Renungan Harian Renungan Hari Ini

Card image
Truth Kids 21 Juli 2024 - BERHENTI SEBENTAR DAN TARIK NAFAS
2024-07-21 10:21:24


Yakobus 1:19
”Hai saudara-saudara yang kukasihi, ingatlah hal ini: setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah.”

Sobat Kids, kalian pernah merasa kesulitan saat belajar matematika atau saat bermain permainan yang sulit? Rasanya pasti ingin cepat menyerah, ya? Tapi, tahu nggak, menjaga diri dengan sabar itu, seperti ketika kamu belajar mengerjakan teka-teki yang sulit. Saat kamu bertahan dan nggak menyerah, akhirnya kamu bisa menyelesaikannya, kan?

Nah, dalam kehidupan sehari-hari, kita juga butuh kesabaran yang sama. Misalnya, saat kita sedang kesal atau marah, kita bisa belajar menahan diri dengan sabar. Contohnya, seperti waktu kamu ingin marah karena temanmu mengambil mainanmu tanpa izin. Kamu bisa berhenti sejenak, bernafas dalam-dalam, dan berpikir tenang. Dengan begitu, kamu bisa menahan diri untuk tidak marah-marah.

Jadi, menjaga diri dengan sabar itu penting, loh, karena dengan kesabaran, kita bisa menghadapi kesulitan dengan lebih baik dan kita bisa menjadi pribadi yang lebih baik juga. Yuk, kita belajar bersama-sama untuk menjadi lebih sabar setiap harinya!

Card image
Truth Junior 21 Juli 2024 - KESABARAN BUKANLAH KELEMAHAN
2024-07-21 10:14:41


1 Tesalonika 5:14
”Kami juga menasihati kamu, saudara-saudara, tegorlah mereka yang hidup dengan tidak tertib, hiburlah mereka yang tawar hati, belalah mereka yang lemah, sabarlah terhadap semua orang.”

Renungan hari ini terdapat dalam 1 Tesalonika 5:14 yang mengajarkan kita untuk bersabar terhadap semua orang. Kesabaran bukanlah hanya menunggu sesuatu terjadi, melainkan juga bagaimana kita meresponsnya dengan tenang dan penuh kasih. Sebagai anak-anak Allah, kita diajari untuk bersikap sabar terhadap yang lemah, mendukung yang lemah semangatnya, dan bertindak lemah lembut. Ketika kita bersabar, kita menunjukkan kasih Kristus kepada orang lain. Ingatlah bahwa kesabaran adalah buah Roh yang tumbuh dalam diri kita ketika kita tetap terhubung dengan Tuhan. Caranya melalui berdoa dan membaca firman-Nya. Ketika kita mengalami tantangan atau kesulitan, kita dapat meminta bantuan dan kekuatan dari Allah untuk membantu kita bertahan dan tetap sabar.

Ketika Sobat Junior bersabar, tandanya kalian membangun hubungan yang kuat dengan Allah dan orang lain. Kesabaran membantu kita menghargai waktu yang dibutuhkan untuk memahami dan memaafkan. Saat kita bersabar, kita belajar untuk tidak mudah marah atau kecewa, serta melihat setiap situasi dengan hati yang terbuka dan pikiran yang bijaksana. Ingatlah bahwa kesabaran bukanlah tanda kelemahan, melainkan kekuatan. Ketika kita bersabar, kita menunjukkan karakter Kristus dalam hidup kita. Mari kita terus berdoa agar Roh Kudus membantu kita tumbuh dalam kesabaran, sehingga kita dapat menjadi saksi yang setia atas kasih dan kebaikan Allah kepada dunia ini.

Card image
Truth Youth 21 Juli 2024 - YOUNG AND POSITIVE
2024-07-21 10:53:50


Let no one despise you for your youth, but set the believers an example in speech, in conduct, in love, in faith, in purity. (1 Timothy 4:12)

In 1 Timothy 4:12, Paul advises Timothy to be a good example to others, especially young people like us. We can start with small everyday things! For example, pay attention to how we speak. Always try to use words that are kind and uplifting. Avoid empty talk or gossiping about unimportant things, as it only creates a negative atmosphere. If we can speak well, the environment around us will surely become more pleasant and comfortable.

But it's not just that; we can also show positive spirit through actions. For instance, helping a friend in need, smiling, or simply listening attentively when a friend confides in us. With these small gestures, the atmosphere around us can become more cheerful and inspiring for others. We can also lead by example through our way of life. We can demonstrate goodness by avoiding harmful things and staying consistent with positive values. By doing so, we can inspire our friends to do good as well. Our social environment will become a place full of positivity and support, where we build each other up. In this way, we can create a community that is positive and loving, which will certainly make ourselves and those around us happier and more motivated. Let's start now!

WHAT TO DO:
1. Start by paying attention to how we speak. Use words that are kind and uplifting and avoid empty talk or gossip about others.
2. Show positive spirit through actions, such as helping friends in need, smiling, or listening attentively when friends confide in us.
3. Lead by example through our lifestyle by avoiding harmful behaviors and staying consistent with positive values.

BIBLE MARATHON:
- Isaiah 20-24

Card image
Truth Youth 21 Juli 2024 - YANG MUDA, YANG POSITIF
2024-07-21 10:03:17


”Jangan seorang pun menganggap engkau rendah karena engkau muda. Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu.” (1 Timotius 4:12)

Di dalam 1 Timotius 4:12, Paulus berkata ke Timotius untuk jadi contoh yang bagus bagi orang lain, terutama anak muda seperti kita. Kita bisa mulai dari hal-hal kecil sehari-hari, lho! Misalnya, coba perhatikan cara bicara kita. Usahakan selalu pakai kata-kata yang baik dan membangun. Hindari omong kosong atau ngobrolin orang yang nggak penting, soalnya itu cuma membuat suasana jadi negatif. Kalau kita bisa bicara dengan baik, lingkungan sekitar kita pasti jadi lebih asyik dan nyaman.

Tetapi tidak cuma itu, kita juga bisa tunjukkan semangat positif lewat tindakan. Misalnya, bantu teman yang lagi kesusahan, tersenyum, atau bahkan cukup dengarkan saja dengan serius kalau teman lagi curhat. Dengan hal-hal kecil seperti itu, suasana sekitar kita bisa jadi lebih ceria dan membuat orang terinspirasi. Kita juga bisa jadi contoh lewat cara kita hidup. Kita bisa tunjukkan kebaikan dengan menjauhi hal-hal yang _nggak_ baik, dan tetap konsisten dengan nilai-nilai positif. Dengan begitu, kita bisa jadi inspirasi untuk teman-teman kita untuk ikut berbuat baik. Lingkungan sosial kita bakal jadi tempat yang penuh semangat dan positif, di mana kita saling support dan membangun. Dengan cara ini, kita bisa membentuk komunitas yang positif dan penuh kasih, yang pasti akan membuat diri kita dan orang lain di sekitar kita jadi lebih bahagia dan termotivasi. Yuk, mulai dari sekarang!

WHAT TO DO:
1.Mulailah dengan memperhatikan cara berbicara kita. Gunakan kata-kata yang baik dan membangun, serta hindari omong kosong atau menggosip tentang orang lain.
2.Tunjukkan semangat positif melalui tindakan, seperti membantu teman yang sedang mengalami kesulitan, tersenyum, atau mendengarkan dengan serius ketika teman curhat.
3.Jadi contoh melalui gaya hidup kita dengan menjauhi hal-hal yang tidak baik, dan tetap konsisten dengan nilai-nilai positif.

BIBLE MARATHON:
▪︎ Yesaya 20-24

Card image
Renungan Pagi - 21 Juli 2024
2024-07-21 09:55:08


Hari yang indah akan kita alami, jika setiap kali memulai hari, tidak pernah melupakan untuk menjalin hubungan pribadi yang intim dengan Tuhan, sebab mengalami perjumpaan pribadi dengan Tuhan pasti akan mengubah cara berpikir dan gaya hidup. Membuat kita memahami bahwa dalam setiap peristiwa hidup, Allah sedang berbicara.

Kalau hal itu kita pahami, maka tidak ada alasan untuk mengeluh dan bersungut sekalipun ada saja hal-hal tidak mengenakkan yang kita hadapi. Memahami arti kehadiran Tuhan dalam hidup, memampukan kita menghadapi semuanya dengan senyum dan hati yang bersyukur dengan tulus serta penuh sukacita.

Bukankah pengertian ini membuat kita merasakan dan mengalami indahnya setiap hari berjalan bersama Tuhan? Sehingga dapatlah berkata seperti Yeremia "tak berkesudahan kasih setia Tuhan, tiada habisnya Rahmat-Nya, selalu baru setiap pagi, besar setia-Mu," sekalipun saat itu keadaan di sekelilingnya bukanlah keaadan yang nyaman, ia tetap bersyukur dan percaya bahwa Tuhan ada bersamanya.
(Ratapan 3:22)

Card image
UNDERESTIMATE ETERNITY - 21 Juli 2024 (English Version)
2024-07-21 09:46:32


Many Christians have responsible personalities; not careless or careless. Usually the person in charge is not careless and does not like careless people. Do we know who is the most careless person in life? The most careless person in this life is the person who thinks that eternity is not the main thing. The person who is careless or the most careless and most endangers his own life is the one who understimates eternity. The average humans underestimate eternity, and this is actually a fatal foolishness. But the philosophy of life that humans in general or almost all humans have is "let us eat and drink because tomorrow we will die," as stated by Paul in his letter.

It has been imprinted in the mind and lived in the heart that it is as if the opportunity to live is only once on this earth. And this has been instilled since childhood. Therefore, whatever can make them happy and pleased is what they pursue, seek to possess, and hope to enjoy life as much as possible. Because there is no other life besides living today. As children, their favorite things are toy cars; for girls, dolls. As they grow a bit older, girls like playing market, and boys like mini bikes. As teenagers, their interest turns to motorbikes. Then approaching adulthood, if the family can afford it, they start owning cars while adding accessories. And so on. It is not that these things are forbidden, but we shouldn't follow the focus of human life which is generally on mortal matters.

People who do not appreciate eternity, those who underestimate eternity, cannot possibly honor God. It is impossible. Even if they go to church, praise, and worship God, they do not give proportional respect to God. It is impossible for them to seek God, His presence, or His face in their daily lives. For them, God's presence and God's face are foreign concepts, and they never recognize what God's presence is. All they know is the liturgical atmosphere. Essentially, such people do not need God but need His help when in trouble and His blessings for their endeavors and business. Ironically, the church legalizes or justifies this truth. So, many Christians live in ignorance. God is bribed with praise and worship.

The Bible indeed says that God is enthroned on praises, but we must ask: whose praises? God enjoys the praises of those who love and honor Him, not just anyone who can sing. Sometimes, they can’t even sing. They don’t understand worship either but being in the church room makes them feel they have contributed something to God. Alarmingly, God remains silent, as if He is not disturbed by their behavior. Ironically, the pastor is also not disturbed. The question for each of us is: are we truly afraid of eternity? Honestly, perhaps not, because the world has distracted and corrupted us too much.

This is actually a critical condition. If we let it be, soon we will be engulfed in darkness, quenching the Spirit. If it reaches that level, we cannot be saved; we are not worthy to enter the Father’s palace in heaven. We never think that behind death lies eternity. The life of those who do not appreciate eternity is tragic. The disturbance of God's feelings is given to true servants of God, so that they have a sense of crisis towards souls, and so that they live righteously; not thinking about money or seeking positions, but being serious about saving souls. And before they save others, they must save themselves. They must be right first; they must also be afraid of eternity first.

So, be aware and investigate whether we truly have a fear of eternity. Do not take it lightly. Because if we do not sincerely seek God’s face, it's impossible for us to honor God. If we do not change, it is only a matter of time before we tremble before God. If we are afraid of eternity, we will strive to be as close friends with God and as intimately as possible. And those who want to be friends with God as closely as possible, as intimately as possible will surely strive to live holy lives, live blamelessly, strive not to hurt others, and be honest in all things.

So if God comes today or the world ends—whether due to war or disaster—are we confident that we will surely enter the Father’s House? Have we honored God properly all this time? Remember, the Word of God says, “Cursed is anyone who does not love the Lord.”

THE PERSON WHO IS CARELESS OR THE MOST CARELESS AND MOST ENDANGERS HIS OWN LIFE IS THE ONE WHO UNDERSTIMATES ETERNITY.

Card image
MEREMEHKAN KEKEKALAN - 21 Juli 2024
2024-07-21 10:58:45


Banyak orang Kristen yang memiliki kepribadian yang bertanggung jawab; tidak ceroboh atau tidak sembarangan. Biasanya orang yang bertanggung jawab itu tidak ceroboh dan tidak suka dengan orang ceroboh. Tahukah kita siapa orang yang paling ceroboh dalam hidup ini? Orang yang paling ceroboh dalam hidup ini adalah orang yang menganggap kekekalan bukan hal utama. Orang yang ceroboh atau paling ceroboh dan paling membahayakan hidupnya sendiri adalah orang yang menganggap remeh kekekalan. Rata-rata manusia menganggap remeh kekekalan, dan ini sebenarnya suatu kebodohan fatal. Tetapi filosofi hidup yang dimiliki manusia pada umumnya atau hampir semua manusia adalah “mari kita makan dan minum sebab besok kita mati,” seperti yang dikemukakan oleh Paulus di dalam suratnya.

Sudah terpatri di dalam pikiran dan dihayati di dalam hati bahwa seakan-akan kesempatan hidup itu hanya sekali di bumi ini. Dan itu dijiwai sejak kecil. Karenanya, apa yang dapat membahagiakan dan menyenangkan hatinya, itu yang diburu, dicari untuk dimiliki, dan berharap ia dapat menikmati hidup semaksimal mungkin. Sebab, tidak ada lagi kehidupan lain selain hidup hari ini. Waktu kecil, kesukaannya mobil-mobilan; bagi perempuan, boneka. Kemudian besar sedikit, kalau perempuan, pasar-pasaran; bagi laki-laki, sepeda mini. Meningkat waktu remaja, kesukaannya motor. Lalu menjelang pemuda, kalau ada dalam keluarga yang mampu, mulai memiliki mobil sambil menambah aksesorisnya. Dan seterusnya. Bukan tidak boleh, tetapi jangan kita mengikuti fokus hidup manusia yang umumnya pada perkara-perkara fana.

Orang yang tidak menghargai kekekalan, orang yang menganggap remeh kekekalan tidak mungkin menghormati Tuhan. Tidak mungkin. Kalaupun dia ke gereja, dia memuji, menyembah Tuhan, dia tidak memberikan penghormatan yang proporsional kepada Allah. Tidak mungkin hari-harinya mencari Tuhan, mencari hadirat Tuhan atau wajah Tuhan. Baginya, hadirat Tuhan dan wajah Tuhan itu asing, sampai tidak pernah mengenali apa itu hadirat Tuhan. Yang dia tahu hanya suasana liturgi. Pada dasarnya, orang-orang seperti ini tidak membutuhkan Tuhan, tetapi membutuhkan pertolongan-Nya jika dalam kesulitan, dan berkat-Nya untuk usaha dan bisnis. Dan ironisnya, gereja melegalisir kebenaran itu atau membenarkan. Sehingga, banyak orang Kristen hidup dalam kebodohan. Tuhan disuap dengan pujian dan penyembahan.

Dan memang Alkitab berkata bahwa Tuhan bertakhta di atas pujian, tapi kita harus perkarakan: pujian siapa? Tuhan menikmati pujian dari orang yang mengasihi dan menghormati-Nya, bukan orang sembarangan, yang hanya bisa menyanyi. Kadang-kadang menyanyi saja juga tidak bisa. Menyembah juga tidak mengerti, tapi ada di dalam ruangan gereja, sehingga dia merasa bahwa dia sudah memberikan semacam partisipasi untuk Tuhan. Dan yang mengerikan, Tuhan diam, seakan-akan tidak terganggu dengan perilaku mereka. Ironisnya, pendeta juga tidak terganggu. Pertanyaan untuk setiap kita: apakah kita benar- benar gentar terhadap kekekalan? Sejujurnya, jangan-jangan tidak, karena dunia sudah terlalu mendistraksi, merusak kita.

Sebenarnya, ini kondisi kritis. Jika kita biarkan, maka sebentar lagi kita terbenam dalam gelap gulita, dan memadamkan Roh. Dan jika sampai tingkat itu, kita tidak bisa selamat; tidak layak masuk ke dalam istana Bapa di surga. Kita tidak pernah memikirkan bahwa di balik kematian, ada kekekalan. Tragis, hidup orang yang tidak menghargai kekekalan ini. Ketergangguan perasaan Tuhan diberikan ke hamba-hamba Tuhan yang benar, supaya mereka memiliki sense of crisis terhadap jiwa-jiwa, dan supaya mereka hidup benar; tidak memikirkan uang atau cari kedudukan, tapi punya keseriusan untuk menyelamatkan jiwa. Dan sebelum dia menyelamatkan jiwa, dia harus menyelamatkan dirinya sendiri. Dia harus benar dulu, dia juga harus gentar dulu terhadap kekekalan.

Jadi, sadarlah, selidiki apakah kita benar-benar memiliki kegentaran terhadap kekekalan. Jangan kita anggap remeh. Sebab jika kita tidak sungguh-sungguh mencari wajah Tuhan, tidak mungkin kita menghormati Tuhan. Kalau kita tidak berubah, tinggal tunggu waktu, maka kita akan gemetar di hadapan Tuhan. Kalau kita gentar terhadap kekekalan, maka kita akan berusaha bersahabat dengan Tuhan seakrab-akrabnya, seintim-intimnya. Dan orang yang mau bersahabat dengan Tuhan seakrab-akrabnya, seintim-intimnya pasti akan berusaha hidup kudus, berusaha hidup tidak bercela, berusaha tidak melukai orang, berusaha jujur dalam segala hal.

Jadi kalau Tuhan hari ini datang atau dunia ini kiamat—entah karena perang atau bencana— apakah kita yakin bahwa kita pasti masuk Rumah Bapa? Apakah selama ini kita sudah menghormati Tuhan dengan sepantasnya? Ingat, firman Tuhan mengatakan, “Terkutuklah orang yang tidak mengasihi Tuhan.”

Tuhan Yesus memberkati
Pdt. Dr Erastus Sabdono

ORANG YANG CEROBOH ATAU PALING CEROBOH DAN PALING MEMBAHAYAKAN HIDUPNYA SENDIRI ADALAH ORANG YANG MENGANGGAP REMEH KEKEKALAN.

Card image
Bacaan Alkitab Setahun - 21 Juli 2024
2024-07-21 09:26:18

Yesaya 28-30

Card image
Truth Kids 20 Juli 2024 - MENGASIHI DENGAN KESABARAN
2024-07-20 13:54:08


1 Korintus 16:14
”Lakukanlah segala pekerjaanmu dalam kasih!”

Di suatu sekolah, ada seorang siswa bernama Olive yang selalu membantu teman-temannya yang sedang kesulitan dalam pelajaran. Suatu hari, temannya yang bernama Rani kesulitan memahami pelajaran matematika. Tanpa ragu, Olive dengan sabar menjelaskan satu per satu langkah-langkah yang sulit itu kepada Rani. Olive juga selalu menunjukkan kasih kepada teman-temannya. Ketika ada temannya yang sedang sedih karena diolok oleh teman lain, Olive selalu memberikan dukungan dan menghibur temannya.

Kisah Olive mengajarkan kita tentang pentingnya kesabaran dan kasih. Ketika kita sabar, kita bisa membantu orang lain dengan lebih baik, seperti Olive yang sabar membantu Rani memahami pelajaran. Dan ketika kita mengasihi, kita bisa membuat orang lain merasa lebih baik dan berharga, seperti Olive yang mengasihi temannya yang sedang sedih.

Jadi, Sobat Kids, mari kita belajar dari Olive. Kita harus menunjukkan kesabaran dan kasih dalam setiap tindakan kita agar kita bisa menjadi lebih baik lagi.

Card image
Truth Junior 20 Juli 2024 - KUNCI KESABARAN
2024-07-20 13:52:47


1 Korintus 16:14
”Lakukanlah segala pekerjaanmu dalam kasih!”

Dari ayat yang kita baca hari ini, kita dapat mengetahui bahwa Paulus pernah memerintahkan jemaat di Korintus untuk melakukan pekerjaan atau pelayanan mereka dengan kasih. Kalau Sobat Junior melakukan pelayanan dalam kasih, berarti kalian bisa memberi hasil yang lebih baik dan memuaskan. Coba Sobat Junior evaluasi diri sendiri. Apakah sudah melakukan pelayanan dalam kasih, atau memiliki motivasi yang lain? Atau melakukan pelayanan dengan terpaksa atau bersungut-sungut? Atau karena hanya menunaikan tugas saja tanpa tujuan apa-apa?

Sobat junior perlu tahu, kalau kita melakukan segala hal dengan kasih, baik dalam pelayanan, lingkungan keluarga, sekolah, dan pertemanan, maka kita bisa menjalaninya dengan penuh kesabaran. Walaupun sering mengalami masalah, misalnya bertemu teman-teman yang menjengkelkan, Sobat Junior bisa tetap sabar menjalaninya karena kalian memiliki kasih. Dengan kasih, kalian dapat melewati semuanya. Seperti Yesus yang selalu sabar mengajar murid-murid-Nya, begitu juga Sobat Junior harus sabar yang penuh kasih.

Card image
Truth Youth 20 Juli 2024 (English Version) - GOD'S ANGLE MIRROR
2024-07-20 13:40:39


"Let no corrupting talk come out of your mouths, but only such as is good for building up, as fits the occasion, that it may give grace to those who hear." (Ephesians 4:29)

Do you know, friends, that as Christians, we were never created to focus solely on ourselves? It's true that we can be called the image of God, where our character qualities should mirror God's attributes such as love, justice, and others that are relational. But we are also created to be like God, like a side-view mirror or an angled mirror reflecting God's character to the world and others, such as order, peace, or other positive aspects that are now not just about God and me, but about God, me, and the world.

With this understanding, we can see how important our role is in spreading positive energy and spirit around us. As mirrors of God's character, we have a responsibility to reflect love, peace, and goodness to others. This can start with simple actions like smiling, giving compliments, or even just listening attentively when a friend speaks. By doing so, we not only create a pleasant and inspirational atmosphere but also become channels of blessing to others.

As young people, we also have the power to shape a positive and constructive social environment. Encourage friends to engage in activities that strengthen brotherly bonds and foster cooperation. By supporting and inspiring each other, we can create an environment that encourages positive growth for every individual. Remember, the positive energy we spread today will be a blessing to others and to ourselves in the future.

WHAT TO DO:
1. Reflect God's character to the world and others by showing love, peace, and goodness.
2. Spread positive energy and spirit around by simple actions like smiling, giving compliments, and listening attentively.
3. Shape a positive and constructive social environment by encouraging friends to engage in activities that strengthen brotherhood and cooperation.

BIBLE MARATHON:
- Isaiah 15-19

Card image
Truth Youth 20 Juli 2024 - GOD’S ANGLE MIRROR
2024-07-20 13:38:19


”Janganlah ada perkataan kotor keluar dari mulutmu, tetapi pakailah perkataan yang baik untuk membangun, di mana perlu, supaya mereka yang mendengarnya, beroleh kasih karunia.” (Efesus 4:29)

Tahukah teman-teman, kalau kita sebagai orang Kristen gak pernah sekalipun diciptakan untuk hanya fokus terhadap diri kita sendiri? Memang benar kita bisa disebut sebagai gambar Allah, di mana kualitas karakter kita hendaknya segambar dengan Allah seperti kasih, keadilan, dan sebagainya, yang sifatnya dua arah. Tapi kita juga diciptakan segambar dan serupa dengan Allah, seperti kaca spion atau cermin bersudut yang memantulkan karakter Allah kepada dunia dan orang lain, seperti keteraturan, kedamaian, atau hal-hal positif lainnya yang sifatnya sekarang bukan hanya Allah dan aku, tetapi Allah, aku, dan dunia.

Dengan pemahaman ini, kita bisa melihat betapa pentingnya peran kita dalam menyebarkan energi positif dan semangat di sekitar kita. Sebagai cermin dari karakter Allah, kita memiliki tanggung jawab untuk memantulkan kasih, kedamaian, dan kebaikan kepada orang lain. Hal ini dapat dimulai dengan tindakan sederhana seperti tersenyum, memberikan pujian, atau bahkan sekadar mendengarkan dengan penuh perhatian saat teman berbicara. Dengan begitu, kita tidak hanya menciptakan suasana yang menyenangkan dan inspiratif, tetapi juga menjadikan diri kita sebagai saluran berkat bagi orang lain.

Sebagai anak muda, kita juga memiliki kekuatan untuk membentuk lingkungan sosial yang positif dan membangun. Ajak teman-teman untuk terlibat dalam kegiatan yang memperkuat ikatan persaudaraan dan memupuk semangat kerja sama. Dengan saling mendukung dan menginspirasi, kita bisa menciptakan lingkungan yang memacu pertumbuhan positif bagi setiap individu. Ingatlah, energi positif yang kita sebarkan hari ini akan menjadi berkat bagi orang lain, dan juga untuk diri kita sendiri di masa depan.

WHAT TO DO:
1.Memantulkan karakter Allah kepada dunia dan orang lain dengan memberikan kasih, kedamaian, dan kebaikan.
2.Menyebarkan energi positif dan semangat di sekitar dengan tindakan sederhana seperti tersenyum, memberikan pujian, dan mendengarkan penuh perhatian.
3.Membentuk lingkungan sosial yang positif dan membangun dengan mengajak teman-teman terlibat dalam kegiatan yang memperkuat ikatan persaudaraan dan semangat kerja sama.

BIBLE MARATHON:
▪︎ Yesaya 15-19

Card image
Renungan Pagi - 20 Juli 2024
2024-07-20 13:33:46


Hidup kristen tidak dapat dipisahkan dari sukacita sebab kita telah ditebus dari segala dosa dan segalanya telah diselesaikan oleh Kristus di atas kayu salib, karena itu tidak ada alasan untuk bersungut-sungut, takut, kuatir dan cemas. "Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan; Bersukacitalah!"

Jadi kita harus bersukacita bukan karena tidak ada masalah, tetapi di tengah masalah tetap bersukacita, karena kita tahu lewat masalah itu Tuhan mendewasakan, sehingga menjadi anak-anak Tuhan yang kuat. Kita bersukacita karena dosa sudah diampuni Tuhan, karena janji-janji Tuhan pasti digenapi, harus bersukacita karena Tuhanlah kesukaan dalam hidup kita.
(Filipi 4:4)

Card image
Quote Of The Day - 20 Juli 2024 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2024-07-20 13:24:16


Orang yang lemah lembut adalah orang yang tidak mendendam atau menyimpan kesalahan orang lain.

Card image
Mutiara Suara Kebenaran - 20 Juli 2024 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2024-07-20 13:23:23


Ketika kita mulai mempersoalkan rancangan hidup kita, maka pelayanan kita makin murni.

Card image
CHANGING ONESELF - 20 Juli 2024 (English Version)
2024-07-20 13:07:27


For people who really want to live righteously, live holy, live a life pleasing to God, it is not easy to achieve and live it. So if we are not serious, we will never live in holiness, purity, or pleasing God; will never. The Word of God says that only those who hunger and thirst for righteousness will be satisfied. "Hunger and thirst for righteousness" means great need, because it determines life. We deeply need to live in God's favor. We must consider that nothing is absolute—having worldly goods, positions, ranks, getting married, having children, and so on.

Because there is only one absolute thing, namely how we can become God's creation, become God's children who truly serve Him; serving God's feelings, pleasing God's heart, truly pleasing before God the Father. This "thirst" must be continually ignited, not only when we are praying and saying promises, sweet words before God, but the seconds, minutes, hours, days of our lives continue to be filled with the longing to be able to please God. Let's ignite this, then we can truly become men of God who are in the image and likeness of God, in accordance with God's original design.

Come on, let's add to the number of people who truly please God, and that person: us! We always think that we are the last people awaited to become God's children who truly please Him. Truly pleasing to God. After that we will invite other people—who are the same as fishing for souls, saving souls—so that they too can become children of God who please God. Not just being a church member, or just being a Christian, but actually being a created being who does what God wants as the Creator. This is the work for God.

After we change ourselves and experience change, then we also become instruments in God's hands to change others. This is real service. Not just holding a service, attending church, or preaching. The goal must be clear, namely changing humans. And this is possible only because of the work of the Holy Spirit. Powerful, amazing gifts are not the main thing. Gifts of the Spirit are needed to build the congregation's faith, but we need more 'fruits of the Spirit' and we truly demonstrate them.

So, while we still have a chance, we must strive for this: how to become God's beloved children, pleasing His heart. And we should always view this as an absolute and essential need. Thus, we can understand why God's word teaches us: "Even if my flesh and my heart may fail, but God is the strength of my heart and my portion forever" (Psalm 73:26). We realize how damaged, how out of proportion our condition is. How corrupt we truly are, with all the cunning that is in our hearts, with the bonds of lust that are in our flesh.

Therefore, we continue to seek God's face, pray, humble ourselves so that we do not fall into sin and do not hurt God's heart. But instead, we always please God and find His work that we must complete, find spiritual projects, Kingdom of God projects that we must undertake and complete. And of course those projects boil down to changing people. Not just carrying out church activities or church service activities, but how we can change people.

Let's fight to accelerate our change. We ask for the acceleration of our change and the acceleration of souls being saved, souls being won. This work is great, and it depends on us, how high we want to achieve a life of holiness, purity, and favor before God. It depends on each of us, how wide the scope of our ministry is, and how many souls we can bring into God's presence. It depends on us, how earnestly we want to truly achieve a life that pleases God's heart. If today God still gives us a new day, let's fight with new enthusiasm.

AFTER WE CHANGE OURSELVES AND EXPERIENCE CHANGE, THEN WE ALSO BECOME AN INSTRUMENT IN GOD'S HANDS TO CHANGE OTHERS.

Card image
MENGUBAH DIRI - 20 Juli 2024
2024-07-20 13:21:28


Bagi orang yang sungguh-sungguh mau hidup benar, hidup suci, hidup menyukakan hati Allah adalah tidak mudah untuk mencapai dan menjalaninya. Jadi kalau kita tidak sungguh-sungguh, maka kita tidak akan pernah hidup di dalam kekudusan, kesucian, menyenangkan hati Allah; tidak akan pernah. Firman Tuhan mengatakan bahwa hanya orang yang haus dan lapar akan kebenaran yang dipuaskan. “Haus dan lapar akan kebenaran” artinya sangat membutuhkan, karena hal itu menentukan kehidupan. Sangat membutuhkan hidup dalam perkenanan Tuhan. Kita harus menganggap tidak ada sesuatu yang mutlak, tidak ada sesuatu yang absolut— memiliki barang-barang dunia, jabatan, kedudukan, pangkat, menikah, punya anak, dan lain sebagainya.

Sebab yang mutlak itu hanya satu, yaitu bagaimana kita dapat menjadi ciptaan Allah, menjadi anak-anak Allah yang benar-benar melayani Dia; melayani perasaan Allah, menyenangkan hati Allah, benar-benar berkenan di hadapan Allah Bapa. ‘Kehausan’ itu harus terus kita nyalakan, bukan hanya pada waktu kita sedang berdoa dan mengucapkan janji-janji, ucapan-ucapan manis di hadapan Allah, melainkan detik, menit, jam, hari hidup kita terus dipenuhi dengan kerinduan untuk bisa menyenangkan hati Allah. Mari kita nyalakan itu, maka barulah kita sungguh-sungguh dapat menjadi man of God (manusia Allah) yang berkeadaan segambar dan serupa dengan Allah, sesuai dengan maksud rancangan Allah semula.

Ayo, kita tambahkan jumlah orang yang menyenangkan hati Allah secara benar, dan orang itu: kita! Selalu kita berpikir bahwa kita adalah orang terakhir yang ditunggu menjadi anak- anak Allah yang sungguh-sungguh menyenangkan hati-Nya. Sungguh-sungguh menyenangkan hati Allah. Setelah itu kita akan mengajak orang lain—yang sama dengan menjala jiwa, menyelamatkan jiwa—agar mereka juga bisa menjadi anak-anak Allah yang menyenangkan hati Allah. Bukan hanya menjadi anggota gereja, atau hanya menjadi orang Kristen, melainkan benar-benar menjadi makhluk ciptaan yang melakukan apa yang dikehendaki oleh Allah sebagai Sang Khalik atau Sang Pencipta. Inilah kerja buat Tuhan.

Setelah kita mengubah diri dan mengalami perubahan, maka kita juga menjadi alat di dalam tangan Tuhan untuk mengubah orang lain. Inilah pelayanan yang sesungguhnya. Bukan hanya mengadakan kebaktian, lalu datang ke satu gereja, atau berkhotbah. Harus jelas tujuannya, yaitu mengubah manusia. Dan ini bisa terjadi hanya karena pekerjaan Roh Kudus. Karunia-karunia yang dahsyat, yang menakjubkan, bukan hal utama. Karunia Roh, dibutuhkan bagi membangun iman jemaat, tapi ‘buah roh’ lebih kita butuhkan dan benar-benar kita peragakan.

Maka, selagi masih ada kesempatan kita harus berjuang untuk ini, bagaimana menjadi anak kesukaan Allah, menyenangkan hati-Nya. Dan kita selalu memandang ini sebagai kebutuhan mutlak dan absolut. Jadi kita bisa mengerti, mengapa firman Tuhan mengajarkan kita: “Sekalipun dagingku dan hatiku habis lenyap, gunung batuku dan bagianku tetaplah Allah selama-lamanya” (Mzm. 73:26). Kita menyadari betapa rusaknya, betapa sudah tidak pada proporsinya keadaan diri kita ini. Betapa rusaknya sebenarnya, dengan segala kelicikan yang ada di hati kita, dengan ikatan-ikatan nafsu yang ada dalam daging kita.

Karenanya kita terus mau mencari wajah Tuhan, berdoa, merendahkan diri agar kita tidak jatuh dalam dosa, dan tidak melukai hati Tuhan. Tetapi sebaliknya, kita selalu menyenangkan hati Allah dan menemukan pekerjaan-Nya yang harus kita selesaikan, menemukan proyek-proyek rohani, proyek-proyek Kerajaan Allah yang harus kita tunaikan dan selesaikan. Dan tentu proyek-proyek itu bermuara pada mengubah manusia. Bukan sekadar melakukan kegiatan gereja atau kegiatan pelayanan gereja, melainkan bagaimana kita dapat mengubah manusia.

Mari kita berjuang untuk percepatan perubahan kita. Kita minta percepatan perubahan kita dan percepatan jiwa-jiwa yang diselamatkan, jiwa-jiwa yang dimenangkan. Pekerjaan ini besar, dan ini tergantung kita, mau seberapa tinggi mencapai kehidupan dalam kekudusan, kesucian, dan keberkenanan di hadapan Allah. Tergantung kita masing-masing, seberapa luas jelajah pelayanan kita, dan seberapa banyak jiwa yang dapat kita bawa ke hadirat Allah. Tergantung kita, seberapa kita sungguh-sungguh mau benar-benar mencapai kehidupan yang menyenangkan hati Allah. Kalau hari ini Tuhan masih memberi kita hari yang baru, mari kita berjuang dengan semangat baru.

Tuhan Yesus memberkati
Pdt. Dr. Erastus Sabdono

SETELAH KITA MENGUBAH DIRI DAN MENGALAMI PERUBAHAN, MAKA KITA JUGA MENJADI ALAT DI DALAM TANGAN TUHAN UNTUK MENGUBAH ORANG LAIN.

Card image
Bacaan Alkitab Setahun - 20 Juli 2024
2024-07-20 13:20:21

Hosea 8-14

Card image
Truth Kids 19 Juli 2024 - BOLA YANG HILANG
2024-07-19 13:24:13


2 Tawarikh 20:20b
”Percayalah kepada TUHAN, Allahmu, dan kamu akan tetap teguh! Percayalah kepada nabi-nabi-Nya, dan kamu akan berhasil!”

Di suatu desa, ada seorang anak kecil yang bernama Dani. Dani sangat suka bermain bola di lapangan rumput dekat rumahnya setiap sore. Suatu hari, ketika sedang bermain, bola Dani terbang ke semak-semak yang lebat. Dani mencoba mencari bola tersebut, tetapi tidak berhasil menemukannya. Dia pun pulang dengan sedih. Namun, ibunya mengatakan kepadanya, "Dani, kita perlu bersabar dan percaya bahwa kita akan menemukan bola itu kembali."

Dengan penuh keyakinan, Dani kembali ke lapangan setiap hari untuk mencari bola itu. Meskipun terkadang dia merasa frustasi karena belum juga menemukan bola tersebut, dia tetap bersikap sabar dan terus mencoba. Akhirnya setelah beberapa hari, Dani menemukan bola itu di balik semak-semak. Dia sangat bahagia dan bersyukur karena telah bersabar dan tidak menyerah.

Sobat Kids, cerita Dani mengajarkan kita bahwa kita perlu percaya pada Tuhan dengan penuh keteguhan hati dan bersikap sabar dalam menghadapi masalah atau tantangan. Jangan pernah menyerah, karena Tuhan selalu ada untuk menuntun dan menolong kita melalui setiap kesulitan. Ayo, jadilah seperti Dani, anak yang percaya dan sabar dalam menjalani hidup!

Card image
Truth Junior 19 Juli 2024 - SABAR SEPERTI ABRAHAM
2024-07-19 13:22:21


2 Tawarikh 20:20b
”Percayalah kepada TUHAN, Allahmu, dan kamu akan tetap teguh! Percayalah kepada nabi-nabi-Nya, dan kamu akan berhasil!”

Abraham adalah seorang tokoh dalam Alkitab yang Tuhan janjikan untuk memiliki banyak keturunan seperti bintang di langit. Tetapi, Abraham dan istrinya, Sara, sudah sangat tua dan belum punya anak. Meski begitu, Abraham tetap percaya pada Tuhan dan menunggu dengan sabar.

Setelah bertahun-tahun, ketika Abraham berusia 100 tahun, Tuhan menggenapi janji-Nya. Sara melahirkan seorang anak laki-laki yang mereka beri nama Ishak. Abraham sangat bersukacita karena Tuhan menepati janji-Nya. Tapi tidak lama setelah Ishak lahir, Tuhan meminta agar Ishak dipersembahkan sebagai kurban bakaran, padahal Abraham sudah sangat lama menanti anaknya.

Sobat Junior, bagaimana perasaan Sobat Junior jika berada di posisi Abraham? Bayangkan, sabarnya Abraham menunggu anaknya, Ishak, lahir dan tak lama setelah itu, Abraham tidak ragu untuk mempersembahkan anak satu-satunya itu kepada Tuhan. Abraham percaya bahwa Tuhan tidak akan mengingkari janji-Nya. Sobat Junior juga harus bisa meneladani kesabaran Abraham. Jika Sobat Junior tidak penuh keteguhan hati dan bersikap sabar saat mengingini sesuatu, bisa saja kalian salah mengambil keputusan. Tuhan sudah merancangkan yang terbaik bagi kita. Kalau Sobat Junior sabar menunggu waktu yang tepat dari Tuhan, Tuhan akan berikan kepada kita lebih dari yang kita harapkan.

Card image
Truth Youth 19 Juli 2024 (English Version) - POSITIVE VIBES
2024-07-19 13:20:09


"For the lips of a priest should guard knowledge, and people should seek instruction from his mouth, for he is the messenger of the Lord of hosts." (Malachi 2:7)

Every day we meet many people, from family to friends to colleagues. In every interaction, it's crucial to display positive traits like honesty, responsibility, and compassion. One way to develop positive character is by always striving to be honest. Honesty can be tough at times, especially when we fear the consequences. But by being brave and honest, we can build trust and respect from those around us. Honesty forms the foundation of healthy and harmonious relationships.

In addition to honesty, responsibility is also essential. Responsibility means being reliable and keeping promises. For example, if we promise to help a friend with their tasks, we must ensure to fulfill that promise. Being responsible helps others see us as trustworthy and dependable. This opens up more opportunities for collaboration and building strong, positive relationships with others.

Lastly, compassion for others is equally important. Showing compassion can start with small gestures, like listening to a friend who has problems or helping a neighbor in need. Compassion shows that we care and respect others, ultimately making us feel more connected and valued. By demonstrating these positive traits in our daily lives, we not only build better relationships with others but also develop ourselves into better and wiser individuals.

WHAT TO DO:
1. Strive to always be honest in every interaction with others, even when it's difficult.
2. Maintain a sense of responsibility by always keeping promises and being someone others can rely on.
3. Show compassion for others by taking tangible actions, such as listening to a friend's problems or assisting a neighbor in need.

BIBLE MARATHON:
- Isaiah 12-14

Card image
Truth Youth 19 Juli 2024 - POSITIVE VIBES
2024-07-19 13:17:58


”Sebab bibir seorang imam memelihara pengetahuan dan orang mencari pengajaran dari mulutnya, sebab dialah utusan Tuhan semesta alam.” (Maleakhi 2:7)

Setiap hari kita ketemu banyak orang, dari keluarga, teman, sampai rekan kerja. Dalam setiap interaksi itu, penting banget untuk nunjukkin karakter positif seperti kejujuran, tanggung jawab, dan kepedulian. Salah satu cara untuk mengembangkan karakter positif adalah dengan selalu berusaha jujur. Jujur kadang memang susah, apalagi kalau kita takut sama akibatnya. Tapi dengan berani jujur, kita bisa membangun kepercayaan dan rasa hormat dari orang-orang di sekitar kita. Kejujuran adalah dasar dari hubungan yang sehat dan harmonis.

Selain jujur, tanggung jawab juga penting banget. Tanggung jawab berarti kita bisa diandalkan dan selalu menepati janji. Misalnya, kalau kita janji bantu teman dengan tugasnya, kita harus memastikan untuk memenuhi janji itu. Dengan bertanggung jawab, orang lain akan melihat kita sebagai sosok yang bisa dipercaya dan diandalkan. Ini akan membuka lebih banyak kesempatan untuk kerjasama dan membangun hubungan kuat dan positif dengan orang lain.

Terakhir, kepedulian terhadap sesama juga nggak kalah penting. Menunjukkan kepedulian bisa dimulai dari hal-hal kecil, seperti mendengarkan teman yang lagi punya masalah atau membantu tetangga yang butuh bantuan. Kepedulian menunjukkan kalau kita memperhatikan dan menghargai orang lain, yang pada akhirnya akan membuat kita merasa lebih terhubung dan dihargai. Dengan menunjukkan karakter-karakter positif ini dalam kehidupan sehari-hari, kita nggak cuma membangun hubungan yang lebih baik dengan orang lain, tapi juga mengembangkan diri kita jadi pribadi yang lebih baik dan bijaksana.

WHAT TO DO:
1.Berusaha untuk selalu jujur dalam setiap interaksi dengan orang lain, meskipun terkadang sulit.
2.Memiliki sikap tanggung jawab dengan selalu menepati janji dan menjadi orang yang diandalkan.
3.Menunjukkan kepedulian terhadap sesama dengan melakukan tindakan nyata, seperti mendengarkan masalah teman atau membantu tetangga yang membutuhkan.

BIBLE MARATHON:
▪︎ Yesaya 12-14

Card image
Renungan Pagi - 19 Juli 2024
2024-07-19 13:13:53


Ada sebagian orang Kristen saat ini yang merasa sudah tidak membutuhkan komunitas rohani untuk bertumbuh. Alasannya karena perkembangan fasilitas dan teknologi telah memungkinkannya mengakses dan memperoleh segala materi yang diperlukannya. Ada pula yang enggan berkomunitas karena tidak ingin berkonflik dengan sesamanya. Belajar dari konflik dalam jemaat yang sering terjadi, daripada menghindarinya, kita justru diajak untuk mawas diri.

Keberadaan masing-masing pribadi dalam komunitas rohani seharusnya memberi dampak kepada keseluruhan komunitas. Oleh sebab itu, tanggung jawab setiap anggota komunitas adalah hidup jujur, transparan dan menjalin relasi tanpa intrik untuk kepentingan diri sendiri. Bersama dengan saudara seiman, kita membangun iman dan menghidupi relasi dengan Allah melalui pujian, penyembahan, doa dan belajar Firman Tuhan.

"Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat."

Komunitas rohani yang benar adalah komunitas yang peduli dan melayani, menjangkau orang-orang yang tersesat, ada upaya memperbaiki kesalahan-kesalahan seperti sikap memihak, ketamakan dan iri hati, tempat bagi orang percaya menjalankan praktek hidup mengasihi dan mengampuni. Karena itu marilah kita bertumbuh dalam komunitas rohani yang benar didalam Tuhan.
(Ibrani 10:25)

Card image
Quote Of The Day - 19 Juli 2024 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2024-07-19 13:06:46


Jangan kita dibutakan oleh nilai lebih yang kita miliki, sehingga kita merasa sudah tidak perlu mendandani manusia batiniah kita lagi.

Card image
Mutiara Suara Kebenaran - 19 Juli 2024 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2024-07-19 13:04:24


Perkayalah diri kita dengan perjumpaan dengan Tuhan. Maka, ketika kita berada di ujung maut, kita baru tahu betapa berartinya menjumpai Allah.

Card image
SUSPECTING OURSELVES - 19 Juli 2024 (English Version)
2024-07-19 13:00:51


We must seriously consider this one thing: what does God the Father feel about us? Let us not guess or assume. Let us not be deceived by ourselves, as if we have already pleased God and are acceptable in His sight, when that may not be the case. In the past, we did not care about what God felt about us. We were more concerned with what we felt about this world, its pleasures, and entertainments. We also asked God to grant our requests. At that time, we were not mature; we were still children, we were egocentric, not theocentric.

But now, at the end of times before the world is ended by God, we want to seriously consider God's feelings: what does He feel related to us or about us? Each of us must have experienced being upset, angry with someone, especially those we love, who are in danger or angry because these loved ones act recklessly. So, let us also consider what God feels about us. Is God annoyed by our behavior patterns? Is He angry?

On the other hand, we certainly also experience being pleased by certain people, we make certain people proud. For those who have become parents, they certainly understand how they are made happy by their children and make them proud. Likewise, God towards us. Can we make God proud of us? Can we please His heart, make Him happy, make God smile? We want to seriously consider this matter. And if we seriously consider this matter, surely the Holy Spirit will help us. The Holy Spirit will tidy up our lives.

Our messy lives will be tidied up by the Holy Spirit if we have the intention, passion, determination to become God's favorite children. We really peek, we see, what and how God feels about us. What the psalmist says, “Search me, Lord, whether my way is crooked. Guide me on the right path.” This sentence could mean: "Search me, Father, know me, tell me, do I please You or not? Do I make You proud or not? Help me, Father."

Let's be serious. Even those who are serious may not easily recognize how God feels about us, let alone if we are not serious. We want to earnestly become someone who always pleases God's heart. And that is truly the success of life, more than obtaining higher education, titles, wealth, money, a spouse, descendants, or anything else. It is very precious, noble, and valuable if we are in God's heart because we please Him. We ask God to enlighten our hearts. If there is hidden pride, hatred, resentment, anger towards other people, or if there are efforts within us to damage someone's reputation, we ask for forgiveness, we repent, and we do not do it again.

God will bring us into certain situations that have the potential for us to commit transgressions or do something that is not pleasing to God. In such situations, God tests how serious we are in dealing with Him, respecting Him, honoring Him, or worshiping Him. True worship is our behavior every day, every moment, in all things. Because worship means giving high value. We give high value to God not only with our mouths or words but with our actions, our behavior. And that is what pleases God.

We can say, "Hallelujah, Hallelujah, I worship You, Lord," but if our daily behavior, every moment, does not please God, it is useless. Because what matters is how in all things at all times we do "exactly" as God wills. Thus, we can please Him. Therefore, we must always suspect ourselves, in case there are things we do that do not please God's heart. And if we do, then we increasingly recognize ourselves correctly with the help of the Holy Spirit, and surely the Holy Spirit will guide us, giving us sensitivity to know how God feels about us.

WE MUST ALWAYS SUSPECT OURSELVES, IN CASE THERE ARE THINGS WE DO THAT DO NOT PLEASE GOD'S HEART.

Card image
MENCURIGAI DIRI SENDIRI - 19 Juli 2024
2024-07-19 12:58:31


Kita harus sungguh-sungguh memperkarakan mengenai satu hal ini, yaitu apa yang Allah Bapa rasakan mengenai kita? Jangan kita mengira-ngira, menduga-duga. Jangan kita disesatkan oleh diri kita sendiri, seakan-akan kita sudah menyenangkan hati Allah, sudah berkenan di hadapan-Nya, padahal belum tentu demikian. Dulu kita tidak peduli apa yang Allah rasakan tentang kita. Kita lebih memperkarakan apa yang kita rasakan mengenai dunia ini, kesenangan atau terkait dengan dunia ini dengan segala kesenangan dan hiburannya. Kita juga minta agar Tuhan mengabulkan permintaan kita. Waktu itu kita belum dewasa, kita masih kanak-kanak, kita egosentris tidak teosentris.

Tapi sekarang, di ujung akhir zaman sebelum dunia diakhiri oleh Tuhan, kita mau serius memperhatikan perasaan Tuhan: apa yang Dia rasakan terkait dengan kita atau mengenai kita? Setiap kita pasti pernah mengalami bagaimana punya perasaan kesal, marah terhadap seseorang, terutama orang yang kita kasihi, yang ada dalam bahaya atau gusar karena orang- orang yang kita kasihi ini bertindak, berperilaku semena-mena. Maka, mari kita juga mempertimbangkan, memikirkan apa yang Allah rasakan tentang kita. Kesalkah Allah melihat pola tingkah kita? Marahkah?

Di sisi lain, tentu kita juga mengalami bagaimana kita disenangkan oleh orang-orang tertentu, kita membanggakan orang-orang tertentu. Bagi yang sudah menjadi orang tua, tentu mengerti bagaimana dibahagiakan oleh anak dan dapat membanggakan anak. Demikian pula Allah terhadap kita. Bisakah kita dibanggakan oleh Dia? Bisakah kita menyenangkan hati-Nya, menyukakan hati-nya, membahagiakan hati Allah, membuat senyum Tuhan? Kita mau sungguh-sungguh memperkarakan hal ini. Dan kalau kita sungguh-sungguh memperkarakan hal ini, pasti Roh Kudus menolong kita. Roh Kudus merapikan hidup kita.

Hidup kita yang berantakan akan dirapikan oleh Roh Kudus jika kita memiliki niat, gairah, tekad, untuk menjadi anak-anak kesukaan Allah. Sungguh-sungguh kita mengintip, kita melihat, apa dan bagaimana perasaan Allah terhadap kita. Yang dibahasakan oleh pemazmur, “Selidiki aku Tuhan, apakah jalanku serong. Tuntunlah aku di jalan yang benar.” Kalimat ini bisa berarti: “selidiki aku Bapa, kenali aku, beri tahu aku, apakah aku menyenangkan Engkau atau tidak? Apakah aku membanggakan di mata-Mu atau tidak? Tolonglah aku ya Bapa.”

Mari kita serius. Yang serius saja belum tentu dengan mudah dapat mengenali bagaimana perasaan Allah terhadap kita, apalagi kalau kita tidak serius. Kita mau sungguh-sungguh menjadi seseorang yang selalu menyenangkan hati Tuhan. Dan itu sesungguhnya keberhasilan atau sukses hidup, lebih dari mendapatkan pendidikan tinggi, gelar, harta, uang, jodoh, keturunan, atau apa pun. Adalah hal sangat berharga, mulia, bernilai, kalau kita ada di hati Tuhan, karena kita menyenangkan Dia. Kita minta kepada Tuhan menerangi hati kita. Kalau ada kesombongan-kesombongan terselubung, kebencian-kebencian, dendam, kesal terhadap manusia lain, atau ada upaya dalam diri kita untuk merusak nama baik orang; kita minta ampun, kita bertobat dan kita tidak melakukannya lagi.

Tuhan akan membawa kita pada keadaan-keadaan tertentu yang berpotensi kita melakukan pelanggaran atau melakukan sesuatu yang tidak berkenan di hadapan Tuhan. Di dalam situasi seperti itu Tuhan menguji seberapa kita serius berurusan dengan Allah, menghargai Dia, menghormati Dia atau menyembah Dia. Justru penyembahan yang benar adalah perilaku kita setiap hari, setiap saat, dalam segala hal. Karena menyembah itu artinya memberi nilai tinggi. Kita memberi nilai tinggi Tuhan bukan hanya dengan mulut atau perkataan, melainkan dengan perbuatan, perilaku kita. Dan itu yang mnyenangkan Tuhan.

Kita bisa berkata “Haleluya, Haleluya, aku menyembah-Mu Tuhan,” tetapi kalau perilaku kita setiap hari, setiap saat, tidak menyukakan hati Tuhan, percuma. Sebab yang penting adalah bagaimana dalam segala perkara setiap waktu yang kita lakukan ‘tepat’ seperti yang Allah kehendaki. Dengan demikian kita bisa menyenangkan Dia. Maka kita harus selalu mencurigai diri kita sendiri, kalau-kalau ada hal-hal yang kita lakukan yang tidak menyenangkan hati Tuhan. Dan jika kita melakukannya, maka kita makin mengenali diri kita dengan benar oleh pertolongan Roh Kudus, dan pasti Roh Kudus menuntun kita, memberi kita kepekaan untuk mengetahui bagaimana perasaan Allah terhadap kita.

Tuhan Yesus memberkati
Pdt. Dr. Erastus Sabdono

KITA HARUS SELALU MENCURIGAI DIRI KITA SENDIRI, KALAU-KALAU ADA HAL-HAL YANG KITA LAKUKAN YANG TIDAK MENYENANGKAN HATI TUHAN.

Card image
Bacaan Alkitab Setahun - 19 Juli 2024
2024-07-19 12:32:33

Hosea 1-7

Card image
Truth Kids 18 Juli 2024 -PESAWAT KERTAS TUHAN
2024-07-18 14:33:55


Kolose 4:5
”Hiduplah dengan penuh hikmat terhadap orang-orang luar, pergunakanlah waktu yang ada.”

Hari itu, Ali dan Budi berencana untuk membuat pesawat kertas yang besar di taman. Mereka sudah siap membentangkan kertas warna-warni yang sudah disiapkan. Namun, tiba-tiba hujan deras turun dan membuat kertas basah. Ali dan Budi tidak putus asa meskipun rencana mereka terganggu. Mereka mencoba menyusun kertas yang basah dengan sabar meskipun agak sulit.

Ali berkata, "Kita harus sabar, Budi. Mungkin ini adalah ujian kesabaran kita." Mereka pun berdua bekerja sama membersihkan kertas dan mencoba lagi. Akhirnya, pesawat kertas mereka jadi juga, meskipun tidak sebesar yang mereka rencanakan.

Sobat Kids, kesabaran Ali dan Budi dalam membuat pesawat kertas menunjukkan kebijaksanaan mereka. Mereka tidak marah atau putus asa ketika rencana mereka berubah. Mereka tetap tenang dan mencari solusi. Sama seperti kita dalam melayani Tuhan, terkadang rencana kita tidak sesuai dengan rencana-Nya. Tapi jika kita sabar dan percaya, kita akan menemukan jalan keluar, seperti Ali dan Budi. Jadi, jangan pernah kehilangan kesabaran dalam melayani Tuhan, ya, Sobat Kids!

Card image
Truth Junior 18 Juli 2024 - KORUPSI WAKTU
2024-07-18 14:32:31


Kolose 4:5
”Hiduplah dengan penuh hikmat terhadap orang-orang luar, pergunakanlah waktu yang ada.”

Kemarin kita sudah belajar tentang koruptor. Sebenarnya korupsi itu tidak hanya dalam hal uang, Sobat Junior. Orang juga dapat melakukan korupsi waktu. Contohnya adalah menggunakan waktu belajar di sekolah untuk bermain atau asyik sendiri. Misalkan saat waktu pelajaran matematika di kelas, guru sedang menjelaskan rumus dan contoh menyelesaikan sebuah soal. Bukannya menyimak penjelasan guru, Anto malah asyik menggambar anime. Anto memang jago menggambar, dia hobi sekali menggambar. Namun, ia menggunakan waktu pelajaran matematika untuk menggambar. Kasus ini juga dapat dianggap sebagai korupsi waktu, Sobat Junior. Seharusnya Anto tidak menggambar saat pelajaran matematika. Ia bisa menggambar saat istirahat.

Bukan menggambarnya yang salah, melainkan menggunakan waktu pelajaran lain untuk kepentingan diri sendiri, itu yang salah. Sobat Junior, kalian harus memaksimalkan potensi yang kalian miliki sebanyak-banyaknya, tetapi kalian harus memperhatikan waktunya. Kita harus hidup dengan penuh hikmat. Berdoalah agar kalian dapat membagi waktu dengan baik, termasuk waktu untuk beristirahat. Jangan sampai kita salah dalam membagi waktu. Semua orang memiliki 24 jam sehari untuk melakukan aktivitasnya. Sabarlah untuk melakukan hobi kita. Selesaikan tugas kita terlebih dahulu, baru kita gunakan waktu yang tersisa untuk melakukan hobi kita.

Card image
Truth Youth 18 Juli 2024 (English Version) -
2024-07-18 13:15:00


"Consecrate yourselves and be holy, because I am the LORD your God." (Leviticus 20:7)

Friends, have you heard of the game Tamaire? Tamaire is a traditional Japanese game where two teams compete, and participants try to throw small balls into a high basket. This game requires teamwork, concentration, and team support to achieve the goal. Each team member supports one another and strives their best to score as many balls into the basket as possible to win. In the context of living a holy life, we can see our supportive family as the team helping us to throw "balls," which represent goodness and positive things, into the "basket" of our Christian life.

A supportive family can help us manage and reduce the impact of negative influences from the outside world, which we can liken to the opposing team in the game. Similar to Tamaire, where each team member plays a crucial role in achieving the goal, each family member also plays an important role in helping us live a holy life. They provide encouragement, guidance, and support needed to remain faithful to the values and principles taught by God. Family support can come in various forms, such as parents setting a good example, siblings who are always ready to listen and give advice, or a loving and understanding home environment.

All of this provides a strong foundation for us to face pressures and negative influences from the outside. When we know that we have a supportive family, we feel stronger and more confident to resist temptations and invitations that are contrary to God's will. God calls us to live holy lives because He Himself is holy. Certainly, supportive families help us respond to this call. They provide a safe place for us to learn, grow, and live faithfully for the Lord. Therefore, it's important to maintain strong and harmonious relationships with our families.

WHAT TO DO:
1. Maintain good relationships with family members.
2. Live a holy life.

BIBLE MARATHON:
▪ Isaiah 9-11

Card image
Truth Youth 18 Juli 2024 - TAMAIRE
2024-07-18 13:11:23


”Jagalah diri kalian tetap suci, sebab Akulah TUHAN, Allahmu.” (Imamat 20:7)

Teman-teman, tahukah kalian permainan Tamaire? Tamaire adalah permainan tradisional Jepang di mana ada dua tim yang berkompetisi, dan pesertanya berusaha memasukkan bola-bola kecil ke dalam keranjang yang tinggi. Permainan ini memerlukan kerjasama, konsentrasi, dan dukungan tim untuk mencapai tujuan. Setiap anggota tim saling mendukung dan berusaha sebaik mungkin untuk memasukkan sebanyak-banyaknya bola ke dalam keranjang untuk mencapai kemenangan. Dalam konteks hidup kudus, kita bisa melihat dukungan keluarga sebagai tim yang membantu kita memasukkan “bola-bola,” yang merupakan kebaikan-kebaikan dan hal-hal positif ke dalam “keranjang” kehidupan kekristenan kita.

Keluarga yang mendukung dapat membantu kita mengelola dan mengurangi dampak pengaruh negatif dari lingkungan luar, yang bisa kita ilustrasikan sebagai tim lawan. Seperti dalam permainan Tamaire di mana setiap anggota tim berperan penting dalam mencapai tujuan, setiap anggota keluarga juga memiliki peran penting dalam membantu kita menjalani hidup kudus. Mereka memberikan dorongan, bimbingan, dan dukungan yang kita butuhkan untuk tetap setia pada nilai-nilai dan prinsip-prinsip yang diajarkan oleh Tuhan. Dukungan keluarga bisa berupa berbagai hal, misalnya orang tua yang memberikan teladan hidup yang baik, saudara yang selalu siap mendengarkan dan memberi nasihat, atau lingkungan rumah yang penuh kasih dan pengertian.

Semua ini memberikan fondasi yang kuat bagi kita untuk menghadapi tekanan dan pengaruh negatif dari luar. Ketika kita tahu bahwa ada keluarga yang selalu mendukung kita, kita akan merasa lebih kuat dan percaya diri untuk menolak godaan dan ajakan yang tidak sesuai dengan kehendak Tuhan. Tuhan memanggil kita untuk hidup kudus karena Dia sendiri adalah kudus. Tentu keluarga yang mendukung, membantu kita menjawab panggilan ini. Mereka memberikan tempat yang aman untuk kita belajar, bertumbuh, dan menjalani hidup yang setia kepada Tuhan. Maka dari itu, hendaknya kita menjaga relasi dengan keluarga agar tetap erat dan harmonis.

WHAT TO DO:
1.Menjaga relasi baik dengan keluarga.
2.Menjaga hidup kudus

BIBLE MARATHON:
▪︎ Yesaya 9-11

Card image
Renungan Pagi - 18 Juli 2024
2024-07-18 13:00:27


Ada hal yang menarik dari contoh para murid Tuhan yang diutus untuk memberitakan Injil Kerajaan Allah agar banyak orang bertobat, yaitu mereka diajar untuk tidak mengandalkan kekayaan dan harta dunia. Mereka tidak membawa perhiasan apa pun, tidak membawa bekal dalam perjalanan, tidak membawa baju rangkap, serta tidak membawa kasut dan tongkat, mereka hanya berbekal karunia kuasa dari Allah.

Hal yang sama juga berlaku bagi para pengikut Kristus masa kini untuk mempraktekkan hidup sederhana, hidup apa adanya, jangan mengandalkan harta kekayaan dunia, juga tidak mengandalkan kekuatan sendiri tetapi hanya mengandalkan kekuatan kuasa dari Allah. "Janganlah kamu membawa emas atau perak atau tembaga dalam ikat pinggangmu, janganlah kamu membawa bekal dalam perjalanan, janganlah kamu membawa baju dua helai, kasut atau tongkat, sebab seorang pekerja patut mendapat upahnya."

Demikianlah gereja diingatkan agar tidak memegahkan diri, juga tidak boleh melupakan tugasnya untuk menyebarkan berita tentang Kerajaan Allah dengan mengandalkan penyertaan Tuhan dan karunia kuasa Allah. Sehingga dapat menyelamatkan mereka yang terhilang, percayalah kita akan selalu disertai Allah dengan kuasa-Nya yang luar biasa dan pemeliharaan-Nya sempurna. Mari memohon agar Allah memampukan kita mewartakan Kerajaan-Nya di mana pun berada.
(Matius 10:9-10)

Card image
Quote Of The Day - 18 Juli 2024 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2024-07-18 12:58:49


Dengan kita melepaskan pengampunan, melepaskan dendam, kesembuhan jiwa kita akan berlangsung.

Card image
Mutiara Suara Kebenaran - 18 Juli 2024 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2024-07-18 12:57:56


Seseorang boleh kaya dengan pengetahuan, keahlian, uang, kedudukan, atau gelar, tapi kalau ia tidak kaya dalam perjumpaan dengan Tuhan, ia lebih miskin dari orang miskin.

Card image
PERVERSION OF THOUGHT - 18 Juli 2024 (English Version)
2024-07-18 07:09:57


Our world is truly becoming more corrupt and wicked, as stated in the Book of Daniel, where the evil of humanity will become increasingly evident. The wicked continue to act wickedly. Even among the chosen people, their lives are far from the standard God desires. The standard that God desires is the life of Jesus Himself. Anything less than that is not true Christianity. That is why we bear the title or status of being Christians. Therefore, it is crucial to understand the concept of monotheism, which brings us to the realization that we can all achieve perfection like the Father, to be like Jesus.

Jesus is the Firstborn, who took on the life of the Son of God, or the first to be called the "Man of God", which no one has ever achieved. Jesus was able to act always according to God's thoughts and feelings, according to God's will. And this is the human model that should be awakened in individual lives according to God's original design, creating humans in the image and likeness of Him. But unfortunately, many people do not understand and fail to understand this, thinking that the standard of living as God desires is a standard that cannot be achieved, impossible to achieve. Even though that's not how it should be.

Because people view the life of Jesus as impossible to attain, they lack the proper enthusiasm and effort to achieve the life that God desires. Jesus' life was an extraordinary life, but it also cannot be understood by ordinary people or people who live normally. Even in ancient times, Jesus' life was rejected by His environment and the lives of Jesus' disciples were also rejected by their environment. Just as Jesus was considered insane, Paul was also considered insane. If today we truly strive to be like Jesus, it is not impossible that we too would be considered insane. But when people think we are insane, that is when we are normal in the eyes of God, if our lives truly align with God's will.

Let's, in the remaining years of our lives, strive earnestly to achieve true, normal Christianity in God's eyes. The more we embody true Christianity, the more we will be seen as having schizophrenia (a severe mental disorder that typically affects a person's behavior, emotions, and communication with others or social interactions). In the field of psychology, individuals with schizophrenia are viewed as having hallucinations, delusions, or disorganized thinking, which certainly affects their behavior and leads to changes in behavior. A person's repentance will lead them to have a perversion of thought.

In Christianity, the word for repentance is most commonly "metanoia," which means a change in thought patterns. Repentance in other religions—such as in Judaism—uses the Hebrew word "Shub," which means turning away from not following the Torah to following the Torah, from not being devoted to Elohim Yahweh to being devoted to Elohim Yahweh. This is religious repentance, Jewish repentance, as we can read in the Old Testament. The city of Nineveh repented in one day, and it was done. But in Christianity, this change of mind does not happen at one specific moment, it is not marked by a single point, but rather linear like a long line (Romans 12:2 Do not conform to the pattern of this world, but be transformed by the renewing of your mind. Then you will be able to test and approve what God’s will is—his good, pleasing and perfect will).

