation for Christian living throughout the ages. God has never changed this pattern. Essentially, believers must be separated from the world. This truth is not only supported historically but also biblically: it teaches us how to build an authentic Christian life so that we may reach a life increasingly blameless and spotless, increasingly perfect, and pleasing to God.

In 1 Corinthians 6:19-20, it is written that God has bought us at a paid-in-full price. God did not pay gradually or in installments, but in one lump sum, which means that, legally / de jure, with one payment, the Lord Jesus has owned us; we already belong to God. That is why we understand when Colossians 3:3 says, “For you have died, and your life is hidden with Christ in God.” We have died to ourselves, died to the world, and live for God. Based on this concept, we must dare to take a stand that we belong to God—we are no longer owned by the world or by ourselves. In the past, we often thought that God tolerated our attitude, as though we could gradually come to belong to God. We usually call it a “process.”

Maturity, transformation, and perfection must indeed go through a process—this is absolute and cannot happen instantly. However, the commitment to belong to God does not go through a process. It is a once-and-for-all commitment. We may not intend to betray God, but we often think that as we mature spiritually over time, we will gradually surrender our lives to the point where someday we will finally be 100% God’s possession. In reality, that will never happen. That is the root of the error.

We must accept the fact that we have been bought with a price paid in full. Therefore, we must boldly say, “I surrender my life to be Yours. The world is not my home; I want to return to heaven. I want to live holy, blameless, and spotless. I live only to serve You and devote myself to You. My whole life belongs to You.” That commitment must not be partial or gradual. It must be whole from the beginning. Then, the process of maturity is what enables us to fulfill it. But the commitment must come first.

May The Lord Jesus bless you?

THE COMMITMENT TO BELONG TO GOD DOES NOT GO THROUGH A PROCESS. IT IS A ONCE AND FOR ALL COMMITMENT.

Card image
KOMITMEN UNTUK SELAMANYA - 27 Januari 2026
2026-01-27 23:09:35


Banyak orang Kristen mengalami pergumulan: setelah bertahun-tahun menjadi orang percaya, mereka merasa selalu gagal menyenangkan hati Allah. Bertahun-tahun mereka merindukan kehidupan yang tidak bercacat dan tidak bercela—kehidupan yang sempurna—tetapi tetap merasa gagal. Sampai pada titik di mana kita mulai agak putus asa dan bertanya, “Apakah mungkin saya dapat mencapai kehidupan yang tidak bercacat dan tidak bercela (mencapai kesempurnaan)?” Setelah sekian puluh tahun jatuh-bangun, kita menemukan satu formula kehidupan yang mulai mengubah hidup. Walaupun tentu semuanya masih harus terus berproses. Berangkat dari pemahaman mengenai kehidupan orang Kristen pada abad pertama, kita melihat bagaimana Tuhan memisahkan orang-orang percaya dari Yudaisme (agama Yahudi).

Jika kita membaca Kisah Para Rasul, kita mendapati bahwa Yohanes dan Petrus masih pergi ke Bait Allah, mengikuti ibadah orang-orang Yahudi. Namun Tuhan memisahkan umat-Nya melalui para imam kepala dan tokoh-tokoh agama Yahudi yang menangkap orang Kristen dan membunuh mereka dengan rajam batu (seperti yang dialami Stefanus). Salah satu tokoh yang memimpin tindakan itu adalah Saulus, yang dengan semena-mena menangkap dan membunuh orang Kristen. Kemudian Saulus bertobat, dan namanya diubah menjadi Paulus.

Di sisi lain, orang percaya juga dipisahkan dari dunia secara drastis melalui aniaya yang dilakukan oleh Kekaisaran Roma. Gereja dipisahkan dari dunia; gereja tidak mendapat akses sekecil apa pun untuk menikmati hidup. Orang-orang Kristen dipancung, dibakar hidup-hidup, dimasukkan ke dalam belanga panas sampai mati, atau dilemparkan ke dalam kandang binatang buas untuk menjadi santapan. Di kota Roma terdapat Koloseum, yang masih menjadi saksi sejarah sampai hari ini atas fakta tersebut.

Namun, melalui aniaya-aniaya itu orang percaya terpisah dari dunia. Kita percaya, memahami, dan mulai mengalami bahwa format ini menjadi format penting yang dapat menjadi pola atau landasan hidup orang percaya sepanjang zaman. Pola ini tidak pernah Tuhan ubah. Pada dasarnya, orang percaya harus dipisahkan dari dunia. Landasan kebenaran ini bukan hanya berasal dari sisi historis, melainkan juga dari Alkitab: bagaimana kita membangun hidup kekristenan yang benar untuk mencapai kehidupan yang semakin tidak bercacat dan tidak bercela, semakin sempurna, sehingga berkenan kepada Allah.

Dalam 1 Korintus 6:19–20 tertulis bahwa Tuhan telah membeli kita dengan harga yang lunas. Tuhan tidak membayar secara bertahap atau mengangsur, melainkan tunai. Ini berarti, dalam satu kali pembayaran, secara de jure (secara hukum), Tuhan Yesus telah memiliki kita; kita sudah menjadi milik Allah. Karena itu kita mengerti mengapa dalam Kolose 3:3 firman Tuhan menyatakan, “Kamu sudah mati dan hidupmu tersembunyi bersama dengan Kristus di dalam Allah.” Kita mati bagi diri sendiri, mati bagi dunia, dan hidup untuk Allah. Berangkat dari konsep ini, kita harus berani bersikap bahwa kita adalah milik Allah, yang tidak lagi dimiliki dunia atau diri kita sendiri. Dulu kita sering berpikir bahwa Allah menoleransi sikap kita, seolah-olah kita dapat dimiliki Allah secara bertahap. Biasanya kita menyebutnya sebagai “proses.”

Pendewasaan, perubahan, dan kesempurnaan memang harus melalui proses—ini mutlak dan tidak bisa terjadi secara mendadak. Namun, komitmen untuk dimiliki Allah tidak melalui proses. Itu adalah komitmen satu kali untuk selamanya. Kita mungkin tidak bermaksud mengkhianati Tuhan, tetapi sering kali kita berpikir bahwa seiring pendewasaan rohani dan perjalanan waktu, kita akan menyerahkan hidup kita secara bertahap, sampai akhirnya nanti 100% dimiliki Allah. Sejatinya, itu tidak akan pernah terjadi. Di situlah letak kesalahannya.

Kita harus menerima kenyataan bahwa kita telah dibeli dengan harga yang lunas. Maka kita harus berani berkata, “Aku serahkan hidupku menjadi milik-Mu. Dunia bukan rumahku; aku mau pulang ke surga. Aku mau hidup suci, tidak bercacat, tidak bercela. Aku hidup hanya untuk melayani Engkau dan mengabdi kepada-Mu. Segenap hidupku adalah milik-Mu.” Komitmen itu tidak boleh setengah-setengah atau bertahap. Harus utuh sejak awal. Selanjutnya, proses pendewasaanlah yang membuat kita mampu memenuhinya. Tetapi komitmen harus lebih dahulu dinyatakan.

Tuhan Yesus memberkati?

KOMITMEN UNTUK DIMILIKI ALLAH TIDAK MELALUI PROSES. ITU ADALAH KOMITMEN SATU KALI UNTUK SELAMANYA.

Card image
Bacaan Alkitab Setahun - 27 Januari 2026
2026-01-27 23:07:55

Kejadian 43-45

Card image
KIDS DAILY DEVOTIONAL 26 Januari 2026 - PELANGI JANJI TUHAN
2026-01-27 18:25:11


Kejadian 9:13
“Busur-Ku Kutaruh di awan, supaya itu menjadi tanda perjanjian antara Aku dan bumi.”

Halo Rehobot Kids! Pernah nggak_kamu melihat pelangi setelah hujan turun? Warnanya cantik sekali—merah, kuning, hijau, biru—semuanya muncul seperti lukisan di langit. Pelangi itu bukan hanya indah, tetapi juga punya makna yang sangat penting. Di Kejadian 9:13, Tuhan berkata bahwa Ia menaruh pelangi sebagai tanda janji-Nya kepada manusia. Janji apa? Janji bahwa Ia tidak akan memusnahkan bumi dengan air bah lagi. Jadi, setiap kali pelangi muncul, itu seperti Tuhan berkata, “Aku tetap setia. Aku menepati janji-Ku.”



Warna-warni pelangi mengingatkan kita bahwa Tuhan tidak pernah berubah. Walaupun kita kadang nakal, sedih, takut, atau berbuat salah, Tuhan tetap mengasihi kita. Kasih dan kesetiaan-Nya selalu ada, seperti pelangi yang muncul setelah hujan.

Rehobot Kids, setiap kali kamu melihat pelangi, berhentilah sebentar dan ingat: Tuhan setia menjaga kita. Kita bisa bersyukur karena memiliki Tuhan yang janji-Nya tidak pernah gagal. Ia selalu ada, selalu peduli, dan selalu menuntun langkah kita.

Karena itu, yuk mulai hari ini kita belajar percaya pada janji Tuhan. Kalau kamu sedang takut atau khawatir, ingatlah “pelangi” Tuhan—janji-Nya yang indah dan pasti. Bersama Tuhan, kita tidak pernah sendirian.

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 26 Januari 2026 (English Version) - A GRATITUDE RESOLUTION: OBEDIENT AND FAITHFUL
2026-01-27 18:13:10


“If you love Me, you will keep My commandments.” John 14:15

The start of a new year is often the moment we make resolutions: to be more disciplined, healthier, or more successful. But as children dearly loved by God, the best resolution is to live obediently and faithfully to Him. John 14:15 reminds us that love for Christ doesn’t stop at words—it is expressed through obedience.

The film “I Can Only Imagine” portrays the journey of Bart Millard, who carried many wounds from his past. Yet gratitude to God helped him learn to obey and remain faithful, even when the path felt difficult. From this story, we learn that true gratitude is not merely something we say—it is a decision to keep walking with God.

Obedience often feels simple, but that’s exactly where its power lies. Small things like praying before bed, being honest in what we say, or helping a friend can become real expressions of gratitude. Faithfulness in small things trains us to be faithful in bigger things.

When we choose to obey, we are saying, “Lord, I trust You know my path better than I do.” That is the most beautiful form of gratitude—not just spoken, but lived out. With small steps each day, we build a life full of gratitude and faithfulness to Him.

WHAT TO DO?
1. Start this year with a simple prayer: “Lord, I want to obey.”
2. Write down one small thing you can do every day as an act of faithfulness.
3. Remember: gratitude is not only spoken, but lived through real action.

BIBLE MARATHON:
Luke 11

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 26 Januari 2026 - RESOLUSI SYUKUR: TAAT DAN SETIA
2026-01-27 18:10:59


“Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku.”_ Yohanes 14:15

Awal tahun sering jadi momen kita bikin resolusi: ingin lebih rajin, lebih sehat, atau lebih sukses. Tapi sebagai anak yang dikasihi Tuhan, resolusi terbaik adalah hidup taat dan setia kepada-Nya. Yohanes 14:15 mengingatkan bahwa kasih kepada Kristus tidak berhenti di kata-kata, melainkan diwujudkan dalam ketaatan.

Film “I Can Only Imagine” menggambarkan perjalanan Bart Millard yang penuh luka masa lalu. Namun, rasa syukur kepada Tuhan membuatnya belajar taat dan setia, bahkan ketika jalannya terasa berat. Dari kisah ini kita belajar bahwa syukur sejati bukan sekadar ucapan, melainkan keputusan untuk tetap berjalan bersama Tuhan.

Ketaatan sering kali terasa sederhana, tapi justru di situlah kekuatannya. Hal-hal kecil seperti berdoa sebelum tidur, jujur dalam perkataan, atau menolong teman bisa jadi bentuk nyata syukur. Kesetiaan dalam hal kecil akan melatih kita untuk setia dalam hal besar.

Saat kita memilih taat, kita sedang berkata: “Tuhan, aku percaya Engkau lebih tahu jalanku.” Itulah wujud syukur yang paling indah bukan hanya diucapkan, tapi dijalani. Dengan langkah kecil setiap hari, kita membangun hidup yang penuh syukur dan setia kepada-Nya.

WHAT TO DO?
1. Mulai tahun ini dengan doa sederhana: “Tuhan, aku mau taat.”
2. Tulis satu hal kecil yang bisa kamu lakukan setiap hari sebagai bentuk kesetiaan.
3. Ingat: syukur bukan hanya diucapkan, tapi dijalani lewat tindakan nyata.

BIBLE MARATHON:
Lukas 11

Card image
Renungan Pagi - 26 Januari 2026
2026-01-27 18:08:40


Dalam hidup ini jika hanya memikirkan hak kita, maka akan menjadi orang egois yang menyebalkan, dan menjadi batu sandungan di manapun berada.

Tetapi jika mengerti hak orang lain dan peduli dengan orang lain, tanpa kita sadari hidup akan mengagumkan untuk banyak orang, hidup menjadi berkat bagi banyak orang.

Card image
Quote Of The Day - 26 Januari 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-01-27 18:07:50


Sikap hati yang kurang percaya terhadap campur tangan Tuhan dalam segala perkara dalam kehidupan ini berarti seseorang tidak mengandalkan Tuhan dengan benar.

Card image
Mutiara Suara Kebenaran - 26 Januari 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-01-27 18:06:57


Seseorang yang arah hidupnya sudah benar harus terus bertahan untuk ada pada jalur yang benar, ia tidak boleh menyimpang ke kanan atau ke kiri.

Card image
COMMITMEN TO LOVE OTHERS - 26 Januari 2026 (English Version)
2026-01-27 14:44:31


Love is the primary identity of believers. Jesus said, “By this everyone will know that you are My disciples, if you love one another” (John 13:35). Love is not merely a feeling, but a commitment: a commitment to accept, understand, serve, and give ourselves to others, including those who are difficult to love. The commitment to love is not easy, yet it is the true sign of someone who lives in the light of Christ.

We often view love as an emotion that appears automatically. Yet true love is seen when we choose to keep loving, even when it is difficult. Romans 12:9 says, “Let love be without hypocrisy; abhor what is evil and cling to what is good.” Genuine love requires integrity. Love should not become a mask, but an action born from a transformed heart.

To love others means to see people the way God sees them. Everyone we meet—whether pleasant or hurtful—is a precious creation of God. To love others means realizing that the love we receive from God must flow, not stop with us. When we experience God’s forgiveness, we are called to forgive. When we receive His grace, we are called to extend that same grace to others.

However, loving others is often a significant challenge in life. Some people are frustrating, hurt, or difficult to approach. But true love does not discriminate. Jesus teaches us to love our enemies, pray for those who persecute us, and do good to those who do not return the favor. This is impossible to do by human strength, but possible through the Holy Spirit working in our hearts.

Love also means giving ourselves. Love is not passive; love moves actively. 1 John 3:18 says, “Let us not love with words or speech but with actions and in truth.” Love is visible in action: helping those in need, praying for the wounded, being present for the lonely, or giving time, energy, and attention to the people God has entrusted to us.

A commitment to love also means maintaining relationships. Conflict is part of life. However, those who are committed to love do not run from conflict. They choose to dialogue, forgive, and restore relationships. They reject bitterness and vengeance. They choose the path of reconciliation. Love repairs what is broken and restores what is lost.

Loving also means being humble. Many conflicts arise because of pride and the desire to win. But love teaches us to humble ourselves and to consider the interests of others (Philippians 2:3–4). Love makes us willing to apologize when we are wrong and admit mistakes without defending ourselves.

In addition, love also means being patient. Love does not demand instant change from others. Love gives space for others to grow. Just as God is patient with us, we are called to be patient with others: spouses, children, ministry partners, coworkers, or friends who are in the process of healing.

The peak of the commitment to love is sacrificial love. Jesus said, “Greater love has no one than this: to lay down one’s life for one’s friends” (John 15:13). True love gives, not takes. Love sacrifices ego, time, comfort, and even personal rights for the good of others.

Today, let us reflect: Do I genuinely love others, or only those who are easy to love? Are there relationships I need to restore? Do I give others space to grow? Is my love evident in action? Let us continue to build a commitment to love others, so that our identity as disciples of Christ is evident in this world. Amen.

May The Lord Jesus bless you?

LOVE IS NOT MERELY A FEELING, BUT A COMMITMENT: A COMMITMENT TO ACCEPT, UNDERSTAND, SERVE, AND GIVE OURSELVES TO OTHERS, INCLUDING THOSE WHO ARE DIFFICULT TO LOVE.

Card image
KOMITMEN UNTUK MENGASIHI SESAMA - 26 Januari 2026
2026-01-27 13:32:04


Kasih adalah identitas utama orang percaya. Yesus berkata, “Dengan demikian semua orang akan tahu bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jika kamu saling mengasihi” (Yoh. 13:35). Kasih bukan hanya perasaan, melainkan sebuah komitmen: komitmen untuk menerima, memahami, melayani, dan memberikan diri bagi sesama, termasuk mereka yang sulit dikasihi. Komitmen untuk mengasihi memang tidak mudah, namun itulah tanda nyata bahwa seseorang hidup dalam terang Kristus.

Sering kali kita memandang kasih sebagai emosi yang muncul secara otomatis. Padahal kasih sejati justru terlihat ketika kita memilih untuk tetap mengasihi meskipun sulit melakukannya. Roma 12:9 berkata, “Hendaklah kasih itu jangan pura-pura; jauhilah yang jahat dan lakukanlah yang baik.” Kasih yang sejati memerlukan integritas. Kasih tidak boleh menjadi topeng, melainkan tindakan yang lahir dari hati yang telah diubahkan.

Mengasihi sesama berarti memandang orang lain seperti Tuhan memandang mereka. Setiap orang yang kita temui—baik yang menyenangkan maupun yang menyakiti—adalah ciptaan Allah yang berharga. Mengasihi sesama berarti menyadari bahwa kasih yang kita terima dari Tuhan harus mengalir, bukan berhenti pada diri kita. Ketika kita mengalami pengampunan Tuhan, kita dipanggil untuk mengampuni. Ketika kita menerima kasih karunia-Nya, kita dipanggil untuk memberikan kasih karunia yang sama kepada orang lain.

Namun, mengasihi sesama sering menjadi tantangan besar dalam hidup. Ada orang-orang yang membuat kita frustrasi, menyakiti, atau sulit didekati. Tetapi kasih yang sejati tidak memilih-milih. Yesus mengajarkan kita untuk mengasihi musuh, mendoakan orang yang menganiaya kita, dan berbuat baik kepada mereka yang tidak membalas. Hal ini mustahil dilakukan dengan kekuatan manusia, tetapi melalui Roh Kudus yang bekerja dalam hati kita.

Kasih juga berarti memberi diri. Kasih tidak pasif; kasih aktif bergerak. 1 Yohanes 3:18 berkata, “Marilah kita mengasihi bukan dengan perkataan atau dengan lidah, tetapi dengan perbuatan dan dalam kebenaran.” Kasih terlihat dalam aksi: menolong mereka yang membutuhkan, mendoakan mereka yang terluka, hadir bagi mereka yang kesepian, atau memberikan waktu, tenaga, dan perhatian kepada orang-orang yang Tuhan percayakan kepada kita.

Komitmen untuk mengasihi juga berarti menjaga relasi. Konflik adalah bagian dari hidup. Namun, orang yang berkomitmen untuk mengasihi tidak lari dari konflik. Mereka memilih berdialog, mengampuni, dan memperbaiki hubungan. Mereka menolak kepahitan dan dendam. Mereka memilih jalan rekonsiliasi. Kasih memulihkan apa yang rusak dan mengembalikan apa yang hilang.

Mengasihi juga berarti rendah hati. Banyak konflik timbul karena kesombongan dan keinginan untuk menang sendiri. Namun kasih mengajar kita untuk merendahkan diri dan memikirkan kepentingan orang lain (Flp. 2:3–4). Kasih membuat kita mau meminta maaf ketika salah dan mengakui kesalahan tanpa membenarkan diri.

Selain itu, kasih juga berarti sabar. Kasih tidak menuntut perubahan instan dari orang lain. Kasih memberi ruang bagi orang lain untuk bertumbuh. Sama seperti Tuhan sabar terhadap kita, kita pun dipanggil untuk sabar terhadap sesama: pasangan, anak, rekan pelayanan, rekan kerja, atau teman yang sedang dalam proses pemulihan.

Puncak dari komitmen mengasihi adalah kasih yang berkorban. Yesus berkata, “Tidak ada kasih yang lebih besar daripada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya” (Yoh. 15:13). Kasih yang sejati memberi, bukan mengambil. Kasih mengorbankan ego, waktu, kenyamanan, bahkan hak pribadi demi kebaikan orang lain.

Hari ini, marilah kita merenungkan: Apakah saya sungguh-sungguh mengasihi sesama, atau hanya mereka yang mudah dikasihi? Adakah hubungan yang perlu saya pulihkan? Apakah saya memberi ruang bagi orang lain untuk bertumbuh? Apakah kasih saya terlihat dalam tindakan?

Mari kita terus membangun komitmen untuk mengasihi sesama, sehingga identitas kita sebagai murid Kristus nyata dalam dunia ini. Amin.

Tuhan Yesus memberkati?

KASIH BUKAN HANYA PERASAAN, MELAINKAN SEBUAH KOMITMEN. KOMITMEN UNTUK MENERIMA, MEMAHAMI, MELAYANI DAN MEMBERIKAN DIRI BAGI SESAMA, TERMASUK MEREKA YANG SULIT DIKASIHI.

Card image
Bacaan Alkitab Setahun - 26 Januari 2026
2026-01-27 13:29:33

Kejadian 41-42

Card image
KIDS DAILY DEVOTIONAL 25 Januari 2026 - HATI YANG GEMBIRA, HIDUP JADI RINGAN
2026-01-26 12:49:11


Amsal 17:22
“Hati yang gembira adalah obat yang manjur.”

Halo Rehobot Kids! Pernah nggak kamu tertawa sampai perut sakit karena bercanda dengan teman? Rasanya pasti seru dan menyenangkan, ya! Tawa itu seperti cahaya kecil yang membuat hari kita lebih cerah. Nah, di Amsal 17:22 ada ayat yang berkata, “Hati yang gembira adalah obat yang manjur.” Artinya, hati yang penuh sukacita dapat membuat hidup kita lebih ringan dan bahagia.

Tuhan senang ketika kita hidup dengan hati yang bersyukur. Tawa dan sukacita adalah hadiah dari Tuhan supaya kita bisa menikmati hidup, meskipun sesekali ada masalah yang membuat sedih. Ketika kita tertawa bersama teman, bermain bersama, atau saling menghibur, itu adalah berkat Tuhan yang menguatkan hati kita.

Rehobot Kids, ingat ya, kebahagiaan sejati bukan berasal dari hadiah mahal atau permainan baru, tetapi dari hati yang bersyukur. Ketika kita belajar bersyukur atas hal-hal kecil—punya teman, bisa bermain, bisa belajar, dan bisa tertawa—Tuhan memenuhi hati kita dengan sukacita yang tidak mudah hilang.

Jadi, yuk mulai hari ini kita jaga hati kita tetap gembira! Tertawalah bersama teman, bersyukurlah atas setiap berkat kecil, dan percaya bahwa Tuhan selalu memberikan sukacita bagi anak-anak yang dekat dengan-Nya. Dengan hati yang gembira, hidup terasa lebih ringan, penuh warna, dan lebih bahagia!

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 25 Januari 2026 (English Version) - COMING BECAUSE YOU LONG FOR HIM, NOT BECAUSE YOU HAVE TO
2026-01-26 12:46:51


“As the deer pants for streams of water, so my soul pants for You, my God.”
Psalm 42:2

Rehobot Youth, there is a big difference between coming because you long for God and coming out of obligation. One gives life; the other drains you. Healthy faith is always born out of longing, not force.

The psalmist isn’t talking about spiritual routines, but about a soul that is thirsty for God. When we live with gratitude, our hearts are slowly restored so we can long for God again—not just carry out spiritual activities.

Gratitude helps us remember why we came to God in the first place. Not because we have to, but because we need Him. Not because we’re afraid, but because we love Him.

This Sunday, let’s come before God with a heart that longs for Him, not a heart that feels forced. Because God always values a sincere response.

WHAT TO DO?
1. Ask your heart: do I come to God because I long for Him, or because it’s routine?
2. Give thanks for the opportunity to worship today.
3. Allow God to restore your longing for Him again.

BIBLE MARATHON:
Luke 10

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 25 Januari 2026 - DATANG KARENA RINDU, BUKAN TERPAKSA
2026-01-26 12:45:14


“Seperti rusa yang merindukan sungai yang berair, demikianlah jiwaku merindukan Engkau, ya Allah.” Mazmur 42:2

Rehobot Youth, ada perbedaan besar antara datang karena rindu dan datang karena kewajiban. Yang satu menghidupkan, yang lain melelahkan. Iman yang sehat selalu lahir dari kerinduan, bukan keterpaksaan.

Pemazmur nggak sedang bicara soal rutinitas rohani, tapi soal jiwa yang haus akan Tuhan. Saat kita hidup dengan rasa syukur, hati kita perlahan dipulihkan untuk kembali rindu kepada Tuhan — bukan sekadar menjalankan aktivitas rohani.

Syukur menolong kita mengingat mengapa kita datang kepada Tuhan sejak awal. Bukan karena harus, tapi karena kita butuh. Bukan karena takut, tapi karena mengasihi.

Di hari Minggu ini, mari datang ke hadapan Tuhan dengan hati yang rindu, bukan hati yang terpaksa. Karena Tuhan selalu menghargai respons yang tulus.

WHAT TO DO?
1. Tanyakan pada hatimu: aku datang kepada Tuhan karena rindu atau karena rutinitas?
2. Ucapkan syukur atas kesempatan beribadah hari ini.
3. Izinkan Tuhan memulihkan kembali kerinduanmu kepada-Nya.

BIBLE MARATHON:
Lukas 10

Card image
Renungan Pagi - 25 Januari 2026
2026-01-25 22:47:13


Orang yang senantiasa membaca, merenungkan dan menghidupi firman Tuhan, maka hidupnya semakin hari semakin berubah, prilakunya akan berubah, sikap dan cara menyelesaikan masalah juga akan semakin bijaksana.

Dan seluruh hidup kita semakin hari semakin menuju pada kesempurnaan, yang menyenangkan hati Tuhan dan menjadi berkat bagi banyak orang.

Card image
Quote Of The Day - 25 Januari 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-01-25 22:46:00


Setiap hari Tuhan pasti menyediakan berkat rhema melalui keadaan dan pergumulan hidup.

Card image
Mutiara Suara Kebenaran - 25 Januari 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-01-25 22:43:36


Pergumulan hidup kita bukan terletak pada sukarnya mencari nafkah, sukarnya mempertahankan reputasi, membela harga diri dan nama baik, mengokohkan kedudukan dan kekuasaan; tetapi pada mempertahankan konsistensinya pada arah perjalanan hidup yang benar, yaitu Tuhan dan Kerajaan-Nya saja.

Card image
COMMITMENT TO GROW: DAILY RENEWAL - 25 Januari 2026 (English Version)
2026-01-25 22:32:07


Spiritual growth is not something that happens automatically. Growth requires commitment, discipline, and a willingness to be renewed day by day. The apostle Paul in 2 Corinthians 4:16 said, “Our inner self is being renewed day by day.” This shows that spiritual renewal is not an occasional event but a life rhythm that continues without stopping. God does not want us to become stagnant Christians; He wants us to keep moving forward, leaving the old self behind and putting on the new self (Colossians 3:10).

However, many believers stop growing after their initial conversion. They feel they have already done enough because they go to church regularly, join ministries, or participate in various spiritual activities. But spiritual activity is not the same as spiritual growth. Spiritual growth happens when the heart continues to be shaped, the mind continues to be renewed, and character continues to be transformed.

Spiritual growth requires a willingness to be shaped. Like clay in the potter’s hands (Jeremiah 18), growth begins when we open ourselves to be touched, shaped, and even crushed by the hands of God. A hard heart, self-righteousness, or a sense of sufficiency are the biggest obstacles to spiritual renewal. Commitment to grow means having the humility to say, “Lord, shape me according to Your will,” not according to the standards of the world, not according to the desires of the flesh, but according to God’s perfect design.

In addition, spiritual growth requires spiritual discipline. No Christian grows without the Word, prayer, fellowship, and obedience. The Word of God is the spiritual food that nourishes our inner being. Prayer is the breath of spiritual life that connects us to the source of strength. Fellowship is the place where we are taught, corrected, and strengthened. Obedience is the visible expression of our growth. Without these disciplines, spiritual growth becomes stagnant.

One of the biggest challenges to spiritual growth is busyness. The modern world often leaves many believers consumed with work, school, ministry, family matters, and social media. Spiritual life usually becomes the last priority. Many people want to grow, but they do not make time for God. Spiritual growth requires the commitment to create space for God to work in our lives. There is no renewal without quality time with the Lord.

Growth also requires process. Not all change happens at once. Some areas of our lives God restores quickly, but others He shapes gradually. Sometimes we become frustrated when we see parts of our lives that have not yet changed. However, spiritual growth is not a sprint — it is a long marathon. God works in His patience and steadfast love; our task is to make ourselves available in that process continually.

A mindset change also marks spiritual growth. Romans 12:2 emphasizes that transformation happens through the renewal of the mind. When the Word renews our minds, our way of viewing life, making decisions, facing pressure, and responding to others also changes. The renewal of the mind produces transformed character. Therefore, commitment to grow means we are willing to let go of old patterns of thinking — worldly, selfish, and reactive — and replace them with the mind of Christ.

Another mark of growth is maturity in facing struggles. A growing person is not someone whose life is free of problems, but someone who sees problems as tools of God’s formation. Life’s difficulties are not obstacles to growth; they are often God’s most incredible instrument of development. Through struggles, God exposes wrong motives, teaches us perseverance, deepens our faith, and shapes Christlike character.

In the end, commitment to grow means we are not satisfied with our current spiritual condition. We continually pursue Christlikeness. The questions we need to reflect on are: Is my life becoming more like Christ day by day? Am I making time for the Word and prayer? Am I open to correction and shaping from God? Do I view struggles as part of God’s formation? May today be a moment to renew our commitment. Amen.

May The Lord Jesus bless you

SPIRITUAL RENEWAL IS NOT AN OCCASIONAL EVENT BUT A LIFE RHYTHM THAT CONTINUES WITHOUT STOPPING.

Card image
KOMITMEN UNTUK BERTUMBUH: PEMBARUAN SETIAP HARI - 25 Januari 2026
2026-01-25 22:05:54


Pertumbuhan rohani bukan sesuatu yang terjadi secara otomatis. Pertumbuhan memerlukan komitmen, kedisiplinan, dan kesediaan untuk terus diperbarui dari hari ke hari. Rasul Paulus dalam 2 Korintus 4:16 berkata, “Manusia batiniah kita dibarui dari sehari ke sehari.” Ini menunjukkan bahwa pembaruan rohani bukan peristiwa sesekali, melainkan ritme hidup yang berlangsung terus-menerus. Allah tidak menghendaki kita menjadi orang Kristen yang statis; Ia ingin kita terus maju, meninggalkan manusia lama, dan mengenakan manusia baru (Kol. 3:10).

Namun, banyak orang percaya berhenti bertumbuh setelah pertobatan awal. Mereka merasa sudah cukup karena aktif ke gereja, ikut pelayanan, atau terlibat dalam berbagai kegiatan rohani. Padahal aktivitas rohani tidak sama dengan pertumbuhan rohani. Pertumbuhan rohani terjadi ketika hati terus dibentuk, pikiran terus diperbarui, dan karakter terus mengalami transformasi.

Pertumbuhan rohani memerlukan kesediaan untuk dibentuk. Seperti tanah liat di tangan penjunan (Yer. 18), pertumbuhan dimulai ketika kita membuka diri untuk disentuh, dibentuk, bahkan diremukkan oleh tangan Tuhan. Sikap hati yang keras, merasa benar sendiri, atau merasa cukup merupakan penghalang terbesar bagi pembaruan rohani. Komitmen untuk bertumbuh berarti kita memiliki kerendahan hati untuk berkata, “Tuhan, bentuklah aku menurut kehendak-Mu,” bukan menurut standar dunia, bukan menurut keinginan daging, melainkan menurut rancangan Allah yang sempurna.

Selain itu, pertumbuhan rohani memerlukan disiplin rohani. Tidak ada orang Kristen yang bertumbuh tanpa firman, doa, persekutuan, dan ketaatan. Firman Tuhan adalah makanan rohani yang memberi nutrisi bagi manusia batiniah kita. Doa adalah napas kehidupan rohani yang menghubungkan kita dengan sumber kekuatan. Persekutuan adalah tempat kita diajar, ditegur, dan dikuatkan. Ketaatan adalah wujud nyata pertumbuhan kita. Tanpa disiplin ini, pertumbuhan rohani akan stagnan.

Salah satu tantangan besar bagi pertumbuhan rohani adalah kesibukan. Dunia modern membuat banyak orang percaya tenggelam dalam pekerjaan, sekolah, pelayanan, urusan keluarga, dan media sosial. Kehidupan rohani sering kali menjadi prioritas terakhir. Banyak orang ingin bertumbuh, tetapi tidak menyediakan waktu untuk Tuhan. Pertumbuhan rohani memerlukan komitmen untuk menyediakan ruang bagi Allah bekerja dalam hidup kita. Tidak ada pembaruan tanpa waktu berkualitas bersama Tuhan.

Pertumbuhan juga memerlukan proses. Tidak semua perubahan terjadi sekaligus. Ada area hidup yang Tuhan pulihkan dengan cepat, tetapi ada pula area yang Tuhan bentuk perlahan-lahan. Kadang kita merasa frustrasi ketika melihat bagian hidup kita yang belum berubah. Namun, pertumbuhan rohani bukan perlombaan cepat, melainkan maraton panjang. Tuhan bekerja dalam kesabaran dan kasih setia-Nya; tugas kita adalah terus menyediakan diri di dalam proses tersebut.

Pertumbuhan rohani juga ditandai oleh perubahan cara berpikir. Roma 12:2 menegaskan bahwa transformasi terjadi melalui pembaruan budi. Ketika pikiran kita diperbarui oleh firman, cara kita memandang hidup, mengambil keputusan, menghadapi tekanan, dan merespons orang lain juga berubah. Pembaruan pikiran menghasilkan transformasi karakter. Karena itu, komitmen untuk bertumbuh berarti kita rela meninggalkan pola pikir lama yang duniawi, egois, dan reaktif, lalu menggantinya dengan pola pikir Kristus.

Satu lagi ciri pertumbuhan adalah kedewasaan dalam menghadapi pergumulan. Orang yang bertumbuh bukan orang yang hidupnya bebas masalah, melainkan orang yang mampu melihat masalah sebagai alat pembentukan Allah. Kesulitan hidup bukan penghalang pertumbuhan; justru sering kali menjadi sarana pertumbuhan yang terbesar. Melalui pergumulan, Allah membuka motif-motif hati yang salah, mengajarkan kita ketekunan, memperdalam iman, dan menumbuhkan karakter yang serupa Kristus.

Pada akhirnya, komitmen untuk bertumbuh berarti kita tidak puas dengan keadaan rohani kita saat ini. Kita terus mengejar keserupaan dengan Kristus. Pertanyaan yang perlu kita renungkan ialah: Apakah hidup saya semakin menyerupai Kristus hari demi hari? Apakah saya menyediakan waktu bagi firman dan doa? Apakah saya terbuka untuk ditegur dan dibentuk Tuhan? Apakah saya memandang pergumulan sebagai bagian dari pembentukan Allah? Kiranya hari ini menjadi momen untuk memperbarui komitmen kita. Amin.

Tuhan Yesus memberkati

PEMBARUAN ROHANI BUKAN PERISTIWA SESEKALI, MELAINKAN RITME HIDUP YANG BERLANGSUNG TERUS-MENERUS.

Card image
Bacaan Alkitab Setahun - 25 Januari 2026
2026-01-25 21:58:40

Kejadian 38-40

Card image
KIDS DAILY DEVOTIONAL 24 Januari 2026 - KOMITMEN KEPADA ALLAH: DASAR SEGALA SESUATU
2026-01-25 21:20:47


Kisah Para Rasul 20:35
“Adalah lebih berbahagia memberi daripada menerima.”

Halo Rehobot Kids! Bagaimana kabarnya hari ini? Semoga kalian semua dalam keadaan sehat, ya! Pernah nggak kamu merasa sangat senang saat memberi sesuatu kepada teman? Misalnya saat kamu memberikan stiker lucu, makanan kecil, atau sekadar membantu mengangkat buku mereka. Rasanya hangat, seperti ada kebahagiaan kecil yang muncul di hati. Itu karena TUHAN menciptakan kita untuk saling memberi dan menolong.

Di Kisah Para Rasul 20:35, kita diajarkan untuk berbagi bukan supaya dipuji atau dibalas, tetapi karena Tuhan yang mengisi hati kita dengan sukacita. Memberi bukan cuma soal barang, tapi juga perhatian, waktu, dan kebaikan. Bayangkan kalau kamu melihat teman yang sedih, lalu kamu menyapanya dan berkata, “Ayo semangat! Kamu nggak sendirian.” Itu juga bentuk pemberian! Atau saat kamu berbagi bekal dengan teman yang lupa membawa makanan—kamu sedang menjadi saluran berkat Tuhan di sekolahmu.

Rehobot Kids, Tuhan sangat sayang kepada anak-anak yang berhati murah hati. Tuhan melihat setiap kebaikan kecil yang kita lakukan, meskipun orang lain tidak melihatnya. Karena itu, jangan lelah berbuat baik, ya!

Bersyukurlah karena Tuhan memberi kita kesempatan untuk menjadi berkat bagi orang lain. Ketika kita memberi dengan tulus, Tuhan bangga melihat hati kita yang penuh kasih.

Yuk, mulai hari ini kita belajar memberi tanpa berharap balasan. Karena hati yang suka memberi adalah hati yang membuat Tuhan bersukacita!

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 24 Januari 2026 (English Version) - WHEN THE HEART IS TRULY PRESENT
2026-01-25 21:14:25


“This people honors Me with their lips, but their heart is far from Me.”
Matthew 15:8

Rehobot Youth, God doesn’t only hear our words—He sees our hearts. We can do many spiritual things—attend worship, raise our hands during praise, even serve—but our hearts can still be distracted and elsewhere.

Today’s Word gently but clearly confronts us: worship without the heart is not what God desires. God longs for hearts that are present, not just bodies that show up.

When we live with gratitude, our hearts get involved. We come to God not because of a schedule, but because we realize that without Him, our lives are empty. Gratitude transforms spiritual habits into real encounters.

So today, don’t just go through the motions of faith. Bring your heart. Because God is always fully present for us.

WHAT TO DO?
1. When you pray or worship today, pause for a moment and engage your heart.
2. Confess to God if you’ve often come without truly being present.
3. Give thanks before spiritual activities so your heart is ready to respond.

BIBLE MARATHON:
Luke 9

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 24 Januari 2026 - SAAT HATI IKUT HADIR
2026-01-25 21:10:43


“Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku.”
Matius 15:8

Rehobot Youth, Tuhan bukan cuma dengar kata-kata kita, Dia lihat hati kita. Kita bisa melakukan banyak hal rohani — datang ibadah, angkat tangan saat pujian, bahkan pelayanan — tapi hati kita bisa saja lagi ke mana-mana.

Firman Tuhan hari ini menampar dengan lembut: ibadah tanpa hati bukan yang Tuhan rindukan. Tuhan rindu hati yang hadir, bukan sekadar tubuh yang datang.

Saat kita hidup dengan syukur, hati kita terlibat. Kita datang ke Tuhan bukan karena jadwal, tapi karena kesadaran bahwa tanpa Dia, hidup kita kosong. Syukur mengubah kebiasaan rohani menjadi perjumpaan yang nyata.

Jadi hari ini, jangan cuma jalani rutinitas iman. Hadirkan hatimu. Karena Tuhan selalu hadir sepenuhnya bagi kita.

WHAT TO DO?
1. Saat berdoa atau beribadah hari ini, pause sebentar dan libatkan hatimu.
2. Akui ke Tuhan jika selama ini kamu sering datang tanpa sungguh-sungguh hadir.
3. Ucapkan syukur sebelum beraktivitas rohani, supaya hatimu siap me respons.

BIBLE MARATHON:
Lukas 9

Card image
Renungan Pagi - 24 Januari 2026
2026-01-25 21:02:17


Tuhan tidak tertarik dengan kepandaian seseorang berkotbah, dengan kemerduan suara seseorang bernyanyi; Tuhan tertarik dengan kekudusan hidup seseorang.

Berarti siapapun kita, selama hidup dalam kebenaran dan kekudusan Tuhan berkenan, karena itu mari berkomitmen untuk hidup dalam kekudusan.

Card image
Quote Of The Day - 24 Januari 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-01-25 21:00:51


Semakin seseorang memiliki pengetahuan yang memadai mengenai logos, maka semakin peka menangkap suara Tuhan melalui semua peristiwa kehidupan yang didengar, dilihat dan dialami.

Card image
Mutiara Suara Kebenaran - 24 Januari 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-01-25 20:59:59


Kalau seseorang salah dalam mengarahkan hidupnya, maka Tuhan tidak bisa membuat ia menemukan Kerajaan-Nya. Inilah tatanan Allah.

Card image
KOMITMEN KEPADA ALLAH: DASAR SEGALA SESUATU - 24 Januari 2026
2026-01-24 23:16:23


Komitmen adalah fondasi dari setiap hubungan, termasuk hubungan manusia dengan Allah. Ketika Tuhan Yesus berkata, “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu, dengan segenap jiwamu, dan dengan segenap akal budimu” (Mat. 22:37), Ia menegaskan bahwa hubungan kita dengan Allah menuntut totalitas. Komitmen kepada Allah bukan sekadar aktivitas religius atau tradisi rohani; komitmen adalah orientasi hidup, penyerahan diri secara total kepada Tuhan sebagai pusat dan tujuan utama kita. Tanpa komitmen yang benar kepada Allah, segala bentuk pelayanan, moralitas, dan aktivitas rohani tidak akan memiliki makna yang mendalam.

Sering kali orang Kristen mengalami kebingungan rohani, kelelahan batin, kehilangan arah dalam mengiring Tuhan, bahkan kehilangan sukacita dalam pelayanan—bukan karena mereka tidak rajin atau tidak berdoa, melainkan karena komitmen utama mereka bergeser. Fokus hidup yang semula diarahkan kepada Allah perlahan-lahan digantikan oleh ambisi pribadi, rutinitas gerejawi, atau tekanan hidup sehari-hari. Mazmur 37:5 berkata, “Serahkanlah hidupmu kepada TUHAN dan percayalah kepada-Nya, dan Ia akan bertindak.” Ayat ini menegaskan bahwa komitmen kepada Allah harus diwujudkan melalui penyerahan hidup yang nyata.

Penyerahan hidup bukan sekadar perasaan, melainkan keputusan yang disertai tindakan. Ketika seseorang menyerahkan hidupnya kepada Tuhan, itu berarti ia mempercayakan seluruh aspek hidupnya—masa depan, pekerjaan, keluarga, hubungan, keuangan, bahkan pergumulan batinnya—ke dalam tangan Tuhan. Tanpa penyerahan, komitmen akan mudah goyah ketika badai dan masa-masa sulit melanda. Tetapi dengan menyerahkan hidup kepada Tuhan, seseorang memperoleh kekuatan untuk tetap taat dan setia sekalipun keadaan hidup berubah-ubah.

Komitmen kepada Allah juga berarti menjadikan kehendak Tuhan sebagai ukuran utama dalam pengambilan keputusan. Banyak orang Kristen berkata bahwa mereka mengasihi Tuhan, tetapi ketika dihadapkan pada pilihan hidup, mereka lebih memilih kenyamanan daripada ketaatan. Komitmen kepada Allah mengajar kita berkata seperti pemazmur, “Ajarlah aku melakukan kehendak-Mu, sebab Engkaulah Allahku!” (Mzm. 143:10). Artinya, komitmen bukan hanya tentang apa yang ingin kita lakukan untuk Tuhan, tetapi tentang apa yang Tuhan kehendaki kita lakukan dalam hidup ini.

Selain itu, komitmen kepada Allah memerlukan konsistensi. Komitmen bukan keputusan satu kali, melainkan keputusan yang diperbarui setiap hari. Itulah sebabnya Yesus berkata dalam Lukas 9:23, “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari, dan mengikut Aku.” Ungkapan “setiap hari” menunjukkan bahwa komitmen rohani bukan momen sesaat, tetapi perjalanan panjang yang menuntut disiplin dan pengorbanan.

Komitmen juga menuntut kesetiaan ketika Allah tidak bekerja seperti yang kita harapkan. Banyak orang mulai meragukan Tuhan ketika doa mereka tidak dijawab, ketika hidup tidak berjalan mulus, atau ketika mengalami kekecewaan. Namun, komitmen sejati kepada Allah tidak ditentukan oleh kondisi, melainkan oleh hubungan yang tidak tergoyahkan. Seperti Ayub berkata, “Sekalipun Ia membunuh aku, namun aku akan berharap kepada-Nya” (Ayb. 13:15). Itulah suara dari hati yang berkomitmen.

Salah satu tantangan terbesar dalam komitmen kepada Allah adalah godaan untuk membagi kesetiaan. Banyak orang ingin setia kepada Tuhan, tetapi pada saat yang sama mempertahankan keinginan duniawi yang bertentangan dengan firman-Nya. Yesus berkata, “Tidak seorang pun dapat mengabdi kepada dua tuan.” Komitmen kepada Allah menuntut eksklusivitas: tidak ada ilah lain, tidak ada kepentingan lain, dan tidak ada ambisi lain yang boleh mengambil tempat utama dalam hidup kita.

Pada akhirnya, komitmen kepada Allah selalu menghasilkan transformasi. Orang yang sungguh-sungguh menyerahkan hidupnya kepada Tuhan akan mengalami perubahan karakter, pembaruan pikiran, dan arah hidup yang semakin jelas. Komitmen kepada Allah menjadi fondasi bagi semua komitmen lain dalam hidup kita: komitmen kepada keluarga, gereja, pekerjaan, pelayanan, dan sesama.

Karena itu, mari kita renungkan bersama: Apakah Allah masih menjadi pusat dari seluruh keputusan hidup saya? Apakah ada area yang belum saya serahkan sepenuhnya kepada-Nya? Apakah komitmen saya kepada Allah hanya muncul saat saya membutuhkan Dia, atau hadir dalam setiap musim hidup saya? Marilah kita terus memperbarui komitmen kita kepada Bapa, Elohim, Yahweh.

Tuhan Yesus memberkati?

KOMITMEN ADALAH FONDASI DARI SETIAP HUBUNGAN, TERMASUK HUBUNGAN, TERMASUK HUBUNGAN MANUSIA DENGAN ALLAH.

Card image
Bacaan Alkitab Setahun - 24 Januari 2026
2026-01-24 23:06:47

Kejadian 35-36

Card image
KIDS DAILY DEVOTIONAL 23 Januari 2026 - FIRMAN ITU PELITA UNTUK BERSYUKUR
2026-01-23 21:58:32


Mazmur 119:105
“Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku.”

Sophia adalah murid kelas 5 SD yang setia datang ke Sekolah Minggu. Ia juga rajin membaca Firman Tuhan setiap hari. Suatu pagi, Sophia bangun dengan rasa kesal karena harus berangkat sekolah saat hujan deras. Sepatunya basah, jalannya licin, dan ia merasa hari itu pasti buruk.

Di sekolah, teman-temannya juga ramai dan membuatnya makin tidak nyaman. Saat istirahat, Sophia duduk sendiri dan hampir mengeluh lagi. Tapi ia teringat ayat yang sering ia baca: Firman Tuhan adalah pelita dan terang. Sophia pun membuka Alkitab kecilnya dan membaca satu ayat tentang mengucap syukur. Hatinya mulai tenang.

Sophia lalu mencoba melihat hal-hal baik di hari itu. Ia masih bisa sekolah, masih punya payung, masih punya bekal, dan masih punya teman yang bisa diajak bermain. Ia berdoa pelan, “Tuhan, terima kasih ya, walau hari ini hujan, Engkau tetap menjaga aku.”

Sore harinya, mama Sophia bertanya bagaimana harinya. Sophia tersenyum dan berkata, “Tadi aku sempat kesal, Ma. Tapi Firman Tuhan ingatkan aku untuk bersyukur. Aku jadi lebih tenang.” Mamanya senang dan berkata, “Nah, itu tanda Firman Tuhan menerangi jalanmu. Bersyukur membuat hati kita melihat kebaikan Tuhan, bahkan saat keadaan tidak sempurna.”

Rehobot Kids, Firman Tuhan menolong kita belajar mengucap syukur setiap hari. Saat kamu ingin mengeluh, ingatlah bahwa Tuhan tetap menyertaimu dan selalu punya kebaikan untuk kamu lihat. Yuk, biarkan Firman Tuhan menjadi pelita yang menuntun kita hidup dengan hati yang bersyukur!

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 23 Januari 2026 - MORE THAN JUST A HABIT
2026-01-23 21:55:14


“Therefore, I urge you, brothers and sisters, in view of God’s mercy, to offer your bodies as a living sacrifice, holy and pleasing to God—this is your true worship.”
Romans 12:1

Rehobot Youth, without realizing it, faith can turn into routine. Prayer becomes a habit. Worship becomes a schedule. Serving becomes an obligation. Everything is done, but the heart is no longer involved.

But God never longs for empty routines. He longs for a heartfelt response. Romans 12:1 reminds us that our very lives are worship—not just the spiritual activities we do, but the posture of our hearts that we carry every day.

When we live with gratitude, everything we do changes meaning. We pray not because we have to, but because we realize we need God. We serve not to be recognized, but as an expression of thanks for His love.

Gratitude brings faith back to life when it starts to feel flat. From mere routine, it becomes a loving response to God, who loved us first.

WHAT TO DO?
1. Evaluate one of your spiritual habits: is it still a heartfelt response or just a routine?
2. Do one thing today with full awareness that it is worship to God.
3. Give thanks before doing your spiritual routines so that your heart is involved.

BIBLE MARATHON:
Luke 8

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 23 Januari 2026 - LEBIH DARI SEKADAR KEBIASAAN
2026-01-23 21:53:21


“Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.”
Roma 12:1

Rehobot Youth, tanpa sadar iman bisa berubah jadi rutinitas. Doa jadi kebiasaan. Ibadah jadi jadwal. Pelayanan jadi kewajiban. Semuanya dilakukan, tapi hati nggak lagi terlibat.

Padahal Tuhan nggak pernah rindu rutinitas kosong. Dia rindu respons hati. Roma 12:1 mengingatkan bahwa hidup kita sendiri adalah ibadah — bukan cuma aktivitas rohani yang kita lakukan, tapi sikap hati yang kita bawa setiap hari.

Saat kita hidup dengan rasa syukur, semua yang kita lakukan berubah makna. Kita berdoa bukan karena harus, tapi karena sadar kita butuh Tuhan. Kita melayani bukan demi dinilai, tapi sebagai ungkapan terima kasih atas kasih-Nya.

Syukur menghidupkan kembali iman yang mulai terasa datar. Dari sekadar rutinitas, menjadi respons kasih kepada Tuhan yang lebih dulu mengasihi kita.

WHAT TO DO?
1. Evaluasi satu kebiasaan rohanimu: masihkah itu respons hati atau hanya rutinitas?
2. Lakukan satu hal hari ini dengan kesadaran penuh bahwa itu adalah ibadah bagi Tuhan.
3. Ucapkan syukur sebelum melakukan rutinitas rohani, supaya hatimu ikut terlibat.

BIBLE MARATHON:
Lukas 8

Card image
Renungan Pagi - 23 Januari 2026
2026-01-23 21:50:34


Apapun boleh terjadi dalam kehidupan, tapi bukti kasih Allah kepada kita yaitu kalau hidup benar Tuhan tidak akan meninggalkan, Dia mendengar doa dan seruan kita.

Bahkan bukan hanya mendengar doa kita, tapi Tuhan juga akan bertindak, Tuhan menolong bahkan Tuhan akan menyelesaikan segala persoalan hidup sampai tuntas.

Karena itu jaga langkah hidup agar kita tetap berlaku benar dan berkenan dihadapan Tuhan.

Card image
Quote Of The Day - 23 Januari 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-01-23 21:47:04


Bapa memberikan rhema untuk orang percaya agar bertumbuh dan mengenakan kodrat ilahi.

Card image
Mutiara Suara Kebenaran - 23 Januari 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-01-23 21:45:47


Orang percaya harus mengerti kebenaran Firman Tuhan, yaitu prinsip-prinsip kebenaran dalam Injil. 

Card image
COMMITMENT IN OBEDIENCE: DOING WHAT GOD DESIRES - 23 Januari 2026 (English Version)
2026-01-23 21:32:11


Obedience is the real proof of our commitment to God. Jesus said, “If you love Me, you will keep My commandments” (John 14:15). This means that love for God is not measured merely by words, worship songs, or spiritual activities, but through concrete actions that align with His will. Obedience shows that God truly is Lord over our lives.

However, obedience is not always easy. Many things in life often conflict with God’s will. The world offers shortcuts, instant solutions, and temporary comfort. The flesh pushes us toward personal pleasure. Social pressure usually leads us to compromise. Therefore, obedience requires strong commitment — the commitment to say “yes” to God even when the choice is difficult, unpopular, or uncomfortable.

In 1 Samuel 15:22, Samuel rebuked Saul and said, “Obedience is better than sacrifice.” Saul carried out part of God’s command, but chose to ignore the rest. He gave spiritual excuses for his disobedience. But to God, complete obedience is far more critical than grand rituals. We may serve excellently, give extensive offerings, or be active in many church ministries, but if our hearts are not obedient, none of it pleases Him.

Obedience also demands the willingness to surrender our own will. Many are willing to obey as long as God’s will aligns with their desires. But faithful obedience appears when God asks us to do something we do not like or do not understand. Abraham obeyed when God asked him to sacrifice Isaac, the son he deeply loved. Moses obeyed when God told him to return to Egypt, the place he had once fled. Jesus obeyed to the point of death — even death on a cross. They obeyed not because they understood everything, but because they trusted the God who called them.

Obedience is also a learning process. No one becomes perfectly obedient instantly. Peter needed a long journey to grow into a disciple of obedience. At first, he was impulsive, easily frightened, and even denied Jesus. But God did not give up on him. Obedience is built through experiences of falling and rising, through correction and restoration. God does not demand instant perfection, but He does demand a heart that is willing to be shaped.

One of the most significant challenges in obedience is consistency. It is easy to obey when things are going well, but difficult when we are under pressure. Yet it is precisely in those moments that the quality of our obedience is tested. In times of hardship, we tend to make quick decisions based on emotion rather than on the Word of God. But obedience demands that we continue to walk in God’s ways, even when the path is narrow.

Obedience also requires courage — the courage to be different from the world, to reject sin, to leave unhealthy relationships, to say “no” to temptation, and to stand on God’s side even if it costs us comfort, opportunity, or human approval.

Ultimately, the commitment to obey is the commitment to walk with God every day. The question for us today is: Am I doing God’s will or my own will? Do I obey only when it is comfortable? Am I willing to follow even when I do not understand? May the Holy Spirit enable us to remain committed to obeying the Father, just as our Lord Jesus Christ did. Amen.

May The Lord Jesus bless you?

BUT TO GOD, COMPLETE OBEDIENCE IS FAR MORE CRITICAL THAN GRAND RITUALS.

Card image
KOMITMEN DALAM KETAATAN: MELAKUKAN YANG TUHAN KEHENDAKI - 23 Januari 2026
2026-01-23 21:28:59

Ketaatan adalah bukti nyata dari komitmen kita kepada Allah. Yesus berkata, “Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku” (Yoh. 14:15). Artinya, kasih kepada Tuhan tidak hanya diukur melalui kata-kata, lagu-lagu penyembahan, atau aktivitas rohani, melainkan melalui tindakan konkret yang sesuai dengan kehendak-Nya. Ketaatan menunjukkan bahwa Allah sungguh-sungguh menjadi Tuhan dalam hidup kita.

Namun, ketaatan tidak selalu mudah. Ada banyak hal dalam hidup yang sering kali bertentangan dengan kehendak Tuhan. Dunia menawarkan jalan cepat, solusi instan, dan kenyamanan sesaat. Daging mendorong kita menuju kesenangan pribadi. Tekanan sosial sering membuat kita berkompromi. Karena itu, ketaatan memerlukan komitmen yang kuat: komitmen untuk berkata “ya” kepada Allah meskipun pilihan itu sulit, tidak populer, atau tidak nyaman.

Dalam 1 Samuel 15:22, Samuel menegur Saul dan berkata, “Ketaatan lebih baik daripada korban.” Saul menjalankan sebagian perintah Tuhan, tetapi memilih untuk mengabaikan sebagian lainnya. Ia memberi alasan rohani untuk ketidaktaatannya. Namun bagi Tuhan, ketaatan yang utuh lebih penting daripada ritual yang megah. Kita mungkin melayani dengan luar biasa, memberi persembahan besar, atau aktif dalam banyak kegiatan gereja, tetapi jika hati kita tidak taat, semua itu tidak berkenan kepada-Nya.

Ketaatan juga menuntut kerelaan untuk meninggalkan kehendak kita sendiri. Banyak orang bersedia taat selama kehendak Tuhan sejalan dengan keinginan mereka. Namun ketaatan sejati tampak ketika Tuhan meminta kita melakukan sesuatu yang tidak kita sukai atau tidak kita mengerti. Abraham taat ketika Tuhan meminta Ishak, anak yang sangat ia kasihi. Musa taat ketika Tuhan menyuruhnya kembali ke Mesir, tempat ia dahulu melarikan diri. Yesus taat sampai mati, bahkan mati di kayu salib. Mereka taat bukan karena memahami semuanya, melainkan karena percaya kepada Allah yang memanggil mereka.

Ketaatan juga memerlukan proses pembelajaran. Tidak ada orang yang langsung sempurna dalam ketaatan. Petrus membutuhkan waktu panjang untuk bertumbuh menjadi murid yang taat. Pada awalnya ia impulsif, mudah takut, bahkan menyangkal Yesus. Namun Tuhan tidak menyerah atas hidupnya. Ketaatan dibangun melalui pengalaman jatuh-bangun, melalui proses teguran dan pemulihan. Tuhan tidak menuntut ketaatan sempurna seketika, tetapi Ia menuntut hati yang mau dibentuk.

Salah satu tantangan terbesar dalam ketaatan adalah konsistensi. Mudah taat ketika keadaan baik, tetapi sulit ketika kita berada dalam tekanan. Namun justru di tengah situasi itulah kualitas ketaatan kita diuji. Dalam kesusahan, kita cenderung mengambil keputusan cepat berdasarkan perasaan, bukan berdasarkan firman. Padahal ketaatan menuntut agar kita tetap berjalan di jalan Tuhan, sekalipun itu jalan yang sempit.

Ketaatan juga memerlukan keberanian: keberanian untuk berbeda dari dunia, menolak dosa, meninggalkan hubungan yang tidak sehat, berkata “tidak” kepada godaan, serta berdiri di pihak Allah meskipun kita harus kehilangan kenyamanan, kesempatan, atau persetujuan manusia.

Akhirnya, komitmen untuk taat adalah komitmen untuk berjalan bersama Tuhan setiap hari. Pertanyaannya bagi kita hari ini: Apakah saya melakukan kehendak Tuhan atau kehendak saya sendiri? Apakah saya hanya taat ketika nyaman? Apakah saya bersedia taat sekalipun tidak mengerti? Kiranya Roh Kudus memampukan kita untuk terus berkomitmen taat kepada Bapa, seperti Tuhan kita Yesus Kristus. Amin.

Tuhan Yesus memberkati?

BAGI TUHAN, KETAATAN YANG UTUH LEBIH PENTING DARIPADA RITUAL YANG MEGAH.

Card image
Bacaan Alkitab Setahun - 23 Januari 2026
2026-01-23 19:54:12

Kejadian 32-34

Card image
KIDS DAILY DEVOTIONAL 22 Januari 2026 - SABAR DAN TETAP BERSYUKUR
2026-01-23 18:03:09


Mazmur 37:7
“Berdiam dirilah di hadapan TUHAN dan nantikanlah Dia; jangan marah karena orang yang berhasil dalam hidupnya, karena orang yang melakukan tipu daya.”

“ Ah… aku kesal sekali!” Heru berseru dengan wajah muram. Ternyata Heru tidak terpilih menjadi pemain drum untuk acara Sekolah Minggu. Ia merasa semua latihannya sia-sia, sehingga hatinya sedih dan kecewa.

Heru pulang ke rumah dengan langkah lesu. Melihat itu, mamanya bertanya apa yang terjadi. Heru langsung memeluk mama sambil menangis dan berkata bahwa ia merasa Tuhan tidak mendengar doanya, padahal ia sangat ingin terpilih.

Mama Heru menenangkannya lalu berkata, “Tuhan bukan tidak mendengar doamu, Nak. Tuhan tahu yang terbaik untuk anak-anak-Nya. Tidak ada latihan yang sia-sia. Tuhan punya waktu yang tepat untuk menjawab doa Heru.” Heru pun mulai mengerti, lalu memilih tetap bersyukur walau hatinya sempat kecewa.

Keesokan harinya, Heru datang ke sekolah. Ia kaget ketika beberapa temannya menghampiri dan berkata bahwa Heru justru terpilih ikut perlombaan drum dan menjadi pemain drum untuk acara yang lebih besar dari sebelumnya. Heru sangat terharu. Ia bersyukur kepada Tuhan dan merasa malu karena sempat kesal.

Rehobot Kids, lewat kisah Heru kita belajar untuk sabar dan tetap bersyukur. Tuhan selalu mendengar doa kita dan menjawabnya pada waktu yang terbaik. Jadi, tetaplah berdoa dengan hati percaya dan jangan mudah marah atau putus asa, ya. Tuhan tahu yang paling baik untuk kita.

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 22 Januari 2026 (English Version) - KNOWING YOUR PLACE BRINGS PEACE
2026-01-23 18:01:48


“The earth is the LORD’s, and everything in it, the world, and all who live in it.”
Psalm 24:1

Rehobot Youth, one source of spiritual exhaustion is when we forget our position. We start feeling like life is entirely our responsibility, as if everything must be controlled and proven by our own efforts.

God’s Word reminds us clearly: everything belongs to God. Our lives, our future, even the small things we often take for granted. When we recognize this truth, our hearts become calmer.

Living with self-awareness means we no longer act like we’re strong enough or capable enough on our own. We know when to work hard, and when to surrender. And from that awareness, gratitude naturally grows.

God is pleased with a heart that knows its place—not one filled with pride. When we stop claiming everything as ours, God has room to work freely in our lives.

WHAT TO DO?
1. Surrender one area of your life that you’ve been holding too tightly.
2. Give thanks because your life is fully in God’s hands.
3. Practice saying: “God, I belong to You—use me according to Your will.”

BIBLE MARATHON:
Luke 7

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 22 Januari 2026 - SADAR POSISI, HATI JADI TENANG
2026-01-23 17:59:52


“TUHANlah yang empunya bumi serta segala isinya, dan dunia serta yang diam di dalamnya.
Mazmur 24:1

Rehobot Youth, salah satu sumber kelelahan rohani adalah saat kita lupa posisi. Kita mulai merasa hidup ini sepenuhnya tanggung jawab kita, seolah semua harus kita kendalikan dan buktikan sendiri.

Firman Tuhan mengingatkan dengan jelas: semua milik Tuhan. Hidup kita, masa depan kita, bahkan hal-hal kecil yang sering kita anggap sepele. Saat kita sadar posisi ini, hati kita jadi lebih tenang.

Hidup yang tahu diri berarti kita nggak lagi bersikap sok kuat atau sok mampu. Kita tahu kapan harus berusaha, dan kapan harus berserah. Dan dari kesadaran itulah, syukur lahir dengan alami.

Tuhan berkenan pada hati yang sadar diri, bukan yang penuh gengsi. Saat kita berhenti mengklaim semuanya sebagai milik kita, Tuhan justru leluasa bekerja dalam hidup kita.

WHAT TO DO?
1. Serahkan kembali satu area hidup yang selama ini kamu pegang terlalu erat.
2. Ucapkan syukur karena hidupmu sepenuhnya ada di tangan Tuhan.
3. Latih diri untuk berkata: “Tuhan, aku milik-Mu, pakailah aku seturut kehendak-Mu.”

BIBLE MARATHON:
Lukas 7

Card image
Renungan Pagi - 22 Januari 2026
2026-01-23 17:57:52


Setiap kita butuh orang lain, artinya tidak bisa hidup sendiri, semua membutuhkan orang lain, dengan kata lain hidup ini saling membutuhkan satu dengan yang lain.

Orang yang suka menolong akan terlihat bahwa kasihnya memang nyata, dia bukan seorang yang pelit dan egois, bukan seorang yang hidup untuk dirinya sendiri.

Ketika dia menolong tidak pernah mengungkit-ungkit, karena semua yang dilakukannya dengan tulus dan bukan untuk mendapatkan balasan.

Card image
Quote Of The Day - 22 Januari 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-01-23 17:56:20


Orang yang tidak haus akan Allah, orang yang tidak membutuhkan Allah. Orang yang tidak membutuhkan Allah, tidak mungkin menghormati Dia. Orang yang tidak menghormati Tuhan, tidak mungkin masuk Kerajaan Surga.

Card image
Mutiara Suara Kebenaran - 22 Januari 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-01-22 21:46:01


Langkah yang harus dilakukan orang percaya agar memiliki arah perjalanan hidup yang benar adalah memberi diri mengikuti segala jalan yang ditunjukkan Tuhan.

Card image
COMMITMENT TO FAITHFULNESS IN THE MIDST OF TRIALS - 22 Januari 2026 (English Version)
2026-01-22 21:32:33


Faithfulness is one of the most beautiful spiritual qualities, and it is also the hardest to maintain. It is not difficult to be faithful when life goes smoothly, when prayers are answered quickly, and when circumstances are favorable. But steadfast faithfulness is tested when we face trials, pressure, and the struggles of life. James 1:12 says, “Blessed is the one who perseveres under trial, because having stood the test, that person will receive the crown of life.” This verse shows that there is an excellent blessing behind tested faithfulness.

The story of Shadrach, Meshach, and Abednego in Daniel 3 is an extraordinary example of faithfulness amid trials. They faced a real threat—being thrown alive into a blazing furnace. They could have chosen a small compromise to save themselves. Yet they boldly declared that even if God did not deliver them, they would still not bow down to any other god. This is steadfast faithfulness—faithfulness built upon a relationship with God. Faithfulness in trials begins with the conviction that God is good even when circumstances are not. When life becomes difficult, we often ask, “Why would God allow this?” Yet the faithful believe that God works in all things for the good of those who love Him (Rom. 8:28). *Faithfulness means trusting in God’s character even when we do not understand His ways.* Trials expose whether our commitment to God is based solely on blessings or is genuinely rooted in faith. Many people walk away from God when prayers go unanswered or when disappointment strikes. But faithfulness teaches us that faith is not a contract guaranteeing a problem-free life. Faith is a relationship that chooses to remain attached to God in every situation. Faithfulness also requires perseverance and unwavering commitment. In a world that prioritizes instant results, perseverance is often considered outdated. Many quickly give up on spiritual struggles, ministry, or relationships. Yet faithfulness means standing firm, relying on God, and doing what is right even when results are not immediately visible. Perseverance is the fruit of someone who believes that God is working in the process—even when the process is painful. In trials, we are also tested on whether we will continue to live in holiness. Pressure often becomes a justification for falling into sin: stress drives people to unhealthy escapes, loneliness drives people into wrong relationships, and financial need drives people to compromise. But faithfulness means guarding our hearts, minds, and actions so we remain pleasing to God, even when pressure surrounds us. Furthermore, faithfulness is seen not only in the ability to endure but also in the willingness to grow through suffering. The faithful do not merely survive, but also mature and learn from every trial—patience, humility, surrender, and spiritual sensitivity. They do not allow trials to destroy their faith; they allow trials to deepen it.

Faithfulness is also inseparable from hope. The faithful continue to hope in God even when the situation looks dark. Hebrews 10:23 says, “Let us hold fast to the confession of our hope without wavering, for He who promised is faithful.” Our faithfulness stands upon God’s faithfulness, which never changes. God calls us to remain in Him. Faithfulness is not about human strength but about dependence on God. When we are weak, His grace is made perfect. When we cannot endure, the Holy Spirit gives us strength.

Reflect on this today:
— Am I still faithful to God when life is hard?
— Is my faithfulness dependent on answered prayers?

— Do I see trials as God’s tool of formation?

— Do I guard holiness amidst pressure?

May Lord Jesus bless you?

STEADFAST FAITHFULNESS IS TESTED WHEN WE FACE TRIALS, PRESSURE, AND THE STRUGGLES OF LIFE.

Card image
KOMITMEN DALAM KESETIAAN DI TENGAH PENCOBAAN - 22 Januari 2026
2026-01-22 21:20:46


Kesetiaan adalah salah satu kualitas rohani yang paling indah, tetapi juga paling sulit dijaga. Tidak sulit menjadi setia ketika hidup berjalan mulus, doa dijawab cepat, dan keadaan mendukung. Namun, kesetiaan sejati diuji ketika kita menghadapi pencobaan, tekanan, dan pergumulan hidup. Yakobus 1:12 berkata, “ Berbahagialah orang yang bertahan dalam pencobaan, karena apabila ia sudah tahan uji, ia akan menerima mahkota kehidupan.” Ayat ini menunjukkan bahwa ada berkat besar di balik kesetiaan yang diuji.

Kisah Sadrakh, Mesakh, dan Abednego dalam Daniel 3 adalah contoh luar biasa tentang kesetiaan di tengah pencobaan. Mereka menghadapi ancaman nyata, yakni membakar hidup-hidup dalam perapian yang menyala-nyala. Mereka bisa saja memilih kompromi kecil demi menyelamatkan diri. Namun, mereka berkata dengan tegas bahwa meskipun Allah tidak menyelamatkan mereka, mereka tetap tidak akan menyembah Allah yang lain. Inilah kesetiaan, kesetiaan sejati yang dibangun dari hubungan dengan Allah.

Kesetiaan dalam pencobaan dimulai dengan keyakinan bahwa Allah tetap baik meskipun keadaan tidak baik. Ketika hidup terasa sulit, kita sering bertanya, “Mengapa Tuhan mengizinkan hal ini?” Namun, orang yang setia percaya bahwa Tuhan bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan (Rm. 8:28). Kesetiaan berarti mempercayai karakter Allah bahkan ketika kita tidak mengerti jalan-Nya.

Pencobaan menguji apakah komitmen kita kepada Tuhan hanya sebatas berkat atau benar-benar dicabut dalam iman. Banyak orang meninggalkan Tuhan ketika doanya tidak terjawab atau ketika mengalami kekecewaan. Namun, kesetiaan mengajarkan kita bahwa iman bukanlah kontrak yang menjamin hidup bebas masalah. Iman adalah hubungan yang memilih untuk tetap melekat kepada Allah dalam segala keadaan.

Kesetiaan juga memerlukan ketekunan dan komitmen yang kuat. Dalam dunia yang serba instan, ketekunan sering dianggap kuno. Banyak orang cepat menyerah dalam pergumulan rohani, pelayanan, atau hubungan. Padahal, kesetiaan berarti tetap bertahan, tetap mengandalkan Tuhan, dan tetap melakukan yang benar meski tidak segera melihat hasilnya. Ketekunan adalah buah dari orang yang percaya bahwa Tuhan bekerja di dalam proses, bahkan ketika proses itu menyakitkan.

Dalam pencobaan, kami juga menguji apakah kami tetap hidup dalam kekudusan. Tekanan sering menjadi alasan seseorang jatuh dalam dosa: stres membuat orang mencari pengungsi, kesepian membuat orang masuk ke hubungan yang salah, kekurangan membuat orang berkompromi. Namun, kesetiaan berarti tetap menjaga hati, pikiran, dan tindakan agar berkenan kepada Tuhan meski tekanan datang dari segala arah.

Selain itu, kesetiaan juga terlihat dari cara kita menggunakan penderitaan sebagai kesempatan untuk bertumbuh. Orang yang setia tidak hanya bertahan; mereka juga bertumbuh. Mereka belajar dari setiap pencobaan: kesabaran, kerendahan hati, penyerahan diri, atau kepekaan rohani. Mereka tidak membiarkan pencobaan menghancurkan iman, melainkan justru memperdalamnya.

Kesetiaan juga berhubungan dengan pengharapan. Orang yang setia tetap berharap kepada Tuhan meski situasi tampak gelap. Ibrani 10:23 berkata, “Marilah kita berpegang teguh pada pengakuan tentang pengharapan kita, karena Ia yang menjanjikannya setia.” Kesetiaan kita berdiri di atas kesetiaan Allah yang tidak pernah berubah. Tuhan menuntut kita tetap tinggal di dalam Dia. Kesetiaan bukan tentang kemampuan manusia, melainkan tentang ketergantungan kepada Allah. Ketika kita lemah, kasih karunia-Nya menjadi sempurna. Ketika kita tidak sanggup bertahan, Roh Kudus memberi kekuatan.

Renungkan hari ini: Apakah saya tetap setia kepada Tuhan ketika hidup sulit? Apakah kesetiaan saya bergantung pada jawaban doa? Apakah saya memandang pencobaan sebagai alat pembentukan Allah? Apakah saya menjaga kekudusan di tengah tekanan?

Tuhan Yesus memberkati?

KESETIAAN SEJATI DIUJI KETIKA KITA MENGHADAPI PENCOBAAN, TEKANAN, DAN PERGUMULAN HIDUP.

Card image
Bacaan Alkitab Setahun - 22 Januari 2026
2026-01-22 21:17:56

Kejadian 30-31

Card image
KIDS DAILY DEVOTIONAL 21 Januari 2026 - TERLELAP
2026-01-22 21:07:11


Mazmur 4:9
“Dengan tenteram aku mau membaringkan diri, lalu segera tidur, sebab hanya Engkaulah, ya TUHAN, yang membiarkan aku diam dengan aman.”

“Aku tak takut di malam yang gelap… Aku tak takut jika sendiri, karena ku tahu Tuhan beserta. Malaikat Bapaku menjaga…”

Rehobot Kids, yang barusan kalian baca adalah penggalan sebuah lagu. Lagu itu mengingatkan kita bahwa Tuhan selalu bersama kita. Walaupun kita tidak melihat malaikat dengan mata jasmani, kita tahu bahwa Tuhan mengutus mereka untuk menjaga kita. Bahkan saat malam gelap sekalipun, Tuhan tidak pernah meninggalkan kita sendirian.

Kita juga harus bersyukur karena bisa tidur dengan nyenyak setiap malam. Tahukah kalian bahwa tidak semua orang bisa tidur dengan mudah? Ada orang yang sudah memejamkan mata tetapi tetap tidak bisa terlelap.

Itu sebabnya, ketika kita bisa tidur dengan damai, kita perlu mengucap syukur. Tuhanlah yang memberi rasa aman, ketenangan, dan perlindungan dalam setiap hembusan nafas kita.

Rehobot Kids, ingatlah bahwa Tuhan selalu menjaga kalian. Ketika malam tiba, berdoalah dan serahkan hatimu kepada Tuhan. Ia akan membuatmu terlelap dengan aman.

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 21 Januari 2026 (English Version) - IT'S NOT ABOUT WHO GETS PRAISED
2026-01-22 21:05:36


“For it is not the one who commends himself who is approved, but the one whom the Lord commends.”
2 Corinthians 10:18

Rehobot Youth, in today’s world, recognition feels important. Likes, views, compliments, and validation can make us feel like we matter. Without realizing it, we become busy proving ourselves—we want to look spiritual, we want to be seen as successful, we want to be acknowledged.

But God’s Word reminds us: what truly has value isn’t who is best at praising themselves, but who lives in a way that pleases God. A life that knows its place understands that our worth is not determined by human applause, but by God’s evaluation.

When we live with a grateful heart, we’re no longer thirsty for recognition. We can calmly do what is right even when no one notices—because we know God sees. And that is enough.

Gratitude keeps us humble. It helps us stop chasing praise and start chasing a life that pleases God. It’s not about looking impressive—it’s about being faithful.


WHAT TO DO?
1. Check your motives: are you doing something to be praised, or to please God?
2. Train your heart to stay grateful even when your efforts aren’t seen by others.
3. Remember: God’s praise is far more valuable than human recognition.

BIBLE MARATHON:
Luke 6

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 21 Januari 2026 - BUKAN TENTANG SIAPA YANG DIPUJI
2026-01-22 20:27:34


“Sebab bukan orang yang memuji diri sendiri yang tahan uji, melainkan orang yang dipuji Tuhan.”
2 Korintus 10:18

Rehobot Youth, di dunia sekarang, pengakuan itu terasa penting. Like, views, pujian, dan validasi bisa bikin kita merasa berarti. Tanpa sadar, kita jadi sibuk membuktikan diri — pengin kelihatan rohani, pengin dianggap berhasil, pengin diakui.

Tapi Firman Tuhan mengingatkan: yang benar-benar bernilai bukan siapa yang paling jago memuji diri sendiri, tapi siapa yang hidupnya berkenan di hadapan Tuhan. Hidup yang tahu diri sadar bahwa nilai hidup kita nggak ditentukan oleh tepuk tangan manusia, tapi oleh penilaian Tuhan.

Saat kita hidup dengan hati yang bersyukur, kita nggak lagi haus pengakuan. Kita tenang melakukan yang benar meski nggak dilihat orang. Karena kita tahu, Tuhan melihat. Dan itu cukup.

Syukur menjaga kita tetap rendah hati. Membuat kita berhenti mengejar pujian, dan mulai mengejar hidup yang berkenan. Bukan soal kelihatan hebat, tapi soal setia.

WHAT TO DO?
1. Periksa motivasimu: apakah kamu melakukan sesuatu untuk dipuji, atau untuk menyenangkan Tuhan?
2. Latih hati untuk tetap bersyukur meski usahamu nggak dilihat orang.
3. Ingat: pujian Tuhan jauh lebih bernilai daripada pengakuan manusia.

BIBLE MARATHON:
Lukas 6

Card image
Renungan Pagi - 21 Januari 2026
2026-01-22 20:24:09


Dalam hidup ini seringkali harus melewati jalan yang sukar, karena itu kita harus tetap kuat dan bertahan dalam iman, harus kuat untuk terus maju, kuat untuk tetap berpegang pada firman Tuhan didalam segala keadaan.

Jangan menyerah, jangan putus asa karena Roh yang ada didalam kita lebih besar dari roh yang ada didalam dunia ini. Artinya jika kuat didalam iman, maka kepastian demi kepastian menjadi bagian dalam hidup kita.

Card image
Quote Of The Day - 21 Januari 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-01-22 20:23:29


Kalau kita mau menjadi orang saleh, maka kita harus menutup telinga jiwa kita dari semua input yang bisa merusak diri kita.

Card image
Mutiara Suara Kebenaran - 21 Januari 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-01-22 20:22:36

Kalau sekarang masih dijumpai banyak orang Kristen yang mudah berbuat dosa, malas melayani Tuhan, menolak berkorban bagi pekerjaan Allah dan tidak menyukai ibadah kepada Tuhan, hal ini disebabkan ia tidak memiliki arah perjalanan hidup yang disorientasi.

Card image
FAITHFULNESS IN LITTLE THINGS - 21 Januari 2026 (English Version)
2026-01-22 20:20:50


The spiritual journey we walk through can sometimes, without our realizing it, resemble the workings of an old wristwatch. It is not the significant components that stop the watch, but the tiny pieces that become stuck due to fine dust that has accumulated. It is not the big screw that loosens, but the small one we consider insignificant. The same is true in life: grand commitments may seem impressive, but it is the small details of daily living that determine whether those commitments endure or, slowly and quietly, weaken. The little things we often ignore can become the most significant determinants of the direction of our spiritual journey.

Jesus said, “Whoever is faithful in a very little is faithful also in much, and whoever is unrighteous in a very little is unrighteous also in much” (Luke 16:10). Scripture does not say, “Whoever intends to do great things…” but rather, “Whoever is faithful in little things…” This verse means the accurate measure of commitment is not found in intention, determination, or grand plans we design, but in our faithfulness to the simple matters we face every day.

Many commitments collapse not because of a person’s lack of ability, but because of small things that slip by unnoticed. Relationships break not first because of explosive conflicts, but because communication gradually fades. Ministry does not dim because one stops loving God, but because basic discipline, praying before serving, is slowly neglected. Even a cold heart in faith often begins not with a massive spiritual attack, but with small habits disappearing: one day without prayer, one week without reading the Word, one small decision to stop giving thanks—until eventually it becomes a pattern of life.

Faithfulness in little things requires humility. Some things may seem too simple, too small, or too trivial to warrant attention. Yet it is there that we are being shaped. God grows our character through the small things—not the grand moments that occur once in a while. We do not become faithful because of one dramatic decision, but because of thousands of small choices made consistently.

Faithfulness in small things also teaches us to live with the awareness that every detail of our lives matters before God. When we pray for someone without them knowing, when we give thanks for simple things, when we control the words that come out of our mouths, when we choose to forgive even when we have the power and opportunity to retaliate—these are all parts of the commitment God is forming within us.

We often hope that God will entrust us with big things: a wider ministry, greater responsibilities, or bigger opportunities to be blessed. But God does not measure as people measure. He looks into the depths of the heart. He entrusts big things to those who have proven faithful in little things—not to those whose commitment is merely impulsive or emotional.

Therefore, at the beginning of this year, do not rush to make great resolutions that sound inspiring but are challenging to sustain. As God did when He called His servant Moses, God invites us to begin with what is already in our hands (cf. Exod. 4:1–2). Start with small habits we can carry out consistently, with simple things that look ordinary, with small steps that no one may notice.

Small steps repeated over time will gradually build a firm commitment. Just as a plant grows not from one large watering but from continuous small waterings every day, so our commitment grows. God desires us to be people who are faithful in the small steps we know we ought to take today. In the end, faithfulness in little things teaches us that God is not only present in the significant events of our lives, but also in the simple moments that often slip by. Through the small acts of faithfulness we practice each day, God is forming something great within us.

May The Lord Jesus bless you?

THE ACCURATE MEASURE OF COMMITMENT IS NOT FOUND IN INTENTION, DETERMINATION, OR GRAND PLANS WE DESIGN, BUT IN OUR FAITHFULNESS TO THE SIMPLE MATTERS WE FACE EVERY DAY.

Card image
KESETIAAN DALAM HAL-HAL KECIL - 21 Januari 2026
2026-01-22 18:59:19


Kehidupan rohani yang kita jalani terkadang, tanpa kita sadari, mirip seperti mekanisme jam tangan lama. Bukan komponen besar yang membuat jam berhenti, melainkan komponen-komponen kecil yang macet karena debu halus yang dibiarkan menumpuk. Bukan baut besar yang longgar, tetapi baut kecil yang kita anggap tidak penting. Dalam hidup pun demikian: komitmen besar memang terlihat megah, tetapi justru bagian-bagian kecil dari kehidupan sehari-hari yang menentukan apakah komitmen itu bertahan atau, sebaliknya, perlahan melemah. Perkara-perkara kecil yang biasanya kita anggap remeh justru sering kali menjadi penentu arah perjalanan iman kita.

Tuhan Yesus berkata, “Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar” (Luk. 16:10). Dalam Alkitab tidak tertulis, “Barangsiapa berniat melakukan hal besar…”, melainkan “barangsiapa setia dalam hal kecil…”. Artinya, ukuran sejati komitmen bukan terletak pada niat, bukan pada tekad, bukan pula pada rencana besar yang kita susun, melainkan pada kesetiaan kita dalam hal-hal sederhana yang kita hadapi setiap hari.

Banyak komitmen runtuh bukan karena ketidakmampuan seseorang, melainkan karena hal-hal kecil yang dibiarkan berlalu tanpa diperhatikan. Hubungan retak bukan karena pertengkaran besar, tetapi karena komunikasi yang pelan-pelan merenggang. Pelayanan padam bukan karena tidak mencintai Tuhan, tetapi karena disiplin sederhana—seperti berdoa sebelum melayani—perlahan kita abaikan. Bahkan iman yang dingin sering kali tidak berawal dari serangan rohani yang dahsyat, melainkan dari kebiasaan-kebiasaan kecil yang hilang: satu hari tanpa doa, satu minggu tanpa membaca firman, satu keputusan kecil untuk tidak bersyukur, yang lama-lama menjadi pola hidup.

Kesetiaan dalam hal kecil membutuhkan kerendahan hati. Ada hal-hal yang tampak terlalu sederhana, terlalu kecil, bahkan terlalu sepele untuk dipikirkan. Namun justru di sanalah kita sedang dibentuk. Tuhan menumbuhkan karakter kita melalui hal-hal kecil, bukan hal-hal besar yang hanya terjadi sesekali. Kita tidak menjadi pribadi yang setia karena satu keputusan dramatis, melainkan karena ribuan keputusan kecil yang kita lakukan secara konsisten.

Kesetiaan dalam hal kecil juga mengajarkan kita hidup dengan kesadaran bahwa setiap detail hidup kita penting di hadapan Tuhan. Saat kita mendoakan seseorang tanpa mereka ketahui, setiap kali kita bersyukur atas hal sederhana, ketika kita mengendalikan setiap kata yang terucap dari mulut kita, maupun saat kita memilih mengampuni meskipun punya kekuatan dan kesempatan untuk membalas, semua itu adalah bagian dari komitmen yang sedang dibentuk oleh Tuhan.

Kita cenderung berharap Tuhan mempercayakan kepada kita hal-hal besar: pelayanan yang lebih luas, tanggung jawab yang lebih besar, atau kesempatan yang lebih besar untuk diberkati. Namun Tuhan tidak menilai seperti manusia menilai. Ia melihat sampai ke kedalaman lubuk hati. Ia mempercayakan hal besar kepada orang-orang yang terbukti setia dalam hal kecil, bukan kepada mereka yang hanya berkomitmen secara impulsif atau emosional.

Karena itu, di awal tahun ini, jangan terburu-buru membuat resolusi besar yang terdengar inspiratif, tetapi sulit dipertahankan. Seperti ketika Ia mengutus hamba-Nya, Musa, Allah meminta kita memulai dari apa yang ada di tangan kita (lih. Kel. 4:1–2). Mulailah dari kebiasaan-kebiasaan kecil yang dapat kita lakukan dengan konsisten; dari hal-hal sederhana yang terlihat biasa; dari langkah kecil yang mungkin tidak dilihat siapa pun.

Langkah-langkah kecil yang dilakukan terus-menerus lambat laun menumbuhkan komitmen yang kokoh. Sama seperti tumbuhan bertumbuh bukan karena satu kali siraman besar, melainkan siraman-siraman kecil setiap hari, demikian pula komitmen kita. Tuhan menghendaki kita menjadi pribadi yang setia pada langkah kecil yang kita tahu harus dilakukan hari ini. Pada akhirnya, kesetiaan dalam hal kecil mengajar kita bahwa Tuhan tidak hanya hadir dalam peristiwa besar hidup kita, tetapi juga dalam momen-momen sederhana yang sering terlewat. Melalui kesetiaan sederhana yang kita lakukan setiap hari, Tuhan sedang membentuk sesuatu yang besar di dalam diri kita.

Tuhan Yesus memberkati?

UKURAN SEJATI KOMITMEN BUKAN TERLETAK PADA NIAT, BUKAN PADA TEKAD, BUKAN PULA PADA RENCANA BESAR YANG KITA SUSUN, MELAINKAN PADA KESETIAAN KITA DALAM HAL-HAL SEDERHANA YANG KITA HADAPI SETIAP HARI.

Card image
Bacaan Alkitab Setahun - 21 Januari 2026
2026-01-21 22:41:52

Kejadian 27-29

Card image
KIDS DAILY DEVOTIONAL 20 Januari 2026 - TERIMA KASIH GURU
2026-01-20 21:55:48


Amsal 22:6
“Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanya pun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu.”

Rehobot Kids, di setiap sekolah pasti ada guru yang mengajar murid-murid dengan penuh kesabaran. Mungkin kalian punya guru favorit yang kalian sukai. Setiap guru ingin murid-muridnya menjadi pintar, bahkan lebih pintar dari gurunya. Karena itu, kita dilatih untuk bertanggung jawab dan disiplin—misalnya datang tepat waktu dan mengumpulkan tugas yang diberikan.

Pernahkah kalian bersyukur untuk guru-guru yang kalian miliki? Bersyukurlah, sebab Tuhan menempatkan guru-guru yang mau mengajar, membimbing, dan membantu anak-anak menjadi lebih pintar serta memiliki sikap yang baik. Guru adalah berkat dalam hidup kita.

Bagaimana caranya kita bersyukur atas guru-guru kita? Salah satu cara yang paling sederhana adalah dengan mendengarkan saat mereka mengajar di kelas. Guru kita pasti senang melihat murid-muridnya memperhatikan dan memahami pelajaran yang disampaikan.

Selain itu, kita juga bisa menghormati guru dengan bersikap sopan, tidak ribut di kelas, dan melakukan tugas dengan sungguh-sungguh. Tindakan kecil seperti ini menunjukkan bahwa kita menghargai jerih payah mereka.

Rehobot Kids, yuk belajar bersyukur untuk guru-guru kita. Mereka adalah alat Tuhan untuk membentuk kita menjadi anak-anak yang pintar, disiplin, dan baik hati. Jangan lupa ucapkan, “Terima kasih, Bu Guru!” hari ini!

Card image
Z - VOTION 20 Januari 2026 (English Version) - KNOW YOUR PLACE, BUT DON'T LOSE YOUR CONFIDENCE
2026-01-20 21:44:58


“What do you have that you did not receive? And if you did receive it, why do you boast as though you did not?”  
1 Corinthians 4:7

Rehobot Youth, living with self-awareness doesn’t mean being insecure or feeling small. Knowing your place means understanding your position: who you are, who God is, and where everything you have comes from.

The problem is, we often forget. When we succeed, we feel like it’s purely because of our own effort. When we fail, we feel like God is unfair. But a life that pleases God begins with the realization that every ability, opportunity, and breath we have is grace.

When we know our place, we stop demanding from God and we stop boasting about ourselves. We become calmer, more humble, and more grateful. From that place, a life that pleases God is born—not because we are perfect, but because our hearts are aware of who we are before God.

God isn’t looking for young people who act like they’re amazing, but for those who are willing to live with the awareness that without Him, we can do nothing. And that’s exactly where God loves to work.

WHAT TO DO?
1. Admit before God one thing you’ve been proud of as if it were purely your own achievement.
2. Give thanks for the opportunities and abilities God has entrusted to you.
3. Train your heart to say: “God, all of this is from You and for You.”

BIBLE MARATHON:
Luke 5

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 20 Januari 2026 - TAHU DIRI, TAPI NGGAK RENDAH DIRI
2026-01-20 21:34:39


“Apakah yang engkau miliki yang tidak engkau terima? Dan jika engkau menerimanya, mengapakah engkau memegahkan diri seolah-olah engkau tidak menerimanya?”
1 Korintus 4:7

Rehobot Youth, hidup yang tahu diri bukan berarti minder atau ngerasa kecil. Tahu diri itu sadar posisi: siapa kita, siapa Tuhan, dan dari mana semua yang kita punya berasal.

Masalahnya, sering kali kita lupa. Saat berhasil, kita merasa itu murni karena usaha sendiri. Saat gagal, kita merasa Tuhan nggak adil. Padahal hidup yang berkenan dimulai dari kesadaran bahwa setiap kemampuan, kesempatan, dan nafas hidup adalah anugerah.