Listening to the Word every day makes someone to experience repentances, changes of mind. It is said that man does not live by bread alone, but by every rhema, the word that comes from the mouth of God that gives life. From this metanoia comes paranoia, paranoid, perversion of the mind; like a person with schizophrenia, a severe mental disorder that can affect behavior. Therefore, it is no wonder that if we seek God earnestly, putting God's Kingdom first, we are seen by those who love the world as having schizophrenia. They cannot understand why we are like this. Because repentance after repentance will certainly affect our behavior. And our behavioral changes must become increasingly contrasting day by day. It can no longer be united, because the more they are contradictory, the more they collide with the way of thinking of the world's children.

Our behavior is noble, and the world cannot understand it. Where once we were quick to explode in anger, now we are calm, able to control and master ourselves. Because indeed, if we adopt the thoughts and feelings of Christ, we can discern when to be angry and when not to be. If we do get angry, it should be a holy, constructive anger that builds up. It's not that we can't get angry; we must be able to get angry, but our anger must be in accordance with God's will. This is what is called precise, accurate action. If we should be angry but we are not, that is wrong. If we do get angry, how we express our anger is the first issue. The second is, what is the temperature degree of our anger? So, if our behavior is still the same as the world's, then something is not right .

LISTENING TO THE WORD EVERY DAY MAKES SOMEONE TO EXPERIENCE REPENTANCES, CHANGES OF MIND.

Card image
PENYIMPANGAN PIKIRAN - 18 Juli 2024
2024-07-18 07:07:41


Dunia kita ini benar-benar semakin rusak dan semakin jahat, seperti yang dikatakan dalam Kitab Daniel bahwa kejahatan manusia akan makin nyata. Orang fasik berlaku fasik. Juga di dalam kehidupan umat pilihan, sebenarnya jauh sekali dari standar yang Allah kehendaki. Standar yang Allah kehendaki adalah kehidupan Yesus sendiri. Kurang dari itu, maka bukanlah Kristen yang benar. Itulah sebabnya kita menyandang julukan atau status Kristen. Karenanya, penting sekali memahami pengertian ajaran monoteisme yang membawa kita kepada kesadaran bahwa kita semua bisa mencapai sempurna seperti Bapa, serupa dengan Yesus.

Yesus adalah Yang Sulung, yang mengenakan kehidupan Anak Allah, atau yang pertama yang disebut "Man of God" (Manusia Allah), yang belum pernah diraih oleh siapa pun. Yesus mampu bertindak selalu sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah, sesuai dengan kehendak Allah. Dan inilah model manusia yang mestinya terbangun dalam hidup individu sesuai rancangan Allah semula, menciptakan manusia yang segambar dan serupa dengan Dia. Namun sayang sekali, banyak orang yang tidak mengerti dan gagal memahami hal itu, menganggap bahwa kehidupan standar seperti yang Allah kehendaki adalah standar yang tidak bisa dicapai, mustahil dikenakan. Padahal tidak demikian seharusnya.

Karena orang memandang bahwa kehidupan seperti Yesus mustahil dicapai, maka orang tidak memiliki gairah dan usaha yang sepatutnya untuk mencapai kehidupan seperti yang Allah kehendaki. Kehidupan Yesus adalah kehidupan yang luar biasa, tapi juga tidak bisa dimengerti orang umum atau orang yang hidup wajar. Zaman dulu saja kehidupan Yesus ditolak oleh lingkungan-Nya dan kehidupan murid-murid Yesus juga tertolak oleh lingkungannya. Seperti Yesus dianggap gila, Paulus pun juga dianggap gila. Jika kehidupan kita hari ini benar-benar mau serupa dengan Yesus, bukan tidak mungkin kita juga dianggap tidak waras. Tetapi ketika orang menganggap kita tidak waras, di situlah kita wajar di hadapan Allah, jika kehidupan kita benar-benar seturut dengan kehendak Allah.

Ayo, di sisa umur hidup ini, kita berjuang sungguh-sungguh untuk mencapai kehidupan kekristenan yang benar, yang normal, yang wajar di mata Allah. Semakin kita mengenakan kehidupan kekristenan yang benar, kita akan dipandang seperti orang sakit skizofrenia (gangguan mental berat yang biasanya memengaruhi tingkah laku dan emosi seseorang, dan komunikasi dengan orang lain atau dalam interaksi sosial). Dalam dunia psikologi, penderita skizofrenia ini dipandang memiliki halusinasi, delusi, atau kekacauan berpikir, dan tentu ini akan memengaruhi perilakunya; terjadi perubahan perilaku. Pertobatan seseorang akan menjadikan ia memiliki penyimpangan berpikir.

Dalam kekristenan, kata bertobat menggunakan kata yang paling sering "metanoia," yaitu perubahan pola berpikir. Kalau pertobatan dalam agama-agama pada umumnya—juga dalam agama Yahudi—dalam bahasa Ibraninya menggunakan kata "Syub" atau berbalik dari tidak melakukan hukum Taurat lalu melakukan hukum Taurat, dari tidak berdevosi, tidak berbakti kepada Elohim Yahweh, kembali berbakti kepada Elohim Yahweh. Ini pertobatan agamani, pertobatan agama Yahudi. Seperti yang dapat kita baca dalam Perjanjian Lama. Kota Niniwe bertobat dalam satu hari bertobat, selesai. Tetapi dalam kekristenan, perubahan pikiran ini bukan terjadi dalam satu ketika saja, tidak ditandai dengan satu titik, melainkan linear seperti garis panjang (Rm 12:2).

Mendengarkan firman setiap hari membuat seseorang mengalami pertobatan-pertobatan, perubahan pikiran. Maka dikatakan bahwa manusia hidup bukan hanya dari roti, melainkan dari setiap rhema, firman yang keluar dari mulut Allah yang menghidupkan. Dari metanoia ini, jadi paranoia, paranoid, penyimpangan pikiran; seperti orang terkena skizofrenia, gangguan mental berat yang dapat memengaruhi perilaku. Maka tidak heran kalau kita mencari Tuhan dengan sungguh-sungguh, mendahulukan Kerajaan Allah, kita dipandang oleh manusia yang mencintai dunia, sebagai pengidap skizofrenia. Mereka tidak bisa mengerti mengapa kita begitu. Sebab pertobatan demi pertobatan pasti mempengaruhi tingkah laku kita. Dan perubahan tingkah laku kita semakin hari harus semakin kontras. Tidak bisa dipersekutukan lagi, sebab makin bertentangan, makin bertabrakan dengan cara berpikir anak-anak dunia.

Tingkah laku kita adalah tingkah laku yang agung, dan dunia tidak bisa mengerti. Yang tadinya gampang meledak, marah, sekarang teduh, bisa mengendalikan dan menguasai diri. Karena memang kalau kita mengenakan pikiran perasaan Kristus, kita bisa menempatkan kapan marah, kapan tidak. Kalau marah pun, marah yang kudus, marah yang konstruktif, yang membangun. Bukan tidak bisa marah, harus bisa marah, tetapi marahnya harus sesuai dengan kehendak Allah. Inilah yang dikatakan sebagai tindakan yang presisi, yang tepat. Kalau kita seharusnya marah, tapi kita tidak marah, itu malah salah. Kalau kita marah, bagaimana kita mengekspresikan marah kita, itu yang pertama. Yang kedua, seberapa temperatur derajat marah kita? Jadi, kalau tingkah laku kita masih sama dengan dunia, berarti ada yang belum beres.

Tuhan Yesus memberkati
Pdt. Dr. Erastus Sabdono

MENDENGARKAN FIRMAN SETIAP HARI MEMBUAT SESEORANG MENGALAMI PERTOBATAN-PERTOBATAN, PERUBAHAN PIKIRAN.

Card image
Bacaan Alkitab Setahun - 18 Juli 2024
2024-07-18 07:03:39

2 Raja-raja 18
2 Tawarikh 29-31
Mazmur 48

Card image
Truth Kids 17 Juli 2024 - KESABARAN AYAM BETINA
2024-07-17 17:20:11


Amsal 28:20
”Orang yang dapat dipercaya mendapat banyak berkat, tetapi orang yang ingin cepat menjadi kaya, tidak akan luput dari hukuman.”

Sobat Kids, bayangkan kalian sedang menunggu giliran untuk naik ayunan di taman bermain. Kalian sudah sangat ingin sekali menaiki ayunan tinggi, tetapi tiba-tiba hujan turun dengan derasnya. Awalnya mungkin kalian merasa kecewa karena rencana bermain terpaksa batal. Namun, bagaimana jika kita lihat dari sisi lain? Kita bisa belajar dari kesetiaan dan kesabaran ayam betina yang sedang mengerami telurnya.

Ayam betina tidak pernah meninggalkan telurnya meski cuaca buruk atau panas terik. Mereka tetap setia dan sabar menunggu hingga telur-telur itu menetas menjadi anak ayam yang lucu.

Ketika kita setia dan sabar menunggu, seperti ayam betina, kita akan merasakan kebahagiaan. Meskipun hujan menghalangi rencana kita bermain di taman, tapi kita masih bisa berbahagia dengan bermain di rumah bersama keluarga atau melakukan aktivitas lain yang menyenangkan.

Jadi, Sobat Kids, mari kita belajar dari kesetiaan dan kesabaran ayam betina. Saat kita bersabar dan setia, kebahagiaan akan datang bagi kita meski rencana awal terganggu. Selalu ada kebahagiaan di setiap kesetiaan dan kesabaran kita!

Card image
Truth Junior 17 Juli 2024 - KORUPTOR
2024-07-17 15:10:02


Amsal 28:20
”Orang yang dapat dipercaya mendapat banyak berkat, tetapi orang yang ingin cepat menjadi kaya, tidak akan luput dari hukuman.”

Apakah Sobat Junior pernah mendengar istilah koruptor? Koruptor adalah orang yang melakukan tindakan korupsi. Korupsi merupakan tindakan penyalahgunaan uang negara atau sebuah perusahaan untuk keuntungan pribadi atau orang lain. Tentu saja korupsi merupakan sebuah kesalahan. Namun sayangnya, tidak sedikit orang yang melakukan tindakan korupsi. Jika kasus korupsinya sudah terbukti bersalah, maka koruptor yang melakukannya akan mendapat hukuman.

Mengapa, ya, orang bisa menjadi koruptor? Salah satu alasannya adalah ingin cepat menjadi kaya. Tidak salah untuk ingin menjadi kaya, Sobat Junior, sehingga kita bisa membantu pekerjaan Tuhan yang membutuhkan banyak dana. Namun, cinta terhadap uanglah yang membuat manusia terjerumus dalam dosa. Mereka tidak sabar dalam proses kehidupan ini. Mereka ingin cepat kaya dan memakai segala kesempatan yang ada untuk memperkaya diri sendiri.

Walaupun kalian masih kecil, Sobat Junior, kalian perlu menanamkan dalam diri kalian untuk menjadi orang yang dapat dipercaya. Orang yang jujur bukan hanya dalam hal penggunaan uang, melainkan dalam segala hal. Kita mau belajar setia dalam hal-hal kecil. Hal ini membutuhkan kesabaran. Namun, kalau kalian sabar, setia, dan dapat dipercaya, maka kalian sendiri yang akan merasakan kebahagiaan dari Tuhan.

Card image
Truth Youth 17 Juli 2024 (English Version) - CHLORINE
2024-07-17 15:08:03


"For it is written: 'Be holy, because I am holy.'" (1 Peter 1:16)

Have you ever wondered why swimming pools remain clean and clear despite many people swimming in them? It's because of chlorine, which kills germs and bacteria. Without chlorine, the pool water would quickly become cloudy and unhealthy. Similarly, living a holy life is like chlorine that keeps the pool of our lives spiritually clean. We must strive to remain pure spiritually by living according to God's principles, which helps us avoid sin and negative influences. However, living a holy life isn't always easy, especially when pressured by friends to engage in negative behaviors or compromise our values. This is where it's crucial to stand firm on our principles. Understanding and believing in the reasons behind our values makes us more resolute in rejecting what is contrary to them.

Sometimes, saying 'no' can be very difficult, especially if we fear losing friends or being seen as strange. Yet, saying 'no' to things that contradict our values is a testament to courage and integrity. Therefore, it's beneficial to seek friends who support and understand our values. Good friends will respect our principles and help us stay steadfast. Additionally, praying and seeking guidance from God or spiritually mature individuals can provide the guidance and support we need. Regular self-reflection is also important to ensure our actions and decisions align with the values of God's word.

However, there's another option that, although more challenging, is still worth trying. We've learned that chlorine is used to clean water from germs and bacteria. Similarly, we can emulate chlorine's behavior in our struggle to deal with friends who influence us negatively. By being present among friends who engage in negative behaviors, we "purify" them by setting a positive example and boldly pointing out when they are wrong. No matter how bad their behavior, they too are souls worth risking to save, just as our Heavenly Father strives to save sinful humanity.

WHAT TO DO:
1. Maintain integrity by courageously saying "no" to invitations to engage in negative behaviors.
2. Always seek God's guidance through prayer.
3. Be an example to our friends and courageously correct them.

BIBLE MARATHON:
▪ Isaiah 4-8

Card image
Truth Youth 17 Juli 2024 - CHLORINE
2024-07-17 07:22:35


”Sebab ada tertulis: Kuduslah kamu, sebab Aku kudus.” (1 Petrus 1:16)

Teman-teman pasti pernah berenang di kolam renang, kan? Pernahkah teman-teman penasaran, kenapa air kolam renang bisa tetap bersih jernih walaupun banyak orang berenang di dalamnya? Air kolam bisa tetap bersih dan aman digunakan karena ada chlorine yang membunuh kuman dan bakteri. Tanpa chlorine, air kolam akan cepat keruh dan tidak sehat. Nah, hidup kudus itu seperti chlorine yang menjaga air kolam tetap bersih. Kita harus menjaga agar kita tetap murni secara rohani. Hidup sesuai prinsip Tuhan membuat kita terhindar dari dosa dan pengaruh negatif. Namun, hidup kudus tidak selalu mudah, terutama jika ada tekanan dari teman-teman yang mengajak berbuat negatif atau melanggar nilai-nilai kita. Di sini pentingnya kita tetap teguh pada prinsip kita. Mengerti dan yakin dengan alasan di balik nilai-nilai, membuat kita lebih tegas menolak hal-hal yang tidak sesuai.

Kadang, mengatakan ‘tidak’ itu sangat sulit, terutama jika kita takut kehilangan teman atau dianggap aneh. Namun, mengatakan ‘tidak’ pada hal-hal yang bertentangan dengan nilai-nilai kita adalah bukti keberanian dan integritas. Maka itu, ada baiknya kita mencari teman-teman yang mendukung dan memahami nilai-nilai kita. Teman yang baik akan menghargai prinsip kita dan membantu kita tetap teguh. Selain itu, berdoa dan mencari bimbingan dari Tuhan atau orang yang lebih dewasa dalam rohani kekristenan bisa memberikan kita panduan dan dukungan yang kita butuhkan. Refleksi diri secara rutin juga penting untuk memastikan tindakan dan keputusan kita tetap sesuai dengan nilai-nilai firman Tuhan.

Tapi teman-teman ada pilihan lain yang walaupun lebih rumit, tetap layak kita coba. Tadi kita sudah tahu bahwa chlorine biasa dipakai untuk membersihkan air dari kuman dan bakteri. Jika begitu, kita juga bisa meniru perilaku chlorine dalam pergumulan kita dalam mengatasi teman-teman yang ingin memengaruhi kita dengan perilaku negatif. Dengan kehadiran kita di tengah-tengah teman kita yang berperilaku buruk, kita “memurnikan” mereka dengan memberikan contoh hidup atau teladan, dan memberitahukan dengan berani jika apa yang mereka lakukan salah. Karena seburuk apa pun perilaku teman-teman kita, mereka juga adalah jiwa-jiwa yang pantas dipertaruhkan untuk diselamatkan. Sama seperti bagaimana Bapa di surga berusaha menyelamatkan manusia yang berdosa.

WHAT TO DO:
1.Menjaga integritas dengan berani mengatakan “tidak” pada ajakan teman yang buruk
2.Selalu mencari bimbingan Tuhan dengan berdoa
3.Menjadi teladan bagi teman-teman kita, dan berani menegur

BIBLE MARATHON:
▪︎ Yesaya 4-8

Card image
Renungan Pagi - 17 Juli 2024
2024-07-17 05:54:06


Ada sebuah ungkapan iman yang indah; "Tuhan tidak menjamin bahwa kapal layar kehidupan akan berlayar lancar tanpa gelombang dan badai, tetapi DIA menjamin bahwa kita akan sampai di pelabuhan dengan selamat". Dan Tuhan Yesus pun telah mengatakan, bahwa kita ditempatkan seperti domba ditengah serigala. Yang diperlukan adalah menjadi cerdik tetapi tetap tulus. "Lihat, Aku mengutus kamu seperti domba ke tengah-tengah serigala, sebab itu hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati."

Jadi dalam hal menghidupi panggilan pelayanan sebagai orang percaya, mari sadari konsekuensi yang akan kita hadapi dalam pelayanan. Akan ada banyak ancaman, tantangan dan ujian yang harus dilewati. Oleh sebab itu, kita diminta konsisten dan teguh melayani Tuhan dan pekerjaan-Nya dengan keyakinan iman bahwa dalam semuanya itu Tuhan menyertai dan menolong kita.
(Matius 10:16)

Card image
Quote Of The Day - 17 Juli 2024 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2024-07-17 05:45:10


Ketika kita mengalami perlakuan yang tidak adil, pada waktu itulah kita menemukan kesempatan untuk bersaksi memancarkan kasih Kristus.

Card image
Mutiara Suara Kebenaran - 17 Juli 2024 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2024-07-17 05:40:08


Orang yang tidak menghargai kekekalan, orang yang menganggap remeh kekekalan tidak mungkin menghormati Tuhan.

Card image
FORMATION OF MORALITY - 17 Juli 2024
2024-07-17 05:37:52


Our daily lives become the medium through which God processes us to become human beings according to His will. As servants of God, our success is when we can transform the congregation from being corrupted humans to being repaired humans. So it is not about whether they donate or not. We do not even ask whether they are registered members or not. Because what is important is that they become human beings who are born again, so that their names are written in the Lamb's Book of Life.

The Word of God says, "Through these he has given us his very great and precious promises, so that through them you may participate in the divine nature." So, when talking about the divine nature, it should not be mystical. This is not intended or associated with the supernatural nature of God. We will not touch on that, because it is the Father’s part. But when talking about nature, it refers to God's morality that we can embody. So, if we have a divine nature, it does not mean we possess supernatural elements related to mystical things or powers beyond human capabilities, but it is related to God's morality. And morality can be formed through the journey of life; it is not given mystically but through a process. That is truly remarkable.

We are crushed, we do not retaliate. Our 'animalistic' nature that wants to claw no longer exists. That means the divine nature is growing. So those who become members of the Kingdom of God's family are those who have a divine nature. So, this is not a matter of luck or speculation, but something certain. Many people in the busyness of their lives forget that one day they will close their eyes. And God demands a price that must be paid. What is it? Becoming human. We were made to be human so that we become human. Our bodies are human, but what about the inner part? Supposedly, our outer body is human, and inside, the character of God, the divine nature.

Ironically, very few people take this matter seriously. Even those who diligently attend church, are activists, or even pastors may not necessarily take proper care of their spiritual lives. The focus is often on academic achievements: becoming a graduate, then a master’s degree holder, then a doctorate, and eventually a leader. Imagine if an educated human being, an academic human being with a central position, who is good, who can control other people, but is not yet a man of God, does not have a divine nature. How ironic!

God will distinguish between the wheat and the weeds; sheep and goats. Those who are pleasing to God will be with God, while those who are not pleasing to God will be cast away. We must not take this lightly. Imagine our last days; if we close our eyes and it turns out that we have not paid the price of life for becoming true humans, how much we want to go back to living and fighting. But time no longer exists. Like the five foolish virgins who missed the opportunity to join the wedding banquet. Do not be arrogant! Do not be preoccupied only with making a living. Earning a living is a must, managing a household is a must, but taking care of yourself is even more important. If we do not take care of ourselves, we cannot become humans according to God’s standards. Consequently, our family life will not succeed. Even if we manage to raise our children to become graduates, get jobs, find life partners, etc., we will not succeed in leading them to heaven. What’s the point? It’s tragic. Children who are skilled, have degrees, and return from overseas but do not know God because their parents never passed on the truth who one day when the world ends, they return to the eternal realm empty-handed. And God will say, “Depart from Me, for you did not do the will of My Father.”

Life is short. No matter how successful a person is, it will eventually come to an end. True success in life is when a person becomes a human being according to God's standards. This concerns our eternal destiny. Do not take eternity lightly. May the eyes of our hearts be opened to see life from an eternal perspective. Therefore, we must always feel like sick people. We must always feel that we are not perfect. Because it's not about how much knowledge about God we have in our minds, but about meeting God, hearing His voice, and feeling His response to us; How far have we become human beings who are pleasing to God?

And God surely speak. Do not listen to the whispers of the Devil saying, "God does not speak. God does not tell. You will never understand whether you are pleasing or not." It is impossible for God not to speak if we seek God and question our condition before Him. Therefore, from minute to minute we must check ourselves. Do not let even the smallest mistake we make go uncorrected. If we become people who meet God's standards, we can certainly be a channel of blessing for others.

AND MORALITY CAN BE FORMED THROUGH THE JOURNEY OF LIFE; IT IS NOT GIVEN MYSTICALLY BUT THROUGH A PROCESS.

Card image
PEMBENTUKAN MORALITAS - 17 Juli 2024
2024-07-17 05:48:18


Hidup keseharian kita menjadi media di mana kita diproses Tuhan untuk menjadi manusia sesuai dengan kehendak Allah. Sebagai hamba Tuhan, keberhasilan kita adalah ketika kita bisa mengentaskan jemaat dari manusia berkeadaan rusak menjadi manusia yang diperbaiki. Jadi bukan masalah mereka memberi sumbangan atau tidak. Mereka bahkan tidak kita tanya, apakah anggota yang terdaftar atau tidak. Karena yang penting adalah mereka menjadi manusia yang dilahirkan baru, sehingga nama mereka tertulis di dalam Kitab Kehidupan Anak Domba.

Firman Tuhan mengatakan, “Dengan jalan itu Ia telah menganugerahkan kepada kita janji-janji yang berharga dan yang sangat besar, supaya olehnya kamu boleh mengambil bagian dalam kodrat ilahi.” Jadi kalau bicara soal kodrat ilahi juga jangan mistik. Ini tidak ditujukan atau tidak dikaitkan dengan supranatural-Nya Allah. Kita tidak akan menyentuh, karena itu bagian Bapa. Tetapi bicara soal kodrat, ini bicara soal moralitas Allah yang bisa kita kenakan. Jadi kalau kita berkodrat ilahi, bukan berarti kita memiliki unsur-unsur supranatural yang terkait dengan hal-hal mistik atau kekuatan di luar kemampuan manusia, melainkan terkait dengan moralitas Allah. Dan moralitas bisa dibentuk lewat perjalanan hidup; bukan diberikan secara mistis, melainkan proses. Itu hebat sekali.

Kita digilas, kita tidak membalas. Sifat ‘kebinatangan’ kita yang mau mencakar, tidak ada lagi. Itu berarti kodrat ilahi bertumbuh. Jadi yang masuk menjadi anggota keluarga Kerajaan Allah adalah mereka yang berkodrat ilahi. Maka, ini bukan sebuah hal yang untung-untungan atau spekulasi, namun suatu hal yang pasti. Banyak orang dalam kesibukan hidupnya, lupa bahwa suatu hari dia akan menutup mata. Dan Tuhan menuntut harga yang harus dibayar. Apa? Menjadi manusia. Kita diadakan jadi manusia supaya kita jadi manusia. Tubuh kita adalah manusia, tapi bagaimana dengan bagian dalam? Mestinya tubuh luar kita manusia, dalamnya karakter Tuhan, kodrat ilahi.

Ironis, sangat sedikit orang yang memperkarakan hal ini. Bahkan mungkin orang yang rajin ke gereja, aktivis, bahkan pendeta, belum tentu serius mengurus dirinya dengan baik. Yang penting, jadi sarjana. Setelah sarjana, yang penting jadi magister. Setelah magister, menjadi doktor. Setelah doktor, mau jadi pimpinan. Bayangkan kalau manusia berpendidikan, manusia akademisi dengan posisi yang sentral, yang baik, yang bisa mengendalikan orang lain, tetapi belum jadi manusia Allah, belum berkodrat ilahi. Betapa ironisnya!

Tuhan akan membedakan gandum dan ilalang; domba dan kambing. Yang berkenan, akan bersama dengan Tuhan. Yang tidak berkenan di hadapan Allah akan dibuang. Dan jangan kita anggap remeh hal ini. Coba kita bayangkan hari-hari terakhir hidup kita; kalau kita menutup mata dan ternyata kita tidak membayar harga hidup untuk menjadi manusia, betapa kita ingin kembali hidup dan berjuang. Tapi waktu sudah tidak ada lagi. Seperti lima gadis bodoh yang tidak mendapat kesempatan masuk dalam pesta perjamuan. Jangan sombong! Jangan kita sibuk hanya untuk mencari nafkah. Mencari nafkah harus, mesti. Mengurus rumah tangga, harus, mesti. Tapi mengurus diri, lebih dari itu.

Karena kalau kita tidak mengurus diri kita, maka kita tidak menjadi manusia sesuai standar Allah. Maka, tidak mungkin hidup rumah tangga kita berhasil. Kalaupun kita berhasil membesarkan anak-anak menjadi sarjana, dapat pekerjaan, dapat pasangan hidup dan lain-lain, namun kita tidak akan berhasil menggarami mereka masuk surga. Untuk apa? Tragis. Anak-anak yang cakap, punya keahlian, punya gelar, pulang dari luar negeri, tapi tidak mengenal Allah karena orang tuanya tidak pernah mewariskan kebenaran, yang suatu hari ketika dunia berakhir, dia pulang ke alam kekal dengan tangan kosong. Dan Tuhan berkata, “Enyah, kamu dari hadapan-Ku karena kamu tidak melakukan kehendak Bapa.”

Hidup ini singkat. Mau seberapa orang sukses? Akan berakhir juga. Sukses hidup manusia adalah ketika dia menjadi manusia sesuai dengan standar Allah. Ini menyangkut nasib kekal kita. Jangan anggap sepele kekekalan. Mata hati kita kiranya dibuka untuk melihat hidup dari sudut pandang kekekalan. Karenanya, kita harus selalu merasa seperti orang sakit. Kita harus selalu merasa kita belum sempurna. Sebab bukan seberapa banyak ilmu tentang Tuhan di pikiran kita, tetapi temui Tuhan, dengar suara-Nya, rasakan respons Tuhan atas diri kita; sudah seberapa kita menjadi manusia yang berkenan di hadapan Tuhan.

Dan Tuhan pasti berbicara. Jangan dengar bisikan Iblis yang mengatakan, “Tuhan tidak bicara. Tuhan tidak beri tahu. Kamu selamanya tidak akan mengerti kamu sudah berkenan atau tidak.” Tidak mungkin Tuhan tidak berbicara, kalau kita mencari Tuhan dan mempertanyakan keadaan kita di hadapan Allah. Karenanya, dari menit ke menit kita mesti memeriksa diri. Jangan membiarkan sekecil apa pun kesalahan yang kita lakukan tanpa pemberesan. Kalau kita menjadi manusia dengan standar seperti yang Allah kehendaki, pasti kita bisa menjadi saluran berkat bagi sesama.

Tuhan Yesus memberkati
Pdt. Dr. Erastus Sabdono

DAN MORALITAS BISA DIBENTUK LEWAT PERJALANAN HIDUP; BUKAN DIBERIKAN SECARA MISTIS, MELAINKAN PROSES.

Card image
Truth Kids 16 Juli 2024 - MENJAGA LIDAH
2024-07-17 04:50:42


Efesus 4:29
”Janganlah ada perkataan kotor keluar dari mulutmu, tetapi pakailah perkataan yang baik untuk membangun, di mana perlu, supaya mereka yang mendengarnya, beroleh kasih karunia.”

Bruk!! "Aduh!" Steve menabrak Dave yang berlari saat bel istirahat berbunyi. Namun, Steve tidak menghiraukan, bahkan meninggalkannya. Dave hanya terdiam. Ia menghampiri Steve dan berkata, "Steve, lain kali kalau lari, lihat-lihat, ya. Tadi aku sampai tertabrak kamu, loh." Sikap Dave menunjukkan kesabaran dengan tidak mengeluarkan makian.

Sobat Kids, saat kita memiliki hati yang sabar, kita bisa mengendalikan lidah dan ucapan kita. Kita tidak perlu mengeluarkan kata-kata yang menyakitkan orang lain. Lewat ucapan kita yang baik, kita sudah menjadi berkat.

Seperti ayat firman Tuhan yang kita baca hari ini, janganlah ada perkataan kotor keluar dari mulut kita. Gunakanlah kata-kata yang baik dan sopan saat berbicara kepada orang lain. Jaga lidah kita, ya!

Card image
Bacaan Alkitab Setahun - 17 Juli 2024
2024-07-17 04:38:06

Yesaya 23-27

Card image
Truth Youth 16 Juli 2024 - FORTRESS WALL
2024-07-16 13:50:26


"Rather, as servants of God we commend ourselves in every way: in great endurance; in troubles, hardships and distresses; in beatings, imprisonments and riots; in hard work, sleepless nights and hunger; in purity, understanding, patience and kindness; in the Holy Spirit and in sincere love." (2 Corinthians 6:4-6)

Have you ever seen a fortress wall, whether in person or in European medieval-themed movies with knights in armor? Even if historical European films aren't your cup of tea, chances are you've encountered a large wall built to protect something in comics, games, or other literary works, such as the famous anime "Attack on Titan" or the renowned historical site, the Great Wall of China. The primary purpose of a fortress wall is generally to protect what lies within. Typically, it shelters a community or a group of people with an authentic lifestyle, perhaps because of some danger or potential threat outside the wall, such as attacks from other communities or countries.

You might wonder, "Doesn't that mean fortress walls have no openings for entry?" In reality, they do have entrances and exits, because otherwise, how would people inside get supplies? However, what enters through these openings is usually filtered first to ensure it doesn't pose a threat to the inhabitants, maintaining the security of the community.

Similarly, as Christians, we should apply the same principle in our lives. We are called to go out into the dark world and strive to save as many souls as possible, despite the world's potential to infiltrate and contaminate our lives with negative influences. Therefore, we need to establish personal boundaries, like the entrances of a fortress wall, to filter what enters our lives and ensure we are not compromised. We must clearly demonstrate that we are not of the world; that there are things we accept and things we do not. We belong to a different but inclusive community—the heavenly kingdom. Thus, we should exhibit the characteristics mentioned in 2 Corinthians 6:4-6, characteristics of a servant of the King who protects us with His mighty fortress: our Father God, Elohim Yahweh.

WHAT TO DO:
1. Establish personal boundaries.
2. Clearly demonstrate our identity by embodying 2 Corinthians 6:4-6.

BIBLE MARATHON:
▪ Isaiah 1-3

Card image
Truth Youth 16 Juli 2024 - FORTRESS WALL
2024-07-16 13:47:33


”Sebaliknya, dalam segala hal kami menunjukkan, bahwa kami adalah pelayan Allah, yaitu: dalam menahan dengan penuh kesabaran dalam penderitaan, kesesakan dan kesukaran, dalam menanggung dera, dalam penjara dan kerusuhan, dalam berjerih payah, dalam berjaga-jaga dan berpuasa; dalam kemurnian hati, pengetahuan, kesabaran, dan kemurahan hati; dalam Roh Kudus dan kasih yang tidak munafik.” (2 Korintus 6:4-6)

Pernahkah kalian melihat tembok benteng baik secara langsung, maupun ketika menonton film-film Eropa dengan latar abad pertengahan abad di mana ada raja-raja dan ksatria berbaju besi ditampilkan? Walaupun kalian tidak suka film genre sejarah Eropa, pastinya kalian pernah melihat suatu tembok besar yang didirikan untuk melindungi sesuatu, baik itu dalam comic, game, atau karya sastra lainnya, seperti dari anime yang sangat terkenal Attack on Titan atau situs sejarah yang terkenal The Great Wall of China. Seperti yang tadi dijelaskan, tujuan tembok benteng secara umum adalah untuk melindungi apa yang di dalamnya. Dan umumnya, apa yang dilindungi adalah suatu komunitas atau kumpulan orang tertentu dengan gaya hidup yang otentik. Mungkin karena ada suatu bahaya atau potensi bahaya di luar tembok itu, maka orang-orang itu hidup di belakang tembok benteng. Seperti bahaya serangan dari orang-orang dari komunitas lain atau serangan negara lain.

Mungkin kalian pikir, “Kalau begitu, berarti tembok benteng tidak mempunyai celah untuk masuk?” Kenyataannya tidak juga, karena tembok benteng tetap memiliki jalan masuk atau keluar, sebab kalau tidak ada, bagaimana caranya orang-orang yang di dalam bisa mencari makan? Tetapi biasanya, apa yang masuk ke dalam tembok itu selalu disaring dulu, apakah yang masuk adalah sesuatu yang berbahaya bagi penduduk atau tidak, sehingga keamanan komunitas tersebut tidak terkompromi.

Seperti tembok tersebut, prinsip yang sama harus kita terapkan dalam kehidupan Kristen kita. Sebagai orang Kristen, kita harus keluar ke dunia yang gelap dan berusaha menyelamatkan sebanyak mungkin jiwa, meskipun potensi dunia menjajah dan mencemari kehidupan kita dengan pengaruh negatif. Maka itu, kita perlu menetapkan batasan-batasan pribadi, sama seperti jalur masuk tembok tersebut, agar kita bisa menyaring apa yang masuk ke dalam hidup kita dan memastikan kita sendiri tidak dalam bahaya. Kita perlu menunjukkan dengan jelas bahwa kita tidak sama dengan dunia; bahwa ada hal-hal yang bisa kita terima dan ada hal-hal yang tidak. Bahwa kita berasal dari suatu komunitas berbeda tetapi tidak eksklusif, yaitu suatu komunitas surgawi. Maka dari itu, kita harus menunjukkan karakteristik-karakteristik tersebut, yang sama seperti dalam 2 Korintus 6:4-6. Karakteristik seorang pelayan dari Raja yang melindungi kita dengan temboknya yang kuat: Allah Bapa kita, Elohim Yahweh.

WHAT TO DO:
1.Menetapkan batasan-batasan pribadi
2.Menunjukan dengan jelas jati diri kita dengan menerapkan 2 Korintus 6:4-6

BIBLE MARATHON:
▪︎ Yesaya 1-3

Card image
Renungan Pagi - 16 Juli 2024
2024-07-16 13:26:59


Siapa saja yang memilih mengikut Yesus harus bersedia menanggung segala konsekuensi atau risiko yang akan dihadapi dalam perjalanan mengikut Tuhan Yesus. Ia harus berani kehilangan segala kesenangan hidup atau kesukaan duniawi bila ia bersedia mengikut Kristus. Hal itu berarti, mengikut Kristus harus total segenap hidup atau sepenuh hati hidup sebagai ciptaan baru, yang lama benar-benar sudah berlalu; sekali lagi, tidak bisa mengikut Tuhan, tetapi tidak mau sungguh-sungguh menyerahkan hidup di bawah kedaulatan-Nya.

"Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru; yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang." Siapapun yang tidak bersungguh-sungguh dalam mengikut Kristus, ia tidak layak bagi Kerajaan-Nya. Mengapa tidak layak? Karena Tuhan Yesus sudah mengerjakan bagian-Nya yaitu menyerahkan Nyawa-Nya, supaya kita memiliki kehidupan sebagai ciptaan baru sepenuhnya.
(2 Korintus 5:17)

Card image
Quote Of The Day - 16 Juli 2024 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2024-07-16 13:24:23


Taburan kasih yang tulus akan menghasilkan tuaian yang luar biasa.

Card image
Mutiara Suara Kebenaran - 16 Juli 2024 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2024-07-16 13:22:23


Jangan kita mengikuti fokus hidup manusia yang umumnya pada perkara-perkara fana.

Card image
GOD'S STANDARD HUMAN - 16 Juli 2024 (English Version)
2024-07-16 13:05:25


We all believe that we are already human. Therefore, many people feel angry or offended when they are addressed with words that are inappropriate or demeaning to their humanity. But have we ever thought, are we truly human according to the Creator's standards? Surely, God has a Standard Operating Procedure (SOP) for the conduct and administration of life. Because our lives are like a company with all its activities. For this reason, the church must provide counseling, guidance, and mentoring so that the congregation understands how to become human according to the Creator's standards.

Salvation in Jesus Christ means exactly this. That's why Jesus became human and in all things was made like us, so we can emulate the model of a human being according to His standards. God is a Great Artist and humans also have artistic or aesthetic elements according to their field. There is painting, carving, music and others. Not only do others admire their work, but they themselves often feel satisfied. Isn't God like that too? When Job was praised by God in Job 1:7-8, “The Lord said to Satan, ‘Where have you come from?’ Satan answered the Lord, ‘From roaming throughout the earth, going back and forth on it.’ Then the Lord said to Satan, ‘Have you considered my servant Job? There is no one on earth like him; he is blameless and upright, a man who fears God and shuns evil.’” God was proud of Job.

In Matthew 3:17, God boasts about His Son, “This is my Son, whom I love; with him I am well pleased.” God wants us to become human beings according to the purpose for which God created us, according to God's standards, so that God is pleased. Surely, the Father in heaven doesn't only want to praise someone named Jesus, but the Father also wants to find people who make His heart proud, and the Father can also say: "This is My beloved son. He pleases Me.” And we must always remember that we do not live for free. God created us with the intention and purpose and aim to please Him. We are not accidentally to be human, but because God wills it.

And God does not demand what we cannot fulfill. It would be evil if God demanded what we couldn't fulfill and then, when we fail to meet God's demands, He throws us into hell. Therefore, realize that we are not creatures created without purpose. There is a reason, there is a purpose, a divine purpose; there is a divine intent. Whether man or woman, from any tribe, in any condition, born poor or rich, highly educated or lowly educated, whatever and however our circumstances are, God can make us human beings who please Him. So what we need to ask is, “Have I become a human being according to God's will?”.

If we get slightly offended, become angry, and then try to destroy the person who hurt us, we have not yet become true humans. Honestly, we still possess those characteristics. When we realize this, we recognize that we are still spiritually sick and need to seek a church that can transform our lives and elevate our human qualifications. Therefore, we must now be aware that those who enter heaven are humans according to God's standards. Even before we die, while we are still in this world, we must exhibit the signs of those who are worthy of entering heaven, which means fulfilling God's Standard Operating Procedure (SOP).

Thus, Jesus said, "Not everyone who says to me, ‘Lord, Lord,’ will enter the kingdom of heaven, but only the one who does the will of my Father who is in heaven." Doing God's will is not just about not breaking the law; it means that every step of our lives should please God, minute by minute, hour by hour. This is what is called holiness. Holiness is not something abstract, mystical, but very technical and natural. So, we must live holy. And what changes us is the life media we enter or the life dynamics we experience. Because of the experiences that God provides, they humanize us.

While we are crushed, our character is formed. God is extraordinary; He is the Great Architect who knows how to shape us. If we obey, we will continue to be molded into the kind of human that God desires and who pleases His heart. So, let's examine ourselves. Our treatment of others shows whether we are truly human. What others feel from our behavior can prove whether we are human or not. A person who has become human according to God's standards will definitely humanize others. He will be compassionate towards others.

A PERSON WHO HAS BECOME HUMAN ACCORDING TO GOD'S STANDARDS WILL DEFINITELY HUMANIZE OTHERS.

Card image
MANUSIA STANDAR ALLAH - 16 Juli 2024
2024-07-16 13:02:46


Pasti semua kita merasa sudah menjadi manusia. Maka, tidak sedikit orang yang marah atau tersinggung kalau ada kata-kata yang tidak patut ditujukan kepada dirinya, yang itu berindikasi atau bermaksud merendahkan martabat kemanusiaannya. Tetapi pernahkah kita berpikir, apakah kita benar-benar sudah jadi manusia sesuai standar Sang Pencipta? Tuhan pasti punya Standard Operation Procedure (SOP) untuk pelaksanaan, penyelenggaraan hidup. Sebab hidup kita masing-masing ini seperti sebuah company dengan segala kegiatannya. Untuk itu gereja harus memberikan penyuluhan, pembinaan, mentoring supaya jemaat mengerti bagaimana menjadi manusia sesuai dengan standar Sang Pencipta.

Keselamatan dalam Yesus Kristus bermaksud demikian. Itulah sebabnya Yesus menjadi manusia yang dalam segala hal disamakan dengan kita, supaya kita dapat mencontoh bagaimana model manusia dengan standar-Nya. Tuhan adalah Seniman Agung dan manusia juga memiliki unsur-unsur seni atau estetik sesuai dengan bidangnya. Ada seni lukis, ukir, musik, dan lainnya. Bukan hanya orang lain yang mengagumi karyanya, namun dirinya sendiri juga sering merasa puas. Bukankah Allah juga begitu? Ketika Ayub disanjung oleh Allah di dalam Ayub 1:7-8, “Maka bertanyalah TUHAN kepada Iblis: "Dari mana engkau?" Lalu jawab Iblis kepada TUHAN: "Dari perjalanan mengelilingi dan menjelajah bumi." Lalu bertanyalah TUHAN kepada Iblis: "Apakah engkau memperhatikan hamba-Ku Ayub? Sebab tiada seorang pun di bumi seperti dia, yang demikian saleh dan jujur, yang takut akan Allah dan menjauhi kejahatan.” Allah membanggakan Ayub.

Di Matius 3:17, Allah membanggakan Anak-Nya, “Ini Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nya Aku berkenan.” Tuhan mau kita menjadi manusia sesuai dengan maksud Allah menciptakan manusia itu, dengan standar Allah, sehingga Allah disukakan. Pasti Bapa di surga tidak hanya ingin memuji seorang yang bernama Yesus, tetapi Bapa juga ingin menemukan orang-orang yang membanggakan hati-Nya, dan Bapa juga bisa berkata: “Ini anak-Ku yang Kukasihi. Dia menyenangkan Aku.” Dan kita harus selalu ingat bahwa kita ini bukan hidup gratis. Tuhan menciptakan kita dengan maksud dan tujuan supaya kita menyenangkan Dia. Kita tidak kebetulan jadi manusia, tapi karena Allah yang menghendaki.

Dan Allah tidak menuntut apa yang tidak bisa kita penuhi. Jahat kalau Allah menuntut apa yang tidak kita bisa penuhi. Lalu setelah kita tidak bisa memenuhi apa yang Allah kehendaki, Allah membuang kita ke neraka. Maka, sadarilah bahwa kita bukanlah makhluk yang diciptakan tanpa tujuan. Ada reason, ada purpose, ada divine purpose; ada maksud ilahi. Entah pria atau wanita, dari suku apa saja, apa pun keadaan kita, terlahir dalam kondisi miskin atau kaya, berpendidikan tinggi atau rendah, apa pun dan bagaimanapun keadaan kita, Tuhan bisa menjadikan kita manusia yang menyenangkan Dia. Maka yang harus kita persoalkan, “Apakah saya sudah menjadi manusia sesuai dengan kehendak Allah?”

Kalau sedikit tersinggung, kita marah, sakit hati, lalu berusaha menghancurkan orang tersebut. Ini belum jadi manusia. Dan jujur, kita masih punya karakteristik itu. Kalau kita sadar itu, kita merasa sebagai orang sakit, maka kita datang dan mencari gereja yang bisa mengubah hidup kita, meningkatkan kualifikasi kemanusiaan kita. Jadi kita sekarang harus sadar bahwa yang masuk surga itu manusia dengan standar Allah. Dan sebelum meninggal dunia, sejak di dunia ini pun kita mesti sudah punya gejala dari orang-orang yang memang layak masuk surga; yaitu memenuhi SOP.

Maka Tuhan Yesus berkata, “Bukan orang yang berseru kepadaku ‘Tuhan, Tuhan’ yang masuk surga, tapi orang yang melakukan kehendak Allah.” Melakukan kehendak Allah itu bukan hanya tidak melanggar hukum, tetapi setiap langkah hidup kita itu menyenangkan Tuhan, dari menit ke menit, dari jam ke jam. Dan itu yang disebut kesucian. Kesucian itu bukan sesuatu yang abstrak, yang mistis, namun sangat teknis dan natural. Jadi, kita harus hidup suci. Dan yang mengubah kita itu media hidup yang kita masuki atau dinamika hidup yang kita alami. Karena pengalaman yang Allah sediakan, itu memanusiakan kita.

Sementara kita digilas, karakter kita dibentuk. Dan Tuhan itu luar biasa, Ia adalah Arsitek Agung yang tahu bagaimana membentuk kita. Kalau kita menurut, maka kita akan terus dibentuk menjadi manusia seperti yang Allah kehendaki dan menyenangkan hati-Nya. Jadi, mari kita periksa diri kita. Perlakuan kita terhadap orang lain menunjukkan apakah kita manusia atau bukan. Apa yang orang lain rasakan dari perilaku kita bisa membuktikan kita manusia atau tidak. Orang yang sudah menjadi manusia sesuai standar Allah, pasti memanusiakan orang lain. Ia akan berbelas kasihan terhadap orang lain.

Tuhan Yesus memberkati
Pdt. Dr. Erastus Sabdono

ORANG YANG SUDAH MENJADI MANUSIA SESUAI STANDAR ALLAH, PASTI MEMANUSIAKAN ORANG LAIN.

Card image
Bacaan Alkitab Setahun - 16 Juli 2024
2024-07-16 12:58:12

Yesaya 18-22

Card image
Truth Kids 15 Juli 2924 - TIDAK TERGESA-GESA
2024-07-15 14:01:48


Amsal 14:29
”Orang yang sabar besar pengertiannya, tetapi siapa cepat marah membesarkan kebodohan.”

Tika merengek kepada orang tuanya agar dibelikan handphone di toko online, "Mama, handphone teman-temanku model terbaru. Aku ingin seperti mereka." "Sabar, Dek. Nanti Papa belikan," jawab mamanya. "Harus hari Jumat, Ma, karena Tika mau ada acara tamasya. Aku pesan online ya, nanti bisa dibayar di rumah," kata Tika sambil merengek.

Akhirnyahandphone yang Tika inginkan sudah dikirim ke rumah. Ia sangat senang sekali. Ia segera membuka paket itu, namun pada saat ia periksa barangnya, ternyata bukan original melainkan produk tiruan. "Pantas saja harganya lebih murah, ternyata barangnya tidak bagus." Ia menyesal karena terburu-buru mengambil keputusan dan tidak mendengarkan mamanya.

Sobat Kids, kita harus belajar untuk tidak sembrono dalam mengambil keputusan. Kita harus belajar untuk tidak terburu-buru dalam membuat keputusan. Tuhan akan memberikan kita hikmat sehingga kita dapat mengambil keputusan yang seturut kehendak-Nya.

Card image
Truth Junior 15 Juli 2024 - BELAJAR
2024-07-15 13:41:52


Amsal 14:29
”Orang yang sabar besar pengertiannya, tetapi siapa cepat marah membesarkan kebodohan.”

Hari ini kita mau melanjutkan kisah mengenai Albert Einstein. Walaupun masa kecilnya dilalui dengan ejekan dari teman sekolah, Einstein tetap belajar untuk sabar. Ia tetap rajin belajar untuk menambah pengertiannya terhadap hal-hal yang menarik perhatiannya. Misalnya tentang kompas, cahaya, dan geometri (cabang matematika yang menerangkan sifat-sifat garis, sudut, bidang, dan ruang).

Sobat Junior, apakah di kelas atau sekolah kalian ada yang suka mem-bully kalian? Apakah karena nilai rapor kalian pada saat terakhir belum bagus? Jangan menyerah dan berkecil hati. Di tahun ajaran yang baru ini, tunjukkan bahwa kalian bisa menjadi lebih baik lagi. Di kelas yang baru, dengan teman-teman dan wali kelas yang mungkin baru juga, mulailah dengan komitmen untuk menjadi lebih baik.

Kita mau belajar lebih sabar lagi dan belajar lebih giat lagi sehingga nilai kita di sekolah menjadi lebih baik. Milikilah pengertian dari pelajaran yang disampaikan bapak atau ibu guru di sekolah, sehingga kita menjadi saksi sebagai anak Allah. Semangat!

Card image
Truth Youth 15 Juli 2024 (English Version) - THE LAMP OF THE BODY
2024-07-15 13:02:55


"Your eye is the lamp of your body. When your eyes are healthy, your whole body also is full of light. But when they are unhealthy, your body also is full of darkness. See to it, then, that the light within you is not darkness." (Luke 11:34-35)

Negative environments often make us feel cool, noticed, famous, acknowledged, and authoritative. However, we cannot immerse ourselves in such environments forever. Over time, we will become negative individuals, spreading negative impacts to those around us, especially those who are still innocent and unaware. On the contrary, we should aim to be positive individuals who spread goodness and love to everyone. Our goal as Christians is to let those around us feel the gentle, sweet, and warm love of God.

One of the human senses that plays a crucial role in determining whether we become positive or negative individuals is the eye. Luke 11:34-35 clearly states that our eyes are the lamp of the body; if our eyes are healthy, our whole body is full of light, and vice versa. Therefore, we must be vigilant. We must ensure that the light within us does not become darkness. We need to guard what we see because the eyes are the lamp of the body. Everything we see affects our soul and spirit. If we consume unclean things with our eyes, our entire lives will become negative.

The Bible also teaches that having good friends will lead to a good life. We must not associate with those who have a negative impact, as we will eventually become like them, often without realizing it. We should set boundaries and not be tempted by worldly pleasures that are only temporary. Seek support from positive individuals, such as mentors in the church, pastors, or anyone we consider mature and wise, to walk alongside us in Jesus Christ.

WHAT TO DO:
1. Be wise in choosing friends.
2. Guard all external influences consumed by our senses (eyes and ears).
3. Actively listen to and apply God's Word.
4. Seek reliable friends or mentors to grow with.

BIBLE MARATHON:
▪ Song of Solomon 5-8

Card image
Truth Youth 15 Juli 2024 - PELITA TUBUH
2024-07-15 13:00:59


”Matamu adalah pelita tubuhmu. Jika matamu baik, teranglah seluruh tubuhmu, tetapi jika matamu jahat, gelaplah tubuhmu. Karena itu perhatikanlah supaya terang yang ada padamu jangan menjadi kegelapan.” (Lukas 11:34-35)

Pada dasarnya, lingkungan yang negatif memang cenderung membuat kita merasa keren, dipandang, terkenal, diakui, dan memiliki otoritas. Namun, kita tidak bisa selamanya menyeburkan diri di dalam lingkungan yang seperti ini. Sebab lambat laun, kita pun akan menjadi orang yang negatif dan memberikan dampak buruk bagi orang-orang di sekitar kita, yang bisa saja mereka masih polos dan tidak tahu apa-apa. Sebaliknya, kita seharusnya justru menjadi orang yang positif, yang menebar kebaikan dan kasih sayang kepada semua orang. Goals kita sebagai orang Kristen adalah membuat orang-orang di sekitar kita merasakan kasih Allah yang lembut, manis, dan hangat.

Salah satu indra manusia yang paling berperan penting untuk menentukan apakah kita akan menjadi orang yang positif atau negatif adalah mata. Lukas 11:34-35 menyatakan dengan jelas bahwa mata kita adalah pelita tubuh; jika mata kita baik, maka teranglah seluruh tubuh kita, dan begitu sebaliknya. Maka, kita harus mawas diri. Jangan sampai terang yang ada pada kita justru menjadi kegelapan. Kita harus menjaga apa yang kita lihat, karena mata adalah pelita tubuh. Semua yang kita lihat akan memengaruhi jiwa dan roh kita. Jangan sampai karena kita mengonsumsi hal-hal najis yang kita saksikan dengan mata kita sendiri, akhirnya seluruh hidup kita menjadi negatif.

Alkitab juga mengajarkan bahwa dengan memiliki teman-teman yang baik, maka hidup kita akan baik pula. Jangan sampai kita berteman dengan mereka yang memberi dampak buruk, karena lambat laun kita pasti menjadi seperti mereka, tanpa disadari. Batasilah diri, jangan tergoda dengan hal-hal duniawi yang hanya kesenangan sementara. Carilah dukungan dari orang-orang yang positif, misalnya mentor di gereja, pendeta, atau siapa pun yang kita anggap cukup dewasa dan bijak sebagai teman seperjuangan kita di dalam Yesus Kristus.

WHAT TO DO:
1.Bijak dalam memilih teman.
2.Menjaga segala hal eksternal yang dikonsumsi oleh indra kita (mata dan telinga).
3.Aktif mendengarkan firman Tuhan dan melakukannya.
4.Mencari teman atau mentor yang dapat diandalkan untuk bertumbuh bersama.

BIBLE MARATHON:
▪︎ Kidung Agung 5-8

Card image
Renungan Pagi - 15 Juli 2024
2024-07-15 12:58:14


Kita sering mengalami keraguan tatkala permintaan doa tidak dijawab Tuhan. Kita dapat belajar dari pengalaman Yohanes Pembaptis dan para muridnya, yang pada awalnya meragukan kemampuan Tuhan untuk menolongnya dari kematian, karena pada akhirnya dia dipenjara dan dipenggal kepalanya.

"Yesus menjawab mereka; "Pergilah dan katakanlah kepada Yohanes apa yang kamu dengar dan kamu lihat; orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang kusta menjadi tahir, orang tuli mendengar, orang mati dibangkitkan dan kepada orang miskin diberitakan kabar baik. Dan berbahagialah orang yang tidak menjadi kecewa dan menolak Aku."

Tentu saja Yohanes pembaptis mengharapkan Tuhan Yesus membebaskannya. Tetapi Tuhan Yesus hanya menyatakan apa yang telah diperbuat-Nya selama pelayanan-Nya. Tuhan ingin kita mengerti, bahwa DIA punya rencana indah untuk kita, tetapi tidak harus sesuai dengan apa yang dipikirkan dan harapkan. Kita belajar menempatkan kehendak kita di bawah kehendak Tuhan. Kiranya Tuhan mengampuni kebodohan dan mengajar kita untuk bertindak sesuai kehendak-Nya." (Matius 11:2-6)

Card image
Quote Of The Day - 15 Juli 2024 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2024-07-15 12:56:37


Sebelum kita lahir, Yesus sudah mati untuk kita. Dan sekarang, setelah kita lahir, kita harus mati untuk Dia.

Card image
Mutiara Suara Kebenaran - 15 Juli 2024 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2024-07-15 12:55:08


Kita memberi nilai tinggi Tuhan bukan hanya dengan mulut atau perkataan, melainkan dengan perbuatan, perilaku kita.

Card image
CHARACTER STABILITY - 15 Juli 2024 (English Version)
2024-07-15 12:53:17


Character stability, a cornerstone of our spiritual journey, is marked by several aspects. Firstly, it’s about making a serious effort to change ourselves. Secondly, it’s about the willingness to offer whatever we possess to God. However, even after surrendering everything to God, many still feel that God hasn’t utilized them to their fullest potential. Why is this? The answer lies in character stability. Today, we might be pure, without moral violations, but in the future, we might fall into moral sins. So, be thankful if God restrains His gifts of the Spirit, restraining explosions of ministry because He wants us to prepare ourselves.

We mustn’t become old with excellent ministry achievements and magnificent church buildings yet be driven by money, falling into moral sins. It’s better not to, and this is a grace, a gift. In reality, many servants of God reach old age successfully, with smooth paths, wealth, and respect; however, they do not lead people to heaven. The quality of their congregation isn’t the quality of children of God, the standard of the Kingdom of Heaven. Thus, we must have character stability that cannot fall anymore, which takes time.

Especially for young people, it’s of utmost importance to start the spiritual journey with a humble, gentle heart, loving God because this is the foundation for God’s trust in us. Honesty alone is not enough. You can be honest but still hinder others, crave respect, and dislike others progressing more, which also does not make you trustworthy to God. Therefore, you must strive to be like Jesus. And this is something we should genuinely be concerned about, “When the Son of Man comes, will he find faith on the earth?” Our world today is corrupt. Look at our young generation today; it is corrupt. Even in ethics, they show their arrogance. How can they become members of the family of the Kingdom of God with such manners?

If we can still change, let us change. Let our lives be an example. Look at today: how many people truly love God and are willing to give their lives limitlessly? Everything is calculated, while the human soul is precious. Even if all the world’s wealth were gathered, buying one soul would not be enough. Why don’t we strive earnestly? Why do we still seek profit in ministry? Why do we not sacrifice earnestly? We are looking for people who can weep together for the salvation of souls.

We should be in a crisis, seeing the world drift into eternal darkness. Let us first improve ourselves. Come, let us pray because we face a dark world. Using logic and calculators won’t work. God must be present with His power, and we must be thorough vessels for God to work through our lives. Our lives must be clean, our motives straight. Being an expert in Theology cannot be used as a capital. It could be suitable for preaching and self-actualization, and with social media, we can preach as much as possible and read as many books as possible. Then people will be interested, so we can get many subscribers or viewers, which makes us happy, and Satan works that way. Yet, that’s not our focus.

We indeed have the excellence that God can use to save souls, and this is not an organizational matter or for the church to advance, but a matter of soul salvation. Let us ask God, “What should I do, Lord? Where is my place?” So, we must continue to improve ourselves and build ourselves, not just process, but progress. And we indeed have virtues or unique qualities that others do not. Let us build ourselves up. God is looking for warriors who can join in earnestly with those God uses to change others truly.

If only we could create a commotion in worship, many churches would have that ability. But we want to become a movement that genuinely changes lives. When we grow in character, in closeness with God, become more like Jesus, and have character stability, God can entrust His feelings to us. God will not entrust His feelings to someone who is not worthy to be touched by His feelings. We become His vessel entirely, meaning to let our heart’s room be filled with His heart and His feelings so we can feel what God feels. Like Jesus weeping over Jerusalem, we want to have a heart like that, which can weep for souls. Not just talk, but a heart that genuinely loves souls, and this is not just about service activities but souls that must be rescued from darkness.

WE MUST HAVE CHARACTER STABILITY THAT CANNOT FALL ANYMORE, WHICH TAKES TIME.

Card image
STABILITAS KARAKTER - 15 Juli 2024
2024-07-15 14:19:20


Menghayati nilai jiwa manusia akan ditandai dengan: yang pertama, adanya usaha serius mengubah diri. Yang kedua, kesediaan mempersembahkan apa pun yang kita miliki untuk Tuhan. Namun sejujurnya, kita yang sudah menyerahkan segalanya untuk Tuhan, masih merasa Tuhan belum memakai kita dengan maksimal. Mengapa? Jawabnya adalah: stabilitas karakter. Hari ini kita suci, tidak punya pelanggaran moral. Ke depan belum tentu kita tidak punya pelanggaran moral. Jadi bersyukur kalau Tuhan menahan karunia-karunia Roh-Nya, ledakan-ledakan pelayanan, seakan-akan Tuhan seperti menghambat ledakan-ledakan itu, karena Tuhan mau kita mempersiapkan diri.

Jangan sampai kita sudah jadi tua, prestasi pelayanan bagus, gedung gereja megah, tapi mata duitan, jatuh dalam dosa moral. Lebih baik jangan. Dan ini adalah karunia, anugerah. Sebab kenyataan berbicara, tidak sedikit hamba Tuhan yang sampai hari tuanya sukses, jalannya lancar, kaya, terhormat, namun dia tidak membawa orang ke surga. Kualitas jemaatnya bukan kualitas anak-anak Allah, standar Kerajaan Surga. Maka kita harus punya stabilitas karakter yang tidak bisa jatuh lagi dan itu perlu waktu.

Khususnya anak-anak muda, kalau tidak mulai sekarang punya hati yang rendah, lemah lembut, dan mengasihi Tuhan, maka Tuhan tidak akan percayai kalian. Jujur saja tidak cukup. Kalian bisa jujur, tapi masih bisa menjegal orang, gila hormat, tidak senang orang lain lebih maju, sehingga itu juga tidak membuat kalian dipercayai Tuhan. Jadi, harus setinggi-tingginya serupa dengan Yesus. Dan ini yang seharusnya sangat kita khawatirkan, “Kalau Anak Manusia datang, apakah Dia mendapati iman di bumi?” Dunia kita hari ini sudah rusak. Lihat generasi muda kita hari ini, rusak. Dari etika saja menunjukkan kesombongannya. Bagaimana bisa menjadi anggota keluarga Kerajaan Allah dengan manner seperti itu?

Kalau kita masih bisa berubah, berubahlah. Hidup kita jangan tidak menjadi teladan. Coba lihat hari ini, berapa banyak orang yang sungguh-sungguh mengasihi Tuhan dan rela memberikan hidupnya tanpa batas? Semua serba menghitung, padahal jiwa manusia itu mahal. Seandainya seluruh harta dunia ini dikumpulkan, belum cukup membeli satu jiwa. Mengapa kita tidak berjuang sungguh-sungguh? Mengapa kita masih cari keuntungan di dalam pelayanan? Mengapa kita tidak berkorban dengan sungguh-sungguh? Kita mencari orang-orang yang bisa menangis bersama untuk keselamatan jiwa-jiwa.

Kita semestinya ada dalam perasaan krisis melihat dunia sedang hanyut menuju kegelapan abadi. Benahi diri kita dulu. Ayo, kita berdoa, sebab yang kita hadapi adalah dunia yang gelap. Pakai perhitungan logika, kalkulator, tidak bisa. Harus Tuhan yang hadir dengan kuasa-Nya dan kita harus menjadi media, bejana seutuhnya untuk Allah bekerja di dalam dan melalui hidup kita. Hidup kita harus bersih, motivasi kita harus lurus. Doktor teologi tidak bisa dijadikan modal. Kalau untuk khotbah bisa bagus, untuk aktualisasi diri juga bisa. Apalagi dengan media sosial, kita bisa khotbah sebanyak-banyaknya, baca buku sebanyak-banyaknya juga, lalu orang-orang akan tertarik sehingga kita dapat banyak subscriber atau viewer, dan hal itu membuat kita senang. Setan bekerja dengan cara itu. Padahal bukan itu fokus kita.

Percayalah, kita pasti punya kelebihan yang bisa dipakai Tuhan untuk menyelamatkan jiwa. Ini bukan urusan organisasi, atau supaya gereja maju, namun ini urusan keselamatan jiwa. Coba masing-masing kita bertanya kepada Tuhan, "Apa yang harus kulakukan, Tuhan? Di mana tempatku?" Maka kita harus terus membenahi diri, terus membangun diri. Bukan hanya proses, namun juga progres. Dan setiap kita pasti memiliki keutamaan atau keistimewaan yang tidak dimiliki orang lain. Ayo bangun diri kita. Tuhan mencari laskar yang bisa tergabung menjadi orang-orang yang dipakai Tuhan dengan sungguh-sungguh untuk mengubah orang lain.

Kalau hanya membuat hiruk-pikuk kebaktian, banyak gereja punya kemampuan itu. Tapi kita mau menjadi gerakan yang benar-benar mengubah. Ketika kita bertumbuh dalam karakter, dalam kedekatan dengan Tuhan, menjadi orang yang semakin serupa dengan Yesus, dan punya kestabilan karakter, maka Tuhan bisa memercayakan perasaan-Nya kepada kita. Tuhan tidak akan memercayakan perasaan-Nya kepada orang yang tidak layak ditulari perasaan-Nya. Kita menjadi bejana-Nya seutuhnya, artinya biar ruangan hati kita dipenuhi oleh hati-Nya, dipenuhi oleh perasaan-Nya, supaya kita merasakan yang Tuhan rasakan. Seperti Yesus menangisi Yerusalem, kita ingin punya hati seperti itu, yang bisa menangisi jiwa- jiwa. Bukan basa-basi, tapi hati yang sungguh mengasihi jiwa-jiwa. Ini bukan soal aktivitas pelayanan semata, melainkan jiwa-jiwa yang harus diungsikan dari kegelapan.

Tuhan Yesus memberkati
Pdt. Dr. Erastus Sabdono

KITA HARUS PUNYA STABILITAS KARAKTER YANG TIDAK BISA JATUH LAGI DAN ITU PERLU WAKTU.

Card image
Bacaan Alkitab Setahun - 15 Juli 2024
2024-07-15 12:38:19

Yesaya 13-17

Card image
Truth Kids 14 Juli 2024 - BUAH KESABARAN
2024-07-14 18:11:51


2 Tesalonika 2:15
”Sebab itu, berdirilah teguh dan berpeganglah pada ajaran-ajaran yang kamu terima dari kami, baik secara lisan, maupun secara tertulis.”

Doni menginginkan sepeda baru. Saat ia menyampaikan keinginannya ke papanya, papanya hanya bilang, "Iya, berdoa dulu, ya." Doni hanya menganggukkan kepalanya. Setiap malam ia berdoa supaya mendapatkan sepeda baru. Seminggu, sebulan, dua bulan, tiga bulan berlalu seolah-olah doa Doni tidak ada jawaban karena tidak ada tanda-tanda papanya membelikan sepeda baru.

Doni tidak marah dan mengeluh, tetapi ia tetap sabar dan tetap tekun berdoa. Suatu hari, datanglah kakek dan neneknya dari Bandung. Tanpa disangka-sangka, saat keluar dari mobil, mereka membawa sebuah sepeda. Sepeda itu untuk Doni. Ia pun merasa sangat bahagia.

Sobat Kids, kita dapat belajar dari Doni yang memiliki kesabaran untuk menantikan keinginannya. Ia tidak memaksakan keinginannya, tetapi ia belajar untuk sabar. Walaupun kita tidak langsung mendapatkan keinginan kita, jangan sedih, ya, Sobat Kids. Memang terkadang keinginan kita tidak selalu dipenuhi. Yang penting kita tetap berpegang pada ajaran-ajaran yang telah kita terima, sesuai firman Tuhan. Jika kita tetap bertingkah laku sesuai firman Tuhan, maka kita akan mendapatkan hasil dari kesabaran kita.

Card image
Truth Junior 14 Juli 2024 - ALBERT EINSTEIN
2024-07-14 18:09:45


2 Tesalonika 2:15
”Sebab itu, berdirilah teguh dan berpeganglah pada ajaran-ajaran yang kamu terima dari kami, baik secara lisan, maupun secara tertulis.”

Apakah Sobat Junior pernah mendengar nama Albert Einstein? Albert Einstein adalah ilmuwan jenius yang banyak berkontribusi dalam bidang fisika. Memang saat di Sekolah Dasar, kalian belum belajar tentang fisika. Tetapi nanti saat SMP, kalian akan mempelajari pelajaran fisika. Albert Einstein menemukan teori-teori yang belum pernah dipikirkan ilmuwan lainnya di masa itu. Sayangnya, dia memiliki masa kecil yang menyedihkan.

Hingga berusia 4 tahun, Albert Einstein belum dapat berbicara. Namun, kesabaran sang ibu mendidik Einstein kecil, membuahkan hasil hingga menjadi ilmuwan terkenal di seluruh dunia. Sang ibu dengan sabar melatih Einstein mengucapkan kata demi kata. Bukan hanya kesulitan berbicara, saat di sekolah pun Einstein memiliki nilai yang kurang bagus. Pada masa-masa sulit seperti itu, sang ibu selalu memberikan semangat. Ibunya percaya Einstein memiliki sesuatu yang hebat dan akan menjadi orang yang hebat. Contoh kesabaran ibunya membuat Einstein menjadi orang yang juga sabar ketika di-bully teman sekolahnya.

Sobat Junior, jika kita berpegang pada ajaran-ajaran yang telah diajarkan orang tua dan Tuhan melalui firman-Nya, kita dapat berdiri teguh walaupun orang menghina kita. Kita tidak usah membalas; sabar saja. Kita tunjukkan dengan bukti dari kerja keras kita. Berdoalah minta penyertaan Roh Kudus sehingga kita menjadi anak Allah yang memiliki kesabaran dan kepandaian.

Card image
Truth Youth 14 Juli 2024 - A GLASS OF BLACK COFFEE
2024-07-14 18:08:19


"How can a young person stay on the path of purity? By living according to Your word." (Psalm 119:9)

How can one transform a glass of black coffee into clear, pure water without discarding the coffee and refilling it with fresh water? One of the most effective methods is to pour a substantial amount of clean water into the glass of coffee until the coffee's color fades, effectively replacing the coffee with clean water. The amount of clean water needed to achieve this must be significantly greater than the amount of coffee, approximately a ratio of one to ten. Thus, a glass of coffee is eventually replaced with a glass of pure water.

From the above illustration, we learn that to eliminate something negative, a tremendous effort or greater positive actions are required. Negative elements have a significant impact and must be countered with something much stronger. In the context of maintaining a life of holiness free from impurity such as sin, one must work diligently to truly preserve their purity. Sin inherently causes individuals to behave in ways that harm others and themselves through destructive actions.

We must recognize the signs around us and identify individuals who have the potential to damage our lives and who live detrimentally towards others. Simultaneously, we must strive to maintain our own sanctity, ensuring we do not become sources of harm to others. One effective way to sustain a holy life is by becoming familiar with God's Word. This practice enables us to be attuned to God's voice rather than the voices of others or our own thoughts. Understanding God's Word illuminates truth, as His Word is a light in the darkness.

WHAT TO DO:
1. Read the Bible as an initial step towards understanding God's will.
2. Be sensitive to His voice to comprehend the true essence of truth.

BIBLE MARATHON:
▪ Song of Solomon 1-4

Card image
Truth Youth 14 Juli 2024 - SEGELAS KOPI HITAM
2024-07-14 19:56:50


”Dengan apakah seorang muda mempertahankan kelakuannya bersih? Dengan menjaganya sesuai dengan firman-Mu.” (Mazmur 119:9)

Bagaimana caranya mengubah segelas kopi hitam menjadi air yang putih bersih tanpa air tersebut dibuang dan diisi dengan air bersih yang baru? Salah satu cara terampuh adalah dengan menuang begitu banyak air putih bersih ke dalam segelas kopi itu, hingga warna kopi tersebut memudar alias dengan sendirinya segelas kopi digantikan dengan segelas air putih. Jumlah air putih yang perlu dituang ke dalam segelas kopi harus jauh lebih banyak daripada segelas kopi tersebut, kurang lebih satu banding sepuluh. Dengan demikian, segelas kopi kini tergantikan dengan segelas air putih yang bersih.

Dari ilustrasi di atas, kita belajar bahwa untuk menghilangkan sesuatu yang buruk, diperlukan kerja keras atau usaha yang lebih besar dalam melakukan hal-hal yang baik. Sebab, segala sesuatu yang buruk, tentu sebelumnya telah berdampak besar sehingga harus dihilangkan oleh sesuatu yang jauh lebih besar. Dalam konteks menjaga kekudusan hidup dari segala hal najis seperti dosa, manusia memerlukan kerja keras yang sungguh untuk dapat benar-benar mempertahankan kekudusan hidupnya. Di dalam dosa, secara tidak langsung manusia berperilaku merugikan orang lain, yaitu perilaku-perilaku destruktif yang merusak orang lain, bahkan dirinya sendiri.

Kita harus mengenali tanda-tanda di sekitar kita, siapa saja orang-orang yang berpotensi merusak hidup kita yang hidupnya merugikan orang lain. Namun, kita juga harus berusaha untuk tetap menjaga kekudusan hidup. Jangan sampai justru kita yang menjadi perusak hidup orang lain. Tentunya, salah satu cara menjaga hidup dalam kekudusan adalah dengan mengenali firman Tuhan. Hal ini dilakukan agar kita dapat peka dengan suara Tuhan, bukan dengan suara orang lain atau pikiran kita sendiri. Mengenal firman Tuhan membuat kita mengerti kebenaran, sebab firman-Nya adalah pelita di dalam kegelapan.

WHAT TO DO:
1.Membaca Alkitab sebagai langkah awal mengenal kehendak Tuhan.
2.Peka dengan suara- Nya, agar kita mengerti kebenaran yang sejati.

BIBLE MARATHON:
▪︎ Kidung Agung 1-4

Card image
Renungan Pagi - 14 Juli 2024
2024-07-14 18:02:30


Sebagai manusia, buatan tangan Allah, kita diciptakan bukan asal diciptakan tetapi diciptakan dengan maksud dan tujuan yang mulia. "Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalam-Nya." Karena itu, janganlah memperlakukan tubuh dengan sembarangan dan suka-suka kita.

Karena setiap bagian dalam tubuh adalah berharga dan menjadi alat Tuhan untuk memuliakan nama-Nya. Kita diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan perbuatan baik yang dipersiapkan Allah sebelumnya dan DIA ingin kita hidup di dalamnya.
(Efesus 2:10)

Card image
SOUL FISHER - 14Juli 2024 (English Version)
2024-07-14 17:03:28


In the Gospel of Matthew 16:26, the word of God says, "What good will it be for someone to gain the whole world, yet forfeit their soul?" This means, what is the use of having wealth, position, honor, or anything in the highest amount or quantity one can achieve, but being lost forever. And this is very logical. Even if someone possesses everything the world can offer, if it's only for 70, 80, or 100 years, it means nothing. Especially if after that, they are cast into eternal fire. So, the soul, which is the same as life, is more valuable than all the wealth on this earth.

When the word of God says, "Your loving kindness is better than life," it means the salvation that God gives is more valuable than the life that humans have on this earth. In this regard, there is something important that we must understand: the human soul is very precious. That is why Luke 15:7, 10 says, "I tell you that in the same way there will be more rejoicing in heaven over one sinner who repents than over ninety-nine righteous persons who do not need to repent." Certainly, the angels in heaven would not rejoice if the owner of heaven, God, did not rejoice. This verse shows or indicates that what happens on this earth—regarding the salvation of a person—can move and affect the feelings of God. Because one soul is precious.

So how noble is God's work that results in the salvation of souls. Certainly, salvation here is not just making a person a Christian, but truly becoming someone who is changed, from someone with a human nature to someone with a divine nature. From someone who cannot be enjoyed by God to someone who can be enjoyed by God. From someone who grieves the heart of God to someone who pleases the heart of God. Merely becoming a church member and filling the church does not make the angels in heaven rejoice. But to repent here, metanoia, means experiencing change, becoming worthy to be children of God, in the state of being children of God, and worthy of being members of the family of the Kingdom of Heaven.

Who are the people who can become fishers of souls? Certainly, those who have settled their own salvation. They must be able to understand the value of the soul. They must have reached the fear of being separated from God. And that fear must begin here on earth. When our relationship with God is not close, not intimate, not loving, then we should genuinely feel disturbed, troubled. However, many people do not consider this. They do not seriously address their relationship with God, whether it is proper or not. Or we consider it, but measure it with the wrong standards. We do not see it from God’s perspective. The depth and height must be according to what God desires.

Is our relationship with God satisfying His heart? We will not be able to become fishers of souls without properly discussing the quality of our relationship with God. When we meet with God, the light of God’s holiness opens our minds to recognize our true condition according to God, not according to ourselves. When we do not maintain God’s feelings, where this can happen in our lives, surely we do not have the proper reverence, not fearing God correctly. Our minds are only preoccupied with many things. We should be concerned with this, "Whatever happens, Lord, as long as my relationship with You is good and right. If it is not right, forgive me. Show me where I am wrong, Lord. Anything can happen, but don't let me fail to place myself appropriately and correctly in Your eyes.”

Separation from God should be felt from now. Therefore, do not be content just being a Christian who goes to church. Ironically, those who are most damaged are sometimes the activists and pastors, worship leaders, singers, musicians, and those active in ministry because they feel they are already in the church, though that does not guarantee closeness to God. Hence, we must already see hell before we die, the horror of being separated from God. But also see heaven, the beauty of glory with God. After we question our condition so that we continue to be in fellowship with God, then we want other people to also enter into this fellowship as well.

WE WILL NOT BE ABLE TO BECOME FISHERS OF SOULS WITHOUT PROPERLY DISCUSSING THE QUALITY OF OUR RELATIONSHIP WITH GOD.

Card image
PENJALA JIWA - 14 Juli 2024
2024-07-14 17:07:17


Di Injil Matius 16:26, firman Tuhan mengatakan, "Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya?" Maksudnya adalah, apa gunanya orang memiliki kekayaan, kedudukan, kehormatan, atau apa pun dalam jumlah tertinggi atau jumlah paling banyak yang bisa diraih, tetapi terhilang selama-lamanya. Dan ini sangat logis. Walaupun seseorang memiliki semua yang dunia bisa berikan, tetapi kalau hanya 70, 80, atau 100 tahun, tidak ada artinya. Apalagi kalau setelah itu terbuang ke dalam api kekal. Jadi, nyawa yang sama dengan jiwa atau kehidupan, itu lebih dari seluruh kekayaan di bumi ini.

Ketika firman Tuhan mengatakan, "Kemurahan-Mu lebih dari hidup," berarti keselamatan yang Tuhan berikan lebih dari kehidupan yang dimiliki manusia di bumi ini. Dalam hal ini, ada satu yang penting yang harus kita hayati bahwa jiwa manusia itu sangat berharga. Itulah sebabnya di Lukas 15:7,10 dikatakan, "Kalau ada satu orang bertobat, malaikat di surga pun bersukacita." Tentu, malaikat-malaikat tidak mungkin bersukacita kalau Allah pemilik surga tidak bersukacita. Ayat itu menunjukkan atau mengindikasikan bahwa apa yang terjadi di bumi ini—terkait dengan keselamatan seseorang—bisa menggerakkan dan memengaruhi perasaan Allah. Karena satu jiwa itu berharga.

Jadi betapa mulianya pekerjaan Tuhan yang menghasilkan keselamatan jiwa. Tentu keselamatan di sini bukan hanya membuat orang beragama Kristen, melainkan benar-benar menjadi seorang yang diubahkan, dari seorang yang berkodrat manusia menjadi seorang yang berkodrat ilahi. Dari seorang yang tidak bisa dinikmati oleh Allah menjadi seorang yang bisa dinikmati oleh Allah. Dari seorang yang mendukakan hati Allah menjadi seorang yang menyukakan hati Allah. Kalau hanya menjadi anggota gereja dan memenuhi gereja, belumlah membuat malaikat di surga bersorak-sorai. Tapi bertobat di sini, metanoia, artinya mengalami perubahan, layak menjadi anak-anak Allah, berkeadaan sebagai anak-anak Allah, layak menjadi anggota keluarga Kerajaan Surga.

Siapakah orang-orang yang bisa menjadi penjala-penjala jiwa ini? Tentu orang yang sudah memperkarakan keselamatannya sendiri. Dia harus bisa mengerti nilai jiwa. Dia harus sudah sampai pada kegentaran terpisah dari Allah. Dan kegentaran itu harus dimulai sejak di bumi. Ketika hubungan kita dengan Tuhan tidak akrab, tidak intim, tidak mesra, maka sejatinya kita terganggu, susah. Namun, banyak orang tidak memperkarakan itu. Dia tidak sungguh-sungguh membawa persoalan hubungannya dengan Tuhan, apakah sudah proper atau tidak. Atau kita memperkarakannya, namun kita mengukur dengan ukuran yang salah. Kita tidak melihat ukuran Tuhan. Kedalaman dan ketinggiannya harus sesuai dengan yang Allah kehendaki.

Apakah hubungan kita dengan Tuhan sudah memuaskan hati-Nya? Kita tidak akan bisa menjadi penjala jiwa tanpa memperkarakan hal kualitas hubungan kita dengan Tuhan secara benar. Ketika kita berjumpa dengan Tuhan, terang kesucian Allah itu membuka pikiran kita untuk bisa mengenali keadaan kita yang sebenarnya menurut Tuhan, bukan menurut kita. Saat kita tidak menjaga perasaan Tuhan, di mana hal ini bisa terjadi dalam hidup kita, pasti kita tidak punya kegentaran yang patut, tidak takut akan Allah secara benar. Pikiran kita hanya disibukkan dengan banyak hal. Mestinya kita mempersoalkan ini, “Apa pun yang terjadi, Tuhan, asal hubunganku dengan Engkau baik dan benar. Jika kurang benar, ampunilah aku. Beri tahu di mana salahku, Tuhan. Apa pun bisa terjadi, tapi jangan sampai aku tidak menempatkan diriku secara tepat dan benar di mata-Mu.”

Keterpisahan dengan Allah itu mestinya bisa dirasakan sejak kita sekarang ini. Maka, jangan puas hanya menjadi orang Kristen yang datang ke gereja. Ironis, yang paling rusak kadang-kadang justru aktivis dan pendeta, worship leader, singer, pemain musik, dan yang aktif dalam pelayanan karena mereka merasa sudah ada di dalam gereja, padahal itu tidak menjamin kedekatan dengan Tuhan. Maka kita harus sudah melihat neraka sebelum kita mati, mengerikannya terpisah dari Allah. Tapi juga melihat surga, indahnya kemuliaan bersama Tuhan. Setelah kita mempersoalkan keadaan diri kita supaya kita terus ada di dalam persekutuan dengan Allah, barulah kita mau orang lain juga masuk ke dalam persekutuan ini.

Tuhan Yesus memberkati
Pdt. Dr. Erastus Sabdono

KITA TIDAK AKAN BISA MENJADI PENJALA JIWA TANPA MEMPERKARAKAN HAL KUALITAS HUBUNGAN KITA DENGAN TUHAN SECARA BENAR.

Card image
Bacaan Alkitab Setahun - 14 Juli 2024
2024-07-14 10:16:13

2 Tawarikh 28
2 Raja-raja 16-17

Card image
Truth Kids 13 Juli 2024 - MEMPERTAHANKAN KEBENARAN
2024-07-13 18:01:02


2 Timotius 1:13
”Peganglah segala sesuatu yang telah engkau dengar dari padaku sebagai contoh ajaran yang sehat dan lakukanlah itu dalam iman dan kasih dalam Kristus Yesus.”

Di antara kita, pasti ada yang memiliki banyak teman. Teman-teman kita tentunya berbeda- beda. Bisa jadi, ada teman kita yang memiliki sifat tidak baik. Seperti Edward yang memiliki teman Teo. Mereka sering bermain berdua. Namun, Teo berubah menjadi anak yang sulit diatur. Dia jadi suka berkata-kata kasar kepada teman-temannya.

Suatu hari, Teo melihat Ana membawa nasi goreng dan ayam goreng. Ana meletakkan makanannya di meja dan pergi sebentar untuk mencuci tangan. "Hmmm, aku jadi ingin nasi goreng dan ayam goreng Ana," gumam Teo dalam hati. Teo mengajak Edward untuk mengambil makanan Ana. "Ayo, Edward! Kita ambil saja makanannya Ana." Namun, Edward menjawab, "Aku tidak mau, ah. Itu dosa, Teo. Kita tidak boleh mengambil milik teman."

Teo kecewa dan berkata, "Ya, sudahlah kalau kamu tidak mau mengambil makanan Ana. Mulai sekarang kita tidak usah berteman lagi, Edward!" Saat itu Edward bingung dan sedih. Dia masih ingin berteman dengan Teo, tetapi tidak mau mengambil milik Ana.

Sobat Kids, terkadang ada teman yang mengajak kita berbuat dan berkata tidak baik. Walaupun kita menyayangi teman kita, namun ketika teman kita melakukan hal yang tidak baik, jangan ikut mereka, ya! Kita juga harus tetap menjaga perbuatan kita supaya menyenangkan hati Tuhan.

Card image
Truth Junior 13 Juli 2024 - BERSABARLAH DALAM KEBENARAN
2024-07-13 17:55:25


2 Timotius 1:13
”Peganglah segala sesuatu yang telah engkau dengar dari padaku sebagai contoh ajaran yang sehat dan lakukanlah itu dalam iman dan kasih dalam Kristus Yesus.”

Sobat Junior, tahu tidak, bahwa kadang kebenaran belum tentu dipercaya dengan cepat oleh orang lain? Terkadang manusia melihat orang yang mengatakan suatu pernyataan tersebut. Contohnya Budi yang difitnah, padahal Budi tidak melakukan kesalahan. Namun, karena banyak orang yang menuduh Budi melakukan kesalahan, maka Budi dianggap bersalah. Banyak orang menjadi tidak percaya kepada Budi.

Hal ini yang terjadi terhadap Yusuf. Yusuf pernah difitnah dan dituduh oleh istri Potifar bahwa ia mengganggunya. Padahal, istri Potifarlah yang menggoda Yusuf. Karena Yusuf tidak mau, maka istri Potifar berkata bohong tentang Yusuf. Potifar pun lebih mendengar perkataan istrinya daripada Yusuf. Akhirnya, Yusuf pun diberikan hukuman. Namun, apakah Yusuf marah dengan Potifar? Tidak, Yusuf tidak marah, meskipun ia harus dimasukkan dalam penjara. Yusuf memiliki hati yang sabar dan takut akan Tuhan. Tuhan pun menyertai Yusuf saat di dalam penjara. Tuhan pun melimpahkan kasih setia-Nya kepada Yusuf sehingga Yusuf menjadi kesayangan kepala penjara. Kepala penjara memercayakan semua tahanan yang ada dalam penjara kepada Yusuf.

Dari kisah Yusuf ini, kita belajar bahwa kadang kebenaran akan kalah dengan hal yang tidak benar. Maka dari itu, kita harus tetap bersabar dan menaruh semua hal yang terjadi kepada Tuhan, sebab hanya Tuhan yang dapat menolong dengan cara-Nya yang tidak pernah kita tahu. Jadi, yuk, belajar terus sabar!

Card image
Truth Youth 13 Juli 2024 (English Version) - GOOD SUPPORT SYSTEM
2024-07-13 17:51:03


"A new command I give you: Love one another. As I have loved you, so you must love one another." (John 13:34)

Many large, successful companies that endure over time do so not merely due to the efforts of one individual, nor solely because of the brilliance of their owner. What is the key? It lies in the company's structured workflow and its robust support system comprising the team and staff. Similarly, in our lives, we can conquer various aspects because we walk with God, who also sends us a good support system such as family and close friends to guard and comfort us according to our needs.

The foremost and frequently heard command of the Lord is about love. The concept of love is vast, yet often challenging to apply in every aspect of our lives. Jesus teaches us extensively about loving ourselves, loving others, and even loving our enemies, exemplified by His own love for us. This extends to our relationships within our circle of friends. Particularly in the context of spiritual friends, our faith should be sharpened day by day, guiding us closer to God regardless of the situations we face.

When we have a good support system, our lives feel lighter because we do not feel alone in our journey. When we stray, friends help us find our way back; when we are troubled, friends continue to love and provide us with comfort and encouragement to rise again, rather than abandoning us. Thus, when we have spiritually healthy friendships, our spiritual growth is nurtured.

WHAT TO DO:
Choose and discern who can be part of your support system.

BIBLE MARATHON:
▪ Ecclesiastes 9-12

Card image
Truth Youth 13 Juli 2024 - GOOD SUPPORT SYSTEM
2024-07-13 17:49:02


”Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi.” (Yohanes 13:34)

Banyak perusahaan besar yang sukses dan bisa bertahan lama, bukan karena hasil kerja satu orang saja, juga bukan karena seberapa hebat pemilik perusahaannya. Tapi apa? Karena sistem kerja perusahaan yang teratur dan support system perusahaan tersebut yaitu tim dan para stafnya. Begitu pun dengan kehidupan kita. Kita bisa menaklukkan segala aspek kehidupan kita karena kita berjalan bersama Tuhan, dan karena Tuhan juga mengirimkan kita support system yang baik seperti keluarga dan teman dekat untuk menjadi pagar dan menghibur sesuai kondisi kita.

Perintah Tuhan yang pertama dan terutama dan yang sering kali kita dengar adalah tentang kasih. Hal mengasihi ini begitu luas, namun terkadang susah juga untuk dipraktikkan dalam segala aspek kehidupan kita. Tuhan Yesus banyak mengajarkan kita tentang mengasihi diri sendiri, mengasihi sesama, bahkan mengasihi musuh kita, seperti teladan Yesus yang terdahulu mengasihi kita. Begitu pun dengan hubungan kita dalam lingkungan pertemanan kita. Apalagi dalam konteks teman rohani, seharusnya semakin hari kita semakin menajamkan iman, semakin hari semakin mengarahkan kita untuk dekat dengan Tuhan, apa pun situasi yang sedang kita alami.

Saat kita memiliki good support system, hidup kita serasa lebih ringan karena kita merasa tidak sendirian dalam menjalani hidup. Saat jalan kita serong, ada teman-teman yang membantu meluruskan jalan kita kembali; saat kita berkesusahan, ada teman-teman yang tetap mengasihi dan memberikan kita penghiburan serta semangat untuk bangkit kembali, bukan malah meninggalkan kita. Oleh karena itu, saat kita memiliki pertemanan yang sehat secara kerohanian, kita bisa semakin bertumbuh dalam kerohanian kita.

WHAT TO DO:
Memilih dan memilah siapa saja yang bisa menjadi support system kita

BIBLE MARATHON:
▪︎ Pengkotbah 9-12

Card image
Renungan Pagi - 13 Juli 1024
2024-07-13 13:36:15


Panggilan dan tugas masing-masing memang berbeda, sesuai dengan kemampuan yang kita maksimalkan untuk melayani Tuhan. Namun dimanapun ditempatkan Tuhan, kita harus mempermuliakan nama Tuhan Yesus Kristus, harus menjadi berkat bagi sesama.

"Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang. Kamu adalah terang dunia, Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi. Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga."

Kita harus menjadi garam dan terang, membawa damai sejahtera, melakukan kehendak Bapa dan menyelesaikan pekerjaan-Nya, serta menghadirkan suasana sorga sehingga dimanapun berada, orang dapat merasakan kasih karunia Kristus.
(Matius 5:13-14,16)

Card image
Quote Of The Day - 13 Juli 2024 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2024-07-13 13:34:36


Orang yang lemah lembut adalah orang yang rela diperlakukan tidak adil atau orang yang rela dilukai.

Card image
Mutiara Suara Kebenaran - 13 Juli 2024 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2024-07-13 13:33:30


Karena orang memandang bahwa kehidupan seperti Yesus mustahil dicapai, maka orang tidak memiliki gairah dan usaha yang sepatutnya untuk mencapai kehidupan seperti yang Allah kehendaki.

Card image
LIVING BECOMES A WITNESS - 13 Juli 2024 (English Version)
2024-07-13 13:25:37


A phrase we have surely heard—that the sermon delivered from the church pulpit with words is not as powerful as the sermon delivered through deeds in the pulpit of life—is a reminder that there is a pulpit of life that we surely navigate every day. Our words, actions, and decisions, in fact speak volumes. That is, people see and capture messages from events and occurrences in our lives, which inevitably have an impact or consequence. When Jesus said in the Gospel of Matthew 5 that we are the light of the world, it means we surely shine, shining light on people. And from our lives shining light on others will definitely have an impact. Light exposes sin, reveals mistakes, and teaches truth and holiness, which is what we must do.

That is what we must live out, as stated in Acts 1:8, where Jesus said, "But you will receive power when the Holy Spirit comes on you; and you will be my witnesses in Jerusalem, and in all Judea and Samaria, and to the ends of the earth." This means that our lives prove that Jesus Christ is truly Lord and Savior. It is not just about speaking words or sentences in the form of sermons, seminars, or debates, but our actions prove the truth of the Gospel. This is the responsibility of each of us. Our lives are the Gospel proclaimed in and through our actions. With such a life, we change people, starting with changing our families.

People often ask for prayers for their spouses or children. How can we pray for someone and expect them to change quickly, when they have been influenced by their environment for many years? Of course, we believe in God's power to restore, but let's not forget our responsibility. Husbands and wives must raise their children in the fear of God. If parents have hearts that fear God, this attitude will be imparted to their children. But parents who neglect their children's spiritual lives, or who constantly fight and argue, should not be surprised if their children seek out places where they can find what they perceive as happiness.

Without much talking, parents' actions are a powerful sermon that changes their children's character. Ideally, the father, the head of the household, often referred to as the priest, should exemplify a good life for his children and wife. This will transform family life. If parents, especially fathers, truly embody the life of Jesus, then as followers of Jesus, we already witness God's glory here on earth. This is what we must do. It does not require a high level of education, wealth, or appearances valued by society, but rather how our lives serve as witnesses by reflecting the life of Jesus. Jesus' life was without blemish, did not hurt anyone, was generous, and willing to help. Such a life radiates God's glory.

Let us change so that we can radiate God's glory. Jesus is the image of God radiating God's glory. But since Jesus has ascended to heaven, so now we are the ones who radiate God's glory. And this is not just temporary, but forever, just as Jesus becomes God's faithful witness forever. Therefore, we cannot help but truly become great and noble human beings. Becoming a preacher is not difficult, although it is not easy either. But preaching through our actions is extraordinarily difficult. Preaching correctly, which changes people, requires constant practice, in every second of our lives, along with our personal transformation. As our behavior changes becomes more perfect and holy, our ability to change others grows stronger. That's extraordinary, our impact on changing people is even greater.

So, let us become believers who change, so that our impact will be stronger in changing people. We must truly understand that we have a responsibility to save those around us. For parents, must save their families, especially their children, and extending to the family environment. If someone is a servant of God or a pastor, they must save their congregation. We cannot expect the congregation to enter heaven through transformed lives if the pastor himself has not experienced significant change. Remember, the devil will try to stop the pace of our life's journey so that it doesn't become a blessing by all means to bring us down. But we must remain strong in the Lord, we must be steadfast. Whatever happens, we must continue to live in prayer, for only in this way can we be protected.

OUR LIVES ARE THE GOSPEL PROCLAIMED IN AND THROUGH OUR ACTIONS.

Card image
HIDUP MENJADI SAKSI - 13 Juli 2024
2024-07-15 14:24:21


Kalimat yang pasti pernah kita dengar—bahwa khotbah yang disampaikan lewat mimbar gereja dengan suara tidak lebih kuat dari khotbah yang disampaikan melalui perbuatan di mimbar kehidupan—merupakan suatu peringatan ada mimbar kehidupan yang pasti kita arungi setiap hari. Perkataan, perbuatan, dan keputusan dari pilihan-pilihan kita, ternyata itu bersuara. Artinya, orang melihat dan menangkap pesan dari kejadian, peristiwa yang berlangsung melalui dan di dalam hidup kita. Dan itu pasti memiliki dampak atau akibat. Kalau Tuhan Yesus berkata di Injil Matius 5 bahwa kita adalah terang dunia, artinya pasti kita bercahaya, menyinari orang. Dan dari kehidupan kita yang menerangi orang tersebut pasti membawa dampak. Terang membuat dosa tersingkap, kesalahan terbuka, dan terang mengajarkan kebenaran dan kesucian, dan itulah yang harus kita lakukan.

Itu yang harus kita jalani, sebab seperti yang dikatakan dalam Kisah Rasul 1:8, Yesus yang berkata, "Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi." Artinya kehidupan kita membuktikan bahwa Yesus Kristus benar Tuhan dan Juruselamat. Jadi bukan hanya mengucapkan kata-kata atau kalimat dalam bentuk khotbah, seminar, atau perdebatan-perdebatan, melainkan perbuatan kita membuktikan kebenaran Injil. Dan ini menjadi tanggung jawab dari setiap kita. Hidup kita merupakan Injil yang diberitakan di dalam dan melalui perbuatan kita. Dengan kehidupan seperti ini kita mengubah orang, dimulai dari mengubah keluarga kita.

Sering orang minta untuk mendoakan pasangannya atau anak-anaknya. Bagaimana bisa mendoakan orang dan mengharapkan orang itu berubah dalam waktu singkat, sementara orang tersebut sudah dirusak oleh lingkungan selama belasan sampai puluhan tahun? Tentu kita percaya ada kuasa Tuhan yang bisa memulihkan, tapi jangan lupa tanggung jawab kita. Suami istri harus membesarkan anak dalam takut akan Allah. Kalau orang tua memiliki hati yang takut akan Allah, maka sifat dan sikap orang tua ini akan tertular ke anak. Tapi orang tua yang tidak memperhatikan kehidupan rohani anak-anaknya, bahkan orang tua saling cakar- mencakar atau ribut, maka tidak heran jika anak-anak keluar rumah mencari tempat di mana dia dapat menemukan kehidupan yang menurut dirinya bahagia.

Tanpa banyak bicara, perbuatan orang tua merupakan khotbah yang kuat yang mengubah karakter anak-anak. Mestinya, idealnya laki-laki, bapak rumah tangga yang orang sebut sebagai imam, yang harus menunjukkan teladan hidup yang baik; bagi anak-anak dan bagi istri. Dan itu akan mengubah kehidupan rumah tangga. Kalau memang sungguh-sungguh orang tua, dalam hal ini ayah atau bapak, bisa menampilkan kehidupan Yesus, maka sebagai pengikut-pengikut Yesus, sejak di bumi kita sudah menyaksikan kemuliaan Allah. Ini yang harus kita lakukan. Tidak harus memiliki pendidikan tinggi, memiliki uang, atau memiliki penampilan yang nilainya lebih di mata manusia tapi bagaimana kehidupan kita menjadi saksi, yaitu ketika kita menampilkan kehidupan Yesus. Kehidupan Yesus adalah kehidupan yang tidak bercacat tidak bercela, tidak melukai siapa pun, murah hati, suka menolong. Kehidupan seperti inilah yang memancarkan kemuliaan Allah.

Mari kita berubah agar kita bisa memancarkan kemuliaan Allah. Yesus merupakan gambar Allah yang memancarkan kemuliaan Allah. Tapi Yesus sudah naik ke surga, maka sekarang kita yang memancarkan kemuliaan Allah. Dan itu bukan hanya sementara, namun selamanya, seperti Yesus menjadi saksi setia Allah selamanya. Oleh sebab itu, tidak bisa tidak, kita harus benar-benar menjadi manusia yang agung dan mulia. Menjadi pengkhotbah itu tidak sulit, walaupun juga tidak mudah. Tetapi khotbah yang kita lakukan di dalam dan melalui perbuatan itu tidak mudah, luar biasa sulitnya. Sebab berkhotbah yang benar, yang mengubah orang, latihannya per detik, seiring dengan perubahan hidup kita. Ketika perilaku kita berubah menjadi makin sempurna, makin kudus, maka kekuatan kita mengubah orang makin besar. Itu luar biasa, dampak kita mengubah orang makin besar.

Jadi, mari kita menjadi orang percaya yang berubah, agar dampak kita makin kuat mengubah orang. Sekarang kita harus benar-benar mengerti bahwa kita memiliki tanggung jawab untuk menyelamatkan orang di sekitar kita. Bagi orang tua, harus menyelamatkan keluarganya, pasti anak-anaknya, lalu keluar sampai lingkungan keluarga besar. Kalau seorang hamba Tuhan atau pendeta harus menyelamatkan jemaat. Jangan berharap jemaat masuk surga melalui kehidupan yang diubah kalau pendetanya sendiri belum mengalami perubahan yang signifikan. Tapi ingat, Iblis akan berusaha menghentikan laju perjalanan hidup kita supaya tidak menjadi berkat dengan segala cara untuk menjatuhkan kita. Tetapi kita harus terus kuat di dalam Tuhan, harus teguh. Apa pun yang terjadi, kita harus terus hidup dalam doa, sebab hanya dengan demikian kita bisa terlindungi.

Tuhan Yesus memberkati
Pdt. Dr. Erastus Sabdono

HIDUP KITA MERUPAKAN INJIL YANG DIBERITAKAN DI DALAM DAN MELALUI PERBUATAN KITA.

Card image
Bacaan Alkitab Setahun - 13 Juli 2024
2024-07-13 07:18:40

Mikha 1-7

Card image
Truth Kids 12 Juli 2024 - TETAP BERSABAR
2024-07-12 12:48:58


Roma 12:12
”Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan, dan bertekunlah dalam doa!”

Sepulang dari sekolah, Audi menemui mama dan bertanya, "Mama, tadi Ibu Guru bercerita tentang kebaikan dan kesabaran. Kita harus menjadi anak yang baik dan selalu melakukan perbuatan yang baik serta bersabar dalam keadaan. Kenapa sih, kita harus baik dan sabar? Kadang Audi sudah berbuat baik, tetapi tidak dihiraukan teman, bahkan dibalas dengan kejahatan. Capek tahu, Ma. Joko tidak pernah berbuat baik dan selalu saja jail sama teman, tetapi masih banyak teman, kok. Apa bedanya berbuat baik sama dengan berbuat jahat, Ma?"

Mama menjawab dengan lembut, "Audi, kita berbuat baik dan bersabar bukan untuk dilihat dan dirasakan orang. Kita berbuat baik dan memiliki sifat sabar karena kita tahu yang benar, yang harus kita lakukan. Berbuat baik itu bukan juga untuk mencari teman."

"Lalu kenapa kita harus bersabar, padahal ada teman yang memang sangat jail?" lanjut Audi bertanya. "Perbuatan baik dan bersabar itu dikehendaki oleh Tuhan. Tuhan sudah mengajari kita terlebih dahulu. Tuhan adalah teladan kita. Kita berbuat baik karena kita mengasihi Tuhan, dan itu menyenangkan hati Tuhan," jelas Mama kepada Audi.

Sobat Kids, saat melakukan kehendak Tuhan, hati kita pun menjadi sukacita karena itu yang dikehendaki Tuhan. Teruslah menjadi anak yang baik dan bertekun dalam doa.

Card image
Truth Junior 12 Juli 2024 - HADAPI MASALAH DENGAN SABAR
2024-07-12 12:46:59


Roma 12:12
”Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan, dan bertekunlah dalam doa!”

Siapa kalau ada masalah, sering marah-marah atau lempar-lempar barang? Tentu hal itu sebaiknya kita hindari, ya, Sobat Junior. Hal itu tidak baik! Contohnya, ketika di sekolah kamu ada masalah dengan teman, apa yang akan kamu lakukan? Apakah berantem atau bicara dengan baik-baik? Tentu harus dibicarakan dengan baik-baik. Karena Firman Tuhan berkata dalam Roma 12:12, bahwa sabarlah dalam kesesakan, artinya apa pun masalah yang dihadapi, kita harus tetap bersabar dan berdoa. Perlu diingat, Sobat Junior, kita berdoa bukan hanya ketika ada masalah saja, melainkan juga harus berdoa setelah masalah kita selesai sebagai ucapan syukur kita.

Kalian ingat tidak, ketika Sadrakh, Mesakh, dan Abednego yang ditangkap karena tidak mengikuti perintah untuk menyembah raja? Mereka tetap sabar dan tidak marah-marah. Masalah yang mereka hadapi itu sangat besar karena berhubungan dengan nyawa. Mereka akan dimasukkan ke dalam dapur api! Namun, mereka tetap percaya kepada Tuhan sekalipun mereka tidak dibebaskan dari hukuman dapur api. Kita tahu bahwa akhirnya mereka selamat. Mereka tetap sabar dan tetap ingat sama Tuhan. Sebab mereka tahu bahwa Tuhan selalu menolong. Begitupun kita dalam menghadapi masalah, kita harus selalu bersabar. Yuk, belajar selalu bersabar.

Card image
Truth Youth 12 Juli 2024 (English Version) - BIRDS OF FEATHER FLOCK TOGETHER
2024-07-12 12:42:51


"If you love Me, keep My commands." (John 14:15)

Friendship is akin to birds flocking together and flying in unison. Birds of the same kind will flock together as a strategy to outwit predators. Similarly, this applies to us and our friendships. Let us examine the extent of the similarities between ourselves and our close friends. Typically, the traits and values of our close friends are not vastly different from our own. Before we assess whether we are in the right social circle, let us first examine ourselves.

From a young age and perhaps during fellowship meetings, we are often reminded to be cautious in choosing friends, as bad company corrupts good habits. Initially, we might not use coarse language, but if our environment frequently does so, we may eventually be influenced. Therefore, it is crucial to build our integrity as children of God, ensuring that we are the ones influencing our friends positively, rather than being influenced negatively. Once we understand our integrity as God's children, which involves obeying His commands, we will act in accordance with God's will. We will not bear to hurt God's heart. Consequently, our friendships will naturally be filtered. We will increasingly connect with friends who share our frequency in the Lord, rather than those who share worldly pleasures.

As we correct ourselves according to the principles of truth, we will discern which friends are beneficial and which ones lead us astray. It is essential to have a proper support system to help us during difficult times, challenges, and moments of happiness. A good friend will rejoice with us when we are happy, mourn with us when we are sad, and lovingly correct us when we err.

WHAT TO DO:
1. Learn to correct your values and integrity as children of God.
2. Learn to filter your friendships.

BIBLE MARATHON:
▪ Ecclesiastes 5-8

Card image
Truth Youth 12 Juli 2024 - BIRDS OF FEATHER FLOCK TOGETHER
2024-07-12 12:40:50


”Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku.” (Yohanes 14:15)

Lingkungan pertemanan seperti burung yang berkumpul, terbang bersama. Jenis burung yang sama akan terbang berkelompok sebagai strategi mengelabui musuh. Sama halnya dengan kita dan pertemanan kita. Coba kita cek, ada berapa banyak kesamaan antara kita dengan teman dekat kita? Biasanya tipe-tipe orang yang menjadi teman dekat kita, sifat dan value-nya tidak jauh berbeda dari kita. Sebelum kita menilai apakah kita sudah berada di lingkungan pertemanan yang benar, coba kita cek kembali diri kita sendiri.

Kita tahu bahwa sedari kecil dan mungkin di pertemuan komsel, kita sering diingatkan untuk hati-hati dalam memilih teman dan bergaul karena pergaulan yang buruk akan merusak kebiasaan yang baik. Yang tadinya kita tidak biasa berkata kasar, karena lingkungan kita sangat terbiasa berkata kasar, lambat laun kita bisa terpengaruh. Oleh karena itu, penting sekali untuk membangun integritas kita sebagai anak Allah, sehingga kitalah yang menggarami teman-teman kita, bukan digarami. Saat kita sudah tahu integritas kita sebagai anak Allah yaitu menaati perintah Allah, maka kita akan melakukan hal-hal yang sesuai dengan perintah Allah. Kita gak akan tega melukai hati Allah. Dengan sendirinya, pertemanan kita semakin terfilter. Kita semakin bisa connect dengan teman-teman sefrekuensi dalam Tuhan, bukan sefrekuensi dalam kesenangan dunia.

Saat kita sudah membenahi diri dengan benar sesuai dengan prinsip kebenaran, kita akan tahu teman mana yang baik dan mana yang menjerumuskan. Karena, adalah penting memiliki support system yang tepat untuk saling mendukung saat kita susah, saat menghadapi tantangan hidup, maupun saat sedang bahagia. Teman yang baik akan ikut bahagia saat kita bahagia, akan turut bersedih saat kita susah, dan akan menegur kita dengan kasih saat kita melakukan kesalahan dan dosa.

WHAT TO DO:
1.Belajar untuk membenahi value dan integritas diri sebagai anak Allah
2.Belajar memfilter pertemanan

BIBLE MARATHON:
▪︎ Pengkotbah 5-8

Card image
Renungan Pagi - 12 Juli 2024
2024-07-12 12:38:50


Kebanggaan kita dalam hidup ini, bahwa Tuhan bukan hanya Allah yang bertahta di sorga sebagai penguasa sorga di tempat Maha Tinggi, namun Dia juga Allah yang hidup, yang ada di tengah-tengah kita, Jehovah Shammah-Tuhan yang hadir dalam kehidupan kita, Imanuel-Tuhan yang tinggal bersama-sama dan menyertai kita.

Dia hadir memberi damai sejahtera-Nya untuk memelihara hati dan pikiran. "Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus." Dia ada dalam pribadi Roh Kudus yang menghibur, membela dan menuntun kita pada seluruh kebenaran. Dia hadir untuk membentuk dan memproses hidup menjadi indah di mata-Nya.
(Filipi 4:7)

Card image
Quote Of The Day - 12 Juli 2024 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2024-07-12 12:37:02


Ketika kita mendapatkan perlakuan-perlakuan tidak adil, Tuhan mau kita membuat sejarah hidup yang indah, kisah hidup yang bisa diarsipkan di kekekalan.

Card image
Mutiara Suara Kebenaran - 12 Juli 2024 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2024-07-12 12:32:10


Jangan membiarkan sekecil apa pun kesalahan yang kita lakukan tanpa pemberesan.

Card image
THE COMPLEXITY OF HUMAN CHARACTER (2) - 12 Juli 2024 (English Version)
2024-07-12 12:28:01


Next, secondly, we begin to realize the complexity of human nature and character when we are in the presence of God, under the light of His holiness that penetrates the heart. It is here that we understand our true selves and see how our condition is like filthy rags. This helps us comprehend why the psalmist says in Psalm 19:13, “Who can know error? Deliver me from what I am unaware of.” The word 'didn't realize' in the original text is satar, which means closed, hidden, or sealed. So it is closed, and opens when we really want to achieve pure purity.

Jeremiah 17:9 says, “How the heart is deceitful, more deceitful than all things, its heart is hardened or turned to stone. Who can know?” People are getting smarter, more cunning. If a person is not enlightened by the Holy Spirit in the light of God's holiness, then he does not know himself. So, first, we must be ambitious to have the desire to achieve perfect holiness. We must apply the slogan "I will never sin again", even though in reality we can still make mistakes, and every time we make a mistake it will hurt a lot. We have to go through a process. In the future, we will face trials according to our abilities. So that we will definitely be able to endure it, no matter how heavy the persecution, we will definitely be able to so that we can still live holy lives.

Second, always be in God's presence. The more we pray, the more we see our own corrupted state. Psalm 139:23-24 writes, “Search me, O God, and know my heart, test me and know my thoughts; see, whether my way is crooked, and lead me on the eternal path!" In the original text in Hebrew, "Is there an idol?" It turns out that we ourselves can become idols, because we want to enjoy what we think is pleasant, not what we think God is fun. Why do we talk like this? Why do we do this and that? Why do we do certain things? Because we enjoy doing them.

A person molded by God— in character, attitude, manners, and disposition—will not become a 'threat' to others. We may have authority and command respect, but not instill fear. Such individuals will surely be blessed by God. So, if we resolve our own complexity, then we become people who will not hurt people or will not easily hurt people. But evil people will be hurt by our kindness and purity of heart. But it's not our fault. So, humble our hearts, and recognize that we are bad with all our cunning. God tests us, as stated in Revelation 2:23, "I am he who searches hearts and minds, and I will repay each of you according to your deeds."

Let's start now trying to become as pious as we can be, as holy as we can be. How to truly please God, bring joy to His heart. If we grasp this concept and work on improving ourselves from a young age, we will become great individuals. It is more challenging to change if one is already old, though it is possible with a lot of effort. For example, when we see someone who has hurt us, we don't question that matter, we just keep quiet. However, honestly, do we still harbor hatred and anger in our hearts? Who can read these emotions? This is one of the complexities of human nature.

If we are not humble, then we will never become whole individuals. Frankly, speaking like Jesus is abstract because it cannot be explained in sentences. The Holy Spirit guides us to all truth, including this complexity. John 2:24 says, “But Jesus Himself did not entrust Himself to them, for He knew them all.” We should be 'terrified' to read this verse. What if God doesn't entrust something to us because He knows us as individuals who are not worthy of trust? Terrifying.

So, if we don't fix the complexity of our character, then we will never be a blessing to others. No matter how we try to elevate ourselves, we will never have a broad impact. We will never produce superior humans if we do not excel. God often allows certain things to happen so that we can see whether the water in the bucket of our lives is murky or not. If the water is not stirred, it won't look cloudy or not. But when there is a problem, where we are touched, offended, then it becomes visible. Or God gives us the opportunity to be great, famous, praised by people; Do we remain humble or become arrogant?

WE BEGIN TO REALIZE THE COMPLEXITY OF HUMAN NATURE AND CHARACTER WHEN WE ARE IN THE PRESENCE OF GOD, UNDER THE LIGHT OF HIS HOLINESS THAT PENETRATES THE HEART.

Card image
KOMPLEKSITAS KARAKTER MANUSIA- BAG.2 - 12 Juli 2024
2024-07-12 10:54:49


Selanjutnya, yang kedua, kita mulai menyadari kompleksitas sifat, karakter manusia ketika kita ada di hadirat Allah, di dalam terang kesucian Allah yang menembus hati. Sebab di situ kita baru menyadari siapa kita yang sebenarnya, betapa keadaan kita benar-benar seperti kain kotor. Jadi kita bisa mengerti kenapa pemazmur berkata di Mazmur 19:13, “Siapakah yang dapat mengetahui kesesatan? Bebaskanlah aku dari apa yang tidak kusadari.” Kata ‘tidak kusadari’ dalam teks aslinya adalah satar, yang artinya tertutup, tersembunyi, atau termeterai. Jadi tertutup, dan terbuka waktu kita betul-betul mau mencapai kesucian yang sebersih-bersihnya.

Yeremia 17:9 mengatakan, “Betapa liciknya hati, lebih licik dari segala sesuatu, hatinya sudah mengeras atau membatu. Siapakah yang dapat mengetahuinya?” Orang semakin pintar, semakin licik. Kalau seseorang tidak diterangi oleh Roh Kudus di dalam terang kekudusan Allah, maka ia tidak mengenali dirinya. Jadi, yang pertama, kita harus ambisius untuk memiliki keinginan mencapai kesucian yang sempurna. Slogan “Aku tidak akan pernah berbuat dosa lagi” harus kita terapkan, walaupun kenyataannya masih bisa salah, dan setiap salah kita akan rasa sakit sekali. Kita harus melalui proses. Ke depan, kita akan menghadapi cobaan sesuai dengan kemampuan kita. Sehingga kita pasti bisa memikulnya, bahkan aniaya seberat apa pun, pasti kita mampu sehingga kita tetap bisa hidup kudus.

Yang kedua, selalu ada di hadirat Tuhan. Semakin banyak kita berdoa, semakin kita dapat melihat keadaan diri kita yang rusak. Mazmur 139:23-24 menuliskan, “Selidikilah aku, ya Allah, dan kenallah hatiku, ujilah aku dan kenallah pikiran-pikiranku; lihatlah, apakah jalanku serong, dan tuntunlah aku di jalan yang kekal!" Dalam teks aslinya dalam bahasa Ibrani, "Apakah ada berhala?" Ternyata diri kita ini bisa menjadi berhala, karena kita mau menikmati apa yang menurut kita menyenangkan, bukan apa yang menurut Tuhan menyenangkan. Mengapa kita bicara begini? Mengapa kita buat ini dan itu? Karena kita senang melakukan itu.

Seseorang yang digarap Tuhan—karakter, sikap, attitude, manner, watak—tidak akan menjadi ‘ancaman’ bagi sesama. Kita punya wibawa dan orang bisa segan dan takut, tapi tidak merasa terancam. Dan orang-orang seperti ini pasti akan diberkati Tuhan. Jadi, kalau kita menyelesaikan kompleksitas diri kita, maka kita menjadi orang yang tidak akan melukai orang atau tidak akan mudah melukai orang. Tetapi orang-orang jahat akan terluka oleh kebaikan dan kemurnian hati kita. Tapi itu bukan salah kita. Maka, rendahkan hati kita, dan kenali bahwa diri kita itu buruk dengan segala kelicikannya. Dan Tuhan menguji, Wahyu 2:23, "Akulah yang menguji batin dan hati orang, dan bahwa Aku akan membalaskan kepada kamu setiap orang menurut perbuatannya."

Mari kita mulai sekarang berusaha untuk menjadi orang saleh sesaleh-salehnya, orang suci sesuci-sucinya. Bagaimana sungguh-sungguh berkenan kepada Tuhan, menyenangkan hati Tuhan. Kalau sejak muda sudah mengerti hal ini dan berusaha membenahi diri, maka ia akan jadi manusia yang agung sekali. Kalau sudah telanjur menjadi tua, susah diubah. Bisa, namun perlu kerja sangat keras. Misalnya, ketika kita melihat orang yang pernah melukai, kita tidak persoalkan, kita diam saja. Tapi sejujurnya, di hati kita bagaimana? Masihkah kita menyimpan kebencian dan kemarahan? Siapa yang bisa membaca itu? Itulah salah satu kompleksitas manusia.

Kalau kita tidak rendah hati, maka kita tidak akan pernah jadi manusia utuh. Dan jujur saja, kalau kita bicara seperti Yesus, itu abstrak. Karena hal ini memang tidak bisa dibahasakan dengan kalimat. Roh Kudus menuntun kita kepada seluruh kebenaran, termasuk kompleksitas ini. Yohanes 2:24 mengatakan, “Tetapi Yesus sendiri tidak mempercayakan diri-Nya kepada mereka, karena Ia mengenal mereka semua.” Seharusnya kita ‘gentar’ membaca ayat ini. Bagaimana kalau Tuhan tidak mempercayakan sesuatu kepada kita karena Dia mengenal kita sebagai pribadi yang tidak patut dipercayai? Mengerikan.

Jadi, kalau kita tidak membenahi kompleksitas karakter kita, maka kita tidak akan pernah menjadi berkat. Kita mau mengangkat-angkat diri bagaimana caranya pun, kita tidak akan pernah berdampak luas. Kita tidak akan pernah mencetak manusia yang unggul kalau kita tidak unggul. Tuhan sering mengizinkan hal-hal tertentu terjadi supaya kita bisa melihat apakah air di ember hidup kita itu keruh atau tidak. Jadi, kalau air itu tidak diobok-obok, maka tidak kelihatan keruh atau tidaknya. Tapi ketika ada masalah, di mana kita tersentuh, tersinggung, barulah terlihat. Atau Tuhan beri kesempatan kita menjadi hebat, terkenal, dipuji orang; apakah kita tetap rendah hati atau menjadi sombong?

Tuhan Yesus memberkati
????????????. ????????. ???????????????????????????? ????????????????????????????

KITA MULAI MENYADARI KOMPLEKSITAS SIFAT, KARAKTER MANUSIA KETIKA KITA ADA DI HADIRAT ALLAH, DI DALAM TERANG KESUCIAN ALLAH YANG MENEMBUS HATI.

Card image
Bacaan Alkitab Setahun - 12 Juli 2024
2024-07-12 05:58:49

2 Tawarikh 27
Yesaya 9-12

Card image
Truth Kids 11 Juli 2024 - KESABARAN MENANTI
2024-07-11 14:56:55


2 Tesalonika 3:5
”Kiranya Tuhan tetap menujukan hatimu kepada kasih Allah dan kepada ketabahan Kristus.”

Sobat Kids, bagaimana kalian bisa mengenali berbagai macam jenis pohon? Yang paling mudah adalah melihat buahnya. Buah pohon mangga akan berbeda dengan buah pohon apel; buah pohon jambu akan berbeda dengan buah pohon kelapa. Mudah sekali, hanya dengan melihat buahnya, kita bisa tahu nama pohon itu.

Nah, kalau kita sebagai pohon, kira-kira apa buah yang kita hasilkan? Itu tergantung dari benih yang kita tanam. Kalau kita rajin menanam benih firman Tuhan, merawat iman kita dengan berdoa, membaca Alkitab, membaca Truth Kids, rajin ke Sekolah Minggu, bertekun dan sabar dalam segala hal, pasti kita bisa berbuah lebat di taman Tuhan.

Namun, jika benih yang kita tanam adalah rasa marah, menangis meraung-raung, emosi yang menyakiti diri sendiri dan orang lain, buah apa yang kita hasilkan? Ya, buah yang buruk, dan pastinya bukan di taman Tuhan.

Sobat Kids, tanamlah pohon yang baik, bersabar untuk melihat buahnya, dan bersabar juga untuk melihat proses bertumbuh dari pohon yang ditanam di taman Tuhan.

Card image
Truth Junior 11 Juli 2024 - KESABARAN MENGHADAPI ORANG LAIN
2024-07-11 14:54:38


2 Tesalonika 3:5
”Kiranya Tuhan tetap menujukan hatimu kepada kasih Allah dan kepada ketabahan Kristus.”

Sobat Junior tahu kan kalau setiap orang memiliki batas kesabaran yang berbeda-beda? Contohnya ada yang ketika ditegur, ia langsung emosi dan marah-marah karena tidak suka ditegur. Lalu ada orang yang sabar ketika ditegur, karena ia mengerti bahwa teguran tersebut adalah hal yang baik untuk memperbaiki kesalahan yang dilakukan. Kalau kalian bagaimana? Apakah termasuk orang yang sabar atau tidak?

Hari ini kita mau belajar, ternyata kesabaran itu dapat membantu orang lain bertumbuh dalam iman mereka. Bagaimana caranya, ya? Kita mau belajar melalui kisah setelah Yesus berdoa di Getsemani. Setelah selesai berdoa, datanglah Yudas Iskariot beserta tentara Roma yang hendak menangkap Yesus. Saat itu Tuhan Yesus tidak marah kepada Yudas dan tentara Roma, tetapi Petrus tidak sabar menghadapi orang yang akan menangkap Tuhan Yesus sehingga ia memotong telinga salah satu tentara Roma karena mau melindungi Tuhan. Tuhan Yesus pun menyembuhkan telinga tentara Roma tersebut. Meskipun mereka akan menangkap-Nya, Tuhan Yesus tetap memberikan pertolongan bagi mereka. Itulah bentuk kesabaran Tuhan. Tindakan yang dilakukan Tuhan Yesus membuat tentara tersebut percaya bahwa Dia adalah Tuhan.

Dari hal tersebut, kita belajar bahwa kesabaran yang kita tunjukkan dapat membuat iman orang lain bertumbuh. Hal itu memang tidak mudah. Karena itu, marilah kita belajar lebih sabar dalam berteman, sebab hal ini dapat membantu orang lain memiliki iman.

Card image
Truth Youth 11 Juli 2024 (English Version) - PERSONAL BOUNDARIES
2024-07-11 14:00:48


"Love the LORD your God with all your heart and with all your soul and with all your strength." (Deuteronomy 6:5)

Observing the world today, it increasingly aligns with the Biblical assertion that the days grow ever more wicked. Information disseminated through social media or news broadcasts presents events that defy human comprehension. Such corruption pervades social environments, friendships, and even families. Undoubtedly, many of us have felt its impact. This underscores the importance of maintaining distance from those who exert a negative influence and striving to live closely with God alone.

A detrimental social environment is often termed toxic. Toxic describes individuals, relationships, or environments that negatively affect others. Some victims may be unaware of this toxicity, as toxic individuals can appear positive and supportive, thereby masking their harmful behavior. More alarmingly, toxic individuals can be encountered anywhere, possibly even among those closest to us.

Various factors can contribute to toxic behavior in social circles, ranging from low self-esteem, unresolved trauma, and mental disorders to personality disorders, such as narcissism. Although mental disorders may underpin this behavior, it does not justify or excuse toxicity. Such behavior must be eliminated or avoided, as it can affect the physical and mental well-being of all involved.

To navigate a toxic environment, we must exercise self-control and recognize that the behavior of those around us has distanced us from positivity and from God. Practical steps include establishing firm personal boundaries, courageously rejecting negative influences, not justifying any wrongdoing, and always considering the feelings of God, whom we must honor.

Therefore, as children of God, if we detect signs of toxic friendships, we must boldly distance ourselves from those who exert negative influences. We should equip ourselves with the truth of God's Word, which leads us to spiritual maturity, seek friendships that uphold God's presence, and strive to become righteous in His sight.

WHAT TO DO:
1. Courageously reject and avoid negative influences from friends.
2. Equip yourself with true values from the Bible.
3. Habitually engage in positive activities and involve God in all decisions.

BIBLE MARATHON:
▪ Ecclesiastes 1-4

Card image
Truth Youth 11 Juli 2024 - PERSONAL BOUNDARIES
2024-07-11 13:57:35


”Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu.” (Ulangan 6:5)

Jika kita perhatikan dunia saat ini, semakin sesuai apa yang Alkitab catat bahwa hari-hari semakin jahat. Informasi yang muncul dalam media sosial atau tayangan berita, disajikan dengan bermacam kejadian yang di luar nalar manusia. Keadaan rusak demikian terjadi di lingkungan sosial, pertemanan, bahkan di dalam keluarga. Tidak terkecuali setiap kita pun mungkin ikut merasakannya, bukan? Inilah alasan pentingnya hidup harus menjaga jarak dengan mereka yang membawa dampak negatif, dan berjuang hidup dekat dengan Tuhan saja.

Lingkungan sosial yang buruk dikenal dengan istilah toxic. Toxic adalah istilah untuk menggambarkan individu, hubungan, atau lingkungan yang memberikan dampak negatif kepada orang lain. Beberapa korbannya mungkin tidak menyadari adanya sifat toxic ini, karena orang yang toxic bisa terlihat positif dan suportif sehingga perilaku buruknya tertutupi. Lebih mirisnya lagi, orang yang toxic bisa saja ditemui di mana pun, bahkan mungkin orang terdekat kita sendiri.

Penyebab lingkungan pertemanan bersikap toxic ada banyak, mulai dari perasaan rendah diri, trauma atau luka batin yang masih dipendam, gangguan mental, hingga gangguan kepribadian, misalnya kepribadian narsistik. Walau gangguan mental bisa mendasari perilaku ini, bukan berarti perilaku toxic dapat dibenarkan atau dimaklumi. Bahkan perilaku demikian perlu dihilangkan atau dijauhi, karena bisa memengaruhi kondisi fisik dan mental setiap orang yang terlibat.

Cara menghadapi lingkungan yang toxic, kita perlu mengendalikan diri dan sadari bahwa perilaku orang-orang yang ada di sekitar telah menjauhkan kita dari banyak hal positif, bahkan dari Tuhan. Hal yang bisa dilakukan adalah tetapkan batasan (personal boundaries) yang tegas di antara mereka, berani menolak hal negatif, jangan membenarkan sebuah kesalahan sekecil apa pun, dan selalu pikirkan perasaan Tuhan yang harus kita jaga.

Oleh sebab itu, kita sebagai anak-anak Allah, jika sudah melihat gelagat pertemanan yang beracun, kita harus berani mengambil sikap menjaga jarak dari mereka yang membawa pengaruh negatif. Dan memperlengkapi diri dengan kebenaran firman Tuhan yang akan membawa kita kepada kedewasaan rohani, lalu carilah pertemanan yang menjunjung hadirat Allah, serta ingin berjuang berubah menjadi manusia yang benar di mata Allah.

WHAT TO DO:
1.Berani untuk menolak dan tidak ikut-ikutan tawaran negatif dari teman.
2.Perlengkapi diri dengan nilai-nilai kehidupan yang benar melalui Alkitab.
3.Biasakan melalukan hal positif dalam hidup, serta libatkan Tuhan dalam segala keputusan.

BIBLE MARATHON:
▪︎ Pengkotbah 1-4

Card image
Renungan Pagi - 11 Juli 2024
2024-07-11 12:40:16


Dendam dan sakit hati berkepanjangan sebenarnya itu merugikan diri sendiri, mungkin ada orang yang menyakiti hati kita, lalu sangat marah, cobalah selesaikan dan berdamai, baik dengan orang yang menyakiti kita, juga berdamai dengan diri sendiri. Jangan simpan sakit hati dan ingin balas dendam, ingat bahwa dendam bukanlah jalan keluar yang baik, karena dendam tidak akan pernah menjadi solusi dari sakit hati yang berkepanjangan.

"Karena itu, sebagai orang-orang pilihan Allah yang dikuduskan dan dikasihi-Nya, kenakanlah belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemah lembutan dan kesabaran. Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian."

Demikianlah firman Tuhan mengingatkan hal ini dan harus kita lakukan. Sebab jika hanya menuruti hawa nafsu dengan selalu mendendam, maka makin rusak hidup kita, rusak hubungan dengan Tuhan dan sesama, makin sakit hati makin hancur masa depan kita, makin hilang damai sejahtera, oleh karena itu jangan simpan dendam, dan belajarlah untuk melepaskan pengampunan. Sebab Tuhan pun telah mengampuni.
(Kolose 3:12-13)

Card image
Quote Of The Day - 11 Juli 2024 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2024-07-11 12:37:51


Tuhan membelaskasihani kita dengan memberikan keadaan sulit, yang tujuannya adalah supaya kita memandang ke atas.

Card image
Mutiara Suara Kebenaran - 11 Juli 2024 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2024-07-11 12:36:37


Sejatinya, makin hari makin menghayati kesucian Allah, kita makin menyadari betapa rusaknya kita dulu dan sekarang masih saja ada unsur-unsur kerusakan yang masih kita lakukan.

Card image
THE COMPLEXITY OF HUMAN CHARACTER - 11 Juli 2024 (English Version)
2024-07-11 12:29:00


Many people do not realize how complex their condition is: character, nature, manner, attitude, way of life. Many people consider it simple, and this is what makes many people fail to become individuals who are pleasing to God. This is what causes many people to fail to be a blessing to others.

At the Theological College, this also does not come to the surface. This is because the difficulty of studying is understood as the difficulty of carrying out lecture assignments, writing scientific papers, scientific journals, and so on. In service, difficulties are directed at or emphasized financial issues, organizational, and so on. But it does not direct the congregation to the complicated problem of changing character, nature, attitudes, which are very complex and complicated. But it is not seen as complex.

In fact, this is what makes someone fail to become a servant of God who blesses people. This is what makes someone fail to become an excellent human being. But ironically, many people outside of Christianity are aware of this, so they try to create or improve their manners, character, and attitude. There are local philosophies or cultures, or local wisdom that emphasize this, and they can shape or build excellent or good humans. For example, Javanese mysticism has an emphasis on inner formation, dealing with the complexity or intricacies of character, nature, attitudes.

We rarely find individuals whose words are so calm, there is no element of self-aggrandizement, no element of hurting people, does not take advantage of other people, is not materialistic, full of compassion, accepts people as they are, does not demand that people be who they want them to be. The Lord Jesus said this, "What do you like people to do to you, do it." I know this verse, but I rarely preach it, because I think the complexity of a person's existence is not something that needs attention. When we see a bad person, we think, "That person is so bad, how can someone be that bad?" But then if we see a person who should not be evil because they are surrounded by good people, we become even more confused, "How can he be evil? How can he be heartless in an environment that should condition him to be good?"

It's even more confusing when we meet or live with someone we know as a genuinely good person but then turns evil. Of course, their evilness is not like that of generally evil people; but they become cunning, ruthless to others, even to those close to them, arrogant, sacrificing others. Or, someone who used to appear so devoted turns out to be materialistic, doing everything based on profit and loss. We become confused and restless seeing such life conditions, such complexity. Why is that? When we honestly look at ourselves and strive for a holy life, only then can we recognize how complex our character, nature, and attitude are. Appearing polite but actually impolite, seeming gentle but actually cunning. Not to mention other sins and we usually play them from young to old.

Of course, we strive to be people who are pleasing before God. And Jesus also teaches us, "You must be perfect as the Father." So when we strive to truly live in a way that pleases God, not making mistakes from small to big things, we then realize how complex we are, full of hypocrisy. Actually, God has given us signals, hints about the complexity of our lives when He says, "You have heard it said not to murder, but I say to you: Everyone who hates his brother is a murderer."

That is a complex issue. Do we understand the meaning of loving others? Understand how to hate? We may not say, "I hate you," but our hearts hold grudges. Another verse says, "You look at the opposite sex with lust, you commit adultery." This is an issue related to the flesh, but also in thoughts, desires; it's complex. How can we recognize our state like that? And we often don't seriously address this matter. Hating is murder, but we don't address whether we have loved or hated our enemies.

If you love those who love you or who you love, what is the difference from worldly people? That's complex. Because the reality is that we cannot love those who do not love us, right? If we remember someone who betrayed us, we don't say, "Cursed that person!" But our hearts may dislike them. Or we don't say, "I hate you." But we can hate without realizing it. So, first, when we begin to address perfect holiness, that's when we start to realize the complexity of human character.

WHEN WE HONESTLY LOOK AT OURSELVES AND STRIVE FOR A HOLY LIFE, ONLY THEN CAN WE RECOGNIZE HOW COMPLEX OUR CHARACTER, NATURE, AND ATTITUDE ARE.

Card image
KOMPLEKSITAS KARAKTER MANUSIA - 11 Juli 2024
2024-07-11 12:26:50


Banyak orang tidak menyadari betapa kompleksnya keadaan dirinya: karakter, watak, manner, attitude, sikap hidup. Banyak orang menganggap sederhana, dan inilah yang membuat banyak orang gagal menjadi manusia yang berkenan kepada Tuhan. Ini yang menjadi penyebab mengapa banyak orang gagal menjadi berkat bagi orang lain.

Di Sekolah Tinggi Teologi, hal ini juga tidak muncul ke permukaan. Sebab, sulitnya studi dipahami pada sulitnya mengerjakan tugas-tugas perkuliahan, membuat karya ilmiah, jurnal ilmiah, dan lain sebagainya. Dalam pelayanan, kesulitan diarahkan pada atau ditekankan pada masalah keuangan, organisasi, dan lain sebagainya. Tapi tidak mengarahkan jemaat pada masalah rumitnya mengubah karakter, watak, attitude, sikap, yang padahal sangat kompleks, rumit. Tetapi tidak dipandang rumit.