Ketika kita tahu diri, kita berhenti menuntut Tuhan dan berhenti membanggakan diri. Kita jadi lebih tenang, lebih rendah hati, dan lebih bersyukur. Dari situlah sikap hidup yang berkenan lahir — bukan karena kita sempurna, tapi karena hati kita sadar diri di hadapan Tuhan.

Tuhan nggak mencari anak muda yang sok hebat, tapi yang mau hidup dengan kesadaran bahwa tanpa Dia, kita nggak bisa apa-apa. Dan justru di situ, Tuhan senang bekerja.

WHAT TO DO?
1. Akui di hadapan Tuhan satu hal yang selama ini kamu banggakan seolah-olah itu murni hasilmu.
2. Ucapkan syukur atas kesempatan dan kemampuan yang Tuhan titipkan.
3. Latih hati untuk berkata: “Tuhan, semua ini dari-Mu dan untuk-Mu.”

BIBLE MARATHON:
Lukas 5

Card image
Renungan Pagi - 20 Januari 2026
2026-01-20 21:30:30


Ada banyak orang wajahnya manis, tetapi hatinya busuk karena dia menyimpan berbagai kejahatan, oleh karena itu dihati kita janganlah menyimpan kejahatan.

Biarlah hati hanya menyimpan hal-hal yang baik, yang benar, yang berdampak setiap hari sebagai orang yang lurus hatinya dan yang berkenan kepada Tuhan.

Card image
Quote Of The Day - 20 Januari 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-01-20 21:18:45


Seorang yang menyembah Allah adalah ia yang haus akan Allah dan sudah mengerti bahwa kebutuhannya hanya Tuhan.

Card image
Mutiara Suara Kebenaran - 20 Januari 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-01-20 21:17:14


Kehidupan orang percaya yang pengertiannya tidak mendalam mengenai kebenaran adalah kehidupan yang sangat rentan terhadap pencobaan, sangat rawan terhadap serangan musuh.

Card image
DISCIPLINE IN COMMITMENT - 20 Januari 2026 (English Version)
2026-01-20 21:14:28

It is not difficult to have good intentions, but turning them into real action is a different matter. It is hard to deny that only a few people can do so. Intention alone never guarantees growth that is marked by real change. Only those who live with discipline will produce change. In his letter to the church in Corinth, Paul describes the Christian life like an athlete running in a race. “Do you not know that in a race all the runners run, but only one gets the prize? Run in such a way as to get the prize!” (1 Cor. 9:24).

It is not enough for an athlete to merely have the intention to win; he must “run in such a way as to get the prize!” A good athlete is aware that failure is possible, yet he keeps running in such a way until he obtains the crown of victory. Therefore, in the following verse, Paul writes, “Everyone who competes in the games exercises self-control in all things” (v. 25a). The NIV translates this part as “…goes into strict training.”

At the beginning of the year, we usually carry great enthusiasm—full of passion, with a sense that everything is possible. Yet without discipline, that initial excitement will fade—often within a few weeks. Genuine commitment cannot be separated from discipline, and discipline is always connected to the daily decisions we make. Discipline is commitment translated into concrete actions, beginning with small things and carried out in measurable, repeated patterns.

Paul says, “I strike a blow to my body and make it my slave” (v. 27). Another translation renders it: “But I discipline my body and bring it into subjection.” In a broader context, the “body” is not limited to the physical aspect but includes desires, habits, time, and the direction of our lives. Spiritual commitment means disciplining ourselves to allow the Holy Spirit to take complete control of our lives. We cannot grow in spiritual maturity, nor stand firm in our walk with God, without being disciplined in reading and meditating on God’s Word, praying, guarding our hearts, and controlling our tongues.

Sometimes we view discipline as something rigid, but in reality, discipline is an expression of love. God disciplines us because He loves us, shaping and training us through His discipline. We discipline ourselves because we love God. Without discipline, commitment is nothing more than empty words—a daydream. With discipline, commitment grows into character.

As we step into this new year, let us stop merely creating long lists of good intentions and start training ourselves in the small things. Wake up ten minutes earlier than usual to begin the day with prayer. Read one chapter of Scripture each day and reflect on what God wants us to carry out that day. Reorder our life priorities so that our lives bring more delight to God. Remember, commitment is not measured by the size of the steps we take but by the consistency of those steps.

To close, let us reflect on these questions: What spiritual discipline does God want me to start so that my life becomes more like Christ? What discipline once grew in my life but withered because of inconsistency—and needs to be revived now?
In the end, the journey of commitment is not about how perfectly we fulfill every promise, but how firmly we lean on God’s grace in every step. Let us move forward with hearts continually renewed, discipline rebuilt, and confidence that the God who began the work will surely empower us to finish it.

May The Lord Jesus bless u?

SPIRITUAL COMMITMENT MEANS DISCIPLINING OURSELVES TO ALLOW THE HOLY SPIRIT TO TAKE COMPLETE CONTROL OF OUR LIVES.

Card image
KEDISIPLINAN DALAM KOMITMEN - 20 Januari 2026
2026-01-20 21:12:19


Tidak sulit memiliki niat baik, tetapi menjadikannya tindakan nyata adalah hal yang berbeda. Sulit dipungkiri bahwa hanya sedikit orang yang berhasil melakukannya. Niat tidak pernah menjamin terjadinya pertumbuhan yang ditandai dengan perubahan nyata. Hanya orang-orang yang disiplinlah yang menghasilkan perubahan. Paulus, dalam suratnya kepada jemaat di Korintus, menggambarkan hidup Kristen seperti seorang atlet yang berlari di arena pertandingan. “Tidak tahukah kamu bahwa dalam gelanggang pertandingan semua peserta turut berlari, tetapi hanya satu orang saja yang mendapat hadiah? Karena itu larilah begitu rupa, sehingga kamu memperolehnya!” (1 Kor. 9:24).

Tidak cukup bagi seorang atlet hanya punya niat untuk menang; ia harus “berlari begitu rupa, sehingga kamu memperolehnya!” Atlet yang baik menyadari adanya kemungkinan untuk gagal, tetapi terus berlari sedemikian rupa sampai memperoleh mahkota kemenangan. Karena itu, pada ayat selanjutnya Paulus menuliskan, “Tiap-tiap orang yang turut mengambil bagian dalam pertandingan menguasai dirinya dalam segala hal” (ay. 25a). Alkitab bahasa Inggris versi NIV menerjemahkan bagian ini dengan “…goes into strict training” (menjalani pelatihan yang ketat).

Di awal tahun, kita biasanya memiliki semangat yang bergelora; cenderung menggebu-gebu, dan segalanya terasa mungkin untuk dicapai. Namun, tanpa dibarengi kedisiplinan, semangat awal akan padam—mungkin tidak lebih dari dua minggu. Komitmen sejati tidak bisa dilepaskan dari kedisiplinan, dan disiplin selalu berhubungan dengan keputusan-keputusan yang kita ambil setiap hari. Disiplin adalah komitmen yang diterjemahkan menjadi tindakan konkret, dimulai dari hal-hal kecil, tetapi dilakukan secara terukur dan berulang.

Paulus berkata, “Aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya” (ay. 27). Dalam salah satu versi Alkitab, ayat ini diterjemahkan “But I discipline my body and bring it into subjection” (Aku mendisiplinkan tubuhku dan menaklukkannya). Dalam konteks yang lebih luas, “tubuh” bukan hanya fisik, melainkan juga mencakup keinginan, kebiasaan, waktu, dan arah hidup kita. Komitmen rohani berarti mendisiplinkan diri untuk mengizinkan Roh Kudus menguasai hidup kita seutuhnya. Kita tidak mungkin menjadi lebih dewasa secara rohani, semakin kokoh dalam pengiringan kepada Tuhan, apabila tidak memiliki kedisiplinan dalam membaca dan merenungkan firman Tuhan, berdoa, menjaga hati, dan mengendalikan lidah.

Kadang kita menganggap disiplin sebagai sesuatu yang kaku, tetapi sejatinya disiplin adalah bentuk kasih. Tuhan mengasihi kita, karena itu Ia melatih dan membentuk kita melalui disiplin. Kita mendisiplinkan diri karena kita mengasihi Tuhan. Tanpa disiplin, komitmen hanyalah omong kosong—mimpi di siang bolong. Dengan disiplin, komitmen dapat bertumbuh menjadi karakter.

Di awal tahun yang baru ini, marilah kita berhenti hanya membuat sederet daftar niat baik dan mulai melatih diri dalam hal-hal kecil. Bangun tidur sepuluh menit lebih awal dari biasanya, untuk mengawali hari dengan berdoa. Membaca satu pasal setiap hari, lalu merenungkan apa yang Tuhan ingin kita kerjakan sepanjang hari. Menata ulang prioritas hidup kita agar hidup semakin menyenangkan hati Tuhan. Ingat, komitmen tidak diukur dari besarnya langkah yang diambil, melainkan dari konsistensi langkah itu.

Sebagai penutup, mari kita merenungkan beberapa hal berikut. Disiplin rohani apa yang Tuhan ingin saya mulai, agar hidup saya semakin serupa dengan Kristus? Disiplin apa yang dahulu pernah tumbuh tetapi layu akibat ketidakkonsistenan, dan kini perlu saya hidupkan kembali?

Pada akhirnya, perjalanan komitmen bukanlah tentang seberapa sempurna kita menjaga setiap janji, melainkan seberapa teguh kita bersandar pada kasih karunia Tuhan dalam setiap langkah. Marilah kita melangkah dengan hati yang terus diperbarui, disiplin yang dibangun kembali, dan keyakinan bahwa Tuhan yang memulai, Dia pula yang akan memampukan kita untuk menyelesaikannya.

Tuhan Yesus memberkati?

KOMITMEN ROHANI BERARTI MENDISIPLINKAN DIRI UNTUK MENGIZINKAN ROH KUDUS MENGUASAI HIDUP KITA SEUTUHNYA.

Card image
Bacaan Alkitab Setahun - 20 Januari 2026
2026-01-21 22:42:51

Kejadian 25-26

Card image
KIDS DAILY DEVOTIONAL 19 Januari 2026 - BERSYUKUR DENGAN CARA BERKATA "CUKUP
2026-01-20 19:05:29


Ibrani 13:5
“Janganlah kamu menjadi hamba uang dan cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu. Karena Allah sendiri telah berfirman: Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau.”

Hello Rehobot Kids! Pernahkah kamu ingin punya mainan baru terus, padahal di rumah sudah banyak? Kadang hati kita mudah merasa tidak puas. Kita ingin sepatu baru, gawai terbaru, atau mainan yang lebih keren dari teman. Kalau kita terus membandingkan, hati jadi cepat iri dan tidak pernah merasa cukup.

Firman Tuhan mengingatkan kita untuk belajar cukup dengan apa yang kita miliki. Tuhan sendiri berjanji tidak akan meninggalkan kita, artinya kita selalu dijaga dan dicukupkan. Misalnya, seorang anak yang punya bola lama tetap bisa bermain gembira bersama teman-temannya. Ia tidak iri kepada yang punya bola baru, karena ia tahu bahwa sukacita datang dari hati yang bersyukur, bukan dari barang yang mahal. Kita boleh punya keinginan, tapi jangan sampai itu menguasai hati kita sehingga tidak bersyukur.

Dengan hati yang bersyukur, kita bisa bahagia tanpa harus memiliki segalanya. Tuhan tahu apa yang terbaik bagi kita, bahkan sebelum kita memintanya. Jadi, Rehobot Kids, mari belajar puas, berhenti membandingkan diri dengan orang lain, dan mengucap syukur atas berkat yang sudah kita punya.

Saat kita bersyukur, hati terasa lebih ringan, hidup lebih bahagia, dan kita jadi lebih siap menolong orang lain!

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 19 Januari 2026 (English Version) - STOPPING THE HEART'S PROTEST
2026-01-20 19:01:37


“Praise be to the God and Father of our Lord Jesus Christ, who has blessed us in Christ with every spiritual blessing in the heavenly realms.”
Ephesians 1:3

Guys, sometimes we don’t realize that our hearts are actually protesting against God. Not with harsh words, but with subtle complaints: “I should already be at this point.” “My life shouldn’t be this complicated.”

That “God should have…” attitude grows when we forget what God has already given. We become so focused on what hasn’t happened yet that we forget the blessings we’ve already received—especially the spiritual blessings God has established for us in Christ.

Gratitude stops that protest. When we give thanks, we’re reminded that our lives are not empty, not left behind, and not on the wrong path. We are walking with the provision God has already prepared.

Maybe the circumstances haven’t changed yet. But a grateful heart makes us stop demanding and start trusting. From feeling lacking, to realizing that God is already enough.

So today, before your heart starts asking again, “God should have…,” let gratitude speak first.

WHAT TO DO?
1. Identify one form of “heart protest” that often shows up in your prayers.
2. Give thanks for the spiritual blessings God has already given, even if your circumstances haven’t changed.
3. Remember: God doesn’t owe us an explanation, but He is always faithful.

BIBLE MARATHON:
Luke 4

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 19 Januari 2026 - MENGHENTIKAN PROTES HATI
2026-01-20 18:58:48


“Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, yang dalam Kristus telah mengaruniakan kepada kita segala berkat rohani di dalam sorga.”
Efesus 1:3

Guys, kadang kita nggak sadar kalau hati kita sedang protes ke Tuhan. Bukan dengan kata-kata kasar, tapi dengan keluhan halus: “Harusnya aku sudah sampai di titik ini.” “Harusnya hidupku nggak serumit ini.”

Sikap “Tuhan harusnya…” tumbuh saat kita lupa apa yang sudah Tuhan berikan. Kita terlalu fokus pada apa yang belum terjadi, sampai lupa pada berkat yang sudah kita terima — terutama berkat rohani yang Tuhan sudah tetapkan di dalam Kristus.

Syukur menghentikan protes itu. Saat kita bersyukur, kita diingatkan bahwa hidup kita bukan kosong, bukan tertinggal, dan bukan salah jalan. Kita sedang berjalan dengan bekal yang Tuhan sudah sediakan.

Mungkin keadaan belum berubah. Tapi hati yang bersyukur membuat kita berhenti menuntut dan mulai percaya. Dari merasa kurang, menjadi sadar bahwa Tuhan sudah cukup.

Jadi hari ini, sebelum hatimu kembali bertanya “Tuhan harusnya…”, biarkan syukur yang lebih dulu berbicara.

WHAT TO DO?
1. Identifikasi satu bentuk protes hati yang sering muncul dalam doamu.
2. Ucapkan syukur atas berkat rohani yang Tuhan sudah berikan, meski keadaan belum berubah.
3. Ingat: Tuhan tidak berhutang penjelasan, tapi Dia selalu setia.

BIBLE MARATHON:
Lukas 4

Card image
Renungan Pagi - 19 Januari 2026
2026-01-19 23:11:36


Bibir yang bersih tidak berisi dusta, bibir yang bersih tidak berisi kebohongan, tetapi berisi kebenaran dan kejujuran.

Mari miliki bibir yang bersih; ucapan kita haruslah ucapan-ucapan yang benar, ucapan-ucapan yang tulus dan jujur.

Alkitab mengajarkan kepada kita bahwa didalam ketulusan dan kejujuran selalu ada kebenaran dan kemuliaan.

Card image
Quote Of The Day - 19 Januari 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-01-19 23:07:54


Kualitas penyembahan seseorang tidak ditentukan pada waktu dia mengucapkan kata-kata atau kalimat penyembahan, tetapi bagaimana kehidupan setiap hari dia bersikap terhadap Allah, kesungguhannya untuk menjadikan Tuhan sebagai satu-satunya yang berharga dalam hidipnya.

Card image
Mutiara Suara Kebenaran - 19 Januari 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-01-19 22:32:40


Tidak jelasnya arah perjalanan hidup ini bukan saja ada dalam kehidupan orang-orang di luar gereja, tetapi juga ada dalam kehidupan orang percaya yang pengertiannya mengenai kebenaran Allah tidak mendalam.

Card image
NEW YEAR'S RESOLUTION - 19 Januari 2026 (English Version)
2026-01-19 22:31:38


The beginning of a new year often brings a fresh atmosphere that fuels new energy for positive change—a new calendar, new plans, accompanied by fresh enthusiasm. Many of us set targets such as reading the Bible more consistently, living a holier life, organizing our ministry more diligently, managing time wisely, and building healthier relationships with family, colleagues, and friends.

On the other hand, the start of a new year can also remind us of the many commitments left unfulfilled the previous year—plans for self-improvement that were neglected, resolutions we once carefully crafted yet never carried out. Some failed simply because of carelessness, others because our enthusiasm faded, and still others were derailed by the heavy burdens of life. We may begin to ask ourselves: Is making resolutions still relevant this year? Am I still worthy of trying again? Or is this just a waste of time and energy?

Lamentations 3:22-23 gives an answer that brings peace to our hearts: “The steadfast love of the LORD never ceases; His mercies never come to an end; they are new every morning; great is Your faithfulness!” These verses teach us that God does not only give us a new beginning at the start of the year—every morning, every new day, is a fresh beginning that God provides for us to renew our commitment. If God grants us new grace every day, then we, too, may realign the obligations that have previously failed—whether last year or in past seasons of our lives.

The strength of our commitment is not determined by how often or how rarely we fall, but by how many times we rise again from our failures and return faithfully to the One to whom we have pledged our devotion. Many people think that commitment is only about successfully keeping promises. In reality, commitment is closely tied to perseverance. There is no commitment without repetition; feedback and evaluation are essential and must not be ignored. It is normal for a commitment to be colored by small, unintentional failures. In fact, these become valuable lessons that shape us into better individuals in the future. No commitment runs smoothly without exhaustion—or even discouragement—yet everything must be continued with strength renewed by the power of the Holy Spirit.

The beginning of the year is the right moment to reassess: Which commitments do not need to be maintained—or should not be forced—merely because of social pressure. Which commitments remain meaningful and align with God’s calling? Which commitments does God want us to revive once again? God does not ask us to make many promises; He asks us to remain faithful to what He has entrusted to us. A little, done consistently, is far more valuable than a lot that only lasts for a moment.

If last year was overshadowed by failure, do not give up. Failure does not define our identity; it only reminds us that we cannot walk on our own and that we must continually depend on God. This year, let us move forward with realistic, gradual commitments and dedication. Ask God for the strength to live out what He has placed in our hands faithfully.

As we end this reflection, let us ponder these questions:
First, which commitment do I need to revive this year?
Second, what small step can I take today to begin?

Third, what part do I need to surrender again to God instead of relying on my own strength?

Through this short reflection, may we be reminded that actual resolution or renewal of commitment is not merely the product of human determination, but a faithful response to the grace of God that is new every morning. Therefore, in the new year, we can take the next step with renewed hearts and steadfast hope.

May The Lord Jesus bless us?

The strength of our commitment is not determined by how often or how rarely we fall, but by how many times we rise again from our failures and return faithfully to the One to whom we have pledged our devotion.

Card image
RESOLUSI TAHUN BARU - 19 Januari 2026
2026-01-19 22:29:22


Awal tahun biasanya membawa nuansa segar yang memberi energi baru untuk berjanji melakukan perubahan positif. Kalender baru, rencana baru, ditambah dengan semangat yang juga baru. Tidak sedikit dari kita menetapkan target, seperti membaca Alkitab dengan lebih konsisten, lebih sungguh-sungguh menjaga hidup kudus, menata pelayanan lebih rapi, mengelola waktu secara bijak, serta membangun hubungan yang lebih baik dengan keluarga, kolega, dan sahabat.

Di sisi lain, awal tahun tidak jarang menjadi pengingat bahwa banyak komitmen yang belum terpenuhi pada tahun lalu: rencana-rencana untuk memperbaiki diri yang terabaikan, resolusi-resolusi yang pernah kita susun setahun sebelumnya, yang pada akhirnya tidak terealisasi. Sebagian gagal murni karena kelalaian kita, ada juga karena semangat yang pudar, dan ada juga yang “berantakan” akibat terlalu banyak beban hidup. Bukan tidak mungkin kita mulai bertanya-tanya: apakah masih relevan menyusun resolusi di awal tahun ini? Apakah saya masih pantas mencoba lagi? Atau ini hanya sekedar membuang waktu dan energi?

Ratapan 3:22–23 memberi jawaban yang menenangkan hati kita: “Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu!” Ayat-ayat ini menunjukkan bahwa Tuhan bukan hanya memberi kita kesempatan baru di awal tahun, tetapi bahkan setiap pagi, setiap pergantian hari, selalu menjadi awal baru yang Tuhan sediakan bagi kita untuk memperbarui komitmen. Jika Tuhan memberi kita anugerah baru setiap hari, maka kita pun dapat mengatur ulang komitmen yang sempat gagal pada tahun atau masa-masa yang lalu.

Kuat tidaknya komitmen kita tidak ditentukan oleh seberapa sering atau jarangnya kita jatuh, melainkan oleh berapa kali kita bangkit dari keterpurukan dan kembali setia kepada Pribadi yang kepada-Nya kita mengikat janji. Banyak orang yang menganggap komitmen hanya berbicara tentang keberhasilan menepati dan memenuhi janji, padahal sejatinya komitmen lebih dekat dengan ketekunan. Tidak ada komitmen tanpa pengulangan; Umpan balik dan evaluasi menjadi faktor penting yang tidak boleh dikesampingkan. Wajar apabila komitmen kegagalan-kegagalan kecil yang terjadi tanpa unsur kesengajaan. Justru hal itu menjadi pembelajaran penting agar kita menjadi pribadi yang lebih baik di masa mendatang . Tidak ada komitmen yang berjalan mulus tanpa kelelahan, bahkan keputusasaan, namun semuanya harus dipertahankan dengan kekuatan yang diperbarui oleh kuasa Roh Kudus.

Awal tahun adalah momen yang tepat untuk meninjau kembali komitmen mana yang tidak perlu dipertahankan atau “dipaksakan” karena tekanan sosial? Komitmen mana yang masih penting dan sesuai panggilan Tuhan? Komitmen apa yang Tuhan ingin kita hidupkan kembali? Tuhan tidak meminta kita membuat banyak janji; Ia hanya meminta kami setia pada apa yang Ia percayai. Sedikit, tetapi dilakukan dengan konsistensi, jauh lebih berharga daripada banyak, tetapi hanya bertahan beberapa saat.

Jika tahun lalu kita dibayangi kegagalan, jangan menyerah juga. Kegagalan tidak mendefinisikan identitas kita; Kegagalan hanya mengingatkan bahwa kita tidak mampu berjalan sendiri, karena itu kita harus terus bersandar pada Tuhan. Tahun ini, marilah melangkah dengan komitmen yang realistis, bertahap, tetapi penuh dedikasi. Mintalah Tuhan memberi kekuatan untuk menjalani dengan setia apa yang telah Ia percayakan kepada kita.

Sebagai penutup, mari kita memikirkan beberapa hal berikut. Yang pertama , komitmen apa yang perlu saya hidupkan kembali pada tahun ini? Kedua, langkah kecil apa yang dapat saya lakukan hari ini untuk memulainya? Ketiga, bagian mana yang harus saya serahkan lagi kepada Tuhan, bukan memaksakan kemampuan sendiri?

Melalui renungan singkat ini, kiranya kita semakin menyadari bahwa resolusi atau pembaruan komitmen yang sejati bukan sekadar tekad manusia, melainkan respons setia terhadap kasih karunia Tuhan yang selalu baru setiap pagi. Oleh karena itu, pada tahun baru ini kita dapat melangkah kembali dengan hati yang diperbarui dan pengharapan yang teguh.

Tuhan Yesus memberkati?

KUAT TIDAKNYA KOMITMEN KITA TIDAK DITENTUKAN OLEH SEBERAPA SERING ATAU JARANGNYA KITA JATUH, MELAINKAN OLEH BERAPA KALI KITA BANGKIT DARI KETERPURUKAN DAN KEMBALI SETIA KEPADA PRIBADI YANG KEPADANYA KITA MENGIKAT JANJI

Card image
Bacaan Alkitab Setahun - 19 Januari 2026
2026-01-19 22:19:08

Kejadian 22-24

Card image
KIDS DAILY DEVOTIONAL 18 Januari 2026 - MEMBAWA PENGHIBURAN
2026-01-19 12:53:31


2 Korintus 1:4
“Ia menghibur kami dalam segala penderitaan kami, sehingga kami sanggup menghibur mereka yang berada dalam bermacam-macam penderitaan dengan penghiburan yang kami terima sendiri dari Allah.”

Hello Rehobot Kids!Pernahkah kamu melihat teman yang sedih karena nilainya jelek atau tidak diajak bermain? Apa yang biasanya kamu lakukan? Kadang kita malah menertawakan, cuek, atau ikut menjauhi. Sikap seperti ini membuat hati kita keras dan tidak peka terhadap perasaan orang lain.

Firman Tuhan berkata bahwa Tuhan menghibur kita supaya kita bisa menghibur orang lain. Misalnya, ketika kamu pernah gagal lalu dikuatkan oleh doa mama, guru, atau teman, kamu tahu rasanya dikuatkan. Nah, saat temanmu sedih, kamu bisa melakukan hal yang sama: menolong, menemani, atau sekadar berkata, “Kamu pasti bisa!”

Seperti keberhasilan sebuah tim pemain sepak bola pasti bukan hanya karena satu orang. Begitupun kita, harus belajar menyaadari bahwa semua kebaikan berasal dari Tuhan. Hati yang bersyukur membuat kita ringan untuk berbagi sukacita dan penghiburan kepada orang lain.

Belajar bersyukur membantu kita berhenti mengeluh dan mulai melihat berkat Tuhan setiap hari. Dengan hati yang penuh syukur, kita jadi lebih peka menolong teman yang sedih. Tuhan ingin kita menjadi penghibur—membawa terang, sukacita, dan kasih melalui tindakan sederhana seperti mengajak teman bermain, membagi bekal, atau mendoakan mereka.

Yuk, Rehobot Kids! Jadilah anak yang membawa penghiburan. Seperti Tuhan menghibur kita, kita pun dipanggil untuk menghibur dan menyebarkan sukacita kepada orang-orang di sekitar kita!

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 18 Januari 2026 (English Version) - TRUST, NOT CONTROL
2026-01-19 12:50:50


“Acknowledge Him in all your ways, and He will make your paths straight.” Proverbs 3:6

Guys, often we come to God with a plan that’s already set. We ask God to bless the path we’ve already decided for ourselves. When the results don’t match what we expected, disappointment shows up—and the thought comes: “God should have done it this way…”

But faith isn’t about how smart we are at designing our lives. It’s about how willing we are to trust the direction of our lives to God. Gratitude helps us stop gripping control and start surrendering the steering wheel.

When we give thanks, we acknowledge that God sees farther than we do. We might know what we want, but God knows what we need. And at that point, the demanding attitude begins to break.

Gratitude doesn’t always change the road we’re walking on—but it changes the heart that is walking. From a heart that wants to control, into a heart that is ready to be led.

So on this Sunday, let’s come before God not with a list of demands, but with an open and grateful heart. Because God doesn’t need us to direct Him—we need to be directed by Him.

WHAT TO DO?
1. Come to God today with an open heart, without hidden agendas.
2. Give thanks for the things you still don’t understand the answers to.
3. Trust this: God’s way is always right, even when it isn’t always comfortable.

BIBLE MARATHON:
Luke 3

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 18 Januari 2026 - PERCAYA, BUKAN MENGATUR
2026-01-19 12:46:47


“Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu.” Amsal 3:6

Guys, sering kali kita datang ke Tuhan dengan rencana yang sudah jadi. Kita minta Tuhan memberkati jalan yang sudah kita tentukan sendiri. Saat hasilnya nggak sesuai, muncul kecewa dan pikiran: “Tuhan harusnya begini…”

Padahal iman bukan soal seberapa pintar kita merancang hidup, tapi seberapa rela kita mempercayakan arah hidup kepada Tuhan. Syukur menolong kita berhenti menggenggam kendali dan mulai menyerahkan kemudi.

Saat kita bersyukur, kita mengakui bahwa Tuhan melihat lebih jauh dari yang kita lihat. Kita mungkin tahu apa yang kita mau, tapi Tuhan tahu apa yang kita butuhkan. Dan di titik itu, sikap menuntut mulai patah.

Syukur nggak selalu mengubah jalan yang kita lewati, tapi mengubah hati yang sedang berjalan. Dari hati yang ingin mengatur, menjadi hati yang siap dipimpin.

Jadi di hari Minggu ini, mari datang ke hadapan Tuhan bukan dengan daftar tuntutan, tapi dengan hati yang terbuka dan penuh syukur. Karena Tuhan nggak butuh kita mengarahkan Dia — kita yang butuh diarahkan oleh-Nya.

WHAT TO DO?
1. Datanglah kepada Tuhan hari ini dengan hati yang terbuka, tanpa agenda tersembunyi.
2. Ucapkan syukur atas hal-hal yang belum kamu mengerti jawabannya.
3. Percayalah: jalan Tuhan selalu tepat, meski belum selalu nyaman.

BIBLE MARATHON:
Lukas 3

Card image
Renungan Pagi - 18 Januari 2026
2026-01-18 22:59:31


Selama berjalan dalam rencana-rencana Tuhan, kita akan berkata seperti Paulus, "Aku hidup, tetapi bukan aku lagi yang hidup tetapi Kristus yang hidup di dalam aku". Pertanyaannya, "Apakah mau tetap di jalan kita atau di jalan Tuhan?"

Jalan kita untuk sementara lebih asyik, tetapi ujung-ujungnya tidak jelas, jalan Tuhan awalnya berat, tetapi ujung-ujungnya penuh dengan kemenangan, kemuliaan dan kuasa-Nya.

Card image
Quote Of The Day - 18 Januari 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-01-18 22:58:11


Segala bentuk kegiatan dan perjuangan hidup kita haruslah mendukung untuk memperoleh harta abadi.

Card image
Mutiara Suara Kebenaran - 18 Januari 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-01-18 22:57:29


Tuhan Yesus menyatakan bahwa orang kaya sukar masuk surga. Sukar bukan berarti tidak bisa, tetapi cenderung mustahil. Menuntut perjuangan dan pengorbanan yang lebih berat.

Card image
A TRANSFORMED HEART - 18 Januari 2026 (English Version)
2026-01-18 22:56:35


Anyone can commit, but not everyone can remain steadfast in that commitment. Why? Because the problem of commitment often does not lie in a busy schedule, nor in capability, nor in the availability of resources, but in the condition of the heart. When not guarded with vigilance, our hearts can easily become shaken, and a shaken heart will eventually collapse the commitment we once tried to uphold.

Through the prophet Ezekiel, the Word of God says that the Lord will give “a new heart and a new spirit” to His people (Ezek. 36:26). The “heart” in this verse refers to the center of morality, will, and the orientation of human life. Meanwhile, “spirit” speaks of the dimension of God-given strength that enables us to obey His will. When God gives a new heart and a new spirit, it means He renews who we are and what—or who—moves us from within.

Perhaps last year, we made commitments before God that we did not fulfill. Many commitments fail not because we didn’t try hard enough, but because our hearts were not fully healed from past wounds. A wounded heart is difficult to live in commitment. A heart that has not learned to let go of the past will struggle to look toward the future. And a heart that God has not renewed tends to seek self-justification rather than genuine repentance. Therefore, before we make new vows or restart old commitments, the most important thing we must do is allow God to touch and renew our hearts first.

We often assume that commitments collapse due to poor time management or a lack of a proper strategy. But in reality, the breaking of commitment usually begins with small things deep within: unresolved disappointments, buried emotional wounds, guilt never surrendered to God, anxiety left unmanaged, or even spiritual exhaustion ignored. Outwardly, we may appear fine—still present, still serving, still smiling—but deep inside, our hearts have lost the inner drive to remain faithful.

Therefore, before expecting our commitments to become stronger this year, we must be honest with ourselves: a sick heart can never produce a healthy commitment. The healing of the heart is not an instant process; it is a journey with God as we fully open ourselves to be reconciled, healed, and realigned by Him. Only a heart restored by God can uphold a steadfast commitment.

Ezekiel 36:27 continues, “I will put My Spirit within you, and I will cause you to walk in My statutes, keep My ordinances, and do them.” This verse confirms that our ability to live according to God’s statutes does not come from human strength, but from the work of the Holy Spirit dwelling within us. Spiritual commitment is not merely a list of resolutions written at the beginning of the year; spiritual commitment is the fruit of the Holy Spirit’s work in a person’s life.

Someone may write a long, impressive list of commitments—to pray more, serve more seriously, read the Bible more diligently, and so on—but without the help of the Holy Spirit, all of that will become nothing more than dry routines. But under the Holy Spirit’s guiding work, commitment becomes a space of formation. Commitment becomes the place where God grows us, strengthens our character, and turns us into the person He desires us to be—little by little, day by day.

This year, let us build commitment from a heart restored, softened, strengthened, and filled with the Holy Spirit. A commitment born from a transformed heart will endure because its foundation is deep love for God, not merely temporary emotions that come and go.

May The Lord Jesus bless us?

A COMMITMENT BORN FROM A TRANSFORMED HEART WILL ENDURE BECAUSE ITS FOUNDATION IS DEEP LOVE FOR GOD, NOT MERELY TEMPORARY EMOTIONS THAT COME AND GO.

Card image
HATI YANG DIUBAHKAN - 18 Januari 2026
2026-01-18 22:54:49


Semua orang bisa membuat komitmen, tetapi tidak semua orang dapat bertahan dalam komitmen. Mengapa? Karena masalah komitmen sering kali bukan terletak pada padatnya jadwal, bukan pula pada kemampuan, dan bukan pada ketersediaan fasilitas, melainkan pada kondisi hati. Ketika tidak dijaga dengan penuh kewaspadaan, hati kita dapat dengan mudah menjadi goyah; dan hati yang goyah pada akhirnya meruntuhkan komitmen yang ingin kita perjuangkan.

Firman Tuhan melalui Nabi Yehezkiel mengatakan bahwa Allah akan memberikan “hati yang baru dan roh yang baru” kepada umat-Nya (Yeh. 36:26). “Hati” dalam ayat ini mengacu pada pusat moral, kemauan, dan orientasi hidup manusia. Sementara “roh” berbicara tentang dimensi kekuatan yang berasal dari Allah, yang memampukan kita menaati kehendak-Nya. Ketika Tuhan memberikan hati dan roh yang baru, artinya Ia memperbarui siapa diri kita dan apa—atau siapa—yang menggerakkan kita dari dalam.

Tahun lalu, mungkin ada komitmen-komitmen yang kita buat di hadapan Tuhan, tetapi tidak berhasil kita penuhi. Banyak komitmen runtuh bukan karena kita kurang berusaha, melainkan karena hati kita belum sepenuhnya pulih dari luka-luka lama. Hati yang masih terluka sulit hidup dalam komitmen. Hati yang belum belajar melepaskan masa lalu akan kesulitan memandang masa depan. Dan hati yang belum dibarui Tuhan cenderung mencari pembenaran diri, alih-alih hidup dalam pertobatan yang sejati. Karena itu, sebelum kita membuat janji baru atau mengulang komitmen yang lama, hal terpenting yang harus kita lakukan adalah membiarkan Tuhan menyentuh dan memperbarui hati kita terlebih dahulu.

Sering kali kita mengira komitmen runtuh karena kurangnya manajemen waktu atau strategi yang tepat. Namun sejatinya, kerusakan komitmen biasanya dimulai dari hal-hal kecil yang terjadi jauh di dalam batin: kekecewaan yang belum selesai, luka batin yang dipendam, rasa bersalah yang tidak pernah diserahkan kepada Tuhan, kecemasan yang tidak dikelola dengan baik, atau bahkan kelelahan rohani yang diabaikan. Kita mungkin tampak baik-baik saja dari luar—tetap hadir, tetap melayani, tetap tersenyum—tetapi jauh di dalam, hati kita kehilangan daya dorong untuk setia.

Itulah sebabnya, sebelum berharap komitmen kita menjadi lebih kuat tahun ini, kita perlu jujur pada diri sendiri bahwa hati yang sakit tidak akan pernah menghasilkan komitmen yang sehat. Pemulihan hati bukanlah proses instan; itu adalah perjalanan bersama Tuhan ketika kita membuka diri sepenuhnya untuk diperdamaikan, disembuhkan, dan ditata ulang oleh-Nya. Hanya hati yang dipulihkan Tuhan yang mampu menopang komitmen yang teguh.

Yehezkiel 36:27 melanjutkan, “Roh-Ku akan Kuberikan diam di dalam batinmu, dan Aku akan membuat kamu hidup menurut segala ketetapan-Ku, tetap berpegang pada peraturan-peraturan-Ku, dan melakukannya.” Ayat ini menegaskan bahwa kemampuan kita untuk hidup sesuai dengan ketetapan-ketetapan Allah bukan berasal dari kekuatan manusia, melainkan dari karya Roh Kudus yang tinggal dalam batin kita. Komitmen rohani bukan sekadar daftar tekad yang dituliskan di awal tahun; komitmen rohani adalah buah dari pekerjaan Roh Kudus dalam hidup seseorang.

Seseorang bisa saja menyusun daftar panjang komitmen yang bombastis—lebih banyak berdoa, lebih serius melayani, lebih rajin membaca Alkitab, dan sebagainya—tetapi tanpa pertolongan Roh Kudus semuanya hanya akan menjadi rutinitas kering belaka. Namun di bawah bimbingan Roh Kudus, komitmen berubah menjadi ruang pembentukan. Komitmen menjadi tempat di mana Tuhan menumbuhkan kita, menguatkan karakter kita, dan menjadikan kita pribadi seperti yang Ia kehendaki, sedikit demi sedikit, hari demi hari.

Tahun ini, marilah kita membangun komitmen mulai dari hati—hati yang dipulihkan, hati yang dilembutkan, hati yang dikuatkan, dan hati yang dipenuhi Roh Kudus. Komitmen yang lahir dari hati yang diubahkan akan bertahan, karena dasarnya adalah kasih yang mendalam kepada Tuhan, bukan sekadar perasaan sesaat yang datang dan pergi.

Tuhan Yesus memberkati?

KOMITMEN YANG LAHIR DARI HATI YANG DIUBAHKAN AKAN BERTAHAN, KARENA DASARNYA ADALAH KASIH YANG MENDALAM KEPADA TUHAN, BUKAN SEKADAR PERASAAN SESAAT YANG DATANG DAN PERGI.

Card image
Bacaan Alkitab Setahun - 18 Januari 2026
2026-01-18 22:53:04

Kejadian 19-21

Card image
KIDS DAILY DEVOTIONAL 17 Januari 2026 - DIAMPUNI DAN BERSYUKUR
2026-01-18 15:49:25


1 Yohanes 1:9
“Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan.”

Rehobot Kids, pernah nggak kamu merasa sangat bersalah setelah melakukan kesalahan? Rasanya tidak enak, ya. Kadang kita sampai berpikir, “Tuhan pasti marah dan nggak mau maafin aku lagi…” Tapi kabar baiknya, Firman Tuhan mengajarkan hal yang berbeda!

Ayat hari ini bilang bahwa kalau kita mengaku dosa, Tuhan itu setia dan adil untuk mengampuni kita. Mengaku berarti kita jujur, rendah hati, dan berani berkata kepada Tuhan, “Tuhan, aku salah.” Saat kita datang kepada Tuhan dengan hati yang tulus, Tuhan selalu membuka tangan-Nya lebar-lebar untuk menerima kita kembali.

Pengampunan Tuhan itu gratis, tidak terbatas, dan tidak pernah kadaluarsa. Setiap kali kita jatuh lalu datang kepada Tuhan, Dia menyucikan kita dan membuang dosa kita jauh-jauh. Karena itu, kita harus bersyukur, sebab Tuhan sangat sabar dan penuh kasih.

Karena Tuhan sudah mengampuni kita begitu besar, Ia juga mau kita belajar mengampuni orang lain. Mengampuni bukan berarti melupakan, tetapi melepaskan rasa marah dan dendam dari hati kita. Saat kita mengampuni, hati kita jadi lebih damai dan kita sedang meneladani kasih Tuhan.

Rehobot Kids, ingat ya: setiap kali kamu merasa gagal atau tidak layak, datanglah kepada Tuhan. Dia selalu siap mengampuni, memulihkan, dan menguatkanmu. Yuk jalani hari dengan hati penuh syukur karena kasih-Nya sudah membebaskan kita!

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 17 Januari 2026 (English Version) - GRATEFUL WITHOUT CONDITIONS
2026-01-18 15:46:00


“Who are you, a human being, to argue with God?”
Romans 9:20

Guys, the phrase “God should have…” often quietly appears in our hearts. God should have been faster. God should understand. God should act according to our prayers and our logic. And without realizing it, our faith turns into demands.

This “God should have…” attitude doesn’t come from a lack of prayer—it comes from a lack of gratitude. When our hearts lose gratitude, we begin to feel entitled to control the way God works.

Gratitude breaks that attitude. Not because everything is already going the way we want, but because we realize: God is still God, and we are still His beloved creation. When we give thanks, we are saying, “God, You are sovereign, and I trust You.”

Gratitude helps us stop debating with God and start embracing His process. From demanding to surrendering. From disappointment to trust.

So if today your heart is full of questions and expectations, let gratitude soften your attitude. Because mature faith isn’t about God following us—it’s about us learning to follow God.

WHAT TO DO?
1. Catch one “God should have…” sentence that often appears in your heart.
2. Replace that sentence with thanksgiving and surrender.
3. Remember: God knows better what we need than what we ask for.

BIBLE MARATHON:
Luke 2

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 17 Januari 2026 (English Version) - BERSYUKUR TANPA SYARAT
2026-01-18 15:44:18


“Siapakah engkau, hai manusia, maka engkau membantah Allah?”
Roma 9:20

Guys, kalimat “Tuhan harusnya…” sering muncul diam-diam di hati kita. Tuhan harusnya lebih cepat. Tuhan harusnya ngerti. Tuhan harusnya bertindak sesuai doa dan logika kita. Dan tanpa sadar, iman kita berubah jadi tuntutan.

Sikap “Tuhan harusnya” lahir bukan karena kita kurang doa, tapi karena kita kurang syukur. Saat hati kehilangan syukur, kita mulai merasa berhak mengatur cara Tuhan bekerja.

Syukur mematahkan sikap itu. Bukan karena semua sudah berjalan sesuai keinginan kita, tapi karena kita sadar: Tuhan tetap Tuhan, dan kita tetap ciptaan-Nya yang dikasihi. Saat kita bersyukur, kita sedang berkata, “Tuhan, Engkau berdaulat, dan aku percaya.”

Syukur menolong kita berhenti mendebat Tuhan dan mulai menikmati proses-Nya. Dari menuntut jadi tunduk. Dari kecewa jadi percaya.

Jadi kalau hari ini hatimu penuh pertanyaan dan ekspektasi, biarkan syukur yang melunakkan sikapmu. Karena iman yang dewasa bukan soal Tuhan mengikuti kita, tapi kita belajar mengikuti Tuhan.

WHAT TO DO?
1. Tangkap satu kalimat “Tuhan harusnya…” yang sering muncul di hatimu.
2. Gantikan kalimat itu dengan ucapan syukur dan penyerahan diri.
3. Ingat: Tuhan lebih tahu apa yang kita butuhkan daripada apa yang kita minta.

BIBLE MARATHON:
Lukas 2

Card image
Renungan Pagi - 17 Januari 2026
2026-01-18 15:38:47


Ibadah yang benar dan berkenan dimulai dari sikap hati yang hormat dan takut akan Tuhan, jadi bukan sekedar menjalankan ritual keagamaan.

Melainkan bagaimana mengalami perjumpaan pribadi dengan Tuhan, tinggal di hadirat-Nya, bersekutu dan bergaul intim dengan-Nya. Inilah esensi ibadah.

Card image
Quote Of The Day - 17 Januari 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-01-18 15:38:04


Dengan cara bagaimanapun, tidak pernah ada kondisi tertentu yang membuat seseorang secara mendadak bisa menjadi kaya di dalam Tuhan.

Card image
Mutiara Suara Kebenaran - 17 Januari 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-01-18 15:36:39


Orang percaya harus mencontoh sikap Yesus sendiri yang tidak terbelokkan oleh bujukan Iblis. Iblis membujuk Tuhan Yesus untuk berbelok dari misi-Nya agar menghindari salib.

Card image
THE RIGHT ATTITUDE OF WATCHFULNESS - 17 Januari 2026 (English Version)
2026-01-18 11:54:56


God rarely reveals when a person will be called home, which parallels the fact that no one knows the day of the Lord’s coming to end the history of this world—what many people call the day of judgment (Matt. 24:36; Acts 1:7). If humans knew the day of their death or the day of the Lord’s return, they would watch and prepare themselves with the wrong attitude. Being watchful because one is threatened by death or afraid of facing the end of the world is incorrect. It is unnatural and disproportionate. A person who watches themselves in this way does not possess genuine repentance.

Repentance is a change of mind. If someone repents merely out of fear of death or fear of the end times—not because of a change of mind—then it is not true repentance. Repentance that merely consists of stopping certain sins, widespread moral violations, is not the Christian repentance that God desires. The word repentance comes from the Greek metanoia, meaning “a change of mind.” It signifies a long process throughout one’s life journey.

Therefore, repentance that consists only in refraining from acts that violate standard norms does not stem from a fundamental change of mind. Yet God desires a radical transformation of the way we think (Rom. 12:1–2). True repentance is repentance that continues every day so that a person may have the mind and heart of Christ. Simply refraining from immoral acts does not constitute the renewal of the heart that possesses the mind and feelings of Christ.

A wrong attitude of watchfulness will not build genuine love for God. Love for God built on fear of death or of facing the end times is not real love. Love for God must be built on a foundation of knowing God. This knowledge arises through long struggles and journeys—both through learning Biblical truth and through concrete daily experiences. Love for God that arises momentarily out of fear of death or fear of the last day is counterfeit—forced love. God takes no delight in such love. He will shape a person who truly loves God through all the events they encounter. In this regard, love for God is the primary—even the only—requirement for experiencing God’s work in the process of life’s maturation.

A wrong attitude of watchfulness will not encourage growth, because watchfulness rooted merely in fear of death or fear of the end times does not lead a person toward spiritual maturity or toward reaching the target God desires. The right attitude of watchfulness consists of steps toward growing into maturity or perfection like Christ, and this is driven by the awareness that every day God provides spiritual blessings to foster our maturity. God works in all things for the good of those who love Him (Rom. 8:28).

A person who thinks they will repent and truly follow the Lord Jesus only in their old age will certainly never experience maturation. They squander the precious opportunities God provides to form maturity and perfection in their lives. Essentially, such individuals are unwilling to be saved. May our commitment to love Him move us to truly renew our lifestyle that has been careless all this time.

May The Lord Jesus bless us?

THE RIGHT ATTITUDE OF WATCHFULNESS CONSISTS OF STEPS TOWARD GROWING INTO MATURITY OR PERFECTION LIKE CHRIST.

Card image
SIKAP BERJAGA YANG BENAR - 17 Januari 2026
2026-01-18 00:02:16


Tuhan jarang sekali memberitahukan kapan seseorang akan dipanggil-Nya pulang. Hal ini paralel dengan fakta bahwa tidak seorang pun mengetahui hari kedatangan Tuhan untuk mengakhiri sejarah dunia ini—yang banyak orang sebut sebagai hari kiamat (Mat. 24:36; Kis. 1:7). Jika manusia mengetahui hari kematiannya atau hari kedatangan Tuhan, mereka justru akan berjaga-jaga dengan sikap yang tidak benar. Berjaga-jaga karena diancam kematian atau karena takut menghadapi kiamat adalah sikap berjaga-jaga yang keliru. Ini merupakan sikap yang tidak natural dan tidak proporsional. Orang yang berjaga-jaga dengan cara demikian tidak memiliki pertobatan yang sejati.

Pertobatan adalah perubahan pikiran. Jika seseorang bertobat hanya karena takut akan kematian atau kiamat—bukan karena perubahan pikiran—maka itu bukan pertobatan yang benar. Pertobatan yang hanya berupa berhenti dari dosa tertentu, khususnya pelanggaran moral umum, bukanlah pertobatan Kristiani yang dikehendaki Allah. Kata pertobatan berasal dari metanoia (Yun.), yang berarti perubahan pikiran. Ini menandakan suatu proses panjang dalam perjalanan hidup.

Jadi, pertobatan dalam bentuk berhenti dari perbuatan yang melanggar norma umum tidak berakar pada perubahan pikiran yang fundamental. Padahal, Tuhan menghendaki perubahan cara berpikir yang mendasar (Rm. 12:1–2). Pertobatan yang benar adalah pertobatan yang berlangsung terus-menerus setiap hari sehingga seseorang dapat memiliki pikiran dan perasaan Kristus. Berhenti dari perbuatan yang melanggar norma belum merupakan pembaruan hati untuk memiliki pikiran dan perasaan Kristus.

Sikap berjaga-jaga yang keliru tidak akan membangun cinta kepada Tuhan yang tulus. Cinta kepada Tuhan yang dibangun karena rasa takut mati atau takut menghadapi kiamat bukanlah cinta yang sejati. Cinta kepada Tuhan harus dibangun di atas dasar pengenalan akan Tuhan. Pengenalan ini muncul melalui pergumulan dan perjuangan panjang—baik melalui belajar kebenaran Alkitab maupun melalui pengalaman konkret setiap hari. Cinta kepada Tuhan yang muncul sesaat karena takut mati atau takut menghadapi hari kiamat adalah cinta palsu, cinta yang dipaksakan. Tuhan tidak dapat menikmati cinta semacam ini. Orang yang benar-benar mengasihi Tuhan akan digarap oleh Tuhan melalui segala peristiwa yang ia dengar, lihat, dan alami. Dalam hal ini, cinta kepada Tuhan merupakan syarat utama—bahkan satu-satunya—untuk mengalami penggarapan Tuhan dalam proses pendewasaan hidup.

Sikap berjaga-jaga yang salah tidak akan mendorong seseorang bertumbuh, sebab berjaga-jaga hanya karena takut mati atau takut menghadapi kiamat tidak mengarahkan seseorang kepada kedewasaan rohani atau pencapaian target yang Tuhan kehendaki. Sikap berjaga-jaga yang benar adalah langkah-langkah bertumbuh menjadi dewasa atau sempurna seperti Kristus. Hal ini didorong oleh kesadaran bahwa setiap hari Tuhan menyediakan berkat rohani untuk menumbuhkan kedewasaan kita. Tuhan bekerja dalam segala hal untuk mendatangkan kebaikan bagi orang yang mengasihi Dia (Rm. 8:28).

Orang yang berpikir akan bertobat dan sungguh-sungguh mengikut Tuhan Yesus di masa tuanya adalah orang yang pasti tidak mengalami proses pendewasaan. Mereka membuang kesempatan-kesempatan berharga yang Tuhan sediakan untuk membentuk kedewasaan dan kesempurnaan hidup mereka. Pada dasarnya, mereka adalah orang-orang yang tidak bersedia diselamatkan. Kiranya komitmen kita untuk mengasihi Dia membuat kita sungguh-sungguh memperbarui gaya hidup kita yang selama ini ceroboh.

Tuhan Yesus memberkati?

SIKAP BERJAGA-JAGA YANG BENAR ADALAH LANGKAH-LANGKAH BERTUMBUH MENJADI DEWASA ATAU SEMPURNA SEPERTI KRISTUS.

Card image
Bacaan Alkitab Setahun - 17 Januari 2026
2026-01-17 23:59:27

Kejadian 16-18

Card image
KIDS DAILY DEVOTIONAL 16 Januari 2026 - SETIAP HARI ADA KASIH TUHAN
2026-01-17 12:54:54


Ratapan 3:23
“Selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu!”

Rehobot Kids, pernah nggak waktu bangun pagi kamu merasa malas, capek, atau tidak semangat untuk memulai hari? Kadang kita merasa hari kemarin penuh masalah atau kita gagal melakukan hal yang kita inginkan. Tapi tahu nggak? Setiap pagi Tuhan memberikan kita kesempatan baru—sebagai tanda bahwa kasih dan kesetiaan-Nya tidak pernah habis.

Ratapan 3:23 mengingatkan kita bahwa kasih Tuhan selalu baru setiap pagi. Saat matahari terbit, itu bukan sekadar pergantian hari, tetapi bukti bahwa Tuhan masih mengasihi kita, masih peduli, dan masih memberikan kita awal yang baru. Keren banget, kan?

Kalau Tuhan memberikan hari baru, itu berarti Dia percaya kita bisa melakukan sesuatu yang lebih baik hari ini. Mungkin kemarin kamu sedih, marah, atau merasa kecewa. Tapi hari ini Tuhan seperti berkata, “Ayo mulai lagi, Aku bersamamu.” Itu adalah alasan besar untuk kita mengucap syukur.

Karena hari baru adalah anugerah dari Tuhan, yuk kita belajar meresponsnya dengan, mengucap syukur saat bangun pagi, memulai hari dengan doa, melakukan satu kebaikan kecil setiap hari.

Rehobot Kids, ingat ya—setiap pagi adalah kesempatan baru dari Tuhan untuk bertumbuh, bersukacita, dan menjadi lebih baik. Jadi mari sambut harimu dengan penuh syukur, karena kasih Tuhan selalu baru untukmu!

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 16 Januari 2026 (English Version) - THE KIND OF PRAYER GOD DESIRES
2026-01-17 12:53:04


“What is mankind that You are mindful of them, human beings that You care for them?”
Psalm 8:5

Guys, without realizing it, we can come to God from the wrong position. We pray, but deep inside it’s as if God has to follow our life’s script. If our prayers are answered quickly, we’re happy. But if God is silent, we feel ignored.

The issue isn’t how often we pray, but the attitude of our hearts behind the prayer. Sometimes prayer shifts from surrender into an attempt to control God. We forget that prayer is not a tool to manage God, but a place where we are shaped and directed by Him.

This Psalm reminds us who we really are before God. We are not in a position to demand, but people who have been given the grace to draw near. When this awareness returns, our prayers change—from being full of pressure to being full of trust.

True prayer isn’t marked by how many requests we make, but by a willing heart that receives God’s will, whatever the answer may be.

WHAT TO DO?
1. Come to God in prayer today with a humble heart, not a hidden agenda.
2. Admit before God if you’ve been trying more to control than to trust.
3. Learn to enjoy God’s presence, not just His answers.

BIBLE MARATHON:
Luke 1

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 16 Januari 2026 - DOA YANG DIKEHENDAKI TUHAN
2026-01-17 12:51:40


“Siapakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya, dan anak manusia, sehingga Engkau mengindahkannya?”
Mazmur 8:5

Guys, tanpa sadar kita bisa datang ke Tuhan dengan posisi yang keliru. Kita berdoa, tapi dalam hati seolah-olah Tuhan harus mengikuti skenario hidup kita. Kalau doa cepat dijawab, kita senang. Tapi kalau Tuhan diam, kita merasa diabaikan.

Masalahnya bukan pada rajinnya kita berdoa, tapi pada sikap hati di balik doa itu. Kadang doa berubah dari penyerahan diri menjadi usaha mengontrol Tuhan. Kita lupa bahwa doa bukan alat untuk mengatur Tuhan, melainkan ruang untuk diatur oleh-Nya.

Mazmur ini mengingatkan kita siapa kita sebenarnya di hadapan Tuhan. Kita bukan pihak yang berhak menuntut, tapi pribadi yang diberi anugerah untuk datang mendekat. Ketika kesadaran ini kembali, doa kita berubah — dari penuh tekanan menjadi penuh kepercayaan.

Doa yang benar bukan ditandai dengan banyaknya permintaan, tapi dengan kerelaan hati menerima kehendak Tuhan, apa pun jawabannya.

WHAT TO DO?
1. Datanglah dalam doa hari ini dengan hati yang rendah, bukan agenda tersembunyi.
2. Akui di hadapan Tuhan jika selama ini kamu lebih ingin mengatur daripada percaya.
3. Belajar menikmati kehadiran Tuhan, bukan hanya jawaban-Nya.

BIBLE MARATHON:
Lukas 1

Card image
Renungan Pagi - 16 Januari 2026
2026-01-17 12:49:53


Setiap jawaban yang keluar dari mulut akan sangat mempengaruhi kehidupan kita, Alkitab berkata, "Jawaban yang lemah lembut meredakan kegeraman.

Berarti setiap orang percaya bukan hanya hati yang harus bersih, tapi setiap jawaban yang keluar dari lidah, bibir, mulut kita dalam banyak hal harus selalu membangun, menghibur dan menguatkan hati banyak orang.

Card image
Quote Of The Day - 16 Januari 2026 (English Version)
2026-01-17 12:49:06


Hidup saleh adalah kemutlakan.

Card image
Mutiara Suara Kebenaran - 16 Januari 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-01-17 12:48:29


Orang-orang yang mempertaruhkan hidup tanpa batas bagi pekerjaan Tuhan, kesukaannya hanyalah menyukakan hati Tuhan.

Card image
STAND FIRM - 16 Januari 2026 (English Version)
2026-01-17 12:47:25


We often hear people say, “It’s not the beginning of the journey that matters, but the end.” This statement is very popular, and almost everyone agrees with it. Many Christians also agree and accept it as truth. But is it really true that the end of a person’s journey determines their eternal destiny? This statement can lead to the belief that only a person’s final moments decide their eternal fate. If this concept is accepted as truth, it tends to lead one not to build oneself early in life to become a person who pleases God. In other words, someone may fail to live watchfully and to prepare themselves long before facing death or the Judgment Seat of God. This carelessness can bring several consequences, including:

First, one will not have the right attitude of watchfulness. They hope that someday, when they reach the brink of death, there will still be an opportunity to repent. Usually, such people refer to the criminal beside Jesus, who repented before dying and was immediately accepted into Paradise. We must remember that this was a very special case and that it rarely happens to anyone else. We must not compare ourselves with anyone—each person has their own journey. When someone does not maintain a vigilant attitude, they become prey to the powers of darkness (1 Pet. 5:8). For this reason, the Lord Jesus instructs us always to be watchful (Matt. 25:13).

In reality, many people postpone repentance or delay sincerely following the Lord Jesus. They think that one day, before they die, they will repent first, and this is a grave mistake, because no one knows when their last moment will be. One who dies may not have the chance to repent. Death can come suddenly—through an accident or an unexpected illness. Furthermore, if someone has lived too long in unrighteousness, their heart may become so hardened that they can no longer repent. If this happens, their portion is only destruction.

Second, one will fail to use time to grow in maturity. Such a person delays what should be done immediately or at the proper time. They always assume there is still more time, even though the opportunities God gives to each individual are limited, so that is why Paul urges the church to make the most of every opportunity (Eph. 5:16). Making the most of the time means using all the time God has given—not only the moments near death or at the end of life’s journey.

If a person maintains a watchful attitude from early in life, they will be able to stand firm before the Lord Jesus (Luke 21:36). To stand firm before the Son of Man means being ready to account for everything done throughout life. When standing before God’s throne, a person who has been watchful from the beginning will have reached maturity or perfection that satisfies God, and therefore will be able to stand before the Son of Man. On the other hand, a person who fails to reach the spiritual target they should have reached will be afraid to face God, meaning they will not be able to stand before Him. Let us commit ourselves to always living watchfully so that we remain ready, no matter what happens.

May The Lord Jesus bless us?

IF THE PERSON MAINTAINS A WATCHFUL ATTITUDE FROM EARLY IN LIFE, THEY WILL BE ABLE TO STAND FIRM BEFORE THE LORD JESUS.

Card image
TAHAN BERDIRI - 16 Januari 2026
2026-01-17 12:41:25


Sering kita mendengar orang berkata bahwa “bukan awal perjalanan yang menentukan, tetapi akhir perjalanan.” Pernyataan ini sangat populer, dan hampir semua orang setuju. Banyak orang Kristen pun ikut-ikutan setuju dan menerimanya sebagai kebenaran. Namun, benarkah bahwa akhir perjalanan hidup seseorang yang menentukan takdir kekalnya? Pernyataan tersebut dapat membangun pemikiran bahwa hanya saat-saat terakhir hidup seseorang yang menentukan nasib kekalnya. Jika konsep ini diterima sebagai kebenaran, maka muncul kecenderungan untuk tidak membangun diri sejak dini untuk menjadi manusia yang berkenan kepada Tuhan. Artinya, seseorang tidak memiliki sikap berjaga-jaga dan tidak mempersiapkan diri jauh sebelum mendekati kematian atau sebelum menghadap takhta pengadilan Tuhan. Kecerobohan ini dapat menimbulkan beberapa akibat, antara lain:

Pertama, seseorang tidak memiliki sikap berjaga-jaga yang benar. Ia berharap bahwa suatu hari nanti, ketika sudah berada di ujung maut sebelum meninggal, akan ada kesempatan untuk bertobat. Biasanya orang-orang seperti ini mengacu pada penjahat di samping Tuhan Yesus yang bertobat sebelum mati dan langsung diterima di Firdaus. Harus diingat bahwa kasus itu sangat khusus, dan hampir tidak pernah terjadi lagi atas orang lain. Kita tidak boleh menyamakan diri kita dengan siapa pun; setiap orang memiliki pergumulannya sendiri. Ketika seseorang tidak memiliki sikap berjaga-jaga, ia menjadi mangsa kuasa kegelapan (1Ptr. 5:8). Karena itu, Tuhan Yesus menasihati kita untuk selalu berjaga-jaga (Mat. 25:13).

Faktanya, banyak orang menunda pertobatan atau menunda langkah untuk sungguh-sungguh mengikut Tuhan Yesus. Mereka berpikir bahwa nanti, sebelum meninggal, mereka akan bertobat terlebih dahulu. Ini adalah kecerobohan besar, sebab tidak ada seorang pun yang tahu kapan saat terakhir hidupnya. Belum tentu seseorang yang mati akan sempat bertobat. Kematian dapat datang secara tiba-tiba—melalui kecelakaan atau penyakit yang tidak disadari. Selain itu, bila seseorang sudah terlalu lama hidup dalam ketidakbenaran, hatinya dapat menjadi begitu keras sehingga ia tidak lagi memiliki kemampuan untuk bertobat. Jika demikian, bagiannya hanyalah kebinasaan.

Kedua, seseorang tidak memanfaatkan waktu untuk bertumbuh dalam kedewasaan. Orang seperti ini menunda apa yang seharusnya dilakukan segera atau pada waktunya. Ia selalu berpikir bahwa kesempatan masih ada, padahal kesempatan yang diberikan Tuhan kepada setiap individu selalu terbatas. Itulah sebabnya Paulus menasihati jemaat untuk menggunakan waktu yang ada (Ef. 5:16). Menggunakan waktu yang ada berarti memanfaatkan seluruh waktu yang Tuhan anugerahkan—bukan hanya waktu menjelang kematian atau pada akhir perjalanan hidup.

Jika seseorang sejak jauh-jauh hari sudah memiliki sikap berjaga-jaga yang benar, ia akan tahan berdiri di hadapan Tuhan Yesus (Luk. 21:36). Tahan berdiri di hadapan Anak Manusia berarti siap mempertanggungjawabkan segala sesuatu yang dilakukan selama hidup. Ketika berdiri di hadapan takhta Tuhan, orang yang telah berjaga-jaga sejak awal akan mencapai kedewasaan atau kesempurnaan yang memuaskan hati Tuhan, sehingga ia tahan berdiri di hadapan Anak Manusia. Sebaliknya, orang yang gagal mencapai target rohani yang seharusnya ia capai akan takut berhadapan dengan Tuhan—yang berarti ia tidak tahan berdiri di hadapan-Nya. Mari kita berkomitmen untuk selalu berjaga-jaga agar kita tetap dalam keadaan siap, apa pun yang terjadi.

Tuhan Yesus memberkati?

JIKA SESEORANG SEJAK JAUH-JAUH HARI SUDAH MEMILIKI SIKAP BERJAGA-JAGA YANG BENAR, IA AKAN TAHAN BERDIRI DI HADAPAN TUHAN YESUS.

Card image
Bacaan Alkitab Setahun - 16 Januari 2026
2026-01-17 12:38:17

Kejadian 12-15

Card image
KIDS DAILY DEVOTIONAL 15 Januari 2026 - BERSYUKUR SAAT BERIBADAH
2026-01-16 12:36:27


Mazmur 100:2
“Beribadahlah kepada TUHAN dengan sukacita, datanglah ke hadapan-Nya dengan sorak-sorai!”

Halo, Rehobot Kids! Siapa di sini yang senang kalau hari Minggu tiba? Saat kita datang ke gereja, bernyanyi bersama, bertepuk tangan, lalu berdoa bersama-sama—itu bukan kegiatan biasa, loh. Itu waktu istimewa untuk bertemu dengan Tuhan!

Ibadah itu seperti pesta sukacita—bukan pesta kue atau hadiah, tetapi pesta untuk memuji Tuhan. Ketika kita bernyanyi dan berdoa, hati kita dipenuhi damai dan kebahagiaan. Kenapa? Karena Tuhan hadir di tengah pujian anak-anak-Nya. Bayangkan, Tuhan tersenyum melihat kamu bernyanyi dan memuji-Nya dengan semangat!

Memang kadang kita bangun pagi masih ngantuk, hujan turun, atau rasanya mau rebahan saja. Tapi ingat, bisa beribadah adalah hadiah dari Tuhan. Banyak orang di luar sana tidak bisa beribadah dengan bebas seperti kita. Itu sebabnya kita harus bersyukur setiap kali bisa datang ke gereja.

Mulai sekarang, yuk datang beribadah dengan hati penuh sukacita dan ucapan syukur. Puji Tuhan dengan suara lantang, dengarkan Firman dengan sungguh-sungguh, dan berdoalah dengan hati yang tulus.

Karena setiap ibadah adalah kesempatan untuk mengatakan: “Terima kasih, Tuhan! Aku bersyukur boleh menyembah-Mu!”

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 15 Januari 2026 (English Version) - ASKING, NOT FORCING
2026-01-16 12:33:51

“Do not be anxious about anything, but in everything, by prayer and petition, with thanksgiving, present your requests to God.”
Philippians 4:6

Guys, prayer is supposed to be a place of encounter, not a place of demands. But honestly, sometimes without realizing it, our prayers turn into a wishlist that must be fulfilled immediately. If it hasn’t happened yet, we get disappointed. If God hasn’t answered, we get angry.

Being diligent in prayer doesn’t always mean our hearts are surrendered. It’s possible our mouths are praying, but our mindset is pressuring God with our own timeline and our own way.

God isn’t against requests. He wants us to be honest. But He also wants us to come with a heart that trusts, not one that forces. Healthy prayer is always accompanied by gratitude, because gratitude helps us remember that God knows what is best—even when His answer isn’t what we want yet.

When we pray with a surrendered heart instead of demanding, our relationship with God becomes alive. We no longer come as customers collecting on a promise, but as children who trust their Father.

WHAT TO DO?
1. Check the content of your prayers: is it more demands, or more trust?
2. Include thanksgiving in every prayer, even when the answer isn’t visible yet.
3. Learn to say: “God, Your will is better than my desires.”

BIBLE MARATHON:
Mark 16

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 15 Januari 2026 - MEMOHON, BUKAN MEMAKSA
2026-01-16 12:20:41


“Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apa pun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur.”
Filipi 4:6

Guys, doa itu seharusnya jadi ruang perjumpaan, bukan ruang tuntutan. Tapi jujur aja, kadang tanpa sadar doa kita berubah jadi daftar keinginan yang harus segera dipenuhi. Kalau belum terjadi, kita kecewa. Kalau Tuhan belum jawab, kita marah.

Rajin doa belum tentu berarti hati kita tunduk. Bisa jadi mulut kita berdoa, tapi mental kita sedang menekan Tuhan dengan waktu dan cara versi kita sendiri.

Tuhan nggak anti permintaan. Dia rindu kita jujur. Tapi Tuhan juga mau kita datang dengan sikap hati yang percaya, bukan memaksa. Doa yang sehat selalu disertai syukur, karena syukur menolong kita mengingat bahwa Tuhan tahu apa yang terbaik — bahkan saat jawabannya belum seperti yang kita mau.

Saat kita berdoa dengan hati yang berserah, bukan menuntut, relasi dengan Tuhan jadi hidup. Kita nggak lagi datang sebagai pelanggan yang menagih janji, tapi sebagai anak yang percaya pada Bapanya.

WHAT TO DO?
1. Periksa kembali isi doamu: apakah lebih banyak tuntutan atau kepercayaan?
2. Sertakan ucapan syukur dalam setiap doa, bahkan saat jawabannya belum terlihat.
3. Belajar berkata: “Tuhan, kehendak-Mu lebih baik dari keinginanku.”

BIBLE MARATHON:
Markus 16

Card image
Renungan Pagi - 15 Januari 2026
2026-01-16 12:18:38


Orang yang hidup dalam kesucian, ketaatan dan kebenaran, dia bisa menghadapi badai, tapi dia tidak pernah bisa ditaklukkan oleh badai.

Sebaliknya orang yang hidup dalam kebusukan, orang yang hidup dalam kemunafikan, orang yang hidup dalam kejahatan bisa kelihatan hebat tapi ujungnya pasti hancur.

Card image
Quote Of The Day - 15 Januari 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-01-15 23:59:04


Indikator yang lain untuk orang yang belum memiliki kesalehan standar Allah adalah ia tidak memiliki kerinduan bertemu dengan Tuhan.

Card image
Mutiara Suara Kebenaran - 15 Januari 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-01-15 23:58:16


Tujuan perjalanan hidup orang percaya sangat jelas, yaitu Kerajaan Tuhan Yesus yang akan datang.

Card image
PERMANENTLY ATTACHED - 15 Januari 2026 (English Version)
2026-01-15 23:57:28


Attachment to God must be permanent, which means that believers, in every circumstance, in every place, and at every moment, must remain in attachment to God. There must be no place or time in which a believer is not joined to God. Ultimately, this attachment becomes eternal, and this is what is truly called a covenant between God and His people. In the Old Testament, the term used is beriyth (בְּרִית), a key term that describes the relationship between Yahweh and Israel as His chosen people. The equivalent Greek term is diathēkē (διαθήκη).

A believer must not be attached to God only when they are in church; likewise, we must not feel detached from the world only when attending a worship service. To avoid being attached to the world, one does not need to abandon responsibilities outside the church—whether as a businessperson, medical professional, legal practitioner, politician, or otherwise. Some believe that to live in fellowship with God, one must leave secular work, attend church services every day, and, to be even more perfect, become a full-time church worker or pastor. This is a mistaken concept, similar to beliefs in certain religions that teach that to become a pious person, one must abandon the world, retreat to secluded places, and isolate oneself to unite with God. Such people then assume that they are holier than those who remain busy in daily activities outside the church.

In fact, when a person struggles through the real battles of life, that is when he can prove his love, faithfulness, and true piety toward God. Just as a person can only be called a great swimmer not by swimming in a pool, but in the midst of ocean waves. A husband proves his faithfulness not when there is no temptation, but when he has the opportunity to shift his affection to many beautiful women yet chooses to remain devoted to his own wife. Likewise, a person proves that he loves God above all things when he has an excellent opportunity to gain worldly pleasures—titles, power, fame, and honor—yet chooses God instead. It is at this point that one’s love for God is tested.

God allows believers to enjoy the world with its pleasures. However, a faithful believer will strive to choose to remain attached to God. In Luke 17, the Lord Jesus cites the story of Lot. He warns believers not to fail to receive His saving work simply because they love the world. Lot did not look back even though he lost all his possessions in Sodom. Lot obeyed God faithfully, but Lot’s wife did not. As God’s chosen people, we must be willing to engage in a “barter”: leaving the world to obtain the Kingdom of Heaven. We must dare to make this exchange, just as the people mentioned in the parables of Matthew 13:44-46 did. Bartering is a matter of the heart — an inner matter.

Does our heart truly no longer hope to find happiness in the world, or do we still depend on earthly things for our joy? If a person still expects happiness from this world, then he is not attaching himself to God. But if a person dares to leave the pleasures of the world because they desire only to enjoy God and His Kingdom, then they are building an eternal bond with God. May this become our commitment as we step into the new year.

May The Lord Jesus bless us?

IF THE PERSON DARES TO LEAVE THE PLEASURES OF THE WORLD BECAUSE THEY DESIRE ONLY TO ENJOY GOD AND HIS KINGDOM, THEN THEY ARE BUILDING AN ETERNAL BOND WITH GOD.

Card image
KETERIKATAN YANG PERMANEN - 15 Januari 2026
2026-01-15 23:39:00


Keterikatan dengan Tuhan haruslah keterikatan yang permanen. Hal ini dimaksudkan agar orang percaya, dalam segala keadaan, di segala tempat, dan setiap waktu, tetap berada dalam keterikatan dengan Tuhan. Jadi, tidak ada tempat dan waktu di mana orang percaya tidak melekat kepada Tuhan. Pada akhirnya, keterikatan ini menjadi keterikatan yang abadi. Inilah yang sebenarnya disebut sebagai covenant (perjanjian) antara umat dan Allah. Dalam Perjanjian Lama, istilah ini disebut beriyth (בְּרִית), sebuah kata yang sangat penting dalam menunjukkan hubungan antara Yahweh dan Israel sebagai umat pilihan-Nya. Kata yang sejajar dalam teks Yunani adalah diathēkē (διαθήκη).

Orang percaya tidak boleh terikat kepada Tuhan hanya pada waktu berada di gereja; demikian pula, kita tidak boleh merasa tidak terikat pada dunia hanya ketika mengikuti kebaktian. Untuk tidak terikat pada dunia, seseorang tidak harus meninggalkan kesibukan di luar gereja—sebagai pengusaha, tenaga medis, praktisi hukum, politisi, dan sebagainya. Ada orang yang beranggapan bahwa untuk dapat hidup dalam persekutuan dengan Tuhan, ia harus meninggalkan pekerjaan sekuler, rajin menghadiri kebaktian setiap hari, dan supaya lebih sempurna lagi, menjadi fulltimer gereja atau pendeta. Ini adalah konsep yang keliru, dan mirip dengan keyakinan dalam beberapa agama yang mengajarkan bahwa untuk menjadi orang saleh, seseorang harus meninggalkan dunia, menyingkir ke tempat sunyi, dan mengasingkan diri agar dapat bersatu dengan Tuhan. Lalu muncul anggapan bahwa diri mereka lebih suci dibandingkan orang-orang yang tetap sibuk dalam kegiatan sehari-hari di luar gereja.

Justru ketika seseorang bergulat dalam berbagai pergumulan hidup di dunia, ia dapat membuktikan cinta dan kesetiaannya kepada Tuhan serta kesalehannya yang sejati. Sama seperti seseorang baru layak disebut perenang hebat jika mampu berenang bukan hanya di kolam renang, tetapi juga di tengah gelombang lautan. Seorang suami terbukti setia bukan ketika tidak ada godaan, melainkan ketika ia memiliki kesempatan untuk memindahkan hatinya kepada banyak wanita cantik tetapi tetap memilih istrinya sendiri. Demikian pula seseorang dapat membuktikan bahwa ia mengasihi Tuhan lebih dari segala sesuatu ketika ia memiliki kesempatan besar untuk meraih kenikmatan dunia—gelar, kekuasaan, nama besar, dan kehormatan—tetapi tetap memilih Tuhan. Dari sinilah kecintaan seseorang kepada Tuhan teruji.

Tuhan memberi peluang bagi orang percaya untuk menikmati dunia dengan segala kesenangannya. Namun, orang percaya yang setia akan berusaha untuk memilih terikat kepada Tuhan. Dalam Lukas 17, Tuhan Yesus mengutip kisah Lot. Ia mengingatkan agar orang percaya tidak gagal menyambut karya keselamatan-Nya hanya karena mencintai dunia. Lot tidak menoleh ke belakang sekalipun ia kehilangan seluruh hartanya di Sodom. Lot menaati Tuhan dengan setia, tetapi istri Lot tidak. Sebagai orang pilihan, kita harus berani melakukan “barter”: meninggalkan dunia untuk memperoleh Kerajaan Surga. Kita harus berani melakukan tindakan barter sebagaimana orang-orang yang disebut dalam perumpamaan Matius 13:44–46. Barter adalah persoalan hati—persoalan batin.

Apakah hati kita sungguh-sungguh tidak lagi berharap memperoleh kebahagiaan dari dunia, atau masih menggantungkan kebahagiaan pada berbagai fasilitas yang ada di bumi ini? Jika seseorang masih berharap memperoleh kebahagiaan dari dunia ini, berarti ia tidak mengikatkan diri kepada Tuhan. Tetapi jika seseorang berani meninggalkan kesenangan dunia, sebab ia hanya ingin menikmati Tuhan dan Kerajaan-Nya, maka ia sedang membangun tali ikatan yang abadi dengan Tuhan. Kiranya ini menjadi komitmen kita dalam menapaki tahun yang baru.

Tuhan Yesus memberkati?

JIKA SESEORANG BERANI MENINGGALKAN KESENANGAN DUNIA, KARENA IA HANYA INGIN MENIKMATI TUHAN DAN KERAJAAN-NYA, MAKA IA SEDANG MEMBANGUN TALI IKATAN YANG ABADI DENGAN TUHAN.

Card image
Bacaan Alkitab Setahun - 15 Januari 2026
2026-01-15 23:37:18

Ayub 40-42

Card image
KIDS DAILY DEVOTIONAL 14 Januari 2026 - SELALU BERSYUKUR, YUK!
2026-01-15 18:27:58


Kolose 3:13
“Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain dan ampunilah seorang akan yang lain.”

Halo, Rehobot Kids! Pernah nggak kamu merasa kesal karena teman tidak mau berbagi mainan atau malah cuek saat diajak bermain? Rasanya tidak enak, ya. Kadang kita ingin marah atau ngambek. Tapi ada satu hal yang Tuhan ajarkan untuk membuat hati kita lebih tenang dan bersyukur.

Loh, kok bersyukur? Karena bersyukur itu seperti minum air dingin saat kita kepanasan—langsung bikin hati adem! Ketika kita memilih bersyukur, kita mulai mengingat hal-hal baik yang Tuhan sudah berikan: keluarga yang sayang kita, teman-teman lain yang baik, kesehatan, dan kesempatan untuk belajar dan bermain.

Tuhan juga mengingatkan kita untuk sabar dan mengampuni. Sabar itu seperti latihan otot—semakin sering dilakukan, semakin kuat. Jadi kalau teman belum mau berbagi atau membuat kamu kesal, jangan langsung marah. Coba katakan dalam hati, “Tuhan, terima kasih untuk hari ini. Tolong aku untuk tetap baik, ya.”

Rehobot Kids, hati yang penuh syukur membuat kita lebih tenang, lebih ramah, dan lebih mirip Yesus. Jadi yuk mulai hari ini belajar berkata, “Terima kasih, Tuhan!” dalam segala hal—termasuk saat ada hal yang bikin bete. Tuhan pasti senang melihat hati yang mau belajar bersyukur!

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 14 Januari 2026 (English Version) - GUARDING YOUR HEART WITH GRATITUDE
2026-01-15 18:24:28


“Above all else, guard your heart, for everything you do flows from it.” Proverbs 4:23

Guys, a tired heart is often not because life is too heavy, but because we look sideways too often. Without realizing it, comparison makes our hearts keep working—evaluating, measuring, and eventually judging ourselves.

When our focus shifts from what God is doing to what others have, gratitude slowly disappears. We begin to feel left behind, less successful, or even not good enough.

But God calls us to guard our hearts, not compare our lives. Every time we compare, we’re allowing our hearts to be stolen by standards that don’t come from God.

Gratitude grows when our focus turns back inward: to the process God allows, to the small steps we’re taking, and to God’s love that never changes.

So if today your heart feels tired, check your focus again. It may not be your life that’s wrong, but the direction of your gaze that needs correcting.

WHAT TO DO?
1. Notice the moment your heart starts comparing—then stop.
2. Redirect your focus to one thing God is working on today.
3. Guard your heart with gratitude, not with comparison.

BIBLE MARATHON:
Mark 15

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 14 Januari 2026 - MENJAGA HATI DENGAN SYUKUR
2026-01-15 18:19:24


“Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan.”
Amsal 4:23

Guys, capek hati itu sering bukan karena hidup terlalu berat, tapi karena kita terlalu sering melihat ke samping. Tanpa sadar, perbandingan bikin hati kita terus bekerja: menilai, mengukur, dan akhirnya menghakimi diri sendiri.

Saat fokus kita pindah dari apa yang Tuhan lakukan ke apa yang orang lain miliki, syukur pelan-pelan hilang. Kita mulai merasa tertinggal, kurang berhasil, atau bahkan nggak cukup berarti.

Padahal Tuhan memanggil kita untuk menjaga hati, bukan membandingkan hidup. Setiap kali kita membandingkan, kita sedang membiarkan hati kita dicuri oleh standar yang bukan dari Tuhan.

Syukur bertumbuh saat fokus kita kembali ke dalam: ke proses yang Tuhan izinkan, ke langkah kecil yang sedang kita jalani, dan ke kasih Tuhan yang nggak pernah berubah.

Jadi kalau hari ini hatimu terasa lelah, cek lagi fokusmu. Bisa jadi bukan hidupmu yang salah, tapi arah pandangmu yang perlu dikoreksi.

WHAT TO DO?
Sadari momen saat hatimu mulai membandingkan, lalu hentikan.

Arahkan kembali fokusmu pada satu hal yang Tuhan sedang kerjakan hari ini.

Jaga hatimu dengan syukur, bukan dengan perbandingan.

BIBLE MARATHON:
Markus 15

Card image
Renungan Pagi - 14 Januari 2026
2026-01-14 23:13:52


Salah satu kejahatan yang membawa kita pada kegagalan dan kesengsaraan adalah iri hati, iri hati bukanlah sekedar sifat dan bagian dari karakter, tetapi bagian dari kejahatan yang setan sembunyikan dalam sifat dan karakter kita.

Artinya jika iri hati ada pada kita, maka harus bertobat dan segera membereskannya, sebab bila tidak, maka iri hati akan terus menggerogoti, sehingga gagal dan menuntun kita pada kesengsaraan.

Card image
Quote Of The Day - 14 Januari 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-01-14 23:12:31


Indikasi bahwa kita tidak memiliki kesalehan seperti yang Allah kehendaki adalah adanya perasaan takut menghadapi sesuatu hal; takut menghadapi bahaya, takut menghadapi kematian.

Card image
Mutiara Suara Kebenaran - 14 Januari 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-01-14 23:11:09


Tuhan sudah menyediakan berkat-Nya asal kita bertanggung jawab dalam hidup ini dengan bekerja keras, menjaga kesehatan dan berhati-hati dalam setiap tindakan.

Card image
BONDAGE - 14 Januari 2026 (English Version)
2026-01-14 23:08:43


In reality, attachment is a form of slavery; meaning, to whomever a person’s heart is attached, to that one he devotes himself. In 1 Corinthians 6:12, Paul states, “All things are lawful for me, but not all things are beneficial. All things are lawful for me, but I will not be mastered by anything.” Paul refused to be attached to anything except binding himself to the Lord. Something that appears harmless, does not violate moral norms, or is lawful does not mean it may be done without discernment. What is lawful can turn into an attachment that eventually enslaves a person’s life. The word lawful in the original text is exesti (ἔξεστι), which means lawful, not violating the law or permissible. Meanwhile, the Greek word beneficial is sumphérō (συμφέρω), which also carries the sense of “bringing together” or “supporting.”

Paul’s statement that all things are lawful but not all things are beneficial means that he could do many things, but not every action would benefit him. Beneficial here relates to holiness of life, referring to the previous verse (1 Cor. 6:11). Therefore, when Paul says that not all things are beneficial, he means that not all things support the building of holiness. Doing something that is not beneficial may disrupt the growth of holiness and become a bondage. Everything that does not support the building of holiness should be regarded as an attachment that must be released.

Paul also says that all things are lawful for me, but I will not be mastered by anything, and this means that something that is not wrong to do is not automatically something that should be done. If that thing becomes an attachment or begins to enslave, it must be avoided. The phrase “to be mastered by something” in the original text is exousiasthésomai hypo tinos (ἐξουσιασθήσομαι ὑπό τινος), which means “to be under the power of something.” The word exousiasthésomai comes from exousia, meaning ‘authority’ or ‘right’. In this sense, a believer must not be under the authority of anything, nor allow anything to have a right over his life.

For example, owning a house is not wrong. But if owning a home becomes a law—something that must be obtained—then that house becomes a master that binds a person’s life. The same applies to the matter of marriage. It is not wrong to desire a spouse, but when it becomes a demand, a spouse turns into an attachment.

From this explanation, it is clear that to avoid being attached to something or someone, a believer must struggle, because the rhythm of human life has long been said: whatever is lawful is permissible. Many people live without alertness toward the maneuvers of the powers of darkness that seek to enslave their lives. The powers of darkness work so that Christians are not attached to God, but attached to other things—things that may not be morally wrong to possess or pursue. But when God is no longer the sole source of joy, there is undoubtedly an idol or bondage within.

Indeed, a person does not have a direct connection with the devil, but when a person does not make God the only source of happiness, he will undoubtedly be attached to something to which he enslaves himself. Here we see how difficult it is to be a child of God who must bind himself to the Lord. Yet, no matter how heavy and complicated it is, God, through His Spirit, will guide the believer so that they may live without spot or blemish. Now is the time for us to free ourselves from the bondage of the world courageously.

May The Lord Jesus bless us?

ATTACHMENT IS A FORM OF SLAVERY, MEANING, TO WHOMEVER A PERSON'S HEART IS ATTACHED, TO THAT ONE HE DEVOTES HIMSELF.

Card image
BELENGGU - 14 Januari 2026
2026-01-14 23:05:54


Sesungguhnya, keterikatan adalah suatu perhambaan; artinya, kepada siapa hati seseorang terikat, kepada dialah ia mengabdikan dirinya. Dalam 1 Korintus 6:12, Paulus menyatakan, “Segala sesuatu halal bagiku, tetapi bukan semuanya berguna. Segala sesuatu halal bagiku, tetapi aku tidak membiarkan diriku diperhamba oleh suatu apa pun.” Paulus tidak mau terikat oleh apa pun, kecuali mengikatkan dirinya kepada Tuhan. Sesuatu yang dipandang tidak salah, tidak melanggar norma, atau halal bukan berarti boleh dilakukan tanpa pertimbangan. Yang halal dapat berubah menjadi ikatan yang akhirnya membelenggu hidup. Kata halal dalam teks aslinya adalah exesti (ἔξεστι), yang berarti lawful—tidak melanggar hukum atau sah. Sedangkan kata berguna dalam teks aslinya adalah sumphérō (Yun. συμφέρω), yang juga memiliki pengertian “membawa bersama” atau “mendukung.”

Maksud pernyataan Paulus bahwa segala sesuatu halal baginya tetapi tidak semuanya berguna adalah bahwa ia bisa melakukan banyak hal, tetapi tidak semua yang dapat dilakukan itu mendatangkan kebaikan bagi dirinya. Berguna di sini berkaitan dengan kesucian hidup, mengacu pada ayat sebelumnya (1 Kor. 6:11). Jadi, ketika Paulus menyatakan bahwa tidak semua berguna, maksudnya adalah bahwa tidak semua hal mendukung pembangunan kesucian hidup. Melakukan sesuatu yang tidak berguna dapat mengganggu pertumbuhan kesucian hidup dan dapat menjadi belenggu. Semua yang tidak mendukung pembangunan kesucian hidup harus dipandang sebagai ikatan yang harus dilepaskan.

Paulus juga menyatakan bahwa segala sesuatu halal baginya, tetapi ia tidak membiarkan dirinya diperhamba oleh apa pun. Ini berarti sesuatu yang tidak salah dilakukan bukanlah sesuatu yang otomatis boleh dilakukan. Jika hal itu menjadi ikatan atau memperhamba, maka harus dijauhi. Kalimat diperhamba oleh sesuatu dalam teks aslinya adalah exousiasthésomai hypo tinos (Yun. ἐξουσιασθήσομαι ὑπό τινος), yang berarti “berada di bawah kekuasaan sesuatu.” Kata exousiasthésomai berasal dari exousia, yang berarti kuasa atau hak. Dalam hal ini, orang percaya tidak boleh berada di bawah kuasa sesuatu, atau membiarkan sesuatu memiliki hak atas hidupnya.

Contohnya, memiliki rumah bukanlah hal yang salah. Tetapi bila memiliki rumah menjadi hukum—seakan-akan harus dimiliki—maka rumah itu menjadi tuan yang mengikat kehidupannya. Hal yang sama berlaku pada perkara jodoh. Tidak salah bila seseorang mendambakan jodoh, tetapi jika dijadikan suatu keharusan, maka jodoh berubah menjadi ikatan.

Dari penjelasan ini dapat dimengerti bahwa untuk tidak terikat oleh sesuatu atau seseorang, orang percaya harus berjuang, sebab selama ini telah menjadi irama hidup bahwa yang halal boleh dilakukan. Banyak orang menjalani hidup tanpa kewaspadaan terhadap manuver kuasa kegelapan yang berusaha membelenggu kehidupan mereka. Kuasa kegelapan bekerja supaya orang Kristen tidak terikat kepada Tuhan, tetapi terikat kepada hal-hal lain. Hal-hal lain ini bisa berupa apa pun yang secara moral tidak salah untuk dimiliki atau dilakukan, tetapi ketika Tuhan tidak menjadi satu-satunya kebahagiaan hidup, pasti ada berhala atau ikatan dalam diri seseorang.

Memang tidak secara langsung seseorang berhubungan dengan Iblis, tetapi ketika seseorang tidak menjadikan Tuhan sebagai satu-satunya sumber kebahagiaannya, ia pasti terikat oleh sesuatu yang kepadanya ia memperhambakan diri. Di sini tampak betapa beratnya menjadi anak Tuhan yang harus mengikatkan diri kepada Tuhan. Namun, seberat dan sesulit apa pun, Tuhan melalui Roh-Nya akan menuntun orang percaya sehingga dapat hidup tidak bercacat dan tidak bercela. Kini saatnya kita berkomitmen untuk berani melepaskan diri dari perhambaan dunia.

Tuhan Yesus memberkati?

KETERIKATAN ADALAH SUATU PERHAMBAAN; ARTINYA, KEPADA SIAPA HATI SESEORANG TERIKAT, KEPADA DIALAH IA MENGABDIKAN DIRIYA.

Card image
Bacaan Alkitab Setahun - 14 Januari 2026
2026-01-14 23:02:43

Ayub 38-39

Card image
KIDS DAILY DEVOTIONAL 13 Januari 2026 - AKU BERHARGA DI MATA TUHAN
2026-01-14 00:03:20


1 Korintus 6:19
“Atau tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu…?”
Rehobot Kids, pernah nggak kamu merasa kurang percaya diri? Mungkin kamu merasa kurang tinggi, kurang cepat lari, kurang pintar, atau tidak sebagus temanmu. Kadang kita membandingkan diri dengan orang lain sampai lupa satu kebenaran penting: kita sangat berharga di mata Tuhan. Alkitab berkata bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus. Artinya, Tuhan sendiri tinggal di dalam dirimu! Wah, keren sekali, kan?

Kalau Tuhan saja mau tinggal di dalam kamu, berarti kamu bukan anak biasa-biasa saja. Kamu istimewa, berharga, dan sangat dikasihi. Karena itu, kita harus belajar bersyukur untuk tubuh yang Tuhan berikan—dari kepala sampai kaki, termasuk hal kecil yang sering kita lupakan. Bayangkan jika tanganmu tidak bisa menulis atau kakimu tidak bisa berjalan. Tapi hari ini kamu bisa bermain, belajar, tersenyum, dan berlari—semuanya adalah anugerah dari Tuhan.