Sejatinya, ini yang membuat seseorang gagal menjadi hamba Tuhan yang memberkati orang. Ini yang membuat seseorang gagal menjadi manusia yang unggul atau excellent. Tetapi ironisnya, banyak orang di luar Kristen yang menyadari hal ini, sehingga mereka berusaha untuk membuat atau membenahi manner, karakter, attitude. Ada filsafat-filsafat atau budaya-budaya lokal, atau kearifan lokal yang memberi tekanan pada hal ini, dan mereka bisa membentuk atau membangun manusia yang unggul atau yang baik. Misalnya, kebatinan Jawa yang memiliki tekanan pada pembentukan batin, menanggulangi kompleksitas atau kerumitan karakter, watak, sikap.

Kita jarang menemukan individu yang ucapannya begitu teduh, tidak ada unsur membanggakan diri, tidak ada unsur melukai orang, tidak memanfaatkan orang lain, tidak materialistis, penuh belas kasihan, menerima orang sebagaimana adanya, tidak menuntut orang menjadi seperti yang dia ingini. Yang itu dibahasakan oleh Tuhan Yesus dengan, “Apa yang kamu suka orang perbuat kepadamu, buatlah.” Tahu ayat itu, tapi jarang dikhotbahkan, karena menganggap kompleksitas keberadaan diri seseorang itu bukan hal yang perlu diperhatikan. Kalau kita melihat orang jahat, kita berpikir, “Jahat sekali orang itu, kok bisa ya orang sejahat itu?” Tapi kemudian kalau kita melihat orang yang mestinya tidak jahat karena berada di lingkungan orang-orang baik, kita semakin bingung, “Kok bisa ya dia jahat? Dia tega di tengah-tengah lingkungan yang mestinya mengondisi dia jadi baik.”

Lebih bingung lagi kalau kita bertemu dengan orang atau hidup bersama dengan orang yang kita kenal sebagai orang yang benar-benar baik, tapi kemudian menjadi jahat. Tentu jahatnya tidak seperti orang jahat pada umumnya; tapi dia jadi licik, tega terhadap orang bahkan kepada orang dekatnya, sombong, mengorbankan orang lain. Atau, orang yang dulu kelihatannya begitu penuh pengabdian ternyata materialistis, melakukan segala sesuatu dengan ukuran untung rugi. Kita bingung dan gundah melihat keadaan hidup seperti ini, kompleksitas seperti ini. Mengapa begitu? Ketika kita dengan jujur melihat diri sendiri dan berusaha untuk mencapai kesucian hidup, baru kita bisa mengenali betapa kompleksnya karakter, watak, attitude kita. Kelihatannya sopan tapi tidak sopan, kelihatannya lemah lembut padahal itu licik. Belum dosa-dosa yang lain dan itu biasa kita mainkan sejak muda sampai tua.

Tentu kita berusaha menjadi orang yang berkenan di hadapan Tuhan. Dan Yesus juga mengajar kita, “Kamu harus sempurna seperti Bapa.” Jadi ketika kita berusaha untuk hidup benar-benar menyenangkan hati Tuhan, tidak berbuat salah dari hal kecil sampai hal besar, kita baru sadar betapa kompleksnya diri kita, penuh dengan kemunafikan. Sebenarnya Tuhan sudah memberikan kita sinyal, isyarat betapa kompleksnya hidup kita ketika Ia mengatakan, “Kamu mendengar firman jangan membunuh, tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang membenci saudaranya, dia seorang pembunuh.”

Itu masalah kompleks. Apakah kita mengerti arti mengasihi sesama? Mengerti bagaimana membenci? Kita memang tidak mengatakan, “Aku benci kamu,” tapi hati kita menaruh dendam. Ayat lain mengatakan, “Engkau melihat lawan jenismu, engkau mengingininya, kamu berzina.” Masalah yang terkait dengan daging ini, tapi juga dalam pikiran, keinginan, itu kompleks. Bagaimana bisa mengenali keadaan kita seperti itu? Dan kita sering tidak serius memperkarakan hal ini. Membenci itu membunuh, tapi kita tidak memperkarakan apakah kita sudah mengasihi atau membenci musuh-musuh kita?

Kalau kamu mengasihi orang yang kamu kasihi atau yang mengasihi kamu, apa bedanya dengan orang dunia? Itu kompleks. Sebab kenyataannya memang kita tidak bisa mengasihi orang yang tidak mengasihi kita, bukan? Kalau kita ingat-ingat orang yang pernah mengkhianati, kita tidak berkata “Terkutuk orang itu!”. Tapi hati kita bisa tidak suka. Atau kita tidak mengatakan, “Aku benci kamu.” Tetapi kita bisa benci tanpa kita sadari. Jadi, yang pertama, ketika kita mulai memperkarakan kesucian yang sempurna, di situlah kita mulai menyadari kompleksitas karakter manusia.

Tuhan Yesus memberkati
????????????. ????????. ???????????????????????????? ????????????????????????????

KETIKA KITA DENGAN JUJUR MELIHAT DIRI SENDIRI DAN BERUSAHA UNTUK MENCAPAI KESUCIAN HIDUP, BARU KITA BISA MENGENALI BETAPA KOMPLEKSNYA KARAKTER, WATAK, ATTITUDE KITA.

Card image
Bacaan Alkitab Setahun - 11 Juli 2024
2024-07-11 12:23:02

Amsal 6-9

Card image
Truth Kids 10 Juli 2024 - BELAJAR DENGAN SABAR
2024-07-10 18:28:58


Amsal 14:17
”Siapa lekas naik darah, berlaku bodoh, tetapi orang yang bijaksana, bersabar.”

Randy dan Rico adalah kakak beradik yang saling menyayangi. Setiap Minggu, mereka mengikuti Sekolah Minggu di gereja. Randy mendengarkan cerita firman Tuhan dari kakak Sekolah Minggu dengan sungguh-sungguh, tetapi Rico tampak bosan dan tidak peduli. Setelah ibadah selesai, mereka langsung pulang ke rumah.

Malam harinya, Rico menangis dan marah karena PR dari sekolah sangat sulit. Rico menyalahkan pelajaran yang sulit. Randy berlari dan menenangkan Rico, "Rico, kamu kan punya superhero yang paling hebat dari semua superhero yang ada?!" Mendengar itu, Rico pun terdiam dan memperhatikan kakaknya. "Iya, Dia superhero favorit Kakak. Namanya Tuhan Yesus. Tadi kamu tidak mendengarkan cerita Sekolah Minggu, sih.." lanjut Randy, "saat kita dalam kesulitan dan kesusahan, seperti mengerjakan PR, ada Tuhan Yesus yang menolong kita. Saat kita berharap kepada Tuhan, kita akan menjadi percaya diri dan memiliki kekuatan dalam menghadapi segala tantangan. Tentu saja kita juga tetap belajar rajin agar mengerti semua pelajaran. Kamu jangan sedih lagi, ya. Sini, Kakak lihat PR-nya."

Sobat Kids, semua orang diberikan kepandaian oleh Tuhan. Namun, kalian harus tetap belajar dan mengerjakan tugas-tugas dengan baik. Saat kalian belum mengerti tentang pelajaran tertentu, jangan malah kesal. Belajarlah dengan sabar.

Card image
Truth Junior 10 Juli 2024 - HARAPAN DAN KESABARAN
2024-07-10 18:24:18


Amsal 14:17
”Siapa lekas naik darah, berlaku bodoh, tetapi orang yang bijaksana, bersabar.”

Sobat Junior, pasti kalian masih ingat kisah seseorang yang dimasukkan ke dalam gua singa, bukan? Kisah Daniel tersebut sangat populer, karena mukjizat yang ia alami. Kisah Daniel dimasukkan ke dalam gua singa mengingatkan kita bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan orang yang selalu berharap kepada-Nya. Ia mengajarkan kita sabar dalam setiap pengharapan.

Roma 8:25 mengatakan bahwa jika mengharapkan sesuatu yang tidak kita lihat, kita menantinya dengan tekun. Tuhan ingin memberitahu, saat kita tekun dan percaya kepada-Nya, kita tidak akan menyesal karena Ia setia pada janji-Nya. Pertanyaannya, maukah kita sabar dan bertekun, selalu berdoa kepada Tuhan? Selain bertekun berdoa, kita juga tekun belajar walaupun tidak ada PR. Kita mau selalu bertumbuh dalam iman.

Yuk, kita belajar dari kisah Daniel, Sobat Junior. Saat ia dalam kesulitan, Daniel memiliki pengharapan kepada Tuhan. Daniel tidak melihat bantuan yang Tuhan akan kirimkan saat para prajurit istana memasukkan tubuhnya ke gua singa. Namun, ia tetap percaya. Dan kita tahu bersama bahwa Daniel diselamatkan dalam pengharapan kepada Tuhan yang hidup. Harapan akan keselamatan mengajarkan kita untuk bersabar.

Card image
Truth Youth 10 Juli 2024 (English Version) - FILTER
2024-07-10 18:21:26


"For out of the heart come evil thoughts—murder, adultery, sexual immorality, theft, false testimony, slander. These are what defile a person; but eating with unwashed hands does not defile them." (Matthew 15:19-20)

As human beings, we cannot choose to be born into ideal conditions, such as a prosperous family, a favorable environment, or even perfect physical circumstances. Each of us has our strengths and weaknesses, which are beyond our control. What is certain is that God has a special and best plan for each of our lives, for God does not make mistakes nor does He err.

However, as we age, we are increasingly confronted with the realities of life, wherein we have the free will to determine our own path. The positive or negative social environment we currently inhabit will have a significant influence on our lives. Therefore, ensuring that we can choose the right social environment for growth is of utmost importance for every child of God.

Being in a negative social environment can lead us towards undesirable outcomes, hindering our personal growth and, in extreme cases, causing us to lose reverence for God. Conversely, a positive social environment can have beneficial effects, such as reducing stress, alleviating excessive anxiety, enhancing emotional well-being, and, importantly, fostering spiritual growth.

Choosing the right social environment or friendships is a crucial aspect of every child's journey with God. Those with whom we associate will instill values in our lives. God Himself desires that we have a filter for everything that can influence us, starting with our social environment and the information we receive.

Thus, selecting a positive social environment or friendships is essential for living in accordance with God's will. If there are friends or social situations that lead us to wrongdoing or sin, these are what we must avoid and reject. Cultivate friendships with those who share the desire to please God.

WHAT TO DO:
1. Begin to courageously reject friendships that do not fear God.
2. Fill your daily interactions with friends who have a vision of living to please God.
3. Strive to become an individual who continually loves God.

BIBLE MARATHON:
▪ Proverbs 30-31

Card image
Truth Youth 10 Juli 2024 - FILTER
2024-07-10 18:30:18


”Karena dari hati timbul segala pikiran jahat, pembunuhan, perzinahan, percabulan, pencurian, sumpah palsu dan hujat. Itulah yang menajiskan orang. Tetapi makan dengan tangan yang tidak dibasuh tidak menajiskan orang.” (Matius 15:19-20)

Sebagai manusia, kita memang tidak bisa memilih untuk dilahirkan dalam kondisi yang ideal, misalnya di keluarga yang berkelimpahan, lingkungan yang baik, bahkan keadaan fisik yang sempurna. Pasti setiap kita semua memiliki kelebihan dan kekurangan, di mana semua itu tidak bisa kita yang menentukan. Yang pasti, Tuhan memiliki rencana khusus dan terbaik dalam setiap kehidupan kita. Sebab Tuhan tidak mungkin salah dan tidak mungkin berbuat kesalahan.

Namun seiring bertambahnya usia, kita semakin diperhadapkan dengan kenyataan hidup, di mana kita punya kehendak bebas untuk menentukan sendiri hidup kita. Lingkungan sosial positif atau negatif yang kita tempati saat ini akan memberikan pengaruh besar dalam hidup kita. Itu sebabnya, memastikan kita mampu memilih lingkungan sosial yang benar untuk bertumbuh menjadi sangat penting bagi setiap anak-anak Allah.

Berada di lingkungan sosial yang negatif, akan membawa kita kepada hal buruk, sehingga tidak menjadi pribadi yang bertumbuh. Ekstremnya, dapat membuat orang tidak menghormati Tuhan lagi. Sedangkan lingkungan sosial yang positif akan memberikan dampak yang baik, seperti mengurangi stres, mengurangi kecemasan berlebihan, meningkatkan kesejahteraan emosional, dan tentunya pertumbuhan spiritual.

Memilih lingkungan sosial atau pertemanan menjadi poin penting dalam proses perjalanan kehidupan setiap anak-anak Allah. Dengan siapa kita bergaul, merekalah yang akan menanamkan nilai-nilai dalam kehidupan kita. Tuhan sendiri berkehendak kita memiliki filter kepada semua yang dapat memengaruhi kita, mulai dari lingkungan sosial maupun informasi yang kita dapatkan.

Maka, memilih lingkungan pertemanan atau sosial yang positif harus dilakukan oleh kita dalam rangka mengisi kehidupan dengan kehendak Tuhan. Jadi jika ada teman atau situasi sosial yang mengajak kita berbuat kesalahan atau dosa, itulah yang harus kita jauhi dan tolak. Bangunlah pertemanan dengan mereka yang memiliki kerinduan menyenangkan Tuhan juga.

WHAT TO DO:
1.Mulai berani untuk menolak pertemanan yang tidak takut akan Tuhan.
2.Isi keseharian bergaul dengan teman-teman yang memiliki visi hidup mau menyenangkan hati Tuhan.
3.Berjuang juga menjadi pribadi yang terus mengasihi Tuhan.

BIBLE MARATHON:
▪︎ Amsal 30-31

Card image
Renungan Pagi - 10 Juli 2024
2024-07-10 18:12:54


Dalam kehidupan sehari-hari, saat orangtua memberikan motivasi kepada anak-anaknya, orangtua akan mengucapkan kata “Yang semangat ya anakku atau kamu harus tetap bersemangat dan jangan mudah putus asa”. Atau saat kita sedang menghadapi ujian atau tes masuk salah satu perusahaan, maka orangtua akan menyemangati dengan kata-kata motivasi. Orangtua selalu berusaha agar semangat anak-anaknya terus menyala-nyala.

Kalimat untuk memberikan semangat atau motivasi agar kita bersemangat dalam menjalani hidup selalu diungkapkan oleh orang-orang terdekat dan orang-orang yang sayang kepada kita, karenanya dalam melaksanakan segala aktivitas harus bersemangat agar apa yang kita kerjakan bisa selesai tepat waktu dan memberikan hasil yang memuaskan, Alkitab juga mengatakan, "Orang yang bersemangat dapat menanggung penderitaannya, tetapi siapa akan memulihkan semangat yang patah?"
(Amsal 18:14)

Card image
Quote Of The Day - 10 Juli 2024 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2024-07-10 18:10:56


Tuhan meremukkan kita agar kita dapat dibentuk-Nya.

Card image
Mutiara Suara Kebenaran - 10 Juli 2024 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2024-07-10 18:02:39


Ingat, kalau kita masih jahat, kita akan dipermalukan, dan yang mengerikan, dibuang ke dalam lautan api.

Card image
SELF-IMPROVEMENT - 10 Juli 2024 (English Version)
2024-07-10 18:31:50


The more we are attached to God, living in communion with God, the more we live God's holiness and we truly desire to live in God's holiness. On the other hand, we increasingly see how damaged this world is. Also how damaged we were before experiencing restoration, renewal, a process like this. This world is very evil, not only outside the church, but also those inside the church—including activists and even pastors. How terrible. Many people have no mercy towards each other, they are cruel to each other. It's so easy to betray other people, be evil, arrogant, pride but not realize that he is like that.

By conveying this, we may realize that we can also make these mistakes without realizing it. In fact, the more we live God's holiness, the more we realize how damaged we were in the past and how there are still elements of damage that we still do. But ironically, we can live in error; without us realizing we are in error. How damaged this world is, how damaged humans are. But through the pure truth that we read and hear, we strive earnestly to become blameless and spotless individuals. Seeing the state of the world like this, we must work hard to save our generation.

So, in the remaining years of our lives, we must work as much as possible, as hard as possible to save souls, and this starts with children. For urban children, from the moment they wake up, they are already holding gadgets, at mealtimes they are given gadgets so they don't fuss, so they don't make noise, they don't disturb their parents, they are given gadgets and lots of shows that don't build faith. Here Satan lays the foundation that will make the child one day never able to accept God, unable to understand the Kingdom of God. Satan has made a seedbed. He seeds human children from childhood, so that they are ready to be reaped by Satan in their old age. The problem is, how many of us really want to mourn this situation?

The more we pray, the more we sit quietly at God's feet, the more we will realize how damaged we are. Romans 3:23 says, “Man has fallen short of the glory of God.” It's really real. But not many people understand and live this. Losing the glory of God is terrible, fatal. Because humans were designed to have greatness like the Father, like God himself, the Creator. This is extraordinary. But very few people are truly aware of this situation, because not many people have actually experienced an encounter with God or come into contact with God.

If people experience an encounter with God, come into contact with God, then they will realize how damaged their condition is before God. We will realize, how we often have very subtle cunnings, which not only others are not aware of, but we ourselves can also be unaware of our cunning, our insincerity. In accordance with God's words which say, "The human heart is cunning, more cunning than all things." Very few people have faith in accordance with God's will. Let's improve ourselves first, in case there are any inappropriate things we are still committing before God. We fix ourselves first, then we fix other people.

So if people do not recognize the damaged conditions that exist in their lives, this happens because they do not have the desire, a truly strong and sincere longing to live in the holiness and sanctity of God. There are many needs in our life. We have many problems and struggles, but whatever our problems are, they are not or are not yet big problems. Our big problem is if we have not achieved what God wants or desires. Therefore we earnestly ask the Father to open our hearts and minds to recognize our true condition in the eyes of God. And of course next we ask God to help us so that we become God's children who live only for God's pleasure, so that our lives can truly please Him. What is the purpose of living on earth if we do not please our Heavenly Father? Because we were indeed made by God, created by God, presented by God on this earth for the pleasure of God the Father.

LET'S IMPROVE OURSELVES FIRST, IN CASE THERE ARE ANY INAPPROPRIATE THINGS WE ARE STILL COMMITTING BEFORE GOD.

Card image
MEMBENAHI DIRI - 10 Juli 2024
2024-07-10 17:57:10


Semakin kita melekat dengan Tuhan, hidup dalam persekutuan dengan Tuhan, semakin kita menghayati kesucian Allah dan kita sungguh-sungguh mau hidup di dalam kekudusan Allah. Di sisi lain, kita makin melihat betapa rusaknya dunia ini. Juga betapa rusaknya kita dulu sebelum mengalami pemulihan, pembaruan, proses seperti ini. Dunia ini sangat jahat, bukan hanya di luar gereja, melainkan juga yang ada di dalam gereja—aktivis bahkan pendeta. Sungguh mengerikan. Banyak orang yang tidak memiliki belas kasihan terhadap sesamanya, semena-mena terhadap sesamanya. Begitu mudah berkhianat terhadap orang lain, jahat, sombong, angkuh tapi tidak sadar bahwa dirinya seperti itu.

Dengan menyampaikan hal ini kiranya kita sadar bahwa kita juga bisa melakukan kesalahan- kesalahan itu tanpa kita sadari. Sejatinya, makin hari makin menghayati kesucian Allah, kita makin menyadari betapa rusaknya kita dulu dan sekarang masih saja ada unsur-unsur kerusakan yang masih kita lakukan. Namun ironis, kita bisa hidup di dalam kesalahan; tanpa kita sadari kita ada di dalam kesalahan. Betapa rusaknya dunia ini, betapa rusaknya manusia. Tetapi melalui kebenaran murni yang kita baca dan dengar, kita berjuang sungguh-sungguh untuk menjadi orang yang tidak bercacat dan tidak bercela. Melihat keadaan dunia seperti ini, kita harus bekerja keras untuk menyelamatkan generasi kita.

Maka, di sisa umur hidup ini, kita harus bekerja sebanyak-banyaknya, sekeras-kerasnya untuk bagaimana menyelamatkan jiwa, dan dimulai hal ini dari anak-anak. Kalau anak-anak kota, dari melek mata sudah pegang gadget, waktu makan supaya tidak rewel dikasih gadget, supaya tidak ribut, tidak mengganggu orang tua diberi gadget dan banyak tontonan yang tidak membangun iman. Di sini Iblis meletakkan landasan yang membuat anak suatu hari tidak akan pernah bisa menerima Tuhan, tidak bisa mengerti Kerajaan Allah. Setan sudah membuat persemaian. Ia menyemai anak manusia dari sejak kanak-kanak, untuk siap dituai oleh Iblis di hari tuanya. Masalahnya, berapa banyak kita yang benar-benar mau meratapi keadaan ini?

Semakin kita banyak berdoa, semakin kita banyak duduk diam di kaki Tuhan, maka kita akan semakin menyadari betapa rusaknya kita ini. Roma 3:23 mengatakan, “Manusia telah kehilangan kemuliaan Allah.” Itu benar-benar nyata. Tetapi tidak banyak orang yang mengerti dan menghayati hal ini. Kehilangan kemuliaan Allah itu dahsyat sekali, fatal. Sebab manusia dirancang untuk memiliki keagungan seperti Bapa, seperti Allah sendiri, Sang Pencipta atau Sang Khalik. Itu luar biasa. Tetapi sedikit sekali orang yang benar-benar menyadari keadaan ini, sebab tidak banyak orang yang benar-benar mengalami perjumpaan dengan Tuhan atau bersentuhan dengan Tuhan.

Kalau orang mengalami perjumpaan dengan Tuhan, bersentuhan dengan Tuhan, maka ia akan menyadari betapa rusaknya keadaan dirinya di hadapan Allah. Kita akan menyadari, betapa kita sering memiliki kelicikan-kelicikan yang sangat halus, sangat tipis, yang tidak disadari bukan hanya oleh orang lain, tetapi kita sendiri juga bisa tidak menyadari kelicikan, ketidaktulusan kita. Sesuai dengan firman Tuhan yang mengatakan, “Hati manusia itu licik, lebih licik dari segala sesuatu.” Sedikit sekali orang yang punya iman sesuai dengan kehendak Allah. Mari kita membenahi diri kita masing-masing dulu, kalau-kalau ada ketidakpantasan yang masih kita lakukan di hadapan Allah. Kita benahi diri kita masing-masing dulu, baru kita membenahi orang lain.

Jadi kalau orang tidak mengenali keadaan rusak yang ada di dalam hidupnya, hal itu terjadi karena ia tidak memiliki keinginan, kerinduan yang benar-benar kuat dan tulus untuk hidup di dalam kesucian dan kekudusan Allah. Banyak kebutuhan hidup kita. Banyak persoalan dan pergumulan kita, tetapi apa pun masalah kita, bukan atau belum masalah besar. Masalah besar kita adalah jika kita belum mencapai apa yang Allah inginkan atau kehendaki. Yang oleh karenanya kita sungguh-sungguh mohon agar Bapa membuka hati dan pikiran kita untuk mengenali keadaan kita yang sesungguhnya di mata Allah. Dan tentu selanjutnya kita mohon Tuhan menolong kita agar kita menjadi anak-anak Allah yang hidup hanya untuk kesukaan Allah, agar hidup kita dapat benar-benar menyenangkan hati-Nya. Untuk apa kita hidup di bumi jika kita tidak menyenangkan hati Allah Bapa kita? Karena kita memang diadakan oleh Allah, diciptakan oleh Allah, dihadirkan oleh Allah di bumi ini untuk kesukaan Allah Bapa.

Tuhan Yesus memberkati
????????????. ????????. ???????????????????????????? ????????????????????????????

MARI KITA MEMBENAHI DIRI KITA MASING-MASING DULU, KALAU-KALAU ADA KETIDAKPANTASAN YANG MASIH KITA LAKUKAN DI HADAPAN ALLAH.

Card image
Bacaan Alkitab Setahun - 10 Juli 2024
2024-07-10 17:53:55

Amsal 1-5

Card image
Truth Kids 09 Juli 2024 - TEKUN
2024-07-09 14:00:28


Ibrani 10:36
”Sebab kamu memerlukan ketekunan, supaya sesudah kamu melakukan kehendak Allah, kamu memperoleh apa yang dijanjikan itu.”

Sobat Kids, kita hidup di dunia ini membutuhkan Tuhan Yesus. Tapi bagaimana caranya agar Tuhan Yesus selalu ada di dalam hidup kita?

Caranya memang tidak mudah, Sobat Kids. Kita tahu saat Tuhan Yesus hidup di dunia ini, Ia melakukan semua yang Bapa inginkan. Kita seharusnya bisa hidup seperti yang Tuhan Yesus ajarkan. Contohnya, seperti Hana ketika diganggu oleh temannya. Sebenarnya Hana ingin marah kepada temannya, tetapi ia berusaha memaafkan dan belajar sabar. Nah bukan hanya itu. Untuk bisa memaafkan temannya, Hana tetap tekun berdoa kepada Tuhan Yesus agar bisa menjadi anak yang sabar. Hana selalu meluangkan waktu untuk bertemu dengan Tuhan. Hana selalu berusaha untuk melakukan apa yang Tuhan mau. Padahal kalau Hana marah kepada temannya, bisa saja. Tetapi Hana tidak mau Tuhan sedih melihatnya. Hana hanya mau membuat Tuhan senang.

Ayo, Sobat Kids, jangan mau kalah dengan Hana. Kita juga bisa membuat Tuhan senang dengan melakukan perintah Tuhan. Yuk, kita tekun belajar selalu dekat dengan Tuhan Yesus.

Card image
Truth Junior 09 Juli 2024 - KETEKUNAN DALAM IMAN
2024-07-09 12:45:07


Ibrani 10:36
”Sebab kamu memerlukan ketekunan, supaya sesudah kamu melakukan kehendak Allah, kamu memperoleh apa yang dijanjikan itu.”

Annyeong… Sobat Junior. Siapa yang suka dapat hadiah? Misalnya ayah atau ibu kita menjanjikan jika berhasil mendapat nilai ujian akhir di atas 80, maka akan mendapat hadiah yang kita impikan. Tentu pastinya kita akan merelakan waktu bermain diganti dengan belajar hingga malam tiada berhenti. Kalian akan terus-menerus atau tekun belajar.

Firman di atas mengingatkan, jika kita bertekun kepada Allah maka akan memperoleh apa yang Ia janjikan. Sobat Junior, kita telah belajar melalui kisah Yesus yang menjalani puasa selama 40 hari. Walau lapar, Yesus tetap tekun dan bersabar. Jadi, bertekun dalam iman dibutuhkan juga kesabaran. Sering kali kita merasa bingung atau bahkan bertanya, “Tuhan, Engkau di mana? Mengapa begitu sulit mengikut-Mu?”

Ada 3 cara untuk selalu bertekun. Pertama, jangan pernah menunda untuk berdoa saat bangun di pagi hari dan tidur malam hari. Kedua, selalu menyemangati diri kita dengan menulis dalam catatan kegiatan yang membuat roh semakin bertumbuh (membaca Alkitab, mendengar renungan, atau mengembangkan bakat kita).

Hal terakhir yang paling penting, dalam bertekun, kita tidak sendirian. Mari ajak teman-teman kita juga untuk saling mendoakan atau bercerita. Sobat Junior, pengharapan kita hanya dalam Tuhan. Mari kita bertekun dalam iman karena rindu berjumpa bersama Bapa di atas langit biru.

Card image
Truth Youth 09 Juli 2024 (English Version) - IN HARMONY
2024-07-09 12:32:52


"Consider therefore the kindness and sternness of God: sternness to those who fell, but kindness to you, provided that you continue in His kindness. Otherwise, you also will be cut off." (Romans 11:22)

In truth, our very selves reflect the environment in which we live and interact. To glimpse the nature of our daily surroundings, we need only observe our attitudes and decisions. This is quite simple; it is evident in the foundations of our thinking, every word we utter, and the choices we make each day.

Therefore, it is exceedingly important to carefully select and evaluate with whom we choose to associate. This is not to advocate for enmity, but rather to safeguard ourselves from errant steps. Our future is shaped by every decision we make today. The company we keep determines our values and principles in life.

In modern parlance, there is a term known as "in harmony." A harmonious friend is someone with whom we share many similarities, thus fostering a mutually supportive friendship. Generally, harmonious friends have much in common, such as interests, ways of thinking, tastes, and even life goals. These friends often feel like family. Naturally, everyone aspires to have harmonious friends.

Ensure that every person who becomes your friend shares the same values and life principles, namely the fear of God and the pursuit of doing the Father's will in heaven as their life goal. There should no longer be any influence from worldly values or principles akin to those who do not fear God. Having friends who hold these shared values and principles is crucial for our personal and spiritual growth.

God does not wish for us to be tainted by this wicked world; rather, He desires for us to grow increasingly towards the maturity found in righteousness. Hence, it is only by embracing the values and principles that align with God's desires—being perfect as the Father is perfect—that we fulfill our deepest thirst. Therefore, surround yourself with harmonious friends who love and honor God.

WHAT TO DO:
1. Befriend those who strive to live like Jesus Christ.
2. Reduce and limit interactions with those who encourage negative or toxic behavior.

BIBLE MARATHON:
▪ Proverbs 27-29

Card image
Truth Youth 09 Juli 2024 - SEFREKUENSI
2024-07-09 12:31:02


”Sebab itu perhatikanlah kemurahan Allah dan juga kekerasan-Nya, yaitu kekerasan atas orang-orang yang telah jatuh, tetapi atas kamu kemurahan-Nya, yaitu jika kamu tetap dalam kemurahan-nya; jika tidak, kamu pun akan dipotong juga.” (Roma 11:22)

Sejatinya, diri kita mencerminkan lingkungan di mana kita hidup dan bergaul. Untuk melihat bagaimana gambaran lingkungan keseharian diri kita, cukup terwakilkan dengan sikap dan keputusan kita. Hal ini sangat sederhana, terlihat mulai dari landasan diri kita berpikir, setiap perkataan yang kita sampaikan, dan pilihan-pilihan yang kita ambil sehari-hari.

Itu sebabnya penting sekali untuk memilih serta memilah dengan siapa kita berteman. Ini bukan sedang mengajarkan untuk memiliki musuh, namun hal ini dilakukan untuk menjaga diri kita dari kesalahan dalam melangkah. Sebab, masa depan kita ditentukan oleh setiap keputusan kita hari ini. Dengan siapa kita berteman, menentukan nilai diri dan prinsip dalam kehidupan kita.

Masa kini terkenal sebuah istilah “sefrekuensi.” Teman sefrekuensi artinya seseorang yang memiliki banyak kesamaan, sehingga tercipta pertemanan yang saling mendukung. Pada umumnya, teman sefrekuensi mempunyai banyak kecocokan, seperti dari segi kesukaan, pola pikir, selera, hingga tujuan hidup. Bahkan, teman sefrekuensi juga terasa seperti keluarga sendiri. Pada umumnya, setiap orang mengharapkan ingin memiliki teman sefrekuensi.

Pastikan setiap orang yang menjadi teman kita memiliki nilai dan prinsip hidup yang sama, yakni takut akan Tuhan dan melakukan kehendak Bapa di surga sebagai tujuan hidup. Tidak boleh ada lagi pengaruh nilai-nilai dunia serta prinsip hidup seperti orang yang tidak takut akan Tuhan. Memiliki teman yang mempunyai nilai dan prinsip yang sama seperti ini, sangat menentukan pertumbuhan pribadi dan spiritual kita.

Tuhan tidak ingin kita diwarnai oleh dunia yang jahat ini, namun Ia rindu kita semakin bertumbuh ke arah kebenaran yang mendewasakan. Maka hanya dengan memiliki nilai-nilai serta prinsip yang seperti Tuhan inginkan, yakni sempurna seperti Bapa, itu yang menjadi kehausan kita semua. Oleh sebab itu, kelilingilah diri kita dengan teman sefrekuensi yang mengasihi serta menghormati Tuhan.

WHAT TO DO:
1.Bertemanlah dengan mereka yang mau berjuang untuk hidup seperti Tuhan Yesus.
2.Kurangi dan batasi pergaulan dengan mereka yang mengajak berbuat negatif/toxic.

BIBLE MARATHON:
▪︎ Amsal 27-29

Card image
Renungan Pagi - 09 Juli 2024
2024-07-09 12:28:40


Pandangan tentang masa depan akan mempengaruhi sikap kita dalam menjalani hari ini; ketika berpikir negatif tentang masa depan, maka kita tidak memiliki harapan dalam hidup hari ini dan seolah menyerah pada nasib tanpa berjuang dan berserah pada rancangan Tuhan.

Tetapi ketika mengerti bahwa rancangan Tuhan untuk hidup kita adalah hari depan yang penuh harapan, maka kita akan berserah dan mempercayai segala yang Tuhan rancangkan, itulah yang terbaik. Kita akan berjuang hidup melakukan kehendak Bapa dengan sepenuh hati dan sukacita, karena kita tahu bahwa ketika hidup di dalam Kristus, melakukan kehendak Bapa, maka masa depan akan penuh dengan kepastian, kemenangan dan kemuliaan.

"Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan."
(Yeremia 29:11)

Card image
Quote Of The Day - 09 Juli 2024 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2024-07-09 11:58:43


Orang yang takut akan Allah, pasti takut ditinggalkan oleh Allah.

Card image
Mutiara Suara Kebenaran - 09 Juli 2024 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2024-07-09 11:49:07


Gereja adalah tempat kita mendapatkan briefing. Setelah mendapat penjelasan singkat di gereja, kita praktik dalam keseharian hidup.

Card image
QUALITY OF LIFE - 09 Juli 2024 (English Version)
2024-07-09 11:38:24


We must continue to remember that real life is not now on this earth. Because life on this earth is short and temporary, and is a failed, damaged product. An intelligent God could not have intended to create flawed life; where there is disease, poverty, disaster, war and ultimately death. Life on this earth is a truly tragic life, because success will somehow end, and that is tragic. Indeed, when we have no problems, are healthy, have lots of money, and have lots of fun, we don't think about the tragedy of life. But imagine if we are at a funeral home, witnessing someone lying still in a coffin, it is tragic.

Anyone can end up in a coffin: children, teenagers, young adults, elderly people. Don't think that the coffin is only for the elderly; young people can also die. So, let us always remember that real life is later. Don't forget, because if we forget, first, we become careless. Life does not care about everything we do, even though everything we sow, we reap. The Bible says that each of us must stand before the judgment seat of Christ. And each person will receive what they deserve (Romans 14:12 So then every one of us shall give account of himself to God). So nothing is free. If someone acts or behaves badly towards others, they will surely reap the consequences someday.

Even though today it seems fine. But let us not be blind of conscience; not caring that what we do has consequences, it is not free. Hurting or harming others comes with a price. Maybe the person we hurt cannot fight back. So we feel safe, there is no evidence. Surely, no matter how clever we are at avoiding the consequences of our evil actions, in God's court, we cannot escape. Don't follow the wicked. It is better to suffer a loss than to gain but be evil. If we suffer a loss, and we are the weak who cannot demand justice, we stay silent. God will repay. Believe that God is a Just Judge. Conversely, if we are merciful to others, then we will also receive mercy, God will also be merciful to us. God will help.

Secondly, we do not learn in this world. In fact, in this world, we enter the school of life. Some pass, some do not. Those who pass will enter the Kingdom of Heaven. Those who do not pass are not allowed to enter the Kingdom of Heaven. Those who pass are those who do the will of the Father (Matthew 7:21 “Not everyone who says to me, ‘Lord, Lord,’ will enter the kingdom of heaven, but only the one who does the will of my Father who is in heaven). In everything we do, we do not hurt or harm others. And in every decision we make, it must be exactly what God wants. Matthew 6:19 says, "Store up treasures in heaven, not on earth. Where your treasure is, there your heart will be also." Therefore, we must strive to live righteously, become more righteous every day, and fill our lives with good deeds. For this, we go to school. The church is where we get our briefing; a short explanation. After receiving a brief explanation at church, we practice it in our daily lives.

Remember, if we are still wicked, we will be humiliated, and terrifyingly, thrown into the lake of fire. If we are trampled upon, it is okay, because we want to learn to be spiritually mature. If treated unjustly, we remain silent. If we have a life partner, do not cheat, do not date others. Even thinking impure thoughts or looking at the opposite sex in the wrong way is not allowed. We want, one day when we close our eyes, for God to be satisfied with our state. Therefore, as we get older, we must tidy up our lives; finishing well; the project of packing up. If we understand eternity, then we will not be preoccupied with other things. In fact, other activities are directed towards eternity, with a focus on eternity. Ironically, many people are blind of conscience towards eternity. Yet, each of us can die at any moment.

Thirdly, we do not serve God. In fact, those who serve God on earth will serve God in heaven. Serving God is the effort to make others saved. It is important. Salvation is not just going to church or becoming a Christian. Being saved means changing to become perfect like the Father and similar to Jesus. Do not listen to the slander that says we cannot be perfect. That is slander against God. From small matters, we train to be perfect, we can. If we do not serve God on earth, we will not serve God forever. And if we continue to grow, we can have the heart of God.

Do not let the church become like an entertainment venue; where the congregation comes to church once a week, sings, listens to sermons, goes home, but there is no change. Or like a hospital that does not provide healing. An encounter with God, it's life changing. The quality of our lives is not because we are highly educated or in a college academic environment. Rather, our quality of life is built day by day when we keep ourselves from wrong actions, learning to be better each day through life experiences.

THE QUALITY OF OUR LIVES IS BUILT DAY BY DAY WHEN WE KEEP OURSELVES FROM WRONG ACTIONS, LEARNING TO BE BETTER EACH DAY THROUGH LIFE EXPERIENCES.

Card image
KUALITAS HIDUP - 09 Juli 2024
2024-07-09 11:32:18


Kita harus ingat terus bahwa kehidupan yang sesungguhnya bukanlah sekarang di bumi ini. Sebab kehidupan di bumi ini adalah kehidupan yang singkat dan sementara, serta merupakan produk yang gagal, rusak. Allah yang cerdas tidak mungkin bermaksud menciptakan kehidupan yang bercacat; di mana ada penyakit, kemiskinan, bencana, perang dan puncaknya ada kematian. Kehidupan di bumi ini adalah kehidupan yang benar-benar tragis, sebab sukses bagaimanapun semua akan berakhir, dan itu tragis. Memang, pada waktu kita sedang dalam keadaan tidak bermasalah, sehat, banyak uang, ada banyak kesenangan, kita tidak memikirkan tragisnya hidup. Tapi coba kalau kita ada di rumah duka, lalu kita menyaksikan seseorang yang terbujur kaku di peti mati, tragis.

Siapa saja bisa masuk ke dalam peti mati: anak-anak, remaja, pemuda, orang tua. Jangan berpikir peti mati hanya untuk orang tua, orang muda pun juga bisa mati. Jadi, mari kita ingat terus bahwa hidup yang sesungguhnya itu, nanti. Jangan sampai kita lupa, sebab kalau kita lupa, _yang pertama, kita jadi ceroboh. Hidup tidak peduli terhadap segala sesuatu yang kita lakukan, padahal segala sesuatu yang kita tabur, kita tuai. Alkitab mengatakan bahwa setiap kita harus menghadap takhta pengadilan Kristus. Dan setiap orang akan memperoleh apa yang patut diterimanya (Rm. 14:12). Jadi tidak ada yang gratis. Kalau seseorang berlaku atau bertindak jahat terhadap orang lain, dia pasti akan menuai suatu hari.

Walau hari ini kelihatannya aman-aman saja. Tapi, jangan kita menjadi buta nurani; tidak peduli bahwa apa yang dia lakukan itu ada akibatnya, tidak gratis. Kita melukai atau menyakiti orang, ada harganya. Mungkin orang yang kita lukai tidak bisa melawan kita. Sehingga kita merasa aman, tidak ada bukti apa-apa. Pasti, secerdik apa pun kita menghindarkan diri dari akibat kejahatan, kalau di pengadilan Tuhan kita tidak bisa menghindar. Jangan ikut-ikutan jahat. Lebih baik kita dirugikan daripada kita untung, tapi kita jahat. Kalau kita dirugikan, dan kita di pihak lemah tidak bisa menuntut, kita diam. Tuhan akan kembalikan. Percayalah, Tuhan itu Hakim Yang Adil. Dan sebaliknya, kalau kita berbelaskasihan kepada sesama, maka kita juga akan mendapat belas kasihan, Tuhan juga berbelaskasihan kepada kita. Tuhan akan tolong.

Yang kedua, kita tidak belajar di dunia ini. Padahal di dunia ini kita masuk ke dalam sekolah kehidupan. Ada yang lulus, ada yang tidak lulus. Yang lulus itu akan masuk Kerajaan Surga. Yang tidak lulus tidak diperkenan masuk Kerajaan Surga. Yang lulus adalah mereka yang melakukan kehendak Bapa (Mat. 7:21). Dalam segala hal yang kita lakukan, kita tidak menyakiti atau melukai orang. Dan di setiap keputusan yang kita ambil, tepat seperti yang Allah inginkan. Matius 6:19 mengatakan, "Kumpulkan harta di surga, bukan di bumi. Di mana ada hartamu, di situ hatimu berada." Jadi kita harus berusaha untuk hidup benar, makin hari makin benar, dan mengisi hidup kita dengan perbuatan-perbuatan yang baik. Untuk itu, kita sekolah. Gereja adalah tempat kita mendapatkan briefing; penjelasan singkat. Setelah mendapat penjelasan singkat di gereja, kita praktik dalam keseharian hidup.

Ingat, kalau kita masih jahat, kita akan dipermalukan, dan yang mengerikan, dibuang ke dalam lautan api. Kita diinjak, tidak apa, karena kita mau belajar dewasa rohani. Diperlakukan tidak adil, diam. Kalau sudah punya pasangan hidup, jangan selingkuh, jangan pacaran lagi. Bahkan berpikir kotor atau melihat lawan jenis dengan cara yang salah pun tidak boleh. Kita mau, suatu hari ketika kita menutup mata, Tuhan puas dengan keadaan kita. Jadi, kalau sekarang umur kita makin tua, kita harus makin beberes; finishing well; proyek koper artinya proyek berkemas-kemas. Kalau kita mengerti kekekalan, maka kita tidak akan sibuk dengan yang lain. Bahkan, kesibukan yang lain itu hanya diarahkan untuk kekekalan, fokusnya kekekalan. Ironis, banyak orang itu buta nuraninya terhadap kekekalan. Padahal, setiap kita ini bisa setiap saat mati.

Yang ketiga, kita tidak melayani Tuhan. Padahal, orang yang melayani Tuhan di bumi ini akan melayani Tuhan di surga. Melayani Tuhan adalah usaha membuat orang lain selamat. Itu penting. Selamat itu bukan hanya ke gereja atau jadi Kristen. Selamat itu artinya berubah menjadi sempurna seperti Bapa dan serupa dengan Yesus. Jangan kita mendengar fitnah yang mengatakan bahwa kita tidak bisa sempurna. Itu fitnah terhadap Tuhan. Dari perkara kecil, kita latih untuk sempurna, bisa. Kalau kita tidak melayani Tuhan di bumi, kita tidak akan melayani Tuhan selama-lamanya. Dan kalau kita bertumbuh terus, kita bisa memiliki hati Tuhan.

Jangan sampai gereja menjadi seperti tempat hiburan; di mana jemaat seminggu sekali datang ke gereja, nyanyi-nyanyi, dengar khotbah, pulang, tapi tidak ada perubahan. Atau seperti rumah sakit yang tidak memberi kesembuhan. Pertemuan dengan Tuhan, itu mengubah hidup. Kualitas hidup kita itu bukan karena kita berpendidikan tinggi, atau ada di lingkungan akademis perguruan tinggi. Tetapi, kualitas hidup kita dibangun dari hari ke hari ketika kita menjaga diri dari perbuatan yang salah, dari hari ke hari belajar untuk lebih baik lewat pengalaman hidup.

Tuhan Yesus memberkati
????????????. ????????. ???????????????????????????? ????????????????????????????

KUALITAS HIDUP KITA DIBANGUN DARI HARI KE HARI KETIKA KITA MENJAGA DIRI DARI PERBUATAN YANG SALAH, DARI HARI KE HARI BELAJAR UNTUK LEBIH BAIK LEWAT PENGALAMAN HIDUP.

Card image
Bacaan Alkitab Setahun - 09 Juli 2024
2024-07-09 11:28:02

Yesaya 5-8

Card image
Truth Kids 08 Juli 2024 - SI KEMBAR JOHAN DAN JIHAN
2024-07-08 13:04:56


Yakobus 5:9
”Saudara-saudara, janganlah kamu bersungut-sungut dan saling mempersalahkan, supaya kamu jangan dihukum. Sesungguhnya Hakim telah berdiri di ambang pintu.”

Namaku Johan, dan adikku, Jihan. Kami adalah anak kembar; muka kami mirip dan terkadang orang lain salah memanggil nama kami berdua. Kami saling menyayangi dan menjaga. Kami bermain bersama dan selalu rajin untuk ikut ibadah Sekolah Minggu. Kami selalu senang saat mendengar firman Tuhan di Sekolah Minggu. Apa pun yang kami lakukan, selalu bersama.

Pada suatu saat, Jihan sedang bermain lego. Dia mengeluarkan semuanya sampai berantakan di lantai. Saat itu aku masih mengerjakan tugas sekolah. Aku kaget karena Jihan membuat mainan menjadi sangat berantakan. Dan bukan hanya lego saja, ada juga mobil-mobilan yang dia keluarkan, dan semuanya belum dirapikan oleh Jihan. Tiba-tiba mama datang dan berkata, "Waduh, Jihan kenapa ruangan ini berantakan sekali? Sekarang kamu rapikan, kita mau pergi ke gereja." Jihan menjawab dengan nada tinggi, "Ini banyak sekali. Aku gak bisa rapikan sendiri!" Mendengar hal itu, aku datang ke ruang bermain, "Jihan, kok kamu menjawab Mama dengan nada tinggi? Kan kamu yang keluarkan semua mainan. Kamu tidak sopan menjawab Mama seperti itu. Ayo, aku bantu kamu merapikan ini."

Sobat Kids, ayat firman Tuhan hari ini mengingatkan kita untuk tidak bersungut-sungut atau marah-marah, apalagi saat harus bertanggung jawab atas sesuatu yang kita perbuat. Yuk, kita belajar tetap bersabar dan tidak mengeluh saat melakukan suatu pekerjaan.

Card image
Truth Junior 08 Juli 2024 - JANGAN MENGELUH
2024-07-08 13:01:58


Yakobus 5:9
”Saudara-saudara, janganlah kamu bersungut-sungut dan saling mempersalahkan, supaya kamu jangan dihukum. Sesungguhnya Hakim telah berdiri di ambang pintu.”

Ina duduk di kelas 6 SD, ia sedang sedih karena papa dan mamanya sering sekali bertengkar di rumah. Hampir setiap hari papa dan mamanya saling marah. Ina bingung apa yang harus dia lakukan, sampai-sampai Ina kehilangan sukacita jika berada di rumah.

Suatu malam, Ina teringat apa yang pernah kakak Sekolah Minggunya ajarkan di gereja. Kalau sedang mengalami kesulitan, datanglah kepada Tuhan, berdoa sungguh-sungguh kepada Tuhan, dan jadikan Tuhan teman curhat. Jangan mencari manusia, tetapi cari Tuhan karena Tuhan akan memberikan damai sejahtera dalam hati kita. Janganlah mengeluh dan bersungut-sungut karena kesulitan yang kita hadapi. Jalani dengan ucapan syukur dan tetap bersabar. Andalkan Tuhan dalam segala hal.

Ketika Ina teringat semua itu, ia langsung mengambil waktu untuk berdoa kepada Tuhan. Ina ceritakan kepada Tuhan hal yang membuat hatinya sedih. Ina tetap bersyukur masih memiliki papa dan mama. Setelah hari itu, Ina selalu membawa papa dan mamanya dalam doa dan terus bersabar menunggu jawaban Tuhan.

Sampai suatu ketika, Ina melihat kondisi yang jarang terjadi. Papa dan mamanya tidak lagi bertengkar, tetapi mulai berbicara baik-baik. Papa dan mamanya juga memanggil Ina dan meminta maaf kepada Ina kalau beberapa hari belakangan, papa dan mamanya selalu bertengkar dan membuat Ina menjadi sedih. Ina memaafkan papa dan mamanya, dan Ina memeluk mereka. Ina merasa senang sekali karena Tuhan menjawab doa-doanya.

Apakah Sobat Junior sedang mengalami kesulitan seperti Ina? Tetap bersabar dan jangan mengeluh, ya. Tetap bersyukur dan selalu libatkan Tuhan dalam permasalahan yang kita hadapi. Tuhan akan memberi kelegaan dan jawaban kepada kita.

Card image
Truth Youth 08 Juli 2024 - WHAT A FRIEND YOU HAVE BEEN
2024-07-08 13:00:08


”Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia.” (Yohanes 3:17)

In reality, we as human being merupakan makhluk sosial yang membutuhkan dukungan emosional dari orang lain, dan ini bisa didapatkan dari kehadiran keluarga, sahabat, dan pasangan. Namun, dari ketiga hal tersebut, teman adalah komunitas yang pasti dimiliki semua orang, bahkan tanpa berusaha. Tuhan pun memperhatikan hal itu. Ia menaruh orang-orang tertentu dalam hidup kita dengan tujuan tertentu pula. Seorang teman dalam keadaan tertentu dapat menjadi seorang sahabat. Walaupun tidak ada satu jawaban pasti untuk semua orang karena kebutuhan persahabatan bisa bervariasi tergantung kepribadian dan keadaan masing-masing individu, pada umumnya memiliki sahabat atau hubungan sosial yang kuat sangatlah penting bagi kesejahteraan manusia secara keseluruhan. Tanpa hubungan sosial yang baik, seseorang mungkin merasa kesepian, terisolasi, dan mengalami masalah kesehatan mental dan fisik. Oleh karena itu, mencari dan menjaga persahabatan adalah aspek penting dalam menjalani kehidupan yang sehat dan bahagia.

Namun tahukah kamu bahwa keadaan manusia yang sudah tidak utuh (sempurna) karena kehadiran dosa membuat persahabatan dalam dunia pun tidak sepenuhnya membahagiakan? Namun, ada satu Pribadi yang hadir menjadi sosok sahabat bagi kita, yaitu Tuhan Yesus. Yesus membawa arti persahabatan ke level yang begitu dalam. He’s not just working all things for our goodness, but He even gave His life for us. Yesus mati agar kita memiliki hidup. Dari kebenaran ini, tidakkah kita patut bersyukur dengan menjalani hidup yang berharga ini dengan menjadi sahabat bagi sesama kita? Tuhan mau kita juga memberikan hidup bagi orang lain, membuat mereka merasakan rasa syukur yang sama, sehingga mereka bergerak menjadi sahabat bagi orang lain. Marilah kita hidup sebagaimana Yesus Kristus telah hidup, what a friend He has been, and that’s how we should be.

WHAT TO DO:
1.Menghayati peran Yesus sebagai Sahabat yang sejati
2.Memperagakan kehidupan-Nya dalam hidup kita

BIBLE MARATHON:
▪︎ Amsal 24-26

Card image
Renungan Pagi - 08 Juli 2024
2024-07-08 12:57:24


Dendam dan sakit hati berkepanjangan sebenarnya itu merugikan diri sendiri, mungkin ada orang yang menyakiti hati kita, lalu sangat marah, cobalah selesaikan dan berdamai, baik dengan orang yang menyakiti kita, juga berdamai dengan diri sendiri. Jangan simpan sakit hati dan ingin balas dendam, ingat bahwa dendam bukanlah jalan keluar yang baik, karena dendam tidak akan pernah menjadi solusi dari sakit hati yang berkepanjangan.

"Karena itu, sebagai orang-orang pilihan Allah yang dikuduskan dan dikasihi-Nya, kenakanlah belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemah lembutan dan kesabaran. Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian."

Demikianlah firman Tuhan mengingatkan hal ini dan harus kita lakukan. Sebab jika hanya menuruti hawa nafsu dengan selalu mendendam, maka makin rusak hidup kita, rusak hubungan dengan Tuhan dan sesama, makin sakit hati makin hancur masa depan kita, makin hilang damai sejahtera, oleh karena itu jangan simpan dendam, dan belajarlah untuk melepaskan pengampunan. Sebab Tuhan pun telah mengampuni.
(Kolose 3:12-13)

Card image
Quote Of The Day - 08 Juli 2024 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2024-07-08 12:55:25


Tidak mungkin orang lain tidak mengagumi kita apabila kita mengenakan karakter Kristus. Namun kita tidak boleh mengejarnya.

Card image
Mutiara Suara Kebenaran - 08 Juli 2024 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2024-07-08 12:54:17


Setan membuat hal kesucian menjadi begitu sakralnya, seakan-akan hanya bisa dijangkau oleh orang-orang tertentu.

Card image
CHANGING THE ATMOSPHERE OF LIFE - 08 Juli 2024 (English Version)
2024-07-08 12:52:04


One characteristic of successful people is that they do not like to procrastinate in many aspects. This parallels with spiritual life. Therefore, do not procrastinate. If God still gives us the opportunity, let's take it seriously. Jewish historian Josephus Cicero, in his writings, shows how tragic Jerusalem was when General Titus destroyed it. Corpses lay in the streets, the magnificent Temple was destroyed, even though the Temple was a symbol of the unity of the Jewish people. Tragic. But this is nothing compared to the tragedy of being separated from God's presence forever. This is not to intimidate or scare, but the Bible says that the unclean will not enter the New Jerusalem. Therefore, we must not only be good Christians; we must be holy.

Do not be afraid of the word "holy," because that is our habitat, our nature. It is necessary for our peace. And God wants to visit us so that we can reach the holiness that God desires. Do not think there is a double standard; one for pastors and another for laypeople, congregants. Our standard is the same: perfect like the Father. For we are servants of God, from servants of sin to servants of God. We are all priests, warriors of the Kingdom of Heaven, princesses of the Kingdom of Heaven who must live as children of God. Satan makes holiness seem so sacred, as if it can only be reached by certain people.

However, God says in 1 Peter 2:9, "You are a holy nation, you are holy people." We are sanctified and must become truly holy. Satan deceives by pointing to only certain people as worthy to be called servants of God, while others are not. If we are not servants of God, whose servants are we? We must take God's warnings seriously and not play around. This is important, do not procrastinate. Our lives must be colored by living as children of God. We must bring the atmosphere of the Kingdom of Heaven into our lives. We create that atmosphere because we must open the door or window to let the atmosphere of God's Kingdom enter our life’s home, filling the garden of our life.

Why do some people seem spiritual, so close to God, while others do not? This is not a privilege for certain people, excluding others. This is the right of each of us. We must create that atmosphere. Fill the bedroom, living room with praise and worship. Fill the space of our hearts with praise and worship, with the presence of God in our lives. "Seek Me," says the Lord, "While God is willing to be found." This means there will be times when God cannot be found. When people knock on the door, there will be a voice from inside, "Depart from Me! I do not know who you are." Terrifying. What are we seeking in this life?

We eat today, and 12-14 hours wasted. We have things, they can be damaged, they can have accidents, they can become worn out. We have money today, but it can disappear in an instant. However, heavenly wealth—living in fellowship with God, living in an intimate relationship with the Lord—is a treasure that no one can take away. An eternal treasure. We must be so enthusiastic about life because we see the dynamics of life walking with God. And we must dare to step forward. Do not wait for the perfect time. We don't need to wait for that time because it is already in our lives. The question now is, how do we make our life time real? By bringing God into our lives.

Wake up in the morning, pray. Do not look at unnecessary things on gadgets. Have a special time before God, listen to the word of God. While there is still a chance to seek God, seek God. Ask God for something new that changes us. It takes courage to change the atmosphere of our lives because it is not easy to get out of our wrong habits and ways of living. It is not easy to change the atmosphere of our spiritual life. But we can change it if we want to. We can live holy lives, and nothing can hinder us, because God helps us. And that is good news. No fate can change our lives, except ourselves.

Why is our relationship with God not harmonious? While we are more in harmony with this world. We are deceived by the world, bound by the world, and we feel that this is normal life because almost everyone lives that way. That is the way of life of people who are prepared to enter eternal fire. Realize that we are valuable because we have eternity, and God does not want our souls to perish. Meanwhile, the power of darkness tries to pull us out of fellowship with God. We are now contested by these two powers. Whether we want to be saved or perish depends on us. However, to be able to walk with God, we cannot help but have to live in holiness.

IT TAKES COURAGE TO CHANGE THE ATMOSPHERE OF OUR LIVES BECAUSE IT IS NOT EASY TO GET OUT OF OUR WRONG HABITS AND WAYS OF LIVING.

Card image
MENGUBAH ATMOSFER HIDUP - 08 Juli 2024
2024-07-08 12:49:58


Salah satu ciri orang sukses adalah tidak suka menunda dalam banyak aspek. Dan ini paralel dengan hidup rohani. Maka, jangan menunda. Jadi kalau Tuhan masih memberi kesempatan, ayo kita mau sungguh-sungguh. Sejarawan Yahudi, Josephus Cicero, di dalam tulisannya menunjukkan betapa tragisnya Yerusalem ketika dihancurkan Jenderal Titus. Mayat bergelimpangan di jalan-jalan, bait Allah yang megah dihancurkan, padahal bait Allah merupakan lambang persatuan bangsa Yahudi. Tragis. Tapi ini belum seberapa dibandingkan tragisnya ketika seseorang terpisah dari hadirat Allah selama-lamanya. Bukan mengintimidasi dan menakut-nakuti, tapi Alkitab berkata bahwa orang yang najis tidak masuk Yerusalem Baru. Maka kita tidak boleh hanya menjadi orang Kristen baik-baik; kita harus suci.

Jangan takut mendengar kata “suci,” karena itu adalah habitat kita, kodrat kita. Itu yang perlu untuk damai sejahtera kita. Dan Tuhan mau melawat kita agar kita mencapai kesucian seperti yang Allah inginkan. Jangan berpikir ada standar ganda; standar pendeta dengan awam, jemaat. Standar kita sama: sempurna seperti Bapa. Sebab kita ini adalah hamba-hamba Tuhan, dari hamba dosa menjadi hamba Tuhan. Semua kita adalah imam, hulubalang Kerajaan Surga, putri Kerajaan Surga yang harus berkeadaan sebagai anak-anak Allah. Setan membuat hal kesucian menjadi begitu sakralnya, seakan-akan hanya bisa dijangkau oleh orang-orang tertentu.

Padahal Tuhan berkata di 1 Petrus 2:9, “Kamu bangsa yang kudus, kamu orang suci.” Kita dikuduskan dan harus menjadi benar-benar kudus. Setan menipu dengan menunjuk orang-orang tertentu saja yang layak menyandang sebagai hamba Tuhan, yang lain tidak. Kalau kita bukan hamba Tuhan, hamba siapa? Peringatan Tuhan harus kita perhatikan dengan serius dan jangan main-main. Ini penting, jangan kita menunda. Hidup kita harus kita warnai dengan kehidupan sebagai anak-anak Allah. Atmosfer Kerajaan Surga harus kita hadirkan dalam hidup kita. Kita yang menciptakan atmosfer itu, karena kita yang harus membuka pintu atau jendela, supaya atmosfer Kerajaan Allah masuk dalam rumah hidup kita, mengisi taman hidup kita.

Mengapa ada orang nampak rohani, begitu melekat dengan Tuhan, yang lain tidak? Ini bukan hak istimewa orang tertentu, dan yang lain tidak. Ini hak setiap kita. Kita yang harus menciptakan atmosfer itu. Isi ruang kamar tidur, ruang tamu dengan pujian dan penyembahan. Isi ruangan hati kita dengan pujian dan penyembahan, dengan kehadiran Allah di dalam hidup kita. “Carilah Aku,” kata Tuhan, “Selama Allah berkenan ditemui.” Itu artinya ada saat di mana Tuhan tidak bisa ditemui. Ketika orang mengetuk pintu, lalu ada suara dari dalam, “Enyahlah kamu dari hadapan-Ku! Aku tidak kenal siapa kamu.” Mengerikan. Apa yang kita cari dalam hidup ini?

Kita makan hari ini, 12-14 jam terbuang. Kita punya barang, bisa rusak, bisa kecelakaan, bisa haus, usang. Kita punya uang hari ini, dalam sekejap juga bisa lenyap. Tetapi kekayaan surgawi—yaitu kehidupan yang bersekutu dengan Allah, kehidupan yang menjalin hubungan intim dengan Tuhan—adalah harta yang tidak bisa diambil oleh siapa pun. Harta abadi. Kita harus jadi begitu bersemangat hidup, karena kita melihat dinamika hidup berjalan dengan Tuhan. Dan kita harus berani melangkah. Jangan menunggu waktu yang sempurna. Waktu itu tidak perlu kita tunggu, karena sudah ada di hidup kita. Sekarang masalahnya, bagaimana kita mengubah waktu hidup kita menjadi nyata, yaitu dengan menghadirkan Allah di dalam hidup kita.

Bangunlah pagi, berdoa. Jangan melihat apa yang tidak perlu di gadget. Miliki waktu khusus menghadap Allah, dengarkan firman Tuhan. Selagi masih ada kesempatan untuk mencari Tuhan, carilah Tuhan. Mintalah kepada Tuhan sesuatu yang baru, yang mengubah kita. Dibutuhkan keberanian untuk mengubah atmosfer hidup kita, sebab tidak mudah untuk keluar dari kebiasaan dan cara hidup kita yang salah. Tidak mudah untuk mengubah atmosfer kehidupan rohani kita. Tapi bisa kita ubah, kalau kita mau. Kita bisa hidup suci, dan tidak ada yang bisa menghalangi, karena Allah menolong. Dan itu kabar baik. Tidak ada takdir yang bisa mengubah hidup kita, kecuali kita sendiri.

Mengapa hubungan kita dengan Tuhan tidak harmoni? Sementara kita lebih harmoni berhubungan dengan dunia ini. Kita ditipu oleh dunia, diikat oleh dunia, dan kita merasa itu kehidupan wajar karena hampir semua orang memiliki cara hidup seperti itu. Itu adalah cara hidup orang-orang yang dipersiapkan masuk api kekal. Sadari bahwa kita berharga karena kita memiliki kekekalan dan Tuhan tidak inginkan jiwa kita binasa. Sementara kuasa kegelapan berusaha menarik kita keluar dari persekutuan dengan Allah. Sekarang kita diperebutkan oleh dua kuasa ini. Kita mau menjadi orang yang selamat atau binasa, tergantung kita. Namun untuk bisa berjalan dengan Tuhan, tidak bisa tidak, kita harus hidup dalam kekudusan.

Tuhan Yesus memberkati
????????????. ????????. ???????????????????????????? ????????????????????????????

DIBUTUHKAN KEBERANIAN UNTUK MENGUBAH ATMOSFER HIDUP KITA, SEBAB TIDAK MUDAH UNTUK KELUAR DARI KEBIASAAN DAN CARA HIDUP KITA YANG SALAH.

Card image
Bacaan Alkitab Setahun - 08 Juli 2024
2024-07-08 12:37:40

Yesaya 1-4

Card image
Truth Kids 07 Juli 2024 - AYO, BELAJAR SABAR
2024-07-07 09:42:22


Kolose 3:12
”Karena itu, sebagai orang-orang pilihan Allah yang dikuduskan dan dikasihi-Nya, kenakanlah belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran.”

Nina adalah seorang anak yang suka sekali sekolah. Ia selalu semangat kalau masuk sekolah karena bisa bertemu dengan teman-temannya. Di sekolah, Nina memiliki teman yang berbeda-beda. Ada yang kulitnya putih dan coklat; rambut keriting dan rambut lurus; ada yang tinggi dan pendek; itulah yang membuat Nina senang.

Salah seorang anak laki-laki di sekolahnya bernama Hobal. Teman-teman Hobal sering memanggilnya "Hobal si pemarah." Mereka takut dengan Hobal karena selalu marah sehingga tidak ada yang mau berteman dengannya.

Lola mengajak Hobal untuk bermain lego, "Hobal, ayo kita main lego." "Iihhh, aku ga mau main lego. Sudah, pergi kamu ke sana, main sama teman yang lain. Aku gak suka main lego." Hobal menjawab dengan nada marah. Saat itu, Lola menangis karena Hobal menjawab dengan marah-marah.

Karena Nina tahu, ia datang kepada Hobal, "Hobal, kenapa kamu jawabnya marah-marah? Tadi Lola mengajak kamu baik-baik, loh. Kamu harusnya belajar sabar. Kita ini anak Allah. Kalau kita mau membuat Tuhan senang, harus bisa bersabar supaya teman-teman juga tidak takut kepada kita, dan kita jadi bisa berteman dengan siapa aja, Hobal." "Ooohh, mereka takut karena aku sering marah? Kalau begitu aku minta maaf kepada mereka, dan mau belajar sabar seperti yang Tuhan mau," ujar Hobal menyesal.

Card image
Truth Junior 07 Juli 2024 - HATI YANG BENAR
2024-07-07 09:40:01


Kolose 3:12
”Karena itu, sebagai orang-orang pilihan Allah yang dikuduskan dan dikasihi-Nya, kenakanlah belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran.”

Kemarin dan dua hari yang lalu kita belajar dari teman kita, Anto dan Selly. Mereka belajar untuk selalu sabar walaupun mengalami hal-hal yang tidak enak ataupun kurang enak. Apakah Sobat Junior mempunyai teman-teman yang suka mengganggu di sekolah? Pasti suka merasa kesal jika melihat sikap mereka suka mengganggu karena membuat suasana menjadi tidak nyaman. Apa yang Sobat Junior lakukan kepada teman-teman yang mempunyai sikap seperti ini? Apakah Sobat Junior mendoakan mereka supaya mereka berubah perilakunya?

Sebagai anak-anak Allah, kita harus melakukan apa yang Tuhan katakan dalam firman-Nya. Walaupun tidak mudah dalam praktiknya, tetapi sebagai anak Allah, pasti Ia akan memberikan kemampuan bagi kita. Minta belas kasihan Tuhan kepada kita, supaya kita dapat melakukan yang Tuhan kehendaki. Jangan lelah untuk terus berdoa bagi teman-teman yang sering mengganggu dan memiliki sikap yang tidak baik. Miliki hati yang selalu rendah hati supaya lama-kelamaan teman-teman dapat melihat kalau kita, berbeda karena ada kasih Tuhan yang diam di dalam kita.