Karena tubuh kita adalah milik Tuhan, kita perlu menjaganya dengan baik. Caranya sederhana: makan makanan sehat, rajin berolahraga, cukup beristirahat, dan—yang tidak kalah penting—tidak membandingkan diri dengan orang lain. Tuhan menciptakan setiap anak berbeda-beda dengan tujuan yang istimewa.

Rehobot Kids, ingatlah bahwa kamu sangat berharga di mata Tuhan. Dia yang menciptakanmu, menjaga hidupmu, dan tinggal di dalammu. Jadi, bersyukurlah dan hiduplah sebagai anak Tuhan yang tahu bahwa dirinya dicintai dan dihargai oleh-Nya. Setiap kali kamu merasa kecil, ingatlah: Tuhan tinggal di dalam dirimu. Kamu berharga dan istimewa!

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 13 Januari 2026 (English Version) - A LIFE FROM THE FATHER
2026-01-13 23:57:54


“Every good and perfect gift is from above, coming down from the Father of the heavenly lights.”
James 1:17

Guys, without realizing it, we often fall into the trap of comparison. We see other people’s achievements, and their lives seem more advanced, more put-together, more successful. And slowly, what God has given us begins to feel like it isn’t enough.

Comparison makes us forget one important thing: God never makes a mistake in giving. When we’re busy looking at what others have, we stop appreciating what God is doing in our own lives.

It’s not because God’s blessings are small, but because our focus shifts—from gratitude to complaining, from trust to questioning.

Everyone has a different journey. What God has entrusted to someone else is not the standard by which we measure our lives. When we compare, gratitude dies. But when we trust, gratitude comes alive again.

God didn’t call us to have the same life as someone else. He called us to be faithful with the life He has entrusted to us.

WHAT TO DO?
1. Stop scrolling for a moment if you start feeling jealous or insecure.
2. Write down three things God has already done in your life so far.
3. Remember: what God gives to someone else does not reduce what He has prepared for you.

BIBLE MARATHON:
Mark 14

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 13 Januari 2026 - HIDUP YANG DARI BAPA
2026-01-13 23:55:40


“Setiap pemberian yang baik dan setiap anugerah yang sempurna datangnya dari atas, diturunkan dari Bapa segala terang.”
Yakobus 1:17

Guys, tanpa sadar kita sering jatuh ke jebakan perbandingan. Lihat pencapaian orang lain, hidup mereka kelihatan lebih maju, lebih rapi, lebih berhasil. Lalu pelan-pelan, apa yang Tuhan beri ke kita mulai terasa kurang.

Perbandingan bikin kita lupa satu hal penting: Tuhan nggak pernah salah memberi. Saat kita sibuk melihat apa yang orang lain punya, kita berhenti menghargai apa yang Tuhan sedang kerjakan dalam hidup kita.

Bukan karena berkat Tuhan kecil, tapi karena fokus kita pindah. Dari bersyukur jadi mengeluh. Dari percaya jadi mempertanyakan.

Setiap orang punya perjalanan yang berbeda. Apa yang Tuhan percayakan ke orang lain bukan standar untuk menilai hidup kita. Ketika kita membandingkan, syukur mati. Tapi ketika kita percaya, syukur hidup kembali.

Tuhan nggak memanggil kita untuk punya hidup yang sama seperti orang lain. Dia memanggil kita untuk setia dengan hidup yang Dia percayakan ke kita.

WHAT TO DO?
1. Berhenti scroll sejenak kalau mulai merasa iri atau minder.
2. Tulis tiga hal yang Tuhan sudah kerjakan dalam hidupmu sejauh ini.
3. Ingat: apa yang Tuhan beri ke orang lain tidak mengurangi apa yang Dia siapkan buatmu.

BIBLE MARATHON:
Markus 14

Card image
Renungan Pagi - 13 Januari 2026
2026-01-13 22:51:03


Dalam hidup ini masalah boleh ada tetapi kita tidak boleh mundur, tidak boleh menyerah dan putus asa, karena tahu bahwa masih punya Tuhan, kita harus beriman teguh kepada-Nya, Alkitab berkata orang benar akan hidup oleh iman.

Orang lain boleh mengandalkan uang, koneksi, tetapi kita hidup dengan mengandalkan Tuhan; uang dan koneksi bisa mengecewakan, tetapi iman kepada Kristus tidak akan pernah mengecewakan.

Card image
Quote Of The Day - 13 Januari 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-01-13 22:49:48


Ketika seseorang memiliki kesalehan sesuai dengan standar Allah, pasti keindahan dunia menjadi pudar di matanya; ia tidak tertarik lagi dengan keindahan dunia.

Card image
Mutiara Suara Kebenaran - 13 Januari 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-01-13 22:48:49


Seharusnya masalah pemenuhan kebutuhan jasmani tidak menjadi masalah utama ketika kita berurusan dengan Tuhan.

Card image
BINDING ONESELF - 13 Januari 2026 (English Version)
2026-01-13 22:46:35


In 1 Corinthians 6:17, the Word of God says that whoever is united with the Lord becomes one spirit with Him. The phrase “united with” in the original Greek is kollōmenos (κολλώμενος), from the root word kollaō (κολλάω). This word can also mean to glue or to attach permanently. What, then, are the concrete implications when a person binds himself to the Lord? This is a crucial matter—far more important than anything else—because a Christian who fails to bind himself to God is a person who fails to recognize and possess his salvation. Salvation is God’s work to restore humanity to His original design, including enabling humans to be bound to Him. We must understand that, by nature, human beings will always be bound to something or someone. The question is: to what—or to whom—are we bound?

No one should feel that he has bound himself to God merely by faithfully attending church. Binding oneself to God means living in constant dependence on God, realizing that life cannot be lived without true fellowship with Him. Fellowship means being aligned in thought and feeling with someone, becoming one in purpose and passion. For that reason, fellowship with God becomes the only true purpose of life on this earth. Financial matters, health, economic and social status, education, and all other things are not the main issues. Without fellowship with God, there is no life. This lifestyle is radically different from that of most people, who are carried away by the fleeting matters of this world and thus treat fellowship with God as trivial. They live only for personal pleasure, using worldly means for self-interest. But those who live in fellowship with God will not do anything outside of God’s will and plan; God Himself becomes their joy.

One spirit means one passion, one desire, one ambition, and one purpose in life, and this implies that the requirement for being bound to God is to know God and all His truth. Through that knowledge, we can understand His will and His plan. No one can share God’s passion without knowing His will and plan. Therefore, we must strive to have the mind and heart of Christ. In truth, the effort to have the mind and feeling of Christ is the effort to bind ourselves to God.

A person who is bound to God will always feel lonely without experiencing God’s presence in their life. He constantly longs for togetherness with God wherever he is. That means there is no activity he can enjoy unless God also enjoys it with him. Therefore, before doing anything, one must first ask whether God is pleased with it or not. A person who is bound to God always wants God to delight in him, and he wants to rejoice in God. He will strive to do everything for God’s interest and will not wound His heart. If he makes a mistake, he will grieve deeply because his heart is hurt; to him, wounding God’s heart is the same as wounding his own. At this point, a person can genuinely be called a beloved of God. Such people deserve to be called the bride of Christ. Let our commitment to God bind us in this new year.

God bless?

BINDING ONESELF TO GOD MEANS LIVING IN CONSTANT DEPENDENCE ON GOD, REALIZING THAT LIFE CANNOT BE LIVED WITHOUT TRUE FELLOWSHIP WITH HIM.

Card image
MENGIKATKAN DIRI - 13 Januari 2026
2026-01-13 22:44:32


Dalam 1 Korintus 6:17, firman Tuhan mengatakan bahwa barangsiapa mengikatkan dirinya pada Tuhan menjadi satu roh dengan Dia. Kata mengikatkan diri dalam teks aslinya adalah kollōmenos (Yun. κολλώμενος), dari akar kata kollaō (κολλάω). Kata ini, selain berarti mengikat, juga dapat berarti melekatkan (Inggris: to glue) atau menempelkan secara permanen. Bagaimana implikasi konkretnya jika seseorang mengikatkan diri kepada Tuhan? Ini adalah persoalan penting yang jauh lebih penting daripada hal apa pun, sebab orang Kristen yang gagal mengikatkan diri kepada Tuhan adalah orang yang gagal mengenali dan memiliki keselamatannya. Keselamatan adalah karya Tuhan untuk mengembalikan manusia kepada rancangan-Nya semula, termasuk agar manusia dapat terikat dengan Dia. Harus dipahami bahwa bagaimana pun, manusia adalah makhluk yang pasti terikat kepada sesuatu atau kepada seseorang. Persoalannya adalah: sesuatu itu apa, atau pribadi itu siapa.

Janganlah seseorang merasa telah mengikatkan diri kepada Tuhan hanya karena setia pergi ke gereja. Mengikatkan diri kepada Tuhan berarti selalu berada dalam ketergantungan kepada Tuhan; menyadari bahwa hidup ini tidak dapat dijalani tanpa persekutuan yang benar dengan Tuhan. Persekutuan berarti sejalan dalam pikiran dan perasaan dengan seseorang, sehingga menjadi satu dalam tujuan dan cita-cita. Dengan demikian, persekutuan dengan Tuhan menjadi satu-satunya tujuan hidupnya di bumi ini. Masalah keuangan, kesehatan, status ekonomi dan sosial, pendidikan, dan hal-hal lainnya bukanlah masalah utama. Tanpa persekutuan dengan Tuhan berarti tanpa kehidupan. Gaya hidup seperti ini sangat berbeda dari gaya hidup manusia pada umumnya, yang terbawa oleh berbagai persoalan fana dunia ini sehingga menganggap remeh hidup dalam persekutuan dengan Tuhan. Mereka hidup hanya untuk kesenangan diri dengan memanfaatkan sarana dunia ini. Tetapi orang yang hidup dalam persekutuan dengan Tuhan tidak akan melakukan sesuatu di luar kehendak dan rencana Tuhan; Tuhanlah yang menjadi kebahagiaannya.

Satu roh berarti satu gairah, satu hasrat, satu cita-cita, dan satu tujuan hidup. Ini berarti syarat untuk dapat terikat dengan Tuhan adalah mengenal Tuhan dan seluruh kebenaran-Nya. Melalui pengenalan itu kita dapat mengerti kehendak dan rencana-Nya. Seseorang tidak akan memiliki gairah yang sama dengan Tuhan tanpa mengenal kehendak dan rencana-Nya. Karena itu, kita harus berupaya memiliki pikiran dan perasaan seperti Kristus. Sesungguhnya, berusaha memiliki pikiran dan perasaan Kristus adalah usaha untuk mengikatkan diri kepada Tuhan.

Orang yang terikat dengan Tuhan akan selalu merasa kesepian tanpa menghayati kehadiran Tuhan dalam hidupnya. Ia selalu merindukan kebersamaan dengan Tuhan di mana pun ia berada. Itu berarti tidak ada kegiatan yang dapat ia nikmati tanpa Tuhan turut menikmatinya. Oleh sebab itu, dalam melakukan sesuatu harus dipertanyakan terlebih dahulu apakah Tuhan berkenan atau tidak. Orang yang terikat dengan Tuhan selalu ingin dinikmati oleh Tuhan dan menikmati Tuhan. Ia akan berusaha melakukan segala sesuatu bagi kepentingan Tuhan dan tidak akan menyakiti hati-Nya. Jika ia berbuat kesalahan, ia akan sangat berduka karena hatinya terluka; baginya melukai hati Tuhan sama seperti melukai dirinya sendiri. Pada titik inilah seseorang baru dapat dikatakan sebagai kekasih Tuhan. Orang-orang seperti ini layak disebut sebagai mempelai Tuhan. Jadikan keterikatan dengan Tuhan sebagai komitmen kita pada tahun yang baru ini.

Tuhan Yesus memberkati?

MENGIKATKAN DIRI KEPADA TUHAN BERARTI SELALU BERADA DALAM KETERGANTUNGAN KEPADA TUHAN; MENYADARI BAHWA HIDUP INI TIDAK DAPAT DIJALANI TANPA PERSEKUTUAN YANG BENAR DENGAN TUHAN.

Card image
Bacaan Alkitab Setahun - 13 Januari 2026
2026-01-13 22:39:30

Ayub 35-37

Card image
KIDS DAILY DEVOTIONAL 12 Januari 2026 - HOME SWEET HOME
2026-01-13 22:36:15


Mazmur 127:1
“Nyanyian ziarah Salomo. Jikalau bukan TUHAN yang membangun rumah, sia-sialah usaha orang yang membangunnya; jikalau bukan TUHAN yang mengawal kota, sia-sialah pengawal berjaga-jaga.”

Pernah nggak Rehobot Kids merasa bahwa rumahmu adalah tempat paling nyaman? Di rumah kamu bisa istirahat, makan enak, bermain, belajar, dan berkumpul bersama keluarga. Tapi tahu nggak? Tidak semua orang punya rumah yang aman dan nyaman seperti kita.

Mazmur 127:1 mengingatkan kita bahwa keamanan dan kedamaian di dalam rumah bukan berasal dari ukuran rumah atau barang-barang yang ada di dalamnya. Semua itu bisa kita rasakan karena Tuhan yang menyertai dan menjaga keluarga yang tinggal di sana. Tanpa penyertaan Tuhan, segala usaha manusia tidak akan membuat kita merasa damai.

Coba bayangkan: kamu punya rumah besar, tapi kalau isinya sering bertengkar, pasti rasanya tidak nyaman, kan? Sebaliknya, rumahmu kecil tetapi keluarga saling menyayangi dan Tuhan hadir di situ, rasanya justru aman, hangat, dan bahagia. Itulah yang disebut Home Sweet Home—rumah yang manis, nyaman, dan penuh kasih.

Tuhan memberikan kita rumah, keluarga, dan perlindungan setiap hari. Dia menjaga kita saat tidur, saat belajar, bahkan saat bermain. Karena itu, kita harus belajar bersyukur, bukan mengeluh atau membandingkan rumah kita dengan orang lain.

Rehobot Kids, mulai hari ini yuk belajar berterima kasih kepada Tuhan. Bersyukurlah untuk tempat tinggalmu, untuk keluarga yang menyayangimu, dan untuk Tuhan yang selalu menjaga rumah kita. Karena hanya bersama Tuhan, rumah kita bisa menjadi Home Sweet Home yang sesungguhnya!

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 12 Januari 2026 (English Version) - KEEP STANDING
2026-01-13 22:33:33


“The LORD makes firm the steps of the one who delights in Him; though he may stumble, he will not fall, for the LORD upholds him with His hand.” Psalm 37:23–24

Guys, there are days when life still feels unfinished. Plans don’t work out, emotions go up and down, and we start thinking, “Why am I like this again and again?” In moments like that, it’s so easy to lose confidence—and even forget who we really are.

Gratitude in the middle of a messy season isn’t about pretending to be strong. Gratitude is an acknowledgment that our lives are still being held by God. That even when our steps are shaky, our identity is still secure in His hands.

When we are grateful, we stop seeing ourselves as failures and start seeing ourselves as people who are being led. We are not defined by how often we fall and get back up, but by the God who supports us every single day.

Things may not have changed yet, but gratitude helps us stand in this truth: I am still walking with God, and that is enough for today.

So if today you feel like you haven’t gotten anywhere yet, don’t be quick to blame yourself. It could be that God is building the foundation of your identity—one small step, one thankful moment at a time.
WHAT TO DO?
1. Name one simple thing today that shows God is still guiding your life.
2. When you feel like you’ve fallen, remember: falling doesn’t erase your identity in God.
3. Give thanks as a sign of trust, not because everything is already finished.

BIBLE MARATHON:
Mark 13

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 12 Januari 2026 - TETAP BERDIRI
2026-01-13 22:30:56


“TUHAN menetapkan langkah-langkah orang yang hidupnya berkenan kepada-Nya; apabila ia jatuh, tidaklah sampai tergeletak, sebab TUHAN menopang tangannya.”
Mazmur 37:23–24

Guys, ada hari-hari di mana hidup terasa belum beres. Rencana nggak jalan, emosi naik turun, dan kita mulai ngerasa kayak, “Aku kok begini terus ya?”
Di momen kayak gitu, gampang banget kehilangan rasa percaya diri — bahkan lupa siapa diri kita sebenarnya.

Syukur di tengah keadaan yang belum rapi bukan soal pura-pura kuat. Syukur adalah pengakuan bahwa hidup kita masih dipegang Tuhan. Bahwa meskipun langkah kita goyah, identitas kita tetap aman di tangan-Nya.

Saat kita bersyukur, kita berhenti melihat diri sebagai orang yang gagal dan mulai melihat diri sebagai pribadi yang sedang dituntun. Kita bukan ditentukan oleh jatuh-bangunnya hidup, tapi oleh Tuhan yang menopang kita setiap hari.

Keadaan boleh belum berubah, tapi syukur menolong kita berdiri di kebenaran: aku masih berjalan bersama Tuhan, dan itu cukup untuk hari ini.

Jadi kalau hari ini kamu merasa belum sampai ke mana-mana, jangan buru-buru menyalahkan diri sendiri. Bisa jadi Tuhan lagi membangun fondasi identitasmu — satu langkah kecil, satu ucapan syukur.

WHAT TO DO?
1. Sebutkan satu hal sederhana hari ini yang menunjukkan Tuhan masih menuntun hidupmu.
2. Saat merasa jatuh, ingat: jatuh tidak menghilangkan identitasmu di dalam Tuhan.
3. Ucapkan syukur sebagai tanda percaya, bukan karena semua sudah selesai.

BIBLE MARATHON:
Markus 13

Card image
Renungan Pagi - 12 Januari 2026
2026-01-13 22:28:46


Alkitab berkata, apa yang mata tidak pernah lihat, apa yang telinga tidak pernah dengar, itu yang Tuhan sediakan buat orang-orang yang takut akan Dia.

Karena itu jangan minder dalam hidup ini, walaupun perjuangan dalam hidup ini keras, tetapi kalau tetap mampu untuk mempertahankan hidup benar, maka itu yang akan membawa kita naik dalam kemuliaan-Nya.

Card image
Quote Of The Day - 12 Januari 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-01-13 22:27:40


Orang yang tidak memilih untuk mengambil keputusan, berarti ia membiarkan dunia memilihkan untuk dia, dan itu celaka sekali.

Card image
Mutiara Suara Kebenaran - 12 Januari 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-01-13 22:26:17

0????????????? ?? ??????:
Oleh sebab itu kita tidak boleh menuntut hidup kita di dunia ini seperti yang kita inginkan dengan pikiran duniawi.

Card image
STRUGGLE - 12 Januari 2026 (English Version)
2026-01-13 22:25:20


Revelation 3:21
“To the one who is victorious, I will give the right to sit with Me on My throne, just as I was victorious and sat down with My Father on His throne.”

We often hear speakers, preachers, or church members say, “We are more than conquerors.” This statement must be understood correctly. If its meaning is misinterpreted, it can severely hinder the spiritual growth of those who hear it. Generally, the phrase “we are more than conquerors” is understood to mean receiving blessings—such as financial abundance, healing, or various life achievements. Some also interpret it as victory over interpersonal conflicts—legal disputes, marital disharmony, or broken relationships.

However, when the Word of God says “to the one who is victorious,” it also emphasizes that someone may lose. Victory is not something automatic. We must be realistic that every form of victory requires struggle. A boxer will not win simply by praying and fasting. Even if he is a Christian, he must still train, work hard, and take responsibility for his efforts. Prayer is not a substitute for hard work. Likewise, in Revelation 3:21, spiritual victory requires effort, earnestness, and spiritual discipline.

This statement in Revelation 3:21 was addressed to the church in Laodicea—a congregation that believed they already had victory because of the possessions and comforts they enjoyed. But the Lord rebuked them, because what they considered victory was not aligned with what God desired. They misunderstood. We must never feel that we are conquerors or “blessed” merely because we possess all kinds of worldly conveniences. Such a paradigm degrades the nature of God and misleads His people. What God desires from His children is to share His nature—to have the same heart and mind as Christ. We must struggle earnestly to achieve what God desires: perfection like the Father and conformity to the image of His Only Son, Jesus Christ.

There is a deeply strengthening statement in this verse: “just as I was victorious.” This verse shows that Jesus Himself went through a process of struggle. His victory in putting on the divine nature was not given freely. There was no collusion between God the Father and the Son. To prove this truth, Jesus had to walk the Via Dolorosa and be crucified. He won because He obeyed the Father fully—even unto death. Therefore, entering and sitting in the Kingdom of God is not merely a passive grace, but a choice and a struggle that must begin from now on.

Remember! Whatever we do as believers will echo into eternity—whether it is the echo of good deeds or the echo of evil. Many things in life may seem trivial, but never take matters related to eternity lightly, for this is not merely about 70, 80, or 100 years of earthly life; it concerns our eternal destiny. Therefore, we must earnestly work out our salvation as we await the second coming of the Lord Jesus. Do not keep sinning, for the one who sins is a slave to sin—a servant of the Prince of Darkness, Lucifer.

As we enter the mysterious year 2026, let us walk with God diligently: seeking Him in personal and corporate prayer, reading His Word daily, and gathering with upright, sincere believers. In doing so, we will enter and live through this hidden year in the care of the Almighty God.

God bless?

VICTORY IS NOT SOMETHING AUTOMATIC.

Card image
PERJUANGAN - 12 Januari 2026
2026-01-13 22:24:01


Wahyu 3:21
“Barangsiapa menang, ia akan Kududukkan bersama-sama dengan Aku di atas takhta-Ku, sebagaimana Akupun telah menang dan duduk bersama-sama dengan Bapa-Ku di atas takhta-Nya.”

Kita sering mendengar pernyataan para pembicara, pengkhotbah, atau jemaat yang berkata, “Kita lebih dari seorang pemenang.” Pernyataan ini sebenarnya perlu dipahami dengan benar maknanya. Sebab jika isi pemaknaannya keliru, dampaknya dapat sangat merusak pertumbuhan rohani pendengarnya. Pada umumnya, makna yang sering dilekatkan pada kalimat “kita lebih dari seorang pemenang” adalah memperoleh berkat: kelimpahan ekonomi, kesembuhan, atau berbagai pencapaian hidup. Ada pula yang menafsirkannya sebagai kemenangan atas konflik dengan sesama—perkara hukum, disharmoni rumah tangga, atau relasi antarmanusia.

Namun, ketika firman Tuhan berkata “Barangsiapa menang,” kalimat ini sekaligus menegaskan bahwa ada potensi seseorang dapat kalah. Kemenangan bukan sesuatu yang otomatis. Kita harus realistis bahwa setiap bentuk kemenangan memerlukan perjuangan. Seorang petinju tidak akan menang hanya dengan berdoa dan berpuasa. Meskipun ia seorang Kristen, ia tetap harus berlatih, bekerja keras, dan bertanggung jawab atas setiap usahanya. Doa bukan substitusi dari usaha. Begitu pula dengan firman “Barangsiapa menang” dalam Wahyu 3:21. Kemenangan rohani harus diisi dengan usaha, kesungguhan, dan kerja keras rohani.

Pernyataan dalam Wahyu 3:21 ini diberikan kepada jemaat Laodikia—jemaat yang merasa dirinya sudah menang karena berbagai kepemilikan dan kenyamanan yang mereka miliki. Namun Tuhan menegur mereka, karena apa yang mereka anggap sebagai kemenangan tidak sesuai dengan apa yang Allah kehendaki. Mereka gagal paham. Kita tidak boleh merasa pemenang atau merasa “diberkati” hanya karena memiliki segala keindahan fasilitas duniawi. Paradigma seperti itu merendahkan hakikat Allah dan menyesatkan. Yang Allah kehendaki dari anak-anak-Nya adalah sehakikat dengan-Nya, satu perasaan, satu pikiran dengan Kristus. Kita harus berjuang keras untuk mencapai apa yang Tuhan inginkan, yakni kesempurnaan seperti Bapa dan keserupaan dengan gambar Anak Tunggal-Nya, Tuhan Yesus Kristus.

Ada kalimat yang sangat meneguhkan dalam ayat ini: “sebagaimana Akupun telah menang.” Ini menunjukkan bahwa Tuhan Yesus pun melalui proses perjuangan. Kemenangan-Nya dalam mengenakan kodrat ilahi bukan pemberian cuma-cuma. Tidak ada kolusi antara Allah Bapa dan Sang Anak. Untuk membuktikan kebenaran ini, Tuhan Yesus harus berjalan di Via Dolorosa dan disalibkan. Ia menang karena Ia taat penuh kepada kehendak Bapa, bahkan sampai mati. Karena itu, perkara “masuk dan duduk dalam Kerajaan Allah” bukan sekadar anugerah pasif, tetapi pilihan dan perjuangan yang harus dimulai sejak sekarang.

Ingat! Apa pun yang kita lakukan sebagai orang percaya akan bergema sampai kekekalan—apakah itu gema perbuatan baik atau justru perbuatan jahat. Banyak hal dalam hidup boleh dianggap sepele, tetapi jangan main-main dengan perkara yang berkaitan dengan kekekalan. Ini bukan sekadar tentang hidup 70, 80, atau 100 tahun; ini tentang nasib kekal selama-lamanya. Karena itu, kita harus sungguh-sungguh mengerjakan keselamatan kita menjelang kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kali. Jangan berbuat dosa lagi, sebab orang yang berbuat dosa adalah hamba dosa—hamba dari Sang Penguasa Kegelapan, Lusifer.

Memasuki tahun 2026 yang penuh misteri, marilah kita berjalan bersama Tuhan dengan tekun: mencari Dia dalam doa pribadi dan doa bersama, membaca firman-Nya setiap hari, dan berhimpun dengan orang-orang benar yang tulus. Dengan demikian, kita akan memasuki dan menjalani tahun yang penuh rahasia ini dalam penyertaan Allah Yang Maha Kuasa.

Tuhan Yesus memberkati?

KEMENANGAN BUKAN SESUATU YANG OTOMATIS.

Card image
Bacaan Alkitab Setahun - 12 Januari 2026
2026-01-13 18:33:18

Ayub 32-34

Card image
KIDS DAILY DEVOTIONAL 11 Januari 2026 - BIJAK DAN BERSYUKUR
2026-01-12 19:02:20


Amsal 1:5
“Baiklah orang bijak mendengar dan menambah ilmu, dan baiklah orang yang berpengertian memperoleh bahan pertimbangan.”

Pernahkah Rehobot Kids merasa kesal ketika harus belajar hal baru? Misalnya saat matematika terasa sulit, atau ketika orang tua memberi nasihat yang tidak selalu kita sukai. Kadang hati kita jadi cepat marah atau malas mendengarkan. Padahal lewat hal-hal kecil seperti itu, Tuhan sedang menolong kita menjadi lebih bijak.

Amsal 1:5 mengingatkan kita bahwa orang yang mau mendengar akan bertambah ilmunya dan makin bijaksana. Artinya, ketika kita mau belajar dan membuka hati, kita sedang bertumbuh menjadi anak yang lebih baik dan lebih mengerti kehendak Tuhan.

Rehobot Kids, saat kita belajar sesuatu yang baru atau menerima teguran, itu juga kesempatan untuk bersyukur. Mengapa? Karena Tuhan sedang membentuk kita lewat pelajaran dan pengalaman itu. Saat kamu berkata, “Terima kasih, Tuhan, karena aku bisa belajar,” hatimu jadi lebih tenang dan kamu lebih siap menghadapi apa pun.

Memang tidak selalu mudah untuk bersyukur, terutama saat kita belum mengerti mengapa sesuatu terjadi. Tapi setiap kali kita mau mendengar dan belajar, kita sedang berjalan menuju kebijaksanaan yang Tuhan inginkan.

Jadi hari ini, mari mulai dari hal kecil: dengarkan dengan baik, belajar dengan hati terbuka, dan ucapkan syukur kepada Tuhan. Dengan begitu, kita akan bertumbuh menjadi anak yang bijak dan semakin dekat dengan Tuhan.

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 11 Januari 2026 (English Version) - EYE - OPENER
2026-01-12 18:59:23


“Rejoice always. Pray continually. Give thanks in all circumstances.”
1 Thessalonians 5:16–18

Guys, this verse often sounds simple, but honestly… it’s hard to live out. Give thanks in all circumstances? Even when life isn’t going according to plan?

The problem is, we often use our circumstances as the measure of our self-worth. When life is smooth, we feel, “I’m doing fine.” But when we fail, get rejected, or feel disappointed, our identity crashes with it. We start thinking, “Maybe I’m not good enough.”

But God has never defined us by our situation. Gratitude helps us return to that truth. When we keep giving thanks, we’re saying: “I may not see the way out yet, but I know who my God is—and I know who I am in Him.”

Gratitude isn’t closing our eyes to reality. Gratitude actually opens our eyes to the fact that our worth doesn’t change even when our circumstances haven’t changed yet. We are still loved. Still chosen. Still valuable.

And from that restored identity, we can stand again—not because the problem is gone, but because our hearts have been strengthened.

So if today you’re still in a “not yet” season, don’t let your circumstances steal who you are. Gratitude isn’t an escape—it’s a reminder of your identity.

WHAT TO DO?
1. When things don’t meet your expectations, give thanks as a declaration of faith, not a feeling.
2. Write down one thing about you that God never changes.
3. Reject thoughts that define you by failure or your current condition.

BIBLE MARATHON:
Mark 12

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 11 Januari 2026 - PEMBUKA MATA
2026-01-12 18:54:01


“Bersukacitalah senantiasa. Tetaplah berdoa. Mengucap syukurlah dalam segala hal.”
1 Tesalonika 5:16–18

Guys, ayat ini sering terdengar simpel, tapi jujur aja… berat buat dijalanin. Bersyukur dalam segala hal? Bahkan waktu hidup lagi nggak sesuai rencana?

Masalahnya, kita sering pakai keadaan sebagai penentu nilai diri. Kalau hidup lancar, kita merasa “aku baik-baik saja.” Tapi saat gagal, ditolak, atau kecewa, identitas kita ikut runtuh. Kita mulai mikir, “Kayaknya aku nggak cukup baik.”

Padahal Tuhan nggak pernah mendefinisikan kita dari situasi. Syukur membantu kita balik ke kebenaran itu. Saat kita tetap bersyukur, kita sedang bilang: “Aku mungkin belum lihat jalan keluarnya, tapi aku tahu siapa Tuhanku — dan aku tahu siapa diriku di dalam Dia.”

Syukur bukan menutup mata dari realita. Syukur justru membuka mata bahwa nilai kita nggak berubah walau keadaan belum berubah. Kita tetap dikasihi. Tetap dipilih. Tetap berharga.

Dan dari identitas yang dipulihkan itulah, kita bisa berdiri lagi — bukan karena masalah hilang, tapi karena hati kita sudah dikuatkan.

Jadi kalau hari ini kamu masih di fase “belum”, jangan biarkan keadaan mencuri siapa dirimu. Syukur itu bukan pelarian, tapi pengingat identitas.

WHAT TO DO?
1. Saat keadaan nggak sesuai harapan, ucapkan syukur sebagai deklarasi iman, bukan perasaan.
2. Tulis satu hal yang Tuhan tidak pernah berubah tentang dirimu.
3. Tolak pikiran yang mendefinisikan dirimu dari kegagalan atau kondisi.

BIBLE MARATHON:
Markus 12

Card image
Renungan Pagi - 11 Januari 2026
2026-01-12 18:48:21


Iblis senang jika hidup kita dikuasai oleh kegelisahan lalu kemudian mulai menyesali nasib, bahkan melakukan hal-hal yang sangat merusak tatanan hidup.

Namun jika kita mau melakukan hal-hal yang positif yaitu hidup dalam kasih, belajar mengampuni, belajar menghadapi segala sesuatu dengan iman, maka hidup menjadi lebih berharga dan berguna bagi kemuliaan nama Tuhan.

Card image
Quote Of The Day - 11 Januari 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-01-12 18:45:28


Berjalan dalam terang pada hakikatnya adalah hidup berjalan seiring dengan Tuhan, di mana segala sesuatu yang dilakukan sesuai dengan keinginan dan selera-Nya.

Card image
Mutiara Suara Kebenaran - 11 Januari 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-01-12 18:44:30


Kita harus sungguh-sungguh menyediakan diri guna dipersiapkan menjadi umat yang layak bagi Dia.

Card image
THE MANEUVER OF THE POWERS OF DARKNESS - 11 Januari 2026 (English Version)
2026-01-12 18:43:09


We must be realistic, alert, and watchful because the agents of the powers of darkness never stop working to prevent believers from discovering the Kingdom of God and His righteousness. The powers of darkness will employ every maneuver so that believers feel satisfied with their religious status, rather than their God-centered status. A spiritual person is not necessarily God-centered, but a God-centered person is undoubtedly someone who practices religion rightly. It appears that the devil seeks to “park” the paradigm of many believers at the point of believing that it is sufficient merely to be religious—performing rituals, ceremonies, or Christian liturgies—so long as one attends church once a week, gives offerings and tithes, and even serves in ministry. All of that is considered to fulfill the will of God. Yet attending church, giving offerings, and serving may only meet the demands of the church—not necessarily the will of God in its fullness.

A person who fulfills the will of God is someone who lives with the attitude expressed in 1 Corinthians 10:31: “Whether you eat or drink, or whatever you do, do it all for the glory of God.” His mouth speaks only words, sentences, and narratives that bring glory to God. He will not say anything that wounds others, regardless of the background or reason. Likewise, his behavior becomes a blessing, an example, a model, and a letter that many people can read.

Even if he slips in speech or unknowingly wanders into wrong behavior, he will feel deep heartache and regret, and strive to correct himself while becoming more cautious. The attitudes of yielding, accepting others, forgiving, and praying the best prayers for those who oppose or hate us must be trained continuously. Training after training through the many events of life will make us sharper and more sensitive in living out the will of God. Do not grow weary of doing good. Do not stop loving. Do not strike back even when you have the opportunity to strike. Do not feel defeated when goodness is repaid with evil. Such attitudes show that we are living out God’s will. God surely takes note of and pays attention to every believer who lives this way.

This is the resolution, commitment, and firm determination we must pursue while we still have a piece of opportunity and a fragment of time in this life. The call to become “perfect as the Father is” and “conformed to the image of the Lord Jesus” should be the resolution and commitment that must not fail in the lives of believers—especially for the GSKI church family wherever they may be. This call is directed to pastors, ministers, church workers, and the entire Lord’s congregation.

The restoration of mankind to its original design is absolute, non-negotiable, and cannot be ignored or violated. That is the pinnacle of resolution, commitment, and determination. That is the peak of holiness and sanctification that God desires for us to reach. For without holiness, no person will see God. Let alone seeing Him, even entering the Father’s Kingdom is not permitted for those whose lives are not holy and pure.

Therefore, we must—and we are obligated to—build and preserve holiness and purity of life. A life that is blameless and without blemish is the foundation for continuing our eternal journey with Elohim Yahweh and the Lord Jesus Christ in the Kingdom of the Father

Card image
MANUVER KUASA KEGELAPAN - 11 Januari 2026
2026-01-12 18:35:12


Kita mesti bersikap realistis, berjaga-jaga, dan waspada bahwa oknum kuasa kegelapan tidak pernah berhenti bekerja untuk menghalangi orang-orang percaya menemukan Kerajaan Allah dan kebenaran-Nya. Kuasa kegelapan akan melakukan berbagai manuver agar orang percaya merasa puas dengan status keberagamaannya, bukan status kebertuhanannya. Orang beragama belum tentu bertuhan; tetapi orang bertuhan pasti adalah orang yang beragama dengan benar. Nampaknya Iblis berusaha “memarkir” paradigma banyak orang percaya pada titik: cukup beragama, menjalani ritual, seremoni, atau liturgi kekristenan—yang penting hadir di gereja seminggu sekali, memberi persembahan dan perpuluhan, bahkan ikut melayani. Semua itu dianggap sudah memenuhi kehendak Allah. Padahal, pergi ke gereja, memberi persembahan, dan melayani baru memenuhi tuntutan gereja, belum tentu kehendak Allah dalam arti yang seutuhnya.

Seseorang yang memenuhi kehendak Allah adalah orang yang hidup dengan sikap 1 Korintus 10:31: “Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah.” Mulutnya hanya mengeluarkan kata, kalimat, atau narasi yang mendatangkan kemuliaan Allah. Ia tidak akan mengucapkan sesuatu yang melukai sesamanya, apa pun latar belakang atau alasannya. Demikian pula perilakunya—ia menjadi berkat, contoh, teladan, dan surat terbuka yang dibaca banyak orang.

Kalaupun ia terpeleset dalam ucapan atau tersesat dalam perilaku tanpa sadar, ia akan merasakan kepedihan hati yang mendalam, menyesal, dan berusaha memperbaiki diri seraya bersikap lebih berhati-hati. Sikap mengalah, menerima orang lain, mengampuni, serta menaikkan doa terbaik bagi orang yang memusuhi kita perlu dilatih terus-menerus. Latihan demi latihan dalam berbagai peristiwa hidup akan membuat kita semakin tajam dan peka dalam menghidupi kehendak Allah. Jangan lelah menjadi orang baik. Jangan berhenti mengasihi. Jangan memukul meski memiliki kesempatan untuk memukul. Jangan merasa rugi ketika kebaikan dibalas dengan kejahatan. Sikap-sikap seperti ini menunjukkan bahwa kita sedang menghidupi kehendak Allah. Allah pasti memperhitungkan dan menandai orang percaya yang memiliki kehidupan seperti ini.

Inilah resolusi, komitmen, dan kebulatan tekad yang mesti kita capai, selagi kita masih memiliki sepotong kesempatan dan sepenggal waktu hidup. Seruan untuk menjadi “sempurna seperti Bapa” dan “serupa dengan Tuhan Yesus” kiranya menjadi resolusi dan komitmen yang tidak boleh gagal dalam hidup orang percaya—khususnya bagi keluarga besar GSKI di mana pun berada. Seruan ini ditujukan kepada gembala jemaat, pelayan, aktivis, dan seluruh jemaat Tuhan.

Dikembalikannya manusia kepada rancangan semula adalah sesuatu yang mutlak, absolut, dan tidak dapat ditawar ataupun dilanggar. Itulah puncak resolusi, komitmen, dan kebulatan tekad. Itulah puncak kesucian dan kekudusan yang Allah ingin kita capai. Sebab, tanpa kekudusan tidak seorang pun dapat memandang Allah. Jangankan memandang, masuk dalam Kerajaan Bapa pun tidak diizinkan bagi orang yang hidupnya tidak suci dan tidak kudus.

Dengan demikian, kita mesti—dan wajib—membangun serta merawat kesucian dan kekudusan hidup. Hidup yang tidak bercacat dan tidak bercela adalah modal untuk melanjutkan perjalanan abadi bersama Elohim Yahweh dan Tuhan Yesus Kristus di Kerajaan Bapa.

Tuhan Yesus memberkati?

DIKEMBALIKANNYA MANUSIA KEPADA RANCANGAN SEMULA ADALAH SESUATU YANG MUTLAK, ABSOLUT, DAN TIDAK DAPAT DITAWAR ATAU PUN DILANGGAR.

Card image
Bacaan Alkitab Setahun - 11 Januari 2026
2026-01-12 18:16:17

Ayub 29-31

Card image
KIDS DAILY DEVOTIONAL 10 Januari 2025 - DIA IMANUEL
2026-01-11 14:04:43


Ulangan 31:8
“Sebab TUHAN, Dia sendiri akan berjalan di depanmu, Dia sendiri akan menyertai engkau, Dia tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau. Janganlah takut dan janganlah patah hati.”

Rehobot Kids, pernahkah kamu merasa takut atau cemas saat menghadapi sesuatu yang baru? Misalnya ketika mau ulangan atau ikut lomba. Kadang hati jadi deg-degan dan kita bingung apa yang akan terjadi, ya?

Bangsa Israel juga pernah merasa takut seperti itu. Mereka akan memasuki negeri baru yang belum pernah mereka tinggali. Tapi sebelum itu terjadi, Tuhan memberi janji yang luar biasa melalui Musa: Tuhan sendiri yang akan berjalan di depan mereka. Artinya, mereka tidak melangkah sendirian, karena Tuhan sudah lebih dulu ada di tempat yang mereka tuju.

Karena itu, Rehobot Kids, kita juga punya alasan besar untuk bersyukur. Setiap hari Tuhan menyertai kita saat belajar, saat bermain, saat sedih, bahkan saat kita tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Tuhan tidak pernah meninggalkan kita.

Jadi hari ini, mari belajar berkata, “Terima kasih, Tuhan,” bukan hanya saat keadaan baik, tetapi juga saat kita takut atau bingung. Ketika kita bersyukur, hati menjadi lebih tenang, dan kita bisa melihat bahwa Tuhan bekerja dalam hal-hal kecil maupun besar dalam hidup kita.

Yuk isi harimu dengan rasa syukur, Rehobot Kids! Penyertaan Tuhan membuat kita bukan hanya tidak takut, tetapi juga semakin percaya dan kuat setiap hari.

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 10 Januari 2025 (English Version) - LACK IS NOT YOUR IDENTITY
2026-01-11 13:59:00


“He said to me, ‘My grace is sufficient for you, for my power is made perfect in weakness.’ Therefore I glory all the more gladly in my weaknesses, so that the power of Christ may rest upon me.”
2 Corinthians 12:9

Guys, have you ever felt inadequate? Insufficiently intelligent, talented, experienced, or confident? And because of that inadequacy, you immediately label yourself a failure?

We live in an age that constantly tells us you have to be perfect. You have to have it all. You have to be flawless. Until, every time we see a flaw in ourselves, the only thought that comes to mind is, “I’m a failure.” But God never says that. Paul, one of God’s extraordinary disciples, had a thorn in his flesh that made him feel weak and inadequate. He had asked God three times to remove it. But God’s answer? My grace is sufficient for you.

Your shortcomings are not a barrier to God’s work; in fact, they are where He wants to show His power. Being deficient doesn’t mean failure. They are a way for God to prove that He is more than enough. When we feel we are all alone, that’s when His grace is revealed. When we are weak, that’s when His strength is perfect.

So if today you feel inadequate, remember, “God doesn’t need a perfect version of you. He wants to use you as you are, with your flaws, weaknesses, and limitations. Because in His hands, less can become more than enough. You haven’t failed. You’re just in God’s process of showing that He is greater than all your shortcomings.”

WHAT TO DO?
1. Write down one weakness that often makes you feel like a failure, then surrender it to God in prayer.
2. Change your mindset: every time you think, “I’m not enough,” remind yourself, “But God’s grace is sufficient for me.”
3. Find a testimony in the Bible or around you about someone God used despite feeling inadequate to strengthen your confidence!

BIBLE MARATHON:
Mark 11

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 10 Januari 2025 (English Version) - LACK IS NOT YOUR IDENTITY
2026-01-11 13:45:42


“He said to me, ‘My grace is sufficient for you, for my power is made perfect in weakness.’ Therefore I glory all the more gladly in my weaknesses, so that the power of Christ may rest upon me.”
2 Corinthians 12:9

Guys, have you ever felt inadequate? Insufficiently intelligent, talented, experienced, or confident? And because of that inadequacy, you immediately label yourself a failure?

We live in an age that constantly tells us you have to be perfect. You have to have it all. You have to be flawless. Until, every time we see a flaw in ourselves, the only thought that comes to mind is, “I’m a failure.” But God never says that. Paul, one of God’s extraordinary disciples, had a thorn in his flesh that made him feel weak and inadequate. He had asked God three times to remove it. But God’s answer? My grace is sufficient for you.

Your shortcomings are not a barrier to God’s work; in fact, they are where He wants to show His power. Being deficient doesn’t mean failure. They are a way for God to prove that He is more than enough. When we feel we are all alone, that’s when His grace is revealed. When we are weak, that’s when His strength is perfect.

So if today you feel inadequate, remember, “God doesn’t need a perfect version of you. He wants to use you as you are, with your flaws, weaknesses, and limitations. Because in His hands, less can become more than enough. You haven’t failed. You’re just in God’s process of showing that He is greater than all your shortcomings.”

WHAT TO DO?
1. Write down one weakness that often makes you feel like a failure, then surrender it to God in prayer.
2. Change your mindset: every time you think, “I’m not enough,” remind yourself, “But God’s grace is sufficient for me.”
3. Find a testimony in the Bible or around you about someone God used despite feeling inadequate to strengthen your confidence!

BIBLE MARATHON:
Mark 11

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 10 Januari 2025 - KURANG BUKAN IDENTITASMU
2026-01-11 13:41:46


“Kata-Nya kepadaku: Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna. Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa kristus turun menaungi aku.”
2 Korintus 12:9

Guys, pernahkah kalian merasa kurang? Kurang pintar, kurang berbakat, kurang pengalaman, kurang percaya diri? Dan karena merasa kurang itu, kalian langsung labelin diri sendiri sebagai gagal?

Kita hidup di zaman yang terus-menerus bilang, kamu harus sempurna. Kamu harus punya semuanya. Kamu harus tanpa kekurangan. Sampai akhirnya, setiap kali kita ngeliat kekurangan di diri kita, yang kebayang cuma satu “Aku gagal”. Tapi Tuhan nggak pernah bilang itu. Paulus, salah satu murid Tuhan yang luar biasa, punya duri dalam daging sesuatu yang bikin dia merasa lemah dan kurang. Dia udah minta sama Tuhan tiga kali buat ngilangin itu. Tapi jawaban Tuhan? Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu.

Kekuranganmu bukan penghalang buat Tuhan bekerja justru di sisitulah dia mau menunjukkan kuasa-nya. Kurang bukan berarti gagal. Kurang adalah ruang buat Tuhan membuktikan bahwa dia lebih dari cukup. Saat kita merasa nggak apa-apa, disitulah kasih karunia-nya jadi nyata. saat kita lemah, di situlah kekuatan-nya sempurna.

Jadi kalau hari ini kamu merasa kurang, ingat ” Tuhan nggak butuh versi sempurna dari dirimu. Dia mau pakai kamu apa adanya dengan kekurangan, kelemahan, dan keterbatasan yang ada. Sebab di tangan-Nya, kurang bisa jadi lebih dari cukup. Kamu nggak gagal. kamu cuma lagi dalam proses Tuhan buat nunjukin bahwa dia yang lebih besar dari semua kekuranganmu.

WHAT TO DO?
1. Tuliskan satu kekurangan yang sering bikin kamu merasa gagal, lalu serahkan itu kepada Tuhan dalam doa. 2. Ganti mindset: setiap kali muncul pikiran ” aku kurang”, ingetin diri sendiri, Tapi kasih karunia Tuhan cukup bagiku.
3. Cari satu kesaksian di Alkitab atau sekitarmu tentang orang yang Tuhan pakai meski merasa kurang biar kamu makin yakin!

BIBLE MARATHON:
Markus 11

Card image
Renungan Pagi - 10 Januari 2025
2026-01-11 13:36:10


Janganlah menjadi orang yang cepat tawar hati, mari tetap tegar menghadapi kehidupan ini, karena semakin mudah tawar hati, maka akan semakin mudah dibujuk dan dijebak oleh iblis.

Kita memang punya banyak masalah dan pergumulan, kadangkala ada orang yang mengecewakan, tetapi dengan tegas Alkitab berkata, "Besi menajamkan besi, manusia menajamkan sesamanya".

Itu berarti setiap kita dipanggil untuk menghadapi saat-saat yang sukar dengan tetap kuat dan bersukacita, dengan tetap percaya dan mengandalkan Tuhan serta firnan-Nya.

Card image
Quote Of The Day - 10 Januari 2025 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-01-11 13:35:06


Kesadaran akan Tuhan dan usaha untuk mengisi hari hidup dengan melakukan “kegiatan rohani” dipahami sebagai telah berjalan dalam terang.

Card image
Mutiara Suara Kebenaran - 10 Januari 2025 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-01-11 13:33:51


Lebih baik tidak pernah memiliki nyawa kehidupan dan menjadi manusia dari pada memiliki nyawa kehidupan tetapi tidak hidup berkenan di hadapan Allah.

Card image
GOD, ENOUGH FOR ME - 10 Januari 2025 (English Version)
2026-01-11 13:32:35


The Lord Jesus gives this counsel in Luke 12:15: “Then He said to them, ‘Take heed and beware of all greed, for even when someone has an abundance of possessions, his life does not consist in the abundance of his possessions.” *Greed is an attitude that is never satisfied, never feels it has enough.* If someone cannot feel happy and content for himself, how could he ever be satisfied for the sake of others? Greed gives birth to egocentrism—the desire to gratify oneself continually. Instead of sharing what one already has with others, one feels it is insufficient and still wants more. In the context of resolutions, commitments, or determination to pursue wealth, prosperity, and material abundance, the Lord Jesus emphasizes that a person’s life does not depend on their wealth.

Therefore, do not hang your life upon what is called wealth, for that is not the proper foundation of human existence. The sentence “a person’s life does not depend on his wealth” implies that human life depends on something else. Wealth, prosperity, and abundance are not the primary foundation of life. The Word of God in Matthew 6:33 says, “But seek first the Kingdom of God and His righteousness, and all these things will be added to you.” This verse explains that wealth, prosperity, and abundance are only additions—a complement—not the primary need of human beings. Therefore, vigilance and alertness must become the primary focus of our resolutions and commitments, so that we may seek the Kingdom of God and His righteousness.

We must be careful. Instead of discovering the Kingdom of God and His righteousness, many people are not even consistent in seeking them, nor do they have a strong commitment to pursue them. A person may feel that seeking the Kingdom of God and His righteousness is difficult, impossible, utopian, or merely wishful thinking—perhaps even a matter only for religious leaders or pastors, and this is a distortion of thinking. The matter of the Kingdom of God and His righteousness is inherently and inseparably part of the life of every believer.

If someone merely stops at the identity of being a “follower of the Christian religion,” then that Christianity is incomplete, fragile, and easily shifts to another belief. There is no need to hide the fact that many professing Christians abandon their faith for various reasons. If someone leaves the Christian faith and embraces another belief, it actually shows that he has never discovered the Kingdom of God and His righteousness. Therefore, it is more accurate to say: he never possessed true Christian faith.

However, if someone has genuine Christian faith—lives in the atmosphere of the Kingdom of God and puts on His righteousness—then leaving the Lord becomes impossible. One would never exchange the incomparable beauty of the Father’s Kingdom for worldly things that are profane and temporary.

Therefore, the author invites readers of the Truth daily devotion to make a new resolution and determination for 2026: to become increasingly pleasing to God, continually seeking the Kingdom of God, living out His righteousness, and manifesting it in daily conduct. All of this does not last long. If a person lives in the will of God for 70, 80, or even 100 years, then the reward is to live in glory forever.

Card image
TUHAN, CUKUP BAGIKU - 10 Januari 2025
2026-01-11 10:08:32


Tuhan Yesus memberikan nasihat dalam Lukas 12:15, “Kata-Nya lagi kepada mereka: Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung dari pada kekayaannya itu.” Ketamakan adalah sikap yang tidak pernah puas, tidak pernah merasa cukup bagi dirinya sendiri. Jika seseorang tidak dapat merasa puas dan cukup untuk dirinya sendiri, apalagi ia dapat puas demi orang lain? Ketamakan melahirkan sikap egosentris—keinginan untuk terus memuaskan diri. Alih-alih berbagi dengan sesama, apa yang dimiliki pun dirasakan tidak cukup, dan masih ingin ditambah lagi. Dalam konteks resolusi, komitmen, atau tekad untuk mengejar kekayaan, kemakmuran, dan kelimpahan materi, Tuhan Yesus menegaskan bahwa hidup manusia tidak tergantung pada kekayaannya.

Oleh karena itu, jangan menggantungkan hidup kepada apa yang disebut kekayaan, sebab itu bukan sandaran hidup manusia yang sesungguhnya. Kalimat “hidup manusia tidak tergantung daripada kekayaannya” menunjukkan bahwa hidup manusia bergantung pada sesuatu yang lain. Kekayaan, kemakmuran, dan kelimpahan berkat bukanlah gantungan utama dalam kehidupan manusia. Firman Tuhan dalam Matius 6:33 berkata, “Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.” Ayat ini menjelaskan bahwa kekayaan, kemakmuran, dan kelimpahan hanyalah tambahan, sebuah pelengkap—bukan hal utama yang dibutuhkan manusia. Karena itu, berjaga-jaga dan waspada adalah hal utama dalam resolusi dan komitmen kita untuk menemukan Kerajaan Allah serta kebenaran-Nya.

Kita harus berhati-hati. Alih-alih menemukan Kerajaan Allah dan kebenarannya, banyak orang bahkan tidak konsisten mencarinya, tidak memiliki komitmen kuat untuk menemukannya. Seseorang dapat merasa bahwa mencari Kerajaan Allah dan kebenarannya adalah sesuatu yang sulit, mustahil, serta utopis atau hanya angan-angan belaka—bahkan dianggap sebagai urusan pemuka agama atau pendeta saja. Ini adalah bentuk kesesatan berpikir. Urusan Kerajaan Allah dan kebenarannya adalah bagian inheren, bagian yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan orang percaya.

Jika seseorang hanya berhenti pada identitas sebagai “pemeluk agama Kristen,” maka kekristenan itu belum utuh, rapuh, dan mudah bergeser ke keyakinan lain. Tidak perlu ditutup-tutupi bahwa banyak orang yang beragama Kristen meninggalkan imannya dengan berbagai alasan. Jika seseorang meninggalkan iman Kristen dan memeluk keyakinan lain, sebenarnya itu menunjukkan bahwa ia belum pernah menemukan Kerajaan Allah dan kebenaran-Nya. Karena itu, lebih tepat dikatakan: ia belum pernah memiliki iman Kristen sejati.

Sebab, jika seseorang memiliki iman Kristen yang sejati—hidup dalam suasana Kerajaan Allah dan mengenakan kebenaran-Nya—maka meninggalkan Tuhan adalah sesuatu yang mustahil. Ia tidak mungkin menukarkan keindahan Kerajaan Bapa yang tidak tertandingi dengan hal-hal duniawi yang profan dan sementara.

Karena itu, penulis mengajak pembaca renungan harian Truth untuk memiliki resolusi dan tekad yang baru di tahun 2026: menjadi manusia yang semakin berkenan kepada Tuhan, dengan terus mencari Kerajaan Allah, menghidupi kebenaran-Nya, dan mewujudkannya dalam perilaku hidup setiap hari. Semua ini tidak berlangsung lama. Jika seseorang menghidupi kehendak Allah selama 70, 80, bahkan 100 tahun, maka ganjarannya adalah hidup dalam kemuliaan untuk selama-lamanya.

Tuhan Yesus memberkati?

JADILAH MANUSIA YANG SEMAKIN BERKENAN KEPADA TUHAN, DENGAN TERUS MENCARI KERAJAAN ALLAH, MENGHIDUPI KEBENARAN-NYA DAN MEWUJUDKANNYA DALAM PERILAKU HIDUP SETIAP HARI.

Card image
Bacaan Alkitab Setahun - 09 Januari 2025
2026-01-10 22:43:02

Ayub 21-23

Card image
KIDS DAILY DEVOTIONAL 09 Januari 2025 - KEBAIKAN MEMBAWA SUKACITA
2026-01-10 18:59:12


Ibrani 13:16
“Dan janganlah kamu lupa berbuat baik dan memberi bantuan, sebab korban-korban yang demikianlah yang berkenan kepada Allah.”

Suatu hari, Dika melihat temannya, Rina, kesulitan membawa tas yang berat. Dika sebenarnya bisa saja langsung bermain, tetapi ia memilih untuk membantu. Mereka berjalan bersama sampai Rina tiba di kelas dengan aman. Rina tersenyum dan berkata, “Terima kasih, Dika! Aku senang sekali kamu menolongku.” Dika pun merasakan sukacita karena sudah berbuat baik.

Rehobot Kids, kadang kita melihat teman yang kesusahan, tetapi memilih untuk tidak peduli. Padahal, teman itu bisa saja merasa sedih karena tidak ada yang menolongnya.

Ibrani 13:16 mengingatkan kita bahwa Tuhan senang pada anak-anak yang tidak lupa berbuat baik. Tindakan kecil sekalipun—seperti membantu, berbagi, atau sekadar memberi senyuman—bisa membuat hati orang lain bahagia. Bahkan, Tuhan berkenan pada setiap kebaikan yang kita lakukan.

Jadi, Rehobot Kids, kapan pun kamu melihat teman yang membutuhkan bantuan, yuk segera menolong. Kebaikan yang kamu bagikan bukan hanya membuat orang lain bersukacita, tetapi juga memenuhi hatimu dengan damai dan sukacita dari Tuhan. Mari jadi anak-anak yang penuh kebaikan setiap hari!

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 09 Januari 2025 (English Version) - YOUR LACK, HIS MIRACLE
2026-01-10 18:57:43


"He replied, “You give them something to eat.” … Then He said, “Bring them here to Me.” Taking the five loaves and the two fish and looking up to heaven, He gave thanks and broke them. Then He gave them to the disciples to distribute to the people."
Luke 9:13, 16

Guys, imagine this: 5,000 men—not even counting women and children—are hungry. And what’s available? Only five loaves and two fish. Logically? No way that’s enough. Totally impossible. But Jesus didn’t say, “Oh, that’s not enough. Cancel it.” Instead, Jesus said, “Bring them here to Me.” And we know what happened next. What was lacking became more than enough. There were even 12 baskets of leftovers.

Here’s the thing: God doesn’t need us to have everything. God only needs us to bring what we have—no matter how small—into His hands. You feel like your talent isn’t enough? Bring it to God. You feel like your effort isn’t your best? Bring it to God. You feel like you don’t have enough time? Bring it to God. You feel like your faith isn’t strong enough? Bring it to God. Miracles don’t start from enough. Miracles start from surrender.

That little boy who gave the five loaves and two fish didn’t know what he had would become a blessing for thousands of people. He simply gave what he had. And Jesus did the rest. So stop waiting until you feel “enough” or “perfect” before you take a step forward. Start with what you have right now. Let Him multiply it. Lack doesn’t mean failure. Lack is the beginning of a miracle.

WHAT TO DO?
1. Write down one small thing you have right now—time, talent, ability, or anything else.
2. Pray and surrender it to God—ask Him to use it and multiply it for His glory.
3. Take one small step today with what you have—don’t wait until it’s perfect.

BIBLE MARATHON:
Mark 10

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 09 Januari 2025 - KEKURANGANMU, KEAJAIBAN-NYA
2026-01-10 18:56:12


"Lalu ia berfirman: Bawalah semuanya itu kepada-Ku. Diambil-Nya lima roti dan dua ikan itu, menengadah ke langit, Ia mengucapkan berkat, lalu memecah-mecahkan roti itu dan memberikannya kepada murid-murid-Nya untuk dibagi-bagikan kepada orang banyak."
Lukas 9:13,16

Guys, coba bayangin 5000 orang laki-laki belum termasuk perempuan dan anak-anak lagi lapar. Yang ada? Cuma 5 roti dan 2 ikan. Secara logika? Nggak mungkin cukup. Totally tidak masuk akal. Tapi Yesus nggak bilang, wah, kurang nih. Batalin aja. Yesus malah bilang, Bawalah semuanya itu kepada-Ku. Dan kita tahu apa yang terjadi. Yang kurang, jadi lebih dari cukup. Bahkan, sisanya sampai 12 bakul.

Here’s the thing Tuhan nggak butuh kita punya semuanya. Tuhan cuma butuh kita bawa apa yang kita punya sekecil apapun itu ke tangan-Nya. Kamu merasa talentamu kurang? Bawa ke Tuhan. Kamu merasa usahamu kurang maksimal? Bawa ke Tuhan. Kamu merasa waktumu kurang? Bawa ke Tuhan. Kamu merasa imanmu kurang kuat? Bawa ke Tuhan. Mukjizat nggak dimulai dari cukup. Mukjizat dimulai dari diserahkan.

Anak kecil yang kasih 5 roti dan 2 ikan itu nggak tahu kalau apa yang dia punya bakal jadi berkat buat ribuan orang. Dia cuma kasih apa yang dia punya. Dan Yesus yang kerjain sisanya. Jadi, berhenti nunggu sampai kamu merasa cukup atau sempurna baru mau melangkah. Mulai dari apa yang kamu punya sekarang. Biar Dia yang lipat gandakan. Kurang bukan berarti gagal. Kurang adalah awal dari keajaiban.

WHAT TO DO?
1. Tuliskan satu hal kecil yang kamu punya saat ini waktu, talenta, kemampuan, atau apapun.
2. Doakan dan serahkan hal itu pada Tuhan minta Dia pakai dan lipat gandakan untuk kemuliaaN-Nya
3. Ambil satu langkah kecil hari ini dengan apa yang kamu punya jangan tunggu sempurna.

BIBLE MARATHON:
Markus 10

Card image
Quote Of The Day - 09 Januari 2025 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-01-10 18:53:23


Iblis memakai keindahan dunia ini agar banyak orang terpikat dan terjebak di dalamnya, sehingga mereka tidak menghargai dan tidak mengasihi Tuhan secara pantas.

Card image
Mutiara Suara Kebenaran - 09 Januari 2025 (English Version)
2026-01-09 23:07:08


Jangan mencari dan mengikut Tuhan Yesus hanya untuk mengubah "nasib" di bumi.

Card image
NEVER ENOUGH - 09 Januari 2025 (English Version)
2026-01-09 23:04:49


One of the things commonly done by modern humans when entering a new year-such as the year 2026-is making various resolutions, commitments, or firm decisions to achieve something in the new year. Some resolve to live healthier than in previous years, then arrange regular exercise programs, manage their diet, determine sufficient rest time, and so on. Others commit to tightening their budget, buying only what is needed, not merely what is desired. Still others formulate resolutions to live better in terms of economic conditions, family relationships, and many other aspects.

In short, all these resolutions are oriented toward the desire that various aspects of life run well throughout the span of human life, which is very short-70 years, 80 years, or perhaps 100 years.

As humans, we indeed need to be optimistic: optimistic about success, optimistic about health, optimistic about a harmonious household. But we must also be realistic, because it is not uncommon for expectations to be misaligned with reality. Reality that does not match expectations often gives birth to anxiety, restlessness, and fear.

      The writer is not spreading the scent of pessimism or despair, but inviting us to be realistic-neither excessively optimistic nor paralyzingly pessimistic. Let us reflect on the reality of the resolutions and commitments we make. No matter how healthy a person is, life remains limited. Only a few people reach the age of one hundred. In fact, it is not uncommon for someone who appears very healthy-exercising regularly and living with discipline-to die suddenly, whether on a badminton court, a jogging track, a mountain, or elsewhere.

Once again, this is not a call to take a negative view of health. We must be responsible for our health through regular exercise, consuming nutritious food, and getting enough rest. But all of this lasts only briefly, “no more than 70 years,” like grass that quickly withers. This is the reality of human life: extremely short. The Bible states this clearly in 1 Peter 1:24, “All people are like grass, and all their glory is like the flowers of the field; the grass withers and the flowers fall.” All living things, including humans, are like grass.

Therefore, humans commit themselves to improving their quality of life by acquiring certain wealth. Yet in reality, humans are never satisfied with what they possess. When one has a hundred, one feels the need for a thousand. When a thousand is reached, one pursues ten thousand, a hundred thousand, a million, and so on, never feeling that it is enough. All wealth, reputation, and human achievements-often pursued relentlessly-are ultimately only like the flowers of the grass: beautiful at first, but eventually withering and falling.

REALITY THAT DOES NOT MATCH EXPECTATIONS OFTEN GIVES BIRTH TO ANXIETY, RESTLESSNESS, AND FEAR.

Card image
TIDAK PERNAH CUKUP - 09 Januari 2025
2026-01-09 23:03:16


Salah satu haI yang lazim dilakukan manusia modern ketika memasuki pergantian tahun-seperti tahun 2026 -ialah membuat berbagai resolusi, komitmen, atau kebulatan tekad untuk mencapai sesuatu di tahun yang baru. Ada yang bertekad untuk hidup lebih sehat dari tahun-tahun sebelumnya, lalu menyusun program olahraga rutin, mengatur pola makan, menentukan waktu istirahat yang cukup, dan sebagainya. Ada pula yang berkomitmen untuk melakukan pengetatan anggaran, dengan membeli hanya apa yang dibutuhkan, bukan sekadar yang diinginkan. Yang lain menyusun tekad untuk hidup lebih baik dalam hal ekonomi, relasi keluarga, dan banyak hal lainnya.

Singkatnya, semua resolusi tersebut berorientasi pada keinginan agar berbagai aspek kehidupan berjalan baik sepanjang menyentuh rentang hidup yang sangat singkat 70 tahun, 80 tahun, atau mungkin 100 tahun.

Sebagai manusia, kita memang perlu bersikap optimistis: optimistis untuk sukses, optimistis sehat, optimistis rumah tangga harmonis. Tetapi kita juga harus realistis, sebab tidak jarang harapan tidak selaras dengan kenyataan. Kenyataan yang tidak sesuai harapan sering melahirkan kecemasan, kegelisahan, dan ketakutan.

Penulis tidak sedang menebarkan aroma pesimisme atau keputusasaan, tetapi mengajak kita bersikap realistis, bukan optimistis yang berlebihan atau pesimistis yang mematikan. Marilah merenungkan realitas resolusi dan komitmen yang kita buat. Sesehat-sehatnya manusia, hidup ini tetap terbatas. Hanya sedikit manusia yang mencapai usia seratus tahun. Bahkan tidak jarang seseorang yang tampak sangat sehat, olah raga teratur dan hidup disiplin, meninggal mendadak, entah di lapangan bulu tangkis, jogging track, gunung, atau tempat lainnya.

Sekali lagi, ini bukan ajakan untuk bersikap negatif mengenai kesehatan. Kita harus bertanggung jawab atas kesehatan dengan olah raga rutin, konsumsi makanan bergizi, dan istirahat yang cukup. Tetapi semua itu berlangsung sebentar, "tidak lebih dari 70 tahun", seperti rumput yang cepat layu. lnilah realitas hidup manusia: sangat singkat. Alkitab mengatakannya dengan gamblang dalam 1Petrus 1:24, "Semua yang hidup adalah seperti rumput dan segala kemuliaannya seperti bunga rumput; rumput menjadi kering dan bunga gugur." Semua yang hidup, termasuk manusia, adalah seperti rumput.

Karena itu, manusia berkomitmen untuk meningkatkan kualitas hidup dengan cara memiliki kekayaan tertentu. Namun kenyataannya, manusia tidak pernah puas dengan apa yang dimilikinya. Ketika ia memiliki seratus, ia merasa perlu seribu. Ketika mencapai seribu, ia mengejar sepuluh ribu, seratus ribu, sejuta, dan seterusnya tanpa pernah merasa cukup. Segala kekayaan, reputasi, dan pencapaian manusia, yang sering dikejar mati-matian, pada akhirnya hanyalah seperti bunga rumput: indah di awal, tetapi layu dan gugur pada akhirnya.

Tuhan Yesus memberkati.

KENYATAAN YANG TIDAK SESUAI HARAPAN SERING MELAHIRKAN KECEMASAN, KEGELISAHAN, DAN KETAKUTAN.

Card image
KIDS DAILY DEVOTIONAL 08 Januari 2026 - BERSYUKUR UNTUK CIPTAAN TUHAN
2026-01-08 22:08:42


Mazmur 104:24
“Betapa banyak perbuatan-Mu, ya TUHAN, semuanya Kaubuat dengan kebijaksanaan; bumi penuh dengan ciptaan-Mu.”

Rehobot Kids, coba lihat sekelilingmu. Langit biru yang luas, bunga-bunga yang mekar indah, pepohonan yang memberi teduh, dan burung-burung yang bernyanyi setiap pagi—semuanya adalah bukti betapa besar kasih TUHAN bagi kita. Alam bukan hanya indah, tetapi juga menunjukkan kebijaksanaan dan kuasa Tuhan dalam menciptakan segala sesuatu dengan sempurna.

Tuhan menciptakan dunia ini supaya kita bisa menikmatinya dan juga menjaganya. Setiap hembusan angin, setiap tetes hujan, hingga sinar matahari yang hangat adalah berkat TUHAN yang patut kita syukuri.

Karena itu, Rehobot Kids, mari belajar bersyukur atas ciptaan TUHAN. Jangan lupa untuk menjaga lingkungan, membuang sampah pada tempatnya, tidak merusak tanaman, dan mencintai hewan-hewan di sekitar kita. Hal-hal kecil yang kamu lakukan adalah bentuk kasihmu kepada TUHAN dan ciptaan-Nya.

Yuk, lihat alam hari ini dengan mata yang bersyukur. Semakin kita menghargai ciptaan TUHAN, semakin kita mengerti betapa besar kasih-Nya bagi kita semua!

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 08 Januari 2026 - THE PROCESS IS NOT FAILURE
2026-01-08 22:06:31


“And I am sure of this, that He who began a good work in you will carry it on to completion until the day of Christ Jesus.”
Philippians 1:6

Guys, we live in an instant generation. If we want something, we just click and it’s done. That’s why when something takes a long time or the results aren’t visible yet, we get anxious right away. Why haven’t I succeeded yet? Why am I still like this? I feel like I’ve failed…

But here’s the truth: the process is not failure. God doesn’t work with a copy-paste system. He works through process. And process takes time. Even a tree doesn’t grow overnight. A caterpillar doesn’t turn into a butterfly the next day. And it’s the same with us.

Today’s verse reminds us that the God who started a good work in our lives will continue it until it’s finished. Not halfway. Not stopping in the middle. He is committed until the end. So if right now you’re still in the middle of the process—still learning, still growing, still trying again—that doesn’t mean you’ve failed. It means God is still working in your life. And He won’t stop until His work is complete.

Don’t compare your process to someone else’s results. Everyone has different timing and a different journey. What matters is that you stay faithful in walking with God through every step. Being lacking doesn’t mean you’ve failed. The process doesn’t mean failure. As long as God is still working, you’re still on your way toward His goodness.

WHAT TO DO?
1. Identify one area of your life that is still in process, and accept that it’s okay.
2. Give thanks for every small step of progress you’ve experienced.
3. Declare in faith: “The God who began a good work in my life will complete it. I believe His timing is perfect.”

BIBLE MARATHON:
Mark 9

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 08 Januari 2026 - PROSES BUKAN KEGAGALAN
2026-01-08 22:03:10


“Dan aku yakin, bahwa ia, yang memulai pekerjaan yang baik di antara kamu, akan meneruskannya sampai pada akhirnya pada hari Kristus Yesus.” Filipi 1:6

Guys, kita hidup di zaman yang serba instan. Mau apa-apa tinggal klik, langsung jadi. Makanya, kalau ada yang butuh waktu lama atau belum keliatan hasilnya, kita langsung gelisah. Kok belum berhasil ? Kok masih gini-gini aja? Kayaknya aku gagal deh…. But here’s the truth, proses bukan kegagalan. Tuhan nggak kerja pakai sistem copy-paste. Dia kerja lewat proses. Dan proses itu butuh waktu. Pohon aja nggak tumbuh dalam semalam. Ulat nggak langsung jadi kupu-kupu esok hari. Begitu juga dengan kita.

Ayat hari ini ngingetin kita Tuhan yang mulai pekerjaan baik dalam hidup kita akan meneruskannya sampai selesai. Bukan setengah jalan. Bukan berhenti di tengah. Dia commit sampai akhir. Jadi, kalau saat ini kamu masih di tengah proses masih belajar, masih bertumbuh, masih coba lagi itu bukan berarti kamu gagal. Itu berarti Tuhan masih kerja dalam hidupmu. Dan Dia nggak akan berhenti sampai pekerjaannya selesai.

Jangan bandingkan prosesmu dengan hasil orang lain. Setiap orang punya timing dan proses yang berbeda. Yang penting, kamu tetap setia berjalan bersama Tuhan di setiap langkahnya. Kurang bukan berarti gagal. Proses bukan berarti gagal. Selama Tuhan masih bekerja, kamu masih dalam perjalanan menuju kebaikan-Nya.

WHAT TO DO?
1. Identifikasi satu are hidupmu yang masih dalam proses dan terima bahwa itu oke.
2. Ucapkan syukur atas setiap langkah kecil kemajuan yang sudah kamu alami.
3. Deklarasikan iman “Tuhan yang mulai pekerjaan baik dalam hidupku akan menyelesaikannya. Aku percaya timing-Nya sempurna.

BIBLE MARATHON:
Markus 9

Card image
Renungan Pagi - 08 Januari 2026
2026-01-08 21:58:55


Ada banyak orang kelihatannya pelayanannya hebat, hidupnya dekat dengan Tuhan, tetapi hatinya kotor karena sudah dipenuhi dengan berbagai kebencian dan kekecewaan serta kepahitan.

Jika ini yang sedang terjadi dalam kehidupan orang percaya, mari bersihkan hati dengan firman Tuhan, karena Tuhan yang tahu apa yang tepat dan yang terbaik buat kita.

Card image
Quote Of The Day - 08 Januari 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-01-08 21:57:46


Kalau kita bisa memenangkan diri kita sendiri, maka kita bisa memenangkan keluarga kita.

Card image
Mutiara Suara Kebenaran - 08 Januari 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-01-08 21:56:51


Tidak ada hal yang lebih prinsip dalam hidup ini selain "berkenan kepada Allah".

Card image
DROWNING IN THE WRONG COMMITMENT - 08 Januari 2026 (English Version)
2026-01-08 20:44:40


Still within the narrative of Moses being sent by God to free the nation of Israel, Exodus 4:21 records the word of the Lord to Moses: “But I will harden his heart, so that he will not let the people go.” The hardening of Pharaoh’s heart has often become a problem for modern readers of the Bible. If God is able to harden Pharaoh’s heart, then it would mean that He can control human free will. In other words, God could design some people with soft hearts to be saved and others with hardened hearts to be destroyed.

It must be realized that debates such as this arise from modern premises concerning free will. At the time the book of Exodus was written, the doctrine of free will did not yet exist. To understand the author’s intention, we need to draw near to ancient ways of thinking about God and His actions. In the context of the Ancient Near East—which forms the background of the book of Exodus—any deity was always understood to have a higher degree of power than human beings. Therefore, a deity was considered more powerful, and one expression of that power was shown through the ability to “control” human actions. In Egyptian mythology, the gods Amun and Ra are said to “plant the will in the heart of the king” or “strengthen the king’s heart to act.” In Babylon, the god Marduk is often said to “determine the mind” of the king to go to war.

From an ancient perspective, the concept of a deity directing the human heart would certainly have been acceptable. From a modern perspective, however, it is clear that a king’s decision to go to war arises from his own ambition to rule and dominate. Therefore, the examples from Egypt and Babylon-parallel to the writings of Exodus-are intended to affirm divine authority over human authority. The primary message is authority, not a doctrine asserting that God manipulates a person’s inner condition. If God were to “harden” or “soften” someone’s heart in an absolute sense, then human response to God could no longer be called love, but coercion. In Pharaoh’s case, the hardness of his heart did not arise because God forced him to become hard, but because he had long lived in wickedness, so that his heart became dull.

Therefore, the statement “I will harden Pharaoh’s heart” is more accurately understood as an affirmation of God’s authority over Pharaoh. It is as if God were saying to Moses, “Even though Pharaoh will reject you in his stubbornness, know that I am more powerful than he is.” “I am in control of the situation.” God was in control not by “manipulating” Pharaoh’s heart, but by displaying miracles that would eventually compel Pharaoh to surrender to the reality of His power.

And indeed, the end of Pharaoh’s story is his surrender before the power of God. He was forced to swallow blow after blow through the plagues that God brought upon him. The hardness of heart that he had accumulated little by little through wicked and harsh life choices left him powerless to change before the disaster came.

Negatively speaking, we may say that Pharaoh was a man who drowned in his commitment-but in the wrong commitment. Yet from a positive perspective, this becomes a lesson for us. *If Pharaoh’s hardness of heart was built from a series of small, wicked choices that he made, then we too can build the right commitment through a series of small, right choices.* We can “harden our hearts” to obey God in the midst of unrighteousness, by storing up-one by one-actions that are in accordance with His will. In the end, everything returns to our choices today: Are we storing up right thoughts and actions, or the opposite?

IF PHARAOH’S HARDNESS OF HEART WAS BUILT FROM A SERIES OF SMALL, WICKED CHOICES THAT HE MADE, THEN WE TOO CAN BUILD THE RIGHT COMMITMENT THROUGH A SERIES OF SMALL, RIGHT CHOICES.

Card image
TENGGELAM DALAM KOMITMEN YANG SALAH - 08 Januari 2026
2026-01-08 20:42:20


Masih dalam narasi Musa yang diutus oleh Allah untuk membebaskan bangsa Israel, Keluaran 4:21, mencatat firman Tuhan kepada Musa: tetapi Aku akan mengeraskan hatinya, sehingga ia tidak membiarkan bangsa itu pergi." Pengerasan hati Firaun sering menjadi masalah bagi pembaca Alkitab modern. Bila Allah dapat mengeraskan hati Firaun, berarti la dapat mengendalikan kehendak bebas manusia. Dengan kata lain, Allah dapat merancang sebagian manusia dengan hati yang lembut untuk diselamatkan dan sebagian lainnya dengan hati keras untuk dibinasakan.

Harus disadari bahwa perdebatan seperti ini lahir dari premis modern tentang kehendak bebas. Pada zaman penulisan kitab Keluaran, doktrin mengenai kehendak bebas belum eksis. Untuk memahami maksud penulis, kita perlu mendekat kepada cara berpikir kuno tentang Allah dan tindakan-Nya. Dalam konteks Timur Dekat Kuna- yang menjadi latar kitab Keluaran- ilah apa pun selalu dipahami memiliki derajat lebih tinggi daripada manusia. Karena itu, ilah dianggap lebih berkuasa, dan salah satu bentuk kuasa itu ditunjukkan melalui kemampuannya "mengendalikan" perbuatan manusia. Dalam mitologi Mesir, dewa Amun dan Ra disebut sebagai pihak yang "menanamkan kehendak di hati raja" atau "menguatkan hati raja untuk bertindak." Di Babilonia, dewa Marduk disebut sering "menetapkan pikiran" raja untuk berperang.

Dari sudut pandang kuno, konsep ilah yang mengarahkan hati manusia ini tentu dapat diterima. Namun dari sudut pandang modern, jelas bahwa keputusan seorang raja untuk berperang berasal dari ambisinya sendiri untuk berkuasa dan mendominasi. Karena itu, contoh dari Mesir dan Babilonia- yang paralel dengan tulisan Keluaran- dimaksudkan untuk menegaskan otoritas ilahi di atas otoritas manusia. Pesan utamanya ialah otoritas, bukan doktrin bahwa Allah memanipulasi keadaan batin seseorang. Andaikata Allah "mengeraskan" atau "melembutkan" hati seseorang secara mutlak, maka respons manusia kepada Allah tidak dapat lagi disebut kasih, melainkan paksaan. Dalam kasus Firaun, kekerasan hatinya bukan muncul karena Allah memaksanya menjadi keras, melainkan karena ia telah lama hidup dalam kefasikan sehingga hatinya menjadi tumpul.

Maka, pernyataan "Aku akan mengeraskan hati Firaun" lebih tepat dipahami sebagai penegasan otoritas Allah di atas Firaun. Seolah-olah Allah berkata kepada Musa: "Meskipun Firaun akan menolakmu dalam kekerasan hatinya, ketahuilah bahwa Aku lebih berkuasa darinya. Aku memegang kendali atas keadaan." Allah memegang kendali bukan dengan "mengotak-atik" batin Firaun, tetapi dengan menampilkan mukjizat-mukjizat yang kelak memaksa Firaun menyerah pada realitas kuasa-Nya.

Dan benar, akhir kisah Firaun adalah menyerahnya ia di hadapan kuasa Allah. la harus menelan pukulan demi pukulan melalui tulah-tulah yang Allah timpakan. Kekerasan hati yang ia kumpulkan sedikit demi sedikit melalui pilihan hidup yang jahat dan keras, membuat ia tak berdaya berubah sebelum bencana itu datang.

Secara negatif, kita dapat berkata: Firaun adalah orang yang tenggelam dalam komitmennya- tetapi dalam komitmen yang salah. Namun dari sisi positif, ini menjadi pelajaran bagi kita. Jika kekerasan hati Firaun dibangun dari rangkaian kecil pilihan-pilihan fasik yang ia lakukan, maka kita pun dapat membangun komitmen yang benar melalui rangkaian kecil pilihan-pilihan yang benar. Kita dapat "mengeraskan hati" untuk menaati Allah di tengah ketidakbenaran, dengan menabung satu per satu tindakan yang sesuai kehendak-Nya. Akhirnya, semuanya kembali pada pilihan kita hari ini: Apakah kita menabung pikiran dan perbuatan yang benar, atau sebaliknya?

Tuhan Yesus memberkati.

JIKA KEKERASAN HATI FIRAUN DIBANGUN DARI RANGKAIAN KECIL PILIHAN-PILIHAN FASIK YANG IA LAKUKAN, MAKA KITA PUN DAPAT MEMBANGUN KOMITMEN YANG BENAR MELALUI RANGKAIAN KECIL PILIHAN-PILIHAN YANG BENAR.

Card image
Bacaan Alkitab Setahun - 08 Januari 2026
2026-01-08 20:38:54

Ayub 17-20

Card image
KIDS DAILY DEVOTIONAL 07 Januari 2026 - MY PARENTS ARE MY HEROES
2026-01-08 18:49:08


Efesus 6:1
“Hai anak-anak, taatilah orang tuamu di dalam Tuhan, karena haruslah demikian.”

Rehobot Kids, coba bayangkan kalau kamu ikut ekskul sepak bola atau basket. Pelatih sering bilang, “Ayo lebih cepat!”, “Fokus, yuk!” Walaupun terasa melelahkan, semua itu dilakukan supaya kamu makin berkembang. Nah, orang tua juga begitu. Mereka adalah “pelatih hidup” yang Tuhan berikan khusus untuk kamu.

Kadang kamu disuruh belajar dulu sebelum main game, atau diminta merapikan kamar padahal kamu lagi mau santai. Memang terasa tidak nyaman, tapi mereka melakukan itu karena sayang dan ingin masa depanmu jadi lebih baik.

Tuhan memakai orang tua untuk menjaga, mengarahkan, dan menolong kamu bertumbuh menjadi pribadi yang kuat dan berhikmat. Mereka ingin kamu punya kebiasaan baik dan hati yang benar.

Jadi, saat kamu dinasihati, cobalah berhenti sebentar dan belajar bersyukur. Bersyukur karena Tuhan memberikan orang tua yang peduli, yang menjaga, mengingatkan, dan melindungi kamu setiap hari. Mereka bukan lawanmu, tetapi tim terbaik yang kamu punya.

Ketika kamu belajar taat dan mengucap syukur kepada Tuhan atas orang tuamu, kamu sedang membangun hidup yang penuh kasih, kerendahan hati, dan tanggung jawab. Itu membuat Tuhan senang, dan membuat hatimu makin dewasa.

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 07 Januari 2026 (English Version) - GRATITUDE WITHOUT DEMANDS
2026-01-08 18:46:51


“I am not saying this because I am in need, for I have learned to be content whatever the circumstances.”
Philippians 4:11

Have you ever felt like life is unfair and wanted to demand more? Many young people often think, “I deserve this, I should have that.” But someone who is aware of God knows that life isn’t about demanding—it’s about receiving with gratitude. Paul himself said that he learned to be content in every situation.

Jeane Marie Tulung, Director General of Christian Community Guidance at Indonesia’s Ministry of Religious Affairs, can be a real-life example (Bimas Kristen, Ministry of Religious Affairs of the Republic of Indonesia — kumparan.com). Even in the midst of a high position and public attention, she continues to emphasize the importance of ecotheology and a curriculum rooted in love, rather than simply demanding status or human praise. This attitude shows that even Christian public officials can live with the awareness that everything they have is grace, not a right to be demanded.

As young people, we’re often tempted to compare ourselves with others. But a life that’s aware of God means learning to be satisfied with what we have, while remaining faithful to His calling. It doesn’t mean we stop dreaming, but we understand that everything we have is a gift, not something we gain by demanding it.

When we stop demanding, we actually find peace. Life becomes lighter, relationships become healthier, and our hearts become more grateful. That’s a real way to show that we are aware of God—not through big words, but through a humble and thankful attitude.

WHAT TO DO?
1. Train yourself to stop comparing your life with others.
2. Starting today, give thanks for the small things you have.
3. Learn to be content and trust that God knows what is best for you.

BIBLE MARATHON:
Mark 8

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 07 Januari 2026 - SYUKUR TANPA TUNTUTAN
2026-01-08 18:44:18


“Kukatakan ini bukanlah karena kekurangan, sebab aku telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan.”
Filipi 4:11

Pernahkah kamu merasa hidup ini nggak adil dan ingin menuntut lebih? Banyak anak muda sering berpikir, “Aku berhak dapat ini, aku harus punya itu.” Padahal, orang yang sadar Tuhan tahu bahwa hidup bukan soal menuntut, tapi menerima dengan syukur. Paulus sendiri berkata ia belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan.

Sosok Jeane Marie Tulung, Dirjen Bimas Kristen Kementerian Agama RI, bisa jadi contoh nyata Bimas Kristen Kemenag RI kumparan.com. Di tengah jabatan tinggi dan sorotan publik, ia tetap menekankan pentingnya ekoteologi dan kurikulum berbasis cinta, bukan sekadar menuntut posisi atau pujian. Sikap ini menunjukkan bahwa pejabat Kristen pun bisa hidup dengan kesadaran: semua yang ada adalah anugerah, bukan hak untuk dituntut.

Sebagai anak muda, kita sering tergoda untuk membandingkan diri dengan orang lain. Tapi hidup yang sadar Tuhan berarti belajar puas dengan apa yang ada, sambil tetap setia menjalani panggilan-Nya. Bukan berarti kita berhenti bermimpi, tapi kita tahu bahwa semua yang kita punya adalah pemberian, bukan hasil tuntutan.

Ketika kita berhenti menuntut, kita justru menemukan damai. Hidup jadi lebih ringan, relasi lebih sehat, dan hati lebih bersyukur. Itulah cara nyata menunjukkan bahwa kita sadar Tuhan: bukan dengan kata-kata besar, tapi dengan sikap hati yang rendah dan penuh syukur.

WHAT TO DO?
1. Latih diri untuk berhenti membandingkan hidupmu dengan orang lain.
2. Mulai hari ini, ucapkan syukur atas hal kecil yang kamu punya.
3. Belajar puas dan percaya bahwa Tuhan tahu apa yang terbaik buatmu.

BIBLE MARATHON:
Markus 8

Card image
Renungan Pagi - 07 Januari 2026
2026-01-08 18:42:07


Kita boleh jadi orang kristen, boleh jadi pelayan Tuhan, boleh jadi anak-anak Tuhan, tapi kalau tidak mengenal firman Tuhan, ada banyak hal yang mustahil.

Sebaliknya kalau kita mengenal firman, menyakini firman, maka akan melihat janji-janji Tuhan digenapi dalam hidup kita.

Card image
Quote Of The Day - 07 Januari 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-01-08 18:41:25


Jauhkan diri kita dari semua hal yang Tuhan tidak berkenan.

Card image
Mutiara Suara Kebenaran - 07 Januari 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-01-07 23:00:24


Selama di dunia orang percaya harus hidup dalam pemerintahan Allah melalui Roh Kudus, artinya hidup dalam penurutan terhadap kehendak Allah dalam segala hal.

Card image
CRUISE SHIP OR BATTLESHIP - 07 Januari 2026 (English Version)
2026-01-07 22:56:00


In his book Radical, David Platt — a Baptist pastor from the United States — offers an interesting analogy to distinguish between Christians who truly follow God and those who are merely His fans. Platt describes genuine Christians as those living on a battleship, while Christians who are not serious and who are absorbed in love for the world are portrayed as living on a cruise ship. We can easily imagine the tension, seriousness, and vigilance of someone on a battleship, and, in contrast, how easy, comfortable, and relaxed life is on a cruise ship.

The picture of the Christian life as a life on a battleship full of struggle seems consistent with Jesus’ life, our model. Because of this, many Christians push themselves excessively to “force” a harsh lifestyle to resemble this ideal image. It cannot be denied that being a follower of Christ means being willing to live like a soldier on a battleship: ready for attacks, ready to fight, and ready to lose comfort. There is no crown without struggle. Yet the question is: is the battleship sailing or not? If it is sailing, is it sinking or remaining steadfast in navigating the ocean? Being a “battleship Christian” is good, but even more important is consistency in fighting and not sinking.

The church in Ephesus experienced this crisis of consistency. They were a congregation quick to oppose evil people, patient in suffering for the sake of the Lord’s name, and tireless in serving others (Rev. 2:2–3). Using Platt’s illustration, the Ephesian church was truly worthy of being called “battleship Christians.” However, that title turned out not to be enough. Inspired by the Spirit, the Apostle John recorded that the Lord rebuked them for leaving their first love (Rev. 2:4). In other words, being militant is not enough — militancy must be consistent. Consistency is often more important than past spiritual achievements.

Many Christians feel that they have suffered or served the Lord tremendously in the past. But now, the fire of suffering and sacrifice has died and been replaced by a life of comfort. Worse still, this comfort is justified by the idea that God is “rewarding” the suffering of the past with comfort today. Ironically, this happens most often among God’s servants. At the beginning of ministry, they labored with tears, pressure, and humiliation. God felt so near, and militancy was very real. But over time, as the congregation grew, offerings increased, and church assets multiplied, that militancy was gradually replaced by personal ambition and ministry agendas.

Of course, we are not saying that serving the Lord must always be done in poverty and suffering. Such thinking could drag someone into extreme asceticism that views suffering as the ideal state. We can still experience comfort and relief amid changing circumstances, but we must not allow the internal fire to fade. Our militancy in following the Lord must not be replaced with a compromising spirit toward the beauty of the world that urges us to remain still in mere comfort. What is meant here is the willingness to continually ignite a heart that is ready to sacrifice, to the point of urging us to live in a way that is “unusual,” not the same as the world.

Externally, we may live a life that looks normal. But internally, we restrain ourselves from the influence and allure of the world. For example, financially, we can purchase a house worth millions of dollars. But because we realize that we are living on a battleship, we choose to buy a sufficient house, while the rest of the money is used for God’s work — whether for family, society, or the church. This is the embodiment of consistency in living on a battleship: when the fire of suffering, the willingness to sacrifice, and the commitment to live differently from the world continue to burn within the heart.

CHRISTIANS WHO ARE NOT SERIOUS AND WHO ARE ABSORBED IN LOVE FOR THE WORLD ARE PORTRAYED AS LIVING ON A CRUISE SHIP.

Card image
KAPAL PESIAR ATAU KAPAL PERANG? - 07 Januari 2026
2026-01-07 19:42:43


Dalam tulisannya, David Platt- seorang pendeta Baptis dari Amerika-dalam bukunya Radical mengangkat sebuah analogi menarik tentang perbedaan antara orang Kristen yang benar-benar mengikut Tuhan dan mereka yang hanya menjadi penggemar-Nya. Platt menggambarkan orang Kristen yang sungguh-sungguh, digambarkan sebagai mereka yang hidup di kapal perang, sedangkan orang Kristen yang tidak sungguh-sungguh, yang larut dalam kecintaan pada dunia, digambarkan berada di kapal pesiar. Kita dengan mudah dapat membayangkan ketegangan, kesungguhan, dan kewaspadaan orang yang berada di kapal perang, sebaliknya juga dapat membayangkan betapa mudah, nyaman, dan santainya hidup di kapal pesiar.