Kita juga harus bersabar menghadapi teman-teman yang seperti ini. Ada waktunya dengan kesabaran kita, akan membuahkan hasil yang baik. Tuhan mendengar doa dari hati yang tulus. Dengan sikap hati yang benar, Tuhan pasti melihat dan akan menjawab doa-doa yang sungguh-sungguh dipanjatkan kepada-Nya.

Mari, Sobat Junior, selidiki hati kita masing-masing. Apakah kita tetap memiliki sikap hati yang benar ketika menghadapi hubungan yang tidak baik dengan teman? Tetap berdoa kepada Tuhan dan minta pengertian kepada Tuhan, sehingga kita diubahkan menjadi lebih baik setiap harinya.

Card image
Truth Youth 07 Juli 2024 (English Version) - CATHARSIS
2024-07-07 09:37:08


"Iron sharpens iron, so one person sharpens another." (Proverbs 27:17)

Catharsis fundamentally refers to the process of releasing strong emotions through a particular activity or experience. In simple terms, it describes the conveyance of emotions through a specific activity or experience. Indeed, the book of Proverbs embodies catharsis. The Book of Proverbs is filled with verses and poems imbued with emotion. Most of these writings are reflections of the authors' experiences with God. Did you know that King David is one of the authors of the Book of Proverbs? Interestingly, in many of his writings, we observe that these works stem from personal experiences, possessing a heartbeat that moves us towards the hidden messages within. King David is closely associated with the phrase "God is with me," yet the reality is that God is also with every believer. So, what distinguishes David's life from ours?

Here is the truth of this day: God was with David because David was with Him, meaning David walked in fellowship with God, willingly making room for God to walk with him. In line with Proverbs 27:17, your companion is your fellow man. If we reflect on our recent lives, who are those who accompany us? Surely, they are the ones we permit to have a place in our daily lives, ultimately shaping our existence. From the above reflection, let us move towards a shared awareness of being cautious in allowing others (our fellows) into our lives, which we live but once. Like David, who did not merely linger around God but walked with Him, let us also begin from the same standard, allowing God to hold a special place so that with His help, we can avoid and be free from the negative influences of those we allow into our lives.

WHAT TO DO:
1. Make a special place for God to walk with us.
2. Always be vigilant in living our lives by continually walking with God.

BIBLE MARATHON:
▪ Proverbs 21-23

Card image
Truth Youth 07 Juli 2024 - CATHARSIS
2024-07-07 09:33:44


”Besi menajamkan besi, orang menajamkan sesamanya.” (Amsal 27:17)

Catharsis basically is the process of releasing strong emotions through a particular activity or experience. Secara sederhana, menggambarkan proses penyampaian emosi melalui suatu aktivitas atau pengalaman tertentu. In fact, the book of Proverbs were so catharsis. Kitab Amsal dipenuhi dengan sajak-sajak, puisi-puisi yang memiliki nyawa (emosi) di dalamnya. Sebagian besar tulisan-tulisan tersebut merupakan refleksi dari pengalaman-pengalaman penulis bersama Tuhan. Tahukah kamu bahwa Raja Daud merupakan salah satu penulis Kitab Amsal? Menariknya, dalam banyak tulisannya, kita akan melihat bahwa tulisan ini datang dari sebuah pengalaman, sehingga terdapat detak di dalamnya yang menggerakkan hati kita menuju pesan yang tersembunyi di dalamnya. Raja Daud erat dengan frasa “Allah besertaku,” namun kenyataannya Allah juga beserta dengan setiap orang percaya. Lalu, apakah yang membuat kehidupan Daud berbeda dengan kita?

Here’s the truth of this day: Allah menyertai Daud karena Daud beserta dengan-Nya, artinya Daud bergaul dengan Allah; rela menyediakan tempat bagi Allah untuk berjalan besertanya. Sejalan dengan Amsal 27:17, maka siapa yang beserta denganmu ialah sesamamu. If we want to take a look back into our recent life, siapakah mereka yang beserta dengan kita? Tentunya mereka yang kita izinkan memiliki tempat dalam hidup kita sehari-hari, yang akhirnya membentuk pahatan-pahatan dalam hidup kita. Dari perenungan di atas, mari kita bergerak pada satu kesadaran yang sama yaitu berhati-hati dalam memberi ruang bagi orang lain (sesamamu) dalam hidup yang hanya satu kali ini. Like David who is not just being around God but being with Him, biarlah kita juga memulai dari standar yang sama, yaitu membiarkan Allah memiliki tempat khusus sehingga dengan pertolongan-Nya, kita bisa menghindari dan terlepas dari pahatan-pahatan buruk dari orang-orang yang kita ada dalam hidup kita.

WHAT TO DO:
1.Memberikan ruang khusus untuk Tuhan berjalan bersama kita
2.Selalu berjaga-jaga dalam menjalani kehidupan dengan terus berjalan bersama Tuhan

BIBLE MARATHON:
▪︎ Amsal 21-23

Card image
Renungan Pagi - 07 Juli 2024 ,
2024-07-07 09:30:05


Orang yang mementingkan dirinya sendiri biasanya punya sifat selalu ingin dihormati, ingin didengar, ingin dituruti kemauannya dan ingin semakin berkuasa pada orang lain.

Akibat dari mementingkan diri sendiri, adalah tidak mau mengasihi sesama, hal ini sudah melanggar dari hukum Kasih yang sudah diajarkan oleh Tuhan Yesus.

Tuhan memanggil kita, untuk menjadi berkat dan kesaksian bagi orang lain, bukan hidup untuk diri sendiri atau mementingkan diri sendiri (egois).
(Filipi 2:1-5)

Card image
Quote Of The Day - 07 Juli 2024 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2024-07-07 09:27:54


Inilah misteri kehidupan yang diungkapkan oleh Alkitab bahwa Allah semesta alam, Allah Bapa kita yang menyimpan dan memuat berjuta misteri, berkenan menyatakan Diri dan ada bagian-bagian dalam diri-Nya yang bisa atau boleh kita kenali.

Card image
Mutiara Suara Kebenaran - 07 Juli 2024 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2024-07-07 09:26:22


Jangan sampai kita berada pada kegentaran ketika kita tidak lagi memiliki kesempatan untuk bertobat. Karenanya kita harus berusaha untuk memeriksa diri setiap hari, memperhadapkan diri setiap hari di hadapan Tuhan.

Card image
GOD'S FEELINGS MATTER - 07 Juli 2024 (English Version)
2024-07-07 09:22:39


True ministry must earnestly pull someone from the eternal fire. In reality, each of us should be aware that we are in a very dangerous situation. On one occasion, the Lord Jesus reminded the inhabitants of Jerusalem, "Oh, if only you knew what would bring you peace! But now it is hidden from your eyes." Forty years before Jerusalem was destroyed by General Titus in the year 70, Jesus had already prophesied this. Jesus also said, "How often I have longed to gather your children together, as a hen gathers her chicks under her wings, but you were not willing" (Matthew 23:37).

Terror and fear will strike when we stand before the judgment seat of God where we begin to realize that we are not worthy to be with a holy God; just then we will regret it. But the King firmly said, "Depart from Me, you who practice lawlessness." This might not refer to general moral evil but to not respecting the Lord properly, not considering whether our attitudes today are appropriate or worthy before Him. May the Holy Spirit touch us and give us a reverent fear of God while we still have the opportunity to repent.

Do not let us be in terror when we no longer have the chance to repent. Therefore, we must strive to examine ourselves daily, to face ourselves every day. Paul reminds us in Romans 8:12-13 that we are not debtors to live according to the flesh, but according to the spirit. We are indebted to cast off everything that God does not want. Our law is not a written law, "this is forbidden, that is permitted; this is allowed, that is not allowed," which can be covered and verified with verbal statements and sanctions. But our law is God Himself. Are we pleasing before God or not? The measure of our law is God's thoughts and feelings. That is why in 2 Corinthians 5:9-10, the Word of God says, "We make it our goal to please Him. For we must all appear before the judgment seat of Christ, so that each of us may receive what is due us for the things done while in the body, whether good or bad."

We have to take this matter seriously. Do not be satisfied with just being a good person who will not go to prison because there is no evidence of committing criminal or civil offenses, but we must see it from God's perspective, from His point of view; how He feels about us. Not many people truly question this. If we do not question it, it is dangerous. Our situation is terrifying. Because without realizing it, we are in the realm of the power of darkness that continually leads us into eternal darkness, meaning separation from God's presence forever. This is not meant to scare us or take away our peace. Honestly, the peace we have is fake when we do not consider God's feelings towards us.

Our peace is true, if we consider God's feelings; whether we please His heart or not. Only if we please His heart, we will have that peace. If this is not the measure, then we will become numb, lacking sensitivity to understand God's will. And if it continues, we will never be able to discern God's will. Praise the Lord! Today is the time. There might not be a second chance. We must think: now or never. Do not get used to delaying and feeling at peace with that delay, because it is a deception of the power of darkness. We must be serious. In the end, this is not a matter between us and the servant of God or the church. This is a matter between us and God.

This might be the last warning. So why are we not afraid of God? Why are we used to being careless as if living in a neutral no man's land, as if we exist by ourselves without anyone designing our presence? On the other hand, why do we give thanks every morning? So that we know ourselves, know how to be grateful. So that we realize there is a hand that sustains us. So that we know how to honor Him who weaves all the blessings we need. So that we remember, if it were not God who takes care of us, we would not be as we are today. No matter how difficult our situation is, remember that we are under God's control and monitoring. He is very good.

We must always be grateful. Not just adorning our lips and filling our prayers, but realizing that our existence is because of the goodness of the living hand of God. Only then do we say, "With what shall I repay Your kindness?" Do not forget ourselves. But even if we forget ourselves, go ahead. But we will bear the responsibility, reap what we sow. Everything has its reckoning. Therefore, do not delay. When we get used to delaying, in the end, we cancel it.

OUR PEACE IS TRUE, IF WE CONSIDER GOD'S FEELINGS; WHETHER WE PLEASE HIS HEART OR NOT.

Card image
MEMPERKARAKAN PERASAAN ALLAH - 07 Juli 2024
2024-07-07 09:20:59


Pelayanan yang benar harus serius menarik seseorang dari api kekal. Sejatinya, setiap kita mestinya sadar bahwa kita ada di dalam situasi yang sungguh sangat membahayakan. Pada suatu kesempatan, Tuhan Yesus mengingatkan penduduk Yerusalem, “Wahai, seandainya kamu tahu apa yang baik untuk damai sejahteramu! Tetapi sekarang hal ini tersembunyi di matamu.” 40 tahun sebelum Yerusalem dihancurkan Jenderal Titus pada tahun 70, Yesus sudah menubuatkan itu. Yesus pun berkata, “Aku rindu mengumpulkan anak-anakmu, sama seperti induk ayam mengumpulkan anak-anaknya di bawah sayapnya, tetapi kamu tidak mau” (Mat. 23:37).

Kegentaran dan ketakutan akan melanda ketika kita ada di hadapan takhta pengadilan Allah di mana kita mulai menyadari bahwa kita tidak layak bersama-sama dengan Allah yang kudus, di saat itu kita baru akan menyesal. Tetapi Raja itu tegas berkata, “Enyahlah dari hadapan-Ku, kamu yang melakukan kejahatan.” Maksudnya mungkin bukan kejahatan secara moral umum, tetapi kita tidak menghormati Tuhan secara pantas, tidak mempersoalkan apakah sikap hidup kita hari ini patut atau pantas di hadapan Tuhan atau tidak. Kiranya Roh Kudus menjamah kita, dan memberi kita kegentaran akan Allah; kegentaran di saat kita masih memiliki kesempatan untuk bertobat.

Jangan sampai kita berada pada kegentaran ketika kita tidak lagi memiliki kesempatan untuk bertobat. Karenanya kita harus berusaha untuk memeriksa diri setiap hari. Memperhadapkan diri setiap hari. Paulus mengingatkan kita dalam Roma 8:12-13 bahwa kita berutang bukan untuk hidup menurut daging, tapi menurut roh. Berutang untuk menanggalkan segala hal yang Tuhan tidak kehendaki. Hukum kita bukan hukum yang tertulis, “yang ini haram, yang ini halal; yang ini boleh, yang ini tidak boleh,” yang bisa di-cover dan diverifikasi dengan kalimat verbal dengan sanksi-sanksinya. Tapi, hukum kita itu Tuhan sendiri. Berkenan di hadapan Tuhan atau tidak? Hukum kita ukurannya adalah pikiran dan perasaan Allah. Itulah sebabnya di dalam 2 Korintus 5:9-10 firman Tuhan mengatakan, “Aku berusaha untuk berkenan di hadapan Allah. Karena setiap orang memperoleh apa yang patut diterimanya, sesuai dengan yang dilakukannya dalam hidupnya ini, baik atau jahat.”

Kita harus serius memperkarakan ini. Jangan merasa puas hanya menjadi orang baik yang tidak akan masuk penjara karena tidak terbukti melakukan tindakan pidana atau hukum perdata, tetapi kita harus melihatnya dari perspektif Allah, dari kacamata Allah; apa yang Dia rasakan tentang kita. Tidak banyak orang yang sungguh-sungguh mempersoalkan hal ini. Jika kita tidak mempersoalkannya, bahaya. Mengerikan keadaan kita. Sebab tanpa kita sadari, kita ada di dalam lingkup kuasa kegelapan yang terus menggiring ke dalam kegelapan abadi, artinya terpisah dari hadirat Allah selama-lamanya. Hal ini bukan bermaksud menakut-nakuti, menghilangkan atau mengambil damai sejahtera kita. Sejujurnya, sejahtera yang kita miliki itu palsu, ketika kita tidak memperkarakan perasaan Allah terhadap diri kita.

Damai sejahtera kita benar, kalau kita memperkarakan perasaan Allah; apakah kita menyenangkan hati-Nya atau tidak. Hanya kalau kita menyenangkan hati-Nya, damai sejahtera itu kita miliki. Jika bukan ukuran tersebut, maka kita akan dibuat menjadi bebal, tidak memiliki kepekaan untuk mengerti kehendak Allah. Dan kalau berlarut-larut, selamanya kita tidak akan bisa membaca kehendak Tuhan. Puji Tuhan! Hari ini saatnya. Mungkin tidak akan ada kesempatan kedua. Kita harus berpikir: sekarang atau tidak usah sama sekali. Jangan biasakan menunda dan merasa damai sejahtera dengan penundaan itu, karena itu adalah tipuan kuasa kegelapan. Kita harus serius. Sebab pada akhirnya, ini bukan urusan kita dengan hamba Tuhan atau gereja. Ini urusan kita dengan Tuhan.

Ini mungkin tinggal satu sisa peringatan. Lalu mengapa kita tidak gentar akan Tuhan? Mengapa kita terbiasa dengan kecerobohan seakan-akan hidup di daerah netral tak bertuan, seakan-akan kita ada dengan sendirinya tanpa ada yang mendesain kehadiran kita? Di sisi lain, mengapa setiap pagi kita mengucap syukur? Supaya kita tahu diri, tahu berterima kasih. Supaya kita sadar ada tangan yang memelihara kita. Supaya kita tahu menghormati Dia yang merajut segala berkat yang kita butuhkan. Supaya kita ingat, jika bukan Tuhan yang memelihara kita, kita tidak seperti hari ini. Sesulit apa pun keadaan kita, sesukar apa pun keadaan kita, ingatlah kita ada dalam kontrol dan monitor Tuhan. Dia sangat baik.

Kita harus selalu bersyukur. Bukan menghiasi bibir dan memenuhi kalimat doa, melainkan kita menyadari bahwa keberadaan kita ini karena kebaikan tangan Allah yang hidup. Baru kemudian kita berkata, “Dengan apa kubalas kebaikan-Mu?” Jangan lupa diri. Tapi kalaupun kita lupa diri, silakan. Tapi kita akan memikul tanggung jawab, menuai apa yang kita tabur. Semua ada perhitungannya. Maka, jangan menunda. Ketika kita membiasakan diri menunda, maka pada akhirnya kita membatalkan.

Tuhan Yesus memberkati
????????????. ????????. ???????????????????????????? ????????????????????????????

DAMAI SEJAHTERA KITA BENAR, KALAU KITA MEMPERKARAKAN PERASAAN ALLAH; APAKAH KITA MENYENANGKAN HATI-NYA ATAU TIDAK.

Card image
Bacaan Alkitab Setahun - 07 Juli 2024
2024-07-07 09:17:43

2 Raja-raja 15
2 Tawarikh 26

Card image
Truth Youth 06 Juli 2024 - NOT FOREVER
2024-07-06 11:21:16


”Ada teman yang mendatangkan kecelakaan, tetapi ada juga sahabat yang lebih karib daripada saudara.” (Amsal 18:24)

Amsal 18:24 ini menjelaskan mengenai dua sisi pertemanan yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Pertama, teman yang bisa mendatangkan kecelakaan. Artinya, seseorang yang sebenarnya terlihat mendukung, tetapi tidak memberikan peringatan dalam melakukan segala sesuatu. Tidak memikirkan bagaimana dan apa yang harus kita lewati, atau mungkin memang sengaja membiarkan kesulitan terjadi. Hal ini biasanya terjadi karena ada ketidaksukaan dan ketidaknyamanan seseorang kepada kita, tanpa ada alasan yang jelas. Mungkin ini terjadi karena seseorang yang tidak menyukai kita dan menginginkan posisi kita. Itu bukan teman yang baik.

Kedua, sahabat yang lebih karib daripada saudara. Sebelum itu, kita harus menyadari satu hal bahwa tidak ada manusia yang sempurna. Pasti semua orang pernah mengecewakan kita. Itulah kenapa jangan pernah berharap pada manusia, dan jangan pernah menuntut kesempurnaan dalam sebuah pertemanan.

Tetapi seseorang yang selalu ada untuk kita, berusaha melakukan dan memberikan yang terbaik meskipun hanya menemani kita, itu sudah cukup karena bukan tugas mereka untuk membuat kita bangkit dari masalah. Tugas mereka hanya memberikan saran dan menyemangati serta menemani kita dalam menghadapi segala sesuatu.

WHAT TO DO:
1.Tugas seorang teman adalah menyemangati. Tugas kita untuk bisa bangkit menghadapi segala sesuatu.
2.Tidak ada manusia yang sempurna, jadi jangan menuntut kesempurnaan.
3.Seseorang yang selalu ada dan menyemangati kita adalah teman yang baik

BIBLE MARATHON:
▪︎ Amsal 18-20

Card image
Renungan Pagi - 06 Juli 2024
2024-07-06 11:18:46


Orang yang selalu rindu untuk menjadi saksi Tuhan, di manapun dia berada, maka hidupnya pasti dipimpin oleh Roh Kudus. Sebab ketika Roh Kudus tinggal dalam hati, maka kita diberi kemampuan untuk menjadi saksi Kristus di manapun dia berada. "Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi."

Doanya pasti selalu: Tuhan jadikan aku saksi-Mu dimanapun saya berada, jadikan saya orang yang berani untuk menyampaikan firman Tuhan, jadikan saya orang yang berani menyatakan kehendak Tuhan dalam kehidupan setiap orang, sehingga kita akan terus berjalan semakin hari semakin punya hati yang takut akan Tuhan, semakin hari semakin menjadi saksi Tuhan yang luar biasa. Dan kesaksian yang hidup dan berkuasa ditunjukkan lewat perkataan dan perbuatan setiap hari.
(Kisah Para Rasul 1:8)

Card image
Quote Of The Day - 06 Juli 2024 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2024-07-06 11:15:56


Kesetiaan yang sejati kepada Yesus dibuktikan ketika kita tidak merasa tidak memiliki apa-apa atau siapa-siapa.

Card image
Mutiara Suara Kebenaran - 06 Juli 2024 ((Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2024-07-06 11:14:38


Kalau kita bisa mengusir setan, mendoakan orang sakit, sembuh, jangan sombong. Sebab itu belumlah puncak kedewasaan. Tetapi ketika kita hidup suci, baru kita dapat berdiri kokoh; kita didewasakan.

Card image
CRUSHED TO BE FORMED - 06 Juli 2024 (English Version)
2024-07-06 11:12:56


We cannot dwell in God's presence, humble ourselves, and worship God if we have not truly been crushed and broken. Often we think we have been crushed, we think we have been broken, but we have not. As long as we still enjoy praise, feel that we have a position, which makes us respected, it means we have not been broken, we have not been shattered. And that is still pride in God's eyes. Remember, the Word of God says, "What is highly esteemed among men is detestable in God's sight." Indeed, we cannot prevent people from admiring us. But ideally, those who should first admire us are our close family, because they are the most honest in seeing our condition.

If our family members do not admire us, then something is wrong. It must be our family, and that is the hardest struggle. Because it is impossible for people not to admire us if we wear the character of the Father, the character of the Lord Jesus. But we do not seek that admiration, nor do we enjoy that admiration. Our happiness is when people admire us, and then glorify the Father in heaven or are directed to the Father in heaven. And that can happen in our lives if we are crushed and broken.

So if we truly have the Spirit of God, the character of God, Satan does not like us being admired by people which brings glory to God. Satan will try to destroy us in every possible way and through whatever loopholes he can use. But that is part of the 'crushing.' In the past, we were criticized because we were indeed blameworthy. In the past, we were belittled because we were still lowly, full of mistakes. But after we stop living in mistakes and live in holiness, it does not mean the criticism stops. Honestly, we strive to be good because we do not want to be criticized, because we want to be valued, and we make many efforts to be honorable, if possible to be admired by people and enjoying admiration or praise, that was in the past.

Now, the more we strive to live a holy life without blemish or without spot, the more we are attacked and assaulted. But this is actually an indicator that we are on the right side. So stay calm, because we are being crushed. If we have not been crushed yet, we are being beaten, then rubbed, ground, and heated; sometimes, because it is hard to crush us, we are heated first, then we are crushed. Just like an olive seed, which is hard. If it is not crushed, it is useless or of little use. It must be crushed to become medicine or multifunctional oil. Jesus was crushed on the Mount of Olives. However, Jesus' victory was indeed on the cross.

Honestly, most of us have not been crushed yet. If we still get offended, are unwilling to see others stronger or more honored, dislike not being respected or appreciated, it means we are not yet broken. So in living in society, we must be sensitive and intelligent. Therefore, we ask God to enlighten us, because if we are not yet broken, we cannot be in God's presence. This means we are still proud, and God opposes the proud. However, God the Father, in His greatness, accepts us when we are not yet mature; God tolerates us.

But if we are old and still hard-hearted, we might reach a point where we cannot be crushed anymore. So while we can still be crushed, let us ask God to crush us. Only if we are crushed can we be formed by God according to what He desires. Some of us have been crushed but are not fully broken. It's not that we haven't been crushed; we have been crushed, but we are not fully broken yet. The problem is, if we still remain uncrushed, we might be crushed by our own actions. For example, when someone embezzles money and gets caught—he is crushed. When he is proven to have committed adultery—that is being crushed.

So if we can cast out demons, pray for the sick and they are healed, we should not be proud. Because that is not the peak of maturity. But when we live a holy life, just then we can stand firm; we are matured. This is an expensive lesson. But we should not fall. In the remaining years of our lives, we should continue to be lifted up, bringing admiration and praise to God. So remember, we must be willing to be crushed by God and willing to be formed through that crushing.

ONLY IF WE ARE CRUSHED CAN WE BE FORMED BY GOD ACCORDING TO WHAT HE DESIRES.

Card image
DIREMUKKAN UNTUK DIBENTUK - 06 Juli 2024
2024-07-06 11:11:04


Saudaraku,.....
Kita tidak bisa tinggal di hadirat Allah, merendahkan diri, dan menyembah Allah jika kita belum benar-benar remuk, hancur. Sering kita merasa sudah remuk, kita merasa sudah hancur, padahal belum. Selama kita masih menikmati pujian merasa bahwa punya satu posisi, yang oleh karenanya kita menjadi terpandang berarti kita belum remuk, kita belum hancur. Dan itu di mata Tuhan masih merupakan kesombongan. Ingat firman Tuhan mengatakan, “Yang dikagumi manusia, itu dibenci Allah.” Memang, kita tidak bisa menolak orang mengagumi kita. Tapi mestinya yang pertama yang mengagumi kita haruslah keluarga dekat, sebab mereka paling jujur melihat keadaan kita.

Kalau sampai anggota keluarga kita tidak mengagumi kita berarti ada yang salah. Harus keluarga kita dan itu perjuangan paling berat. Sebab tidak mungkin orang tidak mengagumi kita kalau kita mengenakan karakter Bapa, sifat karakter Tuhan Yesus. Tapi kita tidak mencari kekaguman tersebut, dan tidak menikmati kekaguman tersebut. Kebahagiaan kita adalah ketika orang mengagumi kita, lalu memuliakan Bapa di surga atau diarahkan kepada Bapa di surga. Dan itu bisa terjadi dalam hidup kita kalau kita remuk, hancur.

Jadi kalau benar-benar kita memiliki Roh Allah, sifat karakter Allah, setan tidak suka kita dikagumi oleh manusia yang mendatangkan kemuliaan bagi Allah. Setan akan berusaha merusak kita dengan segala cara dan celah apa pun yang bisa dipakainya. Tapi itu bagian dari ‘peremukan.’ Dulu kita dicela karena memang kita tercela. Dulu kita direndahkan karena memang kita masih rendah, banyak kesalahan. Tetapi setelah kita tidak hidup dalam kesalahan, kita hidup dalam kesucian, bukan lalu berhenti dicela. Jujur saja kita berusaha jadi baik karena kita tidak mau dicela, karena kita mau berharga dan banyak upaya kita lakukan, supaya kita itu terhormat, kalau bisa dikagumi orang dan menikmati kekaguman atau pujian, itu dulu.

Sekarang semakin kita mau hidup kudus tak bercacat, tak bercela, kita malah diserang, diserbu. Tapi itu justru merupakan indikator bahwa kita berada di pihak yang benar. Jadi tenang saja, karena kita sedang diremukkan. Jadi kalau belum remuk, dipukuli lalu digosok-gosok, digerus, dipanasi kadang-kadang karena susah remuk dipanasi dulu lalu digilas. Sebagaimana biji zaitun itu keras. Kalau tidak diremukkan, tidak ada gunanya atau sedikit gunanya. Ia harus diremukkan sehingga bisa jadi obat, atau minyak yang multi guna. Yesus diremukkan di Bukit Zaitun. Tetapi, kemenangan Yesus itu memang di kayu salib.

Sejujurnya, rata-rata kita belum remuk. Kalau kita masih tersinggung, tidak rela orang lain lebih kuat atau lebih terhomat, tidak suka tidak dihormati atau tidak dihargai, itu berarti kita belum remuk. Maka dalam hidup di masyarakat, kita harus peka dan cerdas. Oleh sebab itu, kita mohon Tuhan memberi penerangan kepada kita, jika kita belum remuk, kita tidak bisa di hadirat Allah, Sebab berarti kita masih sombong dan Allah menentang orang sombong. Namun, Allah Bapa dalam kebesaran-Nya menerima kita ketika kita belum dewasa; Allah toleransi.

Tapi kalau sudah tua lalu masih keras, jangan-jangan kita sampai tidak bisa diremukkan lagi. Jadi mumpung masih bisa diremukkan, kita minta agar Tuhan remukkan. Hanya kalau kita diremukkan, kita baru bisa dibentuk oleh Tuhan sesuai dengan apa yang Allah ingini. Sebagian kita sudah diremukkan, tapi tidak remuk-remuk. Bukan belum diremukkan, sudah diremukkan, namun belum remuk-remuk. Masalahnya, kalau tetap tidak remuk, kita bisa diremukkan oleh perbuatan kita sendiri. Misalnya, ketika seseorang menggelapkan uang lalu ketahuan — remuk dia. Waktu dia terbukti berzina, itu diremukkan.

Jadi kalau kita bisa mengusir setan, mendoakan orang sakit, sembuh, jangan sombong. Sebab itu belumlah puncak kedewasaan. Tapi ketika kita hidup suci, baru kita dapat berdiri kokoh; kita didewasakan. Ini merupakan pembelajaran yang mahal. Tapi seharusnya kita tidak jatuh. Di sisa umur hidup kita, kita terus diangkat, mendatangkan kekaguman dan pujian bagi Allah. Jadi ingat, kita harus bersedia diremukkan Allah dan mau dibentuk melalui peremukan tersebut.

Card image
Bacaan Alkitab Setahun - 06 Juli 2024
2024-07-06 11:08:59

Yunus 1-4

Card image
Truth Kids 05 Juli 2024 - BERSABAR DENGAN PENUH KETEKUNAN
2024-07-05 16:00:55


Kisah Para Rasul 26:3
”terutama karena engkau tahu benar-benar adat istiadat dan persoalan orang Yahudi. Sebab itu aku minta kepadamu, supaya engkau mendengarkan aku dengan sabar.”

Sobat Kids, pernahkah kamu tidak mengerti ketika belajar firman Tuhan? Tenang, kamu tidak sendirian, banyak juga orang-orang yang belum mengerti maksud Tuhan ketika belajar firman-Nya. Jangan kecil hati, ya. Yang kita perlu lakukan adalah tetap tekun belajar firman Tuhan dengan sabar. Roh Kudus pasti akan menuntun kita untuk mengerti.

Ketika kita sudah mengerti tentang firman Tuhan, kita dapat mengajarkannya kepada orang lain. Tentu saja kita harus sabar saat mengajarkan firman Tuhan kepada orang lain. Ingat, bahwa Tuhan mengajar kita melalui Roh Kudus, tidak dengan paksaan dan tuntutan. Tuhan mengajar dan menuntun kita dengan penuh kesabaran dan kasih sehingga kita pun harus berlaku demikian juga terhadap orang lain.

Saat kita menemukan halangan ketika mengajarkan firman Tuhan kepada orang lain, ingat juga bahwa kita tidak bisa hanya dengan sekali belajar firman. Kita harus dengan tekun, berulang-ulang dalam mempelajari firman Tuhan sampai kita mengerti maksud Tuhan dalam firman tersebut.

Card image
Truth Junior 05 Juli 2024 - SABAR, SABAR, SABAR
2024-07-05 15:59:35


Kisah Para Rasul 26:3
”terutama karena engkau tahu benar-benar adat istiadat dan persoalan orang Yahudi. Sebab itu aku minta kepadamu, supaya engkau mendengarkan aku dengan sabar.”

Shalom, Sobat Junior! Siapa hayooo yang kurang sabar? Kita harus belajar sabar, ya, Sobat Junior, seperti teladan kita, Tuhan Yesus, yang selalu sabar menghadapi kita. Mari kita belajar dari teman kita Anto yang duduk di kelas 5 SD.

Anto kadang kesulitan dalam belajar matematika. Akibatnya, Anto sering mendapat nilai yang kurang bagus. Tetapi, Anto tetap berusaha agar dapat mengerti dan lebih sering membuat latihan di rumah.

Ada kalanya Anto merasa putus asa. Sudah capek belajar, tetapi nilainya masih kurang bagus. Anto tidak lupa juga untuk selalu berdoa kepada Tuhan supaya Tuhan menolong Anto dapat lebih memahami pelajaran matematika di sekolah. Anto tidak hanya berdoa, tapi Anto juga tetap berusaha belajar, tidak banyak bermain.

Suatu ketika saatnya tes matematika kembali diadakan, Anto merasa kuatir dan takut mendapat hasil yang kurang baik, tetapi Anto tetap sabar dan tenang pada saat mengerjakan soal-soal yang diberikan. Sebelum mengerjakan soal-soal, Anto selalu berdoa terlebih dahulu minta hikmat dari Tuhan supaya dapat mengerjakan dengan teliti, dan sabar dalam mengerjakan, tidak terburu-buru, serta dapat dikumpulkan tepat waktu.

Setelah beberapa hari berlalu, ibu guru memberikan hasil dari tes matematika yang telah dikerjakan. Anto kembali merasakan dadanya berdegup kencang. “Apakah saya akan mendapat hasil yang baik?” Anto bertanya-tanya dalam hatinya sambil tetap berdoa. Dan ternyata, setelah ibu guru memberikan hasilnya, Anto mendapat nilai yang bagus. Anto sangat senang sekali. Ia merasakan buah dari kesabarannya pada saat belajar sehari-hari untuk pelajaran matematika. Anto juga bersyukur kalau Tuhan menyertai dan memberkati usahanya dalam belajar. Sobat Junior juga harus belajar seperti Anto, ya, sabar dalam belajar. Pasti kesabaran kita menghasilkan sesuatu yang baik.

Card image
Truth Youth 05 Juli 2024 (English Version) - STUDY, WORK, PRAY, REPEAT
2024-07-05 15:57:17


"Walk with the wise and become wise, for a companion of fools suffers harm." (Proverbs 13:20)

Environment is a key factor in personal development. As discussed two days ago, we should not be foolish or too innocent. The following day, we learned not to beg for things in that environment. So, what should we actually do in such an environment?

In the book of Proverbs written by Solomon, it is said that when a person truly lives under God's guidance, they are still human and capable of mistakes. They themselves learn to choose an environment that supports them, as in Proverbs 13:20.

This verse shows that the environment greatly impacts a person. If they are in an environment that encourages positive personal activities, it will shape a good character. Conversely, if someone is in an environment of activities that harm them physically, mentally, and spiritually, they will not grow. Consequently, this will shape an unhealthy or even damaged character.

If a person is dominated by a damaged character and refuses to let go of these normalized behaviors in their environment, it will eventually shape individuals who are not beneficial to themselves or society around them.

WHAT TO DO:
1. A good environment creates a good character.
2. Someone with a good character can positively impact those around them.
3. Avoid being too innocent and never begging—these are signs of a good environment.

BIBLE MARATHON
- Proverbs 15-17

Card image
Truth Youth 05 Juli 2024 - STUDY, WORK, PRAY, REPEAT
2024-07-05 15:55:17


”Siapa yang bergaul dengan orang bijak menjadi bijak, tetapi siapa yang berteman dengan orang bebal menjadi malang.” (Amsal 13:20)

Lingkungan menjadi poin utama seseorang mengalami perkembangan dalam peningkatan diri. Seperti dua hari yang lalu dibahas tentang hendaknya kita jangan bodoh atau terlalu polos. Kemudian hari berikutnya, tidak memohon untuk melakukan sesuatu dalam lingkungan tersebut. Lalu, apa yang sebaiknya dilakukan dalam lingkungan itu?

Di dalam kitab Amsal yang ditulis oleh Salomo, bisa dikatakan kalau seseorang benar-benar hidup dalam tuntunan Tuhan, ia juga tetap manusia yang masih bisa melakukan kesalahan. Ia sendiri belajar menentukan lingkungan yang bisa mendukung dirinya, seperti dalam Amsal 13:20.

Ayat ini sebenarnya menunjukkan bahwa lingkungan akan memiliki dampak yang besar untuk pribadi seseorang. Jika ia berada di lingkungan yang bisa membuat dirinya dalam lingkaran kegiatan yang baik secara personal, ini akan membentuk sebuah pribadi yang baik. Begitu juga sebaliknya, seseorang yang hanya berada dalam lingkaran kegiatan aktivitas yang merusak fisik, psikis, dan roh, tidak bertumbuh. Maka, secara otomatis hal ini akan membentuk pribadi yang tidak baik atau bahkan rusak.

Bila lebih didominasi pribadi yang rusak dan kebebalan hati tidak ingin dibentuk kemudian “menormalisasi” hal tersebut dalam lingkungan sekitarnya, akhirnya akan membentuk manusia-manusia yang tidak bisa bermanfaat baik untuk dirinya sendiri, maupun masyarakat di sekitarnya.

WHAT TO DO:
1.Lingkungan yang baik menciptakan pribadi yang baik
2.Seseorang yang pribadinya baik, bisa berdampak untuk sekitarnya.
3.Tidak terlalu polos dan tidak pernah memohon, ciri lingkungan yang baik

BIBLE MARATHON:
▪︎ Amsal 15-17

Card image
Renungan Pagi - 05 Juli 2024
2024-07-05 12:52:20


Apapun yang kita kerjakan haruslah dengan rela hati, bukan dengan sungut-sungut, bukan berbantah-bantahan, melainkan dengan rela hati. Orang yang hatinya penuh dengan kerelaan, hidupnya penuh dengan ucapan syukur, penuh dengan sukacita dan akan melihat penyertaan Tuhan dalam hidupnya.

"Lakukanlah segala sesuatu dengan tidak bersungut-sungut dan berbantah-bantahan." Untuk itu mari kita mau mengerjakan tugas dan tanggung jawab dengan hati yang mengasihi Tuhan, sehingga kita tidak akan bersungut-sungut.
(Filipi 2:14).

Card image
Quote Of The Day - 05 Juli 2024 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2024-07-05 12:50:39


Dia tidak bisa dibahagiakan atau disukakan oleh apa pun kecuali oleh satu ini, yaitu menciptakan makhluk yang disebut manusia di mana manusia dengan rela dari kehendak bebasnya melakukan segala sesuatu sesuai dengan pikiran dan perasaan-Nya, untuk menyenangkan Dia.

Card image
Mutiara Suara Kebenaran - 05 Juli 2024 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2024-07-05 12:49:14


Semua harus sadar bahwa kita adalah orang-orang yang masuk masa penampian. Ada guncangan, sehingga kalau kita teguh berdiri, kita akan bertahan.

Card image
GOD'S ASSESSMENT - 05 Juli 2024 (English Version)
2024-07-05 12:44:26


We must earnestly strive to be part of the remnant, which means being found by God in these last days as children of God who are pleasing to Him. In Luke 18:8, Jesus says, "When the Son of Man comes, will He find faith on the earth?" This implies that the steps to become a person who is pleasing to God are almost non-existent. At the same time, this statement is a warning containing a threat about how vulnerable the world of the end times is to the Christian faith. It’s like walking in mud; the mud gets thicker. It’s like walking in a storm; the storm blows harder. So, very few people will remain steadfast until the end.

From the past, we have heard that we, as Christians, are brought to a time of harvest. That is true; there is a time of harvest where, like wheat, we are harvested, but the time of harvest will stop. The time of harvest will not continue; the harvest period will be replaced by a winnowing period. And now, we are entering the time of sifting. Therefore, one cannot just want to be lukewarm; they must choose: to be hot or cold. Viewed from one aspect, it means that you want to be serious, be serious. If not, then do not, because we cannot serve two masters. We all must realize that we are entering the winnowing period. There are shocks, so if we stand firm, we will endure. We are not only chosen people, but we also become people who are faithful and victorious.

Especially for the servants of God, the shaking is getting stronger and will become even stronger. Especially for those servants of God who are committed to living a holy life, serving earnestly, because that means a threat to the powers of darkness. We will be monitored, followed, our shortcomings and weaknesses seen, and shaken. Even Jesus’ disciples were shaken. Judas was shaken and fell, Peter was also shaken. Jesus said, "Peter, Satan is ready to winnow you. And when you have turned back, have overcome, then strengthen your brothers." So, don't feel like we are not in this winnowing period.

Beyond our natural knowledge and thoughts, we may not understand how the powers of darkness are moving to draw us through many things. The powers of darkness are trying to draw us all. Look at those who are now living lukewarm lives, feeling comfortable, even though the signs of the times are clear. How tragic this life is and will be followed by many things that serve as warnings. It’s as if there’s a voice saying, "The Bridegroom is coming! The Bridegroom is coming! Meet Him!" Let us not be like the five foolish virgins who did not have oil supplies. Fulfill our duties as parents to our children. Fulfill our duties as children to our parents. Fulfill our duties as part of this nation’s society. But above all, prepare ourselves to become the bride, referred to as a pure virgin in 2 Corinthians 11:2-3 I am jealous for you with a godly jealousy. I promised you to one husband, to Christ, so that I might present you as a pure virgin to him. But I am afraid that just as Eve was deceived by the serpent’s cunning, your minds may somehow be led astray from your sincere and pure devotion to Christ.

A pure virgin means someone who is untainted by worldly love and sin. And we can question God, "Lord, I have tried to live a holy life, what is still wrong? Lord, I have tried to let go of all worldly pleasures and ties. Is there anything still binding my heart that makes You uncomfortable?" Take matters with God because we want to be serious. God is pleased with children of God who are serious about dealing with Him. Do not stay silent, do not just go with the flow, and then we lack seriousness with God so that when we are shaken, we will be thrown away. Tell God that we do not want to commit the slightest sin, no matter how subtle it is. Because we do not want to hurt and wound God's heart.

Do not feel great because we are church leaders, leaders of Christian organizations, or school leaders. We must bring ourselves before God and really hear what God feels about us, understanding God's assessment of us before our time is up. This does not mean we forget our responsibilities as fathers, husbands, wives, parents, children. Fulfill responsibilities, then seek God earnestly. We must chase, pursue God to find His heart and feelings. We must continue to pursue God until we enter the depths of God's heart and feelings. We understand what His assessment of us is. What does God feel about us, until we really feel trepidation towards God.

In essence, we want to be perfect, found blameless, without fault. Meet God, experience God, and let God touch our lives. More than enjoying being active in church, preaching, being a church leader, and so on, let’s have fellowship with God, walking with God is very beautiful, it builds holiness. Let’s truly live only for God, “Whether you eat or drink or whatever you do, do it all for the glory of God.”

WE MUST BRING OURSELVES BEFORE GOD AND REALLY HEAR WHAT GOD FEELS ABOUT US, UNDERSTANDING GOD'S ASSESSMENT OF US BEFORE OUR TIME IS UP.

Card image
PENILAIAN TUHAN - 05 Juli 2024
2024-07-05 12:36:18


Kita harus sungguh-sungguh memperjuangkan agar kita menjadi bagian dari umat yang disisakan, artinya umat yang di akhir zaman ini dijumpai oleh Allah, ditemukan oleh Bapa sebagai anak-anak Allah yang berkenan kepada-Nya. Dalam Lukas 18:8, Yesus berkata, "Jika Anak Manusia datang di bumi, apakah Ia mendapati iman di bumi?" Ini berarti, langkah orang menjadi manusia yang berkenan di hadapan Allah merupakan langkah yang hampir-hampir tidak ada. Sekaligus ucapan ini merupakan peringatan yang memuat ancaman bahwa betapa rawannya dunia akhir zaman ini terhadap iman Kristen. Ibarat orang berjalan di lumpur, lumpurnya makin pekat. Ibarat berjalan dalam badai, tiupan badainya lebih keras. Jadi, sedikit sekali orang yang akan tetap bertahan sampai akhir.

Dari dulu kita mendengar bahwa kita, orang Kristen, dibawa pada masa penuaian. Itu benar, ada masa penuaian di mana seperti gandum dituai, tetapi masa penuaian akan berhenti. Masa penuaian tidak akan berlanjut; masa penuaian akan diganti dengan masa penampian. Dan kita sekarang sedang memasuki masa penampian. Maka, orang tidak bisa hanya mau hangat, dia harus memilih: mau panas atau dingin. Dilihat dari satu aspek, artinya mau sungguh- sungguh, sungguh-sungguhlah. Kalau tidak, silakan tidak, karena kita tidak dapat mengabdi kepada dua tuan. Kita semua harus sadar bahwa kita adalah orang-orang yang masuk masa penampian. Ada guncangan, sehingga kalau kita teguh berdiri, kita akan bertahan. Kita termasuk bukan hanya sebagai orang yang terpilih, tapi kita juga menjadi orang yang setia dan yang menang.

Khususnya bagi para hamba Tuhan, guncangan semakin keras dan akan bertambah keras. Apalagi hamba Tuhan yang punya komitmen untuk hidup suci, melayani dengan sungguh-sungguh, sebab itu berarti ancaman bagi kuasa kegelapan. Kita akan dimonitor, diikuti, dilihat kekurangan dan kelemahan kita, dan diguncang. Murid-murid Yesus pun diguncang. Yudas diguncang dan jatuh, Petrus juga diguncang. Yesus berkata, "Petrus, Iblis siap menampi kamu. Kalau kamu sudah kuat, sudah menang, maka kuatkan saudara-saudaramu." Jadi, jangan merasa kita tidak ada dalam masa penampian ini.

Di luar pengetahuan dan pikiran kita yang wajar, kita bisa tidak menangkap bagaimana gerakan kuasa kegelapan menarik kita melalui banyak hal. Kuasa kegelapan berusaha menarik kita semua. Lihat orang-orang yang sekarang hidupnya suam-suam, merasa nyaman, padahal tanda-tanda zaman sudah jelas. Betapa tragisnya hidup ini dan akan disusul dengan banyak hal yang merupakan peringatan. Seakan-akan ada suara, "Mempelai datang! Mempelai datang! Songsonglah!" Jangan kita seperti lima gadis bodoh yang tidak memiliki persediaan minyak. Penuhi kewajiban kita sebagai orang tua terhadap anak-anak. Penuhi kewajiban kita sebagai anak-anak kepada orang tua. Penuhi kewajiban kita sebagai bagian dari masyarakat bangsa ini. Tapi di atas semuanya, persiapkan diri kita menjadi mempelai yang di dalam 2 Korintus 11:2-3 diistilahkan sebagai perawan suci.

Perawan suci artinya orang yang tidak ternoda oleh percintaan dunia dan dosa. Dan kita bisa berperkara dengan Tuhan, "Tuhan, aku sudah berusaha untuk hidup suci, apa yang masih salah? Tuhan, aku sudah berusaha untuk melepaskan semua kesenangan dunia dan ikatan dunia. Masih adakah yang membelenggu hatiku yang membuat Engkau tidak nyaman?" Perkarakan dengan Tuhan karena kita mau serius. Tuhan senang dengan anak-anak Allah yang serius berurusan dengan Dia. Jangan diam, jangan mengalir saja, lalu kita tidak memiliki keseriusan dengan Tuhan sehingga ketika kita diguncang, kita akan terlempar. Katakan kepada Tuhan bahwa kita tidak mau berbuat dosa sekecil apa pun, sehalus apa pun dosa itu. Karena kita tidak mau menyakiti, melukai hati Tuhan.

Jangan merasa sudah hebat karena kita adalah seorang pemimpin gereja, pemimpin organisasi Kristen, pemimpin sekolah. Kita harus membawa diri di hadapan Tuhan dan sungguh-sungguh mendengar apa yang Tuhan rasakan tentang diri kita, menangkap apa penilaian Allah terhadap kita sebelum waktu kita usai. Ini bukan berarti kita melupakan tanggung jawab sebagai ayah, suami, istri, orang tua, anak. Penuhi tanggung jawab, lalu carilah Tuhan dengan sungguh-sungguh. Kita harus memburu, mengejar Tuhan untuk menemukan hati dan perasaan-Nya. Kita harus terus memburu Tuhan sampai kita masuk kedalaman hati dan perasaan Tuhan. Kita mengerti apa penilaian-Nya terhadap kita. Apa yang dirasakan Tuhan terhadap kita, sampai kita benar-benar merasakan kegentaran terhadap Allah.

Pokoknya kita mau sempurna, didapati tak bercacat, tak bercela. Temui Tuhan, alami Tuhan, dan biar Tuhan menjamah hidup kita. Lebih dari kesukaan aktif di gereja, berkhotbah, menjadi pemimpin gereja, dan lain-lain, mari kita bersekutu dengan Tuhan, berjalan dengan Tuhan itu indah sekali, membangun kesucian. Ayo kita sungguh-sungguh hidup hanya untuk Tuhan, “Baik kamu makan atau minum atau melakukan sesuatu yang lain, lakukan semua untuk kemuliaan Allah.”

Tuhan Yesus memberkati
????????????. ????????. ???????????????????????????? ????????????????????????????

KITA HARUS MEMBAWA DIRI DI HADAPAN TUHAN DAN SUNGGUH-SUNGGUH MENDENGAR APA YANG TUHAN RASAKAN TENTANG DIRI KITA, MENANGKAP APA PENILAIAN ALLAH TERHADAP KITA SEBELUM WAKTU KITA USAI.

Card image
Bacaan Alkitab Setahun - 05 Juli 2024
2024-07-05 12:33:53

2 Raja-raja 14
2 Tawarikh 25

Card image
Truth Kids 04 Juli 2024 - SABAR DENGAN HATI YANG GEMBIRA
2024-07-04 18:29:52


Amsal 10:28
”Harapan orang benar akan menjadi sukacita, tetapi harapan orang fasik menjadi sia-sia.”

Sobat Kids, pernahkah kalian lama menunggu dijemput saat pulang sekolah? Jika pernah, bisakah kalian membayangkan apa bedanya jika kalian menunggu dengan hati yang kesal, dan menunggu dengan hati yang gembira? Jika kita menunggu dengan kesal, pasti yang keluar dari mulut kita adalah sungut-sungut, keluh kesah, dan waktu seperti lama sekali berlalu. Namun, jika kita menunggu dengan hati yang gembira, pasti hati kita damai, ada senyuman di wajah kita, dan waktu menunggu tidak akan terasa begitu lama.

Walau sepertinya sikap hati kita sepele, tetapi ternyata sangat penting, ya, Sobat Kids. Suasana hati kita dapat memengaruhi banyak hal. Untuk itu, selain belajar untuk sabar, kita harus memperhatikan sikap hati kita, ya, Sobat Kids. Jangan sampai mengaku kita sabar, tapi hati kita bersungut-sungut dan mengeluh. Hal ini akan membuat kesabaran kita menjadi sia-sia. Karena Tuhan juga melihat dan menilai hati kita, apakah kita benar-benar sabar menunggu Allah dengan hati yang penuh dengan sukacita.

Card image
Truth Junior 04 Juli 2024 - ORANG BAIK ADALAH ORANG YANG SABAR
2024-07-04 18:23:54


Amsal 10:28
”Harapan orang benar akan menjadi sukacita, tetapi harapan orang fasik menjadi sia-sia.”

Sobat Junior, Alkitab mengajarkan kita bahwa orang baik akan merasa sangat bahagia karena harapan akan terkabulkan, tetapi harapan orang yang tidak baik menjadi sia-sia. Orang yang baik adalah orang yang meniru perbuatan Tuhan Yesus dengan cara bersabar menunggu jawaban doa. Misalnya, ketika kita berdoa dan berharap mendapatkan nilai yang bagus di ujian. Tentu saja kita juga harus belajar dengan giat sehingga nilai yang kita harapkan bisa sempurna. Tiba saatnya ujian, kita tidak lagi takut karena kita sudah belajar dan bisa mengerjakan ujian itu. Saat menunggu nilai keluar, kita harus tetap berdoa dan jangan putus asa.

Sobat Junior, orang yang sabar juga orang yang baik, loh. Karena saat kita menunggu keinginan kita dikabulkan oleh Tuhan, menunjukkan bahwa kita orang yang sabar. Contoh lainnya ketika kita ulang tahun, kita berharap mendapatkan hadiah yang menarik. Tetapi, selama menunggu hadiah, kita tetap harus berbuat baik dan bersabar. Orang yang baik akan selalu tahu bahwa Tuhan punya rencana yang terbaik untuknya.

Jadi, Sobat Junior, ayo kita menjadi orang yang baik kepada orang lain dan selalu bersabar. Ayo, berdoa dan berharap dengan penuh keyakinan kepada Tuhan. Tetap bersabar, ya, dan tetap bersukacita saat menunggu jawaban dari Tuhan. Percayalah, harapan yang kita doakan akan membawa kita kepada kebahagiaan seperti yang Tuhan janjikan. Tetap berbuat baik, ya, dan selalu percaya kepada Tuhan.

Card image
Truth Youth 04 Juli 2024 (English Version) - DO NOT BEG
2024-07-04 18:18:53


"Obey them not only to win their favor when their eye is on you, but as slaves of Christ, doing the will of God from your heart." (Ephesians 6:6)

Accepted or rejected; thrown away or kept; kicked or embraced, all are human actions that can be chosen and determined. So, what should we do? It's better not to beg and leave everything.

In what situations should we avoid begging? Don't beg someone to stay in our lives; don't beg for a job that isn't meant for us; don't beg to fulfill our desires, because these things take time and understanding.

If we are rejected, let it be, and reflect on what we have done. Sometimes we are rejected by someone or excluded from the community or society we live in, not because of our faults, but because God intends for us to grow and become stronger. It's okay to be sad, but don't dwell on it. Learn to improve yourself.

Believe me, solitude is not something terrifying. We can create happiness that will impact those around us, preparing us to enter new environments. It's not our job to make everyone happy, but to do what God wants and bring a smile to His face.

WHAT TO DO:
1. Never beg to please others.
2. Rejection means reflecting on our actions.
3. It's not our obligation to make everyone happy.

BIBLE MARATHON:
- Proverbs 12-14

Card image
Truth Youth 04 Juli 2024 - JANGAN MEMOHON
2024-07-04 18:16:17


”Jangan hanya di hadapan mereka saja untuk menyenangkan hati orang, tetapi sebagai hamba-hamba Kristus yang dengan segenap hati melakukan kehendak Allah.” (Efesus 6:6)
Diterima atau ditolak; dibuang atau disimpan; ditendang atau dipeluk, semua itu adalah tindakan manusia yang dapat dipilih dan ditentukan. Lalu, apa yang perlu kita lakukan? Lebih baik tidak memohon dan meninggalkan semuanya.

Dalam hal apa kita sebaiknya tidak memohon? Jangan memohon kepada seseorang untuk tetap ada di dalam hidup kita; jangan memohon untuk meminta sebuah pekerjaan yang memang tidak diberikan kepada kita; jangan memohon untuk mendapatkan keinginan kita, karena semua itu perlu waktu dan pengertian.

Kalau kita ditolak, biarkan, belajar refleksi diri atas apa yang telah kita lakukan. Karena, terkadang kita ditolak oleh seseorang, ditendang dari lingkungan atau masyarakat di mana kita hidup, bukan karena kesalahan kita, tetapi ada maksud Tuhan yang menginginkan kita untuk bertumbuh dan bertambah kuat. Sedih boleh, tetapi jangan berlarut-larut. Belajarlah untuk bisa meningkatkan diri.

Percayalah, kesendirian bukan sesuatu yang menyeramkan. Kita bisa menciptakan sebuah kebahagiaan yang nantinya berdampak bagi orang-orang sekitar kita, juga ini dapat menyiapkan kita masuk ke dalam lingkungan yang baru. Bukan tugas kita untuk membahagiakan semua orang, melainkan melakukan sesuai dengan apa yang Tuhan inginkan dan membuat Ia tersenyum.

WHAT TO DO:
1.Jangan pernah memohon untuk menyenangkan hati orang lain
2.Penolakan artinya belajar merefleksi diri atas tindakan yang kita lakukan

3.Bukan kepentingan kita untuk membahagiakan semua orang

BIBLE MARATHON:
▪︎ Amsal 12-14

Card image
Renungan Pagi - 04 Juli 2024
2024-07-04 18:11:18


Dalam kehidupan sebagai orang percaya di dunia ini kita boleh saja pandai bicara tentang Tuhan, bersaksi tentang mukjizat Tuhan yang kita alami. Tetapi kalau tidak hidup jujur, maka suatu saat justru nama Yesus yang akan dipermalukan oleh karena kebohongan dan kemunafikan. Bahkan firman Tuhan menyamakan orang yang tidak jujur itu dengan orang yang sesat; "karena orang yang sesat adalah kekejian bagi TUHAN, tetapi dengan orang jujur Ia bergaul erat."

"Siapa berjalan dengan jujur, takut akan TUHAN, tetapi orang yang sesat jalannya, menghina Dia." Itulah sebabnya, kita harus berhati-hati terhadap hal kebohongan dan kemunafikan karena jika itu nanti menjadi satu kebiasaan, maka kita tidak lagi hidup bergaul erat dengan Tuhan, sebab Tuhan hanya mau bergaul erat dengan orang yang jujur.

Suatu saat jika orang tahu kita hidup dalam kebohongan dan kemunafikan, maka akan diremehkan, direndahkan dan dilecehkan orang dan nama Tuhan dipermalukan. Tetapi kalau hidup dengan kejujuran, maka hidup kita pasti akan menjadi kesaksian bagi banyak orang dan nama Tuhan dipermuliakan.
(Amsal 3:32; Amsal 14:2)

Card image
Quote Of The Day - 04 Juli 2024 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2024-07-04 18:08:21


Temukan tujuan dari proses yang Tuhan gelar untuk kita.

Card image
Mutiara Suara Kebenaran - 04 Juli 2024 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2024-07-04 18:05:00


Allah menghendaki dan mendesain kita untuk menjadi orang-orang yang berguna bagi sesama, mengasihi dan menopang sesama, menjadi berkat bagi orang lain, menjadi saluran berkat Tuhan.

Card image
FIGHT PROBLEMS WITH HOLINESS - 04 Juli 2024
2024-07-04 18:03:11


God surely tests every person to see who is truly serious about dealing with Him or how serious we are in dealing with Him. Those who are serious about dealing with God will not be put to shame, will not always live under pressure, oppressed by problems, and become useless to others, let alone becoming a burden to others. God does not design us to be trash. God does not want and design us to be useless people. However, God wants and designs us to be useful to others, to love and support others, to be a blessing to others, to be channels of God's blessing.

Indeed, for a while, sometimes or even often, God brings us to a point where we are at our lowest, oppressed by various problems, unable to do anything for others — but this will not last forever. If we are in such a condition, we are actually being educated and trained by God to become humble people, to seriously think about others, even when we are still in a down state. In our low state, we continue to learn to pay attention to others. And surely God will give us the opportunity to do something for others, even when we are in a really low state. This is extraordinary.

Many people do not realize that they are cruel, selfish, and self-centered. When they have a lot of money and material abundance, what happens is; they actually seek self-satisfaction, they will oppress others with the power they have, the power of money, the power of relationships with officials — they become arrogant, proud, and troublesome to others. God prevents people He loves from falling into such circumstances or sins, so God brings people like this to the lowest state.

So if in a low state, someone does not want to change, does not seek God earnestly, God can let them remain in a prolonged low state. Or if someday they are not in a low state due to economic strength, with a lot of money — then they will be lost and unable to return to God. Therefore, for those of you who are currently struggling in difficult conditions let's earnestly seek God. As you often hear; confront your problems with purity, confront your problems with holiness. Be serious about dealing with God by being careful with every word we speak, every decision, choice, and action we take, and consider whether it pleases God or not. Think about whether what we decide and choose pleases God or not.

If we do this, God sees that we are serious about Him, then God will teach us to become gentle, humble, caring, and helpful people. If we are blessed materially and have connections with officials, we will not become arrogant, we will not oppress others, we will not trouble others. God trains us not to seek honor, God teaches us not to enjoy praise, let alone seek admiration from humans. God teaches us to have the mind and feelings of God. When we are in a low state, God teaches us to have the mind and feelings of God so that one day when we become strong, we can support others because we have experienced those low states.

Therefore, for those of us who are currently in a low state, this is the time when we receive God's discipline. Do not be angry, do not complain, but instead, we must earnestly seek God. God is everything in our lives. Learn to live in holiness and purity. Fight our life's problems with holiness and purity, and surely we will be able to get through it all. God is Almighty, Great, Glorious, Majestic, and all power is in God's hands — do not doubt God. One sentence we must hold onto today: be serious about dealing with God by living in holiness. And holiness means every action must be precise, exact, as God desires.

FIGHT OUR LIFE'S PROBLEMS WITH HOLINESS AND PURITY, AND SURELY WE WILL BE ABLE TO GET THROUGH IT ALL.

Card image
MELAWAN MASALAH DENGAN KESUCIAN - 04 Juli 2024
2024-07-04 17:57:40


Allah pasti menguji setiap insan, siapa yang benar-benar serius berurusan dengan Dia atau seberapa serius kita berurusan dengan Dia. Orang yang serius berurusan dengan Allah, tidak mungkin dipermalukan, tidak mungkin hidupnya terus ada di bawah, ditindas, ditekan oleh masalah, sampai menjadi orang yang tidak berguna bagi orang lain, apalagi menjadi orang yang menyusahkan orang lain. Allah tidak mendesain kita menjadi sampah. Allah tidak menghendaki dan mendesain kita menjadi orang yang tidak berguna. Namun, Allah menghendaki dan mendesain kita untuk menjadi orang-orang yang berguna bagi sesama, mengasihi dan menopang sesama, menjadi berkat bagi orang lain, menjadi saluran berkat Tuhan.

Memang untuk sementara waktu, kadang-kadang atau bahkan sering, Tuhan membawa kita kepada keadaan di mana kita ada di titik terendah, kita ditindas oleh berbagai masalah, kita tidak bisa berbuat apa-apa bagi orang lain — tetapi itu tidak akan berkepanjangan terus menerus. Kalau kita berkeadaan seperti itu, sebenarnya kita sedang dididik, dilatih oleh Allah untuk menjadi orang yang rendah hati, yang serius memikirkan orang lain, walaupun kita masih dalam keadaan terpuruk. Dalam keadaan terpuruk, kita tetap belajar bisa memperhatikan orang lain. Tuhan pasti akan memberi kita kesempatan berbuat sesuatu bagi orang lain, walaupun kita dalam keadaan yang benar-benar terpuruk. Ini luar biasa.

Tuhan mau kita belajar memperhatikan orang lain. Supaya suatu saat ketika keadaan kita baik, kita lebih banyak berbuat bagi orang lain. Banyak orang tidak tahu kalau dirinya itu kejam, egois, atau mau menang sendiri. Kalau ia punya uang banyak, materi berlimpah, maka yang terjadi adalah dia mencari kepuasan sendiri, dia akan menekan orang lain dengan kekuatan yang dia miliki—kekuatan uang, relasi dengan pejabat—dia menjadi sombong, angkuh dan menyusahkan orang. Tuhan menghindarkan orang yang dikasihi-Nya jatuh dalam keadaan seperti itu atau dosa seperti itu, maka Tuhan membawa orang-orang seperti ini dalam keadaan terpuruk.

Jadi kalau dalam keadaan terpuruk, seseorang tidak mau berubah, tidak mencari Tuhan dengan sungguh-sungguh, Tuhan bisa membiarkan berkepanjangan terpuruk. Atau seandainya suatu hari dia tidak terpuruk dengan kekuatan ekonomi, dengan uang banyak, maka dia terhilang dan tidak bisa kembali kepada Tuhan. Jadi bagi kita yang sekarang ini terpuruk, dalam kondisi yang sulit, mari kita mencari Tuhan sungguh-sungguh. Jadikan ini prinsip hidup kita: lawan masalah hidup dengan kesucian, lawan masalahmu dengan kekudusan. Seriuslah berurusan dengan Tuhan, dengan cara berhati-hati di setiap kata yang kita ucapkan, setiap keputusan, pilihan, dan tindakan kita. Perhatikan, apakah hal itu menyenangkan hati Tuhan atau tidak; apakah yang kita putuskan, yang kita pilih itu menyenangkan hati Tuhan atau tidak.

Kalau kita melakukan ini, Tuhan melihat kita serius dengan Dia, maka Tuhan akan mendidik kita menjadi orang-orang yang lemah lembut, yang rendah hati, peduli sesama, helpful (suka menolong). Kalau kita diberkati secara materi, punya relasi pejabat, maka kita tidak menjadi sombong, kita tidak akan menekan orang lain, tidak akan menyusahkan orang lain. Tuhan melatih kita untuk tidak gila hormat, Tuhan mengajar kita tidak menikmati pujian, apalagi mencari kekaguman dari manusia. Tuhan mengajar kita memiliki pikiran dan perasaan Tuhan. Ketika kita dalam keadaan terpuruk, Tuhan mengajari kita untuk memiliki pikiran dan perasaan Tuhan, agar suatu saat ketika kita menjadi kuat, kita bisa menopang orang lain, karena kita pernah mengalami keadaan-keadaan terpuruk tersebut.

Jadi, bagi kita yang sekarang dalam keadaan terpuruk, ini adalah saat di mana kita menerima didikan Tuhan. Jangan marah, jangan bersungut-sungut, tetapi sebaliknya, kita harus sungguh-sungguh mencari Tuhan. Tuhanlah segalanya dalam hidup kita. Belajarlah hidup dalam kekudusan dan kesucian. Lawanlah masalah hidup kita dengan kekudusan dan kesucian, maka pasti kita akan bisa melewati semuanya. Allah itu Maha Kuat, Maha Besar, Maha Mulia, Maha Agung, segala kuasa di tangan Tuhan — jangan ragukan Tuhan. Satu kalimat yang kita harus pegang pada hari ini: seriuslah berurusan dengan Tuhan melalui hidup dalam kesucian. Dan kesucian adalah setiap tindakan harus presisi, tepat, seperti yang Allah kehendaki.

Tuhan Yesus memberkati
????????????. ????????. ???????????????????????????? ????????????????????????????

LAWANLAH MASALAH HIDUP KITA DENGAN KEKUDUSAN DAN KESUCIAN, MAKA PASTI KITA AKAN BISA MELEWATI SEMUANYA.

Card image
Bacaan Alkitab Setahun - 04 Juli 2024
2024-07-04 12:37:02

1 Raja-raja 12-13
2 Tawarikh 24

Card image
Truth Kids 03 Juli 2024 - SABAR, TANDA MENGASIHI
2024-07-03 22:08:54


1 Yohanes 4:7
”Saudara-saudaraku yang kekasih, marilah kita saling mengasihi, sebab kasih itu berasal dari Allah; dan setiap orang yang mengasihi, lahir dari Allah dan mengenal Allah.”

Sobat Kids, tahukah kalian bahwa sabar itu adalah salah satu tindakan atau bukti bahwa kita mengasihi? Apa hubungannya sabar dengan mengasihi? Mari kita lihat buktinya.

Kita tahu setiap hari manusia bisa saja sengaja atau tidak sengaja melakukan dosa. Sobat Kids sadar betul kan, bahwa Tuhan sangat membenci dosa? Tetapi apakah semua orang yang melakukan dosa langsung Tuhan masukkan ke dalam neraka? Jika Tuhan seperti itu, kita tidak akan ada di sini saat ini. Namun, karena kasih dan kesabaran dari Tuhan, Tuhan menunggu dan membimbing kita untuk bertobat sehingga bisa terhindar dari api kekal.

Sebagai anak-anak Allah, kita harus meneladani sifat Allah yang sabar karena mengasihi kita. Kita pun harus sabar menghadapi orang-orang yang membuat kita kecewa atau kesal. Jika kita berhasil sabar, berarti kita sudah hidup dengan meneladani salah satu sifat Allah yaitu penyabar karena Ia mengasihi semua orang tanpa terkecuali. Jadi tunggu apalagi, Sobat Kids? Ayo kita belajar sabar, karena itu salah satu bukti bahwa kita mengasihi sesama kita.