Gambaran kehidupan Kristen sebagai kehidupan di atas kapal perang yang penuh pergumulan nampak selaras dengan kehidupan Yesus yang menjadi pola bagi kita. Karena itu tidak sedikit orang Kristen yang mencobai diri secara berlebihan untuk "memaksakan" gaya hidup keras demi menyerupai gambaran ideal ini. Tidak dapat dimungkiri bahwa menjadi pengikut Kristus berarti bersedia hidup seperti tentara di kapal perang, siap menghadapi serangan, siap bertempur, dan siap kehilangan kenyamanan. Tiada mahkota tanpa perjuangan. Namun pertanyaannya: apakah kapal perang itu sedang berlayar atau tidak? Jika berlayar, apakah ia karam atau tetap teguh mengarungi lautan? Menjadi Kristen "kapal perang" memang baik, tetapi yang lebih penting adalah konsistensi dalam bertempur dan tidak karam.

Krisis konsistensi ini dialami jemaat Efesus. Mereka adalah jemaat yang cepat melawan orang jahat, sabar menderita demi nama Tuhan, dan tidak mengenal lelah melayani sesama (Why. 2:2-3). Jika memakai ilustrasi Platt, jemaat Efesus benar-benar pantas disebut "Kristen kapal perang." Namun demikian, gelar itu ternyata tidak cukup. Rasul Yohanes melalui ilham Roh mencatat bahwa Tuhan mencela mereka karena telah meninggalkan kasih mereka yang semula (Why. 2:4). Artinya, menjadi militan saja tidak cukup- militansi itu harus konsisten. Konsistensi sering kali lebih penting daripada pencapaian rohani di masa lalu.

Banyak orang Kristen merasa telah menderita atau melayani Tuhan begitu luar biasa di masa lampau. Namun kini, api penderitaan dan pengorbanan itu telah padam dan tergantikan oleh kenyamanan hidup. Kenyamanan itu bahkan dilegitimasi dengan pemikiran bahwa Tuhan sedang "mengganti" penderitaan masa lalu dengan kenyamanan masa sekarang. lronisnya, hal ini paling banyak terjadi di kalangan hamba Tuhan. Pada awal pelayanan, mereka merintis dengan air mata, tekanan, dan cercaan. Tuhan terasa begitu dekat, militansi begitu nyata.Tapi seiring waktu, ketika jemaat bertambah, persembahan meningkat, dan aset gereja berlipatganda, militansi itu perlahan digantikan oleh ambisi pribadi dan agenda pelayanan.

Tentu kita tidak mengatakan bahwa melayani Tuhan harus selalu dilakukan dalam kemiskinan dan penderitaan. Pemahaman seperti itu dapat menyeret seseorang ke asketisme ekstrem yang memandang penderitaan sebagai kondisi ideal. Kita tetap dapat merasakan kenyamanan dan kelegaan sebagai dampak perubahan situasi, namun jangan sampai api yang menyala di dalam hati meredup. Militansi kita dalam mengiring Tuhan tidak boleh digantikan dengan jiwa kompromistik terhadap keindahan dunia yang mengarahkan kita untuk tinggal diam dalam kenyamanan semata. Yang dimaksud di sini adalah kesediaan untuk terus mengobarkan hati yang rela berkorban-hingga menggugah kita hidup "tidak wajar," tidak sama dengan dunia.

Secara lahiriah, kita mungkin menjalani kehidupan yang tampak normal. Namun secara batiniah, kita membatasi diri terhadap pengaruh dunia dan keindahannya. Misalnya, secara finansial kita sebenarnya mampu membeli rumah seharga puluhan miliar. Tetapi karena kita menyadari bahwa kita hidup di atas kapal perang, kita memilih membeli rumah secukupnya, sementara sisa uangnya digunakan untuk pekerjaan Tuhan-baik untuk keluarga, masyarakat, maupun gereja.

lnilah wujud konsistensi hidup di kapal perang: ketika api penderitaan, kesediaan berkorban, dan kemauan hidup tidak wajar tetap menyala di dalam hati.

Tuhan Yesus memberkati.

ORANG KRISTEN YANG SUNGGUH-SUNGGUH DIGAMBARKAN SEBAGAI MEREKA YANG HIDUP DI KAPAL PERANG, SEDANGKAN ORANG KRISTEN YANG TIDAK SUNGGUH-SUNGGUH, YANG LARUT DALAM KECINTAAN PADA DUNIA, DIGAMBARKAN BERADA DI KAPAL PESIAR.

Card image
Bacaan Alkitab Setahun - 07 Januari 2026
2026-01-07 19:41:05

Ayub 14-16

Card image
KIDS DAILY DEVOTIONAL 06 Januari 2026 - SUPERHEROES AREN'T MADE IN ONE DAY
2026-01-07 19:24:31


Roma 8:28
“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.”

Rehobot Kids, pernah nonton Kung Fu Panda? Di film itu, tokoh utamanya tidak langsung hebat. Dia sering jatuh, gagal, takut, dan bingung. Tapi dia terus maju karena percaya dan bersyukur punya teman serta pendamping yang selalu mendukungnya. Nah, dalam hidup, kita juga bisa mengalami hal yang sama.

Coba ingat Po, si panda gendut yang mau jadi pendekar. Po sering tersungkur dan dianggap tidak bisa apa-apa. Tapi dia tetap latihan, terus mencoba, dan tidak menyerah. Yang penting, Po belajar bersyukur di setiap proses yang membuatnya semakin kuat. Karena itu, akhirnya dia bisa jadi Pendekar Naga yang luar biasa.

Begitu juga dengan kamu, Rehobot Kids. Walau kamu belum berhasil sekarang, itu tidak berarti kamu gagal selamanya. Justru lewat proses itu, Tuhan sedang membentukmu jadi lebih kuat, lebih berani, dan lebih hebat daripada yang kamu bayangkan.

Kalau kamu menghadapi kegagalan, jangan langsung putus asa. Di situlah kamu bisa belajar bersyukur. Bersyukur karena Tuhan sedang bekerja dalam hidupmu. Bersyukur karena setiap proses—yang menyenangkan maupun yang sulit—dipakai Tuhan untuk membuat hidupmu jadi lebih indah.

Bayangkan setiap kegagalan itu seperti “latihan” di film hidupmu. Terus maju, terus belajar, dan tetap bersyukur. Karena Tuhan sanggup membalikkan kegagalanmu menjadi kemenangan, dan membentukmu jadi “superhero” yang kuat bersama Dia.

Card image
Z - VOTION 06 Januari 2026 (English Version) - GRATITUDE THROUGH THE MUSIC OF LIFE
2026-01-07 19:19:06


“Let everything that has breath praise the LORD! Hallelujah!”
Psalm 150:6

Have you ever felt that music can be a simple way to express gratitude? Many young people use music as a form of self-expression, but when music is used to glorify God, it becomes a real and tangible expression of gratitude. The Psalm reminds us that everything that has breath—including through works of art—is called to praise the Lord.

A real example we can see is Michael W. Smith, an international Christian musician who has remained consistent in using his music to glorify God. Even after decades of creating and performing, he doesn’t demand popularity or human praise. Instead, he continues to emphasize that music is an offering of gratitude to God.

So, when we live rightly and glorify God, it shouldn’t become a stage for demanding recognition. Instead, we use our talents as an expression of gratitude. Whether through music, art, or daily activities, everything can become a “song of life” that glorifies God.

When we stop demanding and start being thankful, life becomes lighter. The music of our hearts will sound beautiful—not because the notes are perfect, but because our attitude is right. That’s a real way to show that we are aware of God: life becomes praise, not a demand.

WHAT TO DO?
1. Use your talent or hobby as an expression of gratitude, not just to seek recognition.
2. Train your heart to stop demanding, and start being thankful for the small things.
3. Make your life a “song” that glorifies God every day.

BIBLE MARATHON:
Mark 7

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 06 Januari 2026 (English Version) - SYUKUR LEWAT MUSIK HIDUP
2026-01-07 19:15:39


“Biarlah segala yang bernafas memuji TUHAN! Haleluya!”
Mazmur 150:6

Pernahkah kamu merasa musik bisa jadi cara sederhana untuk bersyukur? Banyak anak muda menjadikan musik sebagai ekspresi diri, tapi ketika musik dipakai untuk memuliakan Tuhan, itu jadi bentuk syukur yang nyata. Mazmur mengingatkan bahwa segala yang bernafas termasuk lewat karya seni dipanggil untuk memuji Tuhan.

Contoh nyata bisa kita lihat dari Michael W. Smith, musisi Kristen internasional yang tetap konsisten memakai musiknya untuk memuliakan Tuhan. Meski sudah puluhan tahun berkarya, ia tidak menuntut popularitas atau pujian manusia, melainkan terus menekankan bahwa musik adalah persembahan syukur kepada Tuhan.

So, saat hidup kita benar dan memuliakan Tuhan bukan jadi ajang menuntut pengakuan, tapi menjadikan talenta sebagai ucapan syukur. Entah itu lewat musik, seni, atau aktivitas sehari-hari, semuanya bisa jadi “lagu hidup” yang memuliakan Tuhan.

Ketika kita berhenti menuntut dan mulai bersyukur, hidup jadi lebih ringan. Musik hati kita akan terdengar indah: bukan karena nada sempurna, tapi karena sikap hati yang benar. Itulah cara nyata menunjukkan bahwa kita sadar Tuhan hidup jadi pujian, bukan tuntutan.

WHAT TO DO?
1. Gunakan talenta atau hobi sebagai bentuk syukur, bukan sekadar cari pengakuan.
2. Latih hati untuk berhenti menuntut, mulai bersyukur atas hal kecil.
3. Jadikan hidupmu sebagai “lagu” yang memuliakan Tuhan setiap hari.

BIBLE MARATHON:
Markus 7

Card image
Renungan Pagi - 06 Januari 2026
2026-01-07 19:12:51


Kebahagiaan kita sebagai anak Tuhan, bukan ketika sukses dan kaya, tetapi ketika hidup melayani Tuhan dan menjadi berkat bagi banyak orang.

Ketika orang yang kita layani bertobat dan menerima Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadi.

Itulah kebahagiaan kita, karena orang yang sedang menuju neraka, tetapi dapat terselamatkan menuju sorga, rumah Bapa yang kekal.

Card image
Quote Of The Day - 06 Januari 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-01-07 19:12:04


Benar atau tidaknya arah hidup kita, sangat ditentukan seberapa kita hidup suci hari ini dan seberapa kita sungguh-sungguh mencintai Tuhan, dan tidak terikat dengan kesenangan dunia.

Card image
Mutiara Suara Kebenaran - 06 Januari 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-01-07 19:10:11


Tuhan menghendaki agar kita memancangkan perhatian kita kepada apa yang menjadi maksud kedatangan Tuhan yaitu Kerajaan Surga di mana Tuhan Yesus menjadi Raja.

Card image
COMMITMENT TO FOLLOWING GOD - 06 Januari 2026 (English Version)
2026-01-07 19:08:35


Matthew 16:24
“Then Jesus said to His disciples, ‘If anyone desires to come after Me, let him deny himself, take up his cross, and follow Me.”

Following the LORD is an incredible calling, but it is not without sacrifice. Many people want to experience the blessings of the LORD, but not everyone dares to walk the path of discipleship that He requires. Jesus said that whoever wants to follow Him must deny himself and take up his cross. This means that following the LORD is not merely a spiritual activity but a life commitment to obey even when obedience is not comfortable. Commitment to following the LORD means choosing to live according to His will, not our own. In today’s era, there are so many options that promise comfort and popularity. Yet the path of the LORD often leads us to simplicity, faithfulness, and even suffering.

Following the LORD is not only about our prayers being answered; it is also about waiting without understanding. Commitment is tested not in good times, but when the realities of life challenge our faith. Jesus never hid the cost of following Him. He did not promise a life without problems, but He promised His presence in the midst of our problems. He did not say that the road would be easy, but He promised that His love would be sufficient for us.

A person who is committed to following God does not allow feelings to determine decisions, but allows the Word to be the compass of life. Steadfast commitment to following the LORD is seen in daily choices: remaining faithful in prayer even when the heart feels dry, continuing to believe even when the answer has not yet come, continuing to serve even when unappreciated, and continuing to love even when hurt. Commitment is not about how strong we are, but about the determination to keep walking with the LORD.

Following the LORD means being willing to be shaped. Sometimes the process of shaping is painful, but it always brings good. Like a grain of wheat that must die to bear fruit, so it is with our lives. Jesus said, “For whoever desires to save his life will lose it, but whoever loses his life for My sake will find it” (Matthew 16:25). Losing comfort for the sake of Christ is not a loss, but a path toward a more meaningful life.

If today we feel weary in following the LORD, remember that He is not looking for perfect followers, but faithful ones. He does not compare our journey with others, but He calls us to keep moving forward. Even if we once stepped back, God still allows us to return. God calls us not only to follow Him, but to follow Him until the end. In a world that often changes direction, God is seeking children who firmly hold this decision: “Even though it is not easy, I still want to follow the Lord.” This is the kind of commitment that will lead us to become more like Christ and produce eternal fruit. Amen.

A PERSON WHO IS COMMITTED TO FOLLOWING GOD DOES NOT ALLOW FEELINGS TO DETERMINE DECISIONS, BUT ALLOWS THE WORD TO BE THE COMPASS OF LIFE.

Card image
KOMITMEN DALAM MENGIKUT TUHAN - 06 Januari 2026
2026-01-06 23:00:24


Matius 16:24
“Lalu Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: ‘Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku.”

Mengikut TUHAN adalah panggilan yang sangat indah, tetapi bukan berarti tanpa pengorbanan. Banyak orang ingin mengalami berkat TUHAN, tetapi tidak semua berani menjalani jalan pengiringan yang Dia minta. Yesus berkata bahwa siapa pun yang mau mengikut Dia harus menyangkal diri dan memikul salib. Artinya, mengikut TUHAN bukan sekadar kegiatan rohani, tetapi komitmen hidup yang siap taat meski tidak selalu nyaman. Komitmen dalam mengikut TUHAN berarti memilih untuk hidup sesuai kehendak-Nya, bukan kehendak sendiri. Di era sekarang, begitu banyak pilihan yang menjanjikan kenyamanan dan popularitas. Namun jalan TUHAN sering kali membawa kita kepada kesederhanaan, kesetiaan, bahkan penderitaan.

Mengikut TUHAN bukan hanya ketika doa kita dijawab, tetapi juga ketika kita menunggu tanpa mengerti. Komitmen diuji bukan pada masa-masa yang baik, tetapi ketika iman kita ditantang oleh kenyataan hidup. Yesus tidak pernah menyembunyikan harga dari mengikuti-Nya. Ia tidak menjanjikan hidup tanpa masalah, tetapi Ia menjanjikan penyertaan di tengah masalah. Ia tidak berkata bahwa jalan itu mudah, tetapi Ia berjanji bahwa kasih-Nya cukup bagi kita.

Orang yang berkomitmen mengikut Tuhan tidak menjadikan perasaan sebagai penentu keputusan, tetapi menjadikan firman sebagai kompas hidup. Komitmen sejati dalam mengikut TUHAN akan terlihat melalui pilihan-pilihan sehari-hari: tetap setia berdoa meski hati terasa kering, tetap percaya meski jawaban belum datang, tetap melayani meski tidak dihargai, dan tetap mengasihi meski disakiti. Komitmen bukan tentang kuatnya kita, tetapi tentang tekad untuk tetap berjalan bersama TUHAN.

Mengikut TUHAN berarti siap dibentuk. Terkadang proses pembentukan itu menyakitkan, tetapi selalu membawa kebaikan. Seperti biji gandum yang harus mati untuk menghasilkan buah, demikian pula hidup kita. Yesus berkata, “Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya” (Mat. 16:25). Kehilangan kenyamanan demi Tuhan bukanlah kerugian, melainkan jalan menuju kehidupan yang lebih bermakna.

Jika hari ini kita merasa letih berjalan mengikut Tuhan, ingatlah bahwa *Dia tidak mencari pengikut yang sempurna, tetapi pengikut yang setia.* Ia tidak membandingkan perjalanan kita dengan perjalanan orang lain, tetapi Ia memanggil kita untuk terus melangkah maju. Bahkan jika kita pernah mundur, Tuhan masih memberi kesempatan untuk kembali. Tuhan memanggil kita bukan hanya untuk mengikut Dia, tetapi untuk mengikut sampai akhir. Di tengah dunia yang sering berubah arah, Tuhan mencari anak-anak yang teguh memegang keputusan: “Sekalipun tidak mudah, aku tetap mau ikut Tuhan.” Komitmen inilah yang akan menuntun kita menjadi semakin serupa dengan Kristus dan menghasilkan buah yang kekal. Amin.

Tuhan Yesus memberkati.

ORANG YANG BERKOMITMEN MENGIKUT TUHAN TIDAK MENJADIKAN PERASAAN SEBAGAI PENENTU KEPUTUSAN, TETAPI MENJADIKAN FIRMAN SEBAGAI KOMPAS HIDUP.

Card image
KIDS DAILY DEVOTIONAL 05 Januari 2026 - NASI DI PIRING KAI
2026-01-06 13:32:57


Yohanes 6:11
“Lalu Yesus mengambil roti itu, mengucap syukur dan membagi-bagikannya kepada mereka yang duduk di situ, demikian juga dibuat-Nya dengan ikan-ikan itu, sebanyak yang mereka kehendaki.”

Suatu siang, Kai pulang sekolah dengan perut keroncongan. Begitu membuka tudung saji di meja makan, ia menemukan sepiring nasi hangat, ayam kecap, dan sayur sop. Kai langsung berseru, “Wah, favorit ku!” Karena terlalu lapar, Kai segera mengambil sendok dan mulai makan—tanpa berdoa lebih dulu.

Mamanya yang melihat itu berkata lembut, “Kai, kamu lupa sesuatu?” Kai berhenti dan menjawab pelan, “Oh iya… doa makan ya, Ma?” Mamanya tersenyum. “Iya, Nak. Ingat kisah Yesus memberi makan lima ribu orang? Sebelum membagikan makanan, Yesus mengucap syukur dulu. Itu karena setiap makanan, sekecil apa pun, adalah berkat dari Tuhan.” Kai mengangguk. Ia melihat kembali piringnya dan sadar, tidak semua anak bisa makan seenak dan sebanyak dirinya.

Mamanya melanjutkan, “Setiap kali kamu makan, itu seperti Tuhan berkata, ‘Aku mengasihimu. Aku menyediakan kebutuhanmu.’ Karena itu kita bersyukur.” Kai tersenyum, menutup mata, berdoa singkat, lalu mulai makan lagi. Kali ini, setiap suapan terasa lebih spesial—seakan ada kasih Tuhan di dalamnya.

Rehobot Kids, apakah kalian selalu ingat berdoa sebelum makan? Makanan yang kita nikmati setiap hari adalah berkat nyata dari Tuhan. Tidak semua orang mendapat kesempatan makan dengan cukup.

Karena itu, yuk belajar bersyukur. Setiap kali kita mengucap syukur sebelum makan, kita sedang mengingat bahwa Tuhan mengasihi, memelihara, dan menyediakan apa yang kita butuhkan setiap hari.

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 05 Januari 2026 (English Version) - LEARNING GRATITUDE FROM “War Room"
2026-01-06 13:06:45


“I am not saying this because I am in need, for I have learned to be content whatever the circumstances.”
Philippians 4:11

Have you ever felt like life is unfair and wanted to demand more? Many young people often think, “Why don’t I have this? Why isn’t my life like theirs?” But someone who is aware of God knows that life isn’t about demanding—it’s about receiving with gratitude. Paul himself said that he learned to be content in every situation.

The movie War Room portrays this beautifully. The character Miss Clara teaches that prayer and an awareness of God make life calmer, without needing to demand things from others or from circumstances. She shows that when we realize God is present, we can stop demanding and start being grateful.

As young people, we’re often tempted to compare ourselves with others. But a life that’s aware of God means we learn to be satisfied with what we have while remaining faithful in living out His calling. It doesn’t mean we stop dreaming—but we know that everything we have is grace, not something we earn by demanding it.

When we stop demanding, we actually find peace. Life becomes lighter, relationships become healthier, and our hearts become more grateful. That’s a real way to show that we’re aware of God—not with big words, but with a humble and thankful heart.

WHAT TO DO?
1.Train yourself to stop comparing your life with others.
2.Starting today, give thanks for the small things you have.
3.Learn to be content and trust that God knows what is best for you.

BIBLE MARATHON:
Mark 6

Card image
BELAJAR BERSYUKUR DARI “War Room"
2026-01-05 19:49:19


“Kukatakan ini bukanlah karena kekurangan, sebab aku telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan.”
Filipi 4:11

Pernahkah kamu merasa hidup ini nggak adil dan ingin menuntut lebih? Banyak anak muda sering berpikir, “Kenapa aku nggak punya ini, kenapa hidupku nggak seperti dia?” Padahal, orang yang sadar Tuhan tahu bahwa hidup bukan soal menuntut, tapi menerima dengan syukur. Paulus sendiri berkata ia belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan.

Film “War Room” menggambarkan hal ini dengan indah. Tokoh Miss Clara mengajarkan bahwa doa dan kesadaran akan Tuhan membuat hidup lebih tenang, tanpa harus menuntut orang lain atau keadaan. Ia menunjukkan bahwa ketika kita sadar Tuhan hadir, kita bisa berhenti menuntut dan mulai bersyukur.

Sebagai anak muda, kita sering tergoda untuk membandingkan diri dengan orang lain. Tapi hidup yang sadar Tuhan berarti kita belajar puas dengan apa yang ada, sambil tetap setia menjalani panggilan-Nya. Bukan berarti kita berhenti bermimpi, tapi kita tahu bahwa semua yang kita punya adalah anugerah, bukan hasil tuntutan.

Ketika kita berhenti menuntut, kita justru menemukan damai. Hidup jadi lebih ringan, relasi lebih sehat, dan hati lebih bersyukur. Itulah cara nyata menunjukkan bahwa kita sadar Tuhan: bukan dengan kata-kata besar, tapi dengan sikap hati yang rendah dan penuh syukur.

WHAT TO DO?
1. Latih diri untuk berhenti membandingkan hidupmu dengan orang lain.
2. Mulai hari ini, ucapkan syukur atas hal kecil yang kamu punya.
3. Belajar puas dan percaya bahwa Tuhan tahu apa yang terbaik buatmu.

BIBLE MARATHON:
Markus 6

Card image
Renungan Pagi - 05 Januari 2026
2026-01-05 19:47:04


Dalam hidup ini ada saja keadaan-keadaan yang terjadi tidak seperti yang kita harapkan, apakah itu ditengah keluarga, usaha, pekerjaan, pelayanan, pergaulan dan keseharian hidup.

Tetapi kita harus tetap bertekun dan setia karena apa yang tidak sesuai dengan harapan, seringkali itulah yang terbaik, bagian kita hanya bertekun dan setia, selebihnya Tuhan pasti akan menyertai.

Card image
Quote Of The Day - 05 Januari 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-01-05 19:45:28


Orang yang memiliki gairah Tuhan Yesus selalu menginginkan dengan kuat untuk melakukan kehendak Bapa dan menyelesaikan pekerjaan-Nya.

Card image
Mutiara Suara Kebenaran - 05 Januari 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-01-05 19:44:26


Keagungan entitas manusia sebagai citra Allah atau mahkota ciptaan Allah, ketika manusia hidup berkenan di hadapan-Nya.

Card image
COMMITMENT TO LIVE A HOLY LIFE - 05 Januari 2026 (English Version)
2026-01-05 19:43:31


1 Peter 1:16
“For it is written: Be holy, because I am holy.”

We must understand that living a holy life is not only about avoiding sin, but also about choosing to live in accordance with God’s purpose for us. Holiness is a calling we are meant to fulfill, not merely a rule to obey. God does not ask us to live in holiness to restrict our lives, but to protect, set apart, and prepare us for His glorious plan.

However, living a holy life is not easy, especially in a world full of opportunities for compromise. Living in holiness requires courage — the courage to be different, the courage to not follow the flow of the world, and the courage to say “no” when temptation comes. Commitment to holiness means choosing what is right, even when those around us determine what is wrong. Holiness is not only seen in outward behavior, but especially in the condition of the heart, thoughts, and motives that God continually purifies.

Many people can look spiritual on the outside, but holiness always begins from within. Jesus once rebuked the Pharisees who appeared righteous on the outside but whose hearts were far from God (Matt. 23:27). True holiness is not about appearing perfect, but about a sincere longing to please God. Therefore, the commitment to live a holy life begins with a personal relationship with God — not merely with following religious rules.

For the children of God, living a holy life often means letting go of things that may seem socially normal but are spiritually destructive. This may include setting boundaries in friendships, limiting what we watch and listen to, and guarding what we consume from social media. It can also mean guarding holiness in relationships, in how we use our time, and even in the way we speak. To live a holy life means to live with the awareness that God is present in every decision we make.

Joseph is an extraordinary example in the Bible. When temptation came through Potiphar’s wife, he could have chosen a compromise that would have benefited him in a human sense. But he said, “How then could I do such a wicked thing and sin against God?” (Gen. 39:9). His commitment to holiness was not rooted in the fear of being seen by people, but in the fear of hurting God’s heart, which is genuine commitment — doing what is right even when no one else is watching.

The commitment to live a holy life does not mean we will never fall. But a committed person will quickly rise and return to God. They do not remain in guilt, but run toward grace. Living a holy life is not about perfection, but about growth, purification, and ongoing repentance. God calls us to live a holy life not by our own strength, but through the power of the Holy Spirit who dwells in us. Therefore, the commitment to holiness must be built through prayer, spiritual discipline, and a supportive community. We are not called to walk alone, but to walk together with the body of Christ.

Today, let us ask ourselves: Am I truly living to please God? Is there something I need to let go of so that I can keep my commitment to live a holy life? May we have the courage to make this sincere decision:

“Lord, I want to live to please You — more than to please myself or others.” Amen.

A HOLY LIFE IS NOT ONLY ABOUT AVOIDING SIN, BUT ALSO ABOUT CHOOSING TO LIVE IN ACCORDANCE WITH GOD'S PURPOSE FOR US.

Card image
KOMITMEN UNTUK HIDUP KUDUS - 05 Januari 2026
2026-01-05 19:41:13


1 Petrus 1:16
“Sebab seperti ada tertulis: Kuduslah kamu, sebab Aku kudus.”

Perlu kita pahami bersama bahwa hidup kudus bukan hanya soal menghindari dosa, melainkan juga tentang memilih hidup sesuai dengan tujuan Allah bagi kita. Kekudusan adalah ketetapan yang harus kita penuhi, bukan sekadar aturan yang perlu ditaati. Tuhan tidak meminta kita hidup kudus untuk membatasi hidup kita, tetapi untuk melindungi, memisahkan, dan menyiapkan kita bagi rencana-Nya yang mulia.

Namun, komitmen untuk hidup kudus bukanlah perkara mudah, terutama di dunia yang menawarkan begitu banyak kompromi. Hidup dalam kekudusan membutuhkan keberanian: keberanian untuk berbeda, keberanian untuk tidak mengikuti arus dunia, dan keberanian berkata “tidak” ketika godaan datang. Komitmen hidup kudus berarti tetap memilih yang benar meskipun orang-orang di sekitar kita memilih jalan yang salah. Kekudusan bukan hanya tampak dari perilaku luar, tetapi terutama dari kondisi hati, pikiran, dan motivasi yang terus disucikan oleh Tuhan.

Banyak orang dapat terlihat rohani dari luar, tetapi hidup kudus selalu dimulai dari dalam. Yesus pernah mengecam orang Farisi yang tampak baik secara lahiriah, tetapi hatinya jauh dari Allah (Mat. 23:27). Kekudusan sejati bukan tentang tampil sempurna, melainkan tentang kerinduan yang tulus untuk menyenangkan hati Tuhan. Karena itu, komitmen hidup kudus dimulai dari hubungan pribadi dengan Tuhan—bukan hanya dari mengikuti aturan agama.

Bagi anak-anak Allah, hidup kudus sering kali berarti meninggalkan hal-hal yang secara sosial tampak wajar, tetapi secara rohani merusak. Ini bisa berupa menjaga batasan dalam pergaulan, membatasi apa yang kita tonton dan dengarkan, serta mengawasi apa yang kita konsumsi dari media sosial. Bisa juga berarti menjaga kekudusan dalam relasi, dalam penggunaan waktu, bahkan dalam cara berbicara. Hidup kudus berarti hidup dengan kesadaran bahwa Allah hadir dalam setiap keputusan yang kita buat.

Yusuf adalah contoh luar biasa dalam Alkitab. Ketika godaan datang melalui istri Potifar, ia bisa saja memilih kompromi yang menguntungkan dirinya secara manusia. Namun ia berkata, “…Bagaimana mungkin aku melakukan kejahatan yang besar ini dan berbuat dosa terhadap Allah?” (Kej. 39:9). Komitmennya terhadap kekudusan bukan karena takut ketahuan oleh manusia, tetapi karena takut melukai hati Tuhan. Inilah komitmen sejati—melakukan yang benar meski tidak ada seorang pun yang melihat.

Komitmen hidup kudus bukan berarti kita tidak pernah jatuh. Namun, orang yang berkomitmen akan segera bangkit dan kembali kepada Tuhan. Ia tidak tinggal dalam rasa bersalah, tetapi berlari kepada kasih karunia. Hidup kudus bukan tentang kesempurnaan, tetapi tentang pertumbuhan, pemurnian, dan pertobatan yang terus-menerus. Tuhan memanggil kita untuk hidup kudus bukan dengan kekuatan kita sendiri, tetapi dengan kuasa Roh Kudus yang tinggal di dalam kita. Karena itu, komitmen hidup kudus harus dibangun melalui doa, disiplin rohani, dan komunitas yang mendukung. Kita tidak dipanggil berjalan sendiri, tetapi berjalan bersama tubuh Kristus.

Hari ini, mari kita bertanya kepada diri sendiri: Apakah aku benar-benar hidup untuk menyenangkan hati Tuhan? Apakah ada hal yang harus aku lepaskan agar dapat memegang komitmen hidup kudus? Kiranya kita berani mengambil keputusan dengan sungguh-sungguh: “Tuhan, aku ingin hidup menyenangkan-Mu—lebih dari menyenangkan diriku sendiri atau orang lain.” Amin.

HIDUP KUDUS BUKAN HANYA SOAL MENGHINDARI DOSA, MELAINKAN JUGA TENTANG MEMILIH HIDUP SESUAI DENGAN TUJUAN ALLAH BAGI KITA.

Card image
Bacaan Alkitab Setahun - 05 Januari 2026
2026-01-05 19:39:21

Ayub 6-9

Card image
KIDS DAILY DEVOTIONAL 04 Januari 2026 - SELIMUT YANG MENGHANGATKAN
2026-01-05 19:55:16


Mazmur 41:4
“TUHAN membantu dia di ranjangnya waktu sakit; di tempat tidurnya Kaupulihkannya sama sekali dari sakitnya.”

Suatu malam, Gio terbangun karena kepalanya pusing dan badannya panas. Ia merasa lemah, tidak bisa tidur, dan berharap besok pagi sudah sembuh. Mamanya datang, memeriksa suhunya, lalu menyelimuti Gio dengan selimut tebal yang hangat. Saat mama membuatkan teh, Gio berkata pelan, “Ma, aku nggak suka sakit. Rasanya nggak enak… kenapa Tuhan izinkan aku sakit?”

Mamanya duduk di samping Gio, mengusap rambutnya, dan menjawab dengan lembut, “Nak, sakit memang tidak enak. Tapi justru saat kita lemah, Tuhan ingin kita lebih dekat kepada-Nya. Seperti kamu sekarang… kamu lebih ingin dekat mama, minta dibantu, dan bergantung. Begitu juga dengan Tuhan — Dia ingin kita datang dan berharap kepada-Nya.” Gio terdiam, memeluk selimutnya. Ia sadar bahwa meskipun tubuhnya lemah, hatinya bisa tetap kuat karena Tuhan ada di sisinya.

Keesokan harinya, ia masih belum pulih. Tetapi sesuatu dalam dirinya berubah — ia merasa lebih tenang. Ia berdoa pelan, “Tuhan, aku tahu Engkau dekat saat aku sakit. Terima kasih sudah menjagaku.” Hatinya seperti diselimuti kehangatan, bukan dari kain, tetapi dari kasih Tuhan yang tidak pernah meninggalkannya.

Rehobot Kids, ketika kita sakit, rasanya memang tidak menyenangkan. Namun dalam masa sakit, kita bisa belajar berharap dan percaya kepada Tuhan. Ia memakai masa lemah kita untuk menarik kita lebih dekat kepada-Nya.

Mari bersyukur, Rehobot Kids, karena Tuhan selalu ada menyertai kita — bahkan ketika tubuh kita lemah, kasih-Nya tetap kuat menghangatkan hati kita.

Card image
Z - VOTION 04 Januari 2026 (English Version) - LIFE IS A GIFT
2026-01-05 19:54:48


“Behold, You have made my days a few handbreadths, and my lifetime is as nothing before You. Surely all mankind stands as a mere breath.”
Psalm 39:5

Have you ever realized that life isn’t a right, but a gift? Many people feel like their life automatically belongs to them and can be lived however they want. But the Psalm reminds us that our time is limited, and every second is a gift from God. This awareness makes us more humble and not easily proud.

Job is a real example. Even though he lost everything—his wealth, family, and health—he still realized that life comes from God. Job said, “The LORD gave, and the LORD has taken away.” From his story we learn that true gratitude appears when we understand that life is not a right we can demand, but a gift that must be lived faithfully.

Young people today often get trapped in an entitlement mindset: feeling like they deserve attention, deserve quick success, or deserve the freedom to do anything they want. But when we realize life is a gift, we’ll value time, opportunities, and the people around us more. Living rightly becomes our way of saying “thank you” to God.

This awareness makes life more meaningful. When we know life is a gift, we won’t waste it on empty things. Instead, we’ll use every moment to obey, to be faithful, and to be a blessing. That’s what true gratitude looks like—not just words, but a lifestyle that honors the Giver of Life.

WHAT TO DO?
1. Reflect: which part of your life do you often treat as a “right,” when it is actually a gift?
2. Start appreciating small things (time, health, relationships) as God’s gifts.
3. Show gratitude by living rightly: be honest, faithful, and humble.

BIBLE MARATHON:
Mark 5

Card image
Z - VOTION 04 Januari 2025 - HIDUP ITU ANUGERAH
2026-01-05 19:32:40


“Sesungguhnya, Engkau telah menentukan umurku hanya beberapa jengkal saja, dan hidupku seperti tidak ada di hadapan-Mu. Sesungguhnya, setiap manusia hanyalah kesia-siaan, walaupun tegak berdiri.”
Mazmur 39:5

Pernahkah kamu sadar kalau hidup ini bukan hak, tapi pemberian? Banyak orang merasa hidup otomatis milik mereka, bisa dijalani seenaknya. Padahal, Mazmur mengingatkan bahwa umur kita terbatas, dan setiap detik adalah anugerah dari Tuhan. Kesadaran ini bikin kita lebih rendah hati dan nggak gampang sombong.

Tokoh Ayub jadi contoh nyata. Walaupun kehilangan segalanya harta, keluarga, kesehatan ia tetap sadar bahwa hidup berasal dari Tuhan. Ayub berkata, “TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil.” Dari kisah ini kita belajar bahwa syukur sejati muncul ketika kita sadar hidup bukan hak yang bisa dituntut, tapi pemberian yang harus dijalani dengan setia.

Anak muda zaman sekarang sering terjebak mindset entitlement: merasa berhak dapat perhatian, berhak sukses cepat, atau berhak bebas melakukan apa saja. Tapi kalau kita sadar hidup ini pemberian, kita akan lebih menghargai waktu, kesempatan, dan orang-orang di sekitar kita. Hidup benar jadi cara kita bilang “thank you” pada Tuhan.

Kesadaran ini bikin hidup lebih bermakna. Saat kita tahu hidup adalah anugerah, kita nggak akan sia-siakan dengan hal-hal yang kosong. Justru kita akan pakai setiap momen untuk taat, setia, dan jadi berkat. Itulah wujud syukur sejati: bukan sekadar ucapan, tapi gaya hidup yang menghormati Sang Pemberi Hidup.

WHAT TO DO?
1. Renungkan: bagian mana dari hidupmu yang sering kamu anggap “hak” padahal itu pemberian?
2. Mulai hargai hal-hal kecil (waktu, kesehatan, relasi) sebagai anugerah Tuhan.
3. Tunjukkan syukur dengan hidup benar: jujur, setia, dan rendah hati.

BIBLE MARATHON:
Markus 5

Card image
Renungan Pagi - 04 Januari 2026
2026-01-05 19:54:10


Seorang kristen yang memiliki hubungan yang baik dengan Tuhan akan diwujud nyatakan dengan manisnya hubungannya dengan sesama.

Karena hubungan tersebut merupakan cerminan kasih kepada Tuhan.

Melalui hubungan baik dengan sesama, sebenarnya kita sedang menampilkan sinar kasih Kristus. Mari wujudkan dalam kehidupan setiap hari

Card image
Quote Of The Day - 04 Januari 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-01-05 19:52:52


Hidup ini adalah sebuah pertandingan, yang bukan hanya dijalani, namun kita harus berprinsip tidak boleh kalah.

Card image
Mutiara Suara Kebenaran - 04 Januari 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-01-05 19:52:29


Keagungan entitas manusia sebagai citra Allah atau mahkota ciptaan Allah, ketika manusia hidup berkenan di hadapan-Nya.

Card image
COMMITMENT IN CHANGING WORLD - 04 Januari 2026 (English Version)
2026-01-05 19:51:55


Luke 9:62
“But Jesus said, ‘No one who puts his hand to the plow and looks back is fit for the kingdom of God.’”

Being a young person who lives rightly according to the Word of the Lord in this era is not easy. The world moves so fast, options are wide open, and information flows without stopping. Many young people begin with great enthusiasm but slowly lose direction due to temptation, pressure, or exhaustion. Commitment becomes rare because many want everything to be instant, wanting quick results without a long process. Yet the Word of the Lord reminds us that whoever has chosen the path of the Lord but still looks back is not fit for the Kingdom of God. This means that commitment is not just about starting, but about continuing until the end.

Young people are often easily fired up during retreats, youth services, or when they hear a sermon that touches their hearts. However, enthusiasm built solely on emotion will not last long unless grounded in strong commitment. Commitment is the decision to keep going even when feelings change. When the “spiritual mood” is low, commitment keeps us praying and seeking the Lord. When ministry feels heavy, commitment keeps us faithful. When faith is tested, commitment reminds us that this life has a divine purpose far greater than mere comfort.

In reality, the challenge of commitment for young people often surfaces in everyday matters: making time for God amid busyness, avoiding unhealthy friendships, maintaining purity even when no one is watching, and staying humble despite many achievements. Commitment means continuing to be a light in places where not everyone wants to shine.

In the Bible, Daniel is a model of a young person who lived with firm principles. At a young age, he was exiled to a distant land, without any family to supervise him. Yet the Bible notes, “Daniel resolved not to defile himself…” (Daniel 1:8). In the midst of loneliness, Daniel chose to be even more committed to living according to God’s will. Genuine commitment is when we remain obedient even when no one sees, and remain faithful even when the wrong choice appears more beneficial.

Many young people are afraid to commit because they fear failure. But the Lord understands our weaknesses. When we fall in the process of keeping our commitment, God does not immediately judge us, but invites us to rise again. Commitment is not about never falling, but about constantly growing together with God. A committed person may fall, but they do not stay down — they rise, seek the Lord’s help, and keep moving forward.

To this day, God continues to give every young person the opportunity to become a generation of commitment: commitment to follow Jesus, commitment in ministry, commitment to integrity, and commitment to live differently from the world. The world will not be changed by young people who only have temporary excitement, but by those who have long-term commitment. If you feel tired, start again. If you have failed, rise again. If you have stepped back, move forward again. God is not looking for the most talented, but the most committed. Enthusiasm may get you started, but commitment is what will keep you enduring — and winning.

COMMITMENT IS NOT ABOUT NEVER FALLING, BUT ABOUT CONSTANTLY GROWING TOGETHER WITH GOD.

Card image
KOMITMEN DI TENGAH DUNIA YANG BERUBAH - 04 Januari 2026
2026-01-05 19:51:23


Lukas 9:62
“Tetapi Yesus berkata: “Setiap orang yang siap untuk membajak tetapi menoleh kebelakang, tidak layak untuk Kerajaan Allah.”

     Menjadi anak muda yang hidup benar sesuai firman TUHAN di era sekarang bukanlah perkara mudah. Dunia bergerak begitu cepat, pilihan terbuka begitu luas, dan informasi mengalir tanpa henti. Banyak anak muda bersemangat di awal, tetapi perlahan kehilangan arah karena godaan, tekanan, atau kelelahan. Komitmen menjadi barang langka karena banyak orang ingin hidup serba instan—ingin hasil cepat tanpa proses panjang. Padahal firman TUHAN mengingatkan bahwa siapa pun yang sudah memilih jalan TUHAN tetapi masih menoleh ke belakang, tidak layak bagi Kerajaan Allah. Artinya, komitmen bukan hanya tentang memulai, tetapi tentang tetap berjalan sampai akhir.

     Anak muda biasanya mudah terbakar semangat ketika mengikuti retret, ibadah pemuda, atau mendengar khotbah yang menyentuh hati. Namun semangat yang dibangun hanya di atas emosi tidak akan bertahan lama jika tidak didasari komitmen yang kuat. Komitmen adalah keputusan untuk tetap bertahan meski perasaan berubah. Saat “mood rohani” sedang turun, komitmenlah yang menjaga kita tetap berdoa dan mencari TUHAN. Ketika pelayanan terasa berat, komitmen membuat kita tetap setia. Saat iman diuji, komitmen mengingatkan kita bahwa hidup ini memiliki tujuan ilahi yang jauh lebih besar daripada sekadar kenyamanan.

     Faktanya, tantangan komitmen bagi anak muda justru sering muncul dalam hal-hal sederhana sehari-hari: tetap menyediakan waktu untuk TUHAN di tengah kesibukan, tidak tergoda dalam pergaulan yang tidak sehat, menjaga kekudusan meski tidak ada yang melihat, serta tetap rendah hati ketika meraih banyak pencapaian. Komitmen berarti tetap menjadi terang di tempat yang mungkin tidak semua orang mau bersinar.

     Dalam Alkitab, Daniel adalah teladan anak muda yang hidup dengan prinsip yang teguh. Pada usia belia, ia diasingkan ke negeri jauh, tanpa keluarga yang dapat mengawasinya. Namun Alkitab mencatat, “Daniel berketetapan untuk tidak menajiskan dirinya…” (Daniel 1:8). Di tengah kesendirian, Daniel justru semakin berkomitmen untuk tetap hidup sesuai kehendak TUHAN. Komitmen sejati adalah ketika kita tetap taat bahkan saat tidak ada satu pun manusia yang melihat, dan tetap setia ketika pilihan yang salah tampak lebih menguntungkan.

     Banyak anak muda takut berkomitmen karena takut gagal. Namun TUHAN memahami kelemahan kita. Ketika kita jatuh dalam proses menjaga komitmen, Tuhan tidak langsung menghakimi, tetapi mengundang kita untuk kembali bangkit. Komitmen bukan tentang tidak pernah jatuh, tetapi tentang selalu bangkit bersama Tuhan. Orang yang berkomitmen mungkin terjatuh, tetapi ia tidak tinggal dalam kejatuhannya—ia bangkit, memohon pertolongan Tuhan, dan melanjutkan langkahnya.

     Sampai hari ini, Tuhan masih memberikan kesempatan kepada setiap anak muda untuk menjadi generasi yang berkomitmen: komitmen untuk mengikut Yesus, komitmen dalam pelayanan, komitmen dalam integritas, dan komitmen untuk hidup berbeda dari dunia. Dunia tidak akan berubah oleh anak muda yang hanya memiliki semangat sesaat, tetapi oleh mereka yang memiliki komitmen jangka panjang. Jika kamu merasa lelah, mulailah kembali. Jika kamu pernah gagal, bangkitlah kembali. Jika kamu pernah mundur, melangkahlah maju kembali. Tuhan tidak mencari yang paling berbakat, tetapi yang paling berkomitmen. Semangat dapat membuatmu mulai, tetapi komitmenlah yang akan membuatmu bertahan dan menang.

KOMITMEN BUKAN TENTANG TIDAK PERNAH JATUH, TETAPI TENTANG SELALU BANGKIT BERSAMA TUHAN.

Card image
Bacaan Alkitab Setahun - 04 Januari 2025
2026-01-05 19:20:48

Ayub 1-5

Card image
KIDS DAILY DEVOTIONAL 03 Januari 2026 - BALON PERSAHABATAN
2026-01-04 11:54:10


Amsal 17:17
“Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu, dan menjadi seorang saudara dalam kesukaran.”

Bayangkan Rehobot Kids punya balon besar warna-warni yang cerah dan menyenangkan. Begitu pula dengan persahabatan—indah, penuh sukacita, dan membuat hati kita hangat. Dara punya sahabat bernama Naya. Mereka sering tertawa, saling meminjam alat tulis, dan duduk berdampingan saat menggambar. Dara merasa bersyukur karena memiliki sahabat seperti Naya.

Suatu hari, Dara ingin meminjam gunting warna milik Naya, tetapi Naya menjawab dengan nada kesal, “Aku lagi butuh! Pinjam ke orang lain saja!” Hati Dara langsung seperti balon yang kempes. Ia kecewa dan sedih karena sahabatnya bersikap tidak ramah.

Di rumah, Dara menceritakan semuanya kepada mamanya. Mamanya berkata bahwa persahabatan memang kadang “kempes,” tetapi kasih dan pengampunan dapat membuatnya “mengembang” kembali. Mama juga mengingatkan bahwa teman adalah hadiah dari Tuhan, jadi kita perlu belajar bersyukur—bukan hanya saat teman bersikap baik, tetapi juga ketika kita diberi kesempatan untuk sabar dan memaafkan.

Dara merenungkan perkataan mama dan memilih untuk bersyukur serta mengampuni. Keesokan harinya, Naya datang meminta maaf dan berkata bahwa ia sedang capek kemarin. Balon persahabatan mereka pun terisi kembali, bahkan lebih kuat karena mereka saling mengerti dan mau memperbaiki hubungan.

Rehobot Kids, persahabatan adalah berkat dari Tuhan. Persahabatan yang kuat bukan berarti tanpa masalah, tetapi dibangun lewat kasih, pengampunan, dan hati yang bersyukur. Yuk, belajar mengucap syukur untuk sahabat-sahabatmu—mereka adalah balon warna-warni yang mewarnai hidupmu setiap hari!

Card image
COMMITMENT THAT BRINGS CHANGE - 03 Januari 2026 (English Version)
2026-01-03 22:50:55


Proverbs 12:4
“But the one who holds fast to a decision remains steadfast in all his ways.”

Commitment is the foundation of every life journey that leads to success. Without commitment, a person becomes easily swayed by circumstances, emotions, or moods — or in modern language, becomes moody. Commitment is not merely a good intention, but a firm decision to keep walking in the direction that has been set, even when challenges and temptations to give up come one after another. In the life of a believer, genuine commitment is not only about promises to ourselves or to others, but especially commitment to God. The greatest challenge in commitment is consistency. Many people begin something with great enthusiasm, but slowly lose focus when difficulties arise.

Jesus described this through the rocky ground in the parable of the sower — a seed that grows quickly but has no roots, and eventually withers under the heat of the sun. Commitment requires depth, not momentary excitement. Commitment requires strong spiritual roots: faith, prayer, and dependence on God. Commitment to God does not mean we will always succeed without ever failing. Genuine commitment teaches us to rise every time we fall. Commitment makes us say, “I may have failed today, but I still choose to remain faithful.” This is what distinguishes commitment from ordinary determination. True commitment does not rely on feeling capable, but on the belief that God can help us remain faithful.

Commitment is also often tested in small things. Many want to do great things for the Lord, yet neglect faithfulness in simple matters — such as maintaining a prayer life, using skills to serve, living honestly when no one is watching, and so on. Jesus said, “Whoever is faithful in little things will also be faithful in much” (Luke 16:10). This means we must develop commitment from daily routines up to the big callings that God entrusts to us.

Looking at the lives of biblical figures, we learn that commitment to the Lord always produces results that extend beyond generations. Noah kept building the ark, though he was mocked as insane; Abraham kept going even though he did not know his destination; Daniel kept praying, though it meant the threat of death; Paul kept preaching the Gospel even though it meant imprisonment. Their commitments were not built without tears or sacrifice, but they produced eternal spiritual fruit.

In the modern age, commitment is often replaced by flexibility or comfort. But the Christian faith teaches that commitment is not about doing what feels comfortable, but about remaining faithful even when it is not beneficial. Genuine commitment is born from love. The more we love God, the more we desire to be loyal to Him. Today, let us reexamine our commitment. Are we still faithful to God’s calling? Are we still maintaining our personal prayer life, ministry, integrity, and relationship with Him? If not, do not feel it is too late to return. In the end, it is not how strongly we begin that determines the outcome, but how steadfastly we endure to the end.

Card image
KOMITMEN YANG MEMBAWA PERUBAHAN - 03 Januari 2026 (English Version)
2026-01-03 22:46:20


Amsal 12:4
“Tetapi orang yang berpegang pada keputusan, tetap teguh dalam segala jalannya.”

Komitmen adalah fondasi dari setiap perjalanan hidup yang mampu mencapai keberhasilan. Tanpa komitmen, seseorang hanya akan menjadi pribadi yang mudah berubah oleh keadaan, perasaan, atau suasana—atau dalam bahasa modernnya, moody. Komitmen bukan sekadar niat, melainkan keputusan yang teguh untuk tetap berjalan pada arah yang telah ditentukan, meski tantangan dan godaan untuk menyerah datang silih berganti. Dalam kehidupan orang percaya, komitmen sejati tidak hanya berkaitan dengan janji kepada diri sendiri atau kepada sesama, tetapi terutama komitmen kepada Allah. Tantangan terbesar dalam komitmen adalah konsistensi. Banyak orang memulai sesuatu dengan semangat tinggi, tetapi perlahan kehilangan fokus ketika menghadapi kesulitan.

Yesus menggambarkan hal ini melalui tanah berbatu dalam perumpamaan tentang penabur—benih yang tumbuh cepat namun tidak berakar, akhirnya layu oleh panas matahari. Komitmen menuntut kedalaman, bukan antusiasme sesaat. Komitmen membutuhkan akar rohani yang kuat: iman, doa, dan ketergantungan kepada Tuhan. Komitmen kepada Allah bukan berarti kita akan selalu berhasil tanpa pernah gagal. Komitmen sejati mengajarkan kita untuk bangkit setiap kali kita jatuh. Komitmen membuat kita berkata, “Aku mungkin gagal hari ini, tetapi aku tetap memilih untuk setia.” Inilah yang membedakan komitmen dari sekadar tekad biasa. Komitmen sejati tidak bergantung pada rasa mampu, tetapi pada keyakinan bahwa Allah sanggup menolong kita untuk tetap setia.

Komitmen juga sering diuji dalam hal-hal kecil. Banyak orang ingin melakukan hal-hal besar untuk TUHAN, tetapi mengabaikan kesetiaan pada perkara sederhana—seperti menjaga waktu doa, memakai skill untuk melayani, hidup jujur ketika tidak ada yang melihat, dan sebagainya. Yesus berkata, “Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar” (Luk. 16:10). Artinya, milikilah komitmen sejak dari rutinitas kecil sehari-hari hingga panggilan besar yang Tuhan percayakan.

Melihat kehidupan para tokoh Alkitab, kita belajar bahwa komitmen kepada TUHAN selalu menghasilkan dampak yang melampaui generasi. Nuh tetap membangun bahtera meski dianggap gila; Abraham tetap pergi meskipun tidak tahu tujuannya; Daniel tetap berdoa meski terancam hukuman mati; Paulus tetap memberitakan Injil meski harus masuk penjara. Komitmen mereka tidak dibangun tanpa air mata atau pengorbanan, tetapi menghasilkan buah rohani yang kekal.

Di zaman modern ini, komitmen sering digantikan oleh fleksibilitas atau kenyamanan. Namun iman Kristen mengajarkan bahwa komitmen bukan tentang melakukan apa yang terasa nyaman, melainkan tetap setia sekalipun tidak menguntungkan. Komitmen sejati lahir dari kasih. Semakin kita mengasihi Tuhan, semakin kita ingin setia kepada-Nya. Hari ini, mari kita menilik ulang komitmen kita. Apakah kita masih setia pada panggilan Tuhan? Apakah kita tetap menjaga doa pribadi, pelayanan, integritas, dan hubungan dengan-Nya? Jika tidak, jangan merasa terlambat untuk kembali. Pada akhirnya, bukan seberapa kuat kita memulai yang menentukan hasil, tetapi seberapa teguh kita bertahan hingga akhir.

TANPA KOMITMEN- SESEORANG HANYA AKAN MENJADI PRIBADI YANG MUDAH BERUBAH OLEH KEADAAN, PERASAAN, ATAU SUASANA.

Card image
Bacaan Alkitab Setahun - 03 Januari 2026
2026-01-03 22:42:19

Kejadian 8-11

Card image
KIDS DAILY DEVOTIONAL 02 Januari 2026 - HADIAH DARI LANGIT
2026-01-02 23:28:00


Mazmur 147:8
“Dia, yang menutupi langit dengan awan-awan, yang menyediakan hujan bagi bumi, yang membuat gunung-gunung menumbuhkan rumput.”

Suatu pagi, Sera sedang bersiap berangkat sekolah. Ia membuka jendela dan mendesah panjang, “Yah… hujan. Gagal, deh, pakai sepatu putih favoritku.” Langit tampak gelap, dan air hujan turun deras hingga halaman rumah seperti kolam kecil. Sera merasa malas, kesal, dan ingin tetap meringkuk di kasur.

Tiba-tiba, kucing kecilnya, Milo, melompat ke arah jendela dan menjilati air hujan yang menetes dari bingkai. Melihat itu, Sera heran dan bertanya kepada mamanya, “Ma, kenapa Milo suka air hujan? Kan dingin dan basah…” Mamanya tersenyum dan menjawab, “Karena buat Milo, hujan itu hadiah. Dari hujan, tanaman tumbuh. Dari tanaman, muncul makanan bagi hewan. Dari hujan juga, sungai terisi, manusia minum, dan kehidupan berjalan. Kalau tidak ada hujan, bumi akan sakit.”

Sera terdiam. Ia belum pernah memikirkan hal itu. Selama ini ia hanya melihat hujan sebagai gangguan—padahal Tuhan memakai hujan untuk memberi kehidupan bagi seluruh bumi. Sejak hari itu, setiap kali hujan turun, Sera mengingat satu hal: “Tuhan sedang mengirim hadiah dari langit.”

Perlahan-lahan, hati Sera berubah. Ia tidak lagi kesal ketika hujan datang. Ia belajar melihat hujan sebagai cara Tuhan memelihara dunia dan memberikan berkat bagi semua makhluk.

Rehobot Kids, sama seperti hujan yang sering dianggap menyebalkan, dalam hidup kita juga ada hal-hal yang tidak mengenakkan. Tapi kalau kita melihat dengan kacamata iman, kita bisa menemukan kebaikan Tuhan di balik setiap kejadian. Tuhan selalu bekerja, bahkan lewat hal-hal yang tidak kita sukai.

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 02 Januari 2026 (English Version) - PROBLEMS EXIST, AND GOD IS THERE TOO
2026-01-02 23:20:18


“The Lord is close to the brokenhearted.”
Psalm 34:18

Guys, sometimes we think that if God is near, life should be easier. But the reality is, it’s often on the hardest days that problems come one after another. And that makes us ask, “God, where are You?”

But often it’s not God who is far away—it’s us who are so focused on the problems that we forget to see Him. Gratitude isn’t about having a safe and easy situation; it’s about being aware that God is still present, even when our hearts are falling apart.

God doesn’t wait for our lives to be neat and put-together before He comes. He shows up exactly when we’re tired, confused, and feeling alone. And in that place, gratitude becomes a form of trust: “I may be falling, but I’m not falling alone.”

So if your life still feels messy today, that doesn’t mean your faith has failed. It could be that God is working in a way that’s slow—but deep.

WHAT TO DO?
1. When you’re overwhelmed, pause for a moment and say, “God, I know You are here.”
2. Write down one problem you’re facing, then write one truth about God that you believe.
3. Don’t face everything alone—share it with one person you trust.

BIBLE MARATHON:
Mark 3

Card image
YOUTH DAILY DEVOTIONAL 02 Januari 2026 - MASALAH ADA, TUHAN JUGA ADA
2026-01-02 23:17:53


“Tuhan itu dekat kepada orang-orang yang patah hati.”
Mazmur 34:18

Guys, kadang kita mikir kalau Tuhan dekat, hidup harusnya lebih gampang. Tapi realitanya, justru di hari-hari yang paling berat, masalah datang bertubi-tubi. Dan itu bikin kita bertanya: “Tuhan, Engkau ke mana sih?”

Padahal sering kali bukan Tuhan yang jauh, tapi kita yang terlalu fokus sama masalah sampai lupa ngelihat Dia. Syukur itu bukan soal situasi yang aman, tapi soal kesadaran bahwa Tuhan tetap hadir, bahkan saat hati lagi berantakan.

Tuhan nggak nunggu hidup kita rapi dulu baru datang. Dia hadir justru waktu kita lagi capek, bingung, dan ngerasa sendirian. Dan di situ, syukur jadi bentuk kepercayaan: “Aku mungkin lagi jatuh, tapi aku nggak jatuh sendirian.”

Jadi kalau hari ini hidupmu masih ribet, itu nggak berarti imanmu gagal. Bisa jadi Tuhan lagi kerja dengan cara yang pelan, tapi dalam.

WHAT TO DO?
1. Saat lagi overwhelmed, pause sebentar dan bilang: “Tuhan, aku tahu Engkau ada.”
2. Tulis satu masalah yang lagi kamu hadapi, lalu tulis satu kebenaran tentang Tuhan yang kamu percaya.
3. Jangan hadapi semuanya sendirian — share ke satu orang yang kamu percaya.

BIBLE MARATHON:
Markus 3

Card image
Renungan Pagi - 02 Januari 2026
2026-01-02 23:12:40


Makin kita bekerja keras, makin Tuhan nyatakan mukjizat-Nya, orang-orang yang Tuhan pakai adalah orang-orang yang rajin dan mau bekerja keras.

Alkitab memberikan contoh seperti Yusuf dan Daniel, mereka bertekun melakukan sesuatu dan terbukti Tuhan membuat berhasil apa saja yang mereka kerjakan.

Jadi kesimpulannya bahwa orang-orang yang Tuhan sertai, orang-orang yang melihat kuasa dan mukjizat Tuhan adalah orang-orang yang rajin dan bekerja keras dengan mengandalkan Tuhan, bukan mengandalkan kekuatannya sendiri.

Card image
Quote Of The Day - 02 Januari 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-01-02 23:10:45


Orang yang memiliki gairah Tuhan Yesus selalu menginginkan dengan kuat untuk melakukan kehendak Bapa dan menyelesaikan pekerjaan-Nya.

Card image
Mutiara Suara Kebenaran - 02 Januari 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-01-02 23:10:05


Kalau seseorang sudah hidup dalam kebiasaan dipimpin Roh Kudus, maka kebiasaan ini akan menjadi kendali hidupnya.

Card image
COMMITMENT AS A LIMINAL SPACE - 02 Januari 2026 (English Version)
2026-01-02 23:08:20


What guarantees our faithfulness to God and His love? The answer: nothing. Yet God still trusts us. He continues to believe that we are His image and likeness, and that we are capable of loving Him with all our heart, soul, mind, and strength. The evidence of His trust in us is the care, compassion, and help that He continually gives throughout human life. Here we truly marvel at how vast and mysterious God’s love is. In response to this love, Christians generally offer their commitment, which is viewed as the starting point of the journey to repay God’s faithfulness and love.

In the Bible, we see how figures of faith expressed their commitments as a response to God’s faithfulness. Joshua, the successor of Moses, said, “But if serving the LORD seems undesirable to you, then choose for yourselves this day whom you will serve… But as for me and my household, we will serve the LORD.” The most famous of all, Peter said, “Even if I have to die with you, I will never disown you.” If Joshua expressed a commitment to remain faithful in worship to Yahweh Elohim and not to other gods, Peter offered his loyalty to the point of death. Joshua’s story ended with his commitment realized, whereas Peter’s commitment ended with the rooster crowing three times — a painful reminder of his own betrayal.

Commitment, or a vow of loyalty to God, is something that must be lived out and proven. Demonstrating commitment often comes at a cost. Not everyone can ultimately prove their pledge. Unfortunately, many assume that when they express their commitment to God — in private prayer or during an altar call — they have already proven their faithfulness. We need to understand that commitment is a liminal space. When someone commits, they are stepping into a liminal space. What is a liminal space? It is a space “in-between”; a moment of transition that lies between two places, two times, or two states. Being in a liminal space often evokes discomfort and uncertainty because we are in the process of shifting from the old to the new.

A liminal space can be pictured like being on an airplane. A plane is a liminal space: you have already left your departure city, but you have not yet arrived at your destination. Sitting on a plane for an hour can make some people uncomfortable. Yet there is no other way — one must remain in that liminal space to reach the destination. Many arrive safely; some never do. The same is true of commitment. Commitment is a liminal space — a transition from a past marked by rebellion against God to wholehearted faithfulness to Him.

Our commitment is never specific and often makes us uncomfortable. We may return to the past and break the commitments we once made. Perhaps because we are uncomfortable with change, we abandon them. Or we unconsciously fall back into deeply rooted habits. Whatever the reason we abandoned our commitment last year, we must realize that we still have the opportunity to renew it — perhaps even with a more profound commitment than before.

However, we must also be careful. We can become arrogant and overly proud of the beautiful commitments we declare on New Year’s Eve. We forget that commitment itself is not the destination, but the liminal space. It is in this liminal space that we must continue to struggle humbly, under the guidance of the Holy Spirit, so that we may fulfill every commitment we have made to God in response to His love.

COMMITMENT IS A LIMINAL SPACE. A TRANSITION FROM A POST MARKED BY REBELLION AGAINTS GOD TO WHOLEHEARTED FAITHFULNESS TO HIM.

Card image
KOMITMEN SEBAGAI RUANG LIMINAL - 02 Januari 2025
2026-01-02 23:03:34


Apa yang menjadi jaminan kesetiaan kita kepada Allah dan kasih-Nya? Jawabannya: tidak ada. Namun demikian, Allah tetap memercayai kita. Ia tetap percaya bahwa kita adalah gambar dan rupa-Nya, dan kita dapat mengasihi Dia dengan segenap hati, jiwa, akal budi, dan kekuatan. Bukti kepercayaan-Nya kepada kita ialah pemeliharaan, belas kasih, dan pertolongan yang terus Ia berikan sepanjang hidup manusia. Di sinilah kita sungguh mengagumi betapa luas dan misteriusnya kasih Allah itu. Sebagai respons atas kasih tersebut, pada umumnya orang Kristen mempersembahkan komitmen mereka—yang dipandang sebagai titik awal perjalanan untuk membalas kesetiaan dan kasih Allah.

Di dalam Alkitab, kita melihat bagaimana tokoh-tokoh iman menyatakan komitmen mereka sebagai respons atas kesetiaan Allah. Yosua, penerus Musa, berkata, “Tetapi jika kamu anggap tidak baik untuk beribadah kepada TUHAN, pilihlah pada hari ini kepada siapa kamu akan beribadah; tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN!” Yang paling terkenal, Petrus berkata, “Sekalipun aku harus mati bersama-sama Engkau, aku takkan menyangkal Engkau.” Jika Yosua menawarkan komitmen untuk setia beribadah kepada Elohim Yahweh dan tidak kepada allah lain, Petrus menawarkan kesetiaannya sampai mati. Kisah Yosua berakhir dengan kesetiaan yang terwujud, sedangkan komitmen Petrus berakhir dengan kokok ayam tiga kali yang mengingatkannya pada pengkhianatannya sendiri.

Komitmen atau janji setia kepada Allah adalah sebuah hal yang harus dijalani dan dibuktikan. Pembuktian komitmen itu sering kali memerlukan harga yang tidak murah. Tidak semua orang akhirnya dapat membuktikan komitmen mereka. Namun sayangnya, banyak yang berpikir bahwa ketika mereka menyerukan komitmen kepada Tuhan—dalam doa pribadi atau dalam altar call—di situlah mereka telah membuktikan kesetiaan mereka. Kita perlu menyadari bahwa komitmen adalah ruang liminal. Ketika seseorang berkomitmen, ia sedang melangkah memasuki ruang liminal. Apa itu ruang liminal? Ruang liminal adalah ruang antara; momen transisi yang berada di antara dua tempat, dua waktu, atau dua kondisi. Berada di ruang liminal sering kali membangkitkan perasaan tidak nyaman dan tidak pasti karena kita berada dalam proses beralih dari yang lama menuju yang baru.

Ruang liminal dapat digambarkan seperti ketika kita naik pesawat. Pesawat adalah ruang liminal: kita sudah meninggalkan kota asal, tetapi belum tiba di kota tujuan. Duduk di pesawat selama satu jam dapat membuat beberapa orang merasa tidak nyaman. Namun apa daya—seseorang harus berada di ruang liminal itu untuk mencapai tujuan. Banyak orang tiba di tujuan dengan selamat, tetapi ada juga yang tidak pernah sampai. Demikian juga komitmen. Komitmen adalah ruang liminal—masa transisi dari masa lalu yang penuh pemberontakan kepada Tuhan menuju kesetiaan penuh kepada Allah.

Komitmen kita tidak pernah pasti dan sering kali membuat kita tidak nyaman. Selalu ada kemungkinan kita kembali ke masa lalu dan melanggar komitmen yang telah dibuat. Mungkin karena kita tidak nyaman dengan perubahan, sehingga meninggalkan komitmen tersebut. Atau mungkin juga karena kita secara tidak sadar kembali pada kebiasaan lama yang sudah mengakar kuat. Apa pun alasan kita meninggalkan komitmen pada tahun lalu, sadarlah bahwa kita masih memiliki kesempatan untuk memperbaruinya—bahkan mungkin dengan komitmen yang lebih dalam daripada sebelumnya.

Namun, kita juga harus berhati-hati. Kita bisa menjadi terlalu pongah dan besar kepala dengan komitmen-komitmen indah yang kita ucapkan pada malam tahun baru. Kita lupa bahwa komitmen itu sendiri bukan tujuan, melainkan ruang liminal. Dalam ruang liminal inilah kita seharusnya terus berjuang dengan rendah hati, di bawah tuntunan Roh Kudus, agar dapat memenuhi seluruh komitmen yang telah kita sampaikan kepada Tuhan sebagai respons atas kasih-Nya.

KOMITMEN ADALAH RUANG LIMINAL. MASA TRANSISI DARI MASA LALU YANG PENUH PEMBERONTAKAN KEPADA TUHAN MENUJU KESETIAAN PENUH KEPADA ALLAH

Card image
Bacaan Alkitab Setahun - 02 Januari 2025
2026-01-02 23:00:59

Kejadian 4-7

Card image
Truth Kids 01 Januari 2026 - BATERAI HATI YANG PERLU DIISI
2026-01-02 13:00:53


1 Tesalonika 5:18
“Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu.”

Selamat Tahun Baru, Rehobot Kids! Awal tahun biasanya jadi waktu yang istimewa. Kita punya kalender baru, semangat baru, dan harapan baru. Seperti HP yang harus di-restart supaya makin lancar, begitu juga hati kita perlu di-charge ulang agar siap menjalani tahun ini dengan sukacita!

Bayangkan hatimu seperti baterai HP. Kalau penuh, kamu bisa melakukan banyak hal dengan senang. Tapi kalau hampir habis? Lemot, gelap, dan akhirnya mati. Di tahun baru ini, Tuhan ingin hati kita selalu penuh — caranya dengan belajar bersyukur setiap hari.

Ada seorang anak bernama Rafa. Tahun lalu, Rafa sering ingat berdoa hanya kalau sedang sedih atau takut. Tapi saat semuanya berjalan lancar—nilainya bagus, ia dapat hadiah tahun baru, dan keluarganya liburan bersama—Rafa lupa bersyukur. Mamanya mengingatkan, “Rafa, hati kita juga perlu di-charge dengan bersyukur, bukan hanya saat susah, tapi juga saat kita sedang bahagia.”

Akhirnya, Rafa membuat “Jurnal Syukur Tahun Baru”. Setiap malam sebelum tidur, ia menulis tiga hal yang ia syukuri hari itu. Ternyata, hatinya jadi lebih bahagia, tidak mudah marah, dan selalu ingat bahwa Tuhan baik setiap hari.

Rehobot Kids, mari mulai tahun baru ini dengan hati yang penuh syukur! Bersyukur untuk keluarga, kesehatan, sekolah, teman-teman, dan segala hal kecil yang Tuhan beri. Dengan hati yang penuh syukur, kita punya “baterai hati” yang kuat untuk menjalani 365 hari ke depan bersama Tuhan. Selamat Tahun Baru!

Card image
Z - VOTION 01 Januari 2026 (English Version) - NOT SMOOTH, BUT STILLTRUSTING
2026-01-02 12:54:12


“Give thanks in all circumstances…”
1 Thessalonians 5:18

Guys, the new year often makes us hope life will be smoother. Fewer problems, less drama, and everything going according to plan. But the reality is, entering 2026 doesn’t mean life automatically becomes safe and easy. Problems are still there, tiredness is still real, and sometimes our hearts still feel noisy and unsettled.

This is where we learn the true meaning of gratitude. Gratitude doesn’t mean a life without problems—it means choosing to keep trusting that God is in control, even when life isn’t ideal. We can be tired, we can be confused, we can cry—but don’t stop hoping.

God never promised that our lives would always be smooth, but He did promise He would always be with us. And that’s enough for us to keep moving forward, one day at a time.

WHAT TO DO?
1. Name 2 small things you can still be thankful for today.
2. Pray about one thing that’s weighing you down, and surrender it to God.
3. Start this year with one simple spiritual habit: an honest prayer or reading the Bible briefly every day.

BIBLE MARATHON:
Mark 2

Card image
Z - VOTION 01 Januari 2026 - NGGAK MULUS, TAPI TETAP PERCAYA
2026-01-02 12:52:34


“Mengucap syukurlah dalam segala hal…”
1 Tesalonika 5:18

Guys, tahun baru sering bikin kita berharap hidup bakal lebih mulus. Masalah berkurang, drama menipis, dan semuanya jalan sesuai rencana. Tapi kenyataannya, masuk 2026 bukan berarti hidup auto aman. Masalah tetap ada, capek tetap kerasa, dan kadang hati masih suka ribut sendiri.

Di sinilah kita belajar arti syukur yang bener. Syukur itu bukan berarti hidup tanpa masalah, tapi memilih tetap percaya Tuhan pegang kendali, bahkan saat hidup lagi nggak ideal. Kita boleh capek, boleh bingung, boleh nangis — tapi jangan berhenti berharap.

Tuhan nggak pernah janji hidup kita selalu mulus, tapi Dia janji selalu menyertai. Dan itu cukup buat kita tetap melangkah, satu hari demi satu hari.

WHAT TO DO?
1. Sebutin 2 hal kecil yang masih bisa kamu syukuri hari ini.
2. Doain satu hal yang lagi bikin kamu berat, dan serahin ke Tuhan.
3. Mulai tahun ini dengan satu kebiasaan rohani sederhana: doa jujur atau baca Alkitab sebentar tiap hari.

BIBLE MARATHON:
Markus 2

Card image
Renungan Pagi - 01 Januari 2026
2026-01-02 12:51:07


Di era modern ini, ada banyak orang merasa tidak lagi dihargai, karena orang sekarang lebih menghargai uang, menghargai pangkat dan kedudukan, tetapi orangnya sendiri tidak dihargai.

Artinya kalau ada uang saya hargai, tetapi kalau tidak ada uang tidak saya hargai, dunia makin jahat, tetapi sebagai orang percaya biarlah kita mengacu pada firman Tuhan yaitu dapat menjadi pemberi solusi, dapat membawa ketentraman di manapun berada.

Card image
Quote Of The Day - 01 Januari 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-01-02 12:50:10


Ketika kita bertindak presisi, menyadari waktu yang singkat, maka kita akan sungguh-sungguh maksimal mencari Tuhan dan terus mempercepat langkah.

Card image
Mutiara Suara Kebenaran - 01 Januari 2026 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2026-01-01 23:21:20


Hidup di dunia hanyalah masa persiapan menyambut kehidupan yang sebenarnya yang Tuhan sediakan di langit baru dan bumi yang baru.

Card image
THE STEADFAST HEART OF GOD - 01 Januari 2026 (English Version)
2026-01-01 22:18:55


When God first called Moses before the burning bush, but it was not consumed, he subtly rejected the calling. He said, “What if they do not believe me or listen to me and say, ‘The LORD did not appear to you’?” (Exodus 4:1). This statement is often interpreted as Moses doubting his own ability to carry out a risky and challenging task. Many preachers also refer to this verse to illustrate that God can use people who feel insecure, incapable, or insignificant.

However, given Moses’ background as the son of the Pharaoh and one who grew up surrounded by privilege, such an interpretation becomes less accurate. As someone adopted into Egypt’s royal family, Moses indeed received an aristocratic education that granted him access to high knowledge and sophisticated skills. Thus, it is likely that Moses was confident and not as insecure as he is often portrayed.

His refusal is better understood as a subtle rejection born of trauma. In the previous chapter (Exodus 2:11–15), Moses was rejected by his own people when he tried to break up a fight between two Israelites. Instead of being appreciated, he was denied and judged through his past actions: “Who made you ruler and judge over us? Are you thinking of killing me as you killed the Egyptian?” That statement awakened “the ghost of the past” within Moses.

When Moses killed the Egyptian who was abusing an Israelite, he may have meant well and hoped to be valued as a hero. But what happened was the opposite — his fellow Israelites rejected him. Moses became a rejected hero. The writer of Exodus notes that Moses became afraid and fled from Egypt. Therefore, when God wanted to send him back to the Israelites, he subtly rejected the call. His refusal was the fruit of the previous rejection; he doubted whether the Israelites would accept him as a prophet of God.

Returning to Exodus 4, God did not give up. He did not accept Moses’ objections just like that; instead, He reassured him through three miracles that could be shown if the Israelites doubted his calling (Exodus 4:2-9). Yet Moses still preferred to believe in his past rather than believe in God. He returned with another objection, this time claiming that he was not eloquent (Exodus 4:10). God strengthened him again: He would be with Moses. But Moses still refused, and this final refusal revealed the actual condition of his heart — the fear of rejection haunted him. Yet God would not be God if He gave up. He offered Aaron as Moses’s spokesman, and finally, Moses agreed.

From this story, we see how decisive rejection can be in a person’s life. Rejection can make someone doubt themselves, feel unworthy, and view themselves as undeserving. Yet no matter how strong the power of rejection is, the power of God’s love is greater. The power of God’s love lies in His steadfast heart to continue trusting the one He has chosen. He remains committed to nurturing and empowering the person He loves. Even when people try to run away and even betray Him, He does not grow weary of seeking them.

Doesn’t this become an essential lesson in commitment for us? Often, we feel as though we have run out of reasons to maintain our commitment to God. The world around us succeeds in turning our eyes away from Him. We become unfaithful and surrender the commitment we once built with tears and sincerity. Today, learning from God’s steadfast commitment, we need to reestablish our resolve: we will not turn away from our promises and commitment to Him. Believe that God’s unwavering commitment deserves to be answered with the same steadfastness.

THE POWER OF GOD'S LOVE LIES IN HIS STEADFAST HEART TO CONTINUE TRUSTING THE ONE HE HAS CHOSEN.

Card image
KETEGUHAN HATI ALLAH - 01 Januari 2026
2026-01-01 22:16:25


Ketika Musa pertama kali dipanggil oleh Allah di hadapan semak duri yang menyala tanpa hangus, ia secara halus menolak panggilan tersebut dan berkata, “Bagaimana jika mereka tidak percaya kepadaku dan tidak mendengarkan perkataanku, melainkan berkata: TUHAN tidak menampakkan diri kepadamu?” (Kel. 4:1). Perkataan ini sering ditafsirkan sebagai keraguan Musa terhadap kemampuan dirinya untuk mengemban tugas yang berat dan penuh risiko. Banyak pengkhotbah juga merujuk ayat ini untuk menggambarkan bahwa Allah dapat memakai orang yang minder, tidak cakap, atau kurang diperhitungkan.

Namun jika menimbang latar belakang Musa sebagai putra Firaun yang tumbuh dalam lingkungan penuh keistimewaan, penggambaran tersebut menjadi kurang tepat. Sebagai seseorang yang diangkat menjadi bagian keluarga kerajaan Mesir, Musa tentu mengenyam pendidikan ala bangsawan, yang memberinya akses pada pengetahuan dan keterampilan tinggi. Dengan demikian, besar kemungkinan Musa memiliki kepercayaan diri yang baik dan tidak minder seperti yang sering dilukiskan.

Kalimat penolakannya lebih tepat dipahami sebagai penolakan halus yang lahir dari trauma penolakan. Pada pasal sebelumnya (Kel. 2:11–15), Musa ditolak oleh bangsanya sendiri ketika ia melerai dua orang Israel yang sedang berkelahi. Alih-alih disyukuri, ia justru ditolak dan dihakimi melalui kejadian masa lalunya: “Siapakah yang mengangkat engkau menjadi pemimpin dan hakim atas kami? Apakah engkau bermaksud membunuh aku, seperti engkau membunuh orang Mesir itu?” Perkataan ini membangkitkan “hantu masa lalu” dalam diri Musa.

Ketika Musa membunuh orang Mesir yang menganiaya orang Israel, ia mungkin bermaksud baik dan berharap dihargai sebagai pahlawan. Namun yang terjadi sebaliknya—ia ditolak oleh saudara sebangsanya. Musa menjadi pahlawan yang tertolak. Penulis Keluaran mencatat bahwa Musa menjadi takut dan melarikan diri dari Mesir. Karena itu, ketika Allah hendak mengutusnya kembali kepada bangsa Israel, ia menolak secara halus. Penolakan Musa adalah buah dari penolakan sebelumnya; ia ragu apakah orang Israel akan menerima dirinya sebagai nabi Allah.

Kembali ke Keluaran 4, Allah ternyata tidak menyerah. Ia tidak menerima keberatan Musa begitu saja, tetapi justru meyakinkannya melalui tiga mukjizat yang dapat ia tunjukkan jika bangsa Israel meragukan panggilannya (Kel. 4:2–9). Namun Musa tetap lebih memilih percaya pada masa lalunya daripada percaya pada Allah. Ia kembali menyodorkan penolakan, kali ini dengan alasan bahwa ia tidak mahir berbicara (Kel. 4:10). Allah kembali menguatkannya: Ia akan menyertai Musa. Meski demikian, Musa masih menolak, dan penolakan terakhirnya ini menunjukkan keadaan hatinya yang sebenarnya—ia dihantui rasa takut akan penolakan. Tetapi Allah bukanlah Allah jika Ia menyerah. Ia menawarkan Harun sebagai juru bicara bagi Musa, dan akhirnya Musa bersedia.

Dari kisah ini kita melihat betapa kuatnya kuasa penolakan dalam hidup seseorang. Penolakan dapat membuat seseorang meragukan diri sendiri, merasa tidak layak, dan memandang dirinya tidak pantas. Namun sebesar apa pun kuasa penolakan, lebih besar kuasa kasih Allah. Kuasa kasih Allah terletak pada keteguhan hati-Nya untuk tetap memercayai orang yang telah dipilih-Nya. Ia terus berkomitmen memelihara dan memberdayakan manusia yang dikasihi-Nya. Meski manusia berusaha menjauh dan bahkan mengkhianati-Nya, Ia tidak lelah mencari mereka.

Bukankah ini menjadi pelajaran penting tentang komitmen bagi kita? Sering kali kita merasa kehabisan alasan untuk mempertahankan komitmen kita kepada Allah. Suasana dunia berhasil memalingkan wajah kita dari-Nya. Kita menjadi tidak setia dan menyerah pada komitmen yang telah kita bangun dengan air mata dan kesungguhan. Hari ini, belajar dari keteguhan komitmen Allah, kita perlu meneguhkan kembali pendirian kita: bahwa kita tidak akan berpaling dari janji dan komitmen kita kepada Dia. Percayalah, komitmen Allah yang teguh hanya pantas dibalas dengan keteguhan yang serupa.

KUASA KASIH ALLAH TERLETAK PADA KETEGUHAN HATI-NYA UNTUK TETAP MEMERCAYAI ORANG YANG TELAH DIPILIH-NYA.

Card image
Truth Kids 31 Desember 2025 - SETIA SAMPAI AKHIR
2025-12-31 21:22:40


Yohanes 19:26-27
"Ketika Yesus melihat ibu-Nya dan murid yang dikasihi-Nya di samping-Nya, berkatalah Ia kepada ibu-Nya: ‘Ibu, inilah anakmu!’ Kemudian kata-Nya kepada murid-Nya: ‘Inilah ibumu!’ Dan sejak saat itu murid itu menerima dia di dalam rumahnya.”

Pagi itu, Andi ikut lomba lari di sekolah. Awalnya ia berlari dengan semangat, tetapi setelah beberapa putaran, kakinya terasa pegal sekali. Banyak teman mulai berhenti di tengah jalan. Andi hampir menyerah. Namun, ia teringat pesan Papa: “Kalau sudah mulai, selesaikan sampai akhir.” Andi menggertakkan gigi dan terus berlari. Walau tidak menjadi juara, ia bangga karena tetap setia sampai garis akhir.

Di Alkitab, ada Yohanes, murid Yesus. Saat Yesus disalibkan, banyak murid lain sudah pergi. Tetapi Yohanes tetap ada di dekat salib. Bahkan Yesus mempercayakan ibu-Nya kepada Yohanes. Iman membuat Yohanes berani dan setia mendampingi Yesus sampai akhir.

Sobat Truth Kids, Tuhan juga ingin kita setia — setia berdoa, setia beribadah, setia menolong teman, walau kadang terasa sulit. Iman bukan hanya diucapkan, tetapi dibuktikan dengan kesetiaan. Kalau Yohanes bisa setia kepada Yesus di masa yang sangat sulit, kamu juga bisa setia dalam hal-hal kecil setiap hari. Ingat, Tuhan selalu bersama kamu!

Card image
Truth Junior 31 Desember 2025 - SETIA SAMPAI AKHIR
2025-12-31 21:11:22


Yohanes 19:26–27
“Ketika Yesus melihat ibu-Nya dan murid yang dikasihi-Nya di samping-Nya, berkatalah Ia kepada ibu-Nya: ‘Ibu, inilah anakmu!’ Kemudian kata-Nya kepada murid-Nya: ‘Inilah ibumu!’ Dan sejak saat itu murid itu menerima dia di dalam rumahnya.”

Sobat Truth Junior, pernah nggak kamu punya teman yang tetap ada untukmu walau kamu sedang sedih atau kesusahan? Teman seperti itu pasti berharga sekali, ya! Dalam Alkitab, kita bisa menemukan teladan kesetiaan seperti itu pada Yohanes, murid Yesus.

Ketika banyak orang takut dan meninggalkan Yesus saat Ia disalibkan, Yohanes tetap ada di dekat salib. Ia tidak pergi atau bersembunyi meskipun suasananya menegangkan. Di tengah penderitaan itu, Yesus melihat Yohanes berdiri bersama ibu-Nya, Maria, lalu berkata kepada Yohanes untuk menjaga Maria seperti ibunya sendiri. Itu artinya, Yesus sangat mempercayai Yohanes.

Dari kisah ini, kita belajar bahwa iman yang sungguh kepada Yesus membuat kita setia sampai akhir. Yohanes setia bukan karena keadaannya mudah, tapi karena ia mengasihi Yesus dengan sepenuh hati.

Kita juga bisa menunjukkan kesetiaan kepada Tuhan lewat hal-hal kecil: tetap berdoa walau sedang sedih, tetap berbuat baik walau teman lain tidak, dan menolong orang tua tanpa disuruh. Tuhan senang dengan anak-anak yang setia seperti Yohanes. Iman yang kuat membuat kita tetap dekat dengan Yesus apa pun yang terjadi.

Card image
Z - VOTION 31 Desember 2025 (English Version) - CROSSING OVER AND WALKING FORWARD WITH JESUS
2025-12-31 21:08:43


“Let us fix our eyes on Jesus, the author and perfecter of our faith.”
— Hebrews 12:2

Have you ever felt scared to step into a new year because you’re not ready to leave the old one behind? Or felt like you haven’t changed enough to start the next chapter? It’s okay. God isn’t asking you to be perfect before you move forward. He’s only asking for one thing: keep your eyes on Jesus.

Hebrews 12:2 reminds us to focus on Him. That means not staring at the past, not comparing yourself to everyone else’s achievements, but looking at the One who never changes. Jesus is the anchor that keeps you steady when the world is moving fast. He stays faithful when you fail, keeps loving you when you drift away, and keeps leading you when you feel lost.

So instead of stressing over a long list of resolutions, why not start with the most important one: stay focused on Jesus. When your focus is right, the rest of your steps will naturally fall into place.

A new year isn’t about becoming a brand-new version of yourself—it’s about walking closer with the same God who has carried you this far. The God who brought you through this year will surely walk with you as you cross into the next, with the same unchanging love.

WHAT TO DO :
1. Before midnight, take time to pray personally. Thank God for this year and surrender the year ahead to Him.
2. Pray this simple prayer: “Jesus, I want to start the new year not with my own plans, but with my eyes fixed on You.”

BIBLE MARATHON
Mark 1

Card image
Z - VOTION 31 Desember 2025 - MENYEBRANG DAN BERJALAN TERUS BERSAMA YESUS
2025-12-31 12:56:10


“Marilah kita menaruh mata kita hanya kepada Yesus, yang memimpin kita dalam iman dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan.” — Ibrani 12:2

Pernah nggak sih kamu merasa takut menyambut tahun baru karena belum siap ninggalin yang lama? Atau merasa belum cukup berubah untuk masuk ke babak yang baru? Tenang. Tuhan nggak minta kamu jadi sempurna dulu sebelum melangkah. Dia cuma minta satu hal: tetap fokus sama Yesus.

Ibrani 12:2 bilang, arahkan pandanganmu kepada Yesus. Artinya, bukan lihat masa lalu terus, bukan bandingin diri sama pencapaian orang lain, tapi lihat kepada Dia yang nggak pernah berubah. Yesus adalah jangkar yang bikin kamu tetap stabil saat dunia bergerak cepat. Dia tetap setia saat kamu gagal, tetap mengasihi saat kamu menjauh, dan tetap memimpin saat kamu kehilangan arah.

Jadi daripada sibuk bikin banyak resolusi, kenapa nggak mulai dari satu hal yang paling penting: tetap fokus sama Yesus? Dari fokus yang benar, langkah-langkahmu lainnya akan ikut lurus.

Tahun baru bukan tentang jadi versi baru dari diri sendiri, tapi tentang berjalan lebih dekat dengan Tuhan yang sama. Dia yang sudah membawa kamu sampai hari ini, pasti juga akan membawa kamu menyeberang ke tahun depan dengan kasih yang sama besarnya.

WHAT TO DO?
1. Sebelum jam 12 malam, luangkan waktu doa pribadi. Ucapkan syukur atas tahun ini dan serahkan tahun yang baru.
2. Doakan satu kalimat ini: Yesus, aku mau mulai tahun baru bukan dengan rencana-rencanaku, tapi dengan pandangan tertuju pada-Mu.

BIBLE MARATHON:
Markus 1

Card image
Renungan Pagi - 31 Desember 2025
2025-12-31 12:49:33


Kita harus percaya bahwa dalam situasi terberat sekalipun, dihadapan Tuhan itu adalah situasi yang baik buat kita, karena Allah tahu batas kesanggupan anak-anak-Nya.

Karena itu jangan cepat menyerah, jangan bersungut-sungut dalam menjalani kehidupan ini, karena pada akhirnya kemenangan tetap disediakan bagi orang-orang percaya yang mengasihi Dia.

Card image
Quote Of The Day - 31 Desember 2025 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2025-12-31 12:47:54


Jangan boroskan waktu, karena satu detik pun berharga untuk mengubah hidup kita.

Card image
Mutiara Suara Kebenaran - 31 Desember 2025 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2025-12-31 12:46:40


Kita bisa berubah, sebab Tuhan melihat kesungguhan hati kita, meskipun mungkin kita belum berubah sepenuhnya.

Card image
CROWN THE YEAR WITH THE GOODNESS OF GOD - 31 Desember 2025 (English Version)
2025-12-31 12:40:40


There is a distinctive, quiet beauty at the end of each year-not merely from the sparkle of decorative lights or the joy of year-end celebrations, but from a divine invitation to pause for a moment amid our busyness. Such a moment invites us to look back, to walk again through the corridors of the past twelve months, and with deep wonder to realize how great God’s faithful love has been in guiding every step of our journey.

Psalm 65, sung by David, presents a majestic picture of God as the Great King who, in His sovereignty, “crowns the year with Your goodness; Your paths drip with abundance” (Psalm 65:11). Every day we live, every breath we take, including every challenge we face, is part of the beautiful mosaic of His wise and loving providence.

When David wrote this psalm, it is important to remember that he was not living in the comfort of a palace or free from life’s storms. He was deeply familiar with the fear of being pursued by enemies, the pain of betrayal by those closest to him, and the bitterness and suffocating hardship of life on the run. It is precisely this winding and difficult context that makes his confession so powerful and stirring. In the midst of life’s imperfections, David was able to see with eyes of faith and proclaim that it was God who crowned his year with goodness.

This declaration teaches us an important truth: God’s goodness does not depend on our mood or the situations we experience. He is always good-from the beginning to the end of the year-even when our vision is clouded by hardship. “Your paths drip with abundance” speaks of God’s presence and guidance that produce plentiful fruit and refresh our souls.

Therefore, closing the year with a grateful heart is, in essence, an act of faith. This act means humbly recognizing that everything we have-time, health, and family-is purely the grace of God. Indeed, not everything has gone according to the scenarios we wrote in our agenda of hopes, but mature faith believes that everything unfolds according to God’s greater and best plan, which we sometimes only understand after the events have passed, when we look back (retrospection) and see them from a more complete perspective.

Giving thanks at the end of the year also means releasing the past in peace. If throughout this year there have been mistakes we regret, failures that left wounds, or words spoken in haste, this is the best time to entrust our entire lives to the restoring grace of God. We cannot turn back time to fix everything, but we can come to the One who is full of mercy. He forgives, restores, and grants new strength. In this way, we can enter the new year free from old burdens and lingering wounds. By God’s grace, we are allowed to begin again with hearts washed clean-pure and filled with hope in His steadfast love, which is new every morning.

The year 2025 may have taught us many things: perseverance in the midst of long and demanding processes, the importance of patience and steadfastness when prayers seem unanswered, and how precious God’s presence is in every detail of our lives. Today, before we step forward with anticipation into 2026, let us take time to be still and receive God’s invitation.

Contemplate before Him; remember and write down His countless blessings. With spiritual eyes, behold the beautiful crown of His goodness-how He has placed it upon the journey of this past year. Step forward with firm confidence that His footsteps in the coming year will continue to drip with abundance: every spiritual blessing stored in heaven for those who love Him.

GOD’S GOODNESS DOES NOT DEPEND ON OUR MOOD OR ON THE SITUATIONS WE EXPERIENCE

Card image
MEMAHKOTAI TAHUN DENGAN KEBAIKAN TUHAN - 31 Desember 2025
2025-12-31 12:39:07


Ada keindahan yang khas dan syahdu di setiap penghujung tahun; bukan hanya berasal dari gemerlap lampu hias atau sukacita pesta pergantian tahun, melainkan dari sebuah undangan ilahi untuk berhenti sejenak dari kesibukan. Momen seperti ini mengajak kita menoleh ke belakang, menyusuri kembali lorong waktu selama dua belas bulan terakhir, dan dengan penuh kekaguman menyadari betapa besar kasih Tuhan yang setia menuntun setiap langkah kita.