Card image
Truth Junior 03 Juli 2024 - MENGASIHI SESAMA
2024-07-03 22:06:52


1 Yohanes 4:7
”Saudara-saudaraku yang kekasih, marilah kita saling mengasihi, sebab kasih itu berasal dari Allah; dan setiap orang yang mengasihi, lahir dari Allah dan mengenal Allah.”

Sobat Junior, ada sebuah pesan penting yang disampaikan Tuhan Yesus kepada kita semua, yaitu tentang kasih sayang. Tuhan mengajarkan kepada kita untuk saling mengasihi, karena kalau kita mau menjadi anak-anak Allah, maka kita harus meniru sifat Tuhan Yesus. Salah satu cara menunjukkan kasih kepada orang lain adalah dengan bersabar. Ketika kita sabar, artinya kita menunjukkan bahwa kita peduli dan menghargai orang lain. Misalnya, ketika ada teman yang sedang belajar sesuatu yang sulit dan dia membuat kesalahan, kita bisa sabar untuk membantunya menghadapi kesulitan itu. Kita bisa menunjukkan cara kerja yang benar ketika mengerjakan sesuatu yang sulit itu. Atau Sobat Junior diganggu saat bermain, kalian bisa bersabar dan mengajak teman tersebut untuk main bersama.

Bersabar berarti tidak marah atau kesal dengan cepat. Ketika kita mempunyai rasa sayang kepada orang lain dan mengajarkan orang lain dengan lembut dan penuh perhatian, maka artinya kita meniru Tuhan Yesus yang panjang sabar. Tuhan Yesus ketika mengajarkan murid-murid-Nya, sangat sabar, loh. Tuhan Yesus memang pernah marah, tetapi karena Tuhan Yesus sayang kepada murid-murid-Nya.

Jadi, Sobat Junior, ayo kita berusaha untuk selalu bersabar dengan orang lain, ya. Dengan begitu, kita menunjukkan bahwa kita mengenal Tuhan dan bisa mengasihi orang lain seperti kita mengasihi diri kita sendiri.

Card image
Truth Youth 03 Juli 2024 (English Version) - TOO INNOCENT
2024-07-03 17:12:48


"But God chose the foolish things of the world to shame the wise; God chose the weak things of the world to shame the strong." (1 Corinthians 1:27)

Humans cannot live alone as social beings. They need assistance and support from others, so they will do anything to gain attention, even when helping others.

Take someone with many skills. Perhaps not extremely skilled, but willing to do or work on it so that in the end, their ability and expertise are utilized to work on all parts available. This is not an action aimed at trying to dominate, but it drains the existing ability and energy.

Isn't that a good thing? So, people will know a lot and be able to master many things, right? Actually, this is overly innocent thinking. It's not a good action because they are being deceived by their environment. Then, after they are no longer useful, what happens? Like trash, they will be discarded by their environment.

Having many abilities is a good thing, but we must learn to focus on one thing to become an expert in that field. Unfortunately, many people lack confidence in this, so they tend to be more confident in doing everything randomly. Unconsciously, if such people are in a toxic environment, they are likely to be exploited by those around them.

Innocence is closely related to foolishness. Therefore, learn to focus on one thing. Develop and dare to say "no" to something you do not want to do because it is not your duty or responsibility. Unless this is in the realm of God's work and can bless others.

WHAT TO DO:
1. Don't be too innocent, as it can tend towards foolishness.
2. Learn to focus on one thing.
3. Dare to say "no" to those who want to exploit you.

BIBLE MARATHON:
- Proverbs 8-11

Card image
Truth Youth 03 Juli 2024 - TERLALU POLOS
2024-07-03 17:11:00


”Tetapi apa yang bodoh bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan orang-orang yang berhikmat, dan apa yang lemah bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan apa yang kuat.” (1 Korintus 1:27)

Seorang manusia tidak bisa hidup sendiri sebagai makhluk sosial. Mereka memerlukan bantuan dan dukungan dari orang lain, sehingga apa saja akan dilakukan untuk mendapatkan perhatian, bahkan ketika membantu orang lain.

Seperti seseorang yang punya banyak keahlian. Mungkin memang tidak terlalu ahli, tetapi ia mau melakukan atau mengerjakannya sehingga pada akhirnya kemampuan keahliannya dimanfaatkan untuk mengerjakan semua bagian yang ada. Ini bukan sebagai tindakan ingin berusaha untuk berkuasa, melainkan menguras kemampuan dan tenaga yang ada.

Bukannya hal seperti itu bagus? Kalau begitu, orang bakal tahu banyak hal dan bisa menguasai banyak hal, bukan? Sebenarnya, ini pemikiran yang terlalu polos. Bukan sebuah tindakan yang baik, karena sama saja orang tersebut ditipu oleh lingkungannya. Kemudian, setelah dirinya telah tidak berguna, bagaimana? Layaknya sampah, akan dibuang oleh lingkungannya.

Kemampuan yang banyak merupakan hal yang baik, tetapi kita harus belajar terfokus pada satu hal yang ada agar bisa menjadi ahli di bidang yang kita kuasai tersebut. Sayangnya, banyak orang tidak terlalu percaya diri untuk itu, sehingga mereka mereka lebih percaya diri dalam melakukan segala sesuatu secara acak. Tanpa sadar, jika orang seperti ini ada di lingkungan yang toksik, ia cenderung akan dimanfaatkan oleh sekitarnya.

Kepolosan itu beda tipis dengan kebodohan. Untuk itu, belajarlah untuk fokus dalam satu hal. Kembangkan, dan beranilah untuk berkata “tidak” kepada sesuatu yang dirimu tidak ingin lakukan karena bukan tugas dan kewajibanmu. Kecuali hal ini dalam ranah pekerjaan Tuhan dan dapat memberkati orang lain.

WHAT TO DO:
1.Jangan terlalu polos, karena dapat cenderung seperti kebodohan
2.Belajar fokus kepada satu hal
3.Berani berkata “tidak” kepada orang yang ingin memanfaatkanmu

BIBLE MARATHON:
▪︎ Amsal 8-11

Card image
Renungan Pagi - 03 Juli 2024
2024-07-03 13:04:42


Tuhan Yesus dengan tegas mengatakan, "Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam kerajaan sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga." Terlalu banyak orang yang mudah menyebut nama Tuhan dan mengaku mengerjakan segala sesuatunya dalam nama Tuhan, tetapi kualitas hidupnya berbeda dengan apa yang mereka ucapkan. Apa yang dikatakan dan dilakukan tidaklah mencerminkan bahwa ada Tuhan dalam hidupnya.

Untuk apa mengaku diri umat kristiani, kalau hidup sendiri tidak mencerminkan Kristus? Ajaran yang utama dari Tuhan Yesus adalah KASIH, itu melingkupi segalanya, tetapi berapa banyak mereka yang mengaku kristen, beribadah setiap Minggu, tetapi hidup menurut hawa nafsunya sendiri, mengabaikan kasih Tuhan, tetapi sudah merasa paling benar dan seolah pasti masuk surga.

Ingatlah perkataan Tuhan Yesus ini, dan periksalah diri masing-masing. Sudahkah kehidupan kita mencerminkan kristus, yang selalu taat melakukan kehendak Bapa, dan menjadi saksi Kristus lewat ucapan maupun perbuatan, di manapun Tuhan menempatkan kita.
(Matius 7:21)

Card image
Quote Of The Day - 03 Juli 2024 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2024-07-03 12:49:31


Semakin dinamika hidup kita tepat, semakin kita intim dengan Tuhan.

Card image
Mutiara Suara Kebenaran - 03 Juli 2024 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2024-07-03 12:38:13


Orang yang tidak sungguh-sungguh memperhatikan keadaan karakternya adalah orang yang sebenarnya tidak menghormati Tuhan.

Card image
NOT CARING ABOUT GOD'S FEELINGS - 03 Juli 2024 (English Version)
2024-07-03 06:57:59


Those who do not earnestly pay attention to their character are those who do not truly honor God. Those who feel they have entertained God with praise and worship, feel they have done good deeds, given tithes, and think God is pleased, are actually belittling and insulting God. It is as if God enjoys being praised without looking at the attitude of our hearts, like a narrow-minded, low person who likes to be praised without seeing the motive of the one praising him. If a person of quality is praised by someone, he does not easily accept the praise. He will even ask, “Why are you praising me? What is your motive for praising me?”

As a Father, He wants us to be healed, and for that, Jesus came and by His stripes, we are healed. But this is not about physical healing; it is about healing related to character. 1 Peter 2:24 has nothing to do with physical healing; it speaks of character. By His stripes, by His sacrifice, by the facility of salvation, we can be transformed. What God desires is for us to be perfect like the Father. Being perfect like the Father means everything we do is within God's standards. This is what is meant in Hebrews 12:9-10, namely, sharing in God's holiness for which He disciplines us so that we may become sons, princes, legitimate children, not illegitimate ones.

Whether or not we are legitimate children of God depends on us. God provides salvation that makes each of us able to become children of God. But for those who do not want to learn, do not want to be disciplined, one day Jesus will say, “I do not know you.” If we honor God as the Father and love the Lord Jesus who died to redeem our sins, then we are willing to do whatever He desires, and what He desires is to have holiness according to God's standards. To have holiness according to God's standards, our character must be shaped. Those who are not aware that they are easily offended, seek honor, still want to please themselves, and do not care about others' feelings are those who do not care about God's feelings.

The Word of God says, "Even if you give away all your possessions and burn your bodies, if you don't have love, it will be in vain." The problem is, let alone having sensitivity to God, we do not even have good character. Not only towards others, but sometimes even to our spouse or children, we are stingy. Stingy people will not enter heaven because stingy people are certainly selfish. God teaches us to be poured-out wine and broken bread. Stingy people cannot become children of God. Many non-Christians are not stingy, are good, and generous. We must be realistic. The problem is, what about us who consider ourselves children of God who should have sensitivity?

This is the target that must be achieved. If this target does not become an obsession, an aspiration, a longing, a desire, then it cannot be achieved. Therefore, we must be aware that we are not yet what God desires us to be; we are still sick. The great temptation for pastors is to feel that there is no need for further therapy or healing processes. Many people feel that because they can talk about God, they are more healed than those who cannot talk about God. This is a misguidance in our thinking. No wonder there are theologians, theology school lecturers, pastors, and theology school graduates whose morals are no better than others. Some are even worse because they feel that having theological knowledge makes them more healed. In fact, it does not determine anything; there must be determination, attitude, and habits.

So many people do not respect God and do not love Him because they focus on fulfilling physical needs, life’s pleasures, and feeling entitled to their desires. They do not care about God's feelings or the feelings of others. Let’s improve ourselves. Each of us is still imperfect and therefore we continue to learn not to make any mistakes because we have made many mistakes in the past, and we do not want to make mistakes again. We want to please God with the right attitude. And this is a choice.

So, we are undergoing a process of healing our inner selves, our spirituality, our character so that we put on the life of Jesus in our lives. If people meet us and still see the old human characteristics in our lives, it means we are not growing. People from afar can only see from a distance, judge from a distance. But the people around us inevitably see whether we are truly like Jesus. Therefore, we must force ourselves to be righteous. Because if we do not force ourselves, it is difficult to change. We torment ourselves so that we do not torment God’s feelings.

People who do not care about their character flaws actually value and honor themselves more than God, and they consider the world more valuable than God. We must overcome character flaws by letting go of our love for the world. Therefore, God says in Luke 14:33, “If you do not give up everything you have, you cannot be my disciple.” It means you cannot be transformed by Me. So do not let us go to church, singing and praising God, but we are careless towards other people and do many things that hurt others, and feel strong because others are powerless. We must repent and at this moment let us decide to change.

PEOPLE WHO ARE NOT AWARE THAT THEY ARE EASILY OFFENDED, SEEKING HONOR, STILL WANT TO PLEASE THEMSELVES, AND DO NOT CARE ABOUT THE FEELINGS OF OTHERS ARE PEOPLE WHO DO NOT CARE ABOUT THE FEELINGS OF GOD.

Card image
TIDAK PEDULI PERASAAN TUHAN - 03 Juli 2024
2024-07-03 06:52:05


Orang yang tidak sungguh-sungguh memperhatikan keadaan karakternya adalah orang yang sebenarnya tidak menghormati Tuhan. Orang yang merasa sudah menjamu Tuhan dengan pujian dan penyembahan, merasa sudah melakukan perbuatan baik, sudah memberi perpuluhan, dan berpikir Tuhan senang, sebenarnya ia meremehkan dan menghina Tuhan. Seakan-akan Tuhan senang dipuji-puji tanpa melihat sikap hati kita, seperti orang yang bermental picik, rendah, yang suka dipuji tanpa melihat motif orang memuji dirinya. Kalau orang yang berkualitas, ketika ia dipuji seseorang, ia tidak mudah menerima pujian tersebut. Bahkan dia akan bertanya, “Kenapa kamu memujiku? Apa motif kamu memujiku?”

Sebagai Bapa, Dia ingin kita sembuh dan untuk itu Yesus datang di mana bilur-bilur-Nya menyembuhkan kita. Tetapi bukan untuk kesembuhan fisik, melainkan kesembuhan yang berkaitan dengan karakter. 1 Petrus 2:24, tidak ada kaitannya dengan kesembuhan fisik, itu berbicara soal karakter. Oleh bilur-Nya, oleh kurban-Nya, oleh fasilitas keselamatan, kita bisa diubah. Hal yang Tuhan kehendaki adalah kita sempurna seperti Bapa. Sempurna seperti Bapa artinya segala sesuatu yang kita lakukan di dalam standar Allah. Ini yang dimaksud dalam Ibrani 12:9-10, yaitu mengambil bagian dalam kekudusan Allah yang oleh karenanya Dia mendidik kita supaya kita menjadi putra, pangeran, anak yang sah; bukan menjadi anak yang tidak sah.

Sah atau tidaknya keadaan kita sebagai anak-anak Allah tergantung kita sendiri. Allah menyediakan keselamatan yang membuat setiap kita bisa menjadi anak-anak Allah. Tetapi bagi yang tidak mau belajar, tidak mau dididik, suatu hari Yesus akan berkata, “Aku tidak mengenal kamu.” Kalau kita menghormati Allah sebagai Bapa dan mengasihi Tuhan Yesus yang telah mati menebus dosa-dosa kita, maka kita bersedia melakukan apa pun yang Dia kehendaki dan apa yang Dia kehendaki yaitu memiliki kekudusan standar Allah. Untuk memiliki kekudusan standar Allah adalah karakter kita yang harus dibentuk. Orang yang tidak sadar kalau dia mudah tersinggung, mencari hormat, masih mau menyenangkan perasaannya sendiri, tidak peduli perasaan orang adalah orang yang tidak peduli perasaan Tuhan.

Firman Tuhan mengatakan, “Sekalipun kamu memberikan seluruh hartamu, memberikan tubuhmu dibakar, tapi apabila tanpa kasih, maka sia-sia.” Masalahnya, jangankan memiliki kepekaan akan Allah, berkarakter baik pun belum. Bukan hanya kepada orang lain, kadang-kadang kepada pasangan atau anak pun dia pelit. Orang pelit itu tidak akan masuk surga karena orang pelit pasti egois. Tuhan mengajarkan kita menjadi anggur yang tercurah dan roti yang terpecah. Orang yang pelit tidak bisa menjadi anak-anak Allah. Banyak orang di luar Kristen yang tidak pelit, yang baik, yang berkemurahan. Kita harus realistis. Masalahnya, bagaimana dengan kita yang merasa sebagai anak-anak Allah yang seharusnya mempunyai kepekaan?

Ini target yang harus dicapai. Kalau target ini tidak menjadi obsesi, cita-cita, kerinduan, keinginan, maka tidak bisa. Jadi kita harus sadar kalau kita belum seperti yang Tuhan kehendaki; kita masih sakit. Godaan besar untuk pendeta adalah merasa tidak perlu ada proses terapi atau kesembuhan lagi. Banyak orang yang merasa karena ia sudah bisa berbicara tentang Tuhan maka ia merasa sudah lebih sembuh daripada orang yang tidak bisa bicara tentang Tuhan. Ini penyesatan berpikir kita. Maka tidak heran ada teolog, dosen sekolah teologi, juga pendeta dan lulusan-lulusan sekolah teologi moralnya tidak lebih baik dari orang lain. Bahkan ada yang lebih buruk karena merasa memiliki pengetahuan teologi, sehingga merasa semakin lebih sembuh. Padahal, itu tidak menentukan, harus ada tekad, sikap, dan kebiasaan.

Jadi banyak orang yang tidak menghormati Tuhan dan tidak mengasihi Dia karena fokus kepada pemenuhan kebutuhan jasmani, kesenangan-kesenangan hidup, dan merasa berhak memiliki keinginan-keinginan. Dia tidak memedulikan perasaan Allah, juga perasaan sesama. Ayo kita benahi diri. Setiap kita masih termasuk orang yang belum sempurna dan karenanya kita masih terus belajar untuk tidak melakukan satu kesalahan pun karena sudah banyak melakukan kesalahan di masa-masa lalu, maka kita tidak mau melakukan kesalahan lagi. Kita mau menyenangkan Tuhan dengan sikap yang benar. Dan ini adalah pilihan.

Jadi, kita itu mengalami proses penyembuhan batin, rohani, karakter kita supaya kita mengenakan hidup Yesus di dalam hidup kita. Kalau orang bertemu kita lalu masih melihat karakter-karakter manusia lama di dalam hidup kita, berarti kita tidak bertumbuh. Kalau orang jauh hanya bisa melihat dari jauh, menilai dari jauh. Tetapi orang di sekitar kita mau tidak mau melihat apakah benar-benar kita seperti Yesus. Maka, kita harus paksa diri untuk benar. Sebab kalau tidak memaksa diri, susah berubah. Kita aniaya diri kita sendiri supaya kita tidak menganiaya perasaan Tuhan.

Orang yang tidak peduli dengan cacat karakternya sebenarnya lebih menghargai dan menghormati diri sendiri daripada Tuhan, juga menilai dunia lebih berharga daripada Tuhan. Cacat karakter itu harus kita tanggulangi dengan melepaskan percintaan dunia. Maka Tuhan mengatakan dalam Lukas 14:33, “Kalau kamu tidak melepaskan dirimu dari segala milikmu, kamu tidak dapat menjadi murid-Ku.“ Artinya kamu tidak dapat Kuubah. Jadi jangan sampai kita ke gereja bernyanyi dan memuji Tuhan, tetapi kita sembarangan terhadap manusia lain dan melakukan banyak hal yang melukai sesama, serta merasa kuat karena orang tidak berdaya. Kita harus bertobat dan saat ini mari kita ambil keputusan untuk berubah.

Tuhan Yesus memberkati
????????????. ????????. ???????????????????????????? ????????????????????????????

ORANG YANG TIDAK SADAR KALAU DIA MUDAH TERSINGGUNG, MENCARI HORMAT, MASIH MAU MENYENANGKAN PERASAANNYA SENDIRI, TIDAK PEDULI PERASAAN ORANG ADALAH ORANG YANG TIDAK PEDULI PERASAAN TUHAN.

Card image
Bacaan Alkitab Setahun - 03 Juli 2024
2024-07-03 06:45:21

2 Raja-raja 9-11

Card image
Truth Kids 02 Juli 2024 - KESABARAN YUSUF
2024-07-02 16:01:56


Yakobus 1:2-4
”Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan, sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan. Dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang, supaya kamu menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apa pun.”

Sobat Kids, kemarin kita sudah belajar tentang Abraham dan Sara. Hari ini kita akan belajar dari tokoh Alkitab lain yaitu Yusuf. Kita tahu Yusuf adalah seorang anak yang sangat dikasihi oleh orang tuanya. Namun, karena kecemburuan saudara-saudaranya, Yusuf dijual sebagai budak ke Mesir. Tidak sampai di situ kesusahan yang dialami Yusuf. Sementara menjadi budak, Yusuf juga dituduh berbuat jahat sehingga dimasukkan ke dalam penjara. Keadaannya saat itu sangat berbeda jauh dari mimpi yang dia dapatkan dulu. Walaupun demikian, Yusuf tetap menunggu dengan sabar dan tetap percaya pada Allah.

Sampai suatu hari, ia mendapat kesempatan untuk mengartikan mimpi Firaun. Akibatnya, bangsa Mesir dapat terhindar dari masa kelaparan, dan Yusuf akhirnya diangkat menjadi orang kepercayaan Firaun pada saat itu. Melalui cerita Yusuf, kita dapat belajar bahwa walau kita mengalami kesusahan demi kesusahan, tetaplah sabar dan percaya pada Tuhan. Jangan malah meninggalkan Tuhan, karena segala sesuatu akan indah pada waktu-Nya. Tuhan tidak akan merancangkan yang jahat untuk kita.

Card image
Truth Junior 02 Juli 2024 - KETEKUNAN MEMBUAHKAN HASIL
2024-07-02 16:00:49


Yakobus 1:2-4
”Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan, sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan. Dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang, supaya kamu menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apa pun.”

Sobat Junior, coba bayangkan kalau saat ini kalian merasa senang saat menghadapi berbagai tantangan. Rasanya menarik untuk menerima tantangan itu, karena kamu tahu tantangan itu bisa membuat kamu lebih kuat dan sabar. Misalnya, ketika kamu harus mengerjakan PR yang sulit atau saat memainkan permainan yang menantang. Tantangan itu memang kadang membuat kamu merasa kesal atau sedih, tetapi sebenarnya setiap tantangan dalam mengerjakan PR atau bermain, membuat kamu jadi lebih kuat dan lebih sabar.

Saat kita menghadapi masalah atau cobaan, kita sedang berlatih untuk menjadi lebih baik. Seperti ketika kita belajar naik sepeda. Awalnya, kita mungkin sering jatuh dan merasa sakit. Tetapi setiap kali kita bangun dan mencoba lagi, kita jadi semakin jago naik sepedanya. Akhirnya, kita bisa naik sepeda dengan lancar tanpa takut jatuh lagi.

Begitu juga dengan tantangan yang kita terima dalam hidup ini. Karena setiap kali kita menghadapi tantangan dan berusaha mengatasinya, kita sedang dilatih untuk sabar dan tekun, Sobat Junior.

Jadi, saat menghadapi tantangan, jangan mudah menyerah, ya. Tetap semangat dan ingat bahwa setiap tantangan adalah kesempatan untuk kita dapat belajar dan menjadi lebih baik. Dengan begitu, kita bisa menjadi anak-anak yang bisa meraih mimpi-mimpi kita. Tetap berusaha, ya, Sobat Junior. Beranilah saat menghadapi tantangan!

Card image
Truth Youth 02 Juli 2024 - KUASAI DIRI DALAM PERGAULANMU!
2024-07-02 15:54:48


”Janganlah kamu sesat: Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik.” (1 Korintus 15:33)

Sungguh tragis! Pemberitaan di banyak media sosial akhir-akhir ini banyak sekali menceritakan tindakan kriminal yang dilakukan anak-anak muda. Hal tersebut membuat kita merasa khawatir dengan kondisi dunia yang semakin tidak baik-baik saja. Menurut kamu, apa yang membuat hal tersebut bisa terjadi (teman-teman boleh menjawab secara pribadi)? Ada banyak sekali faktor yang melatarbelakangi hal tersebut, antara lain: pola asuh yang keliru, pengaruh tayangan di sosial media, dan tidak luput dari pergaulan antara teman. Pergaulan antar teman ini menjadi satu faktor penting dalam pembentukan perilaku kita.

1 Korintus 15:33 menyampaikan bahwa janganlah kita menjadi sesat, karena pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik. Firman Tuhan mengajarkan kita juga untuk berhati-hati terhadap pergaulan yang kita pilih. Kita perlu belajar peka dalam menjalin suatu relasi dengan orang lain. Apakah pergaulan kita dengan teman-teman membawa kepada pertumbuhan perilaku dan rohani yang positif? Pergaulan yang tidak sehat atau toxic dapat menjadi benalu yang merusak perilaku kita dan meruntuhkan kebiasaan-kebiasaan yang sudah baik.

Lalu bagaimana caranya? Kita perlu belajar untuk peka dalam berteman, memperhatikan perkataan, pola pikir dan perbuatan yang ada di dalam lingkungan pertemanan kita. Jika ternyata tidak sesuai dengan kehendak Tuhan, maka kita perlu memilah kembali apakah hal tersebut perlu dilanjutkan atau tidak. Pilihlah lingkaran pertemanan yang membawa kita kepada pertumbuhan-pertumbuhan yang positif dari segala aspek. Kalau kita berkutat hanya di relasi yang kita sudah tahu membawa kepada sesuatu yang beracun, maka kita menyia-nyiakan hidup kita. Ujilah pertemanan kita dengan kebenaran-kebenaran firman Tuhan yang telah kita dengar. Oleh karena itu, dengarkanlah firman Tuhan dan renungkan, serta terapkan dalam kehidupan kita agar kita lebih peka lagi mendengar suara atau kehendak Tuhan.

WHAT TO DO:
1.Perhatikan lingkaran pertemanan kita, bagaimana perkataan, pola pikir, dan perilakunya.
2.Belajar mendengarkan suara Tuhan melalui perenungan firman Tuhan supaya kita peka dalam memilih teman yang positif
3.Ingat bahwa pertemanan yang tidak sehat membuat kebiasaan baik kita menjadi buruk.

BIBLE MARATHON:
▪︎ Amsal 4-7

Card image
Renungan Pagi - 02 Juli 2024
2024-07-02 13:10:09


Tuhan Yesus menyatakan Diri-Nya adalah Pokok Anggur yang benar, dan kita adalah ranting-rantingnya, dan dengan jelas pula Tuhan Yesus mengatakan bahwa hanya dengan melekat pada Pokok Anggur dan rela dikerat, dibersihkan, barulah ranting dapat menghasilkan buah. "Akulah pokok anggur yang benar dan Bapa-Ku lah pengusahanya. Setiap ranting pada-Ku yang tidak berbuah, dipotong-Nya dan setiap ranting yang berbuah, dibersihkan-Nya, supaya ia lebih banyak berbuah."

Jika ingin banyak menghasilkan buah bagi Tuhan, yaitu buah pertobatan, buah pelayanan dan buah Roh (karakter Kristus), maka kita harus rela *dibersihkan* dari kekotoran dosa, kenajisan hawa nafsu kedagingan dan banyak hal yang tidak berkenan dihadapan Tuhan. Jika tidak bersedia dibersihkan, maka tidak akan pernah berbuah, dan pada akhirnya kita akan dipotong dan menjadi ranting kering yang dilempar kedalam api. Relakanlah hidupmu dibersihkan oleh Tuhan supaya dapat menghasilkan buah bagi kemuliaan nama-Nya.
(Yohanes 15:1-2)

Card image
Quote Of The Day - 02 Juli 2024 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2024-07-02 13:07:49


Orang yang mau menemukan dan menghidupkan Tuhan adalah orang yang tidak menghidupkan apa pun dan siapapun, termasuk dirinya sendiri.

Card image
Mutiara Suara Kebenaran - 02 Juli 2024 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2024-07-02 13:06:30


Orientasi berpikir kita harus tertuju pada kehidupan yang akan datang.

Card image
UNDERESTIMATE KAKOS - 02 Juli 2024 ( English Version)
2024-07-02 12:48:55


Many churches are not driven by the fire of God, but are driven by the fire of hell which parks humans in this world in the orientation of thinking about fulfilling physical needs. As we often see, fake goods must be designed to be as similar as possible to the original goods. Likewise, deceptions are packaged to appear spiritual, but in fact they are not the truth of the Gospel that Jesus taught because their focus is not on the actual ailment, leaving the character flaws and soul's defects unaddressed and certainly not healed. There are physical illnesses that can be cured in a short time. But there are also physical illnesses that cannot be cured in a short time, but through a long therapeutic process accompanied by abstinence from certain foods and activities.

Mental, emotional, and spiritual illnesses cannot be easily and quickly treated. We have inherited a sinful nature and absorbed all the ways of thinking from the people around us over a long period. Therefore, the recovery and healing process also requires a long and truly serious effort. And inner healing, spiritual healing, character healing, is not just about abstaining from certain things but about leaving the world with all its pleasures. The problem is, we often feel that we are good enough people. At least we feel that we are not sinners, so we do not feel the need for improvement. If a person thinks that way, believing there is no "kakos" (evil or defect) in their soul, then their focus begins to focus on fulfilling physical needs.

The devil is not only able to coil around the tree in the middle of the Garden of Eden but can also coil around the church pulpit, not teaching pure truth, resulting in the character flaws of people or congregations remaining unhealed over time. Even into old age, they make excuses, remain materialistic, flirtatious, bound to unnecessary spectacles and must not be seen. It is a flaw in our character that must be addressed seriously. God desires for us to always hunger and thirst for righteousness, meaning we should feel we have not yet become the people God wants us to be. Our thinking orientation must be focused on the life to come. This must be the main message for today's generation: a generation of materialism, a secular generation, a generation bound to material things, and a nihilistic world. Nihilistic means not acknowledging the existence of God, or if they believe God exists, their behavior does not show that God exists.

Many Christians feel that they are already religious people who meet the criteria of being good, so they do not feel the need to grow or strive to reach the targets desired by God. On the one hand, the church also does not show the right targets. The targets offered are healing, career success, wealth, and being the head, not the tail. However, those verses are addressed to the nation of Israel, not Christians. They quote Old Testament verses without looking at the historical context. This is foolishness, so that many congregants become foolish and remain worldly. But God, in His patience, still gives Christians the opportunity to devote, praise, and worship God because they do not understand.

But the world is getting worse. So we must discard teachings that are not in accordance with the Bible because the essence of Christianity is changing one's life to become like Jesus or perfect like the Father. Paul himself said that as long as there is food and clothing, that is enough. This means that even if we have a lot, everything we have belongs to God. The real riches will be in the new heaven and new earth, as stated in Luke 16:12 (And if you have not been trustworthy with someone else’s property, who will give you property of your own?). Remember, we will die and we cannot take anything with us. We must accumulate treasures in heaven, which means overcoming our kakos. Thus, when Jesus ascended to heaven, He gave an important message: to make disciples of all nations and teaching them to do everything He commanded. It means everything that He put on and that all Christians should put on too.

Thus, since someone becomes a Christian, there is no interest other than learning from the Lord Jesus to become like Him. The mistake of many Christians in general is that they accept Christianity as just a religion, then park themselves in ignorance, and live in a normal life. Even though the normalcy of life is a hidden enemy; which makes someone feel that it is enough to be a Christian, to go to church, praise God, carry out spiritual activities, even though the main thing is changing life every day to overcome kakos. People who underestimate the condition of their character, underestimate their kakos, means that they do not love God because God came to solve that problem;* it is not about physical illness, not physical problems.

PEOPLE WHO UNDERESTIMATE THE CONDITION OF THEIR CHARACTER, UNDERESTIMATE THEIR KAKOS, MEANS THAT THEY DO NOT LOVE GOD BECAUSE GOD CAME TO SOLVE THAT PROBLEM.

Card image
MEREMEHKAN KAKOS - 02 Juli 2024
2024-07-02 12:45:26


Banyak gereja yang tidak digerakkan oleh api Tuhan, tetapi digerakkan oleh api neraka yang memarkir manusia di dunia ini dalam orientasi berpikir pemenuhan kebutuhan jasmani. Seperti yang sering kita lihat, barang palsu itu harus didesain semirip mungkin dengan barang asli. Demikian pula dengan penyesatan-penyesatan itu dikemas agar kelihatan rohani, tetapi sebenarnya bukan kebenaran Injil yang diajarkan Yesus karena fokusnya tidak tertuju pada sakit yang sesungguhnya, sehingga karakter dan cacat jiwanya tidak tertanggulangi dan pasti tidak tersembuhkan. Ada penyakit-penyakit fisik yang bisa disembuhkan dalam waktu singkat. Tetapi ada juga penyakit-penyakit fisik yang tidak bisa disembuhkan secara singkat, namun melalui sebuah proses terapi panjang disertai pantang makan ini dan itu, pantang melakukan ini dan itu.

Sakit jiwa, sakit batin, sakit rohani manusia tidak bisa diterapi dengan mudah dan dalam waktu singkat. Karena kita telah mewarisi kodrat dosa dan menyerap semua cara berpikir manusia di sekitar kita dalam waktu panjang. Maka pemulihannya, kesembuhannya juga butuh waktu panjang dan benar-benar serius. Dan *kesembuhan batin, kesembuhan rohani, kesembuhan watak, bukan hanya soal pantang ini dan itu, melainkan meninggalkan dunia dengan segala kesenangannya.* Masalahnya, sering kali kita merasa bahwa kita adalah orang yang cukup baik. Paling tidak kita merasa bukan orang yang berdosa sehingga kita tidak merasa perlu untuk diperbaiki lagi. Kalau orang sudah berpikir begitu, sehingga ia tidak merasa ada kakos dalam jiwanya, maka fokusnya mulai tertuju pada pemenuhan kebutuhan jasmani.

Iblis itu bukan hanya bisa melingkar di pohon di tengah Taman Eden, melainkan juga bisa melingkar di mimbar gereja dan tidak mengajarkan kebenaran yang murni sehingga dalam kurun waktu tertentu sakit karakter orang atau jemaat tidak bisa diobati lagi. Sampai tua masih beralasan, materialistis, genit, terikat dengan tontonan-tontonan yang tidak perlu dan tidak boleh dilihat. Itu adalah cacat karakter kita yang harus ditanggulangi dengan serius. Tuhan menghendaki agar kita selalu haus dan lapar akan kebenaran. Maksudnya bahwa kita belum merasa menjadi manusia seperti yang Allah kehendaki. *Orientasi berpikir kita harus tertuju pada kehidupan yang akan datang.* Ini harus menjadi berita utama bagi generasi hari ini, generasi materialisme, generasi sekuler, generasi yang sudah terikat dengan materi, dan dunia yang nihilistis. Nihilistis artinya tidak mengakui Tuhan itu ada, kalaupun percaya Tuhan itu ada, perilakunya tidak menunjukkan bahwa Allah itu ada.

Banyak orang Kristen yang merasa sudah menjadi orang beragama yang memenuhi syarat sebagai orang baik sehingga dia tidak merasa perlu bertumbuh, tidak berusaha untuk mencapai target yang dikehendaki Allah. Di satu sisi, gereja juga tidak menunjukkan target yang benar. Target yang ditawarkan adalah hal kesembuhan, sukses dalam karier, kekayaan, menjadi kepala bukan ekor. Padahal ayat-ayat itu ditujukan kepada bangsa Israel, bukan orang Kristen. Mereka mengutip ayat-ayat Perjanjian Lama tanpa melihat konteks sejarah. Ini adalah sebuah kebodohan sehingga banyak jemaat menjadi bodoh dan tetap duniawi. Tetapi Tuhan dalam kesabaran-Nya masih memberi kesempatan kepada orang Kristen untuk berbakti, memuji, dan menyembah Tuhan karena belum mengerti.

Tetapi dunia ini semakin rusak. Maka kita harus membuang ajaran yang tidak sesuai dengan Alkitab sebab *inti kekristenan adalah perubahan hidup untuk menjadi serupa dengan Yesus atau sempurna seperti Bapa.* Paulus sendiri mengatakan asal ada makanan dan pakaian sudah cukup. Artinya kalaupun kita punya banyak, semua yang kita miliki itu adalah milik Tuhan. Kekayaan yang sesungguhnya itu nanti di langit baru bumi baru sebagaimana dikatakan dalam Lukas 16:12. Ingat, kita akan mati dan tidak ada satu pun yang akan kita bawa. Kita harus mengumpulkan harta di surga, yaitu menanggulangi kakos kita ini. Maka saat Yesus naik ke surga, Ia memberikan pesan penting, yaitu menjadikan semua bangsa menjadi murid-Nya, dan mengajarkan mereka melakukan segala sesuatu yang Dia perintahkan. Artinya segala sesuatu yang Dia kenakan dan yang harus semua orang Kristen mengenakannya.

Dengan demikian, sejak seseorang menjadi orang Kristen, maka tidak ada kepentingan apa pun selain belajar dari Tuhan Yesus untuk menjadi seperti Dia. Kesalahan banyak orang Kristen pada umumnya adalah mereka menerima kekristenan sekadar agama, lalu terparkir dalam kebodohan, dan hidup dalam kewajaran hidup. Padahal kewajaran hidup merupakan musuh terselubung; di mana membuat seseorang merasa sudah cukup menjadi orang Kristen, ke gereja, memuji Tuhan, menjalankan kegiatan rohani, padahal yang utama adalah perubahan hidup setiap hari untuk menanggulangi kakos. Orang yang meremehkan keadaan karakternya, meremehkan kakos-nya berarti tidak mengasihi Tuhan karena Tuhan datang untuk menyelesaikan hal itu; bukan soal sakit fisik, bukan masalah jasmani.

Tuhan Yesus memberkati
????????????. ????????. ???????????????????????????? ????????????????????????????

ORANG YANG MEREMEHKAN KEADAAN KARAKTERNYA, MEREMEHKAN KAKOSNYA BERARTI TIDAK MENGASIHI TUHAN KARENA TUHAN DATANG UNTUK MENYELESAIKAN HAL ITU.

Card image
Bacaan Alkitab Setahun - 2 Juli 2024
2024-07-02 12:41:47

2 Raja-raja 5-8

Card image
Truth Kids 01 Juli 2024 - SABAR MENANTI
2024-07-01 12:52:45


Yesaya 40:31
”tetapi orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN mendapat kekuatan baru: mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah.”

Sobat Kids, kalian pasti pernah mendengar kisah tentang Abraham dan istrinya, Sara. Mereka dikaruniai seorang anak yang diberi nama siapa, ayo? Ada yang ingat?? Yaa, betul sekali! Nama anak Abraham dan Sara adalah Ishak. Ishak adalah anak yang dijanjikan Allah kepada Abraham pada masa tuanya, Sobat Kids. Tapi kok kenapa ditulis "masa tua Abraham?" Nah, Allah menjanjikan bahwa Abraham akan memiliki anak ketika Abraham berumur 75 tahun, loh, Sobat Kids. Dan apakah kalian tahu kapan Ishak lahir? Ishak lahir ketika Abraham berumur 100 tahun. Wooww, luar biasa, ya, Sobat Kids. Itu berarti Abraham dan Sara menantikan janji Allah selama 25 tahun.

25 tahun itu bukan waktu yang sebentar, loh, Sobat Kids. Kesabaran Abraham dan Sara dalam menantikan janji Tuhan dapat menjadi teladan agar kita bisa belajar sabar. Walaupun Abraham menanti janji Tuhan dengan waktu yang lama sekali, tetapi saat janji itu Tuhan genapi, Tuhan benar-benar memberkati, tidak hanya Abraham, Sara, dan Ishak, tetapi keturunannya pun diberkati menjadi bangsa yang besar. Jadi jangan pernah menyerah untuk bersabar, ya, Sobat Kids. Karena pasti ada berkat Tuhan sebagai hadiah dari kesabaran kita.

Card image
Truth Junior 01 Junior 2024 - KEKUATAN DARI TUHAN
2024-07-01 12:50:13


Yesaya 40:31
”tetapi orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN mendapat kekuatan baru: mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah.”

Sobat Junior, apakah kalian tahu burung rajawali? Burung rajawali adalah burung yang sangat kuat di antara semua burung. Burung ini bisa menembus badai dengan kepakan sayapnya, bahkan sayapnya bisa membentang dua kali lebih besar daripada tubuhnya. Wah, luar biasa, ya, Sobat Junior? Makanya, di Alkitab kita sering membaca kekuatan burung rajawali, karena dia memang sekuat itu, Sobat Junior.

Coba bayangkan kalau kalian menjadi burung rajawali yang kuat. Menyenangkan, bukan? Sebenarnya, kita bisa menjadi burung rajawali yang kuat. Mau tahu tidak, caranya bagaimana? Caranya adalah dengan berdoa kepada Tuhan. Contohnya, kamu sedang latihan berbaris di lapangan, merasa sudah lelah dan sudah sangat haus. Di satu sisi, kalian ingin menyerah, tetapi tiba-tiba papa atau mamamu memberikan kamu minuman sehingga kamu jadi lebih bersemangat lagi.

Begitu juga dengan Tuhan, ketika kamu berdoa kepada Tuhan, maka Tuhan akan menolong kamu, Sobat Junior. Jadi, setiap kali kamu merasa capek atau sedih, ingatlah untuk berdoa dan menunggu pertolongan dari Tuhan. Percayalah bahwa Tuhan akan memberikan kamu kekuatan baru, sehingga kamu bisa terus berjuang dan tidak mudah menyerah. Tuhan itu selalu ada untuk kita. Dia memberikan kekuatan agar kita bisa terbang lebih tinggi seperti rajawali, berlari tanpa lelah, dan berjalan tanpa lesu. Tetap semangat, ya, Sobat Junior.

Card image
Truth Youth 01 Juli 2024 (English Version) - BROTHER'S IN TRUTH
2024-07-01 12:47:54


"Carry each other’s burdens, and in this way you will fulfill the law of Christ." (Galatians 6:2)

When we were in elementary school, we often heard lessons about living harmoniously with others. In those lessons, we were always reminded of various ways to create a sense of security, comfort, and harmony with those around us. This is very good because it shapes our moral values as individuals within our environment. However, lately, there have been many incidents showing a lack of empathy, leading to a decline in the spirit of helping one another. Nowadays, most people seem indifferent to the feelings and conditions of others.

The Word of God in Galatians 6:2 constantly reminds us to help carry each other’s burdens. Thus, we fulfill the law of Christ, which is to love our fellow human beings. When we reflect on this verse, we should strive to live our lives in a way that allows us to help others. In terms of helping or assisting others, we also need the help of the Holy Spirit to give us wisdom. Perhaps the help we can offer is not always material; simply taking the time to be a good listener when others want to talk can already be a great help.

When we help others, let our hearts not be bound by the expectation that someday those same individuals will help us when we are in need. Let our hearts be able to genuinely help others. Let us start from ourselves to spread kindness and assistance so that we can create an atmosphere of tolerance and positive harmony. By starting to do good things for others, we are reducing the stress experienced by others. Every person needs positive support from others. We need to create a positive, empathetic, and supportive environment so that through these actions, the character of Christ can also be seen in our lives. May the Lord Jesus bless us all.

WHAT TO DO:
1. Be a positive influence on those around you and create positivity starting with our words towards others.
2. Instill in our mindset that helping others is not only about material things.
3. Seek the Holy Spirit’s guidance in His wisdom.
4. Start today to help others, at the very least by taking the time to be a good listener.

BIBLE MARATHON:
- Proverbs 1-3

Card image
Truth Youth 01 Juli 2024 - SAUDARA DALAM KEBENARAN
2024-07-01 12:44:03


”Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu! Demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus.” (Galatia 6:2)

Saat kita duduk di bangku sekolah dasar, sering kali kita mendengar pembelajaran mengenai hidup rukun bersama orang lain. Di dalam pelajaran itu, kita selalu diingatkan berbagai cara untuk menciptakan rasa aman, nyaman, rukun bersama orang-orang yang ada di sekitar kita. Hal tersebut sangat baik, karena membentuk nilai moralitas kita sebagai individu di tengah-tengah lingkungan. Namun, akhir-akhir ini banyak sekali kejadian yang memperlihatkan kurangnya rasa empati individu, sehingga menurunnya sikap tolong-menolong terhadap sesama. Mayoritas manusia akhir-akhir ini, tidak lagi peduli terhadap perasaan dan kondisi orang lain.

Firman Tuhan dalam Galatia 6:2 senantiasa mengingatkan kita untuk bertolong-tolongan menanggung beban. Dengan demikian, kita memenuhi hukum Kristus yaitu kasihilah sesamamu manusia. Kalau kita berkaca pada ayat tersebut, hendaknya kita dapat mengupayakan hidup ini untuk dapat membantu sesama. Dalam hal membantu atau menolong ini juga, kita memerlukan pertolongan Roh Kudus memberikan hikmat kepada kita. Mungkin pertolongan yang dapat kita berikan tidak selalu materi, namun dengan meluangkan waktu menjadi pendengar yang baik saat orang lain ingin bercerita, itu juga sudah membantunya.

Saat kita menolong orang lain, biarlah hati kita juga tidak terpatok bahwa suatu saat orang tersebut akan menolong kita juga saat kita kesulitan. Biarlah hati kita dapat menolong orang lain dengan ketulusan. Mulailah dari kita untuk bisa menebar kebaikan dan pertolongan, sehingga kita dapat menciptakan suasana toleransi dan kerukunan yang positif. Dengan kita memulai melakukan hal-hal baik bagi sesama, maka kita sedang mengurangi rasa stres yang dialami orang lain. Setiap manusia memerlukan dukungan positif dari orang lain. Kita perlu menciptakan lingkungan yang positif, berempati dan suportif, supaya dari hal-hal itu karakter Kristus juga tampak melalui kehidupan kita. Tuhan Yesus memberkati kita semua.

WHAT TO DO:
1.Berperanlah positif terhadap orang di sekitar dan ciptakan hal-hal positif dimulai dari perkataan kita terhadap sesama
2.Tanamkan dalam mindset kita bahwa menolong orang lain tidak hanya secara materi
3.Minta pertolongan Roh Kudus memimpin kita dalam hikmat-Nya
4.Mulai dari hari ini untuk menolong orang lain, minimal dengan meluangkan waktu menjadi pendengar yang baik

BIBLE MARATHON:
▪︎ Amsal 1-3

Card image
Renungan Pagi - 01 Juli 2024
2024-07-01 12:40:41


Allah merancangkan sesuatu yang besar dalam hidup setiap kita, tapi jika tidak menangkap dengan benar rancangan besar Tuhan bagi kita dan hidup bermalas-malasan, tidak bertanggung jawab, maka kita juga tidak akan melihat rancangan Tuhan digenapi dan tidak dapat menikmati berkat yang telah disediakan Tuhan.

"Si pemalas dibunuh oleh keinginannya, karena tangannya enggan bekerja." Tuhan tetap mau kita mengerjakan tanggung jawab dalam ketaatan dan ketekunan, maka kita pasti akan melihat bagaimana tangan Tuhan menggenapi rancangan-Nya dan kita dapat menikmati berkat-berkat-Nya.
(Amsal 21:25)

Card image
Quote Of The Day - 01 Juli 2024 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2024-07-01 12:37:41


Jangan menolak untuk menjadi prajurit Kerajaan Surga.

Card image
Mutiara Suara Kebenaran - 01 Juli 2024 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2024-07-01 12:27:53


Banyak orang Kristen merasa tidak memilih neraka, tetapi masih hidup dalam percintaan dunia, masih berharap dunialah yang membuat dirinya merasa lengkap, utuh, bahagia, dan memiliki kehormatan.

Card image
CHARACTER FLAWS - 01 Juli 2024 (English Version)
2024-07-01 12:26:09


Generally, human life is focused on fulfilling physical needs, for which people are willing to invest time, energy, thoughts, and everything else for their careers. A career provides not only a means for survival but also happiness and self-esteem. However, humans are eternal beings. This is truly unbalanced and foolish. In this respect, humans lack or have no wisdom. If animals live by the philosophy "let us eat and drink, for tomorrow we die," humans should not. Ironically, almost all humans adopt such a lifestyle, "let us eat and drink, let us enjoy life because we will die and not live again."

Death is not the end of the journey of self-awareness. Death is merely a transition from a mortal body to an immortal body, from mortal life to eternal life, from consciousness in this mortal body to eternal consciousness with an eternal body. With an eternal body, one can enter a glorious and happy place but can also enter a despicable place of destruction, torment, or what is called eternal fire. How foolish are those who make something "everything," where people can risk anything for the sake of something that turns out after being achieved, is only temporary or temporal. Meanwhile, humans are eternal beings.

Therefore, we must continually remember how precious this life opportunity is. Our life opportunity determines eternal wealth or a glorious, valuable, and happy life in eternity. We must not become numb, thinking we understand because we have heard, while our lives are not truly gripped by this reality of truth. Thus, we must always remember that our temporary life on earth is only for the life to come as children of God; as those who receive the grace to become children of God, we are given the power or ability to truly exist, live a quality life as children of God with the standard or model of Jesus' life.

We must truly use this opportunity because becoming children of God requires a struggle and the stake of our whole lives. Many people are unaware of this. Many people prefer to have the world rather than the Kingdom of God. Many Christians feel they are not choosing hell but still divide their hearts for the world. Yet the Word of God says we cannot serve two masters; we must choose one. Many Christians feel they are not choosing hell but still live in love with the world, still hoping the world will make them feel complete, whole, happy, and honored. Therefore for a career, for fulfilling physical needs, they dare to risk their whole life.

We must not waste precious time collecting treasures in heaven. The treasures in heaven here refer to qualities of self like the life worn by Jesus. So we can be blameless before God. *One of the causes of the non-growth of spiritual maturity does in our lives so that we are still like other humans in general is because we do not realize that we still have many character flaws* . This happens because we do not really manage the life God has given us seriously. We neglect the maturation process that we should go through properly.

These character flaws are the same as what Jesus referred to as a sick person. We are negligent; we do not seriously use our time to focus on self-improvement to have a quality of life like the quality of life lived by Jesus, who is the standard of life for the children of God. Healthy people do not need a healer or doctor, but the sick do. In Matthew 9:12 (On hearing this, Jesus said, “It is not the healthy who need a doctor, but the sick), Mark 2:17 ( On hearing this, Jesus said to them, “It is not the healthy who need a doctor, but the sick. I have not come to call the righteous, but sinners”), Luke 5:31(Jesus answered them, “It is not the healthy who need a doctor, but the sick), and other similar verses, Jesus used the word "kakos," which means evil or badness. The opposite of kakos is kalos, agathos. Jesus chose this word because it relates psychological, soul, mental, not physical sickness.

For physical sickness, the words used are asthenia or malakia. Physical sickness causes physical death. But inner sickness, spiritual sickness, character flaws, cause eternal death. In Revelation 20, it says, "Then death and Hades were thrown into the lake of fire. The lake of fire is the second death. Anyone whose name was not found written in the book of life was thrown into the lake of fire." However, ironically, many Christians are no longer afraid of the words "second death," "hell," or "eternal fire." Their hearts have become numb to the pure truth. As the Word of God says, people like things that please their ears.

Remember, only the sick need a doctor. Since many Christians do not feel sick, they do not deal with God properly. Even when dealing with God, the only reason is the issue or problem of fulfilling physical needs. The reality is that many churches offer solutions to problems of physical needs, physical ailments, or issues concerning self-esteem. These are actually temporal life issues in this world that do not lead the congregation to mourn, weep, or realize their character flaws.

ONE OF THE CAUSES OF THE NON-GROWTH OF SPIRITUAL MATURITY IN OUR LIVES SO THAT WE ARE STILL LIKE OTHER HUMANS IN GENERAL IS BECAUSE WE DO NOT REALIZE THAT WE STILL HAVE MANY CHARACTER FLAWS.

Card image
CACAT KARAKTER - 01 Juli 2024
2024-07-01 12:03:23


Pada umumnya, hidup manusia difokuskan untuk pemenuhan kebutuhan jasmani, yang oleh karenanya orang mempertaruhkan waktu, tenaga, pikiran, dan apa pun untuk karier. Sebab karier menghasilkan sesuatu yang bukan saja dapat memberi kelangsungan hidup, melainkan juga kebahagiaan dan harga diri. Padahal manusia adalah makhluk kekal. Ini benar-benar tidak seimbang dan suatu kebodohan. Dalam hal ini manusia kurang atau tidak berakal. Kalau hewan filosofinya adalah mari kita makan dan minum sebab besok kita mati, tetapi manusia seharusnya tidak demikian. Ironisnya, hampir semua manusia memiliki pola hidup seperti itu, mari kita makan dan minum, mari kita menikmati hidup sebab kita akan mati dan tidak hidup lagi.

Kematian bukanlah akhir perjalanan kesadaran diri. Kematian hanyalah transisi dari tubuh fana ke tubuh abadi. Dari kehidupan fana ke kehidupan kekal, dari kesadaran dengan tubuh fana ini kepada kesadaran kekal dengan tubuh kekal. Dengan tubuh kekal, seseorang dapat masuk ke tempat mulia dan bahagia. Tetapi juga bisa masuk ke tempat hina atau kebinasaan atau siksaan atau yang disebut sebagai api kekal. Jadi betapa bodohnya orang yang menjadikan sesuatu sebagai “segalanya,” di mana orang bisa mempertaruhkan apa pun demi sesuatu itu yang ternyata setelah diraih, hanya bersifat sementara atau temporal. Sementara di lain pihak, manusia adalah makhluk kekal.

Oleh sebab itu, tidak putus-putusnya kita harus selalu ingat, betapa berharganya kesempatan hidup ini. Sebab kesempatan hidup kita ini menentukan kekayaan abadi atau kehidupan mulia, kehidupan berharga dan bahagia di kekekalan. Jangan sampai kita menjadi kebal, merasa mengerti karena sudah dengar, padahal hidupnya tidak benar-benar dicengkeram oleh realitas kebenaran ini. Jadi, kita harus selalu ingat bahwa hidup sementara di bumi ini hanya untuk kehidupan yang akan datang sebagai anak-anak Allah; artinya sebagai yang menerima anugerah untuk menjadi anak-anak Allah, di mana kita diberi kuasa atau kemampuan untuk benar-benar berkeberadaan, berkualitas hidup sebagai anak-anak Allah dengan standar atau model kehidupan Yesus.

Kita harus sungguh-sungguh menggunakan kesempatan ini, karena untuk menjadi anak- anak Allah harus ada perjuangan dan pertaruhan segenap hidup kita. Banyak orang tidak menyadari hal ini. Banyak orang lebih memilih untuk memiliki dunia, daripada Kerajaan Allah. Banyak orang Kristen merasa tidak memilih neraka, tetapi masih membagi hatinya untuk dunia. Padahal firman Tuhan mengatakan, kita tidak bisa mengabdi kepada dua tuan, kita harus memilih salah satu. Banyak orang Kristen merasa tidak memilih neraka, tetapi masih hidup dalam percintaan dunia, masih berharap dunialah yang membuat dirinya merasa lengkap, utuh, bahagia, dan memiliki kehormatan. Oleh karenanya untuk karier, untuk pemenuhan kebutuhan jasmani, mereka berani mempertaruhkan segenap hidup.

Jangan sampai kita menyia-nyiakan waktu yang berharga untuk mengumpulkan harta di surga. Harta surga di sini maksudnya adalah kualitas diri seperti kehidupan yang dikenakan oleh Yesus. Sehingga kita dapat berkeadaan tidak bercacat di hadapan Allah. Salah satu penyebab tidak bertumbuhnya kedewasaan rohani dalam hidup kita sehingga kita masih seperti manusia lain pada umumnya adalah karena kita tidak menyadari masih banyak cacat karakter kita. Hal ini terjadi karena kita tidak sungguh-sungguh mengelola hidup yang Tuhan berikan. Kita abai terhadap proses pendewasaan yang semestinya kita jalani dengan baik.

Cacat karakter tersebut sama dengan yang dikemukakan oleh Yesus sebagai orang sakit. Kita lalai, kita tidak sungguh-sungguh menggunakan waktu untuk fokus pada pembenahan diri agar memiliki kualitas hidup seperti kualitas hidup yang dijalani oleh Yesus yang adalah standar kehidupan anak-anak Allah. Orang sehat tidak membutuhkan tabib atau dokter, tetapi orang yang sakit membutuhkan dokter atau tabib. Dalam Matius 9:12, Markus 2:17, Lukas 5:31, dan ayat-ayat lain yang berbicara senada, Tuhan Yesus menggunakan kata ‘kakos’ yang berarti keburukan. Lawan kata kakos adalah kalos, agatos. Yesus memilih kata ini karena bertalian dengan sakit secara psikis, jiwa, batin, bukan fisik.

Kalau sakit yang terkait dengan fisik, menggunakan kata astenia, malakia. Sakit fisik menyebabkan kematian fisik. Tetapi sakit batin, sakit rohani, cacat karakter menyebabkan kematian kekal. Dalam Wahyu 20 dikatakan, “Maut dan kerajaan maut itu dilemparkan ke dalam lautan api. Itulah kematian yang kedua dan setiap orang yang tidak ditemukan namanya tertulis di dalam Kitab Kehidupan itu, dia dilemparkan ke dalam lautan api.” Namun ironis, banyak orang Kristen yang sudah tidak gentar lagi terhadap kata kematian kedua, neraka, atau api kekal. Hatinya sudah kebal terhadap kebenaran yang murni. Seperti yang dikatakan oleh firman Tuhan, yaitu orang-orang menyukai perkara yang menyenangkan telinga.

Ingat, hanya orang sakit yang memerlukan dokter, maka karena tidak merasa sakit, banyak orang Kristen tidak berurusan dengan Tuhan secara benar. Kalaupun berurusan dengan Tuhan, yang menjadi alasan adalah hanya persoalan atau masalah pemenuhan kebutuhan jasmani. Dan kenyataannya, tidak sedikit gereja menawarkan solusi dari masalah pemenuhan kebutuhan jasmani, penyakit jasmani, atau masalah yang menyangkut harga diri. Sebenarnya itu adalah kehidupan fana di dunia yang tidak mengarahkan jemaat untuk meratapi, menangisi, menyadari cacat karakternya.

Tuhan Yesus memberkati
????????????. ????????. ???????????????????????????? ????????????????????????????

SALAH SATU PENYEBAB TIDAK BERTUMBUHNYA KEDEWASAAN ROHANI DALAM HIDUP KITA SEHINGGA KITA MASIH SEPERTI MANUSIA LAIN PADA UMUMNYA ADALAH KARENA KITA TIDAK MENYADARI MASIH BANYAK CACAT KARAKTER KITA.

Card image
Bacaan Alkitab Setahun - 01 Juli 2024
2024-07-01 11:33:07

2 Raja-raja 1-4

Card image
Truth Kids 30 Juni 2024 - INDAH RENCANA MANUSIA, LEBIH INDAH RENCANA TUHAN
2024-06-30 12:02:24


Yeremia 29:11
"Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan."

Momo dan Nana ingin pergi bermain ke kolam renang. Namun, ternyata hujan turun sepanjang hari dan tidak kunjung reda. Momo dan Nana merasa sedih karena tidak bisa bermain di kolam renang. Mereka terlihat murung sekali. Mama dan papa yang melihat itu memiliki ide untuk membuat mereka kembali ceria. Mama dan papa pun mengajak mereka mengendarai mobil saat hujan turun. Saat sudah sampai di tempat tujuan, mama dan papa mengajak mereka turun. Ternyata mereka sedang berada di taman bermain. Di sana ada banyak permainan dan teman-teman baru. Yang paling membuat mereka gembira adalah ternyata di sana ada tempat untuk mandi bola seperti di kolam renang.

Mereka sangat gembira dan bersemangat untuk bermain. Walaupun mereka tidak jadi pergi bermain ke kolam renang, mama dan papa membuat mereka senang dengan cara yang lebih hebat.

Sobat Kids, mungkin kita sering mengalami hal yang tidak kita sukai dalam hidup ini. Namun, ingatlah bahwa Tuhan mengetahui rencana manusia. Bahkan rencana Tuhan pasti lebih indah daripada rencana manusia. Seperti ayat firman Tuhan hari ini; Tuhan memiliki rancangan atau rencana damai sejahtera untuk hidup kita semua.

Card image
Truth Junior 30 Juni 2024 - RANCANGAN TUHAN
2024-06-30 12:00:48


Yeremia 29:11
“Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.”

Sudah sebulan ini kita belajar tentang buah Roh, damai sejahtera. Apakah kalian merasakan damai sejahtera, Sobat Junior? Dengan kita berdoa, berserah, dan memahami firman Tuhan, kita dapat mengalami damai sejahtera. Damai sejahtera adalah kehendak Allah untuk kita semua. Ayat firman Tuhan yang kita baca hari ini menyatakan bahwa Tuhan merancangkan damai sejahtera untuk kita semua. Tuhan tidak pernah merancangkan sesuatu yang buruk bagi kehidupan kita. Tuhan ingin kita memiliki masa depan yang penuh harapan.

Damai sejahtera yang Tuhan rancangkan bagi kita tentu bukan damai versi diri kita sendiri, ya, Sobat Junior. Bukanlah merasa damai karena memiliki apa yang kita mau. Bukan juga merasa damai karena segala keadaan dalam hidup kita baik-baik saja, tanpa masalah. Damai sejahtera dari Tuhan dapat kita rasakan karena percaya Tuhan tidak akan pernah meninggalkan kita, anak-anak-Nya, sendirian. Jika kita mau berserah dan mengikuti-Nya, Tuhan pasti menyertai kita.

Yuk, Sobat Junior, kita terus berjuang untuk menyenangkan dan melakukan perintah-Nya hingga kita sampai di langit baru bumi yang baru!

Card image
Truth Youth 30 Juni 2024 (English Version) - TRUTH NATURE: INTEGRITY
2024-06-30 11:56:18


"Do not envy the wicked, do not desire their company; for their hearts plot violence, and their lips talk about making trouble." (Proverbs 24:1-2)

There are many aspects to the nature of truth. Among these, one crucial aspect for recognizing truth is integrity. Without integrity, one cannot recognize truth, thus leading to a misguided life. Those who do not acknowledge truth cannot live according to it.

Young people are the most vulnerable generation when it comes to matters of truth. The issue of truth presents a dilemma that confuses young people because it places them in a situation to choose between truth and falsehood, as the world is full of falsehood and misguidance, even within the church. Many pastors who should be teaching truth end up teaching falsehood, even heresy. One such teaching is to associate only with good people and avoid those who are less good for the sake of personal holiness. This teaching may sound spiritual and correct, but in reality, it is only partially true or a half-truth.

Guys, a half-truth is the same as a non-truth or false teaching because truth is always complete. The impact of this teaching is actually very negative or pragmatically negative because we are taught to prioritize our own holiness and salvation without concern for the salvation of others in our interactions (toxic spirituality). The Bible must be understood in its entirety to obtain the bigger picture, which is the salvation for all people.

The teachings of the Bible regarding social interactions must be understood correctly. Associating with bad company ruins good character does not mean we should be exclusive, only associating with good friends and avoiding those who are less good in social interactions, but rather we should fortify ourselves with truth and limit the intensity of our interactions. There is no perfect companionship without flaws or faults. Therefore, we must be wise in our social interactions. Don't be selective with friends, but be children of God who are friendly. Befriend and associate as widely as possible with as many people as possible in accordance with the integrity of truth and the love of God.

WHAT TO DO:
1. Test every teaching.
2. Do not listen to and accept any form of falsehood.
3. Be children of God who are friendly.

BIBLE MARATHON:
- Psalms 141-150

Card image
Truth Youth 30 Juni 2024 - NATUR KEBENARAN: UTUH
2024-06-30 11:50:34


Jangan iri kepada orang jahat, jangan ingin bergaul dengan mereka. Karena hati mereka memikirkan penindasan dan bibir mereka membicarakan bencana. (Ams. 24:1-2)

Natur kebenaran itu ada banyak. Dari banyak natur kebenaran, terdapat natur yang sangat penting untuk mengenali kebenaran, yakni keutuhan. Tanpa keutuhan, seseorang tidak dapat mengenali kebenaran sehingga hidupnya salah. Orang yang tidak mengenal kebenaran tidak dapat hidup sesuai dengan kebenaran.

Para pemuda merupakan generasi yang paling rentan ketika diperhadapkan dengan perkara kebenaran. Persoalan mengenai kebenaran menjadi persoalan dilematis yang membingungkan bagi para pemuda sebab persoalan ini menempatkan mereka pada suatu keadaan untuk memilih kebenaran atau kepalsuan sebab dunia ini penuh dengan kepalsuan dan kesesatan, termasuk di dalam gereja. Banyak pendeta yang mestinya mengajarkan kebenaran malah mengajarkan kepalsuan, bahkan kesesatan. Salah satunya adalah ajaran untuk bergaul dengan orang baik saja dan jauhi orang yang kurang baik demi kekudusan diri. Seolah-olah ajaran ini terdengar rohani dan benar, padahal ajaran ini hanya separuh saja benar atau half-truth (kebenaran sebagian).

Guys, half-truth itu sama dengan non-truth (bukan kebenaran) atau ajaran yang salah, kepalsuan (false teaching), sebab kebenaran itu pasti utuh. Dampak dari ajaran ini sebenarnya sangat tidak baik atau pragmatis-negatif sebab kita diajar untuk mementingkan kekudusan dan keselamatan diri sendiri tanpa beban atas keselamatan sesama dalam pergaulan (toxic spirituality). Alkitab harus dipahami secara utuh guna memperoleh gambar besarnya, yakni keselamatan bagi semua orang.

Ajaran Alkitab perihal pergaulan harus dipahami dengan benar. Pergaulan yang buruk merusak karakter yang baik bukan berarti kita menjadi eksklusif, hanya bergaul dengan teman-teman yang baik dan menjauhi teman-teman yang kurang baik dalam pergaulan, melainkan kita harus membentengi diri dengan kebenaran dan membatasi intensitas pergaulan. Tidak ada pergaulan yang sempurna, tanpa cacat dan cela, tidak ada. Oleh sebab itu, kita harus berhikmat dalam bergaul. Jangan pilih-pilih teman, tetapi jadilah anak Allah yang bersahabat. Berteman dan bergaullah seluas-luasnya dengan sebanyak mungkin orang sesuai dengan integritas kebenaran dan kasih Allah.

WHAT TO DO:
1. Uji setiap ajaran
2. Jangan mendengarkan dan menerima segala bentuk kepalsuan
3. Jadilah anak Allah yang bersahabat

BIBLE MARATHON:
▪︎Mazmur 141-150

Card image
Renungan Pagi - 30 Juni 2024
2024-06-30 11:48:09


Dalam hidup ini tanpa disadari seringkali kita memiliki hati dan pikiran yang jahat, penuh prasangka dan kecurigaan, sehingga sedikit ditekan dan ditindas, kita akan langsung berpikir ingin membalas dengan hal yang sifatnya menindas dan menekan juga. Tidak puas jika belum membalas dendam, kebencian berakar dalam hati yang pada akhirnya menumbuhkan akar pahit.