Mazmur 65, yang dilantunkan oleh Daud, menghadirkan gambaran mulia tentang Tuhan sebagai Raja Agung yang dengan penuh kedaulatan “memahkotai tahun dengan kebaikan-Mu; jejak-Mu mengeluarkan lemak” (Mzm. 65:12). Setiap hari yang kita lalui, setiap hembusan napas kita, termasuk di dalamnya setiap tantangan yang kita hadapi, semuanya merupakan bagian dari mozaik indah karya penyertaan-Nya yang penuh hikmat dan kasih.

Ketika Daud menulis mazmur ini, penting untuk diingat bahwa ia tidak sedang hidup dalam kenyamanan istana atau bebas dari badai kehidupan. Ia sangat akrab dengan rasa takut dikejar-kejar musuh, pedihnya dikhianati orang terdekat, serta pahit dan sesaknya hidup dalam pelarian. Konteks kehidupan yang berliku inilah yang membuat pengakuannya begitu dahsyat dan menggetarkan. Di tengah segala ketidaksempurnaan hidupnya, Daud mampu melihat dengan mata iman dan berseru bahwa Tuhanlah yang memahkotai tahunnya dengan kebaikan.

Pernyataan ini mengajarkan kepada kita sebuah kebenaran penting: kebaikan Tuhan tidak bergantung pada suasana hati kita atau situasi yang kita alami. Dia selalu baik—dari awal hingga akhir tahun—bahkan ketika penglihatan kita terhalang oleh kabut kesulitan. “Jejak-Mu mengeluarkan lemak” (atau “kelimpahan,” menurut terjemahan NIV: abundance) berbicara tentang penyertaan dan pimpinan Tuhan yang menghasilkan buah melimpah dan menyegarkan jiwa kita.

Oleh karena itu, menutup tahun dengan hati yang bersyukur pada hakikatnya adalah tindakan pengakuan iman. Tindakan ini berarti dengan rendah hati menyadari bahwa semua yang kita miliki—baik waktu, kesehatan, maupun keluarga—semata-mata adalah anugerah Allah. Memang tidak semua hal berjalan sesuai dengan skenario yang kita tulis dalam agenda harapan kita, namun iman yang dewasa percaya bahwa semuanya berjalan sesuai dengan rencana Tuhan yang lebih besar dan terbaik, di mana kadang kita baru memahami hal itu setelah peristiwa berlalu, saat kita menoleh ke belakang (retrospeksi) dan melihatnya dari perspektif yang lebih utuh.

Bersyukur di penghujung tahun juga berarti melepaskan masa lalu dengan damai. Jika sepanjang tahun ini ada kesalahan yang kita sesali, kegagalan yang menimbulkan luka, atau kata-kata yang terlanjur diucapkan, inilah saat terbaik untuk mempercayakan seluruh hidup kita kepada kasih karunia Allah yang memulihkan. Kita memang tidak dapat memutar kembali waktu untuk memperbaiki segalanya, tetapi kita dapat datang kepada Pribadi yang penuh rahmat. Ia mengampuni, memulihkan, dan memberi kekuatan yang baru. Dengan demikian, kita dapat memasuki tahun yang baru tanpa beban dan luka lama. Oleh anugerah Allah, kita diizinkan memulai dengan hati yang dibasuh, bersih, dan penuh pengharapan akan kasih setia Tuhan yang selalu baru setiap pagi.

Tahun 2025 mungkin telah mengajarkan kita banyak hal: tentang ketekunan di tengah proses yang panjang, pentingnya kesabaran dan keteguhan hati ketika doa-doa terasa tidak dihiraukan, serta betapa berharganya kehadiran Tuhan dalam setiap detail hidup kita. Hari ini, sebelum kita melangkah dengan penuh antisipasi ke tahun 2026, marilah kita mengambil waktu berdiam diri untuk menyambut undangan Tuhan.

Berkontemplasilah di hadapan-Nya; ingat dan catatlah berkat-berkat Tuhan yang tak terhitung. Lihatlah mahkota kebaikan-Nya yang indah dengan mata rohani—bagaimana Ia meletakkannya di atas perjalanan satu tahun ini. Melangkahlah ke depan dengan keyakinan teguh bahwa jejak kaki-Nya di tahun mendatang akan terus mengeluarkan kelimpahan: segala berkat rohani yang tersimpan di dalam surga bagi mereka yang mengasihi-Nya.

Teriring salam dan doa,
Dr. Erastus Sabdono

KEBAIKAN TUHAN TIDAK BERGANTUNG PADA SUASANA HATI KITA ATAU SITUASI YANG KITA ALAMI. .

Card image
Bacaan Alkitab Setahun - 31 Desember 2025
2025-12-31 12:27:20

Wahyu 19-22

Card image
Truth Kids 30 Desember 2025 - DIPIMPIN UNTUK MENJADI PEMIMPIN
2025-12-30 19:12:06


Titus 1:4–5
"Kepada Titus, anakku yang sah menurut iman kita bersama: kasih karunia dan damai sejahtera dari Allah Bapa dan Kristus Yesus, Juruselamat kita, menyertai engkau. Aku telah meninggalkan engkau di Kreta dengan maksud ini, supaya engkau mengatur apa yang masih perlu diatur dan supaya engkau menetapkan penatua-penatua di setiap kota, seperti yang telah kupesankan kepadamu."

Di sebuah desa nelayan, ada seekor burung camar kecil bernama Tito. Tito suka terbang mengikuti burung-burung camar yang lebih besar. Ia tidak kuat membawa ikan besar, tetapi ia selalu setia membantu kawanan.

Suatu hari, pemimpin kawanan sakit. Burung-burung lain bingung. Mereka membutuhkan seseorang yang bisa mengatur arah terbang dan menjaga ketertiban. Tito, yang biasa mendampingi pemimpin, akhirnya maju. Dengan suara kecilnya, ia memberi tanda arah. Burung-burung pun mengikuti. Perjalanan mereka selamat sampai pantai. Semua terkejut — ternyata Tito bisa dipercaya!

Sobat Truth Kids, Titus dalam Alkitab juga begitu. Ia setia mendampingi Paulus dan kemudian dipercaya memimpin jemaat di Kreta. Tuhan memakainya untuk menguatkan iman banyak orang. Kamu juga bisa seperti Titus. Mungkin kamu terlihat kecil, tetapi kalau setia dan mau menolong, Tuhan bisa memakaimu untuk menguatkan teman-temanmu. Ingatlah, setia dalam hal kecil membuatmu siap dipakai Tuhan untuk hal yang besar.

Card image
Truth Junior 30 Desember 2025 - DIPERCAYA KARENA SETIA
2025-12-30 19:10:32


Titus 1:4–5
“Kepada Titus, anakku yang sah menurut iman kita bersama: kasih karunia dan damai sejahtera dari Allah Bapa dan Kristus Yesus, Juruselamat kita, menyertai engkau. Aku telah meninggalkan engkau di Kreta dengan maksud ini, supaya engkau mengatur apa yang masih perlu diatur dan supaya engkau menetapkan penatua-penatua di setiap kota, seperti yang telah kupesankan kepadamu.”

Sobat Truth Junior, pernah nggak kamu dipercaya untuk membantu guru atau orang tua dalam hal penting? Rasanya pasti senang, ya, tapi juga ada tanggung jawab besar yang harus dijaga. Nah, hari ini kita belajar dari seorang teman Paulus yang bernama Titus.

Titus adalah orang yang setia mendampingi Paulus dalam pelayanan. Karena kesetiaannya, Paulus mempercayakan tugas penting kepadanya yakni memimpin jemaat di pulau Kreta. Tugas itu tidak mudah, karena Paulus ingin supaya jemaat di sana hidup tertib dan kuat dalam iman. Tapi Titus tidak mundur. Ia menjalankan tanggung jawabnya dengan hati yang taat dan penuh kasih kepada Tuhan.

Sobat Truth Junior, dari kisah Titus kita belajar bahwa orang yang setia dan dapat dipercaya akan dipakai Tuhan untuk pekerjaan besar. Tuhan melihat hati kita, bukan seberapa hebat atau pintar kita. Ketika kita mau taat dan melakukan yang benar, Tuhan bisa memakai kita untuk menguatkan dan menolong orang lain—seperti Titus menguatkan iman jemaat di Kreta.

Jadi, yuk belajar seperti Titus dengan cara setia dalam hal kecil, rajin membantu tanpa disuruh, jujur, dan mau mendengarkan nasihat. Allah pasti senang melihat anak-anak yang setia dan dapat dipercaya untuk menjadi berkat bagi banyak orang!

Card image
Z - VOTION 30 Desember 2025 (English Version) - THE TRACES OF GOD'S LOVE
2025-12-30 19:08:36


“I will remember the deeds of the Lord; yes, I will remember Your miracles of long ago.” — Psalm 77:12

Sometimes we’re so focused on what hasn’t been achieved that we forget to be thankful for what God has already done. But the psalmist reminds us of something important: “I will remember the deeds of the Lord.” To remember doesn’t mean getting stuck in the past it means learning to see God’s footprints along the journey.

Maybe this year you’ve faced failure, disappointment, or lost your motivation. But look deeper you’re still standing today because God never left you. He was there in every tear, every laugh, and even in the silence you thought was empty.

Before the year changes, pause for a moment. Turn off your phone, but not your heart. Look back at the past 12 months and find traces of God’s love behind it all. You’ll realize: even though not everything went as planned, God has always been faithful in carrying out His plan for you.

WHAT TO DO?
1. Take 10 minutes tonight to reflect and write down three things you’re thankful for this year — no matter how small. 2. Say a simple prayer: “Lord, thank You for every season of this year. I don’t understand everything, but I know You’ve always been with me.”

BIBLE MARATHON:
Matthew 28

Card image
Z - VOTION 30 Desember 2025 - JEJAK KASIH TUHAN
2025-12-30 19:07:02


“Aku hendak mengingat perbuatan-perbuatan Tuhan, ya, aku hendak mengingat keajaiban-keajaiban-Mu dari zaman purbakala.”
— Mazmur 77:12

Kadang kita terlalu fokus pada apa yang belum tercapai sampai lupa mensyukuri apa yang Tuhan sudah kerjakan. Padahal pemazmur mengingatkan sesuatu yang penting: “Aku hendak mengingat perbuatan-perbuatan Tuhan.” Mengingat bukan berarti terjebak di masa lalu, tetapi belajar melihat jejak Tuhan yang setia menyertai di sepanjang perjalanan. Refleksi itu bikin kita sadar bahwa hidup ini bukan hanya tentang target yang belum tercapai, tapi tentang Tuhan yang terus bekerja.

Mungkin tahun ini kamu pernah gagal, kecewa, atau kehilangan semangat. Tetapi kalau kamu lihat lebih dalam, kamu masih bisa berdiri hari ini karena Tuhan tidak pernah meninggalkanmu. Dia hadir di tengah tangismu, menyertaimu dalam tawamu, dan tetap bekerja bahkan dalam diam yang kamu kira hampa. Setiap proses, baik yang manis maupun pahit, Tuhan pakai untuk menguatkanmu.

Sebelum tahun berganti, berhentilah sejenak. Tutup HP, bukan hati. Lihat kembali 12 bulan terakhir dan temukan jejak kasih Tuhan di balik semuanya. Kamu akan sadar: meskipun tidak semua berjalan sesuai rencanamu, Tuhan selalu setia menjalankan rencana-Nya untuk hidupmu. Dan itu cukup untuk menapaki tahun baru dengan hati yang lebih tenang dan penuh harapan.
WHAT TO DO?
1. Luangkan 10 menit malam ini untuk merenung dan tulis tiga hal yang kamu syukuri tahun ini sekecil apapun.
2. Ucapkan doa sederhana “Tuhan, terima kasih buat setiap musim di tahun ini. Aku gak ngerti semuanya, tapi aku tahu engkau selalu bersamaku.”

BIBLE MARATHON:
Matius 28

Card image
Renungan Pagi - 30 Desember 2025
2025-12-30 19:05:09


Seringkali ditengah masalah timbul pemikiran bahwa seseorang telah berbuat jahat, menyakiti hati kita, mengecewakan, dan cenderung ditengah masalah, kita punya perasaan untuk membalasnya.

Itulah yang setan rancangkan, karena kalau kita balas yang jahat dengan yang jahat, maka berarti sama jahatnya, tetapi waktu orang melakukan yang jahat dan kita memberkati, maka berkat sorgawi akan mengalir luar biasa dalam hidup kita.

Card image
Quote Of The Day - 30 Desember 2025 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2025-12-30 19:03:23


Kita harus berjuang menjadi seorang yang diperhitungkan oleh Allah, karena mata Tuhan menjelajah mencari orang yang bersungguh hati kepada-Nya.

Card image
Mutiara Suara Kebenaran - 30 Desember 2025 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2025-12-30 18:57:58


Ujung perjalanan hidup orang-orang yang mengasihi Tuhan adalah baik, mendatangkan sukacita, dan menghasilkan kemuliaan kekal.

Card image
GIVING THANKS IN ALL THINGS - 30 Desember 2025 (English Version)
2025-12-30 18:56:55


Gratitude is the most natural language when life is going smoothly. When health is excellent, resources are abundant, and family relationships are harmonious, the word "thank you" easily flows from our lips. However, true faith is forged in rugged and rocky terrain. What if what comes is profound loss, heartbreaking failure, or prayers that seem to only hit the ceiling-hanging unanswered for months, even years? It is at this lowest point that the meaning of giving thanks is tested, so that a distinction can be made between situational gratitude and fundamental gratitude.

The Apostle Paul wrote his advice to the church in Thessalonica: “Give thanks in all circumstances; for this is God’s will for you in Christ Jesus” (1 Thessalonians 5:18). This advice was not written when Paul was in a comfortable situation without problems. On the contrary, he wrote this letter amidst pressure, persecution, imprisonment, and uncertainty. Likewise, the congregation he addressed lived in the shadow of suffering. The context is the real struggles of life. Therefore, this command carries extraordinary weight: "Give thanks in all circumstances." This is not a theory derived from books in a library, but the fruit of a conviction that has been tested and proven true through the crucible of suffering.

One crucial interpretation is often overlooked: this verse does not say “give thanks for all things,” but “give thanks in all things.” That difference in prepositions changes everything. God never asks us to give thanks for illness, betrayal, bankruptcy, or other bitter realities-that would contradict His loving and good nature. Instead, God calls us to give thanks in the midst of the storms of life we are facing. We do not need to pretend to be happy about hardship or deny the pain we experience. What God desires is a posture of heart that can say, “This situation is deeply painful, but even in it You remain a good God; I give thanks because You never leave me alone.”

In essence, true gratitude is a decision of faith. It is a voluntary act rooted in a deep understanding of God’s character. Faith enables us to trust that God is always good and sovereign in every aspect of our lives. A beautiful illustration can be seen in a small child holding tightly to their father’s hand while walking along a dark and frightening path. The child cannot see a single step ahead, yet remains calm because they know who is holding their hand. They give thanks for their father’s presence and protection, even while darkness still surrounds them. In the same way, gratitude is our decision to trust the Father-even when we do not yet understand the path we are walking.

Throughout the course of this year, we may have walked through exhausting valleys-unanswered prayers, unhealed emotional wounds, or struggles that seem to have no end. It is precisely in moments like these that choosing gratitude becomes a radical act of faith. Gratitude shifts our focus from the magnitude of the problems we face to the greatness of the God we have. When we give thanks, we are glorifying Him and acknowledging that His love and His purposes are far greater than our circumstances. Like a seed sown in barren land, gratitude in the midst of difficulty nurtures the conviction that God is at work in all things for the good of those who love Him.

As we choose gratitude, we are, in essence, surrendering control of our lives to God. We stop setting conditions, “I will give thanks if…”, and begin to rest fully in the unchanging character of God. This is the path that leads us into the peace that surpasses all understanding.

As we close this year, let us return to this fundamental truth: God is good. His faithfulness does not depend on our circumstances. When we learn to give thanks in all things, we discover true joy-a joy born from a heart that trusts and rests in His unwavering goodness.

THANKFULNESS SHIFTS OUR FOCUS FROM THE SIZE OF THE PROBLEMS WE FACE TO THE GREATNESS OF THE GOD WE HAVE.

Card image
MENGUCAP SYUKUR DALAM SEGALA HAL - 30 Desember 2025
2025-12-30 18:54:40


Bersyukur adalah bahasa yang paling alami ketika hidup berjalan mulus. Saat kesehatan prima, rezeki melimpah, dan hubungan keluarga terjalin harmonis, kata “syukur” mudah mengalir dari bibir kita. Namun, iman yang sejati justru ditempa di medan yang terjal dan berbatu. Bagaimana jika yang datang adalah kehilangan yang mendalam, kegagalan yang memilukan, atau doa yang seakan-akan hanya menabrak langit-langit rumah—menggantung tak terjawab selama berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun? Di titik nadir inilah makna ucapan syukur diuji, sehingga dapat dibedakan antara syukur yang bersifat situasional dan yang bersifat fundamental.

Rasul Paulus menuliskan nasihatnya kepada jemaat di Tesalonika: “Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu” (1 Tes. 5:18). Nasihat ini tidak ditulis ketika Paulus berada dalam keadaan nyaman tanpa masalah. Sebaliknya, ia menulis surat ini di tengah tekanan, penganiayaan, penjara, dan ketidakpastian. Demikian juga dengan jemaat yang dituju—hidup mereka berada dalam bayang-bayang penderitaan. Konteksnya adalah pergumulan hidup yang nyata. Karena itu, perintah ini memiliki bobot luar biasa: “Mengucap syukurlah dalam segala hal.” Ini bukan teori yang dihasilkan dari buku di ruang perpustakaan, melainkan buah dari keyakinan yang telah diuji kebenarannya melalui dapur penderitaan.

Satu penafsiran krusial sering kali terlewat: ayat ini tidak berkata “untuk segala hal” tetapi “dalam segala hal.” Perbedaan kata depan itu mengubah segalanya. Tuhan tidak pernah meminta kita bersyukur karena penyakit, pengkhianatan, kebangkrutan, atau realitas pahit lainnya—itu akan bertentangan dengan sifat kasih dan kebaikan-Nya. Sebaliknya, Tuhan memanggil kita untuk bersyukur di dalam pusaran badai kehidupan yang sedang kita hadapi. Kita tidak perlu berpura-pura senang atas kesulitan atau menyangkal rasa sakit yang kita alami. Yang Tuhan kehendaki adalah postur hati yang mampu berkata, “Situasi ini sangat menyakitkan, tetapi di dalamnya Engkau tetap Tuhan yang baik; aku bersyukur karena Engkau tidak pernah meninggalkanku sendirian.”

Pada hakikatnya, syukur sejati adalah keputusan iman. Ini adalah tindakan sukarela yang berakar pada pengenalan mendalam akan karakter Allah. Imanlah yang memampukan kita percaya bahwa Allah selalu baik dan berdaulat dalam seluruh aspek kehidupan kita. Sebuah ilustrasi yang indah dapat ditemukan dalam diri seorang anak kecil yang memegang erat tangan ayahnya saat melewati jalan gelap dan menakutkan. Anak itu tidak dapat melihat satu langkah pun di depannya, namun ia tetap tenang karena mengenal siapa yang menggandeng tangannya. Ia bersyukur atas kehadiran dan perlindungan ayahnya, meski kegelapan masih menyelubunginya. Demikian pula kita: syukur adalah keputusan untuk mempercayai Sang Bapa, meski kita belum memahami jalan yang kita lalui.

Sepanjang tahun ini, mungkin kita telah melewati lembah yang melelahkan—doa yang belum dijawab, luka batin yang belum pulih, atau pergumulan yang tampak tanpa ujung. Justru dalam momen seperti inilah, memilih bersyukur menjadi tindakan iman yang radikal. Syukur menggeser fokus kita dari besarnya masalah yang kita hadapi kepada besarnya Allah yang kita miliki. Saat kita mengucap syukur, kita sedang memuliakan Dia dan mengakui bahwa kasih serta rencana-Nya jauh lebih besar daripada keadaan kita. Seperti biji yang ditabur di tanah tandus, syukur dalam kesulitan akan menumbuhkan keyakinan bahwa Allah bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia.

Dengan bersyukur, kita pada dasarnya menyerahkan kendali hidup kepada Tuhan. Kita berhenti mengajukan syarat, “Aku akan bersyukur jika…,” dan mulai bergantung sepenuhnya pada karakter Allah yang tak berubah. Inilah jalan menuju damai sejahtera yang melampaui segala akal.

Menutup tahun ini, marilah kita kembali pada kebenaran hakiki: Tuhan itu baik. Kesetiaan-Nya tidak tergantung pada keadaan kita. Ketika kita belajar mengucap syukur dalam segala hal, kita menemukan sukacita sejati—sukacita yang lahir dari hati yang percaya dan beristirahat dalam kebaikan-Nya yang tak tergoyahkan.

Teriring salam dan doa,
Dr. Erastus Sabdono

SYUKUR MENGGESER FOKUS KITA DARI BESARNYA MASALAH YANG KITA HADAPI KEPADA BESARNYA ALLAH YANG KITA MILIKI.

Card image
Bacaan Alkitab Setahun - 30 Desember 2025
2025-12-30 18:52:36

Wahyu 12-18

Card image
Truth Kids 29 Desember 2025 - BERNYANYI UNTUK TUHAN
2025-12-30 13:26:05


Kisah Para Rasul 16:25
"Tetapi kira-kira tengah malam Paulus dan Silas berdoa dan menyanyikan puji-pujian kepada Allah, dan orang-orang hukuman lain mendengarkan mereka."

“Kenapa sih kita harus tetap nyanyi kalau lagi sedih?” tanya Bima sambil duduk di ruang tamu. Papa menatapnya lalu berkata, “Dulu ada hamba Tuhan bernama Paulus dan Silas. Mereka dipenjara padahal tidak bersalah. Kaki mereka dirantai, tapi mereka malah bernyanyi memuji Tuhan.”

Bima terdiam. “Masa sih bisa nyanyi di penjara?” tanyanya lagi. Papa tersenyum. “Iya, dan waktu itu Tuhan mengirim gempa besar. Rantai mereka lepas, pintu penjara terbuka. Tuhan membebaskan mereka.”

Bima mengangguk pelan. “Jadi, kalau aku lagi sedih tapi tetap nyanyi untuk Tuhan, Tuhan juga bisa kasih kekuatan, ya?” Papa menepuk bahu Bima. “Betul. Nyanyianmu bisa jadi doa yang membuat hatimu kuat.”

Sobat Truth Kids, Silas menjadi pahlawan iman karena ia setia mendampingi Paulus dan tetap memuji Tuhan walau dalam kesusahan. Kamu juga bisa begitu! Saat sedih, takut, atau sendirian, tetaplah bernyanyi untuk Tuhan. Tuhan akan menjaga dan memberimu sukacita.

Card image
Truth Junior 29 Desember 2025 - NYANYIAN DALAM PENJARA
2025-12-30 13:13:13


Kisah Para Rasul 16:25
“Tetapi kira-kira tengah malam Paulus dan Silas berdoa dan menyanyikan puji-pujian kepada Allah dan orang-orang hukuman lain mendengarkan mereka.”

Malam itu, penjara di Filipi sangat gelap dan dingin. Paulus dan Silas duduk di lantai batu dengan tangan terikat rantai. Mereka dipukul dan dipenjarakan karena memberitakan kasih Yesus. Namun yang luar biasa, mereka tidak marah atau mengeluh, melainkan berdoa dan memuji Tuhan dengan hati yang bersukacita.

Suara pujian mereka menggema di seluruh penjara hingga para tahanan lain mendengarnya. Tiba-tiba bumi bergetar hebat, semua pintu penjara terbuka, dan rantai mereka terlepas. Kepala penjara sangat ketakutan, tetapi Paulus menenangkannya dan menceritakan tentang keselamatan dari Yesus. Malam itu juga, kepala penjara dan keluarganya percaya kepada Tuhan.

Sobat Truth Junior, Paulus dan Silas menunjukkan iman yang kuat meskipun sedang menderita. Mereka percaya bahwa Tuhan selalu hadir dan bekerja dalam setiap keadaan, bahkan di penjara yang gelap sekalipun. Iman mereka membawa mujizat dan mengubah hati banyak orang.

Kita pun bisa belajar dari Paulus dan Silas untuk tetap bersyukur dan berdoa saat menghadapi kesulitan. Ketika kamu kecewa, takut, atau sedih, ingatlah bahwa Tuhan punya rencana yang indah. Katakan dalam hatimu, “Tuhan, aku percaya Engkau selalu bersamaku.”

Iman yang teguh membuat kita menjadi pahlawan iman sejati. Ketika kita memilih untuk memuji daripada mengeluh, terang Tuhan bersinar lewat hidup kita dan bisa menguatkan orang lain juga. Bahkan di tempat tergelap, satu lagu pujian dapat membawa terang bagi banyak hati.

Card image
Z - VOTION 29 Desember 2025 (English Version) - NEW FOCUS, NEW DIRECTION
2025-12-30 13:05:03


“I keep my eyes always on the Lord. With Him at my right hand, I will not be shaken.”
— Psalm 16:8

In a world full of distractions, we often live with hundreds of tabs open—notifications, school pressure, social comparison, identity struggles. Our focus shifts constantly, and without realizing it, our hearts get tired and unstable. Psalm 16:8 reminds us that stability doesn’t come from what we look at, but from who we fix our eyes on.

David chose to look to the Lord consistently. Not just a quick glance, but placing God as the main point of focus. When Jesus becomes the center of our attention and direction, our steps grow steady. A new year is more than a calendar change—it’s an invitation to leave behind the old draining focus and turn our eyes toward Jesus, the One who gives direction.

Imagine riding a bike or motorcycle. If you keep looking to the side or behind, you’ll wobble. You might even fall. But when your eyes stay fixed on a point ahead, your ride becomes stable, balanced, and you reach your destination faster. That’s exactly how our spiritual life works. When we keep staring at our past, fears, or the noise of social media, we easily lose direction. But when we fix our eyes on Jesus, our path becomes clearer and our hearts more at peace.

As the year comes to a close, take a simple step: reduce the unnecessary noise, start your day by looking to Jesus with a short prayer, set one realistic spiritual goal, and surround yourself with a community that builds you up. Your old focus may have made you shaky, but focusing on Jesus keeps you steady. Before stepping into the new year, use this moment to train a new focus. Let Jesus be your destination—because when He’s in front, you won’t be shaken.

WHAT TO DO?
1.Shift your focus to Jesus every morning.
2.Make one concrete decision to leave your old focus behind.

BIBLE MARATHON:
Matthew 27

Card image
Z - VOTION 29 Desember 2025 - FOKUS BARU, ARAH BARU
2025-12-29 21:55:32


“Aku senantiasa memandang kepada TUHAN; karena Ia berdiri di sebelah kananku, aku tidak goyah.”—Mazmur 16:8

Di dunia yang penuh distraksi, kita sering hidup dengan ratusan tab terbuka—dari notifikasi, tuntutan akademik, perbandingan sosial, hingga tekanan identitas. Fokus kita berpindah dengan cepat, dan tanpa sadar hati kita ikut lelah dan goyah. Mazmur 16:8 mengingatkan bahwa stabilitas hidup tidak datang dari apa yang kita lihat, tetapi dari siapa yang kita pandang.

Daud memilih untuk memandang kepada Tuhan secara konsisten. Bukan sekadar melirik, tetapi menempatkan Tuhan sebagai titik fokus utama. Ketika Yesus menjadi pusat perhatian dan tujuan, langkah kita menjadi lebih stabil. Tahun baru bukan sekadar perubahan kalender—ini ajakan untuk meninggalkan fokus lama yang menguras, dan mengarahkan mata kepada Yesus yang memberi arah.

Bayangkan kamu sedang mengendarai sepeda atau motor. Jika kamu terlalu sering melihat ke samping atau ke belakang, kamu akan oleng. Bahkan bisa jatuh. Tetapi ketika matamu fokus pada satu titik di depan, perjalananmu jadi stabil, seimbang, dan lebih cepat sampai pada tujuan. Begitu juga dengan hidup rohani. Selama kita terpaku pada masa lalu, rasa takut, atau distraksi media sosial, kita mudah kehilangan arah. Namun ketika kita menatap Yesus, arah hidup menjadi lebih jelas dan hati lebih tenang.

Di penghujung tahun ini, mari ambil langkah sederhana: kurangi “noise” yang tidak perlu, mulai hari dengan menatap Yesus lewat doa singkat, pasang satu tujuan rohani yang realistis, dan kelilingi diri dengan komunitas yang meneguhkan. Fokus lama mungkin membuatmu goyah, tetapi fokus pada Yesus membuatmu berdiri teguh. Sebelum kita memasuki tahun baru pergunakan kesempatan ini untuk melatih fokus baru. Biarlah Yesus menjadi tujuan kita—karena ketika Dia di depan, kita tidak akan tergoyahkan.

WHAT TO DO?
1. Alihkan fokusmu setiap pagi kepada Yesus.
2. Buat satu keputusan nyata untuk meninggalkan fokus lama.

BIBLE MARATHON:
Matius 27

Card image
Renungan Pagi - 29 Desember 2025
2025-12-29 21:52:16


Bekerjalah selagi hari masih siang, artinya, be optimistic, be enthusiasm! Artinya optimislah dalam hidup ini, jadilah orang yang bergairah, sebab kalau hati kita sudah pesimistis, kalau hati selalu melihat masalah dibalik setiap kesempatan, maka tidak akan bisa melihat hari esok dengan baik.

Orang hebat selalu melihat kesempatan dibalik setiap masalah, tetapi orang gagal, dia melihat masalah dibalik setiap kesempatan, oleh karena itu kita harus merubah cara berpikir, kalau mau merubah cara berpikir, maka kita akan menjadi orang yang hebat.

Card image
Quote Of The Day - 29 Desember 2025 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2025-12-29 21:50:47


Tidak masalah gagal apa pun dalam hidup, asal jangan gagal menjadi kekasih Tuhan.

Card image
Mutiara Suara Kebenaran - 29 Desember 2025 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2025-12-29 21:49:11


Allah selalu memiliki rancangan kebaikan bagi orang yang mengasihi-Nya.

Card image
LOOKING BACK - 29 Desember 2025 (English Version)
2025-12-29 21:48:15


There is a beautiful quote from the renowned Christian philosopher Søren Kierkegaard: “Life can only be understood backwards, but it must be lived forwards.” This principle deeply resonates when applied to the Christian journey of faith. Often, we only recognize God’s goodness after a particular season or event has passed. When we are in the midst of life’s storms, all we can see are the waves of problems and the winds of trials, but once the storm subsides and we look back, we realize that the hand of God never left us.

The psalmist David gives a vivid picture of God’s nature in Psalm 23:6: “Surely goodness and mercy shall follow me all the days of my life, and I shall dwell in the house of the Lord forever.” The word “follow” here translates the Hebrew word rādaf, an intensive verb meaning “to pursue, to run after.” Imagine a soldier chasing his enemy with all his might, or a treasure hunter relentlessly pursuing his prize. This verb portrays an active, passionate pursuit—God’s faithful love chasing after our lives. It means that throughout our lives, He never tires of upholding and sustaining us with His goodness and mercy—even when we fail to notice it.

Throughout the year 2025, perhaps we have walked through life’s valleys and climbed the cliffs of trials—losing loved ones, facing deep disappointment, or enduring increasing economic struggles. If we are still standing today, it is not by our own strength but by God’s mercy that has guided every step we’ve taken. As we look back, we can echo David’s words: “Even though I walk through the valley of the shadow of death, I will fear no evil, for You are with me; Your rod and Your staff, they comfort me.” From this confession of faith, we can see a shift in focus. The solution was not found in the removal of problems, but in the presence of the Shepherd. The rod—used to protect from danger—and the staff—used to guide the sheep—represent the comfort found in God Himself.

This is the precious lesson we learn when we look back. Often, gratitude develops over time. Usually, it is in the darkest valleys that we experience God’s presence most tangibly. There, we learn to rely entirely on His help. When our own strength is gone, we discover that His strength is made perfect in our weakness. We once thought our prayers were ignored, but God was merely delaying His answers because He knew what was best—not according to our version, but His. We once thought all doors were closed, but He was protecting us from the wrong path. Looking back, we begin to see the pattern of God’s love weaving every event into a beautiful masterpiece.

One of the greatest spiritual fruits of the habit of “looking back” is the birth of genuine gratitude. Such gratitude springs from a deep awareness that life is a journey with God. No step is wasted when we walk under the guidance of the Good Shepherd. Even failure can become a means of learning from His will and plan, shaping our character to be more like Christ.

As we near the end of this year, take a moment to look back—not with regret or disappointment, but with thanksgiving. Let us count every blessing God has given, especially the small ones we often overlook: the breath of life, restored health, a loving and supportive family, fruitful ministry, peace in our hearts, and heavenly joy even while storms still rage outside. All these are tangible proofs of God’s grace—His goodness and mercy—that not only follow us, but pursue us every single day.

With greatings and prayers,
Rev. Ps. Erastus Sabdono

ONE OF THE GREATEST SPIRITUAL FRUITS OF THE HABIT OF "LOOKING BACK" IS THE BIRTH OF GENUINE GRATITUDE.

Card image
MENENGOK KE BELAKANG - 29 Desember 2025
2025-12-29 21:44:52


Ada sebuah kutipan indah dari filsuf Kristen terkenal, Søren Kierkegaard: “Hidup hanya bisa dimengerti ke belakang, tetapi harus dijalani ke depan.” Prinsip ini menemukan resonansi yang sangat dalam ketika diterapkan pada perjalanan iman Kristen. Sering kali kita baru menyadari kebaikan Tuhan setelah berlalunya suatu peristiwa atau masa tertentu. Ketika berada di tengah badai kehidupan, kita hanya melihat ombak permasalahan dan angin pencobaan; tetapi setelah badai reda dan kita menoleh ke belakang, barulah kita menyadari bahwa tangan Tuhan tidak pernah meninggalkan kita.

Pemazmur Daud memberikan gambaran yang amat dinamis tentang sifat Allah dalam Mazmur 23:6: “Kebajikan dan kemurahan belaka akan mengikuti aku seumur hidupku, dan aku akan diam dalam rumah TUHAN sepanjang masa.” Kata “mengikuti” di ayat ini merupakan terjemahan dari kata Ibrani rādaf — kata kerja intensif yang memiliki pengertian “mengejar” (to pursue, run after). Bayangkan seorang prajurit yang mengejar musuhnya dengan segenap tenaga, atau seorang pemburu harta karun yang tak kenal lelah mengejar buruannya. Kata kerja ini menggambarkan tindakan aktif dan penuh semangat dari Allah yang mengejar kehidupan kita dengan kasih setia-Nya. Artinya, sepanjang hidup ini Ia tidak pernah lelah menopang dan memelihara kita dengan kebajikan serta kemurahan-Nya, bahkan ketika kita tidak menyadarinya.

Sepanjang tahun 2025 ini, mungkin kita telah melewati berbagai lembah kehidupan dan mendaki terjalnya tebing pencobaan: kehilangan orang yang dikasihi, rasa kecewa yang mendalam, atau pergumulan ekonomi yang semakin kompleks. Jika hari ini kita masih dapat berdiri, itu bukan karena kekuatan kita sendiri, melainkan karena kemurahan Tuhan yang senantiasa menuntun setiap langkah kaki kita. Seraya menengok ke belakang, kita dapat berkata seperti Daud: “Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku.” Dari pengakuan iman sang pemazmur, kita dapat memperhatikan pergeseran fokusnya. Solusinya bukan pada diangkatnya masalah yang dihadapi, tetapi pada kehadiran Sang Gembala. Gada—sebagai alat untuk melawan ancaman—dan tongkat—untuk menuntun domba-domba—Tuhanlah yang menjadi penghiburnya.

Inilah pelajaran berharga ketika kita menengok ke belakang. Tidak jarang kita baru bisa bersyukur setelah waktu berlalu. Kita sering kali baru menyadari bahwa justru di lembah-lembah kekelaman itulah kita belajar merasakan kehadiran-Nya secara nyata. Di sana pula kita belajar bergantung sepenuhnya pada pertolongan Tuhan. Kekuatan kita sendiri habis, dan pada titik itulah kita menemukan bahwa kekuatan-Nya menjadi sempurna dalam kelemahan kita. Dulu kita mengira doa-doa kita diabaikan, padahal Tuhan menunda menjawabnya karena Ia tahu apa yang terbaik—menurut versi Allah, bukan versi kita sendiri. Dulu kita merasa semua pintu tertutup, padahal Ia sedang melindungi kita dari jalan yang salah. Ketika menengok kembali, kita akan melihat pola kasih Tuhan yang menenun setiap peristiwa menjadi sebuah mahakarya yang indah.

Salah satu buah rohani terbesar dari kebiasaan “menengok ke belakang” adalah lahirnya syukur sejati. Syukur seperti ini lahir dari pengenalan dan penghayatan bahwa hidup ini adalah perjalanan bersama Tuhan. Tidak ada langkah yang sia-sia apabila kita berjalan di bawah tuntunan Sang Gembala Agung. Bahkan kegagalan sekalipun dapat menjadi sarana untuk memetik pelajaran berharga dari setiap kehendak dan rencana-Nya, serta membentuk karakter yang semakin serupa dengan Kristus.

Menjelang akhir tahun ini, ambillah waktu sejenak untuk menengok ke belakang—bukan dengan penyesalan atau kekecewaan, melainkan dengan rasa syukur. Mari kita menghitung setiap berkat yang telah Tuhan beri, terutama berkat-berkat kecil yang sering terlewat: napas kehidupan, kesehatan yang dipulihkan, keluarga yang mengasihi dan mendukung, pelayanan yang terus berbuah, damai di hati, serta sukacita surgawi meski badai di luar belum reda. Semua itu adalah bukti nyata kasih karunia Allah—kebajikan dan kemurahan-Nya—yang bukan hanya mengikuti, melainkan mengejar kita setiap hari.

Teriring salam dan doa,
Dr. Erastus Sabdono

SALAH SATU BUAH ROHANI TERBESAR DARI KEBIASAAN “MENENGOK KE BELAKANG” ADALAH LAHIRNYA SYUKUR SEJATI.

Card image
Bacaan Alkitab Setahun - 29 Desember 2025
2025-12-29 19:47:42

Wahyu 6-11

Card image
Truth Kids 28 Desember 2025 - BERANI MENGAKUI KESALAHAN
2025-12-29 19:03:16


Lukas 19:8
"Tetapi Zakheus berdiri dan berkata kepada Tuhan: ”Tuhan, setengah dari milikku akan kuberikan kepada orang miskin dan sekiranya ada sesuatu yang kuperas dari seseorang akan kukembalikan empat kali lipat.”

Suatu sore, Ardi menemukan kelereng temannya yang hilang. Ia sempat ingin menyimpannya diam-diam, tetapi hati kecilnya tidak tenang. Keesokan harinya, Ardi mengembalikan kelereng itu. “Aku salah kalau menyimpannya,” katanya jujur. Temannya tersenyum lega.

Di sekolah minggu, guru bercerita tentang Zakheus. Ia adalah orang kaya, tetapi sering mengambil uang lebih dari orang lain. Suatu hari, ia ingin sekali melihat Yesus. Karena tubuhnya kecil, ia memanjat pohon ara. Saat Yesus lewat, Ia memanggil, “Zakheus, turunlah, hari ini Aku mau menumpang di rumahmu.” Orang banyak pun terkejut, sebab Zakheus dikenal tidak jujur.

Namun, di hadapan Yesus, Zakheus berubah. Ia berkata, “Tuhan, setengah dari milikku akan kuberikan kepada orang miskin, dan sekiranya ada sesuatu yang kuperas dari seseorang akan kukembalikan empat kali lipat.”

Sobat Truth Kids, Zakheus berani bertobat dan memperbaiki kesalahannya. Ia tidak hanya menyesal, tetapi juga bertindak. Kamu juga bisa seperti Zakheus! Jika kamu berbuat salah, jangan takut untuk mengakuinya dan memperbaikinya. Yesus senang menyelamatkan hati yang mau berubah.

Card image
Truth Junior 28 Desember 2025 - BERANI MENGAKUI KESALAHAN
2025-12-29 19:01:17


Lukas 19:8
"Tetapi Zakheus berdiri dan berkata kepada Tuhan: ”Tuhan, setengah dari milikku akan kuberikan kepada orang miskin dan sekiranya ada sesuatu yang kuperas dari seseorang akan kukembalikan empat kali lipat.”

Suatu sore, Ardi menemukan kelereng temannya yang hilang. Ia sempat ingin menyimpannya diam-diam, tetapi hati kecilnya tidak tenang. Keesokan harinya, Ardi mengembalikan kelereng itu. “Aku salah kalau menyimpannya,” katanya jujur. Temannya tersenyum lega.

Di sekolah minggu, guru bercerita tentang Zakheus. Ia adalah orang kaya, tetapi sering mengambil uang lebih dari orang lain. Suatu hari, ia ingin sekali melihat Yesus. Karena tubuhnya kecil, ia memanjat pohon ara. Saat Yesus lewat, Ia memanggil, “Zakheus, turunlah, hari ini Aku mau menumpang di rumahmu.” Orang banyak pun terkejut, sebab Zakheus dikenal tidak jujur.

Namun, di hadapan Yesus, Zakheus berubah. Ia berkata, “Tuhan, setengah dari milikku akan kuberikan kepada orang miskin, dan sekiranya ada sesuatu yang kuperas dari seseorang akan kukembalikan empat kali lipat.”

Sobat Truth Kids, Zakheus berani bertobat dan memperbaiki kesalahannya. Ia tidak hanya menyesal, tetapi juga bertindak. Kamu juga bisa seperti Zakheus! Jika kamu berbuat salah, jangan takut untuk mengakuinya dan memperbaikinya. Yesus senang menyelamatkan hati yang mau berubah.

Card image
Z - VOTION 28 Desember 2025 (English Version) - WALKING FORWARD WITH EYES ON THE CROSS
2025-12-29 18:59:30


“Going a little farther, He fell with His face to the ground and prayed, ‘My Father, if it is possible, may this cup be taken from Me. Yet not as I will, but as You will."
— Matthew 26:39

Have you ever tried starting a new year with high spirits, only to suddenly lose direction? Or maybe you made neat plans—goals, schedules, dreams—but still aren’t sure where this year is really taking you. We’ve all been there. And surprisingly, Jesus experienced a moment like that too. In the Garden of Gethsemane, He faced fear and the weight of what was ahead. He knew suffering was coming, yet He chose obedience. His prayer was simple but powerful: not His will, but the Father’s.

True focus isn’t about how perfectly we kick off the year—it’s about how faithfully we walk with Jesus through uncertainty. A new year often pushes us to chase targets: good grades, a cool career, ideal health, or a life that looks “perfect.” But without realizing it, we can lose sight of the One who gives meaning to all those things: Jesus Himself.

If you’re a teen, a student, or someone just building your future, remember this: life isn’t only about impressive plans or achievements that go viral. Sometimes God isn’t asking for something “wow” by the world’s standards—He’s shaping your heart to become more like Christ. When your focus is on the cross, not your accomplishments, your life becomes more grounded and filled with peace.

So this year, don’t just focus on the finish line or the end results. Fix your eyes on the cross—the place where Jesus showed perfect obedience, love, and sacrifice. As long as your gaze stays on Him, every step you take—even the small, unseen ones—matters deeply to God.

WHAT TO DO?
1. Take a quiet moment today and ask God: “Lord, what do You want me to focus on this year?”
2. Write down one thing you want to change so that this year, you can grow closer to Jesus not just get busy chasing worldly goals.

BIBLE MARATHON:
Matthew 26

Card image
Z - VOTION 28 Desember 2025 - MELANGKAH DENGAN FOKUS PADA SALIB
2025-12-29 18:57:49


“Lalu Yesus berdoa: Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku; tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki.” — Matius 26:39

Pernah nggak kamu ingin memulai tahun baru dengan semangat tinggi, tapi tiba-tiba kehilangan arah? Atau sudah buat rencana rapi—target, jadwal, mimpi—tapi tetap nggak yakin tahun ini mau bawa kamu ke mana? Kita semua pernah ada di fase itu, dan ternyata Yesus pun mengalaminya. Di Taman Getsemani, Ia menghadapi ketakutan dan beban yang besar. Dia tahu penderitaan menunggu di depan, tetapi tetap memilih taat kepada Bapa. Doanya sederhana namun dalam: bukan kehendak-Nya yang jadi pusat, tetapi kehendak Allah.

Fokus sejati bukan tentang seberapa sempurna kita memulai tahun, tapi seberapa taat kita berjalan bersama Yesus di tengah ketidakpastian. Tahun baru sering bikin kita sibuk mengejar target—nilai bagus, karier keren, kesehatan ideal, atau hidup yang terlihat “perfect.” Tapi tanpa sadar, kita bisa kehilangan fokus pada Pribadi yang memberi makna bagi semuanya: Yesus sendiri.

Buat kamu yang masih remaja, kuliah, atau baru mulai membangun masa depan, ingat ini: hidup bukan cuma soal rencana yang keren atau pencapaian yang viral. Kadang yang Tuhan mau bukan sesuatu yang terlihat “wow” di mata dunia, tetapi sesuatu yang membentuk hati kita supaya makin seperti Kristus. Ketika fokus kita tertuju pada salib, bukan pada pencapaian, hidup kita jadi lebih terarah dan penuh damai.

Jadi tahun ini, jangan cuma fokus pada finish line atau hasil akhir. Fokuslah pada salib—tempat Yesus menunjukkan ketaatan, kasih, dan pengurbanan yang sempurna. Selama mata kita tertuju pada Dia, setiap langkah, bahkan yang kecil dan nggak terlihat, tetap berarti di hadapan Tuhan.

WHAT TO DO?
1. Ambil waktu tenang hari ini, tanya Tuhan: Tahun ini, apa yang engkau mau aku fokusin?
2. Tulis satu hal yang mau kamu ubah supaya tahun ini kamu bisa lebih dekat sama Yesus bukan cuma sibuk ngejar target dunia.

BIBLE MARATHON:
Matius 26

Card image
Renungan Pagi - 28 Desember 2025
2025-12-29 13:00:22


Kalau ada orang kristen yang sudah melayani tetapi masih bersikap sombong, angkuh, maka ini namanya belum mengalami pengajaran Tuhan, Alkitab berkata belajarlah kepada-Ku karena Aku rendah hati dan lemah lembut.

Kedua hal ini tidak bisa dipisahkan, ada banyak orang bertahun-tahun menjadi kristen, melayani Tuhan, tetapi perkataannya sangat kasar, perkataannya sangat tidak menyenangkan, merasa diri hebat.

Card image
Quote Of The Day - 28 Desember 2025 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2025-12-28 22:18:02


Kebaikan Tuhan nyata pada kesabaran Tuhan menuntun kita kepada segala kebenaran agar kita dikembalikan kepada rancangan semula Allah.

Card image
Mutiara Suara Kebenaran - 28 Desember 2025 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2025-12-28 22:17:04


Tuhan dihargai ketika kita memilih taat sekalipun harus menanggung resiko, ketika kita menolak kompromi sekalipun banyak kesempatan menggiurkan di depan mata.

Card image
GRATEFUL IN EVERY SEASON - 28 Desember 2025 (English Version)
2025-12-28 22:12:38


Human life does not move through only one season of life. Ecclesiastes 3:1 says, “There is a time for everything, and a season for every activity under the heavens.” There is a time to plant and a time to harvest; a time to weep and a time to laugh; a time to mourn, and a time to rejoice. Just as the earth turns and seasons change, so our journey throughout the year is filled with changes and the colors of life. Yet one thing never changes: the goodness and faithfulness of God in every season of our lives.

It is not difficult for us to give thanks in seasons of success. When prayers are answered, when we receive a job promotion, or when health is restored, we easily say, “God is good!” But what about when the dry season comes-a time when hopes have not yet been fulfilled, prayers remain unanswered; or even the stormy season, when we lose a job, experience an accident, or face calamity? It is in moments like these that faith is tested: can we still give thanks, not because circumstances have changed, but because the presence of God never changes?

Ecclesiastes chapter 3 reminds us that every season has a divine purpose. There is not a single season that God allows to happen without meaning that we need to understand. In seasons of waiting, God is shaping patience; in seasons of loss, He is planting a deeper understanding of love; so that when the season of abundance arrives, He has already trained us in humility and responsibility. When we view everything through a divine perspective, every season becomes a field where gratitude can grow.

The apostle Paul wrote, “Give thanks in all circumstances; for this is God’s will for you in Christ Jesus” (1 Thess. 5:18). This is not an easy command, but a spiritual discipline that strengthens the muscles of our faith. Gratitude should not merely be a reaction to circumstances, but a decision of the heart that knows how to be thankful for all of God’s goodness. We learn to say, “Lord, often I do not understand Your ways, but I trust Your sovereignty.” That is where true gratitude grows-amid uncertainty, confusion, and doubt-yet still clinging to the conviction that God never leaves us.

If we look back on our life journey throughout the year 2025, perhaps there are things that did not go according to our expectations. There are prayers that remain unanswered, plans that are delayed, and perhaps wounds that still linger. Yet are we not still standing today because of God’s care? The breath of life He still gives us, the family that loves and supports us, and the strength that is renewed every morning-all are evidence of His steadfast love. Being grateful in every season means learning to see God’s work behind every change in life. When leaves fall, we know the tree is preparing to grow new shoots. In the same way, God is preparing something new behind the dry seasons of our lives. Sometimes blessings are not immediately visible because they are still in the process of packaging, but when the time is right, everything will be beautiful in its time.

At the end of this year, let us pray with grateful hearts-not because life is always easy, but because God is always with us. Let us give thanks for every season we have gone through: seasons of laughter, seasons of tears, seasons of planting, seasons of waiting, and seasons of harvest; for in all of them, God’s hand is constantly at work, granting the best to each of us who love Him.

BEING GRATEFUL IN EVERY SEASON MEANS LEARNING TO SEE GOD’S WORK BEHIND EVERY CHANGE.

Card image
BERSYUKUR DI SETIAP MUSIM - 28 Desember 2025
2025-12-28 22:09:49


Hidup manusia tidak berjalan hanya dalam satu musim kehidupan saja. Pengkhotbah 3:1 berkata, “Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apa pun di bawah langit ada waktunya.” Ada masanya kita menanam dan ada juga masa untuk menuai; ada waktu menangis dan ada waktu tertawa; ada masanya kita meratap, tetapi ada juga waktu untuk bersukacita. Seperti bumi yang berputar dan musim yang silih berganti, demikian pula perjalanan hidup kita sepanjang tahun ini penuh dengan perubahan dan warna kehidupan. Namun, satu hal yang tidak pernah berubah ialah kebaikan dan kesetiaan Tuhan di setiap musim hidup kita.

Tidak sulit bagi kita untuk bersyukur di musim keberhasilan. Ketika doa-doa dijawab, ketika memperoleh promosi jabatan, atau ketika kesehatan dipulihkan, dengan mudah kita berkata, “Tuhan baik!” Tetapi bagaimana ketika yang datang adalah musim kemarau—masa ketika harapan belum terwujud, doa belum dijawab; atau bahkan musim badai, ketika kehilangan pekerjaan, mengalami kecelakaan, dan menghadapi musibah? Pada saat-saat seperti itulah iman diuji: sanggupkah kita tetap bersyukur, bukan karena perubahan keadaan, tetapi karena kehadiran Tuhan yang tidak pernah berubah?

Pengkhotbah pasal 3 mengingatkan bahwa setiap musim memiliki tujuan ilahi. Tidak ada satu pun musim yang diizinkan Tuhan terjadi tanpa makna yang perlu kita pahami. Dalam musim penantian, Tuhan sedang membentuk kesabaran; dalam musim kehilangan, Ia sedang menanamkan pengertian tentang kasih yang lebih dalam; sehingga ketika musim kelimpahan tiba, Ia telah melatih kita tentang kerendahhatian dan tanggung jawab. Ketika kita memandang segala sesuatu dari kacamata ilahi, maka setiap musim menjadi ladang untuk menumbuhkan ucapan syukur.

Rasul Paulus menulis, “Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu” (1 Tes. 5:18). Ini bukanlah perintah yang mudah, melainkan disiplin rohani yang memperkuat otot-otot iman kita. Syukur seharusnya bukan sekadar reaksi terhadap keadaan, melainkan keputusan hati yang tahu berterima kasih atas segala kebaikan Tuhan. Kita belajar berkata, “Tuhan, sering kali aku tidak mengerti jalan-jalan-Mu, tetapi aku percaya akan kedaulatan-Mu.” Di situlah syukur sejati bertumbuh—di tengah ketidakpastian, kebimbangan, dan keraguan—namun tetap berpaut pada keyakinan bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan kita.

Jika kita menengok kembali perjalanan hidup di sepanjang tahun 2025, mungkin ada hal-hal yang terjadi tidak sesuai harapan. Ada doa yang belum dijawab, rencana yang tertunda, bahkan mungkin masih ada luka yang terasa. Namun, bukankah kita masih berdiri tegak hari ini karena pemeliharaan Tuhan? Nafas kehidupan yang masih Ia beri, keluarga yang mengasihi dan mendukung kita, serta kekuatan yang terus diperbarui setiap pagi—semuanya adalah bukti kasih setia-Nya. Bersyukur di setiap musim berarti belajar melihat karya Tuhan di balik setiap perubahan hidup. Ketika daun gugur, kita tahu pohon sedang bersiap menumbuhkan tunas baru. Demikian pula Tuhan menyiapkan sesuatu yang baru di balik musim kemarau kehidupan kita. Kadang berkat tidak langsung terlihat karena sedang dalam proses packaging (pengemasan), tetapi bila waktunya tepat, segala sesuatu akan menjadi indah pada waktunya.

Di penghujung tahun ini, marilah kita berdoa dengan hati yang bersyukur—bukan karena hidup selalu mudah, tetapi karena Tuhan selalu beserta kita. Mari ucapkan syukur atas setiap musim yang telah kita lalui: musim tawa, musim tangis, musim menanam, musim menunggu, dan musim menuai; sebab di dalam semuanya itu, tangan Tuhan senantiasa berkarya, menganugerahkan yang terbaik bagi setiap kita yang mengasihi-Nya.

Teriring salam dan doa,
Dr. Erastus Sabdono

BERSYUKUR DI SETIAP MUSIM BERARTI BELAJAR MELIHAT KARYA TUHAN DI BALIK SETIAP PERUBAHAN.

Card image
Truth Kids 27 Desember 2025 - MAU MENGIKUTI TUHAN YESUS
2025-12-28 20:58:15


Matius 9:9
"Setelah Yesus pergi dari situ, Ia melihat seorang yang bernama Matius duduk di rumah cukai, lalu Ia berkata kepadanya: ‘Ikutlah Aku.’ Maka berdirilah Matius lalu mengikut Dia."

Raka baru pulang sekolah. Ia melihat tetangganya sedang marah-marah kepada tukang parkir di depan warung. “Dasar tukang parkir, kerjaannya cuma minta uang!” kata orang itu dengan kesal.

Raka merasa kasihan. Setelah sampai di rumah, ia bercerita kepada ibunya. Ibu tersenyum lalu berkata, “Kadang orang punya pekerjaan yang dianggap jelek oleh orang lain. Tapi Tuhan bisa memakai siapa saja, bahkan yang dibenci, untuk menjadi berkat.”

Ibu kemudian bercerita tentang Matius. Ia bekerja sebagai pemungut cukai, dan orang-orang tidak menyukainya. Namun Yesus tidak memandang rendah Matius. Sebaliknya, Yesus memanggilnya untuk menjadi murid-Nya. Hebatnya, Matius langsung meninggalkan pekerjaannya dan mengikuti Tuhan. Kemudian, ia dipakai Tuhan untuk menuliskan Injil yang sampai sekarang bisa kita baca.

Sobat Truth Kids, dari Matius kita belajar untuk taat. Ketika Yesus memanggil, Matius langsung ikut, meskipun banyak orang membencinya. Tuhan tidak melihat masa lalu kita, tetapi hati kita. Kalau kamu mau mengikuti Yesus dengan sungguh-sungguh, hidupmu bisa menjadi berkat besar bagi banyak orang.

Card image
Truth Junior 27 Desember 2025 - DIPANGGIL UNTUK MENGIKUTI YESUS
2025-12-28 08:28:00


Matius 9:9
“Setelah Yesus berjalan terus dari situ, Ia melihat seorang yang bernama Matius duduk di rumah cukai, lalu Ia berkata kepadanya: ‘Ikutlah Aku.’ Maka berdirilah Matius lalu mengikut Dia.”

Hari itu, Matius sedang bekerja menghitung uang di rumah cukai. Banyak orang tidak menyukainya karena ia sering memungut pajak berlebihan untuk memperkaya diri. Bagi orang-orang, Matius adalah “orang berdosa” yang tidak pantas diperhatikan. Tetapi Yesus justru datang kepadanya dan berkata lembut, “Ikutlah Aku.”

Tidak ada bujukan panjang, tidak ada janji imbalan. Hanya dua kata sederhana yang mengubah seluruh hidup Matius. Ia menatap Yesus, lalu berdiri dan meninggalkan meja cukainya. Matius tahu bahwa panggilan Yesus jauh lebih berharga daripada semua uang yang ia miliki.

Bayangkan, Sobat Truth Junior! Matius rela meninggalkan segalanya demi Tuhan. Dari seseorang yang dianggap “tidak pantas,” Matius berubah menjadi murid yang setia dan bahkan menulis Injil Matius yang kita baca sampai hari ini.

Kadang, Tuhan juga memanggil kita di tengah rutinitas sehari-hari—saat di sekolah, di rumah, atau di gereja. Mungkin lewat dorongan untuk menolong teman, berdoa bagi orang lain, atau bersikap jujur meskipun sulit. Setiap pilihan kecil untuk taat bisa menjadi langkah besar dalam mengikuti Tuhan.

Sobat Truth Junior, tidak ada yang terlalu biasa untuk dipakai Tuhan. Seperti Matius, kamu pun bisa menjadi pahlawan iman yang membawa kabar tentang kasih Yesus lewat hidupmu.

Yuk, Sobat Truth Junior, dengarkan panggilan-Nya hari ini dan mulai berjalan bersama Yesus!

Card image
Z - VOTION 27 Desember 2025 (English Version) - STAYING FOCUSED WHEN THE WORLD CHANGES
2025-12-27 23:37:53


“Do not conform to the pattern of this world, but be transformed by the renewing of your mind, so that you may discern what is the will of God—what is good, pleasing, and perfect.”
— Romans 12:2

The beginning of a new year often makes us think about a lot of new things—new schedules, new goals, even a “new version” of ourselves. After the warmth of Christmas fades, life suddenly feels faster and full of demands. But in the middle of all these changes, God isn’t asking you to become someone else; He simply wants you to become more like Christ. The world might tell you to chase trends, achievements, or relevance, but Jesus invites you to focus on what truly matters: a life that pleases God.

Change is normal, but not every change brings us closer to the Lord. That’s why the key isn’t just changing—it’s changing in the right direction. It means letting our minds be renewed so they align with God’s Word, not just follow the flow of the world. True transformation isn’t about switching your vibe or picking new goals; it’s about shifting your perspective so your heart stays aligned with His will.

Look at Daniel. In the middle of massive changes—being taken from Jerusalem to Babylon, going from an ordinary youth to a royal official—his focus never shifted. He stayed faithful in prayer, held onto God’s values, and refused to compromise with the world’s lifestyle. Because God remained the center of his life, Daniel stayed steady even when everything around him changed.

In the coming year, you might face many new things: a new environment, bigger responsibilities, or challenges you’ve never met before. But don’t let any of that steal your sense of direction. If Jesus stays at the center, your steps will remain steady. Change may come, but your focus can stay firm—toward the One who leads your life.

WHAT TO DO?
1. Start each day with a simple prayer: “Lord, may my thoughts and heart be aligned with You today.”
2. Evaluation: Have the changes you’ve gone through this year brought you closer to God or further away?
3. Remember, the world will continue to change, but Jesus remains the compass of life that never fails.

BIBLE MARATHON:
Matthew 25

Card image
Z - VOTION 27 Desember 2025 - TETAP FOKUS SAAT DUNIA BERUBAH
2025-12-27 23:33:50


“Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah, dan yang sempurna."
— Roma 12:2

Awal tahun sering bikin kita sibuk mikirin banyak hal baru—jadwal baru, target baru, bahkan versi “baru” dari diri sendiri. Setelah suasana Natal yang hangat, kita masuk ke fase hidup yang terasa lebih cepat dan penuh tuntutan. Tapi di tengah semua perubahan itu, Tuhan nggak minta kita jadi orang lain; Dia cuma mau kita semakin serupa dengan Kristus. Dunia mungkin nyuruh kamu ngejar tren, pencapaian, atau eksistensi, tapi Yesus mengajak kita fokus ke arah yang benar: hidup yang berkenan kepada Allah.

Perubahan itu normal, tapi nggak semua perubahan bikin kita makin dekat sama Tuhan. Karena itu, kuncinya bukan sekadar berubah, tapi berubah ke arah yang benar. Artinya, pikiran kita diperbarui supaya selaras dengan firman Tuhan—bukan cuma ikut arus dunia. Pembaruan sejati bukan soal ganti vibe atau ganti goal, tapi ganti cara pandang agar hati tetap terarah pada kehendak-Nya.

Contohnya Daniel. Di tengah perubahan besar—dipindahkan dari Yerusalem ke Babel, dari rakyat biasa jadi pejabat istana—fokusnya nggak pernah berubah. Ia tetap setia berdoa, tetap menjunjung nilai Tuhan, dan nggak kompromi dengan gaya hidup dunia. Karena pusat hidupnya tetap Tuhan, ia bisa tetap terarah meskipun lingkungannya berubah total.

Di tahun mendatang mungkin kamu akan menghadapi banyak hal baru: lingkungan yang berbeda, tanggung jawab yang lebih besar, bahkan tantangan yang belum pernah kamu rasakan. Tapi jangan biarkan itu bikin kamu kehilangan arah. Kalau Yesus tetap jadi pusat hidupmu, langkahmu akan tetap stabil. Perubahan boleh datang, tapi arah pandangmu tetap teguh—menuju Dia yang memimpin hidupmu.

WHAT TO DO?
1. Mulailah setiap hari dengan doa sederhana: “Tuhan, biar pikiran dan hatiku searah dengan-Mu hari ini.”
2. Evaluasi: Apakah perubahan yang kamu jalani tahun ini bikin kamu makin dekat sama Tuhan atau malah menjauh?
3. Ingat, dunia akan terus berubah, tapi Yesus tetap jadi kompas hidup yang gak pernah meleset.

BIBLE MARATHON:
Matius 25

Card image
Renungan Pagi - 27 Desember 2025
2025-12-27 23:29:45


Ada dua hal yang sangat berbahaya dalam hidup kristiani, yaitu kejahatan dan kepalsuan. Kejahatan itu jelas-jelas jahat, jelas-jelas bertentangan dengan firman; yang perlu kita waspadai adalah kepalsuan.

Kepalsuan itu mirip dengan yang aslinya, tapi setelah kita perhatikan baru melihat bahwa itu palsu; mari hindarilah dua hal berbahaya itu yaitu kejahatan dan kepalsuan.

Jangan kita hidup dalam kejahatan dan kepalsuan, tapi hiduplah dalam kebenaran dan ketulusan, sehingga lewat hidup kita orang dapat melihat kemuliaan Tuhan.

Card image
Quote Of The Day - 27 Desember 2025 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2025-12-27 23:24:05


Apa yang Tuhan ajarkan melalui segala peristiwa kehidupan yang kita lalui adalah harta tak ternilai, sebab tidak dapat dibeli dengan uang serta ada dalam perjalanan waktu yang tidak dapat diulang.

Card image
Mutiara Suara Kebenaran - 27 Desember 2025 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2025-12-27 23:22:56


Menghargai Tuhan berarti menempatkan Dia sebagai Pusat dari seluruh keberadaan kita.

Card image
A LONG JOURNEY OF STRUGGLE - 27 Desember 2025 (English Version)
2025-12-27 23:14:18


We must change the way we think. We must change the steps we have taken in our lives so far. Many Christians feel that by accepting the fact that Jesus is the Savior who came to redeem sins, they already have sufficient assurance to enter heaven. Perhaps next Christmas we can organize it better than we have done before. There is no doubt about the abilities of church activists in creating music, drama, and so on. However, our spirit must be different from the spirit of most people. People may say we are strange—let them say so. For we are not rejoicing; we are weeping. Because, first, we are not yet perfect; our lives are still in disarray. He came to change us, yet our character is still flawed. We weep. Second, many souls have not yet been saved. That is the truth.

Do not think that you have already become a believer, because believing is not merely an activity of the mind; believing is not just agreeing with a fact, nor merely an intellectual affirmation. Believing is acting upon what is believed and acknowledged as truth. If we believe in the Lord Jesus as Savior , then -first-, we must attend to our own salvation. This means that the disorder in our lives must continually be transformed. He paid a very high price for our salvation. And entering heaven is not automatic; we must work out our salvation with fear and trembling. In fact, the Bible says that those who do not do the will of the Father will be rejected. -Second-, we must acknowledge Him as our Master. So when we say, “Lord Jesus, I believe in You,” the Lord will say, “Do you truly believe in Me? Follow in My footsteps.”

The long journey of His struggle to reach perfection is the journey we must walk. Many people stop at the city of Bethlehem-and even that stopping point is mistaken. We celebrate the birth of the Lord Jesus with carefree euphoria, and after that we never follow His journey. How pitiful and truly tragic it is that many Christians feel they have faith, feel they believe in the Lord Jesus, and feel they are saved, when in fact they possess only pseudo-faith-fantasy faith.

If we believe that the Lord Jesus came two thousand years ago and promised to be with us, then we must truly experience God day by day through the process of becoming more like Him: bearing testimony, becoming a corpus delicti-living evidence-and truly fulfilling the unfinished task. For this salvation must reach the ends of the earth.

And this is a very good beginning: if today God opens our understanding to comprehend pure truth, may the Holy Spirit help us to understand it even more deeply. This is an extraordinary responsibility. For with that understanding, God will involve our entire lives without limit. We must begin to repent and change. We begin to become mature Christians. Therefore, every time we celebrate Christmas, it does not mean we may not have good music, praise, or dance. But the soul of Christmas must not be forgotten. The true soul of Christmas must be within us-as though we ourselves are joining the Lord in emptying ourselves.

By carefully reflecting on this truth, we will begin to experience transformation. And that transformation cannot happen instantly; it must go through a long process. For it turns out that knowledge in our minds alone is not enough. When we hear a sermon, we may understand it immediately, but we still must go through a long journey-with perseverance over time, day by day.

This is our genuine walk with the Lord. Imagine if we were only euphoric at Christmas-then we would stop there. But if we understand the Lord Jesus’ long struggle from His birth to the cross, and we follow in His footsteps, only then can we truly grasp what it means to live as children of God. This cannot be fully or completely explained in words, but each of us will be able to experience life as children of God. Then we will also carry the burden that the Lord Jesus Christ carried.

The Lord Jesus is the subject of Christmas; that is, the Lord Jesus is the Master, the Person for whom we live. He is the reason we live. Here we must submit ourselves to the covenant bond we have with God-that He has purchased us at a price fully paid. To reject this is to reject redemption. For Jesus did not come to stop at the city of Bethlehem. He went all the way to the cross and purchased us. He redeemed us not because of His birth, but because of His death. He became the King who controls and rules our lives. He is the King who reigns within our lives. Furthermore, if we truly submit to Him as King, then we must walk in the way of the Lord. We must not have our own way.

THE LONG JOURNEY OF HIS STRUGGLE TO REACH PERFECTION IS THE JOURNEY WE MUST WALK.

Card image
PERJALANAN PANJANG PERJUANGAN - 27 Desember 2025
2025-12-27 23:11:30


Kita harus mengubah cara kita berpikir. Kita harus mengubah langkah-langkah hidup kita selama ini. Banyak orang Kristen merasa bahwa dengan menerima fakta bahwa Yesus adalah Juru Selamat yang telah datang untuk menebus dosa-dosa, berarti mereka sudah memiliki bekal yang cukup untuk masuk surga. Mungkin Natal tahun depan kita bisa menyelenggarakannya lebih baik daripada yang sudah kita lakukan. Tidak diragukan kemampuan aktivis gereja dalam membuat musik, drama, dan lain-lain. Namun, spirit kita harus berbeda dengan spirit kebanyakan orang. Mungkin orang bilang kita aneh, biarkan saja. Sebab kita bukannya senang, tetapi kita menangis. Sebab, pertama, kita belum sempurna, hidup kita masih carut-marut. Dia datang untuk mengubah kita, tetapi watak kita masih buruk. Kita menangis. Kedua, banyak jiwa yang belum diselamatkan. Itu yang benar.

Jangan merasa sudah menjadi orang percaya, sebab percaya bukan hanya aktivitas pikiran; percaya bukan hanya persetujuan terhadap suatu fakta, atau sekadar pengaminan akali. Percaya adalah tindakan terhadap apa yang diyakini dan diakui sebagai suatu kebenaran. Kalau kita percaya kepada Tuhan Yesus sebagai Juru Selamat, maka yang pertama, urusi keselamatan kita. Artinya, carut-marut hidup kita harus terus diubah. Dia membayar mahal untuk keselamatan kita. Dan tidak otomatis kita masuk surga; kita harus mengerjakan keselamatan dengan takut dan gentar. Faktanya, Alkitab berkata: orang yang tidak melakukan kehendak Bapa akan ditolak. Kedua, urusi Dia sebagai Majikan kita. Jadi, kalau kita mengatakan, “Tuhan Yesus, aku percaya kepada-Mu,” maka Tuhan akan berkata, “Benarkah engkau percaya kepada-Ku? Ikut jejak-Ku.”

Perjalanan panjang perjuangan-Nya untuk mencapai kesempurnaan, itulah yang harus kita jalani. Banyak orang berhenti di kota Betlehem—dan berhentinya pun salah. Kita hanya merayakan kelahiran Tuhan Yesus dengan euforia tanpa beban, dan setelah itu kita tidak pernah ikut perjalanan Tuhan Yesus. Kasihan sekali, dan benar-benar malang, banyak orang Kristen merasa sudah memiliki iman, merasa sudah percaya kepada Tuhan Yesus, dan merasa sudah selamat, padahal mereka hanya memiliki iman atau percaya semu; iman fantasi.

Kalau kita percaya Tuhan Yesus pernah datang dua ribu tahun yang lalu, dan Dia berjanji menyertai kita, maka kita harus benar-benar mengalami Tuhan dari hari ke hari melalui proses bagaimana kita menjadi makin seperti Dia: memiliki kesaksian, menjadi corpus delicti—bukti hidup—dan benar-benar menunaikan tugas yang belum usai. Sebab keselamatan ini harus sampai ke ujung bumi.

Dan ini adalah awal yang sangat baik: bila hari ini Tuhan membukakan pengertian kita untuk memahami kebenaran yang murni, kiranya Roh Kudus menolong kita untuk bisa memahami lebih dalam lagi. Itu tanggung jawab yang luar biasa. Sebab dengan pengertian itu, Tuhan akan melibatkan segenap hidup kita tanpa batas. Kita harus mulai akil-balik dan berubah. Kita mulai menjadi orang Kristen yang dewasa. Jadi, setiap kali merayakan Natal, bukan berarti tidak boleh dengan musik yang bagus, memuji, menari. Namun jiwa Natal tidak boleh lupa. Jiwa Natal yang benar harus kita miliki—seakan-akan kita ikut bersama dengan Tuhan mengosongkan diri.

Dengan mencermati kebenaran ini, kita akan mulai mengalami perubahan. Dan perubahan itu tidak bisa terjadi sekejap; harus lewat proses yang panjang. Sebab ternyata tidak cukup hanya dengan pengetahuan dalam pikiran kita. Ketika kita mendengar khotbah, kita langsung tahu, tetapi tetap harus lewat perjalanan panjang—dengan kesungguhan dari waktu ke waktu, dari hari ke hari.

Itulah pengiringan kita kepada Tuhan yang nyata. Bayangkan kalau kita hanya euforia pada waktu Natal saja, maka kita akan berhenti di situ. Tetapi kalau kita mengerti perjuangan panjang Tuhan Yesus dari kelahiran-Nya sampai kayu salib, dan kita mengikuti jejak Tuhan, barulah kita bisa menghayati bagaimana hidup sebagai anak-anak Allah itu. Hal ini tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata secara lengkap atau utuh, tetapi setiap kita akan dapat mengalami penghayatan sebagai anak-anak Allah. Lalu kita pun memiliki beban seperti beban yang dimiliki oleh Tuhan Yesus Kristus.

Tuhan Yesus menjadi subjek Natal; artinya Tuhan Yesus menjadi Majikan, Pribadi yang kepada-Nya kita hidup. Dia adalah alasan kita hidup. Di sini kita harus tunduk kepada ikatan perjanjian kita dengan Tuhan bahwa Dia telah membeli kita dengan harga yang lunas dibayar. Menolak hal ini berarti menolak penebusan. Sebab Yesus tidak datang untuk berhenti di kota Betlehem. Dia sampai di kayu salib, membeli kita. Dia menebus kita bukan karena kelahiran-Nya, tetapi karena kematian-Nya. Dia menjadi Raja yang mengendalikan dan menguasai hidup kita. Dia menjadi Raja yang memerintah di dalam hidup kita. Selanjutnya, kalau kita benar-benar tunduk kepada-Nya sebagai Raja, maka kita harus berjalan di jalan Tuhan. Kita tidak boleh memiliki jalan sendiri.

Teriring salam dan doa,
Dr. Erastus Sabdono

PERJALANAN PANJANG PERJUANGAN-NYA UNTUK MENCAPAI KESEMPURNAAN, ITULAH YANG HARUS KITA JALANI.

Card image
Bacaan Alkitab Setahun - 27 Desember 2025
2025-12-27 22:54:53

2 Yohanes 1
3 Yohanes 1

Card image
Truth Kids 26 Desember 2025 - MUDA YANG MEMIMPIN
2025-12-26 22:33:27


2 Timotius 3:15
"Ingatlah juga bahwa dari kecil engkau sudah mengenal Kitab Suci yang dapat memberi hikmat kepadamu dan menuntun engkau kepada keselamatan oleh iman kepada Kristus Yesus."

Sobat Truth Kids, kalian pernah nggak diminta tolong untuk menjaga sesuatu yang penting? Misalnya menjaga tas teman atau membawa kunci kelas. Kalau kita dipercaya, biasanya karena orang lain melihat bahwa kita bisa diandalkan.

Nah, di Alkitab ada kisah tentang Timotius. Sejak masih kecil, dia sudah rajin belajar firman Tuhan bersama keluarganya. Firman itu membuat dia menjadi kuat dan semakin mengenal Tuhan. Karena setia dan taat, Paulus percaya kepada Timotius. Bayangkan, anak muda diberi tugas besar untuk memimpin jemaat! Bukan karena Timotius paling pintar, tetapi karena hatinya mau melayani Tuhan dengan sungguh-sungguh. Usia tidak menjadi penghalang bagi Tuhan untuk memakai hidup seseorang.

Kalian juga bisa seperti Timotius. Mulailah dengan rajin membaca Alkitab, berdoa setiap hari, atau membantu guru di sekolah minggu. Hal-hal sederhana itu menunjukkan hati yang mau setia. Di 2 Timotius 3:15 tertulis, “Ingatlah juga bahwa dari kecil engkau sudah mengenal Kitab Suci yang dapat memberi hikmat kepadamu…” Yuk, belajar setia seperti Timotius, supaya hidup kita dipakai Tuhan untuk menjadi berkat bagi banyak orang.

Card image
Truth Junior 26 Desember 2025 - ANAK MUDA YANG DIPERCAYA
2025-12-26 22:31:33


2 Timotius 3:15
“Dan engkau juga tahu, dari masa kanak-kanak engkau sudah mengenal Kitab Suci yang dapat memberi hikmat kepadamu dan menuntun engkau kepada keselamatan oleh iman kepada Kristus Yesus.”

Halo, Sobat Truth Junior! Pernahkah kamu merasa masih terlalu kecil untuk melakukan sesuatu yang penting? Kadang kita berpikir, “Ah, aku kan masih anak-anak.” Tapi tahukah kamu, di Alkitab ada seorang anak muda bernama Timotius yang luar biasa!

Sejak kecil, Timotius sudah diajari Firman Tuhan oleh ibu dan neneknya. Ia rajin belajar, taat, dan setia kepada Tuhan. Karena hatinya yang baik dan tekun, rasul Paulus mempercayainya untuk membantu melayani jemaat. Bahkan, Timotius dipercaya menjadi pemimpin jemaat walaupun usianya masih muda. Wah, hebat ya!

Timotius tidak membiarkan usianya menjadi alasan untuk berhenti melayani Tuhan. Ia melayani dengan rendah hati, rajin berdoa, dan terus belajar Firman Tuhan setiap hari. Karena kesetiaannya, Tuhan memakai Timotius dengan luar biasa untuk menguatkan banyak orang.

Sobat Truth Junior, kamu juga bisa seperti Timotius! Mulailah dari hal-hal kecil: berdoa setiap hari, membaca Alkitab, membantu orang tua, dan berbuat baik kepada teman. Tuhan senang melihat anak-anak yang mau belajar dan setia kepada-Nya. Jangan tunggu besar untuk jadi berkat — kamu bisa mulai hari ini!

Card image
Z - VOTION 26 Desember 2025 (English Version) - THE SAME FOCUS FOR A NEW BEGINNING
2025-12-26 20:39:17


“Let us fix our eyes on Jesus, the pioneer and perfecter of our faith.”
— Hebrews 12:2

A new year often makes us busy writing resolutions: living healthier, being more faithful in spiritual habits, studying consistently, or becoming the “best version” of ourselves. But let’s be honest—most of that excitement usually lasts only a few weeks. After that, we slip back into old habits, lose our direction, and feel like we’ve failed. Maybe the problem isn’t the new year… but where our focus is pointing. After the warm Christmas atmosphere fades, we often forget that the One born in the manger is still supposed to be the center of our journey.

Today’s verse reminds us to “fix our eyes on Jesus.” This means that in the middle of all the new things we want to achieve, our gaze must stay on the same Person—Jesus Christ. The focus isn’t the resolution itself, but the One who gives us strength to carry it out. When our eyes stay on Jesus, our steps remain steady even when seasons change—just like that simple, quiet Christmas night that was filled with certainty because God was there.

Remember Peter when he walked on water. As long as his eyes were on Jesus, he could step on the waves. But the moment he shifted his focus to the storm, he began to sink. We’re no different. When our focus shifts from Jesus to our problems, we get pulled into worry and start losing our direction.

So this new year, it’s okay if your goals aren’t drastically different. What matters is that your focus doesn’t change. Keep your eyes on Jesus—the One who was born to lead your steps, who walks with you each day, and who will guide you until the very end. He isn’t just the destination; He’s also the Way that will carry you there.

WHAT TO DO?
1. Before making new resolutions, ask yourself first: “Does this bring me closer to Jesus?”
2.Every morning, start your day with a simple prayer: “Lord, today I want to stay focused on You.”
3. Write down every time God helps or strengthens you so that you remember that your old focus was never wrong: Jesus remains faithful from beginning to end.

BIBLE MARATHON:
Matthew 24

Card image
Z - VOTION 26 Desember 2025 - FOKUS YANG SAMA UNTUK AWAL YANG BARU
2025-12-26 20:36:01


“Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus, yang memimpin kita dalam iman dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan.”
— Ibrani 12:2

Tahun baru sering bikin kita sibuk bikin resolusi: mau hidup lebih sehat, rajin ibadah, belajar konsisten, atau jadi versi terbaik dari diri sendiri. Tapi jujur saja, sering kali semangat itu cuma bertahan beberapa minggu. Setelah itu, kita balik lagi ke kebiasaan lama, kehilangan arah, dan merasa gagal. Mungkin masalahnya bukan pada tahun barunya, tapi pada fokus kita yang salah arah. Setelah suasana Natal yang hangat mereda, kita sering lupa bahwa Pribadi yang lahir di palungan itu tetap menjadi pusat perjalanan kita.

Ayat hari ini mengingatkan kita untuk “menatap kepada Yesus.” Artinya, di tengah semua hal baru yang ingin kita capai, pandangan kita harus tetap pada Pribadi yang sama—Yesus Kristus. Fokusnya bukan pada resolusi, tapi pada Dia yang memberi kekuatan untuk menjalankan resolusi itu. Kalau mata kita tertuju pada Yesus, langkah kita akan tetap stabil meskipun musim hidup berubah, sama seperti malam Natal yang sederhana tetapi penuh kepastian karena Tuhan hadir di sana.

Ingat Petrus waktu berjalan di atas air: selama matanya tertuju pada Yesus, ia bisa melangkah di atas ombak. Tapi begitu fokusnya beralih ke badai, ia tenggelam. Sama juga dengan kita. Ketika fokus kita beralih dari Yesus ke masalah, kita terseret oleh kekhawatiran dan mulai kehilangan arah.

Jadi di tahun baru ini, nggak masalah kalau targetmu belum banyak berubah. Yang penting, fokusmu jangan berubah. Tetap pandang Yesus—yang lahir untuk memimpin langkah kita, yang menyertai perjalanan kita, dan yang akan menuntun hingga akhir. Dia bukan cuma tujuan, tetapi juga jalan yang akan membawa kita sampai ke sana.

WHAT TO DO?
1. Sebelum bikin resolusi baru, tanya dulu: “Apakah ini membawa aku makin dekat sama Yesus?”
2. Setiap pagi, mulai harimu dengan doa sederhana: “Tuhan, hari ini aku mau tetap fokus pada-Mu.”
3. Catat setiap kali Tuhan menolong atau menguatkanmu biar kamu ingat, bahwa fokus lama itu gak pernah salah: Yesus tetap setia dari awal sampai akhir.

BIBLE MARATHON:
Matius 24

Card image
Renungan Pagi - 26 Desember 2025
2025-12-26 19:18:20


Alkitab berkata kalau garam itu sudah tidak asin lagi, maka akan dibuang dan diinjak-injak orang. Kalau hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada orang Farisi, maka kamu tidak layak bagi Aku.

Pertanyaannya, apakah kita harus jadi orang Farisi? Bisa lihat bahwa orang Farisi melakukan segala sesuatu untuk menutupi kebusukannya.

Tetapi yang Tuhan mau cari adalah orang yang hatinya bersih, yang hatinya tulus, karena itulah yang berkualitas dihadapan Tuhan.

Card image
Quote Of The Day - 26 Desember 2025 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2025-12-26 19:17:34


Hidup ini adalah padang pasir menuju Kanaan Surgawi yang berlimpah dengan segala keindahan sejati dari Allah semesta alam.

Card image
Mutiara Suara Kebenaran - 26 Desember 2025 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2025-12-26 19:16:37


Kita tidak mungkin menjadi utusan Tuhan Yesus tanpa memiliki kualitas seperti Pengutus kita.

Card image
THE TRUE SPIRIT OF CHRISTMAS - 26 Desember 2025 (English Version)
2025-12-26 19:15:02


The Lord Jesus had to walk a long journey that began in Nazareth, continued to the Jordan River where He was baptized, and passed through intense struggles in confronting the stiff-necked and hard-hearted Jewish people. He had to enter the Garden of Gethsemane. He had to face Pilate and the chief priests. He stumbled along the Via Dolorosa all the way to the hill of Golgotha. Finally came His resurrection in the garden tomb of Joseph of Arimathea. And it did not stop there. His resurrection then gave a mandate to believers: “All authority in heaven and on earth is now in My hands.” This statement contains a calling and a responsibility for us: Jesus has completed His work on the cross, and Satan no longer has a place in heaven. Now, on earth, it is we who must carry it forward. Just as the Father sent Jesus, now Jesus sends us.

Therefore, when today we celebrate Christmas, we are commemorating the first step of Jesus’ mission. It can also serve as an inspiration for us: it marks the first step for us as well. We are the ones who must continue this work of salvation. For celebrating Christmas does not mean that we are already saved. Precisely because salvation has been given by God, we bear the responsibility of participating in the process of working out our salvation. How do we fulfill the purpose for which salvation was given? That is, by allowing our character to be transformed. For it is impossible for us to be messengers of the Lord Jesus without possessing qualities that reflect the One who sends us.

In Revelation 12:10–11, Satan is defeated by two factors. The first is the blood of Jesus. The second is the testimony of those who did not love their lives even unto death. The first is clear: the blood poured out on the hill of Calvary. The second is the testimony of believers who did not spare their lives. Who are they? We are. We are the ones who must continue this struggle. Therefore, when we celebrate Christmas, there should be a burden in our hearts, because the struggle is not yet finished. We are only at the beginning. Yet we must dare to “lose our lives,” just as Jesus emptied Himself. How do we complete this task? First, by giving no foothold to Satan. Satan must have no place in our lives. To be messengers of God, we must not open ourselves to the powers of darkness. We must live as Jesus lived. We have to change.

As our faith grows and our spiritual maturity deepens, each year that we celebrate Christmas, we should carry an increasingly heavier burden-not one of empty euphoria or shallow joy. Every time we celebrate Christmas, we look again at the struggle of the Lord Jesus-how He began by emptying Himself. And after He completed everything, all authority in heaven and on earth was placed in His hands. He has defeated Satan and cast him down from heaven to earth. Now it is we who must complete this remaining part.

How heavy this burden truly is. It cannot be denied that many Christmas services and celebrations place Jesus merely as an object-far from making Him the subject of our lives. If this is indeed the case, it would actually be better not to celebrate Christmas at all, rather than celebrating it while treating Him only as an object.

For He is no longer a small baby. He seems to be “weeping” over the world, as if saying: “See how I emptied Myself, leaving behind all My glory. I have completed this task. Now you, who claim to believe in Me, who claim to follow Me, do as I have done.” For following the Lord Jesus means continuing to follow Him along the Via Dolorosa-even unto the cross-just as Paul testified: becoming like Him in His death. He is no longer a baby, and we must no longer be baby Christians-Christians without responsibility, Christians without burden-who fail to see how evil this world is as it drags many into eternal darkness.

He is waiting for those who are willing to suffer together with Him. For His Kingdom will surely come when the number of those who are like Him has been fulfilled. When we celebrate Christmas in this way, our hearts become heavy, even sorrowful-not euphoric. New believers, still spiritual infants, may celebrate with feasting.

Suffering, humility, self-emptying-this is the true spirit of Christmas. When we sing and praise God, it's not wrong, but behind all that joy, the true spirit must still be present, which is the divine burden we bear together with Christ.

SUFFERING, HUMILITY, SELF-EMPTYING-THIS IS THE TRUE SPIRIT OF CHRISTMAS.

Card image
SPIRIT NATAL YANG BENAR - 26 Desember 2025
2025-12-26 19:08:01


Tuhan Yesus harus meniti perjalanan panjang yang dimulai dari Nazaret, Sungai Yordan ketika dibaptis, melewati pergumulan berat menghadapi bangsa Yahudi yang tegar tengkuk dan keras kepala. Ia harus masuk Taman Getsemani, Ia harus menghadapi Pilatus dan imam besar. Ia harus terseok-seok di sepanjang Via Dolorosa sampai di bukit Golgota. Akhirnya, kebangkitan-Nya di taman makam Yusuf Arimatea. Dan bukan hanya sampai di situ. Kebangkitan-Nya kemudian memberikan mandat kepada orang percaya: “Sekarang segala kuasa di surga dan di bumi di tangan-Ku.” Pernyataan ini mengandung panggilan dan tanggung jawab bagi kita, bahwa Yesus sudah menyelesaikan karya-Nya di kayu salib, dan Iblis tidak mendapat tempat lagi di surga. Sekarang, di bumi, kitalah yang harus meneruskannya. Sebagaimana Bapa mengutus Yesus, sekarang Yesus mengutus kita.

Jadi, ketika hari ini kita merayakan Natal, kita sedang memperingati langkah awal bagi Yesus. Itu juga bisa menjadi inspirasi bagi kita: ini langkah awal bagi kita. Kitalah yang harus meneruskan karya keselamatan ini. Sebab dengan kita merayakan Natal bukan berarti kita sudah selamat. Justru karena keselamatan diberikan Tuhan, kita mempunyai tanggung jawab untuk masuk dalam proses mengerjakan keselamatan. Bagaimana kita mencapai maksud keselamatan itu diadakan? Yaitu agar karakter kita diubah. Sebab kita tidak mungkin menjadi utusan Tuhan Yesus tanpa memiliki kualitas seperti Pengutus kita.

Dalam Wahyu 12:10–11, Iblis dikalahkan dengan dua faktor. Yang pertama, darah Yesus. Yang kedua, kesaksian orang-orang yang tidak menyayangkan nyawanya. Yang pertama jelas: darah yang ditumpahkan di bukit Kalvari. Yang kedua adalah kesaksian orang percaya yang tidak menyayangkan nyawanya. Siapa mereka? Kita. Kita yang harus meneruskan perjuangan ini. Seharusnya, ketika kita merayakan Natal, ada beban di dalam hati kita, sebab perjuangan itu belum selesai. Kita baru mulai. Namun kita harus berani “kehilangan nyawa” seperti Yesus mengosongkan diri. Bagaimana kita menyelesaikan tugas itu? Pertama, tidak memberi tempat berpijak kepada Iblis. Iblis jangan punya tempat berpijak dalam hidup kita. Untuk menjadi utusan Tuhan, kita tidak boleh membuka diri terhadap kuasa kegelapan. Kita harus hidup seperti Yesus hidup. Kita harus berubah.

Seiring dengan pertumbuhan iman dan kedewasaan rohani, setiap tahun kita merayakan Natal, seharusnya kita semakin memiliki beban yang dalam. Bukan dalam euforia atau sukacita kosong. Setiap kali kita merayakan Natal, kita melihat kembali perjuangan Tuhan Yesus—bagaimana Ia memulai dengan mengosongkan diri. Dan setelah Ia menyelesaikan semuanya, segala kuasa di surga dan di bumi ada di tangan-Nya. Ia sudah mengalahkan Iblis dan menarik Iblis dari surga turun ke bumi. Sekarang, kitalah yang harus menyelesaikan bagian ini.

Betapa berat beban ini. Tidak bisa disangkal, sering kali kebaktian dan perayaan Natal hanya menempatkan Yesus sebagai objek. Jauh dari menjadikan Dia sebagai subjek dalam hidup kita. Jika demikian, sesungguhnya lebih baik kita tidak merayakan Natal sama sekali, daripada merayakan Natal tetapi hanya menjadikan Dia sebagai objek.

Padahal Dia bukan lagi bayi kecil. Ia seakan sedang “menangisi” dunia, seolah berkata, “Lihat bagaimana Aku mengosongkan diri, meninggalkan segala kemuliaan. Aku sudah menyelesaikan tugas ini. Sekarang engkau, yang mengaku percaya kepada-Ku, yang mengaku mengikut Aku, lakukan seperti yang Aku lakukan.” Sebab mengikut Tuhan Yesus berarti harus terus mengikut Dia di Via Dolorosa, bahkan sampai disalib, seperti yang Paulus saksikan: menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya. Ia bukan bayi kecil lagi, dan kita pun jangan menjadi orang Kristen bayi—Kristen tanpa tanggung jawab, Kristen tanpa beban—yang tidak melihat betapa jahatnya dunia ini menyeret banyak orang menuju kegelapan abadi.

Dia sedang menantikan orang-orang yang bersedia menderita bersama-sama dengan Dia. Sebab Kerajaan-Nya pasti akan hadir, ketika jumlah orang-orang yang seperti Dia sudah genap. Justru ketika kita merayakan Natal seperti ini, hati kita menjadi sedih, kita merasa susah—bukan dalam euforia. Orang Kristen baru, yang masih bayi, mungkin berpesta.

Penderitaan, perendahan diri, pengosongan diri. ltulah spirit Natal yang benar. Bila kita menyanyi dan memuji Tuhan, itu bukan sesuatu yang salah, tetapi di balik semua sukacita itu spirit yang benar harus tetap dihadirkan, yaitu beban ilahi yang kita pikul bersama Kristus.

Teriring salam dan doa,
Dr. Erastus Sabdono

PENDERITAAN, PERENDAHAN DIRI, PENGOSONGAN DIRI. ITULAH SPIRIT NATAL YANG BENAR.

Card image
Bacaan Alkitab Setahun - 26 Desember 2025
2025-12-26 19:00:52

1 Yohanes 1-5

Card image
Truth Kids 25 Desember 2025 - HADIAH TERBAIK
2025-12-26 18:46:28


Kisah Para Rasul 10:1–2
"Di Kaisarea ada seorang yang bernama Kornelius… Ia saleh, ia serta seisi rumahnya takut akan Allah dan ia memberi banyak sedekah… dan senantiasa berdoa kepada Allah."

Selamat Hari Natal, Sobat Truth Kids! Biasanya saat ada ulang tahun, kita menyiapkan hadiah spesial. Tapi bagaimana dengan ulang tahun Yesus? Hadiah apa yang bisa kita berikan kepada Tuhan Yesus hari ini? Kalau masih bingung, mari belajar dari kisah seorang tokoh Alkitab bernama Kornelius.

Kornelius adalah pemimpin pasukan Italia yang besar dan hebat. Tapi ia tidak sombong. Ia dan keluarganya takut akan Tuhan, rajin berdoa, dan suka memberi kepada orang lain. Walaupun punya jabatan tinggi, Kornelius tetap rendah hati dan taat kepada Allah — itulah hadiah hidupnya bagi Tuhan.

Meskipun kita bukan pemimpin pasukan seperti Kornelius, kita bisa meneladani sikap hatinya. Saat kita rajin berdoa, menolong teman, dan mendengarkan orang tua, itu sudah menjadi hadiah indah untuk Tuhan Yesus.

Yuk, Sobat Truth Kids, di Hari Natal ini kita berikan yang terbaik untuk Tuhan — hati yang taat, tangan yang suka memberi, dan hidup yang menyenangkan Tuhan setiap hari. Selamat merayakan Natal dengan sukacita dan kasih!

Card image
Truth Junior 25 Desember 2025 - PERWIRA YANG TAAT
2025-12-26 18:44:58


Kisah Para Rasul 10:1–2
“Ada di Kaisarea seorang bernama Kornelius, seorang perwira pasukan yang disebut pasukan Italia. Ia saleh, ia serta seisi rumahnya takut akan Allah, dan ia memberi banyak sedekah kepada orang Yahudi serta senantiasa berdoa kepada Allah.”

Halo, Sobat Truth Junior! Kamu pernah lihat polisi atau tentara? Mereka punya tugas menjaga keamanan dan melindungi banyak orang. Nah, di Alkitab juga ada seorang perwira bernama Kornelius. Ia bukan hanya berani dan kuat, tapi juga punya hati yang takut akan Allah. Artinya, Kornelius menghormati dan taat kepada Tuhan.

Kornelius rajin berdoa dan suka menolong orang miskin. Walaupun ia memiliki jabatan penting, ia tidak sombong. Ia tetap rendah hati dan selalu melakukan yang benar. Karena hatinya yang tulus, Tuhan memperhatikan Kornelius. Suatu hari, Allah mengutus Petrus untuk datang dan memberitakan tentang Yesus kepadanya. Dari situ, Kornelius dan seluruh keluarganya mengenal Tuhan Yesus dan diselamatkan!

Sobat Truth Junior, dari Kornelius kita belajar bahwa Tuhan senang kepada anak-anak yang rajin berdoa, mau berbagi, dan hidup benar. Dan di masa Natal ini, kita pun bisa meneladani Kornelius dengan berbagi kasih kepada sesama—menolong teman yang membutuhkan, memberi dengan sukacita, dan tetap rendah hati seperti Yesus yang lahir dengan sederhana di kandang domba.

Natal bukan hanya tentang hadiah atau perayaan, tapi tentang hati yang taat dan penuh kasih. Yuk, Sobat Truth Junior, rayakan Natal dengan hati yang murni seperti Kornelius: taat kepada Tuhan, setia berdoa, dan membawa kasih Yesus ke mana pun kita pergi!

Card image
Z - VOTION 25 Desember 2025 (English Version) - ETERNAL FOCUS IN A CHANGING WORLD
2025-12-26 18:42:03


“Jesus Christ is the same yesterday and today and forever.” — Hebrews 13:8

Christmas always brings a warm atmosphere—lights, decorations, special services, and moments of reflection. Then just a few days later, we enter the new year with fresh excitement. Our feeds get flooded with resolutions, goals, and “new year, new me” energy. But in the middle of all the changes—new trends, new technologies, even new versions of ourselves—there is one Person who never changes: Jesus, the Prince of Peace we celebrate at Christmas.

Sometimes we’re so busy chasing new things that we forget the center of Christmas itself. We change lifestyles, shift goals, adjust our circle, but often forget the old focus: Jesus, the bringer of peace who was born, wrapped in cloths, and laid in a simple manger. Without Him, every self-improvement effort becomes just another long list with no real meaning.

Year-end renewal is only the beginning. The real challenge is this: in the middle of fast-paced change and the excitement of a new year, are we still fixing our eyes on Christ? A Christian creator, Yosia Adi, once said, “The year may change, but our gaze must remain on Christ.” It reminds us that true transformation only matters when it’s rooted in the One who never changes.

So this Christmas and as we head into the new year, let’s not just make resolutions—let’s reorient our focus. Don’t let the busyness of the world pull your eyes away from Jesus, who came in a quiet night to bring peace. The world will always change, but the Jesus who entered our world in stillness remains the unshakable center. And choosing to follow Him is the best Christmas gift and the best resolution we could ever make this year.

WHAT TO DO?
1. Write down one thing you want to renew this year and then reflect: does it bring you closer to Jesus or further away?
2. Every morning during the first week of this year, take 10 minutes to read Hebrews 13:8 and say in prayer: “Lord, You remain the same. Help me to stay focused on You.”
3. Create a simple vision board with verses, keywords, or images that remind you to keep Jesus at the center of all your plans and activities this year. Put it somewhere you see often so your focus doesn’t easily shift.

BIBLE MARATHON:
Matthew 23

Card image
Z - VOTION 25 Desember 2025 - FOKUS ABADI DI TENGAH PERUBAHAN DUNIA
2025-12-26 18:24:23


“Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya.”
— Ibrani 13:8

Natal selalu membawa suasana hangat—lampu-lampu, dekorasi, ibadah khusus, dan momen refleksi. Lalu beberapa hari setelahnya, kita masuk ke tahun baru dengan semangat baru. Feed dipenuhi resolusi, target, dan “new year, new me.” Tapi di tengah semua perubahan—tren baru, teknologi baru, bahkan versi diri yang baru—ada satu pribadi yang tidak pernah berubah: Yesus, Sang Raja Damai yang kita rayakan di Natal.

Kadang kita begitu sibuk ngejar hal-hal baru sampai lupa pada pusat dari Natal itu sendiri. Kita ganti gaya hidup, ganti tujuan, ganti circle, tapi sering melupakan fokus lama: Yesus, pembawa damai yang telah lahir dan dibungkusnya dengan lampin dan dibaringkannya di dalam palungan serderhana. Tanpa Dia, semua usaha perbaikan diri hanya menjadi daftar panjang tanpa makna.

Pembaruan setiap akhir tahun hanyalah langkah awal. Tantangannya adalah: di tengah perubahan cepat dan euforia pergantian tahun, apakah kita masih memandang pada Kristus? Seorang kreator Kristen, Yosia Adi, pernah berkata, “Tahun boleh berganti, tapi arah pandang kita harus tetap ke Kristus.” Itu mengingatkan kita bahwa perubahan sejati hanya berarti jika berakar pada Pribadi yang tidak berubah.

Maka di hari Natal dan menjelang tahun baru ini, yuk kita bukan hanya bikin resolusi, tapi juga reorientasi fokus kita. Jangan biarkan kesibukan dunia mengalihkan pandangan dari Yesus yang lahir untuk membawa damai. Dunia akan selalu berubah, tapi Yesus yang datang di malam sunyi tetap menjadi pusat yang teguh. Dan mengikuti-Nya adalah hadiah Natal dan resolusi terbaik yang bisa kita ambil tahun ini.

WHAT TO DO?
1. Tulis satu hal yang kamu mau perbarui tahun ini lalu renungkan: apakah hal itu membuat kamu semakin dekat dengan Yesus atau malah menjauh?
2. Setiap pagi minggu pertama tahun ini, ambil waktu 10 menit buat baca Ibrani 13:8 dan ucapkan dalam doa: “Tuhan, Engkau tetap sama. Bantu aku tetap fokus pada-Mu.”
3. Buat satu papan visi sederhana yang berisi ayat, kata kunci, atau gambar yang mengingatkan kamu untuk tetap menjadikan Yesus sebagai pusat dari semua rencana dan aktivitasmu tahun ini. Tempel di tempat yang sering kamu lihat supaya fokusmu gak mudah bergeser.

BIBLE MARATHON:
Matius 23

Card image
Renungan Pagi - 25 Desember 2025
2025-12-26 18:20:48


Orang beriman bukanlah orang yang menghafal firman melainkan orang yang mempraktekkan firman dalam hidupnya.

Jadi iman bukan diukur dari berapa banyak firman yang kita hafal; iman bukan diukur dari berapa banyak waktu yang kita luangkan untuk kegiatan-kegiatan rohani.

Tapi iman adalah soal bagaimana kita melekat dan menjalin hubungan pribadi yang intim dengan Tuhan.

Card image
Quote Of The Day - 25 Desember 2025 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2025-12-26 18:19:59


Kita harus selalu sadar adanya kuasa gelap yang berusaha bukan hanya memperlambat kecepatan langkah kita, melainkan juga bisa menyimpangkan dan bisa menghentikan perjalanan hidup kita.

Card image
Mutiara Suara Kebenaran - 25 Desember 2025 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2025-12-26 18:19:08


Menoreh sejarah Kerajaan Allah berarti menjalani hidup yang tidak lagi berpusat pada diri, tetapi pada kehendak Bapa.

Card image
STRIVING TO FULFILL THE PURPOSE OF HIS COMING - 25 Desember 2025 (English Version)
2025-12-26 18:18:07


There are two major mistakes many Christians make when celebrating Christmas, as is happening in many places today.

The first mistake is that many Christians believe that Christmas automatically makes them saved. They feel entitled to think of themselves as God’s people, assured that they have a right to enter heaven. For them, it is enough to acknowledge Jesus as Savior, which is why many Christians celebrate Christmas without a sense of responsibility—blind to their calling as God’s chosen people. No wonder, then, that their Christian lives show no significant change from year to year. They already feel secure as God’s chosen, members of His Kingdom, sympathizers of Jesus, and confident of their salvation.

The second mistake is that many Christians think the work of salvation for the world is already finished—because from island to island, from continent to continent, songs of praise resound. It is as though the gospel has been fully proclaimed and God’s purpose of salvation for the world has been completely accomplished, leaving no struggle left to fight. Because of this mindset, Christmas is celebrated with joy but without burden. Yet every time Christmas is celebrated, Christians should be reminded of the immense struggle that Jesus endured. For mature and spiritually discerning believers, every Christmas should evoke a deep sense of responsibility, realizing that salvation’s purpose is not yet complete—it must continue until the full intent of Jesus’ coming is fulfilled.

Through the coming of Jesus Christ, those who receive Him as Savior must strive to fulfill the purpose of His coming. By His coming and victory on the cross, the first result is that the devil no longer has a foothold in heaven (Revelation 12:10–11). But the devil still has a foothold on earth—and now it is our task to bring that to an end. Most of us have heard the Lord’s command: “Go and make disciples of all nations.” But that command begins with Jesus’ declaration in Matthew 28:18: “All authority in heaven and on earth has been given to Me.” What does this truly mean to us? Let us seriously consider this statement and seek its original, true, and genuine meaning.

We must not associate this “authority” merely with outward or physical things. The word exousia (“authority”) indeed means “right” but also “power” or “dominion” to rule and to govern. People often associate it with healing, miracles, and casting out demons—and that is not wrong, for those are part of it—but that is not the essence.

Secondly, the world will continue to experience turmoil as it approaches the new age. These upheavals must take place before Jesus comes to establish His Kingdom (Revelation 5:5). When John was on the island of Patmos, he wept because no one was found worthy to open the scroll. But one of the elders said, “Do not weep! Behold, the Lion of the tribe of Judah, the Root of David, has triumphed; He can open the scroll and its seven seals.”

When the seals were opened, the white horse appeared—followed by the others. These horses symbolize the upheavals that God Himself permits. Now control rests in the hands of the Lord, for these events are part of the preparation for the Kingdom of Jesus Christ—the new world long awaited by Abraham and all the righteous of old.

All this time, we have celebrated Christmas as immature Christians. Many Christmas events turn Jesus into an object. With the assumption that He came as a helpless baby in a manger, we indulge in nostalgic reflection on a heroic historical moment. We feel as though we are expressing support and participation in His struggle—or at least showing sympathy and approval toward His heroism. Once we do that, we think we are already on God’s side.

But is the Lord Jesus truly pleased with such an attitude?* It is not entirely wrong—but it is incomplete. We must view history and God’s salvation project as a whole. The saving mission of Jesus Christ did not end in Bethlehem—that was only the beginning of His struggle. If He had not continued all the way to Calvary and to His resurrection from Joseph of Arimathea’s tomb, there would have been no salvation at all.

THROUGH THE COMING OF JESUS CHRIST, THOSE WHO RECEIVE HIM AS SAVIOR MUST STRIVE TO FULFILL THE PURPOSE OF HIS COMING.

Card image
BERJUANG MEMENUHI MAKSUD KEDATANGAN-NYA - 25 Desember 2025
2025-12-26 18:16:35


Ada dua kesalahan besar banyak orang Kristen dalam merayakan Natal, seperti yang terjadi sekarang ini di banyak tempat. Kesalahan pertama, banyak orang Kristen merasa bahwa Natal membuat orang Kristen otomatis sudah selamat. Mereka merasa berhak meyakini bahwa dirinya adalah umat Tuhan, berhak meyakini bahwa ia boleh masuk surga. Bagi mereka, yang penting sudah mengakui bahwa Yesus adalah Juru Selamat. Inilah yang membuat banyak orang Kristen merayakan Natal tanpa tanggung jawab; orang-orang Kristen yang buta terhadap panggilan sebagai umat pilihan. Jadi tidak heran kalau dari tahun ke tahun, hidup kekristenannya tidak berubah secara signifikan, sebab merasa bahwa sudah menjadi umat pilihan, menjadi anggota keluarga Kerajaan, bersimpati kepada Tuhan Yesus, dan meyakini keselamatannya.

Yang kedua, banyak orang Kristen merasa bahwa proyek keselamatan bagi dunia sudah selesai, sebab dari pulau ke pulau, dari benua ke benua, terdengar terus pujian. Seakan-akan berita Injil sudah usai diberitakan, dan maksud keselamatan yang Tuhan sediakan bagi dunia sudah selesai, sehingga tidak perlu lagi ada perjuangan yang berarti. Karena hal ini, Natal dirayakan dengan sukacita tanpa beban sama sekali. Padahal seharusnya, setiap kali Natal dirayakan, orang Kristen diingatkan akan perjuangan yang begitu berat yang dikerjakan oleh Tuhan Yesus. Setiap kali Natal dirayakan, bagi orang Kristen yang dewasa, yang akil-balik, yang mengerti kebenaran, justru akan merasakan beban yang dalam, sebab keselamatan belum selesai dalam arti harus terus diteruskan, agar maksud kedatangan Tuhan Yesus itu benar-benar digenapi atau dipenuhi.

Dengan kedatangan Tuhan Yesus, orang yang menerima Dia sebagai Juru Selamat harus berjuang memenuhi maksud kedatangan-Nya. Dengan kedatangan-Nya dan kemenangan-Nya di kayu salib, maka yang pertama, Iblis tidak memiliki tempat berpijak lagi di surga (Why. 12:10–11). Tetapi Iblis masih memiliki tempat berpijak di bumi, dan sekarang adalah tugas kita menyelesaikannya. Sebagian besar kita pasti pernah mendengar apa yang diamanatkan Tuhan: “Jadikan semua bangsa murid-Ku.” Tetapi perintah itu diawali dengan kalimat dalam Matius 28:18, “Segala kuasa di surga dan di bumi telah diberikan kepada-Ku.” Kira-kira apa yang ada dalam benak kita dalam memahami pernyataan Tuhan ini? Marilah kita memperkarakan hal ini dan menemukan makna orisinal, makna yang sejati, makna yang benar dari pernyataan Tuhan tersebut.

Kiranya kita tidak menghubungkan “kuasa” ini hanya dengan hal lahiriah atau fisik. Kata “kuasa” (exousia) memang berarti juga “hak”, tetapi juga berarti “otoritas” untuk menguasai atau mengontrol. Biasanya orang menghubungkannya dengan kesembuhan, mukjizat, dan pengusiran setan. Itu tidak salah—itu bagian di dalamnya—tetapi intinya bukan itu.

Yang kedua, dunia akan terus mengalami pergolakan menjelang zaman baru. Pergolakan-pergolakan harus terjadi sebelum Tuhan Yesus datang dan membangun Kerajaan-Nya (Why. 5:5). Ketika Yohanes berada di Pulau Patmos, ia melihat tidak ada yang bisa membuka meterai, sehingga ia menangis. Tetapi seorang dari tua-tua berkata, “Jangan menangis! Sesungguhnya, Singa dari suku Yehuda, yaitu Tunas Daud, telah menang, sehingga Ia dapat membuka gulungan kitab itu dan ketujuh meterainya.”

Meterai dibuka, kuda putih muncul, lalu kuda-kuda berikutnya muncul. Kuda-kuda itu berbicara mengenai pergolakan-pergolakan yang Tuhan legalkan. Sekarang kontrol ada di tangan Tuhan, sebab ini merupakan persiapan dari Kerajaan Tuhan Yesus yang akan dihadirkan, dunia baru yang dinantikan oleh Abraham dan semua orang saleh masa lalu.

Selama ini kita merayakan Natal sebagai orang Kristen yang tidak dewasa. Banyak acara Natal hanya menjadikan Yesus sebagai objek. Dengan asumsi bahwa Dia datang sebagai bayi kecil yang hina dan tidak berdaya di palungan, lalu kita semua bernostalgia terhadap peristiwa sejarah yang memang heroik itu. Kita merasa sedang menunjukkan dukungan dan partisipasi terhadap perjuangan Tuhan Yesus, atau paling tidak menunjukkan simpati dan persetujuan kita terhadap kepahlawanan-Nya. Kalau sudah demikian, kita merasa sudah berada di pihak Tuhan.

Pertanyaannya, cukup puaskah Tuhan Yesus dengan sikap seperti ini? Tentu hal ini bukan sikap yang sepenuhnya keliru, bukan salah sama sekali. Tetapi kita harus melihat sejarah dan proyek keselamatan secara utuh. Kita harus memahami bahwa tugas penyelamatan Tuhan Yesus bukan hanya sampai di Betlehem; itu baru merupakan perjuangan awal. Sebab, kalau Dia tidak menuntaskan sampai bukit Kalvari dan kebangkitan-Nya di makam Yusuf Arimatea, maka tidak pernah ada keselamatan.

Teriring salam dan doa,
Dr. Erastus Sabdono

DENGAN KEDATANGAN TUHAN YESUS, ORANG YANG MENERIMA DIA SEBAGAI JURU SELAMAT HARUS BERJUANG MEMENUHI MAKSUD KEDATANGAN-NYA.

Card image
Bacaan Alkitab Setahun - 25 Desember 2025
2025-12-26 18:08:51

2 Petrus 1-3
Yudas 1

Card image
Truth Kids 24 Desember 2025 - ANAK PENGHIBURAN
2025-12-26 00:07:31


Kisah Para Rasul 11:24
"Karena Barnabas adalah orang baik, penuh dengan Roh Kudus dan iman. Sejumlah orang dibawa kepada Tuhan."

Sobat Truth Kids, di malam Natal yang indah ini, yuk kita menjadi anak yang membawa penghiburan dan sukacita. Menjadi anak penghiburan artinya membuat orang di sekitar kita — seperti papa, mama, dan saudara — merasa senang dan diberkati. Natal bukan hanya tentang hiasan dan lagu indah, tapi tentang hati yang penuh kasih seperti Yesus.

Tokoh Alkitab yang kita pelajari hari ini adalah Barnabas, yang artinya “anak penghiburan.” Ia menolong Paulus supaya diterima oleh orang-orang Kristen, padahal dulunya Paulus dikenal sebagai orang yang jahat. Tapi Barnabas percaya bahwa Tuhan bisa mengubah hati Paulus. Ia memberi semangat, penghiburan, dan dukungan, hingga Paulus menjadi pahlawan iman yang luar biasa.

Sobat Truth Kids juga bisa seperti Barnabas! Misalnya, dengan membantu orang tua di rumah, berkata sopan saat pergi beribadah, dan tidak rewel ketika harus menunggu lama. Sikap-sikap kecil seperti itu bisa membawa sukacita bagi orang lain dan menjadi hadiah Natal yang berharga untuk Tuhan.

Jadi, yuk kita buat malam Natal ini penuh sukacita, bukan hanya untuk diri sendiri, tapi juga untuk keluarga dan orang-orang di sekitarmu. Mari kita jadi anak-anak yang membawa damai, semangat, dan penghiburan — seperti Barnabas, sang anak penghiburan!

Card image
Truth Junior 24 Desember 2025 - JADI TEMAN YANG MENGUATKAN
2025-12-26 00:05:20


Kisah Para Rasul 11:24
“Karena Barnabas adalah orang baik, penuh dengan Roh Kudus dan iman. Sejumlah orang dibawa kepada Tuhan.”

Halo, Sobat Truth Junior! Pernah nggak kamu merasa sedih karena dimarahi guru, gagal ujian, atau bertengkar dengan teman? Rasanya nggak enak, ya. Tapi pasti kamu juga pernah punya teman yang datang dan berkata, “Nggak apa-apa, kamu pasti bisa!” Nah, teman seperti itu membuat hati jadi tenang dan semangat lagi.

Di Alkitab, ada seorang yang bernama Barnabas. Namanya berarti anak penghiburan. Artinya, Barnabas suka menghibur dan menguatkan orang lain. Ketika Paulus baru bertobat dan banyak orang belum percaya kepadanya, Barnabas datang membantu. Ia membela Paulus supaya diterima oleh jemaat. Barnabas juga suka mendorong orang lain untuk terus percaya dan setia kepada Tuhan.

Sobat Truth Junior, kita juga bisa jadi seperti Barnabas, lho! Kalau ada teman yang sedih, kita bisa berkata yang baik untuk menghiburnya. Kalau ada teman yang jatuh, kita bantu dia bangkit lagi. Jangan suka mengejek atau menjauh dari teman yang sedang kesusahan.

Dengan hati yang penuh kasih dari Tuhan Yesus, kita bisa membawa semangat dan sukacita kepada orang lain. Jadi, yuk jadi teman yang menguatkan—teman yang penuh kasih, sabar, dan bisa membuat orang lain lebih dekat dengan Tuhan!

Card image
Z - VOTION 24 Desember 2025 (English Version) - START AGAIN, BUT WITH HIM
2025-12-25 23:52:08


“Look, I am making everything new.” — Revelation 21:5a

The end of the year often makes us reflect what went well, what failed, who left, and what we want to change. We all want a fresh start, but we often forget one important thing: starting without God means repeating the same mistakes. Jesus isn’t just the Lord of your past He’s the Lord of every new beginning.

He’s not waiting for you to be perfect before you start again; He’s just waiting for you to come and say, “Lord, I want to walk with You again.” New Year’s resolutions often sound like “be more productive,” “get healthier,” or “be more successful.” But what matters most isn’t what we chase it’s who we follow. Without Jesus at the center, every plan is just an empty list. But with Him, even the smallest step holds eternal meaning.

So before you write your long list of resolutions, ask this first: “Lord, what do You want me to start again with You?” Because every true beginning starts in His presence.

WHAT TO DO?
1. Take some time today to reflect on 2025. Write down three things you’re grateful for and one thing you want to surrender to God for renewal.
2. Pray a simple prayer: “Lord, I want to start again but this time, not alone.”
3. Trade resolution for relationship. Focus on building a deeper connection with Jesus, and let everything else flow from there.

BIBLE MARATHON:
Matthew 22

Card image
Z - VOTION 24 Desember 2025 - MULAI LAGI, TAPI BERSAMA DIA
2025-12-25 23:50:23


_“Lihat, Aku menjadikan segala sesuatu baru.”
— Wahyu 21:5a

Akhir tahun sering bikin kita mikir ulang : apa yang berhasil, apa yang gagal, siapa yang pergi, dan apa yang mau diperbaiki. Kita semua punya keinginan untuk “mulai lagi,” tapi sering lupa hal paling penting—memulai tanpa Tuhan hanya membuat kita mengulang kesalahan yang sama. Yesus bukan hanya Tuhan di masa lalu, tetapi Tuhan di setiap awal yang baru. Dia nggak nunggu kamu jadi sempurna untuk memulai ulang; Dia hanya menunggu kamu datang dan berkata, “Tuhan, aku mau jalan lagi bareng Engkau.”

Tahun baru biasanya penuh resolusi: mau lebih produktif, lebih sehat, lebih sukses. Tapi yang paling penting bukan apa yang kita kejar, melainkan siapa yang kita ikuti. Tanpa Yesus di tengahnya, setiap rencana hanya jadi daftar kosong. Tapi bersama Dia, langkah kecil pun bisa punya makna kekal. Jadi sebelum kamu nulis resolusi panjang, coba tanya dulu: “Tuhan, apa yang Engkau mau aku mulai lagi bersama-Mu?” Karena setiap awal yang sejati selalu dimulai dari hadirat-Nya.

WHAT TO DO?
1. Ambil waktu hari ini buat refleksi tahun 2025. Tulis tiga hal yang kamu syukuri dan satu hal yang mau kamu serahkan pada Tuhan untuk dibarui.
2. Buat satu doa sederhana: “Tuhan, aku mau mulai lagi. Tapi kali ini, bukan sendiri.”
3. Ganti resolusi dengan relasi. Fokus dulu pada membangun hubungan yang lebih dalam dengan Yesus biar dari situ, semua hal lain mengalir dengan benar.

BIBLE MARATHON:
Matius 22

Card image
Renungan Pagi - 24 Desember 2025
2025-12-25 23:18:42


Bilakah persembahan atau pelayanan kita disebut jahat? Yaitu jika tidak melakukannya dari hati yang mengasihi Tuhan, karena Tuhan tidak hanya melihat luarnya, tetapi Tuhan melihat hati kita.

Ada banyak orang beribadah, bahkan melayani Tuhan, tetapi memakai topeng kepalsuan supaya dapat dilihat orang bahwa dia orang yang baik. Itulah persembahan yang jahat di hadapan Tuhan, dan persembahan ibadah seperti itu tidak akan diterima oleh Tuhan.

Card image
Quote Of The Day - 24 Desember 2025 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2025-12-25 23:17:36


Kita harus terus merenungkan hal ini: “Sejauh ini, apakah aku sudah menjadi rancangan yang memuaskan hati Allah? Dengan usia seperti ini, apakah aku sudah menjadi seorang seperti yang Allah kehendaki?”

Card image
Mutiara Suara Kebenaran - 24 Desember 2025 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2025-12-25 23:16:40


Kemarahan yang benar, mengarahkan seseorang untuk memperjuangkan apa yang benar di mata Allah, bukan apa yang nyaman bagi diri sendiri.

Card image
PRECIOUS IN THE EYES OF GOD - 24 Desember 2025 (English Version)
2025-12-25 23:15:29


The shepherds in the fields of Ephrathah did not consider their flocks more valuable than the blessing of Christmas. They could have lost some, or even many, of their sheep—but meeting the Messiah was far more critical and infinitely more precious. The same was true of the Magi who came to worship the King of the Jews—the Savior whom they regarded as more valuable than their wealth and even their very lives. It is quite possible that they never returned to their homeland. By every human calculation, they risked losing everything. Yet they were willing to pay the price for an encounter with the Messiah, the newborn King. They were brave enough to let go of all things for the sake of meeting Him.

One vital truth we must understand is this: Christianity is not an easy road. Yet many Christians today treat salvation as something cheap. As long as they celebrate Christmas, they feel secure. A mere acknowledgment of the historical fact that Jesus the Savior has come is seen as enough to place them among the saved. But salvation is not cheap. Scripture says that believers must work out their salvation with fear and trembling. It is simple logic—how could the Lord Jesus welcome into His Kingdom those who have lived carelessly and selfishly?

We must be honest: the Christianity practiced by many believers today values the world more than God. It seeks to satisfy the flesh rather than to do the Father’s will. It still indulges in lust and greed, still clings to worldly wealth, and, in practice, treats God as unnecessary in daily life—confined only to church matters, and this is tragic. That is why we must seriously ask: When we stand before Jesus one day, will we be found precious in His sight? The answer depends on how precious He is to us now.

Yes, we are all precious in the eyes of God—that is why Jesus died on the cross and gave His whole life for us. He who was rich became poor, so that we who were poor might become rich. But do not think immediately of material wealth. What we must imitate is how He emptied Himself, became fully human in every way, and learned obedience to the Father in heaven. That is what we must focus on, so that we may be found worthy to enter His Kingdom.

If God saves us, it is so that we may change, grow, and be made worthy to become members of His royal family. That is the cost of encountering Jesus. God’s Word says, “Come out from among them and be separate; do not touch what is unclean, and I will receive you as My sons and daughters.” That is the price.

Yet many Christians think they are already Christians simply because they celebrate Christmas—and that this guarantees their acceptance by God. We must have the courage to confront a Christianity that has strayed from its path. In many churches today, Jesus is exalted as the mighty, powerful, and glorious One—which is indeed true in His divine nature—but, unknowingly, such portrayals often “erase” the character of Jesus revealed in the context of salvation.

In the work of salvation, Jesus came in humility. He completed His mission meekly, even to the point of death on the cross. He taught us, “As I live, so you also must live. Love your enemies. If there is vengeance, it is Mine to repay.” Yet what do we often hear now? As if God were a champion ready to strike down anyone who hurts us—as if every problem must be removed, and every opponent destroyed.

But we must ask ourselves: Which Jesus are we following?

If we truly follow the Lord Jesus, we must not stop at Bethlehem. Do not follow Him only when He turns water into wine, heals the sick, or raises the dead. We must follow Him when He enters Gethsemane, when He climbs the hill of Calvary. There lies the peak of His victory. That is why the Lord says, “If anyone does not take up his cross, he is not worthy of Me. You cannot meet Me.”

WE ARE ALL PRECIOUS IN THE EYES OF GOD, THAT IS WHY JESUS DIED ON THE CROSS AND GAVE HIS WHOLE LIFE FOR US.

Card image
BERHARGA DI MATA TUHAN - 24 Desember 2025
2025-12-25 23:13:45


Gembala-gembala di padang Efrata tidak menganggap domba-dombanya lebih berharga daripada berkat Natal. Padahal mereka bisa kehilangan sebagian, bahkan banyak dari domba-domba mereka. Namun, perjumpaan dengan Sang Mesias jauh lebih penting dan lebih berharga. Demikian juga orang-orang Majus yang datang untuk menyembah Raja orang Yahudi; Juru Selamat yang mereka nilai lebih berharga daripada harta dan nyawa mereka sendiri. Sangat mungkin mereka tidak pernah kembali ke tanah asal. Dengan segala perhitungan, mereka bisa kehilangan segala-galanya. Namun, mereka bersedia membayar harga demi pertemuan dengan Mesias, Raja orang Yahudi itu. Mereka berani melepaskan segala sesuatu demi perjumpaan dengan Raja yang baru lahir ini.

Satu kalimat penting yang harus kita tahu adalah: kekristenan bukan jalan yang mudah. Namun dalam pikiran banyak orang Kristen, seakan-akan keselamatan itu murahan. Pokoknya sudah merayakan Natal, pasti selamat. Mengakui fakta sejarah bahwa Yesus Juru Selamat telah datang dianggap cukup untuk menempatkan dirinya dalam kelompok orang-orang yang diselamatkan. Padahal keselamatan bukan sesuatu yang murahan. Orang percaya harus mengerjakan keselamatannya, bahkan Alkitab mengatakan, “dengan takut dan gentar.” Secara logika sederhana—dan ini mudah dipahami—bagaimana mungkin Tuhan Yesus menyambut orang yang hidup seenaknya masuk ke dalam Kerajaan Surga?

Kita harus jujur mengakui, rata-rata kekristenan yang dimiliki banyak orang Kristen dewasa ini adalah kekristenan yang lebih menghargai dunia, lebih memuaskan daging daripada melakukan kehendak Bapa; masih memuaskan hawa nafsu, masih mencintai harta dunia, dan pada praktiknya menganggap Tuhan tidak perlu ada dalam semua aspek hidup. Urusan dengan Tuhan hanya di gereja. Inilah yang menyedihkan. Itulah sebabnya kita harus memperkarakan: bila suatu saat kita berhadapan dengan Tuhan Yesus, apakah kita berharga di mata-Nya? Dan hal ini sangat ditentukan oleh seberapa berharga Tuhan di mata kita.

Kita semua berharga di mata Tuhan, itulah sebabnya Tuhan Yesus mati di kayu salib dan mempertaruhkan segenap hidup-Nya. Dia yang kaya menjadi miskin, supaya kita yang miskin menjadi kaya. Namun jangan segera berpikir tentang berkat jasmani. Yang harus kita teladani adalah bagaimana Ia mengosongkan diri, yang dalam segala hal menjadi sama dengan manusia, dan bagaimana Ia belajar taat kepada Bapa di surga. Itu yang harus diperhatikan, sehingga kita memiliki kelayakan untuk masuk ke dalam Kerajaan-Nya.

Jika Tuhan menyelamatkan kita, itu supaya kita berubah, supaya kita bertumbuh, supaya kita memiliki kelayakan untuk menjadi anggota keluarga Kerajaan. Itulah harga dari perjumpaan dengan Tuhan Yesus. Firman Tuhan berkata, “Keluar kamu dari antara mereka, jangan menjamah apa yang najis. Maka Aku akan menerima kamu sebagai anak-Ku laki-laki dan anak-Ku perempuan.” Itu harganya.

Namun banyak orang Kristen merasa sudah menjadi Kristen hanya karena merayakan Natal, sehingga otomatis nanti akan diterima Tuhan. Kita harus berani menggugat kekristenan yang sudah keluar dari relnya. Lihat saja di banyak gereja: Tuhan Yesus ditinggikan sebagai Pribadi yang kuat, perkasa, dan dahsyat—yang tentu benar dalam konteks keilahian-Nya—tetapi tanpa disadari, cara penyampaian seperti itu sering “membunuh” karakter Yesus yang dinyatakan dalam konteks karya keselamatan.

Dalam konteks keselamatan, Yesus datang dalam kehinaan. Ia menyelesaikan tugas penyelamatan-Nya dengan lemah lembut, sampai mati di kayu salib. Tuhan mengajar kita, “Seperti Aku hidup, begitu juga kamu harus hidup. Kamu harus mengasihi musuhmu. Kalau pun ada pembalasan, itu hak-Ku nanti.” Namun apa yang sering kita dengar sekarang? Seakan-akan Tuhan seperti jagoan yang siap membalas semua yang menyakiti kita; seakan-akan setiap masalah akan otomatis disingkirkan, setiap lawan akan dilumpuhkan.

Sesungguhnya, kita ini ikut Yesus yang mana? Yesus seperti apa yang kita ikuti?

Kalau kita mengikuti Tuhan Yesus, jangan hanya berhenti di kota Betlehem. Jangan hanya ikut Dia ketika Ia mengubah air menjadi anggur. Jangan hanya mengikuti-Nya saat Ia menyembuhkan orang sakit. Jangan hanya mengiring Dia ketika Ia membangkitkan orang mati. Justru kita harus mengikut Dia ketika Ia masuk ke taman Getsemani; ketika Ia naik ke bukit Kalvari. Di sanalah puncak kemenangan-Nya. Maka Tuhan berkata, “Kalau kamu tidak memikul salib, kamu tidak layak bagi-Ku. Kamu tidak bisa bertemu Aku.”

Teriring salam dan doa,
Dr. Erastus Sabdono

KITA SEMUA BERHARGA DI MATA TUHAN, ITULAH SEBABNYA TUHAN YESUS MATI DI KAYU SALIB DAN MEMPERTARUHKAN SEGENAP HIDUP-NYA.

Card image
Bacaan Alkitab Setahun - 24 Desember 2025
2025-12-25 23:11:49

2 Timotius 1-4

Card image
Truth Kids 23 Desember 2025 - MEMELIHARA IMAN
2025-12-24 21:37:25


2 Timotius 4:7
"Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman."

Sobat Truth Kids, menjelang Natal, suasana di mal atau toko-toko jadi ramai dengan hiasan dan lagu-lagu Natal yang meriah. Hati kita pun ikut senang! Tapi… apakah rasa percaya dan semangat kita kepada Tuhan Yesus hanya muncul saat Natal saja? Tentu tidak, ya! Sukacita dan iman kita harus ada setiap hari.

Rasul Paulus berkata bahwa hidup ini seperti sebuah pertandingan. Ada garis start dan ada garis akhir. Dalam hidup, garis akhir kita adalah ketika kita bertemu Yesus di surga. Tapi selama di dunia, tugas kita adalah tetap percaya, tetap semangat, dan memelihara iman dalam segala keadaan — baik saat senang maupun sedih.

Sobat Truth Kids, yuk kita setia kepada Tuhan Yesus sampai akhir. Baca Alkitab, berdoa, dan terus percaya walau kita belum melihat Tuhan secara langsung. Jadilah anak yang setia dan kuat sampai garis akhir, seperti Paulus. Tuhan pasti menyertai setiap langkah kita!

Card image
Truth Junior 23 Desember 2025 - PAULUS
2025-12-24 21:34:13


2 Timotius 4:7
“Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir, dan aku telah memelihara iman.”

Sobat Truth Junior, tahu nggak siapa Paulus? Sebelum menjadi rasul, namanya adalah Saulus. Dulu, Saulus bukan pengikut Yesus—bahkan ia sering menyakiti orang-orang Kristen karena mengira ajaran Yesus itu salah. Tetapi, Tuhan punya rencana luar biasa untuk hidupnya.

Dalam perjalanannya ke kota Damsyik, tiba-tiba Saulus melihat cahaya yang sangat terang dari langit. Ia rebah ke tanah dan mendengar suara berkata, “Saulus, Saulus, mengapakah engkau menganiaya Aku?” Saulus bertanya, “Siapakah Engkau, Tuhan?” Suara itu menjawab, “Akulah Yesus yang kauaniaya itu.” Sejak saat itu, hidup Saulus berubah total—ia bertobat dan mulai mengikut Yesus. Namanya pun berubah menjadi Paulus.

Setelah mengenal Tuhan, Paulus menjadi rasul yang luar biasa. Ia berkeliling ke berbagai tempat untuk memberitakan Injil dan menguatkan iman banyak orang. Walau sering dipenjara dan mengalami kesulitan, Paulus tidak kecewa ataupun menyerah. Ia tetap setia mengikut Tuhan sampai akhir hidupnya.

Sobat Truth Junior, mari kita meneladani Paulus yang setia dan mengasihi Tuhan dengan sepenuh hati. Jangan kecewa dan mudah menyerah saat menghadapi kesulitan atau diejek karena imanmu. Ingat, Allah selalu menuntun dan menolong anak-anak-Nya yang setia.

Jadi, tetaplah kuat dan pelihara imanmu seperti Paulus! Kristus yang hidup di dalam kamu akan memberi kekuatan dan keberanian untuk terus berjalan bersama-Nya setiap hari.

Card image
Z-Votion 23 Desember 2025 (English Version) - UNPLUG TO CONNECT
2025-12-24 21:25:23


“Be still, and know that I am God!” — Psalm 46:10a

Have you ever planned to scroll TikTok for just five minutes, and suddenly—boom—an hour is gone? We live in a world that’s always online, but ironically, the more connected we are to everything else, the farther we drift from God. Without realizing it, our hearts chase every update from the world while forgetting to update our relationship with Him. God isn’t anti-technology, but He longs to be part of your time too. Sometimes what we need isn’t a new phone or full-bar signal—but a heart that remembers God is right beside us, waiting to be noticed.

“Unplug” doesn’t mean running away from the world. It means giving God space to speak in the middle of all the notification noise. When we dare to pause and step back from our screens, we open the door for God to “log in” to our lives again—not to fix our algorithms, but to touch our hearts. God wants a real connection, not just a mention or a like. He wants a two-way relationship—a place where we can be honest, listen, and find peace.

WHAT TO DO?
1. Try the “digital pause challenge.” For one hour, step away from your phone, laptop, and social media. Use that time to reflect, give thanks, or simply sit quietly before God.
2. Pay attention to how your heart reacts when you’re not holding your phone. Do you feel restless, empty, or peaceful? Write it down and bring it to prayer maybe that’s where God wants to speak.
3. Replace 10 minutes of scrolling with a short prayer. Every time you’re about to open social media, pause for a moment and say, “God, I want to connect with You first.”

BIBLE MARATHON:
Matthew 21

Card image
23 Desember 2025 - UNPLUG TO CONNECT
2025-12-23 23:19:38


“Diamlah dan ketahuilah, bahwa Akulah Allah!”
— Mazmur 46:10a

Kamu pernah nggak, niatnya cuma scroll TikTok 5 menit, tapi tiba-tiba sudah lewat satu jam? Kita hidup di era yang selalu online, tapi anehnya makin nyambung ke dunia malah makin jauh dari Tuhan. Tanpa sadar, hati kita sibuk ngejar update dari dunia, tapi lupa update hubungan sama Dia. Tuhan nggak anti teknologi, tapi Dia rindu jadi bagian dari waktumu juga. Kadang yang kita butuh bukan HP baru atau sinyal full bar, tapi hati yang sadar bahwa Tuhan tetap di sisi kita, menunggu disapa. “Unplug” bukan berarti kabur dari dunia, tetapi memberi ruang untuk mendengar suara Tuhan di tengah bisingnya notifikasi. Saat kita berani pause dan mengambil jeda dari layar, kita memberi kesempatan bagi Tuhan untuk “masuk” lagi ke hidup kita. Bukan untuk mengatur algoritma, tapi untuk menyentuh hati. Tuhan ingin koneksi yang nyata, bukan sekadar mention atau like. Dia mau hubungan dua arah—tempat kita bisa jujur, mendengar, dan ditenangkan.

WHAT TO DO?
1. Lakuin “digital pause challenge”. Selama 1 jam, coba jauhkan diri dari HP, laptop, dan media sosial. Pakai waktu itu buat merenung, bersyukur, atau sekadar diam di hadapan Tuhan. 2. Perhatikan reaksi hatimu saat gak pegang HP. Ngerasa gelisah, kosong, atau malah tenang? Catat perasaan itu dan bawa ke doa mungkin di situ Tuhan mau bicara. 3. Ganti 10 menit waktu scroll dengan doa pendek. Tiap kali kamu mau buka media sosial, tunda sebentar dan ucapkan, “Tuhan, aku mau connect sama-Mu dulu.”

BIBLE MARATHON:
Matius 21

Card image
Renungan Pagi - 23 Desember 2025
2025-12-23 23:06:21


Hidup kristiani bukanlah asal hidup, melainkan bagaimana mengisi hidup kita, karenanya sukses atau gagal, bahagia atau sengsara, sangatlah dipengaruhi oleh bagaimana mengisi hidup kita.

Ada orang yang mengisi hidupnya bisa berarti bagi orang lain, tapi ada juga orang yang mengisi hidupnya dengan memanfaatkan orang lain.

Orang yang mengisi hidupnya dengan berarti bagi orang lain pasti penuh sukacita, damai sejahtera, sebaliknya orang yang mengisi hidupnya dengan memanfaatkan orang lain pada akhirnya penuh kekecewaan dan air mata.

Card image
Quote Of The Day - 23 Desember 2025 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2025-12-23 23:03:15


Bagi orang yang berurusan dengan Tuhan, tidak ada kata “kecelakaan,” sebab semua dirancang Tuhan untuk kebaikan kekal kita.

Card image
Mutiara Suara Kebenaran - 23 Desember 2025 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2025-12-23 23:02:14


Kemarahan yang benar bukanlah luapan emosi yang tidak terkendali, tetapi ekspresi jiwa yang dipimpin oleh roh kebenaran. Ia tidak mempermalukan, tidak membalas dendam.

Card image
EMPTY CONVICTION - 23 Desember 2025 (English Version)
2025-12-23 21:50:28


At the Christmas event two thousand years ago, there were many people and many groups who heard the news of Christmas. Yet not all of them encountered the Baby Jesus. Even the residents of Bethlehem itself-the “hosts”-did not recognize Him. The city of Jerusalem was stirred only when they heard the report from the Magi that a King of the Jews had been born, but they too did not meet the Baby Jesus. Most tragic of all were the experts in the Scriptures and the Pharisees-those highly skilled in religious matters, the religious leaders who should have had the greatest interest in meeting the Messiah-yet they also did not encounter Him.

So who did meet the Baby Jesus? The shepherds in the fields of Ephrathah. As soon as they heard the news of the birth of the Baby Jesus, they left their sheep in the fields; they set aside their busyness in order to meet Him. That very night there was an urgency, a sense of need, a compelling necessity, so that the sheep were left behind. This was risky, for they could lose some or even many of their sheep. Yet even more astonishing were the Magi from the East. They had to travel hundreds of kilometers, bear the cost of the journey with all its risks and consequences, leave their homeland, go to a foreign place, with their very lives at stake.

When they met the Child, Scripture records that they fell down and worshiped Him. How did they know that this Child was a King? They believed deeply, and their belief was proven through action. They presented gold, frankincense, and myrrh-valuable gifts-which ultimately became very useful for raising the Child. No wonder an angel later warned them not to return by the same route.

The question for us today is: will we-and all Christians who celebrate Christmas-one day truly meet the Lord Jesus? Many Christians, or almost all Christians, feel that they are not opposed to the Lord Jesus. Even when celebrating Christmas, they show support and sympathy towards Him and feel that they are already on His side. That alone is often enough to make the heart feel safe, calm, and at peace.

Yet they do not seriously question or truly examine the matter: will they one day meet Jesus, who is now King? In truth, this is something we must seriously wrestle with-even if we are pastors. Do not be confident in, or assured by, an empty conviction. Do not simply assume you will enter heaven, assume you will be accepted by God, when that is not necessarily the case. That is speculation, a matter of chance. It may sound “absurd,” but this is something we truly must do.

We can begin with these questions: “In God’s eyes, have I already taken part in His holiness? In God’s eyes, have I put on the divine nature? In God’s eyes, am I included among those who do the will of the Father? In God’s eyes, am I already considered pleasing to Him?”

These matters must truly be wrestled with. We must genuinely feel fear and trembling. Do not dismiss or drive away these doubts from your mind, for doubts like these can actually help us become more serious with God. In the past, we may have taught the congregation not to doubt and to be confident of entering heaven, but now we understand more deeply, based on truth that has been formed in our minds and lives. For the Bible itself says, “Examine yourselves! Do not assume that you are standing firm!” Many people feel that they are accepted by God, cry out to Him, “Lord, Lord,” yet are rejected by God.

Therefore, these doubts should not be pushed away; instead, they must be felt and examined, until they lead us into a true struggle to seriously ask: will we one day be granted the privilege of meeting the Great King? For the Lord Jesus will surely come again. If two thousand years ago He came as a small, weak, and humble baby, one day He will come as King in all His glory. No one will stand without trembling before Him. His majesty is overwhelming; the authority of the Kingdom He brings is exceedingly powerful. The question is: are we valuable in His eyes or not? That depends greatly on whether we now consider Him valuable or not.

DO NOT SIMPLY ASSUME YOU WILL ENTER HEAVEN, ASSUME YOU WILL BE ACCEPTED BY GOD, WHEN THAT IS NOT NECESSARILY THE CASE.

Card image
KEYAKINAN YANG KOSONG - 23 Desember 2025
2025-12-23 21:47:57


Pada peristiwa Natal dua ribu tahun yang lalu, ada banyak orang dan banyak pihak yang mendengar berita Natal. Namun tidak semua dari mereka bertemu dengan Bayi Yesus. Bahkan penduduk Betlehem sendiri, yang menjadi “tuan rumah”, tidak mengenal-Nya. Kota Yerusalem hanya gempar ketika mereka mendengar berita dari orang Majus bahwa ada Raja orang Yahudi yang lahir, tetapi mereka pun tidak bertemu dengan Bayi Yesus. Dan yang paling menyedihkan adalah para ahli Kitab dan orang-orang Farisi—mereka yang cakap dalam beragama, para tokoh agama yang seharusnya paling berkepentingan untuk bertemu dengan Mesias—tetapi mereka juga tidak bertemu dengan-Nya.

Lalu siapa yang bertemu dengan Bayi Yesus? Para penjaga domba di padang Efrata. Begitu mendengar berita kelahiran Bayi Yesus, mereka meninggalkan domba-dombanya di padang; mereka melepaskan kesibukan demi bertemu dengan Bayi Yesus. Malam itu juga ada desakan, ada rasa butuh, ada rasa perlu, sehingga domba-dombanya ditinggalkan. Hal itu berisiko, sebab mereka bisa kehilangan beberapa domba atau bahkan banyak domba. Namun yang paling mengagumkan adalah orang-orang Majus dari Timur. Mereka harus menempuh ratusan kilometer, membayar biaya perjalanan dengan segala risiko dan konsekuensinya, meninggalkan kampung halaman, pergi ke tempat asing, dengan pertaruhan nyawa.

Dan ketika mereka bertemu dengan Anak itu, Alkitab mencatat bahwa mereka sujud menyembah. Bagaimana mereka tahu bahwa Anak ini adalah Raja? Mereka begitu percaya, dan kepercayaan mereka dibuktikan dengan tindakan. Mereka mempersembahkan emas, kemenyan, dan mur—barang-barang yang bernilai—yang pada akhirnya sangat berguna untuk membesarkan Anak itu. Tidak heran malaikat kemudian datang memberitahukan kepada mereka untuk tidak pulang melalui jalan yang sama.

Pertanyaan bagi kita hari ini: apakah kita—dan semua orang Kristen yang merayakan Natal—suatu hari benar-benar akan bertemu dengan Tuhan Yesus? Banyak orang Kristen, atau hampir semua orang Kristen, merasa tidak melawan Tuhan Yesus. Bahkan ketika merayakan Natal, mereka menunjukkan dukungan dan simpatinya kepada Tuhan Yesus, dan merasa bahwa mereka sudah berada di pihak-Nya. Itu sudah cukup membuat hati merasa aman, tenang, dan damai.

Namun mereka tidak sungguh-sungguh mempersoalkan, tidak sungguh-sungguh memperkarakan: apakah suatu hari mereka bisa bertemu dengan Yesus yang sekarang sudah menjadi Raja? Sejatinya, hal ini harus benar-benar kita perkarakan—sekalipun kita seorang pendeta. Jangan percaya diri atau yakin dengan keyakinan yang kosong. Jangan hanya yakin masuk surga, yakin akan diterima Tuhan, padahal belum tentu. Itu spekulasi, untung-untungan. Mungkin terdengar “konyol”, tetapi ini sungguh-sungguh harus kita lakukan.
Kita bisa memulainya dengan pertanyaan: “Di mata Tuhan, apakah saya sudah mengambil bagian dalam kekudusan-Nya? Di mata Tuhan, apakah saya sudah mengenakan kodrat ilahi? Di mata Tuhan, apakah saya sudah termasuk melakukan kehendak Bapa? Di mata Tuhan, apakah aku sudah dianggap berkenan kepada-Nya?”

Itu harus benar-benar kita perkarakan. Kita harus sungguh-sungguh merasa takut dan gentar. Jangan membuang atau menghalau dari pikiran perasaan ragu-ragu itu, sebab keragu-raguan seperti ini justru dapat menolong kita untuk lebih serius dengan Tuhan. Kalau dahulu kita mungkin mengajar jemaat untuk jangan ragu-ragu dan harus yakin masuk surga, sekarang kita mengerti lebih dalam berdasarkan kebenaran yang sudah terbentuk dalam pikiran dan hidup kita. Sebab Alkitab sendiri berkata, “Ujilah dirimu! Jangan menyangka engkau sudah berdiri teguh!” Banyak orang merasa sudah diterima Tuhan, berseru kepada-Nya: “Tuhan, Tuhan,” tetapi ditolak oleh Allah.

Jadi, keragu-raguan ini jangan dihalau; sebaliknya, keraguan ini perlu dirasakan dan dipersoalkan, sehingga akhirnya menggiring kita masuk dalam pergumulan untuk sungguh-sungguh memperkarakan: apakah kita suatu hari diperkenankan bertemu dengan Sang Maharaja? Sebab Tuhan Yesus pasti datang kembali. Kalau dua ribu tahun yang lalu Ia datang sebagai Bayi kecil yang lemah dan hina, kelak Ia akan datang sebagai Raja dalam segala kemuliaan-Nya. Tidak ada seorang pun yang tidak gemetar di hadapan-Nya. Keagungan-Nya luar biasa; kewibawaan Kerajaan yang dibawa-Nya sangat dahsyat. Kira-kira, kita ini berharga atau tidak di mata-Nya? Hal itu sangat bergantung pada apakah sekarang kita menganggap Dia berharga atau tidak.

Teriring salam dan doa,
Dr. Erastus Sabdono
JANGAN HANYA YAKIN MASUK SURGA, YAKIN AKAN DITERIMA TUHAN, PADAHAL BELUM TENTU.

Card image
Bacaan Alkitab Setahun - 23 Desember 2025
2025-12-23 21:44:50

Ibrani 11-13

Card image
Truth Kids 22 Desember 2025 - MENGAMPUNI
2025-12-23 13:03:15


Kisah Para Rasul 7:59–60
"Sedang mereka melemparinya, Stefanus berdoa, katanya: “Ya Tuhan Yesus, terimalah rohku.” Sambil berlutut ia berseru dengan suara nyaring: “Tuhan, janganlah tanggungkan dosa ini kepada mereka!’ Dan dengan perkataan itu, meninggallah ia.”

Sobat Truth Kids, di zaman dahulu pun sudah ada orang yang mengalami perlakuan tidak baik — seperti di bully, bahkan disakiti secara fisik. Tentu saja rasanya sedih dan ingin membalas. Tapi Alkitab menunjukkan teladan luar biasa dari Stefanus, seorang pahlawan iman yang tetap memilih untuk mendoakan orang-orang yang menyakitinya.

Stefanus adalah orang yang setia dan berani menyampaikan kebenaran tentang Yesus. Meskipun ia dilempari batu hingga meninggal, Stefanus tidak marah. Justru ia berdoa agar Tuhan mengampuni orang-orang yang menyerangnya. Ini menunjukkan hati yang penuh kasih dan iman yang kuat kepada Tuhan.

Sobat Truth Kids, dari kisah Stefanus kita belajar untuk tetap percaya kepada Tuhan, bahkan saat disakiti atau diperlakukan tidak adil. Kita diajak untuk berdoa, mengampuni, dan tidak membalas kejahatan dengan kejahatan.

Mari kita menjadi anak-anak yang penuh kasih, dan setia seperti Stefanus. Doakan teman yang berbuat tidak baik, dan tetap lakukan yang benar di hadapan Tuhan. Karena Tuhan pasti melihat dan menyertai setiap anak-Nya yang setia!

Card image
Truth Junior 22 Desember 2025 - MARTIR PERTAMA
2025-12-23 13:02:00


Kisah Para Rasul 7:59–60
“Sedang mereka melemparinya, Stefanus berdoa, katanya: ‘Ya Tuhan Yesus, terimalah rohku.’ Sambil berlutut ia berseru dengan suara nyaring: ‘Tuhan, janganlah tanggungkan dosa ini kepada mereka!’ Dan dengan perkataan itu, meninggallah ia.”

Sobat Truth Junior, tahu nggak apa arti kata martir? Dalam bahasa Yunani disebut martys, yang berarti “saksi.” Martir adalah seseorang yang rela menderita bahkan kehilangan nyawa karena imannya kepada Kristus. Salah satu contoh teladan martir adalah Stefanus, yang dikenal sebagai martir pertama. Ia dirajam—dilempari batu hingga meninggal—karena bersaksi tentang Tuhan Yesus.

Stefanus mempertahankan imannya sampai akhir hidupnya. Bahkan ketika orang-orang melemparinya, ia tetap berdoa agar Tuhan mengampuni mereka. Hatinya penuh kasih, tidak membalas kejahatan dengan kebencian. Hidup Stefanus menjadi teladan bagi kita untuk tetap setia dan mengasihi, apa pun yang terjadi.

Sekarang, mari kita lihat kisah teman kita, Santo. Ia duduk di kelas 5 SD dan rajin berdoa, beribadah, serta membaca Firman Tuhan. Tapi kadang, saat Santo bercerita tentang Yesus, teman-temannya malah mengejek dan tidak mau mendengarkan. Mungkin Sobat Truth Junior juga pernah mengalami hal yang sama. Namun seperti Stefanus, Santo tidak sakit hati. Ia tetap berdoa dan percaya bahwa Tuhan bisa mengubah hati teman-temannya.

Sobat Truth Junior, yuk kita belajar dari Stefanus dan Santo! Jangan takut jika ada yang menolak atau mengejek iman kita. Tuhan selalu menyertai dan melindungi anak-anak yang setia kepada-Nya. Teruslah berdoa, berbuat baik, dan berani bersaksi tentang kasih Tuhan—karena melalui hidupmu, orang lain juga bisa mengenal Yesus!

Card image
Z - VOTION 22 Desember 2025 (English Version)ME TIME WITH GOD
2025-12-23 13:00:10


“But Jesus often withdrew to lonely places and prayed.”
— Luke 5:16

In a world that moves way too fast, it’s so easy to feel drained. Overthinking, deadlines piling up, friendship drama, pressure from yourself—everything can make your heart tired. That’s why so many people look for “me time” just to breathe for a moment. But here’s the thing: the best me time isn’t just lying down while scrolling TikTok, it’s quiet time with God.

Even Jesus showed us this. In the middle of His packed ministry schedule, He intentionally stepped away to talk with the Father. Not because He ran out of things to do, but because He knew that without staying connected to the Source of Life, everything else would feel empty.

A lot of us show up at church or serve in ministry, but rarely show up before God. But God isn’t looking for performance—He’s looking for a personal encounter. When we pause, pray, reflect, or simply sit quietly in His presence, that’s where healing begins.

Me time with God isn’t just a spiritual routine—it’s a spiritual safe space. A place where you don’t have to act strong, don’t have to pretend, don’t have to mask your feelings. You just come as you are, to the One who knows you the best and loves you the most.

WHAT TO DO?
1. Turn off your phone notifications and spend 10 quiet minutes today just for God. Sit still, breathe, or write your thoughts in a prayer journal.
2. Read one verse slowly and reflect on its meaning. Let God speak not the social media algorithm.
3. If you feel peace afterward, that’s the real me time.

BIBLE MARATHON:
Matthew 20

Card image
Z - VOTION 22 Desember 2025 - ME TIME WITH GOD
2025-12-23 12:56:00


“Tetapi Yesus mengundurkan diri ke tempat yang sunyi dan berdoa.” — Lukas 5:16

Di zaman serba cepat, kita gampang banget merasa lelah. Overthinking, tugas numpuk, drama pertemanan, ekspektasi diri—semuanya bisa bikin hati capek. Itu sebabnya banyak orang cari “me time” biar bisa napas sebentar. Tapi tahu nggak, me time terbaik bukan cuma rebahan sambil scrolling TikTok, tapi waktu hening bareng Tuhan. Yesus sendiri kasih contoh: di tengah jadwal pelayanan yang padat, Dia sengaja menyisihkan waktu untuk ngobrol sama Bapa. Bukan karena Dia nggak punya kerjaan, tapi karena Dia tahu bahwa tanpa koneksi dengan Sumber Kehidupan, semuanya akan terasa kosong.

Banyak dari kita rajin hadir di gereja atau ikut pelayanan, tapi jarang benar-benar hadir di hadapan Tuhan. Padahal Tuhan nggak mencari performa—Dia mencari pertemuan pribadi. Saat kita berhenti sejenak, berdoa, merenung, atau hanya diam di hadirat-Nya, di situlah hati kita mulai dipulihkan. Me time with God bukan rutinitas rohani, tetapi ruang healing rohani. Tempat di mana kita nggak perlu jaim, nggak pura-pura kuat, cukup datang sebagai diri sendiri di hadapan Dia yang paling mengerti kita.

WHAT TO DO?
1. Matikan notifikasi HP, dan luangkan 10 menit hari ini cuma buat Tuhan. Duduk, diam, atau tulis isi hatimu di jurnal doa.
2. Baca satu ayat dan renungkan maknanya pelan-pelan. Biar Tuhan yang berbicara, bukan algoritma media sosial.
3. Kalau kamu ngerasa tenang setelah itu, itulah real me time.

BIBLE MARATHON:
Matius 20

Card image
Renungan Pagi - 22 Desember 2025
2025-12-23 12:32:40


Yang menjadi hambatan dalam mengalami mukjizat adalah menyebut diri kristen, ada di gereja, tetapi perbuatan mempermalukan nama Tuhan, perkataannya tidak membangun, tetapi justru membunuh pikiran kita tidak tertuju kepada Tuhan, tetapi kepada hal-hal duniawi.

Yesus tidak pernah berubah, karena Yesus tetap sama, dulu, kemarin dan hari ini, Dia tetap sama, tidak berubah, hanya seringkali kita yang tidak berjalan dalam terang firman Tuhan; janji Tuhan ya dan amin, selama berpegang teguh pada janji-Nya, maka kita akan melihat kemuliaan Tuhan dinyatakan.

Card image
Quote Of The Day - 22 Desember 2025 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2025-12-23 12:31:18


Dalam hidup kita punya banyak pilihan; jangan salah memilih, jangan tidak memilih dan jangan menunda!

Card image
Mutiara Suara Kebenaran - 22 Desember 2025 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2025-12-23 12:30:27


Hidup kita memiliki maksud kekal. Dan kita harus memuliakan Allah dengan seluruh aspek hidup karena Dialah Pemilik dan Penguasa atas segalanya.

Card image
COURAGE TO FACE LIFE'S SHAKINGS - 22 Desember 2025 (English Version)
2025-12-23 07:31:35


We must begin to shift our lives towards the Kingdom of Heaven. If we don't do it now, we will never be able to. Let us ask God to guide us on how to follow the Lord Jesus and have the same passion as His early disciples, who ultimately passed the test of faith. They were crucified upside down, fried in hot oil, beheaded, and even eaten by wild animals-that was their graduation. We may not experience such physical suffering, but there will certainly be inner suffering that we must endure. However, for those who have known God, even inner suffering becomes a source of joy and beauty.

For each of us who has not yet been fully earnest, let us begin to follow the Lord with sincerity of heart. Otherwise, we lose out as Christians who have received such great grace. For grace is a package: first, maturation or perfection to become like Jesus; second, the cross. The Lord says, “Take up the yoke I place upon you.” The yoke speaks of formation so that we are not untamed, and it also symbolizes servanthood or the cross.

If we have reached this level of surrender, we no longer need to say, “Do not be afraid to face this or that,” because courage will arise by itself. *We will never be able to face the shakings of life ahead if we do not have true surrender.* True surrender is not merely a willingness to hand over life’s problems so that God may help us, but more than that-it is choosing His Kingdom. This is weighty, but the Lord will lead us.

Following the Lord Jesus is a very personal matter. The passion of each follower varies, but certainly those who experience an encounter with the Lord will have their character shaped and grow in spiritual maturity, until eventually they have no other interest than serving God. Their life is solely for God’s purposes.

Unfortunately, many people have become hardened and do not understand. Yet this should be the struggle of our lives: how we are willing to shift our hearts from this world to the things above. For when we meet God in His majesty and glory one day, but have not given Him the proper place during our lives on earth, we will regret it. It will feel as though we long to return to earth to serve God and follow Him with the standard of Christ-like maturity, even to suffer for Him-bearing the cross and being involved in His work. But that opportunity will no longer exist, because time cannot be reversed.

That is why those who do not live in truth will experience weeping and gnashing of teeth. Physical suffering such as being burned by fire or having one’s hands cut off may still be lighter than the regret they will experience. The weeping and gnashing of teeth are not merely screams due to heat or blows, but inner regret and anger-because of realizing that the opportunity has passed.

It is better for us to rebuke and scold ourselves now than to regret it later. It is better for us to fear God today, so that later, before Him, we will no longer need to be afraid. Those who, during their life on earth, learn to fear God will, when they meet the Lord Jesus, feel peace and longing, not fear.

Let each of us ask ourselves: “Do I truly long for the Lord?” If our hearts begin to be divided, and our longing for the Lord begins to weaken, it means we are experiencing distortion. We must not allow this to happen. Day by day, we must become purer, not distorted by the world. Indeed, temptations will increase, but it is precisely there that we learn to become steadfast.

The preparation we must have to face death and God’s judgment is to choose His Kingdom. If we choose His Kingdom, it means we have surrendered ourselves and no longer have any personal interests except to please the Father’s heart. Such people will be able to stand before the Son of Man without fear. They are not afraid to face death.

If people sneer, let it be. We do not need to respond. It is precisely there that we will experience true freedom. When we truly choose the Kingdom of Heaven, only then do we become true Christians. Anything less than that is not Christianity. Thus the Lord Jesus said in Matthew 10:39, “Whoever finds his life will lose it, and whoever loses his life for My sake will find it.” Let there be nothing that we still hold on to. Remember, this world is full of uncertainty. "Do not wait until old age to let go of everything." Young people, too, must dare to let go of all things. The key is this: there is no happiness outside of God. Only God is our true happiness.

WE WILL NEVER BE ABLE TO FACE THE SHAKINGS OF LIFE AHEAD IF WE DO NOT HAVE TRUE SURRENDER.

Card image
BERANI MENGHADAPI GONCANGAN HIDUP - 22 Desember 2025
2025-12-23 07:29:14


Kita harus mulai menyeberangkan hidup kita ke dalam Kerajaan Surga. Jika tidak dilakukan sejak sekarang, kita tidak akan pernah bisa. Marilah kita memohon kepada Tuhan agar Ia memberi petunjuk bagaimana cara mengikuti Tuhan Yesus dan memiliki gairah seperti para murid-Nya pada masa mula-mula, yang akhirnya lulus dalam ujian iman. Mereka disalibkan dengan kepala di bawah, digoreng dalam belanga panas, dipancung, bahkan dimakan binatang buas—itulah kelulusan mereka. Kita memang tidak mengalami penderitaan fisik seperti itu, tetapi pasti ada penderitaan batin yang harus kita tanggung. Namun, bagi orang yang telah mengenal Tuhan, penderitaan batin pun menjadi suatu kenikmatan dan keindahan.

Bagi setiap kita yang belum sungguh-sungguh, marilah kita mulai mengikut Tuhan dengan kesungguhan hati. Jika tidak, kita rugi menjadi orang Kristen yang telah menerima anugerah besar. Sebab anugerah itu adalah sebuah paket: pertama, pendewasaan atau penyempurnaan untuk menjadi serupa dengan Yesus; kedua, salib. Tuhan berkata, "Pikullah kuk yang Kupasang." Kuk berbicara tentang pembentukan agar kita tidak liar, dan juga melambangkan perhambaan atau salib. Jika kita sudah sampai pada tingkat penyerahan seperti ini, kita tidak perlu lagi mengatakan, "Jangan takut menghadapi ini dan itu," sebab keberanian itu akan muncul dengan sendirinya. Kita tidak akan pernah sanggup menghadapi goncangan hidup di depan jika tidak memiliki penyerahan yang benar. Penyerahan yang benar bukan hanya kesediaan menyerahkan persoalan hidup supaya kita tertolong oleh Tuhan, tetapi lebih dari itu—yaitu memilih Kerajaan-Nya. Ini berat, tetapi Tuhan akan memimpin kita.

Mengikut Tuhan Yesus adalah hal yang sangat pribadi. Gairah pengiringan setiap orang berbeda-beda, namun pasti orang yang mengalami perjumpaan dengan Tuhan akan dibentuk karakternya dan bertumbuh dalam kedewasaan rohani, hingga akhirnya ia tidak lagi memiliki kepentingan apa pun selain melayani Tuhan. Hidupnya hanya untuk kepentingan Tuhan.

Sayangnya, banyak orang sudah menjadi bebal dan tidak mengerti. Padahal, ini seharusnya menjadi pergumulan hidup kita: bagaimana kita mau menyeberangkan hati dari dunia ini kepada perkara-perkara yang di atas. Sebab, ketika kita bertemu dengan Tuhan dalam keagungan dan kemuliaan-Nya nanti, tetapi tidak memberikan porsi yang pantas bagi-Nya selama hidup di dunia, kita akan menyesal. Rasanya seperti ingin kembali ke bumi untuk melayani Tuhan dan mengiring Dia dengan standar kedewasaan seperti Kristus, bahkan menderita untuk Dia—memikul salib dan terlibat dalam pekerjaan-Nya. Tetapi kesempatan itu sudah tidak ada lagi, karena waktu tidak bisa diulang.

Itulah sebabnya orang-orang yang tidak hidup dalam kebenaran akan mengalami ratap tangis dan kertak gigi. Penderitaan fisik seperti dibakar oleh api atau dipotong tangannya mungkin masih lebih ringan daripada penyesalan yang akan mereka alami. Ratap tangis dan kertak gigi itu bukan sekadar jeritan karena panas atau pukulan, tetapi penyesalan dan kemarahan batin—karena menyadari bahwa kesempatan telah berlalu.

Lebih baik kita menegur dan memarahi diri sendiri sekarang, daripada menyesal nanti. Lebih baik kita takut akan Allah hari ini, supaya kelak di hadapan-Nya kita tidak perlu takut lagi. Orang yang selama hidup di dunia belajar takut akan Allah, kelak ketika berjumpa dengan Tuhan Yesus akan merasakan damai dan kerinduan, bukan ketakutan.

Coba masing-masing kita bertanya kepada diri sendiri: "Apakah aku sungguh merindukan Tuhan?" Jika hati kita mulai bercabang, dan kerinduan kepada Tuhan mulai melemah, berarti kita sedang mengalami distorsi. Kita tidak boleh membiarkan hal itu terjadi. Semakin hari, kita harus semakin murni, tidak terdistorsi oleh dunia. Memang pencobaan akan semakin banyak, tetapi justru di situlah kita belajar menjadi kokoh. Persiapan yang harus kita miliki untuk menyongsong kematian dan pengadilan Tuhan adalah memilih Kerajaan-Nya. Jika kita memilih Kerajaan-Nya, itu berarti kita telah menyerahkan diri dan tidak lagi memiliki kepentingan pribadi selain menyenangkan hati Bapa. Orang-orang seperti inilah yang akan sanggup berdiri di hadapan Anak Manusia tanpa gentar. Mereka tidak takut menghadapi kematian.

Jika ada orang mencibir, biarkan saja. Kita tidak perlu menanggapinya. Justru di situlah kita akan mengalami kemerdekaan sejati. Ketika kita benar-benar memilih Kerajaan Surga, barulah kita menjadi Kristen yang sejati. Kurang dari itu, bukan Kristen. Maka Tuhan Yesus berkata dalam Matius 10:39, "Barangsiapa mempertahankan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya." Jangan ada sesuatu pun yang masih kita genggam. Ingatlah, dunia ini serba tidak menentu. Jangan menunggu tua untuk melepaskan segalanya. Orang muda pun harus berani melepaskan segala sesuatu. Kuncinya adalah: tidak ada kebahagiaan di luar Tuhan. Hanya Tuhanlah kebahagiaan sejati kita.

Teriring salam dan doa,
Dr. Erastus Sabdono

KITA TIDAK AKAN PERNAH SANGGUP MENGHADAPI GONCANGAN HIDUP DI DEPAN JIKA TIDAK MEMILIKI PENYERAHAN YANG BENAR.

Card image
Truth Kids 21 Desember 2025 - TIDAK RAGU LAGI
2025-12-22 12:58:33


Yohanes 20:27–28
"Kemudian Ia berkata kepada Tomas: “Taruhlah jarimu di sini dan lihatlah tangan-Ku, ulurkanlah tanganmu dan cucukkan ke dalam lambung-Ku, dan jangan engkau tidak percaya lagi, melainkan percayalah.” Tomas menjawab Dia: “Ya Tuhanku dan Allahku!”

Sobat Truth Kids, pernah nggak merasa ragu apakah cerita kelahiran Yesus itu benar? Apalagi kita tidak pernah melihat Yesus secara langsung. Tapi jangan khawatir, kamu tidak sendiri. Salah satu murid Yesus, Tomas, juga pernah ragu kalau Yesus sudah bangkit. Ia baru percaya setelah melihat dan menyentuh Yesus sendiri.

Yesus tidak memarahi Tomas, tapi justru menunjukkan diri-Nya dan mengajak Tomas percaya. Setelah itu, Tomas berseru, “Ya Tuhanku dan Allahku!” Dari kisah ini, kita belajar bahwa Tuhan sabar dan mau menolong kita yang sedang ragu — supaya kita benar-benar percaya dan semakin dekat kepada-Nya.

Meskipun kita belum pernah melihat Yesus secara langsung, kita bisa tetap percaya karena semua yang tertulis dalam Alkitab adalah benar. Kisah Yesus, kasih-Nya, pengurbanan-Nya, dan janji-janji-Nya bisa kita percaya sepenuhnya.

Yuk, Sobat Truth Kids, tetap semangat percaya kepada Yesus! Teruslah membaca Alkitab, mendengarkan renungan, dan berbicara dengan Tuhan lewat doa setiap hari. Tuhan Yesus hidup dan Ia sangat mengasihi kamu!

Card image
Truth Junior 21 Desember 2025 - YESUS BANGKIT DAN HIDUP
2025-12-22 12:56:15


Yohanes 20:27–28
“Kemudian Ia berkata kepada Tomas, ‘Taruhlah jarimu di sini dan lihatlah tangan-Ku, ulurkanlah tanganmu dan taruhlah ke lambung-Ku, dan jangan engkau tidak percaya lagi, melainkan percayalah.’ Tomas menjawab Dia, ‘Ya Tuhanku dan Allahku!"

Sobat Truth Junior, masih ingat kisah tentang Tomas? Ia adalah salah satu murid Tuhan Yesus yang sempat ragu bahwa Yesus telah bangkit dari kematian. Tapi ketika Yesus menunjukkan luka di tangan dan lambung-Nya, Tomas melihat dan percaya. Sejak saat itu, imannya diteguhkan, dan ia yakin sepenuhnya bahwa Yesus benar-benar hidup!

Sama seperti Tomas, kita juga bisa membuktikan bahwa Yesus hidup dan menyertai kita setiap hari. Sobat Truth Junior bisa berdoa, membaca firman, atau bercerita apa saja kepada Tuhan. Percayalah, Tuhan pasti menunjukkan kasih dan perbuatan-Nya yang ajaib dalam hidup kita.

Ketika kamu sudah menyaksikan kebaikan Tuhan, tetaplah setia dan teguh dalam iman. Mintalah agar hatimu selalu percaya dan tidak melupakan Tuhan dalam apa pun yang kamu lakukan.

Hari ini, katakan dalam hatimu: “Aku mau berjalan bersama Tuhan.” Karena bersama Tuhan, imanmu akan semakin kuat dan hatimu akan selalu dipenuhi sukacita!

Card image
Z - VOTION 21 Desember 2025 (English Version) - SPEAK UP
2025-12-22 12:51:16


"The LORD took me from tending the flock and said to me, ‘Go, prophesy to my people Israel."
— Amos 7:15

Have you ever felt like, “Who am I to say anything?”, “I’m not worthy to speak what’s right,” or “People will think I’m acting holy”? Sometimes we assume God only uses people who are smart, famous, or hold big positions. But look at Amos. He wasn’t a professional prophet, not a priest, not an elite figure. Amos was literally just a shepherd and a fig-picker from a small village—most Christians barely know his story. And yet, God chose him.

When Israel was drowning in luxury, injustice, and empty religious rituals, God called Amos to speak up. His message was bold: “Return to the Lord! Stop your injustice!” Amos didn’t speak because he felt important—he spoke because he obeyed. His simple background became the exact vessel God used to shake a nation.

And the same goes for you. God can use your voice in a world that often chooses silence. Not to seek attention, but to stand for what’s right. Sometimes it looks simple: choosing honesty when others lie, correcting a friend with love, refusing to join something wrong, signing a petition for justice, or sharing something meaningful that uplifts truth. A small voice still matters when God is behind it.

Remember, every small act creates a ripple. When God’s people stay silent, injustice grows louder. So don’t underestimate your voice. God isn’t looking for the most popular—He’s looking for the most faithful. Show up with a pure heart, speak with courage, and let God use your life as an instrument of truth.

WHAT TO DO?
1. Pray for a brave heart like Amos, to show up not to please people, but to please God.
2. When you see injustice or something wrong, don’t stay silent. Speak the truth gently and boldly.

BIBLE MARATHON:
Matthew 19

Card image
Z - VOTION 21 Desember 2025 - BERSUARA
2025-12-21 23:50:47


“TUHAN mengambil aku dari pekerjaan menggiring kambing domba, dan iùùùĥTUHAN berfirman kepadaku: Pergilah, bernubuatlah terhadap umat-Ku Israel.”
— Amos 7:15

Pernah nggak kamu merasa, “Aku siapaĥ sih?”, “Nggak pantas ngomong hal benar,” atau “Nanti dikira sok suci”? Kadang kita berpikir Tuhan hanya memakai orang yang pintar, terkenal, atau punya posisi penting. Tapi lihat kisah Amos. Dia bukan nabi profesional, bukan imam, bukan tokoh elit. Amos cuma penggembala domba dan pemetik buah ara dari desa kecil—bahkan banyak orang Kristen pun jarang tahu kisahnya. Tapi Tuhan tetap memilihnya.

Saat Israel hidup dalam kemewahan, ketidakadilan, dan ibadah yang cuma formalitas, Tuhan memanggil Amos untuk bersuara. Pesan Amos tegas: “Berbaliklah kepada Tuhan! Hentikan ketidakadilan kalian!” Dia berani bicara bukan karena merasa hebat, tetapi karena ia taat. Kehadirannya yang sederhana justru dipakai Tuhan untuk mengguncang hati bangsa Israel.

Begitu juga dengan kamu. Tuhan bisa memakai suaramu di tengah kebisuan banyak orang. Bukan untuk cari spotlight, tapi untuk membawa kebenaran. Kadang bentuknya sederhana: memilih jujur ketika orang lain bohong, menegur teman dengan kasih, menolak ikut hal yang salah, mengisi petisi untuk hal yang benar, atau membagikan posting an yang memperjuangkan keadilan. Suara kecil tetap berarti ketika dipakai Tuhan.

Ingat, setiap aksi kecil itu menciptakan gelombang. Jika anak Tuhan diam, ketidakbenaran akan semakin merajalela. Karena itu, jangan remehkan suaramu. Tuhan tidak mencari yang paling populer—Dia mencari yang setia. Hadirlah dengan hati yang benar, bersuaralah dengan keberanian, dan biarkan Tuhan memakai hidupmu sebagai alat kebenaran.

WHAT TO DO?
1. Doakan supaya hatimu tetap berani seperti Amos, yang hadir bukan untuk disukai orang, tapi untuk menyenangkan Tuhan.
2. Saat kamu lihat ketidakadilan atau hal salah di sekitarmu, jangan diam. Katakan kebenaran dengan lembut dan berani.

BIBLE MARATHON:
Matius 19

Card image
Renungan Pagi - 21 Desember 2025
2025-12-21 23:35:30


Ketika kita sedang merasa tidak berdaya, merasa tidak punya apa-apa, bahkan suara hati nurani berkata negatif "kamu sudah gagal, kamu tidak bisa bangkit lagi, kamu tidak bisa berbuat apa-apa lagi.

Tetapi ketika kita mendengar suara Tuhan, Aku tetap menyertai engkau; Aku, Allah Imanuel, Aku tidak akan pernah mempermalukan engkau.

Kita harus bangkit, harus percaya diri, karena tahu bahwa kita tidak sendiri, dan yang menyertai adalah Allah yang tidak pernah mengecewakan, karenanya jangan pernah merasa diri gagal, karena Dia tidak akan pernah membiarkan kita.

Card image
Quote Of The Day - 21 Desember 2025 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2025-12-21 23:31:42


Kelimpahan dalam Tuhan menyangkut karakter yang diubahkan, damai sejahtera dan Kerajaan-Nya yang akan datang.

Card image
Mutiara Suara Kebenaran - 21 Desember 2025 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2025-12-21 23:23:24


Kita harus menyadari bahwa eksistensi kita bukan kebetulan. Bahwa setiap tarikan nafas adalah anugerah.

Card image
GRATITUDE IN SURRENDER - 21 Desember 2025 (English Version)
2025-12-21 23:18:27


When Christianity began to be accepted by Roman society-even by the emperor himself-a major shift occurred in the history of the Christian faith. Since the issuance of the Edict of Milan in 313 AD by Emperor Constantine, Christians were allowed to worship without interference. Although in some regions they still faced pressure from followers of pagan religions, in general Christianity began to enjoy peace and social acceptance. Then, in 380 AD, that comfort reached its peak when Christianity was established as the official religion of the state. Bishops and church leaders became respected figures; they could meet the emperor and even be summoned by him. Yet, it was precisely at this point that Christianity began to lose something precious. The faith that had once been full of fire and sacrifice gradually turned into mere formal religiosity.

Pure spiritual fervor was replaced by institutional comfort. Yet, our passion should be the same as God's passion. Since Christianity became the state religion, many people have been more preoccupied with their status as "Christians" than with living as "followers of Christ."

Now, in the 21st century, we are called to rekindle that spirit-the spirit of following Christ as in the early centuries. The mechanisms and conditions of the age may change, but the spirit and soul of true discipleship must remain the same. Imagine the courage of the early Christians who faced severe persecution. They were not afraid of threats; they were even willing to die for Christ. Meanwhile, we live in a world full of uncertainty-a world that offers no true security. Many people are evil, many create instability, even in ways that don't seem like physical terror, but through inner pressure. This world threatens us from many directions: the power of money, political interests, and decaying morality. Yet compared to the suffering of the early Christians, our problems today are nothing. The cruelty of the Roman Empire, the brutality of pagan ùqm because they possessed true surrender. They chose the Kingdom of Heaven, not the world. They did not care what would happen to their lives on earth. This is what made them steadfast.

As human beings, it is natural that we may still feel fear or anxiety. But we must not sink into restlessness. True surrender is not merely handing over life’s problems to God in order to receive His help and protection, but surrendering the entire focus of our lives to His Kingdom. Abraham is a perfect example. He left everything in obedience to God. His faith was so firm that when God-Elohim Yahweh-commanded him to offer Isaac, he obeyed without hesitation. That was the pinnacle of true surrender-when a person chooses God completely, without compromise with the world.

Shifting the focus of one’s life from the world to the Kingdom of Heaven is not easy. In fact, not many people have truly made this transition in their hearts. For a long time, many Christians have understood surrender as simply being willing to hand over life’s problems to God, even though their focus remains worldly. True surrender is transferring all our interests, hopes, and life’s goals to the Kingdom of Heaven. This is the form of life that is eternally oriented. But to reach this point requires long and consistent spiritual training. Just as a painter cannot produce a masterpiece in a single day, so our hearts need time, process, and discipline to truly turn toward God.

Therefore, let us learn to shift our hearts from the world to God. When our hearts are completely turned to Him, the tone of our voices in prayer and worship will be different. There will be peace, courage, and confidence born from true surrender. Everyone who truly follows Jesus must be ready to leave this world-not by hating life, but by refusing to make the world the center of their lives. God will educate and train us until we possess Christ-like character. Only then will we be ready to suffer with Him, carry the cross, and dedicate our entire lives to the sake of the Kingdom of Heaven. And when that surrender becomes real, we will no longer need to force ourselves to be strong. Courage will arise naturally, because we know that our lives are fully in God’s hands.

TRUE SURRENDER IS TRANSFERRING ALL OUR INTERESTS, HOPES, AND LIFE'S GOALS TO THE KINGDOM OF HEAVEN.

Card image
RASA SYUKUR DALAM PENYERAHAN - 21 Desember 2025
2025-12-21 23:08:38


Ketika kekristenan mulai diterima oleh masyarakat Romawi, bahkan oleh kaisar sendiri, terjadi perubahan besar dalam sejarah iman Kristen. Sejak dikeluarkannya Edict of Milan pada tahun 313 M oleh Kaisar Konstantinus, orang-orang Kristen diperbolehkan beribadah tanpa gangguan. Meski di beberapa wilayah mereka masih menghadapi tekanan dari penganut agama kafir, secara umum kekristenan mulai menikmati kedamaian dan penerimaan sosial. Kemudian, pada tahun 380 M, kenyamanan itu mencapai puncaknya ketika kekristenan ditetapkan sebagai agama resmi negara. Para uskup dan pemimpin gereja menjadi terhormat, mereka dapat menjumpai bahkan dijumpai oleh kaisar. Namun, justru di titik inilah kekristenan mulai kehilangan sesuatu yang berharga. Iman yang dahulu penuh api dan pengorbanan mulai berubah menjadi sekadar keberagamaan formal.

Semangat rohani yang murni tergantikan oleh kenyamanan institusional. Padahal, gairah kita seharusnya sama seperti gairah Tuhan. Sejak kekristenan menjadi agama negara, banyak orang lebih sibuk dengan statusnya sebagai “orang Kristen” daripada hidup sebagai “pengikut Kristus.”

Kini, di abad ke-21, kita dipanggil untuk menyalakan kembali semangat itu—roh pengikutan kepada Kristus seperti pada abad mula-mula. Mekanisme dan kondisi zaman memang berubah, tetapi semangat dan jiwa pengikutan sejati harus tetap sama. Bayangkan keberanian orang-orang Kristen mula-mula yang menghadapi penganiayaan berat. Mereka tidak takut pada ancaman, bahkan rela mati demi Kristus. Sementara kita hidup di dunia yang penuh ketidakpastian—dunia yang tidak menjanjikan keamanan sejati. Banyak orang jahat, banyak yang menciptakan ketidakstabilan, bahkan dengan cara yang tidak tampak seperti teror fisik, tetapi menekan secara batin. Dunia ini mengancam dari berbagai arah: kekuasaan uang, kepentingan politik, dan moralitas yang membusuk. Namun, bila dibandingkan dengan penderitaan orang Kristen pada abad mula-mula, persoalan kita hari ini tidak ada apa-apanya. Kekejaman kekaisaran Romawi, kebengisan para penganut agama kafir yang berusaha melumatkan iman Kristen—semuanya jauh lebih berat. Tetapi mereka tidak takut. Mereka tetap kokoh karena memiliki penyerahan diri yang benar. Mereka memilih Kerajaan Surga, bukan dunia. Mereka tidak peduli apa yang akan terjadi pada hidup mereka di bumi. Inilah yang membuat mereka teguh.

Sebagai manusia, wajar bila kita masih bisa merasa takut atau cemas. Namun kita tidak boleh tenggelam dalam kegelisahan. Penyerahan yang benar bukan sekadar menyerahkan persoalan hidup kepada Tuhan untuk mendapat pertolongan dan perlindungan-Nya, melainkan menyerahkan seluruh fokus hidup kepada Kerajaan-Nya. Abraham menjadi contoh yang sempurna. Ia meninggalkan segala sesuatu demi menaati Allah. Keyakinannya begitu kokoh hingga ketika Allah, Elohim Yahweh, memerintahkannya mempersembahkan Ishak, ia taat tanpa ragu. Itulah puncak penyerahan yang sejati—ketika seseorang memilih Tuhan sepenuhnya tanpa kompromi dengan dunia.

Memindahkan fokus hidup dari dunia ke Kerajaan Surga bukanlah hal mudah. Bahkan, belum banyak orang yang benar-benar menyeberangkan hatinya. Selama ini, banyak orang Kristen memahami penyerahan sebagai kesediaan menyerahkan masalah hidup kepada Tuhan, padahal fokusnya masih duniawi. Penyerahan sejati adalah menyeberangkan seluruh minat, harapan, dan tujuan hidup kepada Kerajaan Surga. Inilah bentuk hidup yang berorientasi kekal. Namun, untuk sampai ke sana, diperlukan latihan rohani yang panjang dan konsisten. Seperti seorang pelukis yang tak bisa langsung menghasilkan karya agung dalam sehari, demikian pula hati kita memerlukan waktu, proses, dan disiplin untuk benar-benar berpaling kepada Allah.

Karena itu, mari kita belajar memindahkan hati kita dari dunia kepada Tuhan. Ketika hati sudah berpaling sepenuhnya, getar suara kita dalam doa dan penyembahan akan berbeda. Ada ketenangan, keberanian, dan keyakinan yang lahir dari penyerahan yang benar. Semua orang yang sungguh mengikut Yesus harus siap meninggalkan dunia ini—bukan dengan membenci kehidupan, tetapi dengan menolak menjadikan dunia sebagai pusat hidupnya. Tuhan akan mendidik dan melatih kita sampai memiliki karakter seperti Kristus. Setelah itu, barulah kita siap menderita bersama Dia, memikul salib, dan mempersembahkan seluruh hidup kita untuk kepentingan Kerajaan Surga. Dan ketika penyerahan itu menjadi nyata, kita tidak perlu menguat-nguatkan diri lagi. Keberanian itu akan hadir dengan sendirinya, sebab kita tahu bahwa hidup kita sepenuhnya ada di tangan Tuhan.

Teriring salam dan doa,
Dr. Erastus Sabdono

PENYERAHAN SEJATI ADALAH MENYEBERANGKAN SELURUH MINAT, HARAPAN, DAN TUJUAN HIDUP KEPADA KERAJAAN SURGA.

Card image
Bacaan Alkitab Setahun - 21 Desember 2025
2025-12-21 23:00:16

Ibrani 1-6

Card image
Truth Kids 20 Desember 2025 - LIDAH YANG MEMBERKATI
2025-12-21 10:31:00


Kisah Para Rasul 2:14, 36
"Maka bangkitlah Petrus berdiri dengan kesebelas rasul itu, dan dengan suara nyaring ia berkata kepada mereka: “…..Allah telah membuat Yesus, yang kamu salibkan itu, menjadi Tuhan dan Kristus.”

Sobat Truth Kids, bagaimana perasaan kalian saat dipuji atau diberi semangat? Senang, ya! Tapi bagaimana saat diejek atau dihina? Pasti sedih. Itu sebabnya kita harus berhati-hati dalam berkata-kata. Jangan gunakan lidah kita untuk menyakiti, tapi untuk memberkati orang lain dengan kata-kata yang baik, penuh kasih, dan membangun.