"Jagalah supaya jangan ada seorang pun menjauhkan diri dari kasih karunia Allah, agar jangan tumbuh akar yang pahit yang menimbulkan kerusuhan dan yang mencemarkan banyak orang." Berhati-hatilah dengan hati dan pikiran, jika sudah tumbuh akar pahit, maka itu berarti kita sedang menjauhkan diri dari kasih karunia Allah dan menimbulkan kerusuhan yang mencemarkan banyak orang. Betapa mengerikan dampak dari akar pahit itu. Jangan sampai ada di dalam kepahitan, kiranya kasih karunia Tuhan melingkupi kita semua.
(Ibrani 12:15)

Card image
Quote Of The Day - 30 Juni 2024 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2024-06-30 09:26:02


Seharusnya, kita serakah untuk hal lain, yaitu bagaimana kita bisa mencapai puncak setinggi-tingginya dalam hal berkenan kepada Tuhan.

Card image
Mutiara Suara Kebenaran - 30 Juni 2024 Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2024-06-30 09:20:37


Seharusnya, kita serakah untuk hal lain, yaitu bagaimana kita bisa mencapai puncak setinggi-tingginya dalam hal berkenan kepada Tuhan.

Card image
PERSEVERANCE - 30 Juni 2024 (English Version)
2024-06-30 09:16:09


There is one thing that many people do not know: in our journey with Lord Jesus, in our search for God, we will face several challenges. First, we encounter difficulties. How challenging it is to find and experience God. Second, we see the reality that those who earnestly seek God and those who do not seem to be no different. Sometimes, we even see that people who do not seek God appear more prosperous, less troubled, and live more comfortably. For us who remain faithful and persistent in such circumstances, we will be tested. Seeking God, experiencing God is not an easy task, and our situation seems similar to those who do not earnestly seek God. In fact, it is not uncommon for those who do not seek God to appear better physically.

If we understand that we must persevere and be diligent, then we must be truly determined, like the widow mentioned in Luke 18. In facing difficult situations beyond her capabilities, she was determined to subdue a judge who neither feared God nor cared for anyone. Luke 18 teaches us to be persistent. It begins with the statement, "We ought always to pray and not lose heart…" Prayer is fellowship with God—not just folding hands, bending knees, and uttering prayer words—which we must strive for, even though it is tough and challenging. For us, it becomes a test of perseverance that will produce divine character and prove our faithfulness to God.

But on the other hand, this can harden the hearts of many people. Those who do not earnestly seek God will say, "Where is your God? Where is the proof? What is the difference between you and us?" They harden their hearts. The seeming absence of God makes those who do not earnestly seek Him say, "God is nonsense. In fact, your situation is the same as us, we are even better, where is your God? We do not see the proof of God's presence in your life." Remember, how was Pharaoh's heart hardened? Even when the ten plagues were sent, Pharaoh found another way to handle the situation. He repeatedly deceived Moses by promising liberation for the Israelites; "Moses, tell your God to stop this plague. If the plague is stopped, I will give you the opportunity to worship your God in Sinai."

However, after the plague was lifted, Pharaoh did not give the Israelites a chance to leave Egypt. This happened over and over again, in this way Pharaoh thought that God could be deceived. Pharaoh could no longer think rationally, all he had was hatred and resentment towards Moses, the Israelites, and Elohim Yahweh. Eventually, he allowed the Israelites to leave. But he still had one plan: to pursue the Israelites and kill them on their way. God did not meddle with Pharaoh's feelings. Do not think that God tampers with someone's feelings and then makes them hard-hearted or soft-hearted. Life events make a person’s heart hard or soft.

For us, the situation where we feel and experience how difficult it is to experience God, and the reality that our condition in seeking God seems the same as those who do not seek God, can produce perseverance until we have unconditional faith. Because we are able to see what human eyes cannot see, believe what humans cannot believe. We have perseverance and unconditional obedience to God, obeying regardless of the circumstances. Therefore, we should not take advantage of God. We must understand that the Lord of the universe, whose face and presence we seek, is the God who created the heavens and the earth. His greatness is beyond our understanding. He is an extraordinary God, not a cheap God.

We must seriously invest our time, thoughts, and energy in Him. Our holiness must be maximal. We must have the courage to determine not to hurt God, no matter how small or subtle the mistake. We must dare to say, "Make me perfect like the Father." This means that everything we do must always align with God's thoughts and feelings. Argue with God. Only then can we experience God, and many things will we experience later. And the fruits of our lives will be visible, the holiness of life and the willingness to sacrifice for God. There is no pleasure except God and His Kingdom. That is the result of our encounter with God.

Be serious with ourselves. If there are wrong habits, sins we still commit, scold ourselves. In another context, we can say, "God, what have I not given to You? What do You want me to do that I have not done? If Abraham could give Isaac, I can also give my Isaac." Life is short and tragic. What are we waiting for? So if seeking God feels so difficult, in reality, what price are we willing to pay? Therefore, we must run as fast as we can in pursuing God.

FOR US, THE SITUATION WHERE WE FEEL AND EXPERIENCE HOW DIFFICULT IT IS TO EXPERIENCE GOD, AND THE REALITY THAT OUR CONDITION IN SEEKING GOD SEEMS THE SAME AS THOSE WHO DO NOT SEEK GOD, CAN PRODUCE PERSEVERANCE UNTIL WE HAVE UNCONDITIONAL FAITH.

Card image
BERTEKUN - 30 Juni 2024
2024-06-30 09:11:50


Ada satu hal yang tidak diketahui oleh banyak orang bahwa dalam pengiringan kita kepada Tuhan Yesus, dalam pencarian kita akan Tuhan, kita akan menghadapi beberapa hal, yaitu: Yang pertama, kita menemui kesulitan. Betapa tidak mudahnya Allah itu ditemui dan dialami. Yang kedua, kita melihat kenyataan antara yang sungguh-sungguh mencari Tuhan dengan mereka yang tidak sungguh-sungguh mencari Tuhan seakan-akan tidak berbeda. Bahkan kadang-kadang kita melihat kenyataan, orang-orang yang tidak mencari Tuhan kelihatan lebih makmur, lebih tidak dilanda masalah, hidupnya lebih nyaman. Bagi kita yang tetap setia dan tekun di tengah-tengah keadaan seperti ini, akan teruji. Mencari Tuhan, mengalami Tuhan bukan satu hal yang mudah, dan keadaan kita seakan-akan sama dengan mereka yang tidak sungguh-sungguh mencari Tuhan. Bahkan tidak jarang, seakan-akan mereka yang tidak mencari Tuhan keadaannya bisa nampak lebih baik secara jasmani.

Kalau kita mengerti bahwa kita harus bertekun dan giat, maka kita harus betul-betul nekat, seperti janda yang dikemukakan di Lukas 18. Dalam menghadapi keadaan sulit, di luar kemampuannya, dia nekat sampai bisa menaklukkan hakim yang tidak takut akan Allah dan yang tidak peduli siapa pun. Lukas 18 mengajarkan agar kita tekun. Dimulai dengan kalimat, “Hendaknya kita berdoa tiada berkeputusan…” Doa adalah persekutuan dengan Allah—bukan hanya melipat tangan, menekuk lutut, dan mengucapkan kalimat doa—yang harus kita perjuangkan, walaupun itu berat dan sukar. Bagi kita, itu menjadi ujian ketekunan yang akan membuahkan karakter ilahi, dan yang akan membuktikan kesetiaan kita kepada Allah.

Tapi di pihak lain, hal itu bisa membuat hati banyak orang dikeraskan. Orang yang tidak sungguh-sungguh mencari Tuhan akan berkata, “Di mana Allahmu? Mana buktinya? Apa bedanya kamu dengan kami?” Mereka mengeraskan hatinya. Kenyataan seakan-akan Allah tidak nyata, membuat orang yang tidak sungguh-sungguh mencari Tuhan akan berkata, “Tuhan itu omong kosong. Kenyataannya, keadaanmu sama saja seperti kami, bahkan kami lebih baik, mana Allahmu? Kami tidak melihat bukti kenyataan hadir-Nya Tuhan dalam hidupmu.” Ingat, bagaimana Firaun dikeraskan? Sampai pada saat 10 tulah diturunkan, Firaun memakai cara lain untuk menanggulangi keadaan itu. Dia menipu Musa berulang-ulang dengan menjanjikan pembebasan bagi bangsa Israel; “Musa, katakan kepada Allahmu supaya menghentikan tulah ini. Kalau tulah ini dihentikan, aku beri kamu kesempatan untuk berbuat bakti kepada Allahmu di Sinai."

Namun setelah tulah diangkat, Firaun tidak memberi kesempatan bangsa Israel keluar dari Mesir. Berulang-ulang itu terjadi, dengan cara demikian Firaun berpikir Allah bisa ditipu. Firaun sudah tidak bisa lagi memiliki pikiran sehat, yang ada hanyalah kebencian dan dendam terhadap Musa, bangsa Israel, dan Elohim Yahweh. Akhirnya, ia membiarkan orang Israel keluar. Tapi dia masih punya satu rencana: memburu bangsa Israel dan membunuhnya di perjalanan. Allah tidak mengkutak-kutik perasaan Firaun. Jangan kita berpikir Allah mengkutak-kutik perasaan seseorang lalu membuatnya menjadi keras hati atau sebaliknya menjadi lembut hati. Peristiwa-peristiwa hidup yang membuat keras atau lembutnya hati seseorang.

Bagi kita, keadaan di mana kita merasakan dan mengalami betapa sulitnya Allah dialami, dan kenyataan seakan-akan keadaan kita yang mencari Tuhan sama dengan mereka yang tidak mencari Tuhan bisa membuahkan ketekunan, sampai kita memiliki iman yang tak bersyarat. Karena kita mampu melihat apa yang tidak dilihat oleh mata manusia, meyakini apa yang tidak bisa diyakini manusia. Kita memiliki ketekunan dan memiliki ketaatan kepada Tuhan tanpa syarat, taat walau apa pun keadaannya. Maka, kita jangan memanfaatkan Tuhan. Kita harus mengerti, Allah semesta alam yang wajah dan hadirat-Nya kita cari adalah Allah yang menciptakan langit dan bumi. Kebesaran-Nya itu tak mampu kita pahami. Dia adalah Allah yang luar biasa, bukan Allah yang murahan.

Kita harus sungguh-sungguh menginvestasikan waktu, pikiran, dan tenaga kita kepada-Nya. Kesucian kita harus kesucian maksimal. Kita harus berani bertekad, tidak melukai Tuhan, sekecil apa pun, sehalus apa pun kesalahan itu. Kita harus berani berkata, "Buat aku sempurna seperti Bapa." Artinya, segala hal yang kita lakukan selalu sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah. Berperkaralah dengan Tuhan. Baru kita bisa mengalami Tuhan, dan banyak hal yang akan kita alami nanti. Dan buah hidup kita akan nampak, kesucian hidup dan kerelaan berkorban untuk Tuhan. Tidak ada kesenangan apa pun kecuali Tuhan dan Kerajaan-Nya. Itulah hasil perjumpaan kita dengan Tuhan.

Seriuslah dengan diri kita sendiri. Kalau ada kebiasaan-kebiasaan yang salah, ada dosa-dosa yang masih kita lakukan, marahi diri kita sendiri. Nanti di dalam konteks yang lain, kita bisa berkata, “Tuhan, apa yang aku belum berikan pada-Mu? Apa yang Engkau kehendaki untuk kulakukan, namun tidak kulakukan? Kalau Abraham bisa memberikan Ishak, aku juga bisa memberikan Ishakku." Hidup ini singkat dan tragis. Apa yang kita nantikan? Jadi kalau dalam mencari Tuhan terasa begitu sulitnya, sejatinya, berapa harga yang kita berani bayar? Jadi kita harus lari sekencang-kencangnya dalam memburu Tuhan.

Tuhan Yesus memberkati
????????????. ????????. ???????????????????????????? ????????????????????????????

BAGI KITA, KEADAAN DI MANA KITA MERASAKAN DAN MENGALAMI BETAPA SULITNYA ALLAH DIALAMI, DAN KENYATAAN SEAKAN-AKAN KEADAAN KITA YANG MENCARI TUHAN SAMA DENGAN MEREKA YANG TIDAK MENCARI TUHAN BISA MEMBUAHKAN KETEKUNAN, SAMPAI KITA MEMILIKI IMAN YANG TAK BERSYARAT.

Card image
Bacaan Alkitab Setahun - 30 Juni 2024
2024-06-30 09:08:09

Obaja 1
Mazmur 82-83

Card image
Truth Kids 29 Juni 2024 - PERKATAAN YANG MEMBAWA DAMAI
2024-06-29 14:48:52


1 Tesalonika 5:18
”Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu.”

Suatu ketika, guru di sekolah Riko dan Kiko meminta anak-anak di kelas untuk menggambar cita-cita mereka di masa depan. Riko dan teman-teman sangat bersukacita, tetapi beda dengan Kiko. Dia terlihat sangat lesu, Sobat Kids. Ternyata, Kiko tidak memiliki pensil warna dan buku untuk menggambar. Oleh sebab itu, Kiko terlihat sangat murung. Riko pun menoleh ke Kiko. Sadar temannya tidak memiliki buku gambar dan pensil warna, Riko berbagi pensil warna dan kertas gambar. Ia tidak mengejek Kiko sama sekali, tetapi ia malah berbagi kepada teman yang kekurangan. Kiko pun merasa sangat gembira. Ia memiliki teman yang sangat baik. Kiko semakin banyak belajar untuk bersyukur.

Selalu bersyukur atas kehidupan kita juga membawa kedamaian, Sobat Kids. Walaupun saat ini kita mengalami kesulitan atau kekurangan, tetaplah bersyukur. Ayat firman Tuhan hari ini mengingatkan kita untuk mengucap syukur dalam segala hal. Percayalah keadaan kita saat ini, yang masih bisa hidup dan menghirup oksigen dengan bebas adalah anugerah. Mengucap syukurlah sehingga kita merasakan damai dalam hati.

Card image
Truth Junior 29 Juni 2024 - DALAM SEGALA HAL
2024-06-29 13:12:38


1 Tesalonika 5:18
”Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu.”

Manakah yang lebih mudah diikuti: bersenang-senang atau bersedih? Rasanya hampir semua lebih memilih untuk ikut di acara yang buat senang dari pada ikut acara yang buat sedih atau kedukaan. Manakah yang lebih mudah kita lakukan: mengucap syukur saat senang atau saat sedih? Tentu saja lebih mudah mengucap syukur saat senang, kan?

Firman Tuhan hari ini mengingatkan kita untuk mengucap syukur dalam segala hal. Di ayatnya bukan tertulis mengucap syukur saat keadaan baik atau senang, melainkan mengucap syukur dalam segala hal. Itu artinya dalam keadaan baik maupun sulit; saat senang maupun saat sedih; saat kesal maupun saat bahagia. Itulah yang Allah ingin kita lakukan.

Pada praktiknya, tentu tidak mudah, Sobat Junior. Itulah sebabnya kita harus berjuang untuk melakukan kehendak Bapa di surga. Coba deh, saat kamu sedang sedih dan galau, pikirkan kebaikan yang telah kalian terima dalam hidup ini. Hitung berkat Tuhan satu per satu. Pujian dan syukur dapat membawa damai sejahtera dalam hidup kita.

Card image
Truth Youth 29 Juni 2024 (English Version) - TRUTH NATURE: LOVE
2024-06-29 13:03:49


"Love is patient, love is kind. It does not envy, it does not boast, it is not proud. It does not dishonor others, it is not self-seeking, it is not easily angered, it keeps no record of wrongs. Love does not delight in evil but rejoices with the truth." (1 Corinthians 13:4-6)

When we discuss the nature of truth, it's important to recognize that truth has practical attributes that can be applied in everyday life, including in our interactions. Truth is not just about knowledge but also about actions that align with right moral principles.

In the Bible, we are given clear guidance on how love should be manifested in our lives. 1 Corinthians 13:4-6 paints a beautiful picture of the heavenly attributes of love. Love is patient and kind, not envious, boastful, or self-seeking. Love does not behave rudely or keep a record of wrongs, and most importantly, love does not rejoice in injustice but rejoices with the truth.

In our daily interactions, we are often confronted with various situations that trigger different emotions and reactions. However, we are called to live a life of love, both in words and deeds. Love is the identity of God's children, and every act of love we perform is a reflection of the love of God we have received.

In every interaction with others, let us apply the attributes of love listed in 1 Corinthians 13:4-6. By doing this, we can build healthy and meaningful relationships with others and become channels of blessings to them. Let us make love the foundation of every interaction we have so that we can reflect the character of Christ in our daily lives.

WHAT TO DO:
1. Apply the attributes of love in daily life and interactions.
2. Share God's love with others through our words and actions.
3. Show genuine care to those around us.

BIBLE MARATHON:
- Psalms 134-140

Card image
Truth Youth 29 Juni 2024 - NATUR KEBENARAN : KASIH
2024-06-29 12:58:50


”Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi ia bersukacita karena kebenaran.” (1 Korintus 13:4-6)

Salah satu hal yang perlu kita ketahui tentang natur kebenaran adalah bahwa natur kebenaran itu pada dasarnya bersifat pragmatis dan aplikatif. Natur kebenaran itu pasti berdampak dan dapat diterapkan dalam segala hal, termasuk dalam pergaulan. Tentu natur kebenaran itu berdampak positif sebab kepalsuan pun berdampak.

Kita tahu bahwa tidak semua pergaulan itu baik adanya. Alkitab memperingatkan bahwa pergaulan yang buruk merusak kebiasaan atau karakter yang baik (1 Kor. 15:33), bahkan ditekankan bahwa pergaulan yang buruk itu merupakan suatu bentuk kesesatan. Memang dalam kehidupan ini kita perlu bergaul meskipun tidak ada pergaulan yang ideal. Dalam pergaulan mana pun, akan selalu ada orang-orang yang kasar, ucapan maupun tindakannya cenderung melukai, dan lain-lain. Akan tetapi, hal ini tidak boleh menjadi alasan kita kompromi kebenaran dengan tidak menerapkan kasih di dalam pergaulan.

Kita harus menyadari bahwa setiap kita adalah anak Allah dan identitas anak Allah itu dikenali dari naturnya. Selain integritas, natur anak Allah itu ialah kasih. Anak Allah itu penuh kasih. Barangsiapa tidak memiliki kasih, dia bukan anak Allah!

Dalam 1 Korintus 13:4—6, rasul Paulus menyatakan kepada kita ciri kasih yang datang dari surga, sehingga orang yang memiliki dan mengenakan kasih itu pastilah ia sabar, murah hati, tidak iri hati ataupun dengki; ia tidak egosentris, tidak pemarah, tidak menyimpan dendam; dan ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, melainkan ia bersukacita karena kebenaran. Kita lihat, bahwa kasih itu nyata, membumi, dan dapat dirasakan oleh semua orang. Kasih itu sangat aplikatif dan pragmatis sehingga bisa diterapkan oleh siapa pun, kapan pun, dan di mana pun, dalam segala perkara, termasuk dalam pergaulan. Oleh sebab itu, terapkanlah kasih dalam pergaulan tanpa memandang muka. Jadikanlah pergaulan sebagai sarana kita memberkati banyak orang dengan membagikan kasih Allah.

WHAT TO DO:
1. Terapkan ciri kasih dalam kehidupan pribadi dan dalam pergaulan
2. Bagikan kasih Allah kepada sesama dalam pergaulan
3. Tunjukkan kepedulian kita dengan tulus

BIBLE MARATHON:
▪︎ Mazmur 134-140

Card image
Renungan Pagi - 29 Juni 2024
2024-06-29 12:35:22


Kesombongan adalah awal dari kehancuran, lagipula tidak ada gunanya sombong, karena sebenarnya tidak ada yang dapat kita sombongkan atau banggakan, segala yang kita miliki adalah kepunyaan Allah. Bahkan nyawa pun milik Tuhan, jika Tuhan ingin mengambilnya, apakah kesombongan dapat mencegahnya? tentu saja tidak.

Firman Tuhan jelas menyatakan; "Setiap orang yang tinggi hati adalah kekejian bagi TUHAN; sungguh, ia tidak akan luput dari hukuman, kecongkakan mendahului kehancuran, dan tinggi hati mendahului kejatuhan."

Orang-orang yang sombong adalah kekejian bagi Tuhan dan akan dihukum, kesombongan juga menjadi awal dari kehancuran dan kejatuhan, tetapi orang-orang yang rendah hati akan mendapat belas kasihan dan pembelaan Tuhan, serta akan dimuliakan nantinya.
(Amsal 16:5,18)

Card image
Quote Of The Day - 29 Juni 2024 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2024-06-29 12:32:14


Perjuangan untuk berkenan kepada Allah menjadi sempurna seperti Bapa, serupa dengan Yesus haruslah hal utama, apa pun yang terjadi dalam hidup kita tidak boleh menjadi persoalan.

Card image
Mutiara Suara Kebenaran - 29 Juni 2024 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2024-06-29 12:30:34


Kita sering mencari kebahagiaan di tempat-tempat lain seperti harta, kesuksesan, atau hubungan manusiawi, namun kebahagiaan yang sejati dan abadi hanya bisa ditemukan dalam hadirat-Nya.

Card image
GOD'S TOLERANCE - 29 Juni 2024 (English Version)
2024-06-29 12:28:13


In the process of achieving what God desires, with His patience, God guides us. But God's tolerance is not everlasting; it has an endpoint, a limit. Ironically, many people do not understand this and do not reflect on it, so they do not dare to aim for the highest targets to avoid disaster. It's like a school child who wants to achieve the highest ranking to get a scholarship for the next level. For a trader, he wants to make as much profit as possible. In a competition for a position, one wants to reach the highest rank.

Why don’t we have the ambition to achieve the highest level of holiness for God, the highest level of sanctity? So that when we stand before God, we are found to be without blemish and flawless. The Word of God says, "So that you may be found without blemish and without fault at the coming of the Lord." But hearing the words "without blemish and without fault," many people are already afraid, and there is a voice in their heart, "Impossible, that's not achievable."

May God open our minds so that we take this seriously. On the one hand, there is tolerance from God. But within that tolerance, we must understand the target that must be achieved, that is the holiness of life. As the Word of God says, "Without holiness, no one will see the Lord." In the book of Revelation, it is said that only holy people will enter the city of Jerusalem. Nothing impure will enter the city of Jerusalem. However, God is very tolerant, patiently guiding us. In the Gospel of Matthew 11:28-29, God says, "I am gentle, learn from Me," meaning we must become like Him, and the standards we have are His standards.

But most people do not heed the standard they should achieve, especially when they are directed towards other objects; wanting the biggest house, the most luxurious car, the most money, the most beautiful appearance, to be the most respected person. So today we are reminded that when we stand before the judgment throne of God, God will be very firm. So, while it's daylight, while God still gives us the opportunity, do not waste it. We must earnestly continue to strive to reach the peak of holiness, the peak of acceptance before God, to be attached to God, as closely as possible. Do not take this lightly. Be grateful if, in the process of our maturation, God gives us the blows that awaken us.

So, how patient God is in guiding us. We fall and rise, fall and rise, yet God continues to bear us, to carry us—it's extraordinary. But God’s tolerance does not continue forever; there is a point where, if it continues, the Holy Spirit is grieved, quenched, and blasphemed, and then there is no more opportunity for that person to change—this is terrifying. Note that those who blaspheme the Holy Spirit do not necessarily become depraved and leave the church. On the contrary, they may still be in the church; they can be diligent members, activists, even become pastors, but they blaspheme the Spirit by not doing the will of God. Therefore, be careful; if everything is formatted in the mind without contact with the Holy Spirit, it is dangerous. One must experience an encounter with God, so that God is not only reasoned with, but God is also encountered. Holiness is not a verbal theory that becomes mere sentences; rather, holiness is felt by the body, soul, and spirit, not just in the mind.

If we hear God's voice, don't delay, because that means we don't give ourselves a chance by postponing what we have to achieve now. So, if we want to be pleasing to God, we should not think “later.” Start now, always now, not later. Even though we have to strive for it. Therefore, we ask God to give us another opportunity, because all this time we have been using the opportunity wrongly. There, we imprison ourselves because we have wasted so much time that God gave us. And we must redeem that mistake. So, we must not give ourselves the opportunity or time to delay.

So, if there is an intention of something bad arising, or something that could lead us to err, do not do it. We must be that daring. Even though the potential for sin is not gone, we must condition ourselves to be forced to be righteous. We must boldly have the principle of “one word action” (gasak), because we are determined. Though it is not easy. But because we are determined, we must not even utter one word if it is not pleasing before God. So, we must not waste God's patience today. If we love God, immediately make the decision to live holy and blameless, always pleasing Him, honoring Him. If not, then what? Do not wait for God’s firmness before His judgment throne. In God's great tolerance, patience, and understanding, we can use it for the process of maturation.

ON THE ONE HAND, THERE IS TOLERANCE FROM GOD. BUT WITHIN THAT TOLERANCE, WE MUST UNDERSTAND THE TARGET THAT MUST BE ACHIEVED, THAT IS THE HOLINESS OF LIFE.

Card image
TOLERANSI TUHAN - 29 Juni 2024
2024-06-29 12:26:24


Dalam proses mencapai apa yang Tuhan kehendaki, dengan sabar-Nya Tuhan menuntun kita. Tapi toleransi Tuhan itu tidak selamanya, ada titik akhir, ada ujungnya. Ironis, banyak orang tidak mengerti hal ini, dan tidak merenungkan hal ini, sehingga mereka tidak berani mencapai target setinggi-tingginya untuk menghindarkan malapetaka. Ibarat seorang anak sekolah, ia mau mencapai ranking setinggi-tingginya, agar bisa mendapatkan beasiswa untuk jenjang berikutnya. Bagi seorang pedagang, ia mau mendapat untung sebanyak-banyaknya. Kalau dalam kompetisi di satu kedudukan, ia mau mencapai kedudukan setinggi-tingginya.

Mengapa untuk Tuhan kita tidak berambisi untuk mencapai kesucian setinggi-tingginya, kekudusan setinggi-tingginya? Sehingga ketika di hadapan Tuhan benar-benar kita didapati tidak bercacat tidak bercela. Firman Tuhan mengatakan, “Supaya kamu didapati tidak bercacat tidak bercela pada waktu kedatangan Tuhan.” Tapi mendengar kata tidak bercacat tidak bercela, banyak orang sudah takut, dan ada suara di dalam hati, “Tidak mungkin, itu mustahil.”

Kiranya Tuhan membuka pikiran kita, supaya kita serius. Di satu pihak, ada toleransi dari Tuhan. Tapi di dalam toleransi itu, kita harus mengerti target yang harus dicapai, yaitu kesucian hidup. Sebagaimana firman Tuhan katakan, “Tanpa kesucian, tidak seorang pun melihat Allah.” Di kitab Wahyu dikatakan, hanya orang-orang suci yang masuk kota Yerusalem. Tidak ada yang najis yang masuk kota Yerusalem. Namun Tuhan toleransi sekali, sabar menuntun kita. Di dalam Injil Matius 11:28-29, Tuhan berkata, “Aku lemah lembut, belajar pada-Ku,” artinya kita harus menjadi seperti Dia dan standar yang kita miliki adalah standar-Nya.

Tapi sebagian besar orang tidak memedulikan standar yang harus dia capai, apalagi kalau sudah diarahkan untuk objek yang lain; mau punya rumah sebesar-besarnya, mobil semewah-mewahnya, uang sebanyak-banyaknya, berpenampilan secantik-cantiknya, jadi orang terhormat setinggi-tingginya. Jadi hari ini kita diingatkan bahwa ketika kita ada di hadapan takhta pengadilan Tuhan, Tuhan akan tegas sekali. Maka, selagi hari siang, selagi Tuhan masih beri kesempatan, jangan disia-siakan. Kita harus sungguh-sungguh terus bergerak untuk mencapai puncak kesucian, puncak keberkenanan di hadapan Tuhan, melekat dengan Tuhan, selekat-lekatnya. Jangan menganggap sepele. Bersyukur kalau dalam proses pendewasaan yang kita alami, Tuhan memberikan pukulan-pukulan yang menyadarkan kita.

Jadi, betapa Tuhan sabar menuntun kita. Jatuh bangun, jatuh bangun, Tuhan tetap pikul kita, Tuhan tetap menanggung kita, luar biasa. Tapi toleransi Tuhan tidak berlanjut terus, ada titik di mana kalau terus-menerus, Roh Kudus didukakan, dipadamkan, dihujat, jadi sudah tidak ada lagi kesempatan orang itu berubah, itu mengerikan. Perhatikan, orang yang menghujat Roh Kudus itu bukan berarti lalu jadi bejat, meninggalkan gereja. Sebaliknya, ia masih ada di gereja, dia bisa jadi jemaat yang rajin, aktivis bahkan jadi pendeta, tapi ia menghujat Roh, dia tidak melakukan kehendak Allah. Makanya, hati-hati, kalau semua diformatkan di dalam nalar, tanpa bersentuhan dengan Roh Kudus, bahaya. Seseorang harus mengalami perjumpaan dengan Tuhan, sehingga Tuhan bukan hanya dinalar, melainkan Tuhan juga dijumpai. Kesucian bukan teori verbal yang menjadi kalimat-kalimat, namun kesucian itu dirasakan oleh tubuh, jiwa, dan rohnya, bukan di nalarnya semata-mata.

Kalau kita mendengar suara Tuhan, jangan menunda, sebab berarti kita tidak memberi kesempatan dengan cara menunda apa yang kita harus capai sekarang. Jadi, kalau kita mau menjadi orang yang berkenan, itu tidak boleh kita berpikir nanti. Mulai saat ini, selalu saat ini, bukan nanti. Walaupun kemudian kita harus berjuang untuk itu. Maka, kita minta Tuhan memberi kita kesempatan lagi, karena selama ini kita sudah menggunakan kesempatan dengan salah. Di situ kita memenjara diri kita, sebab waktu yang Tuhan berikan kepada kita begitu panjang telah kita sia-siakan. Dan kita harus menebus kesalahan itu. Jadi, kita tidak boleh memberi kesempatan atau waktu untuk kita bisa menunda.

Jadi, kalau ada niat sesuatu yang buruk muncul, atau sesuatu yang bisa membuat kita salah, jangan lakukan. Harus senekat itu. Walaupun potensi dosa belum lenyap, kita harus mengondisi diri kita untuk dipaksa benar. Kita berani punya prinsip: “gerakan satu kata” (gasak), karena kita nekat. Padahal tidak mudah. Tapi karena kita memang mau nekat, satu kata pun jangan sampai kita ucapkan kalau itu tidak berkenan di hadapan Tuhan. Jadi, kesabaran Tuhan hari ini, jangan kita sia-siakan. Kalau kita mengasihi Tuhan, segera ambil keputusan untuk hidup kudus tak bercela, selalu menyenangkan hati-Nya, menghormati-Nya. Kalau tidak begitu, mau apa kita? Jangan menunggu ketegasan Allah di hadapan takhta pengadilan-Nya. Dalam toleransi Tuhan yang begitu besar, kesabaran, dan pengertian-Nya, kita manfaatkan untuk proses pendewasaan.

Tuhan Yesus memberkati
????????????. ????????. ???????????????????????????? ????????????????????????????

DI SATU PIHAK, ADA TOLERANSI DARI TUHAN. TAPI DI DALAM TOLERANSI ITU, KITA HARUS MENGERTI TARGET YANG HARUS DICAPAI, YAITU KESUCIAN HIDUP.

Card image
Bacaan Alkitab Setahun - 29 Juni 2024
2024-06-29 12:22:40

2 Tawarikh 19-23

Card image
Truth Kids 28 Juni 2024 - DAMAI SAAT SEDIH
2024-06-28 18:13:32


Mazmur 147:3
”Ia menyembuhkan orang-orang yang patah hati dan membalut luka-luka mereka;”

Sobat Kids, apakah kita bisa merasakan damai saat sedih? Hhmm, rasanya sulit. Coba kita bayangkan perasaan ibu Hana, ibunya Samuel yang ada di dalam Alkitab. Ibu Hana tidak memiliki anak. Ibu Hana sangat sedih hatinya, sampai menangis. Namun, ibu Hana tidak mau menyerah. Ibu Hana pergi berdoa ke Bait Allah untuk memohon kepada Tuhan. Ibu Hana ingin memiliki seorang anak. Ibu Hana selalu menangis ketika berdoa ke rumah Tuhan. Hingga suatu hari, Tuhan akhirnya mendengar doa ibu Hana.

Ibu Hana memiliki seorang anak yang diberi nama Samuel. Ibu Hana berjanji membawa Samuel, anaknya, kepada Tuhan untuk melayani di Bait Allah. Baru saja merasa senang karena mendapat anak, ibu Hana harus berpisah dengan anaknya. Tentu saja hati seorang ibu akan sedih karena ibu Hana tidak bisa lagi tinggal dengan Samuel. Namun, di saat sedih, ibu Hana merasakan damai karena ia tahu anaknya akan melayani Tuhan.

Adakah di antara Sobat Kids yang merasa sedih saat ini? Berdoalah kepada Bapa di surga. Ia akan memberikan damai sejahtera kepada kalian. Bapa tidak akan pernah meninggalkan kita, anak-anak-Nya.

Card image
Truth Junior 28 Juni 2024 - TERLUKA
2024-06-28 18:12:02


Mazmur 147:3
”Ia menyembuhkan orang-orang yang patah hati dan membalut luka-luka mereka;”

Sobat Junior, apakah kalian pernah mendengarkan kisah perjuangan para pahlawan yang harus berperang untuk merebut kemerdekaan bagi bangsa Indonesia? Pada zaman dahulu, para pahlawan harus berjuang dengan alat seadanya. Senjata yang dimiliki para pahlawan tidak secanggih senjata lawan. Bahkan banyak pahlawan kita yang hanya bersenjatakan bambu runcing; batang bambu yang ujungnya dipotong miring sehingga menjadi runcing dan tajam. Dalam peperangan pasti banyak yang terluka. Saat dahulu, pengobatan yang diberikanpun sekadarnya. Luka-luka para pejuang dibalut agar tidak terlalu banyak darah yang tercurah.

Kita bersyukur untuk pengorbanan para pejuang. Sejak 1945 bangsa Indonesia sudah merdeka. Tugas kita, sebagai penerus bangsa adalah mengisi kemerdekaan ini dengan baik. Sebagai pelajar, berarti cara mengisi kemerdekaan ini adalah dengan belajar sungguh-sungguh. Kita tidak harus berdarah-darah untuk mengisi kemerdekaan ini.

Sebagai anak-anak Allah, kita pun harus berjuang untuk menyenangkan hati Allah Bapa. Mungkin di perjuangan iman, kita akan mengalami luka dan patah hati. Jangan khawatir, Sobat Junior, Allah akan menyembuhkan dan membalut luka-luka dalam diri kita. Allah menyembuhkan dan memberikan damai dalam perjuangan kita untuk menyenangkan hati-Nya. Teruslah berjuang untuk menyenangkan hati Bapa di surga. Damai sejahtera dari Bapa akan selalu menyertai kita.

Card image
Truth Youth 28 Juni 2024 (English Version) - TRUTH NATURE: INTEGRITY
2024-06-28 18:06:36


"Little children, let no one deceive you. Whoever practices righteousness is righteous, just as He is righteous." (1 John 3:7)

Throughout history, debates about truth have never ceased. For centuries, philosophers and theologians have sought to formulate the concept of truth. There are many definitions and formulations about truth, but its distinctive nature allows us to recognize it. One natural aspect of truth is integrity, which demonstrates the alignment between principles and actions.

Someone without principles may feel unhappy, and someone without actions may feel miserable, but true happiness comes to those who have both. James 4:17 clearly states that if we know what is right but fail to do it, it is sin. A person who knows what is right and how to act but fails to do so loses integrity.

Cases like this often occur in everyday life when we are faced with the choice between remaining faithful to the truth or sacrificing it for temporary pleasure or social acceptance. However, as children of God, we are tested to maintain our identity as children of truth. God is Truth, and His Spirit of Truth is within us, enabling us to live with integrity.

Speaking and acting in accordance with truth is a characteristic of God's children. More than just being brave, children of God live with integrity, practicing what they believe. They not only speak the truth but also live according to it, demonstrating the integrity of truth in their actions. This is our identity as children of truth, as children of God who have integrity.

WHAT TO DO:
1. Do not lie.
2. Avoid using harsh language.
3. Be cautious with words that can hurt others.

BIBLE MARATHON:
- Psalms 120-133

Card image
Truth Youth 28 Juni 2024 - TERLUKA
2024-06-28 18:03:08


Mazmur 147:3
”Ia menyembuhkan orang-orang yang patah hati dan membalut luka-luka mereka;”

Sobat Junior, apakah kalian pernah mendengarkan kisah perjuangan para pahlawan yang harus berperang untuk merebut kemerdekaan bagi bangsa Indonesia? Pada zaman dahulu, para pahlawan harus berjuang dengan alat seadanya. Senjata yang dimiliki para pahlawan tidak secanggih senjata lawan. Bahkan banyak pahlawan kita yang hanya bersenjatakan bambu runcing; batang bambu yang ujungnya dipotong miring sehingga menjadi runcing dan tajam. Dalam peperangan pasti banyak yang terluka. Saat dahulu, pengobatan yang diberikanpun sekadarnya. Luka-luka para pejuang dibalut agar tidak terlalu banyak darah yang tercurah.

Kita bersyukur untuk pengorbanan para pejuang. Sejak 1945 bangsa Indonesia sudah merdeka. Tugas kita, sebagai penerus bangsa adalah mengisi kemerdekaan ini dengan baik. Sebagai pelajar, berarti cara mengisi kemerdekaan ini adalah dengan belajar sungguh-sungguh. Kita tidak harus berdarah-darah untuk mengisi kemerdekaan ini.

Sebagai anak-anak Allah, kita pun harus berjuang untuk menyenangkan hati Allah Bapa. Mungkin di perjuangan iman, kita akan mengalami luka dan patah hati. Jangan khawatir, Sobat Junior, Allah akan menyembuhkan dan membalut luka-luka dalam diri kita. Allah menyembuhkan dan memberikan damai dalam perjuangan kita untuk menyenangkan hati-Nya. Teruslah berjuang untuk menyenangkan hati Bapa di surga. Damai sejahtera dari Bapa akan selalu menyertai kita.

Card image
Renungan Pagi - 28 Juni 2024
2024-06-28 07:50:28


Jika kita memikirkan bahwa segalanya dapat diselesaikan dengan uang, berarti tidak mempercayai kebesaran kuasa Tuhan diatas segalanya, dan tidak mengandalkan Tuhan dalam menjalani kehidupan ini, melainkan mengandalkan uang, sehingga lama kelamaan kita akan menjadi hamba uang.

"Janganlah kamu menjadi hamba uang dan cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu. Karena Allah telah berfirman; "Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau."

Hidup ini adalah tantangan dan perjuangan, memang yang harus kita hadapi adalah situasi-situasi yang sulit, tetapi harus tahu bahwa ada Tuhan yang memegang kendali hidup kita, DIA pembela, Allah yang tidak pernah mengecewakan dan meninggalkan. Apapun keadaan kita, jangan pernah berpikir hanya dengan uang segalanya bisa selesai, tetapi berpikirlah, selama ada Tuhan dalam hidupku, semua akan selesai pada waktunya.
(Ibrani 13 : 5)

Card image
Quote Of The Day - 28 Juni 2024 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2024-06-28 07:49:02


Semakin kita tidak serupa dengan dunia, di situlah terjadi pertaruhan.

Card image
Mutiara Suara Kebenaran - 28 Juni 2024 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2024-06-28 07:48:04


Kebahagiaan sejati kita sebagai manusia hanya dapat ditemukan dalam hubungan dekat dengan Tuhan.

Card image
GOD'S FIRMNESS - 28 Juni 2024 (English Version)
2024-06-28 07:46:59


There is one thing that we must really understand, namely that when we are in the process of maturation, God is very tolerant. Sometimes God seems so flexible, so understanding, so patient. God's Word says, "Even though we are unfaithful, God remains faithful." But, on the other hand, there is no tolerance, God is firm, does not compromise at all. That is when someone must stand before the judgment throne of God. If someone is found displeased, God will firmly say, “I do not know you, depart from Me.”

In the parable of the nobleman who held a banquet, the nobleman was very tolerant, inviting everyone without condition. At the street corners, it was proclaimed for people to come to the banquet. But when at the banquet, if someone was not wearing wedding clothes, the nobleman sternly said, “How can you be here? Kill him before my eyes.” This means that he does not respect the host who is throwing the party, because as a sign of respect for the host who invites the party, we must wear wedding clothes.

The misguided thinking in the lives of many Christians is that the tolerance God gives now will also continue later when people stand before the judgment throne of God. As a result, many people do not truly take advantage of the grace—the opportunity that God gives, where God in His tolerance, understanding, and great patience—yet they do not seriously pay attention to the growth of their faith, the development of their spiritual maturity, as if God’s tolerance of their current state will continue into eternity or continue when they are before God’s judgment throne. Most people underestimate God's firmness.

However, it is clearly stated in Matthew 7:21-23, “On that day, I will declare to them, ‘I never knew you; depart from Me, you who practice lawlessness/you who do not do the will of the Father, or you who do evil".) Because God’s standard is absolute, non-negotiable. As stated in Matthew 6:24, the Word of God says, “No one can serve two masters,” there God’s firmness or integrity is evident. We must be completely devoted to God, or not at all. God’s firmness is also evident in 2 Corinthians 6:17-18, “Therefore, come out from among them and be separate, says the Lord. Do not touch what is unclean, and I will receive you. I will be a Father to you, and you shall be My sons and daughters, says the Lord Almighty.”

So, while we are in the process of maturing, in the process of God’s formation, God is very tolerant. But later, when we are before God's judgment, there will be no tolerance, no compromise. If impurity is still found, God will not accept it. If one does not do the will of the Father, they will be rejected. Satan deceives many people by spreading the message that God’s patience is unlimited. While the Bible says, “The Lord is slow to anger,” if it is said to be slow, no matter how long, it is just slow, not unlimited. Slow means it has an end, a limit.

Let us open our minds. Do not take God lightly, do not disrespect Him. So, when God says, “You cannot serve two masters,” it means God is showing His integrity that we cannot mess with God. Not touching what is impure means we must be found by God to be spotless and blameless. In Hebrews 12:17 it says, “For you know that afterward, when he, Esau, wanted to inherit the blessing, he was rejected, for he found no place for repentance, though he sought it diligently with tears.” The previous verse says, “Lest there be any fornicator or profane person like Esau.” Fornication here is not sexual fornication but unfaithfulness to God, this low lust is not just a general moral problem.

We must train ourselves and force ourselves to seriously consider this. The psalmist has shown us, in Psalm 73, “Whom have I in heaven but You? And there is none upon earth that I desire besides You.” This is the standard, and God is very tolerant in guiding us, but if the time limit runs out and we do not reach it, God will say, “I do not know you.” This is not a threat, but may we receive this word as a warning for those of us who still need and require a warning, unless we love God, then this word is a blessing for us to be restored, renewed by God. Therefore, we must pay attention to these firm warnings.

GOD SHOWS HIS INTEGRITY THAT WE CANNOT MESS WITH GOD.

Card image
KETEGASAN ALLAH - 28 Juni 2024
2024-06-28 07:44:52


Ada satu hal yang kita harus benar-benar mengerti, yaitu ketika kita dalam proses pendewasaan, Tuhan sangat bertoleransi. Kadang Tuhan nampak begitu fleksibel, begitu berpengertian, begitu sabar. Firman Tuhan mengatakan, “Walaupun kita tidak setia, Tuhan tetap setia.” Tetapi, di pihak lain, tidak ada toleransi, Tuhan tegas, tidak kompromi sama sekali. Yaitu, ketika seseorang harus berdiri di hadapan takhta pengadilan Allah. Jikalau seseorang didapati tidak berkenan, maka dengan tegas Tuhan akan berkata, “Aku tidak kenal kamu, enyah kamu dari hadapan-Ku.”

Dalam perumpamaan mengenai bangsawan yang mengadakan pesta, sang bangsawan begitu toleransi, mengundang orang, siapa pun tanpa syarat. Di perempatan-perempatan jalan diserukan untuk datang ke pesta perjamuan. Tetapi ketika ada di pesta perjamuan, jika seseorang tidak mengenakan pakaian pesta, bangsawan itu tegas berkata, “Bagaimana kamu bisa ada di sini? Bunuh dia di depan mataku.” Artinya, dia tidak menghormati tuan rumah yang mengadakan pesta, sebab sebagai tanda penghormatan kepada tuan yang mengundang pesta, kita harus memakai pakaian pesta.

Pikiran sesat di dalam kehidupan banyak orang Kristen adalah toleransi yang Allah berikan seakan-akan juga akan berlanjut nanti ketika orang ada di hadapan takhta pengadilan Tuhan. Sehingga yang terjadi, banyak orang tidak sungguh-sungguh memanfaatkan anugerah—yaitu kesempatan yang Tuhan berikan, di mana Tuhan dalam toleransi-Nya, pengertian-Nya, dan kesabaran-Nya yang tinggi—namun mereka tidak sungguh-sungguh memperhatikan pertumbuhan imannya, perkembangan kedewasaan rohaninya, seakan-akan toleransi Tuhan terhadap keadaannya sekarang ini akan terus berlanjut sampai nanti di kekekalan atau berlanjut nanti di hadapan takhta pengadilan Allah. Sebagian besar orang menganggap remeh ketegasan Allah itu.

Padahal jelas dalam Matius 7:21-23 dikatakan, “Pada hari itu, Aku akan berterus terang, Aku tidak kenal kamu, enyahlah kamu dari hadapan-Ku, kamu yang tidak melakukan kehendak Bapa, atau kamu yang berbuat jahat, atau kamu pembuat kejahatan.” Sebab standar Tuhan itu mutlak, tidak bisa ditawar. Kalau di Matius 6:24, firman Tuhan mengatakan, “Kamu tidak dapat mengabdi kepada dua tuan,” di situ nampak ketegasan atau integritas Tuhan. Kita harus sepenuhnya untuk Tuhan, atau tidak usah sama sekali. Ketegasan Allah juga nampak di 2 Korintus 6:17-18, “Keluarlah kamu dari antara mereka, dan pisahkanlah dirimu dari mereka,” firman Tuhan, “Dan janganlah menjamah apa yang najis, maka Aku akan menerima kamu. Dan Aku akan menjadi Bapamu, dan kamu akan menjadi anak-anak-Ku laki-laki, dan anak-anak-Ku perempuan. Demikianlah Firman Tuhan yang Maha Kuasa.”

Jadi, sementara kita dalam proses pendewasaan, dalam proses pembentukan Tuhan, Tuhan begitu toleransi. Tetapi nanti kalau sudah ada di hadapan pengadilan Tuhan, tidak ada toleransi, tidak ada kompromi. Kalau didapati masih ada kenajisan, Tuhan tidak akan menerima. Kalau tidak melakukan kehendak Bapa, ditolak. Setan menipu banyak orang dengan menyebarkan berita bahwa kesabaran Tuhan itu tidak terbatas. Sementara Alkitab mengatakan, “Tuhan itu panjang sabar.” Kalau dikatakan panjang, sepanjang apa pun, hanya panjang, bukan tidak terbatas. Panjang itu ada ujungnya, akhirnya, batasnya.

Mari buka pikiran kita. Jangan menganggap remeh Tuhan, jangan tidak menghormati Dia. Jadi, kalau Tuhan mengatakan, “Kamu tak dapat mengabdi kepada dua tuan,” artinya Tuhan menunjukkan integritas-Nya bahwa kita tidak bisa main-main dengan Tuhan. Jangan menyentuh apa yang najis berarti kita harus sungguh-sungguh didapati Tuhan tidak bercacat tidak bercela. Di dalam Ibrani 12:17 dikatakan, “Sebab kamu tahu bahwa kemudian, ketika ia, Esau, hendak menerima berkat itu, ia ditolak, sebab ia tidak beroleh kesempatan untuk memperbaiki kesalahannya, sekalipun ia mencarinya dengan mencucurkan air mata.” Ayat sebelumnya, “Janganlah ada orang yang menjadi cabul, atau yang mempunyai nafsu yang rendah seperti Esau.” Cabul di sini bukan cabul seks, melainkan ketidaksetiaan kepada Tuhan, nafsu yang rendah ini bukan hanya masalah moral secara umum.

Kita harus melatih diri dan memaksa diri untuk serius memperhatikan hal ini. Pemazmur sudah menunjukkan kepada kita, di Mazmur 73, “Siapa gerangan ada padaku di surga selain Engkau? Selain Engkau tidak ada yang kuingini di bumi.” Ini standarnya, dan Tuhan toleransi sekali membimbing kita, tapi kalau sampai batas waktu habis, kita tidak mencapainya, Tuhan berkata, “Aku tidak kenal kamu.” Ini bukan mengancam, tapi firman ini kiranya kita terima sebagai ancaman bagi kita yang masih butuh dan perlu diancam, kecuali kita mengasihi Tuhan, maka firman ini berkat untuk kita bisa dipulihkan, dibarui oleh Tuhan. Jadi, ketegasan-ketegasan ini harus kita bisa memperhatikannya.

Tuhan Yesus memberkati
????????????. ????????. ???????????????????????????? ????????????????????????????

TUHAN MENUNJUKKAN INTEGRITAS-NYA BAHWA KITA TIDAK BISA MAIN-MAIN DENGAN TUHAN.

Card image
Bacaan Alkitab Setahun - 28 Juni 2024
2024-06-28 07:40:56

1 Raja-raja 22
2 Tawarikh 18

Card image
Truth Kids 27 Juni 2024 - MEMBICARAKAN ORANG LAIN
2024-06-27 07:15:43


Amsal 16:28
”Orang yang curang menimbulkan pertengkaran, dan seorang pemfitnah menceraikan sahabat yang karib.”

Ali suka bermain dengan teman-temannya, tapi suatu hari, ada seorang anak yang mulai membicarakan hal-hal negatif orang lain (gosip). Ali merasa bingung dan sedih melihat persahabatan mereka terganggu oleh gosip. Ali teringat pesan yang disampaikan kakak Sekolah Minggu di gereja; membicarakan hal negatif orang lain itu tidak baik untuk dilakukan. Maka ia pun mengingatkan temannya untuk tidak menyebarkan gosip kepada orang lain.

Sobat Kids, dengan menghindari gosip, kita akan terhindar dari permusuhan antar teman. Seharusnya kita memelihara damai dengan teman-teman kita. Setiap kita memiliki kekurangan atau perbuatan jelek, masing-masing orang pasti berbeda-beda kekurangannya. Dan pastinya kita pernah melakukan kesalahan. Jadi, tidak sopan membicarakan kejelekan orang lain. Apalagi membicarakan hal-hal yang kita belum pasti benar atau tidak benar. Mari kita bersama-sama berusaha untuk menjadi teman yang baik. Teman yang memelihara damai dan memperkatakan hal-hal positif tentang orang lain.

Card image
Truth Junior 27 Juni 2024 - CURANG
2024-06-27 07:14:20


Amsal 16:28
”Orang yang curang menimbulkan pertengkaran, dan seorang pemfitnah menceraikan sahabat yang karib.”

Joni ingin sekali memenangkan lomba menulis cerpen (cerita pendek) dalam kompetisi yang diadakan oleh sekolahnya. Ia pun membaca banyak cerita untuk menambah referensi saat menulis nanti. Jaka, sahabat Joni, juga senang menulis. Jaka pun berniat untuk mengikuti lomba menulis cerpen. Selain membaca banyak referensi, Jaka sudah mulai berlatih membuat kerangka cerita. Ia berusaha mengembangkan ide pokok dari setiap paragraf. Saat bermain di rumah Jaka, Joni melihat sahabatnya itu sedang berlatih membuat cerita. “Ka, aku lihat kerangka ceritamu, dong,” izin Joni kepada Jaka. “Boleh… tapi itu masih draft. Aku masih mau mengembangkan ceritanya lagi,” ujar Jaka.

Tak terasa, hari perlombaan pun tiba. Joni dan Jaka memulai kompetisi menulis cerpen bersama dengan para peserta lainnya. Namun, tiba-tiba pikiran Joni seperti kosong. Dia tidak bisa memikirkan cerita apa yang hendak ia tulis. Ia hanya ingat kerangka karangan yang dibuat oleh Jaka. Ia pun mulai menulis ceritanya. Saat pengumuman hasil lomba, Joni menjadi salah satu pemenang. Sayangnya Jaka tidak masuk sebagai pemenang. Saat hasil tulisan Joni dipajang di mading sekolah, Jaka mengenali ide ceritanya. Ide cerita yang Joni tulis adalah hasil pikiran Jaka. Maka Jaka melaporkan kecurangan yang dilakukan oleh Joni.

Sobat Junior, orang yang curang pasti akan menimbulkan pertengkaran. Persahabatan karib yang telah ada bisa menjadi pudar karena kecurangan yang dilakukan. Firman Tuhan hari ini mengingatkan kita untuk memelihara damai sejahtera antara teman-teman dengan tidak berlaku curang satu dengan yang lainnya. Dengan menghindari kecurangan, itu artinya kita memelihara damai sejahtera.

Card image
Truth Youth 27 Juni 2024 (English Version) - BE DIFFERENT
2024-06-27 05:43:42


"Therefore I say this and testify in the Lord, that you should no longer walk as the Gentiles also walk, in the futility of their minds." (Ephesians 4:17)

Ephesians 4:17 teaches us, young people, to have a lifestyle that is different from others. In an age where social media and trends can easily influence us, it's important for us to ensure that our lives not only follow the world's flow but also reflect the values of God found in His Word.

To do this, it's worthwhile to diligently read the Bible and reflect on it. That way, we will have a clear direction in life. Additionally, having fellow believers who can support each other is important. We can remind and motivate one another to live according to God's teachings. We should also be able to control ourselves in facing temptations and pressures from the outside. This requires courage and steadfastness to stick to the principles we believe in. By having a different lifestyle, we can be the light and salt in this world, exerting a positive influence on those around us.

Therefore, let's make our lives an opportunity to continue growing and being a blessing to others. We can do this by continuously enriching our faith and understanding of God's Word and by involving ourselves in church communities that support our spiritual growth. We can also set an example for other young generations, showing that having a different lifestyle doesn't mean being outdated or uninformed. On the contrary, it can make us more sensitive to the needs of this world and better able to provide solutions in line with God's Word. In this way, we can build a strong foundation in our lives, not relying on trends or worldly opinions but on the truth and love of God. And through this lifestyle, we can become agents of change, bringing positive impact to this world.

WHAT TO DO:
1. Diligently read the Bible and reflect on it to have a clear direction in life.
2. Have fellow believers who support and remind each other to live according to God's teachings.
3. Exercise self-control in facing temptations and pressures from the outside, with courage and steadfastness to stick to the principles we believe in.

BIBLE MARATHON:
- Psalm 119

Card image
Truth Youth 27 Juni 2024 - BE DIFFERENT
2024-06-27 05:38:51


”Sebab itu kukatakan dan kutegaskan ini kepadamu di dalam Tuhan: Jangan hidup lagi sama seperti orang-orang yang tidak mengenal Allah dengan pikirannya yang sia-sia” (Efesus 4:17)

Efesus 4:17 mengajarkan kita, anak muda, untuk memiliki gaya hidup yang berbeda dari yang lain. Di zaman di mana media sosial dan tren dapat dengan mudah mempengaruhi, penting bagi kita untuk menjaga agar hidup kita tidak hanya mengikuti arus dunia, tetapi juga mencerminkan nilai-nilai Tuhan yang terdapat dalam Firman-Nya.

Untuk melakukan ini, tidak ada salahnya untuk rajin membaca Alkitab dan merenungkannya. Dengan begitu, kita akan memiliki arah yang jelas dalam hidup. Selain itu, memiliki teman seiman yang dapat saling mendukung juga penting. Kita dapat saling mengingatkan dan memotivasi untuk terus hidup sesuai dengan ajaran Tuhan. kita juga harus dapat mengontrol diri dalam menghadapi godaan dan tekanan dari luar. Hal ini membutuhkan keberanian dan keteguhan hati untuk tetap pada prinsip-prinsip yang kita yakini. Dengan memiliki gaya hidup yang berbeda, kita dapat menjadi terang dan garam di dunia ini, memberikan pengaruh positif bagi orang-orang di sekitar kita.

Maka dari itu, mari kita jadikan hidup ini sebagai kesempatan untuk terus berkembang dan menjadi berkat bagi orang lain. Kita dapat melakukan hal ini dengan terus memperkaya iman dan pengertian kita akan Firman Tuhan, serta melibatkan diri dalam komunitas gereja yang mendukung pertumbuhan rohani kita. Kita juga dapat menjadi teladan bagi generasi muda lainnya, menunjukkan bahwa memiliki gaya hidup yang berbeda tidak berarti ketinggalan zaman atau ketinggalan informasi. Sebaliknya, hal ini dapat membuat kita lebih peka terhadap kebutuhan dunia ini dan lebih mampu memberikan solusi yang sesuai dengan Firman Tuhan. Dengan begitu, kita dapat membangun fondasi yang kuat dalam hidup kita, yang tidak bergantung pada tren atau opini dunia, tetapi pada kebenaran dan kasih Tuhan. Dan melalui gaya hidup ini, kita dapat menjadi agen perubahan yang membawa dampak positif bagi dunia ini.

WHAT TO DO:
1.Rajin membaca Alkitab dan merenungkannya untuk memiliki arah hidup yang jelas.
2.Memiliki teman seiman yang saling mendukung dan mengingatkan untuk hidup sesuai dengan ajaran Tuhan.
3.Mengontrol diri dalam menghadapi godaan dan tekanan dari luar, dengan keberanian dan keteguhan hati untuk tetap pada prinsip-prinsip yang kita yakini.

BIBLE MARATHON:
▪︎ Mazmur 119

Card image
Renungan Pagi - 27 Juni 2024
2024-06-27 05:32:17


Banyak firman Tuhan dan hal-hal baik yang sudah kita dengar dan ketahui, banyak pengalaman-pengalaman indah yang sudah kita alami bersama Tuhan, pengalaman-pengalaman yang menyenangkan maupun pengalaman yang menyedihkan, tetapi jangan berhenti dan puas sampai di situ, lalu tidak lagi berjuang untuk hidup melakukan Kebenaran firman Tuhan, menjadi pelaku firman yang akan membawa kita terus bertumbuh semakin berkenan kepada Allah.

"Tetapi hendaklah kamu menjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja; sebab jika tidak demikian kamu menipu diri sendiri." Kita harus benar-benar memahami tujuan hidup yang sesungguhnya yaitu hidup bersama Tuhan dalam Kerajaan-Nya yang kekal. Itu sebabnya satu-satunya cara hidup yang kita lakukan untuk mencapai tujuan adalah ketaatan untuk melakukan setiap kehendak Bapa didalam firman-Nya. Jadilah pelaku firman Tuhan, bukan hanya pendengar saja.
(Yakobus 1:22)

Card image
Quote Of The Day - 27 Juni 2024 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2024-06-27 05:23:24


Orang yang menghargai dirinya secara benar, pasti akan hidup dalam kebenaran.

Card image
Mutiara Suara Kebenaran - 27 Juni 2024 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2024-06-27 05:21:13


Dari pekerjaan kita di tempat kerja hingga interaksi dengan orang lain di sekitar kita, semuanya dapat menjadi kesempatan untuk memancarkan cahaya kasih dan kebaikan Kristus.

Card image
FEAR - 27 Juni 2024 (English Version)
2024-06-27 05:18:45


God must be reasoned with. But if we only reason about God without encountering God, our emotions will not be touched, and if our emotions are not touched, our character will not be formed. If character is not formed, then we cannot absorb God because God wants to impart His feelings. We cannot possibly cry for souls. God does not want anyone to perish, but we cannot feel how burdensome it is. In the end, we will "demand" a normal life like humans in general; must have a house, a soul mate, children, and so on.

In fact, if someone encounters God, it will definitely be visible from the dynamics of their life. God wants to bring us into the right interaction relationship with Him. So, experience an encounter with Him personally. We can understand God's feelings, that there should be no lies between us and Him. This means that we must not suspect God, no matter how small. Consider how Daniel was brought to the lion's den, how Shadrach, Meshach, and Abednego faced the fiery furnace, how Moses stood at the edge of the Red Sea. How David, who was anointed, became like a madman, pretending to be insane. Joseph, who had a dream that he would become a great man, had to enter a well, became a slave, and was imprisoned. The disciples of Jesus whom the Lord had brought crossed Galilee, but in the middle of the lake there were waves until they said, "Lord, we are going to perish." All these experiences are extraordinary.

So, there should be no suspicion about achieving such a relationship with God, and God views us as His friends. And it takes a long time, but it starts from daily encounters. After that, God will entrust us with big things for His plan. And of course at that level we are truly trusted by God. We don't think about personal comfort at all, but about how we can present ourselves pleasing before God, delight His heart, and bring as many people as possible to do the same.

Life has become so simple, but not as simple as it seems, because it is complex in its implications or application. Many people lack the courage to put their lives for God. They are afraid of being poor or afraid of not being happy. Even though they are mistaken. When we fortify ourselves with all our efforts so that the economy, household and family are good, things will still not be good because we are God's children who will be continuously shaken by God so that we are perfect. Unless we think about how to become human beings who are pleasing to God and truly direct ourselves to the new heavens and new earth, everything else will be taken care of by God.

We must be done with ourselves and the world, but not yet done with God. This should be our collective challenge.

If we encounter God, we will 'melt' because His presence will flow through us. If we fellowship with God in the areas of communion with Him, even Satan will fear meeting us. So we must have the courage to commit: "It is better for me to die than to not please God; it is better for me to have never lived if I do not serve His feelings." We should not be afraid to say, "Cursed am I if I do not love God." (1 Cor. 16:22 If anyone does not love the Lord, let that person be cursed! Come, Lord!) We must dare to promise to live a holy life, because without holiness, no one will see God (Hebrews 12:14). Very few people really want to deal with God, but if we want to make the decision to do so, one of the things we must do is to act as if we were standing before the judgment throne of God, until we have fear.

And if there are still sins, mistakes, or attitudes that are not pleasing before God, how terrible it is. So, we urge to approach God and say, "What is still wrong in my life, Lord?" This is one of the things we have to do, that the Bible says, “Be on your guard;” it means as if we no longer have time to improve ourselves. We bring ourselves to God, and it is as if we are before God's court. God will work on us extraordinarily.

Up to that detail, God will sort out our lives. So, if there is even the slightest sin, God will reveal it. And we will continue to insist on dealing with God, because the standard of our holiness is God's feelings and thoughts. God's domain is limitless, God's holiness is extraordinary. Don't be satisfied in one stage, we must continue to grow. As we continue to experience encounters with God, He will flow His thoughts and feelings through us, and we will think about lost souls. Let's change; God's work is vast, and we must win souls for the Kingdom of Heaven.

ONE OF THE THINGS WE MUST DO IS AS IF WE WERE STANDING BEFORE THE JUDGMENT THRONE OF GOD, UNTIL WE HAVE FEAR.

Card image
KEGENTARAN - 27 Juni 2024
2024-06-27 05:16:08


Allah harus dinalar. Tetapi kalau kita hanya menalar Allah tanpa perjumpaan dengan Tuhan, emosi kita tidak akan tersentuh, dan kalau emosi tidak tersentuh, karakter kita tidak akan terbentuk. Kalau karakter tidak terbentuk, maka kita tidak bisa menyerap Tuhan karena Tuhan mau mengimpartasi perasaan-Nya. Kita tidak mungkin bisa menangisi jiwa-jiwa. Allah tidak menghendaki seorang pun binasa, tapi kita tidak bisa merasa bagaimana beban itu. Pada akhirnya, kita akan “menuntut” hidup wajar seperti manusia pada umumnya; mesti punya rumah, jodoh, anak, dan lainnya.

Padahal, kalau seseorang berjumpa dengan Tuhan, itu pasti akan nampak dari dinamika hidupnya. Tuhan mau membawa kita pada hubungan interaksi yang benar dengan Dia. Maka, alami perjumpaan dengan-Nya secara pribadi. Kita jadi bisa mengerti perasaan Tuhan, bahwa tidak boleh ada dusta di antara kita dengan-Nya. Artinya, kita tidak boleh mencurigai Tuhan, sekecil apa pun. Lihat bagaimana Daniel dibawa ke gua singa, Sadrakh, Mesakh, Abednego mengalami perapian, Musa ada di tepi laut Kolsom itu. Bagaimana Daud yang diurapi jadi seperti orang gila, pura-pura gila. Yusuf yang mendapat mimpi akan jadi orang besar harus masuk sumur, jadi budak, masuk penjara. Murid-murid Yesus yang dibawa Tuhan menyeberang Galilea, tapi di tengah danau ada ombak, sampai mereka berkata, "Tuhan, kita akan binasa." Semua itu luar biasa.

Jadi, tidak boleh ada kecurigaan untuk mencapai hubungan yang begitu rupa dengan Allah, dan Allah memandang kita sebagai sahabat-Nya. Dan itu perlu waktu panjang, tapi dimulai dari perjumpaan setiap hari. Setelah itu, baru Tuhan akan memercayakan perkara besar untuk rencana-Nya. Dan tentu di level itu kita sudah sangat dipercayai Tuhan. Sama sekali tidak terpikir untuk kenyamanan pribadi, tapi bagaimana kita bisa membawa diri kita berkenan di hadapan Allah, menyenangkan hati-Nya, dan bagaimana kita menggandeng sebanyak mungkin orang untuk menjadi berkenan dan menyenangkan hati-Nya.

Hidup menjadi begitu simpel, tapi tidak sesimpel kelihatannya, sebab kompleks dalam implikasi atau penerapannya. Banyak orang kurang berani menaruh hidup untuk Tuhan. Mereka takut miskin atau takut kurang bahagia. Padahal mereka keliru. Ketika kita membentengi diri dengan segala usaha supaya ekonomi, rumah tangga, keluarga baik-baik, namun semua tidak akan baik karena kita adalah anak-anak Allah yang akan digoncang Tuhan terus agar kita sempurna. Kecuali kita memikirkan bagaimana menjadi manusia yang berkenan kepada Allah dan betul-betul menjuruskan diri ke langit baru bumi baru, yang lain Tuhan akan selesaikan.

Kita harus selesai dengan diri sendiri dan dunia, tapi belum selesai dalam berurusan dengan Tuhan. Ini harus menjadi tantangan kita semua.