Tahukah kalian? Lidah bisa menjadi benda terbaik — kalau digunakan untuk berkata benar dan memberkati. Tapi lidah juga bisa jadi benda terburuk jika dipakai untuk menghina, berbohong, atau menyakiti. Di Alkitab, Petrus pernah menyakiti hati Yesus karena menyangkal-Nya tiga kali. Tapi setelah bertobat, Petrus dipakai Tuhan untuk memberitakan firman dengan kuasa.

Sobat Truth Kids, bagaimana dengan lidahmu? Apakah digunakan untuk kebaikan atau malah menyakiti? Jika kamu sering mengejek, membantah orang tua, atau berkata kasar, itu tandanya lidahmu sedang jadi benda yang buruk. Tapi kabar baiknya: kamu bisa berubah! Tuhan bisa menolongmu menggunakan lidahmu untuk menyatakan kasih.

Yuk, jadilah pahlawan iman yang memakai lidahnya untuk hal-hal yang baik! Ucapkan kata-kata yang membangun, minta maaf jika salah, dan doakan teman-temanmu. Ingat, kata-katamu punya kuasa — jadi pakailah untuk memuliakan Tuhan dan menguatkan sesama!

Card image
Truth Junior 20 Desember 2025 - RASUL SIMON PETRUS
2025-12-21 10:29:11


Kisah Para Rasul 2:14
“Lalu Petrus bangkit berdiri dengan kesebelas rasul itu, dan dengan suara nyaring ia berkata kepada mereka, ‘Hai orang-orang Yahudi dan semua orang yang tinggal di Yerusalem, perhatikanlah perkataanku ini dan ketahuilah."

Sobat Truth Junior tahu siapa Rasul Petrus? Ayo, coba ingat lagi! Betul, Petrus adalah salah satu murid Tuhan Yesus. Sebelum menjadi rasul, Petrus bekerja sebagai nelayan yang menangkap ikan. Ia sangat mengasihi Tuhan dan pernah berkata bahwa ia tidak akan meninggalkan Yesus. Namun saat Yesus disalibkan, Petrus justru menyangkal Yesus tiga kali dan berkata ia tidak mengenal-Nya. Setelah itu, Petrus merasa sangat sedih dan menyesal.

Pernahkah Sobat Truth Junior berjanji kepada orang tua, misalnya, “Aku janji rajin belajar supaya dapat nilai bagus,” tapi kemudian lupa atau malas melakukannya? Atau mungkin pernah berjanji tidak akan marah pada teman yang menyakiti kita, tapi malah membalasnya? Nah, Petrus juga pernah gagal menepati janjinya kepada Tuhan, tetapi ia tidak berhenti dalam rasa sedih. Ia bangkit lagi dan mau dipakai Tuhan.

Setelah bertobat, Petrus menjadi rasul yang berani memberitakan Injil. Ia tidak malu lagi mengakui imannya kepada Yesus. Dengan penuh semangat, Petrus mengajarkan kasih dan keselamatan dari Tuhan kepada banyak orang.

Jadi, Sobat Truth Junior, kalau kita pernah salah, jangan terus tenggelam dalam penyesalan. Segeralah meminta ampun, sebab Tuhan pasti mengampuni dan menolong kita untuk berubah. Tuhan mau kita bangkit dan tidak mengulangi kesalahan itu lagi.

Card image
Z - VOTION 20 Desember 2025 (English Version) - A FAITHFUL FRIEND
2025-12-21 10:25:45


“Titus is my partner and fellow worker among you…”
— 2 Corinthians 8:23

Have you ever felt like you’re just “ordinary”? Not as smart as your friends, not as brave as others, or not as noticeable as the people teachers or leaders always pay attention to? Sometimes the thought slips in: “Does my presence even matter?” But the truth is, in God’s eyes, there is no such thing as an “ordinary” child of God. Everyone is called with a purpose—including you.

Take Titus in the Bible. His name isn’t as famous as Peter or Paul, but his role was crucial. He was a trusted friend and ministry partner to Paul. When the church in Corinth was struggling and needed guidance, Paul sent Titus. And what happened? The church was strengthened and restored. Titus wasn’t the one on the big stage, but God used him powerfully.

Titus didn’t need the spotlight to make an impact. He was faithful, humble, and present when it mattered. Paul even called him a “partner and co-worker” in the work of God. From Titus, we learn that faithfulness matters more to God than flashy ministry. Sometimes God isn’t asking us to do huge things—He’s simply asking us to show up, listen, help, and be faithful in the small things.

So don’t underestimate your presence. The world might overlook you, but God never does. He sees every heart that’s willing to obey. Just like Titus, you can be a good friend—someone who brings peace, light, and the love of Christ wherever you go.

Just show up, be faithful, and let God handle the rest.

WHAT TO DO?
1. Pray that God helps you become a trustworthy and peace-bringing disciple like Titus.

BIBLE MARATHON:
Matthew 18

Card image
Z - VOTION 20 Desember 2025 - SAHABAT YANG SETIA
2025-12-21 10:18:54


“Titus adalah temanku yang bekerja bersama-sama dengan aku untuk kamu…”
— 2 Korintus 8:23

Pernah nggak sih kamu merasa diri kamu “biasa-biasa aja”? Nggak sepintar temanmu, nggak seberani yang lain, atau nggak sepenting orang yang selalu dilihat guru atau pemimpin? Kadang muncul pikiran, “Kayaknya kehadiranku nggak ngaruh apa-apa deh.” Tapi faktanya, di mata Tuhan, nggak ada anak Tuhan yang “biasa.” Setiap orang dipanggil dengan tujuan, termasuk kamu.

Lihat kisah Titus di Alkitab. Namanya memang tidak sepopuler Petrus atau Paulus, tapi perannya krusial. Ia adalah sahabat dan rekan pelayanan Paulus yang bisa dipercaya. Ketika jemaat Korintus lagi kacau dan butuh dibimbing, Paulus mengutus Titus. Hasilnya? Jemaat itu dikuatkan dan dipulihkan. Titus bukan figur besar di panggung, tapi ia dipakai Tuhan secara luar biasa.

Titus tidak butuh spotlight untuk berdampak. Ia setia, rendah hati, dan hadir ketika dibutuhkan. Paulus bahkan menyebutnya “teman sepenanggungan” dalam pekerjaan Tuhan. Dari Titus kita belajar bahwa kesetiaan jauh lebih berharga di mata Tuhan dibanding pelayanan yang spektakuler. Terkadang Tuhan tidak minta kita melakukan hal besar—Dia cuma minta kita hadir, mendengarkan, menolong, dan setia dalam hal-hal kecil.

Jadi, jangan remehkan kehadiranmu. Dunia mungkin tidak selalu memperhatikan, tapi Tuhan selalu melihat hati yang mau taat. Seperti Titus, kamu juga bisa jadi sahabat yang baik—yang membawa damai, terang, dan kasih Kristus ke mana pun kamu pergi. Just show up, be faithful, and let God do the rest.

WHAT TO DO?
1. Doakan supaya Tuhan menolongmu menjadi murid yang bisa dipercaya dan membawa damai seperti Titus.

BIBLE MARATHON:
Matius 18

Card image
Quote Of The Day - 20 Desember 2025 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2025-12-21 09:45:54


Miliki rasa takut tidak dikenal Tuhan.

Card image
Mutiara Suara Kebenaran - 20 Desember 2025 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2025-12-20 22:47:50


Kalau kita masih mempertahankan cara pandang sendiri, berarti kita sedang menolak kedaulatan Allah atas hidup kita.

Card image
PENYERAHAN DIRI YANG BENAR - 20 Desember 2025
2025-12-20 22:42:37


Ada satu rahasia kehidupan yang harus kita pahami, yakni keberanian menghadapi hidup dan keyakinan menyongsong hari esok yang tidak menentu sangat dipengaruhi oleh sejauh mana kita menyerahkan hidup kepada Tuhan. Seseorang tidak mungkin benar-benar memiliki keberanian sejati bila ia belum memiliki penyerahan diri yang benar kepada Allah.

Kita bisa saja menasihati seseorang, “Tabah, ya; kuat, ya; jangan takut menghadapi hari esok.” Tetapi tanpa penyerahan yang sejati kepada Tuhan, kata-kata itu hanyalah penghiburan kosong. Bahkan, orang yang tampak berani pun sering kali hanya memiliki “keberanian palsu.” Maksudnya, selama belum menghadapi pergumulan atau bahaya nyata, ia bisa berkata dengan yakin, “Aku percaya, aku tidak takut.” Namun, ketika ia benar-benar berada di tengah situasi mengancam, barulah ia sadar bahwa keyakinannya sendiri tidak cukup menopang hidupnya.

Perasaan manusia bersifat sangat situasional. Kita bisa berkata, “Aku tidak takut,” tetapi begitu bahaya datang dan ancaman berada di depan mata, barulah kita sadar, keberanian itu tidak memiliki akar yang kuat. Demikian pula dengan iman seseorang di hadapan Tuhan. Hari ini, banyak orang bisa berkata, “Aku percaya Tuhan akan menyelamatkanku. Aku percaya aku akan masuk surga. Aku percaya Tuhan akan menjemputku di ujung maut.” Namun, ketika benar-benar berada di ujung maut—bahkan di hadapan pengadilan Allah—keyakinan itu tidak akan mampu menopang dirinya jika ia tidak memiliki penyerahan diri yang benar kepada Tuhan.

Berbicara tentang penyerahan, kita harus mengerti dengan tepat. Penyerahan sejati bukan sekadar kesediaan menyerahkan persoalan hidup kepada Tuhan dan percaya bahwa Ia akan menolong kita. Jika hanya sebatas itu, hal itu mudah dilakukan—bahkan oleh orang-orang yang berpikir secara transaksional dan oportunis. Banyak orang berkata, “Aku menyerahkan diriku kepada-Mu, ya Tuhan,” padahal maksudnya hanyalah menyerahkan masalah, kesulitan, dan pergumulan agar Tuhan turun tangan dan memberi pertolongan. Penyerahan seperti ini bukanlah penyerahan yang sejati.

Itu hanya bentuk religiositas yang masih berpusat pada diri sendiri—seolah-olah Tuhan adalah solusi instan bagi segala persoalan hidup. Orang yang demikian memang tidak datang ke dukun atau kuasa lain, tetapi motivasinya tetap sama: ingin mendapatkan pertolongan untuk dirinya sendiri.

Penyerahan yang benar bukan tentang menyerahkan persoalan, melainkan tentang menyerahkan diri sepenuhnya kepada Tuhan dan memilih Kerajaan-Nya di atas segala hal. Artinya, kita tidak memilih dunia sama sekali. Seperti Abraham yang meninggalkan segala sesuatu untuk mengikuti panggilan Allah, demikian pula kita dipanggil untuk memilih Tuhan sepenuhnya. Kita memang tidak bisa memilih dua-duanya—surga dan dunia. Banyak orang tidak mampu mengerti hal ini, dan lebih parah lagi, tidak mau mengerti. Mereka menilai tuntutan Tuhan sebagai bentuk “kesewenang-wenangan,” karena merasa hidupnya dirampas. Padahal, justru ketika seseorang memilih Kerajaan Allah dan menolak dunia, ia akan menjadi pribadi yang kokoh, teguh, dan berani menghadapi segala sesuatu.

Bayangkan seandainya kita hidup pada zaman Tuhan Yesus- apakah kita akan memilih menjadi murid-murid-Nya atau tidak? Hampir semua orang tentu akan menjawab, "Ya, saya ingin menjadi murid Tuhan Yesus." Namun, tahukah kita apa yang sebenarnya menjiwai para murid hingga mereka rela mengikut Tuhan dengan segala risiko? Pada awalnya, murid-murid pun masih memiliki konsep yang keliru. Mereka masih berpikir tentang Kerajaan dunia, tentang kedudukan, tentang kekuasaan. Namun, setelah melalui proses panjang, jatuh, bangun, ditegur, diajar, dan akhirnya menyaksikan kebangkitan Kristus- barulah mereka benar-benar mengerti arti penyerahan diri yang sejati.

ltulah sebabnya Tuhan Yesus berkata, Jadikanlah semua bangsa murid-Ku." Artinya, sebagaimana Yesus mendidik, mengarahkan, dan memperlakukan murid-murid-Nya dengan kasih yang membentuk, demikian pula kita dipanggil untuk membawa orang lain mengalami proses yang sama, proses menjadi murid sejati yang hidup dalam penyerahan penuh kepada Tuhan.

Teriring salam dan doa,
Dr. Erastus Sabdono

PENYERAHAN YANG BENAR BUKAN TENTANG MENYERAHKAN PERSOALAN, MELAINKAN TENTANG MENYERAHKAN DIRI SEPENUHNYA KEPADA TUHAN DAN MEMILIH KERAJAAN-NYA DI ATAS SEGALA HAL.

Card image
Truth Kids 19 Desember 2025 - MENDENGAR DAN TAAT SEPERTI YOHANES
2025-12-20 12:56:27


Matius 3:3
"Ada suara orang yang berseru-seru di padang gurun: “Persiapkanlah jalan untuk Tuhan, luruskanlah jalan bagi-Nya.”

Sobat Truth Kids, apakah kalian tahu apa itu baptisan? Baptisan adalah tanda janji yang istimewa dengan Tuhan Yesus. Ini adalah awal yang baru, saat kamu berkomitmen untuk hidup bersih dan mengikuti ajaran Yesus. Dalam Alkitab, ada tokoh bernama Yohanes Pembaptis, seorang pahlawan iman yang mempersiapkan jalan untuk kedatangan Tuhan Yesus.

Yohanes hidup sederhana di padang gurun, memakai pakaian dari bulu unta. Ia berani memberitahu semua orang bahwa Yesus akan datang. Ia tidak takut dimarahi atau dibenci, karena yang paling ia takutkan adalah jika tidak melakukan perintah Tuhan. Yohanes juga rendah hati — ia selalu berkata bahwa ia hanyalah pelayan Tuhan.

Dari kisah Yohanes, kita belajar untuk berani berkata benar dan hidup sederhana. Misalnya, saat kamu melihat teman menyontek atau mengambil barang yang bukan miliknya, kamu bisa menegur dengan kasih atau melaporkannya kepada guru. Itu juga salah satu cara menjadi pahlawan iman, loh!

Yuk, Sobat Truth Kids! Mari jadi anak-anak yang berani, taat, dan rendah hati seperti Yohanes. Mulai hari ini, jadilah pahlawan iman yang siap mempersiapkan jalan bagi Tuhan lewat hidup kita sehari-hari. Tuhan Yesus menyertai dan memberkati kalian semua!

Card image
Truth Junior 19 Desember 2025 - BERANI KATAKAN KEBENARAN
2025-12-20 12:54:52


Matius 3:3
“Dialah yang dimaksud dengan perkataan nabi Yesaya: Ada suara yang berseru-seru di padang gurun: Persiapkanlah jalan untuk Tuhan, luruskanlah jalan bagi-Nya.”

Halo, Sobat Truth Junior! Pernah nggak kamu lihat seseorang yang tetap semangat melakukan hal yang benar, walaupun tidak semua orang mendukungnya? Misalnya, kamu mau jujur atau berdoa sebelum makan, tapi temanmu malah menertawakanmu?
Nah, Yohanes Pembaptis juga begitu! Ia hidup sederhana di padang gurun. Pakaian Yohanes terbuat dari bulu unta, dan makanannya hanya belalang serta madu hutan. Tapi ia tetap taat kepada Allah dan berani menyampaikan kebenaran. Tuhan memanggil Yohanes untuk menyiapkan jalan bagi Yesus supaya orang-orang mau bertobat dan siap menyambut Juruselamat. Yohanes tidak takut meskipun banyak orang tidak suka dengan pesannya.

Sobat Truth Junior, zaman sekarang pun mirip. Kadang kita takut mengatakan kebenaran karena takut di bully atau diejek. Kita bisa saja melihat teman berbohong, berkata kasar, atau malas beribadah. Tapi Tuhan mau kita seperti Yohanes Pembaptis—berani berkata jujur, hidup sederhana, dan tetap taat meskipun tidak populer.

Selalu ingat ya Sobat Truth Junior, Tuhan senang pada anak-anak yang berani melakukan yang benar dan taat kepada-Nya. Yuk, belajar hidup jujur, rendah hati, dan berani membela kebenaran seperti Yohanes Pembaptis!

Card image
Z - VOTION 19 Desember 2025 - EVEN WHEN I CANNOT SEE
2025-12-19 23:41:49


“Neither this man nor his parents sinned, but this happened so that the works of God might be displayed in him.” – John 9:3 (NIV)

Have you ever thought, “Why am I like this?”, “Why am I different from everyone else?”, or “I don’t have any special talent like they do?” Sometimes we feel that our weaknesses or limitations make us useless. But the truth is God can use every part of our lives for something great.

Take the real-life story of Grezia Epiphania, a young girl from Indonesia who was born blind. At first glance, people might think her life is full of limitations. But Grezia didn’t give up. Instead, she used her voice to praise God and touch hearts through her songs. If you’ve ever heard her sing “Even When I Cannot See,” that’s the song that inspired this devotion.

Just like the man born blind in John 9, Jesus said his condition wasn’t because of anyone’s sin it was so that God’s works could be revealed through him. In the same way, Grezia’s presence in this world isn’t a mistake; it’s a way for God to show His love and power.

So, if you ever feel small, untalented, or not good enough, remember: you are still God’s precious creation. Sometimes we can’t see what we can give to God because our eyes are too focused on what we lack. But God doesn’t look at your appearance or abilities, He looks at your heart, your willingness to be used for His glory.

Starting today, let’s stop focusing on what we don’t have and start believing that God can use us just as we are.

WHAT TO DO?
1. Write down one thing about yourself that you used to see as a weakness.

2. Then, change your perspective think about how God can use that very thing to bless others.

BIBLE MARATHON:
Matthew 17

Card image
Renungan Pagi - 19 Desember 2025
2025-12-19 23:37:03


Dalam hidup ini terlalu banyak kepalsuan dan terlalu banyak ketidak-pastian; hanya firman Allah sumber kepastian.

Dan hanya didalam rumah Tuhan akan memdapatkan kekuatan, damai sejahtera dan ketenangan dalam hidup kita.

Card image
Quote Of The Day - 19 Desember 2025 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2025-12-19 23:35:59


Sangatlah picik kalau seseorang memandang kesempurnaan sebagai hal yang mustahil, sementara ia setuju bahwa orang percaya harus menjadi serupa seperti Yesus.

Card image
Mutiara Suara Kebenaran - 19 Desember 2025 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2025-12-19 23:34:41


Berpikir seperti Tuhan bukan sekadar tahu firman-Nya, tetapi menyelaraskan seluruh hidup dengan pikiran dan perasaan Kristus.

Card image
GODLY SORROW - 19 Desember 2025 (English Version)
2025-12-19 21:56:29


If our emotions are still easily manipulated by worldly matters, we will never experience sorrow according to the will of God. This kind of sorrow  is only experienced by those whose hearts are sensitive to sin and who hunger for holiness. In other words, when we do something that does not align with God’s standard of holiness, our hearts will feel regret, sadness, even lament: “Why did I do this?” We become disturbed-even traumatized-by our own actions. When such feelings are continually cultivated in spiritual awareness, we will grow more and more as individuals before God.

As we approach the end of 2025, many people will surely offer thanksgiving. But we must ask ourselves: for what are we thankful? Are we thankful merely for the days God has given us, or for how we have filled those days? If the days we lived were filled with actions that displeased God, is it not ironic-even wrong-to give thanks for them? It would be far better to come before God with a broken heart, confessing our sins and failures, and asking for forgiveness. Repent, until we possess sorrow according to the will of God-sorrow that arises from realizing that our condition is not yet what God desires.

A person who has this kind of sorrow will increasingly become pleasing to the Lord. God, who examines the human heart, will reveal our true condition before Him. And as long as we are willing to open ourselves and repent, God’s grace will never run out.

How ironic it is when we refuse to repent simply because we find it difficult to abandon worldly pleasures. It is true-leaving the world is difficult. But once we begin to take steps forward, we will discover that it is not impossible; in fact, it is inevitable for those who love God. We can change, because God sees the sincerity of our hearts, even if we have not yet changed completely. Change does not happen instantly, but through a long process. Still, the intention and determination to change are proof that we love God. For when we sincerely commit ourselves to living righteously, God works all things together for our good.

Therefore, at the end of this year, let us set ourselves right before God. Let us sincerely say, “Lord, forgive all my sins, my failures, my improper actions, my wrong decisions. Forgive me.” However, this plea for forgiveness must be accompanied by an awareness that we are broken and a commitment to change. Without commitment, confession becomes nothing more than an empty formality. It is deeply ironic to see many people who claim to believe in Jesus yet refuse to follow Him. They know the truth but are unwilling to live by it. True faith, however, is always marked by a commitment to live according to the truth one already knows.

In his cunning, the devil leads many Christians to live like Peter at the moment of his fall-careless, unwatchful, and complacent. They are unaware that life is a battlefield of spiritual warfare. They do not seriously examine whether their actions, decisions, and life choices align with the will of the Father.

Remember, for believers, there is never a ceasefire with the powers of darkness. There is no neutral territory in the spiritual life. Every moment is a battleground-between the will of God and the temptations of the world. Therefore, do not be careless. Stay alert at all times, so that our sorrow is not because we have lost the world, but because we have wounded the heart of God. For from such sorrow is born true repentance, and from true repentance flows genuine thanksgiving before God.

SORROW ACCORDING TO THE WILL OF GOD IS SORROW THAT ARISES FROM REALIZING THAT OUR CONDITION IS NOT YET WHAT GOD DESIRES IT TO BE.

Card image
DUKACITA MENURUT KEHENDAK ALLAH - 19 Desember 2025
2025-12-19 21:52:01


Jika perasaan kita masih mudah dimainkan oleh perkara-perkara dunia, maka kita tidak akan pernah mengalami dukacita menurut kehendak Allah. Dukacita semacam ini hanya dimiliki oleh orang yang hatinya peka terhadap dosa dan haus akan kesucian. Artinya, ketika kita melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan standar kekudusan Tuhan, hati kita akan menyesal, sedih, bahkan meratap: “Mengapa aku melakukan hal ini?” Kita menjadi trauma atas perbuatan kita sendiri. Bila perasaan semacam ini terus dikembangkan dalam kesadaran rohani, maka kita akan menjadi pribadi yang semakin bertumbuh di hadapan Allah.

Menjelang akhir tahun 2025, tentu banyak orang akan menaikkan ucapan syukur. Namun, kita perlu bertanya: atas apa kita bersyukur? Apakah atas hari-hari yang Tuhan berikan, atau atas cara kita mengisi hari-hari itu? Jika hari-hari yang kita jalani diisi dengan perbuatan yang tidak menyukakan hati Allah, tidakkah itu ironis—bahkan keliru—ketika kita mengucap syukur atasnya? Lebih baik kita datang kepada Tuhan dengan hati yang hancur, mengakui dosa dan kesalahan kita, dan memohon ampun. Bertobatlah, sampai kita memiliki dukacita menurut kehendak Allah—dukacita karena menyadari bahwa keadaan kita belum seperti yang Allah kehendaki.

Orang yang memiliki dukacita seperti ini akan menjadi pribadi yang makin hari makin berkenan kepada Tuhan. Allah, yang menguji batin manusia, akan menunjukkan keadaan kita yang sesungguhnya di hadapan-Nya. Dan selama kita masih mau membuka diri dan bertobat, anugerah Allah tidak akan pernah habis.

Ironis sekali jika kita belum mau bertobat hanya karena merasa berat meninggalkan kesenangan dunia. Memang benar, meninggalkan dunia itu berat. Tetapi begitu kita mulai melangkah, kita akan menemukan bahwa hal itu bukan mustahil—bahkan keniscayaan bagi orang yang mengasihi Tuhan. Kita bisa berubah, sebab Tuhan melihat kesungguhan hati kita, meskipun mungkin kita belum berubah sepenuhnya. Perubahan tidak terjadi seketika, tetapi melalui proses yang panjang. Namun, niat dan tekad untuk berubah adalah bukti bahwa kita mengasihi Tuhan. Sebab ketika kita bertekad tulus untuk hidup benar, Allah bekerja dalam segala hal untuk mendatangkan kebaikan bagi kita.

Maka, di penghujung tahun ini, marilah kita membereskan diri di hadapan Tuhan. Katakanlah dengan tulus, “Tuhan, ampunilah setiap dosaku, kesalahanku, perbuatanku yang tidak senonoh, tindakanku yang tidak tepat. Ampunilah aku.” Namun, permohonan ampun itu harus disertai kesadaran bahwa kita rusak dan komitmen untuk mengubah diri. Tanpa komitmen, pengakuan hanya menjadi formalitas kosong. Sungguh ironis melihat banyak orang yang mengaku percaya kepada Yesus, tetapi tidak mau mengikuti Yesus. Mereka tahu kebenaran, tetapi tidak mau melakukannya. Padahal, iman sejati selalu ditandai oleh komitmen untuk hidup sesuai kebenaran yang sudah diketahui.

Dalam kecerdikannya, Iblis menggiring banyak orang Kristen hidup seperti Petrus ketika ia jatuh: ceroboh, tidak berjaga-jaga, dan merasa aman. Mereka tidak sadar bahwa hidup ini adalah medan peperangan rohani. Mereka tidak sungguh-sungguh memperhatikan apakah tindakan, keputusan, dan pilihan hidupnya sesuai dengan kehendak Bapa atau tidak.

lngatlah, bagi orang percaya, tidak pernah ada gencatan senjata dengan kuasa kegelapan. Tidak ada daerah netral dalam hidup rohani. Setiap waktu adalah suasana perang-antara kehendak Allah dan godaan dunia. Karena itu, jangan lengah! Berjagalah senantiasa, supaya dukacita kita bukan karena kehilangan dunia, tetapi karena telah melukai hati Tuhan. Sebab dari dukacita yang demikianlah lahir pertobatan sejati, dan dari pertobatan sejati lahir ucapan syukur yang benar di hadapan Allah.

Teriring salam dan doa,
Dr. Erastus Sabdono

DUKACITA MENURUT KEHENDAK ALLAH ADALAH DUKACITA KARENA MENYADARI BAHWA KEADAAN KITA BELUM SEPERTI YANG ALLAH KEHENDAKI.

Card image
Bacaan Alkitab Setahun - 19 Desember 2025
2025-12-19 21:44:28

Titus 1-3

Card image
Truth Kids 18 Desember 2025 - PAHLAWAN IMAN SEJATI
2025-12-18 23:25:20


Daniel 6:23
"Daniel ditarik ke atas dari gua itu, dan tidak terdapat luka apa pun padanya, karena ia percaya kepada Allahnya."

Shalom, Sobat Truth Kids! Pahlawan iman bukanlah orang yang bisa terbang atau punya jubah seperti di TV. Pahlawan iman adalah anak-anak yang mencintai Tuhan dan hidup taat, seperti kamu! Di Alkitab, Daniel memberi teladan bagaimana hidup beriman. Ia selalu berdoa setiap hari, makan makanan yang sehat, dan tetap setia kepada Tuhan — bahkan saat berada di istana raja.

Daniel sangat disukai Raja Darius karena ia jujur, pandai, dan rajin. Tapi ada pejabat yang iri dan merencanakan kejahatan. Mereka menjebak Daniel agar ia dihukum masuk ke gua singa. Namun Daniel tetap percaya kepada Tuhan. Dan benar saja, Tuhan mengirim malaikat untuk menutup mulut singa, sehingga Daniel tidak terluka sedikit pun!

Dari kisah ini, kita belajar bahwa menjadi pahlawan iman berarti memiliki kekuatan taat, seperti rajin berdoa dan mendengarkan nasihat orang tua dan guru. Kita juga butuh kekuatan berani, seperti berani membela kebenaran dan minta maaf jika salah. Dan jangan lupa, kita perlu kekuatan rendah hati untuk menolong teman yang membutuhkan.

Yuk, Sobat Truth Kids! Jadilah pahlawan iman di zaman sekarang. Tuhan tidak mencari yang paling kuat, tapi yang paling setia dan mau dipakai oleh-Nya. Tetap semangat, dan biarlah hidup kita memuliakan Tuhan setiap hari. Bapa di surga memberkati kamu!

Card image
Truth Junior 18 Desember 2025 - TUHAN MELINDUNGI YANG SETIA
2025-12-18 23:23:25


Daniel 6:23
“Lalu sangat bersukacitalah raja, lalu ia memerintahkan supaya Daniel ditarik dari dalam gua itu. Maka Daniel ditarik dari dalam gua itu dan tidak terdapat luka apa pun padanya, karena ia percaya kepada Allahnya.”

Halo, Sobat Truth Junior! Pernah nggak kamu merasa takut karena ingin melakukan hal yang benar, tapi teman-teman malah mengejek? Misalnya, kamu tidak mau menyontek saat ujian, tapi temanmu bilang kamu sok jujur?

Nah, Daniel juga pernah mengalami hal yang sulit. Ia hidup di istana Raja Darius dan tetap setia menyembah Allah, walaupun ada peraturan baru yang melarang berdoa kepada selain raja. Tapi Daniel tidak mau berhenti berdoa! Akibatnya, ia dimasukkan ke gua singa. Namun Tuhan menutup mulut singa-singa itu, sehingga Daniel tidak terluka sedikit pun. Tuhan melindungi Daniel karena ia berani taat dan tetap percaya.

Sobat Truth Junior, di zaman sekarang juga banyak tantangan. Ada yang takut diejek karena rajin berdoa, atau malu mengaku percaya Tuhan. Kadang kita juga tergoda untuk berbuat curang supaya disukai teman. Tapi ingat, Tuhan senang kepada anak-anak yang tetap taat dan berani melakukan yang benar, meskipun tidak semua orang setuju.

Jadi ingat ya Sobat Truth Junior, Tuhan selalu melindungi anak-anak yang percaya dan taat kepada-Nya. Yuk, seperti Daniel—berani berbeda, tetap berdoa, dan setia kepada Tuhan apa pun yang terjadi!

Card image
Z - VOTION 18 Desember 2025 (English Version) - BE PRESENT, NOT JUST THERE
2025-12-18 21:47:37


“Let each of you look not only to your own interests, but also to the interests of others.” — Philippians 2:4

Have you ever hung out with your friends, but everyone was buried in their phones? Or maybe you were physically at church, but your mind was busy thinking about assignments, life drama, or someone who still hasn’t replied to your message. Sometimes we show up with our bodies, but our hearts and attention are nowhere to be found. The truth is, genuine presence can be one of the simplest yet most powerful expressions of love.

Be present, not just there means more than just showing up—it means actually engaging. When your friend is opening up, try really listening, not half-listening while scrolling through TikTok. When your family is gathered, try putting your phone away and enjoying the moment. Being fully present is a quiet way of saying, “I care,” and honestly, it’s more meaningful than a thousand sweet words.

Jesus didn’t come to earth just to “show up”—He came to be involved in our lives. If Jesus Himself came to serve and truly be with us, how can we not learn to be present for others? Sometimes people don’t need big solutions; they just need someone who genuinely shows up with a caring heart. The world is loud enough already, but not everyone is truly present.

So let’s choose to be one of the few who show up—not just with our bodies, but with our hearts.

WHAT TO DO?
1. When you are with other people today, try to be fully present without distractions.
2. Show your attention through simple things, such as listening sincerely or greeting them first.

BIBLE MARATHON:
Matthew 16

Card image
Renungan Pagi - 18 Desember 2025
2025-12-18 21:41:10


Hidup ini akan menjadi berarti, jika kita dapat menjadi perpanjangan tangan kasih Tuhan, untuk menyalurkan segala yang baik, yang telah kita terima dari Tuhan.

Karena itulah Tuhan mau menguduskan kita, supaya tidak menjadi orang percaya yang asal hidup, asal melayani dan asal bertindak.

Tetapi hidup kita akan punya makna, hidup membawa damai bahkan menghadirkan suasana sorga dimanapun kita berada.

Card image
Quote Of The Day - 18 Desember 2025 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2025-12-18 21:38:40


Orang yang tidak takut kematian adalah mereka yang bisa merasakan detak jantung-Nya Tuhan.

Card image
Mutiara Suara Kebenaran - 18 Desember 2025 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2025-12-18 20:58:16


Hari-hari yang Tuhan beri adalah rangkaian pelatihan yang menuntun kita menjadi pribadi yang semakin serupa dengan Kristus.

Card image
GRIEVING OVER WORLDLY MATTERS - 18 Desember 2025 (English Version)
2025-12-18 12:44:57


Paul’s letter to the church in Corinth is known as the severe letter or “the letter of anger.” Why is that? Because the Corinthian church was known for being disorderly and even extremely worldly. Paul writes in 1 Corinthians 3:3, “For you are still worldly. For since there is jealousy and strife among you, are you not worldly, and are you not acting like mere humans?”

This context can be understood because Corinth at that time was a port city and a major center of trade. Various ethnic groups gathered there, including Jews. It was in such an environment that the first Christian church in Corinth was born. However, the influence of the Corinthian world was very strong and wicked. In fact, at that time the term Corinthian gestai emerged, meaning “depraved like the Corinthians.” The city became a symbol of moral decadence. In ancient Greek theatrical performances, Corinthian male characters were often depicted holding a glass of wine-symbolizing debauchery and revelry.

Paul felt deep sorrow over the condition of the church. That is why he wrote with a harsh tone. Yet his anger and rebuke were not human anger, but a rebuke of love inspired by the Holy Spirit. And thank God, the rebuke proved effective. The Corinthian church grieved because they realized that their spiritual condition was not yet what God desired. This is what is meant by grief according to God’s will-a grief that leads to true repentance.

Jesus himself stated something similar in the Sermon on the Mount (Matthew 5:3): “Blessed are the poor in spirit, for theirs is the kingdom of heaven.”  What is meant by "poor in spirit" is not material poverty, but rather a spiritual awareness that we are not yet as God wants us to be. Those who are "poor in spirit" realize that their character, morals, disposition, and personality still need to be shaped by God.

Sadly, many people grieve over worldly things-because of material lack, loss of possessions, or failure to fulfill personal ambitions. Such grief does not bring spiritual transformation. When a person grieves only over worldly matters, it is impossible for them to place their situation rightly before God. However, when someone grows in the Lord, worldly matters no longer become the primary source of their grief. They will not be easily shaken by lack or physical suffering, because their heart is anchored in God. They learn to say, “What matters is that I can get through today without grieving the Lord and continue to please His heart.”

This is the right principle of life: every day is an opportunity to make God smile. Every time we please His heart, we are storing up treasures in heaven-adding sparkle to the crown that He will one day give us. Therefore, do not be preoccupied with worldly problems until we no longer pay attention to God’s feelings. God desires us not only take care of ourselves, but also to protect others. For when we protect others, God will also protect us. Ironically, many people diligently care for their bodies and faces, but do not have hearts that protect others. Then, at the end of the year, they give thanks for “God’s provision,” even though they never cared for their fellow human beings. How poor such an understanding is! Those who are not compassionate will perish, because their hearts are far from the heart of God.

Many people grieve over worldly things, but never grieve because they have hurt God's heart. Yet, that is true sorrow-sorrow that leads to a change of life. Therefore, do not grieve any longer over the loss of worldly things, but grieve over our spiritual condition that is not yet as God desires. From this kind of sorrow, a new spirit will be born to live according to God's will.

WHEN A PERSON GRIEVES ONLY OVER WORLDLY MATTERS, IT IS IMPOSSIBLE FOR THEM TO PLACE THEIR SITUATION RIGHTLY BEFORE GOD.

Card image
BERDUKACITA KARENA MASALAH DUNIAWI - 18 Desember 2025
2025-12-18 12:41:52


Surat Paulus kepada jemaat di Korintus dikenal sebagai severe letter atau “surat kemarahan.” Mengapa demikian? Karena jemaat Korintus adalah jemaat yang terkenal tidak tertib, bahkan sangat duniawi. Paulus menulis dalam 1 Korintus 3:3, “Karena kamu masih manusia duniawi. Sebab, jika di antara kamu ada iri hati dan perselisihan, bukankah hal itu menunjukkan bahwa kamu manusia duniawi dan bahwa kamu hidup secara manusiawi?”

Konteks ini dapat dimengerti karena Korintus pada masa itu adalah kota pelabuhan dan pusat perdagangan besar. Di sana berkumpul berbagai suku bangsa, termasuk orang Yahudi. Dalam lingkungan seperti itulah jemaat Kristen pertama di Korintus lahir. Namun, pengaruh dunia Korintus sangat kuat dan jahat. Bahkan pada masa itu muncul istilah Corinthian gestai, yang berarti “bejat seperti orang Korintus.” Kota ini menjadi simbol kebejatan moral. Dalam pertunjukan sandiwara Yunani kuno, tokoh pria Korintus sering digambarkan dengan segelas anggur di tangannya—simbol kebejatan dan pesta pora.

Paulus merasakan dukacita yang mendalam atas keadaan jemaat tersebut. Karena itulah ia menulis dengan nada keras. Namun, kemarahan dan tegurannya bukanlah amarah manusiawi, melainkan teguran kasih yang diilhami oleh Roh Kudus. Dan puji Tuhan, teguran itu ternyata mengena. Jemaat Korintus berdukacita karena mereka menyadari kondisi rohani mereka yang belum seperti yang Allah kehendaki. Inilah yang dimaksud dengan dukacita menurut kehendak Allah—dukacita yang menuntun pada pertobatan sejati.

Yesus sendiri menyatakan hal serupa dalam Khotbah di Bukit (Matius 5:3): “Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.” Yang dimaksud dengan “miskin di hadapan Allah” bukanlah kemiskinan materi, melainkan kesadaran rohani bahwa diri kita belum seperti yang Allah kehendaki. Orang yang “miskin di hadapan Allah” menyadari bahwa karakter, moral, watak, dan kepribadiannya masih perlu dibentuk oleh Tuhan.

Sayangnya, banyak orang justru berdukacita karena hal-hal duniawi—karena kekurangan materi, kehilangan harta, atau gagal memenuhi ambisi pribadi. Dukacita seperti ini tidak membawa perubahan rohani. Ketika seseorang berdukacita hanya karena urusan dunia maka tidak mungkin ia bisa menempatkan keadaannya secara benar di hadapan Allah. Namun, ketika seseorang bertumbuh dalam Tuhan, hal-hal duniawi tidak lagi menjadi sumber utama dukacitanya. Ia tidak akan mudah terguncang oleh kekurangan atau penderitaan fisik, karena hatinya berlabuh pada Allah. Ia belajar berkata, “Yang penting aku dapat melewati hari ini tanpa mendukakan Tuhan dan tetap menyenangkan hati-Nya.”

Inilah prinsip hidup yang benar: setiap hari adalah kesempatan untuk membuat Tuhan tersenyum. Setiap kali kita menyenangkan hati-Nya, kita sedang mengumpulkan harta di surga—menambah kilauan pada mahkota yang kelak akan diberikan-Nya. Maka, jangan sibuk dengan masalah-masalah dunia sampai kita tidak lagi memperhatikan perasaan Tuhan. Tuhan menghendaki kita bukan hanya menjaga diri, tetapi juga melindungi sesama. Sebab, ketika kita melindungi orang lain, Tuhan pun akan melindungi kita. lronisnya, banyak orang rajin merawat tubuh dan wajahnya, tetapi tidak memiliki hati yang melindungi orang lain. Lalu, di akhir tahun, mereka mengucap syukur atas "pemeliharaan Tuhan," padahal mereka tidak pernah peduli pada sesamanya. Betapa miskinnya pengertian seperti itu! Orang yang tidak berbelas kasih akan binasa, karena hatinya jauh dari hati Allah .

Banyak orang berdukacita karena hal-hal duniawi, tetapi tidak pernah berdukacita karena dirinya telah melukai hati Tuhan. Padahal, itulah dukacita yang sejati- dukacita yang menuntun pada perubahan hidup. Maka, jangan lagi berdukacita karena kehilangan dunia, tetapi berdukacitalah karena kondisi rohani kita yang belum seperti yang Allah kehendaki. Dari dukacita seperti inilah akan lahir semangat baru untuk hidup sesuai dengan kehendak Tuhan.

Teriring salam dan doa,
Dr. Erastus Sabdono

KETIKA SESEORANG BERDUKA CITA HANYA KARENA URUSAN DUNIA MAKA TIDAK MUNGKIN IA BISA MENEMPATKAN KEADAANNYA SECARA BENAR DI HADAPAN ALLAH.

Card image
Bacaan Alkitab Setahun - 18 Desember 2025
2025-12-18 12:35:51

1 Timotius 1-6

Card image
Truth Kids 16 Desember 2025 - ANAK KECIL KESAYANGAN TUHAN
2025-12-17 20:35:39


2 Raja-raja 23:25
"Sebelum dia tidak ada raja seperti dia yang berbalik kepada TUHAN dengan segenap hatinya, dengan segenap jiwanya, dan dengan segenap kekuatannya, sesuai dengan segala Taurat Musa; dan sesudah dia tidak ada bangkit lagi yang seperti dia." Halo, Sobat Truth Kids!Pernahkah kamu punya mainan yang sangat kamu sukai? Wah, pasti itu keren! Tapi ada sesuatu yang jauh lebih keren daripada mainan favorit mu, yaitu Tuhan.

Hari ini kita akan belajar tentang seorang tokoh Alkitab bernama Yosia. Yosia adalah seorang anak muda yang menjadi raja di usia muda, dan ia sangat mencintai Allah. Yosia melakukan hal-hal baik yang menyenangkan hati Allah. Ia juga berani menghancurkan semua patung berhala yang disembah oleh orang-orang Yehuda pada waktu itu, karena Yosia hanya mau menyembah Allah saja.

Allah sangat senang dengan Yosia. Hati Yosia bersih dan murni, dan ia selalu taat kepada Allah. Karena itu, Allah memberkati Yosia yang hidup dengan penuh kasih kepada-Nya.

Kita juga bisa menjadi seperti Yosia, lho! Yuk, belajar menjadi anak kesayangan Tuhan dengan rajin berdoa, mendengarkan cerita Alkitab setiap hari, dan suka membantu orang lain. Tuhan Yesus pasti senang kalau hati kita baik dan penuh kasih untuk-Nya.

Card image
Truth Junior 16 Desember 2025 - MURNI SEPERTI RAJA YOSIA
2025-12-17 18:59:13


2 Raja-Raja 23:25
“Sebelum dia tidak ada raja seperti dia yang berbalik kepada TUHAN dengan segenap hatinya, dengan segenap jiwanya, dan dengan segenap kekuatannya, sesuai dengan segala Taurat Musa; dan sesudah dia tidak ada yang bangkit lagi seperti dia.”

Tahukah kamu? Raja Yosia menjadi raja ketika ia baru berusia delapan tahun! Masih sangat muda, tetapi ia memiliki hati yang luar biasa untuk Tuhan.

Sejak kecil, Yosia mulai mencari Allah. Ia ingin tahu apa yang Tuhan sukai dan berusaha hidup dengan benar. Ketika membaca Firman Tuhan, Yosia sadar bahwa bangsanya sudah jauh dari Tuhan. Banyak orang menyembah berhala berupa patung-patung palsu yang tidak hidup dan tidak bisa menolong.

Yosia pun tidak tinggal diam! Ia menghancurkan semua berhala dan membersihkan negerinya dari penyembahan berhala. Ia ingin seluruh bangsa kembali menyembah Tuhan yang benar. Tuhan sangat senang melihat hati Yosia yang murni dan tulus. Karena Yosia sungguh-sungguh mengasihi Tuhan, Tuhan pun berkenan kepadanya.

Sobat Truth Junior, walau kamu masih kecil seperti Yosia, tapi kamu juga bisa mencintai Tuhan dengan hati yang murni! Tuhan tidak melihat umur atau penampilan, tetapi melihat hati. Kalau kamu mau hidup taat, jujur, dan mengasihi Tuhan, kamu pun bisa membuat Tuhan senang—seperti Raja Yosia!

Card image
Z - VOTION 16 Desember 2025 (English Version) - IF YOU'RE PRESENT, MAKE AN IMPACT!
2025-12-17 18:57:19


"Let your light shine before others, that they may see your good deeds and glorify your Father in heaven. – Matthew 5:16

Have you ever felt like you were just “there” without really making an impact? Or maybe you’ve thought, “What’s the point of being different if no one appreciates it?” Actually, God doesn’t just call us to be present. He wants our presence to be meaningful, to bring change and to shine His light wherever we are.

A “powerful” presence doesn’t mean we have to stand out, but rather a presence that has a positive impact on others. A simple example is when friends in class start gossiping, we can choose not to join in. When a friend is feeling discouraged, we can be the one who encourages them. Even small things like greeting someone first or helping without being asked can show the light of Christ in us.

Jesus does not call us to be spectators in this life. He calls us to be agents of change. The world is full of people who want to be seen, but God is looking for people who want to bring His love. A “powerful” presence is not measured by popularity, but by how we reflect God through our daily actions.

WHAT TO DO?
1. Start your day with prayer: “Lord, use me so that my presence today can be a blessing.”
2. Find one small thing you can do to bring goodness today, such as giving a smile or simply being a good listener.

BIBLE MARATHON:
Matthew 14

Card image
Z - VOTION 16 Desember 2025 - KALAU HADIR, HARUS NAMPOL!
2025-12-16 22:37:15


"Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di surga.- Matius 5:16

Pernahkah kamu merasa seperti hanya “ada” di suatu tempat tanpa benar-benar memberi pengaruh apa pun? Atau mungkin kamu pernah berpikir, “Untuk apa tampil berbeda kalau tidak ada yang menghargai?” Sebenarnya, Tuhan tidak hanya memanggil kita untuk sekadar hadir. Dia mau kehadiran kita bermakna, membawa perubahan dan memancarkan terang-Nya di mana pun kita berada.

Kehadiran yang “nampol” bukan berarti harus tampil mencolok, tetapi kehadiran yang membawa dampak positif bagi orang lain. Contoh sederhananya ketika teman-teman di kelas mulai ber gosip, kita bisa memilih untuk tidak ikut-ikutan. Saat ada teman yang sedang merasa putus asa, kita bisa menjadi orang yang menguatkan. Bahkan hal kecil seperti menyapa seseorang lebih dulu atau membantu tanpa diminta pun bisa menunjukkan terang Kristus di dalam diri kita.

Yesus tidak memanggil kita untuk menjadi penonton dalam kehidupan ini. Ia memanggil kita untuk menjadi pembawa perubahan. Dunia sudah penuh dengan orang yang ingin dilihat, tetapi Tuhan mencari orang yang ingin menghadirkan kasih-Nya. Kehadiran yang _“nampol”_ bukan diukur dari popularitas, tetapi dari bagaimana kita mencerminkan Tuhan melalui tindakan kita sehari-hari

WHAT TO DO?
1. Mulailah hari dengan doa: “Tuhan, pakai aku agar kehadiranku hari ini bisa menjadi berkat.”
2. Temukan satu hal kecil yang bisa kamu lakukan untuk membawa kebaikan hari ini seperti memberikan senyum, atau sekadar menjadi pendengar yang baik.

BIBLE MARATHON:
Matius 14

Card image
Renungan Pagi - 16 Desember 2025
2025-12-16 22:31:56


Dunia hari-hari ini sedang kehilangan orang-orang yang tulus, karena ada banyak orang yang akhirsnya berubah motivasinya dalam pelayanan, dalam pekerjaan atau dalam pengabdiannya hanya karena uang, hanya karena jabatan.

Sebagai orang percaya kita ditempatkan Tuhan ditengah-tengah dunia ini untuk menjadi terang dan garam, karena itu dimanapun Tuhan tempatkan, biarlah kita menjadi orang-orang yang hidup benar dan hidup dalam ketulusan.

Card image
Quote Of The Day - 16 Desember 2025 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2025-12-16 22:30:59


Dinamika hidup itu anugerah Tuhan, karena di dalam dinamika hidup itu, kita dipersiapkan masuk kekekalan.

Card image
Mutiara Suara Kebenaran - 16 Desember 2025 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2025-12-16 22:29:28


Saksi Tuhan bukan hanya mereka yang berkhotbah, tetapi mereka yang hidupnya memberi bukti bahwa Tuhan memerintah di hatinya.

Card image
RIGHT TO LIFE 16 Desember 2025
2025-12-16 22:27:47


A person who thinks that God has no right over his life will be seen in a lifestyle that desires everything for self-satisfaction (James 4:1–4). Such people are friends of the world; they are traitors to God. The world is the bait used by the devil to ensnare human beings so that they do not devote themselves to God (Luke 4:5–8). And this is indeed the reality today: many people feel entitled to their own lives, then place various desires within themselves without caring about God, who is the rightful owner of that life.

One thing that humans often forget is that we come from nothingness. It is God who brought us into existence-who made present a person called “me.” This must always be remembered: we exist from non-existence (creatio ex nihilo). Thus, we actually have no right over our lives, because the life we possess belongs to God who brought it into being. If we truly internalize this reality, we will not object to living absolutely within His will and plan. 

In the creation of every individual, God certainly has an agenda. It is God’s agenda that we must care about, not our own. A person who constantly indulges his desires is someone who feels entitled to a personal agenda. Such a person is essentially in a state of rebellion-living to fulfill activities that originate from self-centered plans. 

We must realize that we do not have the right to exist. If we were able to bring ourselves into existence, only then would we have the right to desire whatever we pleased. But because we cannot make ourselves exist, and God is the One who brought us into being, then God has full right over us. Therefore, we must dare to say firmly: “God doesn’t exist for me; I exist for the Lord.” 

God is not for me; I exist for God. A true believer will learn not to feel entitled to any desire outside the Father’s will. He will continually say in his prayers: “Not my will, but Your will be done. Not my kingdom come, but Your Kingdom. Let Your will be done on earth as it is in heaven.” 

Human beings who have been redeemed by the blood of the Lord Jesus have no right to possess the spirit or passion of the world, except the spirit and passion possessed by the Lord Jesus Christ. The body that we live in must be driven by the passion or spirit of the Lord Jesus (Gal. 2:19–20). If we bring the passion of the Son of God into ourselves-absorbing His life impulse-we bring Him into our lives. On the contrary, if not, we are actually nullifying God in our lives. That is why, for those who truly serve God’s will, God becomes very real; but for those who do not want to serve Him, God seems as though He does not exist.

The Lord Jesus was once tempted by the devil to possess the wrong spirit, namely the spirit of the world. The devil displayed the beauty of the world to ensnare Him, but the Lord Jesus rejected it. This rejection meant that He refused to worship the devil. And just as He overcame, so must we overcome. Therefore, the Lord Jesus is called the Source of Salvation who became our example (Heb. 5:7–9). In this we understand why we must have the mind and feelings of Christ (Phil. 2:5–7). For having the mind and feelings of Christ means that we live in His passion, not the passion of the world. 

WE ACTUALLY HAVE NO RIGHT OVER OUR LIVES, BECAUSE THE LIFE WE POSSESS BELONGS TO GOD WHO BROUGHT IT INTO BEING.

Card image
HAK HIDUP - 16 Desember 2025
2025-12-16 22:24:04


Orang yang berpikir bahwa Allah tidak berhak atas hidupnya akan terlihat dari sikap hidup yang mengingini segala sesuatu demi kepuasan dirinya (Yak. 4:1–4). Orang seperti ini bersahabat dengan dunia; mereka adalah pengkhianat terhadap Tuhan. Dunia adalah umpan yang digunakan Iblis untuk menjerat manusia agar tidak berbakti kepada Allah (Luk. 4:5–8). Dan memang demikianlah kenyataan hari ini: banyak orang merasa berhak atas hidupnya, lalu menaruh berbagai keinginan dalam diri tanpa memedulikan Tuhan yang memiliki hidup tersebut.

Satu hal yang sering dilupakan manusia adalah bahwa kita berasal dari ketiadaan. Allahlah yang mengadakan kita—menghadirkan seorang pribadi yang disebut “saya.” Hal ini harus selalu diingat: kita ada dari tidak ada (_creatio ex nihilo_). Dengan demikian kita sebenarnya tidak berhak atas hidup kita, sebab hidup yang kita miliki adalah milik Tuhan yang mengadakannya. Jika kita sungguh-sungguh menghayati realitas ini, kita tidak akan berkeberatan untuk hidup di dalam kehendak dan rencana-Nya secara mutlak.

Dalam penciptaan setiap pribadi, Allah pasti memiliki agenda. Agenda Tuhan itulah yang harus kita pedulikan, bukan agenda diri sendiri. Orang yang terus mengumbar keinginannya adalah orang yang merasa berhak atas agenda pribadi. Orang seperti ini pada dasarnya berstatus pemberontak—hidup untuk memenuhi kegiatan yang bersumber dari agenda diri sendiri.

Kita harus sadar bahwa kita tidak berhak ada. Kalau kita dapat mengadakan diri kita, barulah kita berhak memiliki keinginan sesuka hati. Tetapi karena kita tidak dapat membuat diri kita ada, dan Tuhanlah yang mengadakannya, maka Tuhan sepenuhnya berhak atas diri kita. Karena itu kita harus berani berkata tegas: “God doesn’t exist for me; I exist for the Lord.”

Tuhan bukan untuk saya; saya ada untuk Tuhan. Orang percaya yang benar akan belajar tidak merasa berhak memiliki keinginan apa pun di luar kehendak Bapa. Ia akan terus berkata dalam doanya: “Bukan kehendakku yang jadi, melainkan kehendak-Mulah yang jadi. Bukan kerajaanku yang datang, melainkan Kerajaan-Mu. Kehendak-Mu lah yang jadi di bumi seperti di surga.”

Manusia yang ditebus darah Tuhan Yesus tidak berhak memiliki spirit atau gairah dunia, kecuali spirit dan gairah yang dimiliki oleh Tuhan Yesus Kristus. Tubuh yang kita hidupi ini harus digerakkan oleh gairah atau spirit Tuhan Yesus (Gal. 2:19-20). Jika kita menghadirkan gairah Anak Allah dalam diri-menyerap semangat hidup-Nya-kita menghadirkan Dia dalam hidup kita. Sebaliknya, jika tidak, kita sebenarnya sedang meniadakan Tuhan dalam hidup. ltulah sebabnya, bagi orang yang sungguh-sungguh melayani kehendak Tuhan, Tuhan menjadi sangat nyata; tetapi bagi mereka yang tidak mau melayani-Nya, Tuhan seperti tidak ada.

Tuhan Yesus pernah dicobai lblis untuk memiliki spirit yang salah, yaitu spirit dunia. lblis menunjukkan keindahan dunia untuk menjerat-Nya, tetapi Tuhan Yesus menolak. Penolakan ini berarti la tidak mau menyembah lblis. Dan seperti Dia menang, kita pun harus menang. Karena itu Tuhan Yesus disebut Pokok Keselamatan yang menjadi teladan bagi kita (lbr. 5:7-9). Dalam hal inilah kita mengerti mengapa kita harus memiliki pikiran dan perasaan Kristus (Flp. 2:5-7). Sebab memiliki pikiran dan perasaan Kristus berarti kita hidup di dalam gairah-Nya, bukan gairah dunia .

Teriring salam dan doa,
Dr. Erastus Sabdono

KITA SEBENARNYA TIDAK BERHAK ATAS HIDUP KITA, SEBAB HIDUP YANG KITA MILIKI ADALAH MILIKI TUHAN YANG MENGADAKANNYA.

Card image
Truth Kids 15 Desember 2025 - TUHAN MENYELAMATKAN KITA
2025-12-16 12:50:56


2 Raja-raja 19:19 “Maka sekarang, ya TUHAN, Allah kami, selamatkanlah kiranya kami dari tangannya, supaya segala kerajaan di bumi mengetahui, bahwa hanya Engkaulah Allah, ya TUHAN.”

Sobat Truth Kids, hari ini kita belajar dari kisah Raja Hizkia dan nabi Yesaya dalam 2 Raja-raja 19:19. Ketika musuh besar ingin menyerang kota mereka, mereka tidak panik, tapi berdoa sungguh-sungguh kepada Tuhan. Mereka percaya bahwa Tuhan jauh lebih kuat dari musuh mana pun dan akan melindungi mereka.

Tuhan mendengar doa Hizkia dan menjawab dengan kuasa-Nya yang luar biasa. Kota itu tidak jatuh ke tangan musuh, dan semua orang tahu bahwa hanya Tuhan yang layak disembah. Tuhan adalah pelindung terbaik bagi siapa saja yang percaya dan berharap kepada-Nya.

Sobat Truth Kids, kalau kamu sedang takut, sedih, atau menghadapi masalah, ingatlah bahwa Tuhan juga mendengar doamu. Ia menjagamu seperti seorang gembala menjaga domba-dombanya — dengan penuh kasih dan perhatian.

Yuk, mari kita berdoa bersama, meminta Tuhan untuk melindungi dan menyertai kita setiap hari. Jangan takut, karena Tuhan selalu bersama kita dan siap menolong tepat pada waktunya!

Card image
Truth Junior 15 Desember 2025 - SELALU BERDOA
2025-12-16 12:46:40


2 Raja-Raja 19:19
“Ya TUHAN, Allah kami, selamatkanlah kiranya kami dari tangannya, supaya segala kerajaan di bumi mengetahui bahwa hanya Engkaulah TUHAN, Allah.”

Halo, Sobat Truth Junior! Pernah nggak kalian merasa takut saat menghadapi ujian sekolah atau ketika harus tampil di depan kelas? Kadang rasanya jantung berdebar, tangan dingin, bahkan ingin menyerah. Nah, kira-kira seperti itulah perasaan Raja Hizkia ketika musuh besar menyerang kota Yerusalem. Tapi bukannya panik, ia malah berdoa kepada Tuhan.

Raja Hizkia tahu bahwa kekuatan manusia terbatas. Pasukan musuhnya sangat banyak, sedangkan pasukan Yerusalem hanya sedikit. Namun, Hizkia percaya bahwa kuasa Tuhan jauh lebih besar daripada semua musuh. Karena doa dan imannya, Tuhan menjawab dengan cara yang luar biasa: Ia melindungi Yerusalem dari serangan musuh!

Sobat Truth Junior, dari Hizkia kita belajar bahwa pahlawan sejati bukanlah yang punya pedang atau tentara banyak, tetapi yang mau berdoa dan percaya penuh kepada Allah. Doa membuat hati kita tenang, dan Allah selalu mendengar setiap doa anak-anak-Nya.

Jadi, saat kalian merasa takut, sedih, atau bingung, jangan lupa untuk berdoa, ya! Tuhan adalah pahlawan sejati yang selalu siap menolong dan melindungi kita setiap hari. Bersama Tuhan, kita tidak perlu takut menghadapi apa pun!

Card image
Renungan Pagi - 15 Desember 2025
2025-12-15 22:57:06


Kalau kita mengenal kasih Tuhan maka akan selalu termotivasi untuk melakukan hal-hal yang baik dalam hidup kita, dan tidak mungkin akan menyia-nyiakan kasih Tuhan dengan hidup bermalas-malasan kalau mengenal kasih Tuhan.
Ketika kita berjuang, berjuang untuk membalas cinta kasih Tuhan dalam hidup ini melalui kesadaran hidup untuk menjadi berkat, untuk mencari jiwa, untuk menjadi saksi Tuhan dan untuk menyatakan kemuliaan Tuhan dimanapun Tuhan tempatkan kita.

Card image
Quote Of The Day - 15 Desember 2025 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2025-12-15 22:49:53


Allah tidak pernah gagal atas apa yang Dia rancang.

Card image
Mutiara Suara Kebenaran - 15 Desember 2025 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2025-12-15 21:54:55


Menjadi saksi berarti bersedia diproses. Tanpa proses, tidak ada kedewasaan. Tanpa kedewasaan, tidak ada kesaksian yang otentik.

Card image
OWING OUR LIVES - 15 Desember 2025 (English Version)
2025-12-15 21:50:47


Many Christians behave like those who criticized Mary when she anointed the Lord Jesus (Mark 14:3-9). They felt that Jesus did not deserve such special treatment. They did not treat Him in a manner worthy of who He is. For officials, loved ones, or other honorable individuals, they can show the highest respect. So why not go to the Lord? This is a grave mistake. A person’s treatment of God shows how much they know, love, and honor Him. It also reveals whether they truly value God’s grace and goodness in their lives—whether they are moved to respond to that goodness, just as Mary did, in a way that may seem extreme, yet is perfectly natural for someone who understands who Jesus is.

If we compare the story in Mark 14:3-9, Simon—who had been healed of leprosy—should have been the one most fitting to treat Jesus the way Mary did. In that time, leprosy was considered a curse. Its sufferers were not allowed to live in society. They were cast out, living in uncertainty, without relationships, without a future—like someone condemned, simply waiting for execution. Simon’s healing was an immeasurable grace. He should have repaid the Lord’s goodness with the very best he had. But he did not do what was fitting. He only invited Jesus to dine in his house—good, but not worthy compared to the greatness of the grace he received.

In contrast, Mary understood what was fitting to offer to the Lord Jesus.

Mary felt indebted because Jesus had raised her brother Lazarus—her only brother (John 11). So she gave Him the best: pure nard, a costly ointment, and likely her only valuable possession. Usually, people used nard drop by drop. But Mary broke the neck of the alabaster jar so that all of it could be poured out. For Mary, when it came to Jesus, the jar had to be broken—so that her offering would not be partial, but overflowing.

It is deeply ironic that many people desire abundant blessings from God but are not willing to give abundantly to God in return. Therefore, we must ask: *How should we repay the goodness of God? Simon, the former leper, did not refuse to repay God’s kindness; he did repay it by hosting Jesus. But in truth, he could have done more—he could have given his very best.

The psalmist once said in Psalm 116:12, “What shall I render to the LORD for all His benefits toward me?” This verse expresses a deep inner awareness: we do not know what could be worthy of God, because His goodness is too great. This awareness should be present in every believer who knows they have received God’s goodness. But sadly, many Christians repay God’s kindness only superficially. They treat God in an unworthy manner. For wealthy and respected people, they can give the highest honor—but why not to God?

The salvation God gives is priceless. If Jesus had not saved us, we would perish forever in eternal fire. With what can we repay such immense goodness? We must realize that whatever we give to God—our time, energy, wealth, life—will never match His goodness, because we are people who owe Him our very lives.

WE MUST REALIZE THAT WHATEVER WE GIVE TO GOD— OUR TIME, ENERGY, WEALTH, LIFE—WILL NEVER MATCH HIS GOODNESS, BECAUSE WE ARE PEOPLE WHO OWE HIM OUR VERY LIVES.

Card image
BERUTANG NYAWA - 15 Desember 2025
2025-12-15 20:52:55


Banyak orang Kristen bersikap seperti mereka yang menolak tindakan Maria ketika mengurapi Tuhan Yesus (Mrk. 14:3–9). Mereka menganggap Tuhan Yesus tidak pantas menerima perlakuan yang istimewa. Mereka tidak memperlakukan Tuhan Yesus secara pantas. Untuk pejabat, bagi orang yang mereka kasihi, atau bagi orang-orang tertentu, mereka dapat memberi penghormatan setinggi-tingginya. Lalu mengapa tidak kepada Tuhan? Ini adalah kesalahan besar. Perlakuan seseorang kepada Tuhan menunjukkan seberapa ia mengenal, mengasihi, dan menghormati Dia. Sekaligus menunjukkan apakah ia menghargai anugerah dan kebaikan Tuhan dalam hidupnya sehingga tergerak membalas kebaikan itu—seperti tindakan Maria yang tampak ekstrem, namun justru paling wajar bagi seseorang yang mengerti siapa Tuhan Yesus.

Jika dibandingkan dengan kisah Markus 14:3–9, seharusnya Simon yang pernah disembuhkan dari kusta adalah orang yang paling pantas memperlakukan Tuhan Yesus seperti Maria melakukannya. Pada masa itu, kusta dianggap kutukan. Penderitanya tidak boleh tinggal di tengah masyarakat. Mereka tersingkir, hidup dalam ketidakpastian, tanpa relasi, tanpa masa depan—seperti terpidana yang hanya menunggu eksekusi. Kesembuhan Simon adalah anugerah tak ternilai. Seharusnya ia membalas kebaikan Tuhan dengan segala yang terbaik yang ia miliki. Tetapi ia tidak melakukan apa yang seharusnya. Ia hanya mengundang Tuhan Yesus makan di rumahnya—baik, tetapi belum pantas dibandingkan dengan besarnya anugerah yang ia terima.

Sebaliknya, Maria mengerti apa yang patut diberikan kepada Tuhan Yesus. Maria merasa berutang budi, sebab Tuhan Yesus telah membangkitkan Lazarus—satu-satunya saudara laki-lakinya (Yoh. 11). Maka ia memberikan yang terbaik, yaitu minyak narwastu murni, barang mahal dan kemungkinan besar satu-satunya harta berharganya. Biasanya orang meneteskan minyak narwastu setetes demi setetes. Tetapi Maria memecahkan leher buli-buli itu supaya minyaknya dicurahkan seluruhnya. Bagi Maria, untuk Tuhan Yesus buli-buli itu harus dipecahkan—agar persembahannya tidak setengah-setengah, melainkan berlimpah.

Ironis sekali, banyak orang ingin berkat berlimpah dari Tuhan, tetapi tidak berani memberikan yang berlimpah kepada Tuhan sebagai balasannya. Karena itu kita patut bertanya: Bagaimana seharusnya kita membalas kebaikan Tuhan? Simon yang pernah kusta bukan tidak mau membalas kebaikan Tuhan. Ia membalasnya dengan menjamu Tuhan Yesus. Tetapi sebenarnya ia dapat melakukan lebih—yaitu memberikan yang terbaik dari dirinya.

Pemazmur pernah berkata: Mazmur 116:12 “Bagaimana akan kubalas kepada TUHAN segala kebajikan-Nya kepadaku?” Ini adalah kesadaran batin yang dalam: kita tidak tahu apa yang pantas diberikan kepada Tuhan, karena kebaikan-Nya terlalu besar. Dan kesadaran ini seharusnya dimiliki oleh setiap orang percaya yang merasa telah menerima kebaikan Tuhan. Tetapi kenyataannya, banyak orang Kristen membalas kebaikan Tuhan ala kadarnya. Mereka memperlakukan Tuhan secara tidak pantas. Untuk manusia yang kaya dan terpandang, mereka dapat memberi penghargaan setinggi mungkin. Tetapi mengapa tidak kepada Tuhan?

Keselamatan yang Tuhan berikan tidak ternilai harganya. Jika Tuhan Yesus tidak menyelamatkan kita, kita akan binasa selama-lamanya di api kekal. Dengan apa kita membalas kebaikan sebesar ini? Kita harus sadar apa pun yang kita berikan kepada Tuhan—waktu, tenaga, harta, hidup—itu belum sebanding dengan kebaikan-Nya, sebab kita adalah orang-orang yang berutang nyawa.

Teriring salam dan doa,
Dr. Erastus Sabdono

KITA HARUS SADAR APA PUN YANG KITA BERIKAN KEPADA TUHAN—WAKTU, TENAGA, HARTA, HIDUP— ITU BELUM SEBANDING DENGAN KEBAIKAN-NYA, SEBAB KITA ADALAH ORANG-ORANG YANG BERUTANG NYAWA.

Card image
Truth Kids 14 Desember 2025 - JANGAN TAKUT, TUHAN MENYERTAI
2025-12-14 13:40:30


2 Raja-raja 6:16
Jawabnya: “Jangan takut, sebab lebih banyak yang menyertai kita daripada yang menyertai mereka.”

Hai Sobat Truth Kids! Hari ini kita belajar dari kisah Nabi Elisa dalam 2 Raja-raja 6:16. Saat itu, pasukan musuh datang untuk menangkap Elisa dan pelayannya menjadi sangat takut. Tapi Elisa tetap tenang dan berkata, “Jangan takut!” Kenapa? Karena Elisa tahu bahwa Tuhan menyertai mereka, bahkan dengan bala tentara surgawi yang tak terlihat.

Elisa percaya bahwa Tuhan mengirim malaikat-malaikat-Nya untuk menjaga dan melindungi anak-anak-Nya. Jumlah mereka jauh lebih banyak dan kuat daripada semua musuh yang ada. Karena itu, Elisa bisa tetap tenang dan tidak takut, meskipun bahaya ada di depan mata.

Sobat Truth Kids, Tuhan yang sama juga menyertai kamu hari ini! Baik saat kamu senang, sedih, atau takut — Tuhan selalu ada di sisimu. Kamu tidak sendirian. Ketika kamu percaya kepada-Nya, kamu bisa merasa aman dan dikuatkan, seperti Elisa.

Jadi, kalau kamu merasa takut atau gelisah, ingat janji Tuhan. Berdoalah dan minta kekuatan dari-Nya. Tuhan akan membuat hatimu berani dan damai. Yuk, Sobat Truth Kids, belajar percaya seperti Elisa dan katakan, “Aku tidak takut, karena Tuhan bersamaku!”

Card image
Truth Junior 14 Desember 2025 - TAKUT? KAN ADA TUHAN
2025-12-14 13:36:17


2 Raja-Raja 6:16
“Jangan takut, sebab lebih banyak yang menyertai kita daripada yang menyertai mereka.”

Halo, Sobat Truth Junior! Pernah nggak kalian merasa takut saat lampu kamar dimatikan atau ketika mendengar suara aneh di malam hari? Rasanya pasti ingin cepat lari ke mama atau papa, ya? Nah, ternyata nabi Elisa dalam Alkitab juga pernah menghadapi hal yang menakutkan. Ia dikepung oleh pasukan musuh yang jumlahnya sangat banyak. Tapi anehnya, Elisa tetap tenang dan tidak panik sama sekali!

Kenapa ya? Karena Elisa percaya bahwa Tuhan lebih besar daripada semua musuhnya. Bayangkan seperti saat kalian main game seru—musuhnya banyak dan kuat, tapi kalian punya super power yang bikin kalian nggak terkalahkan. Rasanya pasti percaya diri banget, kan? Nah, begitulah perasaan Elisa saat ia tahu bahwa Tuhan ada di sisinya.

Sobat Truth Junior, kita juga punya Tuhan yang selalu menyertai kita setiap hari. Saat belajar di sekolah, bermain dengan teman, atau ketika merasa sedih dan takut, Tuhan tidak pernah meninggalkan kita. Ia selalu menjaga dan melindungi kita.

Karena itu, yuk kita belajar berani seperti Elisa! Jangan takut menghadapi masalah atau tantangan apa pun. Ingat, kalau Tuhan ada di pihak kita, Dia akan menolong kita!

Card image
Z - VOTION 14 Desember 2025 (English Version) - FAITHFULNESS THAT SHAPED HISTORY
2025-12-14 13:21:42


“But Ruth replied, ‘Don’t urge me to leave you or to turn back from you. Where you go I will go…" – Ruth 1:16

Imagine being Ruth. You’ve lost your husband, your future feels uncertain, and the only person left is your grieving mother-in-law. You could go back to your hometown, start fresh, or… stay.

Ruth chose to stay. She said to Naomi, “Where you go, I will go.” No backup plan. No guarantees. Just quiet loyalty and bold love.

Jesus was also born in a place that didn’t look promising—a manger. But from that humble beginning, He brought salvation to the world. Ruth didn’t go viral, but God saw her. And because of her faithfulness, she became part of Jesus’ family line. From a quiet field to the heart of redemption history.

So if you’re wondering what Jesus wants for His birthday, maybe it’s not a big party or flashy worship. Maybe it’s a heart like Ruth’s—faithful, present, and willing to walk the hard road.

WHAT TO DO?
1. Do one act of quiet faithfulness today. Help your parents without being asked, support a friend who’s struggling, or follow through on a small promise.
2. Write this in your notes or journal: “Small faithfulness can shape big stories.” Read it each morning this week to remind yourself that God honors hearts that stay.

BIBLE MARATHON:
Matthew 12

Card image
Z - VOTION 14 Desember 2025 - KESETIAAN YANG MENGGERAKKAN SEJARAH
2025-12-14 13:18:25


“Tetapi Ruth menjawab: ‘Janganlah desak aku meninggalkan engkau dan pulang dengan tidak mengikuti engkau. Sebab ke mana engkau pergi, ke situ juga aku pergi…" – Rut 1:16

Bayangkan kamu lagi di posisi Ruth. Suami meninggal, masa depan gak jelas, dan satu-satunya orang yang tersisa adalah mertuamu yang juga sedang berduka. Kamu bisa balik ke kampung halaman, cari hidup baru, atau… tetap setia.

Ruth memilih setia. Dia bilang ke Naomi, “Ke mana engkau pergi, aku pun pergi.” Gak ada jaminan, gak ada rencana cadangan. Tapi ada kasih yang nyata dan keberanian untuk tetap hadir.

Yesus juga lahir di tempat yang gak ideal. Tapi dari kesederhanaan, Dia membawa keselamatan. Ruth gak viral, tapi Tuhan lihat. Dan karena kesetiaannya, Ruth jadi bagian dari silsilah Yesus. Dari ladang sepi ke sejarah keselamatan dunia.

Kalau Yesus ulang tahun, mungkin yang Dia harapkan bukan pesta besar, tapi hati yang setia. Yang tetap hadir, meski gak dilihat. Yang tetap percaya, meski gak pasti.

WHAT TO DO?
1. Lakukan satu tindakan setia hari ini. Bisa bantu orang tua tanpa disuruh, tetap support teman yang lagi down, atau jaga komitmen kecil yang udah kamu buat.
2. Tulis di notes HP atau jurnal: “Kesetiaan kecil bisa berdampak besar.” Baca ulang tiap pagi minggu ini, biar kamu inget bahwa Tuhan menghargai hati yang hadir dan bertahan.

BIBLE MARATHON:
Matius 12

Card image
Renungan Pagi - 14 Desember 2025
2025-12-14 13:14:53


Seorang pengecut adalah seorang yang senang hidup dalam dusta, seorang yang tidak siap untuk menerima resiko dari kebenaran; betul kebenaran itu kadangkala sakit, berat dan ada harga yang harus kita bayar dalam melakukannya.

Tetapi harga kebenaran akan selalu menjadi indah, menjadi sukacita dan selalu mendatangkan damai sejahtera, tetapi ada banyak orang menjadi pengecut karena tidak siap bayar harga atas suatu kebenaran.

Itulah sebabnya ia memilih berdusta dan mengambil sikap kompromi, padahal kebenaran adalah hikmat untuk menuntun kita kepada keberhasilan dan kemajuan.

Card image
Quote Of The Day - 14 Desember 2025 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2025-12-14 13:13:31


Dengan kelahiran Tuhan Yesus di kandang Bethlehem, maka Ia dapat menyambut setiap orang yang datang kepada-Nya.

Card image
Mutiara Suara Kebenaran - 14 Desember 2025 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2025-12-14 13:12:28


Semua yang kita miliki adalah milik Tuhan. Jika hari ini kita bersyukur melalui sikap hati, ucapan, atau pemberian, semua itu hendaknya didasari oleh sukacita atas kecukupan dan penyertaan Tuhan.

Card image
NEW BLESSINGS - 14 Desember 2025 (English Version)
2025-12-14 11:22:41


Honestly, we find that there are people who come to church solely to improve their standard of living. In the past, it was once perceived that Church X was “the church of the wealthy,” and that if someone worshiped there, they would surely be blessed. The pastor even once said, “Next year, I don’t want to see anyone still riding two-wheeled vehicles….” Their standard of living changed, and the congregation was then pushed to meet that rising standard.

Ultimately, it leads to going astray. Because the focus is no longer on how believers are restored to God's original design or standards, but rather to worldly standards of living. Therefore, it is very understandable when the Lord Jesus said, "If you do not give up everything you have, you cannot be my disciple." The heart must be transformed first. If we do not let go of burdens and sins, we cannot be processed to become like Jesus.

Hebrews 12:5-7 And have you forgotten the exhortation that addresses you as sons: “My son, do not despise the Lord’s discipline, and do not be discouraged when you are rebuked by him; for the Lord disciplines the one he loves, and he chastens everyone he accepts as his son.” If you have to endure discipline, God is treating you as sons. For what son is there whom his father does not discipline?

Every day God surely gives His blessings. If we are diligent, we can perceive God's movements that transform us. We will also see our shortcomings and weaknesses. Our hearts are like a wilderness-insincerity, veiled pride that we are unable to discern, but God will show it to us.

However, change is very difficult (Matthew 19). It is even said that it is easier for a camel to go through the eye of a needle. If God were willing to use miracles to instantly change us, of course we would ask for that. But no. There is an order that God will not violate. That order is called process, and that process happens gradually. In this process, a watchful attitude is needed. We meet God in the morning, and if we don't, our spiritual strength is different.

Sometimes there is a voice in our hearts: "If you don't pray today, you will fall. You are wrong. Your life is not clean..." But we often make excuses, "The important thing is that my heart is attached to God. Even if I don't kneel, I still pray 24 hours a day in God's presence."

It turns out that it doesn't work. There must be a special time when we meet with God. It is during that time that God speaks to us. And in every encounter, there is always something we receive from God. If a servant of God doesn't have a dedicated prayer time, their spiritual life will surely be dry. They may preach, but not with the depth of heart that comes from a genuine encounter with God. We receive new blessings every day when we pray and through the life experiences that God allows to happen.

Romans 8:28–30 states: “And we know that in all things God works for the good of those who love him, who have been called according to his purpose. For those God foreknew he also predestined to be conformed to the image of his Son, that he might be the firstborn among many brothers and sisters. And those he predestined, he also called; those he called, he also justified; those he justified, he also glorified.” There is the phrase, “we know now.” Why now?

We must read the previous verse, Romans 8:17; “Now if we are children, then we are heirs—heirs of God and co-heirs with Christ, if indeed we share in his sufferings in order that we may also share in his glory.” We are heirs. We are being prepared to receive an inheritance.

The turmoil of this world is insignificant compared to eternity. Previously, we were easily disturbed. Now we no longer want to be disturbed by trivial things.

We are people who have received an extraordinary place as heirs. So think like heavenly royalty! We must learn to calm and soothe ourselves because we are heirs of the Kingdom of God. And the character of someone who truly inherits the Kingdom with the Lord Jesus will surely be evident in their life.

EVERYDAY GOD SURELY GIVES HIS BLESSINGS. IF WE ARE PERSISTENT, WE CAN PERCEIVE GOD'S MOVEMENTS THAT TRANSFORM US.

Card image
BERKAT BARU - 14 Desember 2025
2025-12-14 11:19:31


Sejujurnya, kita mendapati ada orang yang datang ke gereja hanya untuk meningkatkan taraf hidup. Dulu pernah terkesan bahwa gereja X adalah “gerejanya orang kaya,” dan jika seseorang beribadah di sana, ia pasti diberkati. Bahkan pendetanya pernah berkata, “Saya tidak mau tahun depan ada yang masih naik kendaraan roda dua lagi, ya….” Standar hidup mereka berubah, dan jemaat pun dikejar untuk memenuhi standar hidup yang meningkat itu.

Akhirnya, menjadi sesat. Sebab fokusnya bukan lagi bagaimana orang percaya dikembalikan ke rancangan semula atau standar Allah, melainkan standar hidup duniawi. Karena itu bisa sangat dimengerti ketika Tuhan Yesus berkata, “Kalau kamu tidak melepaskan segala sesuatu dari dirimu, kamu tidak dapat menjadi murid-Ku.” Hati harus dipindahkan dulu. Jika kita tidak melepaskan beban dan dosa, kita tidak dapat diproses menjadi seperti Yesus.

Ibrani 12:5–7 Dan sudah lupakah kamu akan nasihat yang berbicara kepada kamu seperti kepada anak-anak: “Hai anakku, janganlah anggap enteng didikan Tuhan, dan janganlah putus asa apabila engkau diperingatkan-Nya; karena Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya, dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak.” Jika kamu harus menanggung ganjaran, Allah memperlakukan kamu seperti anak. Di manakah terdapat anak yang tidak dihajar oleh ayahnya?

Setiap hari Tuhan pasti memberikan berkat-Nya. Jika kita tekun, kita dapat menangkap gerak Tuhan yang mengubah kita. Kita juga akan melihat kekurangan dan kelemahan kita. Hati kita ini seperti belantara—ketidaktulusan, kesombongan terselubung yang tidak mampu kita baca, tetapi Tuhan akan menunjukkannya.

Namun berubah itu sangatlah sukar (Mat. 19). Bahkan dikatakan, lebih mudah seekor unta masuk melalui lubang jarum. Jika Tuhan berkenan memakai mukjizat untuk langsung mengubah kita, tentu kita akan memohon demikian. Tetapi tidak. Ada tatanan yang Tuhan tidak akan langgar. Tatanan itu bernama proses, dan proses itu berlangsung bertahap. Di dalam proses ini dibutuhkan sikap berjaga-jaga. Kita bertemu Tuhan di pagi hari, dan jika tidak bertemu, kekuatan rohani kita berbeda.

Kadang ada suara di hati kita: “Kalau kamu tidak berdoa hari ini, kamu jatuh, loh. Kamu salah. Hidupmu tidak bersih….” Namun kita sering beralasan, “Yang penting hatiku melekat kepada Tuhan. Walaupun aku tidak berlutut, aku tetap berdoa 24 jam di hadirat Tuhan.”

Ternyata tidak bisa. Harus ada waktu khusus di mana kita bertemu Tuhan. Pada waktu itulah Tuhan berbicara kepada kita. Dan setiap pertemuan selalu ada sesuatu yang kita dapat dari Tuhan. Jika seorang hamba Tuhan tidak punya jam doa, pasti rohaninya kering. Ia bisa berkhotbah, tetapi tidak dengan kedalaman hati yang basah oleh perjumpaan dengan Tuhan. Berkat baru setiap hari kita terima pada waktu kita berdoa dan melalui pengalaman hidup yang Tuhan izinkan terjadi.

Roma 8:28–30 menulis: “Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah. Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara. Dan mereka yang ditentukan-Nya dari semula, mereka itu juga dipanggil-Nya. Dan mereka yang dipanggil-Nya, mereka itu juga dibenarkan-Nya. Dan mereka yang dibenarkan-Nya, mereka itu juga dimuliakan-Nya.” Ada kalimat, “kita tahu sekarang.” Mengapa sekarang?

Kita harus membaca ayat sebelumnya, Roma 8:17; “Dan jika kita adalah anak, maka kita juga adalah ahli waris—maksudnya orang-orang yang berhak menerima janji-janji Allah—yang akan menerimanya bersama-sama dengan Kristus, yaitu jika kita menderita bersama-sama dengan Dia, supaya kita juga dipermuliakan bersama-sama dengan Dia.” Kita adalah ahli waris. Kita dipersiapkan untuk menerima warisan. Gonjang-ganjing masalah dunia ini tidak berarti dibandingkan kekekalan. Dulu kita mudah terganggu. Sekarang kita tidak mau lagi terganggu oleh hal-hal kecil.

Kita adalah orang yang mendapat tempat luar biasa sebagai ahli waris. Maka berpikirlah sebagai bangsawan surgawi! Kita harus belajar menenangkan dan meneduhkan diri karena kita adalah ahli waris Kerajaan Allah. Dan warna hidup seseorang yang benar-benar mewarisi Kerajaan bersama Tuhan Yesus pasti tampak dalam hidupnya.

Teriring salam dan doa,
Dr. Erastus Sabdono

SETIAP HARI, TUHAN PASTI MEMBERIKAN BERKAT-NYA. JIKA KITA TEKUN, KITA DAPAT MENANGKAP GERAK TUHAN YANG MENGUBAH KITA.

Card image
Truth Kids 13 Desember 2025 - HATI YANG BIJAK
2025-12-13 22:36:48


1 Raja-raja 3:9
“Maka berikanlah kepada hamba-Mu ini hati yang faham menimbang perkara untuk menghakimi umat-Mu dengan dapat membedakan antara yang baik dan yang jahat…”



Sobat Truth Kids, pernah bingung memilih teman saat bermain? Kadang ada teman yang baik, tapi ada juga yang suka merebut mainan atau membuat keributan. Di saat seperti itu, kita butuh hati yang bijak untuk memilih yang benar.

Raja Salomo suatu hari diminta Tuhan untuk memilih satu hal. Tapi ia tidak minta mainan, makanan, atau kekayaan. Ia justru meminta hati yang bijak, yang bisa membedakan mana yang baik dan yang jahat. Tuhan sangat senang dan mengaruniakan hikmat besar kepada Salomo.

Kadang kita juga melihat teman berbohong, bertengkar, atau mengajak berbuat hal yang salah. Kalau kamu bingung harus bagaimana, berdoalah seperti Salomo. Minta Tuhan beri hati yang bijak agar kamu bisa memilih yang benar dan menyenangkan Tuhan.

Yuk, Sobat Truth Kids! Mari jadi anak yang suka bertanya dan mendengar Tuhan, seperti Salomo. Pilihlah yang benar, meskipun itu tidak selalu mudah. Tuhan akan senang dan menolong kamu menjadi anak yang bijaksana!

Card image
Truth Junior 13 Desember 2025 - KEKUATAN DOA
2025-12-13 22:31:26


1 Raja-Raja 18:37
“Jawablah aku, ya TUHAN, jawablah aku, supaya bangsa ini mengetahui bahwa Engkaulah Allah, ya TUHAN, dan Engkaulah yang membuat hati mereka tobat kembali.”

Pernah nggak kamu merasa sendirian ketika semua orang di sekitarmu tidak percaya kepada Allah? Misalnya, kamu mau berdoa sebelum makan di sekolah, tapi teman-temanmu malah menertawakanmu. Rasanya pasti tidak enak, ya? Tapi di saat seperti itu, Tuhan ingin kita tetap percaya—seperti Elia.

Elia hidup pada zaman ketika banyak orang tidak mau percaya kepada Tuhan. Namun, ia tetap setia dan berdoa supaya orang-orang mengenal Allah yang benar. Tuhan mendengar doa Elia dan menunjukkan kuasa-Nya dengan cara yang ajaib. Melalui doa dan iman Elia, banyak orang akhirnya bertobat dan kembali kepada Tuhan.

Sobat Truth Junior, doa bukan sekadar kata-kata, tapi cara kita berbicara dan percaya kepada Tuhan. Saat kamu berdoa dengan sungguh-sungguh, Tuhan bekerja dengan cara yang luar biasa, meskipun tidak selalu langsung terlihat.

Kita mungkin tidak akan melihat api turun dari langit seperti Elia, tapi setiap doa yang kamu panjatkan punya kekuatan besar. Doa bisa menenangkan hati yang sedih, membuat hati yang marah menjadi damai, dan membawa kita lebih dekat kepada Tuhan.

Jadi, yuk Sobat Truth Junior, belajar dari Elia! Tetaplah berdoa dan percaya bahwa Tuhan selalu mendengar. Kekuatan doa bisa mengubah hati, membawa kedamaian, dan menolong kita hidup semakin dekat dengan Tuhan.

Card image
Z - VOTION 13 Desember 2025 (English Version) - FAITHFUL IN THE QUIET
2025-12-13 22:28:19


“He has shown you, O mortal, what is good. And what does the Lord require of you? To act justly and to love mercy and to walk humbly with your God.”_ Micah 6:8

If Jesus had a birthday wishlist, what would be on it? Not fancy parties. Not expensive gifts. But a life that reflects Him just, loving, and humble.

Daniel Mananta, a well-known Indonesian public figure, has recently become more vocal about his Christian faith through his brand “DAMN I Love Indonesia” and spiritual content. In one interview, Daniel shared that faith isn’t just about rituals it’s a lifestyle that brings impact. He’s learning not just to talk about God, but to live with integrity and love in the entertainment and media world.

Daniel isn’t perfect, but he’s choosing to be a light in dark places. Just like Jesus, who was born in a manger a humble beginning that changed the world.

Micah 6:8 is like Jesus’ birthday wishlist. Not material things, but heart attitudes: justice, mercy, and humility. Not just for captions but for action.

WHAT TO DO?
1. Look at one area of your life where you can be more just. Maybe how you divide your time, or how you treat others. Do one small act today that reflects fairness.

2. Write this in your phone notes or journal: “Jesus’ Christmas gift = a life of justice, mercy, and humility.” Read it every morning this week to remind yourself: Christmas isn’t just about celebration it’s about transformation.

BIBLE MARATHON: Matthew 11

Card image
Z - VOTION 13 Desember 2025 - SETIA DI TENGAH SUNYI
2025-12-13 22:25:22


“Hai manusia, telah diberitahukan kepadamu apa yang baik. Dan apakah yang dituntut TUHAN dari padamu: selain berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allahmu?” – Mikha 6:8

Kalau Yesus ulang tahun, kira-kira Dia pengen apa ya? Bukan pesta mewah, bukan kado mahal. Tapi hidup kita yang makin mirip Dia—adil, penuh kasih, dan rendah hati.

Daniel Mananta, figur publik yang dikenal lewat kariernya di dunia hiburan, belakangan ini aktif menyuarakan nilai-nilai kekristenan lewat brand “DAMN I Love Indonesia” dan konten-konten rohani. Di salah satu wawancaranya, Daniel bilang bahwa iman bukan cuma soal ritual, tapi soal gaya hidup yang berdampak. Dia belajar untuk gak cuma bicara soal Tuhan, tapi juga hidup dengan integritas dan kasih dalam dunia kerja dan media.

Daniel gak sempurna, tapi dia berani jadi terang di tempat yang gelap. Sama seperti Yesus yang lahir di palungan—tempat yang gak ideal, tapi jadi titik awal terang dunia.

Mikha 6:8 itu kayak “wishlist” Yesus di hari ulang tahun-Nya. Bukan barang, tapi sikap hati yakni keadilan, kasih setia, dan kerendahan hati. Bukan cuma buat ditulis di caption, tapi buat dijalani.

WHAT TO DO?
1. Lihat satu area hidupmu yang bisa lebih adil. Bisa soal cara kamu bagi waktu, atau cara kamu memperlakukan orang lain. Lakukan satu tindakan kecil yang nunjukin keadilan hari ini.
2. Tulis di notes HP atau jurnal: “Hadiah Natal buat Yesus = hidup yang adil, setia, dan rendah hati.” Baca ulang tiap pagi minggu ini, biar kamu inget bahwa Natal bukan cuma soal perayaan tapi soal perubahan.

BIBLE MARATHON:
Matius 11

Card image
Renungan Pagi - 13 Desember 2025
2025-12-13 22:21:13


Mengapa kita harus memberikan yang terbaik kepada Tuhan dan melayani Dia? Mengapa untuk Tuhan harus yang terbaik? Karena kita tidak bisa berbuat apa-apa tanpa Tuhan, sebab kalau bukan karena Tuhan, tidak bisa mencapai apa yang bisa kita capai hari ini.

Karena itulah jangan mengecewakan Tuhan dengan memberikan seenaknya kepada Tuhan, sebab Dia adalah segala-galanya buat hidup kita dan tanpa Tuhan tidak bisa melakukan apapun, kalau semuanya berasal dari Tuhan, lalu kita tidak memberikan yang terbaik, maka itu namanya jahat.

Card image
Quote Of The Day - 13 Desember 2025 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2025-12-13 22:11:37


Tuhan Yesus datang untuk semua orang yang datang kepada-Nya.

Card image
Mutiara Suara Kebenaran - 13 Desember 2025 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2025-12-13 22:10:34


Jangan samakan kebaikan Tuhan dengan keadaan yang selalu baik. Kebaikan Tuhan dapat juga muncul dalam wajah yang muram, namun mendatangkan pendewasaan yang luar biasa ketika kita memperoleh pengertian dari setiap cobaan tersebut.

Card image
SPRIRITUAL BLESSINGS - 13 Desember 2025 (English Version)
2025-12-13 12:53:27


Lamentations 3:22–23
“The steadfast love of the LORD never ceases; His mercies never come to an end; They are new every morning; great is Your faithfulness!”

There used to be a song often sung with lyrics taken from this Old Testament passage—Lamentations 3:22-23. In it, we find God’s promise that He will bless us with new blessings that He provides every day. In the past, we understood this as material blessings that God would give. Because of this, we encouraged people not to be afraid or worried, for His new blessings would be given to them daily.

But have we ever thought about Christians living in times of persecution, or those living in deep poverty—people who do not see “new blessings” every day? How does this verse apply to their lives? If we are honest, it means our understanding of this verse has been mistaken.

This verse is found in the Old Testament, where the focus was indeed on material blessings—when the people obeyed, God gave them victory over their enemies, fruitful harvests, and outward prosperity. But this cannot be applied directly to New Testament believers. The problem is that many Christians do not want to shift their heart’s orientation, either because they do not know or because old patterns of thinking have long misled them.

For the New Testament believers, God’s blessings are spiritual in nature. When we wake up in the morning, we should say, “Lord, thank You for the spiritual pearls You have prepared for me. Help me to grasp them.” And every day, it is impossible for God not to give spiritual blessings.

God is a Person who has divine designs. The challenge is how He shapes each individual to conform to His design. Each of us has a different personality, and this is the richness of the Kingdom of God. We genuinely are placed on this earth in unique ways—no two people are the same. God designed us so that none of us should perish.

In the Old Testament, this project could not yet take place because redemption in Jesus Christ had not yet happened. Through the redemption, we are repurchased and allowed to become huios (legitimate children). Indeed, all humans are called God’s children, but not all are legitimate (they are nothos). Before the cross, all humans stood in the status of nothos, with no open possibility to become huios.

Redemption transfers our position from nothos to huios. This transfer is exceedingly costly. There is no other way except through the cross of Christ. Therefore, we must honor and esteem the work of the cross. And once God has moved us, we should not assume that we are automatically “saved” just like that.

What does it mean to be saved? Many people are not truly saved; they are merely at the first step of the journey toward salvation. The cross transfers us from nothos to huios, but it does not automatically change us. Within the 70–80 years of life that God grants us, He is shaping and working on us so that we are transformed according to His will. This process is not easy. If it were easy, Jesus would not have said, “Strive to enter through the narrow door,” and “Many are called, but few are chosen.”

Ironically, when people assume that salvation is easy and entering heaven is automatic, the result is that their orientation shifts toward material blessings. They believe that after becoming God’s children, we are guaranteed special care and protection. Although not stated outright, the impression given is that God’s blessings will be easier to obtain, and prayers will be answered more quickly because we pray in Jesus’ name.

As a result, the focus that should be directed toward God’s shaping of our inner being gets displaced. Days go by without genuine spiritual growth. Many remain stuck in the pursuit of material needs.

And even worse, once we are infused with the poison of the world, our standards change: we must have a particular kind of car, wear clothes of a certain price, and appear according to the world’s measurements. People begin to chase these things. Yet what we should be striving to see is truth—God’s standard of holiness—so that our own standard of holiness is continually elevated.

Regarding material matters: as long as we have food, drink, and clothing, that is enough. But God’s holiness—His perfection—is what we must absolutely wrestle with. Material needs are relative; holiness is absolute.

REGARDING MATERIAL MATTERS: AS LONG AS WE HAVE FOOD, DRINK, AND CLOTHING, THAT IS ENOUGH. BUT GOD'S HOLINESS, HIS PERFECTION, IS WHAT WE MUST ABSOLUTELY WRESTLE WITH.

Card image
BERKAT ROHANI - 13 Desember 2025
2025-12-13 12:47:09


Ratapan 3:22–23
“Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu!”

Dulu ada sebuah lagu yang sering dinyanyikan dengan lirik yang diambil dari ayat Alkitab Perjanjian Lama, yaitu Ratapan 3:22–23. Di dalamnya termuat janji Tuhan bahwa Ia akan memberkati kita dengan berkat yang baru yang Tuhan sediakan setiap hari. Dahulu kita memahami hal ini sebagai berkat jasmani yang Tuhan berikan. Karena itu, kita menasihati orang untuk tidak takut dan khawatir, sebab berkat-Nya yang baru akan diberikan setiap hari.

Namun, pernahkah kita berpikir tentang orang-orang Kristen yang hidup di zaman aniaya, atau mereka yang hidup berkekurangan—yang tidak melihat “berkat baru” setiap hari? Bagaimana ayat ini berlaku dalam kehidupan mereka? Jika kita jujur, berarti pemahaman kita tentang ayat ini keliru.

Ayat tersebut terdapat di Perjanjian Lama yang orientasinya memang berkat jasmani—selama umat taat, Tuhan membuat mereka menang atas musuh, panen mereka berhasil, dan mereka diberkati dalam hal lahiriah. Tetapi hal ini tidak dapat langsung diterapkan kepada umat Perjanjian Baru. Masalahnya, banyak orang Kristen yang tidak mau memindahkan hatinya; entah karena tidak tahu, atau karena sudah terlalu disesatkan oleh pemahaman lama.

Bagi umat Perjanjian Baru, berkat Tuhan adalah berkat rohani. Ketika kita bangun pagi, kita berkata, “Tuhan, terima kasih untuk mutiara rohani yang Kau sediakan bagiku. Tolong aku agar bisa menangkapnya.” Dan setiap hari, tidak mungkin tidak ada berkat rohani yang Tuhan berikan.

Tuhan adalah Pribadi yang memiliki rancangan-rancangan ilahi. Masalahnya, bagaimana Ia mengubah setiap pribadi agar menjadi sesuai dengan rancangan-Nya. Setiap kita memiliki kepribadian yang berbeda-beda, dan inilah yang menjadi kekayaan Kerajaan Allah. Kita sungguh-sungguh dihadirkan di bumi ini secara unik—tidak ada duanya. Tuhan merancang agar setiap kita tidak binasa.

Di Perjanjian Lama, proyek ini belum bisa digelar karena belum ada penebusan dalam Yesus Kristus. Melalui penebusan, kita dibeli dan diberi peluang untuk menjadi huios (anak yang sah). Memang semua manusia disebut anak-anak Allah, tetapi tidak semua sah sebagai anak (nothos). Sebelum ada salib, semua manusia berada dalam status nothos, tertutup peluang untuk menjadi huios.

Penebusanlah yang memindahkan posisi kita dari nothos menjadi huios. Pemindahan posisi ini sangat mahal. Tidak ada cara lain kecuali melalui salib Kristus. Karena itu, kita harus menjunjung tinggi dan menghargai karya salib ini. Dan jika Tuhan sudah memindahkan kita, jangan kita merasa sudah selamat begitu saja.

Selamat itu apa? Banyak orang belum benar-benar selamat; mereka baru berada di langkah awal perjuangan menuju keselamatan. Salib memindahkan posisi kita dari nothos menjadi huios, tetapi tidak mengubah kita secara otomatis. Dalam 70–80 tahun masa hidup yang Tuhan berikan, Ia sedang merancang dan menggarap kita agar berubah sesuai kehendak-Nya. Proses ini tidak mudah. Tuhan Yesus tidak akan berkata, "Berjuanglah kamu masuk melalui pintu yang sempit," dan "Banyak yang dipanggil, sedikit yang dipilih."

Ironis, ketika orang menganggap bahwa keselamatan itu mudah dan masuk surga itu otomatis, akibatnya orientasi berpikir manusia tertuju pada berkat jasmani. Mereka berkata bahwa setelah menjadi anak-anak Allah, kita dijamin dipelihara dan dijagai secara khusus. Walaupun tidak diucapkan secara langsung, kesan yang muncul adalah bahwa berkat Tuhan akan lebih mudah didapat; doa akan lebih cepat dijawab karena kita menyebut nama Yesus.

Akhirnya, fokus yang seharusnya tertuju pada penggarapan diri oleh Tuhan malah bergeser. Hari demi hari berlalu tanpa pertumbuhan rohani yang nyata. Banyak orang masih berkubang dalam pemenuhan kebutuhan jasmani.

Apalagi jika sudah terinfus racun dunia. Standar hidup pun berubah: harus memiliki mobil tertentu, harus memakai pakaian dengan harga tertentu, harus tampil dengan ukuran dunia. Orang mulai mengejar hal-hal itu. Padahal, yang seharusnya kita lakukan adalah melihat kebenaran, melihat standar kesucian Tuhan, agar standar kesucian kita semakin dinaikkan.

Mengenai hal-hal jasmani, asal ada makan, minum, dan pakaian, itu sudah cukup. Tetapi kesucian Tuhan, kesempurnaan, itulah yang mutlak harus kita gumuli. Kebutuhan jasmani itu relatif; kesucian adalah absolut.

Teriring salam dan doa,
Dr. Erastus Sabdono

MENGENAI HAL-HAL JASMANI, ASAL ADA MAKAN, MINUM, DAN PAKAIAN, ITU SUDAH CUKUP. TETAPI KESUCIAN TUHAN, KESEMPURNAAN, ITULAH YANG MUTLAK HARUS KITA GUMULI.

Card image
Truth Kids 12 Desember 2025 - TUHAN MENJAWAB DOA
2025-12-12 21:40:29


1 Raja-raja 18:37
“Jawablah aku, ya TUHAN, jawablah aku supaya bangsa ini mengetahui, bahwa Engkaulah Allah, ya TUHAN, dan Engkaulah yang membuat hati mereka tobat kembali.”

Sobat Truth Kids, pernahkah kamu berdoa dan berharap Tuhan menjawab dengan cepat? Misalnya, saat mati lampu di kamar dan kamu sendirian, atau ketika mama sedang sakit dan kamu ingin ia cepat sembuh? Terkadang kita ingin jawaban Tuhan langsung datang saat itu juga.

Di Alkitab, Nabi Elia juga berdoa dengan sungguh-sungguh di depan banyak orang. Ia ingin membuktikan bahwa hanya Tuhanlah Allah yang benar, bukan dewa-dewa palsu yang disembah orang-orang saat itu. Elia tetap percaya dan berani berdoa, walaupun semua orang di sekitarnya ragu.

Tuhan menjawab doa Elia dengan cara yang luar biasa — api dari langit turun dan membakar persembahan! Semua orang melihat mujizat itu dan menyadari bahwa Tuhanlah Allah yang hidup dan berkuasa.

Sobat Truth Kids, yuk jadi anak yang berani percaya dan terus berdoa seperti Elia! Meski banyak orang tidak percaya, Tuhan tetap mendengar doa anak-anak-Nya. Ia akan menjawab doa kita dengan cara dan waktu-Nya yang terbaik!

Card image
Truth Junior 12 Desember 2025 - MEMINTA HIKMAT
2025-12-12 21:39:25


1 Raja-Raja 3:9
“Maka berikanlah kepada hamba-Mu ini hati yang faham menimbang perkara untuk menghakimi umat-Mu dengan dapat membedakan antara yang baik dan yang jahat, sebab siapakah yang sanggup menghakimi umat-Mu yang sangat besar ini?”

Pernah nggak kamu bingung harus memilih untuk melakukan hal yang benar? Misalnya, kamu melihat temanmu jatuh dari sepeda. Teman-teman lain malah menertawakannya, padahal kamu tahu seharusnya kamu menolong. Kamu ingin membantu, tapi takut diejek juga. Nah, di saat seperti itu, kamu butuh hikmat dari Tuhan supaya tahu apa yang benar dan berani melakukannya.

Raja Salomo juga pernah dihadapkan pada pilihan besar. Suatu malam, Tuhan datang kepadanya dalam mimpi dan berkata, “Mintalah apa yang kamu mau, Aku akan memberikannya.” Wah, kalau kamu yang disuruh minta, kamu mau apa, Sobat Truth Junior? Mainan baru, handphone, atau nilai sempurna?

Tapi Salomo tidak meminta hal-hal itu. Ia justru meminta hikmat supaya bisa memimpin rakyat dengan benar. Tuhan sangat senang karena Salomo tidak egois—ia memikirkan orang lain lebih dari dirinya sendiri. Maka Tuhan memberinya hikmat yang luar biasa, melebihi siapa pun di zamannya.

Sobat Truth Junior, hikmat itu lebih berharga dari apa pun! Dengan hikmat, kamu bisa tahu cara bersikap kepada teman, membuat keputusan yang benar, dan hidup menyenangkan hati Tuhan. Tuhan juga mau memberi hikmat kepadamu kalau kamu mau memintanya dengan sungguh-sungguh.

Jadi, setiap kali kamu bingung atau takut melakukan hal yang benar, ingatlah untuk berdoa dan minta hikmat dari Tuhan. Dengan hikmat dari Tuhan, kamu bisa menjadi anak yang bijaksana dan membawa berkat bagi banyak orang!

Card image
Z - VOTION 12 Desember 2025 (English Version) - GIVING THANKS AS A LIFESTYLE OF BELIEVERS 12 Desember 2025
2025-12-12 21:37:52


“Behold, I stand at the door and knock; if anyone hears My voice and opens the door, I will come in to him and dine with him, and he with Me.”— Revelation 3:20

When we were little, birthdays were always special because there were cakes, candles, gifts, and wishes from the people who loved us. Then have we ever thought about it? If it were Jesus’ birthday, what gifts would He actually expect from us? Sometimes we are often busy decorating the outside, but Jesus actually wants to enter our hearts.

In the movie Inside Out 2, Riley grows up to be a teenager and begins to face new feelings such as anxiety, shame, jealousy, and even fear of failure. Sometimes, these emotions make her heart chaotic and lose direction. But behind all that, there is an important message: Riley can only be calm when she starts to be honest with herself and makes peace with what she feels. Maybe that is also what Jesus wants from us on His birthday. He doesn’t ask for a big party or expensive gifts. But He only wants one thing: for us to open our hearts and allow Him to enter the deepest parts that we often hide.

Jesus knows the deepest contents of our hearts, such as our fears, anxieties, overthinking, and even the guilt we keep hidden. But He did not come to judge us, but to heal us. If Inside Out teaches us to recognize and accept our emotions, Jesus came to restore our hearts from the deepest part to the outside. And maybe He wants to say, “I don’t just want to be part of your Christmas celebration. I want to live in your heart.”

WHAT TO DO?
1. Be honest with God. You don’t always have to appear strong before God. Try to take time in the evening to be honest in your prayers.
2. Forgive and make peace. Just as Riley learned to make peace with her emotions, you too can make peace with others. Forgive friends who have hurt you.  

BIBLE MARATHON:
Matthew 10

Card image
Renungan Pagi - 12 Desember 2025
2025-12-12 21:16:20


Jika kita menyebut diri sebagai anak Allah, tapi tetap berbohong, itu adalah orang yang munafik, karena seharusnya belajar dari Allah yang tidak pernah berbohong dan berdusta.

Jika menyebut diri kita anak Allah berarti harus meneladani Bapa dan itu berarti harus buang semua kebohongan dalam diri kita.

Dan harus berani hidup dalam kejujuran, belajar memperkatakan yang benar, maka akan melihat pembelaan Allah yang luar biasa dalam hidup kita.

Card image
Quote Of The Day - 12 Desember 2025 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2025-12-12 21:15:26


Seorang yang benar-benar bertemu dengan Tuhan dan yang benar-benar menerima terang Tuhan, pasti merefleksikan terang itu kepada orang lain.

Card image
Mutiara Suara Kebenaran - 12 Desember 2025 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2025-12-12 21:13:42


Orang yang benar-benar beriman menurut Alkitab adalah orang-orang yang rela mempertaruhkan apa pun dalam hidup ini demi kepentingan Tuhan dan kemuliaan nama-Nya.

Card image
GIVING THANKS AS A LIFESTYLE OF BELIEVERS - 12 Desember 2025 (English Version)
2025-12-12 21:12:38


Colossians 3:17
"And whatever you do, whether in word or deed, do it all in the name of the Lord Jesus, giving thanks to God the Father through Him."

  Giving thanks is not just a momentary attitude when we receive a blessing, but it should become a lifestyle for every believer. A life filled with gratitude is a journey that recognizes that everything comes from God and exists only for God. True gratitude is not the result of circumstances, but of knowing God’s unchanging love-whether in abundance or in lack. In abundance or in lack. In daily life, we often get caught in routines and life’s demands. We become easily grumble when things do not go as planned, or complain because we feel tired and unappreciated. However, a person who makes gratitude a lifestyle will learn to see every event as an opportunity to glorify God. They will understand that behind small, ordinary things, God is working in extraordinary ways.

  Giving thanks as a lifestyle also means placing God at the center of every action we take. Whatever we do-working, serving, teaching, raising children, even resting-we do it with full awareness that everything is an act of worship to God. When the heart is filled with gratitude, work that once felt heavy becomes light, because it is done with love and the awareness that we are serving Christ. The Apostle Paul did not only say, “Be thankful,” but, “Do all these things while giving thanks.” This means that giving thanks is not an addition, but part of the way we live. Giving thanks is like breath that gives life to all our actions and our whole being. Without gratitude, we easily fall into the habit of comparing ourselves, feeling lacking, or working without meaning. But with gratitude, we can realize that every little thing has eternal value when it is done for God.

  Making gratitude a lifestyle also means training the heart to see the goodness of the LORD in every challenge of life. A grateful person does not deny reality but chooses to focus on God’s faithfulness behind that reality. They can still say, “Lord, You are good,” even when not all their prayers are answered as they hope. Gratitude keeps us humble in times of abundance and strong in times of lack. In the context of relationships with others, a grateful lifestyle also has a great impact. A grateful person will find it easier to appreciate, forgive, and build others. They are not busy demanding, but giving. Their words are filled with sincere love and remove a grumbling spirit that poisons relationships. When we live with hearts full of gratitude, the atmosphere around us is transformed: becoming more peaceful, warm, and joyful.

  A lifestyle of gratitude requires daily practice. For that reason, we can start with simple things; giving thanks when we wake up, when we work, when we eat with our family, even when we face difficulties. When we continually train our hearts to be thankful, over time gratitude no longer feels like an obligation, but becomes a natural part of who we are. And when gratitude becomes a lifestyle, every day becomes an opportunity to glorify God.

MAKING GRATITUDE A LIFESTYLE MEANS TRAINING THE HEART TO SEE GOD’S GOODNESS IN EVERY LIFE CHALLENGE.

Card image
MENGUCAP SYUKUR SEBAGAI GAYA HIDUP ORANG PERCAYA - 12 Desember 2025
2025-12-12 21:10:57


Kolose 3:17
Dan segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan atau perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur oleh Dia kepada Allah, Bapa kita.

Mengucap syukur bukan hanya sikap sesaat ketika kita menerima sebuah berkat, melainkan seharusnya menjadi gaya hidup setiap orang percaya. Hidup yang dipenuhi syukur merupakan perjalanan yang menyadari bahwa segala sesuatu berasal dari Tuhan dan hanya untuk Tuhan. Syukur sejati bukanlah hasil dari suatu keadaan, melainkan dari pengenalan akan kasih Allah yang tidak berubah—baik dalam kelimpahan maupun dalam kekurangan. Dalam kelimpahan maupun dalam kekurangan. Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering kali terjebak dalam rutinitas dan tuntutan hidup. Kita menjadi mudah bersungut-sungut ketika sesuatu tidak berjalan sesuai dengan rencana, atau mengeluh karena merasa lelah dan tidak dihargai. Namun, orang yang menjadikan bersyukur sebagai gaya hidup akan belajar memandang setiap peristiwa sebagai kesempatan untuk memuliakan Tuhan. Ia akan mengetahui bahwa di balik hal-hal kecil yang tampak biasa, Tuhan sedang bekerja dengan cara yang luar biasa.

Mengucap syukur sebagai gaya hidup juga berarti menempatkan Tuhan sebagai pusat dari setiap tindakan yang kita lakukan. Apa pun yang kita lakukan—bekerja, melayani, mengajar, membesarkan anak, bahkan beristirahat—kita lakukan dengan kesadaran penuh bahwa semuanya adalah bentuk ibadah kepada Tuhan. Saat hati dipenuhi ucapan syukur, pekerjaan yang tadinya terasa berat menjadi ringan, karena dilakukan dengan kasih dan kesadaran bahwa kita sedang melayani Kristus. Rasul Paulus tidak hanya berkata, “Bersyukurlah,” tetapi, “Lakukanlah semuanya itu sambil mengucap Syukur.” Ini berarti bahwa mengucap syukur bukanlah tambahan, melainkan bagian dari cara kita hidup. Mengucap syukur bagaikan napas yang menghidupkan seluruh tindakan dan kehidupan kita. Tanpa ucapan syukur, kita akan mudah jatuh dalam kebiasaan membandingkan diri, merasa kurang, atau bekerja tanpa makna. Namun, dengan mengucap syukur, kita dapat menyadari bahwa setiap hal—besar atau kecil—memiliki nilai kekal jika dilakukan untuk Tuhan.

Menjadikan ucapan syukur sebagai gaya hidup juga berarti melatih hati untuk melihat kebaikan TUHAN di setiap tantangan hidup. Orang yang bersyukur tidak menyangkal kenyataan, tetapi memilih berfokus pada kesetiaan Tuhan di balik kenyataan itu. Ia tetap bisa berkata, “Tuhan, Engkau baik,” bahkan ketika tidak semua doanya terjawab sesuai harapan. Mengucap syukur akan membuat kita tetap rendah hati di masa berkelimpahan dan tetap kuat di masa kekurangan. Dalam konteks hubungan dengan sesama, gaya hidup bersyukur juga memberikan dampak besar. Orang yang bersyukur akan lebih mudah menghargai, memaafkan, dan membangun sesama. Ia tidak sibuk menuntut, melainkan memberi. Ucapannya penuh kasih yang tulus dan menghapus sikap bersungut-sungut yang meracuni hubungan. Saat kita hidup dengan hati yang penuh ucapan syukur, suasana di sekitar kita pun ikut diubahkan: menjadi lebih damai, hangat, dan penuh sukacita.

Gaya hidup mengucap syukur memerlukan latihan setiap hari. Karena itu, kita dapat memulainya dari hal-hal sederhana; mengucap syukur saat bangun pagi, saat bekerja, saat makan bersama keluarga, bahkan saat menghadapi kesulitan. Ketika kita terus melatih hati untuk berterima kasih, lama kelamaan mengucap syukur bukan lagi kewajiban, melainkan menjadi bagian alami dari diri kita. Dan ketika ucapan syukur telah menjadi gaya hidup, setiap hari akan berubah menjadi kesempatan untuk memuliakan Tuhan.

Teriring salam dan doa,
Dr. Erastus Sabdono

MENJADIKAN UCAPAN SYUKUR SEBAGAI GAYA HIDUP BERARTI MELATIH HATI UNTUK MELIHAT KEBAIKAN TUHAN DI SETIAP TANTANGAN HIDUP.

Card image
Truth Kids 11 Desember 2025 - KECIL TAPI TUHAN TOLONG
2025-12-12 07:16:34


1 Samuel 14:6
“Sebab bagi TUHAN tidak sukar untuk menolong, baik dengan banyak orang maupun dengan sedikit orang.”

Halo, Sobat Truth Kids! Pernahkah kalian merasa tidak bisa melakukan hal besar karena masih kecil atau tidak sepintar teman lain? Kadang kita merasa tidak cukup hebat. Tapi tahukah kalian? Tuhan bisa memakai siapa saja, bahkan anak-anak, untuk melakukan hal luar biasa!

Dalam Alkitab, ada seorang pemuda bernama Yonatan, anak Raja Saul. Suatu hari, bangsa Israel merasa takut karena musuh mereka sangat banyak. Tapi Yonatan tidak takut. Ia berkata kepada temannya, “Tuhan bisa menolong kita, meskipun kita hanya berdua!” Ia percaya bahwa Tuhan tidak butuh pasukan besar, yang penting ada orang yang percaya dan berani melangkah.

Sobat Truth Kids juga bisa seperti Yonatan! Meskipun kalian masih kecil, kalian bisa dipakai Tuhan untuk menguatkan teman yang sedih, mendoakan orang lain, atau berani berkata jujur saat berbuat salah. Tuhan senang kepada anak-anak yang percaya dan taat kepada-Nya.

Mari belajar dari Yonatan: berani bertindak, percaya Tuhan bisa menolong, dan tidak takut meski hanya sedikit orang yang mendukung. Kalian pun bisa jadi pahlawan iman yang dipakai Tuhan untuk membawa terang di manapun kalian berada!

Card image
Truth Junior 11 Desember 2025 - TIM PEMENANG
2025-12-12 05:30:26


1 Samuel 14:6
“Berkatalah Yonatan kepada bujang pembawa senjatanya itu: ‘Mari kita menyeberang ke dekat pasukan pengawal orang-orang yang tidak bersunat ini. Mungkin TUHAN akan bertindak untuk kita, sebab bagi TUHAN tidak sukar untuk menolong, baik dengan banyak orang maupun dengan sedikit orang."

Pernahkah kamu mendengar kata comeback? Artinya, bangkit lagi setelah hampir kalah! Bayangkan tim basket yang hampir kalah skor, tapi terus berjuang sampai akhirnya menang. Wah, pasti seru banget, kan? Dalam hidup juga begitu. Kadang kita merasa hampir menyerah, tapi kalau kita percaya dan terus berdoa, Tuhan bisa bantu kita bangkit lagi.

Di Alkitab, ada kisah mirip seperti itu. Seorang pangeran bernama Yonatan dan pembawa senjatanya berani melawan pasukan musuh yang jumlahnya jauh lebih banyak. Bayangkan, hanya dua orang melawan pasukan besar! Tapi Yonatan yakin dan berkata, “Tuhan pasti bisa menolong kita!” Ia tahu bahwa kemenangan sejati bukan karena jumlah pasukan, tapi karena Tuhan yang menyertai. Dan benar, Tuhan menolong langkah iman Yonatan, dan mereka menang!

Sobat Truth Junior, kisah Yonatan mengajarkan kita untuk tidak mudah menyerah. Teruslah berjuang dan percaya bahwa bersama Tuhan, apa pun bisa terjadi. Jadi, kamu mau jadi bagian dari tim mana? Tim yang takut dan menyerah, atau tim pemenang bersama Tuhan?

Ingat, Yesus pernah berkata bahwa iman sebesar biji sesawi saja bisa memindahkan gunung. Jadi, jangan takut kalau kamu merasa sendirian, dan jangan cepat putus asa ketika keadaan sulit. Teruslah melangkah dengan berani! Karena dalam “tim pemenang”, setiap anak yang percaya dan taat akan diperhatikan Tuhan. Kalau Tuhan di pihak kita, tidak ada yang mustahil!

Card image
Z - VOTION 11 Desember 2025 (English Version) - LOVE FOUND A WAY
2025-12-12 05:28:55


“Greater love has no one than this: to lay down one’s life for one’s friends.” — John 15:13

Every time Christmas comes around, everyone gets busy hunting for gifts, hanging lights, and posting their “Christmas vibes” on social media. But in the middle of all that excitement, very few actually stop and ask, “Lord, what do You want me to give on Your birthday?” The truth is, Jesus doesn’t need candles, new outfits, or a huge party. What He’s really waiting for every Christmas is a gift that comes from our hearts.

You probably know the story of Spider-Man. At the end of the movie, Peter Parker makes the hardest choice of his life—letting go of the people he loves, including his best friend, so the world could be saved. He realizes that being a hero isn’t about being famous, but about being willing to lose something precious for the sake of others. Peter gives up “everyone he loves” so many others can live in peace.

And that’s exactly what Jesus did—on a far greater scale. Jesus willingly went to the cross, even though He had done nothing wrong. He sacrificed His life so we could be saved. Jesus was born not to receive gifts, but to give the greatest gift of all—His life. So now the real question is this: if Jesus has already given everything for us, what can we give to Him?

WHAT TO DO?:
1. Learn to Let Go. Jesus taught that true love always involves sacrifice. Try to let go of one thing that separates you from God, whether it be a bad habit, an unhealthy relationship, or a proud attitude. Because the best gift is not the one you add, but the one you let go of.
2. Proven Love, Not Posted Love. Small gifts like helping your mom without being asked, praying for your friends, or sending an apology message to someone you’ve disappointed are all of great value in God’s eyes.

BIBLE MARATHON:
Matthew 9

Card image
Z - VOTION 11 Desember 2025 - LOVE FOUND A WAY
2025-12-12 05:27:36


“Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya.” — Yohanes 15:13

Setiap kali Natal tiba, semua orang sibuk cari hadiah, pasang lampu, bikin konten “vibe Natal” di media sosial. Tapi di tengah semua itu, jarang yang benar-benar tanya “Tuhan, sebenarnya Engkau mau aku kasih apa di hari ulang tahun-Mu?” Sebenarnya Yesus nggak butuh lilin, baju baru, atau pesta besar. Tetapi justru yang Ia tunggu pada setiap moment ulang tahunnya adalah kado dari hati kita.

Tahukah kamu cerita tentang Spiderman, yang pada akhir cerita, Peter Parker harus mengorbankan hal paling berharga dalam hidupnya yaitu semua orang yang dikasihinya, termasuk sahabatnya, harus melupakan siapa dirinya supaya dunia tetap aman. Dia sadar bahwa menjadi pahlawan bukan soal populer, tapi soal berani kehilangan demi kebaikan orang lain. Peter kehilangan “semua yang ia sayang” demi menyelamatkan banyak orang.

Dan itulah yang Yesus lakukan, tapi dalam skala yang jauh lebih besar. Yesus rela disalib meskipun dia tidak melakukan kesalahan. Itu Dia lakukan agar kita diselamatkan. Yesus lahir bukan untuk menerima kado, tapi untuk memberi hidup-Nya bagi kita. Sekarang pertanyaannya: kalau Yesus sudah kasih segalanya buat kita, apa yang bisa kita kasih buat Dia?

WHAT TO DO?:
1. Belajar Rela Melepas. Yesus mengajarkan bahwa kasih sejati selalu melibatkan pengorbanan. Coba lepaskan satu hal yang menjauhkanmu dari Tuhan bisa kebiasaan buruk, hubungan yang nggak sehat, atau sikap sombong. Sebab kado terbaik bukan yang ditambah, tapi yang kamu relakan.
2. Kasih yang Terbukti, Bukan Di posting. Kado kecil seperti bantu mama tanpa disuruh, doakan temanmu, atau kirim pesan maaf ke orang yang kamu kecewakan itu semua bernilai besar di mata Tuhan

BIBLE MARATHON:
Matius 9

Card image
Renungan Pagi - 11 Desember 2025
2025-12-12 05:25:38


Hari-hari ini ada banyak orang yang sedang mengejar berkat sampai harus menghalalkan segala cara bahkan memutar balikkan firman Tuhan.

Tetapi orang yang menanti-nantikan Tuhan akan berjalan dalam kebenaran, karena selama berjalan dalam kebenaran, maka kebenaran itu yang akan menuntun kita untuk mengalami hal-hal yang dahsyat dan luar biasa.

Card image
Quote Of The Day - 11 Desember 2025 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2025-12-12 05:25:03


Tuhan tidak pernah merancang sesuatu yang buruk, tapi Tuhan juga tidak bisa menghindarkan jika kita memilih apa yang buruk.

Card image
Mutiara Suara Kebenaran - 11 Desember 2025 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2025-12-12 05:24:07


Tuhan menghendaki agar seseorang menggerakkan hatinya sendiri untuk mengasihi Tuhan; dan ini harus dibangun dari kesadaran bahwa memang manusia diciptakan untuk mengasihi Dia.

Card image
GRATITUDE THAT TRANSFORMS THE HEART - 11 Desember 2025 (English Version)
2025-12-12 05:22:50


Colossians 3:15
Let the peace of Christ rule in your hearts, since as members of one body you were called to peace. And be thankful.

We need to understand that offering thanksgiving is not merely an expression of gratitude, but also a spiritual power that is able to transform the human heart. In life, we easily get trapped in the current of worries and demands. We often think about what has not yet been achieved, what has been lost, and what does not go according to our desires. Without realizing it, these things make the heart anxious, envious, overthinking, and even bitter. However, when we learn to be thankful, our perspective begins to change-from focusing on what we lack to focusing on God’s goodness that always remains. The Apostle Paul wrote his letter to the Colossians not from a comfortable place, but from inside a prison. Yet it was there that Paul said, “And be thankful.” Paul knew that giving thanks is not the result of good circumstances, but a decision of faith to see how God’s hand works in the midst of difficult situations. A thankful heart is not a heart free from problems, but a heart that is able to find peace in the midst of problems. 

When our hearts are filled with thanksgiving, we are enabled to see life as an opportunity given by the LORD. We begin to realize that every day is a new grace-every breath, every smile, every opportunity to serve is a gift from God. Thanksgiving can remove complaints and replace them with hope. Giving thanks also has the power to heal inner wounds. When our hearts are hurt by comparison and dissatisfaction, and we choose to give thanks, we are actually opening space for God to restore our inner being. A thankful heart is not easily attacked by envy, for it realizes that God’s grace is sufficient for him. He knows that God works in His own unique way for each of His children. 

In the realm of ministry as well as work, a grateful attitude can also transform the atmosphere of the heart. A grateful person is not easily discouraged, because he sees every task as an opportunity to glorify God. He does not serve to be seen, but because he realizes that he has received so much love. Thanksgiving nurtures humility, for we know that everything we have is only by the grace of the LORD. Giving thanks is not a passive attitude but an active decision. In this sense, being thankful can begin with small things: saying thank you each morning because life is given again, remembering God’s goodness when the day feels heavy, or still giving thanks at the end of the day even when some things have not gone as expected. Slowly, our hearts will be enabled to see everything through the lens of faith, not feelings. 

When thanksgiving has become a lifestyle, our lives will become a living testimony. The world will see a difference in how we respond to challenges and life’s difficulties. We no longer face them with complaints, but with calmness and the conviction that God is sovereign. Therefore, we can say that a thankful heart is a strong heart, because it is rooted in the love of God, not in circumstances. Let us ask the Lord to plant the seed of gratitude in each of our hearts. May every little thing-big or small-become a reason to say, “Thank You, Lord, You are truly good.” In this way, thanksgiving not only changes the way we see life, but also transforms the heart that sees it. 

THANKSGIVING IS NOT MERELY AN EXPRESSION OF GRATITUDE, BUT ALSO A SPIRITUAL POWER THAT IS ABLE TO TRANSFORM THE HUMAN HEART.

Card image
MENGUCAP SYUKUR YANG MENGUBAH HATI - 11 Desember 2025
2025-12-12 05:21:01


Kolose 3:15
Hendaklah damai sejahtera Kristus memerintah dalam hatimu, karena untuk itulah kamu telah dipanggil menjadi satu tubuh. Dan bersyukurlah.

Perlu kita pahami bahwa menaikkan ucapan syukur bukan sekadar ekspresi rasa terima kasih, melainkan juga sebuah kekuatan rohani yang mampu mengubah hati manusia. Dalam hidup, kita mudah terjebak dalam arus kekhawatiran dan tuntutan. Kita sering memikirkan apa yang belum tercapai, apa yang hilang, dan apa yang tidak sesuai dengan keinginan kita. Tanpa disadari, hal itu membuat hati menjadi gelisah, iri, terlalu banyak berpikir (overthinking), bahkan pahit. Namun, ketika kita belajar bersyukur, perspektif kita mulai berubah—dari fokus pada kekurangan menjadi fokus pada kebaikan Tuhan yang selalu ada. Rasul Paulus menulis surat kepada jemaat di Kolose bukan dari tempat yang nyaman, melainkan dari dalam penjara. Tetapi justru di sanalah Paulus berkata, “Dan bersyukurlah.” Paulus tahu bahwa mengucap syukur bukanlah hasil dari situasi yang baik, melainkan keputusan iman untuk melihat bagaimana tangan Tuhan bekerja di tengah situasi yang sulit. Hati yang bersyukur bukanlah hati yang bebas dari masalah, melainkan hati yang mampu menemukan damai di tengah masalah.

Ketika hati kita dipenuhi dengan ucapan syukur, kita dimampukan untuk melihat hidup sebagai kesempatan yang TUHAN berikan. Kita mulai menyadari bahwa setiap hari adalah anugerah baru—setiap napas, setiap senyum, setiap kesempatan untuk melayani adalah hadiah dari Tuhan. Ucapan syukur mampu menyingkirkan keluhan dan menggantikannya dengan pengharapan. Mengucap syukur juga memiliki kuasa untuk menyembuhkan luka batin. Saat hati kita terluka oleh perbandingan dan rasa tidak puas, dan kita memilih untuk bersyukur, sesungguhnya kita sedang membuka ruang bagi Allah untuk memulihkan batin kita. Hati yang bersyukur tidak mudah diserang oleh iri hati, sebab ia sadar bahwa kasih karunia Tuhan cukup baginya. Ia tahu bahwa Tuhan bekerja dengan cara yang unik bagi setiap anak-Nya.

Dalam lingkup pelayanan maupun pekerjaan, sikap bersyukur juga dapat mengubah suasana hati. Orang yang bersyukur tidak mudah letih hati, karena ia memandang setiap tugas sebagai kesempatan untuk memuliakan Tuhan. Ia tidak melayani karena ingin dilihat, tetapi karena menyadari bahwa ia telah menerima begitu banyak kasih. Ucapan syukur menumbuhkan kerendahan hati, sebab kita tahu bahwa segala sesuatu yang kita miliki hanyalah anugerah dari TUHAN. Mengucap syukur bukanlah sikap pasif, melainkan keputusan yang aktif. Dalam hal ini, mengucap syukur dapat dimulai dari hal-hal kecil: mengucapkan terima kasih setiap pagi karena masih diberi hidup, mengingat kebaikan TUHAN saat hari terasa berat, atau tetap mengucap syukur di akhir hari meski ada hal yang belum sesuai harapan. Perlahan-lahan, hati kita akan dimampukan untuk melihat segala sesuatu dari kacamata iman, bukan perasaan.

Ketika mengucap syukur telah menjadi gaya hidup, hidup kita akan menjadi kesaksian yang hidup. Dunia akan melihat perbedaan dalam cara kita menanggapi tantangan dan persoalan hidup. Kita tidak lagi menghadapi dengan keluhan, melainkan dengan ketenangan dan keyakinan bahwa Tuhanlah yang berdaulat. Karena itu, kita dapat mengatakan bahwa hati yang bersyukur adalah hati yang kuat, sebab ia berakar pada kasih Allah, bukan pada keadaan. Mari kita meminta kepada Tuhan agar Ia menanamkan benih syukur dalam setiap hati kita. Biarlah setiap hal—baik besar maupun kecil—menjadi alasan untuk berkata, “Terima kasih, Tuhan, Engkau sungguh baik.” Dengan demikian, ucapan syukur bukan hanya mengubah cara kita melihat hidup, tetapi juga mengubah hati yang melihatnya.

Teriring salam dan doa,
Dr. Erastus Sabdono

UCAPAN SYUKUR BUKAN SEKADAR EKSPRESI RASA TERIMA KASIH, MELAINKAN JUGA SEBUAH KEKUATAN ROHANI YANG MAMPU MENGUBAH HATI MANUSIA.

Card image
Truth Kids 10 Desember 2025 - LEBIH BESAR DARI GOLIAT
2025-12-11 18:24:15


1 Samuel 17:45
Tetapi Daud berkata kepada orang Filistin itu: “Engkau mendatangi aku dengan pedang dan tombak dan lembing, tetapi aku mendatangi engkau dengan nama Tuhan semesta alam, Allah segala barisan Israel yang kautantang itu.”

Halo Sobat Truth Kids! Pernahkah kalian merasa takut menghadapi sesuatu? Seperti saat harus ujian, tampil di depan kelas, atau menghadapi hal-hal yang terasa besar dan sulit. Dalam Alkitab, ada seorang pemuda bernama Daud yang juga menghadapi sesuatu yang besar — raksasa bernama Goliat!

Tapi Daud tidak takut, karena ia tahu bahwa Tuhan lebih besar dari semua tantangan. Daud tidak membawa pedang atau perisai, hanya ketapel dan lima batu kecil. Tapi ia datang dengan keyakinan penuh kepada Tuhan, dan berkata: “Aku datang kepadamu atas nama Tuhan!” Dan benar saja, hanya dengan satu batu, Goliat tumbang! Semua itu bukan karena kekuatan Daud, tapi karena Tuhan yang menyertainya.

Sobat Truth Kids, kita juga bisa seperti Daud! Mungkin Goliat kita bukan raksasa, tapi rasa takut, malas berdoa, atau godaan untuk berbuat salah. Tapi jika kita percaya Tuhan selalu bersama kita, kita bisa berani, kuat, dan menang melawan segala tantangan.

Ingat, Tuhan tidak mencari siapa yang paling kuat, tapi siapa yang paling percaya. Jadi, jadilah pahlawan iman seperti Daud — yang berani karena tahu bahwa Tuhan jauh lebih besar dari semua masalah kita!

Card image
Truth Junior 10 Desember 2025 - IMAN ANAK ALLAH
2025-12-11 18:23:11


1 Samuel 17:45
“Tetapi Daud berkata kepada orang Filistin itu: ‘Engkau mendatangi aku dengan pedang dan tombak dan lembing, tetapi aku mendatangi engkau dengan nama TUHAN semesta alam, Allah segala barisan Israel yang kautantang itu.”

Pernahkah kamu merasa diremehkan orang lain karena masih kecil? Misalnya, ada yang berkata, “Ah, kamu nggak bisa, kamu kan masih anak-anak.” Rasanya pasti kecewa, ya? Tapi jangan salah, Tuhan bisa memakai anak kecil untuk melakukan hal besar!

Dulu, ada seorang anak gembala bernama Daud. Tubuhnya kecil, usianya muda, dan pekerjaannya hanya menggembalakan domba. Suatu hari, Daud berani maju melawan Goliat, seorang raksasa yang ditakuti semua orang Israel. Semua orang pikir Daud pasti kalah, tapi ternyata tidak. Apa rahasianya? Rahasianya adalah iman.

Iman artinya percaya penuh kepada Tuhan, meskipun kelihatannya mustahil. Daud tidak mengandalkan tubuhnya yang kecil atau senjatanya yang sederhana, tetapi ia mengandalkan Tuhan. Karena imannya, batu kecil dari umban Daud bisa menjatuhkan Goliat yang besar.

Nah, Sobat Truth Junior, iman juga bisa menjadi “kekuatan super” untuk kita. Tapi kekuatan ini hanya muncul kalau kita sungguh percaya dan mengasihi Tuhan. Dengan iman, kita bisa jujur walau takut dimarahi, berani berdoa walau diejek teman, dan tetap baik hati meskipun ada yang usil kepada kita.

Selama Sobat Truth Junior berada di pihak kebenaran, jangan takut apa pun sebab Tuhan menyertai. Jadi, yuk kita belajar memiliki iman seperti Daud.

Card image
Z - VOTION 10 Desember 2025 - JESUS' FAVORITE GIFT
2025-12-11 18:21:04


“Dan Ia berkata kepada mereka: ‘Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu.’ Itulah hukum yang terutama dan yang pertama.”— Matius 22:37–38

Setiap kali Natal tiba, dunia jadi ramai. Lampu warna-warni dipasang, lagu Natal berkumandang di mana-mana, dan hadiah bertukar tangan. Tapi, pernahkah kamu berpikir Yesus yang ulang tahun, tapi kenapa kita yang sibuk cari kado untuk sesama? Lalu sebenarnya, apa yang Yesus harapkan di hari ulang tahun-Nya?

Kalian tahu tidak dalam film Frozen, Elsa punya kekuatan luar biasa tapi justru menutup diri karena takut melukai orang lain. Anna, adiknya, terus berjuang menunjukkan bahwa cinta sejati bukan tentang kesempurnaan, tapi tentang pengorbanan bahkan sampai rela mati demi orang yang dikasihi. Menariknya, itu mirip dengan apa yang Yesus lakukan. Ia datang ke dunia bukan untuk menerima hadiah mewah, tapi untuk memberi kasih yang menyelamatkan dunia.

Dari cerita ini kita belajar bahwa sebenarnya Yesus tidak ingin pesta besar atau hiasan megah. Ia ingin hati yang tulus seperti merpati dan hati yang mau mengasihi, mengampuni, dan memberi tanpa pamrih. Oleh sebab itu natal bukan cuma perayaan. Itu adalah undangan untuk memberi Yesus kado terbaik yaitu hidup yang dipersembahkan bagi-Nya. Mari kita rayakan ulang tahun Yesus bukan hanya dengan lampu dan lagu, tapi dengan kasih dan perubahan nyata.

WHAT TO DO?
1. Rayakan dengan hati, bukan hanya hiasan Natal bukan tentang pohon, kado, atau pesta tapi tentang Yesus yang hadir. Saat kamu merayakan, jangan lupa sediakan waktu khusus hanya untuk Tuhan. Mulailah dengan baca Firman, nyanyikan satu lagu pujian, atau tulis surat syukur untuk Yesus.
2. Belajar Mengampuni. Tidak mudah, tapi ini hadiah yang paling Yesus sukai. Perlu kamu Ingat bahwa Ia mengampuni kita duluan, bahkan ketika kita belum layak.

BIBLE MARATHON:
Matius 8

Card image
Renungan Pagi - 10 Desember 2025
2025-12-11 18:19:58


Iman tanpa perbuatan pada hakekatnya adalah mati, artinya kekristenan tidak memisahkan antara perbuatan dengan iman, artinya jika iman kita benar maka otomatis akan nampak dalam perbuatan-perbuatannya.

Perbuatan-perbuatan kita bisa benar jika didasari dengan iman yang tulus. Orang yang perbuatannya tidak bercela adalah orang yang hidupnya dalam iman dan imannya nampak dalam perbuatan-perbuatannya.

Card image
Quote Of The Day - 10 Desember 2025 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2025-12-11 18:18:37


Hidup itu realitas yang menyimpan berjuta misteri.

Card image
Mutiara Suara Kebenaran - 10 Desember 2025 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2025-12-11 18:17:46


Pengalaman yang paling penting dan sangat utama serta benar-benar indah dalam kehidupan orang percaya adalah ketika keindahan dunia menjadi pudar di pemandangannya.

Card image
GIVING THANKS IN TIMES OF LIMITATION - 10 Desember 2025 (English Version)
2025-12-11 18:16:43


Hebrews 13:5
…be content with what you have, because God has said, “Never will I leave you; never will I forsake you “

It’s easy to give thanks when life goes according to plan. But what happens when we face limitations? When our needs remain unmet, our prayers unanswered, and what we have seems insufficient, can we still give thanks? That is where our trust in God is truly put to the test.

True thanksgiving does not depend on abundance, but on the conviction that God Himself is our sufficiency in His perfect wisdom. Contentment is not the result of having everything we want, but of knowing that whatever God provides is what’s best for us right now. When we learn to see through the eyes of faith, we begin to discover hidden blessings behind our limitations.

Lack or limitation is often the very place where God works most beautifully. It is in our insufficiency that we learn to rely entirely on the Lord. And it is within our limitations that we encounter His unlimited power. We begin to understand that God does not always give us what we want, but He always gives us what we need. When the heart is filled with gratitude, lack no longer becomes a reason to complain but an opportunity to experience God’s tangible grace.

In the New Testament, we find the remarkable story of Jesus feeding five thousand people with only five loaves of bread and two fish. Before the miracle happened, Jesus gave thanks (Matthew 14:19). He didn’t wait for the bread to multiply before being thankful—He gave thanks first. From that expression of gratitude, abundance flowed, and this teaches us that when we choose to give thanks amid insufficiency, God can turn the little into enough, and the enough into abundance.

Being thankful in times of lack also helps us rediscover the actual value of life. The world teaches that happiness comes from possessions, but faith teaches that true joy comes from knowing God. A grateful heart is not easily envious of what others have, because it knows that everyone receives their own portion of blessing. Such a person learns to appreciate small things in new ways. Giving thanks in lack is not a passive resignation, but an active expression of trust in God’s faithfulness.

Every time we choose to give thanks, we are, in essence, saying to God, “I believe You are enough for me.” And that is where peace begins to flow—not because our circumstances change, but because our hearts do. So, look around you. Things may not all be as you hoped, but there is always a reason to be thankful. Give thanks not only for the great blessings, but also for the small ones that often go unnoticed. Behind every limitation stands God, who never leaves us. When we learn to be thankful for the little, God can trust us with much more.

WHEN WE LEARN TO BE THANKFUL FOR LITTLE, GOD WILL ENTRUST US WITH GREATER THINGS.

Card image
MENGUCAP SYUKUR DALAM KETERBATASAN - 10 Desember 2025
2025-12-10 12:38:35


Ibrani 13:5 “…cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu. Karena Allah telah berfirman: ‘Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau.”

Bersyukur akan terasa mudah ketika hidup berjalan sesuai harapan. Namun, bagaimana jika kita diperhadapkan pada keadaan yang terbatas? Ketika kebutuhan belum terpenuhi, doa yang dinaikkan belum dijawab, dan apa yang kita miliki terasa tidak cukup masihkah kita dapat mengucap syukur? Di situlah ujian kepercayaan kita kepada Allah.

Ucapan syukur yang sejati tidak bergantung pada situasi yang berkelimpahan, melainkan pada keyakinan bahwa Allahlah yang mencukupkan dalam kebijaksanaan-Nya. Rasa cukup bukanlah hasil dari memiliki segalanya, melainkan dari mengetahui bahwa apa pun yang Tuhan berikan adalah yang terbaik bagi kita saat ini. Ketika kita belajar melihat dari kacamata iman, kita akan menemukan berkat yang tersembunyi di balik keterbatasaan.

Kekurangan atau keterbatasan sering kali menjadi tempat Allah bekerja dengan cara yang paling indah. Justru dalam keterbatasan, kita belajar menggantungkan diri sepenuhnya kepada TUHAN. Dalam keterbatasan pula kita menemukan kuasa-Nya yang tidak terbatas. Kita mulai mengerti bahwa TUHAN tidak selalu memberi apa yang kita perlu. Ketika hati dipenuhi dengan ucapan syukur, kekurangan tidak lagi menjadi alasan untuk bersungut-sungut, melainkan menjadi kesempatan untuk mengalami kasih karunia Allah yang nyata.

Dalam Perjanjian Baru, tercatat kisah luar biasa tentang Yesus yang memberi makan lima ribu orang hanya dengan lima roti dan dua ikan. Sebelum mukjizat terjadi, Yesus terlebih dahulu mengucap syukur (Mat.14:19). Ia tidak menunggu roti itu berlipat ganda baru bersyukur, tetapi Ia bersyukur terlebih dahulu. Dari ucapan syukur itulah berkat menjadi berlimpah. Hal ini mengajarkan kepada kita bahwa ketika kita memilih untuk bersyukur di tengah kekurangan, Tuhan dapat mengubah sedikit menjadi cukup, dan cukup menjadi berlimpah.

Bersyukur dalam kekurangan juga menolong kita melihat nilai sejati kehidupan. Dunia mengajarkan bahwa kebahagiaan datang dari kepemilikan, tetapi iman mengajarkan bahwa kebahagiaan sejati datang dari pengenalan akan Allah. Orang yang hatinya penuh syukur tidak akan mudah iri terhadap apa yang dimiliki orang lain, sebab ia tahu bahwa setiap orang memiliki berkat masing-masing. Ia belajar menghargai hal-hal kecil dengan cara yang baru. Mengucap syukur di tengah kekurangan bukanlah sikap pasrah tanpa harapan, melainkan bukti kepercayaan kepada Allah yang setia.

Setiap kali kita memilih untuk mengucap syukur, secara tidak langsung kita sedang berkata kepada Tuhan, “Aku percaya bahwa Engkau cukup bagiku.” Dan di sanalah damai sejahtera mulai mengalir—bukan karena keadaan berubah, tetapi karena hati kita berubah. Jadi, lihatlah sekeliling kita. Mungkin tidak semuanya seperti yang kita doakan, tetapi selalu ada alasan untuk berterima kasih. Bersyukurlah bukan hanya untuk berkat yang besar, tetapi juga untuk hal-hal kecil yang sering terlewat. Sebab di balik setiap keterbatasan, ada Tuhan yang tidak pernah meninggalkan kita. Ketika kita belajar bersyukur atas yang sedikit, Tuhan akan mempercayakan yang lebih besar.

Teriring salam dan doa,
Dr. Erastus Sabdono

KETIKA KITA BELAJAR BERSYUKUR ATAS YANG SEDIKIT, TUHAN AKAN MEMPERCAYAKAN YANG LEBIH BESAR.

Card image
Bacaan Alkitab Setahun - 10 Desember 2025 n
2025-12-10 12:37:04

Roma 11-13

Card image
Truth Kids 09 Desember 2025 - MENDENGAR SUARA TUHAN
2025-12-09 22:03:59


1 Samuel 3:10
Lalu datanglah TUHAN, berdiri di sana dan memanggil seperti yang sudah-sudah: “Samuel! Samuel!” Dan Samuel menjawab: “Berbicaralah, sebab hamba-Mu ini mendengar.”

Sobat Truth Kids, pernah nggak kamu dipanggil mama tapi tidak mendengar karena sedang asyik main atau nonton TV? Kadang kita terlalu sibuk sampai lupa menjawab saat dipanggil. Di Alkitab, ada seorang anak bernama Samuel yang juga dipanggil, tapi oleh Tuhan! Waktu itu ia tinggal di rumah Tuhan bersama imam Eli. Saat mendengar namanya dipanggil di malam hari, ia mengira itu Eli. Tapi setelah tiga kali, barulah Eli menyadari bahwa itu Tuhan yang memanggil.

Samuel tidak marah atau takut. Ia menjawab dengan rendah hati, “Berbicaralah, sebab hamba-Mu ini mendengar.” Sejak saat itu, Tuhan mulai berbicara kepada Samuel dan memakai dia sebagai nabi yang setia, berani menyampaikan firman Tuhan kepada bangsa Israel.

Dari kisah Samuel, kita belajar bahwa Tuhan bisa berbicara kepada siapa saja, bahkan anak-anak! Kalau kita mau taat dan belajar mendengar, Tuhan bisa memakai kita untuk hal-hal luar biasa. Saat berdoa, jangan hanya bicara sendiri, tapi juga tenangkan hati dan dengarkan apa yang Tuhan mau katakan.

Yuk, Sobat Truth Kids! Mari jadi seperti Samuel — anak yang peka, taat, dan siap mendengar suara Tuhan. Tuhan rindu memakai anak-anak yang hatinya lembut dan mau dipimpin oleh-Nya!

Card image
Truth Junior 09 Desember 2025 - AYO DENGAR-DENGARAN SAMA TUHAN
2025-12-09 22:01:49


1 Samuel 3:10
“Lalu datanglah TUHAN, berdiri di sana dan memanggil seperti yang sudah-sudah: ‘Samuel! Samuel!’ Dan Samuel menjawab: ‘Berbicaralah, sebab hamba-Mu ini mendengar.’”

Sobat Truth Junior, pernah nggak sih kamu bingung mau bantu teman atau ikut main saja? Kadang kita juga bertanya-tanya, apakah Tuhan bisa menolong kita untuk memilih yang benar? Jawabannya: bisa! Tuhan selalu mau menuntun anak-anak yang mau mendengar.

Di rumah atau di sekolah, kita mungkin melihat teman yang suka berbohong, mengejek, atau tidak mau dengar nasihat. Kita pun kadang malas berdoa atau enggan ke gereja. Dalam hati, kita tahu itu salah, tapi sering bingung harus bagaimana.

Dulu, ada seorang anak bernama Samuel. Ia tinggal di Rumah Tuhan bersama Imam Eli. Suatu malam, Tuhan memanggil namanya, “Samuel! Samuel!” Awalnya, Samuel belum tahu bahwa itu suara Tuhan. Setelah diajar oleh Imam Eli, ia menjawab, “Berbicaralah, Tuhan, sebab hamba-Mu ini mendengar.” Sejak itu, Samuel selalu mendengarkan dan menaati Tuhan. Ia tidak pura-pura tidur, tetapi benar-benar membuka hati. Tuhan pun memakai Samuel untuk memimpin dan menegur bangsa Israel — semua dimulai sejak ia masih kecil!

Tuhan juga mau berbicara kepada kita, Sobat Truth Junior. Mungkin bukan lewat suara langsung, tapi melalui Alkitab, guru sekolah minggu, orang tua, atau hati nurani kita. Kalau kita mau belajar mendengar dan taat sejak sekarang, Tuhan bisa memakai kita untuk membawa terang dan kebaikan di mana pun kita berada.

Jadi, saat kamu menghadapi pilihan sulit atau melihat hal yang salah, ingatlah: buka telinga, dengarkan suara Tuhan, dan lakukan yang benar!

Card image
Z - VOTION 09 Desember 2025 (English Version) - A LIFE THAT IMPACTS THE WORLD
2025-12-09 21:36:27


“Therefore, brothers and sisters, in view of God’s mercy, I urge you to offer your bodies as a living sacrifice, holy and pleasing to God, this is your true and proper worship. Do not conform to the pattern of this world, but be transformed by the renewing of your mind. Then you will be able to test and approve what God’s will is—his good, pleasing and perfect will.” – Romans 12:1–2

Let’s be real when it’s your birthday, you probably hope for gifts, good vibes, and maybe a few Insta stories tagging you. But what about Jesus? What does He want for His birthday?

Sadie Robertson Huff, a Christian speaker and influencer loved by Gen Z, once shared that the best gift we can give Jesus is a surrendered heart. Not just singing worship songs, but actually living out what we sing. She’s known for saying, “Live original” meaning live boldly for Christ, not just blending in.

Micah 6:8 lays out Jesus’ wishlist: justice, mercy, and humility. He’s not asking for a party. He’s asking for a life that reflects His love. Sadie’s viral talks remind us that faith isn’t just a Sunday thing it’s a daily choice to be kind when it’s hard, to stand up for others, and to stay humble even when we’re praised.

So this Christmas, instead of stressing about gifts or FOMO, let’s ask: What kind of life am I offering Jesus? Because the best birthday gift isn’t wrapped it’s lived.

WHAT TO DO?
1. Choose one way to show mercy today. Maybe forgive someone who annoyed you, or send a kind message to a friend who’s been distant. Mercy is love in action.
2. Write down one area where you want to grow in humility. Ask God to help you this week whether it’s being less reactive, more teachable, or giving credit to others.

BIBLE MARATHON:
Matthew 7

Card image
Z - VOTION 09 Desember 2025 - HIDUP YANG MENGUBAH DUNIA
2025-12-09 21:34:44


“Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati. Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.” Roma 12:1–2

Kalau kamu ulang tahun, biasanya kamu berharap apa? Kado? Ucapan manis? Story Instagram dari teman-teman? Wajar banget. Tapi pernah gak kepikiran… Yesus tuh pengen apa di hari ulang tahun-Nya?

Sadie Robertson Huff, seorang pembicara dan influencer Kristen yang banyak diikuti Gen Z, pernah bilang bahwa hadiah terbaik buat Yesus adalah hati yang berserah. Bukan cuma nyanyi lagu pujian, tapi hidup sesuai dengan isi lagu itu. Dia sering bilang, “Live original” hidup berani untuk Kristus, bukan sekadar ikut arus.

Mikha 6:8 itu kayak wishlist Yesus: keadilan, kasih setia, dan kerendahan hati. Dia gak minta pesta. Dia minta hidup yang mencerminkan kasih-Nya. Sadie sering viral karena pesan-pesannya yang real: iman itu bukan cuma urusan hari Minggu, tapi pilihan setiap hari buat baik saat susah, bela yang lemah, dan tetap rendah hati meski dipuji.

Jadi Natal ini, daripada stres mikirin kado atau takut FOMO, coba tanya: Hidup seperti apa yang aku persembahkan buat Yesus? Karena hadiah terbaik bukan yang dibungkus tapi yang dijalani.

WHAT TO DO?
1. Pilih satu cara buat nunjukin kasih setia hari ini. Bisa dengan memaafkan orang yang bikin kamu kesal, atau kirim pesan baik ke teman yang lagi menjauh. Kasih setia itu cinta yang bergerak.
2. Tulis satu area di hidupmu yang perlu lebih rendah hati. Minta Tuhan bantu kamu minggu ini entah itu supaya gak gampang tersinggung, lebih mau belajar, atau kasih pujian ke orang lain.

BIBLE MARATHON:
Matius 7  

Card image
Renungan Pagi - 09 Desember 2025
2025-12-09 21:31:47


Hidup kristen bukanlah sekedar konsep, bukan juga sekedar berkata "aku mengasihi Tuhan" tetapi soal cara hidup. Yesus berkata dari buahnyalah kamu akan dikenal. Hidup kristen akan terlihat dari buahnya, yaitu buah-buah pertobatan.

Jadi, hidup kristen yang sejati adalah kehidupan yang melakukan kehendak Tuhan dan berjalan dalam kekudusan. Ini artinya, hidup kristen yang sejati dapat dibuktikan dari cara hidup yang kita jalani.

Card image
Quote Of The Day - 09 Desember 2025 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2025-12-09 21:30:56


Di dalam lika-liku hidup, kita bisa mengalami kegagalan, namun Tuhan masih memberi kita kesempatan untuk diperbaiki, asalkan kita mau.

Card image
Mutiara Suara Kebenaran - 09 Desember 2025 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2025-12-09 21:23:08


Ketika seseorang melihat kemuliaan Allah atau keindahan Kerajaan Allah, maka keindahan dunia menjadi tidak ada artinya sama sekali; sangat tidak sebanding dengan keindahan Kristus.

Card image
THE POWER OF THANKSGIVING - 09 Desember 2025 (English Version)
2025-12-09 17:48:17


Life’s journey often brings us into “seasons of life” that are not always easy. There are times when everything flows smoothly, and our hearts find it easy to give thanks. Yet there are also moments when our hearts feel heavy, prayers seem unanswered, and circumstances appear to work against us. It is in such times that God’s Word calls us to give thanks—not because everything is good, but because we trust that God is working in all things for our good. We must learn that thanksgiving is not merely a reaction to blessings, but a posture of the heart that truly knows who God is. Giving thanks does not mean denying reality or pretending that problems don’t exist; instead, it means choosing to see God’s love in every situation.

Those who are thankful learn to trust that every circumstance God allows is part of His beautiful plan. They realize that behind every tear lies a purpose being shaped by the hand of God. When we stop complaining and start giving thanks, something extraordinary happens within us. Thanksgiving calms the soul, removes bitterness, and opens the door to peace. A thankful heart is not easily overtaken by fear or anxiety, because the root of gratitude is the confidence that God holds complete control over our lives. Gratitude also helps us focus on what we still have, instead of what we have lost.

David wrote in Psalm 103:2, “Bless the Lord, O my soul, and forget not all His benefits.” This verse teaches us to urge our own souls not to forget the goodness God has shown. Sometimes we must remind ourselves to be thankful. When life feels heavy, take a moment to recall God’s faithfulness—how He has helped in the past, sustained you in dark times, and rekindled your faith when it began to fade.

David wrote in Psalm 103:2, “Bless the Lord, O my soul, and forget not all His benefits.” This verse teaches us to urge our own souls not to forget the goodness God has shown. Sometimes we must remind ourselves to be thankful. When life feels heavy, take a moment to recall God’s faithfulness—how He has helped in the past, sustained you in dark times, and rekindled your faith when it began to fade.

A thankful attitude also carries the power to restore relationships with others. In families, thanksgiving multiplies joy. In ministry, it nurtures humility and renewed zeal. In the workplace, thanksgiving transforms duty into worship. A thankful person doesn’t just say “thank you,” but lives in a way that honors God.

Let us learn to make gratitude a new way of life. Begin with small things—thank God for the air you breathe, for family still beside you, for work that provides, and even for challenges that shape you to be stronger. When the heart is filled with thanksgiving, your life will radiate peace and joy that no circumstance can steal.

Giving thanks may not always be easy, but it is always the right thing to do. For in every act of thanksgiving, there flows a divine power from God Himself—a power that turns wounds into wisdom, struggles into testimonies, and tears into songs of praise. Therefore, *please do not wait for things to improve before giving thanks; instead, sincere thanksgiving can make things better.*

WE MUST LEARN THAT THANKSGIVING IS NOT MERELY A REACTION TO BLESSINGS, BUT A POSTURE OF THE HEART THAT TRULY KNOWS WHO GOD IS.

Card image
KEKUATAN UCAPAN SYUKUR - 09 Desember 2025
2025-12-09 17:46:20


Perjalanan hidup sering kali memperhadapkan kita pada “musim kehidupan” yang tidak selalu mudah. Ada masa ketika segalanya berjalan lancar dan hati terasa ringan untuk mengucap syukur. Namun, ada pula masa ketika hati terasa berat, doa belum dijawab, dan keadaan tampak tidak berpihak. Dalam kondisi seperti itulah firman Tuhan mengajak kita untuk tetap mengucap syukur—bukan karena semuanya baik, melainkan karena kita percaya bahwa Tuhan sedang bekerja dalam segala sesuatu untuk kebaikan kita. Kita perlu belajar bahwa mengucap syukur bukan sekadar reaksi terhadap berkat, tetapi merupakan sikap hati yang mengenal siapa Allah itu. Bersyukur bukan berarti menolak realitas atau berpura-pura tidak ada masalah, melainkan memilih untuk melihat kasih Tuhan di tengah situasi apa pun.

Orang yang bersyukur akan belajar percaya bahwa setiap peristiwa kehidupan yang Tuhan izinkan adalah bagian dari rencana-Nya yang indah. Mereka akan menyadari bahwa di balik setiap air mata ada maksud yang sedang dikerjakan oleh tangan Tuhan. Ketika kita berhenti mengeluh dan mulai bersyukur, sesuatu yang luar biasa terjadi di dalam hati kita. Ucapan syukur menenangkan jiwa, menyingkirkan kepahitan, dan membuka pintu damai sejahtera. Mengucap syukur membuat hati tidak mudah dikuasai oleh ketakutan atau kecemasan, karena akar dari rasa syukur adalah keyakinan bahwa Allah memegang kendali sepenuhnya atas hidup kita. Rasa syukur juga menolong kita untuk tetap fokus pada apa yang masih kita miliki, bukan pada apa yang hilang.

Daud menuliskan dalam Mazmur 103:2, “Pujilah TUHAN, hai jiwaku, dan janganlah lupakan segala kebaikan-Nya.” Kalimat ini mengajarkan kita untuk mendorong diri sendiri agar tidak melupakan segala kebaikan yang telah Tuhan lakukan. Kadang kita memang perlu mengingatkan diri sendiri untuk tetap bersyukur. Ketika hidup terasa berat, luangkanlah waktu untuk menghitung kembali kebaikan Tuhan—bagaimana Ia menolong di masa lalu, menopang saat keadaan gelap, dan menyalakan kembali nyala iman yang sempat redup.

Sikap mengucap syukur juga memiliki kekuatan untuk memulihkan hubungan dengan sesama. Dalam keluarga, ucapan syukur menambah sukacita. Dalam pelayanan, ucapan syukur menumbuhkan semangat dan kerendahan hati. Dalam pekerjaan, ucapan syukur membuat kita bekerja bukan karena terpaksa, tetapi sebagai bentuk penyembahan kepada Tuhan. Orang yang bersyukur tidak hanya berkata “terima kasih,” tetapi juga hidup dengan cara yang memuliakan Allah.

Mari kita belajar menjadikan sikap mengucap syukur sebagai gaya hidup baru. Mulailah dari hal-hal kecil—mengucap syukur atas udara yang masih bisa dihirup, keluarga yang masih ada, pekerjaan yang dapat dijalani, bahkan atas tantangan yang membentuk kita menjadi lebih kuat. Ketika hati dipenuhi syukur, hidup kita akan memancarkan damai dan sukacita yang tidak bergantung pada keadaan.

Mengucap syukur bukanlah pilihan yang mudah, tetapi selalu merupakan pilihan yang benar. Sebab di setiap ucapan syukur, ada kekuatan yang mengalir dari Allah sendiri—kekuatan yang dapat mengubah luka menjadi pelajaran, pergumulan menjadi kesaksian, dan air mata menjadi pujian. Karena itu, mengucap syukur tidak perlu menunggu keadaan menjadi baik; justru ucapan syukur yang tulus dapat membuat keadaan menjadi lebih baik.

KITA PERLU BELAJAR BAHWA MENGUCAP SYUKUR BUKAN SEKADAR REAKSI TERHADAP BERKAT, TETAPI MERUPAKAN SIKAP HATI YANG MENGENAL SIAPA ALLAH ITU.

Card image
Bacaan Alkitab Setahun - 09 Desember 2025
2025-12-09 17:44:03

Roma 8-10

Card image
Truth Kids 08 Desember 2025 - KUAT KARENA TUHAN
2025-12-09 13:00:56


Hakim-Hakim 16:28
"Berserulah Simson kepada Tuhan, katanya: “Ya Tuhan ALLAH, ingatlah kiranya kepadaku dan buatlah aku kuat, sekali ini saja, ya Allah, supaya dengan satu pembalasan juga kubalaskan kedua mataku itu kepada orang Filistin.”

Sobat Truth Kids! Pernah nggak kamu merasa lemah atau takut? Misalnya, saat kamu jatuh dari sepeda, atau harus tampil di depan kelas, lalu kamu berpikir, “Aku nggak bisa!” Tapi tahu nggak? Tuhan bisa memberi kita kekuatan, bahkan lebih dari yang kita kira!

Simson adalah pria yang sangat kuat — ia bisa mengalahkan singa dan banyak musuh! Tapi kekuatannya bukan berasal dari otot atau makanan, melainkan dari Tuhan. Sayangnya, Simson pernah sombong dan tidak taat, sehingga kehilangan kekuatannya. Tapi saat ia sadar dan berdoa sungguh-sungguh, Tuhan mengampuni dan memulihkannya. Ia kembali dikuatkan dan dipakai Tuhan dengan luar biasa.

Dari kisah Simson, kita belajar bahwa kekuatan sejati berasal dari Tuhan, bukan dari tubuh yang besar. Kalau kita bersalah, kita bisa minta ampun, dan Tuhan siap mengampuni serta menguatkan kita kembali. Yuk, Sobat Truth Kids, jadi anak yang berani, taat, dan kuat karena Tuhan!

Ingat, kekuatan bukan soal seberapa besar tubuhmu, tapi seberapa besar hatimu percaya kepada Tuhan. Ayo berdoa setiap hari, puji Tuhan dengan hati yang gembira, dan tunjukkan kasih lewat perbuatan baikmu!

Card image
Truth Junior 08 Desember 2025 - KESEMPATAN KEDUA
2025-12-09 12:58:52


Hakim-Hakim 16:28
“Berserulah Simson kepada TUHAN, katanya: ‘Ya Tuhan ALLAH, ingatlah kiranya kepadaku dan buatlah aku kuat sekali ini saja, ya Allah, supaya dengan satu pembalasan juga kubalaskan kedua mataku itu kepada orang Filistin."

Sobat Truth Junior, pernahkah kamu punya sesuatu yang kamu banggakan, tapi lupa untuk tetap rendah hati? Simson diberi kekuatan besar oleh Tuhan untuk melawan musuh bangsanya, orang Filistin. Namun, ia tidak menjaga kekuatannya dan tidak taat kepada Tuhan. Akhirnya, Simson kehilangan kekuatannya dan ditangkap oleh musuh. Ia menyesal dan berdoa, “Ya Tuhan, tolong kuatkan aku lagi.” Tuhan mendengar doanya dan memulihkan kekuatannya. Dengan itu, Simson bisa mengalahkan orang Filistin dan menolong bangsanya.

Dika juga punya bakat yang luar biasa, yaitu suara yang indah. Ia senang menyanyi lagu pujian di gereja dan banyak teman yang kagum padanya. Tapi lama-kelamaan, Dika jadi sombong. Ia malas latihan, jarang ikut ibadah, dan menyanyi hanya untuk dipuji orang.

Suatu hari, Dika ikut lomba menyanyi, tapi suaranya serak dan fals. Ia malu dan sedih, bahkan merasa Tuhan tak mau memakainya lagi. Malam itu, Dika berdoa sungguh-sungguh, “Tuhan, aku menyesal. Aku mau menyanyi untuk-Mu, bukan untuk diriku.” Setelah itu, ia mulai latihan lagi dengan rendah hati. Suaranya pun pulih, dan kali ini ia menyanyi untuk memuliakan Tuhan.

Sobat Truth Junior, Tuhan memberi kita semua bakat—menyanyi, menari, menggambar, atau menolong orang lain. Gunakan semuanya untuk kemuliaan Tuhan. Jika kita pernah salah, jangan takut untuk bertobat dan meminta ampun. Tuhan selalu memberi kesempatan kedua, seperti yang Ia berikan kepada Simson dan Dika.

Card image
Z - VOTION 08 Desember 2025 (English Version) - THE HEART JESUS DESIRES
2025-12-09 07:33:56


“He has shown you, O mortal, what is good. And what does the Lord require of you? To act justly and to love mercy and to walk humbly with your God.” Micah 6:8

When it’s your birthday, what do you usually hope for? Gifts? A surprise party? Sweet messages from people you love? Totally normal. But have you ever wondered… what does Jesus hope for on His birthday?

Think about Aang from Avatar: The Last Airbender. He never asked for presents or praise. What he wanted was peace. A world where people live justly, care for each other, and stop being selfish. Aang knew that power isn’t for showing off it’s for serving.

Jesus is the same. Christmas isn’t about giving gifts just because it’s tradition. It’s about giving what Jesus actually wants: a life that’s just, loving, and humble. Micah 6:8 is like Jesus’ birthday wishlist not stuff, but heart posture.

So if you’re wondering what to give Jesus this Christmas, try giving Him a life that leans into justice, loyalty, and humility. It doesn’t have to be perfect just start with something real and small.

WHAT TO DO?
1. Ask yourself: where can I be more just this week? Maybe in how you speak to your sibling, or how you decide who gets a turn first. Do one small thing that shows fairness.
2. Make a reminder on your phone or a sticky note: “Jesus’ Christmas gift = a life of justice, mercy, and humility.” Put it somewhere you’ll see often. Let it remind you that Christmas isn’t just about celebration it’s about transformation.

BIBLE MARATHON:
Matthew 6

Card image
Z - VOTION 08 Desember 2025 - HATI YANG YESUS INGINKAN
2025-12-09 07:31:41


“Hai manusia, telah diberitahukan kepadamu apa yang baik. Dan apakah yang dituntut TUHAN dari padamu: selain berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allahmu?” – Mikha 6:8

Kalau kamu ulang tahun, biasanya kamu berharap apa? Kado? Ucapan manis? Story Instagram dari teman-teman? Wajar banget. Tapi pernah gak kepikiran… Yesus tuh pengen apa di hari ulang tahun-Nya?

Sadie Robertson Huff, seorang pembicara dan influencer Kristen yang banyak diikuti Gen Z, pernah bilang bahwa hadiah terbaik buat Yesus adalah hati yang berserah. Bukan cuma nyanyi lagu pujian, tapi hidup sesuai dengan isi lagu itu. Dia sering bilang, “Live original”—hidup berani untuk Kristus, bukan sekadar ikut arus.

Mikha 6:8 itu kayak wishlist Yesus: keadilan, kasih setia, dan kerendahan hati. Dia gak minta pesta. Dia minta hidup yang mencerminkan kasih-Nya. Sadie sering viral karena pesan-pesannya yang real: iman itu bukan cuma urusan hari Minggu, tapi pilihan setiap hari—buat baik saat susah, bela yang lemah, dan tetap rendah hati meski dipuji.

Jadi Natal ini, daripada stres mikirin kado atau takut FOMO, coba tanya: Hidup seperti apa yang aku persembahkan buat Yesus? Karena hadiah terbaik bukan yang dibungkus—tapi yang dijalani.

WHAT TO DO?
1. Pilih satu cara buat nunjukin kasih setia hari ini. Bisa dengan memaafkan orang yang bikin kamu kesal, atau kirim pesan baik ke teman yang lagi menjauh. Kasih setia itu cinta yang bergerak.
2. Tulis satu area di hidupmu yang perlu lebih rendah hati. Minta Tuhan bantu kamu minggu ini entah itu supaya gak gampang tersinggung, lebih mau belajar, atau kasih pujian ke orang lain.

BIBLE MARATHON:
Matius 6

Card image
Renungan Pagi - 08 Desember 2025
2025-12-09 07:10:00


Untuk dapat menjadi pelaku kehendak Allah yang setia, kita harus tekun berdoa, giat dalam beribadah, serta setia dalam membaca dan merenungkan firman Allah.

Karena ketiga hal ini membuat kita semakin dekat dengan Tuhan, mengerti kehendak Tuhan dan akhirnya membuat kita mampu menjadi pelaku firman-Nya yang setia.

Card image
Quote Of The Day - 08 Desember 2025 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2025-12-09 07:09:16


Hal melakukan keinginan Tuhan dengan terlebih dahulu menanggalkan keinginan kita, harus diterima sebagai suatu anugerah.

Card image
Mutiara Suara Kebenaran - 08 Desember 2025 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2025-12-09 07:08:13


Kalau seorang Kristen masih mengeraskan hati mengasihi dunia dan segala yang ada padanya, pelayanan yang sebaik apa pun tidak akan signifikan mengubah hidupnya.

Card image
HOPE BEHIND THANKSGIVING - 08 Desember 2025 (English Version)
2025-12-09 07:06:59


Every human being surely carries good, beautiful, and joyful hopes or dreams. Yet on the other hand, we must be aware of and accept the reality that our hopes do not always come to pass as we wish. Some dreams indeed come true, but many also fall short of their goals. This truth applies to everyone—including believers. We may hope that dark clouds will soon pass, yet instead, a storm arrives. Life is not always as bright as its colors once seemed. Still, we give thanks because our faith in God is not overshadowed by doubt, nor does suspicion toward His providence cloud it. Hallelujah, praise the Lord! Behind the thickest clouds, there is always a beautiful rainbow. Behind every frightening event, there is always God’s presence and a valuable life lesson prepared for us. May the Lord open our spiritual eyes so that we may see His greater plan behind every event in the life of a believer.

Let us reflect for a moment: what has been our life struggle throughout 2025? If we can still read this devotion today, that alone is living proof of God’s sustaining presence in our lives. Never doubt God. Never suspect Him, nor stop trusting Him. We are the apple of His eye, His eternal treasure. He surely guards, protects, and defends His children in His wondrous ways. Do not live in the past, burdened by nostalgia that will never return. aDo not let past shameful events or failures intimidate you. Come before God, asking for His forgiveness and guidance. He will surely forgive every sin we have confessed. Let us resolve not to repeat them and commit to living more faithfully before Him.

God no longer deals with the past that has already been settled by Him, no matter how dark it was. He deals with our present life, shaping how we work together to build our future with Him. As the Apostle Paul says in Philippians 3:1-14: “Brothers and sisters, I do not consider myself yet to have taken hold of it. But one thing I do: forgetting what is behind and straining toward what is ahead, I press on toward the goal to win the prize for which God has called me heavenward in Christ Jesus.” Forgive yourself, just as God has already forgiven the sins of your past. Do not live for the past. Do not let the devil frighten you with the illusion of unforgiven mistakes.

We believe that when we confess our sins before God and commit not to repeat them, the faithful and just God will forgive us and forget our transgressions. Therefore, let us live as purely and as holy as possible as a form of our commitment to Him. Perhaps the commitments we made at the start of 2025 have faded over time. Yet now, as we stand on the threshold of a new year—2026—let us renew our resolve and our hearts once more. By understanding and living out God’s will to always give thanks, we will face the coming year with renewed strength and hope, even amid mystery and uncertainty.

A year full of mystery does not mean a life without direction or meaning. On the contrary, when a person understands God’s will and walks in it, they know they do not walk alone. They believe that God’s presence never fails, accompanying them in every step they take. If God has been with us throughout 2025, His presence will surely continue in the years to come—until the end of the year, and even until the end of our lives.

Let us look back and give thanks for the entire journey of 2025, while looking forward to 2026 with hearts full of confidence in God’s unchanging faithfulness.

Keep on striving. The Lord Jesus is with you

WE GIVE THANKS BECAUSE OUR FAITH IN GOD IS NOT OVERSHADOWED BY DOUBT, NOR DOES SUSPICION TOWARD HIS PROVIDENCE CLOUD IT.

Card image
ADA ASA DI BALIK UCAPAN SYUKUR - 08 Desember 2025
2025-12-09 07:05:00


Setiap manusia tentu memiliki harapan atau cita-cita yang baik, indah, dan menyenangkan. Namun di sisi lain, kita harus sadar dan menerima kenyataan bahwa harapan tidak selalu terwujud seperti yang kita inginkan. Memang ada asa yang menjadi nyata, tetapi tidak sedikit pula yang meleset dari tujuan. Hal ini berlaku bagi semua orang, termasuk orang percaya. Kita berharap awan hitam segera berlalu, tetapi yang datang justru badai. Hidup tidak selalu seindah warna aslinya. Namun, kita bersyukur sebab iman percaya kita kepada Allah tidak dibayangi keraguan, apalagi ditutupi kecurigaan terhadap penyertaan-Nya. Haleluya, puji Tuhan! Di balik pekatnya awan, ternyata selalu ada pelangi yang indah. Di balik peristiwa yang menakutkan, selalu ada penyertaan dan pelajaran hidup yang berharga yang Allah sediakan. Kiranya Allah membukakan mata rohani kita agar mampu melihat rencana besar-Nya di balik setiap peristiwa kehidupan orang percaya.

Coba kita renungkan: apa yang menjadi pergumulan hidup kita sepanjang tahun 2025? Jika hari ini kita masih dapat membaca renungan ini, itu sudah menjadi bukti nyata penyertaan Allah dalam hidup kita. Jangan pernah meragukan Allah. Jangan mencurigai-Nya, apalagi berhenti percaya kepada-Nya. Kita adalah biji mata-Nya, harta kekal-Nya. Ia pasti menjaga, melindungi, dan membela anak-anak-Nya dengan cara-Nya yang ajaib. Jangan hidup di masa lalu dengan beban nostalgia yang tidak akan pernah terulang. Jangan biarkan diri terus terintimidasi oleh peristiwa yang memalukan atau kegagalan yang telah terjadi. Datanglah kepada Tuhan, memohon pengampunan dan penyertaan-Nya. Ia pasti memberikan pengampunan atas setiap kesalahan kita. Mari kita bertekad untuk tidak mengulanginya dan berkomitmen untuk hidup lebih baik lagi.

Allah tidak berurusan dengan masa lalu yang sudah kita selesaikan bersama-Nya, seburuk apa pun itu. Ia berurusan dengan hidup kita hari ini—dengan bagaimana kita mengukir masa depan bersama-Nya. Seperti yang dikatakan Rasul Paulus dalam Filipi 3:13–14: “Saudara-saudara, aku sendiri tidak menganggap bahwa aku telah menangkapnya, tetapi ini yang kulakukan: aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan surgawi dari Allah dalam Kristus Yesus.” Ampunilah diri sendiri sebagaimana Allah telah mengampuni dosa-dosa masa lalu yang sudah diselesaikan. Jangan hidup untuk masa lalu. Jangan biarkan Iblis menakut-nakuti kita dengan kesalahan yang seolah belum diampuni.

Kita percaya bahwa ketika kita mengaku dosa di hadapan Tuhan dan berkomitmen untuk tidak mengulanginya, Allah yang setia dan adil akan mengampuni kesalahan kita dan melupakan pelanggaran itu. Maka, hiduplah sesuci-sucinya dan sekudus-kudusnya sebagai wujud komitmen kita kepada Tuhan. Mungkin komitmen yang kita buat di awal tahun 2025 mulai pudar seiring berjalannya waktu. Namun kini, ketika kita sebentar lagi memasuki tahun yang baru—tahun 2026—marilah kita memperbarui kembali tekad dan hati kita. Dengan memahami dan menghidupi kehendak Allah untuk tetap bersyukur, kita akan bersemangat menapaki tahun yang baru, meski penuh misteri dan ketidakpastian.

Tahun yang penuh misteri ini bukan berarti kita hidup tanpa arah atau makna. Justru, ketika seseorang memahami kehendak Allah dan melakukannya, ia tahu bahwa ia tidak berjalan sendiri. Ia percaya penyertaan Allah tidak pernah absen dalam setiap langkah hidupnya. Jika Allah telah menyertai kita sepanjang tahun 2025, maka penyertaan-Nya akan terus nyata di tahun-tahun berikutnya—sampai di penghujung tahun, bahkan sampai pada ujung kehidupan.

Mari kita tinggalkan dan syukuri seluruh perjalanan di tahun 2025, sambil menatap tahun 2026 dengan hati yang penuh keyakinan akan penyertaan Allah yang tidak pernah berubah.

KITA BERSYUKUR SEBAB IMAN PERCAYA KITA KEPADA ALLAH TIDAK DIBAYANGI KERAGUAN, APALAGI DITUTUPI KECURIGAAN TERHADAP PENYERTAAN-NYA

Card image
Bacaan Alkitab Setahun - 08 Desember 2025
2025-12-08 23:33:30

Roma 4-7

Card image
Truth Kids 07 Desember 2025 - AKU KECIL, TAPI ALLAHKU BESAR
2025-12-08 23:28:08


Hakim-hakim 6:16
Berfirmanlah TUHAN kepadanya: “Tetapi Akulah yang menyertai engkau, sebab itu engkau akan memukul kalah orang Midian itu sampai habis.”

Hallo Sobat Truth Kids! Pernah nggak, kamu merasa dirimu terlalu kecil untuk melakukan sesuatu yang penting? Misalnya, kamu ingin menolong teman yang sedang sedih, tapi bingung harus mulai dari mana. Atau kamu ingin melakukan hal baik, tapi berpikir, “Aku kan cuma anak kecil…”

Tahu tidak? Allah pernah memanggil seseorang di Alkitab yang juga merasa kecil dan tidak berani. Tapi Allah berkata, “Aku menyertaimu.” Itu artinya, Allah tidak melihat seberapa besar tubuh atau kekuatan kita, tapi seberapa besar hati kita percaya dan taat kepada-Nya.

Saat kita bersama Tuhan, hal-hal yang kelihatannya sulit bisa kita lakukan. Tuhan sanggup memberi kita kekuatan dan keberanian — bahkan untuk hal-hal yang mungkin kita pikir tidak bisa kita kerjakan sendiri.

Jadi, jangan ragu ya, Sobat Truth Kids! Meski kamu masih kecil, kamu bisa menjadi terang dan berkat untuk orang lain. Bersama Allah, kamu bisa jadi berani, kuat, dan membawa sukacita ke mana pun kamu pergi!

Card image
Truth Junior 07 Desember 2025 - KECIL, TETAPI DIPAKAI TUHANɓ
2025-12-08 23:25:35


Hakim-Hakim 6:16
“TUHAN berkata kepadanya: ‘Aku akan menyertai engkau; sebab itu engkau akan memukul kalah orang Midian itu."

Gideon bukan orang yang kuat atau terkenal. Bahkan, ia merasa kecil dan tidak berani. Tapi suatu hari, Tuhan datang kepadanya dan berkata, “Hai pahlawan yang gagah perkasa, Aku menyertaimu!” Gideon kaget dan berkata, “Siapa, aku? Aku kan orang biasa!” Namun Tuhan tidak salah pilih. Ia tahu Gideon bisa dipakai untuk hal besar asal percaya dan taat.

Ketika orang Midian datang menyerang, Gideon mengumpulkan banyak tentara. Tapi Tuhan berkata, “Terlalu banyak! Kurangi!” Akhirnya hanya tersisa 300 orang melawan ribuan musuh. Bayangkan! Tapi Gideon tidak takut. Ia percaya Tuhan yang berperang bagi mereka. Dengan obor, terompet, dan tempayan, mereka membuat musuh kebingungan, dan Tuhan memberi kemenangan besar!

Sobat Truth Junior, kadang kita juga merasa kecil—mungkin tidak sepintar teman lain, tidak seberani orang lain, atau tidak sehebat yang lain. Tapi Tuhan bisa memakai siapa saja yang mau percaya dan taat kepada-Nya.

Kamu mungkin kecil di mata manusia, tapi besar di mata Tuhan! Kalau Tuhan ada di pihakmu, tidak ada yang mustahil. Seperti Gideon, kamu pun bisa menjadi pahlawan kecil yang dipakai Tuhan untuk melakukan hal-hal luar biasa!

Card image
Z - VOTION 07 Desember 2025 (English Version) - HOPE FOUND IN A MANGER
2025-12-08 22:33:05


“And she gave birth to her firstborn, a son. She wrapped him in cloths and placed him in a manger, because there was no guest room available for them.”_ Luke 2:7

Picture this: Christmas night, but no twinkling lights, no party, no presents. Just a young couple, exhausted, and a tiny baby sleeping in a feeding trough. Jesus was born in quiet—not in the spotlight.

If you’ve watched Stranger Things, you know Eleven. She wasn’t born in a “normal” place, didn’t grow up in a cozy home, and didn’t have a complete family. But from a hidden, lonely place, she became a protector saving her friends and even the world.

Jesus did the same. Born in a place no one cared about, yet He became the center of hope for all. Christmas isn’t about the noise it’s about the presence. Not about the party, but about the Person who shows up in our silence.

Maybe this Christmas won’t be as lively as usual. Maybe you won’t be with your whole family or have big events planned. But here’s the good news: Jesus still shows up. Even in the quiet, He is Immanuel God with us.

WHAT TO DO?
1. Take 10 minutes today to sit quietly and talk to God. No fancy words needed just be real. Share how you’re feeling as the year ends.
2. Write down one small thing you’re thankful for today. Stick it somewhere you’ll see often (your desk, mirror, or phone). Let it remind you: hope doesn’t always come in big packages sometimes it’s wrapped in a manger.

BIBLE MARATHON:
Matthew 5

Card image
Z - VOTION 07 Desember 2025 - DI PALUNGAN ADA HARAPAN
2025-12-08 22:28:56


“Dan ia melahirkan seorang anak laki-laki, anaknya yang sulung, lalu dibungkusnya dengan kain lampin dan dibaringkannya di dalam palungan, karena tidak ada tempat bagi mereka di rumah penginapan.” – Lukas 2:7

Bayangin, malam Natal tapi gak ada lampu kelap-kelip, gak ada pesta, gak ada hadiah. Cuma sepasang orang tua muda, kelelahan, dan seorang bayi mungil yang tidur di palungan. Yesus lahir dalam kesunyian, bukan sorotan.

Kalau kamu pernah nonton serial Stranger Things, kamu pasti kenal Eleven. Dia gak lahir di tempat yang “normal”, gak tumbuh besar di rumah yang hangat, dan gak punya keluarga yang lengkap. Tapi justru dari tempat tersembunyi dan sepi, dia jadi penyelamat bagi teman-temannya bahkan dunia.

Yesus juga begitu. Lahir di tempat yang gak dianggap, tapi justru jadi pusat harapan dunia. Natal bukan soal keramaian, tapi soal kehadiran. Bukan soal pesta, tapi soal Pribadi yang hadir di tengah kesunyian kita.

Mungkin Natal tahun ini kamu gak bisa kumpul bareng keluarga lengkap, atau gak ada acara seru kayak biasanya. Tapi kabar baiknya: Yesus tetap hadir. Bahkan di tengah sepi, Dia tetap Immanuel Allah beserta kita.

WHAT TO DO:
1. Luangkan waktu 10 menit hari ini untuk duduk diam dan ngobrol sama Tuhan. Gak perlu kata-kata indah cukup jujur. Ceritain apa yang kamu rasain menjelang akhir tahun ini.
2. Tulis satu hal kecil yang bisa kamu syukuri hari ini. Tempel di tempat yang gampang kamu lihat (meja belajar, cermin, atau HP). Biar kamu ingat: harapan itu gak selalu datang dalam bentuk besar kadang justru dalam palungan yang sederhana.

BIBLE MARATHON:
Matius 5

Card image
Quote Of The Day - 07 Desember 2025 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2025-12-07 11:52:44


Kalau kita belum menjadi anak-anak Bapa yang mengerti beban Bapa, maka kasih karunia yang Bapa sediakan belum lengkap bagi kita.