Kalau kita berjumpa dengan Tuhan kita akan ‘meleleh,’ karena kehadiran Tuhan itu akan mengalir. Kalau kita bergaul dengan Tuhan di wilayah-wilayah persekutuan dengan Tuhan, maka setan pun takut bertemu kita. Maka kita harus berani punya komitmen, “Lebih baik aku mati daripada aku tidak menyenangkan Tuhan, lebih baik aku tidak pernah hidup kalau aku tidak melayani perasaan-Nya.” Jadi, kita pun tidak takut berkata, "Terkutuklah aku kalau aku tidak mencintai Tuhan." Kita harus berani berjanji untuk hidup suci, karena tanpa kesucian tidak seorang pun melihat Allah. Sangat sedikit orang yang sungguh-sungguh mau berurusan dengan Tuhan, tapi kita mau mengambil keputusan berurusan dengan Tuhan, salah satu yang kita harus lakukan adalah seakan-akan kita sedang berdiri di hadapan takhta pengadilan Tuhan, sampai kita punya kegentaran.

Dan jika masih ada dosa, kesalahan, atau sikap hati yang tidak berkenan di hadapan Tuhan, betapa mengerikannya. Maka, kita mendesak untuk menghampiri Tuhan dan berkata, “Apa yang masih salah dalam hidupku, Tuhan?” Ini salah satu hal yang kita harus lakukan, yang Alkitab katakan, “Berjaga-jagalah kamu;” maksudnya seakan-akan kita sudah tidak punya waktu lagi untuk membenahi diri. Kita membawa diri kita kepada Tuhan, dan seakan-akan kita sedang berada di hadapan pengadilan Tuhan. Tuhan akan menggarap kita luar biasa.

Sampai sedetail itu Tuhan akan membereskan hidup kita. Jadi, kalau ada dosa sekecil apa pun, Tuhan bangkitkan. Dan kita akan terus mendesak berurusan dengan Tuhan, karena standar kesucian kita adalah perasaan dan pikiran Tuhan. Wilayah Tuhan itu tidak terbatas, kesucian Tuhan itu luar biasa. Jangan merasa puas dalam satu stadium, kita harus bertumbuh terus. Sementara kita terus mengalami perjumpaan dengan Tuhan, Tuhan mengalirkan pikiran dan perasaan-Nya, kita memikirkan jiwa-jiwa yang terhilang. Ayo, kita berubah, pekerjaan Tuhan luas sekali, kita harus memenangkan jiwa-jiwa untuk Kerajaan Surga.

Tuhan Yesus memberkati
????????????. ????????. ???????????????????????????? ????????????????????????????

SALAH SATU YANG KITA HARUS LAKUKAN ADALAH SEAKAN-AKAN KITA SEDANG BERDIRI DI HADAPAN TAKHTA PENGADILAN TUHAN, SAMPAI KITA PUNYA KEGENTARAN.

Card image
Bacaan Alkitab Setahun - 27 Juni 2024
2024-06-27 05:12:25

1 Raja-raja 20-21

Card image
Truth Kids 26 Juni 2024 - MENGASIHI MUSUH
2024-06-26 16:07:32


Matius 5:44
”Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.”

Sandi adalah seorang anak yang selalu ceria dan suka menolong teman-temannya. Suatu hari, Sandi diperlakukan tidak adil oleh seorang teman sekolahnya. Sandi merasa sedih dan kesal. Tapi kemudian, ibunya mengingatkan Sandi akan sebuah ajaran yang penting yaitu tentang mengasihi musuh.

Cerita tentang Sandi sungguh mengharukan. Ketika kita mengasihi musuh, kita mewujudkan damai yang ajaib, yang hanya mungkin melalui kuasa Tuhan. Sobat Kids, terkadang sulit untuk mengasihi orang yang menyakiti kita atau menyebalkan, tetapi Tuhan mengajarkan kita untuk melakukan itu. Ketika kita melakukan itu, kita membawa damai yang indah dan ajaib dalam hidup kita dan orang lain.

Sobat Kids, betapa besar kasih Tuhan kepada kita sehingga Dia mengajarkan kita untuk mengasihi musuh. Jadi, mari kita bersama-sama belajar untuk mengasihi seperti yang diajarkan oleh Yesus dan mewujudkan damai yang ajaib dalam hidup kita.

Card image
Truth Junior 26 Juni 2024 - AKU MUSUH, KAMU TEMAN
2024-06-26 16:04:52


Matius 5:44
”Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.”

Apakah Sobat Junior pernah mengalami perlakuan tidak adil dari orang sekitarmu? Misalnya kalian dijauhi, dijahati, dikucilkan, dianiaya oleh teman, tetangga, bahkan keluarga sendiri. Kalau itu memang karena kesalahan kita, kita harus minta ampun kepada Tuhan dan bertobat. Kita anggap itu sebagai pembelajaran, agar kita tidak mengulanginya. Namun, kalau itu terjadi padahal kita tidak salah, berarti kita sedang memikul salib, Sobat Junior.

Keadaan ini bisa dialami siapa saja dan kapan saja. Sepanjang hidup Sobat Junior, pasti akan mengalami hal ini lebih dari satu kali. Apalagi kalau Sobat Junior berjuang hidup kudus. Pasti ada orang-orang yang tidak suka dengan Sobat Junior. Namun, yang paling penting kita tidak membalas perbuatan dan kejahatan mereka. Meskipun mereka memusuhi kita, tetap kita anggap mereka sebagai teman bahkan kalau itu saudara atau keluarga, tetap mereka kita anggap sebagai orang yang kita kasihi. Itulah yang Tuhan inginkan.

Artinya, kita harus siap menolong kapan saja mereka membutuhkan, tanpa mengingat perbuatan mereka yang melukai kita. Membenci seseorang itu tidak enak, Sobat Junior. Apalagi menyimpan kesalahan, marah, kekesalan pada mereka. Saat melihat orang itu, pasti jiwa kita tidak tenang. Dada sesak, jantung berdebar, tubuh kita menunjukkan gejala-gejala yang tidak menyenangkan.

Tapi kalau kita mengampuni semua orang yang menyakiti kita, jantung kita tidak berdebar kencang, napas kita tetap teratur, dada kita dengan lega bernapas, dan jiwa kita tidak terganggu. Itu semua karena kasih mendatangkan kedamaian. Siapa yang hidupnya mau dalam damai sejahtera Tuhan? Mari kita mengasihi tanpa syarat kepada semua orang.

Card image
Truth Youth 26 Juni 2024 (English Version) - GET TO KNOW GOD BETTER
2024-06-26 16:01:58


"My goal is to know him and the power of his resurrection and the fellowship of his sufferings, being conformed to his death." (Philippians 3:10)

Hi, friends! Have you ever felt that life is full of challenges that sometimes make us feel troubled? Actually, there's one thing that can make us more calm and strong to face it all: building a personal relationship with God. In Philippians 3:10, Paul says that what he desires is to know God and experience the power of His resurrection. It means, we're invited to truly know God personally, not just knowing about Him.

The first step we can take is to pray regularly and read the Bible. Prayer is like talking to our best friend, where we can share anything. From small things to big problems. Then, reading the Bible is very important because that's where God speaks to us. Try to make time every day to read a few verses. It doesn't have to be long, what matters is consistency. Also, ponder on what God wants to convey to us through His word. It's like getting a special message from a friend who always cares about us.

Besides prayer and reading the Bible, when we face problems, it's also an opportunity for us to get closer to God. Don't be afraid or sad when facing challenges, but see it as an opportunity to grow in faith. God never promised that our lives would always be smooth, but He promised that He will always be there for us. So, let's face every obstacle with confidence. Remember, every difficulty will make us stronger and know God better. With that, we can see how God works in our lives and feel His extraordinary love. So, keep the spirit up, friends! God always has a beautiful plan for us.

WHAT TO DO:
1. Be diligent in prayer and reading the Bible to build a strong personal relationship with God.
2. Use every problem as an opportunity to grow in faith and draw closer to God.
3. See every difficulty as part of God's beautiful plan for our lives, and believe that He is always there for us.

BIBLE MARATHON:
- Psalms 112-118

Card image
Truth Youth 26 Juni 2024 - KENAL TUHAN LEBIH DEKAT
2024-06-26 15:56:28


”Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya, di mana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya.” (Filipi 3:10)

Hai teman-teman, pernah nggak sih kalian merasa hidup ini penuh tantangan dan kadang bikin galau? Sebenarnya ada satu hal yang bisa bikin kita lebih tenang dan kuat menghadapi semuanya: membangun pengalaman pribadi dengan Tuhan. Dalam Filipi 3:10, Paulus bilang bahwa yang dia inginkan adalah mengenal Tuhan dan merasakan kuasa kebangkitan-Nya. Artinya, kita diajak buat benar-benar kenal Tuhan secara pribadi, bukan cuma sekadar tahu tentang-Nya.

Langkah pertama yang bisa kita ambil adalah rajin berdoa dan membaca Alkitab. Doa itu kayak mengobrol sama sahabat terbaik kita, tempat kita bisa curhat tentang apa saja. Mulai dari hal-hal kecil sampai masalah besar. Terus, baca Alkitab itu penting banget, karena di situ Tuhan bicara sama kita. Coba _deh,_ luangkan waktu tiap hari buat baca beberapa ayat. Nggak perlu lama-lama, yang penting konsisten. Renungkan juga apa yang Tuhan mau sampaikan lewat firman-Nya. Ini kayak dapat pesan spesial dari sahabat yang selalu peduli sama kita.

Selain doa dan baca Alkitab, waktu kita menghadapi masalah, itu juga kesempatan buat makin dekat sama Tuhan. Jangan takut atau sedih saat ada tantangan, tapi lihat itu sebagai peluang buat tumbuh dalam iman. Tuhan nggak pernah janji hidup kita bakal selalu mulus, tapi Dia janji bakal selalu ada buat kita. Jadi, yuk hadapi setiap rintangan dengan percaya diri. Ingat, setiap kesulitan itu membuat kita makin kuat dan makin kenal sama Tuhan. Dengan begitu, kita bisa melihat bagaimana Tuhan bekerja dalam hidup kita dan merasakan kasih-Nya yang luar biasa. Jadi, tetap semangat ya teman-teman! Tuhan selalu punya rencana indah buat kita.

WHAT TO DO:
1.Rajinlah berdoa dan membaca Alkitab agar bisa membangun hubungan pribadi yang kuat dengan Tuhan.
2.Gunakan setiap masalah sebagai kesempatan untuk tumbuh dalam iman dan mendekatkan diri kepada Tuhan.
3.Lihatlah setiap kesulitan sebagai bagian dari rencana Tuhan yang indah untuk hidup kita, dan percayalah bahwa Dia selalu ada untuk kita.

BIBLE MARATHON:
▪︎ Mazmur 112-118

Card image
Renungan Pagi - 26 Juni 2024
2024-06-26 15:53:15


Orang yang tinggi hati akan kehilangan kebaikannya, artinya dia mungkin saja melakukan segala hal yang baik, tetapi kalau dasarnya adalah kesombongan, berarti motivasinya bukan untuk kasih dan bukan untuk menyenangkan hati Tuhan. Motivasinya adalah hanya untuk kepentingan diri sendiri, ingin dipuji serta ingin dihormati.

Itulah sebabnya tinggi hati adalah dosa yang terburuk, karena kesombongan akan menghapuskan dan menghilangkan segala yang baik. Dan orang yang sombong, akan berhadapan langsung dengan Tuhan, seperti Firman-Nya berkata; "Tetapi kasih karunia, yang dianugerahkan-Nya kepada kita, lebih besar dari pada itu. Karena itu Ia katakan."

"Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati." Karena itu jika engkau berbuat kebaikan, jangan memuji diri dan merasa berjasa lalu menjadi sombong karena perbuatan baikmu. Lakukanlah perbuatan baikmu atas dasar kasih karunia Tuhan dan kerendahan hati.
(Yakobus 4:6)

Card image
Quote Of The Day - 26 Juni 2024 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2024-06-26 14:24:51


Orang yang menghargai Tuhan dan menjadikan Dia sebagai yang paling berharga, akan dihargai Tuhan.

Card image
Mutiara Suara Kebenaran - 26 Juni 2024 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2024-06-26 14:22:55


Ketika kita memahami bahwa setiap tindakan kita dapat menjadi cara untuk memuliakan dan melayani Tuhan, maka hidup ini menjadi penuh makna.

Card image
BEING A FRIEND OF GOD - 26 Juni 2024 (English
2024-06-26 12:37:00


Not many people truly experience God, even if they are involved in ministry. For if someone genuinely experiences God, they will possess a reverent fear that truly colors their life. If God only becomes a subject of reflection, thought, knowledge, or theology, or even a fantasy, the quality of that person's life will be low. However, because few people genuinely experience God, these individuals with low-quality spiritual lives often go unrecognized. This is because the standard held by many Christians is the standard of religious people in general, where God becomes knowledge and is 'played with' in liturgy.

Our confession and declaration to God often do not align with our daily lives. We consider this normal because liturgy is like that. We sing the song 'Soldiers of Christ,' but in our daily lives, we become soldiers of Satan; it is not in sync. Indeed, some say this is a willingness, even if not yet fulfilled, but there is a love to fulfill it. The problem is that some sing without feelings, without commitment, without determination, and this is actually an attitude of playing with God. But they will not be able to be serious because their everyday life is never serious.

The songs we sing and the statements we make should compel and condition us to deal with God correctly. Even though we have not fully fulfilled it, there should be resolve, longing, and willingness. The problem is if people do not have resolve, willingness, and commitment, it means playing with God in church liturgy. For this reason, we must experience God. So, we should be grateful that God brings us to situations where we are forced to seek Him. Situations where no one can help. And God is also angry if we depend on humans. Slightly considering that people can help, God is offended because it is harassing God.

It is an extraordinary condition to be able to experience God. Even for us at a certain level, when facing difficult situations, we should not be troubled, let alone despair. If we are troubled, it means we are harassing or underestimating God, as if God is powerless, unfaithful, or breaking His promise to be with us. Indeed, this is the most challenging and difficult level, but we must reach that level. When we are in a difficult situation, God does not like to see us grumbling. God teaches this by reminding us of Mark 4:35-41. Because great people in God's eyes are those whom God has brought to the shores of the Red Sea, the fiery furnace, and the lion's den; into difficult situations where it seems impossible to find a way out.

For David, it was Ziklag. When the entire families of his soldiers and his own family were captured by the Amalekites. They wept until they could weep no more because their voices were gone. It was very bitter. David's soldiers turned against him and wanted to rebel. David had no one, a king without a throne, territory, soldiers, officers, wealth, or family. For Joseph, he was not only thrown into a deep pit but also imprisoned. These situations made them experience God. Abraham waited a quarter of a century for his son to be born. However, then God commanded him to sacrifice his son. Abraham dealt with God not in fantasy, but in the reality of life. All of us must experience that.

Because being religious does not necessarily mean having God. But Christianity worships God in spirit and truth. Therefore, we must have interaction with God, especially in Christianity, where God Himself is the law—we must understand God's thoughts and feelings, be in touch with God's thoughts and feelings. This cannot be represented by books or doctrines. Therefore, Christianity cannot be a sideline but must take over our whole life. Our daily focus should be on how we experience God in the struggles we face because our life struggles are the medium. According to our respective life activities, this is the medium where we have fellowship with God. How the light of God's Kingdom illuminates our lives in our areas, professions, and life activities, making them valuable and surely should be creating a lasting record.

We must understand and accept that living as children of God is extraordinary. The excellence lies in the opportunity to interact with God, to experience encounters with Him. The Holy Spirit will guide us into conditions where we must interact with God. God invites us to think as He thinks, to live the word that says, "I no longer call you servants, because servants do not know what their masters do. Instead, I have called you friends."

WE MUST UNDERSTAND AND ACCEPT THAT LIVING AS CHILDREN OF GOD IS EXTRAORDINARY.

Card image
MENJADI SAHABAT TUHAN - 26 Juni 2024
2024-06-26 12:33:47


Tidak banyak orang yang sungguh-sungguh mengalami Tuhan, walaupun mereka ada di lingkungan pelayanan. Sebab kalau seseorang benar-benar mengalami Tuhan, ia pasti memiliki kegentaran yang benar-benar mewarnai hidup orang tersebut. Kalau Tuhan hanya menjadi bahan renungan, pemikiran, pengetahuan, atau teologi, bahkan menjadi fantasi, pasti kualitas hidup orang itu rendah. Tetapi berhubung sedikit orang yang benar-benar mengalami Tuhan, maka orang-orang yang kualitas hidup bertuhannya rendah ini bisa tidak dikenali. Sebab standar yang dimiliki oleh banyak orang Kristen adalah standar orang beragama pada umumnya, yang mana Tuhan menjadi pengetahuan, dan Tuhan ‘dipermainkan’ dalam liturgi. 

Pengakuan dan pernyataan kita kepada Tuhan sering tidak sinkron dengan hidup kita setiap hari. Dan kita menganggap itu sebagai hal biasa, karena memang liturgi begitu. Kita menyanyi lagu ‘Laskar Kristus,’ tapi dalam keseharian hidup, kita menjadi laskar setan; tidak sinkron. Memang, ada yang menyatakan ini sebagai satu kesediaan, walaupun belum memenuhinya, tapi ada kecintaan untuk memenuhinya. Masalahnya, ada yang menyanyi tanpa perasaan, tanpa komitmen, tanpa tekad, dan itu sebenarnya sikap mempermainkan Tuhan. Tetapi dia tidak akan sanggup serius, karena memang hari-hari hidupnya tidak pernah serius.

Lagu yang kita nyanyikan, pernyataan yang kita sampaikan seharusnya mendesak dan mengondisi kita untuk berurusan dengan Tuhan secara benar. Walau kita belum memenuhinya secara penuh, tetapi ada tekad, kerinduan, dan kesediaan. Masalahnya, kalau orang tidak punya tekad, kesediaan, dan komitmen, itu artinya mempermainkan Tuhan di dalam liturgi gereja. Untuk itu, kita harus mengalami Tuhan. Jadi kita bersyukur Tuhan membawa kita di kondisi-kondisi di mana kita dipaksa untuk mencari Tuhan. Kondisi di mana tidak ada orang yang bisa menolong. Dan Tuhan juga marah kalau kita bergantung kepada manusia. Sedikit memperhitungkan manusia dapat menolong, Tuhan tersinggung, karena itu melecehkan Tuhan.

Itu kondisi yang luar biasa untuk bisa mengalami Tuhan. Bahkan bagi kita pada level tertentu, ketika menghadapi situasi sulit, kita tidak boleh susah apalagi putus asa. Jika kita susah berarti kita melecehkan atau meremehkan Tuhan, seakan-akan Tuhan tidak berdaya, tidak setia, mengingkari janji bahwa Dia akan menyertai. Memang ini tingkat yang paling berat dan sulit, tetapi kita harus sampai tingkat itu. Ketika kita ada di satu keadaan yang sulit, Tuhan tidak suka wajah kita bersungut-sungut. Hal ini Tuhan ajarkan dengan mengingat Markus 4:35-41. Sebab orang besar di mata Tuhan adalah mereka yang dibawa Tuhan ke pantai Laut Kolsom, perapian yang menyala, gua singa; dibawa ke situasi sulit yang rasanya tidak mungkin ada jalan keluar.

  Bagi Daud, Ziklag. Ketika seluruh keluarga hulubalang dan keluarganya sendiri ditawan bangsa Amalek. Mereka menangis, dan tidak bisa menangis lagi karena suaranya habis. Itu pahit sekali. Dan para tentara Daud berbalik mau memberontak kepada Daud. Daud tidak punya siapa-siapa, raja tanpa takhta, wilayah, hulubalang, perwira-perwira, harta, juga tanpa keluarga. Bagi Yusuf, dia dibawa bukan hanya di lubang sumur yang dalam, tapi sampai penjara. Situasi itu membuat mereka mengalami Tuhan. Abraham, seperempat abad menunggu anaknya lahir. Namun, kemudian Allah perintahkan untuk disembelih. Abraham berurusan dengan Tuhan bukan dalam fantasi, alam maya, namun dalam fakta kehidupan. Semua kita harus mengalami itu.

Sebab orang beragama belum tentu bertuhan. Tetapi kekristenan menyembah Allah dalam roh dan kebenaran. Sehingga kita harus memiliki interaksi dengan Tuhan, apalagi di dalam kekristenan itu hukumnya Tuhan sendiri—harus mengerti pikiran dan perasaan Tuhan, bersentuhan dengan pikiran dan perasaan Tuhan. Tidak bisa diwakili oleh buku, doktrin. Oleh sebab itu, kekristenan tidak bisa menjadi sambilan, tapi harus menyita seluruh hidup kita. Maka fokus kita setiap hari adalah bagaimana kita mengalami Tuhan di dalam pergumulan hidup yang kita hadapi, karena pergumulan hidup kita merupakan medianya. Sesuai dengan aktivitas hidup kita masing-masing, itu merupakan media di mana kita bergaul dengan Allah di situ. Bagaimana terang Kerajaan Tuhan menerangi hidup kita di dalam area, profesi, dan aktivitas hidup kita. Itulah yang membuat aktivitas kita menjadi bernilai, dan mestinya menjadi catatan abadi.

Kita harus mengerti dan menerima bahwa hidup sebagai anak-anak Allah itu sangat luar biasa. Keunggulannya terletak pada kesempatan bisa berinteraksi dengan Allah, mengalami perjumpaan dengan Tuhan. Roh Kudus akan menuntun kita pada kondisi-kondisi di mana kita harus berinteraksi dengan Allah. Tuhan ajak kita berpikir seperti Dia berpikir, berlaku firman yang mengatakan, "Kamu tidak Kusebut lagi hamba, karena hamba tidak tahu apa yang dilakukan tuannya. Kamu Kusebut sahabat."

Tuhan Yesus memberkati
????????????. ????????. ???????????????????????????? ????????????????????????????

KITA HARUS MENGERTI DAN MENERIMA BAHWA HIDUP SEBAGAI ANAK-ANAK ALLAH ITU SANGAT LUAR BIASA.

Card image
Bacaan Alkitab Setahun - 26 Juni 2024
2024-06-26 12:22:30

1 Raja-raja 17-19

Card image
Truth Kids 25 Juni 2024 - HIDUP SEDERHANA
2024-06-25 16:46:30


1 Timotius 6:8
”Asal ada makanan dan pakaian, cukuplah.”

Tito adalah anak yang senang sekali bermain di sawah sambil menyaksikan burung-burung terbang di langit. Suatu hari, Tito bertemu dengan seorang kakek bijaksana yang sedang duduk di bawah pohon mangga. Kakek itu tersenyum ramah pada Tito dan berkata, "Hidup yang sederhana adalah kekayaan sejati."

Sobat Kids, hidup yang sederhana membawa damai sejahtera dalam hidup kita. Terkadang kita terlalu sibuk mencari kekayaan duniawi seperti uang dan barang-barang mahal, padahal kekayaan sejati ada dalam kesederhanaan. Ketika kita belajar bersyukur dengan apa yang kita miliki, kita akan merasakan damai dalam hati. "Oh, Tuhan, berikanlah kami kebijaksanaan untuk hidup dengan sederhana dan bersyukur atas segala berkat-Mu."

Sobat Kids, betapa indahnya hidup yang penuh dengan kedamaian dan kebahagiaan yang sederhana. Jadi, mari kita belajar dari Tito dan kakek bijaksana untuk hidup dengan sederhana dan merasakan damai sejahtera dalam hidup kita.

Card image
Truth Junior 25 Juni 2024 - SEDERHANA
2024-06-25 16:43:52


1 Timotius 6:8
”Asal ada makanan dan pakaian, cukuplah.”

Ada tiga ekor hewan yang memiliki kehidupan berbeda. Seekor kambing, selalu merasa resah karena takut rumput-rumput di kebunnya habis dimakan binatang lain, sehingga ia tidak mau berbagi. Seekor tikus, selalu mengeluh karena tidak punya makanan dan tempat tinggal, sehingga ia harus menyelinap masuk ke saluran air untuk mencari makan dan tidur di situ. Ada juga seekor domba yang dipelihara oleh seorang gembala. Setiap hari ia diberi jatah makan, dan berteduh di kandang yang menyerupai gubuk.

Kambing memiliki banyak dan berkelimpahan; rumput selalu tersedia setiap hari, namun ia tetap hidup dalam kekhawatiran. Ia tidak mau suatu saat rumput makanannya habis dan ia menjadi kelaparan. Begitu juga dengan tikus, tidak ada yang mau memeliharanya, karena ia makhluk yang kotor dan suka mencuri. Namun, walaupun makanan domba dibatasi dan tinggal di tempat yang tidak indah, ia hidup nyaman dan tenang.

Sobat Junior, dari cerita di atas kita belajar bahwa berkelimpahan bukan berarti kita akan bebas dari rasa takut serta khawatir. Juga jangan sampai kita memiliki karakter buruk seperti tikus yang senang dengan kotoran dan mencuri makanan. Hendaknya kita selalu bersyukur seperti domba, karena Tuhan pasti memelihara kita. Meskipun tempat tinggal kita dan makanan kita tidak mewah atau tidak selalu sesuai keinginan kita, tetapi itu semua merupakan berkat yang Tuhan sediakan. Dengan kesederhanaan itu, kita bisa merasakan damai sejahtera Allah karena hati kita tidak terikat dengan kesenangan dunia.

Card image
Truth Youth 25 Juni 2024 (English Version) - LIVING LIKE PLAYING
2024-06-25 16:42:32


"Do not be anxious about anything, but in every situation, by prayer and petition, with thanksgiving, present your requests to God. And the peace of God, which transcends all understanding, will guard your hearts and your minds in Christ Jesus." (Philippians 4:6-7)

As young people living in a world heavily influenced by technology, most of us have probably played video games at some point. There are many reasons why we enjoy playing games. It could be for the challenge, for relaxation, to make friends, and so on. However, without realizing it, the main element that makes video games interesting is uncertainty. If we were to play a video game knowing that we would always win or always lose, it would lose its appeal. But with uncertainty, it pushes us to keep trying to achieve the best outcome. We enjoy this uncertainty because we believe that the unpredictable outcome, challenges, or difficulties designed by the game developers are not meant to defeat us, but rather to motivate us to overcome them.

Did you know, friends, that life itself carries the same element of uncertainty as video games? Often, we feel anxious about the uncertainties in life. But we must realize that the uncertainties we experience are not designed by God to defeat us. Instead, God allows us to live with many uncertainties because He wants us to continue to grow and enjoy the plan He has prepared for us. That's why Paul says that we should not be anxious about anything, including the uncertainties of life.

The uncertainties of life can be opportunities for us to grow, learn, and become stronger. So, instead of feeling afraid or anxious, let's face uncertainty with the conviction that everything that happens is part of God's grand plan for us.

WHAT TO DO:
1. Face uncertainty with the conviction that every challenge is part of God's grand plan.
2. Use uncertainty as an opportunity to grow, learn, and become stronger.
3. Don't worry about anything, including the uncertainties of life, and believe that God allows us to grow for the better.

BIBLE MARATHON:
- Psalms 107-111

Card image
Truth Youth 25 Juni 2024 - HIDUP YANG BERMAIN
2024-06-25 12:37:43


”Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apa pun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus.” (Filipi 4:6-7)

Sebagai anak muda yang hidup dalam dunia yang lekat dengan teknologi, pasti hampir semua dari kita pernah bermain video game. Tentu banyak alasan kenapa kita suka bermain game. Mulai dari mencari tantangan, healing, mencari teman, dan lain-lain. Namun tanpa disadari, unsur utama yang membuat video game menjadi menarik adalah ketidakpastian. Jika kita bermain video game dan mengetahui bahwa kita sudah pasti selalu menang atau pasti selalu kalah, kita akan kehilangan kesenangan atau daya tariknya. Tapi dengan adanya unsur ketidakpastian ini, justru tidak membuat kita menjadi kehilangan keinginan untuk bermain karena kita tidak tahu hasil akhir dari video game yang ada. Dengan adanya ketidakpastian ini, malahan membuat kita terdorong untuk terus berusaha agar dapat mencapai hasil terbaik. Kita dapat menikmati ketidakpastian ini karena kita percaya bahwa hasil akhir yang tidak pasti, tantangan, ataupun kesulitan yang dirancang oleh pembuat game tersebut bukan untuk menjatuhkan kita, melainkan untuk membuat kita lebih termotivasi untuk menyelesaikannya.

Tahu gak sih teman-teman, sebenarnya dalam hidup ini juga membawa unsur ketidakpastian yang sama seperti dalam video game. Tentu kita sering kali merasa cemas akan ketidakpastian dalam hidup ini. Tapi kita harus sadar bahwa ketidakpastian yang kita alami ini bukan dirancang Tuhan untuk menjatuhkan kita. Justru Tuhan mengizinkan kita hidup dalam banyak ketidakpastian karena Tuhan ingin kita terus berkembang menjadi lebih baik lagi dan dapat menikmati rancangan yang Allah sudah sediakan. Makanya Paulus berkata agar kita jangan khawatir tentang apa pun juga. Termasuk agar kita tidak khawatir terhadap kehidupan ini yang penuh dengan ketidakpastian.

Ketidakpastian hidup bisa menjadi kesempatan bagi kita untuk bertumbuh, belajar, dan menjadi lebih kuat. Jadi, alih-alih merasa takut atau cemas, mari kita hadapi ketidakpastian dengan keyakinan bahwa setiap hal yang terjadi adalah bagian dari rencana besar yang Tuhan miliki untuk kita.

WHAT TO DO:
1.Hadapi ketidakpastian dengan keyakinan bahwa setiap tantangan adalah bagian dari rencana besar Tuhan.

2.Gunakan ketidakpastian sebagai kesempatan untuk bertumbuh, belajar, dan menjadi lebih kuat. 3.Jangan khawatir tentang apa pun, termasuk ketidakpastian hidup, dan percayalah bahwa Tuhan mengizinkan kita untuk berkembang menjadi lebih baik.

BIBLE MARATHON:
▪︎ Mazmur 107-111

Card image
Renungan Pagi - 25 Juni 2024
2024-06-25 12:33:59


Orang dunia menggunakan senjata yang bernama uang, koneksi dan kekerasan, tetapi senjata bagi anak-anak Allah adalah kebenaran yaitu kesabaran dan tetap berlaku baik pada mereka yang berbuat jahat pada kita. Tentu saja sebagai manusia biasa, kita tidak sanggup melakukannya, itu sebabnya diperlukan penyerahan diri kepada Tuhan dan mempercayai pembela kita adalah Roh Kudus.

Tuhan bahkan mengharapkan kita dapat mengalahkan kejahatan dengan kebaikan. "Janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan; lakukanlah apa yang baik bagi semua orang! Janganlah kamu kalah terhadap kejahatan, tetapi kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan!"

Kita harus mau belajar sabar dan berserah, biarkan Roh Kudus yang menjadi pembela, tidak perlu membela diri sendiri, sampai kita memperoleh kemenangan dengan cara Tuhan dan sesuai kehendak-Nya, maka orang yang merencanakan kejahatan, memfitnah dan membuat tuduhan palsu pasti akan dipermalukan Tuhan. Jadi belajarlah untuk tetap bersabar dan berserah pada Tuhan.
(Roma 12:17,21)

Card image
Quote Of The Day - 25 Juni 2024 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2024-06-25 12:32:28


Ketergantungan kepada Tuhan secara terus menerus membentuk selera jiwa haus dan lapar akan Dia.

Card image
Mutiara Suara Kebenaran - 25 Juni 2024 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2024-06-25 12:30:28


Dengan mengikuti panggilan hidup dalam kesucian, kita tidak hanya memuliakan Tuhan, tetapi juga membawa dampak positif bagi orang-orang di sekitar kita. Mereka dapat melihat dan merasakan kasih Tuhan melalui hidup kita yang suci.

Card image
ADDICTION - 25 Juni 2024 (English Version)
2024-06-25 12:27:14


We must intentionally and consciously make ourselves addicted to the Person of God, even though He is invisible. We keep groping, seeking His face, seeking His presence, until we find. But don't take it lightly, this is not simple. If there is a longing for something greater than our longing for God, that is a symptom of betrayal, infidelity, those are steps of disloyalty. We must dare to force ourselves to be addicted to Him, to only be able to enjoy God. Otherwise, we can't, because we are already too damaged; the world has corrupted the taste of our souls.

Love can be built. Therefore, if someone does not strive to see the quality of their relationship with God, they will surely not strive to care for the relationship, they do not truly feel the need for God, and they do not love God. In fact, cursed is the person who does not love God. We can give anything visible as well as thoughts and energy, but everything is limited. However, there is one thing that can be limitless, which is our heart, our love. And God wants our hearts to be offered.

We will regret and lament if we don't do it. Do not be arrogant. God is all we need, so we must force ourselves. Indeed, we definitely feel a loss if we let go of something—whatever it is. But life has to choose and we choose God. Renew that choice now. Like a satellite dish, direct the dish of our hearts to God. God will surely help us so that we can love Him. In our prayer, we say, "Make me able to honor You as I should honor You. Make me love You as I should love You."

How hard this is, but if we can do it, it is unimaginable the wealth, majesty, glory we will have, when we can become God's beloved. We have to care for this relationship. And in caring for this relationship, we must know that this relationship must improve, not statically, but progressively. In 2 Corinthians 5:20, God's words say, "Be reconciled to God." The question is, are we not reconciled yet? We must understand that peace with God is a progressive process. We are reconciled by the blood of Jesus, we who are sinners are considered sinless (justificatio or justification), we are considered righteous, even though we are not yet righteous. Since then, we must grow to synchronize ourselves with God.

Like a child when he was young who couldn't do much, or couldn't do anything. Parents who adapt to children. As the child grows older, he must mature and he must begin to adapt himself. That's why when the Bible says, "Walk in the spirit," it means walking in harmony. We must adapt ourselves to God. Caring for our relationship with God is our responsibility to grow spiritual maturity. We must grow to have the qualities of God so that we can walk together. Caring for a relationship with God is not something simple, because God is Holy. 1 Peter 1:16 says, “Be holy, for I am Holy.”

Why does God connect His holiness to us? Because we must wear holiness according to His standards. There is no religion like Christianity, which is not regulated by written laws, but is regulated by the Holy Spirit so that everything we do is in sync with God. Our bad character, easily offended, angry, stingy, selfish, and still having unclean thoughts, certainly cannot go hand in hand with God. God is training us to have faith that is not based on feelings. God wants to train us to break through boundaries and trust God who exists in the invisible realm.

So, caring for a relationship with God means building a life so that we can synchronize ourselves with God. But there comes a time when we start to get bored, fed up. So, there we have to learn to fight. So that our holiness continues to increase. We must have a desire to have our name that is in God's heart. So when we die, we are welcomed into the Father's House to become His beloved. So, day by day our relationship must become more harmonious. From a beloved child to a favorite child.

When Jesus emerged from the waters of baptism, God declared, “This is My beloved Son, in whom I am well pleased.” The Lord Jesus received this certificate not just because He was baptized, but rather as a result of His life journey from 0-30 years. As wrote in Luke 2:40 and 52 says, "And the child grew and became strong; he was filled with wisdom, and the grace of God was on him. ; And Jesus grew in wisdom and stature, and in favor with God and man." This is what made Jesus come to the confirmation, "This is My beloved Son, in whom I am well pleased."

WE MUST INTENTIONALLY AND CONSCIOUSLY MAKE OURSELVES ADDICTED TO THE PERSON OF GOD, EVEN THOUGH HE IS INVISIBLE.

Card image
KECANDUAN - 25 Juni 2024
2024-06-25 10:31:36


Kita harus sengaja dan sadar membuat diri kita kecanduan terhadap Pribadi Tuhan, walau Dia tidak kelihatan. Kita terus meraba-raba, mencari wajah-Nya, mencari hadirat-Nya, sampai kita menemukan. Namun jangan anggap remeh, hal ini tidak sederhana. Kalau ada kerinduan terhadap sesuatu lebih besar dari kerinduan kita terhadap Tuhan, itu gejala pengkhianatan, perselingkuhan, itu langkah-langkah ketidaksetiaan. Kita harus berani memaksa diri kita untuk kecanduan dengan-Nya, untuk hanya bisa menikmati Tuhan. Kalau tidak, tidak bisa, karena kita sudah terlalu rusak, dunia telah merusak cita rasa jiwa kita.

Cinta itu bisa dibangun. Makanya kalau orang tidak berusaha melihat kualitas relasi dengan Tuhan, dia pasti juga tidak berusaha merawat hubungan, dia tidak sungguh-sungguh merasa membutuhkan Tuhan, dan dia tidak mencintai Tuhan. Padahal, terkutuklah orang yang tidak mencintai Tuhan. Kita bisa memberi apa pun yang kelihatan dan juga pikiran dan tenaga, tapi semua terbatas. Namun ada satu yang bisa tidak terbatas, yaitu hati kita, cinta kita. Dan Tuhan mau hati kita yang dipersembahkan.

Kita akan menyesal dan meratap kalau kita tidak melakukannya. Jangan sombong. Hanya Tuhan yang kita butuhkan, maka kita harus memaksa diri kita. Memang, kita pasti merasa kehilangan kalau kita melepaskan sesuatu—apa pun itu. Tapi hidup harus memilih dan kita memilih Tuhan. Perbarui pilihan itu sekarang. Jadi ibarat parabola, arahkan parabola hati kita ke Tuhan. Tuhan pasti menolong kita untuk kita bisa mencintai Dia. Dalam doa kita berkata, "Buatlah aku bisa menghormati Engkau sebagaimana seharusnya aku menghormati-Mu. Buatlah aku mengasihi Engkau, sebagaimana seharusnya aku mengasihi-Mu."

Betapa beratnya hal ini, tapi kalau kita bisa melakukannya, tidak terbayangkan kekayaan, keagungan, kemuliaan yang kita miliki, ketika kita bisa menjadi kekasih Tuhan. Kita harus merawat hubungan ini. Dan di dalam merawat hubungan ini, kita harus tahu bahwa hubungan ini harus meningkat, tidak statis, tapi progresif. Dalam 2 Korintus 5:20, firman Tuhan mengatakan, "Berilah dirimu diperdamaikan dengan Allah." Pertanyaannya, apakah kita belum didamaikan? Kita harus mengerti bahwa perdamaian dengan Allah adalah sebuah proses yang progresif. Kita diperdamaikan oleh darah Yesus, kita yang berdosa dianggap tidak berdosa (justificatio atau justification), dianggap benar, walaupun kita belum benar. Sejak itu, kita harus bertumbuh untuk menyinkronkan diri kita dengan Tuhan.

Seperti seorang anak pada waktu masih kecil yang belum bisa berbuat banyak, atau belum bisa berbuat apa-apa. Orang tua yang menyesuaikan diri terhadap anak. Seiring bertambahnya usia, sang anak harus dewasa dan ia harus mulai menyesuaikan diri. Makanya kalau Alkitab berkata, “Berjalanlah dalam roh,” artinya berjalan seirama. Kita yang harus menyesuaikan diri dengan Tuhan. Merawat hubungan dengan Allah merupakan tanggung jawab kita untuk menumbuhkan kedewasaan rohani. Kita harus bertumbuh memiliki sifat-sifat Allah agar kita bisa berjalan seiring. Merawat hubungan dengan Allah itu bukan sesuatu yang sederhana, karena Allah Kudus. 1 Petrus 1:16 mengatakan, “Kuduslah kamu, sebab Aku Kudus.”

Mengapa Allah menghubungkan kesucian-Nya dengan kita? Karena kita harus mengenakan kesucian sesuai standar Dia. Tidak ada agama seperti kekristenan ini, yang tidak diatur oleh hukum yang tertulis, tapi diatur oleh Roh Kudus agar dalam segala hal yang kita lakukan sinkron dengan Tuhan. Karakter kita yang buruk, mudah tersinggung, marah, pelit, egois, masih ada pikiran najis, tentu tidak bisa berjalan seiring dengan Tuhan. Tuhan sedang melatih kita untuk memiliki iman yang tidak berdasarkan perasaan. Tuhan mau melatih kita untuk menembus batas dan memercayai Allah yang ada di alam yang tidak kelihatan; invisible realm.

Jadi, merawat hubungan dengan Tuhan itu artinya membangun kehidupan untuk bisa menyinkronkan diri kita dengan Allah. Tapi ada saat di mana kita mulai bosan, jenuh. Maka, di situ kita harus belajar melawan. Sehingga kesucian kita terus meningkat. Kita harus punya satu kerinduan memiliki nama yang ada di dalam hati Tuhan. Maka pada waktu kita meninggal dunia, kita disambut di Rumah Bapa menjadi kekasih-Nya. Maka, makin hari hubungan kita harus semakin harmoni. Dari anak kesayangan menjadi anak kesukaan.

Ketika Yesus keluar dari air baptisan, Allah menyatakan, “Ini Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nya Aku berkenan.” Tuhan Yesus mendapatkan sertifikat itu bukan karena sekadar Ia dibaptis, melainkan hasil dari perjalanan hidup-Nya dari sejak 0-30 tahun. Seperti berita dalam Lukas 2:40 dan 52 yang mengatakan, “Dan Yesus makin bertambah besar dan bertambah hikmat-Nya dan besar-Nya, dan makin dikasihi oleh Allah dan manusia.” Inilah yang membuat Yesus sampai pada pengesahan, “Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nya Aku berkenan.”

Tuhan Yesus memberkati
????????????. ????????. ???????????????????????????? ????????????????????????????

KITA HARUS SENGAJA DAN SADAR MEMBUAT DIRI KITA KECANDUAN TERHADAP PRIBADI TUHAN, WALAU DIA TIDAK KELIHATAN.

Card image
Bacaan Alkitab Setahun - 25 Juni 2024
2024-06-25 10:28:17

1 Raja-raja 16
2 Tawarikh 17

Card image
Truth Kids 24 Juni 2024 - MENJADI PAHLAWAN KECIL
2024-06-24 12:55:51


Roma 10:15

Dan bagaimana mereka dapat memberitakan-Nya, jika mereka tidak diutus? Seperti ada tertulis: "Betapa indahnya kedatangan mereka yang membawa kabar baik!"

Rini adalah seorang gadis ceria yang selalu menyenangkan teman-temannya di TK dengan cerita-cerita yang menarik. Suatu hari, ketika sedang bermain di taman, Rini mendengar tentang seorang pahlawan yang selalu membawa kabar baik kepada semua orang. Wah, pikir Rini, pahlawan seperti itu pasti luar biasa!

Sobat Kids, bagaimana kabar kalian hari ini? Tadi Rini mendengar tentang pahlawan yang selalu membawa kabar baik. Wah, sungguh menakjubkan! Tapi tahukah Sobat Kids, kita juga bisa menjadi pahlawan seperti itu. Kita bisa memberitakan kabar baik kepada teman-teman kita, seperti cerita yang selalu Rini bagikan di sekolahnya. Ketika kita memberitakan kabar baik kepada orang lain, kita membawa damai sejahtera kepada yang percaya. Betapa pentingnya menjadi sumber kegembiraan dan harapan bagi orang lain. Jadi, mari kita bersama-sama menjadi pahlawan kecil yang membawa kabar baik kepada semua orang di sekitar kita. Betapa indahnya hidup ketika kita saling berbagi sukacita dan kasih!

Card image
Truth Junior 24 Juni 2024 - TOA INJIL
2024-06-24 12:53:52


Roma 10:15

Dan bagaimana mereka dapat memberitakan-Nya, jika mereka tidak diutus? Seperti ada tertulis: “Betapa indahnya kedatangan mereka yang membawa kabar baik!”

Sobat Junior, pernahkah kalian melihat dan mendengar suara yang kencang dari alat pengeras suara yang biasa disebut “toa?” Sebenarnya “toa” adalah sebuah merk alat pengeras suara, tapi merk itu seolah-olah menjadi nama barang tersebut. Toa digunakan ketika orang yang berbicara perlu memperdengarkan suaranya dengan lebih kencang supaya jelas terdengar, terutama bila sedang berada di outdoor atau luar ruangan. Toa juga membantu orang yang berbicara agar tidak perlu berteriak-teriak saat menyampaikan sesuatu untuk didengar orang banyak.

Hidup kita hendaknya menjadi seperti toa, Sobat Junior. Banyak orang yang membutuhkan Kabar Baik atau Injil keselamatan. Jika kita tidak menggunakan “pengeras suara,” maka tidak banyak orang yang dapat mendengarnya. Selain membawa keselamatan, Injil juga pasti mendatangkan damai sejahtera. Karenanya, jika kita memberitakan Injil, banyak orang yang akan mengenal kedamaian sejati dari Tuhan.

Lalu, bagaimana caranya kita memperdengarkan Injil tersebut kepada orang banyak? Bukan dengan berteriak di tengah jalan menyampaikan firman Tuhan atau ayat Alkitab atau khotbah, bukan juga menggunakan pengeras suara dalam berbicara tentang Injil, melainkan menjadikan kehidupan kita seperti “pengeras suara.” Caranya, tunjukkan kelakuan anak Allah yang benar, yang dapat menjadi kesaksian bagi semua orang dan menunjukkan bahwa Allah kita satu-satunya Allah yang benar.

Card image
Truth Youth 24 Juni 2024 (English Version) - LEAP OF FAITH
2024-06-24 12:52:03


"Do not let anyone look down on you because you are young, but set an example for the believers in speech, in conduct, in love, in faith and in purity." (1 Timothy 4:12)

There's an epic moment in the popular game Assassin’s Creed, where the main character performs a "Leap of Faith" from a terrifying height. It's a moment where the character believes in the plan and his own ability to jump without hesitation, despite the risks he may face. In this illustration, we can find a connection with the moral message of "Trusting God's Plan" found in this verse. When the Assassin’s Creed character performs the "Leap of Faith", he believes that what he's doing is part of a larger plan. He trusts in his ability to overcome obstacles and face the consequences of his actions. Similarly, when we trust in God's plan, we must have the same confidence that He has a greater vision for our lives. In the game, the "Leap of Faith" is a symbol of courage, trust, and sacrifice. It's an action that requires strong determination and unwavering faith. Likewise, in our lives, trusting God's plan often requires us to take seemingly bold steps and face uncertainty with courage.

There are moments when we are called to undertake a great task even though we are in a position where we shouldn't accept that task, and automatically underestimated. Such as being called to set an example in speech, conduct, love, faith, and purity even though we are young, where we should be taking example. Perhaps it's a major decision that requires courage to trust that God will lead us through that journey. Or maybe it's a simple act of love towards others, which requires faith that God will use it to do His work. Whatever it is, we need not worry when we step forward in faith. The moral message of this verse is that when we trust in God's plan, we can live with courage and confidence that He will guide our steps. Like the character in Assassin’s Creed who performs the "Leap of Faith", we are also called to jump into God's plan with strong determination and unwavering faith. Thus, we will become examples to those around us, showing that trust in God brings remarkable influence in our lives and in the world.

WHAT TO DO:
1. Surrender to God's plan.
2. Demonstrate exemplary Christian behavior.

BIBLE MARATHON:
- Psalms 104-106

Card image
Truth Youth 24 Juni 2024 - LEAP OF FAITH
2024-06-24 12:49:20


"Jangan seorang pun menganggap engkau rendah karena engkau muda. Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu." (1 Timotius 4:12)

Ada sebuah momen epik dari permainan populer, Assassin’s Creed, di mana karakter utama melakukan “Leap of Faith” dari ketinggian yang mengerikan. Ini adalah momen di mana sang karakter percaya pada rencana dan kemampuannya sendiri untuk melompat tanpa ragu-ragu, meskipun ada risiko yang mungkin dia hadapi. Dalam ilustrasi ini, kita dapat menemukan keterkaitan dengan pesan moral “Mempercayai rencana Tuhan” yang terdapat dalam ayat ini. Saat karakter Assassin’s Creed melakukan “Leap of Faith”, dia mempercayai bahwa apa yang dia lakukan adalah bagian dari rencana yang lebih besar. Dia percaya pada kemampuannya untuk mengatasi rintangan dan menghadapi konsekuensi dari tindakannya. Demikian pula, ketika kita mempercayai rencana Tuhan, kita harus memiliki keyakinan yang sama bahwa Dia memiliki visi yang lebih besar untuk hidup kita. Dalam permainan tersebut, “Leap of Faith” adalah simbol keberanian, kepercayaan, dan pengorbanan. Ini adalah tindakan yang memerlukan tekad yang kuat dan keyakinan yang tak tergoyahkan. Demikian juga, dalam hidup kita, mempercayai rencana Tuhan sering kali mengharuskan kita untuk melakukan langkah-langkah yang tampaknya berani dan menghadapi ketidakpastian dengan keberanian.

Ada momen-momen di mana kita dipanggil untuk melakukan suatu tugas yang besar walaupun kita berada dalam posisi di mana seharusnya kita tidak menerima tugas itu, dan secara otomatis diremehkan. Seperti dipanggil untuk menjadi teladan dalam perkataan, tingkah laku, kasih, iman, dan kesucian walaupun kita masih muda, di mana kita seharusnya menerima teladan. Mungkin itu adalah keputusan besar yang membutuhkan keberanian untuk mempercayai bahwa Tuhan akan memimpin kita melalui perjalanan itu. Atau mungkin itu adalah tindakan sederhana kasih kepada sesama, yang membutuhkan kepercayaan bahwa Tuhan akan mempergunakan itu untuk melakukan pekerjaan-Nya. Apa pun itu kita tidak perlu khawatir, saat kita melangkah maju dalam iman. Pesan moral dari ayat ini adalah bahwa ketika kita mempercayai rencana Tuhan, kita dapat hidup dengan keberanian dan keyakinan bahwa Dia akan membimbing langkah-langkah kita. Seperti karakter dalam Assassin’s Creed yang melakukan “Leap of Faith,” kita juga dipanggil untuk melompat ke dalam rencana Tuhan dengan tekad yang kuat dan keyakinan yang tak tergoyahkan. Dengan demikian, kita akan menjadi teladan bagi orang-orang di sekitar kita, memperlihatkan bahwa kepercayaan pada Tuhan membawa pengaruh yang luar biasa dalam hidup kita dan dalam dunia ini.

WHAT TO DO:
1. Berserah kepada rencana Allah
2. Tunjukan perilaku kristiani yang teladan

BIBLE MARATHON:
▪︎Mazmur 104-106

Card image
Renungan Pagi - 24 Juni 2024
2024-06-24 12:44:48


Ada banyak orang tidak mengerti kenapa dia hidup, sehingga hidup sembarangan, tanpa tujuan dan tanpa persiapan untuk memasuki kekekalan setelah kematian. Sebagai orang pilihan, anak-anak Tuhan, sudah seharusnya mengerti benar untuk apa kita hidup dan apa tujuan Tuhan menciptakan. Kita ada dan hidup di dunia ini, hanya karena Tuhan yang menghidupkan, Tuhan yang telah menghembuskan nafas hidup dan memberikan Roh-Nya kepada kita, sebab itulah manusia adalah mahluk kekal, bagian dari Allah yang kekal ada dalam hidup kita.

"Ketika itulah TUHAN Allah membentuk manusia itu dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup." Hidup kita tidak berakhir setelah kematian, ada alam kekekalan menanti, sebab itu persiapkan dengan benar dalam waktu hidup yang Tuhan berikan saat ini, supaya jika waktu kematian menjemput, maka yang kita jumpai di alam kekal adalah Tuhan, Pemilik hidup itu.
(Kejadian 2:7)

Card image
Quote Of The Day - 24 Juni 2024 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2024-06-24 12:40:31


Kalau kita sungguh-sungguh memburu hari ini, maka kita akan melihat hari esok, Allah hadir dalam hidup kita.

Card image
Mutiara Suara Kebenaran - 24 Juni 2024 (Pdt. Dr. Erastus Sabdono)
2024-06-24 12:39:06


Tuhan memanggil kita untuk hidup dalam kesucian karena Dia sendiri adalah suci. "Kuduslah kamu, sebab Aku kudus", demikian firman Tuhan.

Card image
CARING FOR RELATIONSHIPS - 24 Juni 224 (English Version)
2024-06-24 12:37:35


More than anything else we must care for, caring for our relationship with God must be everything to us. This means we should sacrifice anything for our relationship with God the Father, our relationship with the Lord Jesus. However, very few people seriously consider their relationship with God. Many people don't care whether their relationship with God is good or not, harmonious or not. And this attitude actually shows that, first, they do not truly need God, they do not truly feel the need for God. Second, they do not love God. In fact, if a person does not truly feel the need for God, that person is arrogant. Arrogance is rooted and stems from the attitude of not feeling the need for God. So, whether their relationship with God is harmonious or not, they don't care.

Usually, people like this, if they are in a church environment, are cunning. When they are in serious trouble, only then do they seek God. Actually, these people are not seeking God, but they are seeking God's blessings, God's power, and God's help, not God Himself. Cunning here means manipulative and opportunistic. Being manipulative and opportunistic towards humans is not appropriate, let alone towards God. But strangely, many people are truly opportunistic, manipulative, exploiting God, seeking benefits without considering the interests of others. It is truly terrifying to have such an attitude towards God. Because God is the source of our life. Ideally, we live for Him. A mature Christian is one who will not deceive God, but is willing to be empowered by God.

But we can understand if they are still opportunistic because they certainly do not understand the purpose and meaning of their life. We need God because indeed God is our life. Only people who reach this level are very rare. Psalm 73 represents the psalmist's struggle to this level, "Whom have I in heaven but You, and there is none upon earth that I desire besides You." So, we need God not because we glance at His wallet of power, or His blessings, but because of God Himself. It has become a general standard for religious people that towards their gods and deities they act manipulatively in order to be protected, guarded, benefited and helped.

Unlike us, God who created the heavens and the earth is our Father, we must not doubt His help in the slightest when we are in trouble. He provides bread for those He loves at bedtime, meaning that beyond our knowledge God provides the blessings we need. When God's word says, "... the nations who do not know God seek it," it means we don't need to worry about it, thinking about it, but that doesn't mean we are irresponsible. We must work, truly maximize our potential—what we sow, we reap—without worry, without fear.

In essence, talking about this is easy, but practicing it is difficult, especially when we are in a critical condition, crisis, and it seems as if God is not present. But believe, the issue of blessings does not need to be questioned—as long as we live responsibly—because He will fulfill His part. We need God because God Himself is our life. So our lives for 70-80 years, if we can reach 100 years, is just a journey to find the Eternal Lover. Therefore, we must let go of all fleshly ties and sinful pleasures that were built by parents, environment, traditions, culture and the influence of the world around us. And we are used to being poisoned by various pleasures.

But after we know God, we must begin to build our spirit. Now, if we realize that God is our life, we must seek God; pursue God. That's why the psalmist says in Psalm 73:25-26, "Whom have I in heaven but You? And there is none upon earth that I desire besides You." So that God engraves our name in His heart, we are given a place in His heart, not only in His presence but in His heart forever. And that can happen if we release all our beloved ties. This is extraordinary if we can become God's beloved. The Most High, Most Glorious God of the universe, keeps our name in His heart. Of course, the price is our entire life.

MORE THAN ANYTHING ELSE WE MUST CARE FOR, CARING FOR OUR RELATIONSHIP WITH GOD MUST BE EVERYTHING TO US.

Card image
MERAWAT HUBUNGAN - 24 Juni 2024
2024-06-24 12:35:11


Lebih dari semua yang kita harus rawat, merawat hubungan dengan Tuhan itu harus menjadi segalanya bagi kita. Artinya, apa pun kita korbankan demi hubungan kita dengan Allah Bapa, hubungan kita dengan Tuhan Yesus. Namun, sangat sedikit orang yang serius memperkarakan hubungannya dengan Tuhan. Banyak orang tidak peduli apakah hubungan dirinya dengan Tuhan itu baik-baik atau tidak, harmoni atau tidak. Dan sikap seperti ini sebenarnya menunjukkan bahwa, yang pertama, ia tidak sungguh-sungguh membutuhkan Tuhan, tidak sungguh-sungguh merasa memerlukan Tuhan. Yang kedua, ia tidak mengasihi Tuhan. Padahal, kalau orang tidak merasa sungguh-sungguh membutuhkan Tuhan, itu adalah orang sombong. Kesombongan itu berakar dan berangkat dari sikap tidak merasa membutuhkan Tuhan. Jadi, apakah hubungannya dengan Tuhan itu harmoni atau tidak, dia tidak peduli.

Biasanya orang-orang seperti ini, kalau di lingkungan gereja, licik. Kalau sedang ada dalam masalah berat, baru ia mencari Tuhan. Sebenarnya, orang-orang ini tidak mencari Tuhan, tapi ia mencari berkat Tuhan, kuasa Tuhan dan pertolongan Tuhan, bukan Tuhan sendiri. Licik di situ artinya manipulatif dan oportunis. Sikap manipulatif, oportunis terhadap manusia saja tidak patut, apalagi terhadap Tuhan. Tapi herannya, banyak orang yang benar-benar oportunis, manipulatif, memanfaatkan Tuhan, mencari keuntungan tanpa melihat kepentingan orang lain. Sungguh hal yang mengerikan bersikap demikian terhadap Tuhan. Sebab Tuhan adalah pokok kehidupan kita. Mestinya, kita hidup bagi Dia. Seorang Kristen yang dewasa adalah seorang yang tidak akan memperdaya Tuhan, melainkan rela diberdayakan oleh Tuhan.

Tetapi kita bisa mengerti kalau mereka masih oportunis karena mereka pasti tidak memahami apa tujuan dan arti hidupnya. Kita membutuhkan Tuhan, karena memang Tuhan itulah kehidupan kita. Hanya orang sampai tingkat ini, jarang sekali. Mazmur 73, merupakan pergumulan pemazmur sampai tingkat ini, “Siapa gerangan ada padaku di surga selain Engkau, selain Engkau tidak ada yang kuingini di bumi.” Jadi, kita membutuhkan Tuhan bukan karena kita melirik dompet kuasa-Nya, atau berkat-berkat-Nya, tapi karena pribadi Tuhan sendiri. Sudah menjadi standar umum orang beragama bahwa terhadap dewa dan ilahnya mereka bersikap manipulatif agar dilindungi, dijaga, diuntungkan, dan ditolong.

Berbeda dengan kita, Allah yang menciptakan langit dan bumi yang menjadi Bapa kita, tidak boleh sedikit pun kita meragukan pertolongan-Nya pada waktu kita dalam kesulitan. Dia menyediakan roti bagi orang yang dikasihi-Nya pada waktu tidur, artinya di luar sepengetahuan kita Allah menyediakan berkat yang kita butuhkan. Ketika firman Tuhan mengatakan, "… itu dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah," artinya kita tidak perlu memusingkan, memikirkan hal itu, namun bukan berarti lalu kita tidak bertanggung jawab. Kita harus bekerja, sungguh-sungguh memaksimalkan potensi—apa yang kita tabur, kita tuai—tanpa kekhawatiran, tanpa takut.

Sejatinya, bicara ini mudah, namun praktiknya sulit, apalagi pada waktu kita ada dalam kondisi kritis, krisis, dan Tuhan seakan-akan tidak tampak kehadiran-Nya. Tapi percayalah, masalah berkat sudah tidak perlu dipersoalkan—asalkan kita hidup bertanggung jawab—sebab Dia akan memenuhi bagian-Nya. Kita membutuhkan Tuhan karena Tuhan sendiri yang menjadi kehidupan kita. Jadi hidup kita selama 70-80 tahun, kalau bisa sampai 100 tahun, itu hanya pengembaraan untuk menemukan Kekasih Abadi. Karenanya, kita harus melepaskan semua ikatan kedagingan dan kesenangan dosa yang memang dibangun oleh orang tua, lingkungan, tradisi, budaya, dan pengaruh dunia sekitar. Dan kita sudah terbiasa diracuni dengan berbagai kesenangan itu.

Tapi setelah kita mengenal Tuhan, kita harus mulai membangun roh kita. Sekarang kalau kita sadar bahwa Tuhanlah kehidupan kita, kita harus mencari Tuhan; memburu Tuhan. Makanya pemazmur berkata di Mazmur 73:25-26, “Selain Engkau tidak ada yang kuingini di bumi.” Sehingga Tuhan menaruh nama kita dalam hati-Nya, kita diberi tempat di hati-nya, bukan hanya di hadirat-Nya, tapi di hati-Nya selama-lamanya. Dan itu bisa terjadi, kalau kita melepaskan semua kekasih hati. Ini luar biasa, kalau sampai kita bisa menjadi kekasih Tuhan. Allah semesta alam yang Maha Agung, Maha Mulia, menyimpan nama kita di hati-Nya. Tentu harganya adalah seluruh kehidupan kita.

Tuhan Yesus memberkati
Pdt. Dr. Erastus Sabdono

LEBIH DARI SEMUA YANG KITA HARUS RAWAT, MERAWAT HUBUNGAN DENGAN TUHAN ITU HARUS MENJADI SEGALANYA BAGI KITA.

Card image
Bacaan Alkitab Setahun - 24 Juni 2024
2024-06-24 12:31:55

1 Raja-raja 15
2 Tawarikh 13-16

Card image
Truth Kids 23 Juni 2024 - BERSYUKUR ATAS KASIH TUHAN
2024-06-23 10:05:26


Yesaya 54:10
”Sebab biarpun gunung-gunung beranjak dan bukit-bukit bergoyang, tetapi kasih setia-Ku tidak akan beranjak dari padamu dan perjanjian damai-Ku tidak akan bergoyang, firman TUHAN, yang mengasihani engkau.”

Di sebuah desa kecil, hiduplah seorang anak yang penuh semangat bernama Rama. Setiap hari, ia selalu bersemangat mengeksplorasi keajaiban alam di sekitarnya. Suatu hari, saat Rama sedang bermain di kebun belakang rumahnya, ia mendapati sebuah sarang burung yang terjatuh dari pohon. "Wah, sarangnya indah sekali!" serunya kagum. Tanpa pikir panjang, Rama langsung mengambil sarang itu dan membawanya pulang.

Sobat Kids, seperti Rama yang terpesona oleh keindahan sarang burung, begitu juga kita terpesona oleh kasih setia Allah. Dalam Yesaya 54:10, Tuhan berjanji bahwa kasih setia-Nya takkan pernah beranjak dari kita. Setiap hari, Tuhan menganugerahkan kebaikan-Nya kepada kita, seperti seorang ayah yang menyayangi anak-anaknya. Melalui kebenaran dan kasih setia-Nya, Tuhan membawa damai sejahtera yang abadi bagi kita semua. Meskipun terkadang kita merasa sendiri atau sedih, ingatlah bahwa Tuhan selalu bersama kita. Marilah kita bersyukur atas kasih-Nya yang tak pernah berubah, dan percayalah bahwa dengan Tuhan, kita akan selalu merasa aman dan bahagia. Betapa besar dan ajaibnya kasih setia Tuhan kepada kita!

Card image
Truth Junior 23 Juni 2024 - ANTI GEMPA
2024-06-23 10:02:58


Yesaya 54:10
”Sebab biarpun gunung-gunung beranjak dan bukit-bukit bergoyang, tetapi kasih setia-Ku tidak akan beranjak dari padamu dan perjanjian damai-Ku tidak akan bergoyang, firman TUHAN, yang mengasihani engkau.”

Salah satu negara yang paling sering mengalami gempa bumi adalah Jepang. Di Jepang, para warganya sudah ‘terbiasa’ menghadapi dan mengatasi gempa bumi, sehingga mereka pun memikirkan cara untuk menanggulangi akibat gempa agar tidak terlalu parah. Salah satunya adalah dengan cara membangun fondasi khusus pada bangunan-bangunan atau sarana umum, misalnya rumah dan jembatan. Dengan kepintaran dan kecanggihan teknologi, mereka mampu membangun jembatan dan rumah yang tidak mudah rubuh walaupun gempa menyerang dengan kekuatan besar. Sungguh mengagumkan, ya, Sobat Junior. Jembatan dan rumah yang memiliki fondasi khusus tersebut tetap goyang, tetapi tidak sampai hancur rata dengan tanah, bahkan tidak retak atau ambruk.

Hendaknya demikian juga dengan kehidupan kita, Sobat Junior. Badai pasti menerpa, masalah silih berganti menghampiri dan terjadi, namun damai sejahtera Tuhan harus menjadi fondasi khusus dalam hidup kita, supaya meskipun kita ‘bergoyang’ karena kesulitan dan hal-hal buruk menimpa kita, tetap kita bisa tegak berdiri di dalam iman dan kesetiaan kepada Tuhan. Walaupun sekitar kita bergoncang dan hancur, kita tetap teguh dalam kasih dan damai sejahtera-Nya karena kita hidup hanya untuk melakukan kehendak Tuhan saja.

Card image
Truth Youth 23 Juni 2024 (English Version) - BRAVE SOLDIER
2024-06-23 10:00:57


"Blessed are you when people insult you, persecute you and falsely say all kinds of evil against you because of me." (1 Peter 4:14)

Imagine a fearless soldier, ready for battle to protect his country and loved ones. He is willing to face danger, even risking his life. For him, his duty is a top priority, and courage is crucial. When we think of this image, we can see similarities with our calling as Christians to bravely endure suffering. Like a soldier, we may face physical and emotional suffering because of our faith. But certainly, courage is required in such situations.

When a soldier bravely sacrifices, he knows that his actions can have a significant impact, more than just for himself. Similarly, when a Christian bravely suffers, their experience can be a light for others. They show the world that their faith cannot be extinguished by violence or oppression. Think of a soldier who, despite being wounded and tired, does not retreat from the front lines. They demonstrate resilience to the enemy. Similarly, Christians who bravely endure suffering show steadfastness and courage in the face of trials and persecution. They declare that their faith cannot be weakened by the harshness of the world.

Brave soldiers who sacrifice often become examples for their comrades. They can boost morale and inspire courage among their peers, so they do not give up when faced with difficulties. Likewise, Christians who bravely suffer can be a source of strength and support for their community. They demonstrate that even when the world opposes, God remains faithful and strong in every situation. The moral message of this verse encourages us, believers, to adopt the same attitude as brave soldiers who sacrifice. As Christians, we must be prepared to face opposition and persecution because of our faith. But we do not need to fear because our great support is our God the Father, who is always with us in times of trial and difficulty. Therefore, we must rely fully on our God the Father, as He will provide us with support. Equipping ourselves with His word and nourishing ourselves with the MRE (Meal, Ready-to-Eat) of the Holy Spirit. With courage and steadfastness, we can be strong witnesses of Christ's love and truth, even in the most challenging situations.

WHAT TO DO:
1. Rely on our great support, God the Father, always.
2. Be an example of courage and faith for our other friends.

BIBLE MARATHON:
- Psalms 95-103

Card image
Truth Youth 23 Juni 2024 - BRAVE SOLDIER
2024-06-23 09:58:30


”Berbahagial